Proses Belajar Dan Mengajar

Document Sample
Proses Belajar Dan Mengajar Powered By Docstoc
					          Proses Belajar Dan Mengajar

              Belajar Dan Prinsip Belajar
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku
sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.

Berikut ini adalah prinsip umum pembelajaran yang penulis rangkum dari beberapa pakar
pembelajaran yang meliputi:

   1. Perhatian dan Motivasi Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam
      kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa
      tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar.
   2. bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin
      tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar
   3. berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan
      tersebut
   4. Terus bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan
   5. Keaktifan
   6. Keterlibatan Langsung/Pengalaman




               Perkembangan Kebutuhan Belajar
   Pengertian Kebutuhan dan Masalah Belajar
   Kebutuhan adalah kesenjangan (Gap/Discrepancy) antara apa/kondisi yang ada dan
   apa/kondisi yang seharusnya ada. Kebutuhan belajar (learning needs) atau kebutuhan
   pendidikan (education need) adalah kesenjangan yang dapat diukur antara hasil
   belajar atau kemampuan yang ada sekarang dan hasil belajar atau kemampuan yang
   diinginkan/dipersyararatkan. Menurut prof. Djuju Sudjana kebutuhan belajar dapat
   diartikan sebagai suatu jarak antara tingkat pengetahuan, keterampilan, dan/atau
   sikap yang dimiliki pada suatu saat dengan tingkat pengetahuan, keterampilan,
   dan/atau sikap yang ingin diperoleh sesorang, kelompok, lembaga, dan/atau
   masyarakat yang hanya dapat dicapai melalui kegiatan belajar.

   Kebutuhan belajar yang dirasakan sama oleh setiap individu dalam suatu kelompok
   disebut kebutuhan belajar kelompok. Kebutuhan belajar kelompok ini pada umumnya
   daat dipenuhi melalui kegiatan belajar bersama atau kegiatan belajar kelompok.
   Wadah kegiatan belajar bersama dalam suatu kelompo itu disebut kelompok belajar.
   Kelompok belajar bertujuan untuk terjadinya proses belajar yang didasarkan atas
   kebutuhan belajar yang telah diidentifikasi sebelumnya. Dengan kata lain bahwa hasil
   identifikasi kebutuhan bahan belajar itu dijadikan bahan masukan dalam penyusunan
   kurikulum atau program belajar. Kurikulum ini dapat meliputi antara
   lainpengetahuan keterampilan, dan/atau sikap yang akan dipelajari dalam kelompok
   belajar.
   Kebutuhan belajar dapat disusun kedalam berbagai golongan. Beberapa pakar
   pendidikn dan peneliti kebutuhan belajar yang dikemukakan dibawah ini dibuat oleh
   Johnstone dan rivera (1965) dalam buku “Volunteers of Learning” yakni :
   a. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan tugas pekerjaan;
   b. kebutuhan belajar yang berhubungan dengan kegemaran dan rekreasi;
   c. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan keagamaan;
   d. kebutuhan belajar yang berhubungan dengan penguasaan bahasa dan pengetahuan
   umum;
   e. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan kerumahtanggaan;
   f. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan penampilan diri;
   g. kebutuhan belajar yang berhubungan dengan pengetahuan peristiwabaru;
   h. kebutuhan belajar yang berhubungan dengan usaha dibidang pertanian;
   i. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan pelayanan jasa.
   Penggolongan kebutuhan belajar sebagaimana dikemukakan diatas dapat diperluas
   sesuai dengan berkembangnya kebutuhan dan perubahan yang terjadi
   dimasyarakat.penggolongan tersebut dapat memberikan gambaran tentang betapa
   luasnya kebutuhan belajar yang dapat dijadikan bahan masukan dalam menentukan
   program belajar dalam pendidikan luar sekolah. Luasnya kebutuhan belajar dapat
   memberi arah pada pendidikan luar sekolah untuk mengembangkan program belajar
   yang bervriasi, memerlukan waktu berlanjut dan berkesinambungan.

Klasifikasi kebutuhan banyakdipengaruhi oleh segi pandangannya, seperti ahli psikologi
memandang bahwa kebutuhan terdiri dari primary needs dan secondary needs. Dalam
bidang pendidikan kebutuhan lebih bersifat kebutuhan sosial (social needs)
Menurut Bradshaw (Briggs, 1977 : 22) membedakan adanya 5 macam kebutuhan, yaitu :
a. Kebutuhan normatif adalah kebutuhan yang ada setelah dibandingkan dengan norma
tertentu kebutuhan normatif juga bisa dikatakan sebagai kebutuhan yang timbul apabila
seseorang atau suatu kelompok berada dalam keadaan dibawah suatu ukuran (standard)
yang telah ditetapkan. Sebagai contoh, seseorangdapat disebut menderita kekurangan gizi
apabila ia senantiasamemakan makanan yang nilai gizinya dibawah ukuran yang telah
ditetapkan oleh instansi yang bergerak dibidang kesehatan. Dalam bidang pendidikan,
kebutuhan normatif muncul pula apabila penampilan seseorang siswa pada suatu lembaga
pendidikan berada dibawah rata-rata penampilan siswa yang telah ditetapkan oleh
lembaga tersebut. Walaupun demikian tidak mudah untuk mengetahui dengan pasti
mengenai tingkat perbedaan keadaan seseorang atau kelompok dengan ukuran yang telah
ditetapkan itu. Hal ini disebabkan karena suatu keadaan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
seperti oleh keadaan iklim, prestasi kerja, kondisi badan, keadaan keluarga, perbedaan
ukuran yang digunakan, dan perbedaan lain yang dimiliki oleh setiap orang.
b. Kebutuhan terasa (feels needs)atau dapat pila disebut sebagai keinginan (want).
Kebutuhan jenis ini biasanya disampaikan seseorang kalau kepadanya kita tanyakan apa
yang diperlukan atau diinginkan yang dirasakan pada saat itu. Kebutuhan terasa dianggap
sama dengan keinginan atau kehendak. Tipe kebutuhan ini dapat diidentifikasi dengan
mudah melalui wawancara dengan seseorang atau sekelompok orang mengenai apa yang
mereka inginkan. Kendatipun cara mengidentifikasi ini menunjukkan pendekatan
demokratis, namun cara tersebut tidak lepas dari kelemahan kelemahannya antara lain
adalah bahwa keinginan seseorang atau kelompok akan dipengaruhi oleh pemahaman
mereka terhadap kemungkina untuk mencapainya, persepsi masyarakat tentang keinginan
itu, tingkat upaya dalam mencapai keinginan, dan daya dukung untuk memenuhi
keinginan atau kebutuhan tersebut.
c. Expressed Needs atau Demand yaitu kebutuhan yang ditampakkan oleh orang-orang
yang membutuhkannya, seperti orang membutuhkan bahan bakar dengan
mengekspresikan mereka mengantri ditempat penjualan bahan bakar. Kebutuhan yang
dinyatakan dapat pula diidentifikasi melalui wawancara atau kuesioner dengan seseorang
atau kelompok orang.
d. Kebutuhan komparatif (Comparated Needs) adalah kebutuhan yang muncul kalu kita
membandingkan dua kondisi atau lebih yang berbeda.
e. Kebutuhan masa datang (Antisipated/Future Needs). Jenis ini merupakan proyeksi atau
antisipasi kebutuhan yang akan terjadi dimasa mendatang. Sebagai misal apabila suatu
badan perencana pembangunan kota merencanakan pembangunan jalan baruyang akan
mulai dibangun sepuluh tahun yang akan datang maka pada dasarnya badan tersebut
merancang untuk memnuhi kebutuhan masa yang akan datang. Kekurangan upaya dalam
mempertimbangkan kebutuhan masa yang akan datang dapat menimbulkan kemacetan
lalu lintas pada saat tertentudi masa depan. Demikian pula dengan kemandekan atau
kelambanan perkembangan suatu program pembangunan disebabkan oleh kurangnya
perhatian terhadap perhatian yang mungkin timbul pada masa yang akan datang. Dalam
penddikan luar sekolah, identifikasi kebutuhan yang diantisipasi ini akan membantu dalam
mempersiapkan peserta didik agar mampu memantau lingkungan dan memahami
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dimasa depan. Kebutuhan ini diperlukan
pula oleh para perencana pendidikan dan pembangunan untuk menghindari “future
shock” dalam perkembangan dan hasil pendidikan dimasa depan.




                Mengajar Dan Prinsi Belajar
MENGAJAR merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang
cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada
pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Zamroni (2000:74)
mengatakan “guru adalah kreator proses belajar mengajar”. Ia adalah orang yang akan
mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik minatnya,
mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batas-batas norma-norma yang
ditegakkan secara konsisten. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa orientasi
pengajaran dalam konteks belajar mengajar diarahkan untuk pengembangan
aktivitas siswa dalam belajar.

Gambaran aktivitas itu tercermin dari adanya usaha yang dilakukan guru dalam
kegiatan proses belajar mengajar yang memungkinkan siswa aktif belajar. Oleh karena itu
mengajar tidak hanya sekedar menyampaikan informasi yang sudah jadi dengan
menuntut jawaban verbal melainkan suatu upaya integratif ke arah pencapaian tujuan
pendidikan. Dalam konteks ini guru tidak hanya sebagai penyampai informasi tetapi juga
bertindak sebagai director and facilitator of learning.

Nasution (1982:8) mengemukakan kegiatan mengajar diartikan sebagai segenap aktivitas
kompleks yang dilakukan guru dalam mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-
baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Dengan
demikian proses dan keberhasilan belajar siswa turut ditentukan oleh peran yang
dibawakan guru selama interaksi proses belajar mengajar berlangsung. Usman (1994:3)
mengemukakan mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan
belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha
mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran
yang menimbulkan terjadinya proses belajar. Pengertian ini mengandung makna bahwa
guru dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa dan juga
hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar
kelas, yang menunjang terhadap kegiatan belajar mengajar.

Burton (dalam Usman, 1994:3) menegaskan “teaching is the guidance of learning
activities”. Hamalik (2001:44-53) mengemukakan, mengajar dapat diartikan sebagai (1)
menyampaikan pengetahuan kepada siswa, (2) mewariskan kebudayaan kepada generasi
muda, (3) usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi
siswa, (4) memberikan bimbingan belajar kepada murid, (5) kegiatan mempersiapkan
siswa untuk menjadi warga negara yang baik, (6) suatu proses membantu siswa
menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari. Tardif (dalam Adrian, 2004)
mendefinisikan, mengajar adalah any action performed by an individual (the teacher)
with the intention of facilitating learning in another individual (the learner), yang berarti
mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini pendidik) dengan
tujuan membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal ini peserta didik) melakukan
kegiatan belajar.

Biggs (dalam Adrian, 2004) seorang pakar psikologi membagi konsep mengajar menjadi
tiga macam pengertian yaitu (1) Pengertian Kuantitatif. Mengajar diartikan sebagai the
transmission of knowledge, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya perlu
menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa dengan
sebaik-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya siswa bukan tanggung jawab pengajar.
(2) Pengertian institusional. Mengajar berarti the efficient orchestration of teaching
skills, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini guru
dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap siswa
yang memiliki berbagai macam tipe belajar serta berbeda bakat, kemampuan dan
kebutuhannya. (3) Pengertian kualitatif. Mengajar diartikan sebagai the facilitation of
learning, yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa mencari makna dan
pemahamannya sendiri. Burton (dalam Sagala, 2003:61) mengemukakan mengajar adalah
upaya memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar
terjadi proses belajar.

Berdasarkan definisi-definisi mengajar dari para pakar di atas dapat ditarik kesimpulan
bahwa mengajar adalah aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam menyampaikan
pengetahuan kepada siswa, sehingga terjadi proses belajar. Aktivitas kompleks yang
dimaksud antara lain adalah (1) mengatur kegiatan belajar siswa, (2) memanfaatkan
lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, dan (3) memberikan
stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa.

Prinsip-prinsip umum yang dijadikan pegangan guru dalam melaksanakan pembelajaran
adalah sebagai berikut:
1. Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa.

Tingkat kemampuan/pengalaman siswa itu berbeda antara siswa yang satu dengan siswa
lainnya. Maka dari itu, seorang guru harus mengetahui tingkat kemampuan/pengalaman
siswa sebelum dia melakukan pembelajaran. Untuk mengetahui pengalaman siswa, guru
dapat melakukan pre-test. Agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan
efisien.

2. Pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.

Dengan mengaitkan setiap materi pembelajaran dengan situasi kehidupan yang bersifat
praktis, dapat memunculkan arti materi pembelajaran tersebut bagi diri siswa sendiri.
Dengan merasakan bahwa materi pembelajaran itu berarti atau bermakna, muncul rasa
ingin mengetahui atau memiliki.

3. Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa.

Setiap individu mempunyai kemampuan potensial yang berbeda antara siswa yang satu
dengan siswa lainnya. Apa yang dapat dipelajari seseorang secara cepat, mungkin tidak
dapat dilakukan oleh yang lain dengan cara yang sama. Oleh karena itu, mengajar harus
memperhatikan perbedaan tingkat kemampuan masing-masing siswa.

4. Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar.

Kesiapan adalah kapasiti (kemampuan potensial) baik bersifat fisik maupun mental untuk
melakukan sesuatu perbuatan, khususnya melakukan proses belajar disertai harapan
ketrampilan yang dimiliki dan latar belakang untuk mengerjakan sesuatu. Jika siswa siap
untuk melakukan proses belajar, hasil belajar dapat diperoleh dengan baik. Sebaliknya,
jika tidak siap, tidak akan diperoleh hasil yang baik.

5. Tujuan pembelajaran harus diketahui siswa.

Tujuan pelajaran merupakan rumusan tentang perubahan perilaku yang akan diperoleh
setelah proses pembelajaran. Jika tujuan diketahui, siswa mempunyai motivasi untuk
belajar. Agar tujuan pembelajaran mudah diketahui, maka harus dirumuskan secara
khusus.

6. Mengajar harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar.

Belajar itu harus bertahap dan meningkat. Mengajar harus mempersiapkan materi
pembelajaran yang bersifat gradual, yaitu dari sederhana kepada yang kompleks (rumit),
konkrit kepada yang abstrak, umum (general) kepada yang kompleks, dari yang sudah
diketahui kepada yang tidak diketahui (konsep yang bersifat abstrak), induksi kepada
deduksi atau sebaliknya, dan sering menggukana reinforcement (penguatan).
                       Diplementasi Belajar
Pemahaman guru akan pengertian dan makna belajar akan mempengaruhi tindakannya
dalam membimbing peserta didik untuk belajar. Guru yang hanya memahami belajar
hanya agar murid bisa menghafal tentu beda cara mengajarnya dengan guru yang
memahami belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku.Untuk itu guru penting
memahami pengertian belajar dan teori-teori belajar . Belajar adalah suatu proses
perubahan tingkah laku atau kecakapan manusia berkat adanya interaksi antara individu
dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu
beriteraksi dengan lingkungannya. W.H. Burton (1952) mendefinisikan belajar :
“Learning is a change in the individual due to instruction of that individual and his
environment, which fells a need and makes him more capable of dealing adequately with
his environment”. Dari pengertian tersebut ada kata ‘change” maksudnya bahwa
seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku
baik dalam kebiasaan (habit), kecakapan-kecakapan (skills) atau dalam tiga aspek yaitu
pengetahuan (kognitif), sikap (affektif), dan ketrampilan (psikomotor). Sedang Ernest R.
Hilgard dalam B. Simandjuntak dan IL. Pasaribu (1981) mengemukakan “Belajar adalah
suatu proses perubahan kegiatan karena reaksi terhadap lingkungan, perubahan tersebut
tidak dapat disebut belajar apabila disebabkan oleh pertumbuhan atau keadaan sementara
seseorang seperti kelelahan atau disebabkan obat-obatan”. Teori belajar pada umumnya
dibagi menjadi 3 golongan, dengan mempelajari teori ini guru dapat memahami dasar
proses belajar beserta dalil-dalilnya sehingga guru dapat memanajemen proses belajar
mengajar.

A. Behaviourisme

Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi
fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain,
behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu
dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian
rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Tokoh utama aliran ini adalah
J.B. Watson. Watson membaca karya Pavlov dia merasa mendapatkan model yang cocok
untuk pendiriannya, untuk menjelaskan tingkah laku manusia. Beberapa hukum belajar
yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :

1. Classical Conditioning (Ivan Petrovich Pavlov 1849-1936)

Teori ini dikemukkan oleh Pavlov yang kemudian dipelopori oleh Guthric, Skinner yang
berhaluan behavioris. Pavlov mengadakan eksperimen disebut Condition reflex karena
yang dipelajari gerakan otot sederhana yang secara otomatis bereaksi terhadap suatu
perangsang tertentu. Reflex dapat ditimbulkan oleh perangsang yang lain yang
dahulunya tidak menimbulkan reflex tadi. Kesimpulan Pavlov (Sumadi Suryabrata
:1987): Pertanda/signal dapat memainkan peranan penting alam adaptasi hewan terhadap
sekitarnya. Reaksi mengeluarkan air liur pada anjing karena mengamati pertanda mula
mula disebut reflek bersyarat (Conditional Rreflex/CR). Pertanda atau signal disebut
perangsang bersyarat (Conditioned Stimulus/CS). Makanan disebut perangsang tak
bersyarat (Unconditioned Stimulus/US). Sedangkan keluarnya air liur karena makanan
disebut refleks tak bersyarat (Unconditioned Reflex/UR). Teori ini menekankan bahwa
belajar terdiri atas pembangkitan respons dengan stimulus yang pada mulanya bersifat
netral atau tidak memadai. Melalui persinggungan (congruity) stimulus dengan respos,
stimulus yang tidak memadai untuk menimbulkan respons tadi akhirnya mampu
menimbulkan resposns.(Oemar Hamalik :2000).Implikasi teori belajar ini dalam
pendidikan adalah :

   1.   Tingkah laku guru mengharapkan murid menghafal secara mekanis/otomatis
   2.   Verbalitis karena tingkah laku mechanistis dan reflektif.
   3.   Guru tersebut membiasakan muridnya dengan latihan
   4.   Sekolah D (duduk), tidak ada inisiatif karena perasaan, pikiran tak mengarahkan
        tingkah laku
   5.   Guru hanya memberi tugas tanpa disadari oleh muridnya
   6.   Guru tidak memperhatikan individual differences
   7.   Guru menggunakan “learning by parts” sampai tak ada hubungan
   8.   Guru menyuapi murid saja dan murid menerima yang diolah guru, jadi guru aktif.

Hal ini terjadi karena (menurut teori belajar conditioning) :a.   Terbentuknya tingkah
laku sangat sederhana dan mekanistis reflektifb.    Peranan perasaan, kemauan, pikiran,
kepribadian tak mengarahkan tingkah laku. Jadi manusia sajac.            Tak sanggup
menganalisa tingkah laku yang kompleks dimana tenaga rohani sebagai pendorong.d.
Terbentuknya tingkah laku karena habis formation.

2. The Law Of Effect (Edward L.Thorndike;1874-1949) : S-R Theory

Thorndike berpendapat , bahwa yang menjadi dasar belajar ialah asosiasi antara kesan
panca indra (sense impression) dengan impulse untuk bertindak (impulse to
action). Bentuk belajar oleh Thorndike disifatkan dengan “Trial and Error learning” atau
“learning by selecting and connecting. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike
terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya: a. Law of Readiness;
artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari
pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan
kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. b.
Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin
bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak
dilatih. c. Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang
memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya,
semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula
hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons. Law of effect ini menunjukkan kepada
makin kuat atau makin lemahnya hubungan sebagai akibat daripada hasil respon yang
dilakukan. Apabila suatu hubungan atau koneksi disebut dan ditandai atau diikuti oleh
keadaan yang memuaskan , maka kekuatan hubungan itu akan bertambah, sebaliknya
apabila suatu koneksi dibuat dan disertai atau diikuti oleh keadaan yang tidak
memuaskan, maka kekuatan hubungan itu akan berkurang (Sumadi Suryabrata:1987).
Dalam Law of effect, segala tingkah laku yang mengakibatkan keadaan yang
menyenangkan akan diingat. Dan tingkah laku yang menyenangkan mudah untuk
dipelajari begitu pula sebaliknya. Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah
hubungan antara stimulus dan respons. Itulah sebabnya teori ini disebut SR Bond Theory
atau S-R Psycology of Learning” atau S-R Theory disebut juga teori “Trial and Error
Learning” Berdasarkan teori belajar tersebut , maka implikasinya bagi dalam pendidikan
sebagai berikut (B. Simandjuntak dan IL. Pasaribu:1981): a.         Tak memperhatikan
individual differences.b.    Kadang-kadang lupa akan tujuan pokok, karena terlalu
memperhatikan alat (reward)c.      Biasanya yang berhasil adalah murid yang struggle
untuk menerima hadiah (reward) Hal ini didasarkan pada pendapat teori diatas :a.
Manusia belajar karena kepuasan untuk memperoleh ganjaranb.               Tingkah laku
terbentuk karena hasil trial & error dan law of effectc.     Yang dilakukan seseorang
disebabkan kesenangan sehingga berlangsung secara otomatis conditioning. Praktik
belajar seperti cocok digunakan untuk memotivasi peserta didik dengan pemberian
hadiah/ganjaran/reward. Namun penggunaannya hanya saat-saat tertentu dan dalam
keadaan yang memungkinkan. Sebab jika dilakukan terus menerus peserta didik
cenderung mau belajar karena akan memperoleh reward, lalu kalau reward ditiadakan
peserta didik apakah masih mau belajar. Segala yang menyenangkan (law of effect) akan
diingat oleh peserta didik dan akan mudah dipelajari oleh peserta didik, maka
berdasarkan teori ini guru harus mampu menciptakan suasana belajar mengajar yang
menyenangkan. Guru harus mampu membuat pelajaran matematika yang menyeramkan
menjadi yang menyenangkan.

3. Operant conditioning (Baron. F. Skinnner; 1904 –1990) : Reward & Punishment
(Positive and Negative reinforcement)

Sebagaimana tokoh behavour lainnya, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai
hubungan antara perangsang dan response, hanya saja Skinner membedakan dua macam
response : (1) responden response (reflextive response), yaitu respon yang ditimbulkan
oleh perangsang-perangsang tertentu, Perangsang demikian disebut eliciting stimuli,
menimbulkan respose yang relatif sama; dan (2) Operant response (instrumental
response) yaitu response yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-
perangsang tertentu. Perangsang demikian disebut reinforcing stimuli atau reinforcer
karena perangsang-perangsang tersebut memperkuat response yang telah dilakukan oleh
organisme. Implikasi dalam dunia pendidikan dari teori ini :a.   Anak yang telah belajar
akan menjadi giat belajar jika mendapat hadiahb.        Hadiah yang diberikan kepada
peserta didik tidak harus berupa barangc.    Inovasi Pengajaran sebagian besar disusun
berdasarkan teori Skinner, yaitu memberikan dasar teknologi pendidikan yang banyak
digunakan di Indonesia seperti PPSI, modul dan pengajaran tuntas. Teori ini belajar ini
cocok untuk pendidikan modern dengan menggunakan inovasi-inovasi baru misalnya
belajar model konferensi dengan bantuan komputer yang saling berhubungan (internet)
sehingga dapat meningkatkan Operan response peserta didik menjadi lebih intensif/kuat.
Teori ini masih berkembang di Amerika, tentu saja untuk Indonesia juga masih sangat
cocok.

4. Social Learning (Albert Bandura)
Teori Belajar Sosial disebut Teori Observational Learning (Belajar Observasional
dengan pengamatan ). Tokoh utama teori ini adalah Albert Bandura. Bandura
memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S –
R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara
lingkungan dengan skema kognitip manusia itu sendiri. Prinsip Dasar Social learning :
a.    Sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui: peniruan (imitation),
penyajian contoh perilaku (modeling).b.      Dalam hal ini, seorang peserta didik belajar
mengubah perilaku sendiri melalui penyaksian cara orang/ sekelompok orang mereaksi /
merespon sebuah stimulus tertentu. c.         Peserta didik dapat mempelajari respons-
respons baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain, misalnya
: guru / orang tuanya. Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosal
dan moral peserta didik ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons)
dan imitation (peniruan). Prosedur-prosedur Social learning :a . Conditioning. Prosedur
belajar dalam mengembangkan perilaku social dan moral pada dasarnya sama dengan
prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya, yakni dengan ;
Reward (ganjaran / memberi hadiah/ mengganjar), Punishment (hukuman / memberi
hukuman). Dasar pemikirannya : Sekali seorang peserta didik mempelajari perbedaan
antara perilaku-perilaku yang menghasilkan ganjaran (reward) dengan perilaku-perilaku
yang mengakibatkan hukuman (punishment), ia senantiasa berpikir dan memutuskan
perilaku social mana yang perlu ia perbuat. Komentar orang tua / guru : ketika
mengganjar/menghukum peserta didik merupakan faktor yang penting untuk proses
penghayatan peserta didik tersebut terhadap moral standards (patokan-patokan moral ).
Orang tua dan guru diharapkan memberi penjelasan agar peserta didik tersebut benar-
benar paham mengenai jenis perilaku mana yang menghasilkan ganjaran dan jenis
perilaku mana yang menimbulkan sangsi. Reaksi-reaksi seorang peserta didik terhadap
stimulus yang ia pelajari adalah hasil dari adanya pembiasaan merespons sesuai dengan
kebutuhan.Melalui proses pembiasaan merespons (conditioning) ini, menemukan
pemahaman bahwa ia dapat menghindari hukuman dengan memohon maaf yang sebaik-
baiknya agar kelak terhindar dari sanksi.b. Imitation (peniruan). Dalam hal ini, orang tua
dan guru seyogyanya memainkan peran penting sebagai seorang model / tokoh yang
dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi peserta didik. Contoh : Mula-mula
seorang peserta didik mengamati model gurunya sendiri yang sedang melakukan sebuah
sosial, umpamanya menerima tamu, lalu perbuatan menjawab salam, berjabat tangan,
beramah-tamah, dan seterusnya yang dilakukan model itu diserap oleh memori peserta
didik tersebut. Diharapkan, cepat/lambat peserta didik tersebut mampu meniru sebaik-
baiknya perbuatan social yang dicontohkan oleh model itu. Kualitas kemampuan peserta
didik dalam melakukan perilaku social hasil pengamatan terhadap model tersebut, antara
lain bergantung pada ketajaman persepsinya mengenai ganjaran dan hukuman yang
berkaitan dengan benar dan salahnya perilaku yang ia tiru dari model tadi. Selain itu,
tingkat kualitas imitasi tersebut juga bergantung pada persepsi peserta didik “ siapa “
yang menjadi model. Maksudnya, semakin piawai dan berwibawa seorang model,
semakin tinggi pula kualitas imitasi perilaku social dan moral peserta didik tersebut. Jadi
dalam Social Learning, anak belajar karena contoh lingkungan. Interaksi antara anak
dengan lingkungan akan menimbulkan pengalaman baru bagi anak-anak. Sebagai contoh
hasil belajar ini adalah keagresifan anak bukan tidak mungkin disebabkan oleh tayangan
kekerasan dalam film-film laga di Televisi. Anak-anak SLTP, SLTA cara memakai baju
yang ketat, tidak rapi, gaya bicara yang prokem ternyata akibat nonton tayangan televisi
yang menyajikan sinetron remaja. Anak-anak yang konsumerisme/suka jajan ternyata
pengaruh lingkungan yang memberikan contoh konsumerisme. Maka disini perlu peran
dari orang tua, dan guru sebagai panutan bagi anak. Agar kedua tokoh ini dapat
memberikan bantuan penyelesaian masalah anak-anak dengan baik.

B. Cognitivism (Piaget)

Pandangan tentang teori belajar ini meliputi kemampuan atau mengatur kembali dari
susunan pengetahuan melalui proses kemanusiaan dan penyimpanan informasi. Pendapat
Jean Piaget mengenai perkembangan proses belajar pada anak-anak adalah sebagai
berikut (Slameto:1995):a.       Anak mempunyai struktur mental yang berbeda dengan
orang dewasa. Mereka bukan merupakan orang dewasa dalam bentuk kecil, mereka
mempunyai cara yang khas untuk menyatakan kenyataan dan untuk menghayati dunia
sekitarnya. Maka memerlukan pelayanan tersendiri dalam belajar.b.         Perkembangan
mental pada anak melalui tahap-tahap tertentu menurut suatu urutan yang sama bagi
semua orang.c.         Walaupun berlangsungnya tahap-tahap perkembangan itu melalui
suatu urutan tertentu, tetapi jangka waktu untuk berlatih dari satu tahap ke tahap yang
lain tidaklah selalu sama pada setiap anak.d.   Perkembangan mental anak dipengaruhi
oleh 4 faktor, yaitu :

           1.
           o    kemasakan
           o    pengalaman
           o    interaksi social
           o    equilibration (proses dari ketiga faktor diatas bersama-sama untuk
                membangun dan memperbaiki struktur mental)

Piaget membagi 4 tingkat perkembangan                kemampuan   otak   untuk   berpikir
mengembangkan pengetahuan (cognitif) :

   1.   Sensory motor (umur 2 tahun)
   2.   Preoprational (umur 2-7 tahun)
   3.   Concret Operational (umur 7-11 tahun)
   4.   Format Operational (umur 11 tahun ke atas)

Skema sensor adalah prilaku terbuka yang bersifat jasmaniah yang tersusun secara
sistematis dalam diri bayi/anak yang merespon lingkungan. Sedangkan skema kognitif
adalah tatanan tingkah laku untuk memahami dan menyimpulkan lingkungan yang
direspon. Ada dua macam kecakapan kognitif peserta didik yang amat perlu
dikembangkan segera, khususnya oleh guru, yakni :

   1. Strategi belajar memahami isi materi pelajaran
   2. Strategi meyakini arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap
      pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran
Belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif
peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen
dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh
pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada
peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan
menemukan berbagai hal dari lingkungan.Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget
dalam pembelajaran adalah :

   1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru
      mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
   2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan
      baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan
      sebaik-baiknya.
   3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
   4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
   5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan
      diskusi dengan teman-temanya.

C. Constructivism

Teori belajar Kontstruksi merupakan teori-teori yang menyatakan bahwa peserta didik
itu sendiri yang harus secara pribadi menemukan dan menerapkan informasi kompleks,
mengecek informasi baru dibandingkan dengan aturan lama dan memperbaiki aturan itu
apabila tidak sesuai lagi. Konstruktivisme lahir dari gagasan Jean Piaget dan Vigotsky
dimana keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-
konsepsi yang telah dipahami diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam
upaya memakai informasi-informasi baru. Hakikat dari teori konstruktivism adalah ide
bahwa peserta didik harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Teori ini
memandang peserta didik secara terus menerus memeriksa informasi-informasi baru yang
berlawanan dengan aturan-aturan lama dan memperbaiki aturan-aturan tersebut. Salah
satu prinsip paling penting adalah guru tidak dapat hanya semata-mata memberikan
pengetahuan kepada peserta didik, peserta didik harus membangun pengetahuan di dalam
benaknya sendiri., guru hanya membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang
membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi peserta didik
dengan memberikan kesimpulan kepada peserta didik untuk menerapkan sendiri ide-ide
dan mengajak peserta didik agar peserta didik menyadari dan secara sadar menggali
strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Pendekatan konstruktivism dalama
pengajaran lebih menekankan pada pengajaran Top-Down daripada Bottom-Up. Top-
Down berarti peserta didik mulai dengan masalah-masalah yang kompleks untuk
dipecahkan dan selanjutnya memecahkan atau menemukan (dengan bantuan guru)
keterampilan-ketrampilan dasar yang diperlukan. Constructivism dibagi tiga yaitu Zone
of Proximal Development; Cognitive Apprenticeship;Scaffolding a.      Zone of Proximal
Development atau zona perkembangan terdekat adalah ide bahwa peserta didik belajar
konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona perkembangan terdekat mereka.
b.     Cognitive Apprenticeship, konsep lain yang diturunkan dari teori Vygotsky
menekankan pada dua-duanya hakikat sosial dari belajar dan zona perkembangan
terdekat adalah pemagangan kognitif .c.      Scaffolding atau mediated learning, akhirnya
teori Vygotsky menekankan bahwa scaffolding atau mediated learning atau dukungan
tahap demi tahap untuk belajar dan pemecahan masalah sebagai suatu hal penting dalam
pemikiran konstruktivism modern. Prinsip-prinsip konstruktivisme telah banyak
digunakan dalam pendidikan sains dan matematika. Prinsip-prinsip yang sering diambil
dari konstruktivisme antara lain : (1) pengetahuan dibangun oleh peserta didik secara
aktif; (2) tekanan proses belajar mengajar terletak pada peserta didik; (3) mengajar adalah
membantu peserta didik belajar; (4) tekanan dalam proses belajar lebih pada proses dan
bukan pada hasil belajar; (5) kurikulum menekankan pada partisipasi peserta didik; (6)
guru adalah fasilitator (Paul Suparno:1997). Penulis menyarankan agar konstruktivisme
ini digunakan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar bentuk yang bisa dilakukan
diantaranya konsep pembelajar mandiri (learner utonomy ), belajar kelompok
(cooperative learning).Guru hanya sebagai mediator, selanjutnya peserta didik secara
sendiri-sendiri maupun kelompok aktiv untuk memecahkan persoalan yang diberikan
guru sehingga mereka dapat membangun pengetahuan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:137
posted:4/7/2012
language:Indonesian
pages:12
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl