PEDOMAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN INFEKSI DI ICU

Document Sample
PEDOMAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN INFEKSI DI ICU Powered By Docstoc
					   Pedoman
  PenGGgaham
     dam
Fema
 rmr$ffifiHfthff''
         B e s a r t e m e nt ( e s e h a ta n Il
 llir ek t o l a t f e n d e r a l F e l aya n a n le d iX
                                                  lr
                           2003
Katalog Dalam terbitan. Deparrernen Kesehatan RI
36 2 .r 8
Ind         IndonesiaDeparremenKesehatan
                                       DirektoratJenderal
                     Pelayanan
                             Medik.
            PcdommPcncegahan penanggulangan
                           dm            Infeksidi ICU - Iakarta :
            Departemen Kesehatan, 2003


            L Judul l. INTENSIVECARI UNIT - GUIDL,
                            Tim Penyusun

                 1.    Dr. RatnaMardiati, Sp.KJ

                 2.    DR. Dr. IqbalMustafa,Sp.An,KIC, FCCM

                 3.    Drg. Rarit Gempari,MARS

                 4.    Dr. Bambang\ifahyu, Sp.An,KIC

                 5.    Dr. Ike Sri Rejeki,Sp.An,KIC

                 6.    Dr. Indro Mulyono, Sp.An,KIC

                 7.    Dr. BambangTutuko,Sp.An,KIC

                 8.                   Sp.An,KIC
                       Dr. ChriscJohanes

                 9.    Dr^ Eddy Haryanto, Sp.An.KIC

                 10. futa Sekarsari,
                                  MHS



                                     Editor

                 l.    Drg. Rarit Gempari,MARS

        '        2.    Dr. Nila Kusumasari

                 3.    Dr. Frida Susanti




Pedoman Pencegahan                Infeksi di ICU
                 dan Penanggulangan
                                Pengantar

                                                                     sakit sema'kin
          ari waktu ke waktu keberadaan insitusi rumah
          dit unru t u n tu k m e m b e ri k a n p e layanan  pri ma dal am bi dang
                                                                        dengan dua
          kesehatankepada masyarakat' Kebutuhan ini sejalan
                                                                 rumah sakit sei'ing
hal penting, yaitu ,.*.ki,, keratnya kompetisi sektor
                                                         client/customer terhadap
                                                                           -,,L-l^-
d.rrg"r, pJni.rgk^r"r, kesadaran dan tuntutan
kualitas pelayanan rumah sakit'

       Padasisilaindenganpenambahaniumlahrumahsakir'menyebabkan
                                                   persaingan yang menuntut
s€tiap rumah sakit saat ini masukdalam lingkaran
                                                                  lebih baik'
p.l.y".,*      yang makin lama makin memPunyai kwalitas. yang
                                                         pada  aspek efisiensi'
1-irit t. ktber"hrsil.n rurrrah sakit sangat tergantunB
.f.li.i'*ri.^, pelayanan, kemudahan,   kecepatan' kernukahiran' keamanan'
dan kenyamanan-
                                                                                    pelayanan
         Salah satu pelayanan yang sentral di rumah sakit adalah
 ICU. Saat ini pelayanan di ICU tidak                   terbatas hanya untuk tnenangani
                                                                          dewasa' anak' yang
 pasien pascabedah tetapi meliputi berbagai ienis pasien
 *.ng"i"..,i        lebih dari ,ttt di,ftt'g'ilgagalorgan'        Kelompok pasien ini dapar
 berasal dari unit gawat darurat, kamar                operasi' ruang Perawatan' atauPun
                                                                             pelayanan ICU'
 kiriman rumah sakit lain- Ilmu yang diaplikasikan dalam
                                                                          ruPa sehingga telah
 pada dekade terakhir ini relah berkembang sedemikian
  m.njadi cabang ilmu kedokteran tersendiri                     yaitu "lntensive Care Medi-
                                                                        dari beberapa rempar
  .i.r.i. Meskipun pada urnumnya ICU hanya rerdiri
                                                                               terl ati h) yang
  t idur , . . . " pi s u mb e r d a y a te n a g a (d o k te r dan peraw at
  diburuhkan sangarspesifik dan             jumlahnya paciasaat ini di Indonesia sangat
                                                                             dana yang cukup
  rerbatas. ICU juga mengelola dan sangat menghabiskan
 besar.



                                                   ICU
  Pcdoman Pencegahan dan Penangeulangan Infcksi di
                                                                                            lll
    Biaya pengobatan pasien yang dirawat di ICU jauh lebih tinggi jika
dibandingkan dengan ruang perawatan biasa. Kesemuanya ini mengharus-
kan penerapan manajemen yang effektif dan efisien.

     Untuk dapat memberikan pelayanan prima dan manejemen yang efektif
dan qfisien , maka ICU harus dikelola sesuai suatu standar yang bukan
saja dapat digu n a k a n s e c a ra n a s i o n a l te t api j uga mengi kuti perkem-
bangan rerakhir dari "Intensive Care Medicine". Departemen Kesehatan
beker,iasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan
Reanimasi Indonesia (IDSAI) dan Perhimpunan Dokter Intensive Care
i ndones ia( P er d i c i ) m e m a n d a n g p e rl u u n t uk meni nj au ul ang srandar
pelayanan ICU yang dibuat tahun 1992 yang kemudia dicetak ulang tahun
1995. Tinjau ulang standar ini disesuaikan dengan perkembangan ilmu
dan teknologi serta konsep ICU dimasa datang. Semoge standar pelayanan
ICLI ini dapat berguna dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh renaga
kesehatan di rumah sakit, agar dapat meningkatkan mutu pelayanan di
IC u s ec ar a na s i o n a l s e k a l i g u s me me n uhi keburuhan standar IC U
internasional.

     Pada kesempatan baik ini kami mengucapkan terima kasih kepada rim
penyusun, dan kontributor serta pihak-pihak lain yang membantu hingga
ter wujudny a bu k u i n i . S a ra n d a n k ri ti k kami harapkan untuk l ebi h
se m pur nany a bu k r-ri n i .




trima    kasih




DR. Dr. Iqbal Mustafa, Sp.An, KIC, FCCM
Ketua Tim Penyusun/ketuaPERDICI




iv                                      PedomanPencegahan Penanggulangan
                                                        dan            Infeksi di ICU
             PERHIMPUNAN    DOKTERSPESIALIS  ANESTESIOLOGI   DAN
                             REANIMASIINDONESIA
               (TheInilonesian                  and
                             Socieg Anesthesiogisls Reanitnaleurs)
                                  of
                 Sekeruiat:BagianAnestesiologi           Jl.          71,
                                              FKUURSCM. Diponegoro Jakana10320
                           Tclp/Fax(021) 392 1443Emal: ppidsai@centrin.n€t.id




                       SAMBUTAN
 KETUA UMUM PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALISANESTESIOLOGI
            DAN REANII\,IASI INDONESIA (IDSAI)



Infeksi nosokomial pada pasienyang dirawat di ICU merupakan masalahyang
sangatseriuspada saat ini dan akan terus berlanjut di masa akan datang. Hal
ini dis ebabka n o l e h p e tu g a s IC U (d o kter dan peraw at) yang kurang
mengindahkan sterilitas padasaatmerawat pasien.Di samping itu pasienyang
Cirawatdi ICU mempunyai resikoinfeksi rrosokomialyang lebih besar,karena
ridak .iarang mendapat rerapi nutrisi parentral dan antibiotika yang lama,
dis f ungs i ara u i n s u ffe s i e n s i s i s te m k e k e bal an, respons stress metabol i c
meningkat, atau dipasangkanalat-alat invasive (seperti kateter vena sentral,
katerer urin, pipa larnbung, dan ventilator). Akibatnya angka morbiditas dan
morralitas meningkat, dan untuk mengenadalikannya                        diperlukan biaya yang
sangat tinggi.

Unr uk m ene k a n i n fe k s i d a n m e n g e n d a l i kan i nfeksi nosokomi al di IC U
s€rendah mungkin, maka diperlukan suatu pedoman sebagaistrategi yang
komprehensif yangbersifat nasional.Hal ini diupay-akan               oleh Depkes RI dengan
menerbitkan buku Pedoman Pencegahan                dan PenanggulanganInfeksi di ICU,
yang dis.rsun oleh pakar-pakar yang tidak diragukan kompetensinya dalam
bidang pencegahandan pengendalianinfeksi nosokomial di ICU.

Pedoman ini akan memberikan maslahat bilamana petugas ICU konsisten
m elak s anak a n p e d o m a n i n i . M i n i m a l a kan menurunkan seperti ga angka
kekerapannyabila petugasICU selalumenjaga srerilitasdan mencuci tangan
s ebc lum m en y e n tu h p a s i e n .



Pcdoman Pencegahan                 Infeksi di ICU
                  dm Perranggulangan
Akhirul kara, semogaAllah s.ffr memberikan perlindungan, raufik dan hidayah
kepada kira semuanya dalam melaksanakan amanah profesi yang kita cinrai
dan rekuni dengan moro: " 'fhe first responsibility ro the p.ti"rrii, to do no
harm ".




Jakarta, ll   Marer 2004



Pengurus Pusat
Perhimpunan Dokter SpesialisAnestesiologi dan Reanimasi Indonesia




                     v
                 BasuJd,
                       SpAnK




                                   Pedomm Penccgahan
                                                   dm Pcnanggulmgan Infctsi di ICU
Sambutan Direktur Jenderal Pelayanan Medik




fu salamu'alaikum \flr. V'b.

lnfeksi adalah prosesdimana seseorang fangrenran terkena invasi organisme
patogenaau infeksiusyang tumbuh, berkembang   biak dan menyebabkan  sakit.
Sementarayang dimaksud dengan infeksi nosokomial adalah infeksi yang
diperoleh kedka seorangdirawat di RS (sekurang-kurangnya x24 iam)-
                                                          2

Mengingat bahwa pasienyang dirawat di ICU umumnya lebih dari 2 x 24
jam, dan dalam kondisi lrritis, maka semuadndakan medik dan non medik
yang diberikan haruslah diperhatikan dengan baik, benar, rasional dan
bertanggungjawab.

\Talaupun infeksi nosokomial yang terjadi di ICU semara-mara    ridak
disebabkanoleh mikroorganisme/pcrlakukan ICU, narnun dimungkinkan
                                          di
mikroorganismererseburdibawadari ruang lain sebelumpasienmasul</dibawr
ke tCU.

Demikian pula pengendalianlpencegahaninfeksi nosokomial, bukan hanya
ranggungjawab RS, dokrer &n perawarICU aja, tetapi merupakan tanggung
jawab bcrsamadan melibarkan semuaunsur/profesiyang terkait di RS.

Sayamemahami benar bahwasemuarenaga       kesehaandi RS relah mengerahui
tentang patogenesis,pencegahandan pcnanggulanganinfcksi serta infelcsi
nosokomial, nalnun sangardisayangkan  dengankenyataandi lapanganbahwa
karenasatu dan lain hal merekaridak mclaksanakanrindakanyang sennesrinya./
bekerjadcngan proftsional.



Pedoman Pcnccgahandm PenanggulanganInfcksi di ICU                      vlt
                                  terima kasih kepada tim penyusun'
Unruk itu dengan mengucapkan                                    buku
                              pihak yangterlibat dJ"m penyusunan
kontributor d- .diro, J;";;;"
ini.

                           dlilaif<a1.g.;domanoleh tenagamedik' Perawat
Sayaberharapbuku ini dapat
                                pendidikan maupunnon pendidikan'dalam
dan non medik yangbekeria RS
                         di
penatalaksanaanpelayanankesehatan'

Sekian.

 \0assalam alaikurn'S0r'\t/b'
          u'

                          Medik
 Direktur JenderalPelayanan




                            MSc (PH)
  Dr. SriA"-IG.S. SuParmanto'
  NIP. 140 o6t 067




                                                                            Infeici   di ICU
                                    Pedoman Pencegahm   dan Penanggulanpn
    vill
                                     Daftar isi


Daftar Tim Penyusun dan Ediror

Pengant ar

Sar nbut an K et ua P P-ID SA I

Sambutan Direkrr"rrJenderal Pelayanar'Medik                                          vi i

Daftar Isi..............                                                              ix
Bab I Pendahuluan                                                                      I
                Dan Pengendalian
Bab II Pencegahan              InfeksiNosokomial .........                             3
Bab III Ljniversal Precaution
(Kervaspadaan {Jm um Terhadap Infeksi)                                               13
Ba b I V P enc ega h a nP n e u m o n i a N o s o k o rn i a l ................      39
Bab V Pedomarr Pencegahanlnfeksi Inrravascular Akibat

Pe m as anganK ate te r                                                              53
Bab Vl Pedoman PencegahanInfeksi Tiaktus Urinarius Akibar

PernasanganKateter                                                                   81
Ba b V I I P edom a rr Pe n c e g a h a n fe k s i L u k a Operasi (l LO) ........
                                         In                                          93
Bab Vlll     Pedornan PencegahanResistensi
                                         Terhadap

Ant im ik r oba . . ...........-.                                                    109




l'ccloman Pcnccg.rhan drn Perrrrrggulrngan Infcksi di ICU
                                       Bab I

                            Pendahuluan


l.A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan diberikan di berbagai Fasilitaskesehatan, mulai dari
fasilitas yang mempunyai peralatan dengan teknologi sederhana sampai
yang hanya mempunyai peralatan dengan reknologi modern. Meskipun
telah ada perkembangan dalam pelayanan rumah sakit dan kesehatan
masyarakat, infeksi terus pula berkembang ierucama pada pesien yang
dirawat di rumah sakir.

    InFeksi nosokcn-rial terjadi di seluruh dunia dan mempengaruhi baik
negara maju, negara berkembang, maupun negarami.skin.Survei prevalensi
yarrgdilakukan oleh \7HO rerhadap55 rumah sakit dari l4 negaramervakili
4 daerah \7HO (Eropa, MediteraniaTimur, Asia Selatan-Timr-rr     dan Pasifik
Barat) menur,jukkan rata-r3ta8,7olopasiendi rumah ,.akit menderira infeksi.
nosokomial. Pada suatu waktu, 1,4 juta orang di seluruh dunia rnenderita
inFeksi nosokomiel. Insidens infelai rrosokomial tertinggi terjadi di daerah
Mediterania Timur dan Asia Selaran-Tinrur masing-masing I l,8olo dan
l0olo, sedarrgkandi Eropa dan Pasifik Barar adalah 7,7o/o drn 9o/o.

      KonFerensi konsensusAsia Pasifik tahun 200 I relah mengembangkan
proses konsensus tentang critical care, dimana prosesnya sama seperri di
E r opa dan A me ri k a U ra ra . Pro s e s te rsebut bertuj uan mengh:rsi l kan
rekomendasi prakris teutang pengendalian infeksi pada pasien sakit kriris
berdasarkan bukti i!miah yang ada yang akan diimplemenrasikan di claerah
Pasifik Barat dan negara berl<embanglain.



Pcrlonun Perrctgehandln Pcunggulangan lnfcl'si di ICU
       Sebanyak 2o-45o/oinFeksinosokomial di rumah sakit terjadi di ruang
intens;ue care unit (lCU), walaupun ICU hanya memPunyai kapasitas
te m pat t idur 5 -2 0 o l o d a ri to ta l te m p a t ti dur di rumah saki t. Infeksi
nosokomial di ICU semata-mata tidak disebabkan oleh mikroorganisme
yang ada di ICU, namun juga mikroorganisme yang dibawa dari ruang
lain sebelunr pasien dibawa ke lCU, seperti ruang gawat darurat, ruang
operasi dan ruang rawat inap. Bukti ilmiah lebih jauh menunjukkan bahwa
i nf ek s i paling se rin g b e ra s a l d a ri a l a t/p ro sedur operasi - S umber i nfeksi
lainnya adalah tangan dokter/perawat dan pengunjung, alar ventilator, alat
penghisap (suction) dan botol drainase, aksesintravena, kateter urin, luka
d a n per ban, bo to l d e s i n F e k ta n ,tro l i , p e n ggunaan anti bi oti k yang ri dak
rasicna! (bahlcan sampai menyebabkan sepsis).

l.B. Permasalahan

Infelcsi nosokon'rial nrernpunyai pengaruh terhadap berbagai aspek-Infeksi
n os ok om ial me n y e b a b k a n k e ti d a k m a m p uan secara fungsi dan rne-
ningl<arkan stresspasien yailg mengarah kepada penurunan kuaiitas hidup.
Lifeksi ini jrrge sebagaisalah satu penyebab uiama kematian.

    Penggunaan obat yang meningkat, kebutuhan untuk ruang isolasi,
pemeriks,ran leboratoriurn dan pemeriksaan diagnostik lain, bertambahnya
wakru rawat inap akan nreningkatkan biaya.

      T elah dik et a h u i b a h w a k e w a s p a d a a tr nrtl m seperri mcncuci tangart,
                                                             u
n rer nak ai s ar un g ta n g a n d a n ri n c i a k a na s e pti k l ai nnya dapat mcnurttttl < an
ar-rgka  insidens inFeksi.Kebanyakan staf medis telah mengerti hal rersebur,
narnun seringkali prosedur ini tidak dilakukan sehinggadapat rrreningkatkan
 tr ans m is i or gan i s n l e .




                                             Pcdonran         dan            lnfeksi di ICU
                                                     Pencegahan Pcnanggulangan
                                       Bab I

                            PendahuIuan


l.A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan diberikan di berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari
fasilitas yang mempunyai peralatan dengan teknologi sederhana sampai
yang hanya mempunyai peralatan dengan teknologi modern. Meskipun
t elah ada per k e mb a n g a n d a l a m p e l a y a n an rumah saki t dan keseharan
masyarakar, inFeksi terus pula berkembang ierurama pada pasien yang
dir awar di r um a h s a k i r.

     InFeksi nosokomial terjadi di seluruh dunia d:ur mempengaruhi baik
negara maju, negara berkembang, maupun negaramiskin. Survei prevalensi
yang dilakr,rkanoleh \7HO terhadap 55 rumah sakir dari l4 negaramervakili
4 daerah\7HO (Eropa, MediteraniaTimur, Asia Selaran,Timrrr dan Pasifik
Barat) menurrjukkan rara-rera8,7olopasiendi rumah sakicmenderita infeksi.
nosokomial. Pada suaru waktu, 1,4 juta.orang di seluruh dunia rnenderita
inFeksi nosokomial- Insidens inFeksinosokomial rertinggi terjadi di daerah
M edir er ania Ti m u r d a n As i a Se l a ra n -T inrur masi ng-masi ng I1,87o dan
 lOolo,sedarrgkandi Eropa dan Pasifik Barat adatah 7,7o/o dl.n 9o/o.

      KonFerensi konsensusAsia Pasifik tahun 200 I relah mengembangkan
proses korrsensus tenrang critical care, dirnana prosesnya sama seperti di
E r opa dan A m e ri k a U ra r;r. P ro s e s re rsebur berruj uan menghesi l kan
rekonrendasi prakris renrang pengendalian infeksi pada pasien sakit kritis
berdasarkan bukri ilmiah yang ada yang akan diimplemerrrasikan di daerah
Pasifik Barat dan negara berl<embangtain.



Itcdoman Perrccgehan
                   dan ltcnanggul:rngrnlllfeki di ICU
       Sebanyak 2o-45o/oinfeksi nosokomial di rumah sakit rerjadi di ruang
intensiue care unit (iCU), walaupun ICU hanya mempunyai kapasitas
rempat tidur 5-20o/o dari rotal rempat tidur di rumah sakir. Infeksi
nosokomial di ICU semata-mata tidak disebabkan oleh mikroorganisme
yang ada di ICU, namun juga mikroorganisme yang dibawa dari ruang
lain sebelun'r pasien dibavra ke ICU, seperri ruang gawat darurat, ruang
operasi dan ruang rawar inap. Bukri ilmiah lebih jauh menunjukkan bahwa
i n F ek s i paling s e ri n g b e ra s a l d a ri a l a t/p ro s edur operasi . S umber i nFel < si
lainnya adalah tangan dokter/perawat dan pengunjung, alar ventilator, alar
penghisap (suctlon) dan botol drainase, aksesintravena, kateter urin, luka
d an per bar r , bo ro l d e s i n fe l c ra n ,tro l i , p e n g gunaan anri bi oti k yang ri dak
rasicna! (bahlcan sampai menyebabkan sepsis).

l.B. Permasalahan

Infelcsi nosokon'rial menlpunyai pengaruh terhadap berbagai aspek-Infcksi
n os ok om ial n-re n y e b a b k a n k e ti d a k m a m p uan secara fungsi dan rne-
ningkatkan stresspasicn yang mengarah kepada penurunan kuaiitas hidup.
lr,Feksi ini jLrgasebagaisalah satu penyebab utama kematian.

    Penggunaan obat yang meningkat, keburuhan untuk ruang isolasi,
pemcriksaan laboratoriurn dan pemeriksaan diagnostik lain, berrambahnya
waktu rawar inap akan meningkatkan biaya.

     T elah dik et a h u i b a h w a k e w a s p a d a a nu n)ttm seperri mencuci tangan,
r"r-rernakaisarung tangan dan tinciakan aseptik tainnya dapat mcnurtttrl<an
a ngk a ins idens i n fe k s i . K e b a n y a k a n s ta F m e di stel ah mengerti hal rersebur,
narnun seringkali prosedur ini tidak dilakukan sehinggadapat meningkatkan
tr ans nlis i or gan i s n re .




                                             Pcdonranlencegahan                 lnfcksi di ICU
                                                               dan Pcnanggulengan
                                       Bab II

  Pencegahan                            Dan Pengendalian
                   Infeksi                Nosokornial


ll.A. lnfeksi Nosokomial

l l . A . 1 .P e n g e rti a n

Infeksi adalah prosesciimana seseorangyang                        rentan terkena invasi organisme
pat ogen at au i n F e k s i u s a n g tu m b u h , b e rk embang bi ak C an nrenyebabkan
                                  y
sakit. Yang dimaksud agen berupa bakteri, virus, rickersia,jamur dan parasit.
I nf ek s i dapat b e rs i F a tl o k a l a ta u s i s te mi k. Infeksi l okal di randai dengan
inf lam as i y ait u s a l c i c ,p a n a s , k e m e ra h a n , pernbengkakan dan gangguan
f ungs i. I nf e! < s is i s te rn i k me n g e n a i s e l u rul t rubuh yang di tandai dengan
adany a dem a m , m e n g g i g i l , ra k i k a rd i a ,h i potensi dan tanda-tanda spesi fi k
lainny a.

     I nf ek s i n o s o l c o n ri a l a d a l a h i n fe k s i y ang di perol eh keti ka seseorang
dirawar di rr-rmahsakit. Infeksi nosokomial dapat.terjadi setiap saat dan di
setiap tempat di rumah sakit. Infeksi nosokomial juga diartikan sebagai
infeksi yang didapat selama nlasa perawatan atau pemeriksaan di rumah
sakit tanpa adanya tanda-tanda infeksi sebelunrnya, dan nrinimal terjadi
48 jam s es u d a h ma s u k n y a k trm a n . U n r rrk mencegah dan mengurangi
k ejadian inF e k s in o s o k o mi a l s e rtame n e k a n angka i nfeksi ke ti ngkar pal i ng
r endah per lu a d a rry au p a y a p e n g e n d a l i a ni nFeksinosokonri al .




Pctlorn,rrr         drtn Pcnrngguhngan
          Pcnceg,rlun                 lnfcksi di ICU
    Pengendalian inFeksinosokomialbukan hanya tanggung jawab pimpinan
rumah sakit, dokrer arau perawar saja retapi merupakan ranggung jawal>
bersama dan rnelibarkan semua unsur/proFesiyang terkair di rumah sakit.

ll . A . 2 .B a t a sa n

Suatu infeksi dinyarakan sebagai infeksi nosokomial apabila :
a. \falcru mulai dirawar tidak ditemukan tanda-tanda infeksi dan ridak
    sedang dalarr, masa inkubasi infeksi tersebut.
b. Infeksi rimbul sekurang-kurangnya 3 x 24 jam sejak pasien mulai
    dirawat.
c. Infeksi rerjadi pada pasien dengan masa perawaran lebih lamr dari
    masa inkubasinya.
d. Infeksi terjadi setelahpasie' pulang dan dapar dibukrikan bahwa inFelai
    t er s ebut be ra s a ld a ri rrrn ra h s a k i t.


ll . A . 3 .P a t o g e n e si s

lnreraksi artara pejarnu (pasien,perawar,dokter, dll), agen (mikroorganisme
patogen) dan lingkungan (lingkungan rumah sakit, prosedur pengobatan,
dll) rnenentukan seseorangdapar rerinfeksi arau tidak (Gambar l).



                                   Pe,amu




     agen                                                         lingkungan

                    Gembar l, Intcrdisi anrerapejamu, agen drn lingkungen




                                         Pcdornrn Pcnccgalrrn&n Pcnenggulangn Infclsi di ICU
Mikroorganisme dapat menjadi penyebab infeksi nosokomial tergantung
dar i:
.      Kemampuan menempel pada Derrr,ukaansel pejamu
.      Dosis yang tidak efekrif
.      KemanrpLlan untuk invasi dan reproduksi
.      Kemampuan mernproduksi toksin
.      Kemanrpuan rnenekan sistem imun pejamu
Sedangkan berbagai faktor dalam pejarnu yang mernpengaruhi timbulnya
infeksi no.sokomial adalah:
.    Us ia
.    Penyakit dasar yang mempermudah rerjadinya infeksi atau menurunkan
     im unit as p e j a mu
.    S is t em im u n
.    Resisrensiridak spesifik yang dirurunkan secaragenerik
.    Falctor psikologis

     F ak t or lin g k u n g a rr j u g a s a n g a t b e rp eran dal am terj adi nya i nfeksi
nos ok om ial, l i n g k u n g a n i n i d a p a r me n cegah maupun meni ngkatkan
kem rrngki n ar-rri mbtrl nya i rrfeksi n osokonrial.

     Infeksi nosokornial ini dapat menyebar melalui beberapa jalrrr, yairu
jalur k ont ak , j a l r-rr ro p l e t d a n j a l u r d e b u . Jal ur kontak di bagi araskontak
                          d
langstrng dan tidak langsung. Kontak langsung adalah adanya konrak fisik
langsung antara pusat infeksi dengan pejamu. Sedangkan konrak tidak
langsung merupakan jalur penyebaranyang paling sering, misalnya melalui
tangan perawat, alat nredis atau darah.

Mekanisme penyebaran melalui percikan (droplet):
Droplet adalah partikel yang keluar dari pernapasandengan ukuran ?5 )rn,
t inggal di uda ra d a l a m w a k tu y a n g p e n dek dan hanya beredar beberapa
m et er s ebelu m j a rrrh k e l a n ta i o l e h k a rena pengaruh gravi tasi . D ropl er
dik eluar k an de n g a n c a rr b a tu k , b e rs i n ,a ta rrri ndakan medi k seperriaspi rasi
sekresirrakeal arau l>ronkoskopi. Infeksi meningokokei dan pertusis banyak
dit ular k an nr e l a l r,ria l u r i n i .
                            i




                     rl.rn
Pcdontrn Pcrrccq:rlrrrr l)cnrnqqulrngrnlrrfcksi.li lC(J
Mekanisme penyebaran melalui debu:
D ebu adalah parti k e l d e n g a n u k u ra n < 5 i r- yang dapat ti nggal di udara
d alam wak t u y a n g l a ma d a n p e re d a ra n n ya l ebi h dari beberapa meter,
l e b ih bany ak d i p e n g a ru h i o l e h g e l o mb a ng udara dari pada gravi tasi .
Pa r t ik el debu d a p a t b e re d a r l a m a d i u d a ra rumah saki r, kecual i pada
vent ilas i y ang b a i k . Sp o ra j a mu r d a p a t d isebarkan dengan cara yang
sam a.

ll. A. 4 .S u m b e rIn fe ksi

a.   Petugas rumah sakit (perilaku)
.    Kurang atau tidak memahami cara-carapenularan penyakir
.    Kurang arau tidak memperharikan kebersihan
.    Kurang atau tidak memperhatikan teknik aseptik dan antiseprik
.    Menderita suatu penyakit tertentu
.    Tidak mencuci rangan sebelum atau sesudahmelakukan pekerjaan

b.   Alat-alar yang dipalcai (alat lcedokteran/kesehatan,    linen cian lainnya)
.    K ot or at au k u ra n g b e rs i h /ti d a k s te ri l
.    Rusak arau tidak layak pakai
.    Penyimparlan yang l<urangbaik
.    Dipakai berulang-ulang
.    Lewar batas wakru pen'ral<aian

c.    Pasien
.     Kondisi yang sangar lemah
.     Kebersihan kurang
.     M ender it ap e n y a k i tk ro n i s /me n a h u n
.     M ender ir ap e n y a k i tme n u l a r/i n F e k s i

d.    Lingkungan
.     Tidak ada sinar marahari/pen€rallgan yang masuk




                                                PcdonrenPcnccgahan                lnfcksi di ICU
                                                                 dan Pcnanggulangan
.    Ventilasi/sirkulasi udara yang kurang baik
.    Ruangan lembab
.    Banyak serangga


ll.A.5"Faktor Penyebablnfeksi
     Banyaknya pasien yang direwat di runrah sakit yang dapar menjadi
^.
     sumber inFeksi bagi lingkungan dan pasien lain.
b.   A dany a k o n ta k l a n g s u n g a n ra rap a s i e n satu dengan pasi en l ai nnya.
c.   Adanya konrak langsung anrara oasien dengan perugas rumah sakir
     yang terinfelcsi.
d.   Penggunaan alar-alat yang terkontaminasi.
e.   Kurangnya perhacian rindalcan aseprik cian anriseprik.
f.   K ondis i pa s i e n y a n g l e ma h .


l l . B. Pe n c eg a h a n

Unt uk m enc e g a h /ffl e n g u ra n g i re rj a d i n ya i nfeksi nosokomi al    perl u
d iper hat ik an:
a. Petugas
.    Bekerja sesuai dengan Standard Operating Procedu.re(SOP)
.    Prinsip kewaspadaan universal
.    lv{enrpcrharikan a-septikdan anriseprik
.    Mencuci rangan sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan
"    Bila sakit segerake berobar


b.   A lat - alat
.    Perhatiken kebersihan alat medik/non medik
.    Penyinlpxnan yang benar frst in frst out (fiFo)
.    Alat-alat yang lusal<segeradiganri
c.   Lingl<ungan
.    Penerangan cukup
.    Ventilasi/sirkulasi udara baik




PedonrenPencegalnndrrr Pcnenggulangan
                                    lnfeksi di ICU
.       Perharikan kebersihan dan kelernbaban
r       Pembuangan limbah.


ll.C. Surveilens
Jumlah pasien yang menderira infeksi nosokomial di rumah sakit merupakan
indikator kualitas dan keamanan perawatan rumah sakir. Dalam hal ini
bagian surveilens berrugas unruk memantaLr jumlah infeksi nosokomial
dengan melakttkan identifikasi masalahlokai, prioritas masalahdan evaluasi
kegiatan pengendalian infeksi. Tujuan utama surveilensinfeksi nosokomial
adalah untuk menurunkan angka kejadian infeksi nosokomial sehingga
dapat menekan biaya perawaran rumah sakit.

     Program surveilens juga sangat spesifik, mencakup seluruh karyawan
rrrrnah sakit baik tenaga kesehatan, tenaga penunjang keperawatan dan
a dm inis t r as i ha ru s me n g e ta h u i a p a i tu i nfeksi nosokomi al , resi stensi
anrimikroba dan mereka mendukung penuh hal tersebut untuk kegiatan
pencegahan; harus se!alu memantau insidens, prevalensi,distribusi infeksi
nosokomial, dan kemungkinan risiko terjadinya insidensdi dalam dan antar
rumah sakit; identifikasi dan evaluasi hasil program preventif.

       Karakteristik sisrem su'veilens meliputi wakru yang singkat, sederhana,
fleksibel, mudah diterinra dan respresentatiF.              Sedangkandara dalanr sistem
su r v eilens ini h a ru s c u k u p s e n s i ti f d a n spesi fi k sesuai dengan tuj tran
surveilens.

ll.C . 1 .K e g i a ta n

Kegiar an s ur v ei l e n s n re l i p u ti :
.   P engum pr r l a n d a ta
.   A r r alis a dara
'        Penyebaran

    Ke giat an ini da p a t d i l a k s a n a k a n b a i k d i ti ngkar rumah saki t, regi onal ,
    nasional maupun internasional. Kegiatan surveilensdi rumah sakit meliputi



                                                Pedomen Pcnccgahatt
                                                                  dan Pcnanggul;rngrnInfelsi tli ICU
                                                                   yang
kegiaran pemanrauan pasien dan unit, jenis infeksi dan informasi
                                                                metode
,.1-"\r.., untuk tiap kasus, frekuensi dan durasi Pemantauan,
                                                              balik dan
pengumpul*r, d"t" secara keseluruhan, analisa data, umpan
p..ri.U".t"asan. Kerja sama antara  rumah sakit dengan pemerintah' baik
,r"riorrrl maupun internasional dapar diwujudkan dalam bentuk kerjasama
dalam hal meiodologi, informasi pedoman dan penBetahuanklinis, evaluasi
serta srandarisasiantar rurnah sakit.

ll.C.2. Metode

Dapat dilakukan berbagai cara surveilens yaitu :
.  S ur v eilensko mp re h e n s i I
.  S ur v eilenss e l e k ti F

      SurveilenskomprehensiFadalah              pemantauan kejaciianinfelcsidi selrrruh
                                                               jenis infeksi tertentu
rumah sakit. Strrveilensselektif adalah Pemantauan
at r u bagian pel a y a n a nte rre n tu s a j a .

 Surveilens selektif antara lain meliputi:
 .   Surveilens periodik komprehensif;, dengan interval waktu tertentu
     misalnya 3 bulan sekali'
 .   Surveilensmenurur jenis pelayanan.Surveilensdengan cara ini terbatas
     unr uk jeni s p e l a y a n a n /b a g i a nre rre n ru, mi sal nya bagi an bedah urrttrk
                                            dilakukan unruk segalamacam .ienisinfeksi
     .ienisini. Surveilensdapat
     luka operasi.
     Surveilenslaboraroriurn. Morode ini berguna sebagai                     sistem peringaten
  "
     dini bila t e rj a d i  p e r.ri n g k a ra j u ml a h i s ol asikuman terterrtu.
                                                 n
  .  Survei pr.u"l.r,ri. survei ini berru.iuan mengukur semua kasus akrif
     y^r,g          (tama dan barr-r)pada saat survei dilalcsanakanpada suatu
             "J"
      popr r l" . i r e rre n ru y a n g me rrd a p a r ri si ko pada suatu i nterval w akru
       t er t ent u p u l a .
  .    S r r r v eiini d i l a k u k a n d i ru m a h s a k i ry a n g ti dak mempunyai renagadan
       s r r nt berda rray a rrg c r-rk u p ru k n re l aksanakan
                                                trn                            survei l ensruti n.




                                  Infeksidi ICU
                  drn Penangguhngan
  PedomenPcncegehan
          P
ll. C . 3 . e l a k sa n a a n
Setiap rumah sakir dapar memilih metode surveilenssesuaidengan keadaan
d an k em am pua n ru m a h s a k i t ma s i n g -masi ng. H al yang penti ng
diperhatikan adalah adanya kegiatan surveilens teratur dan terus menerus
dengan metode yang konsisten sebagaisalah satu upaya untuk menunjang
program pengendalian infeksi. Untuk ini perlu dibuat definisi operasional
untuk seriap jen is ir-r
                       feksi dipan tau/dikendali kan.

     Mengingat mesalah infeksi nosokomial terbesar adalah infeksi luka
operasi,pneumonia, infeksi saluran kemih dan bakreremian-raka   pada tahap
awal dianjurkan agar kegiatan pengendalian ditujukan pada seluruh atau
salah saru jenis infeksi tersebut, selanjutnyadapat dikembangkan pada.ienis
infeksi lain sesuai dengan kemampuan rumah sakit.

    Bilanrana terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) infeksi nosokomial, perlu
diadakan penyelidikrn unuk mengetahuisumber dan carapenularansertaunruk
melaksanakan upaya penanggulangan. Cara-carapelaksanaanpenyelidikan KLB
ciapatdilihat pada buku kumpulan makalah Penataran Surveilens1988 dan buku
SE5 Pedoman Pengamatan den PenanggulanganKLB di Indonesia Direktorat
Epidenriologi dan Imunisasi Direkrorat Jendral PPM dan PLP Departemen
Keschatan RI Juli 1984, serrabuku-buku lain yang terkait.

     Prosedur pelaporan dan cara permintaan bantuan upaya penyelidikan
dan penanggulangan Subdit Surveilens DitJen PPM dan PLP bila iumah
sakit memerlukan dapat dilihat pada bukrr Str.l Petun.iuk Pelaporan KLB
dan'Wabah DitJen PPM dan PLP Departemen Kesehatan RI.

       Dalam pela k s a n a a n s u rv e i l e n s k h u s r-r snya    penyel i di kan K LB perl u
ci i duk ung olelr p e me ri k s a a nl a b o ra ro ri u m . Agar pemeri ksaanl aboratori um
d i d apar k an has i l s e p e rti y a n g d i h a ra p k a n d a n menghi ndari kesal ahanyang
se r ing t er jadi d a l a m p e n g e l o l a a n b a h a n (spesi men) maka komi te
p e ngendalian    i n fe k s i p e rl u p u l a m e n y usun pedoman cara-cara
p enganr bilan ba h a n , p e n y i n rp a rra n c i a n p engi ri man bahan pemeri ksaan
n rik r obiologi.




l0                                                    Pcnccgahan Penluggulangun
                                             I'cdom;ttr        dirn           InfeLsidi ICU
ll.D. UpayaPengendalian
Sebagaimana diurailcan sebelumnya upaya pengendalian/pemberantasan
terutama dirujukan kepadapenurunan laju infeksi luka operasi,bakteremia,
pneun-ronia, infeksi saluran kemih, dan lain-lain. Untuk itu perlu disusun
p edom an s t an d a rc a ra -c a ra s u h a np a s i e nkebi i akan l ai n dan pedoman l ai n
                                    a
y ang m eliput i :
.    Isolasi pasien
.    Teknik aseptikyang adelcuatmisalnya teknik aseptik untuk cuci rangan
     sebelum dan sesudahkontak dengan pasierr,larutan antiseprik dan cara
     Penggunaannya.


Daflar Pustaka
l.                              Prcventionof lrospital-acguircd
     World Healrh Orgrrriz-:rrion.                            infecrions:a pracrical
     grriclc.
            Edisi 2. trrhrrn20O2.Didapat dari: Ulll-: http://v.'ww.who.int/enrc.




                                          lnfcksi di ICU
l'edorn:rnPcnccgrltrtrrlrrr Pcnanggul:lrrgan                                               ll
                                      Bab III

                 (Jniversal                     Precaution
(I(ervaspadaan urnurn                                                Terhad.p
             Infeksi)



lll.A. Pendahutuan

       ada saa,t   seorangpasiendirawar di rumah sakit, maka pasien memiliki
        risiko tertular oleh penyakit yang diderita pasien lain. Tiansmisi
        or gan i s m e p a to g e n i n i b i a s a n y a rerj adi bi l a organi sme yang
t nenem pel pa d a k u l i r p a s i e n , m e l a l u i k o ntak l angsung dengan tangan
paramedis ditularkan pada pasienlain atau ketika organisnredari kulir pasien
m enem pel pa d a p e rm u k a a n b e n d a -b e n da di seki tar kemudi an mel al ui
t angan par am e d i s d i tra n s rn i s i k a n p a d a p asi en l ai n. H al i r,i terj adi bi l a
par am edis t id a l i me n c u c i ta n g a n n v a s a ma sekal i sebel um nrei aw at pasi err
yang berbeda atau tidak rnencuci tangan dengan benar. Pada pasien dengar.r
peny ak ir das a r y a n g l < ro n i s(s e p e rtid i a b e t esmel l i rus, gagal gi nj al kror:i k)
lebih n- r udahti m b rrl k o l o n i s a s il < u m a n d i kLrl i tdal am j trml ah yang cul cr.rp
bes ar , s ehing g a l e b i h me n i n g k a tk a n k e rnungki nan terj adi nya i nfeksi
nosol<onrial.  Oleh sebabiru sangatlah              pentir-rg    r.rnruknrenjagahigiene tangan
par anr edis s e b a g a i s a l a h s a ru u p a y a u n tu k mengurangi i nsi dens i nfeksi
nos ok onr ial, r n e s k i p u n k e g i a ta n i n i re rk e sansepel etetapi sangarberarti .



PcdornanPcnccgalrln
                  dlrr Pcrrrnggulangan
                                     Infcksi di ICU                                              r3
     Saat ini relah terdapat falctayang menyatakan bahwa antisepsisrangan
dapat mengurangi insidens infeksi yang berkaitan dengan pararrredis. Cen-
rer for Disease Control and Prevention    (CDC) pada rahun 2002 melalui
kelompok kerjanya telah mengeluarkan pedon-rantentang higiene (angan
sebagaiusaha untuk meningkatkan higiene tangan praktisi keseharandan
mengur angi t r an s m i s i o rg a n i s me p a ro g e n terhadap pasi ea dan prakri si
kesehatan.


lll. B . R e k o m en d a si H i g i e n e T a n g an

Rekomendasi ini dirancang untuk memperbaiki pelatihan higiene tangan
p ra k t is i k es ehat a n d a n u n tu k m e n g u ra n g i rransrni si mi kroorgani sme
patogen ke pasien. CDC mengelompokkan rekomendasi tersebur menjadi
beberapa kategori:

  Kacegori IA             Sa n g a td i re k o me n d a s i kanuntuk di l aksanakandan
                          d i d u l c u n g k u a t o l e h s tu di eksperi menral ,kl i ni s,
                          a ra u e p i d e mi o l o g i sd e n g an rnetodol ogi yang bai l < .

  K ac egor l I B         Sangat direkomendasikan uncuk dilaksanakan dan
                          didukung oleh beberapasrudi eksperimental,klinis,
                          arau epidelniologis dan kesepakaranteoriris
                          ra s i o n a l .

  K ar egor i I C         f)i p e rl u k a n u n tti k d i l a ksanakan,seperriyang
                          diperinrahkan oleh negara atau peraturan
                          p e m e ri n ta h a ta u s u a tu srandar.

                          Dianjurkanuntuk dilaksanakan didukungoleh
                                                         dan
                          studi klinis atau epidemiologis
                                                        yang sugesriFarau
                          teori rasional.
  Tidak ada               Masalah yang belum terpecahkan.Kegiatan dimana
      mendasi tidak ada fakta-faktayang cukup atau tidak ada
          s tentang manfaat kegiatan tersebut.     1.



r4                                        Pcdontan Pcnccgahan den Penanggulrngan lnfeksi di ICU
Petunjukuntuk cuci tangandan antisepsis
                                      tangan
     I
  .lCu ci tan ga n dengan s abun non- ant im ik r oba d a n a i r a r a u
                                                                                          KATEGO
                                                                                             IA
   ldengan sabun anrimikroba dan air pada saat rangan
    tampak kotor arau terkontaminasi dengan bahan
    yan g me ng an dung pr or ein.
B. lApabila ranganridak rampakkotor, gunakanbahanantiseptil<                                 IA
     berbahan dasar alkohol (tidak mengandung air) unruk
     bersihkan rangan rurin dalarn siruasi klinik lain seperti
     yang digambarkan dalam uraian I.C. sampai I.K dalam
     da ftar b erikur ini.
C . l P adar uang p e r:rw a rad i m:rn ab a l ra n n ri sepri k
                               n                   a           berbahan
      da"^er ,rlkohol (tidak me ngandung air) rersedia,lengkapi
      ora l<tisi ke sc har andc ngan s abun non- anr im i k r o b a u n r u k
      digunakan pada saar r{rngan rampak koror arau rerkonca-
      rninasi dengan lrahan yang me ngandung prorein. Tersedia-
      nya bahan anr;scprik berbahan dasar alkohol dan sabun
      an rirnikrob a dalam unir per awar any ang s am a t i d a k d i p e r -
      lukan, dan dapar rnernbingungkan prakrisi ke.sehatan.
D.lMcskipun bahar,antiseprik
                           yang ridak mengandung men-
                                               air                                           IB
      jadi pilihan, antiseDsisrangan menggunakan sabun anri-
      mikroba mungkin dapar diperrimbangkan dimana kerer-
      batasan wakru tidak menjadi masalah Can kemudahan
      mencapai fasiliras higienc rangan dapar dipasrikan, atau
      perawat renran rerhadap produk anriscprik berbahan
      da sa r all<oh ol y ang digunak an dalam ins r ir u s i .
E.
     lB c r s ihk anr a n g rns e re l a h o n ta kd en g a nl c u l i rpasi en
                                         k                                     (seperri      IB
      dalam pengukuran rekanan dalah dan nadi, lrau mengangkar
      p asien ).
F.                  rlrng:rn serclah kontak dengan cairan rubuh arau                         IA
     lBersihl<rn
           ckskrcsirul'ruh,rncnrbrannrukosa,
      ha.sil                                  kulir yang ridak
                    l<ulirridal<rcrliharkotor
      utuh, sel:rnr:r
C Bersihkan r:rngiln rerlebih dulu jika berpindah dari                                       II
   l>agiar.r
           tul'ruh yang rcrlconraminasi ke bagiln rubuh yang
   [>crsihp aciaw ak r u pc r awr r r r n pas ien.
H. Bcrsihkan tangrn sctclah kcnral< dcngan bcnda mati                                        II
   (rcrmasuk perallran keseharan)di sekirar pasien.



Pcdomrn Pencegahan l)cnrnggulrngen
                 drn              Inlcksi di ICU                                                   l<
L lBersihkanranganscbelum merawarpasiendengan                                             II
      cutropcnia berat atau benruk imunosupresi berat lainnya.
J. lBersihkanrangansebelummenggunakan
                                    sarungtangan                                          IB
       uk memasang kateter inrravaskular sentral.
K. lBersihkan rangan sebelum memasang kateter uriri arau alat                             IB
     invasiflainnyayang tidak nremerlukanprosedurbedah
L. lBersihkantanganscrelah          melepaskan        sarungtangan.                       IB
M . lUnt uk m em p e rb a i k k e ra a ta n i g i e n eta n g a nparaprakri si
                              i           h                                               IA
     kesehatan di unir atau insransi dengan beban kcrja yang
     tinggi Jan intensirasperawaranpasicnyang tinggi, diharapkan
        rus disiap k an behan ant is ept ik ber bahan d a s a r a l k o h o l
      tidak mengandung air) pada saat pinru masuk ke ruang
                                                 lain yang
        ien araupadasisi remparridur, pada lolcasi
        uai, dan dalam kcm:rsan individu yang dapat dibawa oleh
      rakrisikcseh;rran.



2.   Teknik higiene tangan
                                                                                       KATEGOR]

     P,rda rvakru mcrnbersihkln rangan dcngan bahan anti-                                 IB
     septik yrng tidak me nganciung air seperti berbahan dasar
     rrlkohol, tuangkan pada telapak rangan yang satu kemudian
     gosok kcdua tirngan bersamaan, melipuri seluruh permukaarr
     ta ng an da n jar i, hingga m enger ing. I k ut i v o l u m e
     Penggunaan I'ang direkomendasikan oleh pabril<.Jika volume
     sabun bcrbahan dasar alkohol yang digunakan mernedai,
     tan ga n a ka n k er ing dalam wak t u l5 s am pai 2 5 d e t i k .
B.   Pad a waktu m enc uc i t angan dc ngan s abun n o n - a n r i -                      IB
     mikroba arau sabun anrimikrob:r, perrama-rarna basal-ri
     ran ga n d en gan air lr angar , r uangk an 2 s am p a i 5 m l s a b u n
     pada tangan dan gosok kedua rangan dengan cermar selama
     min imal l5 dc r il< , m c lipt r t i s elur uh per m uka a n r a n g a n d a n
     jrrri. Bilas t'.rIrgan clcng:rnair hangar d:rn l<eringl<an         dengan
     lr:rnd ul<.Cun r r lc an handuk pada wak t u m em a r i k a n k c r a n a i r .




r6                                            PcdomanPcnccgaharr Pcnanggulangan
                                                              dan             Infcksi di ICU
3. Antisepsis tangan dalam operasi (surgical hand antisepsis)

                                                                                                 KATEGORI

A . Sangar direkomendasik;rn untuk melakukan anrisepsis(angan                                       IB
     dalam operasi baik deng,rrn     menggunakan sabun cuci rangan
     berbahan dasar alkohol atau sabun anrirrrikroba sebelum meng-
     gunakan saruns tilngrn steril pada waktu melakukan operasi.
B.   [Jn ruk me ngur : r ngi jum lah k um an y ang m u n g k i n d i l e p a s -                    l t1

     kan dari tang,an praktisi kesehatanyang melakukan
     operasi, untr,rk meminimalkan kerusakan kulit yang ber-
     hubungan dcngan antisepsistangan dalam operasi maka
     rangan dibcrsilrkan tartpa menggunakan sikat.



4.    Pemilihan bahan untuk higienetangan
                                                                                                 KATEGORI

A . Sed iakan p r oduk higiene t ang: r ny ang baik b a g i p r a k t i s i k e -                   IB
    seh :rranyai t u pr oduk y ang hany a t idak / s c d i k i r m e n i m b u l k a n
    iritasi, tcrrrt:rnrasck:rli p:rda rvrktu digunakan bcberapa kali
    drrlan'r rtig:rs.
 B- LJrrtuk me i nr r lc s ir nalk an nc r - im aanpr odu k h i g i e n e r a n g : r n
                                    pc                                                              IB
    olch praktisi kc.sehrrr:rn,    pcrlu d ipcrrimtrangakanpengum pulan
    lren .lap ar dar i per awat r ent ang r as a,bau di r n r o l e r a n s i k u l i r
    aras l>eberap,r   produk. Harga produk higiene rangan seharusnya
    riciak me nja di f ak t or ur am a dalam pem ilih a n p r o d u k .
 C. Sct>clullr mcrntru,rt keputus,rn untuk membcli, perlu di-                                         II

    lakukan evalurrsikcmasan penampung (dispenser) produk
      dari berbagai produsen untuk memastikan fungsi dan pe-
       ng elu ara n volr r m e d: r lam jum lah y ang t €p : l t .
 D    Ja ng an mcn am b: r hk an s abun pade penanr p u n g y a n g b e l u l n                     I l.a1


     I koson g.
     lHa l ini d ap r r m eny c t r al' r k an : r bun t er k ont a m i n a s i b a l <c e r i
                                              s




                                                    lrrfcksi tli ICU
l)cdorrrlrr l)cnccqrltart rlrtt l'cnrtnugrtl:ttrg;rrr                                                        t/
5. Aspek lain dari higiene tangan

                                                                                       KATEGORI

     fangan menggunakan kuku palsu pada saat memberikan
     perawacan pada pasien                                                                IA
B.   Panjang kuku harus kurang dari 7a inci                                                II
C.   Pergunakan sarung tangan apabila diketahui akan terjadi                              iC
     kontak dengan darah atau bahan infeksius lain, membran
     mukosa da n k ulit t idak int al< .
D.   Lepaskan sarung tangan setelah merawat pasien. Jangan                                IB
     pergunakan sarung tangan yang sama daiam me rawat lebih
     da ri satu pa s ic n, dan jangan c uc i s ar ung r an g a n d a l a m
     mcra wat a ntar pas ien.
ts,, Ga nti saru ng t angan s elam a nr er awx t pes ien j i k a b e r p i n d a h         II
    dari l>agianrul>uh yang tclkonranrinasi ke bagian cubuh
    ya ng b crsil..
 F. 'fidak ada rcl<omcndasi (cnrang pemakaian cincin.                                     Tidak
                                                                                           ada
                                                                                       rekomendasi


6. Perawatan kulit

                                                                                       KATEGORI

 A . Menyediakan lotion atau krim tangan bagi praktisi ke-                                 IA
     seiracanunruk meminimalkan dermaticis kontak iritan kardna
                                                                                  l
     an tise psistangan at au c uc i t angan.
 B . Mengunrpull<an inforrnasi d:,ri produsen tentang berbagai                             IB
     cFck s;rnrp ing lot ion, k r im at au anr is c ps ist a n g a n b e r b a h a n
     dasar aikohol yitng rrrurrgkin nrenriliki eGk pe rsisten atas
     p€nggunaan s:rbun anrinrikroba pada suatu insrirusi.




l8                                             PcdornauPcnccgehenden PcnanggulanganInfelsi di ICU
7. Program pendidikan dan pelatihan praktisi kesehatan

                                                                                     KATEGORI

    Sebagai bagian d:rri keseluruhan prograrn untuk memper-                                  II
    baiki higiene tangan praktisi kesehatan,pelatihan berdasarkan
    je nis perawatan yang dibe rikan pada pasien yang dapat
    men ye ba bk an k ont am inas i t angan, s c r t a k e u n t u n g a r , d a n
    l<e
      rr-rgiandari bebcr'trpame todc yang digunal<an dalam mem-
    bcrsihkan rangan.
B . Mcmantau ketaatan pral<tisikcsehatan dalam melaksanakan                                  IA
    higiene rangan yang direkomendasiken dan membe rikan
    informasi tcnrang performa mereka.
C. Menrorivasi pasien dan keluarga mereka untuk meng-                                        II
    ingatkan prakrisi kesehatan membersihkan rangan mereka
    terlebih dahu!u,


8. Prosedur administratif


     Mcningkatkan kctaaran atas higiene r:rngan scbagai salah s:rru
     prioritas instirusi dan mcny,:diakan dukungan adminisrrarif
     serta sumlrer kctrangan.
     Mclaks:rn ek an pr ogr am m ulr idis iplin y an g d i r a n c a n g u n t u k
     me ningkatkan keraatan prakrisi keseharanaras higiene
     tangan yang di rckomcndasikan.
     Seiragai begian dari program mukidisiplin unruk memperbaiki
     kcraatan higicnc tarlgan, harus disediakan suaru bahan anri-
     seprik ranpa air bagi praklisi keschatan yang dapar diperoleh
     dengan ccpar, scperri produk sepcrri sabun cuci rangan berbahan
     dasar alkohol.


9. Hasil akhir atau proses penilaian
 Mengembangkan dan melaksanakan suatu sistcm peni!aian unruk meningkackarr
 kera ara n p rakt is i k es ehar an dalam m elak u k a n h i g i e n e r a n g a n s e p e r r i y a n g
 direkomenclasikan. Sebagaiconroh seperri yang rcrrera di bawah ini:
 l- Me men rau dan m c nc ar ar k elaar an s eb a g a i j u m l e h h i g i e n e r a n g a n y a n g




PedomanPcnccgllnn rhn Pcn:rnggulangrn
                                    lnfcksi di ICU                                                   l9
   d ilakukan o lelr r iap or ang/ jum lah higiene r a n g a n , t i a p b a n g s a l a r a u r i a p
   pelayanan. Memberikan ranggapan kepada mereka tentang tindakan mereka.
2. Memanrau volume sabun cuci (angan berbahan dasar aikohol (arau sabun
   yang digunakan untuk cuci tangan atau antisepsis tangan) yang digunakan
   per 1000 hari perawatan.
3. Memantau kelaatan rerhadap peraturan tentang pemakaian kuku palsu.
4. Bila terjadi kejadian luar biasa infeksi, iakukan penilaian kecukupan higiene
   tangan praktisi kesehatan.



                 CDCtentanglsolasidi RumahSakit
lll.C. Rekomendasi

1. Kontrol Administratif
                                                                                           KAI I,GOI(I


A. Pen did ika n
      Keml>lngk:rn suatu sistcm untuk memastikan bahwa pasien                                   IB
      rumrh sakir, pr ak t is i k c s eh: r t andan pengunj u n g m e n d a p a r
      pendidil<an rcrrtang kewaspedaandan trertanggung jawab
      unttrk rrelaksinakannya.

B.    Ketaatan terhadap kewaspadaan
      Evaluasi secaraperiodik ketaatan terhadap kewaspadaan,                                    IB
      dan gunakan penemuan untuk perbaikan langsung.


2. Standard Precautions (Standar Kewaspadaan)
      Gun akan standar d pr ec aur ions unt uk per aw a r a n s e l t t r u h p a s i e n .

                                                                                           KATEGORI

 A.   Cuci tangan
 t.   Cu ci ta ng an s et c lah m eny ent ulr dar ah, c ai r a n t u b u h , c a i r a n        IB
      sckresi, ckskresi dan produk yang terkontaminasi baik dengar
      mcngg,unakan sarung tangrn arru ridak. Cuci tangan segera
      setel.rh sarung tang:rn dilepas, setelah kontak dengan pasien
      serta men gh i ndrrri pen.rndahan m ikroorganisme terhadap
                                  i
      pa sie n lain dan lingk ungan.




2A                                               PcrlornrnPcnccgrhan                lnfeksi di ICU
                                                                   dan Penanggulangan
z. bunarcln saDunnon-anttmtkrobauntuk cucl ungan secara
                                                      rutin                         llt
3. Gunakan sabun antimikrobaarausabunanrisepsis
                                              bebasair                              IB
     untuk kondisi rercenru(conrohapabilaterjadiwabah)

B.   Sarung iangan
     Gunakan sarung rangan (bersih, ridak sreri! sudah cukup) pada                  IB
     saat menyenruh darah, cairan rtrbuh, cairan sekresi,ekskresi
     d an pro du k y ang t er k ont am inas i. G unak an s a r u n g r a n g a n
     b crsih p ad a s aar s ebelum m eny ent uh m uk o s a m e m b r a n d a n
     kulir ridak utuh. Ganri sarung rangan dianrara pelalcsanaan            rugas
     atau prosedur pada pasien yang sama setelah konrak dengan
     b ah an ya ng m ungk in bany ak m engandung m i k r o o r g a n i s m e .
     Segera lepasl<ansarung rangan setelah digunakan, sebelum me-
     nycntuh bcnda-bcncia yang ridak rerkonraminasidan permukaan
     lingkung:,rn dan sebelum bcrpindah ke pasien lain, dan cuci
     rangan segera untuk menghindari perpindahan mikroorganisme
     ke pasien lain dan lingkungan.
     C. Masker. pelinJung mara, pelindung mtrka
     Gunakan masker dan pelindung mara atau pelindung muka                          IB
     u ntu k melin dungi m em br an nr uk os a m at a , h i d u n g d a n
     rnulut selama perawar:rn pasien yang mungkin nrenyebabkan
     percikan darah, cairan rubtrh, cairan sekresidan ekskresi.

D.   Baju
     Gun akan b aju bc r s ih unr uk m elindungi k u l i c d a n m e n c e g a h
     baju mcnjadi koror selama prosedur dan perawaran pasien
     yang discbabkan karena percikan dirrah, cairan tubuh,
     cairan sckrcsi dan cliskresi. Pilih baju yang repar unruk
     rnclal<ukrrnl<cgiar:rn  agar rcrlindung dari pcrcikan.
     Lcpaskan baju yang tcrkonraminasi sesegcra mungkin dan
     cuci tangan unruk menghindari pemindahen mikroorganisme
     ke pirsien lain arau lingkungan.                                               IB

E.   Alat-alat perawatan pasien
     Tangani alar-alar pei'awaran pasien yang rerkonraminasi oleh                   IB
     darah, cairan rubuh, sekresidan ekskresi dengan benar
     sel'ringgadapat nrencegah pajanan rerhadap kulir dan




PcdonranPencegahan
                 tlrn Penanggulurgur
                                   Infcksi di ICU                                         zl
       memDran rnukosa, kontaminasi pakaian, dan
                                                  pemindahan
       mikroorganisme ke pasien lain dan lingkungan. p"srik"n
           yi.".gdapardipakai kembaliridakiig,rn'akansebelum
      i?,
      djbersihkandan diproses  denganrepat.p'asrikanp€nggunaan
      alat-alarsekalipakai dibuangdenganb.n"r.

      Kontrol lingkungan
      Pasrikanrumah sakirmemiliki prosedur               yangadekuar     untuk
      perawaran    rurin, pembersihan       dan desinFcksi    permukaanling_
      kungan, rempar tidur, peng:rman            remparlidur, pe.alara.,      l"rin
      c ii s am pingr cmp a rti d u r d a n p ..-u k ." n l a i n yang
                                                                       seri ng
      disenruhdan memasrikan            prosedurrersebur        dir"ripk"r,."

     Linen
     Penanganan, transportasi dan pengolahan
                                                linen yang rcr_
     konraminasi oleh darah, cairan rubuh, sekresi
                                                    dan ekslkresi
     dengan yang repar dapac mencegah pajanan kulit
                                                    dan membran
     mukosa dan mengkonraminasi pakaian serta
                                                    menghindari
     pemind:rhan mikroorganisme ke pasien lain
                                                  dan liigkungan.

      Kesehatan kerja dan patogen yang menular
                                                              melalui darah
      Haci-hari menggunakan jarum, skalpcl dan
                                                             alar arau benda
      tajam lain unruk.menghindari rerjadinyaluka,
                                                              saarrnemegang
      benda rajam serelahmelakul<antindakan, saar
                                                              mcmr;ersihkan
      rn srmme n yan g s udah digt r nak an dan s aar
                                                            membuang jarum
      ya ng su da h d igunak an.
                                     J angan m c nggant i uj u n g j a . u m y a n g
     sudah-digunrrkan, gunaka., du, ,"ngrn atau
                                                            reknik lain unruk
      me ng hin da ri r er r us uk jar um .
                                            J angan m c lepas k a nj a r u m d a r i
     dari spuir yirng relah digunakan, ir.-","hirr,,
                                                                 membeng,
     kokl<an, arau memanipulasi jarum dengan menggunakan
                                                                            ,"ig".,.
     Lcrakkan spuir dan j:rrum sekali pakai, lkalpel ji.,
                                                                  b..,d" ,rja"_
     lainnya pada renrpirr yang repar,
                                              ;,ang rerleiak sedekar
     dengan renrpiu pcnggunaan alat t"r..bur dan                        -rrngLin
                                                            remparka., ,p*.ri,
     dan jarum yang dapar digunakan ulang ke dalam
                                                                 penampung
     un ruk ke mud ian dibawa dan dipr os es ulang.
     Cunakan mourhpieces, kantong resusitasi
                                                                          venrilasi
     lain sebagai alrernariFdalam memberik"n "t.r._ip.rrl"t"r,
                                                        b"nru"r, pernapasan




22                                            PcdornrnPcncegrlran pcnrnggulangan
                                                                drn            Infcksi di ICU
       dar i m ulur k e mu l u t d i d a e ra h a n g mu n g ki n memerl ukan
                                               y
       resusitasi.


I      Penempatan pasien
       Tempatkan pasien yang menyebabkan kontaminasi atau                                        IB
       yang berisiko menyebabkan kontaminasi dalam ruangan tersen-
       d iri. Bila tida k t er s edia r uangan k hus us , k o n s u l t a s i k a n
       de ng :tn p etu gas pengendalian inf ek s i m eng e n a i P e n e m P a t a n
        pa.siendan alternarifnya



3. Kewaspadaan penularan melalui udara (airborne precautions)



A. lPe ne mpa tan pas ien
    . I T . *p" t k an p a s i e np a d aru a n gk h u s u s a n g memi l i ki fasi l i tas
                                                            y
      Ip.*rrr,".t"tt    tekananudara negatifpadalingkungandengan
        se kita r 6 -l 2 k ali pc r r uk ar an udar a per jam d a n P e m a n t a u a n
        efisicnsi filrrasi trdara sebelunl udara disirkulasikanl<eruangan
        lain di rurnah sakit. Pinru ruangan harus selaludalam keadaan
        terturup bila pasienada di dalam. Jika ridak tersedia        ruang khusus,
        remprtkan pasicn di dalam ruangtrn bcrsatnapasienlain yang
        terinfcl<si de ngan olganisme sam'.r          atau ,iika tidak tersedia
         ru irng kh usus , k ons ulr as ik an dengan Pet ug a sp e n g e n d a l i a n
         infcksi nrcngc nai pc nem pat an pas ien dan a l t e r n a t i f n y a '

         Pelindung respirasi
         Cunakan pelindung respirasi kerika mer,rasuki ruang.rn
         pa sie n ya ng diduga m ender it a TB par u y a n g i n f e k s i u s .
         Oran g ya ng r ent an t idek diijink at r m as uk k e r u e n g p a s i e n
         ya ng me nd er it a c am pak , r ubella at au v ar i c e l l aj i k a m a s i h
         tcrd ap at pe r awat lain dan jik a nr em puny a i d a y a r a h a n t r r b u h
         yan g b aik. J ik a or ang y ang r c nr : r n t er pak sah a r u s r n a s u k k e
         dalam ruangan h:rrr,ts      menggunrrkan masl<erpelindung.
         Oran g yan g k et r al t er hadap c am pak at au va r i c c l l a t i d a k p e r i u
         rnenggu naka n nrlslccr.



                                                                                                      11
                                         lnlcksi di ICU
    l)edornanPenceg,rlrrtr Pcn;rngqulrrngan
                        tlrrn
C . Transportasi pasien
    Batasipergerakandan pemindahanpasien dari ruanganhanya                          IB
    untuk tujuan penring.Jika diperlukandan memungkinkan,
    minimalkan percikandroplet pasien  denganmenggunakan
    masker operasi.

D Kewaspadaantambahan untuk mencegahpenularan TB
     Untuk pencegahanpenularanTB, gunakanperunjuk yang
     direkomendasikan
                    oleh CDC.



4. Kewaspadaan terhadap droplet
Sebagai rambahan, gunakan kewaspadaanrerhadapdroplec atau sejenisnya unruk
pasien yang dikerahui arau diduga rerinfeksidengan mikroorganisme yanB menular
melalui dropler (parrikel >5 mm) pada saar pasien baruk, bersin       bi.".".
                                                                ",",r

                                                                                 KATEGORJ

A . Penempatanpasien
    Tcmparkan pasiendi ruangankhusus.                 jika ridak tersedie           rh
                                                                                    llf

    ruang khusus,remparkanpasicndenganpasienlain yang
    mcnderita infelai denganjenis organism€                 yangsama(anpa
    adanyainfeksi lain. Jika ruangkhususridak rersedia peng-      dan
    gabunganpasienridak memungkinkan,perrahankan                     jarak
    minimal 3 kaki anrarapasien         yang rerinfeksi       dengan
    pasienlain dan pengunjung.Penanganan                   khususvenriiasi
    t idak dipedu k a nd a n p i n tu b o l e hd i b u k a .

B.   Masker
     Disamping pcnggunaan masker ynag sesuaisrandar                                 IB
     kervaspadaan, gunal<an masker bila bekerja dalam
                                                      .iaral<
     kaki dari pasien yang rerinFeksi.


C . Tiransporr pasien
    B:rtasi
          pcrgcrakan    d:rnpenrindahan            pasien dari ruangan
                                                                     hanya          IB
    unr uk t ujuan y a n g p e n ri n gs a j a J i k a me mungki nkan,
                                               .                       pasi en
    dapar n-renggunakan      maskerunruk meminimalkanpercikan.



24                                        PcdomanPenccgahan
                                                          dan ltcnanggularrgan
                                                                             Inleksi di ICU
5.   Kewaspadaan Kontak
 .   Kewaspadaan terhadapkonrak bagi pasienrerrenruyang dikerahuiaraudiduga
              mikroorganisme
     rerinfel<si                    yang dapar dirularkanmelalui kontak [angsung
     dengan pasi e n (ra n g a n a ra u k u l i r k e k u l i t yang terj adi saar mel akukan
     pcrawatan)arau konrak ridak langsung             denganmenyentuhpermukaan
     lingkungan araualat-a[atunruk merawatpasien.

                                                                                             KATEGORI

A . Penempatan pasien
     Temparkan pasien di ruangan khusus. Jika tidak tersedia                                    IB
     ruang khusus, temparkan beisama dengan pasien yang
     terinfelcsi dengan mikroorganisme yang sama, ranpa ada irrFcksi
     lain. Jika hal ini ridal< rercapai,temparkan pasiendengan mem-
     pe rrimba ng k an epidem iologi m ik r oor ganis m e d a n p o p u l a s i .
     Disarankan untuk melakukan konsultasi dengan perugas
     pengendalian infcksi sebelum penemparan pasien.

B . Sarung tangan dan cuci rangan
     Cun rrl<a nsa r ung r : lngan ber s ih, non s t er il s a a t m e m a s u k i              IB
     ruangan. Sclrrma mcraw:lr pasien, ganfi sarung rangan setelah
     l<ontal<dengan lrairan inFel<sius        yang mungkin mengandung
     mikroorganisrrre dcngan konsenrrasi ringgi (fesesdan
     dra ina se lul < a) . Lepas s ar ung r angan s ebelu m m e n i n g g a l k a n
     ruangan pasien dan cuci rangan segeradengan sabun
     an timikro ba at au c air an anr is ept ik y ang r i d a k m e n g a n d u n g
     air. Serclah itu, pastikan rangan ridak menyenruh permukaan
     lingl<ungan yang mungkin terkontaminasi arau benda-
     benda yang ada di ruangan pasien untuk meng-
     hindari penularan mikroorganisme ke pasien arau ruangan lain.

C. Baju
     Disamping penggunaan lraju sesuaidengan standar kewaspada-                                 IB
     irn, gunakan baju (bersih, non-stcril sudah cukup) saar
     memasulci ruang:rn jilca anda rnenduga baju anda akan konrak
     d en ga n p asic n, linek ungan, benda- bc nda d i r u a n g p a s i c n a r a u
     p asicn d en gan ink onr inens ia, diar e, ilc os r o m i , k o l o s t o m i a r a u




Pedorrran Pcrrccqrlrrn d:rn Perrlnggulangarr Infcksi di ICU                                          )s
     drarnase luka yang ndak dlturup. Lepaslen baru sebelum
     meninggalkan ruangan pasien, kemudian pastikan baju
     tidak menyentuh pcrmukaan lingkungan terkontanrinasi
     untuk menghindari penularan mikroorganismc ke pasien
     a tau ru an ga n lain.

D    Transportasi pasien
     Batasi pergerakan dan pernindahan pasien dari                                              IB
     ruangan hanya untuk tujrran yang penting saja.Jika
     memungkinkan, pasien dapat menggunakan masker unruk
     menrinimalkan percikan.

E.   Peralatan perawatan pasicn
     Jika memungkinkan gunakan pcralacanhanya unruk satu
     pasien (atau pasien te rinfeksi dengan kuman perlu
     kewaspadaan) untuk menghindari penggunaan bersama.
     Jika penggunaan alar secarabersama tidak dapar dihindari
     maka pembersil.ran dan desinfeksi secaraadekuat harus
     dilakukan sebelum digunakan kepada pasien lain.                                             IB

F. Kewaspadaan tambahan untuk mencegah meluasnya
     resistensi terhadap vancomicyn
     Konsul rasikan densan CDC




lll"D. RekomendasiPencegahan
                           Infeksiuntuk Para
       Praktisi Kesehatan
Elemen-elemen pelayanan kesehatanuntuk pengendalian infeksi

1. Rencana koordinasidan administrasi

                                                                                              KATEGORI

A. Mengkoordinasikan pembuatan dan perencanaan                                                   IB
     keb ijakan tcn t ang adm inis t r as i r um ah s ak ir b a g i p a r a p r a k r i s i




26                                                PcdomanPcncegrhandan Penanggulangan
                                                                                    lnfcksi di ICU
     kesehatan, tenaga klrnrs PengenclallanlnleKsl, tenaga
     Farmasi,berbagai deparcemen di rumah sakit,
     dan pihak luar yang rerkair langsung. Termasul<juga para
     te naga yang dibayar maupun ridak dibayar, seperti para
     relawan, renaga magang, dokter dan para cenagakonrrak.


B,   Menciprakan sistem dan kebijakan terrulis yang perlu                                    IB
     mcnd ap ar p er hat ian t im pengendalian inf e k s i , y a 't t u r e n r a n g :
     l. InFcksi pada prakrisi kesehatan (termasuk para relar,r'an,
        tenaga magang, rcnaga kontrak dan renagadi luar
        rumah sakir) yang memerlukan pembatasan atau
        p emb cr hc nr ian k er ja.
     2. Membersihkan ruangan serclah adanya penyakit inieksius,
        pekerjaan yang tcrkait infelcsi dan pajanan, jika diperlukan
        hasil penclitian epidemiologis.


C. Mengem ban gkan protokol un ruk meningkatkan koo rd inasi                                 IB
     antara program praktisi kesehatan, program pengendalian
     infe ksi da n depar t em en lain y ang t er k eit .


2. Evaluasi penempatan

                                                                                          KATEGORI

     Scbelum scorirng perug:is rnulai melakukan tugas, iakukan                               IB
     pe rigu mpu lan dlt a k c s ehr r r an.Dac a k es e h a t a nm c l i p u t i :
                                   i
     I . Sta rus in. r unis : r sat au r iway at peny ak i t y a n g d a p a t
          diccgrl.r clcngan vaksinasi, sepcrri cacar, campak, rubella
          d rrrr h c par ir is 13.
     2. Bcrbag:.rikcadaan yang dapar mcnjadi faktor prcdisposisi
          unruk rertular atau menularkan penyakit infeksi.

B . Lakukar.r pcmeriksaan fisik dan laboratorium langsung                                    IB
     pada para praktisi bcrdasarkan data kesehatan yang ada.
     Pemerikaan ini juga dimalsudkan untuk mendeteksi kondis
     ya ng mu ng k in m eningk at k an k er nungk in a n p e n u l a r a n
     penyakit ke pasien arau menyebabkan kerentanan rerhadap



PedomanPenceglhandrn Pcnrnggulangan
                                  Infcksi di ICU                                                  27
     infeksi dan juga sebagai
                            dasaruntuk menenrukan
     kemungkinan terjadinyamasalali       dengankerja.
                                    terkaic

C Pelaksanaan pengujian kesehatan ini tidak hanya untuk dasar                     IB
     kebutuhan evaluasi p€nempatan saja, misalnya dibutuhkan
     juga untuk nrengevaluasi hubungan kerja dengan sakit atau
     untuk mengetahui penyakir infeksi.


D    Jangan lakulcan kultrrr rutin pada pcrugas(misal kultur hidung,              IB
     tenggoroken atau feses)sel>agai   bagian cvaluasi penernpetan.

E.   Lakukan skrin ing r ur in TB dengan m c lak uk an t c s m a n t o u x ,      iI
     mcng gu n:rkan P PDS 5 unit pada pc t ugas k em u n g k i n a n
     besar l<on tak e rat dc ngan pender ir a TB.

F. Mclakukan .sl<riningserolcgis untuk penyalcit yang dapat                       II
     dicegah dengan vaksin, seperti hepatitis B, c:rmpak,
     gondong, rubella dan varicella jika hal ini ternyara
     cost-effectivc dan mcnguntungkan untuk para praktisi
     kesehatan.


3. Pendidikan kesehatandan keamananuntuk petugas

                                                                               KATEGORI

A,   Menyediakart pclarihan d:rn pendidikan mengenai                              IB
     pengcndalian infeksi yang memadai dan sesuaidengan
     pekcrjaan, sehingga para petugas dapat mempertahanakan
     dan meningkarkan pengerahuan mcreka tentang bagiar-r-
     ba gia n pcnrin g dalam pengendalian inf c k s i s c p c r t i :
     l.   Cu ci ra ng an.
     Z- Cara penularan inFcksi dan penringnya ketaarar' dalam
          melaksanakan srandar kcwaspadaan penularan penyalcit.
     3. Pentingnya pclapolan penyakir atau kondisi tertentu
          (apakah tcrk:rit dengan kerja atau didapat dari luar
          rumah sakit), seperti lesi kulir vesikuler, pusrular
          generalisata, kuning, penyakit yang tidak menghilang




28                                         Pcdomrn Pcnccgahrn                lrrfeksidi ICU
                                                            dan Pcnanggulangan
         d ala m wa k t u y ang s ehalus ny a ( bat uk > 2 m i n g g u ,
         penyakit gas t loint es r inal,dem am > 39, 3"C ( 1 0 3 'F ) y a n g
         be rlan gsung lebih dar i 2 har i) .
     4 . Pe ng en da lianTB.
     5. Pcnringnya ketaatan dalam melaksanakan kewaspadaan
         srand:rr dan melaporkan paparan terhadap darah dan cairan
         rubul.r untrrl< menccg:h penularan penyakir melalui darah.
     (t. Pcnting,nya lcoordinasi dcngan perugas pengendalian
         infcksi selarna penyelidil<an adanya wabah.
     7. Pentingnya rnelal<ulianprogranr skrining dan imunisasi
         pada petugas.


B.   Pasrikan semua pcrsonil mengetahui apakah mereka dalam                         IB
     kondisi sehat arau sedang dalam pengobaran yang membuat
     mereka lebih rcncan unruk terrular atau menularkan pcnyakir,
     sehingga mcreka dapat mengikuti rekomendasi unruk
     mengurangi risiko tcrtular atau menularkan penyakir
     (misaln ya p cn gajuln pengundur an dir i dar i p e k c r j a a n ) .

(-   Buar kebi.jakan terrulis dan prosedur tentang pengendalian                      IB
     infel<silragi sclululr prakcisi kcseharan.


D.   Scdiakan informasi dcngan bahasa <j;rn isi yang sestrai                         IB
     d crrg an rin gkar pendidik an par a pr ak c is i k es e h a t a n .




lll. E. PencegahanTransmisi MikroorganismePatogen
dari Lingkungan
Untuk n'reminir'ralkanrransmisi rnikroorganisme patogen yang berasaldari
peralaran dan lingkungan harus digunakan beberapa metode, meliputi
pembersihan, desinFeksi dan sterilisasiyang adekuat. Kebijakan terrulis dan
SOP harus diburat pada setiap fasilitas keseharan.

   P em ber s iha n (c l e a n i n g ) a d a l a h p ro s es fi si !< a arar.rl ci nri a rrntul <
mem ber s ihl< anb e n d a -b e n d ay a n g mu n g k i n terkontami nasi ol eh n' ri l < roba



Pcdonrrn Pcrrccg.rh,rn Pcrr,trtugulrrrgrn
                    tlrtr              Irrf.ksi di ICU                                      ?()
patogen,sehinggaaman untuk proses-proses
                                      selanjutnya.

Desain ICU
 Berikut ini adalahdesainICU yang direkomendasikan      unruk mengen-
dalikan infeksi:
 '   Luas seriapkamar sekirar20 m2 sedangkan    unruk ruang isolasituas
    satu kamarkurang lebih 22 m2.
 "   Unruk setiap8 remparridur harusrersedia ruang isolasi.
                                              l-2
'   Jarakremparridur sarudenganrempartidur lain kuranglebih 10-l2
     kaki.
.    tjnruk seriapremparridur, rersediafa.silims
                                               desinfekranrangan.
.   Lanrai dan dinding harusdapatdicuci/dibersihkan.
.   Furnirur yang digunakanharusminimal.
'   Pera-laran monitor harus tidak bersentuhan   dengan lantai, mudah
    dipindahkan dan di bersihkan.
'   Peralatanp,engisap lendir dan sphygmonra'omerer    harus menempel
    pada dinding dan mtrdah dilepaskan.


Pembersihanlingkungandi tCU
Pem ber s ihan ru ri n d i l a k u k a n s e ti a p h a r i . S embi al an pul uh persen
mik r oor ganis m e b e ra d a d a l a rr k o ro ra n y e ng kasar mara, di mana ruj uan
p e m ber s ihan r trri n a d a i a h u n tu k m e n g h i l angkan kororan. H arus ada
kebija kan rnen gen ai frekuensi pernbersi                han, bah an-bahan pembersih yang
digunakan unruk dinding, lantai, je'dela, rempar ridur, gorden, furnitu.,
kanrar rna'di dan alar-alat nredis yang dapar digunakan kembali. salah
sa t u alt er nat if u n tu k d e s i n fe k s i d a l a m p e mbersi han l i ngkungan adal ah
Jengan menggunakan air panas. U'tuk peralatansanirasigunakan air panas
dengan suhu 80"c selama 45..60detik. untuk peralatan*.*"rnk                          g.,n"k".,
su hu 8o" c s elam a 6 0 d e ti k . S e d a n g k a n u n ruk l i nen gunakan suhu
                                                                                        70" c
se lam a 25 m enir a ra u s u h u 9 5 " C s e l a n ral 0 meni r.




30                                        I'ctlotrr:rn
                                                     Pcnccgahln
                                                              drn Pcnanggulrngan
                                                                               lntcksi di ICU
    Desinfeksiperalatanyang digunakanpasien
    Des inf ek s i adala h s u a tu p ro s e s me ma ti k a n sebagi an mi kroorgani sme
    d a ri alat m edik . D e s i n fe k s i d a p a t d i l a k u l can dengan menggunakan
    p a nas at au bah a n k i mi a . D e s i n F e k s i d e ngan menggunakan panas
    mi s alny a air m en d i d i h d e n g a n s u h u 1 0 0 " C atau pasteuri sasi dengan
    su h u 60- 80" C.


    Prosedur desinfeksi harus rnemenuhi kriteria:
    .   M enr bunuh m i k ro o rg a n i s m e
    .   Mempunyai efek derergen
    .   Itlampu memusnahkan sejumlah bakteri ranpa bantuan sabun atau
        deterjen. Derajat kekerasanair, sabun dan protein dapat menghambat
        kerja desinfekran.

    U nr uk dapat dipa k a i d i l i n g k u n g a n ru m a h s aki t desi nfekran harus:
    .     M udah digu n a k a n
    .     Tidak mr-rdahmeng'.rap
    .     T idak bc r ba h a y a trn ru k p e ra l a ta n ,p e ru g asdan pasi en
    .     B ebasdar i b a u y a n g ti d a k me n y e n a rrg k an
    "    E F ek r iF digu n a k a nd a l a m w a k tu s i n g k a t



                  rr
    Desi n Fel<ra berdasa        rkrn kemampuan desin feksi terhadap m ikroorganisrn
    d i bagi at as :
    l.    Des inf ek s i t i n g k a r ti n g g i (h i g h l e v e l d i s i nFecti on)
    2. Desinfeksi tingkar sedang (inrermediate level disinfection)
-   3. Desinleksi ringkat rendah (low level disinFecrion)




                      dln Penirngguhngrn
    Pedomrn Penccqrlran                Infcksi di ICU                                       3l
Th bel l. A lc r iv ir as p e k tru n r a n gd i c a p a io l c h d e si nfckran
                        s             y
Tingkat                 A k ri v i ra s                  Kandungan                 Faktor yang
desinfeksi              spe ktrun-r                      zar aktif                 mempengaruhi
                        desinfcktar.r                                              efektiviras
                                                                                   desinfektan

Tinggi                      Spora                          Asam perasetat           Konsentrasi
                            ikrobakterial                  Chlorine diox            Vaktu kontak
                                                           ide                      Suhu
Se dang                     Virus                          F o rm al dehi d         Adanya bahan
                            Janru r                                        hi
                                                           G l u t aral de d        organili
                            B:rkre li                      N a rri um               pH
                                                           h i p okl ori t          Adanya ion
                                                           Hidrogen                 kalsiurn atiru
                                                           peroksida                magnesium
                                                           yang srabil              Formulasi
                                                           succinaldehyde

Rcnd:rh                     Tubcrkolosis                   Turunan fenoi
                            Vi ru s                        Al k ohol bai k
                            Jamur                          e ti l m aupun
                            Bakreri                        isopropil.


                                ri
                            Bakre                          Amoni um
                                                           kuartener
                                                           Amphiprotic
                                                           Asam amin<r



Sterilisasi
Ste r ilis as iadalah s u a ru p ro s e sp e n g o l a h a n a lar arau bahan dengan rui uan
mem ar ik an s c mu a b e n tu k l c e h i d u p a n mi k roba rermasuk endospora.
Ste r ilis as i adalah c a ra y a n g p a l i n g a ma n d an eFekri f untuk pengel ol aan
a l a t m edis penti n g . S re ri l i s a s i d a p a t d i l a kukan C engan proses ki mi a
rn aupun f is ik a



32                                               PcdonranPcnccgahan Penangguhngrn
                                                                  dan           Infeksidi ICU
                                                               p
Tabel 2. T ingk a r c i e s i n fc k s i n tu k p e ra l a ta n asi enberhubungandcngan ti pe
                                     u
Pcrawatan
 Ala t yrng dig un ak an               Kelas                    Tingkat risiko   Tingkar
                                                                                 desinfieksi

 In srru men op er as i y ang          K ri ti k rl             Tinggi                     atau
                                                                                 Srerilisasi
 masuk ke sistem vaskulcr,                                                       desinfeksiringkat
 or[lan atau jaringan stcril,                                                    tinggi
 contoh :rdrroscopes,  biopsi


 Kontak dengan membran                 Semikritikal             Sedang           Desinfeksi
 mukosa, kulit ridak utuh                                                        ti ngkarsedang
 (contoh g:rsrrosl<opi)


 Kon rak dcng an k ulir                 Nonkritikal              i{endah         D csi nfcksi
 yan g u tuh a t au r anpa                                                       ti ngk:rrrendah
 ko nra k de ng an pas ien



      S t er ilis as id i b rrtr.rh k a nr.rn tu k p e ra l a ran medi s yang masrrk ke dal am
      daeral'rster-ilrrrbr,rh,       sama halnya dengan cairan parenteral dan obat-
      obar an.
      Unt ul< m e l a k rrk a np ro s e ss te ri l i s a sp e r al atan,harus di dahul r.ridengan
                                                            i
      pernbersihan alar rerseburuntuk menghilangkan kotoran yang terliirat.
      Alat atau objek yang akan disterilkan harus dibungkus atau dikemas.


T ahap- t ahap s te ri l i s a s a l a t/b a h a n me d i s :
                                 i
l.    Dek onra ,n i n a s i
2.    Pengemasan
3.    M et ode s te ri l i s a s i
4.    P enguji a n a l a t s te ri l i s a s i
5.     F as ilit a sa l a t d a n z a t k i rn i a

     Dek ont am i n a s i a d a l a h p ro s e sfi s i k a tau ki mi a untuk membersi hkan
 benda- benda y a n g mu n g k i n te rk o n ta mi n a si ol eh nri kroba yang berbahaya
                                                                         sel
 bagi k ehidupa n , s e h i n g g aa m a n u n tu k p r oses-proses anj utnya.Tuj uan


 Pcdornltr l)cnccsrlrrrr
                       clrn l)cnrrtg{ulrnganInfeksidi ICU                                          33
d a r i pr os es dek o n ta m i n s i i n i a d a l a h u n c u k mel i ndungi pekerj a yang
bersentuhan langsung dengan alat-alarkesehatanyang sudah melalui proses
dekontaminasi mikroorganisme penyebab penyakir. Proses ini melipuri
p engum pulan d a n rra n s p o rra s i b e n d a -b enda kotor, pencuci an dan
penggunaan desinfektan.

       Tiga prinsip dasarpengemasarl            adalahdiharaokan prosessterilisasi  dapat
terserap dengan bail< ke selurul'r permukaan kemasan dan isinya; harus
mam pu m enjagas re ri l i ra s s i n y a h i n g g a k e masandi buka; serraharus mudah
                                 i
d i b ul< a dan is iny a mu d a h d i a m b i l ra n p a me nyebabkan l conrami nasi .


Bahan y ang digu n a l c a rru n ru k p e n g e m a s a nmel i puti :
'  I(ertas
   B ahan ini h a n y a u n tu l < s e k a l i p a k a i . K ertas dapat mencegah
   k onr am inas i , rn e m p e rc a h a n k a ns re ri l i t as unruk peri ode l ama, dapar
   digunak an ti n ru k l a p a n g a n s te ri l d a n membungkus al ar-al at koror
   s et c lah t ind a l c a n . K e rta s h a ru s ti d a -k te mbus ai r, sukar di robek serra
   beba.sbahan beracun. Tipe kertas yang; dapar dipakai adalah kerras
   kraft yang nredical graFt,kerras berlaminasi, kerrasmenrega yang non,
   glaze dan kertas krep..
.  Hany a f ilm p l a s ri k y a n g rn e n g a n d u n gp r-,l i erhyl ene pol i prophyl ene
                                                                           dan
   y angc oc ok u n tu l < s re ri l i s a sd e n g a n m e rr ggunakan
                                              i                           erhyl i neoxi de (E O).
   K et ebalan fi !m p l a s ri k b i a s a n y a i -3 mi l i mi kron untuk porosi tas
   r er hadap E O . F i l m p l a s ri l <s e ri n g d i g u nal < ansetel aF, prosessreri l i sasi
   unt uk m enj a g a k e i e rn b a b a nd a n s e b a g a ipel i ndr-rng   terhadap debu.
.  I ( ain ( linen )
      Linen adala h b r.h a r-r d i s i o n a l y a n g d i gunakan r-rtnukmembungkus
                              rra
      nanr pan- na mp a rl o p e ra s i . Ke l e b i l ra n n ya adal ah bi sa C i pa!< aiul ang,
      murah, l<r-rat,
                    pelindung yxng cuklrp baik, mudah digunalcarr                    dan sangar
      bail<unr uk d u k .
.     K ont ainer




34                                                           drn Pcnrngguhngrnlrrfeksidi tCU
                                            PcdotnanPcnccgahrn
     Hanya digunalcanunrul<benda-bendayang akan digunakan pada sekali
     pr os edur t ind a l c a np a d a s e ri a pp a s i e n .H a rus di sertai dengan fi l rer dan
     k ar up y ang h a ru s d i p a n ta u s e c a rare ra tu r .


Sistem Dengemasanuntuk alat-alatsteril harus men"renuhiketentuan lokal:
.    Berilcan segel dan tahan suhu
.    B er ik an peng h a l a n gy a n g a d c k u a r u n ru k parti kel rerrenru
-   Ta'han terhadap pada proses sterilisasifisik
.    T hhan t er ha d a p c e i ra n
.    Iviernungkinkan aliran udara yang adekrrat
.    M em ungk ink a n k e l u a r m a s u k n y a b a h a n stcri l i sasi
.    M elindungi i s i k e ma s a nd a ri l < e ru s a k a n si l <
                                                              fi
.    Tlhan terhactapsobelcandan rtrsukan
.    T idal< ber lub a n g
.    -I'idal<nrengandrrng bal'r:rnL-reracun
.    M engunt ung l c a n d a l a rn h a l b i a y a
.    Digunal< an se s u a id e n s a n i n s rrr.rl c s ia b ri l <
                                                        p
'    Diberi rarrggai

                                   i
       M er ode s r eri l i s a sy a n g d a p a r d i g u n a k a n b ermacam-macam antara l ai n
srerilisasi panas-kering,srerilise-si           menggunakan EO, sterilisasi       menggunalcan
p l as m a dan s r er i l i s a ss u h u re n d a h d e n g a n m e nggunakan uap Formal dehi d.
                                 i

       Paranrererkontrol lcualitasproses sterilisasiharus merekar-ninformasi
si k lus pr os ess t eri l i s a s m e l i p u ti :
                                     i
.      Jumlah beban
.      ls i beban
.      Tenrperatur dan waktrr
.      T es f is ik / k ir n i a s e c a rare ra rrrrs e l c rrra n g -kurangnya ap hari
                                                                                   seri
.      T es biologi s e c a rare ra ru r s e k u ra n g -k u rangnya            semi nggu sekal i
.      P r os eser hy l i n e o x y d e (Ba c i l l u s s u b ri l i s v. ni ger)
.      Prosessteam (Bacillus srearorern)ophilus)

         S ebelunr r n e s i ' s te ri l i s a s id a p a t d i g u n a kan secara ruci . maka harus
                                 n
d i l a k ul< an per r gr -rj i ate rl e b i h d a h u l u s e s u a i e ngan prosedur pada masi ng-
                                                                     d


         l)ctrccqulrrrr l'cnirnggulrugrnInfcksi di ICU
l)edotnarr           drn
                                                                                                35
ms ing aur oc lav ea ra u s e s .a i d e n g a ' me s i n steri l i sasi   yang di gunakan. H al
i ni per lu dilak u k a ' k a re ' a k e rj a m e s i n s teri l i sasiti dak hanya rerganrung
pada des ain nr e s i n s a j a re ra p ij trg a p a d a e l e rnenpendukung l ai nnya seperti
generator uap dan disrribtrsi uap, sisrem kelistrikan dan sistem mekanik
l a inny a.


Pemeliharaan secararerarur harus dilakukan dan didokumentasikan:
.  Thnggal perbaikan
'  M odel dan n o me r s e ri
.  Lokasi
.  Deskripsi penggantian alar
.  Cataran res biologik
.  Tes Bowie-Dick


DaftarPustaka
l.    New proposctlCt)(l lraudhygicnegtridclinc.
                                               !rrfectionConrrol llounds 2OO2;5(,1):4,
      8.
2.    Aclvisory   Cotnnrittecarrdrhe HICI'AC/SHEA/APIC/IDSA hand hygicne                            TaskForce.
                             l
      G-u ide lincfor har r chy gienein healt h- c ar es er t i n gM " \ f l R 2 0 0 2 ; 5 1 ( N o . R R _ 1 6 ) : l -
                                                                   sM
      4 5.
      'l'he He:rltlrcareltrfcctionControl Practices
-3'                                                    AdvisoryCommittee. Recommendations
      fronr CL)O clraft gtrideiinefor hand hygiene in lrealrhcare                 setrings-Didapar dari
      U lll-:l: rrp://www.cdc.gov/ ncirlocl/hip/irhguide.  lrtnr.
4'    APIC guidclinc for selecrionand usc of disinfcctants.
                                                          Am J Infect Conrrol 1996;
      24 (4):3 13 -42.
5'    BoyceJM. It is tinre for ;rctiotr:
                                       inrprovinghand lrygicne hospitals.
                                                              in        Ar.rl InterrrMecl
      I 99 9;I 3 0:I 53- 5.
6.    Pittet D- CorlPli:rrrccwitlr lrandrv:rshing a te:rchinghospital.A11 l6terp Med
                                                irr
      t99 9;l 3 O:12 6- 3O .
7.    Ilolyard EA,'lrblar oc, willia^rs \0\w, r)earsor.r ShapirocN, DeitchnranSD,
                                                       \41-,
      dkk.Guidelinefirr infccrioncontrolin hcalrlr
                                                 carcpersonnel.
                                                             AJICJuni lgg8;26(3):32g-
      3 9.




                                                   l)cdomrrrPclccgrh:rndrn |tenangguhngan
                                                                                        Infeksi di ICU
     Grrncr SJ,Teh HospiralInfecrionControl Practices
                                                    Advisory Committee. Guidcline
     for isofation precautionsin hospitals.
                                          Am.f Infecr Control 1996;24:24-52.
9.   Direktorat JenderalPelayanan  Me<!ik..Pedomanpelayananpusat steriiisasidi runrah
     sakit. Deparremen Kcseharan   dan KesejahteraanSosialRI. Jakarta:2OAZ.h.25-47.




Pcdom;rnPcnccgahrndan PcnrngguhngrnInfclsi di ICU
                                                                                  37
                                     Bab IV

                              Pencegahan
            Pneurnonia                         Nosokornial


lV.A. Pendahuluan
R ek om endas i- re k o m e n d a s i i n i d i s a mp a i k an dal am ururan berC asarkan
penyebab infeksi yairu pneumonia bakterial, rermasuk penyakir Legion-
naires; pneumonia lungal (aspergillosis);               dan pneumonia yang disebabkar:
karena  virus (RSV dan influenza). Tiap topik dibagi dalam subdivisi sesuai
dengan pendekatan umum dalam pengendalian inFelsi sebagaiberikur:


l.   Pendidikan staFdan surveilens infeksi.
2.   P em ut us an p e n u i a ra n mi k ro o rg a n i sme dengan cara eradi kasi
     m ik r oogan i s me p e n y e b a b i n fe k s i d ari reservoi rnya yang secara
     epidemiologis penring dan/atau mencegah rransmisi dari orang-ke-
     orang.
3.   Mengubah risiko-risiko pejamu rerhadap inFel<si.



   Tiap rekonrendasi                   berdasarkan
                       dikaregorisasikan         bukti-bukri ilmiah
yang ada,reoritisyang n'rasuk
                            akal,kemudahan penggunaan, pengaruh
                                                      dan
ekonomis, sebagai berikut:




Pcdomen Penccgalrantlan PcnanggulangenInfeksi di ICU                                  3.)
lV.B. Pneumonia Bakterial

lV.B.l.Pendidikan dan Surveilens
                Staf           lnfeksi


                                                                       KATEGORT

A    Pendidikan staf
     Didik petugas  pelayanan        tentangpneurnonia
                             kesehatan
     bakterialnosokomialdan prosedur-prosedurpengen-
     dalian infeksirang digunakanuntuk mencegahpneumonia.                    IA

B Surveilens
     l.   Melakukan surveilcns   terhadappneumoniabakterial                  IA
          pada pasienICU yang berisikotinggi untuk menda-
          patkan pneumoniatakrerial nosokomial(misalnya
          pasienyang mcmakaiventilasimekanisdan pasicn
          pasca bedalrrcrtcnru) untuk mcnenrukankecen-
          derunganyang ada dan mengidentifikasi       masalah-
          masalah   potensial. Masukkanjuga data tenrang
          mikroorganisme     pcnyebab  dan pola kepekaan  anti-
          mikroba. Nyatakrrndata scbagailajul rate (misalnya
          jurnlrrhpasienterinfeksiatau infcksi per l0O hari
          pcr:rw:rtan ICU arauper 1000 hari penggunaan
          vcntil:rtor)u n ruk men-r n gkinkan perbandingan
                                   u                        di
          dalam rumalr sakirdan penentuankecenderungan
           (trenc4.
       2. Jangrrn  secara rurin mclakukansurveilens   biakan pasien           IA
     I     atau perlengkapan   arau peralaranyang digunakanuntuk
     I     t.rapi respiratorik, Fungsi
                               res        paru, atau peralaran
     I - anestesi   inhalasi.
     I




40                                    Pctlonran                           lnfclsi di lCU
                                               Pcnccgrhrndan Pcnanggulangan
lV.B.2.PemutusanTransmisiMikroorganisme

lV.B.2.a.Sterilisasi atau Desinfeksi dan PerawatanPerlengkapandan
Peralatan

1.     Tindakan Umum

                                                                                                KATEGORI

       Be rsih ka n dengan r elit i s c r nua per lengk apa n d a n p er a l a r : r n              IA
       sebelum srerilisasi atau desinfeksi.

l t-   Lakukan srcrilisasi irtau gunakan desinfeksi ringkar ringgi                                  IB
       unruk perfengkapan arau peralatan rcmicriticnl (yairu
       bcnda-bcnda yrrng be rsenruhan langsung atau ridak langsung
       de ng an din ding m uk os a s alur an napas baw a h ) . D e s i n f e k s i
       rin gkar tin ggi dapat dic apai baik dengan c a r a p a s t e u r i s a s i
       panas t>asalrQt)ethel.t patteurization) pada suhu 76"C selama
       30 mcn it maupun m c nggunak an des inf ekt a n k i m i a w i c a i r
       yang diakui sebagai srerilans/desinfekranoleh Enuiromental
       ProtectiortAgenry (EPC) dan relah disetujui unruk dipasarkan
       dan digunakan unruk peralatan medis oleh Ofice of Deuice
       Euahntion, Center/br Deuicet ttnd Radiologic Health,
       Food a nd D t'ug Adm i n istra t io n(F D A). Serelah desin feksi,
       la nju rka n d engan pem bil: r s an,penger inga n , d a n p c n g c m a s a n ,
       d an mcn j a ga ; r gar s c lr r m apr os c s t idak t er ja d i k o n r a m i n a s i
       b ara ng te rse but .

C      I.    Cu na ka n air s t er il ( bt r k an air dis r ilas i, r i d a k s r e r i l )         IB
             untuk n-rembilasperlengkaparrdan peralaransemicritical
             retsable yrrng dipakai unruk saluran napas serelah
             d esinFek s is c c ar ak im iar v i.
       2.    Tid:rk ada r ek om enc las i r c nr ang pengg u n x a n a i r r : r p                Masalah
             (scba ga i c ar a alr er nar if pengganr i air s r e r i l ) u n r u k                bel um
             nrcnrbil:rs perlengkapan dan pcralaran semicritical rewable                        terselesaikan
             yang digunrrkirn urrtuk saluran napas setelahdesinfeksi
             sccara k im iar v i, m es k ipun s et elah per n b i l a - s a n i i l <u t i
                                                                                 d
             d en ga n at au r anpa pc nggunaan alk oho l .



Pedotnrn l)errcegrhrndrn Pcnurggulrrrgan
                                       Infekri di ICU                                                    41
D lJ angan m emp ro s e s l a n gp e rl e n g k a p aa ra uperal atan
                        u                            n              yang I             IB
    ditujukan hanyaunruk sekalipakai(single onl),kecualiue
    dara menunjukkan trahwamemproses               ulang benda
    tersebut tidak membahayakanpasien,cott-efect;u€,              dan tidak
    menyebabkan    perubahan     integritas     strukcural  darr fungsi
          ra lara n da n per lc nEk apan r er s ebut .


2.   Ventifator mekanis, breathing circuit, humidifier, dan nebulizer

                                                                                 KATEGORI

A. Ventilator-ventilator mekanis                                                       IA
     Jangan secararutin melakukan srerilisasiatau desinfeksi bagian
     inrcrnal venrilaror mekanis

B. Vent ila tor circ u i t d,enga'n Intm idif er
     l.     Jangan secara rutin menggenti sirkuit pernapasan lebih             IA
            sering dari seriap 48 jam, termasuk n:bing, karup ekshalasi
            den h umidi fr er yang tcrpasaog (bu bli ng arau tuick) dari
            ve ntilaror v:rng sedang digunakan pada pasien secara
            in dividu al.
     2-     Tidak ada rekonrcndasi renrang r,r,aktumaksimum kapan           Masalah
            breatlting circrtit dtn humidiftcr rcrpesang (bubling atau       belum
            vick) ytngscdang digunakan pada pasien harus diganri.         terselesaikan
     3.     Srcrilkan rcrcable brcnthitg cit'cuit dan ltwnfulifer (bubhng      IB
            arau uich) atau lakukan desinfbksi ringkat tinggi sebelum
            digunakan pada pasien lain.
     4.     Secara periodik kcluarkan dan buang konder,sat yang                IB
            terbentuk pada tube ventilator mckanis, dengan menjaga
            agar konde nsar ridrk mengalir ke pasien. Cuci tangarr
            setelah melakukarr prosedur dan mengelola cairan rcrsebur.
     5.     Tidak ada rekomendasi unruk memasang filter arau                Masalah
            perangkap pada ujung akhir dari pipa ckspirasi untuk             belum
            mengumpulkan kondensat.                                       ccrselcsaikan
     6.     Jangan nlcm:rsirng filter baktcrial antara reservoir                        IB
            humidificr dan rubing inspirasi dari breathing circilitt
            vcncilar or m ek anis .




42                                             Pcdoarrtt Pcnccaahan
                                                                  dm Pcnrnggulanganlnfclsi di ICU
          Lar r an h u m l d rfre r
          - Gunakan air steril untuk mengisi bubling humidifer.                       II
          . Gunakan air steril,destilasi  acautap untuk mengisi                       II
              wich humidifer.
          . Tidak ada rekomendasi     untuk menggunakan                           Masalah
              pilihan sistim humidifikasiyang tertutup yang                        belum
              secara   rerusmenerusdiisi.                                        rerselesaikan


C. B reath i ng ci rc u i t vcn t i la ro r dengan hlgro scopi c con den ser -
      humidifer   arau hea rmo isture exchangers
      l. Tid ak dir ek om endas ik an unr uk lebih m e m i l i h                   Masalah
          pe n ggu n :ran hygro rcopic co ndenser- h tt m idif er arau              belum
          beat-moisture exchanger dibandingkan heated humidifer                  rerselesaikan
          untuk mcncegah pneumonia nosokomial.
      2. Ganri hygroscopic condenser-humidif er arru h eat-mo isnr.re                 IB
          exchanger sesuai rekomendasi pabrik dan/atau bila
          rerciapat kontaminasi nyaca atau gangguan fungsi
          mekanis peralaran tersebur.
      3. Jangan sccare rucin rn€ngganti breathing circuit yang                        IB
          terpasang dengan bygroscopic condenser-humiCif er arzu
          h eat-mo isttt tz exch a nger sewaktu sedan g diqunakan
          pada pasien.


3.     Humidifier dinding

                                                                                 I(ATEGORI

A . Ikuri pctuniuk pabrik dalam nrenggunakan dan merawat                               IB
      humidifer oksigen dinding, kecuali dara menunjukkan
      bahwa mcngul'rah pctunjuk tidak mcmbahayakan pasicn
      dan cosrefectiue.

 B.   Diantara pcnggunaan pada pasien yang berbeda, ganri pipa,                        IB
      rermasuk natdl prongt arau maskcr, yang digunakan trntuk
      memberikan ol<sigendari titik keluar di dinding.




Pcdomen Pencegrhan dau Pcrunggulangen Infcksi di ICU                                        43
     4.         Nebulizer obat bervolume kecil: nebulizer "in-line" dan hand-held

                                                                                                             KATEGORI

               I.    Diantar:r penggunaan pada pasien yang sama, desinfeksi,                                     IB
                     bilas dengan air sreril, arau keringkan dengan udara
                     nebulizer rersebur.
               2.    Tida k a da r ek om endas i unr uk m engguna k a n a i r r a p                            Masalair
                     sebagai alternatif dari air steril unruk membilas nebulizer                                belum
                     obar bervolume kecil reusable     diantara penggunaan pada                              rerselesaikan
                     pa sie n ya ng s am a.

         B.    Diantara penggunaan pada pasien yang berbeda, ganri                                               IB
               ne bu lize r de ngan y ang t c lah dilak uk an s r er ili s a s i r a u
                                                                               a
               d esinfe ksi ting lc ar r inggi.

         C. Gu na ka n h an y a c air an s r er il unt uk nebulis as i ,d a n m a s u k k a n                    iA
               cairan tersebut secare:rse
                                        otik.

         D     Bila d igu na ka n v ial m c dik as i dos is m ult ipel, p e n g e l o l a a n ,                  IB
               disrritusi, d rrn pc ny im panan s es uaipet unjuk p a b r i k .


         5.     Nebu!izer bervolume besar dan tenda pengabut (mist tenfs)

                                                                                                             KATEGORI

               Jangan gunakan bumitlifer udara ruang bervolume besar                                             IA
               (la rge- uoht nt e ro om -a i r h u m i dif ers)ya n g men ghas il ka n
               aerosol (misalnya dengan prinsip Venruri, ultrasound,
               a rau sp inn ing dis k ) dan k ar ena ir u s es unggu h n y aa d a l a h
               ncbu lize r, ke c r r ali alat t er s c but dapat dilak uk a n s t c r i l i s a s ia r a u
               d esinFeksiting k at t inggi paling s edik it r iap h a r i d a n h a n y a
               diisi de ng an a ir s t er il.

          B.   Sterilisasi humidif er udara ruang bervolume besar yang                                            IB
               d igu na ka n un r uk r c r api inhalas i ( m is al pada p a s i e n y a n g
               men jala ni tra k c os t om i) aiau dengan des inf e k s i t i n g k a t
               tinggi dianrara pcnggun:lrn pada pasien yang berbeda dan
               sesudah ri'.rp24 jam pada pasien yang sama.



         44                                                           Pcrrccgllran Penanggulrngan
                                                               Pcdomrtn          drn                   di
                                                                                                Inf'eksi ICU




E;,
ffi',.
c.l l.    Gunakan mist-tentnebulizerdan reservoiryangtelah                              IB
          dilakukan srerilisasi              ringkartinggi, dan
                               atau desinfeksi
          ganti peralatanini diantarapenggunaan   padapasien
          yang berbeda.
     z.   Tidak ada rckomendasi    tenrangfrekuensipenggantian                       Masalah
          ntist-tent nebulizerdan reservoirpada waktu peralatan                       b el u m
          tersebutsedang   dipakai padasatu pasien.                                       ikan
                                                                                  terselesa



6. Peralatanlain yang digunakanberkaitandenganterapipernapasan

                                                                                  KATEGORI

A . Diantara penggunaan pada pasien yang berbeda, srerilisasi                            tb

     arau desinfeksi tingkar ringgi respirometer portabel, sensor-
     sensor oksigen, dan peralaran pernapasan lain yang
     digunakan pada banyak pasien.

B.   I.   Diantara penggunaan pada pasien yang berbeda, iakukan
          sterilisasi atau desinfeki tingkat ringgi reusnble           hnnd-
          Pouerec! resrucitatiott bngs (misal Ambu bngs).
     2.   Tida k a da r ek om endas i t ent ang f r ek ue n s i p en g g a n t i a n     Masal ah
          filter hi dr of obik y ang dipas ang pada lu b a n g s a r n [ - l u n g a n    trelum
          rentscitation ba{s.                                                          rerselcsa
                                                                                               ikan



7. Mesin anestesia dan breathing systemalau patient circuit

                                                                                   KATEGORI

A . Jangan scc:rrrrrutin rnelakukan sterilisasiatau desinfelisi
     mesin ba gie n dalam per lengk aDananes t esi a .

 B. Bersihkandan kemudian lakukansterilisasi
                                           araudesinfeksi                                 IB
     ringkar ringgi dengan bahan kimia cair atau oasteurisasi
     komponen breathingsystem         sirkuit pasienyang reusable
     (misal, pipa rraclre:rl     ^tau
                          atau maskerwajah, pipa inspirasi dan
     ckspirasi,T-piece,        bag,humidif;ar, dan pipa
                       reseruoir



PedomanPenceglhandrn Penrnggulaugan
                                  lnfelsi rli ICU                                                45
     bulntdtrter)dlantarapenggunaanPadapasren yang berbeda
     dengan mcngikuti pcrunjuk pabrik peralatan
                                              terseburuntuk
     memprosesulang komponen tersebut.
C . Tidak ada rekomendasi  renrangfrekuensi
                                          pembcrsihan  arau                            Masalah
    dcsinfeksirutin karup searahdan tabungcarbondioxi/e                                 belum
    a bsorber.                                                                       rerselesaikan
D    Ikuti b uku p edom an dan/ ar au pet unjuk pa b r i k r e n r a n g                 IB
     perawatan d:rlarn pe nggunaan, pembersihan, dan desinfel<si
     atau sterilisasi konrponcn-komponen lain arau attachmeltt
     dari breatbing t/ttem       sirkuir pasien dalam perlengkapan
                            ^rau
     anestesia.

E    Secara periodik keluark,rn dan buarrg setiap kondensar yang                         IB
     mengumpul pada pipa dengan hati-hati dan mencegah
     kondensat mengalir ke pasien. Setelah melakukan prosedur
     dan me lakul<:rn tindak:rn cuci tangan dengan satrtrndan
     air a reu pre par as i c uc i r angan r anpa air .

F- Tidak ada rel<one ndasi untuk memasang filter bakrerial pada                        Masalah
     sisre m p el'n ap: r s an au s ir k uit pas ien dalam p c r l e n g k a p a n
                              ac                                                        beltrm
     a ne ste sia .                                                                             n
                                                                                     rerselesaika




ll . Pe r l e n gka p a n s fu n g si p a ru
                        te

                                                                                     KATEGORI

     Jangan secara rutin mclalcukan srerilisasiarau desinfeksi                            tl
     bagian dalam mesin tes fungsi paru dianrara penggunaan
     pada pasien yang berbeda.

B. Srerilisasi
             arau desinFel<si
                           ringkat ringgi denganbahan                                     IB
     kimia cair atau pasre  urisasireusnble         dan
                                          mouthpieces pipa
     atau pcnghubung diantarapenggunaan      padapasicnyang
     berbeda,ATAU ikuri petunjuk pcmrosesan     ulangdari pabrik
     pem buarala r te rs e b u r.




46                                              Pedotnrn Pcoccgrhandan Pcnenggulengan
                                                                                    Infeksi di ICU
              .
l V. B . 2 . bP e mu tu sa n ra n smi siB akter idar i Or angke Or ang
                            T

1. Cuc i t angan


M es k ipun m e n g g u n a l < a n s a ru n g ra n g a n, cuci l ah rangan setel ah konrak
dengan dindi n g mu k o s a , s e k re t p e rn a p asan, arau benda-benda yang
t er k ont am ina s i s e l c re tp e rn a p a s a n .Ba i k d engan arau ranpa menggunal < an
s ar r ulg t angan , c r-rc i l a l k e d u a ra n g a n s e b el um dan serel ahkonrak dengar-r
                                    -r
a) s eor ang pa s i e n y a n g ma s i h m e n g g u nakan pi pa endorrakeal atau
rrakeostonri; b) segalaperalatan pernapasan yang digunakan pada pasien.
Kategori I


2. Kewaspadaanbarrier

                                                                                              KATECORI

     Gunakan sarung r:rngirn dalam mengelola sekrer pernrpas:rn                                  tn
     a tau be n da - benda y ang t er k onr am inas i o l e h s e k r e r p e r n a p a s a

 B Ganti sarung rangan dan cuci rangen a) serelah meiakukan
     konrak dengan scorang pasien; b) setelah menangani sekret
     pcrn2pasan arau benda-trenda yang terkontaminasi dengan
     sekrer dari scor:lng pasien dan scbelum melal<ukan konral<
     dcng an p as ien, benda- t > enda,ar au per m u k a a n l i n g l c u n g a n
     sckirar kir:r y ang lain; c ) dianr ar a k onr ak d e n g a n b a g i a n
     b ad an ya ng r er k onr anr inas i dan s alur an p e r n a p a s a n ,a i a u
     peralatan unruk pcrnapasan pada pasien yang sama.                                           IA
 C Gun akan b aju penur up apabila r elah didu g a a k a n r i m b u l
     pcngotoran dcngan sckrer pernapasan dari seorang pasien,
     dan ganri baju penutup tcrsebut serelah konrak dan
     sebelum melakukan perawaran pada pasien yang lain.                                          IB




l'edonrerrPerrccgllundrn Pcrrrnqqulangan
                                       lrrfi.ksidi ICU                                                .t/
3. Perawatanpasien dengantrakeostomi

                                                                                   KATEGORI

A. Lakukan rrakeosromi dalam keadaan steril.                                             IB
B. Bila mengganti pipa trakeosromi,
                                  gunakanrelcnikaseprik                                  IB
     dan ganti denganpipa yang telahdilakukansrerilisasi
                                                      atau
         nf
     des i ek s ir ing k a rri n g g i .



4. Pengisapanlendir sekret pernapasan

                                                                                   KATEGORI

     T idak ada r ek o rn e n d :rs in ru k l e b i h m e m i l i h menggunakan
                                        u                                                Masalah
     s ar ungt angans te ri ld i l ra n d i n g k a n a ru n g(a n gan
                                                       s                  yangbersi h,    belum
     r er apir idak s r e ri ll > i l emc l a k trk a n en g i s a p rrln
                                                      p                 endi rsekret           ikan
                                                                                       rerselesa
     p€rna l)asan.

B.   Bila menggrln:rkansistcm pcngisapanrerbuka,gunakan kareter                           II
     steril se ka li p ak ai.

C , Gun akan ha ny a c air an s t er il unt uk m enghilan g k a n k o r o r a n           IB
     sekrer deri kltcte r pcngisap bila kareter tersebut dimasukkan
     la gi kc d ala m s alur ; n pc r napas an bawah par ie n .

D Tidak ada rekomendasi untuk lebih memilih mcnggunakan                               Masalah
     karerer pengisap .sistim terrutup penggunaan ganda atau karerer                   belum
     p en gisap sistem t c r buk ir s ek ali pak ai unr uk p e n c e g a h a n              i
                                                                                    terselcsaka n
     p ne umo nia .

E.   Gan ri keselu ruhan pipa pengis ap diant ar a pc n g g u n a a n                     IB
     pada pasien yang trcrbeda.

F. Gan ri b oto l pe nam pung is apan dianr ar a pen g g u n a a n p a d a                IB
     p asicn ya ng b er bc da, t c r k c c uali bila digunak a n p a d a
     un ir-un ir p cra w: l( an s ingk at .




48                                                             drn Penanggulrngan
                                              Pcdomrn Pcncegrhan                lnGksi di ICU
lV.B.3.MerubahRisiko Infeksi pada Pejamu

lV . B . 3. a. P neu m c n i a En d o g e n

Hentikan pemberian makanan entera.l    lewar pipa dan singkirkan peralatan-
peralatan seperti pipa-pipa endotrakeal, trakeostomi, dan/atau pipa cnteral
                                  atau jejunal) dari pasiensesegera
(misalnya, orogastrik, nasogasrrik,                               mungkin
setelahindikasi lclinispenggunaan alat-alattersebut telah tidak ada. Kategori
IB


1. Mencegahaspirasiyang berhubungandengan pemberianmakanan
enteral

                                                                    KATEGORI

 A . Bila manuver tidak merupakan konrraindikasi, naikkan               IB
      tempar tidur bagian kepala pada sudut 3Q-45" dari pasierr
      yang berisiko tinggi mendapat pneumonia aspirasi (misal pas
      yang mendapar venrilasi mekanis dan/atau yang re!,rh meng-
      gunakan pipa enreral)

 B.   Secara rurin pastikan kcsesuaian letak dari pipa makanan.         IB
 C Secar;rrutin lakukan cvaluasi pergerakan usus pasien (dengan         IB
      euskulrasi bising usus dan mcngukur volume sisa isi lambung
      arau lingkaran perut) dan scsuaikan laju makanan cnrcral.
      unruk mencegah regurgitasi.

 D Tidak ada rckonrcnd:rsi
                         untuk lebih memilih pipa kaliber             Masalah
      kecil untuk makanancnrcral.                                      belum
                                                                    terselesaikan
 E . Tidak ada rckomendasi unruk memberikan makanan                   Masalah
      cntcral scc:rrakonrinu arau inrermirren.                         belum
                                                                    terselesaikan
 F. Tidak ada rckomendasiunruk lebih memilih lerakpipa                Masalah
    makanan (misal pipa jciunal) di sebclah
                                          disul pylorus.               bel um
                                                                    rerselesaikan



Pcrlrnrrn Pcncq;rlrln thrr l)cnengqularrgarr
                                           lnli'ksi di lCLl                   49
2. Mencegahaspirasiyang berhubungandenganintubasiendotrakeal

                                                                                            KATEGORI

A. Tidak ada rekomendasi
                       unruk lebih memilih menggunakan                                        Masalah
     pipa orotrakealdibandingkannasorrakeal
                                         untuk                                                 bel um
     mencegahpneumonia nosokornial.                                                         terselesaikan
B.   Tida l< a da re ko m endas i unt uk s ec ar ar ur in m e n g g u n a k a n               Masal ah
     p ipa e nd orra ke al y ang m em puny ai lum en di b a g i e n                           bel um
     d orsal di ara s b alon er - r dor r ak eal uk dr aina s e ( d e n g a n c a r a
                                               unr                                          terse l csa i k:i n
     mengisap) sckre'si    trakeal yang menumpuk di daerah subglottis.

C. Se be lum mcng c m pis k an b: r lon endor r ak eal. s e b a g ap e r s i a p a n
                                                                   i                               IB
     me lep aska n p ipa, ar ar r s ebc lum m er ubah pos i s i p i p a , p a s r i k a n
     b ah wa sclcresidi t r aeian at as balon t elah diber s i h k a n .


3. Mencegah kolonisasi di lambung

                                                                                            KATEGORI

     Bila dipcrlukarr prcfilalcsis terhadap perdarahan karena                                       II
     stress pa da pa s ic n deng: r n v ent ilas i r r r ek anis , u n a k a n o b a t
                                                                 g
     ya ng tida k me ningk at k an pH ls m bung.

B.   Tid ak a da rekom c ndas i unt uk m elak uk an de k o n r a m i n a s i                  Masalal.r
     se lekrif p ad a p as ien s ak ir k r ir is , v ent ilas i m ek a n i s , a t r u         beltrm
     sa lura n ce rna pas ien I CU dan/ at au anr im ik r o b a i n t r a v c n a                   i ka
                                                                                            rerselesa n
     untuk mencegah pneumonia karena bakreri gram-negarrf(arau
     Candida sp.).

C . Tidak :rc-la
               rekonretrdasi unruk sccararutin melektrkan                                     Masal ah
     pcng as:rman m al< : t nangas t r ik unt uk nr enc eg a hp n e r . r m o n i a            bel um
     no so ko mi:rl.                                                                                ika
                                                                                            telseiesa n




50                                                         l)encegahrn
                                                   Pcrlonran                          Infcksi di ICU
                                                                     dan Pcnanggulangan
                             p
l V. B . 3 . bPn e u mo n i a a sca B e d a h
              .

                                                                                                     KATEGORI

     Perinrahkan pasien pasca bedah, rerurama me reka yang                                              IB
     be risiko rin ggi m endapar pneum onia, r enr a n g b a t u k y a n g
     se ring , a mbi l napas dalam , dan ar nbulas i s e c e p a tm u n g k i n
     sesu:riindilcasi medik dalam masa pascalredah. pasien berisiko
     rin gg i rerrn as uk n- r er el<y ang m endapat ar r e s r h e s i a _ r e r u r a m a
                                       a
     nrcleka yang :rl<:rn  mengalami pembedahan abdominal, rhoraks,
     kcpala, arau lchcr, dan mcreka yang menderira gangguan fungsi
     pernapasan yang sut>sr:rnsial          (misal pasien yang menderita
     p en ya kit pa r u obs r r uk r iF r nenahun, k elaina n m u s k u l o s k e l e r a l
     dada, arau res faal paru yang abnormal).

 B . Bimb ing pa s ien pas c abedah agar ber ani ba r u k r . c r r " s . . i r g ,
     me ng amb il n apas panjang, m elak uk an gc r a k a n - g e r a k a nd i
     te mpa r tid ur , dan am bulas i, k ec uali r indak a n i n i s e c a r a
     me dis mcru pak an k onr r aindik as i.
                                                                                                        IB
C . Atasi nycli yang rimbul dan mengganggu barrrk d"n p.rr"rp,,r*
                                                                                       -
     dalam masa pasca bedah dengan cara a) .r,..,ggr.,n"k".,
     analgesiasisrernil<,temrasuk palrent-contro/letlaitalgesia,dengan
     e Fe krne ncka n l> ar r . r y ang s ek ec il m ungk in; h , ) m e m b e r i k a n
                                  l<
     cu nja ng an y:r ne s es uaipada luk a abdom ina l , s c r r e r r i
     mclcrakl<:rnbanr : r l m c linr : r ng per ur dc ngar - r r a r , a r a u
                                                                e
     c) rncng gtrn al< an nc s r c s ia r - c gional( m is al a n a l g e s i ae p i d u r a l ) .
                           r                                                                           IB
IJ   c u n aka n i tt certt i ue si;i rr,t et er At,,u peralaran i n term i tten t p osi ti ue
                                         rn
     pretsure brent/tirtgpada pasicn bcrisiko ringgi mendaparkan
     p ne umo nia p as c a bc Cah.
                                                                                                        ll




Peclonr,rn
         Pcnccqrhrndan Psrrrrngguhngan
                                     Irrtcksidi ICU                                                          sl
             prosedur profitaksis
     lV.B.3.c.
                                 Lain

                                                                                                      I(ATEGORI
     A. Vaksinasi pasien
           Lakukln.vaksinasipada pasien                                                                     rft
                                                 berisikoringgi mendaparkan
           penyul i t i n Glai peumoco'cta  I d.n g"n *Lri nofn.u _o.o.."1
           polisakarida,            lain yaitu p;;;;;;f=et
                            ",ri"."
           pasi dewasa n g menderi,"'p.ny"                           ,"Lun,
               en            ya                        ki, l".l i"u"rf."t..
           ara u p ulmo ne r m enahun,
                                       diaber esm e! lir ur , l i t , r t o t i r *. ,
           sirosis, arau kebocoran cerebrospinal,
                                                   anak dan dewasa
           yang mengalami inrmunosuprcsi
                                              arau dengan asplenia
           fungsional
                    arauanaromik
                               araui.i.k" ;;ii""
     B.                    q rrr r r r r r Kr ooa

           Janganmcmberikan ol.rar
                                 anrimikrobasisremikunruk
           mencegahpncumonia nosokomial.
           ----.-                                                                                          IA
     C.         _oo_----.. -^--
            Pe^oo',--^.,
                           r!rrr1,4! Lrqur Derputar ..kinetik,,atau
          |                                                         terapi
            rotasional lateral kontinu                                                                Masalah
          I
          'Tida k ad a rckom enda -                                                                    belum
          rid rbrp r" ;il"fi i,'fl:il"1ff
             u eu;                     l.T,:nililli,ji[j."
                                             i           J,"
                                                                                                    terselesaikan
          (yaitu melerakkanpasien
          secara
                                                           "
                                         prd" ,.,irp".;j;;;"",
                 inrermiten arau konrinu p"d"
                                                                   berputar
                                                    ,";;;     tngirudinal.rya)
          y111k rnencegah      pneumonia noroko-i"t
          I CU, pas iens a k i t k ri ti                   fJ" pasiendi
          k"r.n" o..rJ,"r';"';i::HIien                           vangridak lrergerak
                                                                          bisa


Daftar Pustaka
l'        ce'ters    for Disease Co'trol             and Prevention. Guiciclines
                                                                                        for prevcnrion of nosocomial
          p n c u m o n i a . M MNfR        | 9 9 2 ;4 6 ( n o .Rll- t ) :4 5 _ 6 ( r .




52                                                       Pcdomrn t)orccgrhen dan pcnanggulengan
                                                                                               lnfclsi di ICU
                                         Bab V
                Pedornan                        Pencegahan
                  Infeksi                 Intravascular
       Akibat                 Pernasangan                           l{ateter


V.A. Pendahuiuan
K at et er inr r av a s k u l a rs a n g a .d i p e rl u k a n s aat i ni dal am praktek kedokteran
t er ut am a di da l a m l C U . V a l a u p u n k a te te r nremberi j al an untuk mencapai
pem buluh da ra h , n a m u n p e n g g u n a a n katerer memudahkan terj adi nya
inf ek s i lok al a ta u s i s te r,ri kp a d a p a s i e n , antara l ai n i nfeksi pada tempat
pemasangan;infeksi aliran darah yang berhubungan dengan kateter (Cateter-
related Bloodttreem Infection = CRBS[); trombophlebitis sepsis;endckarditis;
dan inf ek s i m c ta s ta s i s y a n g l a i n (mi s al nya abses paru, abses otak,
os r eom ielilis ,d a n e n o p th a l m i ti s ).

       lr-rsidensterjadinya infeksi bervariasi bergantung pada jenis kateter,
seringnya manipr-rlasiketeter, dan fakror yang berhubungan dengan pasien
( m is alny a pen y a k i t y a n g d i d e ri ta s e b e l umnya atau beratnya penyaki t).
B er bagai per re l i ti a n rn e mp e rl i h a tk a n bahrva i nfeksi meni ngkatkan
morbiditas pasien dan biaya perawatan. Oleh karena itu perlu direrapkan
suatu straregi1'angdapat me ngurangi terjadinya infeksi,yaitu dengan strategi
mulridisipliner yang rr.relibatkan:1) pakar perawar-kesehatau(profession-
 als)yartgnlenrasangdan memperrahankan kateter inrravaskular;2) r-r'ranajer-
per awar an k e s e h a ra n y a n g m e n g a l o k a s i kan dana pernbel i an bahan dan
per alat an; s erta 3 ) p a s i e n y a n g m a n rp u m etnbantu peraw atatr kateternya



                                            lnliksi di ICU
                     .l.rrrPrrrrrrqqul:rrrcrn
         l'cnccu.rlrrn
Pcdorn.rrr                                                                                     53
sendiri. Walaupun penelitian renrang strategi individual rerbukti efektif
dalam menurunkan insidens infeksi, namun srraregi multidipliner perlu
dipertimbangkan meskipun belum dilakukan penelirian yang mendalam
terhadap manfaatnya.

    Ada berbagai macam karerer yang dibagi berdasarkan tipe pembuluh
darah, yairu kareter vcna perifer (peripheral uenout catheters), kareter vcna
senrra! (cental uenouscatheftrs = CVC), karerer arteri pulmonal dan karerer
midline. Oleh karena kareter midline jarang digunakan dan mempunyai
risiko infeksi yang rendah, maka karerer tersebur tidak dibahas dalam
p e d om an ini.

V.B.       Kateter Vena Perifer
Kateter vena periFer adalah katerer yang paling sering ciigunakan untuk
memasukkall suatu bahan lcedalam pembuluh darah. 'Waiaupun insidens
infeksi akibat pemasangan katerer vena periFer biasanya rendah, namun
ko m plik as i s er iu s d a p a r me n i n g k a tk a n m o r bi di tas. K ej adi an i ni sesuai
dengan Frekuensi manipulasi.

     Infeksi yang serius rerutama terjadi pada pemasangan karecer vena
sentral, khususnya pasien yang dirawar di ICU. Di dalam ICU insidens
infeksi lebih tinggi dibandingkan pada pasienyang ridak gawar arau berobat
jalan- Hal ini disebabkan anrara lain oleh I ) pemasangankarerervena senrral
dalam jangka wakru lama; 2) rerjadi kolonisasi akibat infeksi nosokomial;
dan 3) manipulasi kateter yang dilakukan berkali-kali seriap hari unruk
pemberian cairan, obat-obatan, produk darah dan nurrisi parenteral.Selain
itu pemasangan kateter seringkali dilakukan dalam keadaan darurat sehingga
teknik aseptik kurang diperharikan. Pada katerer rerrenru (seperri kareter
arteri pulmonalis dan katerer arreri perifer), seringnya manipulasi beberapa
kali dalam sehari karena harus mengukur keadaan hemodinamika arau
mendapatkan sampel unruk pemeril<saan        laborarorium, akan memperbesar
irotensi konraminasi dan inFeksiyang menyerrainya.




54                                         Pcdomen Pcnccgahen
                                                            Jen Pounggularrgan Infclsi di ICU
V.8.1. Kriteria Penentuan
Angka insidens infeksi yang berhubungan dengan katerer (termasuk infeksi
                                             'Walaupun CRBSI adalah pa-
lokal atau sistemik) sulit untuk ditentukan.
rameter ideal karena menggambarkan bentuk infeksi yang berhubungan
dengan pemasangan kateter, namun angka insidens infeksi berganrung pada
definisi. Definisi klinik CRBSI adalah:
.    K olonis as i k a te te r te rl o k a l i s a s i a d a l a h terdaparnya pertumbuhan
     nrikroorganisme yang signifikan yaitu > I 5 CFU (Colony Forming Unit)
     dari segmen kateter (biasanyaCVC) tanpa disertai gejala infeksi.
.    Infelcsi lokal adalah terdapatnya pertumbuhan mikroorganisme >15
     CFU dengan disertai gejalalokal hanya eritema, pembengkakan, nyeri
     tekan dalam batas2 cm dari tempat insersi kareter dan purulensi (pus).
.    lnieksi aliran darah adalah terdaparnyapertumbuhan mikroorganisme
     > I 5 CFU, kultur darah positif mengandung jenis kuman yang sama
     dengan organisme penyebab kc,lonisasidan disertai gejalainFeksialiran
     darah (bakterernia).Darah yang diambil untuk kultur sebaiknya darah
      vena perifer.


V.8.2. Epidemiologi
Sejak tahun 1970 Sistem SurveilensInfeksi Nosokomial Nasional (Narional
Nosocomial Infection Surueillance= NNIS) dari CDC relah mengumpulkan
data insidens dan penyebab inFel'siyang terjadi di rumah sakit, termasuk
bakteremia akibat pemasangan CVC dari 300 rumah sakit di Ar,rerika
Se r ik at ( lndone s i a ? ). B a k te re rn i a a k i b a t i nfeksi nosokomi al terurama
d i s ebabk an oleh p e ma s a n g a n C VC d a n angka i nfeksi nya l ebi h ti nggi
dibandingkan dengan pasienyang tidak dipasang CVC. Laju infeksi akibar
p enr as angan C V C b e rv a ri a s i b e rg a n ru n g pada ukuran rumah saki t,
pelayanan rumah salcitdan ,ienisCVC yang digunakan.

    Relariue Ri,6 CRBSI telah dikaji dari 223 penelirian prospekrif pada
pEsien dewasa. Rektiue Ri& infeksi paling baik bila ditentukan dengan
menghirung laju infeksi aliran darah, baik per 100 kateter maupun per




Pcdornln Pcnccgaltln dln Pcnrnggul;rngaulrrfcksi di ICU
                                                                                       ))
1000 kateter dalam sehari. Laju infeksi diper,garuhi oleh l) kondisi pasien
seperri beratnya penyakir; dan 2) jenis penyakir (misalnya luka bakar derajat
III dibandingk a n d e n g a n p a s c a o p e ra s i j anrung); 3) kondi si yang
berhubungan dengan karerermisalnya kondisi pada saatpemasangan              karerer
(elektif atau darurat); dan 4) jenis kateter (tunneled ut nontunnel, subklavia
a t au jugular ) .


V.B.3. Mikrobiologi
Jenis organisme yang paling sering menyebabkan infeksi berbedadari waktu
ke waktu.
.   Organisme gram posirif
    Terdapat peningkatan persenraseinfeksi yang discbabkan oleh gram
    posiriF. Gram positif yang umumnya menvebabkan infeksi kareter
    intravena (lV) adalah Staphylococcus                    aureus dan coagulase-negatiue   sta-
    phy loc oc c it e ru ta ma ta h u n 1 9 8 6 -1 9 8 9 (Tabel l ). D ara yang berhasi l
     dikumptrlkarr dari tahun 1992-1999 menunjukkan bahwa coagulase-
     n ega ;u€ ttltp hy lococci di i kuti Enterococcur adalah penyebab pali n g sering
           t
     inF ek s iint r a v e n a d i rr.rrn a h a k i t. H a l i n i di sebabkanol eh predomi nasi
                                              s
     s pes iesr er se b u t p a d a k u l i t ma n u s i a . D i A meri ka S eri kat pada rahun
     1999 unr t rk p e rta m a k a l i n y a N N IS mendapat l aporan bahrva > 5oo/o
     dari semua S. attreusyang diisolasi dari ICU resistenterhadap oxacil-
     lin.
.    Organisrne granl negatif
     O r ganis nr e g ra m rl e g a ri Fy a n g u mu m menyebabkan i nfeksi adal ah
     spesies En tero ba cter, Ac ineto bacter, Serra t ia mArcescensdan Pseurlomo-
     nas. Meningkatnya persentase bahan isolar yang diambil dari ICU
     disebabka n oleh Entero ba cteriacea yan g memprod uksi spektrum yar.r
                                                        e                                      g
      lebilr luas b -l a c ta m a s e (E SB L ), k h u susnya K l ebsi el l a pneumoni ae.
      O r ganis m e te rs e b u r b u k a n h a n y a re si sten terhadap cephal ospori n
      spektrum luas tapi juga rerhadap antimikroba spektrum luasyang sering
      digunak ar r.
 .   J am ur




 56                                        Pcdotnirn Pcnccgrhrn tlrn l)cnenggiuhngrn lrrfiksi <li ICU
     Spesies Candida menyebabkan 8olo infeksi pada rahun 1986-1989.
     Res is t ens i C a n d i d a te rh a d a p a n ri fu n g al mul ai meni ngkar. D ari
     pengumpulan data didapatkan bahwa loo/o C. albicans yang diisolasi
     dari aliran darah pasien rumah sakir yang dipasang kareter, resisren
     terhadap fluconazole. Selain iru 48o/o Candida yang menyebabkan
     infeksi berasal dari spesiesnon-albicans termasuk C. glabrata dan C.
     krusei v:.ng lebih resistcn lagi terhadap fluconazole dan itraconazole
     dibandingl< t n C . a l b i c a n s .


     Tabel l. Pirtof;en  palingseringyangdidapatkan             dari isolasi
                                                                           alirandarah
                             i
     y ang m eny c b a b k a nn fe k s id i ru m a h s a k i t.
     Patogen                                      1 9 8 6-1989         1992,1999
                                                      (o/o)                (o/o)

     Coagu la se-n egt ti ue stap h1loc occi           27                   )/
     Stap hy loco :cut a u rerlt                       l()                  l3
     Enterococctts                                      8                   t3
     Org an isme g r am nc gat iI                      r9                   r4
     Escherichia coli                                   L)                   2
     Enterobacter                                                            5
     Pseudomona aentginosa                              4                    4
     Kle bsi ella p n eu rn o n i a e                   4                    3
     Canctidn spp.                                      8                    8



V.8.4. Patogenesis
Keberadaan kateter sebagai       benda asing akan memicu pembenrukan selaput
fibrin sepanjang kateter. Selaput fibrin rerdiri aras substansia yang koror,
p rot ein dan t r omb o s i t. Pro te i n d a n rro m b o si t menyebal rkan perl ekatan
mikroorganisn-redengan katerer.Organisme berjalan sepanjang karerer dan
mas uk l< e dalam s e l a p u t fi b ri n y a n g me l i ndungi nya dari mekani snre
pertahanan tubuh. Organisme mulai mengadakan replikasi dan dibebaskan
ke dalam alir an d a ra l ' .




PcdomarrPcrrccuelr:rn Pcnangctrhngerr
                   d,rn            Infcksi di ICU
                                                                                         57
Mekanisme konraminasi katerer terjadi sebagaiberikut:
.  Pada tempat penusukan kareter organisme di kulit bcrmigrasi masuk
   ke dalarn kulit katerer (sebelahluar kateter).
'  Kontaminasi rempar sambungan (hub) yang kemudian menyebabkan
   kolonisasi inrraluminal pada pemasangan kateter dalam jangka wakru
   lam a.
'  Kadang-kadang kateter terinfelci oleh penyebaran dari fokus infeksi
   di t em pat la i n .
.  Jarang sekali kontaminasi cairan infius (infusara) berlanjut pada CRBSI.

      Jelaslahbahwa sumber kontaminasi kateter intravaskular adalah flora
ku lit pas ien y a n g d a p a t me n g k o n ta m i n asi uj ung katerer sew al cru
dimasukkan, flora pada tangan staf medik dan paramedik yang dapat
mengkontaminasi sarnbungan kateter, penyebaran organisme lewat darah
dari sumber inFeki di rempar lain atau cairan inFus.        Ada bukti pula mengenai
pengaruh durasi pemasangan kateter dengan ciri yaitu pada kateterisasi
janglca pendel< kontaminasi di kulit lebih signifikan, sedangkan katerer
jangl<a panjang l<onraminasi di tempat sambungan katerer tampak lebih
si gnif ik an.

Determinan parogen yang penting pada CRBSI adalah:

     B ahan pem b u a t k a te te r

     Dalam perrclitian inuitro diperliharkan bahwa kace yang terbuat dari  ter
     poly v in; , 1 c h l o ri d e a ta u p o l y e th y l e n e kurang resi sten terhadap
     penempelan mikroorganisme dibandingkan katerer yang terbuar dari
     'leflonl, silicon elastomer atau poiyurethane. Oleh sebab iru sebagian
     besar katete( y^rrg dijual di Amerika Serikat tidak lagi terbuat dari
     poly v iny l c h l o ri d e a ta u p o l y e th y l e n e . S ebagi an bahan karerer j uga
     menrpunyai pernrukaan ridak rata yang dapar memperbesarperlekatan
     mi kroo rgan isme dari spesiestertentu (misalnya coagutase-n ti ue t ta-      ega
     phylocacci, Acinetobacter calroaceticus dan Pseudomonat aeroginosa).
      Kareter yang rerbuat dari maceri ini sangar rentan terhadap kolonisasi
     mikroorganisme yang pada akhirnya menyebabkan infeksi.



58                                        Pcdornanl'cnccgrlirn den PcnengguhnganInfel'si di ICU
2.   Faktor virulensi inrernal dari mikroorganisme yang menginfeksi

     Sifar mikroorganisme juga penting dalam CRBSI. Staphylococcut                  aureus
     dapar m en e m p e l k e p ro te i n p e j a m u (antara l ai n fi bri nekti n) yang
     biasanya ada dalam kateter, sedangkan coagulase-negatiue hy lococti      stap
     lebih cepat menempel pada permukaan polimcr dibandingkan parogen
     lain (misalnya E. coli arau S. aureus).Selain iru tipe tertentu coagukse-
     ilegatiuetttlPhylococci    menghasilkan polisakarida ekstraseluleryang sering
     dis ebut " s l i me " . D e n g a n k e b e ra d aan kateter, sl i me tersebut
                                                              t
     nren i n gkatka rr patogen i tas coagulase-nega i uestaphylococci den gan cara
     nr enghala n g i me k a n i s m e p e rra h a n a n pej amu (mi sal nya berui ndak
     s ebagai bl o k a d e re rh a d a p p e m u s n a h an ol eh l eukosi t pol ymorpho-
     nuc lear ) a ra u d e n g a n me l u l u h k a n kepekaan rerhadap bahan
     antimikroba (misalnya membentuk matriks yang mengikar antimikroba
     sebelr.rmkontak dengan dinding sel organisme). Candida rerrenru
     dengan adanya cairan yang mengandung glukosa, dapat memproduksi
     s lim e y an g rn i ri p d e n g a n b a h re ri ta di . H al i ni dapat menj el askan
      meningkatnya proporsi inFeksiinrravena yang disebabkan oleh jamur
     diantara pasien yang menerima cairan nutrisi parenreral.



V.8.5. Faktor Risiko lnfeksi
Fak t or r is ik o i n fe k s i b e rv a ri a s i b e rg a ncung pada j eni s karerer dan
penggunaannya. Faktor risiko yang penting adalah:
.     P er awat a n d i ru n ra h s a k i r d a l a m j angka w aktu l ama sebel um
      dikareterisasi.
.     Durasi pemasangan karerer yang lama.
.     Kolonisasi yang hebar pada sambungan kareter.
.     Kolonisasi yang hebar pada rempar rusukan katerer.
.    Tusukan pada vena jugularis.
.     Penggunaan antibicrik selama karererisasi.
.     P er lindun g a n y a n g ti d a k c u k u p d i p erhari kan sel arna pemasangan
      kareter.



                     <.l.rrr
l'cdomrrt,Itcrrccgahrn    Pcrrrrruqularr Infcksidi ICU
                                      g;rrr
                                                                                       59
V.B.6. Jenis lnfeksi
Jenis infeksi akibat pemasangan kateter intravena adalah infeksi lokal dan
i n G k s i s is t em ik .

Diagnosis infeksi lokal dapat ditegakkan bila terbukti :
'   Dari tempat masuknya katerer terdapat eritema, pembengkakan, nyeri
    tekan, indurasi arau purulensi (pengeluaran nanah) dengan jarak 2
    cm dari rempat ujung kateter (exit site).
.   Adanya tunnel infection dengan gejala eritema, nyeri tekan, indurasi di
    dalarn jaringan di atas katerer dan >2 cm dari tempar ujung kateter.


Diagnosis infeksi sisremik dapar ditegakkan bila terbukti :
.   Thrombophelebitis septik: pus di dalam lurnen vena.
.   CRBSI: isolasi organisme dari segrnen kareter dan darah (dianjurkan
                                         bakreremia dan tidak ada infeksi
    darah dari vena periFer)dengan ge.iala
      lain.

    Pada lcolonisasikareter diagnosis bergantung pada reknik. Walaupun
dapat dilakul<ar-r   berbagai reknik na!-nun teknik semi-kuantitatif adalair
teknik yang paling sering digunakan oleh kelompok daerah Asia Pasifik.
Dengan tel<niksemi-kuantitatif maka pembenrukan koloni > I 5 CFU dapat
tumbrrh dari sr-ratu   segmen kateter, biasanya dari ujung CVC.
.    Infeksi aliran darah (Blooclstream             Infection = BSI) yang berhubungan
     dengan infusate: isolasi organisme dari infusate mxuPun kultur darah
     y ang diam b i l p e rk u ta n e u s ,ta n p a a d a i n Feksidi tempat l ai n.


V.8.7. StrategiPengendalianInfeksi
Par am et er y an g C i p a k a i u n tu k m e r" rg u ranB iri si ko i nFel < sipada terapi
intravena harus menciptakan keseimbanganantara keamanan pasiendengan
cost efectiue. l-aporan rnenr.rnjukkan bahwa dengan teknik aseptil<yang
m engik ut i s t an d a rd a p a t m e n u ru n k a n ri s i l c oi nfeksi . S el ai ni tu, ri m " khusus
 IV" m em per lih a tk a n e fe k ri v i ta s d a l a m menurunkan i nsi dens C R B S I,
 k om plik as i dan b i a y a . P e m a s a n g a n a n p e mel i haraan kateter IV ol eh staf
                                                   d



                                                        Pences,lhrn                 Infeksi di ICU
                                                                  drn Penanggtrlangan
 60                                            Itedom;rn
yang ridak berpengalamanatau di bawah standardapat meningkatkan r-isiko
k olonis as i k at ete r d a n C R BS I.

P e m i l i h a n emp a t p e ma sa n g a n
                 t
Pemilihan tempat pemasangankateterakan mempengaruhi risiko terjadinya
i nf ek s i dan ph l e b i ri s . H a l i n i s e b a g i a n di hubungkan dengan ri si ko
tror nbophlebit i s d a n k e p a d a ta n fl o ra k u l i t serempat. P hl ebi ti s sej ak l ama
relah diketahui sebagairisiko inFeksi.                 Bagi orang dewasatempat pemasangan
d i ek s t r em ir asb a w a h m e m p u n y a i ri s i k o i n Feksil ebi h ti nggi di bandi ngkan
dengen ekstremiras at...s.             Selain itrr, pe,nasangankateter di tangan risiko
te r jadiny a phle b i ti s l e b i h re n d a h d i b a n d i n g kan dengan pergel ang:-n  tangan
a t au lengan at a s .

        Kepadatan flora kr-rlit pada tempat pemasengan kateter merttpakan
fa k t or r is ik o u ta n ra te rj a d i n y a C R B SL U ntuk mengurangi i nfeksi ,
dianjurka,r pemasanganCVC di subldaviadaripadadi jugular atau femoralis.
Namun belun-rada penelitian random yang memuaskan yang menunjukkan
p er bandingan p a d a ti g a re n rp a t p e m a s angan. R i si ko i nfeksi al < i bar
p em as angan ka te te r d i v e n a j u g u l a ri s i n te rna l ebi h ti nggi di bandi ngkan
dengan vena subklavia atarr femoralis.

       Pemasangankareter fbmoralis pada dewasamemperliharkan kolonisasi
r elat iF lebih t in g g i . B i l a m e m u n g k i n k a n , k ateter i emoral i s harus di hi ndari
karena risiko terjadinya rrombosis vena dalam lebih tinggi dibandingkan
dengan kaceterjugularis atau subklavia, dan adanya dugaan bahwa kateter
femoralis lebih rnudah terkena infeksi. Akan rerapi penelirian pada anak
memperlihatkan bahwa tingkat terjadinyapenyulit dan infeksi lebih rendah.

B er das ar k an ha l d i a ta s , m a k a re k o m e n d a sipemasanganl < areter     adal ah:
l.    PemasanganlcateterperiFerintravena pada dewasaadalah di ekstremiras
      at as l( ar en aj u ml a h mi k ro o rg a n i s med i l eher l ebi h ti nggi di bandi ngkan
      per gelang a n ta n g a n d a n ta n g a n . Se d angkan pemasanganpada anak
      adalah di ta n g a n , k u l i t l < e p a l a ta u k a ki .
                                                   a
2 . P em as ang a nk a te te r v e n a s e n rra ls e b a i knyadi vena subki avi a dari pada



                                    Infeksidi ICU
PcdornanPcnccgalundarr l)enengguhngun
                                                                                                  6l
      jugularis atau femoralis,kecualiada kontraindikasi,misalnyapasien
      dengankelainanperdarahan.


Pemilihankateter(jenis bahan kateter)
Kateter dari bahan Tefloni atau polyurethane mempunyai risiko komplikasi
infeksi lebih rendah dibandingkan polyvinyl chloride arau polyethylene.
Jarum baja yang digunakan sebagaialternatif unruk memasrrkkan katerer
ke dalanr v ena p e ri fe r m e m p u n y a i p o te n s i yang sama terkena kompl i kasi
infek.siseperri lcatererteflon.

     P enelit ian p a d a h e w a n c l a n ma n u s i a s e c a ra gni fi kan memperl i harkan
                                                                      si
reak s i jar ingan d a n tro m b o s i s y a n g l e b i h s edi ki r di dal am dan sekel i l i ng
kat et er k ar et dari s i l i k o n . M i tc h e l l d k k m e l a kukan penel i ti an konrrol non-
random untuk membandingkan keceparanrerjadinya sepsisdianrara kareter
polyvinyl chloride, polyethylene dan karet silikon. Ia mendapatkan bahwa
kateter polyvinyl chloride lebih besar (18,9olo)kemungkinan terjadi infeksi
di bandi ngkan siI ikon (1,25o/o) Tapi penelirian N4itchell lemah karena dari
                                               .
80 kateter silikon semuanya jenis runnellel, sedangkanPVC hanya 8 dengan
jenis tunnelled dari 37 kareter. Blacket dkk mendaparkan tingkat inFeksi
9,5o/o pada kateter polyethylene.



V.C. Kateter Hemodialisa
Pe r nas angan a te te r H e mo d i a l i s a me me rl u k an ketrampi l an dan prosedur
                K
yang khusus. SayangnyainFel.si            pada pemasangankateter hemudialisa masih
ser ing r er jadi. H a l i n i me ru p a k a n ma s a l a hseri us karena rerj adi nya i nfeksi
menyebabkan perlunya pengganrian sebagian arau seluruh katerer.

      Mesin hemodialisa harus disambungkan kepada vena yang besar unruk
mencapai lceceparan        yang sama anrara sirkulasi darah di mesin dengan di
tubuh pasien dalarl waktu singkat. Ada4 macam aksesuntuk hemodialisa:
(1) Gortex gratt, (2) transplantasivena, (3) transplantasivena dari binarang,
(4 ) Cim ino F is tu l a (v e n ap a s i c n ).C i rn i n o F i srul aterdi ri dari j ari ngan hi dup
yang cr-rkup resisten terhadap infeksi sehingga sering digunakan. Graf


62                                           Petlornan Pcrrccgrhrn dan I'cnanggulangan lnfeksi di ICU
lainnya kurang resisrendan dapar rerinfeksi saarpengganrian arau selama
proses berlangsung di unit dialisa. Bakreri dari infelai di bagian tubuh
                                                                                             lain
juga dapar berjalan melalui aliran darah menuju ke graft.
                                                                             r.,r.ni graf pada
waktu pengganrian dapar dicegah dengan reknik sreril yang u"it
                                                                                       ai .,r*r,g
           dan juga penggLrnaan        antibiotik intravena.p.-".".,g"n karererharus
:q.i"ti
dilak uk an oleh d o k re r b e d a h . Ba k rc ri k u l i t bi sa l ebi h banyak di hi l angkan
dengan persiapanyang lebih hati-hari menggunakn,-,                                reparsebelum
k at et er dis am b u n g k a n k e m e s i n d i a l i s a .         "nrir.pri.

      Pasien harrrs langsr.rng           melaporkan senrua randa-randa infeksi kepada
p ar am edis . T h' d a -ta .d a u rn u m te rj a d i n y a i nfeksi adarah:(l ) demam, (2)
r as as ak it y ang ti d a l <b i a s ap a d a re mp a r p e masangan  katei er,(3) kul i r seki rar
p em as anga. k a re re r me ra h , d a n (4 ) a d a c ai ran kel uar dari l ubang j arum
atar-rluka/insisi operasi. Pengobatandini rerhadapinfeksi sangardianjurkan
kare.a pengobaran yang rerlambat bisa menyebabk"n p.-"r-".,gan karerer
har us diulang k e m b a l i . Be g i tu j u g a p e n g o b atandi ni i .,f.ksi di Lagi an
                                                                                              l ai n
t ubuh ( m is aln y a i n fe k s i d i a b e ri k d i k a k i ) dapar mencegah pertumbuhan
bakteri yang dibawa oleh darali di rempar pemasangank"t.i...


V.C.1. Str a tegi P engendaiian Infeks i
P r ogr an- r peng e .d a l i a n i n fe k s i s e c a ra k o mprehe' si f di per!ul < an' nrul <
m enc egah t r an s m i s i v i r' s d a ' b a k re ri p a d a pasi en h.-tdi " l i ri s
                                                                                          kroni l < .
P r ogr am ini m e l i p u ti p e m e ri k s a a n e ro l o g i s r-r,muni sasi ,survei l ens
                                                   s            ruri i                        serra
p endidik an da n l a ri h a n . Pe n g e n d a l i a ni n F el csi pada uni r hemodi al i sa akan
m engur angi k e mr-rn g k i n a nrra n s mi s i a g e n i nfeksi us mel al ui al at-al at
                                                                                              yang
r er lc on t am inas i . p e rn rtrk a a n l i n g [,1 ,-.,ra n arau tangan pe.soni i
                                                                                             yanl
ter k onr anr inas i b a i l <s e c a ral a n g s u n gma u p un ti dak l angsung.



K om ponen pr o g ra m p e n g e n d a l i a ni n F e k ssecara
                                                              i       komprehensi fpada pasi en
hem odialis a me l i p r.rri :
l    P r ak r el< n g e n d a l i a n i n fe k s i p a d a u n i r hemodi al i sa
                 pe
      '     K ewa s p a d a a n re n ra n g p e n g e n d a l i an i nFeksi untuk mencegah
            t r ans m i s i v i ru s d a n b a k re ri rn e l a l r ,ri
                                                                     darah pasi en.

PedornenPcncegalnndirn Perurnggulangan
                                    Infcksidi ICU
                                                                                                63
     '    P em er i k s a a ns e ro l o g i ste rh a d a pv i ru s hepari ri sB dan C
     .    V ak s in a s ih e p a ti ri s B b a g i p a s i e ny ang renran.
     '    I s olas iu n tu k p a s i e nd e n g a n H b s Ag posi ti f
2.   Sr,rrveilens  untuk infeksi dan efek tidak diinginkan lainnya
3.   P endidik an d a n p e l a ri h a n te n ta n g p e n g endal i ani nfeksi


V.C .2 . Re komendasi                     P engenda lia n               ln f e k s i    d i Un it
He m o d ia lisa

Y.C.2.a.Kewaspadaan Pengendalian Infeksi
I"   Gunakan sarunB tarrgan satu kali pakai ketika merawar pasien arau
     m eny ent uh p e ra l a ra np a s i e nd i ru a n g d i al i sa.Ganri sarrrngrangan dan
     c uc i t angan d i a n ta ra p e ra w x ta n te rh a d ap ti ap pasi en.
2.   B agi per s o n i l k e s e h a ta ns e h a ru s n y am e makai baj u, pel i ndung ml rka
     dan mata arau maskeruntuk melindungi dan rnencegahrerkonraminasi-
     ny a b: r ju p a d a s a a t o p e ra s i d i ma n a dapat terj adi perci kan darah
     ( m is alnl, x .s e l a rn a w a l d a n a l c h i rp ro s e sdi al i si s,pembersi han cl tal i zer
     dan sentriFr-rgasi      darah). Semua alarperlindungan rerseburharus diganti
     bila terl<ontarninasi         oleh darah, cairan rubuh, sekreratau cairan ekskresi.
3.   P er s onil r id a l < b o l e h m a l c a n , mi n u m atau merokok di ruang di al i sa
     at au r uang l a b o ra ro ri u m .T e ra p i p a s i e ndapat di perbol ehkan makan di
     r uang diai i s a . P e ra l a ta n d i b e rs i l ' rk a n seperti bi asa dan ri dak ada
     peilalc uan kh u s u s .
4"   Barang-barang yang dibawa ke ruang dialisa harus sekali pakai arar.r
     hanya digunakan untuk satu orang pasien saja atau dibersihkan dan
     dilakukan desinFeksisebelum digunakan pada pasien lain.
     .      Barang-barangyang tidak sekalipakai yang tidak dapar dibersihkan
            dan dilaktrkan desinfeksi (seperti plester, cuf rcnsimerer) harrrs
            digunakan untuk satu pasien saja.
     .      O bat a ta u a l a t y a n g s u d a h d i g u n a kan (rermasuk vi al mul ti pel ,
            s puir , s w a b a l k o h o l ), h a n y a b o l e h di gunakan l agi unruk pasi en
            tersebut dan tidak boleh digunakan r,rntukpasien lain atau ruangan
            lain.


64                                            PcdonrenPencegehrnden Pcnangguhngrn lnfcksi di tCU
5 . K er ik a ob a t-o b a ta n d a l a m k e ma s a n vi al mul ri pel di gunakan, maka
     siapkan dosis unruk tiap-tiap pasien di ruang yang bersih, rerpisah
     dari ruang dialisa. Jangan membawa vial multipel dari ruang saru ke
     r uang lain .
6. Jangan bawa botol vial, spuir, swab alkohol dalam saku. Tioli unruk
     mernbawa obar-obaran harus dibersihkan sebelum digunakan untuk
     pas ien lain .
7    Ruangan y a n g b e rs i h h a ru s d i g u n a k a n unruk menyi apkan, mengel ol a
     dan m eny i mp a n o b a t d a n a l a t-a l a ry a ng ti dak di gunakan. R uang i ni
     harus benar-benar terpisah dari daerah yang rerkontaminasi (tempar
     pengelola a n d a n p e n y i mp a n a n o bar dan peral aran yang tel ah
     digunak an ). J a n g a n m e n g e l o l a d a n menyi mpan obat dan al ar yang
     bersih di daerah yang sama atau berhubungan langsung dengan renrpar
     pengelola a n o b a r d a n a l a t y a n g re l a h d i gunakan.
8. Gunakan fikerlprotectar transduser eksternal rekanan arreri dan vena
     unt uk t iap p a s i e u n ru k m e n c e g a hk o ntami nasi pada moni tor tekanan
                             n
     nresin dialisa. Ganti Ftlr.erlprotectordianrara                    perawaran riap p:rsiendan
     jangan dip a k a i l < e mb a l i .F i l re r rra n s d useri nrernal ri dak perl u di ganri
     s ec ar ar ur i n d i a n ra ra p e ra w a ra np a s i e n.
9. B er s ihk an d a n d e s i n F e k s ru a n g d i a l i sa (mi sal nya kursi , rempar ti dur,
                                             i
     nr eja, nr es i n ) d i a n ra ra p e ra w a ta np a s i en.
     .     Berikan perhatian khusus terhadap pembersihan terhadap control
           pane/ p a d a me s i n d i a l i s a d a n p e rmukaan l ai nnya yang seri ngkal i
           dipegang dan porensial rerkonraminasi oleh darah pasien.
     .     B uan g s e mu a c a i ra n , b e rs i h k a nd an desi nfeksisemua permukaan
           dan k o n ra i n e r p e m b u a n g a n l i m b a h pri mer (rermasukpenampung
           air yang menempel pada mesin)..
 10. S et iap a d a c e c e ra n d a ra h , s e B e r a bersi hkan daerah rersebur
      m enggun a k a n l a p y a n g d i b a s a h i d e n gan desi nfekran ruberkul osi dal
      at au c air a n p e m u ti h d e n g a n p e n g e nceran l :100 (300-600 mg/l i ter
      cairan bebas klorin) sebagai desinfeksi tingkat sedang. Personil yang
      m elak r " r l< a np e m b e rs i h a n h a rtrs m e n ggunakan sarung tangan dan
  '
      pakaian dimastrkkan l<edalam kontainer antibccor. Sereleh                      semua darah
      y ang l< ls a tn -ra ta i b e rs i l rk a n ,g u n a k a n pal < ai an
                              d                                            arauhanduk baru unrrrk


Pcdomln Pcnccqrhrrn
                  rlarr Penrnguul;rrrgrrn
                                       lnfcksi di ICU
                                                                                             65
      proses desinfeksi yang kedua.
I t. Unruk diaQzer dan tubing darah yang akan diproses kembali, rutupi
      dyalizer port dan jepir tubing dengan klem. Temparkan semua dyalizer
      dan tubing yang telah dipakai ke dalam kontainer antibocor untuk
      dibawa ke rempat pemrosesanulang atau tempat pembuangan.
t2.   B uat lah pr o to k o l re rtu l i s te n ta n g p e mbersi han dan desi nfeksi
      permukaan dan peralatandi ruang dialisa,termasuk pembersihan secara
      nrekanik sebelum prosesdesinFeksi                         (Tabel 2). Jika pabrik memberikarr
      ins r r ulc s i ur rru l < s re ri l i s a s ia ta rr d e s i n fe ksi suatu al at maka i nstrul csi
      t er s ebur heru s d i i l < u ri .


 Thbel 2. Rekomendasi prosedur desinfeksiuntuk peralatanyang biasa ciigunakan
 atau permukaan di ruang hemodialisa

 P era lat:rna tau pc r m uk aan                                   Desinfe!<sitingkat                 Desinfeksi tingkat
                                                                        rendah                             sedang


 Ceceran darah yang banyak atau
 perala ran ya ng re r lc on am i nas i
                             r
 dengan darah
 Hemodialyzer port caps                                                                                           X
 Interior pathuayt ntesin dialisa                                                                                 X
 Pen ge lola an a ir d an s is t e dis t r ibus i
                                  m                                                                               X*
 Gunting, hemosrat, klen:., cuf                                                  X                                x"*
 tensimeter, sreroskop
 Pe rmukaa n lin gk ungan, r er m as uk                                          X
 permukaan luas mesin l-rcmodialisa

 '    Sistem disrribrrsi clan pcrruclolrrrr eir thri konsenrret cairan dielisa merrrerlukan tirrgker desinfeksi
      ya n g l e b i l r ti n g g i jika r er dr par biofilr n delam sistem ter s c but s ec ar a bc r m ek na.
 "    Ji kr p crrl a ra ,r r.rko,.t,,,,r i,r "si olch dar ah, gunr kan desirr F ek tan r ubc r k ul os i dal .




13. Untuk pasien dengan gagal ginjal akut yang menjalani hemodialisa,
    ke'*'aspadaansrandar sudah cukup untuk mencegah rransmisi virus
    melalui darah. Tapi pasien dengan hemodialisa kronik yanp;dirawat di


                                                                    Pcnccgrhrn
                                                             Pcdonren                            lnfcksi di ICU
                                                                              dln Pcnrnggul,rnglrr
    rumah sakit, maka kewaspadaanpengendalian infeksi yang dirancang
    khusus untuk unit hemodialisa kronis harus diterapkan.
14. Semua pasien hemodialisa kronik harus dilakukan pemeriksaanHbsAg
    pada saat masuk rumah sakir, baik dengan laporan rertulis d.arirumah
    s ak it y ang m e ru j u k a ta u d e n g a n me l a kukan tes serol ogi s. P asi en
    hem odialis a k ro n i k d e n g a n H b s A g p o s i ti f harus di tempatkan di ruang
    t er pis ah dan me n g g u n a k a n m e s i n , p e ra l atan,i nsrrumen, bahan, obar
    y ang t er pis a h , l c h r-rs trsn ru k p a s i e n H bsA g posi ri f pada saar C i al i sa.
                                     u
    P er s onil y an g me ra w a r p a s i e n d e n g a n H bsA g posi ti f ti dal < bol eh
    m er awat pa s i e n l a i n y a n g re n ta n .
15. Semua pasien hemodialisa kronik harus dilakukan pemeriksaanrutin
    inFelcsi  virus hepatitisB (hepatitis B uirus = HB'O dan virtrs heparitis C
    (heparitis C uirus = HC\4 dan pasien diperlakukan sesuaidengan hasil
    pemeriksaan. Berirahukan hasil pemeriksaan(posirif arau negariF)pada
    bagian lain a ra u r' .rm a h s a k i t l a i n k eti ka pasi en di ruj ul < . Ti dak
    direkonrendasilcenunruk melakukan pemeriksaanrutin infelai virus hepa-
     titis D dan HIV bila hanya berrujuan mengendalikan infetr<si.                 (Thbel 3)
1 6 . S t at us s er ol o g i H B V s e mu a p a s i e n h a r us di kerahui sebel um masuk
      unir hem od i a l i s a - U n tu k p a s i e n y a n g di ruj uk dari uni t l ai n, hasi l
      pem er ik s aa n p a s i e n te rs e b u r h a ru s d i l ampi rkan. B i l a status serol ogi
      HRV seorang pasien tidak dikerahui pada saar masuk, pemerilcsaan
      harus diiakukan dalam jangka waktu 7 hari.
1 7. Ris ik o t er in fe k s i H BV p a d a p e rs o n i l h e n rodi al i sati dal <l ebi h besardari
      personil keseharan lainnya sehingga pemeriksaan rurin pacie personil
      hem odialis a ti d a k d i re k o m e n d a s i k a n k ecual i bi l a di perl ul can cararan
      tenrang status resporlsrerhadap vaksinasi hepariris B. Pemerilcsaan                          ru-
      t in HCV H D V H i V p a d a p e rs o n i lk e s ehatan dak di rel comendasi kan.
                                                                       ti

       SurveilensInfeksidan EfekTidakDiharapkan
V.C.2.b.                                      Lainnya
Ke m bangk an da n j a l a n k a n s i s re m p e n c a (x r anmedi k yang terpi sah unruk
me nc ar at has il s ra ru s v a k s i n a s i p a s i e n , hasi l pemeri ksaan serol ogi s,
b ak t er em ia at au a d a n y a i n F e k s iy a n g m e n u nda aksesvaskul ar (rermasuk
wak t u ons er , t emp x r i n F e k s i ,c rg a n i s m e p e nyebab, darr hasi l res resi srensi



PcdornanPenccgalunden Pcnangguhngan
                                  lnfclsi di ICU
                                                                                                67
Thbel 3. Jadwal pcmeriks:ran
                           rutin infeksiHBV dan HCV
 Status pasien               waktu
                         Pad:r                       Setiap        Setiap 6       Seriap
                         masuk                       bulan         bulan          tahun

 Semua pasien            HBsAg, Anri-
                         H Bc (ro ra l ),
                         a n ri -H Bs ,a n ti -
                         HCVSGPT
  Rent an t er had a p                              H Bs Ag
  HB V
  rermasuk
  golongan yang;
  t idak r es pons i f
  terhadap
  vaksin
  A nr i- HB s                                                                     A nri -H B s
  pos ir if dan
  A nt i-
  HB c negat if                    Tidal                  riksaan tambahan terhdao HBV
  A nr i- HB s ant i
  A nr i- HB c
  pos it if
  A nr i- HCV                                        SGT          A nti -
   negar if                                                       HCV



mikroorganisme) dan efek yang tidak diharapkan lainnya.Tlrgaskanpersonil
kes ehat an unt u k me n i n j a u u l a n g h a s i l p emeri ksaan ruti n seti ap kal i
dilaksanakan pemeriksaan dan secaraperiodik meninjau ulang kejadian
bakteremia atau infeksi aksesvaskuler yang tercatat.Jelaskanlebih spesifik
rentang prosedur kegiatan yang diperltrkan ketika perubahan terjadi pada
hasil pemeriksaan atar.r   frekuensi terjadinya bakteremia atau infeksi akses
vas k uler . Lak u k a n p e m e l i h a ra a n te rh a d a p catatan seti ap pasi en yang
ter m as uk lok as i u n i r d i a l i s ad a n n o m c ,r m e s i ndi al i sayang di gunakan ur-rtuk
ri ap dialis a dan n a n ra p e rs o n i l y a n g m e n g h ubungkan pasi enke mesi n dan
m elepas k : ur nya .



 68                                               Pedoman         dan Penangguhngan
                                                         Pcncegalun               Infcksi di ICU
   v . c . 2 . c .p e nd i d i ka nd a n p e ra ti h a n
                                                       pengendar ian
                                                                   Infeksi
    P endidik an da . p e l a ri h a ' rd i re k o m e n d a s i r can
                                                                                 utnuk personi l kesehatan    dar_r
   pas ien ( ar au a n g g o ra k e ru a rg a
                                                          y a n g m e ra w arnya). perati han seharusnya
   dis es uaik an de n g a n ri n g k a t' p e n d i i i k " n
                                                                             dari personi l , pasi en, anggora
   keluarga dan aruran tenrang perilaku
                                                                  dan teknik pengenciarian           infeksi harus
   disediakan unruk r.r.n;ngli".kan
                                                             keparuhar. peraruran dan rekomendasi
   telr t ang pelar i h a n p e n g e n d a ri a n
                                                              i n F e k s i pada personi l keseharan
  u m um ny a dan k h u s u s n y a p e rs o n i r                                                           pada
                                                                d i a ri s ar erahcri rekomendasi kan.
  Rel<ornendasi             1,ar-rg relah disemptrrnakan anrara lain:
  '       Peiatihan dan pendidikan harus
                                                                 dibcrika' kepadasenlua pegaw:ri
          berisiko unrr-rk rerpajan darah,                                                                   yang
                                                                 semua pegawai baru yang bekerja
          r - r nirr er s e b u rd a n h a rtrs d i c a ta r,                                                   di
                                                                 m e l i p u ti hal _halLr..i l ..,r,-
         -         T ek nik c u c i ra n g a n y a n g b a i k .
         -         P er - r g g rrn a a n a r p e l i n d u n g
                                       al                         v a n g sesuai .
         -        llnr ang rra n s n ri s i rri .,r, y " ^ g d i t..rrarkan
                                                                                        merartridarah, bakreri ,
                  dar r nr i k ro o rg a n i s n rel a i n .
         -        T ir r da l < a np e n g e d a l i a ni n F e k s y a n g
                                                                     i        di rekonrendasi kanu' ruk uni r
                  h e.-rodialisa dan bagai nr                       p"rb.d"annya a"r, g"; i.*aspadaan
                               yang dirckonrendasikan unruk".,"
                                                                                   p.l"y"r,"r., kesehatanyang
                  nil:ar
        -         Pengelolaan dan pemberian ot_ar
                                                                           yang repar
                  Mengerri bahwa.pasiendcngan
                                                                        utra"g posirif harus diremparkan
                  di ruang reipisah d"n *..rggu.,"k".,-*.ri.r,
                                                                                            inr,r._.r,    b^h"r,,
                  obar dan personi! y"r,g ,.rp[ll,
                                                                         pula.
       -         T ek nil< p e n g e n d a l i a n i n fe l s i y " n g
                                                                               ,.p" t' paci a saar proses aw 1l ,
                 per awa ra n d a n p e me l i h a ra a n re mpat
                                                                                 akses.
       -         M er ode p e m b e rs i h a n d a n d .s i n i e kri
                                                                                  perararan-danpernrukaan
                 lingk un g a n y a n g re p a r u n ru k
                                                                              rr.renri rri mal kan rransmi si
                 nr ilc r o o rg a n i s m e .
       -         catara' rnedir<         yang rersenrrarisasi              unt.k nlenlanrau dan mencegah
                 k onr pli k a s i re rms trk h a s i t te s s e ro l o gi s
                                                                                  ruti n H B V dan H C V sra_
                 rr.rs val<sirrasi    hepariris B, episocieba-krcrernia                   d". h;;;;.yaD    akses
                 l< ar ena n F e k s id a n e fe k l a i n y a n g
                             i                                            ri cl akdi i ngi nkan.


Pcdorrran
        ltcnccq,rlrrrr
                    rlrn l)cn,rnggrrl;rngrrn
                                         tntiksi di ICU
                                                                                                         69
     Pelatihan dan pendidikan pasien(arauanggora keluarga yang merawar
     pasien) tentang ratacarapengendalianinFeksi      seharusnya
                                                               diberikan pada
     saat masuk ke unir dialisa dan harus dilakukan minimal riao satu rahun
     s ek ali, m elip u ti h a l -h a l b e ri k u r:
     -     Teknik higiene perorangan dan cuci tangan
     -     tnggung        jawab pasien renrang perawatan yang benar rerhadap
           akses dan nrengenal tanda-tanda infeksi sehingga harus ditinjau
           ulang s e ri a p k a l i rerd a p a r k e m u n g k i nan perubahan j eni s akses
     -     Val<sir-ra,si
                       yangdirelcomer-rdasikan


V.D. Kateter Arteri Pulmonal
Kateter arteri pulmonal (Pulmonary Artery Catheter = PAC) merupakan
suatu prosedur diagnosrik berupa katererkecil dengan beberapasambungan
ka b el y ang m en g h u b u n g k a rr k e m b i n g d e n kabel moni ror, bi asanya
dipasanglcan lce dalam vena besar di leher atau dada bagian aras. PAC
digunalcan rrnruk menilai dan memanrau ftrngsi.ianrung;memanrau rekanan
j a n r ung; m enr lai d a n n re n l a n ta u k e b u tu h a n cai ran. InFormasi i ni sangat
b e r guna bagi dokte r d a n p e ra w a t u n tu k me rencanakan         pengobaranpasi en.
PAC hanya digunalcan saat pasien rnenclapar                     perawarandi ICU, PostAnes-
tltetic Care Unit (PACU) arau ruang operasi. Beberapa risiko pemakaian
PAC adalah s ala h s a rl r p x rL r-p a ru me n j a d i kol aps, perdarahan, denyuc
j a nr ung t idak r e l a rrrr, i rrF e k s i ,p c c a h n y a p embul uh darah urama dan
i cem at ian.

V.D . 1 . R i s i k o In fe ksi
Infeksi a!iran darah sebagaiakibat pemasanganPAC merupakan sebab urama
rerjadinya inFelcsi ICU. Namun hanya sedikit penelirian renrang infeksi
                     di
i n i y ang adek uat, te rk o n rro l b a i k d a n b e rs i fat random. N amun, pri nsi p-
prinsip pengendalian inFeksi yang sudah direrima dapat dipakai unrtrk
mengurangi risilco inFeksi.

     Kemungkinan ter.iadinyainfeksi bisadideteksibila pasiendemam, hasil
kultur darah positiF, rerdapar erirema arau drainase purulen pada rempar



70                                                 ltenccgalr:rr Pcrrrrrggulangrrr
                                          Pc.lornrrr          drn               lrrllksi di ICU
  penrasanganl<:rreter.
                      Jil<adiduga i.feksi nremang strngguh rerjadi, katerer
  harus dilepasl<andan dipasanfkaceter baru p"a. ,.-ii   yang baru pura.
        Jika i.Felcsibeluin pasri (misalnya jika pasien mengarami
                                                                                       demam ranpa
 sebabjelas)_,    straregiyang paling berguna adal"h
                                                                                      k"r.r.. dengan
 guideuire dan mengirim rip k"t.r..-,r.,t,rk                             -.r,g"g"r,ti
                                                                    anarisakllr.r. kuanricarif.
 kolonisasi organisme pada karerer                                                               Jika
                                                       rersebur melampaui ringkar yang bisa
 diterima oleh laborarorium mikrobiorogi
                                                                  rumah ,"kir, *"k"a kateter yang
 bar u dipas ang h a ru s d i l e p a s k a n . p .J s e d t,,
                                                                        i ni bi sa .renghi ndarkan
 p enggant ia. r e n rp a r p e rn a s a n g a nk a re te r
                                                                  y ang ti dak perl u, rerrrtanraj rki
 a k s esv ena s enrra l s u l i r d i c a p a i . S e m u a
                                                              p e m asangan pA c denga. rek.i k
 non- s r er il, nr isa l n y a p a d a s a a t d a ru ra r
                                                            s e l anraresusi tasi .rau r
 h a r u s d i g a nti sa a r p a si e ' su d a h dalam
                                                        k."d."lr ""TlJTl"
 V.D.2. StrategipengendalianInfeksi
 Inf el< s ial< ibar p e m a s a n g i rnp A C
                                                p a i i n g b a i r<di cegah dengan mcngganri
 karerer dalanr wal<ru 4g-721".'t- e.b..."pa
                                                             pe^eritialn                    bahwa
 melepasl<an     PAC dalam jangka wak-tu 4B-7zjam seretah                  -.,-,..rI1.,kkan
                                                                              pemasairgan,   secarx
 signifikan nrengurangi insidens infeksi.
                                                            Jika kareter dibi"rL"., saja rebih
 dari 72 jam, mal<a risiko inGksi rnening!<ar
                                                                tajarr,. Infeksi biasanva terjadi
 o l eh k olonis as i b a k te ri p a d a k trri t
                                                     y a :n g be.mi grasi k. kat.r., ri i ngga
 n rengha. s ilk an k o n s e n rra s i b a k re ri
                                                     y a n g t i nggi pada katerer tersebut.
 Pe'ggunaan anribiocik yang melapisi pAC
                                                               belum rerbukri e.ekriF.

Be ber apas t r at e g i u n ru k d a p a t me n g u ra n g i
                                                                ri si ko C R B S I adal ah;
-   M em ber s ih k :rn k u l i r d e n g a n c a i ra n
                                                                 chl orhexi dene n
    eFekriviraspating ringgi (m..,.r.,.rr
                                                          dara Malci _ American;;:::;rr:
    ciety, Desember 2oo2), rerapi cairan ini
                                                               berr-rmcriar<ui   oleh FDA. Berr-r'.r
    ada bul< r i y a n g j e ra sb a h w a s u b k ra v i a
                                                              m er.parcan (ernpar i nsersi yang
    lebih bail<di b a n d i n g k a n j u g u l a ri s i rrre rna
                                                                  dal arn hal nrentrrur.rl cansi ko
                                                                                             ri
    inlek s i. I nf u s h
       re. Jl,i;J.ili.fi::,i:ffi :il ffff ft :j::
      n cegah,..,
              I              L!ff
      per - r gar uhn y a rh a d :rpi n fe k s i .An ri b i o ti k
                        re                     profi l aksi ssi sremi k ri dak bi sa
      me.cegah ko'rlmirrasi katerei, rerapi
                                            dapar rnenjaciif"kro, pr"disposisi


Pcdonrant)crrceg.rhan l)cnenggulrrngrn
                    dln              lnfeki di ICU
                                                                                                7 |
     terjadinya infeksi bahkan dengan organisme yang lebih resisten.
     Peralatan dan reknik. Proses pengganrian karerer dengan guideuire
     bis a m enamb a h ri s i k o i n fe k s i k a re n ame l i barkan rambahan mani pul asi
     katerer. Sebaliknya, subcutaneous                tune/ling yang memisahkan rempar
     tusukan di ktrlit beberapa senrimerer dari rempat masuk vena dapat
     m engur angi ri s i k o i n fe k s i .
     Teknik steril dan antimikroba. Penggunaa,n                 teknik yang sreril dengan
     dis iplin pad a p e n ra s a n g a nk a te re r d a p ar menurunkan ri si ko i nFeksi .
     Perawat harlrs menrakai anrisepsis          kulit yang repar,drape sreril,penurup
     lcepala,maslcer,baju steril dan sarung rangan sreril. Bahan pelapis PAC
     yang terbuar dari plastik dan sreriljuga dapar menurunkan risilcoinFeksi.
     Kateter yang dilapisi anrimikroba dapat menurunkan risiko infeksi.
     Penggrlnaan kateter ini untuk katerisasi              jangka pendek bisa menambah
     keamanan, retapi praktek higiene dan pengendalian infeksi yang baik
     t et ap har us d i j a l a n k a n .
     Hub k ar et e r, S u m b e r p e n ti n g i n F e k s ikaterer adal ah kol oni sa.si      pada
     hub k at et er. Me mb a ta s i a k s e s e h u b d an menghi ndari pemakai annya
                                                    k
     uutul< rnengan-rbil         darah dapat mengurangi risiko kolonisasihub. Risiko
     k ont anr inas i   j u g a c i a p a r d i tu rrrn k a n d engan memakai al kohol , povi -
     done, at at r s w a b s te ri l u n ru k d i s i n F e ksi hub dan sambungan hub
     sebelunr dan sesrrdahakseske hub.
     P er s onil. M e n u n j u k ti m k h u s u s rrn ru k m el akukan i nsersi ,i nspeksidan
     penggantiart tlressingterbtrkri nrengurangi risiko infeksi.
     A nt il< oagul a l r. An ri k o g u l a n d o s i s re n d a h j uga terbukti berhubr-rngan
     dengan berlcuraugn),ainsidens pembentu!<anrrombus pada tip kareter
     dan inf el< s is e l a n j u tn y a .J a d i p e n g g u n aan hepari n dosi s rendal ' runtuk
                jang k a p e n d e l <d a n w a rfa ri n d o si s sangatrendah untuk kareter
      l< at er er
      jangk a p: r n j a n g ra mp a k n y a c u k u p m e n j anj i kan.




72                                          Pcdomlrt Penccg;than Pcrrangguhngan
                                                               dlrr           lrrfcksidi ICU
V.D.3.
     Rekomendasi  Pencegahan
                           lnfeksiAkibat Pemasangan
KateterArteri Pulmonalis

 .S                s
                                                                                           KATEGORI

A     Melakukan penga.i/asan          rerhadap        populasiinfeksi (CRBSIt                 IA
      padap: r s ie n U d a n re m p a rl a i n n y a ,me m:rnrau adi an
                    IC                                                   kej
      inf ek s idan m e n g i n d c n ri fl k a s ie ru b a h a n
                                                p               yang rerj adi
      dalam praktek pengarvasan/             pengendalian         infeksi.
B. Melakr.rkan
             pendaraan
                     p:.rsien
                            ICU, baik dewasa
                                           maupunanak-                                        IR
                        j
      anak ,r c nr a n g u ml a h i n fc k s iy a n g d i h u b u ngkandenganper
      1000 har i ka te re r a n m e m t> a g i a l a mri n g karkaregori
                            d                     d
      bobor lahir u n ru k n e o n :rru IC U , y a n gd a p ardi bandi ng-
                                            s
      k an dengand a ran a s i o n ad a n p e l a y a n a n eseharan.
                                         l                      k
C Mcmcriks:r l<cjadi.rnyilng mcngarah kc kejadian fatal arau                                  IC
      nlcnll:rncam kchidupirn yang rid-rk diharapkan, cjimana men-
      cakup scriap varirrsiproscs rclaps yang mungkin memberi-
      kan akit>a ryang m c r ugik an.


2. Umum
                                                                                           KATEGORI

      Pemasan   gan karercr, sel'rrri  knya men gggunakan kata rer                            IB
      dengan lumen kanulir run{:saldalam perawatan kecr-rali               pintu
      kan u la mul r ipc l dipc r luk an un r uk pc nar ala k s a n a a np a s i c n .

B Pe mbe rian anr im ik r oba dan anr is ept ik pad a o r a n g d e w a s a                   IB
      ya ng d ilakukan pc m r r s ir ngank at c t er lebih d a r i 5 h a r i , u n r u k
      mengur:rngi terjadinya inFeksi.Straregi lain unruk me-
      n gu ran gi te r jadiny a inf ek s i har us m enc ak u p 3 k o m p o n e n
      seb ae aib eri k t r r :
      '     Mcndidik sraf nrcdik yxnfi memasangdan merawar karcter.
      '     Mcngeunakan rrlar-irlar ril pada uraktu pemasangan.
                                           .sre
      .     N4crrggrrnak:rn      Chlorhcxidine 206 sebagaiantiscprik k.rlir
            prrda rv:rl<rrr    pemas:lngan karercr




PcdorrrrnPcnccgrlr:rn
                    drn Pcnanggulangrn
                                     Infcksi di ICU
                                                                                                   73
3. Pemilihanlokasi insersi kateter
                                                                                     KATEGORI
     Mempertimbangkan risiko dan keunrungan dari pemasangan                                  IA
     ka tete r p ad a lok as i y ang dir ek om e ndas ik an u n t u k m e -
     ngurangi komplikasi inf-eksidarr mekanik (misalnya
     pneumorhorax, r'uptrrr rrrreri subklavia, laserasivena subklavia,
     stenosis vena subklavia, hemothoraks, rrombosis, emboli
     udara dan salirh pcncmpar:rn kareter).

B . Pada pasien dcwasa pemasengan nontunnel CVC hanya pada                                    IA
     daerah subklavia agar dapar mengurangi risiko infeksi diban-
     dingkan dengan daerah jugularis arau femoralis.

C . Lokasi pemasangan kararer hemodialisa scbaiknya pada daerah                               IA
     Femoralis arau juguleris daripada subklavia unruk mencegah
     terjadinya stenosis vena.


4. Perlindungan maksimal pada daerah insersi
                                                                                      KAI L,GORI
A. Cunakan reknik ascprik pada saar pemas:rngankaterer,                                       IA
     termasuk menggunlkan tutup kepala, masker,baju,sarung
     tangan dan drape l:esar yang sreril

B . Cu na ka n le ngan t r aju y ang s t er il unr uk m ei i n d u n g i p c m a -            IB
     s:rngrrnkatcrcr.


5. Penggantian kateter
                                                                                      I(ATEGORI
A    Jangan te rlalu sering arau rutin mengganti karerer untuk                                IB
     semua jenis, Iral ini unruk me ncegah rerjadinya infeksi.

B    Jangan mclepaskan karerer hanya karena pasien dcmam,                                      II
     te tap i g un akan per t im bangan k linis dan bu k t i j e l a s a d a n y a
     inle ksi.

C Pengganriln guileuire
     l.   Jangan me ngganri guidewit'e sccara rutin pada karerer                              IB



74                                             Petlonrarr Perrccgrhen drn Penrlggul:ngan   Infeksi ,Ji ICU
          nontunnel untuk mencegah terjadinya infeksi.
          Gunakan guidewire untuk mengganti kareter                                        II
          nontunnel yang rusak walaupun tidak ada inFeksi.
     3.   Gunakan sarung rangan sebelum pemasangan kateter                                IB
          baru bila mengganti guideu,ire.


6. Kateter dan perawatan di luar kateter
                                                                                       KATEGORI
     Bila ka tete r r nult ilum en digunal< an,m ak a p i l i h s a l a h s a t u          II
     ja lan khu su s unt uk pem ber ian m ak anan pa r c n r e r a l .

B    Jan ga n me nggunak an ant ibiot ik a s ec ar ar u t i n u n r u k p c n -            II
     ce ga ha n inicl< s i, pc r nak aian ant ibiot ik a han y a p a d a p e -
     makai:rn khu.sr.r.s    (misalnva: pada pemasangan karerer jangka
     panjang r'tau lcatetcr trrnnel yang seringkali melryebabkan
     infeksi multipcl, walaupun tclah me nggunakan reknik ascprik
     yang malcsinral)

C Pcrawatarr dressng karetcr.
                 i
     l.    Canri dressin(, pada kate rer brla basah, lepas arau ingin                      IA
           melakukan inspeksi pada lokasi insersi.
     2.    Penggarian dressingpada kateter jangka pendek,                                  IB
           2 hari sckali bila menggunaktn grtusesteril, Can 7 hari
           sekali bi[a menggunakan dressingtransparan, kecuali pada
           pasien anak yang mudah teljadinya pelepasan kateter.
     3.    Pengganrian dressingminimal I kali/minggu sampai                                IB
           pasicn tidak perlu dipasang karercr.

 D   Tida k dire k om c ndas ik an unt uk m c ngguna k a n c h l o r h c x i d i n e     Masalah
     tponge dressingunruk mengurangi risiko rerjadinya infeksi.                           bel um
                                                                                       terselesaikan

 E lJangan menggunaken Chlorhcxidinc spougetlressing pada                                   II
    usia b ayi <7 h: r r i at au nr as ak eham ilan < 26 m i n g g u .

 F            pcr;rwatrrndi luar karetcr dengan bah,rn yang cocok
     Sesuailcan                                                                            IB

 C   Cun:rk:rn baju stcril p;rda scmrta pemasangan kateter arteri                           IB
     o uln -ron irlis .




Pcdornarr l)cnccgrhen rlrn Penrnggulrrngan lnleksi di ICU
                                                                                                 75
V.E. R e ko m endas i Frek uens i P e n g g a n t ia n K a t e t e r ,
Dressing, Set Infus dan Cairan
 I(atete r              P en g g a n tia n   Penggantian         Penggantian         'Waktu
                        d a n r e lo ka si   dressing            set rnfus           gantung
                        a la t                                                       cairan
                                                                                     pareriteral

 Katerer                Penggrrrrian         G anr ihh            Ganri tubing        rekonrendasi
 ve n a p e r i f c r   darr relokasi        dressing saar        intravena,          untuk
                        :rlat.               kateter              termasukalar        waktu
                                             dilepaskan   atau    tambahan,tidak ganrung
                                             diganri,atau         lebih dari 72       cair:rn
                                             sl.ar dressing       janr kecuali ada    i ntravena,
                                             lenrbab,longgar      indikasiklinis.     ternrasttk
                                             atau kotor.          Ganri tubing        cai ra n
                                             Drttsing perlu       yang dipakai        nutri si
                                             lebih sering         unruk penr-         paren teral
                                             diganti pada         bcriandarah,        yang ti dak
                                              pasien dia-         prodtrkdarah        nrengandr.urg
                                             phoretic. l>ada      ar;rrr enrulsi      l emak. InFrrs
                                             pasiendengrn         lcmak dalanr        cai ran
                                             dressing  ytng       rvaktu ?4 jan'r     nutri si
                                             tcbei schingga       dari pemasengan P :rrenreri l
                                             tidak bisa            inftrs.'lldak      yang
                                             clilaktrkan          direkonrerrdasikrn tnengurdung
                                              palpasiatatr         penggantian        l emak Irartrs
                                              m c lihat            tubingyang         selesai
                                              !angsung             dipakaiunttrk      dal am 24
                                              renlp;rr             in[us              j anr. Inftrs
                                              pcnusukan            intermitten.       enrul si
                                              katerer,gantilah     Usahakan            lemak saja
                                              elressingdan         nremakai            harus selesai
                                              periksa kateter      cxtension tubing    dal :rnr l 2
                                              paling ridak         yang pendek        j am. Infus
                                              setiaphari dan       urrtrrk             produk
                                              pasang dresting      disanrbtrngken      dereh herus
                                              bar u.               ke kltctcr          selesri
                                                                   sebagai  bagian     tl al am 4
                                                                   d:rrirlrt. Ganri    i am.
                                                                   cxteusiontubing
                                                                    rcrscbrrtsalt
                                                                    katerer dig:rnti.
                                                                   'l'idak ada




76                                                Pcdonun Pcnccgrhrnd;ur Iten.rnggulancarr
                                                                                        Infeksidi ICU
                             l'ada pasien               Samasepertidi                    Sama seperti di                Sama seperti
                             dewasa ganri               atas.                            atas.                          di atas.
                             kareter dln
                             p in d a h ke n
                             r en ' r Pa t
                             p e n u sr ,r ka n
                             t i d a k ie b ilr d a r i
                             72-96 jant.
                             Ga r r r i ka r cte r
                             y an g d i1 > a sa :r g
                             s :r :r tcl:r r tr r lt
                             d :u r p tsa r ) g
                             k ete r cr b a r u d i
                             r cn r p a r [> cr b e cl
                             c l a l:r r r 4 8 ja m .
                              l);tclrrp;rsicr.i
                                          ,
                              , r n .r l< i.r n g a n
                              l r len g g tt) r l
                              k :r r cr cr p e r ifcr
                              k e ctr e li a d :r
                              i n d ika :i klin is.

K a te tcr                  I'ic.lak arir                 Ca n tila h                    diperlrrken.                   C l ar.rticai ren
a r tcrt                    rcko nr c'rr i rl.rs          lrtssing satt                  Cu.ti rubing                   pa,l a s:rar
per ifc. r                  t t rrr l:k                   k ate te r                     :.,, - ^- .- .- ^ ..^ t-       pengg;rnta i l r
                            f r ckr r e n si              d ilcp a .ska na ta r r        s :l ar Pengl l antl et'r      transt/ttctr
                            p cr r q g an tia r r         d ig a n r i, xr :r u sa ;lt   transducer                     (itrtcrv.ll   /J

                            k r te te r .                 tlr tsin g icn ,L r a b ,      (rrrrerval    7                j .rnr) .
                                                                                                           '1,i:trtt)
                                                          lo n g g a r a t;r u
                                                          ko to r , a ta u b ila
                                                          p e n r e r iksa an
                                                          r e n r Pa r
                                                          p e n u su ka n

Karcrer vcn.r                                               ()anri dressing                                             'I-iclak
                          | [ ' r d .r p .r r ie r r                                     C;.nri utbing                           acla
senrral                   I                 ,
                            c l cs' r r sa !.r r r g .r n I scr i:r p 2 h .r r i         i ntravena.l an                rekonrencl asi
ternr:rsrrk               I g.rrrtik.rtet.r I dan lrtssing                               :rl l t tanrbahal r            untul < w akttr
kate t.r                  I rc r ialr r c r ir r g I r r . r , r r plr . r r t
                                      s                                                  ti dak l ebi h dari            ga rl rung
sentral 1,ang             I r r ntr r l<                  sctia ir 7 h a r i             72 j anr. Ganti                cai rar.r
diinsersiLan I nrencegah                                  r r n tu k ka r cte r          tr.rbi ngyang                  i ntravena,
ke perilcr dan I infeksi.Pacia                            ja n g ka p e n d ck.          di pakai untuk                 rermasuk
katcter
                              I p a sicn a r r a k,     I G:r r r r i lr ts:ir tg        pen-rberi an                   cai ran nutri si
h e n - r o c l i ; r l i s a I t i da k a d a             Sal' r tKateter               darah, produk
                                r eko n r clr r l.tsi   I d ig e r r ti, a r a r r       darah atau                     yang ti dak




I'edoman Penceg:rlrrn chn ['cnrnggulangan Infcksi di ICU
                                                                                                                                           77
              u n. uk            seat dreting        emulsi lemak        mengandung
              frckuensi          lembab, longgar     dalanr waktu 24     lemak.InFus
              pcnggalr(i:r1      arau kotor, atau    jam dari            cairan rrurrisi
              kareter.           bila pemeriksaan    Pemasangan          parenteral
              Ganti              temPar              kateter.            yang
              tntntducer         perrusukan                              mengandung
              y:lng              diperlukan.                             lemak harus
              diryosabb                                                  selesaidalam
              atr.u rcusable                                             24 janr.
              pada interval
              72 iam.
              Ganti alar
              continuout
             fuh pa,Ja
              saet
              tansducer
              diganti.

Katetcr      Jangan              Sama sepertidi      Senreseperridi      San'raseperri
arteri       nrengganri          atas.               a(as.               di atas.
pulmonal     kateter tcrlalu
             sering.

Keteter      Jarrgarr                                Ganci tubing       'I'idak ada
unrbilikel   nrcngglnti                              intravena dan      rekonrendasi
             l<lrcrcr terlalrr                       alat tambahan      untuk wakru
             serirrguntuk                            tidak lebih dari   gNntung
             rnerrcegalr                             72 jam. Ganti      cairan
             infcksi.                                nbingyang          intravena,
                                                     dipakai untuk      termasuk
                                                     pcmberian          cairan nutrisi
                                                     darah, produk      perenrerai
                                                     darah atau         yang ridak
                                                     emulsi lemak       mengandtrng
                                                     delam waktu 2{     lemak. Infus
                                                     jam dari           cairan nutrisi
                                                     Penrasangan        parenreral
                                                     kateter.           yang
                                                                        mengerrdung
                                                                        lemak harus
                                                                        selcsaidalam
                                                                        24 jant.
                                                                        Ternrasuk
                                                                        itrga katcrcr



78                                   Pcdornan Pcnccgehanden PcnangguhnganInfclsi di ICU
                                                                                                                              nonnrnncl,
                                                                                                                              tunnel d^n
                                                                                                                              alat
                                                                                                                               tambahan
                                                                                                                               yang

                                                                                                                               toral .




Daftar Pustaka
l.     C e n t e r s l o r Dise a seCi> n tr o l a n cl Pr e vcn tio n - C rri del i nc-sfor the pr,,r,cnti on of i i rtra-
       v a s c r r l :r c rr th e te r - r cla r ccl r rfl' ct io n s. M M \X' l{ 2002; 5 1: I -2 8.
                      t                            i

2.     l r 4 c d A t r : I C IJ,{ tr Pr o ce d r r lc M r n u a l: Se tr r @ irry                                                A rrery C rrrl -,-
       e i e r . _ L ) - 1- d .tp - 3 1 lq - - Ullt- j- - h r tp ://r ,.,r v' v.n r ctl i ci neuu.net.au/cl i ni ca.l /l C U /proccrl Lrresr
       p ; r c a t h - I . lr t:ll
3.     Q L r e c r r E l i z- e ir e r hll Hca lth Scicn ce s Ce n te r t prcprred by: C arC i ac/f:nrcrgency/C ri ti -
       c . r l C a r c I 'cr llb lio ; Dr :r g r e n r : Ja n ice lie n n ctr N {uarfbr.l .
-1.    l \ l . r r r l r . r v M . ( jr ir r .:r l c.r r , c( lu ( .r r io n .ll r ( \' ) urci j :   nttl ntni t.tn .rrtctv c trl rctr'ri z.rti ,:rt
       q ! i - 1 q 1 1 i 4ip r ,r g r :r r r r - An r cr ic.r n     T ir o ll                                  htrp://rnnr'.tl toraci c.org/
       c r i r i c a l c ; rr cl cc p :r c/:rn lvcr s/ cc p r c 1 2 0 2 . a sp
5.      M e r r e 5 A . i) ir e cr o r , l) ivisio n o f Pu lr u o n a r l, and C ri ri cal C ere Mcdi ci ne , Mi :i nc N {erl i -
        c r l C c n r e r, i' o r tla ir tl, Nlcin c; C- iin ic.r !Ass.r c i l te I'rofsssor of i l e,.l i .:i ;rc, t):ri vr:rsi r;, 6f
       V c r n r o r r t C o llcg c o ilv' le clicin e t( llcve lln r l Clini cJotrrn:rl of Metl i ci nc, [)cccnrbrr 2i )0 l .




 P e d o ma n P e n ce gr han dr r n Pcnr ngcular r gr n lnfcksi di ICU                                                                        act
                                      Bab VI
    Pedornan                      Pencegahan                        Infeksi
                      Traktus {-Jrinarius
      Akibat                 Pernasan gan l(ateter



Vl.A. Pendahuluan
T r ak t us ur inari u s a d a l a h re mp a t y a n g pal i ng seri ng terkena i nfeksi
nosokomia!, meliputi >4Oo/o           dari keseluruhan kasus ICIJ rumah sakit dan
mengenai t 600 .0 0 0 p a s i e n p e r ta h u n .

        Sebagian besar infeksi (66-860/o)terjadi setelah instrumenrasi trakrus
urinarius terLltama katerisasi.'Walaupun tidak seluruh kasusinfeksi trakrus
ur inar ius ai< i b a r p e n l a s a n g a n k a re te r d a pat di cegah, namun dengan
p er nas angan k a te re r y a n g te p a t rn a k a i nfeksi dapat di hi ndarkan.
Rekomendasi yang dikembangkan ditujukan bagi perawatan pasien yang
dipasang kateter sementara. Pasicnyang memerlukan pemasangan karerer
jangka lama atau individu dapat ditatalaksana                  dengan kateterisasi
                                                                                 intermiren
membutuhl<an penanganan khusus. Perawatankarereryarrgoprimal dengan
s is t em dr ainas ey a n g b e rb e d a n re n re rl u k a neval uasiyang rersendi ri .

Vl.B. Epidemiologi
                 dan FaktorHisikoInfeksi
Ris ik o ir " r F ek s irra k ru s l rri n a ri u s b e rg a nrtrng pada metode dan l ama
kareterisasi,kualitas perawatan kateter dan kerentanan pejamu. Laju infeksi
ber v r . r ias iar lt Ar:l 1 -5 o /os e g e ras e c e l a h e m asangankaterer darr mencapai
                                                            p
                                                r
l00o/ opada pem a s x n g x nl c a te te u ri n d e n g ansi stern     drai naseterbuka sel ama



I'rdonren Pcnccgrlrrndirn Pcnrrrrggulangrn
                                        Infcksi di ICU
                                                                                          81
                                                                            drainase rerturuP sangat
lebih dari 4 hari. Penggunaankateter dengan sistem
menguranBi risiko irrfek.i namun rerap saja                           ada kemungkinan rerinfeksi'
                                                                            dari 207o pasi en yang
P . r , . ji, i" r , - t er ak h i r me n u n j u k k a n b a h w a l ebi h
                                                                            di bangsal rumah sakit
dipasang kateter dengan ,i,tt* drainase tertutuP
d " p*, J . r k . r , " i n fe k s i ' P a d a p e n e l i ri a n i ni  seri ng ti dak dapat mem-
                                                                            dan merupakan faktor
 p.rt"h"r,k"n sterilitas sistem dtainase tertutuP
                                                                               dapat meningkatkan
 pr.disposisi terjadinya infeksi' Faktor pejamu yang
                                                                            kateter ialah usia lanjut'
 ,isiko i,'rf.Lsi tr,rkttts ttrinarius akibat Pemasangan
 d ebilit as dan k e a d a a nP o s tP a rtu m '
                                                                                        umumnya iingan'
       Infeksi trakrus urinarius akibat Pemasangankaceter
                                                                                      dan sembuh sPontan
 Infeksi rersebut pada pasien sehat biasanya asimtomatik
            k"..,., dilep"r' Kadar'g-kadang infeksi menetaP dan menyebabkan
 f"J".r", as is ep e rti p ro rt" ti ti ' ,e p i d i d i mi ti s ' si sti ri s' pi el onephri ti s' dan
 'kom plik

 b ak t er em iagr " .,,-.,.g " ri C te ru ta m a p a s i e n d enganri si koti nggi ' B akreremi a
                                                                     hanya terjadi pada kurang
 gram-negatiirrr.rtrpJt"n komplikasi paling serius'
                                                                                angka mortalitas
 dari 1olopasien yang dipasatgi k"ctttt, namun dengan
                                                                             akibar pemasangan
 y"ng.,rktp b.rm"k ,"- Riwayat infelsi trakrus urinarius
 krreter belum banYrk diteliti'

 Vl.C. Mikrobiologi
                                                                                       dapat di sebabkan ol eh
  Inf ek s i r r ak r us u ri n a ri u s p a d a p e m a s a n g ankateter
                                                                                           Proteus' Enterococ.
  berbagai Patogen .",.,,",.,k Escherichia coli, Klebsiella,
  c ur , P r r r r r lot n o n tts , En te ro b a c te r,         Se rrati a < i an C andi da' S ebag' i an
                                                                                           usus' namun dapat
  m il< r oor ganis m e te rs e b u t a d a l a h fl o ra e n dogen pada
                                                                                                  rumah saki t
  jt - r g"b. r " - r " l d a ri k o n ta m i n a s i s i l a n g d a ri p asi en l ai n' petugas
                                                                                         peralatan yang tidak
  atau oleh PaParan cairan y",'g tt'kot'taminasi atau
                                                                                                dan Pseudomo'
   sreril. n",og.., rraktus ,rrir,".i.,s sePerri sertatia marcescent
    nas c epac iasa n g a tP e n ti n g s e c a ra e p i d e m i ol ogi skarenaorgani smetersebut
                                                                                       isolasi kuman tersebut
   ridakhidr.rp di traktus g"rtroint.rtinal, sehingga
                                                                                                sumber infeksi
   dari pasien y".,g dip"r"-tg kateter menunjukkan adanya
   eksogen.




                                                                                   Infcksi di ICU
                                                  PcdotnanPenceg,than Pcnanggulangrn
                                                                    dan
   82
Vl.D. Patogenesis
Mikroorganisme, baik dari sumber endogen atau eksogen,dapat mencapai
traktus urinarius melalui beberapacara. Mikroorganisme yang rrlendiami
meatus atau ur€tra bagian disral dapat langsung masuk ke kandung kemih
saar kateter dipasang. Pada ketererisasi jangka pendek ditemukan angka
inFeksi yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mikroorganisme yang
m r s r . r k m elal u i c a ra i n i d a p a t d i h i l a n g kan dari i ndi vi du sehar dengan
berkenrih arau akil>ar mekanisme antibakterial mukosa kandung kemih.
Dengan pemasangankateter,mikroorganisme dapat berpindah ke kandung
kemih melalui sisi luar lumen kateter pada lapisan mukosa periuretral arau
bagian dalam l u me n k a re te r s e te l a h kantong penampungan uri n
terkonranrinasi. Penggunaansistem drainaseterrutup mampu mengurangi
infbksi intraluminal. Namun bila sterilitas sistem drainase tertutup dapat
diper t ahank a n , m a k a m i g ra s i e k s tra l u m en mi kroorgani sn-reperi urerral
merupakan jalan masuk utame kuman ke kandung kemih.


Gejalaklinis
                                                                    kateterdapat asi mron-rati k
I nf ek s i r r ak t trsu ri n a ri u s a k i b a t p e ma s a n g an                          dan
t er k adang ha n y a d a p a r d i d e re k s i d e n g a n pemeri ksaanuri n. Gej al a yang
mengarah pada inFeksitraktus urinarius adalahuretriris (rasaterbal<ar,                     sensasi
t idak enak d i u re tra a trrr d i s u ri a ),g e j a l as i sri ti s(nyeri di daerahsuprapubi k)
dan/ at au ny e ri p i n g g a n g . K a s u s fu l m i n a n di randai dengan demam ri nggi
dan r nenggig i l , k e mu d i a n d e n g a n c e p a c rerj adi penurunan kesadaran,
hipotensi, syok septik dan gagalginjal. Padapasienimunokomprornais satu-
satunya maniFestasimungkin hanya penurunan fungsi ginjal secaracepat
dan pr ogr es i f.

Vl.E. Strategi Pengendalian
                          Infeksi
Diperkirakan 4 jura pasien memerlukan kateterisasiurin seriap tahunnya
sehingga berisiko terkena infelai trakrus urinarius akibat pernasangankaterer
dan komplikasinya. Salahsatu tindakan pengendalianyanB cukup penting
adalah membatasi p€nggunaan kareter urin hanya pada pasien rerrenru


Pcdonurt Pcnccgrh;rndan Perrrnggrrlrngrn lnfcksi rli ICU
                                                                                              83
sehinggaakan mengurangi jumlah populasi yang berisiko. Indikasi katerisasi
u r in adalah :
l.     Menghilangkan sumbatan traktus urinarius.
2. Drainase urin pada pasien dengan neurogenicbladder atau retensi urin.
3. Membantu dalam pelaksanaanoperasi urologis atau struktur lain.
4. Pengukuran yang repar pengeluaran (output) urin pada pasien sakir l<rids.

       Kateterisasi urin harus dihindari bila hanya ingin memperoleh urin
ttnt uk k ult ur at a u te s d i a g n o s i k , s e p e rri e l e ktrol i t uri n pada pasi en yang
d apat m ik s i s e n d i ri a ta u s e b a g a i p e n g g anri peraw aran pada pasi en
i n k ont inens ia.


Pemilihanjenis kateter
Pada popr.rlasitertentu, sistem drainase urin yang lein sebagai alternarif
re r hadap pengg u l l a a n k a re te r k e d a l a m u r etra. K areter kondom dapar
d i gr r nalc anbagi p a s i e np ri a y a n g me n d e ri ta i nkonri nensi a ranpa obstruksi
sa lur an lc eluar d e n g a n re fl e k s mi k s i y ang normal . N amun pada
p e nggunaany a d i p e rl u k a n p e ra w a ta n y a n g tel i ti unruk menghi ndari
terjadinya maserasikulir atau fimosis. Selain itu manipulasi sistem karerer
kondom y ang te rl a l u s e ri n g , m i s a l n y a pada pasi en agi rasi , dapar
meningkarkan risiko infeksi tral<rusurinarius.

      A lr er nat if si s te m d ra i n a s ey a n g l a i n a d al ah katerer suprapubi k yang
sering digunakan pada pasien urologi atau ginekologis. Meskipun dara
mengenai risiko inFeksi menunjukkan bahwa karerer suprapubik cukup
baik, namun manfaat dalam mengendalikan infeksi belum didukung oleh
p enelit ian k lin i k te rk o n rro l . Pa d a p a s i e n dengan gangguan Fungsi
pengosongan kandung kernih, sepercipada pasien dengan rrauma medula
spi n al is atau an ak den gan rneningomyeloce biasanya di gunakan alternati f
                                                             le,
ketiga yaitir lcaterisasi      ir-rrermiten.Merode "ranpa-sentuh" (no-touclt) pada
kar et er is as iinr e rrn i te n d i p e rk e n a l k a n o l e h G ntrman, bi asanyadi gr-rnakan
p a da f as e ak ut tra u rn a m e d u l a s p i n a l i s k e ri l ca di raw ar di rumah saki t.
Sedangkan metoda Lapides, yang tidak sreril rapi bersih, sering digunakan
pada pasien rarvatjalan. Seperti halnya karerersuprapubil<,penelitian klinis



84                                           PedomanPcncegrlundan Pcnanaquhngan
                                                                              Infeksi di ICU
rerkontrol untuk membandingkan efekriviraskatererisasiintermiten pada
kedua metode untuk mengurangi risiko infeksi masih kurang'

     P ada pas ie n y a n g me me rl u k a n p e masangan kateter uri n, mem-
pertahankan sistem drainase agar retaP steril merupakan salah satu kunci
ke ber has ilan p e n g e n d a l i a n i n fe k s i . Ka teri sasi j angka pendek dapat
mengurangi angka infeksi dari l00o/o bila menggunakan sistem drainase
rerbuka, men.iadi 25o/o. Penggunaan kateter jenis lain dipandang sebagai
rindakan penunjang karena belum terbukri efektif dalam menurunkan
frekuensi infeksi trakrus urinarius yang berhubungan dengan kateter.

     Berbagai usaha relah dilakukan untuk memperbaiki desain sistem
dr ainas e ur in te i ru tu p d e n g a n me mo d i f i kasi uni r dasar yang mul ai
digunakan secaraluas sejak tahun 1960. Dua modifikasi vang dikembangkan
adalah penambahan karup bagi pengambilan conroh urin pada kantong
penampungan urin dan sisremrampung yang bersambungandengan katerer
(pr"rornrrtrd catheter/collectingtube system).Alasan pengembangan katerer
urin tersebut sangat masuk akal karenadapat mencegahrerbukanya sisrem
cirainase r€rrurlrp, yang merupakan Fakor predisposisi terjadirrya infeksi.
Perubahan Iain seperri penambahan katup ,rdara,(airuents),drip(drip cham-
ber) dan katup satu arah yang didesain untuk mencegah reflrrks urin yang
terkonraminasi. W'alaupun semua modifikasi memiliki dasarteoriris namun
belum terbulcti efektivitasnya dalam nengurangi ang!<a infeksi traktus
Ir r inar it t s ak iba r p e ma s a n g a nk a te te r.S e l ai n i ru si stem drai rl aseuri n yang
kompleks dapat mempermudah operasi retapi juga dapar menyebabkan
rnalfungsi. Fakror ini berpengaruh pada penerapan sistenr yang berbeda
oleh perugas rumah sakir dan berpengaruh terhadap pengendalian infeksi.


 Perawatan kateter
 U s aha lain y a n g d i l a k u k a n u n ru k me n gurangi i nsi dens i nfeksi traktus
 urinarius akibat pemasangan kateter ditujukan pada:
 I . N4encegahmikroorganisrrre di meatus uretra masuk ke vesika urinaria.
 2. Eradikasi mikroorganisrne yang masuk ke rraktr.rs                 urinnrir-rssebelum
       dapat ber p l c l i fe ra s i .


         Pencegaltrtn PenrngeulrngrnInfeksidi ICU
 Pcdonrarr          drn                                                                          B5
     Berbagai tindakan untuk mencegahmikroorganisme di neatus uretra
masuk ke vesika urinaria adalah dengan pemasangan kateter secaraaseprik,
membersihkan meatus uretra, mengoleskansalep atau cairan antimikroba
seriap hari. Berdasarkanpenelirian terakhir dinyatakan bahwa pasien yang
terpasang karerer dengan tcolonisasibasil gram-negatif ataLrenterokokus
pada mearusnya,berisiko tinggi terkena infeksi. Pada umumnya, penelirian
klinik yang menyarakan manFaattindakan rersebut ridak didukung oleh
rnerodologi penelirian yang baik arau tidak mencakup pemanfaatau sistem
drainase urin rercutup. Dua uji klinik prospektiFterkontrol yang dilakukan
oleh rinr yang sanla memperlihatkan bahwa perawatan meatus yang saar
ini sering dilakukan (membersihkan dengan cairan povidone-iodine diikuti
penggunaan salep povidone-iodine atau pencucian dengan sabun dan air
dua kali sehari) ridak eFekdfdalam mengurangi frekuensi infeksi pada pasien
dengan sistenr drainase urin tertutup. Efektivitas bcrbagai regimen (misalnya
konsenrrasi, antimikroba yang berbedaatau penggunaan yang lebih sering)
tidak dikerahui dan perlu penilaian lebih lanjut.

     T indak an p e n g e n d a l i a n i n fe k s i y a n g di tuj ukan untuk eradi kasi
mikroorganisnre sebelum berproliferasidan menyebabkan infeksi adalah irigasi
vesika urinaria dan penggunaan antibiotik sisremik untuk profilaksis. Dari
sebuah penelitian didapatkan bahwa irigasi kondnu vesika urinaria dengan
anribiorik yang tidakdiabsorbsi, sering menyebabkan gangguan pada sisrem
drainase tertutup dan ridak mampu rnenurunkan kejadian infeksi karena
karerer. Tidak dilcerahui apakah irigasi semacam itu efekrif bila inregriras
sistenr drai:rase (ertut(rp dapat dipertahankan. Berbagai penelitian terbaru
m eny at al< an ba h rv a p ro fi l a k s i s d e n g a n a n ri bi oti k si stemi k menunda
nruncuhrya infelcsi, narnun pengaruh proteksi rersebut bersifat semenrara
dan lrarus sesuaidengan resistensimikroorganisme terhadap antibiotik. Oleh
sebab itu manhat profilaksis dengan antibiodksistemik masih kontroversial.

     Bila infeksi silang menyebabkan penyebaran infeksi akibat pemasangan
kareter, maka harus dilaksanakan rindakan rambahan lain- Pada beberapa
kefadian luar biasa infeksi nosokomial rraktus urinarius, pasien dengan
karcrer yang asimptomatik merupakan reservoir organisme penyebab infeksi
dan menular melalui rangan perugaskeseharan.Pada kejadian tersebur periu



86                                                                           Infeksi di ICU
                                         Pcdomenlcnccgehan den Pcnanggularrgan
diterapkan tindakan pengendalian untuk mencegah inFeksisilang, dengan
menekankan pentingnya cuci tangan dan pemisahan pasien yang dipasang
kareter antara yang tcrinfeksi dengan yang tidak, dapat mengakhiri mata
ranrai infelcsi. Bila tidak terdapat penyebaran secaraepidemik arau infeksi
silang maka pemisahan pasien yang dipasang kateter nampaknya kurang
efektif dalam mengendalikan inFeksi.

     Pemantauan bakteriologis secara teratur dianjurkan pacia pasien yang
dipasangi karerer sebagaiusaha diagnosis dini dan pengobatan infeksi rrakrus
urinarius. Kegunaan tindakan tersebut terlerak pada kemampuannya untuk
mendeteksi dan memberikan terapi pada pasien terinfeksi yang asimtomatik
y ang dapat m e n i a d i re s e rv o i r p a to g e n rumah saki t sehi ngga dapat
m engur angi ke m u n g k i n a n te rj a d i n y a i n f eksi si l ang. N amun manfaat
pemantauan bakreriologis unruk rujuan rersebutbelum direliti sepenuhnya.


Vl.F.RekomendasiPencegahanInfeksiTraktusUrinarius
Akibat Pemasangan Kateter
Rekomendasi ini dirancang untuk mengurangi komplikasi infeksi yang
berhubungan dengan penggunaan kateter urin.

                     kesehatan.
                                                                       KATEGORI
 A. Hanya orang (misalnya pe(ugas RS, anggota keluarga arau
     pasien sendiri) yang mengerahui reknik pemasangan
     katcrcr aseptik dan perncliharaan karecer yang bolch
     menangani katercr.                                                       I
 B   Pecugas rumah sakit dan personil lainnya yang mena-
     ngani katcter pcrlu dibcrikan latihan secaralrerkala ten-
     tang tcknik yang lrenar dan komplikasi yang mungkin
     ccrj:rdi karcna karcrcrisasi urin.                                      II




l'cdorn.ru Pcnccg;rlrrndarr Pcnlngguhngan Infcksi di ICU
                                                                                   87
2.                           kateter
                                                                                KATEGORI
A . Kareterurin seharusnya      hanyajika dipedukandan
                         dipasang
    dipernhankan sesuaidengankebutuhan.Karerertidak
      boleh digunakansemata-mata
                               hanyaunruk kenyamanan
      petugasdalam merawarpasien                                                       I
B. Bagi pasien terrenru, mcrode lain unruk drainase urin seperti
      kareter kondorrr, karerer suprapubik dan kateter uretra
      inrermiren dapat berguna sebagaialternatiilain katerer uretra.                  III

3. C u c i t a n ga n
Cuci rangan harus dilakukan segera sebelum dan serelah manipulasi kareter.
Kategori I.


4 .P ema                an Kateter
                                                                                KATEGORI
      Katcrer harus dipasang menBgunakan teknik aseptik dan
                                                                                        T
      peralatan yang steril.

B.    Sarung rangan, drape (baluran), sponge(kasa pengisap)
      cairan antisepcik yang sesuaiur'tuk membersihkan dari
      daerah periuretra dan jelly pelicin sekali pakai harus dipakai
      saar Pcmasarlgan.                                                                II
      Kare rer yang dipasang haruslah yang sekecil mungkin
      dengan drainasc yang baik untuk meminimalkan trauma uretcl.                      II
 D. Screlahpemasangan
                    karcrcrharusdifiksasisebaik-baiknya
                            dan traksi uretra.
      guna mencegahpergcseran                                                              I

5 . Sistem drainasetertu                                 steril
                                                                                 KATEGORI
 A. Sisrem drainase tcr(utup dan sreril harus dipergunakan.                                I
 B.   Ka re rer d an r abung pem buangan ur in janga n d i p i s a h k a n
      kccua li bila k ar et er har us diber s ihk an.                                      I



88                                           Pcdoman Pcnccgrhrn dan Pcrranggulangan lnlcksi di ICU
     Bila ka rete r lepas ar au t er jadi             ran, slsrem Penam-
     pung urin harus diganri menggunakan  teknik aseptikserelah
     dilakukan desinfeksi   penghubungantarakareterdengan
     k anr ongpe n a mp u n gu ri n .


6.
                                                                                          K{TEGORI
     Irigasiharus dihindarkan kecualidiperkiral<an
                                                 akan
     terjadisumb:rtan(misalnyaperdarahan  setelahoper:rsi
     pr os t arar : r uk a n d u n gk e m i h ); i ri g a s ik o n r i nu rerrutupdapat
     dilakr"rkan    unruk mencegah           obsrruksi.Unruk menghilang-
     kan obstruki akibat bekuan,mukus atau penyebab                             lain
                              m
     dapar< iigu n a k a n e tc d ei ri g a s i n termi te n.                                II
B . Samb un ga n ant ar a k r t et er dengan k ant ong p e n a m p u n g
     ha rus dila ku k an des inf ek s i s c belum dilepa s .                                 II
C. Spu it ste ril v c lunr e bes ar dan alar ir igas i y a n g s r e r i l
     h an rs dig un al< an k em udian < iibuang. O r an g y a n g m e l a k u -
     l<an irigasi harus menggunal<an reknik aseptik.                                          I


D. Bila karerer tersrrmbar dan hanya bisa rerbuka dengan irigasi
     yang berulang, kateter harus diganri reruiama jika kareter
     ce rse bu tbe r per an m eny ebabk an obs t r uk s i ( m i s a l n v a
     pe mbe ntu k an gum palan) .                                                            IIA



 .    P         ul
      Pen q u mpulan s                    men
                                                                                          KATEGORI
     B ila dipc r lu k a ns e j u m l a h c c i l u ri n b a g i pemeri ksaan,
                                         k
     bagianujun g d i s t:rlk a rc re r ra u k a tu p s a mpl i ngi l ca
                                           a                            j
                 ha
     r c r s edia, ru sd i b e rs i h k a n e n g a nd e s i n fekran
                                           d                          kemudi an
     ur in dias pi ra smen g g u n a k a n p u i r d a n j arum yangsreri l .
                         i                    s
B . V olum c ur i n y a n g l e b i h b e s a r n ru k a n a l i si s
                                              u                     khusus
    her t r sdiam b i l d a ri k a n ro n gp e n a m p u n g uri n secara asepri k.



Pedoman Pcncegahan dan Pcnanggulangrn Infelsi di ICU
                                                                                                   89
8. Aliran urin
                                                                              I(ATEGORI
 A Aliran urin yang lancar (ridak ,.rtu-b"i)h*r'rr ,.t.lu
     dipercahankan. (Kadang-kadang diperlukan menyumbar
     kareter semenrara unruk pengambilan sampei arau alasan
     med ik la inn ya .                                                              I
 B. Agar aliran urin reraplancar:ty h".ui d-eg"h-iJ""y"-
     lipar anar au li l i ra n p a d ak a re c ea ra uk a n ro ng
                                                r                penampung
     urin; 2) kanrong penampungharusdikosongkan                     secara
     teratur menggunakan    tabung pengumpulurin yang
     terpisahbagi seriappasien(ridak boleh menyentuhrempar
     keluar urin dari sisrcmdrainase); katerer
                                      3)      yang kurar.g
     berFungsi  atau mengalamiobsrruksiharusditakukanirigasi
     arau bila perlu diganri;dan 4) kanrongpenampung harus
     selaluberada di bawahkandung kemih                                              I


9. Perawatan rneatusuretra
Dibersihkan dua kalisehari denga. cairanpovidone-iodineda' pembersihan
dengan sabun dan air sedap hari telah dibukrikan oleh dt,. p.,reiir"n terakhir
ridal<dapar mengurangi inFeksitrakius urinarius yang disebatkan pemasangan
!<aretersehingga perawaran mearus riap hari dengan menggunakan dua .Jgi-
nren tersebrrr ridak dapar direkomendasikan- Kategori II


10. Interval penggantiankaieter
Pada karerer yang rerpasang ridak boleh dilakukan pengganrian dengan
interval rerrenru ranpa alasanyang memadai. Kategori Ii-


11. Pemisahanpada pasienyang dipasangkateter
unruk mengurangi kemungkinan infeksi silang, pasien yang dipasang
karerer anrara ya.g rerinfeksi dar"ryang ridak rerinfilai h"ru, jipirahk"rr.
Kategori III



90                                        Pedonr:rnPcngeglhrn den PcnrnggulanganInfcksi di ICU
12. Pemantauanbakteriologis
Pemantauan bakteriologis yang teratur sebagairindakan pengendalian inFeksi
pada pasien yang memakai kateter tidak direkomendasikan. Kategori III


Ringkasan Rekomendasi

Kategori l. Sangat direkomendasi untuk dilaksanakan
.   Dic{ik pasien tentang reknik pemasangan dan pemeliharaan karerer
    y ang benar
-   Katerisasi hanya dilakukan bila perlu
.   Penring untuk mencuci rangan
-   Pemasangankateter hendaknya menggunakan tehnik aseprik dan alar
    yang steril
-   Fiksasi kareter dengan baik.
.   ['ertahankan siscem drainase rerturup senantiasasreril
-   Sampel urin diambil secaraaseptik
.   Perrahankan aliran urin retap lancar


Kategori ll. Direkomendasi untuk dilaksanakan
-   Perugasyang biasa menangani katerer di didik ulang secaraperiodik
-   Gunakan kateter rerkecil yang sesuai
-   Hindari irigasi kecuaii diperlukan unruk mencegaharau menghilangkan
    obs r r uk s i
.   Hindari perawaran mearus seriap hari
.   Jangan mengganti kareter dengan interval yang rerap


Kategori lll. Tidak sepenuhnya direkomendasi untuk dilaksanakan
'   Pertimbangkan sisrem drainase urin alrernarif sebelum mernasang
    karerer urerra.
'   Ganri siscempengumpul urin bila sisrem Jrainase rerrurup yang sreril
    relah rusak



PedornrnPencegrhan
                 dln Pcnanggul;rrrgan
                                   lnfeki di ICU
                                                                       9l
       Pisahkanpasienyang dipasangkateterantarayang terinfeksidengan
       yang tidak terinfeksi
                                     yang rutin
       Hindari pemantauanbakteriologis




Daftar Pustaka
i.     C l e g g H W , Cr a n ' r S, DcGr o o t- Ko so lch a r o e n J,      Gari bal di R , K ass E H , K trni n C M,
       d k k . G t r i c l c l i ne fo r p r e ve n r io n o f,Ca th e te r - a sso ci ated ri naryTi act Infecti <,ns.C D C t
                                                                                          U
       I s s t r e si r r H e a lth ca r e se ctin g s 2 0 0 2 . Did a p a t d a ri : U R L: htrP ://*'rvw .cdc.gov/P ci dodi
       e i r i c le / t r r i t r a c r. lr r n r




 cl)                                                       Pedoman Pcnccglhan dan Pcnanggulangan lnfcksi di ICU
                                      Bab VII
                 Pedornan                       Pencegahan
        Infeksi Luka Operasi (ILO)


Vll.A. Pendahuluan
S is t em NNI S d a ri C D C y a n g d i k e mb a ngkan rahun 1970 mel aporkan
adanya irrFeksi   nosol<omialdi ICU di Amerika Serikar. Berdasarkanlaporan
surveilens tersebur, ILO adalah tiga penyebab utama infeksi nosokcmial
yaitu 14-l 6a/odari semua inFeksinosokomial diantara pasien yang dirawat
di r r r m ah s akrt. D a ri s e l u ru h p a s i e n y a ng di operasi , ILO nrerupakan
penyebab utama infelcsinosokomial (38o/o)                  dari semua infeksi yang berhasil
dic at ar . Dua p e rti g a d a ri IL O d i s e b a b kan ol eh i nsi si dan seperti ga
n.relibatlcan  organ arau rongga yang rerbentuk saat operasi dilakukan. pada
pasien bedah yang meningg l, TTo/odari kemarian dihubur-rgkan dengan
I LO nos ok omi a l d a n m a y o ri ta s (9 3 o /o )merupakan i nfeksi seri us yang
melibatkan organ arau rongga yang terjadi sewaktu operasi.Dengan adany,,
ILo, masa rawat inap pasien di rumah sakir meningkat dan biaya perarvaran
m eningk at pu l a .

       M es k ipun te l a h a d a k e ma j u a n d a l a m pengendal i an i nFeksi ,rermasuk
m is alny a per b a i k a ' r v e n ri l a s i ru a n g o perasi , merode sreri l i sasi dan
ketersediaananti'-rikroba sebagaiprofilalcsis,namun ILo terap merupakan
penyebab terbanyak morbiditas dan mortalitas pasienyang dirawat di rumah
s ai< it .Hal ini s e b a g i a n b e s a r d i s e b a b k a n ol eh muncul nya parogen yang
r es is t enar - r r im i k ro b a e rra me n i n g k a rn y a juml ah pasi en bedah usi a l anj ur
                                  s
            r
dengar -at au d i s e rra ip e n y a k i t k ro n i k m a u p un penyaki r yang berhubungan



Pcdornan Perrccgrlran dan Pcnaneguhrrgan Infelsi tli ICU
                                                                                              93
dengan imunitas. Selain ittr mungkin pula disebabkan oleh meningkatnya
jumlah pemakaian implanr prostesisdan operasi transplantasiorgan. Oleh
sebab itu, untuk menurunkan angka risiko ILO, suatu pendekatan yang
sistematik namun realistik harus dilakukan, dengan rnemperharikan bahwa
risiko tersebut dipengaruhi oleh karakteristik pasien, operasi, personil dan
rumah sakir.


Vll.B. KriteriaPenentuan
Id enr if ik as i I LO me me rl u k a n i n te rp re ta s i dari penemuan kl i ni s dan
laborarorium. NNIS CDC mengembangkan kriteria standar mengklasifi-
kas ik an I LO ( Ta b e l 1 ) m e n j a d i i n s i s i d an organ/ronB ga. ILO i nsi si
selanjurnya dibagi lagi menjadi ILO insisi superfisial (hanya melibatkan
kulit dan jaringan subkutaneus) dan ILO insisi dalam (melibatkan jaringan
lunak yang lebih dalam). ILO juga melibatkan salah satu bagian anatomi
(misalnya organ atau rongga) selain insisi iapisan kulit yang dibuka atau
dimanipulasi sewaktu operasi (Gambar l).




                             8Xt{



                  Sgaecaanasct
                     Tittur



                os9 iollii!Drc
                lt.r.i.l  a.cbl




                   c|.Oan/3paqc




              FIGURE. Cru,*tm          €{ atrkniml   6Bll depi:ri.ULCE   clsifietiorc
              srFicd al€ inf6.Glion.::


Gambar 1. Potongan melinrang dinding atrdomen yang me mperlihatkan kiasiilkasi
ILO (CDC)




94                                                                                Infelci di ICU
                                                                 dan Pcnanggulangan
                                                 PcdomanPcnccgahan
                                   ILO
Tabel l. Ktireria mcngklasifikasikan
ILO Insisi Superfisial
InFeksi cerjadi dalam 30 hari setelah operasi dan Infelci hanya mengenai kulit
atau jaringan subkuran dari insisi dan paling sedikit satu dari beberapa hal berikur:
l.    Drainase purulen, dengan atau tanpa konfirmasi laboratorium, dari insisi
      superfisia[.
2.    Organisme yang diisolasi dari kultur terhadap cairan atau iaringan insisi
      superfisial yang diambil derrgan tindakan aseptik.
3.    Sedikirnya ada sacu tanda atau gejala infelci : nyeri arau sakit, bengkak lokal,
      kemerahan, atau panas dan insisi superfisial yang dibuka oleh ahli bedah,
      kecuali insisi terscbut kulturnya negarif.
4.    Diagnosis ILO insisi superfisial ditentukan oleh ahli bedah arau dokrer'.


Jangan melaporkan kondisi berikut ini sebagai ILO:
1.  Abses pad:r jrrhitan luka (inflamasi minimal dan pus di jahitan luka).
2.    Infeksi cpisiotomi arru t€mpxt sirkumsisi neona.us-
3.    lnfcksi luka bakar.
4.    ILO insisi yang mcluas ke lapisan fasia dan ocot.


Caratln: Krircria spcsifik digunaken unruk mcngidenrifikasi episioromi, tempat sirkunrsisi den luka
bakar 1'angrcrinfeksi.



ILO Insisi Dalam
In feksi re rjad i dalam 30 har i s et elah oper a s i j i k a r i d a k a d a i m p l a n r * y a n g
dite mpatkan atau dalam waktu I tahun jika ada implanr dan infeksi berhubungan
dengan operasi dan infelai melii:arkan jaringan lunak dalam (seperri lapisan Fasia
dan o tot) d ari in s is i dan p' r ling s edil< irs ar u dar i h a l b e r i k u r :
 l.   Dra ina se pur ulen dar i ins is i dalam , buk a n d a r i o r g a n / r u a n g d a r i r em a p r
      operasi.
2.    Insisi dirlam yang secaraspontan dibuka oleh ahli bedah bila pasien memiliki
      paling sedikit s:rtu dari tirnda arau gejala: demam (>38"C), nyeri lokal, atau
      sal<ir,kecuali tempar rersebut kulrurnya negarif
t.    Ditcmukan adanya absesatau bukti infeksi lain yang melibarkan insisi dalam




PcdonranPcnccgllran                 Infclsi di ICU
                   dan Penrnggulangan
                                                                                                     95
          pada pemeriksaan langsung,selamareopera.si,  atau oleh ahli histopatologi
          atau pemeriksaanradiologik.
          Diagnosisinsisidalam ditentukan oleh ahli bedaharaudokter.

Catatan:
l.        Laporkan infcksi yang meliputi insisi superfisirl dan dalam scbagaiILO insisi dalam.
2.        Laporkan ILO organ/ruang dengan saluran drainasernel:lui insisi sebrgaiILO insisi dalam.



ILO Organ/Rrrang
I nfe ksi terja di d alam 30 har i s et elah oper asi j i k a t i d a k a d a i m p l a n t * y " t g
dite mpa tka n ara u dalan wak t u I r ahun jik a ada i m p l a n t d a n i n f e k s i b e r h u b u n g a n
dengan operasi dan infeksi yang rnelibatkan salah satu bagian anatomi (seperti
org an a rau ru an g) , s elain dar i ins is i, y ang dibuk a a t a u d i m a n i p u l a s i s e l a m ao p e r a s i
dan p aiin g sed ikir s ar u dar i hal l' r er ik ut :
 1.    Drainase rrurulen yang berasal dari dari cirain yang ditempatkan pada luka*n
          ke dalam olgrrn/ruang.
2.        Isola si o rga nis m e dar i k ult ur c air an at au ja r i n g a n d a l a m o r g a n / r u a n g y a n g
          d iamb il de ngan c ar a as ept ik
3.        Diremu ka n adany a abs esar au buk t i inf ek s i l a i n y a n g m e i i b a t k a n i n s i s i d a l a m
          pa da pe meri k s aan langs ung, s elam a r eope r a s i , a r a u o l e h a h l i h i s t o p a t o l o g i
          ata u pe meriks aan r adiologik .
4"        Dia gn osis IL O or gan/ r uar r g dit enit r k an ole h a h l i b e d a h a t a u d o l <t e r .


          D e fi n i si N NIS :   be ndr asing 1,r ng bukan ber asal dar i manus i a y ang dapat di i r l pl ar r r r s i k an ( s c per r i

          ka ttri > j i rn ru n g pr ostesis, gr afr vaskular yang bukan ber as al dar i m r r nus i a, i anr tr ng m ek ani k , atau

          p ro ste si s p rh a ) y,r ng secr r il per nlanen ditemi> atkan pada pas i en s el anr r oper r s i .

          Ji kr d a crrh sckir r r lr ,kr nr cn jr r li ter ir r feksi, tidek dapr t di s ebr r t s ebagai ILO, r .r pi di per r i m bangk r n

          sctrrg ri su rrtr i nfcksi ktr lit atr u i:r r ingr n lunak, bcr gantung pada k e.'l al am ,r r r r r y a.




 Vll.C. Mikrobiologi
 Berdasarkan data sistem L.lNIS, distribusi patogen yang diisolasi dari ILO
 ri dak m engaia mi p e ru b a h a n y a n B me n y o l ok sel ama dasaw arsaterakhi r



                                                                                   dan            Infeksi di ICU
                                                                          Pencegahan Pcnrngeulangan
                                                                   Pedomarr
     95
(Thbel 2). Peningkaran kejadian ILO disebabkan oleh patogen resisten
a r- r t im ik r oba, s e p e rti M R S A a ra u C a n d i d a al bi cans. P eni ngkatan i ni
menunjukkan bertarnbahnya jumlah pasien bedah yang sakit berat dan
imuokompromais, sertapenggunaansecara                     luas antimikroba spekrrum luas.
Kejadian ILO juga disebabkan oleh patogen lain yang ridak umr.rrn seperti
Rhizopus oryzte, C. perfingens, Rhodococcusbronchialis, Nocardiafarcinica,
Legionella pneumophila dan Legionella dumffii,          serra Pseudomonas
multiuorans. Setelahditelusuri, hal ini disebabkan oleh penggunaan plester
yang terkonraminasi, perban elastik, personil tim bedah yang mengandung
koloni, air ledeng dan cairan desinfektan yang terkontaminasi.


  Thbel 2. Distribusi patogen             dari ILO
                             yang diisolasi
                                                         Persentase Isolasi
     Patogen                                             1986-1989       1990-1996
                                                         ( N = r6,777)   (N = 17,671)

     Staphylococcut ailr?ut                                    l7              20
     Coagu kse- n egatiue staphy lococci                       t2              llt
     Enterococct.t tpp.                                        l3              t2
     Eschericia coIi                                           l0                8
     Itseudomo nds aerugtnota                                   8                8
     Enterobncter spp                                           8                7
     Proteus mirabili:                                          4                )
     Klebsielk pneunrcnirte                                     J                3
     J trep tococcut tpp. latn                                  3                3
     Candidn albicatts                                          7                \
     Strep tococci grup D (no n-enterococci)                                     7
     Aerob gram-positif lain                                                     2
     Bocteroides fiagilis                                                        2


Vll.D. Patogenesis
Mik r oor ganis m e d a p a r rn e n g a n d u n g a rau rnemproduksi rol csi n dan
substansi lain yang n'reningl<atkan             kemarrrpuan mikroorganisme tersebur
u n t uk r nelalc r rl c ain a s i a ta tr b e rra h a n h i d up pada atau dal anr j ari ngan
                           rrv



Pedomrn Pcrtccqrhrrr dan Pcnrnggulengan Infeksi di ICU
                                                                                          97
p ejam u. M is aln y a , s e b a g i a n b e s a r b a k re r i gram' negati f menghasi l kan
endotoksin yang merangsang produksi sitokin. Sebaliknya, sitokin dapat
nn.micu sindrom responsinflamasi sisremikyang sering menyebabkan gagal
sistem organ multipel. Beberapa komponen permukaan bakreri, khususnya
kapsul polisakarida, menghambat fagositosis yaitu respons pertahanan
pejamu yang pertama dan urama. Strain terrenru dari Clostridia dan Strep-
tococcusmemproduksi oksotoksin yang potensial merusak membran sel atau
rnengubah nrerabolismeseluler.Berbagaimikroorganisme rermasuk bakteri
granr-positifseperti coagulase-negatiue            menghasilkan glikokalila
                                      staphylocorcr,
dan suatu kon-rponen yang disebut "slime" yang secarafisik membungkus
bakteri dari fagositosisatau menghambat pengikaran arau penerrasi bahan
anr im ik r oba.

     Sebagian besar ILO sumber patogen adalah flora endogen dari kulir
pasien, membran mukosa atau viseraberongga. Bila membran mukosa atau
kulit di insisi, jaringan yang r€rpapar berisiko terkena kontaminasi flora
endogen. Organisme tersebur biasanya kuman aerob yairu kokus gram-
positif arau flora fesesbila insisi dilakukan dekar perineum atau pangkal
paha. Bila organ gasrroinresrinal dibuka sewakru operasi maka srrmber
patogen yaitu basil gram-negarif (misalnya E.coli), organisme gram-positif
dan kadang anaerob adalah kuman khas ILO (Thbel J). Organisme juga
dapat ber as ald a ri p a s i e n y a n g me n g g u n a kan prosresi satau i nrpl anr yang
diterlpatlcan selama operasi.Alat-alat rersebut memungkinkar-rterbarvanya
or ganis m e k e d a l a m l u k a o p e ra s i .

     Sunrber eksogen parogen ILO termasuk personil bedah (khususnya




98                                        PedonranPcncegllur, dan Penanggularrgan
                                                                                hrfel,si di ICU
Tabel 3. Jenisoperasidan kuman patogenILO

 Jenis Operasi                                       Patogen

  Penananrarr graft, prostesis arau implant          Stap bllo cocas au rcu s, coagu las e- n egative
                                                     ttaPbtlococci

 Janrtrng                                            S. aureus; coagu lase- n cga t i uc stap b1 loco cci
 Bedairsarai                                         S. aureus;coaguhse-nega staplrylococci
                                                                              tiuc
     Mara                                            S. au rans;coagu lase-negatiuetap l4lo cocci
                                                                                   s            ;
     Data rcrbatas;  nanlun seringdipakai            streptococci; gram-ncgatiue baciIli
     dalanr prosedur sepertireseki segmen
     anrerior, virektomi dan scleralbuckles
  Ortopedi                                    S. aurans ; coagu lase-n egati ue staphylo cocci;
      Penggantiansenciitotal                  strep toco cci ; gram -n egatiue ba ci lli
      Frakrur terrutup/nrenggunakan     paku,
      plate rulang, alat fiksasiinternal iain
      Memperbaiki ftrngsitanpaimp!ant/alat
      Tiaunra
  Thoraks selainjantrrng                             S. aureus ; coagu lase-n egat i ue stap h/oco cci ;
     -flroreks(lobekt.rrni,           i,
                          pneumonektonr              snep to cocci : gra m - n egat i ue ba ci lti
      rcseksiueetge,        lain pade
                   prosedr.rr
      nrediastinunrselainjantung)
     Thorakostomi tube tertutup
  Vaskular                                           S. a areus ; coagu hse- n egat i ue sta ph yloco cci
  Apendekromi                                        Gram -nega tivc ba ci lti ; a n aero b
          enrpedtr
  Salur,rr-r                                         Gram- nega tiue ba cilt; ; a na ero b
  Kolorektal                                          Gram -negat iuc bacilli ; a naerob
  Gastroduodenal                                     Gra m -n cgativt bacilli ; strepto cocci ;
                                                     anaerob orofanng
                                                     ftcpercipcptosreprococci)
  KepalaCan leher (prcsedurmayordengan               Gram-n egative bacilli ; strcpt ococci ;
  insisi nrclnlrri nrukosaorofaring                  anaeroborcfaing
                                                     (seperti peptost reptococci)
  Obsretri dan ginekologi                            G ra m - negat ite ba ci ll i ; en tcro cocci ;
                                                     grolP B str€Ptocci, anaerob
  Urolosi                                             Gram-nesatiuebacilli
       Mtrngkin tidak bcrnranfaat bila urin steril




                   dan Pcnrnggulangan
Pedonranl'cncegalran                lnfclsi di ICU
                                                                                                            99
anggota tim bedah), lingkungan kamar operasi(termasuk udara) dan semua
peralatan, instrumen, bahan yang dibawa ke daerah steril sewaktu operasi.
Flora eksogen terutama aerob khususnya organisme gram-positiF (Staphy-
lococci dan Streptococci).Jamur dari surnber endogen dan eksogen jarang
menyebabkan ILO dan patogenesisnyasulit dimengerri.


Vll.E.Risiko lnfeksidan Pencegahan
Ri sil< o ber lc em ba n g n y a IL O d i p e n g a ru h i o leh karakteri si tl <pasi en dan
operasi (Tabel 4). Hal ini bermanfaat unruk membuat tahapan operasi
sehingga date surveilens dapar dibuat lebih konrprehensiF.Selain itu, bila

            Tabel 4. Karakreristik pasien dan operasi yang dapat
            mempengaruhirisiko berkembangnya   ILO
              Pasien
                  Usia
                  Stacusgizi
                  Diabcres
                  Merokok
                  Obesitas
                                   padabagiantubuh yang iauh
                  Infeksi koeksisren
                  Kolonisasimikroorganisme
                  Perubahan  respons imun
                  Larnanyarawacinap preoperatiI
               Operasi
                   Durasi penyikarantangan
                   Anriscpsis       kulit
                   Cukur sebelumoperasi
                   Durasi operasi
                   Profilaksis       anti nrikroba
                                  i
                   V e n ti l a s ru an g o p c ra s i
                   Sterilisasi      alat tidak adckuar
                   B a h a na s i n gd i te mp a to p e ra s i
                   D ra i n
                   Teknik operasi
                           Hemosrasis        yang buruk
                           Gagaln,enghilangkan           ruang mati
                           Trauma jaringan



                                                                             lnfeksi di ICU
                                                    Perrccgahrn Penrnggulangan
 100                                       Pc.lornan          dan
faktor risilco dil<erahui sebelumnya, memungkinkan dilakukan tindakan
pencegahan.Tindekan pencegahanILO dapat didefinisikan sebagaisuaru
kegiaranyang direncanakanrrntuk menurunlen risiko ILO. Berbagai teknik
dir ujuk an unr u k me n g u ra n g i k e mu n g k i n an kontami nasi mi kroba dari
jar ingan pas ie n a ta u i n s tru me n b e d a h y a ng steri l , yang l ai nnya hanya
tambahan semata. Misalnya menggunakan anribioiik sebagai profilaksis
atau menghindari diseksi jaringan traunra yang tidak perlu. Pelaksanaan
tindalcanpencegahanILO secara           oprimal membutuhkan kajian karakrerisrik
pasien dan operasi dengan selcsama.




Vll.F. Rekomendasi        ILO
                 PenceEahan

1. Preoperatif
                                                                                          KATEGORI
A . Persiapan pasien
          bila rnemungkinkan, lakukan tdentttikasr dan cata
          lalsana sefirua infeksi yang terselubung dari tcmpat
          operasi sebelum operasi elekrifcian operasi elektifyang
          te rcun da s am pai inf ek s i r er at as i.
          Jangan mencukur rambur preoperarif kecuali rambur                                  IA
          pada         sekcliling insisi yarrg dapat mengganggu
                "tau
          operasi.
          Bila ra m but dic uk ur , lak uk an s eger as e b e l u m o p e r a s i ,          IA
          lebih baik nrenggunakan alat cukur elekrrik.
          Kendalikan kadar glukosa darah pada semua pasien                                   IB
          dia be resdan r er ur am a hindar i k eadaa n h i p e r g l i k e m i a
          selama operirsi.
     s    Upayakan berhcnti mcrokok. Paling ridak, instruksikan                              IB
          kcpa da pas ic n unt uk r idak m c r ok ok ce r u r u , p i p r a t a u
          konsumsi tembakau lainnya, sedikirnya 30 hari sebelurn
          operasi elcl<tif.
     6.   Ja ng en m c r t , r han pr oduk dar ah y ang d i p e r l u k a n p a s i e n      IB
          bedah scbagai rindakan pencegahan ILO.



PedomanPcncegllrln drn Pcnanuqulang:rn
                                    lnfeksidi ICU
                                                                                                  101
                   n Paslen unruK manol menEgu                     an anu-
          septikseridaknya      malam rerakhirsebelumhari operasi.
     8. Cuci bersihdan bersihkan               daerahoperasi       dan sekeli-           IB
          lingnya untuk menghilangkan                konraminasisebelum
                            n                                        anti
          m elak s a n a k ap e rs i a p a n u l i t m e n g g u nakan septi k.
                                           k
     (). Gunakan bahananriseptikyang repatbagi persiapan                     kulit.       IB
     10. Kulit dipersiapkan      denganmemberikanantiseptik                dengan         II
          caragerakmelingkarkonsentrikmulai dari dalam ke arah
          perifer.Daerahyang disiapkanharus cukup luas untuk
          memungkinkan        pelebaran       insisiaraumelakukan       insisibaru
          ar au( em p a td mi n b i l a d i p e rl u k a n .
     I l. Usrhakan rawarinap sebelumoperasi                           mungkin,
                                                              sesingkar                    II
          narnun rerapberikanpersiapan                operasiyang cukup bagi
          pasien.
     12. Tidak ada rekomendasi            mengurangiarau menghentikan                  Masalah
          penggunaan     steroidsistemik(bila secara              medik diijinkan)      bclum
          sebelumopcrasielektif.                                                    terselesaikam
     13. Tidak ada rekomendasi           pemberian       nuririsipenunjangbagi         Masalah
          pasienbedahy:rngse          mara-mate        dirujukan bagi                   belum
          pencegalran    ILO.                                                       terselesaikam
                                            i
     14. T idak ad a re k o me n d a sm emb e ri k a nti ndakanyang                    Masalah
          potensialrneningkatkan            oksigenasi       ronggaluka untuk           belum
                          n
           penc ega h a IL O .                                                      terselesaikam


B.   Antisepsis tangan/lengan bawah bagi anggota tim bedah
     l. Upay ak a nk u k u j a ri p e n d e kd a n j a n g a nmenggunakan                 IB
        kr.rkupalsu.
     Z. Melakukan sikar:rn        sebelurn    operasisetidaknya        2                  IB
        s am pai5 me n i t m e n g g u n a k a n n ti s e p ti k
                                                  a               yang tepat
        (Tabel 5). Sikat tangandan lenganbawah ke arah aras
        sampaisiku.
     3. Setelahmelakukansikatan,usahakan                    tanganmengarah                IB
        ke atasdan menjauhi tubuh (siku dalam posisifleksi)
        s ehingg a i r a k a n tu ru n d a ri u j u n g j a ri menuj u si ku.
                   a
        K c r ingk a n ta n g a nd e n g a nh a n d u k s te ri ldan kenakan
        baju dan sarungrangansreril.




t02                                         Pedornan Pencegalran diru Pcrrrnggulengan lnfcksi di ICLI
     q.    ttersrhkan bagran bawah nap kuku sebelum melakukan                                 II
           sikatan/gosokan bedah yang perrama pada hari itu.
     5.    Jangan gunakan perhiasan tangan dan lengan.                                        IB
     6.    Tidak ada rekomendasi pemakaian cat kuku.                                        Masalah
                                                                                             belum
                                                                                          terselesaikam

C. Manajemen personil yang terinfeksi atau ada kolonisasi
   l. lvlemberikan pendidikan dan motivasi personil bed:rh yang                               IB
           memiliki tanda dan gejala pcnyakit infeksi menular
           dengan melaporkan keadaannya sesegera   mungkin ke
           supervisor dan personil pelayanan keseharan.
           Mengembangka n kebijakan tenrang tan ggu ng jawab                                  IB
           pelayanan pasien bila personil memiliki kondisi infelai
           yang potensial rnenular. Kebijakan ini harus dapat
           mcngatur: a) tanggung jawab personil delam
           rnenranfaatkan pelayanan kesehatandan melaporkan
           penyakit yang dideriranya; b) Iarangan beker.ja; ijin           c)
           bcl<crja kembali screlah menderita sakit yang
           membutuhkan pcmbarasan kerja. Kebijakan juga
           harus dapat nrengidentifikasi orang yang mempunyai
           kewenangan untuk memindahkan personil dari tugasnya.
     3     Mengambil kultur yang tepat dan keluarkan dari pekeriaan                            IB
           personil bedah yang mempunyai lesi kulit yang bernanah
           sampai infeksi dinyarakan sembuh atau telah mendapat-
           kan pengobatan yang adekuat dan infeksi teratasi.
     4.    Jangan secararutin rrrengeluarkanpersonil bedah                                     IB
           dengan kolonisasi mikroorganisme seperri S. aureus
           (hidung, tangan atau bagian tubuh lainnya) atau
           Streptococctts grup A, kecuali personil tersebut secara
           e pid em iologi r elah r er r ular m ik r oor gan i s m e d a l a m
           pusar pelayanan kesehatan.


D.   Profi laksis antimikroba
      l.   P c m be ri a n ro t' i l a k s i sn ti m i k ro b a a n yadi l akukanbi l a
                          p                a                   h                               TA
           ada indikasidan pemilihannyir                berdasarkan             anti-
                                                                      efektivitas
           mikroba tersebutmela'aran               parogen                  ILO
                                                                penyel-rab yang



Pedoman Penccg:rhan dan Pcnanggulangan Inf'cksi di ICU
                                                                                                    103
         tersering pada operasi khusus (Tabel 3) dan
         rekomendasi yang telah dipublikasikan.
         Berikan profihksis anrimikroba dosis awal melalui                                    IA
         inrravcna, sesuaisaar konsenrrasi bakterisidal obat ter-
         d ap at d alam s c r um dan jar ingan k et ik a d i l a k u k a n i n s i s i .
         Perrahankan kadar terapi dalam serum dan jaringan
         selanraoperasi dan beberapa jam setelah insisi ciirutup
         di da lam r uang oper as i.
         Sebelum operasi kolorektal elektif sebagai tambahan D2                               IA
         di atas, siapkan kolon secaramekanik dengan mengguna
         kan enemadan bahankatarcik.     Berikananrimikrobaoral
         yang ridak dapardiserap  dalambeberapa    dosispada hari
         sebelumoperasi.
   4.    I)adasel<sio      der,ganrisiko ringgi,berikanprofilaksis
                     sesaria                                                                  IA
         aocimikrobasegera          tali
                             setelah pusardijepit.
         Jangangunakanvanccmycinsecara      rutin unruk profilaksis                           iB
         anr im ikro b a .


2. Intraoperatif

                                                                                           KATEGORI
A. Ventilasi
    l.   Perra ha nk an v ent ilas i r ek anan- pos ir if da l a m r u a n g                  IB
         operasi berkcnaan dengan koridor dan daerah yang
         bersetrclahan.
   Z.    Perrahanlcanminimum l5 kali perganrian udara per                                     IB
         jam yang mana setidaknya 3 kali harus udara segar.
   3.    Saring semua udara, dialirkan ulang dan segar,melalui                                IB
         filrer yang repat, sesuai rekomendasi American Institute
         of Architects.
   4.    Alirkan semua udara di dekat langir-langit ruangan dan                               IB
         keluarkan dekac dengan lancai.
   5.    Jangan gunakan radiasi UV dalam ruang operasi unruk                                  IB
         mcncegah ILO.
   6.    Se lalu p er r ahank an piniu r uang oper as i r e r r u r u p k e c u a l i         IB
         diburuhkan baci lalu linras peralatan,personeldan oasien.




r04                                             PedomrnPcncegahan Penanggulangan
                                                                dan            Infeksi di ICU
    /. l'errlmDangKan                ope
                             melaKuKan rasrrmPlantasl  ortoPedlK
       di dalam ruang operasi     yang dialiri udarayang sangat
       ber s ih.
    8. Batasijumlah personilyang masukruangoperasi,         hanya
       y ang pe rl u s a j a .                                                                  II


B , Membersihkan         dan desi nfeksi rrerm ukaan lingkun gan
         Bila te rlihar pengot or an ar au k ont am in a s i o l e h d a r a h                  IB
         arau cairan tubrrh lainnya pada permukaan atau
         peralatan yang terjadi saat operasi, gunakan desinfektan
         ruma h s r k ir y ang t elah dis et ujui oleh E P A , u n t u k
         membersihkan daerah yang terkena sebelum opcrasi
         be riku rny a.
         Ja ng an m elak uk an pem ber s ihan k hus u s a t a u p e n u t u p a n               IB
         ru an g op e r as i s c t eiah t er k ont am inas i at a u b e r l a n g s u n g
         operasi yang kcrtor.
         Jangan gun:rl<ankeser yang usang di pintu masuk ke                                     iB
         ru an g o per as i ar au r uang oper as i indiv i d u a l u n t u k
         pe ng en dalian inf ek s i.
    4.   Pengepelan lanrai ruang operasi setelah operasi terakhir                               II
         pada hari itu atau malam dengan dcsinfektan rumah
         sakit yang disetu,iui oleh EPA.
         Tidak ada rekorncndasi melakukan disinfeki permukaan                                 Masalah
         lingkungan arau peralaran yang digunakan di dalam ruang                               belum
         operasi diantara operasi canpa terlihat adanya konraminasi.                        terselesaikan


C. Peneambilan sampel mikrobioloei
   l. Janganmengambil  sarnpelnrikrobiologi
                                          secararurin dari                                      IB
      ruang operasi.
                   lakukan perrgambilansampelmikrobiologi
      dari permukaanlingkungan'ruangoperasiarauudarahanya
      scbagaibagian pcnyidikanepidemiologi.

D   Sterilisasi instrurnen bedah
    I . Semua insrrunren bcdah disterilisasi sesuaidengan                                       IB
         pcdo man 1, a diput r l ik as ik an.
                       ng




Pedomen Penccgahan dan Penenggulrrrgan InFelcsidi ICU
                                                                                                     r05
     2.   La ku ka n s r er ilis as c epar hany a bila ak an d i g u n a k a n
                                    i                                                   IB
          segera (misalnya menggunakan kernbali instrumen yang
          jatuh karena kurang hari-hati). Jangan gunakan
          srerilisasi cepar untuk alasan kenyamanan, sebagai
          alternatif menggunakan alat rambahan atau inenghemat
          wa kru .


E,   Pakaian bedah dan tirai
     1. Gunakan masker bedah yang sepenuhnya menutup                                    IB
        mulut dan hidung bila mernasuki ruang operasi, trila
        operasi akan dimulai atau sedang berjalan, atau bila
        insrrumen steril terpapar. Gunakan masker selama operasi.
        Gunakan kap atarr topi sehingga menutup seluruh                                 IB
        rambut kepala dan muka bila memasuki ruang operasi.
     3 Jangan memakai penurup separu bagi pe ncegahan ILO.                              IB
     4 Gunakan sarung rangan steril setelah menggosok tangan.                           IB
         Kenakan sarung tangan sereleh memakai baju steril.
         Gunakan gaun operasi dan drupe yang merupakan                                  IB
         perrahanan efcktif bila basah (misalnya bahan yang
         tida k re m bus air ) .
         Car'ri rcntb suit yang rampak l<otor, te rkontaminasi dan/                     IB
         a tau te rtc m bus oleh dar ah at au bahan y a n g r i d a k e F e k r i f .
     7. Tida k a da lc k om endas i bagaim ana at au k e m a n a m e m -                IB
         bersihkan scntb-suit, pada pernakaian rcrbaraske
         ruang operasi atau nrcnutupi scrub suitbila ke luar
         ruang operasi.


F. Asepsis dan teknik bedah
     l.    Senantiasa lakukan prinsip asepsisbila memasukkan                            IA
           alar intravaskular (misalnya kateter vena sentralis),
           kareter anestesispinal atau epidural, atau bila mem'beri-
           kan dan mengarur obar inrravena.
     Z.    Memasang alat steri! dan cairan, segera   sebelum digunakan.                 II
     3.    Perlakukan jaringan dengan hati-hari, pertahankan                            IB
           hemostasis yang efckriF,kurangi jaringan yang rusak
           dan benda asing (misalnya jahitan, jaringan yang hangus,
           debris nekrotik), dan eradikasi ruang rugi pada rempat operasi.




106                                                              dan Penrnggulangan
                                               PedontrnPcncegllran                Infeksi di ICU
     9. Gunakan turup kulir primer yang lambat (delayed) arau                                              IB
        tinggalkaninsisi terbukauntuk penyembuhan    melalui
        caralain bila ahli bedahmemutuskanbahv,'a  luka
        operasisanBar                (misalnya
                       terkonraminasi.         kelasIII dan
        kelasIV).
     5. Bila drainase diperlukan,gunakandrnin suctionyang                                                  IB
        tertutup. Tempatkan suarudrain melalui insisiyang
            jauh terpisah dari insisi operasi. Cabu drain secepar
            m u n g K l n.




3. Perawataninsisi pasca operasi

                                                                                                   KATEGORI

A . Lindungi dengan drestingsrerrlselama 24-48 jam pasca                                                    IB
     operasi pada luka insisi yang telah ditutup secaraprime r.

B.   Cuci tangan sebelum dan serelahmengganri dru;ing                                                       IB
     da n setia p k ont ak dengan r c m par oper as i.

               insisi harusdiganri,gunakanteknik sreril.
C. Bila dressing                                                                                            II

D.   Men.rberikan pendidikan kepada pasien dan keluarga                                                      II
     rentang cara memelihara luka insisiyang benar,gejalaILO
     da n p en ting ny a m elapor biia ada t anda- t r n d a -

E. T idak ada r e k o me n d a su n ru k me n u ru p ii nsi sidengan
                                i                                                                     Masalah
     penutupan primer serelah jam dan waktu yang,
                                        48                      r€pat                                  belum
     unr uk m an d i d e n g a ni n s i s iy a n gte rb u k a .                                     terselcsaikan


Daftar Pustaka
l.                                 ML, SilverLC, Jarr.is
      Mangram AJ, l-loranTC, Pearson                   VR. Guidelinc for preven-
      tio n of str r gic al s it e inf ec r ion. I nf ec t ion C o n t r o l a n d H o s p i t a l E p i d e m i o l o g y
          1999220:247-78.




PedomanPenccgahan                tnfcksi di ICU
                drn Pcnanggulangan
                                                                                                                   107
Tabel 5. Mekanismedan spcktrunraktifitasbahanantiseptikyang seringdigunakan bagi
persiapankulir sebeltrmoperasi

                         \lkohol               Chlorhexidine lo d in e /               PCMX            Triclosan
                                               Iodophors
Mekanisme                ) e n atu r a si      ln va si m e la Iu i   Oksidasi/      Invasi            I nvasi
kerja                    > r ore i n            enrbr:rn sel          substirusioleh nrelai  ui        mei al ui
                                                                      iodine bebas d i n d i n g       di ndi ng
                                                                                     sel               sel
Ba k t e r i g r a n r i a n g a r b a ik      Sa n g a t b a ik      Sangatbaik     Baik              Baik
po s i t i I
ttaKterr gram- i a n g a t b a ik              tJa ik                 lla ik           Cukup*          Baik
nesarif
Mrb                      Saik                  Burrrk                 Baik             Cukup           Baik
 amur                    laik                  L u ku p               Baik             Cukup           IJuruk
Virus                    Jark                  Baik                   ttalk            Uukup           I l dak
                                                                                                       di k etahui
Kecepatan                ? a l i ng ce p a t   Se d a n g             Se d a n g       S cdang         S cdeng
keria
Akriviras                lldak ada             Sangar
                                                    baik              M in in r a l    Baik            Baik
resid r r
'foksisiras              Kering,        T<-rksikuntuk                 Absorpsi dari    Perludara       Perl'.r
                                                                                                             dara
                         :idak saratril telirrga,                     krrlit dengan    lebilr laniur   lebih lanjut
                                        l<erattis
                                              i                       kemungkinan
                                                                      toksisitas,
                                                                      iritasikrrlit
I )e n g g u r r a a n   )ers
                            iaparr    Persiapan                       Persiaparr       Scrub           Scrub
                         <ulit,scrutr ku!it, scrub                    kulit, scrulr    operasi         operasi
                         rperasi      operasi                         operasi

Mr b     : M p o b a c r er iu m tu b cr cu lo sis
l)C M X  :para-chloro-ruere        xylcr r o l
'    Cukup, kecuali ulrtuk Pseudomonas             spp.; alctiviras
                                                                  alan lebih beik bila dirarnblh br.han pelarut
     seperti EDTA.




1 08                                                           Pedornen
                                                                      Pcncegahan Penanggulengan
                                                                               dan            Infeksi di tCU
                                     Bab VIII
 Pedornan                       Pencegahan Resistensi
                Terhad.p                      Antirnikroba


V l l l .A.Pe n dahul uan
      M as alah r es i s te n s i k u ma n p a ro g e n d isebabkan ol eh
                                                                                      penggunaan
anribiorik secaraluas ya'g ridak repardan ridak terkonrrol,
                                                                                 ditambah Faktor-
fakror lain seperti jum!ah pasienyang melebihi kapasiras
                                                                              dalam suaru rumah
sakir, fc od-glo ba lisati on, dan men ingkatnya perpindahan
                                                                                penduduk anrara
b er bagai daer ah v a n g b e rb e d a b e ra k i b " t pur" ," rh" i " p
                                                                                       perceparan
penyebaran penyakir inFeksi, rermasuk yang resiste.,,..h"d"p
                                                                                        ob"..
      Berbagai cara relah dilakukan untuk mengarasiresistensi
                                                                                      anrimikroba
terrnasuk pemahaman yang berdasarkan pada empat
                                                                             prinsip dasar yairu
pencegaha' infeksi (penggunaan anribiotik profiraksisy"ng..i"r,
                                                                                           vaksinasi,
dan membarasi penggunaan peralaran invasiF),eradikasi
                                                                                i-rr.r.ri (diagnosis
dan terapi yang tepat), pembarasan spesiesresisren(surveilens
                                                                                         isolasi dan
ko lonis as i) , dan p e n g g u n a a n a n ri b i o ri k s e c ararasi onal .

        Penggunaan antibiotik secara rasional merupakan
                                                                                 dasar yang paling
utama, melipuri ide'tifikasiadanl,x infeksi,lecak_inF.ksi,
                                                                                idenrifikasikuman
d a n k epek aanny a te rh a d a p a n ri b i o ri k a ra u d ugaan kuman
                                                                                    penyebab bi l a
h a s il k ult ur belum a d a , p e m i l i h a n d a n d o s i s anri bi ori k
                                                                                yang sesuai .
      Sela'jumya sejala'de.gan program grobar\x/F{o, sangar
    .                                                       diperrukan adanya
pecoman pencegahan resistensirt,rhadapandmikroba di
                                                        indonesia, kh.,r.rr.y^
di rumeh saki/ICU yang'anrinya diharapkandaparrnencegah
                                                             dan menun-rnkan
penyebaran mi kroo rgarrisnle yang resisrenrerhadap ri*il*rob".
                                                   ".,

PedomauPenccgrhan
                dan l)crmnggulrngan
                                  Infcksi tli ICU
                                                                                              109
                Vfll.B.penggunaanAntimikrobayang Rasional
                Setiap pusar pelayanan
                                       kesehatanseb:

                                        ,:J",ff;"::iil
            il?tr*l**ikroba,r".J1,t"'"tTJiln[",:fi
            a""
             .nG*i'il:uT,Tilg1il:T:ilil:H?.;#i:ffi
                                         .*1;
            Rekomendasi:
            '      Pemberian antiborik harus
                                              berdasarkan
                                                        diagnosiskrinis dan sesuai
                   denganjenis mikro".g"nir_.
                                               r;  menyebabkan infeksi.
        '          seb e lummemberir.i"..,it'"ri[,
                                                     h " ru . a , r. t rr. " " ' o e n g a mb ira n
                   spesimen darahunrukpemeriksa.;
                                                     b"k ;fi.;l                  lni ditakukan
                                  rm"ri L.r.p"or, r.r"pt.
                   :",if .mengkonfi
        '                                b"d"'";'k"n*g*.,r, penyakir,
                  inl;Iffi*:l!                     f             pora rivi
                                                                      sensi ras
    .             Dokrer q,U:^l1L:J";f::'#:;^o",
                        ^";
                  mengenaiprevalensi
                                   dan pola resisrensi
                                                         ,"r,-"si murakhir
                                                    ku-*                  ai"",."r".
    "                                 d..g"r,,p.irr,,_ sempir jenis
                  f il ITa'rirr.rikrob"                    bila   kuman
                                                                      sudah
                           penggunaan    anribotik kom
    I             !indari                                     k':cuali dianggapperlu.
    -             Anriborir. y"ig dipilih
 .                                        harus dibara.?':::l
                  Gunak,,, yans o",,r,.,lf"Ttrffilil1lak
                          io,r, repar.
                  mengarasi   infeksidan cenderung       akan
                                                            efektif
                                                 akan_.r,;r.bibk".,             ..rirr.n.i.
                                                                   Terapi
                                                tinggi men
                                                         ingkatkan
                                                               kemungkinan
                 id:r1il:3finiii;l'                 "ka"
'                Penggunaan   anribo,ik  t".u, dihentikan infeksi
.                Bila d a lam *"f.i f                      bira           terah rerarasi.
                 menunj u kkan perbak"n ,nrri f.nrrl""" ,     a n rib o rikt e rs e b u r id a k
                                                                               .u       t
                                      i      kl,.r,
                                                 irl"-.L"       1..,"r,
                 dilakukandan Jip.rrimU""gi;"               ".,,^     ;il        l"r,g p.rl,,
                                                    p.rn,,,n, anribotik";r. ggan
                                                                           pen
                                                           ^.,                        ri.
Vltl.C.Terap! empirif Antlmikroba
Pemilihan rerapi anrinrikroba
                              secara
                             empirik hatus dilakukan
penilaian
        kli'is danpera                                berdasarkan
                      medan
                          kuman p"r" k.p"k"",;
                               Jr,               k;-"-r-,,...-0",.

il0                                             Pcrlorn,rnPcnccgrahan pcnirnggulangan
                                                                    d:n              tnfetai di ICU
     P ewar naa n Gra m d a ri s p e s i me n , k u l tur dan res sensi ti vi ras harus
     dilak uk an s e b e l u m me mu l a i re ra p i e mpi ri k.
a
     Target yang diharapkan adalah rerapi efektii aman, rasionaldan sesuai.
a
     P em ber ia n a n ti m i k ro b a d i mu l a i d e ngan spekrrum l uas, kemudi an
     disesuaikande,rgan spektium sempit bila jenis kuman relah diketahui.
      Dokter harus memuruskan apakah terapi antinri[<roba ini benar-benar
      diperlukan. Gejala-gejala respons peradangan sistemik (Systemic In-
     flammation ResponseSyndromc = SIRS) seperri ciemam, takikardi,
      takipnea dan leukosirosis ridak selalu disebabkan karena infel<si.


Vlll.D.Terapi Profilaksis
Pemberianterapi profilaksisanrimikrobahanyadiberikan kalau rerapiini
          akan memberikanmanfaar.
benar-benar

Rek om endas i :
.   Terapi profilaksis diberikan pada prosedur pembedahan rerrenru (Thbel t).
.   Terapi profilaksis sebagaipencegahan endokardiris
.   P em ber ia n p ro fi l a k s i s a r,ti m i k ro b a yang sesuai di beri kan secara
     parenteral, dosis tinggi d:n maksimal diberikan lx24 jam, kira-kira I
     jam sebelum prosedur intervensi rerhadap pasien.tJntuk kepentingan
     praktis biasanya terapi profilaksis antimikroba ini diberikan sebelum
     pasien dibawa ke kamar bedah (pada operasi)arau sesaar  serelahinduksi
     anestesi.

     P em ber ia n p ro fi l a k s i s d a l a m j a n g k a w akru i ama sebel um operasi
dian ggap coun terpro ducti ue, karena men imbulkan risi ko resistensi terh adap
kuman parogen.Terapi profilaksis anrimikroba bukan merupakan pengganri
t indak an as ep ti k /a n ti s e p ti ky a n g a d e k u a t pada pembedahan.


Vlll.E.ResistensiAntimikroba
I nF ek s i nos ok o mi a l s e ri n g k a l i d i s e b a b k an ol eh organi sme yang resi sten
r er hadap ant i mi l < ro b a . U n tu k m e n c e g ah rransmi si kunran parogcn i ni



l'edonrrrnPcnccgrhln dan Pcrrrnpgulrng,rn
                                        lnfrlsi di ICU
                                                                                           I ll
Tabel l. Rekomendasi                  antimikrobapadapembedahan
                   pemberianprofilaksis

            Jenis Operasi                                       Terapi Profilaksis
   astrointesrinal :                                      lJ osl s tunggal :
    esofagus, lambung, duodenum                              cephaldrYn/ce     fazolin 2 g erau
                                                             cel uroxrme,> q atau
                                                                             l
                                                             oi oeraci l l i n s -
                                                                             4
S alu ran e mpe du                                        Sepertidi atasdan doxvcvclin 200 me
 )anl<reas, usus halus                                       Salah satu dqri di aras dan
                                                             metrontoazole l g a r a u
                                                             tinidazole 800 m g
Urolosi                                                   Dosis tunscal :
    Prostatekrorn r                                          ccturoxime l,J q arau
                                                             ciprofloxacin 5O0 mg atau
                                                             ntirfloxacin 5 00 me -atau
                                                             TMP/SMX.        106/S00 me
    5ubsUtusl enterlk                                     )ama oensan usus nalus
    l'rote sls tmpla nt                                   ceturoxrme I,) q
    lJloPsr Prostar rransrekral                           crDroiloxacln )uu mg atau
                                                          ntirfloxacin 400 ms "
(J b s r € r f l    c l a n g l n eKo lo g l               L.rosls tungqal    :
    L -l i " r..-l .t^                                     ceFuroxi mel .5qarau
                                                           cetazol l n I g atau
                                                           pi peraci l l i nZg
Orto oe di                                                 3'4 dosi.sdalam 24 iam
  Pe ng sa nria n sc ndi                                   cl oxaci il n/nafti l l i n I -2 e/dosi s
                                                                       l
  Osreosintesis terhadap F.akrur Femur                                          l
                                                           cephalocin/cef:rz.olin -2 g/dosis
  trochanter
  Arn pu tasi                                              clindamycin 600 mg/dosis
Vaskular
     Rekonstru!<si                                         ccfuroxirne t,5 g/8 iam atau
    AmDutasl                                               sel arna z9 tanl
     Stenr gratr aortx
                                                           ::1,':'1"#:iY    z'^m
                                                                      ?:,T'c''
                                                                                  I g/ I Z 1amsclama
                                                              lT,!ll"Y.tn
 Thoraks                                                   3-4 dosis sclama 24 iam
   la ntu ng                                               cephalorin/cetazolin 2 e arau
              Pacem 4efon u4tor
                  lkc,'/                                   cloxacillin/nalcillin 2 q atau
     if 5:1TrT.'                                           clindamycin 600 mg a"rau
                                                           **v a n c d m y c i n I
                                                                                   e[V
     Parrr-paru                                            ceBhalo.rin/ccfazolin 2 g atau
                                                           ceruroxlme l,) g atau
                                                           benzylpcnicillinS g arau
                                                           clindamycin 600 ms
     * TMP/SMX : Tiinrctoprim/sulfamethoxazolc
     ** Hany a uniu k y a n g a l e rg ip e n i c i l l i n


 tt2                                                            drrnPcnrnggukrrg.rn
                                                      Pcnccgaltln
                                               Pedonran                           lnfi'ksi di ICU
diperlukan beberapaprosedur (Tabel2 dan Tabel 3). Restriksi penggunaan
ant im ik r oba j u g a me ru p a k a n b a g i a n y ang penti ng unruk mengonrrol
resistensikuman.

VIII.F.1.
        MRSA
B eber apa s ira i n M R S A m e m p u n y a i p otensi sebagai penyebab i nfeksi
nosokomial, dimana seringkali resisrenterhadap beberapajenis anrimikroba
dan hanya sensitif rerhadap vancomycin dan teicoplanin. Infeksi dengan
MRSA sama dengan infeksi karena S. aureus yaitu infeksi pada luka, saluran
napas bagian b a w a h , s a l u ra n k e mi h , s e pti kemi a, al ar-al ar i nvasi f, l uka
dekubiius, luka bakar dan ulkus. Di ICU, HCU (higb care unit), unit luka
bakar dan unir kardiothoraks biasanyasering terjadi infelai berat, penyebaran
epidenri dari MRSA lebih mudah rerjadi, strain dengan ringkar penularan
tinggi cenderung menyebar secararegional dan nasional di beberaparumah
salcit. Faktor-fakror yang meningkatkan kecenderungan ini adalah:
l.   Tempat kolonisasi dan infelai MRSA adalah hidung, tenggorokan,
     perineum, lipatan inguinal, dan vagina, rekrurn (lebih jarang), kulit
     bokong, daerah yang sering berg;esekan                   (lesi kulir sr.rperfisial,
                                                                                       luka karena
     tekanan, ulkus, dermariris), luka operasi, luka bakar, rempar masuk
     alar - alar i n v a s i f (k a re re r i n ra v a s k ul ar, katerer uri n, stoma rube.
     trakeosromi tube).
7.   M as a r aw a t y a n g l a ma d i ru m a h s a ki t.
3.   ljs ia r ua, n ' ro b i l i ta ste rb a ta s ,i mmu n osupresi , ri w ayat terapi anti bi ori k
     sebelumnya.
4.   P as ieny a n g d i re w a r d i u n i r k h u s u s (lC U , H C U , r" rni t uka bakar, dl l ).
                                                                                 l
5.   P as ien d a n re n a g a k e s e h a ra n y a n g seri ng berpi ndah anrar ruang
     per awat a n d a n a n ta r ru ;n a h s a k i r.
6.   P enggun a a na n ri b i o ri k y a n g b e rl e b i h an di uni r yang bei sangkuran.
7.   Jun-rlahpasien yang rerlalu banyak dalam saru kamar.
8.    J um lah s ra f me d i s y a n g te rb a ta s .
9.   Fasilitasyang ridak memadai (fasilirascuci tangan, ruang isolasi yang
     adek uai ).




PedomanPrncegahrndrn Pcnanggulangan
                                  Infcksi <li ICU
                                                                                                lt 3
Thbel 2. Pengendalianinfcksi unruk mencegah
                                          kejadianluar biasadari organisme
yang resistenterhadap a n ti m i k ro b a
Identifikasi reservoir
. Kolonisasidan infeksi
- K onr am inas i l i n g k u n g a n

Mencegahtransmisi
- Memperbaiki teknik cuci tangandan tindakanasepsis
. Isolasikejadiandan kolonisasi
. M em is ahk an p a s i e n y a n g re n ta n d e n g a n p asi enyang teri nfeksi dan ada
  kolonisasi
. Tutup ruang perawaran         bagi pasienbaru jika diperlukan

Modifikasi risiko pejamu
. B ila m em unsk i n k a n F a c rop e n c e tu s i h i l a nekan
                                    r            d
' Pengendaliaipcnggunaan           antibiocik(rotateireitric, ataudi rconti
                                                                          nue)


  Tabel 3. Pengendalian kejadian endemik dari mikroorganisme yang resiscen
  te rha da p an ribi oc ik
   Pasrikan penggunaan antibiorik yang tepat (jenis antibiotik yang repar, dosis
   d an lama nya penggunaan y ang opt im al, ke m o p r o f i o l a k s i s b e r d a s a r k a n
   keb ijal<an pe ng gunaan anr ibior ik di m as ing- nr a s i n gr u m a h s a k i t , p e m a n t a u a n
   kcmun gkirran r c s is t c ns i t er hadapa ant ibior ik , o b a r - o b a t a n r i m i k r o b a y a n g
   b aru ).
   Tcrsedianya pcdoman pengendalian infeksiyahng i,rrensif            yang
                                                          dan Fasilitas
                                                            ruangoperasi),
   nremadai rerutama untuk cuci rangan barrierprecautiou(misal
   rin da ka n pe ng endalian lingk ungan.
   Me mpe rtraiki c ar a pem ilihan dan penggun a a n a n t i b i o r i k d n g a n m e t o d e
   p en did ika n d an adm inis t r at il.
   Barasi penggunaan antibiotik topikal.



 Vflf.F.2.Enteracocci
Saat ini didapatkan beberapaenterocociyangresisten     terhadapsemua andbiorik,
                                                       =
kecuali vancomycin (uancomycin-resittrtntenterococci VRE). I(ornbinasi antara
penicillirr dan glycopepride resittant pada Enterococcutfaecium akan
menyebebkan i n feksi yang sul i t diarasi.lJntungnya sebagi besarVRE berupa
                                                            an
liolonisasi saja. Bila terjadi infeksi maka terapinya akan susahsekali.




 I r4                                              Pedoman                       lnfeksi di ICU
                                                          Pencegahan Penrngguhngan
                                                                   den
Vlll.F.KebijakanPengendalianTerapiAntimikroba
Penggunaan antibiotik yang repar difasilitasi oleh komire penggunaan
a nt ibiot ik . K o m i te i n i j u g a me re k o m e ndasi kan anti bi oti k untuk
for m ular ium , p e n r.rl i s a nre s e p , me l a k u k a n eval uasi ul ang, pembuatan
pedoman, audit penggunaan antibiotik, melakukan pendidikan dan bekerja
s am a dengan p i h a k fa rma s i s . Ko mi te h a rus mel i barkan mul ri di si pl i n,
m engik ut s er t a k a n i n te n s i v i s , a h l i b i d a n g penyaki r menul ar, ahl i bedah,
per awat pengo n tro l i n F e k s i ,F a rma s i sa h [i m i krobi ol ogi dan admi ni scraror.
                                                            ,

     Setiap rumah sakit dapat mengembangkan kebijakan penggunaan
antibiorik yang sesuaidengan kebutuhannya, dan membagi antibiorik dalam
b,eberapa  kategcri sebagaiberikur:
.    Unrestricted(efekif, aman, murah, contohnya benzyl penicillin)
.    Restricted (hanya digunakan pada keadaan khusus, oleh dokter yang
     dianggap ahli dalam hal ini, untuk infeksi yang berar, dengan pola
     resistensiyang khusus)
.    Excluded (preparar yang ridak menunjukkan keuntungan arau mahal
     tapi ridak sesuaidengan hasil yang diharapkan)

      Panitia penggunaan arlribiotik ini berada dibawah arau Panitia Komirc
Farmasi dan Terapi di rumah sakir. Rumah sakir sebaiknya mempunvai
s uat u pedom a n p e n g e n d a l i a n p e n g g u n aan anti bi oti k yang sederhana,
fleksibeldan secara periodik diperbaharui yang berdasarkan pola sensitiviras
k um an dim an a s e d a p a r mu n g k i n b e rsi fat di sease speci fc bnsi s dan
pengendalian antibiorik. Kebijakan ini dikoordinasikan dengan pedornan
praktis setempar.


Vlll.G.Peranan LaboratoriumMikrobiologi
Laborarorium mikrobiologi mempunyai peranan penting dalam resistensi
obat - obat ant i m i k ro b a y a i tu :
.    Melakukan pemeriksaan kepekaan anribiotik terhadap organisme yang
     dapat diisolasi berdasarkan standar yang benar.
.    Menenrukan jenis antimikroba yang akan dires dan mernbuar laporan



Pcdotnrn Penccglhan dan Pen:lngguhngan Infclsi di ICU
                                                                                             ll5
           renrangpengaruhnyarerhadap       setiaporganisme
      .                                                      yang diisolasi.
           Menyediakan tes antimik.ob" t"_b"hai  q.a' r_rnruk'i.ot"n.i
                                                      Lrrr(u\ rrurasrreslstenyang
           dipilih (selectecl
                            resistant
                                    isolates).
      .    Turur berparrisipasi secara akrif
                                                  dalam paniria pengggunaan
          antirnikroba.
  '       Melakukan pemal.rry"" dan pelaporan
                                                       tenrang kecenderungan
          prevalensi  resisrensibakteri t".h"d"p obar-obar  antimikroba.
  '       Menyediakan saranaunruk m.ndrrk,r.,g
                                                      p.*.rikr""., mik.obiorogi
          untuk clustur  dari organisme  yang resisren.
  '                  pengendarianinfeksi J...p",r,y" begitu
          laku-kan                                              didaparkansuaru
          kejadian resistensi  kuman vang rid"k bt;*;;;;Iolrto,,r.r^si
          spesimen                                                           dari
                     klinis.
      Fungsi yang paling penting dari laborarorium
                                                  mikrobiorogiadarah
 menenrukanantibiorik y.ng peka terhadap
                                          organisme yang dapatdiisolasi
 dari pasienyang rerinfeksi,untuk
                                  *.-b"nru- krinisi i"t"L--..,.nrukan
 terapi.

 Vlll.H.PemantauanpenggunaanAntimikroba
Se r iap pengguna a n a n ri mi k ro b a
                                               d i ru m a h saki r harus di panrau.
d i l ak uk an oleh K o rn i te F a rma s i                                                      H ar i ni
                                                d a n h a ru s di raporkan kepada K omi re
Pengggunaan A rrri b ,i o ri k s e c a ra
                                                p e ri o d i k d" l arr., i ' r.r.,r" r' * " ktu
cJi t enr uk an' Ha l -rra r,.y a ' g .h a ru s                                                    yang
                                                  d i ra p o rkan anrara l ai n berapa j eni s
a n rir nik r oba y a n g d i g u n a k a n
                                              d a l a m s u a ru w aktu rerrenru
cenderungan antimikroba yang                                                                    dan ke-
                                          digunakan dari waktu t. **t.,r."p.nggunaan
antimikroba pada pasien-pasie'
                                            y"rrg dirawat di unit khusus harr-rs
secara terpisah.                                                                               dianalisa

       sewakru-wakru harus dirakukan
                                                 audit unruk mengetahui repartidak'ya
penggunaan antimikroba diinstitusi
                                                yang bersangkuran.      Audir ini dirakukan
o l e h. K om it e P e n g g u n a a n An ri m i k ro b a . yang
                                                                    harus di audi r adal ah
perubahan pola penggunaan antimikroba,
                                                         organismeyang resistenrerhadap
antimikroba dan perhatian khusus
                                             terhacrap     [.tu"."r, p"rilrl."ga'    kondisi
yang buruk. Klinisi yang rerlibar
                                            rurur berpartisipasidaram merencanakan



ll6                                            Pedonrln Pcnccgalran penlnggulangan
                                                                  dan            Infcksi di ICU
                                                             harus sudah ada pedoman
audir dan analisisdata. sebelum melakukan audir
                                yang tePat, dan pedoman ini dikerahui oleh semua
f.rlggt,,""n antimikroba
                                                                     unrukmenentukan
,,"f"ri.dik. Serelah iru baru bisa dibuat s uatu Cbart Audit
                                                            dengan standar yang ada'
apakah penggunaan anrimikroba sudah sesuai
                                                                                penyebab
Ui t" aiJ " p" ik an p e n y i m p a n g a n m a k a h a rus di i denci fi kasi
penyi mpangan tersebut.
                                                               antimikroba,
      Untuk meningkatkan kesadaranakan masalah resistensi
                                                     melnber.ikan pedoman
CDC melakukan kampanye antara lain dengan cara
                                                      antimikroba diantara
l2 langkah bagi klinisi untuk pencegahan resistcnsi
               yang dirawat   (,'tz ,trpt to prcucnt 4ntimicrobi^l resistance
p"ri.r,-d.*asa
amo ng hospita lized adulx') :

 Mencegahinfeksi

 Langkah 1 : Vaksinasi
 "  Berikanvaksininfluenza'
 .   Berilcanvaksininfluenza                padapasiendenganrisiko
                                pneun'rokokus
                            dar.r
                   diPulangkan'
     tinggi sebelunr

 Langkah 2 : PelePasan kateter
 .  Gunakan kateterhanyabila perlu"
 .   Gunakan kateteryang benar'
 .   Lakukan prosedurpemasangan      perawatankateterdengau repar.
 .   lrpaskan kateterbila ridak lagi diperlukan'


  D i a g n o s i s d a n ta ta |a ksa n a i n fe ksidenganefektif

  l-angkah 3 : Sasaran kuman Patogen
                                                                                     diduga.
  .    Sasaranrerapi empirik adatah kuman Patogen yang
  .    Sasarant.r"pi d.d'ririFadalah kuman                            parogen yang relah diketahui'
                                                                                       dan durasi '
  .    O pr im alis a s i k a n w a k rtt, j e n i s , d o s i s , j a l an pemberi an
   .   Pemanra,.tan       terhaciaPresPonsterapi dan ganti terapi jika diperlukan'




   Pc<lornrn                            Infelsi di ICU
                     drn Penrlrggul:rngrn
            Pcnccgrhan                                                                         t17
Langkah 4 : Konsultasi dengan ahli
.  Konsulrasikanpesien                         ahli bidangpenyakit
                       denganinfelai beratkepada
   inFe
      ksi.

Penggunaanantimikrobayang rasional

Langkah 5: Tindakan pengendalianpenggunaanantimikroba
"  Sesuaikan  dengan progranr penggunaanantimikroba yang tepar di
   daerahmasing-rnasin g.

LanEkah 6: Penggunaan data lokal
.  Mengerahuiantibiotik yang digunakan.
.  Mengerahuiformula yang ada
.  Mengerahuipopulasipasien

Langkah 7: Tata laksana infeksi, bukan kontaminasi
.  Cunakan antiseptikyang tepat untuk kultur darah.
.  Hindari kulrur tip kareter vaskular.
.  Hindari kttlrrrr rnelaluikaterer      secara
                                  vaskular    periodik

Langkah 8 : Tata laksana infeksi, bukan kolonisasi
.  Thta laksana pneunlonia,bukan aspirasi  trakea.
   -fata laksenainFeksisalurankemih, bukan kateterin&aelling.
"
.  Tara laksarrabakterernia,bukan rip atau hub katerer.
.                      tulang, bukan flora kulit
   Tata laksenair-rfelcsi

Langkah 9 : Mengetahui saat yang tepat untuk bilang "tidak" kepada
vancomycin
.  Adenya demam dan akses   intravenabukan indikasi rutin pemberian
   vancomycin.
.   MRSA mungkin sensitif terhadap antimikroba lain.
.              inFeksi
   Tata lal<sana                  bukan kontaminasiatau kolonisasi.
                     ,otafilokokus,




                               Pcdornanltnccgrlun rlln Penanggulangan
                                                                    lnFcksi di ICU
11 8
Langk ah 10 : P e n g h e n ti a n te ra p i a n ti mi kroba
.  Tata laksana bila ada infeksi
.  K et ik a in fe k s i ti d a k te rd i a g n o s i s
.  K er ik a in fe k s i m a s i h d i ra g u k a n


                 tra
Pe n c e g a h a n n smi si
Langk ah 11 : l s o l a s i k u m a n p a to E e n
.  Gunal<an standar lcervaspadaan               pengendalian inFeksi.
.  Cair an t trb u h y a n g i n fe k s i u s (p e n u l aran mel al ui udara, dropl et dan
   kontak)
.   Bila meragukan, konsultasikan dengan ahli bidang pengendalian infelai.

       12
Langkah : Memutuskan   rantaipenularan
.  Tinggaldi rumahbilasakir.
.    Menjaga kebersihan tangan.
.    M em beri k a n c o n ro h


Daftar Pustaka
l.   \7HO.              A n r ir n icr o b i;r l u se a n < l a n tim icr cb ia l resi sti l nce.
2.    D e p l r t m c r.r t o f ( lo n r n r tr r r ica b lc Dise a sea n cl S trrvei l l anceand l LcsponseWorl d H eal th
     O r g a n i z a t i o r r . \VHO q lo tr a l stn r e g y lo r co n ta inrrnent of anti nri cr<-rbi a.l stance.
                                                                                                         resi     2001.
      l ) i t l : r n r r r . l,r r i   Ul{ t.:   h tr n ://www.wh o .in t/csr/rcsotrrces/nrtbi i ceti ons/tl rrrsresi st/
      E(llobal               S tr r t.n clf
3.   Anribiotics                        ir r lCU,    e g u id c   fo r   p e r p lexed.    D i dapat   dari   U R L:   hrtp:/i
      wrwv. anaestheris r. com/ictr/ in f-ecr/ab/abrx. htm
4.    C e r r r e r f o r Disca sc Co n tr o l a n d Pr e ve n tio n . l 2 steps to prevent anti mi crobi al resi s-
      ( a l r c e a n r or lg h o sp ita lizcd a d r r lr s ca m p ,r ig n (o preverrt anti nri crobi al resi stance i n

      Healthcarc Settings Didepat deri URL: http://wrnv.cdc.gov/drtrgresistance/healrhcare/
      l r a / I 2 s t c os HA.h tm




                    d.rrr              lnfcksi di ICU
Pcdonrunl)crtceg.rhrrr l)cn.rnggulrng.rrr                                                                                    ll9

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1101
posted:4/2/2012
language:
pages:128
galih endradita galih endradita Admin www.galihendradita.wordpress.com
About Dokter, Konsultan Managemen dan Perumahsakitan terutama mempersiapkan rumah sakit dalam penilaian akreditasi rumah sakit di Jawa Timur. Hp 0811350660