Infeksi2 Bakteri Salmonella

Document Sample
Infeksi2 Bakteri Salmonella Powered By Docstoc
					Infeksi-Infeksi Bakteri Salmonella
Etiologi: Sindroma-sindroma klinis dengan batasan-batasan yg tidak tentu namun overlap (saling meliputi) disebabkan bakteri-bakteri Salmonella (gram neg bacillus dari famili Enterobacteriaceae). Golongan primer adalah S. typhi, S. choleraesuis, S. enteritidis (>2000 serotipe). Klasifikasi dini memberi nama kepada tiaptiap serotipe bagaikan species sendiri e.g. S. typhimurium, S. infantis, S. enteritidis dll. Secara praktis biasanya kita membedakan Salmonella typhoidal dari Salmonella non-typhoidal. Epidemiologi: Salmonella non-tifoid: 1. Hewan: Ayam, sapi, kerbo, binatang pemeliharaan, binatang melata, melalui daging ayam/sapi, telor, susu. Sayur-sayur, obat-obat, alat-alat medis yg terkontaminasi air dari binatang-binatang tersebut 2. Manusia: Feko-oral dan makanan/alat yang terkontaminasi Salmonella tifoid: Hanya dari Manusia melalui jalur feko-oral & jalur terkontaminasi dari manusia termasuk pengidap / carrier kronis. (Baksil di empedu) Umur: paling sering pd orang yang berumur < 5 tahun & > 70 tahun, puncat: < 1 tahun Mortalitas: (infeksi invasif) paling tinggi pd bayi, lanjut usia, HIV, hemoglobinopati, kanker. Pokoknya pada yg berstatus kekebalan/sistem imun tidak kuat. 10% balita tnp Rx Infektifiti: Sangat bervariasi, > pada anak, pada Salmonella non-tifoid: anak balita sesudah 12 minggu 45% masih pos, pada hal anak sekolah/dewasa cuma 5%. 1% > 1thn. Inkubasi: Gastroenteritis: 6 – 72 jam Demam Enterik (Demam tifoid): 3 – 60 hari (biasanya 7 – 14 hari) Laborat: Biakan feses, darah, kencing, sumsum Tes Widal (tes aglutinin-aglutinin Salmonella tiphi) baru positif sesudah 7 hari, banyak fals pos, fals neg. Tes Widal ulang yg meninggkat 4x lipat dianggap +. Kalau titer antibodi 0 adalah 1:200 atau > = + D.L. (CBC): Lukopeni dengan limfositosis relatif, namum juga terkadang lukositosis, anemi. Sindroma Klinis: 1. Demam Enterik/Tifoid (mirip [maka “oid”] penyakit Typhus namun tidak sama!) A. Gejala-Gejala: Permulaan berangsur-angsur. (Gradual onset) Spektrum luas. Endotoxin pyrogen. 1.Demam tinggi 2. Sakit/pusing kepala 3. Anoreksia/mual 4. Perut kembung/sakit 5. Diarrhea ringan 6. Konstipasi/sembelit (berhari-hari & bukan krn “tidak makan”) 7. Lemah (? paracetamol: hipotensi) 8. Bercucuran keringat bila minum paracetamol (hipotensi) 9. Apati, delirium, somnolen, semikoma & (jarang) konvulsi. 10. Ruam “rose spot”: jarang tampak di kulit non-kaukasian 11. Hepatomegali (lbh sering di RI drpd hepato-splenomeg.) 12. Bradikardi relatif (dibanding dgn takikardi febris tinggi) B. Diagnosa Banding (Terlalu banyak anak yang febris selama 2 hari >, secara otomatis diDx “Tifus”) 1. Tuberkulosis: (tidak selalu batuk!) efusi pleura. 2. Infeksi Saluran Kemih: Febris tersumbunyi pada anak perumpuan 3. Campak, Roseola 4. Meningitis / enkefalitis (kalau ada apati, delirium, koma, konvulsi perlu periksakan likor spinalis) 5. Demam Dengue (Cf. syok, thrombositopeni dll pada daftar komplikasi di bagian D) 6. Malaria (Ada di Java juga dengan kembalinya banyak orang dari daerah-daerah endemiknya.) 7. Sepsis, pneumonia, empyema, atau infeksi/bisul tersembunyi lain C. Pengobatan & Penatalaksanaan: 1a. Kloramfenikol 50-100 mg/kgBB/hari dibagi 3-4 dosis PO, mx: 2gm, (IV kalau penyerapan diragu kan) x 14h. Ingat: thrombositopeni sbg komplikasi Abx ini, baik dose dependent & indiosyncratic. 1b. Amoxicillin/Ampicillin 100 mg/kgBB dibagi 3 dosis PO/IV x 14h, mx: 3-4 gm, bila yakin tiada resistensi, respons klinis (febris turun) lambat, nmn jumlah yg kambu & pengidap lebih kurang. 1c. Trimethoprim/Sulfamethoxazole (TMP/SMZ) 8/40 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis PO x 10 hari. 1d. Ceftriaxone 50-100 mg/kgBB/hari dibagi 1-2 dosis IV/IM, mx:4gm x 14h utk baksil resistan 1e. Ciprofloxacin 20-30mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis PO/IV, mx: 1gm (diencer 1-2mg/mL, diteteskan pelan slm 60min.) Utk kasus yg hebat saja. Blm disetujui FDA utk psn<18 thn. Rcn:growth plate? 2. Dexamathasone utk kasus berat dengan delirium, stupor, koma, syok. Dosis pertama 3 mg/kg IV kemudian 1 mg/kg setiap 6 jam x 8 dosis IV. Dapat mengurangi mortalitas dari 56% menjadi 10%. Ingat: Febris sering ditahan oleh steroid, maka sehabis 48 jam Dex ini, seringkali febrisnya kambu. 3. Hati-hati sekali kalau Paracetamol diminum utk febrisnya, krn dpt menyebabkan hipotensi/syok! 4. Diet: Minum kalau mau, (kalau tidak mau,  IV) Ingat: Kebutuhan tambah air krn febris tinggi. Makan (kalau usus aktif lagi, dapat BAB) rendah serat termasuk nasi! Bersambung: 5. Tirah baring:

Halaman 2: Infeksi-Infeksi Bakteri Salmonella

5. Tirah baring: Selama anaknya mau saja. Pesan: Wajib berbaring mutlak sampai bebas demam selama satu minggu, baru boleh duduk itu, berasal dari zaman prae-antibiotika (Zaman Londo) 6. CATATAN: Febrisnya (dari pyrogen endotoxin) sering masih berlangsung sampai 4 hari, walaupun antibiotik yang tepat diberi. Akan tetapi penderita merasa lebih enak, walau febrisnya masih naik. D. Komplikasi Demam Enterik/Tifoid: 1. Perforasi atau Perdarahan Usus: Tiba-tiba kembung, perut sakit/nyeri, nadi lemah & cepat, pucat, kulit dingin/lebab (tanda tekanan darah turun sampai syok). Lebih sering terjadi pd psn malnutrisi. 2. Diseminated Intravascular Coagulation (DIC) sering terjadi pada psn demam enterik, namun tak bergejala. Heparin jangan diberi kalau tidak ada gejala (asymptomatic) E. Pencegahan 1. Tindakan-tindakan hijenis dalam proses-proses persiapan makanan, pembuangan sampah dll 2. Singkirkan & mengobati penderita dan pengidap (carrier) Demam Tifoid sampai biakan feses – 3x. 3. Vaksin-Vaksin Tifoid a. Oral Typhoid Vaccine (Ty21A): Vaksin hidup dari bakteri S. typhi attenuated Ty21A strain. Dosis: 4 kapsul diminum 1 q.o.d.(=2 hari sekali) 7h, perut kosong, psn > 6 thn, (Untk anak < 6 thn, dosis blm jelas, & sulit menelan kapsul) Rxi: jarang, N&V. Booster: Ssdh 5 thn, 4 kapsul. Kontraindikasi: Sistem imun lemah, sedang atau baru selesai minum Abx., & keadaan hamil. b. Parenteral Inactivated Typhoid Vaccine: Vaksin mati (killed bacteria) Dosis: 0,5 mL, SK 2x, jaraknya 4 atau > minggu. (Bagi anak < 10 thn: 0,25 mL SubKutan 2x) Rxi: febris, nyeri kepala, nyeri & bengkak lokal, N&V, lesu slm 1-2 hari, sampai 24% tidak masuk kerja/sekolah. Booster: 3 thn sekali, 0,5 mL SK atau 0,1 mL IK (IntraKutan) (Anak:6 bln – 10 thn 0,25/0,1) c. Typhoid Vi Capsular Polysaccharide Vaccine: Dosis 0,5 mL IM x1. Rxi sama dgn PITV 2. Gastroenteritis Salmonella (banyak serotipe enteritides: Para A, Para B, Dublin, Derby, Heidelberg, dll) A. Gejala-Gejala: 1. Mencret/Diarrhea yang hebat, tinja sering positif lendir, pus & mungkin darah (lebih sering ada darah pada GEA dari Shigella & Amoeba). 2. Febris tinggi (Terkadang konvulsi febris, tetapi lebih sering dengan bakteri Shigella) 3. Kram & Nyeri tekan abdomen (seperti GEA protozoa & keracunan makanan) B. Diagnosa Banding: 1. GEA Bakteri lain: Shigella, Campylobacter, Yersinia, E. coli, tinja sering positif lendir & pus. 2. Pseudomenbranous colitis: Clostridia difficile (terjadi sesudah Rx Abx spt penisilin, cefalosporin, klindamisin, Rx: berhenti Abx lain dan memberi vancomycin atau metronidazole) 3. GEA Virus: biasanya tinja banyak air, dan negatif lendir, pus, darah. Mungkin febris tinggi 4. Keracunan Makanan/Food Poisoning: Dari toxin: Staph. aureus, ETEC (enterotoxigenic E. Coli) Clostidium perfringens, Clostridium botulinum: N&V, Menceret Sekretor, (V. Cholera banjir air) 5. GEA Protozoa: Amoeba, Giardia, Diarrhea “explosive” & abd. kram hebat pd yg blm kebal, tinja campur mukus, pus, darah. Pada yg “kebal” tinja spt bubur kacang, sdkt darah, lesu & apatis C. Pengobatan GEA Salmonella: 1. Disarankan pada umumnya agar tidak diberi Abx, karena hanya menghasilkan pengidap / carrier 2. Koreksi dihidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit (Na, K) dengan oralit, IV 3. Indikasi Rx dengan Abx slm 14 hari : bayi, keadaan kekebalan/sistem imun lemah, Penyakit Crohn & Chronic Ulcerative Colitis. K.U. “tosik / septik”, Bakteremia (biakan darah +, dan masih febris) D. Komplikasi GEA Salmonella: 1. Dihidrasi & ketidakseimbangan electrolit 2. Bakterimia/Septisemia (Rx selama 14 hari) 3. Infeksi fokal jauh: (Cf. #3) terjadi pada 10% penderita bakterimia
.

3. Infeksi Salmonella Metastatik (bakteri dibawa bakterimia ke tempat jauh di tubuh) A. Gambaran-Gambaran Klinis: Meningitis, Osteomyelitis, Arthritis, Bisul/Abces B. Pengobatan: Meningitis: Ceftriaxone atau Cefotaxime dosis maximal sesuai BB, selama 4 minggu Osteomeyelitis, Arthritis, Bisul, HIV: Kloramfinikol, Ceftriaxone selama 4 – 6 minggu Sumber: 2000 Redbook, American Academy of Pediatrics, hal. 501 – 506 Manuel of Pediatric Therapeutics 1994, Little Brown, hal. 440 – 441 The Travel & Tropical Medicine Manuel 1995, Saunders, hal. 40, 300 – 304 Diktat Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 5, FK, Univsitas Airlangga, hal. 117 – 129


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3668
posted:9/23/2009
language:Indonesian
pages:2
kadek adi wiguna kadek adi wiguna
About curious of many medical thing.... but must set up my brain memory....