Docstoc

skripsi KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DAN PASIEN DI RUMAH

Document Sample
skripsi KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DAN PASIEN DI RUMAH Powered By Docstoc
					 KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DAN PASIEN DI RUMAH SAKIT
                      SANTA ELISABETH SEMARANG

( Studi Deskriptif Komunikasi Terapeutik Perawat Dan Pasien Penyakit Kanker RS
                           St. Elisabeth Semarang )




                                     Skripsi




                                      Oleh
                                  Lusiana Atik
                                NIM. 153070008


                                    Diajukan
              Untuk Memenuhi Syarat Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi
                         Pada Jurusan Ilmu Komunikasi
                         Fakultas Ilmu Sosial dan politik
             Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta



                       JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
              FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
         UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
                               YOGYAKARTA
                                      2011
                      HALAMAN PERSETUJUAN

Komunikasi Terapeutik Perawat dan Pasien di Rumah Sakit Santa Elisabeth

                                  Semarang




                                    Oleh

                                 Lusiana Atik

                                  153070008

                            DISETUJUI OLEH




          Pembimbing I                              Pembimbing II




   Dr. Puji Lestari, SIP, M.Si                  Dr. Basuki Agus Suparno, M.Si
                         HALAMAN PENGESAHAN



   Telah diuji dan dinyatakan lulus dihadapan tim penguji skripsi pada :

Hari/Tanggal :
Judul Skripsi : KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DAN PASIEN
                    DI RUMAH SAKIT SANTA ELISABETH SEMARANG
                    (Studi Deskriptif Komunikasi Terapeutik Perawat dan
                    Pasien Penyakit Kanker RS St. Elisabeth Semarang )
Nama            : Lusiana Atik
NIM             : 153070008
Jurusan         : Ilmu Komunikasi
Fakultas        : Ilmu Sosial dan Politik
Universitas     : Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta



           Tim Penguji                                Tanda Tangan

   1. Penguji I
       Dr. Puji Lestari, SIP, M.Si               ……………………………..
       NPY.270069500041

   2. Penguji II
       Dr. Basuki Agus Suparno, M.Si             ……………………………..
       NPY.2710059701751

   3. Penguji III
       Dra. RR. Susilastuti M.Si                 …………………….……….
       NPY.264029500221

   4. Penguji IV
       Isbandi Sutrisno M.Si                      ………….…………………
       NPY.197107141991031001
HALAMAN MOTTO
      HALAMAN PERSEMBAHAN




Kupersembahakan karya berharga ini untuk

     Kemuliaan Tuhan Yesus Kristus

                   dan

 Mama (alm) victoria tatik mulyaning tyas

          I LOVE U mama…….
                             KATA PENGANTAR




       Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kasih,

karena berkat kasih, rahmat dan tuntunan dariNYA penulis dapat menyelesaikan

skripsi dengan judul : “KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DAN

PASIEN DI RUMAH SAKIT SANTA ELISABETH SEMARANG” ( Studi

Deskriptif Komunikasi Terapeutik Perawat dan Pasien Penyakit Kanker RS St.

Elisabeth Semarang ).

       Penulisan skripsi ini dilaksanakan untuk melengkapi dan memenuhi syarat

memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Jurusan Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran” Yogyakarta. Penulis berharap, semoga skripsi ini dapat berguna bagi

pihak fakultas, mahasiswa serta pihak RS St. Elisabeth Semarang.

       Penulis menyadari terwujudnya karya ilmiah ini tidak lepas dari dorongan,

bimbingan, bantuan serta doa dari berbagai pihak, maka perkenankanlah dalam

kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

   1. Ibu Dr. Puji Lestari SIP, M.Si selaku dosen pembimbing pertama, yang

       telah memberikan bimbingan, masukan, dan saran-saran yang sangat

       berguna hingga akhir penulisan skripsi ini.

   2. Bapak Dr. Basuki Agus Suparno, M.Si selaku dosen pembimbing kedua,

       yang telah memberikan bimbingan dengan sabar membantu dan

       membimbing penulis hingga selesainya skripsi ini.
3. Ibu Dra. RR Susilastuti. M.Si selaku penguji pertama bagi penulis terima

     kasih atas masukan dan saran bagi penulis.

4. Bapak Isbandi Sutrisno M.Si selaku penguji kedua bagi penulis terima

     kasih atas koreksi dan saran bagi penulis.

5.   Bapak Dekan, staff dan asisten serta pegawai perpustakaan dan

     pengajaran di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

     Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta yang telah bersusah payah

     mendidik dan memberikan ilmu serta membantu penulis selama belajar di

     Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

6. dr. Benedictus Sugiyanto, MPH & TM selaku direktur Utama RS St.

     Elisabeth Semarang yang telah memberikan ijin penulis melakukan

     penelitian.

7. Buat Papa dan Kakakku tersayang Cicilia Dewi Miranti Utami, Mas Yoga

     terima kasih atas segala doa, nasihat, dukungan, bimbingan dan telah

     banyak membantu serta memberikan bantuan moril maupun material.

8. Mbak Dian, Mbak Erni, Mbak Ratna, dan Mbak Agnes, Mas Agung,

     terima kasih sudah berkenan menjadi audien, makasih atas bantuannya

     sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan baik.

9. Ika, Kunthi, Intan, Nungki, Oca, Indra, Sita, dan Simbah Putri Terima

     kasih sudah membantu memberikan semangat dan dorongan aku tak bisa

     membalas semua yang telah kau berikan untukku, atas cinta dan

     kasiiiihmu….
10. Mas Totok, Mbak Dwi, Mas Agung, Mbak Endang, Mr jack salam juga

   buat keponakanku yang aku sayang Isa, Lia, Ceri, Niko, Rangzeb, Raizha

   terima kasih atas semua bantuan dan telah meluangkan waktu untuk

   memberikan semangat dan nasihatnya.

11. Mas Ari yang dengan sabar menungguku, membantuku, memberiku

   semangat dan dorongan, aku tak bisa membalas semua yang telah kau

   berikan untukku, thanks 4 your love….

12. Teman-teman jurusan Ilmu Komunikasi angkatan ’07 Mely, Nia, Viona,

   Viky, Ani yang selalu aku repotin, Evin, Ria, Dito, Dina dan teman-teman

   serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terimaksih

   atas dukungannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

13. AB 5317 UY dan B 1302 KU trims telah membantu aku dan menemaniku

   dimanapun aku pergi.

          Penulis berharap, semoga karya yang masih jauh dari sempurna ini

   dapat bermanfaat dan memberi masukan untuk pihak-pihak yang

   memerlukan.



                                       Yogyakarta, 27 September 2011



                                                           Penulis
                      DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………                    i

HALAMAN PERSETUJUAN ……………………………………………                  ii

HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………….                  iii

HALAMAN MOTTO ……………………………………………………..                   iv

HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………..                 v

KATA PENGANTAR ………………………………………………….....                vi

DAFTAR ISI ……………………………………………………………….                   ix

DAFTAR TABEL …………………………………………………………                    xiii

DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………                    xiv

ABSTRAK …………………………………………………………………                      xv

ABSTRACT ……………………………………………………………….                     xvi



BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………                  1

 1.1.Latar Belakang Masalah …………………………………………….         1

 1.2.Rumusan Masalah …………………………………………………... 6

 1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian ……………………………………... 6

   1.3.1. Tujuan Penelitian …………………………………………… 6

   1.3.2. Manfaat Penelitian ………………………………………….. 6

 1.4.Kerangka Pemikiran ………………………………………………… 7

   1.4.1. Model Komunikasi ………………………………………….. 7

   1.4.2. Teori Interaksionisme Simbolik …………………………….. 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………….                   14

  2.1. Komunikasi ………………………………………………………… 14

    2.1.1. Pengertian Komunikasi Terapeutik …………………………. 15

    2.1.2. Tujuan Komunikasi Terapeutik ……………………………... 16

    2.1.3. Dasar-dasar Komunikasi Terapeutik ………………………... 16

    2.1.4. Faktor Penghambat Komunikasi Terapeutik ………………... 18

    2.1.5. Unsur Komunikasi Terapeutik ……………………………… 19

    2.1.6. Jenis Komunikasi terapeutik ………………………………… 20

    2.1.7. Proses Komunikasi ………………………………………….. 21

    2.1.8. Prinsip komunikasi ………………………………………….. 22

    2.1.9. Tehnik Komunikasi Terapeutik ……………………………... 24

  2.2. Komunikasi Keperawatan ………………………………………….. 27

    2.2.1. Karakteristik Komunikasi Keperawatan ……………………. 28

    2.2.2. Dimensi Tindakan Keperawatan ……………………………. 30

  2.3. Penelitian Sebelumnya ……………………………………………... 32



BAB III METODE PENELITIAN ……………………………………….                  37

  3.1. Metode Penelitian …………………………………………………. 37

  3.2. Jenis Penelitian …………………………………………………….. 37

  3.3. Subjek Penelitian …………………………………………………... 39

  3.4. Objek Penelitian …………………………………………………… 39

  3.5. Tehnik Pengumpulan Data ………………………………………… 39

    3.5.1. Wawancara ………………………………………………….. 39
     3.5.2. Observasi …………………………………………………….. 40

     3.5.3. Dokumentasi ………………………………………………… 41

  3.6.Sumber Data ………………………………………………………… 41

     3.6.1. Data Primer ………………………………………………….. 41

     3.6.2. Data Sekunder ………………………………………………. 42

  3.7.Tehnik Analisis Data ………………………………………………… 42

  3.8.Uji Validitas Data …………………………………………………… 45



BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …………………                  46

  4.1. Gambaran umum RS St. Elisabeth Semarang ………………………. 46

  4.1.1. Sejarah dan Perkembangan RS St. Elisabeth Semarang ………… 47

  4.1.2. Visi dan Misi RS St. Elisabeth Semarang ……………………….. 50

  4.1.3. Struktur Organisasi RS St. Elisabeth ……………………………. 52

  4.1.4. Lambang Rumah Sakit …………………………………………... 57

  4.1.5. Penghargaan ……………………………………………………... 59

  4.2.Hasil Penelitian ……………………………………………………… 61

  4.2.1. Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik ……………………………. 61

  4.2.2. Sarana dan prasarana kesehatan ………………………………… 62

  4.2.3. Peran dan Fungsi Perawat dalam Asuhan Keperawatan ………… 64

  4.2.4. Komunikasi Terapeutik dalam Asuhan Keperawatan …………… 65

  4.2.5. Evaluasi ………………………………………………………….. 79

  4.3.Pembahasan ………………………………………………………….. 82

  4.3.1. Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik ………………….………….. 82
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………...   92

  5.1.Kesimpulan …………………………………………………………... 92

  5.2.Saran …………………………………………………………………. 93

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
                         DAFTAR TABEL



Tabel 4.1. Penghargaan dan Prestasi RS St. Elisabeth ………………………. 61

Tabel 4.2. Sarana dan Prasarana RS St. Elisabeth …………………………… 64
                       DAFTAR GAMBAR



Gambar 1.1. Model Interaksi King ………………………………………… 10

Gambar 4.1. Peta Lokasi RS St. Elisabeth …………………………………        47

Gambar 4.2. Denah RS St. Elisabeth ……………………………………….           48

Gambar 4.3. Struktur Organisasi RS St. Elisabeth …………………………   53

Gambar 4.4. Lambang Rumah Sakit ………………………………………..             59

Gambar 4.5. Pasien Hadi Sumarto …………………………………………              78

Gambar 4.6. Pasien Qusnaini ………………………………………………                79

Gambar 4.7. Pasien di Ruang Fransiskus …………………………………...       80

Gambar 4.8. Alur Asuhan Keperawatan ……………………………………            89
                                  ABSTRAK



        Penelitian ini berjudul “KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DAN
PASIEN DI RUMAH SAKIT SANTA ELISABETH SEMARANG” ( Studi
Deskriptif Komunikasi Terapeutik Perawat dan Pasien Penyakit Kanker RS St.
Elisabeth Semarang). Pelaksanaan komunikasi terapeutik bertujuan membantu
pasien memperjelas dan mengurangi beban pikiran dan perasaan untuk dasar
tindakan guna mengubah situasi yang ada apabila pasien percaya pada hal-hal
yang diperlukan. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan
masalahnya adalah Bagaimana Penerapan Komunikasi Terapeutik Perawat dalam
Asuhan Keperawatan Pasien Penyakit Kanker RS St. Elisabeth Semarang?
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Komunikasi Terapeutik antara
perawat dan pasien dalam asuhan keperawatan penyakit kanker dan mengevaluasi
pelaksanaan Komunikasi Terapeutik sesuai dengan standar asuhan keperawatan
penyakit kanker.
        Penelitian ini merupakan jenis deskriptif kualitatif. Penelitian ini
menekankan pada catatan yang menggambarkan situasi yang sebenarnya guna
mendukung penyajian data. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui
wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang telah berhasil digali,
dikumpulkan dan dicatat dalam kegiatan penelitian, harus diusahakan
kemantapannya dan kebenarannya.
        Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa komunikasi terapeutik
merupakan bentuk kegiatan yang selalu dan dapat dilakukan pada setiap tahap
komponen proses keperawatan. Perawat dapat melakukan proses komunikasi
secara baik dengan mengetahui kebutuhan pasien. Fungsi komunikasi bersifat
memberikan informasi kepada pasien dalam asuhan keperawatan penyakit kanker.
Proses komunikasi perawat berlangsung pada saat pasien menjalani rawat inap di
RS St. Elisabeth Semarang. Komunikasi tersebut sangat bermanfaat bagi pasien
dimana pasien dapat memperoleh pelayanan dan perawatan dengan diagnosa yang
tepat. Seorang perawat dituntut mampu atau bisa memahami kondisi pasien baik
secara fisik maupun mental, hal ini berguna untuk memberikan deteksi awal pada
pasien jika menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan dalam proses kesembuhan
pasien.
                                   ABSRACT


        This study, entitled "COMMUNICATION AND THERAPEUTIC NURSE
PATIENT IN HOSPITAL SANTA ELISABETH SEMARANG" (Descriptive
Study of Communication and the Therapeutic Nurse Patient Cancer Hospital St.
Elisabeth Semarang). Implementation of therapeutic communication aims to help
patients clarify and reduce the burden of thoughts and feelings to the basic action
to change the situation that exists when the patient believes in things that are
necessary. Based on the above background description, the formulation of the
problem is How Application of Therapeutic Communication in Nursing Nurse
Patient Cancer Hospital St. Elisabeth Semarang? This study aims to describe the
Therapeutic Communication between nurses and patients in cancer nursing care
and evaluate the implementation of the Therapeutic Communication in accordance
with the standards of nursing care for cancer.
        This study is a qualitative descriptive type. This study emphasizes on the
record that describes the actual situation in order to support the presentation of
data. The data in this study were obtained through interviews, observation, and
documentation. The data have been successfully excavated, collected and
recorded in research activities, should be sought stability and truth.
        Based on the research results can be explained that communication is a
form of therapeutic activity and can always be done at any stage of the nursing
process components. Nurses can make the communication process as well as
knowing the needs of patients. Communication function is to provide information
to patients in nursing care of cancer diseases. Nurse communication process takes
place during the inpatient stay at St. Elisabeth Semarang. Communication is very
beneficial for patients where patients can obtain care and services with a proper
diagnosis. A nurse is able or required to understand the patient's condition both
physically and mentally, it is useful to provide early detection of patients when
faced with things that are not desirable in the patient's recovery process.
                                  BAB I


                              PENDAHULUAN




1.1. Latar Belakang Masalah

          Kesehatan sejatinya sangat diutamakan dalam kehidupan sehari-hari

   karena sehat sangatlah mahal. Orang yang mengalami sakit akan merasa

   menderita karena fungsi tubuh tidak dapat digunakan dengan baik. Hidup

   sehat memungkinkan seseorang untuk menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa

   hambatan. Kesehatan kata dasarnya adalah sehat, yang mencakup kondisi

   sehat jasmani maupun sehat rohani, serta kondisi umum dari seseorang secara

   lengkap baik    fisik, mental, dan kesejahteraan sosial dan bukan hanya

   ketiadaan penyakit atau kelemahan.

          Sebuah pelayanan kesehatan menekankan bahwa hidup sehat dapat

   membawa dampak lain bagi kehidupan sehari-hari, sehat membuat pekerjaan

   mudah diselesaikan. Banyaknya aktifitas pekerjaan yang dilakukan bila tidak

   diimbangi dengan makan dan minum yang cukup tidak menutup

   kemungkinan akan membuat tubuh menjadi sakit, semua menjadi terasa berat

   bahkan harus dibawa kerumah sakit untuk berobat. Berawal dari hal tersebut

   seseorang membutuhkan pelayanan dari rumah sakit yang diberikan oleh

   perawat dalam bentuk pelayanan kesehatan.       Perawat RS St .Elisabeth

   menyatakan bahwa :


                                        1
                                                                          2




       “Kesehatan merupakan kunci pokok dalam hidup manusia dan
       kesehatan dapat dikatakan sempurna ketika jasmani dan rohani kita
       dapat berfungsi dengan normal yang dinyatakan secara holistik yaitu
       satu kesatuan yang utuh menyeluruh dan psikososial yaitu perilaku
       dan interaksi dengan lingkungan sekitar. Sehat, mungkin anda tidak
       menyadari betapa penting arti kesehatan pada diri anda. Terkadang
       anda lupa atau bahkan mengabaikannya. Bagi anda kesehatan itu
       dapat ditukar dengan uang yang anda miliki, hingga anda tidak terlalu
       memikirkan untuk menjaga kesehatan anda. Banyak orang yang malas
       berolahraga padahal dengan berolahraga, anda secara fisik dapat
       membantu menjaga stamina anda agar tetap selalu fit. Banyak orang
       berfikir bahwa kalau orang gemuk itu sehat, Tetapi nyatanya gemuk
       itu susah untuk bergerak bebas dengan leluasanya dan kurang
       terkontrolnya porsi makanan yang dikonsumsi. Orang yang berbadan
       kurus bukan berarti tidak sehat justru akan tampak lebih kuat”
       (wawancara : Ibu Dian 11 Juni 2011).

       Berkaitan dengan pelayanan, bahwa setiap orang yang memberikan

sesuatu yang berfungsi dan berguna merupakan bentuk dari sebuah

pelayanan, sehingga orang akan merasa tenang dan nyaman. Hal ini

diharapkan mampu memberikan kepuasan pada pasien sebagai pengguna jasa

pelayanan kesehatan di rumah sakit. Bidang keperawatan sebagai salah satu

bentuk pelayanan, membutuhkan komunikasi untuk menciptakan hubungan

antara perawat dengan pasien, untuk mengenal kebutuhan pasien, dan

menentukan rencana tindakan serta kerja sama dalam memenuhi kebutuhan

tersebut. Terciptanya sebuah komunikasi yang baik akan menumbuhkan rasa

percaya pasien kepada perawat bahwa pasien akan dirawat dengan sebaik-

baiknya dan harapannya pasien akan mendapatkan kesembuhan.

       Berdasarkan hal inilah rumah sakit harus mampu memberikan

pelayanan sampai paripurna yaitu pelayanan menyeluruh mulai saat pertama

pasien datang ke rumah sakit sampai setelah selesai berobat, yang diberikan

oleh dokter dan perawat agar pasien merasa nyaman dan memperoleh
                                                                            3




kepuasan. Komunikasi yang disampaikan oleh dokter dan perawat sangat

berpengaruh bagi pasien terlebih oleh seorang perawat yang menurut

kenyataan hal pertama yang dijumpai pasien di rumah sakit adalah seorang

perawat baik untuk melakukan tindakan mengukur tekanan darah,

memberikan suntikan dan memasang infus, maka komunikasi yang terjadi

pada perawat adalah komunikasi terapeutik.

       Perawat sebagai komponen penting dalam proses keperawatan dan

orang yang terdekat dengan pasien harus mampu berkomunikasi baik secara

verbal maupun non verbal dalam membantu kesembuhan pasien. Seorang

perawat profesional selalu berusaha untuk berperilaku terapeutik, yang berarti

bahwa setiap interaksi yang dilakukan memberikan dampak kesembuhan

yang memungkinkan pasien untuk memperoleh kepuasan dari pelayanan yang

diberikan oleh seorang perawat.


       Perawat     harus    mampu       meningkatkan      kemampuan       dan

pengetahuannya dari pengalaman yang telah diperoleh tentang dinamika

komunikasi, penghayatan terhadap kelebihan dan kekurangan diri, serta

kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. Perubahan konsep perawatan dari

perawatan orang sakit secara individual kepada perawatan paripurna untuk

mencapai kepuasan pasien menyebabkan peranan komunikasi menjadi lebih

penting dalam memberikan asuhan keperawatan. Rumah sakit sebagai bagian

dari sistem kesehatan nasional dituntut untuk meningkatkan kualitas

penyediaan fasilitas pelayanan dan kemandirian.
                                                                          4




       Berdasarkan pra penelitian, fenomena yang terjadi di RS St. Elisabeth

Semarang adalah minimnya komunikasi dan interaksi antara perawat dengan

pasiennya. Perawat hanya akan masuk ke kamar pasien untuk menemani

dokter ketika melakukan pemeriksaan,       mengganti infus, merawat luka,

memberikan suntikan, memberikan obat misalnya dan menunggu apabila ada

panggilan melalui bell (nurse call) dari pasien atau keluarganya. Perawat

harus melakukan pelayanan yang lebih komunikatif serta bersifat edukasi

tentang kesehatan yang sangat diperlukan untuk kesembuhan pasien, serta

memberikan asuhan keperawatan, penyuluhan kesehatan sebagai upaya

preventif dan promotif yang tidak boleh dikesampingkan, selain upaya curatif

dan rehabilitatif yang diberikan oleh tim medis. Pasien dan keluarganya

selalu mengharapkan dan menanti informasi yang berkaitan dengan masalah

kesehatan serta perkembangan kondisi yang dialami dengan komunikasi yang

efektif, pelayanan yang ramah, cepat dan profesional.

       Komunikasi terapeutik tidak terjadi dengan sendirinya tanpa

direncanakan, dipertimbangkan, namun dilaksanakan secara profesional,

dengan tujuan untuk menolong pasien yang dilakukan oleh kelompok

profesional melalui pendekatan pribadi berdasarkan perasaan dan emosi serta

berdasarkan rasa saling percaya diantara kedua pihak yang terlibat dalam

komunikasi serta mengurangi keraguan dan membantu dilakukannya tindakan

yang efektif, mempererat interaksi kedua pihak, yakni antara pasien dan

perawat secara profesional dan proporsional dalam rangka membantu

penyelesaian masalah pasien. Volume pekerjaan yang harus diselesaikan dan
                                                                        5




keasyikan bekerja bukan alasan bagi seorang perawat untuk memperlakukan

pasien dengan cara yang kurang terapeutik.

       Berdasarkan kenyataan inilah perawat RS St. Elisabeth Semarang

harus mampu berkomunikasi secara terapeutik pada pasien dengan tepat dan

benar pada saat akan melakukan setiap tindakan. Perawat seharusnya tidak

hanya melakukan pemeriksa rutin dan biasa. Bagi pasien penjelasan singkat

tentang apa yang harus dijalani dalam pemeriksaan atau perawatan sebelum

prosedur yang sebenarnya sangat membantu mengurangi kecemasan pasien

dan menjadikan pasien lega serta pasien akan menaruh kepercayaan pada

perawat karena hal tersebut mungkin merupakan pengalaman yang

menakutkan yang memberikan dampak traumatis.

       RS St. Elisabeth Semarang sebagai salah satu rumah sakit swasta di

Semarang dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat

sekitar sebagai usaha meningkatkan mutu      pelayanan rumah sakit, setiap

bulan megadakan evaluasi tentang kepuasan pasien secara menyeluruh mulai

dari pelayanan dokter, perawat, para medis non perawat, administrasi,

fasilitas, lingkungan pelayanan, menu makanan, dan keamanan melalui

kuesioner yang dibagikan oleh bagian Humas kemudian dirangkum untuk

disampaikan pada saat pertemuan manajemen dan direksi rumah sakit.

       Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diambil sebuah

rumusan masalah yaitu “Komunikasi Terapeutik Perawat dan Pasien Penyakit

Kanker di RS St. Elisabeth Semarang”. Dalam penelitian ini, penulis ingin

mendeskripsikan dan menganalisis mengenai bagaimana pelaksanaan
                                                                                 6




    komunikasi terapeutik yang ada di RS St. Elisabeth Semarang dalam asuhan

    keperawatan pasien penyakit kanker.


1.2. Rumusan Masalah

              Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat diambil

    kesimpulan     sebuah     rumusan      masalah   yaitu   “Bagaimana   Penerapan

    Komunikasi Terapeutik Perawat dan Pasien Penyakit Kanker RS St. Elisabeth

    Semarang?”

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1.   Tujuan Penelitian

         Adapun tujuan penelitian ini adalah :


         1.    Mendeskripsikan Komunikasi Terapeutik antara perawat dan pasien

               dalam asuhan keperawatan penyakit kanker RS St. Elisabeth

               Semarang.

         2.    Mengevaluasi pelaksanaan Komunikasi Terapeutik sesuai dengan

               standar asuhan keperawatan penyakit kanker RS St. Elisabeth

               Semarang.

1.3.2.   Manfaat Penelitian

         1.    Manfaat Teoritis

                     Memberikan sumbangan pengetahuan dan wawasan guna

               meningkatkan pengetahuan yang memperkuat teori-teori mengenai

               komunikasi     terapeutik    dalam    hubungannya   dengan   asuhan

               keperawatan.
                                                                              7




       2.   Manfaat Praktis

            a.   Bagi pihak Manajemen RS St.Elisabeth Semarang

                        Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan

                 masukan untuk membenahi dan meningkatkan kinerja dalam

                 pelayanan yang cepat dan cermat serta lebih baik, dan

                 digunakan sebagai bahan acuan dalam upaya peningkatan

                 sumber daya manusia dalam hal ini adalah perawat.

            b.   Perawat RS St.Elisabeth Semarang

                        Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

                 informasi yang berguna bagi tenaga kesehatan sehingga menjadi

                 bahan pertimbangan bagi rumah sakit dan perawat untuk

                 meningkatkan mutu pelayanan khususnya berkaitan dengan

                 kepuasan pelayanan dalam tindakan keperawatan.

            c.   Bagi pasien RS St.Elisabeth

                        Hasil penelitian ini diharapakan pasien mendapatkan

                 masukan tentang pelayanan yang sesuai dengan standar asuhan

                 keperawatan untuk penyakit yang diderita oleh pasien.

1.4. Kerangka Pemikiran

1.4.1. Model Komunikasi

             Salah satu aktivitas penting yang dilakukan oleh setiap individu

      manusia adalah komunikasi untuk melakukan interaksi, tetapi menjadi

      tidak efektif karena kesalahan dalam menafsirkan pesan yang diterima,
                                                                          8




 karena setiap manusia mempunyai keterbatasan dalam menelaah

 komunikasi yang disampaikan. Komunikasi berjalan lancar jika pelaku

 komunikasi yang disini adalah perawat kepada pasien sebaiknya

 memperhatikan hal-hal penting yang berhubungan dalam pelayanan di

 rumah sakit, baik yang diberikan perawat kepada pasien atau dalam hal

 penerimaan pesan yang disampaikan. Hal utama dalam komunikasi kepada

 pasien dapat terlihat ketika penyampaian pesan bisa dipahami dan diterima

 oleh pasien yang bersangkutan.

        Pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan komunikasi

terapeutik meliputi berbagai model, diantaranya :

1. Model Komunikasi Kesehatan

          Model komunikasi kesehatan (Machmud, 2009:137) dipengaruhi

  oleh proses yang pada intinya menekankan cara individu berupaya untuk

  sehat dengan cara menghindari penyebab penyakit. Model ini digunakan

  untuk memprediksi perilaku dalam hal pengetahuan tentang manfaat dan

  ancaman bagi kesehatan. Komunikasi diperlukan untuk memotivasi

  seseorang dalam pengambilan keputusan dalam mempertahankan

  kesehatan.   Persepsi   pasien   tentang   penyakit   merupakan     upaya

  pencegahan penyakit yang merupakan proses penting dalam menjaga

  tingkat kesehatan. Terdapat tiga elemen penting dalam model ini, yang

  meliputi ; persepsi individu pada tingkat kondisi suatu penyakit, persepsi

  individu terhadap manfaat dan kendala dalam tindakan pencegahan
                                                                         9




   penyakit, dan persepsi untuk memberikan dorongan individu dalam

  tindakan pencegahan penyakit.

         Kaitannya dengan komunikasi terapeutik perawat dalam asuhan

  keperawatan pasien penyakit kanker di RS.St Elisabeth Semarang, bahwa

  kecenderungan pasien penyakit kanker mempunyai jiwa mudah putus asa

  dalam mempertahankan penyakitnya, serta orang tersebut lebih sering

  uring-uringan, sangat labil, dan mudah tersinggung. Peran seorang

  perawat sangat dibutuhkan dalam hal menciptakan komunikasi yang baik

  dalam pencapaian situasi yang kondusif untuk membina hubungan pasien

  dengan perawat dalam penanganan penyakit kanker.



2. Model Interaksi King

         Proses komunikasi yang berlangsung antara perawat dan pasien,

  merupakan proses hasil interaksi yang bertujuan untuk menentukan suatu

  keputusan dan dasar tindakan dalam pelaksanaan kesehatan. Prosedur

  tindakan dan resiko yang mungkin terjadi, dan biaya yang harus

  ditanggung oleh pihak pasien perlu dijelaskan kepada pasien agar pihak

  pasien dapat mengambil keputusan terbaik.

         Mengadopsi dari model interaksi King (Machmud, 2009:57)

  didasarkan pada pertimbangan untuk membantu pasien agar berupaya

  mempertahankan     kesehatan.   Perawat     perlu   memperhatikan   dan

  menganalisis komponen yang berkaitan dengan status kesehatan pasien.
                                                                           10




   Kesehatan pasien bukan faktor yang berdiri sendiri melainkan

   berhubungan erat dengan lingkungan sosial, dan budaya masyarakat di

   sekitar.



Perawat        Persepsi                          Umpan balik
               Keputusan
               Tindakan
                                      Reaksi         Interaksi    Transaksi


Pasien         Tindakan
               Keputusan
               Persepsi                          Umpan balik



                      Gambar 1.1 Model Interaksi King
                        (Sumber : Machmud, 2009:57)

               Berdasarkan skema gambar 1.1 dijelaskan bahwa model

   komunikasi terapeutik yang berlangsung secara sadar untuk menciptakan

   situasi atau keadaan yang berkaitan dengan pasien. Komunikasi juga

   merupakan alat bagi perawat untuk mempengaruhi tingkah laku pasien

   dan untuk mendapatkan keberhasilan dalam asuhan keperawatan.

              Komunikasi yang dilakukan oleh perawat dengan pasien sebagai

   lawan komunikasi memerlukan kemampuan khusus dan kepedulian

   sosial yang kental. Perawat perlu membekali diri dengan kemampuan

   berkomunikasi yang mencerminkan keterampilan intelektual, teknis, dan

   antar pribadi yang tercermin dalam perilaku yang mencerminkan

   perhatian dan kasih sayang. Berdasarkan hal tersebut efektivitas

   komunikasi       interpersonal   terapeutik   antara perawat   dan   pasien
                                                                           11




       direncanakan dan berfokus pada kesembuhan pasien. Hubungan antara

       perawat dan pasien yang bersifat terapeutik ialah komunikasi yang

       dilakukan dengan tujuan memperbaiki emosi pasien, perawat harus

       menganalisis dirinya secara sadar agar mampu menjadi modal yang

       bertanggung jawab. Seluruh perilaku dan pesan yang disampaikan, baik

       secara verbal maupun non verbal harus bertujuan terapeutik bagi pasien.

       Konsep ini sejalan dengan perilaku perawat RS.St Elisabeth Semarang

       harus mempunyai sikap yang dinamis dan mampu membawa perubahan

       pada orang lain untuk menjadi lebih baik. Informasi yang akurat dalam

       penanganan pasien merupakan kunci pokok dalam sebuah pelayanan dari

       perawat untuk pasien.



1.4.2. Teori Interaksionisme Simbolik

             Teori ini memfokuskan diri pada hakekat interaksi, pola-pola

      dinamis dari tindakan sosial dan hubungan sosial. Interaksi sendiri

      dianggap sebagai unit analisis, sementara sikap-sikap diletakkan menjadi

      latar belakang. Interaksi manusia dimediasi oleh penggunaan simbol-

      simbol, interpretasi, atau penetapan makna dari tindakan orang lain.

      Mediasi ini sejalan dengan pelibatan proses interpretasi antara stimulus

      dan respon dalam kasus perilaku manusia. Pendekatan interaksionisme

      simbolik memberikan banyak penekanan pada individu yang aktif dan

      kreatif daripada pendekatan-pendekatan teoritis lain (Foss,Karen and

      Stephen W.Littlejohn, 2009:30).
                                                                     12




       Interaksionisme simbolik mengarahkan perhatian seseorang pada

interaksi antar individu, dan bagaimana hal tersebut bisa dipergunakan

untuk mengerti apa yang orang lain katakan dan lakukan kepada individu

lain yang melibatkan suatu pertukaran simbol. Ketika seseorang

berinteraksi dengan orang lain, seseorang secara konstan mencari

“petunjuk” mengenai tipe perilaku apakah yang cocok dalam konteks

tersebut dan bagaimana menginterpretasikan apa yang dimaksudkan oleh

orang lain sehingga bisa dipahami fenomena sosial lebih luas melalui

pencermatan individu.

       Teori interaksionisme simbolik dalam komunikasi terapeutik

perawat bukanlah hal yang asing dengan adanya interaksi kelompok

terhadap individu. Keterkaitan tersebut nampak dalam bentuk peran serta

kelompok    profesional   yang   dapat   memberikan    pelayanan   untuk

menunjang kesembuhan pasien yang sangat dibutuhkan baik dari sentuhan,

perhatian, dan penyampaian pesan secara halus yang membuat

kenyamanan tersendiri bagi pasien. Kenyataan yang terjadi berdasarkan

teori interaksionisme simbolik bahwa perawat RS.St.Elisabeth Semarang

menyatakan interaksi pada pelayanan terhadap pasien sangat berperan

besar untuk kesembuhan pasien.

       Model-model komunikasi tersebut dianalisis berdasarkan hasil

penelitian yang diperoleh dari RS St. Elisabeth Semarang apakah

komunikasi terapeutik perawat terhadap pasien penyakit kanker sudah

terlaksana dengan baik dan dapat berjalan sesuai standar asuhan
                                                                      13




keperawatan di RS St. Elisabeth Semarang. Hubungan antara perawat dan

pasien yang berlangsung di RS St. Elisabeth Semarang bermula bahwa

segala upaya pelaksanaan kesehatan yang dilakukan oleh perawat terhadap

pasien selalu diatur oleh standar pelaksanaan berdasarkan kaidah-kaidah ,

yaitu medik, hukum dan non hukum (moral/etik, kesopanan, kesusilaan).

Hubungan perawat dan pasien juga merupakan salah satu bentuk interaksi

sosial yang dapat dilihat dari perspektif interaksionisme simbolik.

       Ada beberapa metode komunikasi yang digunakan dalam

keperawatan, ((Machmud, 2009:48) metode tersebut antara lain :

a) Informasi komunikasi, yaitu metode yang digunakan untuk
   menyampaiakan informasi secara umum dilakukan dengan cara
   memberikan penerapan, keterangan, pemberitahuan tentang sesuatu
   yang keseluruhan maknanya menunjang inti permasalahan. Sifat
   informasi adalah menerangkan dan penerangan yang bersifat edukatif,
   stimulatif dan persuasif. Keuntungan yang bisa diambil adalah
   mencapai sasaran yang cukup besar, kelemahannya adalah isi pesan
   tidak tajam dan tidak mengikat komunikan.

b) Komunikasi persuasif, yaitu metode komunikasi yang bersifat
   membujuk secara halus agar sasaran menjadi yakin melalui ajakan
   dengan memberikan alasan dan prospek baik yang meyakinkan.
   Misalnya memberi motivasi untuk segera lekas sembuh, dorongan
   semangat dalam pemulihan kesehatan serta anjuran yang baik yang
   dapat disampaikan pada pasien. Keuntungan komunikasi persuasif
   adalah menyadarkan komunikan untuk mengadakan penilaian
   terhadap informasi yang disampaikan sehingga dapat menentukan
   sikap untuk mengikuti ajakan komunikator. Kelemahan dari
   komunikasi persuasif adalah membutuhkan jangka waktu yang relatif
   lama karena kegiatan perlu tambahan berupa pembinaan secara terus-
   menerus.

c) Komunikasi instruktif, yaitu metode komunikasi berupa arahan atau
   perintah untuk melakukan suatu tugas atau melaksanakan suatu
   pekerjaan. Misalnya minum obat satu tablet tiga kali sehari yang
   diperintahkan seorang perawat kepada pasiennya. Keuntungan metode
   komunikasi instruktif adalah lebih menunjukkan keberhasilan sesuai
   dengan tujuan jangka waktu yang lebih cepat, dan kelemahannya
   adalah bersifat otoriter.
                                  BAB II

                         TINJAUAN PUSTAKA




2.1. Komunikasi

          Manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan, juga sebagai mahkluk sosial

   selalu berhubungan dengan orang lain, bersosialisasi dan berinteraksi satu

   dengan yang lain. Komunikasi merupakan proses dua orang atau lebih yang

   melakukan pertukaran informasi satu sama lainnya, pada ahkirnya didapat

   saling pengertian. Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses

   penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain, dalam

   bahasan selanjutnya difokuskan pada komunikasi yang terjadi antara perawat

   dan pasien.

          Sebuah interaksi yang berlangsung antara perawat dan pasien

   menimbulkan dampak interaksi yang dekat, diharapkan dapat menimbulkan

   rasa saling percaya antara keduanya untuk memperoleh keadaan yang lebih

   baik. Komunikasi menimbulkan rasa aman dan nyaman pada pasien sebagai

   pengguna jasa di RS St. Elisabeth sehingga diharapkan pasien dapat

   melakukan perawatan selama sakit dan proses penyembuhan lebih baik.

          Tenaga keperawatan perlu memahami konsep dan proses komunikasi

   terapeutik dalam berinteraksi dengan pasien sehingga meningkatkan mutu

   pelayanan atau kepuasan pasien dalam asuhan keperawatan pasien penyakit

   kanker di RS St.Elisabeth Semarang.




                                    14
                                                                             15




2.1.1. Pengertian Komunikasi Terapeutik

             Komunikasi     terapeutik   adalah   komunikasi      khusus   yang

      dilaksanakan oleh penyelenggara jasa kesehatan dalam hal ini adalah

      perawat dan tenaga kesehatan lain yang direncanakan dan berfokus pada

      kesembuhan pasien. Hubungan antara perawat dan pasien yang bersifat

      terapeutik ialah komunikasi yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki

      emosi pasien. Perawat menjadikan dirinya secara terapeutik dengan

      berbagai tehnik komunikasi secara optimal dengan tujuan mengubah

      perilaku pasien ke arah yang positif. Untuk menerapkan komunikasi yang

      efektif perawat harus mempunyai keterampilan yang memadai dan

      memahami dirinya dengan baik. dengan harapan perawat dapat

      menghadapi, mempersepsikan, bereaksi, dan menghargai keunikan pasien.

             Proses komunikasi mungkin akan terlihat canggung, semu, dan

      seperti dibuat-buat saat perawat berkomunikasi secara terapeutik untuk

      pertama kalinya. Komunikasi terapeutik adalah hal penting dalam

      pelayanan kesehatan yang harus direncanakan, disengaja, dan merupakan

      tindakan profesional. Seorang perawat harus mampu menghargai pasien

      dengan segala kekurangannya, sehingga dalam memberikan bantuan

      kepada pasien untuk mengatasi masalahnya berjalan lancar.

             Hubungan antara pasien dan perawat yang bersifat terapeutik

      diawali dengan komunikasi yang bersifat umum. Hubungan tindakan

      terapeutik dapat didefinisikan melalui tindakan yang diambil oleh perawat

      dan pasien yang dimulai dengan perawat, respon pasien, interaksi kedua
                                                                          16




      pihak untuk mengkaji kebutuhan pasien dan tujuannya, serta transaksi

      timbal balik untuk mencapai tujuan hubungan.


2.1.2. Tujuan Komunikasi Terapeutik

              Pelaksanaan komunikasi terapeutik bertujuan membantu pasien

      memperjelas penyakit yang dialami, juga mengurangi beban pikiran dan

      perasaan untuk dasar tindakan guna mengubah ke dalam situasi yang lebih

      baik. Komunikasi terapeutik diharapkan dapat mengurangi keraguan serta

      membantu dilakukannya tindakan yang efektif, mempererat interaksi

      kedua pihak, yakni antara pasien dan perawat secara profesional dan

      proporsional dalam rangka membantu penyelesaian masalah pasien

      (Machmud, 2009:105).

      a.    Menggali perasaan, pikiran, perilaku, dan pengalaman sendiri.
      b.    Mengerti tentang peran yang dimainkan oleh pasien dan orang lain
            dalam masalah yang diidentifikasi.
      c.    Bertindak memuji penyelesaian masalah kehidupan pasien melalui
            pilihan yang telah ditentukan.

              Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien sangat

      dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-pasien, sehingga memberikan

      dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan pasien.

2.1.3. Dasar-Dasar Komunikasi Terapeutik

           Perbedaan mendasar yang membedakan komunikasi sosial dan

      komunikasi terapeutik dapat dilihat dari berbagai segi (Machmud, 2009 :

      106).

      1.    Perawat harus mampu mengenali dirinya sendiri sebelum perawat
            tersebut mengenali pasiennya. Kondisi ini diciptakan sendiri oleh
                                                                       17




      perawat sehingga pasien akan percaya ketika perawat memberikan
      tindakan keperawatan.
2.    Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, percaya,
      dan menghargai. Perawat dan pasien harus saling menghargai, perawat
      tidak boleh menganggap pasien rendah, dan bodoh. Pasien harus
      dihargai dan dimanusiakan sebagai pasien yang terhormat.
3.    Perawat harus memahami, menghayati nilai yang dianut oleh pasien.
      Perawat harus mengerti bahwa pasien mempunyai adat, nilai budaya
      yang berbeda-beda, sehingga perawat bisa memberikan tindakan
      keperawatan sesuai dengan adat dan nilai luhur yang dianut oleh
      pasien.
4.    Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik
      maupun mental. Pasien yang dirawat dirumah sakit tidak hanya sakit
      secara fisik tetapi juga mental dan emosional. Perawat harus bisa
      memahami pemenuhan kebutuhan tersebut sampai kebutuhan
      fisiologis pasien benar-benar terpenuhi.
5.    Perawat harus dapat menciptakan suasana yang aman dan nyaman
      bagi pasien. Pasien yang dirawat dirumah sakit merasakan suasana
      yang asing, terlebih bagi pasien yang baru pertama kali merasakan
      perawatan di rumah sakit. Perawat diharapkan mampu menciptakan
      suasana yang nyaman dan aman bagi pasien, misalnya dengan
      mengurangi kegaduhan, mengatur jam kunjung, mengatur jam
      perawatan dan pengobatan.
6.    Perawat harus mampu menguasai perasaannya secara bertahap untuk
      mengetahui dan mengatasi perasaan sedih, marah, dan frustasi.
7.    Mampu mempertahankan batas waktu yang sesuai dan dapat
      mempertahankan konsistensi.
8.    Memahami dengan baik arti simpati sebagai sifat tindakan terapeutik
      dan yang bukan terapeutik.
9.    Kejujuran dan keterbukaan komunikasi merupakan dasar hubungan
      terapeutik.
10.   Perawat sebagai individu yang merawat pasien diharapkan mampu
      memerankan model agar dapat menunjukkan dan meyakinkan orang
      lain tentang kesehatan sehingga perawat perlu mempertahankan suatu
      kondisi sehat secara fisik, mental sosial, spiritual dan gaya hidup.
11.   Perawat harus mampu menciptakan suasana yang memungkinkan bagi
      pasien untuk berkembang tanpa rasa takut.
12.   Perawat diharapkan dalam memberikan sesuatu tindakan apapun tidak
      menharapkan balasan apapun dari pasien.
13.   Setiap tindakan yang dilakukan oleh perawat harus bisa
      dipertanggungjawabkan secara lisan maupun tulisan.
14.   Mempemperhatikan etika dengan berusaha agar setiap pengambilan
      keputusan didasarkan atas prinsip kesejahteraan manusia.
                                                                             18




2.1.4. Faktor–Faktor Penghambat Komunikasi Terapeutik

              Terdapat beberapa kondisi yang terjadi sehingga mempengaruhi

      proses komunikasi perawat dan pasien, sehingga dalam pelaksanaanya

      tidak tercapai tujuan yang direncanakan. Kondisi ataupun faktor yang bisa

      mempengaruhi isi pesan dan sikap dalam penyampaian pesan komunikasi

      terapeutik antara perawat dan pasien dapat dikelompokkan sebagai berikut

      (Anita Murwani, 2009:19) :

      1.   Perkembangan.
                  Penyampaian isi pesan dan sikap dalam berkomunikasi harus
           disesuaikan dengan penerima pesan, apakah penerima pesan adalah
           anak-anak, remaja, dewasa ataupun lanjut usia.

      2.   Persepsi.
                  Merupakan pandangan seseorang terhadap suatu kejadian,
           yang dibentuk oleh harapan dan pengalaman. Mekanisme penyerapan
           pandangan seseorang sangat terkait dengan fungsi panca indera.
           Proses penyerapan stimulan yang dihimpun dan ditafsirkan oleh otak
           membentuk sebuah persepsi. Persepsi berpengaruh pada proses
           komunikasi karena persepsi merupakan dasar terjadinya komunikasi.
           Kesamaan persepsi antara komunikator dan komunikan sangat
           dibutuhkan sehingga pesan dapat tersampaikan sesuai dengan yang
           dimaksudkan.

      3.   Nilai.
                   Merupakan standar yang mempengaruhi perilaku sehingga
           sangat penting bagi pemberi pelayanan kesehatan untuk menyadari
           nilai seseorang. Komunikasi keperawatan dipengaruhi oleh nilai-nilai
           yang dimiliki oleh perawat dan pasien. Nilai yang dianut oleh perawat
           dalam komunikasi kesehatan berbeda dengan nilai yang dimiliki oleh
           pasien. Perawat harus berpegang pada nilai-nilai profesionalisme
           dalam berkomunikasi. Perawat tidak perlu marah kepada pasien yang
           tidak kooperatif terhadap suatu rencana tindakan yang akan dilakukan,
           namun harus lebih memotivasi pasien untuk lebih cepat sembuh
           melalui nilai-nilai yang dianut oleh pasien

      4.   Latar belakang sosial budaya.
                  Latar belakang sosial dan budaya menciptakan gaya dalam
           berkomunikasi. Sosial budaya merupakan faktor yang membatasi cara
           bertindak dan berkomunikasi.
                                                                          19




      5.   Emosi.
                   Emosi adalah perasaan subyektif tentang suatu peristiwa di
           sekelilingnya. Kekuatan emosi dipengaruhi oleh cara seorang
           mengendalikan diri dalam menunjukkan kesanggupan atau
           kemampuannya berhubungan dengan orang lain. Perawat dalam
           melakukan komunikasi harus bersikap profesional dalam
           mengendalikan diri, mengetahui perasaan atau melibatkan emosi dan
           merasakan apa yang dirasakan oleh pasien, sehingga komunikasi
           antara perawat dan pasien dapat berjalan dengan baik dan efektif.

      6.   Pengetahuan.
                   Perbedaan tingkat pengetahuan dapat menjadi kendala dalam
           komunikasi antara perawat dan pasien. Orang awam membutuhkan
           penjelasan tentang penyakit yang diderita dengan keterangan yang
           lebih sederhana dan bahasa yang mudah dimengerti. Dibutuhkan
           kecakapan dalam menempatkan diri sesuai dengan tingkat
           pengetahuan dan mumpuni dalam memahami tingkat pengetahuan
           pasien.

      7.   Peran dan hubungan.
                  Gaya komunikasi harus disesuaikan dengan peran yang sedang
           dilakukan oleh seorang perawat. Seorang perawat akan merasa
           nyaman dan bersikap terbuka ketika berkomunikasi dengan sesama
           perawat. Berbeda ketika seorang perawat berkomunikasi dengan
           dokter atau orang yang memegang jabatan lebih tinggi. Komunikasi
           akan berjalan lancar apabila kedua pihak saling mengenal, sehingga
           lawan komunikasi akan leluasa mengemukakan perasaan atau sesuatu
           yang dialami dan dirasakan.

      8.   Lingkungan.
                  Komunikasi akan berjalan lebih efektif jika dilakukan dalam
           lingkungan yang menunjang. Kondisi lingkungan yang kondusif
           merupakan faktor pendukung yang positif bagi berlangsungnya
           komunikasi. Perawat berwenang mengendalikan suasana pada waktu
           pasien berkumpul di suatu ruangan untuk menunggu giliran pelayanan
           kesehatan. Bersikap tenang dan berbicara dengan jelas ketika
           menyampaikan informasi kepada pasien dan keluarganya.


2.1.5. Unsur-unsur Komunikasi Terapeutik

             Komunikasi menjadikan orang dapat saling berbagi informasi,

      bertukar pikiran, berbagi rasa, dan memecahkan permasalahan yang
                                                                            20




      dihadapi. Setiap orang baik disadari atau tidak melakukan komunikasi

      secara verbal maupun non verbal. Keberhasilan setiap aspek kehidupan

      ditentukan oleh kecakapan dalam melakukan komunikasi         keseluruhan

      proses komunikasi tersebut tidak lepas dari unsur-unsur komunikasi

      sebagai berikut (Machmud, 2009 : 2) :

      1.   Sumber proses komunikasi yaitu pengirim dan penerima pesan.
           Prakarsa berkomunikasi dilakukan oleh sumber dan sumber juga
           menerima pesan sebagai tolak ukur keberhasilan dalam mengirim.
      2.   Pesan-pesan yang disampaikan dengan mengggunakan penyandian
           atau simbol baik yang berupa bahasa verbal maupun non verbal.
      3.   Penerima, yaitu orang yang menerima pengiriman pesan dan
           membalas pesan yang disampaikan oleh sumber, sehingga dapat
           diketahui arti sebuah pesan pesan.
      4.   Lingkungan waktu komunikasi berlangsung meliputi saluran
           penyampaian dan penerimaan pesan serta lingkungan alamiah saat
           pesan disampaikan. Saluran penyampaian pesan melalui indra
           manusia yaitu: pendengaran, penglihatan, pengecap, dan perabaan.


2.1.6. Jenis Komunikasi Terapeutik

             Komunikasi merupakan proses penyampaian dan pertukaran ide,

      perasaan dan pikiran antara dua orang atau lebih sehingga terjadi

      perubahan sikap dan tingkah laku bagi semua yang saling berkomunikasi.

      Komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal

      dan publik (Machfoedz, Mahmud. 2009:9).

             Ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non verbal

      yang dimanifestasikan secara terapeutik.   Komunikasi menjadi penting

      karena dapat menjadi sarana membina hubungan yang baik antara pasien

      dan tenaga kesehatan, dapat melihat perubahan perilaku pasien, sebagai
                                                                            21




      kunci keberhasilan tindakan kesehatan, sebagai tolak ukur kepuasan pasien

      dan keluhan tindakan serta rehabilitasi.

             Komunikasi yang paling sering digunakan dalam pelayanan

      keperwaatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal

      terutama pembicaraan dengan tatap muka. Keuntungan komunikasi verbal

      melalui tatap muka yaitu memungkinkan setiap individu untuk merespon

      secara langsung. Komunikasi verbal yang efektif harus memperhatikan

      perbendaharaan kata, jelas dengan ringkas, selaan dan kecepatan bicara,

      waktu dan relevansi, serta humor.

             Komunikasi      yang      membutuhkan   perhatian   lebih   dalam

      menterjemahkan maksud dari sebuah pesan adalah komunikasi non verbal,

      karena komunikasi non verbal merupakan pemindahan pesan tanpa

      menggunakan kata-kata. Komunikasi non verbal merupakan cara yang

      paling meyakinkan untuk penyampaian pesan, yang            teramati pada

      penampilan personal, intonasi (nada suara), ekspresi wajah, sikap dan

      langkah tubuh, serta sentuhan.



2.1.7. Proses Komunikasi

      Proses komunikasi yang berjalan dengan baik akan memberikan hasil

      sesuai harapan dan tujuan. Pendukung terciptanya sebuah proses

      komunikasi adalah :

      1.   Komunikator :

           a. Menggambarkan ide atau pikiran yang ingin disampaikan.
                                                                                   22




           b. Mengkode ide atau pikiran dalam bentuk lambang verbal atau non

             verbal.

           c. Menyampaikan        pesan      melalui      saluran   komunikasi    dan

             menggunakan metode tertentu.

           d. Menunggu umpan balik dari komunikan untuk mengetahui

             keberhasilan komunikasi.

      2.   Komunikan :

           a. Menerima lambang-lambang yang disampaikan oleh komunikator.

           b. Membaca lambang verbal atau non verbal yang disampaiakan oleh

             komunikator.

           c. Menggunakan pesan yang telah disampaikan

           d. Memberikan umpan balik kepada komunikator.

             Seorang       perawat     profesional     selalu   mengupayakan     untuk

      berperilaku terapeutik yang berarti bahwa tiap interaksi yang dilakukan

      menimbulkan dampak terapeutik yang memungkinkan                    pasien untuk

      tumbuh    dan       berkembang     guna   mencapai        kesembuhan,   sehingga

      dibutuhkan pemahaman mengenai prinsip-prinsip komunikasi terapeutik

      (Heri, 1994 : 9).



2.1.8. Prinsip –prinsip Komunikasi

             Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati,

      memahami dirinya sendiri serta nilai-nilai yang dianut. Komunikasi harus
                                                                           23




ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya dan saling

menghargai (Machfoedz, Mahmud. 2009:9).

       Prinsip-prinsip komunikasi yang harus dilakukan oleh seorang

perawat adalah sebagai berikut :

1.  Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik
    maupun mental.
2. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien
    bebas berkembang tanpa rasa takut.
3. Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien
    memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap, tingkah
    lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat menyelesaikan
    masalah-masalah yang dihadapi.
4. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap
    untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah,
    keberhasilan maupun frustasi.
5. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat
    mempertahankan konsistensinya.
6. Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan
    sebaliknya simpati bukan tindakan yang terapeutik.
7. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan
    terapeutik.
8. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukan dan
    meyakinkan orang lain tentang kesehatan, maka perawat perlu
    mempertahankan suatu keadaan sehat fisik, mental, spiritual dan gaya
    hidup.
9. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap
    mengganggu.
10. Altruisme mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara
    manusiawi.
11. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin
    mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia.
12. Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap
    diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap
    orang lain.

       Selain memperhatikan prinsip-prinsip tersebut perawat perlu

memperhatikan fase-fase komunikasi terapeutik dalam hubungan perawat

pasien yang terdiri dari empat fase ; fase pre orientasi, fase orientasi, fase

kerja, fase terminasi. Komunikasi merupakan proses yang melibatkan
                                                                           24




      orang lain, maka perlu menerapkan tehnik-tehnik terapeutik supaya

      komunikasi dapat berjalan lancar dan tepat (Heri, 1994 : 11).



2.1.9. Tehnik Komunikasi Terapeutik

             Komunikasi terapeutik dapat berjalan apabila seorang perawat

      mampu melakukan komunikasi dengan baik dan benar menggunakan

      tehnik yang dapat dilakukan oleh perawat.

             Syarat agar komunikasi terapeutik berjalan secara efektif,

      diantaranya (Anita Murwani, 2009:56).

      1.   Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjadikan diri pemberi
           maupun penerima pesan.
      2.   Komunikasi terapeutik ditujukan untuk menciptakan saling pengertian
           yang harus lebih dulu dilakukan sebelum memberikan saran,
           informasi atau masukan.

             Berkomunikasi dengan orang lain membutuhkan tehnik yang sesuai

      dengan ciri kepribadian masing-masing yaitu :

      1.   Mendengarkan.
                  Perawat harus berusaha untuk mendengarkan informasi yang
           disampaikan oleh pasien dengan penuh empati dan perhatian.
           Memandang ke arah pasien selama berbicara, menjaga kontak
           pandangan yang menunjukkan keingintahuan, dan menganggukkan
           kepala pada saat berbicara tentang hal yang dirasakannya sangat
           penting atau membutuhkan umpan balik. Tehnik ini dimaksudkan
           untuk memberikan rasa aman kepada pasien dalam mengungkapkan
           perasaan dan menjaga kestabilan emosi pasien.

      2.   Menunjukkan Penerimaan
                  Menerima bukan berarti menyetujui, melainkkan bersedia
           untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan sikap ragu dan
           penolakan. Perawat sebaiknya tidak menunjukkan ekspresi wajah
           yang menunjukkan ketidaksetujuan ataupun penolakan. Sikap yang
           ditunjukkan adalah mendengarkan tanpa memutus pembicaraan,
           memberikan umpan balik, menghindarkan perdebatan, dan ekspresi
           keraguan.
                                                                     25




3.   Menanyakan pertanyaan yang berkaitan
            Menanyakan sesuatu kepada pasien yang berhubungan dengan
     topik yang dibicarakan antara perawat dan pasien bertujuan untuk
     mendapatkan informasi yang spesifik. Pertanyaan dikaitkan dengan
     topik yang dibicarakan dan mempergunakan kata-kata yang sesuai
     dengan konteks sosial budaya pasien.

4.   Mengulang pernyataan pasien
             Mengulangi pokok pikiran pasien menunjukkan indikasi
     perawat tersebut mengikuti pembicaraan pasien. Perawat memberikan
     umpan balik sehingga pasien mengetahui bahwa pesan yang
     disampaikan mendapat respon dengan harapan komunikasi dapat
     dilanjutkan.

5.   Klarifikasi
             Klarifikasi diperlukan untuk memperoleh kejelasan, dan
     kesamaan ide, perasaan, dan persepsi. Perawat berusaha menjelaskan
     dalam kata-kata atau ide yang jelas apabila terjadi kesalahpahaman.
     Perawat perlu menghentikan pembicaraan untuk meminta penjelasan
     dengan menyamakan pengertian, berkaitan dengan pentingnya
     informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan.

6.   Memfokuskan Pembicaraan.
            Tujuan memfokuskan pembicaraan adalah untuk membatasi
     materi pembicaraan agar percakapan lebih spesifik dan mudah
     dimengerti. Perawat tidak perlu menyela pembicaraan pasien ketika
     menyampaikan masalah penting, kecuali tidak menghasilkan
     informasi baru.

7.   Menyatakan hasil observasi
            Perawat perlu menyampaikan hasil observasi terhadap pasien
     untuk mengetahui bahwa pesan dapat tersampaikan dengan baik.
     Perawat menjelaskan kesan yang diperoleh dari isyarat non verbal
     yang dilakukan oleh pasien, menjadikan pasien berkomunikasi lebih
     baik dan terfokus pada permasalahan yang sedang dibicarakan.

8.   Menawarkan informasi
            Penghayatan kondisi pasien akan lebih baik jika pasien
     mendapat informasi yang cukup dari perawat. Memberikan informasi
     yang lebih lengkap merupakan pendidikan kesehatan bagi pasien.
     Perawat dimungkinkan untuk memfasilitasi pasien dalam mengambil
     keputusan, dan tidak dibenarkan perawat memberikan nasehat kepada
     pasien saat memberikan informasi.
                                                                       26




9.   Diam
            Memberi kesempatan kepada perawat dan pasien untuk
     mengorganisasi pikirannya. Penerapan metode ini membutuhkan
     keterampilan dan ketepatan waktu. Pasien dapat berkomunikasi
     dengan dirinya sendiri, mengorganisasi pikiran dan memproses
     informasi yang bermanfaat saat pasien harus mengambil sebuah
     keputusan.

10. Meringkas
           Meringkas merupakan metode pengulangan ide utama yang
    telah dikomunikasikan secara singkat, bertujuan untuk membantu
    mengingat topik yang telah dibahas sebelum melanjutkan
    pembicaraan berikutnya dan mengulang aspek penting untuk interaksi
    selanjutnya.

11. Memberikan penghargaan
           Memberikan penghargaan dapat dinyatakan dengan mengucap
    salam kepada pasien, yang disertai dengan menyebut nama pasien,
    sebagai suatu penghargaan yang tulus, sehingga pasien merasa
    keberadaannya dihargai.

12. Memberikan kesempatan pasien memulai pembicaraan
          Perawat memberikan kesempatan kepada pasien untuk
    memilih topik pembicaraan. Perawat dapat menstimuli pasien untuk
    membuka pembicaraan.

13. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan
          Perawat memberi kesempatan kepada pasien untuk
    mengarahkan hampir seluruh pembicaraan dan perawat lebih berusaha
    menafsirkan pembicaraan pasien.

14. Refleksi
           Merupakan reaksi yang muncul dalam komunikasi antara
    perawat dan pasien. Refleksi dibedakan dalam dua klasifikasi :

     a.   Refleksi isi
                 Refleksi isi bertujuan untuk mensahkan sesuatu yang
          didengar dengan klarifikasi ide yang diungkapkan oleh pasien dan
          pemahaman oleh perawat.
     b.   Refleksi perasaan
                 Ungkapan yang bertujuan memberikan respon terhadap
          ungkapan perasaan pasien, yang bertujuan agar pasien dapat
          menyadari eksistensinya sebagai manusia yang mempunyai
          potensi sebagai individu yang berdiri sendiri (Machfoedz,
          Mahmud. 2009:28).
                                                                          27




2.2. Komunikasi Keperawatan

           Komunikasi merupakan bentuk kegiatan yang selalu dan dapat

   dilakukan pada setiap tahap atau komponen proses keperawatan. Perawat

   tidak dapat melakukan proses tersebut dengan baik tanpa mengetahui

   kebutuhan pasien serta membantu menyelesaiakan masalah pasien yang

   sedang dihadapi.

           Proses keperawatan merupakan suatu metode untuk mengorganisasi

    dan memberikan tindakan keperawatan dari perawat kepada pasien.

    Komponen proses keperawatan digunakan sebagai sarana untuk mencapai

    tujuan yang hendak dicapai melalui pendekatan proses keperawatan melalui

    tahap-tahap sebagai berikut (Arwani, 2003:48) :

    1.   Pengkajian, sebagai tahap awal dari proses keperawaatan, digunakan
         untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui beragam
         cara komunikasi. Selama tahap diagnosa keperawatan, perawat
         menggunakan komunikasi untuk menyatu dengan pasien, keluarga
         pasien, dan tim kesehatan lainnya dalam rangka mengidentifikasi
         kebutuhan kesehatan dan menentukan prioritas dari tindakan
         keperawatan.

    2.   Tahap pengembangan rencana keperawatan, perawat berinteraksi
         dengan pasien untuk menentukan apa yang pasien inginkan berkaitan
         dengan cara melakukan tindakan keperawatan. Selama tahap tindakan
         keperawatan, perawat aktif dalam tindakan keperawatan yang diberikan
         kepada pasien dan dibutuhkan keterampilan komunikasi untuk
         memenuhi kebutuhan fisik dan psikososial pasien.

    3.   Tahap akhir proses keperawatan, perawat melakukan komunikasi
         dengan pasien untuk menilai kemajuan dan hasil akhir dari tindakan
         keperawatan yang diberikan. Komunikasi perawat akan mengalami
         kesulitan untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang telah
         diberikan berhasil atau tidak. Proses penilaian memungkinkan adanya
         perbaikan rencana keperawatan yang telah tersusun.
                                                                             28




2.2.1. Karakteristik Komunikasi Keperawatan

                Tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri komunikasi terapeutik

      yaitu sebagai berikut (Arwani, 2003 : 54) :

      1.   Ikhlas (Genuiness)
                   Perawat yang mempunyai sikap yang tulus dan ikhlas dapat
           diungkapkan dengan keterbukaan, kejujuran, keikhlasan dan peran
           aktif dalam berkomunikasi dengan pasien. Respon yang tulus tidak
           mencerminkan kepura-puraan dan diungkapkan secara spontan sesuai
           dengan tanggung jawab dan wewenangnya.
                   Keuntungan bagi pasien dengan ciri keikhlasan dan ketulusan
           perawat adalah :
           a. Pasien merasa bebas untuk mengekspresikan pikiran dan emosi
                sesungguhnya.
           b. Mengembangkan perasaan percaya kepada perawat.
           c. Menyediakan informasi yang dapat dipergunakan.
           d. Merasakan suasana rileks.
           e. Menikmati suasana ketulusan.

      2.   Empati (Empathy)
                   Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri pada
           posisi orang lain, serta memahami bagaimana perasaan orang lain dan
           hal yang menyebabkan reaksi tanpa emosi seseorang terbawa dalam
           situasi emosi orang lain. Keuntungan empati bagi pasien adalah :

           a.    Empati meningkatkan perasaan berhubungan dengan orang lain.
           b.    Memberikan peningkatan harga diri seseorang yang menerima
                 empati.
           c.    Respon empati meningkatkan kesadaran diri dan wawasan serta
                 membantu pasien memutuskan bagaimana mengatasi sebuah
                 situasi.

                  Empati memiliki beberapa aspek yang berhubungan dengan
           sikap positif pasien terhadap perawat :

           a.    Aspek Mental
                        Aspek mental berarti memahami seseorang secara
                 emosional dan intelektual. Kemampuan untuk melihat dunia
                 orang lain dengan menggunakan cara pandang orang lain tersebut.
           b.    Aspek Verbal
                        Kemampuan mengungkapkan secara verbal suatu
                 pemahaman terhadap perasaan dan alasan reaksi emosi pasien.
                 Aspek verbal memerlukan keakuratan dan ketepatan, kejelasan
                 dan kealamiahan.
                                                                       29




     c.   Aspek Non Verbal
                 Aspek non verbal yang diperlukan adalah kemampuan
          untuk menunjukkan empati dengan kehangatan dan kesejatian.

         Tahap dalam melakukan empati terdiri atas beberapa tahap
     penting, yaitu :
     a. Membersihkan pikiran seseorang dari suatu pikiran yang
         mengganggu.
     b. Mendengarkan
     c. Mengkonsentrasikan pesan verbal dan non verbal untuk mengerti
         perasaan dan alasan reaksi pasien.
     d. Mengatakan pada diri sendiri “orang ini ingin mendengarkan apa
         darinya”
     e. Menyampaikan respon empatik yang mencakup ; keakuratan,
         natural, kejelasan, kehangatan, kesejatian.
     f. Meneliti apakah respon empatik yang dilakukan seseorang
         tersebut berjalan efektif.

3.   Hangat (Warmth)
            Kehangatan dan sikap permisif yang diberikan, diharapkan
     pasien dapat memberikan dan mewujudkan ide-idenya tanpa rasa
     takut, sehingga pasien bisa mengekspresikan perasaannya lebih
     mendalam. Posisi tubuh yang dapat menurunkan kehangatan adalah :
     a. Mengangkat bahu tanda tidak peduli atau tidak tahu.
     b. Menyilangkan tangan.
     c. Menyilangkan kaki
     d. Mengepalkan tinju.

     Hal-hal yang dapat merusak kehangatan sikap seseorang antara lain :
     a. Melihat sekeliling pada saat berkomunikasi dengan orang lain.
     b. Mengetuk-ngetuk dengan jari.
     c. Mundur tiba-tiba.
     d. Tidak tersenyum.

     Hambatan-bambatan untuk dapat menunjukkan kehangatan antara
     lain:
     a. Terburu-buru
     b. Emosi berlebihan
     c. Terkejut
     d. Penilaian tentang orang lain sehingga membuat seseorang
          mengalihkan perhatian pada suatu masalah.
                                                                             30




2.2.2. Dimensi Tindakan Keperawatan

             Dimensi tindakan dan dimensi respon merupakan dua faktor yang

      tidak terpisahkan. Tindakan yang dilakukan harus dalam konteks perhatian

      dan kehangatan suasana komunikasi. Perawat yang berpengalaman dapat

      segera menerapkan dimensi tindakan tanpa harus membina hubungan yang

      sesuai dengan dimensi respon. Dimensi ini termasuk konfrontasi,

      kesegaraan, pengungkapan diri perawat, katarsis emosional, dan bermain

      peran. Dimensi ini harus diimplementasikan dalam konteks kehangatan,

      penerimaan, dan pengertian yang dibentuk oleh dimensi responsif.

      1.   Konfrontasi
                  Konfrontasi merupakan proses interpersonal yang digunakan
           oleh perawat untuk memfasilitasi, memodifikasi dan perluasan dari
           gambaran diri orang lain. Dua bagian konfrontsi tersebut meliputi :
           a. Membuat orang lain sadar terhadap perilaku yang tidak produktif
               atau merusak.
           b. Membuat pertimbangan tentang bagaimana bertingkah laku yang
               lebih produktif dengan jelas dan konstruktif.

           Pengekspresian perawat terhadap perbedaan perilaku pasien yang
           bermanfaat untuk memperluas kesadaran diri pasien. mengidentifikasi
           tiga kategori konfrontasi yaitu :
           a. Ketidaksesuaian antara konsep diri pasien (ekspresi pasien
                tentang dirinya) dan ideal diri (cita-cita/keinginan pasien).
           b. Ketidaksesuaian antara ekspresi verbal dan perilaku pasien.
           c. Ketidaksesuaian antara ekspresi pengalaman pasien tentang
                dirinya dan pengalaman perawat tentang pasien.

           Cara melakukan konfrontasi, yaitu :
           a. Clarity, yaitu membuat sesuatu menjadi lebih jelas.
           b. Articulate, yaitu mengeksplorasikan dengan kata-kata yang jelas.
           c. Request, yaitu permintaan.
           d. Encourage, yaitu support, harapan.
                                                                         31




           Sebelum      melakukan     konfrontasi,    perawat     perlu
     mempertimbangkan faktor-faktor :
     a. Hubungan saling percaya antara perawat dengan pasien yang
        sudah ada.
     b. Waktu.
     c. Tingkat stres pasien.
     d. Kekuatan mekanisme defensif pasien.
     e. Kebutuhan penerimaan pasien untuk jarak pribadi atau kedekatan.
     f. Tingkat kemarahan dan toleransi pasien untuk mendengarkan dan
        mentoleransi persepsi lain.

2.   Kesegeraan
             Kesegaran adalah sensitivitas perawat pada perasaan pasien
     dan kesediaan untuk mengatasi perasaan daripada mengacuhkannya.
     Berespon pada kesegaran berarti merespon pada apa yang terjadi
     antara perawat dan pasien pada suatu saat dan waktu tertentu. Interaksi
     perawat-pasien difokuskan dan digunakan untuk mempelajari fungsi
     pasien dalam hubungan interpersonal lainnya. Perawat harus sensitif
     terhadap perasaan pasien dan berkeinginan membantu dengan segera.

3.   Keterbukaan perawat
             Keterbukaan artinya membuat orang lain tahu tentang pikiran,
     perasaan dan pengalaman pribadi seseorang. Tampak ketika perawat
     memberikan informasi tentang diri, ide, nilai, perasaan, dan sikapnya
     sendiri untuk memfasilitasi kerjasama, proses belajar, katarsis, atau
     dukungan pasien. Melalui penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa
     peningkatan keterbukaan antara perawat-pasien menurunkan tingkat
     kecemasan perawat pasien. Sifat informatif perawat akan
     memudahkan pasien dalam mengungkapkan pengalamannya sehingga
     memudahkan terjalinnya kerjasama diantara kedua pihak dalam
     pelayanan keperawatan.
     Alasan orang untuk enggan membuka diri adalah :
     a. Latar belakang keluarga.
     b. Ketakutan untuk memahami diri sendiri.
     c. Rasa takut terhadap kedekatan.
     d. Rasa takut terhadap perubahan.
     e. Rasa takut terhadap penolakan.

     Bentuk-bentuk membuka diri meliputi beberapa hal yang saling
     berkaitan, yaitu :
     a. Mengeluh
     b. Bercerita
     c. Mengeksplorasikan pandangan politik atau agama.
     d. Menceritakan prestasi
     e. Membagi rahasia, seperti mimpi.
                                                                           32




               Adapun kriteria seseorang untuk membuka diri adalah sebagai
           berikut :
           a.   Untuk menjadi model dan mendidik.
           b.   Untuk mendukung gabungan dari intervensi terapeutik.
           c.   Untuk mendukung otonomi pasien.

      4.   Katarsis emosional
                   Merupakan suatu kondisi yang terjadi apabila pasien diminta
           untuk membicarakan hal-hal yang sangat mengganggunya untuk
           mendapatkan efek terapeutik. Perawat harus dapat mengkaji kesiapan
           pasien untuk mendiskusikan masalahnya. Jika pasien mengalami
           kesulitan mengekspresikan perasaannya, perawat dapat membantu
           dengan mengekspresikan perasaannya jika berada pada situasi pasien.

      5.   Bermain peran
                  Membangkitkan situasi tertentu untuk meningkatkan
           penghayatan pasien kedalam hubungan antara manusia dan
           memperdalam kemampuannya untuk melihat situasi dari sudut
           pandang lain; juga memperkenankan pasien untuk mencobakan situasi
           yang baru dalam lingkungan yang aman.

2.3. Penelitian Sebelumnya

           Penelitian ini didasarkan pada penelitian yang sudah dilakukan

   sebelumnya, yaitu penelitian Arnin Maharani, 2004, dengan judul

   “Komunikasi Persuasif Bidan kepada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit

   (Studi Kasus Di RSU Dr. R. Sudjati Kabupaten Grobogan)”.

           Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui bentuk strategi

   komunikasi persuasif bidan kepada pasien di Rumah Sakit dalam menghadapi

   pasien yang akan melahirkan atau kontrol kandungan. Konsep yang

   digunakan adalah bentuk komunikasi dalam komunikasi persuasif yaitu

   penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain

   dengan tujuan dan kepentingan tertentu yakni mengubah sikap, pikiran, dan

   perilaku orang lain agar melakukan apa yang diinginkan.
                                                                           33




       Metode penelitian tersebut adalah kualitatif dengan jenis penelitian

deskriptif. Objek adalah pada RSU Dr. R. Sudjati Kabupaten Grobogan

dengan nara sumber bidan dan pasien. Kerangka teori yang digunakan adalah

teori sikap dan teori S-O-R, komunikasi interpersonal dan komunikasi

persuasif. Tehnik pengumpulan data dengan melakukan wawancara, dan

observasi. Komponen dalam penelitian ini meliputi persuader, orang

melakukan komunikasi persuasif sebagai pihak pembujuk dan persuadee,

orang melakukan komunikasi sebagai pihak yang dibujuk. Hasil penelitian

tersebut adalah komunikasi bidan yang digunakan untuk membujuk pasien

merupakan komunikasi persuasif bukan coersion (paksaan), pola bahasa yang

digunakan bidan dengan pola bahasa komputer dan pola bahasa

menyeimbangkan, persepsi pasien bersifat selektif secara fungsional dengan

adanya pengaruh kebutuhan fisiologis. Persepsi yang dihasilkan adalah

kejelasan pesan atau mudah dimengerti pesan yang disampaikan bidan.

       Persamaan dari penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada

metode penelitian yaitu menggunakan metode kualitatif dengan jenis

penelitian deskriptif. Subjek penelitianya tersebut bidan dan pasien sedangkan

penelitian ini perawat dan pasien, pengumpulan data dengan melakukan

wawancara mendalam dan observasi.

       Perbedaan pertama dari penelitian tersebut dengan penelitian ini yaitu

pertama terletak pada tujuan. Pada penelitian sebelumnya lebih menekankan

strategi komunikasi persuasif bidan kepada pasien, sedangkan penelitian ini

adalah komunikasi terapeutik antara perawat dan pasien dalam asuhan
                                                                         34




keperawatan penyakit kanker. Perbedaan kedua konsep pada penelitian

tersebut hanya pada komunikasi persuasif bidan sedangkan pada penelitian ini

menggunakan komunikasi terapeutik terhadap perawat dalam menangani

pasien penyakit kanker. Perbedaan ketiga adalah hasil penelitiannya,

penelitian tersebut hanya memaparkan bentuk strategi komunikasi persuasif,

sedangkan pada penelitian ini juga memaparkan        komunikasi terapeutik

dalam asuhan keperawatan pasien penyakit kanker.

       Selain penelitian tersebut, penulis juga menggunakan referensi dari

penelitian, Diana R.S, 2006, dengan judul “Hubungan Pengetahuan

Komunikasi Terapeutik terhadap kemampuan komunikasi Perawat dalam

melaksanakan Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit Elisabeth Purwokerto”

(Studi Deskriptif Korelasi komunikasi terapeutik terhadap kemampuan

komunikasi perawat dalam melakukan asuhan keperawatan di Rumah Sakit).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan komunikasi terapeutik

sebagai acuan untuk mengukur kemampuan perawat dalam melayani pasien

di RS. Elisabeth Purwokerto.

       Metode penelitian tersebut menggunakan penelitian deskriptif

kuantitatif (korelasi) dengan rancangan penelitian menggunakan cross

sectional, penelitian tersebut adalah semua perawat yang bekerja di ruang

rawat inap Maria RS. Elisabeth Purwokerto yang berjumlah 26 orang. Tehnik

pengambilan sampel dalam penelitian tersebut menggunakan total sampling.

Variabel dalam penelitian tersebut terdiri dari variabel bebas (independent)

dan variabel terkait (dependent). Variabel bebas dalam penelitian tersebut
                                                                           35




yaitu pengetahuan komunikasi terapeutik perawat, variabel terkait dalam

penelitian ini adalah kemampuan komunikasi terapeutik perawat.

       Objek penelitian tersebut perawat dan pasien ruang Maria. Tehnik

pengumpulan data melalui kuesioner dan data tentang kemampuan

komunikasi perawat melalui observasi. Data tersebut kemudian diolah dan

dianalisis dengan analisis univariat untuk mendeskripsikan variabel penelitian

dengan membuat tabel distribusi frekuensi yang mencakup karakteristik

perawat, tingkat pengetahuan komunikasi dan kemampuan komunikasi

terapeutik perawat.

       Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini yaitu : pertama,

terletak pada tujuan penelitian. Penelitian tersebut bertujuan untuk

mengetahui    hubungan    pengetahuan     komunikasi    terapeutik   terhadap

kemampuan komunikasi perawat dalam melakukan asuhan keperawatan di

RS. Elisabeth Purwokerto, sedangkan pada penelitian ini bertujuan

mendeskripsikan dan mengevaluasi penerapan komunikasi terapeutik perawat

dalam asuhan keperawatan pasien penyakit kanker di RS. St. Elisabeth

Semarang.

       Perbedaan berikutnya pada metode penelitiannya, penelitian tersebut

menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif (korelasi) dengan

rancangan penelitian cross sectional sedangkan penelitian ini menggunakan

metode deskriptif kualitatif dengan lebih ditegaskan bagaimana penerapan

komunikasi terapeutik perawat dalam asuhan keperawatan pasien penyakit

kanker di RS St. Elisabeth Semarang. Kerangka pemikiran dari penelitian
                                                                      36




tersebut dengan penelitian ini sangat berbeda karena penelitian ini

menggunakan model komunikasi kesehatan, sedangkan penelitian tersebut

menggunakan model laswel.

       Adanya perbandingan antara penelitian sebelumnya dengan penelitian

ini, membuktikan bahwa penelitian yang berjudul “Komunikasi Terapeutik

perawat dalam asuhan keperawatan pasien penyakit kanker di RS St.

Elisabeth Semarang” belum diteliti sebelumnya.
                                    BAB III


                           METODE PENELITIAN




3.1. Metode Penelitian

           Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode

    penelitian kualitatif pada dasarnya menerangkan cara yang akan ditempuh

    oleh seorang peneliti dalam proses penelitian. Metode ini menguraikan hal-

    hal yang meliputi penjelasan tempat dan waktu penelitian, jenis penelitian,

    sumber-sumber data yang dimanfaatkan, teknik pengumpulan data dan teknik

    analisis data. Seluruh bagian akan dijelaskan sehingga diperoleh gambaran

    yang jelas mengenai penelitian yang dilaksanakan (Moleong, 2010 : 48).

           Kualitas pelaksanaan teknik pengumpulan data pada penelitian

    kualitatif sangat tergantung pada penelitinya sebagai alat pengumpulan data

    utamanya. Berbagai alat pengumpulan data yang biasa kita kenal

    dimungkinkan untuk digunakan sebagai kelengkapan penunjang, namun alat

    penelitian utamanya adalah peneliti sendiri.



3.2. Jenis Penelitian

           Penelitian ini merupakan jenis deskriptif kualitatif. Penelitian

    kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak

    menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya.




                                        37
                                                                        38




Penenelitian kualitatif lebih mengutamakan pengumpulan data berupa kata-

kata, kalimat/gambar yang memiliki arti lebih dari sekedar angka dan

frekuensi. Penelitian ini menekankan pada catatan yang menggambarkan

situasi yang sebenarnya guna mendukung penyajian data.

       Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang

sifatnya umum terhadap kenyataan sosial. Pemahaman tersebut tidak

ditentukan terlebih dahulu tetapi diperoleh setelah melakukan analisis

terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian dan kemudian

ditarik suatu kesimpulan berupa pemahaman umum tentang kenyataan-

kenyataan tersebut.

       Penelitian ini dimaksudkan untuk menguraikan dan melukiskan suatu

peristiwa yaitu bagaimana komunikasi terapeutik perawat dan pasien penyakit

kanker berlangsung sehingga pelayanan perawat dapat berjalan sesuai dengan

ketentuan RS St. Elisabet Semarang. Menguraikan paparan komunikasi

terapeutik, kemudian dianalisis berdasarkan teori yang ada atau yang

digunakan dalam penelitian ini.

       Penelitian ini lebih memfokuskan pada penerapan komunikasi

terapeutik perawat dalam asuhan keperawatan pasien kanker, maka penelitian

ini dikategorikan sebagai penelitian deskriptif kualitatif.
                                                                            39




3.3. Subjek Penelitian

           Subjek penelitian yang dipilih adalah RS St. Elisabeth Semarang

    sebagai acuan untuk menganalisis Komunikasi Terapeutik dalam Asuhan

    Keperawatan Pasien Penyakit Kanker. RS St. Elisabeth Semarang adalah

    berlokasi di Jalan Kawi No. 1 Semarang Jawa Tengah.

3.4. Objek Penelitian

    Objek kajian dalam penelitian ini adalah Perawat dan Pasien Penyakit Kanker

    yang menggunakan jasa perawat dalam proses kesembuhan pasien.

    Alasan penulis mengambil obyek penelitian di RS St. Elisabeth Semarang

    karena beberapa sebab yaitu,

        1) RS St. Elisabeth Semarang merupakan Rumah Sakit Swasta yang

           cukup dikenal di Kota Semarang.

        2) RS St. Elisabeth Semarang banyak menerima pasien penyakit kanker

           yang sering kali ditangani sampai dengan kemoterapi.

        3) RS St. Elisabeth Semrang mempunyai cara khusus dalam menangani

           pasien dengan berbagai pelayanan misalnya Home Care dengan

           maksud meringankan biaya pasien serta memudahkan bagi kelurga

           yang tidak bisa menunggu pasien saat dirawat di RS St. Elisabeth

           Semarang.

3.5. Tenik Pengumpulan Data

3.5.1. Wawancara

              Wawancara merupakan proses tanya jawab secara lisan dimana dua

      orang atau lebih berhadapan secara fisik atau face to face. Dalam proses
                                                                            40




      ini selalu ada pihak yang berbeda fungsinya, satu pihak berfungsi sebagai

      pencari informasi yang disebut interviewer sedangkan pihak yang lain

      sebagai pemberi informasi dan disebut interviee responden ( Moleong

      2009 : 36).

             Teknik wawancara yang dipergunakan dalam wawancara ini adalah

      wawancara bebas terpimpin, yaitu cara mengajukan pertanyaan yang

      dikemukakan secara bebas, sedangkan pedoman wawancara dipakai untuk

      mengontrol relevansi isi wawancara tersebut.

             Peneliti melakukan wawancara dengan beberapa pihak guna

      memperoleh data, antara lain :

      1.   HRD RS St. Elisabeth Semarang sebagai pihak pengelola Rumah
           Sakit
      2.   Perawat yang bertugas melayani pasien serta merawat pasien di RS St.
           Elisabeth Semarang.
      3.   Pasien penyakit kanker di Ruang Fransiskus RS St. Elisabeth
           Semarang.
      4.   Keluarga pasien yang menggunakan jasa RS St. Elisabeth Semarang
           sebagai tempat berobat yang terjangkau.
      5.   Dokter di RS St. Elisabeth Semarang.


3.5.2. Observasi

             Teknik observasi digunakan untuk menggali data dari sumber data

      yang berupa peristiwa, tempat atau lokasi, dan benda, serta rekaman

      gambar. Observasi dapat dilakukan pada waktu yang telah disepakati

      kedua pihak antara peneliti dengan objek penelitian, dengan lama

      penelitian satu minggu di RS St. Elisabeth Semarang. Dalam penelitian ini
                                                                               41




         penulis menggunakan non participant observation atau observasi tidak

         berperan maksudnya, kehadiran peneliti sama sekali tidak diketahui oleh

         subjek yang diamati dengan kata lain peneliti tidak diharuskan hadir di

         lokasi penelitian.

                 Pengamatan semacam ini (non interaktif) selain dilakukan pada

         aktivitas sebenarnya, bisa juga dilakukan misalnya dalam mengamati

         benda-benda lain yang terlibat dalam aktivitas dan juga gambar atau foto

         serta dokumen yang ditemui sehingga peneliti benar-benar tidak

         melakukan peran sama sekali. Observasi ini dilakukan karena melihat

         kondisi lingkungan penelitian adalah sebuah Rumah Sakit.

3.5.3.   Dokumentasi

               Suatu cara pengumpulan data atau informasi dengan membaca atau

         mempelajari data-data yang bersifat dokumentatif yang diperoleh dari RS

         St. Elisabeth Semarang dan sumber lain guna melengkapi data observasi

         dan wawancara. Dokumentasi yang dimaksud adalah surat, pengumuman

         resmi, brosur, agenda serta dokumen-dokumen yang relavan bagi

         penelitian ini.

3.6. Sumber data

3.6.1. Data Primer

                 Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber pertama,

         melalui cara interview terhadap obyek penelitian. Data primer dalam

         penelitian ini diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.
                                                                           42




             Adapun sumber data yang digunakan untuk penelitian adalah

      sebagai berikut :


      a)    HRD RS St. Elisabeth Semarang sebagai pihak pengelola Rumah
            Sakit
      b)    Perawat yang bertugas melayani pasien serta merawat pasien di RS
            St. Elisabeth Semarang.
      c)    Pasien penyakit Kanker di Ruang Fransiskus RS St. Elisabeth
            Semarang.
      d)    Keluarga Pasien yang menggunakan jasa RS St. Elisabeth Semarang
            sebagai tempat berobat yang terjangkau.
      e)    Dokter di RS St. Elisabeth Semarang.


3.6.2. Data Sekunder

             Data sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut

      menjadi bentuk-bentuk seperti tabel, grafik, diagram, gambar, dan

      sebagainya sehingga menjadi lebih informatif bagi pihak lain. Data

      sekunder digunakan oleh peneliti untuk diproses lebih lanjut. Penulis

      mengumpulkan data sekunder dari berbagai sumber seperti media cetak,

      internet, dan buku-buku pustaka.



3.7. Teknik Analisis Data

           Teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara

    sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan

    bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat

    diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan

    mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan
                                                                        43




sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih yang penting dan akan dipelajari,

dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain. Analisis

data merupakan hal yang kritis dalam proses penelitian kualitatif data

sehingga hipotesis dapat dikembangkan dan dievaluasi(Moleong, 2009 : 288).

        Analisis data dalam penelitian ini dapat dilakukan analisis data di

lapangan         Model Miles dan Huberman yang dilakukan pada saat

pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam

periode tertentu. Langkah-langkah analisis data tersebut dapat dijelaskan

seperti berikut ini:

1.   Data Reduction (Reduksi Data)

            Data yang diperoleh jumlahnya cukup banyak, maka perlu dicatat

     secara teliti dan terperinci kemudian dianalisis melalui reduksi data.

     Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,

     memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Data

     yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan

     mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya,

     dan mencarinya bila diperlukan. Mereduksi data, setiap peneliti akan

     dipandu oleh tujuan yang akan dicapai. Tujuan utama dalam penelitian

     ini adalah mengetahui komunikasi terapeutik perawat dalam asuhan

     keperawatan di RS St. Elisabeth Semarang, sehingga data yang direduksi

     berhubungan dengan komunikasi terapeutik perawat dari rumah sakit

     tersebut.
                                                                         44




2.   Data Display (Penyajian data)

            Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam

     bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, Flowchart dan

     sejenisnya. Paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam

     penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif untuk

     memudahkan memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja

     selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami. Display data, selain

     dengan teks yang naratif, juga dapat berupa grafik, matrik, network

     (jejaring kerja) dan chart.

3.   Conlusion Drawing/Verification

            Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles and

     Huberman (dalam Moleong, 2009 : 308) adalah penarikan kesimpulan

     dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat

     sementara, dan     berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang

     mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Kesimpulan

     dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang

     sebelumnya belum pernah ada.

        Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek untuk

mencari kejelasan, berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau

teori. Jadi, dalam penelitian ini, dapat diketahui dengan jelas bagaimana

komunikasi terapeutik perawat dari RS St. Elisabeth Semarang yang di teliti

khususnya bagian komunikasi terapeutik perawat dalam asuhan keperawatan

pasien penyakit kanker.
                                                                               45




3.7. Uji Validitas Data

            Data yang telah berhasil digali, dikumpulkan dan dicatat dalam

    kegiatan penelitian, harus diusahakan kemantapan dan kebenarannya. Peneliti

    harus   bisa   memilih dan menentukan cara-cara            yang tepat    untuk

    mengembangkan validitas data yang diperolehnya. Ketepatan data tersebut

    tidak hanya tergantung dari ketepatan memilih sumber data dan teknik

    pengumpulannya, tetapi juga diperlukan teknik pengembangan validitas

    datanya. Pengembangan validitas data penelitian berupa teknik trianggulasi.

            Trianggulasi   merupakan    cara   paling    umum    digunakan    bagi

    peningkatan validitas dalam penelitian kualitatif. Menurut Patton (dalam

    Moleong, 2009 : 330) menyatakan bahwa ada empat macam teknik

    trianggulasi, yaitu:

       1. Trianggulasi data / trianggulasi sumber (data triangulation)

       2. Trianggulasi matode (method triangulation)

       3. Trianggulasi peneliti (investigator triangulation)

       4. Trianggulasi teori (theori triangulasi)

            Pada penelitian ini, digunakan          triangulasi data/ sumber dan

    trianggulasi teori. Pada triangulasi sumber / data, peneliti di dalam

    mengumpulkan data, juga wajib menggunakan beragam sumber data yang

    tersedia selain objek wawancara yang telah disebutkan di atas. Artinya, data

    yang sama atau sejenis, akan lebih mantap kebenarannya bila digali dari

    beberapa sumber data yang berbeda. Beberapa sumber data tersebut adalah

    pasien, dokter, keluarga pasien dan bagian personalia RS St. Elisabeth
                                                                           46




Semarang. Sumber yang diperoleh dari sumber yang satu, bisa lebih teruji

kebenarannya bilamana dibandingkan dengan data sejenis yang diperoleh dari

sumber lain.

       Trianggulasi berikutnya yang digunakan dalam penelitian ini adalah

trianggulasi teori. Trianggulasi ini digunakan sebagai dasar analisis terhadap

data yang telah diperoleh. Peneliti wajib memahami teori-teori yang

digunakan dan keterkaitannya dengan masalah yang diteliti sehingga

menghasilkan kesimpulan yang mantap dan memiliki makna yang kaya

perspektifnya (Moeleong, 2009 : 332).
                                  BAB IV

                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



4.1. Gambaran Umum RS St. Elisabeth Semarang


       Rumah Sakit Santa Elisabeth Semarang berlokasi di Jalan Kawi No.1

Semarang. Posisi yang sangat strategis di tengah kota terletak di Kalurahan

Tegalsari, Kecamatan Candisari Semarang dengan luas area 34.000 m.




            Gambar 4.1 Peta Lokasi RS St. Elisabeth Semarang
                  (Sumber: RS St. Elisabeth, 26 Juli 2011)




                                     47
                                                                         48




              Gambar 4.2 Denah RS St. Elisabeth Semarang
                (Sumber: RS St. Elisabeth, 26 Juli 2011)




4.1.1. Sejarah dan Perkembangan RS St. Elisabeth Semarang

            Menurut pendapat Y. Renny, S.Psi selaku sekretaris direktorat

     personalia diungkapkan bahwa berdirinya RS St. Elisabeth Semarang

     bersumber dari semangat hidup St. Fransiskus Assisi, Ibu Magdalena

     Daemen mendirikan Tarekat Ordo Santo Fransiskus (OSF) pada tanggal 10

     Mei 1835 di Negeri Belanda. Pelayanannya meluas ke seluruh dunia.

     Tanggal 5 Februari 1870 merupakan tanggal berdirinya Pusat Tarekat OSF

     di Indonesia yang berada di Gedangan, Semarang. Karya-karyanya meliputi
                                                                          49




Panti Asuhan, Pastoral, Pendidikan, Kesehatan dan menyebar ke berbagai

daerah.

          Di kota Semarang saat itu ada 2 rumah sakit yaitu Central Burgelijk

Ziekenhuis (CBZ) yang merupakan Rumah Sakit pemerintah (sekarang RS

Dr. Kariadi) dan Juliana Ziekenhuis yang merupakan rumah sakit milik

Swasta (sekarang RS Bhakti Wira Tamtama). Pada masa itu, kedua rumah

sakit tersebut sudah tidak mampu lagi menampung orang sakit yang

semakin banyak jumlahnya, lebih-lebih dengan adanya berbagai jenis wabah

penyakit yang sering melanda kota Semarang dan merenggut banyak korban

jiwa. Maka dengan tekad bulat serta keyakinan yang kuat, para suster OSF

berupaya mewujudkan cita-citanya, yaitu mendirikan sebuah rumah sakit

Katolik di kota Semarang.

          Demikianlah, menjelang peringatan setengah abad berdirinya

kongregasi Suster-suster St. Fransiskus di Indonesia, para Suster

mengumpulkan dana dari para sosiawan, pemerintah kotapraja Semarang

serta dari Pusat Suster-suster St. Fransiskus. Pada tanggal 3 September 1923

dana tersebut digunakan untuk membeli sebidang tanah bekas kuburan

Tionghoa seluas 34.000 m di daerah perbukitan Candi Baru, dengan

pemandangan yang sangat indah, suatu kawasan yang tenang.

          Pembangunan gedung rumah sakit bukan tanpa kesulitan. Sejak

peletakan batu pertama pada tanggal 9 Maret 1926 oleh Mgr. APF Van

Velsen SJ, pembangunan dilaksanakan oleh 3 kontraktor yaitu Ir. Karsten,

Ir. Zoetmulder, Ir. Peters dan Ir. Kleiverda. Harga bahan bangunan
                                                                       50




mengalami kenaikan luar biasa pada masa pembangunan Ir. Peters, sehingga

dibutuhkan dana tambahan yang cukup besar. Berkat karunia Tuhan,

pembangunan gedung dapat selesai pada tanggal 8 Agustus 1927.

        Berbagai persiapan menjelang peresmian dilaksanakan antara lain

dengan menempatkan 50 tempat tidur dan peralatan-peralatan lainnya.

Bertepatan dengan pesta St. Lucas sebagai pelindung profesi kedokteran

tanggal 18 Oktober 1927, RS St. Elisabeth resmi dibuka oleh Mgr. Van

Velsen SJ, didampingi Rm. P. Hoeberechts SJ dan Residen Semarang Van

Gulk.

        Pada masa pendudukan Jepang, RS. St. Elisabeth diambil alih dan

dijadikan kantor militer. Para Suster Belanda ditawan dan 9 orang di

antaranya meninggal di kamp tawanan.

        RS St. Elisabeth diserahkan kembali pada tanggal 1 September 1945

dalam keadaan porak-poranda dan kekurangan tenaga. Menyaksikan

kenyataan ini para suster harus bekerja keras. Secara resmi pada tanggal 3

September 1945 Sr. Charitas Lammerink bersama 2 orang suster lain

memulai karya rumah sakit lagi. Sekolah perawat didirikan pada tanggal 14

Januari 1946 dan Pendidikan Bidan dibuka pada tanggal 20 Mei 1946.



Perayaan 25 tahun RS St. Elisabeth

        Pada tanggal 18 Oktober 1952, pesta perak RS St. Elisabeth

dirayakan dengan Misa Kudus. Jumlah tempat tidur pada masa ini mencapai

160 tempat tidur. Melihat semakin banyaknya penderita yang membutuhkan
                                                                             51




     perawatan khususnya dari golongan kurang mampu, maka pada tanggal 18

     Januari 1958 didirikan RS Mardi Swasta berkapasitas 33 tempat tidur.



     Perayaan 50 tahun RS St. Elisabeth

            Pada tanggal 18 Oktober 1977, RS St. Elisabeth genap berusia 50

     tahun. Kapasitas Rawat Inap pada usia itu sebanyak 347 tempat tidur. Ruang

     Angela, Xaverius dan Mardi Swasta dibangun pada awal tahun 1978. RS

     Mardi Swasta dilebur menjadi Ruang Mardi Swasta sejak Januari 1980.

     Laboratorium berlantai 3 diresmikan pada tanggal 6 maret 1985.



     Perayaan 60 tahun RS St. Elisabeth

            Puncak    perayaan   60   tahun   berdirinya   RS    St.   Elisabeth

     diselenggarakan pada tanggal 18 Oktober 1987 dengan Misa Kudus.

     Perkembangan pada masa ini sungguh sangat pesat. Pada tahun itu,

     kapasitas RS mencapai 401 tempat tidur dan sarana pendukung yang

     semakin memadai.

4.1.2. Visi dan Misi RS St. Elisabeth Semarang

4.1.2.1. Falsafah RS St. Elisabeth

        “Menjadikan manusia sebagai pusat pelayanan”.

4.1.2.2. Visi RS St. Elisabeth

               Visi adalah alasan terpenting mengapa sebuah perusahaan

        didirikan melalui pandangan jernih ke masa depan sehingga seolah-olah

        kesuksesan yang hendak dicapai bisa dihadirkan persis di depan mata,
                                                                                 52




        didengarkan dan dirasakan. Kekuatan sebuah visi untuk menginspirasi

        seluruh stake holder perusahaan, adalah basic fundamental untuk

        melangkah menjadi sebuah perusahaan korporat yang tangguh, yang built

        to last. Berikut visi dari RS St. Elisabeth:

        “Menjadi Tanda dan Sarana Kehadiran Cinta dan Kuasa Allah”.



4.1.2.3. Misi RS St. Elisabeth

        “Memberikan pelayanan yang bermutu, sekaligus sebagai bagian dari

        karya penyelamatan manusia yang berlandaskan cinta dan kuasa Allah.”



4.1.2.4. Penjabaran

               Dengan memahami falsafah, visi dan misi dapat dijabarkan

        bahwa RS St. Elisabeth Semarang selalu menjunjung tinggi kode Etik,

        melayani tanpa membedakan status sosial, ekonomi, suku dan ras, serta

        agama dan golongan, memberikan pelayanan kesehatan yang terjangkau

        bagi seluruh lapisan masyarakat.

               RS St. Elisabeth Semarang turut serta dalam pembangunan

        manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas, sehat jasmani rohani,

        sosial berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan dilandasi oleh iman

        Kristiani yaitu cinta kasih kepada sesama tanpa membedakan agama, dan

        kedudukan, dengan memberikan perhatian khusus kepada mereka yang

        lemah, belum beruntung (keadaan pra sejahtera), dan dengan upaya dan

        usaha, karya kesehatan paripurna meliputi kuratif, preventif, rehabilitatif,
                                                                            53




        edukatif, penelitian, dan pengembangan, serta mengacu pada sistem

        kesehatan nasional pada umumnya dan program kerumahsakitan pada

        khususnya.

4.1.2.5. Motto

             Motto adalah semboyan yang merupakan cerminan jiwa, semangat

        dan tekad yang menjadi dasar langkah dan gerak segenap pelayanan. RS

        St. Elisabeth memiliki motto untuk mempertegas visi dan misi yang telah

        dicanangkan yaitu : “Pancaran cinta-Nya menyembuhkan derita sesama”.


4.1.3. Struktur Organisasi RS St. Elisabeth.




        Gambar 4.3 Struktur Organisasi RS St. Elisabeth Semarang
                 (Sumber: RS St. Elisabeth, 26 Juli 2011)
                                                                        54




       RS St. Elisabeth memiliki struktur organisasi yang baik. Masing-

masing jabatan mempunyai tugas dan peran sendiri-sendiri tetapi tetap

merupakan satu tim kerja yang terorganisir dalam pelayanan jasa

kesehatan. Antara satu direktorat dengan direktorat atau jabatan lain dalam

RS St. Elisabeth Semarang adalah satu kesatuan yang saling terkait satu

sama lain.

       RS St. Elisabeth terdapat 9 direksi pejabat struktural, terdiri dari

Direktur Utama, Direktur Eksekutif, Direktur Umum, Direktur Penunjang

Medik, Direktur Medik, Direktur Keperawatan, Direktur Keuangan, dan

Direktur Personalia. Struktur manajemen organisasi pada RS St. Elisabeth

dipimpin oleh seorang Direktur Utama. Direktur Utama adalah yang

memimpin rumah sakit dengan mengontrol jalannya RS St. Elisabeth.

Direktur Utama dijabat oleh dr. Benedictus Sugiyanto, MPH & TM.

Kedudukan direktur utama setara dengan direktur eksekutif, kemudian

membawahi lima bagian dibawahnya, yaitu Bagian Sekretariat, Bagian

Diklat, Bagian Humas, dan Bagian Sistem Informasi Manajemen.

Direktorat Personalia membawahi dua bagian yaitu bagian Kekaryawanan

dan bagian Kesejahteraan. Direktorat Keperawatan membawahi Bidang

Keperawatan, Pastoral Care, Kepala-kepala ruangan. Direktorat Medik

membawahi Instalasi Bedah Sentral, Instalasi Rekam Medik, Instalasi

Rawat Darurat, Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Intensif, Instalasi

Rehabilitasi Medik, dan Bidang Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat.

Direktorat Penunjang Medik membawahi lima bagian, yaitu Instalasi
                                                                     55




Laborat Sentral, Instalasi Radiologi, Instalasi Farmasi, Instalasi Gizi,

Instalasi Pelayanan Sterilisasi Sentral. Direktorat Umum membawahi

bagian umum dan bagian Pemeliharaan Sarana. Terakhir Direktorat

Keuangan membawahi Bagian Administrasi dan Bagian Akutansi. Berikut

penjelasan beberapa direktorat antara lain:

1. Direktorat Umum

          Direktorat ini memiliki tugas menyediakan dan memonitor

   sarana penunjang umum dalam pelaksanaan rumah sakit yang

   diperlukan.

          Direktorat    ini   dipimpin    oleh   direktur   Umum   yang

   mempertanggungjawabkan tugasnya pada Direktur Utama. Direktorat

   Umum terbagi dalam dua bagian fungsional, yaitu:

  a.   Bagian Umum, yang memiliki tugas antara lain:
       1. Bertanggung jawab ketersediaan sarana umum rumah sakit
           seperti meja-kursi, listrik, penyediaan air bersih, instalasi
           pengolahan limbah, dan sanitasi.
       2. Melaksanakan koordinasi dengan bagian pemeliharaan sarana.
  b.   Bagian Pemeliharaan Sarana, bertanggung jawab atas segala bentuk
       pemeliharaan sarana penunjang rumah sakit, gedung, dan fasilitas
       umum lainnya dengan kerjasama bagian umum.

2. Direktorat Keperawatan

          Direktorat ini memiliki tugas rekruitmen perawat bekerja sama

   dengan direktorat Personalia dan memonitor pelaksanaan asuhan

   keperawatan dalam pelaksanaan pelayanan rumah sakit.
                                                                      56




         Direktorat ini dipimpin oleh direktur Keperawatan yang

  mempertanggungjawabkan tugasnya pada Direktur Utama. Direktorat

  Keperawatan terbagi dalam tiga bagian, yaitu:

  a.   Bidang Keperawatan, yang memiliki tugas antara lain :
       1. Melakukan rekruitmen perawat bekerja sama dengan direktorat
           Personalia.
       2. Mengevaluasi hasil kerja perawat pada masing-masing
           ruangan.
       3. Mengadakan pelatihan guna meningkatkan SDM dan
           pengetahuan perawat untuk penyakit khusus dan memerlukan
           perawatan yang intensif.
  b.   Pastoral Care
                Pastoral Care merupakan program khusus untuk pelayanan
       kesehatan RS St. Elisabeth yang lebih menitikberatkan pada
       pelayanan doa bagi pasien yang beragama katholik yang
       menghendaki untuk didoakan.
  c.   Kepala Ruangan, memiliki tugas antara lain :
       1. Memantau dan memberikan penilaian hasil kerja perawat
           secara lebih detail untuk dilakukan pelaporan ke direktorat
           keperawatan.
       2. Mengatur dan membuat jadwal kerja perawat.
       3. Memberikan persetujuan tentang tindakan yang harus diambil
           apabila perawat membutuhkan tanggung jawab khusus.

3. Direktorat Medik

         Direktorat ini memiliki tugas rekruitmen tenaga medis dalam hal

  ini dokter bekerja sama dengan direktorat Personalia dan memonitor

  pelaksanaan kerja dokter dalam pelaksanaan pelayanan rumah sakit.

         Direktorat    ini   dipimpin   oleh      direktur   Medik   yang

  mempertanggungjawabkan tugasnya pada Direktur Utama. Direktorat

  Medik membawahi tujuh bagian, yaitu:

  a.   Instalasi Bedah Sentral
  b.   Instalasi Rekam Medik
  c.   Instalasi Rawat Darurat
                                                                        57




  d.   Instalasi Rawat Jalan
  e.   Instalasi Rawat Intensif
  f.   Instalasi Rehabilitasi Medik
  g.   Bidang Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat.

4. Direktorat Penunjang Medik

          Direktorat ini memiliki tugas penyediaan alat dan sarana

  penunjang dalam pelayanan kesehatan bekerja sama dengan direktorat

  Medik rumah sakit.

          Direktorat ini dipimpin oleh direktur Penunjang Medik yang

  mempertanggungjawabkan tugasnya pada Direktur Utama. Direktorat

  Penunjang Medik membawahi lima bagian, yaitu:

  a.   Instalasi Laborat Sentral
  b.   Instalasi Radiologi
  c.   Instalasi Farmasi
  d.   Instalasi Gizi
  e.   Instalasi Pelayanan Sterilisasi Sentral

5. Direktorat Personalia
         Bagian ini dipimpin oleh seorang Direktur Personalia.

  Direktorat Personalia memiliki beberapa tanggungjawab, antara lain:

  1.   Membantu dan bekerjasama dengan Direktur Utama dalam
       menyusun rencana kerja.
  2.   Membuat peraturan kepegawaian, surat-surat kepegawaian yang
       menyangkut aturan hukum dalam perusahaan dan atau pegawai di
       dalam perusahaan.
  3.   Melaksanakan rekruitmen kepegawaian, atas usulan staff
       personalia dengan persetujuan Direktur Personalia.

          Direktorat     personalia     membawahi     langsung   bagian

  Kekaryawanan yang bertanggung jawab untuk mengurusi segala bentuk

  masalah kepegawaian termasuk usulan rekruitmen pegawai rumah sakit,

  dan bagian Kesejahteraan yang bertanggung jawab terhadap masalah
                                                                            58




        gaji pegawai, seragam, jaminan kesehatan dan masalah lain yang

        berkaitan dengan kesejahteraan karyawan.



      6. Direktorat Keuangan

                Direktorat Keuangan yang dipimpin oleh Direktur Keuangan

        memiliki tanggung jawab antara lain:

        1.   Memonitor dan melakukan control atas pengeluaran dan
             pemasukan dari dan keluar rumah sakit;
        2.   Bertanggungjawab dalam menentukan prioritas dalam pembayaran
             keuangan serta pembuatan laporan keuangan rumah sakit;
        3.   Mengadakan negosiasi dalam pembelian barang dengan pihak luar;
        4.   Melakukan penagihan utang.

          Berdasarkan deskriptif tugas dan tanggung jawab masing-masing

   direktorat di atas, berikut bagan struktur organisasi RS St. Elisabeth dapat

   dilihat pada halaman berikut:


4.1.4. Lambang Rumah Sakit


             Lambang akan selalu mengingatkan tugas dan tujuan utama yang

    hendak dicapai oleh sebuah institusi baik pemerintah maupun swasta yang

    dinaungi oleh suatu yayasan ataupun perorangan. Lambang juga

    menyiratkan suatu visi dan misi yang diemban dari generasi ke generasi

    sebagai kekuatan dalam pelayanan kemanusiaan. Lambang menyimpan

    karakter yang sangat kuat melekat pada citra dalam hal ini rumah sakit pada

    pelayanan dan keinginan pelayanan terhadap sesama.
                                                                         59




                       Gambar 4.4 Lambang Rumah Sakit
                      (Sumber: RS St. Elisabeth, 26 Juli 2011)


Makna lambang:

1. Bingkai Segilima
      Melambangkan Pancasila yang menjadi azas tata kehidupan masyarakat

      Indonesia.

      Dalam kebersamaan dengan masyarakat Indonesia inilah RS St. Elisabeth

      Semarang berkarya, berdarma bakti tanpa membedakan agama, suku

      maupun status sosialnya.

2. Bundaran Tengah
       Melambangkan ikatan Persatuan dan Kesatuan antara RS St. Elisabeth -

       Tarekat OSF - Gereja - Masyarakat - Negara.

3. Merpati Putih
      Melambangkan Roh Kudus.

      RS St. Elisabeth meyakini dan mengharapkan bahwa motivasi hidup, karya

      kesehatan, keputusan medis serta kebijakan-kebijakan, dinaungi dan
                                                                              60




      dibimbing oleh Roh Allah sendiri yang menghendaki kita saling membantu

      dan menolong sesama sebagai bentuk nyata dari cinta kasih.

4. Segitiga Sama Sisi
       Melambangkan Tritunggal Maha Kudus, pelindung provinsi tarekat OSF

       di Indonesia.

       RS St. Elisabeth lahir dan berkembang di bawah tarekat OSF dengan Tri

       Tunggal Maha Kudus sebagai pelindungnya.

5. Salib
       Melambangkan perutusan Gereja.

       RS. St. Elisabeth merupakan bagian tak terpisahkan dari perutusan Gereja.

6. Piala dan Ular
       Melambangkan karya Kesehatan Universal.

       RS St. Elisabeth bersama karya kesehatan lain berdarma bakti kepada

       seluruh masyarakat.

4.1.5. Penghargaan (Awards)

              Selain memperoleh kepuasan pasien, RS St. Elisabeth Semarang

       juga mampu memperoleh berbagai penghargaan kategori, baik tingkat

       kodya Semarang, Propinsi Jawa Tengah, dan tingkat Nasional.

       Penghargaan yang diraih RS St. Elisabeth Semarang, merupakan bentuk

       keberhasilan dari hasil kerja keras perawat dan karyawan RS St. Elisabeth

       Semarang dalam meningkatkan pelayanan terhadap pasien kota Semarang

       pada khususnya. Keberhasilan meraih penghargaan dalam penampilan

       kerja terbaik menjadikan RS St. Elisabeth Semarang mendapat sambutan
                                                                           61




     yang baik sebagai rumah sakit dengan kinerja dan pelayanan terhadap

     pasien. Berikut tabel penghargaan yang telah diraih atau diterima RS St.

     Elisabeth Semarang dari tahun 1985 hingga 2011.

                             Tabel 4.1.
               Penghargaan dan Prestasi RS St. Elisabeth

NO                      PENGHARGAAN                               TAHUN
 1. Tingkat Kota Semarang
    Juara II Cakupan Imunisasi di Rumah Sakit                       1993
    Juara I Lomba PKMRS                                             1994
    Juara I Lomba K3 Rumah Sakit Tingkat Kodya                      1997
    Meraih Penghargaan dalam rangka penanggulangan
    Masalah wanita rawan kesehatan untuk Menunjang
    Gerakan Sayang Ibu (GSI) dari Pemda Semarang                    1997
 2. Tingkat Provinsi Jawa Tengah
    Pemenang Penilaian Penampilan Kerja Rumah Sakit
    Umum Pemerintah dan Swasta                                      1985
    Meraih Penghargaan sebagai Rumah Sakit dengan
    kemampuan dan penampilan terbaik dan menerima tropi
    untuk kategori Rumah Sakit tipe B non pendidikan                1992
    Juara bertahan (tiga kali berturut) sebagai rumah sakit
    dengan kemampuan dan penampilan terbaik.                        1994
    Juara I sebagai Rumah Sakit dengan penampilan kerja
    terbaik tingkat provinsi Jawa Tengah dalam rangka HKN           1997
    Pemenang Penampilan Kerja Rumah Sakit Umum Swasta
    tipe B non pendidikan dalam rangka HKN                          1998
    Meraih penghargaan sebagai Rumah Sakit Umum Swasta
    setara tipe B non pendidikan dengan penampilan Terbaik          1999
    Meraih penghargaan sebagai Rumah Sakit Terbaik hasil
    evaluasi Rumah Sakit Sayang Ibu (RSSI) dan Rumah Sakit
    Sayang Bayi (RSSB).                                             1999
    Stand terbaik I Pameran Tri Dharma Perguruan Tinggi
    dan Hari Teknologi Nasional                                     2001
    Peringkat I evaluasi Rumah Sakit Sayang Ibu Bayi                2009

3.   Tingkat Nasional
     Penampilan Terbaik Rumah Sakit Swasta di segi
     Pelayanan dan Kebersihan (Nugraha Karya Husada
     Tingkat II) dari Menteri Kesehatan RI                          1987
     Juara III Rumah Sakit dengan kemampuan dan
     penampilan terbaik sesuai dengan SK Menteri Kesehatan
     RI     tanggal      12      Nopember    1992     No.
     969/MENKES/SK/XI/1992                                          1992
                                                                            62




      Meraih status Akreditasi Penuh untuk 5 standar
      Pelayanan                                                      1997
      Penampilan Terbaik Rumah Sakit Swasta setara tipe B
      non pendidikan dalam 5 standar pelayanan.                      1997
      Penampilan Terbaik Rumah Sakit Swasta setara tipe B
      non pendidikan dalam 5 standar pelayanan.                      1998
      Penampilan Terbaik Rumah Sakit Swasta setara tipe B
      non pendidikan dalam 5 standar pelayanan.                      1999
      Meraih status Akreditasi Penuh Lanjutan untuk 12
      standar pelayanan rumah sakit.                                 2000
      Meraih penghargaan atas peran serta rumah sakit dalam
      mensukseskan Program Pembangunan Perumahan dan
      Pemukiman Pekerja dari Menteri Tenaga Kerja dan
      Menteri Permukiman Pengembangan Wilayah RI                     2000
      Meraih status Akreditasi Penuh Tingkat Lengkap
      standar pelayanan rumah sakit.                                 2009

                Sumber, www.rs-elisabeth.com 12 April 2011



4.2. Hasil penelitian

4.2.1. Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik dalam Asuhan Keperawatan

             RS St. Elisabeth Semarang merupakan salah satu rumah sakit

      swasta yang berada di kota Semarang. Kepercayaan dan loyalitas adalah

      modal hubungan kerjasama yang baik dalam pelayanan kesehatan antara

      RS St. Elisabeth Semarang dengan pasien. Kerjasama dan pelayanan yang

      baik dan efisien menghasilkan kemajuan pada kedua belah pihak. Pasien

      lebih cepat mendapatkan kesembuhan dengan kenyamanan dan pelayanan

      prima yang diberikan oleh perawat. Selain itu, RS St. Elisabeth Semarang

      juga selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kepuasan pasien

      dengan melakukan peningkatan baik dalam alat-alat kedokteran, sarana

      dan pelayanan asuhan keperawatan terhadap pasien baik pasien rawat jalan

      maupun pasien rawat inap.
                                                                             63




              Banyaknya pasien, menjadikan RS St. Elisabeth Semarang sebagai

       rumah sakit yang terpercaya sehingga RS St. Elisabeth Semarang

       mendapat posisi yang baik di tengah persaingan jasa pelayanan kesehatan

       khususnya di kota Semarang. Adanya pasien merupakan gambaran bahwa

       semakin banyak pasien yang mempercayakan perawatan dan pengobatan

       di RS St. Elisabeth Semarang maka semakin besar kepercayaan pasien

       terhadap kinerja RS St. Elisabeth Semarang dalam menangani perawatan

       kesehatan pasien.

              Kepercayaan pasien serta loyalitas yang didapat adalah bagian dari

       asuhan keperawatan yang baik dengan mengedepankan komunikasi

       terapeutik yang mumpuni yang dilakukan oleh perawat di RS St. Elisabeth

       Semarang. Untuk itu, RS St. Elisabeth Semarang terus berusaha menjaga

       dan meningkatkan sumber daya perawat yang telah ada dengan pelatihan

       dan seminar dalam meningkatkan mutu dan pelayanan yang berkuailitas

       rumah sakit di antara para pesaing yang ada.



4.2.2. Sarana dan prasarana kesehatan di RS St. Elisabeth Semarang

              Untuk mendukung pelayanan kesehatan pada masyarakat maka RS

       St. Elisabeth Semarang mengupayakan berbagai sarana dan prasarana

       pelayanan yang dapat menunjang pasien, khususnya untuk menangani

       pasien kanker serta mendukung tugas mulia yang diemban oleh dokter dan

       perawat di RS St. Elisabeth Semarang. Adapun sarana dan prasarana yang
                                                                           64




      dimiliki oleh RS St. Elisabeth Semarang adalah seperti pada tabel di

      bawah ini:

                              Tabel 4.2.
            Sarana dan Prasarana RS St. Elisabeth Semarang

NO       JENIS TENAGA                                   JUMLAH
1.    Dokter umum                              57 orang
2.    Dokter spesialis bedah                   16 orang
3.    Dokter spesialis penyakit dalam          19 orang
4     Dokter spesialis anak                    16 orang
5     Dokter spesialis THT                     5 orang
6     Dokter gigi                              4 orang
7     Perawat                                  402 orang
8     Kebersihan                               14 orang
9     Suster-suster OSF                        45 orang
10    Administrasi                             20 orang
11    Juru masak                               25 orang
12    Juru cuci                                20 orang
13    Saptam                                   30 orang
14    Asisten apoteker                         38 orang
15    Apoteker                                 5 orang
16    Kasir                                    8 orang
17.   Petugas lingkungan                       12 orang
18    Sistem informasi                         10 orang
19    Pekarya Kesehatan                        107 orang
20    Tata Usaha                               366 orang
                    (Sumber: RS St. Elisabeth, 26 Juli 2011)


             Berdasarkan tabel 4.2 dapat dijelaskan bahwa untuk mendukung

      dan memperbaiki pelayanan kesehatan terhadap pasien penyakit kanker

      yang menggunakan jasa RS St. Elisabeth Semarang, pihak rumah sakit

      selalu berusaha meningkatkan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh RS

      St. Elisabeth Semarang. Jumlah perawat kurang lebih 400 orang yang

      dibantu oleh 107 pekarya kesehatan sebagai asisten perawat. Hal tersebut

      dilakukan dengan tujuan untuk menghindari tidak terurusnya pasien yang

      terus meningkat, maka jumlah perawat maupun asisten perawat atau
                                                                          65




      pekarya kesehatan terus ditambah supaya dapat memberikan pelayanan

      kesehatan terhadap penyakit-penyakit kronis lainnya.

             Pelayanan yang baik serta memuaskan adalah salah satu cara

      perawat meyakinkan pasien dalam penanganan penyakit kanker atas saran

      dan petunjuk yang diberikan oleh dokter. Kepercayaan masyarakat sebagai

      pengguna jasa kesehatan, akan kinerja dan pelayaan di RS St. Elisabeth

      Semarang tidak hanya masyarakat yang berasal dari Semarang melainkan

      berasal dari luar wilayah Semarang.

4.2.3. Peran dan Fungsi Perawat Dalam Asuhan Keperawatan

             Perawat mempunyai tugas penting dalam memberikan bimbingan,

      asuhan, dan pelayanan kepada pasien yang dirawatnya, dengan mengganti

      infus, memandikan pasien, menganjurkan minum obat, serta memberikan

      asuhan keperawatan, secara khusus pada pasien penyakit kanker. Perawat

      mempunyai tugas dalam pendidikan dan konseling tidak hanya pada

      pasien yang dirawatnya tetapi juga keluarga pasien yang berguna

      mendampingi serta meyakinkan keluarga dalam kondisi yang sedang

      dialami oleh pasien.

             Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, empat perawat yang

      dijadikan sumber data penelitian didapatkan hasil bahwa perawat yang

      bertugas di RS St. Elisabeth Semarang rata-rata sudah duabelas tahun

      menekuni profesi sebagai perawat. Hal ini menunjukan bahwa para

      perawat tersebut sudah mempunyai banyak pengalaman baik secara medis

      maupun psikologis dalam menghadapi seorang pasien, khususnya asuhan
                                                                             66




      keperawatan penyakit kanker yang ditinjau dari berapa lama mereka

      menjadi seorang perawat. Hasil interview yang dilakukan oleh peneliti

      menunjukan bahwa latar belakang mereka memilih berprofesi sebagai

      perawat adalah keinginan para perawat untuk menolong sesama manusia.

             Ibu Dian selaku perawat di RS St. Elisabeth Semarang mengatakan

      bahwa didalam sebuah pelayanan pada pasien perlu adanya sikap tulus

      yang berguna untuk dampak kesembuhan pasien. Faktor-faktor yang

      memotivasi para perawat untuk menekuni profesi perawat antara lain :

             “Adanya keinginan untuk mengabdi pada Negara, karena profesi
             perawat merupakan profesi yang penuh tanggung jawab dan resiko,
             tanggung jawab yang dimaksud adalah bagaimana seorang perawat
             memberikan keterangan kepada pasien tentang penyakit pasien
             yang kronis atau mengandung resiko kesembuhan lebih rendah
             dibanding penyakit lain yang bisa berakibat kematian. Meskipun
             kematian disini bukan disebabkan karena cara penanganan yang
             tidak benar tetapi karena penyakit tersebut memang sulit untuk
             disembuhkan. Resiko menimbulkan efek secara kejiwaan atau
             psikologis terhadap perawat karena dianggap gagal dalam
             menjalankan tugasnya mencapai kesembuhan. Kesiapan mental
             akan diuji dalam penyampaian informasi tentang kematian pasien
             kepada keluarga pasien yang tidak bisa atau belum bisa menerima
             tentang berita tersebut, disini perawat dituntut untuk memberikan
             penjelasan yang dapat diterima oleh keluarga pasien, memberikan
             dorongan secara psikologis dan mental sehingga keluarga pasien
             dapat menerima penjelasan tentang kasus kematian tersebut.
             Sebagai bentuk dari ibadah. Faktor ini berkaitan dengan nilai-nilai
             agama atau religi dan moral, dimana menolong sesama dalam hal
             kebaikan adalah dianjurkan oleh setiap ajaran yang ada. Menolong
             sesama dalam kebaikan adalah perbuatan yang mulia yang nantinya
             dapat membantu mereka dalam kesulitan di lain hari dan dilain
             kesempatan”. (wawancara kamis, 28 juli 2011)

4.2.4. Komunikasi Terapeutik dalam Asuhan Keperawatan Penyakit kanker.

             Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa komunikasi

      terapeutik yang berlangsung di RS St. Elisabeth memegang peranan
                                                                     67




penting dalam membantu pasien memecahkan masalah yang dihadapinya,

mulai dari pertama kali pasien datang di bagian Poli Umum sudah terlihat

pola komunikasi antara perawaat dan pasien. Komunikasi terlihat saat

perawat memberi salam dan sapaan untuk menanyakan identitas dan data-

data pasien juga saat dilakukan pemeriksaan suhu tubuh, dan tekanan

darah atau penanganan untuk pelaksanaan tindakan selanjutnya.

       Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien

penyakit kanker sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-pasien

kanker. Bila perawat tidak memperhatikan hal ini, hubungan perawat-

pasien kanker tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak

terapeutik yang mempercepat proses kesembuhan pasien kanker.

Komunikasi terapeutik dalam hal ini merupakan bentuk konseling

keperawatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat yang telah

menyelesaikan pendidikan keperawatan didapatkan data bahwa kegiatan

komunikasi terapeutik meliputi :

1. Perkenalan.

           Perkenalan dilakukan perawat saat pertama kali bertemu atau

  kontak dengan pasien kanker. Hal-hal yang dilakukan adalah :

  a.   Memberi salam. Selamat pagi/siang/sore/malam atau sesuai latar

       belakang sosial budaya-spiritual, disertai dengan mengulurkan

       tangan untuk berjabat tangan. Pasien kanker yang sudah akut

       mungkin tidak menjawab salam dan ulurkan tangan.

       .
                                                                      68




b.   Memperkenalkan diri. Misalnya, "Nama saya Ibu Dian, saya

     senang dipanggil Dian."

c.   Menanyakan nama pasien kanker. Nama bapak/Ibu/Saudara siapa?

     Apa panggilan kesenangannya? Misalnya, pasien kanker senang

     dipanggil ibu.

d.   Menyepakati pertemuan (kontrak). Kesepakatan tentang pertemuan

     terkait dengan kesediaan pasien kanker untuk bercakap-cakap;

     lama percakapan.

     1.   Berkomunikasi

          a. Bagaimana kalau kita bercakap-cakap ?

          b. Ayo kita bercakap-cakap.

     2.   Untuk menyepakati tempat bercakap-cakap:

          a.   Dimana kita duduk ?
          b.   Bagaimana kalau kita duduk disana?
          c.   Ayo kita duduk disana?
          d.   Jika di ruang periksa, langsung katakan silahkan duduk.
          e.   Jika di kamar pasien, perawat langsung duduk disamping
               pasien

e.   Melengkapi kontrak. Pada pertemuan awal, perawat melengkapi

     penjelasan tentang identitas perawat serta tujuan interaksi agar

     pasien percaya pada perawat (wawancara ibu Dian 28 Juli 2011).

     1.   Komunikasi untuk melengkapi identitas perawat :

          a. Saya Dian perawat yang bekerja di RS St. Elisabeth

               Semarang, saya akan merawat ibu selama 7 hari, saya

               datang pukul 07.00 dan pulang pukul 14.00 WIB.
                                                                 69




     2.   Untuk menyepakati tujuan interaksi;

          a. Saya membantu ibu untuk menyelesaikan masalah yang ibu

            hadapi.

            Fokus percakapan pada pengkajian keluhan utama atau

     alasan masuk rumah sakit. Kemudian dilanjutkan dengan hal-hal

     yang berkaitan dengan keluhan utama. Kemudian lengkapi format

     pengkajian proses keperawatan.

     Komunikasi untuk mengkaji keluhan utama (wawancara ibu Dian

     28 juli 2011).

     a.   Apa yang terjadi di rumah sampai ibu dibawa kemari ?
     b.   Apa yang ibu rasakan sampai datang kemari ?
     c.   Apa yang ibu rasakan saat ini ?

           Jawaban pasien digunakan untuk dilakukannya eksplorasi

     sesuai dengan format pengkajian, terutama hal-hal yang terkait

     dengan keluhan utama.


f.   Menyepakati masalah pasien. Setelah pengkajian, pada akhir

     wawancara disepakati masalah atau kebutuhan pasien, "dari

     percakapan kita tadi, tampaknya ibu menderita penyakit yang

     membutuhkan penanganan khusus”. Perawat tidak menyebutkan

     secara langsung bahwa pasien menderita kanker stadium dua

     (sesuai dengan kesimpulan masalah atau kebutuhan yang dimiliki

     pasien), karena hal tersebut menimbulkan dampak psikis pada

     pasien. Tunggu reaksi dan kesiapan pasien untuk mendengarkan
                                                                       70




     tentang penyakit pasien serta gunakan bahasa yang dimengerti oleh

     pasien.


g.   Mengakhiri perkenalan.

               Tahap perkenalan lebih bersikap aktif karena pada tahap ini

     perawat mencoba membaurkan diri dengan pasien yang bertujuan

     untuk menghilangkan rasa canggung. Semakin menipisnya jarak

     antara pasien dengan perawat sangat membantu kedua belah pihak

     untuk memecahkan masalah yang dihadapi pasien.

               Hasil peneilitian yang telah dilakukan didapatkan data

     bahwa pada tahap pengenalan komunikasi terapeutik sesuai dengan

     apa yang diungkapkan dalam wawancara dengan ibu Dian selaku

     perawat ruang fransiskus RS St. Elisabeth Semarang.

               “Bahwa hal pertama yang dilakukan oleh perawat adalah
               mencoba memperkenalkan diri yang sebelumnya
               mempersilahkan kami masuk setelah mendapatkan giliran.
               Perawat akan mendengarkan dan mencatat data pasien
               sehingga akan mempermudah dalam memberikan arahan
               dan bimbingan baik secara medis maupun psikis. Langkah
               kedua setelah adanya perkenalan adalah menanyakan pada
               pasien tentang tujuan kita, perasaan yang ada saat itu,
               keluhan-keluhan    yang    dirasakan.   Perawat     akan
               mendengarkan dan mencoba memahami dan kadang
               berusaha     memposisikan      dirinya   pada      posisi
               pasien”(Wawancara perawat ibu Dian, kamis 28 juli 2011).

               Perawat mengarahkan pada pasien untuk mengeluarkan apa

     yang sedang dialami dan dirasakan, perawat juga bisa menjadi

     teman, atau bahkan orang tua bagi pasien, dengan demikian
                                                                       71




        mempermudah pasien untuk berterus terang, disini kesabaran dan

        ketelatenan seorang perawat diuji dalam menghadapi pasien.


2. Orientasi.

             Tahap orientasi dilaksanakan pada awal setiap pertemuan kedua

   dan seterusnya. Tujuan tahap orientasi adalah memvalidasi keakuratan

   data, rencana yang telah dibuat dengan keadaan pasien kanker saat ini,

   dan mengevaluasi hasil tindakan yang lalu. Umumnya dikaitkan dengan

   hal yang telah dilakukan bersama pasien.

   a.   Memberi salam. Sama dengan fase perkenalan.

   b.   Memvalidasi keadaan pasien. "Bagaimana perasaan ibu hari ini ?

        coba ibu ceritakan perasaan hari ini ! Adakah hal yang terjadi

        selama kita tidak pernah bertemu, coba ceritakan ?"

   c.   Mengingatkan kontrak. Setiap berinteraksi dengan pasien kanker,

        kaitkan topik pembicaraan dengan kontrak pada pertemuan

        sebelumnya yang berlangsung antara perawat ibu Dian dengan

        pasien ibu Qusnaini.

        1.    Ibu masih ingat pukul berapa kita bertemu hari ini ?
        2.    Sesuai dengan janji kita yang lalu kita akan bertemu pukul
              13.25
        3.    ibu masih ingat apa yang akan kila bicarakan/lakukan
              sekarang?
        4.    Sesuai dengan janji yang lalu, sekarang kita akan
              membicarakan atau melakukan sesuai perjanjian
        5.    Sesuai dengan jadwal suntikan saya, sekarang saya akan
              berikan suntikan lagi.
        6.    Sesuai dengan penjelasan saya tadi pagi, sekarang kita akan
              latihan jalan ( wawancara perawat ibu Dian dan pasien ibu
              Qusnaini 28 juli 2011).
                                                                72




       Saat pasien kanker dapat menyebutkan waktu, tempat, topik

pembicaraan, perawat memberikan pujian. Tahap orientasi selalu

diikuti oleh tahap kerja dan terminasi sementara.

       “Baiklah, sekarang kita akan bicara tentang cara
       mengungkapkan rasa yang ibu pendam dan cara melakukan
       perawatan diri sesuai dengan masalah Ibu” (wawancara dengan
       pasien ibu A. Qusnaini, 28 Juli 2011).

       Pada tahap ini perawat menanyakan perkembangan keadaan

pasien kanker apakah ada perubahan atau ada sesuatu yang baru yang

dialami oleh pasien kanker selama kurun waktu yang telah ditentukan

atau dijadwalkan oleh pasien kanker dan perawat. Tahapan ini

mencoba memberikan informasi dan perkembangan secara medis

kepada pasien kanker, yang sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan

secara medis. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang

dilakukan oleh peneliti terhadap pasien kanker dimana perawat

mencoba mengingatkan kembali kesepakatan yang telah dibuat pada

waktu sebelumnya. Disini pasien kanker akan menceritakan

perkembangan yang terjadi pada dirinya, perasaan setelah melakukan

apa yang disarankan dan dianjurkan oleh perawat.

       Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh perawat adalah

menyampaikan informasi tentang apa yang harus dilakukan dan

bagaimana cara melakukannya oleh pasien kanker. Intensitas

pertemuan semakin mendekatkan hubungan secara psikis antara

perawat dengan pasien kanker, semakin intens seorang pasien kanker

bertemu atau berdiskusi dengan perawat maka akan mempermudah
                                                                       73




     kedua belah pihak untuk saling mengerti dan memahami karakter

     masing-masing.

3.   Tahap Kerja.

            Tahap kerja merupakan inti hubungan perawat-pasien kanker

     yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan

     yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang dicapai. Tujuan

     tindakan asuhan keperawatan adalah :

     a. Meningkatkan pengertian dan pengenalan pasien kanker tentang

       diri, perasaan, pikiran, dan perilakunya. Tujuan ini sering disebut

       tujuan kognitif percakapan ini berlangsung di ruang fransiskus

       (wawancara perawat ibu Dian dan pasien ibu Qusnaini 26 juli

       2011).

       1.   Apa yang menyebabkan ibu cemas ?
       2.   Apa tanda/gejala yang ibu rasakan saat cemas ?
       3.   Kapan saja ibu merasakan cemas ?
       4.   Apa yang ibu rasakan saat merasa cemas tersebut ?

     b. Mengembangkan,       mempertahankan,       dan      meningkatkan

       kemampuan pasien kanker secara mandiri menyelesaikan masalah

       yang dihadapi. Tujuan ini sering disebut tujuan afektif dan

       psikomotor.

       1.   Apa yang ibu lakukan saat cemas ?
       2.   Apa yang ibu lakukan saat jantung berdebar-debar?
       3.   Apakah dengan cara itu masalah ibu selesai ?
       4.   Apa dengan cara itu debar jantung hilang ?
       5.   Apa kira-kira cara lain yang lebih baik ?
       6.   Bagaimana kalau kita bicarakan beberapa cara baru ?
       7.   Anda ingin mencoba cara yang mana ? Coba ibu tiru cara tadi.
            Bagus, ibu dapat melakukan dengan baik. Bagaimana kalau ibu
            coba sendiri (ibu Dian dan pasien ibu Qusnaini 26 juli 2011).
                                                                    74




c. Melaksanakan terapi/ teknis keperawatan.

  1.   Bagaimana perasaan nyeri ibu ?
  2.   Saya bantu ibu mencoba cara untuk mengurangi nyeri. Pertama
       : Ibu dapat mengalihkan pikiran pada pengalaman yang
       menyenangkan, atau membaca, atau mendengar musik. atau
       bercakap-cakap.
       Kedua : Latihan ambil napas dalam-dalam
       Ketiga : Mengusap daerah dada Mari kita coba memberi
       pujian saat pasien dapat melakukannya. Bagaimana perasaan
       Ibu?
  3.   Nah, ibu dapat coba pada saat nyeri, namun jika tidak berhasil,
       panggil perawat.
  4.   Sampai nanti pukul 12.00 WIB, saya kembali lagi untuk
       memberikan suntikan pada Ibu (wawancara perawat ibu Dian
       dan pasien ibu Qusnaini 26 juli 2011).

d. Melaksanakan pendidikan kesehatan.

        Sesuai dengan janji kita tadi pagi, saya memberi penjelasan

  tentang langkah-langkah perawatan dan terapi.

e. Melaksanakan kolaborasi.

  1.   Bu. sekarang sudah pukul 12.00, saatnya Ibu mendapat
       suntikan.
  2.   Ibu, miring ke sebelah kiri, sedikit sakit Bu tarik napas Bu, ya
       sudah.
  3.   Bagaimana Bu ?


f. Melaksanakan observasi dan pemantauan.

  a.   Bu, sesuai dengan suhu yang tinggi maka setiap dua jam saya
       mengukur suhu, nadi, dan pernapasan Ibu.
  b.   Sekarang saya ukur suhu Ibu di ketiak. Kemudian meletakkan
       termometer di ketiak pasien, dan katakan pada pasien "ditekan
       ya Bu"
  c.   Saya ambil ya Bu. Sekarang ibu istirahat lagi, nanti dua jam
       lagi saya datang ( wawancara perawat ibu Dian dan pasien ibu
       Qusnaini 26 juli 2011).
                                                                        75




             Pada tahap ini seorang perawat melakukan langkah-langkah

    keperawatan seperti melakukan tindakan-tindakan medis yang

    sebelumnya dilakukan.


4. Tahap Terminasi.

            Terminasi adalah akhir dari setiap pertemuan perawat dengan

  pasien. Terminasi dibagi dua, yaitu terminasi sementara dan terminasi

  akhir.

  a.   Terminasi sementara, adalah akhir dari tiap pertemuan perawat

       dengan pasien. Pada terminasi sementara perawat bertemu lagi

       dengan pasien kanker pada waktu yang telah ditentukan, dua jam

       hari berikutnya. Isi percakapan pada tahap ini diuraikan di bawah :

       1.    Tahap evaluasi hasil:

             a. Coba ibu sebutkan hal-hal yang sudah kita bicarakan.
             b. Apa saja yang ibu dapat dari percakapan kita tadi ?

       2.    Tahap tindak lanjut:

             a. Bagaimana kalau ibu mencoba melakukan di ruang
                  perawatan?
             b. Yang mana yang ingin ibu coba?

       3.    Tahap untuk kontrak yang akan datang

             a.   Waktu: kapan kita bertemu lagi?
             b.   Bagaimana kalau nanti jam 10 kita bertemu lagi.
             c.   Kita akan bertemu lagi besok pagi.
             d.   Topik : Apa saja yang akan kita bicarakan nanti ?
             e.   Bagaimana kalau kita bicara seputar penanganan masalah
                  ibu hadapi ?
                                                                      76




  b.   Terminasi akhir.

              Terminasi akhir terjadi saat pasien kanker akan pulang dari

       rumah sakit. Pada saat penelitian ini dilaksanakan terminasi akhir

       belum terjadi karena pasien masih harus melakukan perawatan lagi

       selama kurang lebih lima hari.

       Perawat yang baik juga membantu memberikan perawatan pada

masa pasca atau perawatan, dimana masih banyak yang harus diketahui

oleh seorang pasien. Kerjasama yang dimaksudkan adalah tetap

melakukan bimbingan atau konseling terhadap pasien kanker seperti

bagaimana cara mengetahui kondisi kesehatan apabila terjadi kelainan dan

hal lain yang berhubungan dengan kesehatan pasien kanker.

       Kemampuan menerapkan tehnik komunikasi terapeutik dalam

asuhan keperawatan memerlukan latihan dan kepekaan serta ketajaman

perasaan, yang terlihat melalui dampak terapeutik bagi pasien kanker dan

juga berpusat bagi perawat. Berbagai tugas yang diemban oleh seorang

perawat tidaklah mudah untuk dilaksanakan, ada berbagai macam kendala

yang ada dalam pelaksanaan tugas mulia tersebut. Perawat harus mampu

memberikan    keputusan    asuhan   dan   memberikan    informasi   yang

dibutuhkan pada pasien selama masa pra perawatan, perawatan dan pasca

perawatan.

       Sehubungan dengan apa yang dilakukan oleh seorang perawat,

berikut ini merupakan     hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti

terhadap seorang pasien bernama Hadi Sumarto umur 58 tahun yang
                                                                   77




menderita penyakit kanker yang ditangani oleh perawat di ruang

Fransiskus RS St. Elisabeth Semarang .

       “Seorang perawat yang berpengalaman akan mengetahui
       bagaimana memperlakukan dan memberikan perawatan yang
       terbaik untuk mencapai kesembuhan. Perawat berusaha memulai
       pembicaraan dengan pasien untuk menciptakan suasana yang
       kondusif (wawancara, Kamis 28 juli 2011)”.


       Kelebihan yang dimiliki seorang perawat dalam memberikan

asuhan keperawatan serta informasi yang lebih jelas kepada pasien

mencerminkan bahwa perawat itu benar-benar seorang perawat yang

mengetahui dan memahami komunikasi terapeutik dalam pelaksanaan

asuhan keperawatan. Pendapat ini berbeda-beda untuk masing-masing

pasien, ada yang menyebutkan bahwa perawat sudah cukup baik dalam

asuhan keperawatan dan ada juga yang menyebutkan perawat terlalu

dingin dan kaku. Segala tindakan yang diambil oleh seorang perawat

berpedoman pada standar pelayanan asuhan keperawatan pada seorang

pasien dengan mempertimbangkan kondisi pasien. Perawat harus mampu

mengerti dan memahami keinginan seorang pasien agar tujuan asuhan

keperawatan tercapai secara maksimal.


       “Saya merasa puas dengan pelayanan perawat karena sangat
       cekatan dan rajin disamping itu perawat memberikan lebih banyak
       informasi tentang penyakit saya dan apa yang sebaiknya saya
       lakukan. Hal ini yang memberikan semangat dan dorongan bagi
       saya untuk kesembuhan saya (bpk Hadi Sumarto, Kamis 28 juli
       2011)”.
                                                                       78




      Berdasarkan hasil wawancara dengan pasien tersebut menunjukan

bahwa faktor kepercayaan merupakan hal penting pengaruhnya dalam

komunikasi terapeutik,     yang didorong oleh keinginan pasien untuk

mencapai   kesembuhan.     Secara   ilmiah   percaya   diartikan   sebagai

mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki,

yang pencapaiannnya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko.

Keuntungan yang diperoleh dari sikap percaya pada orang lain adalah

memperlancar komunikasi, penerimaan informasi, dan memperluas

peluang mencapai tujuan.




       Gambar 4.5 Pasien Bapak Supono Hadi Sumarto
          (Sumber: RS St. Elisabeth, 28 Juli 2011)
       Melihat gambar 4.5 bentuk komunikasi sangatlah penting sebagai

sarana yang sangat efektif dalam memudahkan perawat melaksanakan

peran dan fungsinya dengan baik. Selain berkomunikasi dengan pasien,

perawat juga berkomunikasi dengan anggota tim kesehatan lainnya.

Sebagaimana diketahui tidak jarang pasien selalu menuntut pelayanan
                                                                   79




perawatan yang paripurna. Sakit yang diderita bukan hanya sakit secara

fisik saja, namun psiko (jiwanya) juga terutama mengalami gangguan

emosi. Penyebabnya bisa dikarenakan oleh proses adaptasi dengan

lingkungannya sehari-hari. Lingkungan rumah sakit sebagian besar serba

putih, berbeda dengan rumah pasien yang beraneka warna. Keadaan

demikian menyebabkan pasien yang baru masuk terasa asing dan

cenderung gelisah atau takut.




              Gambar 4.6 Pasien Ibu A. Qusnaini
             (Sumber: RS St. Elisabeth, 28 Juli 2011)
       Pada gambar 4.6 menunjukan ketika pasien dalam keadaan tidak

sadarkan diri, perawat tetap melakukan komunikasi dengan pasien.

Diharapkan seorang perawat mampu bekerja sama dengan pasien dalam

memberikan asuhan keperawatan dengan bertanya “ada yang bisa saya

bantu ?” dan “bagaimana tidurnya semalam bu ?”. Tutur kata yang lembut

dan sikap yang bersahaja tidak dibuat-buat dari seorang perawat dapat

membantu pasien dalam proses penyembuhan penyakitnya.
                                                                                80




                  Gambar 4.7 Pasien di Ruang Fransiskus
                   (Sumber: RS St. Elisabeth, 28 Juli 2011)

             Melihat gambar 4.7 komunikasi yang baik dari seorang perawat

      mampu memberikan kepercayaan diri pasien. Maksudnya mulai dari profil

      tubuh/wajah terutama senyum yang tulus dari perawat, kerapian

      berbusana, sikap yang familiar, dan yang lebih penting lagi adalah cara

      berbicara (komunikasi) sehingga terkesan low profile atau bertempramen

      bijak kesemuanya ini mencirikan seorang perawat yang berkepribadian.

4.2.5. Evaluasi

             Setelah melalui tahap pelaksanaan komunikasi terapeutik dalam

      asuhan keperawatan pasien penyakit kanker RS St. Elisabeth Semarang

      maka dapat disimpulkan bahwa :

          a. komunikasi terapeutik yang dilaksanakan oleh perawat sudah
             berjalan dengan mengacu pada pedoman pelaksanaan asuhan
             keperawatan rumah sakit.
          b. Komunikasi     terapeutik    perawat    belum    terlaksana    secara
             menyeluruh diterapkan oleh semua perawat dikarenakan sikap
             perawat masih kurang familiar, kurang teliti dan terlihat biasa saja.
          c. Perawat masih canggung dan terlalu berhati-hati dalam melakukan
             tindakan untuk pasien.
                                                                       81




       Menurut pendapat dr. Monica Aditjondro mengenai komunikasi

terapeutik perawat :

       “Menurut saya pelaksanaan komunikasi terapeutik sudah berjalan
       dengan baik dengan mengacu pada standar pelayanan pasien yang
       sudah ditetapkan rumah sakit, walaupun kadang-kadang ada sedikit
       kesalahan yang disebabkan        mungkin human error, faktor
       kelelahan, faktor masalah bawaan diluar pekerjaan” (Monica, 28
       Juli 2011).


     Pandangan keluarga pasien mengenai perawat dalam melakukan

perawatan :

       “Pelayanan secara umum sudah bagus dan sesuai harapan keluarga
       kami sehingga anggota keluarga kami yang dirawat disini merasa
       puas dalam mencapai kesembuhan” (Hendrawan, Kamis 28 Juli
       2011).

Dikatakan lebih lanjut oleh keluarga pasien

       “informasi yang disampaikan sudah cukup jelas dan mudah kami
       mengerti, karena biasanya perawat menyampaikan dengan sopan
       dan cara penyampaian mudah kami pahami”…

       “hambatan mungkin kami pernah alami yaitu saat perawat
       menjelaskan kadang secara tidak sadar menggunakan bahasa medis
       yang susah untuk kami pahami selanjutnya bisa diatasi dengan
       bertanya secara langsung kepada perawat tersebut. Hambatan
       memang pernah terjadi tetapi tidak sampai terjadi salah pengertian”
       (Hendrawan, Kamis 28 Juli 2011).
       .
Sedikit berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh ibu Qusnaini bahwa :

       “suatu ketika saya pernah menyaksikan perawat yang melayani
       pasien lain yang kurang senyum dan dingin sikapnya sehingga
       terkesan tidak menghargai pasien” (Qusnaini, Kamis 28 Juli 2011).


       Dapat disimpulkan dari beberapa ungkapan di atas, bahwa

berjalannnya proses keperawatan di RS St. Elisabeth Semarang masih
                                                                             82




      banyak yang harus diperbaiki penerapannya mulai dari sikap, pelayanan,

      serta komunikasi yang disampaikan baik untuk pasien, keluarga pasien,

      dan pengguna jasa di RS St. Elisabeth Semarang yang diharapkan dapat

      menjadi masukan kemajuan rumah sakit tersebut.




4.3. Pembahasan

4.3.1. Pelaksanaan komunikasi terapeutik dalam asuhan keperawatan pasien

      kanker.

             RS St. Elisabeth Semarang dalam pelaksanaan komunikasi

      terapeutik tidak lepas dari standar operasional yang telah ditentukan oleh

      pihak rumah sakit. Perawat sebagai pelaksana utama komunikasi

      terapeutik diharapkan mampu memberikan pelayanan yang maksimal

      dalam asuhan keperawatan baik dari menghadapi, mengekspresikan,

      bereaksi dan menghargai pasien dengan segala kekurangan dan

      kelebihannya

             RS St. Elisabeth Semarang dalam melaksanakan komunikasi

      terapeutik, perawat mempunyai tugas penting dalam pendidikan dan

      konseling tidak hanya untuk pasien kanker, tetapi juga keluarga dan

      masyarakat. Pelayanan terhadap pasien kanker meliputi pemeriksaan yang

      menyeluruh, membantu melihat kondisi pasien kanker apakah penyakit

      yang diderita sudah masuk dalam stadium awal, tengah, atau stadium akhir

      yang sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa pasien, konsultasi kesehatan

      bagi pasien, serta bagaimana persiapan-persiapan yang harus dilakukan
                                                                      83




untuk menghadapi perawatan, pola makanan yang harus dikonsumsi serta

bagaimana menjaga kondisi tetap sehat. Pemeriksaan terhadap penyakit

kanker sebaiknya dilaksanakan sedini mungkin, untuk mengantisipasi dan

merencanakan tindakan selanjutnya.

Pelayanan ini juga meliputi perawatan pasien kanker dalam upaya

memberikan pelayanan terbaik, monitoring keadaan, memperhatikan

kesehatan dan pengarahan-pengarahan perawatan pasien apabila nanti

sudah keluar dari rumah sakit.

       Pelaksanaan komunikasi terapeutik seperti yang telah dipaparkan

diatas tidak terlepas dari tujuan pelaksanaan komunikasi tersebut :

   a. Perawat RS St. Elisabeth Semarang dituntut untuk mengenali

       dirinya sendiri dengan segala aspek dan kemampuan yang

       dimilikinya guna menciptakan persepsi bahwa segala tindakan

       yang dilakukan adalah upaya sadar dari seorang perawat kepada

       pasien dengan menggunakan pedoman dan sesuai prosedur

       pelaksanaan perawatan pasien kanker.

   b. Komunikasi yang berlangsung antara perawat dan pasien di RS St.

       Elisabeth Semarang ditandai dengan sikap saling menerima,

       terbuka, percaya, dan menghargai. Pasien adalah seorang dalam

       keadaan lemah         yang membutuhkan pelayanan perawatan

       kesehatan dari perawat agar terbebas dari penyakit yang

       dideritanya.
                                                                   84




c. Perawat mampu memahami, menghayati nilai yang dianut oleh

   pasien bahwa seorang pasien memiliki karakteristik yang berbeda

   dengan pasien lain sehingga dibutuhkan perlakuan yang berbeda

   pula bagi setiap individu dan terutama dalam penanganan penyakit

   kanker yang dideritanya.

d. Perawat RS St. Elisabeth Semarang mampu menyadari pentingnya

   kebutuhan pasien baik fisik dengan tindakan medis dan juga

   melalui pastoral care yaitu pelayanan doa untuk pasien karena

   merasa dirinya membutuhkan untuk didoakan agar kebutuhan

   rohani juga ikut disembuhkan. Pastoral care ini dilakukan pada saat

   jam kunjungan pasien dengan alasan agar lebih banyak orang yang

   ikut mendoakan dan tidak mengganggu ketenangan pasien lain. RS

   St. Elisabeth Semarang mengembangkan pastoral care beranjak

   dari   motto   yang   diterapkan    yaitu   “pancaran   cintaNYA

   menyembuhkan derita sesama”.

e. Untuk menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi pasien

   kanker perawat dengan tegas mengatur jam kunjung dengan

   bantuan tenaga keamanan untuk mengingatkan kepada pengunjung

   bahwa jam kunjung telah habis. Hal lain yang sangat mendukung

   adalah tidak diperbolehkan merokok di lingkungan rumah sakit St.

   Elisabeth Semarang sehingga udara terjaga kesegarannya, dengan

   bantuan cleaning service yang senantiasa menjaga kebersihan dan

   siaga setiap saat apabila dibutuhkan. Ruangan dibersihkan dua kali
                                                                      85




       sehari dan penggantian spree satu hari sekali demikian juga dengan

       pengurasan bak mandi.

   f. Tindakan yang dilakukan oleh perawat RS St. Elisabeth Semarang

       kepada pasien kanker selalu dicatat dalam sebuah buku catatan

       perawat yang menyatu dengan dokumentasi asuhan keperawatan

       yang meliputi buku riwayat keperawatan, daftar diagnose

       keperawatan, buku rencana keperawatan dan buku catatan

       perkembangan. Dokumentasi tersebut digunakan sebagai pedoman

       perawat melakukan tindakan keperawatan, setiap kali akan

       melakukan tindakan harus membaca dulu dokumentasi yang sudah

       ada agar tidak terjadi salah melakukan tindakan atau pengobatan.



       Pelayanan terhadap pasien kanker RS St. Elisabeth Semarang

dilakukan setiap hari secara intensif dan pengawasan terus menerus untuk

mengetahui setiap detil perubahan dan perkembangan yang dialami oleh

pasien kanker. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi dan kesalahan

dalam pengambilan tindakan karena pasien kanker sangat sensitif terhadap

perubahan yang terjadi terhadap sakit yang dideritanya.

       Unsur-unsur yang mendukung berjalannya komunikasi di RS St.

Elisabeth Semarang antara perawat dan pasien kanker untuk saling berbagi

informasi, bertukar pikiran, berbagi rasa, dan memecahkan permasalahan

yang dihadapi dalam pelaksanaan asuhan keperawatan secara tidak sadar

telah dilakukan komunikasi secara verbal maupun nonverbal.
                                                                    86




a.   Perawat sebagai sumber proses komunikasi menjadikan dirinya

     penentu dan pengarah prakarsa berkomunikasi untuk menyampaikan

     dan melaksanakn informasi kepada pasien sehingga diperoleh hasil

     dalam perawatan yang menjadi indikasi keberhasilan penyampaian

     pesan tersebut. Pesan-pesan yang disampaikan dengan mengggunakan

     penyandian baik yang berupa bahasa verbal maupun non verval.

b.   Pasien sebagai penerima pesan mengerti apa yang disampaikan oleh

     perawat dan memberikan umpan balik dari keadaan dirinya sebagai

     informasi kepada perawat RS St. Elisabeth Semarang untuk dasar

     melakukan tindakan selanjutnya yang dicatat dalam buku catatan

     perawat dan selanjutnya diberikan kepada dokter untuk dianalisis

     tindakan yang sebaiknya dilakukan.

        Unsur pada komunikasi terapeutik dalam penelitian ini meliputi

pengirim pesan yaitu perawat yang tugas utamanya adalah membantu

pasien dalam mengatasi masalah sakit akut, sakit kronis, dan memberikan

pertolongan pertama pada pasien dalam keadaan darurat yang disini

berhubungan dengan asuhan keperawatan penyakit kanker. Memberikan

informasi yang akurat mengenai seluk-beluk penyakit, pencegahan

penyakit dan informasi lainnya, serta melaksanakan tugas dan tanggung

jawab yang berat tetapi harapannya dapat terlaksana dengan ketulusan

hati.

        Unsur komunikasi terapeutik selain perawat, yaitu berupa sebuah

pesan atau informasi merupakan salah satu unsur penting yang harus ada
                                                                       87




dalam proses komunikasi. Tanpa kehadiran pesan, proses komunikasi

tidak terjadi. Komunikasi akan berhasil bila pesan yang disampaikan tepat,

dapat dimengerti, dan dapat diterima pasien dengan demikian dapat

menciptakan umpan balik dari perawat kepada pasien.

       Komunikasi yang berlangsung menurut model komunikasi

kesehatan menunjukan bahwa dalam hal penanganan pasien terlebih

pasien rawat inap atau yang menderita penyakit akut sangatlah dibutuhkan

penanganan yang baik antara dokter dan perawat untuk pasien kanker.

       Penelitian ini diadopsi dari model komunikasi interaksi king yang

memfokuskan pada pasien dewasa dalam penanganan pasien kanker

dengan melibatkan hubungan timbal balik antara persepsi, keputusan dan

tindakan perawat- pasien. Umpan balik pada model ini menunjukkan arti

penting hubungan antara perawat dan pasien.

       Kenyataan yang terjadi berdasarkan teori interaksionisme simbolik

bahwa perawat RS.St.Elisabeth Semarang menyatakan interaksi pada

pelayanan terhadap pasien sangat berperan besar untuk kesembuhan

pasien. Teori ini menggambarkan bagaimana seorang perawat yang

sebelum berhadapan dengan pasien kanker terlebih dahulu harus

mempersiapkan diri dengan segala pengetahuan, pengalaman hidupnya

untuk menentukan persepsi terhadap keadaan pasien kanker. Setelah

mendapatkan persepsi mengenai keadaan pasien kanker, maka perawat

bisa melakukan pengemasan pesan atau menggunakan cara berkomunikasi
                                                                      88




yang sesuai dengan keadaan pasien kanker untuk penyampaian pesan,

berupa kata-kata dan non kata-kata.

          Pelaksanaan komunikasi terapeutik asuhan keperawatan penyakit

kanker fungsi komunikasi bersifat memberikan informasi kepada pasien

kanker, tingkat kesabaran yang tinggi dan teknik komunikasi yang efektif

merupakan syarat yang harus dimiliki oleh seorang penolong atau petugas

kesehatan dalam hal ini adalah perawat dan dokter, dalam menghadapi

pasien.

          Selain mengalami gangguan fisik pasien kanker juga akan

mengalami gangguan psikis atau ketenangan jiwa sehingga sebagian besar

dari mereka sulit melakukan komunikasi secara baik. Empati, perhatian,

dan perilaku yang baik dari perawat dapat meringankan beban psikis

pasien kanker selama proses komunikasi berlangsung.

          Komunikasi di Ruang Fransiskus RS St. Elisabeth Semarang dapat

dilihat ketika seorang perawat sedang memberikan instruksi kepada pasien

kanker, dimana seorang perawat memberikan contoh dengan menarik

nafas maka pasien kanker mengikuti apa yang dilakukan oleh perawat

tersebut. Disini dapat terlihat komunikasi yang terjadi adalah komunikasi

non verbal yaitu komunikasi yang tidak menggunakan bahasa lisan

maupun tulisan, tetapi menggunakan bahasa sikap.

          Komunikasi dalam proses asuhan keperawatan yang terjadi di RS

St. Elisabeth dipakai untuk mengumpulkan data-data tentang pasien yang
                                                                        89




mendukung atau membantu dalam menegakkan diagnosa selanjutnya.

Adapun pengumpulan data tersebut dengan tahap-tahap sebagai berikut :




                     Proses Asuhan Keperawatan




      Pengkajian            Perencanaan            Implementasi




                      Komunikasi Terapeutik




                                dokter


                      perawat             pasien




                      Tindakan keperawatan
                          Pasien kanker


         Gambar 4.8. Bagan Alur Asuhan Keperawatan


1.   Pengkajian :

            Menentukan kemampuan sesorang perawat dalam proses

     informasi, mengevaluasi kemampuan pasien dalam berkomunikasi
                                                                    90




     secara verbal, mengobservasi apa yang terjadi pada pasien tersebut

     untuk mengetahui langkah lanjut yang digunakan dalam perawatan

     pasien.


2.   Perencanaan :

               Membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sendiri yang

     mendesak apabila sangat dibutuhkan pasien misalnya untuk minum

     obat secara mandiri, membersihakan badan/mandir, membantu pasien

     agar dapat menerima pengalaman yang pernah dirasakan selama

     perawatan di rumah sakit sehingga menciptkan kesadaran untuk

     menjaga kesehatan, perawat dan pasien sepakat untuk berkomunikasi

     secara lebih terbuka untuk menetukan pengobatan atau pemeriksaan

     selama dalam proses penyembuhan.

3.   Implementasi :

               Memperkenalkan diri kepada pasien yang merupakan proses

     awal ketika perawat pertama kali bertemu pasien dalam komunikasi

     ini diharapkan dapat menimbulkan umpan balik dari perawat kepada

     pasien, mulai intreraksi dengan pasien menyapa mengali informasi

     seputar pasien dari riwayat sakit sampai dengan masa perawatan di

     rumah sakit. menganjurkan pada pasien untuk dapat mengungkapkan

     perasaan dan kebutuhannya dengan demikian harapan perawat semua

     permasalahan seputar pasien dapat segera diselesaikan.

       Arah dalam bagan di atas menunjukan interaksi pada komunikasi

terapeutik perawat dalam asuhan keperawatan pasien penyakit kanker
                                                                      91




proses tersebut sangat jelas mulai dari pengkajian, perencanaan, dan

implementasi terbentuk komunikasi terapeutik yang dikelola oleh peran

serta dokter dan secara khusus komunikasi tersebut dilakukan oleh perawat

yang dalam tujuannya dilakukan untuk menolong pasien mencapai

penyembuhan.

       Proses komunikasi ini bergantung pada kemauan kedua belah pihak

antara pasien kanker dan perawat, komunikasi akan berlangsung aktif atau

berhasil ketika dalam proses pengelolaan pesan oleh pasien kanker ada

kejelasan terhadap pesan yang disampaikan oleh perawat maka pasien

kanker akan mudah untuk mengerti dan memahami pesan yang

disampaikan sehingga tercipta komunikasi yang efektif.

       Komunikasi terapeutik yang berlangsung antara perawat dengan

pasien kanker di RS St. Elisabeth merupakan kebutuhan dari pasien kanker

terhadap perawat. Hal ini terjadi karena ada banyak hal yang tidak

diketahui oleh pasien kanker dan kesemuanya perlu didapatkan dari orang

yang sudah mengetahui dan mengerti yaitu seorang perawat.
                                     BAB V

                        KESIMPULAN DAN SARAN



5.1. Kesimpulan

          Berdasarkan      penelitian,    maka      kesimpulan         atas   pelaksanaan

   komunikasi terapeutik dan pasien di RS St. Elisabeth Semarang adalah

   sebagai berikut:


          1.   Model komunikasi terapeutik yang diterapkan di RS St. Elisabeth

               Semarang menggunakan model komunikasi yang diadaptasi dari

               model interaksi King.

          2.   Perawat mampu memberikan supervisi, asuhan dan memberikan

               nasehat yang dibutuhkan kepada pasien penyakit kanker, dengan

               memberikan      pertolongan,       bantuan,     serta    pelayanan    yang

               bertanggung jawab dan asuhan.

          3.   Perawat berinteraksi dengan pasien untuk menentukan apa yang

               pasien inginkan berkaitan dengan cara melakukan tindakan

               keperawatan, perawat aktif dalam tindakan keperawatan yang

               diberikan    kepada       pasien    dan       dibutuhkan       keterampilan

               komunikasi. Keseluruhan rencana, tindakan dan hasil dicatat

               dalam sebuah dokumentasi keperawatan yang meliputi riwayat

               keperawatan, daftar diagnosa, catatan perawat dan catatan

               perkembangan pasien.




                                         92
                                                                            93




         4.   Pasien sebagai penerima pesan mengerti apa yang disampaikan

              oleh perawat dan memberikan umpan balik dari keadaan dirinya

              sebagai informasi kepada perawat RS St. Elisabeth Semarang

              untuk dasar melakukan tindakan selanjutnya yang dicatat dalam

              buku catatan perawat dan selanjutnya diberikan kepada dokter

              untuk dianalisis tindakan yang sebaiknya dilakukan



5.2. SARAN

         Hasil pembahasan dan analisis dari hasil penelitian ini, maka penulis

   dapat memberi saran kepada RS St. Elisabeth Semarang :


         1.   Komunikasi terapeutik sangat penting dalam asuhan keperawatan

              untuk meningkatan kualitas pelayanan, dibutuhkan sumber daya

              manusia yang mumpuni, sabar dalam merawat dan mendampingi

              pasien, serta ketulusan akan tanggung jawab yang harus

              dilaksanakan dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

         2.   Perawat harus lebih kreatif dan inisiatif dalam mencari informasi

              yang dibutuhkan mengenai penyakit dan latar belakang penyakit

              yang dicatat dalam catatan perawat dengan menggunakan tehnik

              komunikasi yang tepat karena pasien sebagai pengguna jasa

              mempunyai karakter dan perilaku yang berbeda-beda.
                                                                  94




3.   Meningkatkan kegiatan supervisi dengan menerapakan sistem

     reward dan punishment yang konsisten dan konsekuen untuk

     memacu     kinerja   perawat   sehingga   dapat   meningkatkan

     kemampuan dalam tehnik komunikasi terutama pada pasien.

4.   Diadakan atau ditingkatkan pertemuan rutin di ruangan antar

     perawat yang dipimpin oleh kepala ruangan agar saling

     memberikan umpan balik dalam rangka saling meningkatkan

     pengetahuan tentang diri sendiri sehingga kesadaran diri perawat

     akan meningkat.
                              DAFTAR PUSTAKA


Arwani, dan Monica Ester. 2003. Komunikasi Dalam Keperawatan . EGC,2002
      ,Jakarta.

Brocckop, DY. dan Tolsma. 2000. Dasar – dasar Riset Keperawatan. Penerbit Buku
      Kedoktera. Jakarta.

Foss,Karen and Stephen W.Littlejohn. 2009.Teori Komunikasi: Theories of Human
      Communication .Salemba Humanika. Jakarta.

Istichomah, Arita Murwani.       2009.   Komunikasi    Panduan    Bagi   Perawat.
       Citramaya,Yogyakarta.

Kriyantono, Rachmat. 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi Disertai Contoh
       Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi,
       Komunikasi Pemasaran. Kencana.Jakarta

Machfoedz, Mahmud. 2009. Komunikasi Keperawatan (Komunikasi Terapeutik)
      ,Ganbika,Yogyakarta

Moleong, L J. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Rosda. Bandung.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rhineka Cipta.
      Jakarta.

Purwanto, Heri. 1998. Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan. EGC.
      Jakarta.

Rahmat, Jalaludin. 2001. Psikologi Komunikasi. PT Remaja. Rosdakarya. Bandung

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta:
      Bandung.

Sutopo, H.B. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif, Dasar dan Terapannya dalam
      Penelitian. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Sumber Internet:


http://pustaka.ut.ac.id/puslata/pdf/40207.pdf. Rabu, 16 Maret 2011


http://www.rs-elisabeth.com/ Jumat, 1 April 2011


http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisasi Jumat, 1 April 2011


http://klinis.wordpress.com/2007/12/28/kepuasan-pasien-terhadap-pelayanan-rumah-
sakit/ Sabtu, 11 Juni 2011

http://www.klikdokter.com/article/detail/148 Senin, 13 Juni 2011


http://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/komunikasi-terapeutik/ Jumat, 1 Juli 2011


http://blog.unand.ac.id/sehatbersama/tag/definisi-keshatan Jumat, 1 Juli 2011


Komunikasi Terapeutik: http://www.Refrensikesehatan.com. Jumat, 1 Juli 2011


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3596/1/keperawatan-jenny.pdf /
Jumat, 1 juli 2011
                               INTERVIEW GUIDE

                    (HUMAN RESOURCES DEVELOPMENT)

                            RS St. Elisabeth Semarang




1.   Apa yang menjadi kriteria untuk pertama kali dalam seleksi penerimaan perawat

     sebagai pegawai RS St. Elisabeth Semarang ?

2.   Apakah ada standar pendidikan tertentu yang ditetapkan bagi seorang perawat

     untuk dapat diterima bekerja sebagai karyawan RS St. Elisabeth Semarang.

3.   Apakah dalam prosedur penerimaan perawat untuk bekerja tersebut seleksi

     dilakukan secara umum atau seleksi untuk perawat yang mempunyai keahlian

     khusus dalam menangani suatu penyakit ?

4.   Apakah dalam pelaksanaan keperawatan perawat dibekali kemampuan khusus

     atau hanya perdasarkan pada teori yang diperoleh selama menjalani pendidikan

     dan pengalaman perawat ketika sudah menangani pasien ?

5.   Apakah pernah diadakan pelatihan bagi perawat untuk menangani pasien dengan

     penyakit yang sangat kronis atau membutuhkan perlakuan khusus ?

6.   Bagaimana manajemen RS St. Elisabeth untuk meningkatkan dan menjaga

     stabilitas kinerja dan sumber daya yang dimiliki oleh perawat?

7.   Apa saja prestasi atau penghargaan yang diraih RS St. Elisabeth hingga saat ini

     khususnya dalam pelayanan pasien?
                           INTERVIEW GUIDE

                                PERAWAT

                        RS St. Elisabeth Semarang

1. Setiap Anda memeriksa kesehatan pasien, apa yang biasanya Anda katakan

   untuk meyakinkan pasien bahwa Anda mampu memberikan pelayanan sesuai

   dengan harapan pasien ?

2. Hal apa yang Anda lakukan saat pertama kali pasien mamasuki ruang rawat

   inap, apakah yang Anda lakukan tersebut sesuai standar perawatan pasien atau

   menyesuaikan kondisi pasien ?

3. Apa yang Anda lakukan untuk memperoleh informasi tentang pasien dan

   penyakit secara lebih spesifik ?

4. Bagaimana cara Anda mengetahui apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh

   seorang pasien ?

5. Bagaimana Anda menciptakan suasana sehingga pasien mau memulai

   pembicaraan atau mengungkapkan apa yang dirasakannya?

6. Bagaimana cara Anda membujuk seorang pasien agar pasien tersebut mampu

   mengungkapkan masalah yang dihadapi secara lebih jelas ?

7. Apakah pernah terjadi perdebatan dengan pasien Anda untuk membujuk

   tentang suatu yang harus dilaksanakan oleh pasien Anda dan bagaimana

   Anda menyelesaikan hal tersebut ?
8. Apa langkah-langkah Anda untuk memberikan pengertian dan meyakinkan

   pasien bahwa apa yang Anda lakukan adalah prosedur yang benar dalam

   penanganan pasien?

9. Apakah pernah terjadi salah pengertian antara Anda dengan pasien karena

   perbedaan persepsi tentang suatu penyakit dan cara penanganan penyakit

   tersebut?

10. Apakah terdapat hambatan dan kelebihan pelaksanaan komunikasi terapeutik

   di RS St. Elisabeth Semarang dalam upaya memberikan pelayanan terbaik

   untuk pasien ?
                          INTERVIEW GUIDE

                                 (PASIEN)



1. Apa yang mendorong Anda untuk memutuskan dan          memilih melakukan

   pengobatan dan dirawat di RS St. Elisabeth ini ?

2. Apa yang Anda harapkan dari seorang perawat sehingga Anda merasa

   nyaman dengan perawatan yang diberikan dan membangkitkan semangat anda

   untuk segera sembuh dari penyakit yang anda alami?

3. Bagaimana kemampuan perawat yang merawat Anda, apakah dalam

   memberikan perawatan sangat membantu atau terdapat kendala tertentu dalam

   pelayanan yang diberikan ?

4. Apakah Anda percaya dan yakin bahwa informasi yang diberikan perawat

   kepada Anda adalah benar dan tindakan perawatan yang dilakukan sesuai

   dengan prosedur perawatan ?

5. Pernahkan Anda menerima perlakuan dari perawat yang tidak sesuai dengan

   norma atau budaya yang Anda yakini ?

6. Apakah pernah terjadi salah persepsi terhadap informasi yang Anda berikan

   dan tindakan medis yang harus dilaksanakan oleh seorang perawat kepada

   Anda ?

7. Bagaimana perasaan Anda ketika perawat melakukan sesuatu yang tidak

   sesuai dengan keinginan Anda?
8. Keadaan seperti apa yang Anda harapkan dalam proses pelayanan         oleh

   perawat setiap hari ?

9. Menurut Anda bagaimana pengarahan yang diberikan perawat pada Anda,

   apakah disampaikan dengan cara yang benar dan sopan ?

10. Apakah Anda mengerti petunjuk atau pengarahan yang disampaikan oleh

   perawat yang merawat Anda?

11. Bagaimana perawat berkomunikasi dan bertukar informasi tentang penyakit

   yang anda alami serta prosedur yang harus dilaksanakan untuk membantu

   kesembuhan Anda?

12. Bagaimana pendapat Anda tentang anjuran perawat yang diberikan pada

   Anda?
                          (INTERVIEW GUIDE)


                               DOKTER


1. Bagaimana pelaksanaan komunikasi perawat dalam rangka pelayanan

   kesehatan terhadap pasien penyakit kanker di RS St. Elisabeth Semarang?

2. Menurut Dokter apakah dengan bertukar informasi, membuka diri dan

   komunikasi yang baik dapat membantu keefektifan proses komuniksai

   perawat dengan pasien?

3. Apakah Dokter pernah mendengar keluhan pasien mengenai pelayanan yang

   diberikan oleh perawat terhadap pasien yang tidak sesuai dengan harapan

   pasien?

4. Apakah dengan komunikasi, berbicara dan bertukar informasi dapat

   meningkatkan pelayanan perawat kepada pasien untuk mencapai kesembuhan

   dan kepuasan pasien?

5. Menurut Dokter apakah cara penyampaian pesan/informasi mengenai

   penyakit, obat dan prosedur tindakan yang dilakukan oleh perawat mudah di

   pahami oleh pasien?
                       (INTERVIEW GUIDE)

                          Keluarga Pasien

1. Hal apa yang mendorong anda untuk mempercayakan perawatan

   kesehatan dan pengobatan di RS St. Elisabeth Semarang ini

2. Sudah berapa lama keluarga Anda menggunakan jasa perawatan dan

   pengobatan di RS St. Elisabeth Semarang?

3. Bagaimana pendapat Anda terhadap pelayanan secara umum RS St.

   Elisabeth Semarang dan khususnya pelayanan perawat pada pasien di

   ruang rawat inap?

4. Bagaimana komunikasi yang dilakukan perawat terhadap pasien apakah

   dapat dipahami / dimengerti dengan mudah oleh pasien tersebut atau

   keluarga Anda?

5. Apakah terdapat hambatan dalam menerima informasi yang disampaikan

   oleh perawat pada Anda atau apakah pernah terjadi salah pengertian ?
Perawat : Ibu Erni

   1. Mengucapkan salam.
       Menanyakan apa yang dikeluhkan pasien, riwayat penyakit, alergi obat,
       pernah periksa dimana aja.
   2. Menyesuaikan pasien dan harus mengetahui kondisi pasien
   3. Harus mengetahui riwayat pasien dsb
   4. Komunikasi terapeutik : komunikasi interpersonal
   5. Salaman, sapaan, apa yang dikeluhkan
       Dengan 5 S ; senyum, sapa, salam, sopan, santun
   6. Dengan memberikan alasan yang kuat
   7. Salah paham atau kurang informasi tentang apa yang dialami pasien, tapi
       harus sesuai prosedur
   8. Setelah tindakan I telpon dokter…kalau masih bingung nurse call
   9. Hal normal itu biasa terjadi
   10. Secara holistik yaitu dengan memberikan pelayanan tidak hanya secara rohani
       tetapi sejara jasmani dan menyeluruh



Perawat : Ibu Dian

   1. Hal-hal yang positif, memberikan gambaran tentang apa saja yang akan
      dilakukan terutama saat pertama kali pasien masuk diberikan penjelasan
      tentang “hospitalisasi” seperti :
      - Dengan memperkenalkan diri kepada pasien yaitu dengan harapan bila
          tahu dan kenal dengan perawat akan terbina hubungan saling percaya
          antara pasien dan perawat.
      - Menjelaskan tentang jam kunjung dokter, rutinitas yang ada dan fasilitas-
          fasilitas yang ada, prosedur-prosedur yang akan dilakukan.
   2. Hospitalisasi
      Menyesuaikan dengan standar dan kondisi pasien.
   3. Melakukan anamnese yaitu secara alloanamnesa dan autoanamnesa
      - Melakukan pemeriksaan fisik
      - Melakukan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang seperti laborat, foto
          rontgen, ECG maupun pemeriksaan yang lain yang dianjurkan dokter
   4. Membina hubungan saling pengertian dulu dengan pasien sehingga apabila
      pasien sudah percaya kita melakukan pendekatan dengan komunikasi
      terapeutik.
   5. Menciptakan suasana yang nyaman, misal menyapa pasien dengan senyum,
       menanyakan keluhan yang dirasakan
   6. Yang penting membina hubungan saling percaya, berbicara hati-hati dengan
       memberikan kesan bahwa kita tidak memaksa pasien untuk bercerita tentang
       masalahnya secara komunikasi terapeutik.
   7. Pernah, dengan memberikan pengertian, gambaran dan mencoba melakukan
       dihadapan pasien (misal tentang suatu prosedur yang membuat pasien takut)
       dengan komitmen bila pasien merasakan sesuatu yang tidak nyaman prosedur
       dihentikan.
   8. Bina hubungan saling percaya misal dengan memperkenalkan diri, meminta
       pasien untuk memberikan kesempatan kepada perawat untuk mencoba,
       sebelum melakukan menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan
   9. Kadang-kadang yaitu dengan konfirmasi berulang-ulang secara tenang dan
       jelas.
   10. Tidak ada.


Perawat : Ibu Agnes

   1. Saya mengatakan hal-hal yang positif dan memberikan support positif kepada
       pasien, dan saya selalu menjelaskan secara jelas tentang program-program
       tindakan dari dokter maupun prosedurnya.
   2. Pertama masuk ruang rawat inap menyapa pasien dan mengucapkan salam.
       Selanjutnya bila saya akan melakukan tindakan keperawatan, akan saya
       lakukan sesuai dengan sop dan keadaan pasien
   3. Melakukan anamnese dan alloanamnesa, juga pemeriksaan-pemeriksaan
       penunjang sesuai dengan program dokter
   4. Dengan pendekatan dan komunikasi yang terapeutik
   5. Saya berusaha menjalin hubungan yang baik dengan pasien dalam arti
       komunikasi dengan baik dan akrab sehingga memberikan perasaan nyaman
       pada pasien dalam berkomunikasi
   6. Dengan bicara secara pelan dan hati-hati tanpa memaksa pasien untuk
       mengungkapkan masalah
   7. Tidak pernah
   8. Dengan menjelaskan standar opersional sutu tindakan kepada pasien secara
       jelas
   9. Kadang-kadang yaitu dengan konfirmasi lagi secara tenang dan jelas.
   10. Tidak ada.
Perawat : Ibu Ratna
   1. Bahwa hal pertama yang dilakukan oleh perawat adalah mencoba
      memperkenalkan diri yang sebelumnya mempersilahkan kami masuk setelah
      mendapatkan giliran. Perawat akan mendengarkan dan mencatat data pasien
      sehingga akan mempermudah dalam memberikan arahan dan bimbingan baik
      secara medis maupun psikis. Langkah kedua setelah adanya perkenalan adalah
      menanyakan pada pasien tentang tujuan kita, perasaan yang ada saat itu,
      keluhan-keluhan yang dirasakan. Perawat akan mendengarkan dan mencoba
      memahami dan kadang berusaha memposisikan dirinya pada posisi pasien
      Melihat kondisi pasien, melakukan prosedur sesuai asuhan keperawatan
   2. Melakukan anamnese ke pasien, lalu ulang tentang pernyataan pasien
   3. Melakukan komunikasi terapeutik
   4. Datang ke pasien dengan senyum ramah
   5. Komunikasi terapeutik
   6. Pernah, dengan membujuk dan memberi penjelasan tentang apa yang kita
      lakukan
   7. Melakukan prosedur
   8. Tidak ada.
   9. Tidak pernah.



Dokter : Aditjondro
   1. Menurut saya pelaksanaan komunikasi terapeutik sudah berjalan dengan baik
       dengan mengacu pada standar pelayanan pasien yang sudah ditetapkan rumah
       sakit, walaupun kadang-kadang ada sedikit kesalahan yang disebabkan
       mungkin human error, faktor kelelahan, faktor masalah bawaan diluar
       pekerjaan.
   2. Ya, karena kita bisa tau tentang penyakit atau keluhan yang dirasakan oleh
       pasien adalah bila pasien mau menceritakan secara jujur dan terperinci
       mengenai apa yang dirasakan sehingga dokter dapat memberikan analisa yang
       tepat dan rencana tindakan selanjutnya untuk pasien tersebut.
   3. Pernah juga mendengar mengenai hal tersebut, mungkin terjadi karena
       seorang pasien membutuhkan perhatian khusus dan cenderung untuk lebih
       sensitif, walaupun perawat sudah memberikan pelayanan sebaik mungkin
       masih ada keluhan dari pasien mengenai pelayanan. Mungkin juga perawat
      terlalu kaku dalam melaksanakan standart keperawatan yang harus dilakukan
      dalam hal mengambil tindakan guna pelayanan pasien.
   4. Tentu saja, karena dengan berkomunikasi imbal balik dokter dan juga perawat
      dapat mengetahui setiap perkembangan penyakit yang diderita pasien
      sehingga dapat merencanakan tindakan selanjutnya yang harus dilakukan.
   5. Sampai saat ini dokter dan pihak rumah sakit menekankan cara-cara
      pelayanan yang benar dan baku sesuai standar pelayanan dan dalam
      penyampaian informasi digunakan bahasa yang mudah dimengerti setidaknya
      kami gunakan bahasa baku yang mudah dipahami pasien yaitu bahasa
      indonesia yang diselingi dengan bahasa medis yang juga dipahami pasien.



Keluarga pasien : Hendrawan
   1. Hal pertama adalah sudah sejak lama mulai dari kakek nenek kami
       mempercayakan perawatan kesehatan pada rumah sakit ini disamping
       pelayanan yang memuaskan bagi keluarga kami dan juga lokasi yang mudah
       dijangkau dari rumah.
   2. Kami menggunakan jasa rumah sakit ini sudah kurang lebih 15 tahun
   3. Pelayanan secara umum sudah bagus dan sesuai harapan keluarga kami
       sehingga anggota keluarga kami yang dirawat disini merasa puas dalam
       mencapai kesembuhan.
   4. Ya, informasi yang disampaikan sudah cukup jelas dan mudah kami mengerti,
       karena biasanya perawat menyampaikan dengan sopan dan cara penyampaian
       mudah kami pahami.
   5. Kalau hambatan mungkin kami pernah alami yaitu saat perawat menjelaskan
       kadang secara tidak sadar menggunakan bahasa medis yang susah untuk kami
       pahami selanjutnya bisa diatasi dengan bertanya secara langsung kepada
       perawat tersebut. Hambatan memang pernah terjadi tetapi tidak sampai terjadi
       salah pengertian.



HRD : Ibu Renny

   1. Kriteria untuk pertama kali adalah jelas bahwa perawat tersebut merupakan
      lulusan dari akademi keperawatan maupun sekolah tinggi keperawatan dan
      telah mempunyai ijazah resmi dari instansi tersebut.
   2. Standar pendidikan yang kami gunakan adalah minimal diploma tiga dan
      sanjana (S1) dalam hal ini keperawatan.
   3. Seleksi yang kami lakukan untuk penerimaan perawat menyesuaikan dengan
      kebutuhan, untuk perawat yang menangani pasien secara umum kami
      terapkan standar umum, seleksi penerimaan untuk perawat yang menangani
      kelahiran misalnya, kami gunakan standar kebidanan sebagai syarat keahlian
      perawat.
   4. Dalam melaksanakan keperawatan mengacu pada standart keperawatan yang
      berlaku dan diberikan tambahan bekal keahlian untuk masing-masing bidang
      yang menjadi spesialisasi perawat, contohnya perawat bedah, perawat ICU
      dan perawat UGD.
   5. Pelatihan sudah sering dilakukan dan secara berkelanjutan diadakan, yaitu
      dengan mengadakan seminar yang juga diberlakukan bagi kalangan umum
      (perawat diluar RS St. Elisabeth), seperti seminar kegawatdaruratan, seminar
      cardiovaskulair, seminar mengenai kanker terutama kanker servik.
   6. Manajemen dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan kinerja adalah
      dengan mengadakan seminar dan pelatihan secara rutin yang diprakarsai oleh
      bagian diklat dan juga dengan mengirim perawat mengikuti pelatihan/kursus
      diluar RS St. Elisabeth bahkan kalau memang dibutuhkan pihak manajemen
      akan memberikan kesempatan kepada perawat untuk melanjutkan kuliah
      sesuai dengan bidang khusus yang harus dikuasai.




Pasien : Ibu Qusnaini
   1. Keinginan saya sendiri karena sudah mempercayakan perawatan di rumah
       sakit ini.
   2. Perawat menurut saya baik dan sopan dalam melayani sehingga saya merasa
       nyaman dan merasa diperhatikan.
   3. Perawat-perawat disini sejauh yang saya liat melayani saya cekatan mungkin
       karena sudah terbiasa menangani pasien seperti saya, mungkin juga karena ini
       sudah yang ketiga kalinya untuk tahun ini saya masuk rumah sakit ini
       sehingga mungkin mereka sudah kenal dengan saya
   4. Percaya, karena dalam setiap kali saya melakukan perawatan disini saya
       memperoleh kesembuhan walaupun tidak secara total tapi sesuai dengan yang
       saya harapkan.
   5. Sejauh ini saya tidak pernah mengalami, tapi suatu ketika saya pernah
       menyaksikan perawat yang melayani pasien lain yang kurang senyum dan
       dingin sikapnya sehingga terkesan tidak menghagai pasien
   6. Sampai saat ini belum pernah terjadi.
   7. Ya jengkel juga karena kita disini minta untuk dilayani dan dirawat, dan
       kitapun mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
   8. Keadaan yang nyaman, suasana yang tenang, lingkungan kamar yang bersih
       dan harum tidak beraroma obat-obatan ataupun aroma got.
   9. Mungkin karena perawat sudah terbiasa menangani saya jadi mereka sudah
       mengerti bahasa yang harus disampaikan ke saya dan mudah dipahami.
   10. Dengan gaya yang ramah sambil sesekali bercanda yang diselingi dengan
       guyonan dan banyak cerita.
   11. Anjuran yang positif dan selalu memberi dukungan, dan semangat kepada
       saya.


Pasien : Hadi Sumarto
   1. Rujukan / anjuran dari menantu karena sudah mempercayakan perawatan di
       rumah sakit ini.
   2. Perawat menurut saya ramah dalam melayani dengan senyum yang pasti dan
       terampil dalam memberikan pelayanan.
   3. Perawat-perawat disini terampil dalam memberikan pelayanan, dan sangat
       membantu dalam perawatan
   4. Seorang perawat yang profesional akan mengetahui bagaimana
       memperlakukan dan memberikan perawatan yang terbaik untuk mencapai
       kesembuhan. Perawat berusaha membangun komunikasi dengan pasien untuk
       menumbuhkan rasa percaya seorang pasien kepada seorang perawat.
   5. Pernah, kadang-kadang ada perawat yang berperilaku kasar, tidak senyum dan
       judes.
   6. Kadang-kadang
   7. Rasanya pengin marah dan jengkel banget
   8. Keadaan yang nyaman, perawat selalu senyum, ramah dan terampil dalam
       melakukan semua prosedur.
   9. Pengarahan yang disampaikan para perawat, umumnya mudah dipahami dan
       disampaikan dengan cara sopan
10. Ya, mudah dipahami
11. Berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dipahami untuk meyakinkan
    bahwa yang dilakukan benar dan sesuai permintaan dokter dan standar yang
    diberlakukan.
12. Anjuran yang positif dan saya merasa puas dengan pelayanan perawat karena
    sangat cekatan dan rajin disamping itu perawat memberikan lebih banyak
    informasi tentang penyakit saya dan apa yang sebaiknya saya lakukan. Hal ini
    yang memberikan semangat dan dorongan bagi saya untuk kesembuhan saya
                     LAMPIRAN-LAMPIRAN




         Gambar 1 Gerbang masuk RS St. Elisabeth Semarang
               (Sumber: RS St. Elisabeth, 28 Juli 2011)




Gambar 2 Tampak Depan pintu masuk utama dan tampak samping gedung
              Polispesialis RS St. Elisabeth Semarang
               (Sumber: RS St. Elisabeth, 28 Juli 2011)
Gambar 3 Penanganan pasien oleh Dokter di ruang poli umum
          (sumber : RS St. Elisabeth, 28 Juli 2011)




   Gambar 4 Penanganan Dokter terhadap pasien kanker
         (sumber : RS St. Elisabeth, 28 Juli 2011)
Gambar 5 keluarga pasien RS St. Elisabeth Semarang
      (Sumber: RS St. Elisabeth, 28 Juli 2011)




Gambar 6 Ruang perawat RS St. Elisabeth Semarang
     (Sumber: RS St. Elisabeth, 28 Juli 2011)
Gambar 7 Perawat Home Care RS St. Elisabeth Semarang
        (Sumber: RS St. Elisabeth, 28 Juli 2011)




   Gambar 8 Penghargaan RS St. Elisabeth Semarang
        (Sumber: RS St. Elisabeth, 28 Juli 2011)
        Gambar 9 Sertifikat akreditasi RS St. Elisabeth Semarang
                (Sumber: RS St. Elisabeth, 28 Juli 2011)




Kegiatan yang dilaksanakan RS St. Elisabeth Semarang dalam rangka peran
                    serta pencegahan penyakit kanker.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:3977
posted:4/5/2012
language:Malay
pages:131
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl