Docstoc

ATRIBUSI PSIKOLOGI OLAHRAGA

Document Sample
ATRIBUSI  PSIKOLOGI OLAHRAGA Powered By Docstoc
					                        ATRIBUSI

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Psikologi
                             Pendidikan

                           Dosen Pengampu:

                       Dra. Heny Setyawati, M.Si




                            Disusun Oleh:

              1.   Chamdani Lukman Bachtiar         6101408093
              2.   Safri Ari Andika                 6101408094
              3.   Rullik Desvarintyadi             6101408106
              4.   Gilang S Prahardika              6101408110




     FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
     UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
                                2012
                                      BAB I

                               PENDAHULUAN




       Psikologi olahraga berkembang cukup luas di sejumlah negara maju
didunia, dalam proses perkembangan dan pertumbuhannya telah melalui sejarah
yang cukup panjang, hampir seiring dengan perkembangan psikologi itu sendiri
secara umum. Pada mulanya bidang psikologi pendidikan bukan merupakan
bidang tersendiri melainkan lebih bersifat psikofisik terhadap sejumlah atlet.
Perkembangan dunia psikologi olahraga nasional secara garis besar sejarah
psikologi olahraga nasional yang masih tergolong muda namun pada proses
perkembangannya dirasakan semakin besar perannya di dalam keikutsertaannya
dalam program pembinaan atlet-atlet nasional.
       Psikologi latihan merupakan terjemahan dari istilah excercise psikologi
memiliki berbagai kesamaan dengan psikologi olahraga dalam prinsip-prisipnya,
namun juga memiliki sejumlah perbedaan dalam penerapannya. Salah satu aspek
pribadi atlet yang banyak berperan dalam menunjang prestasi olahraga adalah
atribusi,yang merupakan dampak persepsi seseorang terhadap suatu obyek atau
situasi tertentu yang memberikan pengaruh pada perilaku individu tersebut
terhadap situasi yang dihadapi. Ini merupakan kewaspadaan bagi seorang pelatih
dalam memberikan atribut tertentu pada diri atletnya, karena atribut tersebut akan
mempengaruhi perilaku yang ditampilkan seseorang.
       Perasaan cemas seorang atlet merupakan pembicaraan serius dikalangan
pembina olahraga karenan perasaan cemas inilah yang sangat menghambat
seorang atlet dalam usahanya untuk meraih puncak prestasi. Atlet dan pelatih
merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dalam hal program pembinaan
olahraga, oleh karena itu pembahasan aspek pribadi atlet yang banyak berperan
dalam menunjang prestasi olahraga, yaitu atribusi kiranya perlu untuk kita ulas.
                                     BAB II

                                PEMBAHASAN




   A. PENGERTIAN ATRIBUSI

       Betapa seringnya kita membaca pernyataan pengurus, pelatih, dan
komentator olahraga bahwa kekalahan atlet kita di gelanggang olahraga di
sebabkan oleh faktor psikologis. Sebaliknya, betapa langkanya atau bahkan
hampir tidak pernah kita mendengar atau membaca pernyataan mereka bahwa
kemenagan atlet kita di gelanggang olahraga disebabkan oleh fator psikologis.
Jika pernyataan pernyataan yang ada menunjuk faktor psikologis tertentu
menyebabkan seorang atlet mengalami kekalahan dalam pertandingan sebaliknya
tidak ada pernyataan yang menunjukan faktor psikologis tertentu menyebabkan
seorang atlet meraih kemenangan, maka faktor psikologis seolah-olah memiliki
atribut negatif (negative attribution) bagi diri seorang atlet. Padahal, banyak
penilitian telah membuktikan bahwa faktor psikologis seringakali menjadi faktor
yang sangat menentukan bagi seorang atlet untuk meraih kemenangan. Jika
kekalahan atlet kita disebabkan oleh peran faktor psikologis, bukankah
kemenangan atlet lawan merupakan bukti keunggulan lawan dalam faktor
psikologis?

       Atribut (attribute) adalah 1) kualitas dasar stimulus yang diersepsi
seseorang, 2) karakteristik sesuatu yang membedakannya dengan yang lain, dan 3)
kecenderungan khusus seorang membedakannya dengan orang lain (Reber, 1995).
Teori atribusi (attribution theory) merupakan salah satu bentuk pandangan umum
dalam psikologi sosial yang berkaitan dengan perspsi, dan perilaku atribusi (the
act of attribution) adalah bagaimana seseorang memberikan atribut tertentu pada
dirinya, pada orang lain, atau pada situasi tertentu (Reber, 1995). Jika seseorang
menganggap bahwa suatu tugas uang harus dikerjakan adalah sulit, maka ia
menempatkan atribut sulit pada tugas tersebut. Jika seseorang atlet loncat indah
harus melakukan gerakan denga derajat kesulitan tertentu, maka ia akan
memberikan atrbut sulit, tidak terlalu sulit, mudah dan sebagainya pada gerakan
yang harus dilakukan. Selanjutnya jika seorang tae-kwon-do-in mempresepsi tae-
kwon-do-in korea merupakan lawan yang lebih unggul, ia akan memberikan
atribut “lawan yang sulit” pada tae-kwon-do-in Korea tersebut; sebaliknya ia akan
memberikan atribut “tidak berdaya mengatasi lawan” pada dirinya. Dalam
percakapan sehari-hari, atribusi lebih kurang sama halnya denga alasan yang
dikemukakan seorang atlet, pengurus, pelatih, atau seseorang. Namun sejumlah
orang tidak menyadari bahwa alasan-alasan tersebut memiliki dampak khusus
bagi penampilan dan prestasi atlet di masa yang akan datang. Penempatan atribut
yang keliru pada sesuatu keadaan akan menimbulkan persepsi keliru seseorang
terhadap keadaan tersebut.

   B. LANDASAN TEORITIS

       Weiner dan rekan-rekan (1971) mengemukakan bahwa kita cenderung
mempersepsi sukses dan gagal ke dalam 4(empat) kategori: kemampuan (ability),
derajat kesulitan tugas (task difficulty), usaha (effort) dan keberuntungan (luck).
Sebagai contoh, atlet A kalah dari atlet B, padahal A berkemampuan lebih baik
daripada B, sehingga derajat kesulitan tugas A tida terlalu tinggi, disamping itu A
telah barusaha mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan berlatih sebaik-baiknya.
Maka kekalahan A dianggap karena A kurang lebih beruntung daripada A.
Penjelasan ini dikenal sebagai atribusi penybab (causal attribution).

       Peristiwa salah satu pertandingan tinju amatir Kings’s Cup di bangkok
pada awal 1990an merupakan contoh konkrit. Sampai pada pertengahan ronde ke
II, petinju indonesia Albert Papilaya masih unggul 15-1 atas petinju mongolia;
suatu hal yang hampir mustahil Albert akan dapat dikalahkan karena dari segi
teknik, taktik, kecepatan dan lain-lain Albert jauh lebih unggul dari lawanya.
Namun di penghujung ronde II kaki Albert Papilaya tersangkut kain matras
(landasan ring tinju) yang terpasang kurang baik sehingga ia tersandung dan
limbung. Pada saat itu, petinju Mongolia memasukkan pukulan untung-untungan
(lucky blow) dan mengena telak pada wajah Albert sehingga memecahkan bibir
Albert yang kemudian mengeluarkan darah terusmenerus. Pada ronde III Albert
sulit berkonsentrasi karena ia harus mengatasi rasa sakitnya yang berlebihan (usai
pertandingan bibirnya harus dijahit dan selama beberapa hari ia sulit untuk
makan). Sebaliknya petinju Mongol tersebut seolah-olah memperoleh “tenaga
baru” dan mengumpulkan angka demi angka untuk memenangkan pertandingan
dengan skor 16-15. Albert dikalahkan bukan karena kemampuannya yang kurang,
bukan karena derajat kesulitan yang tinggi, bukan pula karena usahanya yang
kurang tetepi karena “dewi fortuna” tidak berada di pihaknya.

       Roberts (1984) menjelaskan bahwa jika pelatih mencemooh atlet dengan
mengatakan bodoh, tidak mampu (berkemampuan redah), atlet cenderung
mengurangi usaha lebih lanjut bahkan berhenti berusaha. Tidaklah demikian
halnya jika pelatih mengatakan misalnya tugas yang harus dilaksanakan terlalu
berat (derajat kesulitan tinggi). Namun, kalaupun alasan lain dikemukakan
berulang-ulang dalam kurung kurun waktu relatif lama atau panjang, usaha atlet
pun akan cenderung menurun.

   C. DIMENSI KAUSALITAS

Dimensi kausalitas adalah sebab atribut tertentu pada suatu situasi atau keadaan,
atau alasan yang dikemukakan atlet, pengurus, pembina, dan komentator olahraga
atas berhasil atau tidaknya seorang atlet mencapai prestasi tertentu. Dimensi
kausalitas ini meliputi (penybab), stabilitas dan kontrol, ditambah dengan peran
emosi dan harapan (Weiner, 1985, 1986).

   D. WILAYAH KAUSALITAS

Di atas telah dikemukakan 4 kategori alasan berhasil tidaknya seorang atlet.
Keempat kategori ini selanjutnya berada dalam dua wilayah kausalitas yaitu
eksternal dan internal. Jika atlet mempersepsi atribut tersebut bersumber pada
wilayah eksternal (external locus of control) maka atlet cenderung memandang
dirinya tidak memiliki kendali atas hasil yang dicapai. Sebaliknya jika atlet
mempersepsi atribut tersebut bersumber di dalam dirinya (internal locus of
control) ia cenderung lebih merasa bertanggung jawab atas hasil yang
diperolehnya.
       Sebagai contoh adalah atribut usaha. Jika atlet menganggap usahanya
gagal karena fasilitas yang kurang dari pengurus, ia cenderung berorientasi pada
wilayah kendali eksternal. Sedangkan jika ia merasa bahwa dirinya harus berusaha
lebih baik lagi karena apapun alasanya, maka ia cenderung memiliki berorientasi
pada wilayah kendali internal dalam menentukan atribut.

   E. WILAYAH STABILITAS

       Stabilitas adalah fungsi perubahan atribusi dari suatu situasi ke situasi
lainya (anshel, 1997) Usaha dan keberuntungan bersifat penuh dengan perubahan.
Keberuntungan tidak bisa di ramalkan terlebih dahulu dan mengalami perubahan
secara tidak terduga. Sebagai contohnya Tim sepak bola belanda sekalipun belum
pernah menjuarai kejuaraan dunia sepakbola Sebagian orang memberikan atribut
finalis pialadunia, karena mereka memang pernah tiga kali mencapai final.
Sebagian orang memberikan atribut calon juara bagi tim kincir angin dan mereka
tetap menjadi ancaman bagi tim-tim lainya. Atribut kemampauan lebih bersifat
stabil atau menetap.

       Demikian pula halnya derajat kesulitan cenderung stabil sifatnya. Arena
olimpiade senantiasa dianggap arena olahraga dengan derajatkesulitan paling
tinggi, karenanya pertandingan di arena olimpiade dianggap pertandingan paling
bergengse. Bahkan kejuaraan dunia sepakbola pun tidak menjadi lebih bergengsi
daripada arena olimpiade sekalipun sesungguhnyakejuaraan dunia sepakbola
mungkin memiliki derajat kesulitan yang lebih tinggi atau sekurang-kurangya
setara dengan olimpiade. Benarkah demikian? Karena menurut logika, kalo
seseorang atau tim mampu merebut gelar juara pada situasi dimana derajat
kesulitanya lebih tinggi, ia harusnya mampu merebut gelar juara pada situasi
dimana derajat kesulitanya lebih rendah. Nyatanya alan budi kusum,
pebulutangkis nasional pemegang medali emas olimpiade barselona tidak
senantiasa menjuarai kejuaraan lainya, bahkan pada porsi jumlah peserta yang
lebih kecil dan kualitas lebih rendah. Namun, atribut olimpiade sebagai
gelanggang tersulit tidak mudah untuk berubah, sekalipun mungkin sesungguhnya
lebih memiliki atribut bergangsi daripada sulit.
    F. WILAYAH KONTROL

         Komponen yang ketiga adalah kontrol. Kontrol menentukan apakah
penyebab suatu kondisi tertentu dibawah kendali atlet atau orang lain, atau kondisi
diluar diri atlet yang bersangkutan seperti misalnya kondisi cuaca. Kita
mengetahui misalnya dalam berbagai pertandingan tinju didapatkan keputusan –
keputusan yang kontrofersial sifatnya. Keputusan kontrofersial di “seputar ring
tinju” merupakan ajang promosi promotor tinju atau terkait masalah lainya.
Adanya keputusan kontrofersial tentunya menyrbabkan kontrol diluar kendali
atlet.

         Dalam berbagai cabang olahraga seberti binaraga, senam, loncat tinggi dan
renang indah misalnya atlet tidak sepenuhnya bertanggung jawab terhadap hasil
yang deperoleh. Penilaian para juri sangat menentukan dan subjektifitas juri
sangat menentukan penilaian mereka. Lain halnya dengan olahraga lomba seperi
renang, lari, balapsepeda, dayung atau jenis olahraga seperti panahan dan
menembak yang bisa di ukur hasilnya dari sekor yang mereka peroleh. Sekor
mereka adalah hasil upaya mereka yang bersifat terukur dan lebih banyak di
bawah kendali atlet yang melakukanya. Namun demikian pada berbagai kasus ada
hal-hal lain seperti gangguan cuaca yang mungkin menggangu seorang pemanah
atau peterju payung untuk mendarat pada titik landas yang tepat. Gangguan cuaca
ini merupakan faktor yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan oleh atlet. Tetapi
tentunya, atlet harus berupaya untuk mengontrol gerakanya untuk beradaptasi
dengan cuaca. Misalnya melakukan “putting” pada “green” yang basah dan kering
adalah sangat berbeda. Pe golf sangat memahami hal ini, dan adalah tanggung
jawab pegolf untuk menyesuaikan diri dengan cuacadan kondisi padang
rumputnya.

         Seorang atlet bintang (elite atlet)seharusnya mampu beradaptasi dalam
berbagai situasi. Demikian pernyataan Gillian Gilks, pebulutangkis inggris
beberapa tahun yang lalu ketika ditanyakan perihal udara panas istora senayan
yang menghambat kemampuanya bermain dalam menghadapi pemain nasional
indonesia. Gilks menyadari panasnya udara jakarta, apalagi di dalam istora
senayan yang peda saat itu belum ber AC dan penontonpun masih diperkenankan
merokok. Tetapi Gilks tidak menyalahkan faktor udara melaikan menyatakan
bahwa dirinyalah yang harus mengendalikan situasi yang ada, dalam pengertian
beradap tasi

   G. PERANAN EMOSI DAN HARAPAN

       Disamping tiga wilayah dimensi penyebab atribusi, Weiner (1985)
Menambahkan peran emosi dan harapan yang muncul antaraperiode pemberian
atribut dan perilaku yang akan datang. Setelah atlet bertanding misalnya atlet
mengalami sukses ataupun gagal. Sukses menimbulkan perasaan menyenangkan,
kegagalan menimbulkan perasaan kurang atau tidak menyenangkan. Hasil
tersebut membawa atlet pada upaya menentukan atribut kesuksesan atau
kekgagalanya. Atlet akan melakukan “penyelidikan” sebab musabab sukses atau
kegagalanya. Proses dalam “penyelidikan” ini kemudian menempatkan sebab
musabab kedalam tiga wilayah utama : kausalitas, stabilitas, dan kontrol.
Misalnya atlet merasa sukses karena upaya latihan yang keras dalam (kausalitas),
kemampuan atlet tergolong stabil, dan atlet merasa mampu mengendalikan
keadaan di gelanggang (wilayah kontrol internal). Hasil penempatan sebab
musabab ini menggugah emosi atlet serta harapanya kemudia secara bersama-
sama akan mempengaruhi kinerja olahraganya dikemudian hari.

       Apabila ternyata atlet mengalami kesan negativ secara emosionanl atas
pengalamannyadan harapanya untuk berprestasi lebih jauh dipandang kurang
menjanjikan, ada kemungkinan ia akan menghentikan kinerja olahraganya
(termination)

   H. DROP-OUT

       Drop out atau berhenti sebelum waktunya merupakan salahsatu langkah
yang diambil oleh atlet jika atlet merasa harapanya terlalu tipis untuk meraih
sasaran prestasi, atau ia mengalihkan harapanya untuk berprestasi di bidang lain.
Berkenaan dengan masalah atribusi, wener (1985) mengemukakan sejumlah
alasan mengapa sejumlah atlet melakukan tindakan drop out
   1. Dalam kurun waktu relatif panjang dan berkesinambungan, atlet
       mempersepsikan penampilannya kurang atau tidak berhasil, atau gagal,
       terlepas bagaimana pandangan orang lain terhadap dirinya.
   2. Kalaupun atlet tidak menganggap dirinya gagal, ia merasa tidak cukup
       bahagia memperoleh prestasi di bidang yang digelutinya saat ini.
   3. Ia menganggap dirinya sumber kegagalan.
   4. Kondisi yang kurang menyenangkan ini dialaminya dalam waktu relatif
       lama.

       Akan tetapi, atlet yang berpartisipasi didalam olahraga bukan berarti
mereka tidak pernah menganggap diri mereka gagal, sumber kegagalan, kurang
berhasil dan sebagainya. Sejumlah atlet masih mampu membangun pandangan
positif terhadap dirinta sekalipun ia mengalami ber bagai kegagalan. Ifan lendl
misalnya sekalipun pernah mendudukin peringkat 1 tenis putra dunia, tidak
pernah menjuarai turnamen wimble down yang demikian bergengsi. Banyak
orang berpendapat bahwa dewi fortuna tidak pernah perpihak pada Lendl di
wimble down, dan Lendl sendiri terpaksa menerima ini antara mempercayai dan
tidak mempercayai hal ini. Namun, selama kiprahnya di tenis profesional, ia tidak
pernah absen mengikuti turnamen Wimble down. Lendl tidak mengambil
keputusan drop out, melainkan konsisten mengikuti turnamen tersebut seolah –
olah tidak memiliki atribut negatif terhadap situasi yang di hadapi

   I. HUBUNGAN ATRIBUSI DENGAN PERASAAN YANG DIALAMI
       ATLET

       Mc Auley dan Duncan (1989) melakukan penelitian lebih lanjut
berdasarkan pandangangan Weiner (1985); mereka membandingkan hubungan
reaksi atlet dengan wilayah atribut dan memperoleh hasil sebagai berikut:

   1. Jika sukses diatribusikan ke wilayah internal, atlet merasa bangga.
   2. Jika sukses diatribusakan ke wilayah external, atlet merasa besyukur
   3. Jika gagal diatribusikan ke wilayah internal, atlet merasa bersalah
   4. Jika gagal diatribusuka ke wilayah external, atlet merasa marah
   J. PERUBHAN WILAYAH SEBAB – AKIBAT

       Anshel (1979) mengemukakan sekurang-kurangnya satu dari keempat
factor di bawah ini harus ada untuk mengubah atribusi :

   1. Kondisi lingkungan. Atlet harus berhadapan dengan situasi tertentu dalam
       jangka relative panjang. Situasi tersebut harus menunjukan adanya
       hubungan antara usaha dan kesuksesan atau keberhasilan.
   2. Frekuensi pengalaman. Frekuensi pengalaman positif atlet harus cukup
       tinggi, misalnya atlet sering memperoleh umpan balik positif.
   3. Arti tugas. Tugas yg dilakukan atlet harus memiliki arti penting bagi diri
       atlet yg bersangkutan.
   4. Sumber informasi. Sumber informasi pemberi umpan balik harus berasal
       dari sumber yg dapat dipertanggung-jawabkan.
   K. ATLET UNGGULAN

       Atlet unggulan memiliki kecenderungan untuk tidak merasakan bahwa
dirinya memiliki kekurangan. Ia merasa kemampuan yang di milikinya cukup, dan
di dalam berbagai penampilannya ada kecenderungan untuk berupaya
mempertahankan harga diri. Dengan adanya pembiasan atribusi ini atlet juga
dapat mempertahankan motivasinya untuk terus mempertahankan kegiatannya di
dalam olahraga yang digelutinya.
   L. KETAKBERDAYAAN YG DIPELAJARI (IEARNED
       HELPLESSNESS)

       Perasaan tidak berdaya bukanlah merupakan faktor bawaan tetapi
merupakan hasil belajar yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama melalui
pengalaman kegagalan yang berulang-ulang (Anshel, 1997). Secara umum,
individu yang merasa tidak berdaya, khususnya atlet, memiliki sejumlah
karakteristik sebagai berikut:
1. Mengundurkan diri dalam menghadapi situasi baru
2. Menempatkan atribut gagal pada rendahnya kemampuan
3. Mempersepsi diri mereka sebagai individu yang gagal terus-menerus
4. Tidak merasakan bahwa upaya yang lebih besar akan memberikan hasil yang
    lebih baik
5. Kalaupun      berhasil,   mereka   menganggapnya     karena    adanya    faktor
    keberuntungan atau karena derajat kesulitan tugas yang tergolong rendah
6. Tidak merasa nyaman untuk belajar mengahadapi situasi baru, karena tidak
    ingin menempuh resiko kegagalan
7. Merasa tidak mampu mengendalikan kinerja, dan kegagalan adalah diluar
    kendali mereka
8. Cenderung menempatkan atribut penyebab perilaku pada wilayah eksternal
    sehingga mereka tidak memiliki kendali atas hasil yang mereka peroleh
9. Cenderung mengangap usaha mengatasi kegagalan merupakan sesuatu yang
    sia-sia
Pandangan dweck dan reppucci (1973) ini sama halnya dengan pandangan anshel
(1979) bahwa keberadaan sekurang-kurangnya satu dari keempat factor dibawah
ini merupakan kondisi yg memungkinkan terjadinya proses belajar menjadi tidak
berdaya pada diri seseorang :

   1. Sejarah kegagalan lebih besar daripada keberhasilan
   2. Umpan balik nara sumber yg signifikan mengarah pada atribut ketidak
       mampuan (misalnya : “kamu melakukan hal tersebut karna suatu
       kebodohan”)
   3. Frekuensi umpan balik negative relative tinggi.
   4. Nara sumber yg memberikan umpan balik merupakan orang-orang yg
       dianggap dapat dipertanggung-jawabkan pengetahuan atau kedudukannya
       (misalnya : pelatih, pengurus utama, orang tua, guru, dan sebagainya).
   M. MENGATASI PERASAAN TIDAK BERDAYA

    Cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan melatih atlet untuk
menempatkan atribut pada tempat yang layak. Maksudnya adalah memberikan
pengertian pada atlet akan peran diri mereka sendiri sebagai pengendali perilaku
masing-masing. Mereka sendirilah yang menentukan kinerja mereka dan kinerja
mereka menentukan hasil yang mereka peroleh. Penempatan atribut penyebab
yang dilontarkan nara sumber yang disegani cenderung diterima dan
diinternalisasikan oleh atlet sebagai atribut kegagalanya kelak dikemudian hari,
dan atlet tidak akan berupaya lebih keras lagi melainkan sebaliknya, lebih merasa
tidak berdaya karena sudah menambah keping kegagalan lagi, sementara perasaan
gagal yang ada belum sempat diatasi,
   N. PERAN PELATIH MENGUBAH ATRIBUT

Pelatih adalah pemimpin pembinaan olahraga, wajarlah ia menjadi panutan atlet
yang dibimbingnya,wajar pula bila ia disegani dan dihargai atletnya,karenanya,
perilaku dan perkataan pelatih memberikan dampak yang besar bagi pembentukan
perkembangan pribadi atlet, pelatih yang kurang disiplin akan menghasilkan atlet-
atlet yang kurang disiplin, pelatih yang kurang tegas akan menghasilkan atlet yang
cenderung ragu ragu.

       Atribut yang dikemukakan pelatih sebagai alasan kemenangan dan
kekalahan atlet cenderung diterima(walaupun mungkin hanya sebagian) oleh
atletnya,cukup penting dalam kehidupan atlet merupakan masukan yang penting
bagi atlet untuk diolah oleh atlet,dalam proses berfikirnya,jika pelatik
mengeluarkan    komentar    yang    sikapnya   merendahkan     harga   diri   atlet
misalnya,”kamu melakukan sesuatu yang bodoh” (mengacau pada kemampuan)
atau “perilaku kamu menyabalkan” (mengacu pada karakter) atlet cenderung
merasa direndahkan dan bereaksi secara negatif. Jika hal seperti ini berlangsung
pada waktu yang cukup lama atau jika intensitas penyampaian pesan demikian
kuatnya mempengaruhi kemampuan atlet, sikap negatif dan perasaan rendah
daripada atlet akan membentuk.jika sikap dan perasaan ini terbentuk.atlet artinya
menginternalisasikan komentar pelatih keladam dirinya dan memberikan atribut
“bodoh dan menyebalkan” bagi dirinya. Hal ini selanjutnya akan memberikan
pengaruh pada perilaku atlet sesuai dengan pandangan filsafah pemenuhan diri
yang dijelaskan pada bagian tersendiri dalam buku ini.

       Dalam upaya mencegah terbentuknya proses belajar tidak berdaya sebagai
akibat dari kekeliruan menempatkan atribut penyebab kekalahan atau kemenangan
seorang atlet,Anshal (1997) mengajukan sembilan butir saran untuk dimanfaatkan
pelatih sebagai berikut:

   1. Mengetahui kapan menggunakan atribusi internal,kapan atribusi eksternal
       sebagai contoh menyalahkan wasit,cenderung tidak membawa perbaikan
       prestasi atlet,tetapi menekan kan pentingnya usaha supaya hasil menjadi
       lebih baik cenderung memberi dampak positif pada peningkatan upaya
       atlet untuk berprestasi,menilai atlet bodoh(aspek kemampuan pada
       wilayah internal) cenderung tidak memecu prestasi atlet,demikian
       menyalahkan para ofisial. Merumuskan sasaran secara lebih baik dapat
       lebih memacu motifasi atlet untuk berprestasi.
   2. Menyadari kapan saatnya menggunakan atribut derajat kesulitan.
       Mengatribusikan kegagalan karena tugas tergolong sulit adalah hal yang
       sering terjadi,hal ini bermanfaat sejauh ada upayamempertahankan rasa
       percaya diri,harga diri atau keyakinan diri atlet namun jika atlet memiliki
       harapan demikian tinggi ternyata gagal dan atribusi diarahkan pada derajat
       kesulitan tinggi, atlet dapat mengalami penurunan rasa percaya diri,ia
       dapat kehilangan percaya diri
   3. Berikan pelatihan keterampilan,atlet merasa lebih percaya diri jika ia
       merasa memiliki lebih banyak keterampilan jadi pelatih sebaiknya
       senantiasa berusaha untuk menambah keterampilan atlet.
   4. Membuat simulasi pertandingan yang membuka peluang sukses yang lebih
       besar sebagai contok misalnya atlet yang tengah dipersiapkan dihadapkan
       pada lawan yang tidak terlalu tangguh dan secara bertahap meningkat
       kualitasnya.
   5. Hindari sikap membanding bandingkan seperti mengatakan “mengapa
       begitu saja kamu tidak bisa” padahal teman kamu siitu bisa melakukanya
       dengan mudah?”sikap membanding-bandingkan seperti “ia atlet yang
       lebih baik daripada kamu” cenderung menumbuhkan perasaan kurang
       kompeten pada diri atlet,pada kenyataanya memang ada atlet yang lebih
       baik,bahkan ada atlet-atlet lain yang dapat dijadikan panutan,tetapi cara
       pelatih   menyampaikan      pesan    itulah   yang   harus    diperhatikan
   misalnya”gerakananya cepat sekali karena ia bertindak lebih agresif”atau
   ia memiliki ketahanan yang tinggikarena ia berlatih lari didaerah
   pegunungan dengan udara bertekanan rendah,penjelasan ini merupakan
   bentuk informasidisatu pihak tidak merendahkan kemampuan atlet
6. Berikan dukungan verbal dan non verbal hindari perasaan yang
   menimbulkan perasaan bersalah,berikanlah dukungan verbal atau baik
   yang mendukung
7. Bersikaplah positif dalam mengevaliasi faktor eksternal janganlah
   mengucapkan kata keberuntungan namun ucapkan mereka sedang main
   buruk hari ini.
8. Bersikaplah realistis atlet tidak ingin direndahkan martabatnya,juga harga
   diri dan kemampuanya tetapi mereka juga tidak ingin dibohongi oleh
   pernyataan palsu, dari pelatih yang sifatnya hanya menghibur tetapi bukan
   suatu kenyataan yang sesungguhnya.berikanlah solusi dengan kesalahan
   yang dilakukan atlet dan berikanlah solusi kepada atlet tersebut
9. Hindari atribusi kurangnya jika atletnya gagal dalam jenis olahraga yang
   menggunakan parameter fisiologi misal dalam renang atau lari,atlet yang
   tidak dapat mengimbangi kecepatan lawanya biasanya memang lawanya
   yang lebih unggul bukan karena usaha atlet yang bersangkutan
   kurang,jenis usaha berparameter fisiologis misalnya kekuatan otot,
   kecepatan,refleks dan ketahanan jantung, didasari oleh komposisi program
   latihan serta gizi yang akurat.
                                     BAB III

                                    PENUTUP



   A. KESIMPULAN

       Salah satu aspek pribadi atlet yang banyak berperan dalam menunjang
prestasi olahraga adalah atribusi,yang merupakan dampak persepsi seseorang
terhadap suatu obyek atau situasi tertentu yang memberikan pengaruh pada
perilaku individu tersebut terhadap situasi yang dihadapi. Ini merupakan
kewaspadaan bagi seorang pelatih dalam memberikan atribut tertentu pada diri
atletnya, karena atribut tersebut akan mempengaruhi perilaku yang ditampilkan
seseorang.

   B. SARAN

       Semoga dengan adanya makalah ini bisa menjadikan tuntunan dalam
mempelajari dan mengetahui tentang psikologi olahraga, kami sebagai penulis
juga tidak lepas dari kesalahan maka kritik dan saran yang membangun dari
pembaca

				
DOCUMENT INFO
Description: Atriusi dalam psikologi olahraga