LAPORAN RESMI BIOKIMIA UJI KARAGENAN by AufaAnam1

VIEWS: 1,181 PAGES: 25

									                                     BAB I
                               PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
          Indonesia merupakan negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya adalah
lautan. Didalam lautan terdapat bermacam-macam mahluk hidup baik berupa
tumbuhan air maupun hewan air. Salah satu mahluk hidup yang tumbuh dan
berkembang di laut adalah alga atau lebih dikenal lagi sebagai rumput laut.
          Rumput Laut atau algae yang juga dikenal dengan nama seaweed
merupakan bagian terbesar dari tanaman laut. Rumput laut biasanya dapat ditemui
di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang.
Rumput laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang
mati.Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis rumput laut juga banyak
dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia.
          Sejak jaman dahulu rumput laut sudah dikenal memiliki banyak manfaat.
Hingga saat ini pun banyak industri yang memanfaatkan ekstrak rumput laut
sebagi campuran dalam pengolahan berbagai macam produk. Misalnya dalam
produk kecantikan, sampo, pupuk, hingga dalam industri pengolahan bahan
pangan.
          Rumput laut memiliki beraneka ragam jenis antara lain, ganggang merah
(Rhodophyceae), ganggang hijau (Chlorophyceae), ganggang hijau biru
(Cyanophyceae), dan ganggang coklat (Phaeophyceae). Namun dari berbagai jenis
tersebut yang paling banyak dimanfaatkan ialah jenis rumput laut dari golongan
ganggang merah (Rhodophyceae) dang ganggang coklat (Phaeophyceae).
          Banyaknya kandungan zat yang dapat dimanfaatkan dalam rumput laut
menjadikannya sebagai salah satu sumber daya laut yang banyak diteliti. Selain
untuk dapat mengetahui kandungan apa saja yang terdapat di dalamnya juga untuk
mengetahui bagaimana cara pengolahan yang paling tepat, untuk dapat
memaksimalkan manfaat dari zat-zat yang terkandung dalam rumput laut tersebut.
          Contoh kandungan zat yang terdapat pada rumput laut ialah agar-agar,
karaginan, dan alginate. Dalam percobaan ini, sample yang digunakan adalah
spesies rumput laut Kappaphycus alvarezii. Yang tergolong dalam jenis alga
coklat (Phaeophyceae). Percobaan        dilakukan untuk memperoleh kandungan
karagenan dalam rumput laut tersebut.


1.2.   Tujuan
        Mengisolasi karagenan dari rumput laut Kappaphycus alvarezii.
                                    BAB II
                            TINJAUAN PUSTAKA




1.1 Rumput Laut
         Rumput laut adalah salah satu sumber daya hayati (salah satu sumber
daya dapat pulih “renewable resources” yang terdiri atas flora dan fauna) yang
terdapat di wilayah pesisir dan laut. Dalam bahasa Inggris, rumput laut diartikan
sebagai “Seaweed”. Sumberdaya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang
berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Rumput laut alam
biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Beberapa daerah
pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera, rumput laut banyak
ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan
ombak.
         Rumput laut merupakan tumbuhan laut jenis alga. Tanaman ini adalah
gangang multiseluler golongan divisi thallophyta. Berbeda dengan tanaman
sempurna pada umumnya, rumput laut tidak memiliki akar, batang dan daun. Jenis
rumput laut sangat beragam, mulai dari yang berbentuk bulat, pipih, tabung atau
seperti ranting dahan bercabang-cabang. Seperti layaknya tanaman darat pada
umumnya, rumput laut juga memiliki klorofil atau pigmen warna yang lain.
Secara umum, rumput laut yang dapat dimakan adalah jenis ganggang biru
(cyanophyceae), ganggang hijau (chlorophyceae), ganggang merah (rodophyceae)
atau ganggang coklat (phaeophyceae).
         Rumput laut merupakan salah satu komoditas strategis dalam bidang
kelautan di samping udang dan tuna. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan
Perikanan, Indonesia memiliki luas area untuk kegiatan budidaya rumput laut
mencapai 1.110.900 ha, tetapi pengembangan budidaya rumput laut baru
memanfaatkan lahan seluas 222.180 ha atau 20% dari luas areal potensial. Jenis
rumput laut yang dikembangkan di Indonesia antara lain seperti Kappaphycus
alvarezii (cottonii), Eucheuma denticulatum (spinosum) dan Gracilaria sp.
         Banyaknya kandungan zat yang dapat dimanfaatkan dalam rumput laut
menjadikannya sebagai salah satu sumber daya laut yang banyak diteliti. Selain
untuk dapat mengetahui kandungan apa saja yang terdapat di dalamnya juga untuk
mengetahui bagaimana cara pengolahan yang paling tepat, untuk dapat
memaksimalkan manfaat dari zat-zat yang terkandung dalam rumput laut tersebut.
          Contoh kandungan zat yang terdapat pada rumput laut ialah agar-agar,
karaginan, dan alginate. Dan salah satu rumput laut yang terkenal yaitu Eucheuma
spinosum.


  1.1.1        Morfologi
          Dari segi morfologi rumput laut tidak memperlihatkan adanya perbedaan
antara akar, batang, dan daun. Bentuk tersebut adalah thalus belaka. Bentuk thalus
rumput laut bermacam-macam, antara lain bulat, pipih, gepeng dan bulat seperti
kantong , rambut dan sebagainya . Berdasarkan jumlah sel yang menyusunnya
alga ini ada yang tersusun uniseluler (satu sel) atau multiseluler (banyak sel).
Pada makro alga, jenis percabangan antara lain adalah pectinate (berderet searah
pada thalus utama), pinnate (bercabang dua-dua sepanjang thalus utama secara
berselang selang), ferticilate (cabangnya berpusat melingkari aksis atau sumbu
utama) dan ada juga yang sederhana, tidak bercabang. Sifat substansi thalus juga
beraneka ragam ada yang lunak seperti gelatin (gelatinous), keras mengandung
atau diliputi zat kapur (calcerous), dan sebagainya. Untuk marga eucheuma
thalusnya adalah bulat silinder atau gepeng, bercabang berselang tidak teratur atau
tikotomous .
          Bentuk dari tanaman ini tidak mempunyai perbedaan susunan kerangka
antara akar, batang, dan daun. Keseluruhan tanaman ini merupakan batang yang
dikenal sebagai talus (thallus). Thallus ada yang berbentuk bulat, silindris atau
gepeng bercabang-cabang. Rumpun terbentuk oleh berbagai sistem percabangan
ada yang tampak sederhana berupa filamen dan ada pula yang berupa percabangan
kompleks. Jumlah setiap percabangan ada yang runcing dan ada yang tumpul.
Permukaan kulit luar agak kasar, karena mempunyai gerigi dan bintik-bintik
kasar. Eucheuma spinosum memiliki permukaan licin, berwarna coklat tua, hijau
coklat, hijau kuning, atau merah ungu. Tingginya dapat mencapai 30 cm.
Eucheuma spinosum tumbuh melekat ke substrat dengan alat perekat berupa
cakram. Cabang-cabang pertama dan kedua tumbuh membentuk rumpun yang
rimbun dengn ciri khusus mengarah ke arah datangnya sinar matahari. Cabang-
cabang tersebut ada yang memanjang atau melengkung seperti tanduk.
(www.task-list.blogspot.com)


  1.1.2         Klasifikasi
          Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan untuk menentukan divisi dan
mencirikan kemungkinan filoginetik antara kelas secara khas digunakan
komposisi plastida, pigmen, struktur karbohidrat dan komposisi dinding sel.
Berdasarkan cara di atas maka Eucheuma spinosum termasuk ke dalam :
      Kingdom          : Plantae
      Devisi           : Rhodophyta
      Kelas            : Rhodophyceae
      Sub kelas        : Florideae
      Ordo             : Gigartinales
      Famili           : Solieriaceae
      Genus            : Eucheuma
      Spesies          : Eucheuma spinosum (Atmaja dkk., 1996).


  1.1.3         Komposisi Kimia
          Komposisi kimia rumput laut bervariasi antar individu, spesies, habitat,
kematangan dan kondisi lingkungannya. Kandungan rumput laut segar adalah air
yang mencapai 80-90 %, sedangkan kadar protein dan         lemaknya        sangat
kecil. Walaupun kadar lemak rumput laut sangat rendah, tetapi susunan asam
lemaknya sangat penting bagi kesehatan. Lemak rumput       laut       mengandung
asam lemak omega-3 dan omega-6 dalam jumlah yang cukup tinggi. Kedua asam
lemak ini merupakan asam lemak yang penting bagi tubuh, terutama sebagai
pembentuk membran jaringan otak, syaraf, retina mata, plasma darah dan organ
reproduksi. Dalam 100 gram rumput laut kering mengandung asam lemak omega-
3 berkisar 128-1.629 mg dan asam lemak omega-6 berkisar 188-1.704 mg
(Winarno 1990).
      Kandungan kimia dari rumput laut Eucheuma spinosum adalah Iota
keraginan (65%), protein, karbohidrat, lemak, serat kasar, air dan abu. Iota
keraginan merupakan polisakarida tersulfatkan dimana kandungan ester sulfatnya
adalah 28-35%. Komposisi kimia yang dimiliki rumput laut Eucheuma spinosum
dapat dilihat pada




   Komposisi kimia rumput laut jenis Eucheuma spinosum
                   Komponen Kimia              Komposisi
           Kadar air                           21,90 (%)
           Protein                              5,12 (%)
           Lemak                                0,13 (%)
           Karbohidrat                         13,38 (%)
           Serat kasar                          1,39 (%)
           Abu                                 14,21 (%)
           Mineral :                           52,85 ppm
           Ca                                  0,180 ppm
           Fe                                  0,768 ppm
           Cu                                      -
           Pb                                0,21 mg/100g
           Vit B1 (Thiamin)                  2,26 mg/100g
           Vit B2 (Ribolavin)                  43 mg/100g
           Vit C                                65,75 %
           Keragenan                             65 %

  1.1.4          Siklus Hidup dan Reproduksi
          Rhodopyceae dapat melakukan reproduksi secara vegetative, yaitu
dengan fragmentasi talusnya. Akan tetapi cara demikian ini hanya terdapat pada
beberapa jenis tertentu saja. Rhodopyceae membentuk satu atau beberapa macam
spora yang tidak berflagel yaitu karpospora, spora netral, monospora, bispora,
tetraspora, atau polispora.(Taylor,1960).
          Karpospora adalah spora yang terbentuk secara seksual, spora ini
terbentuk secara langsung atau tidak langsung dari zigot. Spora-spora lainnya
adalah spora aseksual. Spora netral adalah spora yang terbentuk langsung dari sel
vegetative yang mengalami metamorfosa. Monospora adalah spora yang terbentuk
dalam sporangium yang hanya menghasilkan satu spora saja.(Taylor, 1960).


1.2 Karagenan
          Karagenan adalah senyawa yang diekstraksi dari rumput laut dari Famili
Rhodophyceae seperti Euchema spinosum dan Euchema cottonii yang terdiri dari
rantai poliglikan bersulfat dengan massa molekuler (Mr) kurang lebih di atas
100.000 serta bersifat hidrokoloid. Karagenan tidak mempunyai nilai nutrisi dan
digunakan pada makanan sebagai bahan pengental, pembuatan gel, dan
emulsifikasi. Tiga tipe utama karagenan yang digunakan dalam industri makanan
adalah ι-karagenan, κ-karagenan(E. cottonii), dan λ-karagenan (E. spinosum).
Karagenan diperoleh melalui ekstraksi dari rumput laut yang dilarutkan dalam air
atau larutan basa kemudian diendapkan menggunakan alkohol atau KCl. Alkohol
yang digunakan terbatas pada metanol, etanol, dan isopropanol. Karagenan dapat
digunakan pada makanan hingga konsentrasi 1500mg/kg. (www.wikipedia.org)


  1.2.1        Struktur Kimia Karageenan
          Menurut Imeson (2000), karagenan merupakan polisakarida berantai
linear dengan berat molekul yang tinggi. Rantai polisakarida tersebut terdiri dari
ikatan berulang antara gugus galaktosa dengan 3,6-anhidrogalaktosa (3,6 AG),
keduanya baik yang berikatan dengan sulfat maupun tidak, dihubungkan dengan
ikatan glikosidik α-(1,3) dan β-(1,4). Gugus molekul yang diberi lingkaran merah
merupakan gugus 3,6-anhidrogalaktosa sedangkan gugus molekul yang tidak
diberi lingkaran merah adalah gugus galaktosa (Bubnis, 2000)
          Kappa karagenan tersusun atas α-(1,3) D-galaktosa-4-sulfat dan β-(1,4)
3,6-anhidrogalaktosa. Kappa karagenan mengandung 25% ester sulfat dan 34%
3,6-anhidrogalaktosa. Jumlah 3,6-anhidrogalaktosa yang terkandung dalam kappa
karagenan adalah yang terbesar diantara dua jenis karagenan lainnya. Iota
karagenan tersusun atas α-(1,3) D-galaktosa-4-sulfat dan β-(1,4) 3,6-
anhidrogalaktosa-2-sulfat. Iota karagenan mengandung 32% ester sulfat dan 30%
3,6-anhidrogalaktosa. Lambda karagenan tersusun atas α-(1,3) D-galaktosa-2-
sulfat dan β-(1,4) D-galaktosa-2,6-disulfat. Lambda karagenan mengandung 35%
ester sulfat dan hanya mengandung sedikit atau tidak mengandung 3,6-
anhidrogalaktosa (Imeson, 2000). Selain ketiga jenis tipe karagenan tersebut,
terdapat pula dua jenis tipe karagenan lain yaitu, mu (μ) dan nu (ν) karagenan.
Komponen penyusun karagenan disajikan secara lengkap pada Tabel 1.


                   Tabel 1. Komponen Penyusun Karageenan
           Jenis karagenan                        Komponen penyusun
                                                  D-galaktosa-4-sulfat,
            Iota karagenan
                                              3,6-anhidrogalaktosa-2-sulfat
                                                  D-galaktosa-4-sulfat,
           Kappa karagenan
                                                  3,6-anhidrogalaktosa
                                                  D-galaktosa-2-sulfat,
          Lambda karagenan
                                                 D-galaktosa-2,6-disulfat
                                                  D-galaktosa-4-sulfat,
            Mu karagenan
                                                  D-galaktosa-6-sulfat,
                                                 D-galaktosa-4-sulfat,
            Nu karagenan
                                                D-galaktosa-2,6-disulfat,
Sumber : Glicksman (1979)
         Mu karagenan merupakan prekursor dari kappa karagenan sedangkan nu
karagenan adalah prekursor dari iota karagenan. Kedua jenis karagenan ini tidak
memiliki gugus 3,6- anhidrogalaktosa tetapi memiliki gugus sulfat yang berikatan
dengan C6 dari gugus galaktosa seperti terlihat pada Gambar 1.


              Gugus sulfat pada C6




                Gambar 1. Struktur kimia mu karagenan (Bubnis, 2000)


        Menurut Bubnis (2000), gugus sulfat yang berikatan dengan C6 dapat
menghambat terjadinya proses pembentukan gel. Hal ini disebabkan gugus sulfat
tersebut membuat rantai panjang polisakarida menjadi kaku (kink) sehingga tidak
bisa membentuk heliks. Adanya enzim ”dekinkase” yang terdapat pada rumput
laut dapat memecah ikatan gugus sulfat tersebut dan menghasilkan 3,6-
anhidrogalaktosa seperti disajikan pada Gambar 3. Penambahan alkali pada proses
ekstraksi rumput laut juga membantu proses pemutusan ikatan pada gugus sulfat.
Hal ini menyebabkan berubahnya struktur mu karagenan menjadi kappa
karagenan. Proses yang sama juga terjadi pada struktur nu karagenan yang
berubah menjadi iota karagenan.




         Gambar 3. Proses perubahan struktur mu karagenan menjadi kappa
                                karagenan (Bubnis, 2000)


          Hal   inilah   yang     menjadi   prinsip   pemisahan   fraksi   karagenan
menggunakan teknik presipitasi. Menurut Anonim (2008c), presipitasi merupakan
teknik pemisahan dengan menambahkan senyawa kimia. Pada proses pengolahan
karagenan, presipitasi digunakan untuk memisahkan fraksi – fraksi karagenan
yang terdapat pada ekstrak rumput laut. Senyawa kimia yang digunakan adalah
senyawa alkali seperti KCl. Fraksi yang peka terhadap ion kalium disebut kappa
karagenan sedangkan fraksi yang tidak peka terhadap ion kalium disebut lambda
karagenan (Belitz dan Grosch, 1999). Perbedaan fraksi hasil pemisahan karagenan
tersebut didasarkan pada jumlah 3,6-anhidrogalaktosa dan posisi dari gugus ester
sulfat   (Glicksman,     1983).    Kappa    karagenan   mengandung     jumlah   3,6-
anhidrogalaktosa yang lebih banyak dibandingkan lambda karagenan. Namun
lambda karagenan mengandung lebih banyak gugus sulfat dibandingkan kappa
karagenan.


  1.2.2        Biosintesa Karagenan
          Karagenan adalah molekul besar galaktan yang terdiri dari 100 lebih
sebagai unit-unit utamanya. Residu-residu galaktosa tersebut berikatan dengan
ikatan α (1,3) dan ikatan β (1,4) secara tukar-tukar . Menurut Guiseley et.
alkaragenan adalah polisakarida dengan rantai lurus (linier) yang terdiri dari D-
glukosa 3.6 anhidrogalaktosa dan ester sulfat.
          Berdasarkan kandungan sulfatnya, karagenan dibedakan menjadi 2 fraksi
kappa karagenan dengan kandungan sulfat kurang dari 28% dan iota karagenan
dengan kandungan sulfat lebih dari 30%. Sedangkan menurut           Peterson and
Johnson dalam Anggraini, 2004), berdasarkan struktur           pendulangan unit
polisakarida, karagenan dapat dibagi menjadi tiga fraksi utama (k-(kappa), λ-
(Lambda), dan ί-(iota) karagenan. Secara prinsip fraksi- fraksi karagenan ini
berbeda dalam nomor dan posisi grup ester .
          Ada beberapa varietas rumput laut penghasil karaginan (karaginofit)
yang potensial untukdikembangkan di Indonesia antara lain Eucheuma spinosum
dan Kappaphycus alvarezii (Anonim2002). Karagenan merupakan senyawa
hidrokoloid yang terdiri dari ester kalium, natrium, magnesium,dan kalsium
sulfat, dengan galaktosa dan 3,6 anhidrogalaktopolimer (Winarno 1996).
Karaginan dapat dipisahkan menjadi dua komponen utama dengan menggunakan
ion Natrium yaitu fraksi tidak larut yang disebut kappa karaginan dan fraksi larut
yaitu lambda karaginan serta fraksi intermediat yaitu iota karaginan (Soegiarto et
al. 1978). Fraksi tidak larut disusun oleh kappa karaginan yang mempunyai sifat
menjedal, yang dapat dipisahkan dengan terjadinya presipitasi dengan logam
alkali tanah. Doty(1987) diacu dalam Anonim 2006, membedakan karaginan
berdasarkan kandungan sulfatnya menjadidua fraksi yaitu kappa karaginan yang
mengandung sulfat kurang dari 28 % dan iota karaginan jikalebih dari 30 %
          Bahan mentah yang terpenting untuk produksi Karagenan adalah
carrageenate dan derivatnya (turunan) seperti Chondrus crispus dan berbagai
macam species Gigartina, khususnya Gigartina stellata dan juga Eucheuma serta
species Hypnea. Selain itu sumber bahan mentah lainnya adalah Chondrococcus
hornemannii, Halymenia venusta, Laurencia papillosa, Sarconema filiforme dan
Endocladia, Gelidium tertentu, Gymnogongrus, Rhodoglossum, Rissoella,
Yatabella species dan Rumput laut Merah lainnya.
        Ekstraksi karagenan dilakukan dengan menggunakan air panas atau
larutan alkali panas. Penggunaan alkali mempunyai dua fungsii, yaitu membantu
ekstraksi polisakarida menjadi lebih sempurna dan mempercepat eliminasi 6-
sulfat dari unit monomer menjadi 3,6-anhidro-D-galaktosa sehingga dapat
meningkatkan kekuatan gel dan reaktifitas produk terhadap protein. Menurut Istini
et. al. Dalam Iza (2001) suasana alkalis dapat diperoleh dengan menambahkan
larutan basa misalnya NaOH, atau KOH sehingga pH larutan mencapai9,0 – 9,6.
Jumlah air yang digunakan dalam ekstraksi sebanyak 30 sampai 40 kali dari berat
rumput laut kering .


1.3 Manfaat Karagenan
        Akhir-akhir ini banyak industri memproduksi berbagai bahan yang bahan
mentahnya berasal dari rumput laut. Produk industri terpenting dari rumput laut
adalah phycocolloid dari Rumput Laut Merah dan Rumput Laut Coklat.
Phycocolloid dari kedua kelompok rumput laut tersebut sangat dibutuhkan
industri sebagai larutan emulsi, gelling, stabilisator, suspensi dan bahan
pembeku/perekat.
        Istilah “Phycocolloid” telah didefinisikan pertama kali oleh Tseng
sebagai polisakarida yang kompleks dari Rumput laut Merah dan Rumput laut
Coklat, yang membentuk sistem colloidal ketika dilarutkan dalam air. Bentuk
water-soluble-polysaccharida merupakan bagian utama dari polisakarida pada
Rumput laut. Kemudian istilah Polisakarida berkembang menjadi lebih spesifik
dalam berbagai bidang ilmu. Percival dan Mc-Dowell mendeskripsikan lebih
detail polisakarida dari Rumput laut secara kimiawi dan enzimologi.
        Polisakarida yang utama dan penting dari golongan Rumput laut Merah
adalah Agar dan Karagenan. Kedua polisakarida ini banyak dimanfaatkan di
berbagai bidang industri. Oleh karena itu mereka mempunyai nilai secara
ekonomis cukup tinggi. Dan permintaan dunia akan kedua polisakarida tersebut
dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. (www.mybioma.wordpress.com)


  1.3.1        Industri Makanan
          Bahan mentah yang terpenting untuk produksi Karagenan adalah
carrageenate dan derivatnya (turunan) seperti Chondrus crispus dan berbagai
macam species Gigartina, khususnya Gigartina stellata dan juga Eucheuma serta
species Hypnea. Selain itu sumber bahan mentah lainnya adalah Chondrococcus
hornemannii, Halymenia venusta, Laurencia papillosa, Sarconema filiforme dan
Endocladia, Gelidium tertentu, Gymnogongrus, Rhodoglossum, Rissoella,
Yatabella species dan Rumput laut Merah lainnya.
          Dalam bidang industri makanan dan minuman, misalnya dalam industri
es krim, susu, bir dan makanan kaleng. Dimanfaatkan untuk pengawet daging
untuk industri makanan dan sebagai penstabil minuman coklat dan krim. Di
bidang industri kue dan roti, kombinasi garam natrium dengan lambda-Karaginan
dapat meningkatkan mutu adonan. Pada jumlah kecil karaginan juga dapat
digunakan pada produk makanan lain, misalnya makaroni, jelly, dan sari buah.


  1.3.2        Industri Farmasi
       Dalam bidang farmasi sebagai anti bakteri, anti tumor, anti kanker atau
sebagai reversal agent. Berfungsi dalam bentuk asam alginate atau garam sodium
alginate dan kalsium alginat. Pada bidang farmasi, karaginan banyak digunakan
sebagai stabilisator, emulsi, suspensi, pembentuk gel dan pengikat tablet.


1.4 Standar Mutu Karagenan
          Standar Industri Indonesia (SII) untuk karaginan belum dirumuskan.
Standar mutu yang ditetapkan FCC (Food Chemical Codex), FDA, dan FAO
(Food and Agricultural Organization) meliputi spesifikasi kadar logam berat Pb,
sulfat, air, abu, abu tak larut asam, bahan tak larut asam, dan viskositas larutan.
Standar mutu karaginan untuk ketiga versi diatas dicantumkan dalam tabel berikut
 Spesifikasi ( % )    FCC       FDA       FAO
    Kadar Air        Max 12       -      Max 12
  Kadar Sulfat       18 - 40   20 – 40   15 – 40
       Abu           Max 35       -      15 – 40
Abu tak larut asam   Max 1        -      Max 1
Bahan Tak Larut
                        -         -      Max 2
      Asam
 Lead (pb) ppm       Max 4        -      Max 10
    Viskositas       Max 5        -      Min 5
                                   BAB III
                          MATERI DAN METODE


3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

         Hari, Tanggal    : Senin, 6 Juni 2011
         Pukul            : 08.00 – 13.00 WIB
         Tempat           : Laboratorium Terpadu Ilmu Kelautan
                           Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
                           Universitas Diponegoro


3.2 Alat dan Bahan
      3.2.1 Alat
 No          Nama Alat            Gambar alat                    Fungsi


                                                         Untuk mengukur
  1          Gelas ukur
                                                          volume pelarut




                                                         Untuk memotong
  2            Gunting
                                                           rumput laut



                                                        Untuk memanaskan
  3            Kompor
                                                           rumput laut



                                                        Untuk Menyimpan
  4          Penampan                                    rumput laut yang
                                                            telah jadi



                                                         Untuk menyaring
  5           Saringan
                                                            karagenan
                               Untuk Menghitung
6          Stopwatch
                                    waktu




                                Untuk mengukur
7         Termometer            suhu pada saat di
                                   panaskan




                               Untuk menimbang
8         Timbangan              rumput laut dan
                              peralatan praktek lain




                               Untuk Menyimpan
9           Toples                  pelarut




10         Kertas pH           Untuk mengukur pH




    3.2.2 Bahan


         Euchema spinossum   Kaporit
                  KOH        Aquades
3.1 Cara Kerja
   1. Kappaphycuss alvarezii ditimbang seberat 20 gram
   2. 20 gram Euchema spinossum dicuci dengan air tawar selama 2 x 10 menit
   3. Euchema spinossum dipotong dengan ukuran 2-3 cm
   4. Potongan Euchema spinossum direndam dalam KOH 6 % (dibuat dari 12
      gram KOH yang dilarutakan dalam 200 ml air) kemudian dipanaskan
      dalam suhu 500 C selama 15 menit lalu disaring
   5. Hasil saringan Euchema spinossum dicuci dengan air tawar selama 3 x 10
      menit atau sampai pH menjadi 9
   6. Kemudian direndam lagi dengan kaporit 1000 ppm selama 10 menit
   7. Hasil rendaman Euchema spinossum dicuci atau direndam dengan air
      tawar sampai bau kaporit menghilang
   8. Kemudian dikeringkan dengan panas matahari sampai benar-benar kering
   9. Setelah kering, Euchema spinossum ditimbang dan dihitung kadar
      karagenan


3.3 Cara Kerja


                         Euchema spinossum


                                        - Timbang seberat 20 gr
                                        - Rendam dalam air tawar selama 10
                                            menit
                                        - Potong menjadi ukuran 2 -3 cm
                                        - Rendam dengan KOH 6% pada suhu
                                            50°C selama 15 menit
                                        - Saring dan Cuci
                                        - Rendam dalam air tawar hingga pH 9
                                        - Rendam dalam kaporit 1000 ppm
                                            selama 10 menit
                                        - Keringkan selama 1 hari

                                        - Timbang dan hitung kadar karagenan
Hasil
                                BAB IV
                        HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
    Kelompok 1
    Jenis rumput laut yang diteliti adalah Euchema spinossum
        Nama kelompok                           Berat Karagenan (gr)
               A                                        5,10
               B                                        4,30
               C                                        6,65


    Kelompok 2
    Jenis rumput laut yang diteliti adalah Kappaphycus alvarezii

        Nama kelompok                           Berat Karagenan (gr)
               A                                        1,80
               B                                        2,32
               C                                        2,50


    Perhitungan Kadar Karagenan :
    Kadar Karagenan Kelompok 1 A = (Berat Akhir : Berat awal) x 100 %
                                       = (5,10 : 20 ) x 100 %
                                       = 25,5 %
    Kadar Karagenan Kelompok 1 B       = (Berat Akhir : Berat awal) x 100 %
                                       = (4,30 : 20 ) x 100 %
                                       = 21,5 %
    Kadar Karagenan Kelompok 1 C       = (Berat Akhir : Berat awal) x 100 %
                                       = (6,65: 20 ) x 100 %
                                       = 33,25 %
    Kadar Karagenan Kelompok 2 A = (Berat Akhir : Berat awal) x 100 %
                                       = (1,80 : 20 ) x 100 %
                                       =9%
      Kadar Karagenan Kelompok 2 B    = (Berat Akhir : Berat awal) x 100 %
                                      = (2,32 : 20 ) x 100 %
                                      = 11,6 %


      Kadar Karagenan Kelompok 2 C    = (Berat Akhir : Berat awal) x 100 %
                                      = (2,50 : 20 ) x 100 %
                                      = 12,5 %




4.2     Pembahasan
         Dalam percobaan karagenan ini praktikan merupakan anggota kelompok
1 C dan meneliti sampel Euchema spinossum, dengan :
A. Mengisolasi karagenan dari rumput laut Euchema spinossum
        1. Penimbangan sampel
           Penimbangan ini dilakukan untuk mengetahui berapa banyak sampel
           yang kita butuhkan, dan dari banyak sampel yang digunakan ini juga
           kita dapat memprediksi kira-kira berapa banyak larutan basa yang
           diperlukan, dan berapa persen karagenan yang akan dihasilkan.
        2. Pencucian sampel dengan air tawar
           Pencucian sampel menggunakan air tawar dimaksudkan agar sampel
           terpisah dari kemungkinan pasir yang masih menempel pada sampel.
           Selain itu, pencucian menggunakan air tawar ini juga untuk
           menghilangkan rasa asin pada sampel sehingga sampel menjadi berasa
           tawar.
        3. Pemotongan sampel menjadi kecil-kecil
           Pemotongan rumput laut Euchema spinossum menjadi ukuran 2-3 cm
           ini bertujuan agar rumput laut itu lebih mudah untuk perendaman dan
           ukuran yang dihasilkan nantinya sama dan juga memudahkan proses
           pengolahannya.
        4. Perendaman pada KOH
   KOH merupakan salah satu basa kuat dan barsifat alkali. maka dengan
   penambahan larutan alkali pada sampel ini ada dua fungsi yaitu
   membantu ekstraksi polisakarida menjadi lebih sempurna dan
   mempercepat eliminasi 6 sulfat dari unit monomer menjadi 3,6-
   anhidro-D-galaktosa sehingga dapat meningkatkan kekuatan gel dan
   reaktifitas produk terhadap protein (Guiseley dalam Anggraini, 2004).
   Menurut Istini et. al. Dalam Iza (2001) suasana alkalis dapat diperoleh
   dengan menambahkan larutan basa misalnya NaOH, atau KOH
   sehingga pH larutan mencapai 9,0 – 9,6. Dan pada praktikum ini
   menggunakan larutan KOH sebagai pembuat suasana alkalisnya.
5. Pencucian sampel dengan air
   Pencucian ini dimaksudkan untuk membersihkan jika dimungkinkan
   masih ada sulfat yang menempel dan menetralkan sampel pada PH 9
   dan juga supaya sisa KOH yang masih menempel bisa ternetralisir.
6. Penambahan kaporit 1000 ppm
   Penambahan kaporit ini adalah tahapan akhir dari ekstraksi karagenan.
   Dimana penambahan kaporit ini dimaksudkan untuk memisahkan
   karagenan    dari   ekstraknya,   dengan   mengendapkan     ekstraknya
   sehingga terpisah dari karagenan dan akhirnya kita mendapatkan
   karagenan dengan warna putih.
7. Pencucian karagenan dengan air
   Pencucian ini dimaksudkan untuk membersihkan karagenan dari
   kaporit yang menimbulkan bau yang khas. Dari hasil pencucian ini
   didapatkan karagenan berwarna putih dan memiliki aroma/bau khas
   karagenan.
8. Proses pengeringan karagenan
   Proses   pengeringan    karagenan    ada   dua   cara,   yaitu   dengan
   mengeringkannya dibawah sinar matahari langsung atau menggunakan
   oven. Pada praktikum kali ini, karena cuaca disemarang bagus maka
   kami melakukan pengeringan dengan menjemurkaragenan dibaeah
   sinar matahari selama 12 jam dan didapatkan karagenan kering
   berwarna putih.
       9. Penimbangan karagenan
           Penimbngan ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa berat
           karagenan yang dihasilkan, berapa presentase karagenannya dan bisa
           mengetahui berat yang hilangnya. Dari praktikum kali ini dengan
           didapatkan berat karagenan sebanyak 6,65 gram dengan kadar
           karaginan 33,25 %.
       10. Pengemasan karagenan
           Pengemasan ini dilakukan ketika sampel sudah kering dan dilakukan
           penimbangan maka karagenen yang dihasilkan itu harus disimpan
           dalam tempat/plastik yang kedap udara supaya karagenan tersebut
           terhindar dari zat lain dan terjaga kelembapannya.


B.     Perbandingan tiap percobaan
        Dari beberapa praktikum yang dilakukan, baik itu menggunakan sampel
yang sama (Kappaphycus alvarezii) atau menggunakan sampel berbeda (Euchema
spinossum) mendapatkan hasil yang berbeda-beda. Untuk praktikum dengan
sampel sama (sama-sama Kappaphycus alvarezii) didapatkan hasil yang berbeda
itu dan beberapa kemungkinan yang menyebabkan hal itu terjadi, diantaranya:
perbedaan pada proses penimbangan awal pengambilan sampel, ketidaktelitian
ketika pencucian sampel menggunakan air. Karena ketika pencucian itu
menggunakan wadah dan langsung disaring menggunakan penyaring dan
dikembalikan lagi ke wadah, sehingga dari proses itu dimungkinkan untuk banyak
sampel yang terbuang terbawa air tanpa disadari dan diketahui oleh praktikan itu
sendiri. Begitupun untuk praktikum dengan sampel yang berbeda (menggunakan
sampel Euchema spinossum) kemungkinan seperti itu bisa terjadi.
        Hasil dari praktikum itu bisa berbeda juga ada kemungkinan karena
kandungan garam dan sulfat dari tiap sampel itu berbeda, sehingga ketika garam
dan sulfat itu terpisah secara otomatis kadar karagenannya pun akan berbeda.
        Selain itu, hasil dari Euchema spinossum dan Kappaphycus alvarezii
berbeda karena kadar sulfat yang dikandung oleh kedua jenis karagenan tersebut
juga berbeda. Untuk Euchema spinossum yang mengandung             iota karagenan
mengandung kadar sulfat lebih dari 30%. Sedangkan untuk Kappaphycus
alvarezii yang mengandung kappa karagenan mengandung kadar sulfat kurang
dari 28% (doty,1987). Dari hal itu untuk kedua jenis ini kenapa hasil
karagenanannya berbeda, karena ketika ekstraksi pemisahan sulfat dan sulfat yang
terkandung terpisah maka sisa sampel dari sampel itu akan berbeda pula dan hasil
karagenan yang dihasilkannya pun akan berbeda.
                                BAB V
                         KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
        Dari praktikum yang telah kami lakukan, maka didapat
beberapakesimpulan, diantaranya :
   1. Rumput laut merupakan tumbuhan laut jenis alga. Tanaman ini adalah
       gangang multiseluler golongan divisi thallophyta. Berbeda dengan
       tanaman sempurna pada umumnya, rumput laut tidak memiliki akar,
       batang dan daun sejati

   2. Karagenan adalah senyawa yang diekstraksi dari rumput laut dari Famili
       Rhodophyceae
   3. Tiga tipe utama karagenan yang digunakan dalam industri makanan adalah
       ι-karagenan, κ-karagenan(E. cottonii), dan λ-karagenan (E. spinosum)
   4. Kadar karagenan rata-rata rumput laut jenis Euchema spinossum adalah
       26,75 % dan Kadar karagenan rata-rata rumput laut jenis Kappaphycus
       alvarezii adalah 11,03 %



5.2 Saran
        Hendaknya lebih teliti dalam proses praktikum, utamanya dalam
penggunaan alat dan bahan dan sebelum praktikum dimulai para praktikan harus
sudah paham tentang cara kerja dalam praktikum tersebut agar tidak mengalami
kesulitan saat proses pelaksanaan.
                               DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2008c. Precipitation Chemistry. http://en.wikipedia.org. [30 Agustus
2008].

Atmadja, W.S. dan Sulistijo. 1980. Algae Bentik Dalam : Peta Sebaran Geografik
       Beberapa Biota laut di Perairan Indonesia (Kasim M., W. Kastoro, K.
       Romimohtarto eds.) Lembaga Oseanologi nasional – LIPI Jakarta : 118
       pp.
Belitz, H. D dan W. Grosch. 1999. Food Chemistry. Springer, Berlin.

Bubnis, W. A. 2000. Carrageenan. http://www.fmcbiopolymer.com/ [12 Agustus
2008].

Glicksman, M. 1979. Gelling Hydrocolloids in Food Product Appliction di dalam
Polysaccharides in Food. J. M. V. Blanshard dan J. R. Mitchell (eds.).
Butteworths, London.

Glicksman, M. 1983. Food Hydrocolloids. Vol. II. CRC Press, Boca Raton,
Florida.

Imeson. A. P. 2000. Carrageenan di dalam Handbook of Hydrocolloids. G. O.
Phillips dan P. A. Williams (eds.). CRC Press, New York.

Istiani,S.,A Zatnika dan Suhaimi.1985.Manfaat dan Pengolahan Rumput
          Laut.http://www.rumputlaut.org.14/03/2009.21 Hal.
Kirk. R.E., Othmer, V.R.1994.Encyclopedia of Chemical Technology, vol.11
        Flavor Characterization to Fuel Cells, 4th ed., John Wiley & Sons Inc.,
        New York.
Romimohtarto, Kasijan. dan Sri Juwana. 2007. BIOLOGI LAUT. Djambatan:
    Jakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/Karagenan di akses pada hari Rabu, 8 juni 2011 pukul
          15.32 WIB.
http://rohimatputraasgar.blogspot.com/2011/05/standar-mutu-karaginan.html      di
          akses pada hari Rabu, 8 juni 2011 pukul 15.35 WIB.
http://blogjaonori.blogspot.com/2009/07/manfaat-serat-karagenan-untuk-tubuh-
          dan.html di akses pada hari Rabu, 8 juni 2011 pukul 15.40 WIB.
http://task-list.blogspot.com/2008/04/rumput-laut-eucheuma-spinosum.html       di
          akses pada hari Rabu, 8 juni 2011 pukul 15.45 WIB.
http://iinparlina.wordpress.com/2009/06/12/karagenan-produk-olahan-rumput-
          laut-merah-indonesia-yang-sangat-bermanfaat/ di akses pada hari Rabu, 8
          juni 2011 pukul 15.48 WIB.
http://bambangbrawang.blogspot.com/ di akses pada hari Rabu,8 juni 2011 pukul
         16.00 WIB.
http://id.wikipedia.org/wiki/Karagenan
http://gangganglaut.blogspot.com/
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/42283
http://mybioma.wordpress.com/2008/05/26/apa-yang-terdapat-dalam-rumput-laut/
http://laporanakhirskripsitesisdisertasimakalah.wordpress.com/2010/08/19/kumpu
          lan-abstrak-contoh-judul-penelitian-tentang-karagenan-dan-rumput-laut/
http://www.digilib.uns.ac.id/upload/dokumen/112861504201009574.pdf
http://chaplain-zee.blog.friendster.com/2008/11/proses-pengepakan-dan-
         transportasi-bibit-rumput-laut-eucheuma-cottonii-di-lombok-tengah-
         nusa-tenggara-barat/
http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/03/klasifikasi-dan-morfologi-rumput-
          laut.html

								
To top