LAPORAN PTK SEJARAH

Document Sample
LAPORAN PTK SEJARAH Powered By Docstoc
					 PENINGKATAN RANAH KOGNITIF DAN AFEKTIF PESERTA
  DIDIK KELAS X-6 SMA LABORATORIUM UM PADA MATA
PELAJARAN SEJARAH MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL
 TEACHING AND LEARNING (CTL) DENGAN MODEL P A S A
           (PICTURES AND STUDENT ACTIVE)




                       Oleh
             MADE ARI SAMBODO, S.Pd




  YAYASAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MALANG
  SMA LABORATORIUM UNIVERSITAS NEGERI MALANG
                     JUNI 2007
                         LEMBAR PENGESAHAN


Penelitian Tindakan kelas (PTK) dengan judul Peningkatan Ranah Kognitif dan
Afektif Peserta Didik Kelas X-6 SMA Laboratorium UM Pada Mata Pelajaran
Sejarah MelaluiPendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Dengan
Model PA S A (Pictures and Student Active)
Telah disahkan tanggal........................................2007 oleh:




Kepala Sekolah SMA LAB UM




Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si
                                     ABSTRAK

Sambodo, Made Ari. 2007. Peningkatan Ranah Kognitif dan Afektif Peserta Didik
Kelas X-6 SMA Laboratorium UM Pada Mata Pelajaran Sejarah Melalui Pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL) Dengan Model P a S A (Pictures and
Student Active)

Kata Kunci : peningkatan ranah kognitif dan afektif, CTL, Picture and Student
Active

        Dalam rangka meningkatkan pembelajaran sejarah serta menghilangkan kesan
bahwa pelajaran sejarah hanya bersifat hapalan saja, maka perlu diupayakan metode
yang dapat memotivasi untuk menuntaskan materi dengan baik. Pengembangan
kurikulum mengacu kepada siswa sebagai pusat sumber belajar, sehingga dalam
strategi pembelajaran sejarah diharapkan siswa dapat menguasai konsep atau materi
secara proporsional.
        Pada penelitian ini dipergunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
tindakan kelas (PTK). Tujuan yang utama dari penelitian ini adalah mencoba melihat
berbagai kemungkinan upaya peningkatan ranah kognitif dan afektif peserta didik
kelas X-6 SMA Laboratorium UM pada mata pelajaran sejarah melalui pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan model P a S A (Pictures and
Student Active). Riset ini berlangsung pada semester II tahun pelajaran 2006/2007,
dilakukan dengan 2 siklus. Proses pembelajaran dengan pendekatan CTL melalui
model PaSA dilaksanakan dengan tahapan (1) pembagian kelompok kecil (2) siswa
mendeskripsikan gambar-gambar (3) menelaah dan menganalisis setiap gambar (4)
mendiskusikan gambar-gambar tersebut (5) melakukan presentasi lisan (6)
melaksanakan post tes berupa quiz dan soal-soal obyektif/subyektif.
        Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil pembelajaran dengan model PaSA
dapat meningkatkan proses dan hasil belajar. Pada siklus 1 kelas X-6 yang berjumlah
44 siswa yang tuntas belajar adalah 36 siswa ( 81.81 % ) sedangkan yang tidak tuntas
8 siswa ( 18.18 % ) pada siklus 2 terjadi peningkatan yang signifikan yaitu siswa
tuntas 100 %.
        Perbaikan kualitas pendidikan dimulai dari perbaikan kualitas pengajaran,
tersedianya sarana dan prasarana yang memadai namun hal ini juga harus ditunjang
dengan kualitas siswa. Komponen dalam sistem ini saling terkait dan terpadu
mempengaruhi variabel-variabel peningkatan hasil pembelajaran. Penelitan ini
bertujuan mencari bentuk pendekatan proses belajar mengajar dengan model
pembelajaran tertentu yang sesuai dengan karakteristik pelajaran sejarah di SMA
Laboratorium UM.
                              KATA PENGANTAR


       Syukur Alhamdullilah berkat kehadirat Allah SWT, akhirnya penulis dapat
menyelesaikan tugas sekolah yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) dengan lancar dan
tanpa hambatan yang berarti. Dalam kesempatan ini penulis tentunya tidak sendirian
melakukan penyelesaian penelitian, namun banyak pihak-pihak yang terkait yang
telah membantu, memberikan dukungan dan harapan sehingga tanpa mengurangi rasa
hormat perkenankanlah penulis menyampaikan pengharagaan yang setinggi-tingginya
kepada :
1. Bapak Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si sebagai Kepala Sekolah SMA LAB UM
   yang telah membimbing penulis kepada kesempurnaan penelitian.
2. Ibu Dra. Husnul Chotimah sebagai Tim Pengembang SMA LAB UM yang telah
   meluangkan waktu untuk merevisi, menelaah dan melihat langsung proses
   penelitian ini.
3. Ibu Dra. R. Kartini selaku anggota Tim Pengembang yang membantu,
   membimbing, mengarahkan serta meluangkan waktu untuk melihat penelitian ini
4. Bapak Teguh, S.Pd selaku teman sejawat tim sejarah yang bersedia menjadi
   observer demi perbaikan penelitian ini.
5. Siswa kelas X-6 yang dapat merasakan peningkatan pembelajaran sejarah lewat
   model PaSA.
   Akhir kata tiada yang dapat disampaikan penulis kecuali ucapan terima kasih
   yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya
   penelitian tindakan kelas ini. Saran dan kritik akan penulis terima sebagai acuan
   perbaikan di masa yang akan datang. Terima kasih.


                                                               Malang, Juni 2007
                                                               Peneliti
                                        BAB I
                                  PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
       Peranan pendidikan di Indonesia menjadi prioritas utama, secara jelas di
dalam UUD 1945 pada pasal 31 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah
mengusahakan dan penyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur
dengan undang-undang sejarah, sejalan dengan hal tersebut GBHN 1988 dinyatakan
peranan pendidikan nasional yang kaitannya dengan sejarah yaitu meningkatkan
kualitas manusia Indonesia, bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti
luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras. Selain itu yang perlu digaris bawahi
adalah bahwa pendidikan nasional harus mampu menumbuhkan dan memperdalam
rasa cinta tanah air (nasionalisme) dan mempertebal semangat kebangsaan
(patriotisme).
       Dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional setiap 10 tahun sekali selalu
dilakukan penyempurnaan atau revisi kurikulum seperti tahun 1975, 1984, 1994,
suplemen 1999, 2004 (berbasis kompetensi) dan saat ini menggunakan kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP 2006) dimana didalamnya terdapat perubahan
materi dalam pembelajaran sejarah
       Suatu pernyataan yang sangat fenomenal dari Presiden Sukarno bahwa
”bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai sejarah perjuangan
bangsanya”. Ungkapan yang begitu bijaksana apabila dikaji secara mendalam
mengandung pengertian Verstehen dan Erleben ( Kartodirjo, 1993) yaitu menyelami
dalam membuka tabir kebenaran masa silam. Jastifikasi sejarah dalam perjalanan
suatu bangsa dengan sendirinya akan membentuk karakter dan kepribadian yang
sesuai dengan jiwa jaman tersebut.




                                           1
        Barangkali sejak kita berada di bangku SD pelajaran sejarah adalah mata
pelajaran yang membosankan, pada masa itu kita akan bertanya, mengapa kita belajar
sejarah? Mengapa kita harus mempelajari masa lalu? Bahkan sampai pernyataan
ekstrim yaitu apa gunanya kita belajar sejarah? masa lampau yang sudah lewat tidak
perlu diteliti atau dipelajari.
        Perlu diuraikan kendala-kendala umum dalam pembelajaran sejarah yaitu; (1)
doktrin patent pembelajaran sejarah sejak kita di bangku SD sampai dengan SMA
tidak terlepas dari 4 W + 1 H ( why, when, where, who dan how) (2) materi masa
lampau yang sangat luas meliputi seluruh aspek kehidupan penting manusia di dunia
(3) metode pembelajaran cenderung didominasi oleh ceramah (4) ketidakseimbangan
jumlah jam tatap muka dengan materi yang ada (5) kurikulum yang selalu berubah-
ubah (6) siswa kurang berminat membaca cerita sejarah (7) tidak memadainya
sumber-sumber tertulis maupun tidak tertulis (8) sejarah adalah ilmu sosial selalu
dipandang sebelah mata sebagai mata pelajaran kelas dua setelah eksakta
        Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran sejarah dalam hal ini siswa
SMA LAB UM salah satunya dilatarbelakangi oleh faktor kurang kreatifnya guru,
juga tidak tersedianya sarana dan prasarana pendukung. Dari data evaluasi hasil
ulangan semester dan ujian blok semester I pada mata pelajaran sejarah standar
ketuntasan adalah 70 kelas X, kurang lebih 27.5% tidak tuntas ( Σ : 220 siswa ), kelas
XI 30.5 % tidak tuntas ( Σ : 230 siswa ) kelas XII 36.2% tuntas ( Σ : 223 siswa ) ini
berdampak pada kontinuitas kualitas belajar siswa di SMA LAB UM.
        Kurikulum terbaru 2006 memberikan strategi kepada pengajar bagaimana
supaya siswa lebih giat memacu dirinya lebih kreatif dan inovatif, begitu pula
pendekatan yang dilakukan dalam strategi belajar mengajar sehingga hasil belajar
siswa ranah kognitif, dan afektif dapat sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
        Dalam pengajaran sejarah siswa harus dapat membangun pemikiran yang
kritis analisis dari interpretasi kebenaran fakta dan data secara benar baik pada ranah
kognitif, maupun afektif ( Hariyono, 1998)
                                           2
        Pada masa berlakunya kurikulum tahun 1984-an yang pada waktu itu
menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nugroho Notosusanto pernah dicoba mata
pelajaran baru cabang sejarah yang lebih menekankan aspek kognitif dan afektif yaitu
PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) namun dihapus pada suplemen
kurikulum 1994. Sebagian orang mengatakan pembelajaran sejarah cenderung hanya
ingatan, dan hafalan, guru selalu mengidolakan metode ceramah sebab bercerita
lebih tepat untuk kajian masa lalu. Pada prinsipnya guru-guru sejarah kesulitan
menentukan formula (teknik, metode, dan pendekatan) yang sesuai untuk materi
tertentu.
        Secara umum dimanapun pembelajaran sejarah hanya bersumber pada buku
paket untuk dibaca atau LKS untuk dikerjakan secara naratif tanpa diberikan bukti
konkrit visual berupa gambar, foto, dan peta. Sehingga pemahaman sejarah hanya
sebatas ingatan tanpa bisa menyelami peristiwanya; sebagai contoh pada tahun 1944
Jepang melakukan praktek romusya terhadap rakyat Indonesia, siswa hanya
memahami bahwa romusya adalah kerja paksa tetapi tidak mengetahui bentuk kerja
paksa yang bagaimana?, seperti apa paksaan itu? Pemahaman ini menjadi bias jika
tidak ada visualisasi, siswa hanya menjadi imajiner-founding (Notosusanto, 1985).
        Keadaan di atas akan membawa dampak yang tidak menguntungkan dalam
pembelajaran, khususnya pembelajaran sejarah dan semestinya dicarikan pemecahan
alternatif yang paling efektif dan efisien atau solusi sebagai pelaksanaan perbaikan
metode atau pendekatan pembelajaran beserta teknik dan bentuk yang sesuai dengan
kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.
        Dalam rangka peningkatan hasil belajar sejarah dengan pendekatan
pembelajaran efektif, efisien dan terpadu disesuaikan dengan proses dan kemampuan
siswa diantaranya dengan mengadopsi model Picture to Picture dan Examples on
Examples namun peneliti mencoba untuk menampilkan model pembelajaran dengan
gaya Pictures and Student Active (PaSA) On Board Stories and Pictures Stories.


                                           3
        Dalam pendekatan pembelajaran CTL metode Pictures and Student Active
diharapkan siswa dapat menkonstruk secara kognitif, dan afektif dengan daya kreasi
serta menganalisis secara kritis terhadap visualisasi. Konsep utama dari Picture and
Student Active adalah Know How to Know (mengetahui bagaimana harus
mengetahui) Dengan demikian muncul suatu pernyataan bahwa “Siswa akan lebih
mudah memahami gambar peristiwa sejarah daripada membaca, tetapi tanpa
membaca akan sulit untuk mendeskripsikan gambar” Berdasarkan latar belakang di
atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :


B. Rumusan Masalah
1. Apakah penggunaan metode Pictures and Student Active dapat meningkatkan hasil
   belajar ranah kognitif?
2. Apakah penggunaan metode Pictures and Student Active dapat meningkatkan hasil
   belajar ranah afektif?
3. Bagaimakah minat siswa terhadap metode Pictures and Student Active !
4. Bagaimanakah hasil belajar siswa terhadap uji kemampuan pemahaman analitis
   visualisasi (gambar-gambar)


C. Tujuan Penelitian
   Dari rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan mencari gambaran
   yang sekaligus menjawab permasalahan penelitian dengan paparan deskripsi
   tentang :
   1. Peningkatan hasil belajar ranah kognitif
   2. Peningkatan hasil belajar ranah afektif
   3. Minat siswa terhadap metode Pictures and Student Active
   4. Hasil belajar siswa terhadap uji kemampuan pemahaman analitis visualisasi
       (gambar-gambar)


                                          4
       Dari tujuan penelitan di atas, maka manfaat yang dapat diambil dari penelitian
ini adalah:


D. Manfaat penelitian
   1. Bagi siswa :
             Membantu siswa mencapai kompentensi diri dalam menuntaskan materi
              pembelajaran sejarah
             Membantu siswa meningkatkan hasil belajar ranah kognitif, afektif dalam
              pembelajaran sejarah
             Membantu siswa memahami konsep, kejadian, peristiwa, fakta, data dan
              interprestasi serta kebenaran sejarah lewat gambar-gambar
             Konstruktif dalam menelaah eksistensi masa lalu, menghargai perjuangan
              dan hasil kebudayaan masa lampau lewat visualisasi.
             Membangun keberanian mengungkapkan fakta sejarah, kritis pada setiap
              peristiwa masa lampau
   2. Bagi Guru :
             Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman tentang penelitan tindakan
              kelas
             Mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan secara
              komprehensif dengan berbagai pendekatan dan penilaian
             Memotivasi untuk selalu exsplorasi dalam teknik, metode dan model
              pembelajaran yang kreatif serta inovatif dalam rangka meningkatkan hasil
              belajar siswa


E. Hipotesis Tindakan
       Proses dan hasil belajar sejarah akan meningkatkan ranah kognitif dan afektif
peserta didik kelas X-6 SMA LAB UM melalui pendekatan CTL dengan model PaSA
(Pictures and Student Active) pada konsep masyarakat pra sejarah Indonesia
                                            5
F. Ruang Lingkup Penelitian
1. Penelitian ini dilakukan pada kelas X-6 yaitu konsep pembelajaran visual dengan
   materi masyarakat prasejarah Indonesia.
2. Aspek yang diteliti adalah kemampuan ranah kognitif dan afektif visualisasi
   gambar prasejarah, membuat kreasi cerita bergambar serta tahap kritis analitis
   guna meningkatkan ranah kognitif dan afektif dari hasil belajar berupa LKS
   dengan gambar, ulangan harian, post tes, tugas individu serta kerjasama
   kelompok selama proses pembelajaran
3. Strategi yang dipergunakan adalah model PaSA (Pictures and Student Active) On
   Board Stories and Pictures Stories




                                          6
                                       BAB II
                        KAJIAN TEORI DAN PUSTAKA


A. Pengajaran Sejarah Pada Kurikulum 1994
       Sesuai dengan GBPP 1994 bahwa ruang lingkup pengajaran sejarah untuk
jenjang SMA/MA/SMK meliputi substansi yang sangat luas yaitu pada sejarah
nasional dimulai dari perkembangan prasejarah, jaman Hindu-Budha, masa kejayaan
Islam, masuknya kekuatan asing, perlawanan terhadap dominasi asing, pergerakan
nasional, masa pendudukan Jepang, upaya mengisi kemerdekaan, masa demokrasi
terpimpin, Orde baru dan ditambah dengan masa reformasi (Sejarah kelas 1 dan 2,
Erlangga. 1994). Sedangkan untuk substansi sejarah dunia meliputi perkembangan
peradaban dunia masa prasejarah di Asia dan Eropa, perkembangan peradaban timur
tengah, Amerika dan Afrika, peristiwa-peristiwa di Eropa abad 17-19, perkembangan
faham-faham baru di Eropa, perkembangan tata hubungan dunia setelah perang dunia
II dan perkembangan dan penerapan IPTEK serta masalah lingkungan hidup (Sejarah
kelas 3 Yudistira. 2000) Kurikulum pendidikan nasional senantiasa harus sejalan
dengan tujuan pengajaran nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa
(Pembukaan UUD 1945 alenia 4)
       Sangat luasnya materi pelajaran sejarah membuat pembagian substansi sejarah
harus benar-benar ditinjau secara proposional karena data dan fakta sudah terjadi
ratusan tahun bahkan ribuan tahun (Hariyono, 2001). Kurikulum 1994 memberikan
landasan yang kuat tentang kronologis sebuah cerita sejarah. Ruang dan waktu dalam
pembelajaran sejarah memungkinkan siswa untuk verstehen dan erleben (menyelami
dan mendalami. Kartodirdjo, 1993). Konsep pembelajaran sejarah yang tertuang
dalam kurikulum 1994 secara implisit mengisyaratkan kepada guru bidang studi
sejarah agar lebih aktif dalam meningkatkan kegiatan pembelajaran, hal ini
disebabkan karena luasnya materi dan sedikitnya jumlah jam mengajar kira-kira 2
jam/minggu dan harus terselesaikan dalam tempo satu semester.
                                          7
         Berdasarkan sebaran materi kurikulum 1994 pada pelajaran sejarah, maka
kondisi obyektif pengajaran sejarah di kelas lebih banyak pada ceramah bervariasi,
mengapa? Karena siswa kurang menyadari pentingnya buku pegangan untuk
menunjang proses analisis peristiwa masa lampau. Guru sebagai center teach
semestinya siswa sebagai pusat pembelajaran. Dalam hal ini pendekatan
pembelajaran mutlak diperlukan guru untuk kreatif dalam penyampaian materi lebih
mendalam, berikut adalah intisari dari pendekatan pembelajaran kontekstual


B. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
         Menciptakan masyarakat belajar bukanlah hal yang mudah apalagi jika ini
dikaitkan dengan hasil pembelajaran di sekolah. Siswa bukan sebagai obyek dari
transfer ilmu melainkan sebagai subyek yang harus menggali, mendapatkan serta
menguraikan ilmu. Siswa dituntut mandiri dalam memecahkan masalah, menganalisis
lingkungan, melakukan adaptasi sosial dan menjembatani setiap permasalahan dalam
kehidupan. Proses pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa sendiri yang
menemukan jawaban atas permasalahan ilmu. Komunikasi verbal, hafalan, daya ingat
mungkin membantu dalam kehidupan nantinya tetapi tanpa dibekali, skill, ability dan
inquiry dalam memecahkan masalah mustahil hidupnya akan bermakna.
         Contexual Teaching and Learning (CTL) adalah pendekatan proses belajar
mengajar dalam rangka mencari produktifitas pembelajaran. Standarisasi kurikulum
sebagai acuan atau rambu-rambu pembelajaran harus dukembangkan dengan strategi
belajar yang baik artinya CTL senantiasa berkembang mengikuti trend sistem
pendidikan. Pendekatan CTL adalah pendekatan pembelajaran yang memiliki tujuh
(7) komponen yaitu : (1) Constructivism, (2) Questioning, (3) Inquiry (4) Learning
Community (5) Modelling (6) Reflection) dan Authentic Assessment (Kasbollah,
2002).


                                          8
          Pendekatan di atas adalah landasan membangun kerangka berfikir, dimulai
dari fakta, data dan konsep. Siswa harus mampu mengkonstruk pikirannya melalui
pengalaman ilmu dan pengamatan sosial terutama kegiatan pemecahan masalah.
Siswa harus dapat menemukan jawaban dari setiap permasalahan dengan kreatif,
inovatif membangun dirinya agar berguna bagi orang lain disekitarnya, seperangkat
fakta, data dan konsep dirangkai menjadi kesatuan yang memiliki makna.
          Siswa akan menjadi inovatif dengan ketrampilan ingin selalu mengetahui hal-
hal yang tersamar. Guru senantiasa membimbing, mendorong serta membuat
penilaian pola-pola pikir siswa, bagaimana siswa menggali informasi, apakah yang
telah mereka ketahui dan yang belum diketahui. Ketrampilan dalam menemukan
pengetahuan harus melibatkan orang lain terutama kerjasama di kelas.
          Kerjasama di kelas dalam proses pembelajaran memungkinkan terjadinya
interaksi afektif dan psikomorik karena saling berkomunikasi, memperoleh informasi
dan memberikan alternatif pemecahan masalah sehingga proses belajar dan
pembelajaran tercapai dengan maksimal serta mengoptimalkan hasil yang diperoleh
dengan merespon semua hal yang diketahui kemudian dikaryakan dalam bentuk hasil
baik catatan, jurnal maupun pendapat sehingga bentuk penilaian terhadap siswa lebih
akurat.


C. Visualisasi dalam Proses Belajar dan Pembelajaran Sejarah
          Visual dalam seni rupa berarti penglihatan (Art and Design, 1995). Pandangan
juga dapat berarti melihat, Visualisasi adalah upaya untuk mendeskripsikan bias
menjadi nyata (Kuncoro, 2001) menerjemahkan keadaan semu menjadi suatu bentuk
yang real, nyata dan dapat dirasakan. Penulis mencoba menterjemahkan visualisasi
dalam proses belajar dan pembelajaran sejarah mengandung pengertian sebagai
bentuk cerita bergambar yang dimanifestasikan pada sebuah alur cerita dalam bentuk
rangkaian gambar bermakna serta kronologis.


                                           9
       Fakta dan data sejarah didapatkan dari berbagai nara sumber baik primer yaitu
saksi hidup sejaman serta buku utama yang dapat dijadikan proyeksi sejarah
(Kartodirdjo, 1993). Sepengetahuan kita mulai dari tingkat dasar (SD) sampai tingkat
atas (SMA) pelajaran sejaraha jarang menampilkan visualisasi yang kronologis
padahal yang utama dari pembelajaran sejarah adalah menampilkan seakurat mungkin
data dan fakta.
       Siswa harus dapat menghadirkan dokumentasi fakta dan data secara jelas,
obyektif dan kronologis sehingga daya kritis terhadap permasalahan masa lampau
menjadi lebih akurat. Gooschalk (1985) dalam bukunya Understanding History : a
primer of historical method mengatakan bahwa sejarah bukanlah imajinasi tetapi
hasil dari kreasi bangunan fakta yang disusun berdasarkan alur peristiwa dan
dikembangkan oleh sejarawan dalam berbagai bentuk diantaranya adalah cerita
bergambar.
       Historiografi dalam pembelajaran sejarah terbentuk dari heuristik lapangan,
sehingga proses belajar dan pembelajaran sejarah pengkajian masa lampau harus
dilengkapi dengan alat-alat nalitis, konseptual dan teoritis (Burke, 1980). Alangkah
menyenangkan apabila dalam proses belajar di kelas siswa dibekali dengan teori dan
fakta lapangan, jika kita menceritakan tentang perang dunia II, maka semestinya guru
dapat menghadirkan gambar jalannya perang, tokoh yang terlibat dan visualisasi
lainnya yang mendukung pembelajaran tersebut. Fakultas Sastra Universitas Negeri
Malang jurusan pendidikan Sejarah memiliki laboratorium sejarah masa purba.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran kebudayaan masa lampau adalah bagaimana
mengenal kondisi masa masyarakat prasejarah secara konstruk dan nyata (Katalog
FPIPS, 1995). Guru sejarah dalam memvisualisasikan materi pelajaran senantiasa
harus memiliki imajinasi sejarah yang dapat membuat siswa memasuki masa tersebut.
Walaupun demikian unsur-unsur subyektif akan selalu ada dalam membuatan
visualisasi, guru dapat membuat deskripsi atau gambaran tentang apa yang akan
dibuatnnya
                                          10
D. Konsep ”To Know How to Know” pada Pelajaran Sejarah
       Ilmu sejarah seperti ilmu-ilmu lainnya mempunyai unsur yang merupakan alat
untuk mengorganisasi seluruh tubuh pengetahuannya serta merekontruksi pikiran
yaitu metode sejarah (Kartodirdjo, 1993). Konsep How to know pada sejarah
sebenarnya berkaitan dengan bagaimana orang memperoleh pengetahuan tentang
sejarah, tetapi pada konsep to know how to know berkaitan dengan cara mengetahui
bagaimana harus mengetahui, jadi kita mengetahui sejarah tetapi bagaimana sejarah
dapat kita ketahui. Contoh dalam mempelajari proklamasi 17 Agustus 1945 kita
mengetahui tanggal, bulan dfan tahun tersebut adalah hari kemerdekaan RI, tetapi
kita juga harus mengetahu, memahami serta menganalisis, mengapa tanggal 17
Agustus dijadikan hari kemerdekaan.
       Konsep To Know How to Know pada pembelajaran sejarah akan lebih mampu
melalukan eksplanasi daripada membatasi diri pada pengungkapan bagaimana
sesuatu terjadi sebagai narasi fiktif (Kuntowijoyo, 1994). Suatu peristiwa harus dapat
digambarkan secara lebih mendalam mengenai bagaimana terjadinya, latar belakang
apa yang melandasi lahirnya peristiwa tersebut. Perkembangan ilmu sejarah di
Indonesia dipengaruhi oleh nation building yang menuntut rekontruksi sejarah secara
nasional dimana akan mewujudkan kristalisasi bangsa atau Indonesia-sentris
(Kuntowijoyo, 1994).
       Berfikir mengenai masa lalu secara obyektif tampaknya banyak diabaikan
oleh orang karana mereka tidak mampu untuk menerima segala sesuatu begitu saja
(taken for granted) sehingga unsur-unsur subyektifitas menyertai dalam setiap
historiografi.Dalam menghadapi fenomena histories yang kompleks, setiap
penggambaran sejarah diperlukan pendekatan yang memungkinkan penyaring data
dengan seleksi terhadap konsep, fakta dan kondisi obyektif saat ini, peta peristiwa
digunakan sebagai analitis pembelajaran sejarah yang kemudian digambarkan dalam
model pembelajaran sejarah secara terpadu (Panyarikan, 1998).


                                          11
                                       BAB III
                             METODE PENELITIAN


A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
        Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif
karena pendekatan ini berupaya mengkaji lebih mendalam tentang penggunaan model
PaSA (Picture and Student Active) On Board Stories and Pictures Stories dalam
rangka peningkatan ranah kognitif dan afektif siswa pada proses belajar memahami
masyarakat prasejarah Indonesia. Pendekatan ini sesuai dengan penelitian tindakan
kelas karena memenuhi kriteria penelitian kualitatif karena Moleong (1994) dalam
bukunya Metodologi Penelitian Kualitatif menyebutkan sebagai berikut: (1) peneliti
sebagai instrument utama yaitu peneliti sebagai pengumpul data dan menganalisis
data dimana peneliti terlibat langsung dalam penelitian (2) peneliti akan menyelidiki
dan memaparkan data apa adanya di lapangan (3) hasil penelitian bersifat deskriptif
karena data-data yang terkumpul hanya berupa kata-kata atau kalimat, bukan angka-
angka
        PTK atau Classroom Action Research adalah penelitian berbasis kelas atau
sekolah, dimana dalam PTK terdapat tindakan untuk perbaikan kegiatan
pembelajaran maupun peningkatan mutu pembelajaran di kelas (Kasbollah, 1999).
Intinya dari penelitan tindakan adalah adanya tindakan dalam menyelesaikan
permasalahan-permasalahan praktis pengajaran. Penetian tindakan kelas bermuara
pada persoalan-persoalan yang dihadapi guru di kelas (Susilo, Herawati.2003) Dalam
penelitian ini masalah yang terjadi adalah kurang minatnya siswa pada pelajaran
sejarah, mereka jenuh karena guru hanya bercerita, mencatat konsep, menghafal fakta
sehingga pemahaman sejarah kurang berarti yang ditandai dengan penurunan kualitas
hasil belajar siswa. Kondisi ini diperlukan pemecahan, sehingga dengan penelitian ini
diharapkan dapat membantu meningkatkan pembelajaran dalam memahami konsep
sejarah khususnya masyarakat prasejarah Indonesia.
                                          12
PTK ini dilakukan oleh guru bidang studi yang merangkap sebagai penelitidibantu
oleh guru lain pada rumpun yang sama (Bapak Teguh, S.Pd) serta pengamatdari guru
lain ( Ibu Husnul, Ibu Kartini dan Bapak Samsul dari mahasiswa S-2 UM).Tindakan
dibatasi pada model dan teknik dalam proses pembelajaran melalui pendekatan CTL
(Contextual Teaching and Learning) dengan model PaSA (Picture and Student
Active). On Board Stories and Pictures Stories
        Sejalan dengan pendekatan kualitatif, peneliti mencoba mengembangkan 5
komponen konsep pembelajaran melalui model PaSA On Board Stories and Pictures
Stories yaitu : (1) Seeing (2) Describing (3) Learning (4) Analyzing dan (5) Knowing.
Kelima komponen tersebut bermuara pada Know How to Know yaitu selama proses
pembelajaran siswa arahakan untuk selalu menahami, kritis untuk mengetahui serta
berpartisipasi aktif.
    Desain penelitian menggunakan model Kemmis dan M.C Taggart (1989) yaitu
(a) perencanaan (b) tindakan (c) observasi dan (d) refleksi.


B. Kehadiran Peneliti
        Berdasarkan pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti sangat
diperlukan karena peneliti bertindak sebagai desainer tindakan, observer, explainer
dan pengumpul data. Peneliti membuat desainer pembelajaran selama berlangsung
penelitian. Moleong (1994) juga mengutarakan bahwa kedudukan peneliti dalam
penelitian kualitatif adalah sebagai desainer, pelaksana, pengumpul data, analisis,
penafsir dan pelapor hasil penelitian.
        Pada pelaksanaan penelitian tindakan kelas, para observer dari satu rumpun
dan guru lain dilibatkan untuk memberikan masukan hasil penelitian sehingga dapat
memperbaiki proses pembelajaran.




                                          13
C. Tempat dan Waktu Penelitian
         Penelitian dilaksanakan di kelas X-6 SMA LAB UM semester II tahun
pelajaran 2006/2007. Peneliti bertugas sebagai guru pengajar di kelas tersebut.
Penelitian berlangsung 2 bulan (April-Mei 2007)


D. Data dan Sumber Data
         Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi : (1) lembar kerja siswa,
gambar peta persebaran manusia dan kebudayaan masyarakat prasejarah (2) LKS
cerita gambar yang tersusun dari hasil analisis kelompok dan individu dalam berbagai
versi (3) hasil pengamatan proses belajar mengajar, diskusi kelompok, presentasi
lisan dan diskusi kelas.(5) catatan lapangan (6) dokumentasi. Sumber data adalah
siswa kelas X-6 SMA LAB UM tahun pelajaran 2006/2007 dengan jumlah siswa 46
siswa.


E. Instrumen Penelitian
         Pengumpulan data pada penelitian ini meliputi :
1. Instrumen Pengumpulan Data
A. Alat Pengumpulan Data
         Alat pengumpulan data berupa :
1. Tes
         Tes adalah alat penilaian dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan
kepada seseorang dengan jawaban tertentu baik dalam bentuk lisan, tulisan maupun
perbuatan (tindakan). Tes sebagai alat ukur hasil belajar di sekolah utamanya
berkaitan dengan sejauhmana siswa telah menguasai materi sesuai dengan harapan
yang diinginkan. Tes di kelas bagi siswa berhubungan erat dengan aspek kognitif,
psikomotorik dan afektif. Instrumen tes pada penelitian ini disusun dalam 2 siklus
berupa ulangan harian yang masing-masing siklus berjumlah 20 soal obtektif.


                                          14
2. Post Tes
       Post tes pada penelitian ini adalah pertanyaan-pertanyaan quiz yang harus
dijawab spontan oleh siswa. Siswa harus menjawab dengan kecepatan daya
kognitifnya. Nilai post tes ini diharapkan dapat memotivasi siswa dalam proses
pembelajaran, sekaligus sebagai standar nilai untuk menentukan nilai hasil belajar.


3. Lembar Penilaian Proses Belajar
       Lembar penilaian proses belajar dipergunakan untuk menilai siswa dalam
ulangan harian, quiz, tugas, proses diskusi kelompok, diskusi kelas, dan presentasi
lisan. Lembar penilaian ini berupa format-format penilaian proses belajar mengajar.


B. Metode Pengumpulan Data
1. Observasi
       Pengamatan dilakukan untuk melihat langsung aktifitas siswa selama proses
pembelajaran. Observasi memungkinkan untuk mengetahui kesesuaian antara
harapan dan kenyataan dari penelitian tindakan kelas. Observasi dilaksanakan secara
komprehensif dalam kelas.
       Pengamatan dilakukan oleh teman serumpun dan guru lain dengan
berpedoman pada format pengamatan menyeluruh (lihat lampiran). Aspek-aspek
dalam pengamatan meliputi: perilaku siswa waktu belajar, kegiatan diskusi siswa,
partisipasi siswa dalam presentasi dan diskusi. Sehingga dapat diketahui secara jelas
bagaimana aktifitas siswa selama proses pembelajaran.


2. Catatan lapangan
       Catatan lapangan dalam pembelajaran bertujuan untuk memperoleh data yang
akurat dan obyektif apa adanya, sehingga hal-hal yang tidak terekam dalam observasi
dapat dilakukan dengan catatan lapangan sebagai bahan pertimbangan perbaikan dan
follow up tindakan selanjutnya.
                                          15
3. Tahap-tahap Penelitian
      Sebelum penelitian ini dilakukan dlaksanakan pertemuan dengan rumpun.
   1. Menentukan kelas yang akan digunakan untuk penelitian
   2. Menentukan dan menyusun rencana pembelajaran
   3. Menentukan topik pembelajaran yang sesuai dengan metode Picture and
      Student Active serta untuk lebih fokus lagi menentukan kelas mana yang akan
      dijadikan obyek penelitian.
   4. Menyusun visualisasi materi dengan proyeksi gambar-gambar apa saja yang
      relevan dengan tujuan pembelajaran ranah kognitif, dan afektif.


a. Perencanaan siklus I
   Penelitian dilaksanakan pada bulan April minggu ke-3 tahun 2007
   Tahap perencanaan meliputi :
   a. Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP) sejarah
   b. Kelas yang dipergunakan untuk penelitian adalah kelas X-6 dengan jumlah 44
      siswa
   c. Pokok bahasan adalah Masyarakat Prasejarah Indonesia dengan sub pokok
      bahasan jaman Paleolithikum, Mesolithikum, Neolithikum, Megalithikum,
      jaman Besi dan Perunggu serta persebaran manusia purba Indonesia.
   Model PaSA adalah mengoptimalkan peran siswa sebagai individu dalam
   kelompok diskusi lewat media gambar atau visual.
   Kegiatannya adalah sebagai berikut :
   1. Kelas X-6 dibagi ke dalam 6 kelompok heterogen (setiap kelompok 7-8
      siswa) Sub pokok bahasan adalah persebaran kebudayaan masa prasejarah
      (jaman batu ) di Indonesia. Kelompok 1 : Paleolithikum, Kelompok 2:
      Mesolithikum, Kelompok 3 : Neolithikum, Kelompok 4 : Megalithikum,
      kelompok 5 jaman Basi dan Perunggu serta kelompok 6 Penemuan manusia
      purba Indonesia di pulau Jawa.
                                          16
   2. Setiap kelompok mendeskripsikan gambar peta berdasarkan referensi buku,
        Atlas Kemudian membuat deskripsi utuh mengenai sub pokok bahasan
        tersebut.
   3. Pada saat pembelajaran, masing-masing anggota kelompok saling
        mempelajari l (satu) gambar peta dan menunjukan hasil-hasil persebaran
        budaya dengan menempelkan tanda-tanda tertentu di peta.
   4.   Tanda tanda tersebut diperjelas pada saat presentasi di depan kelas.
   5. Peneliti memandu jalannya diskusi sementara siswa lain dapat mengajukan
        pertanyaan, atau mengomentari kelompok presentasi dengan membuat rekaan
        interpretasi permasalahan melalui analisisnya.
   Pada tahap evaluasi meliputi :
   a.      Mengevaluasi kognitif siswa dengan cara memberikan post test dalam
           bentuk pertanyaan quiz.
   b.      Mengumpulkan gambar-gambar peta sebagai alat evaluasi dalam
           mengukur sejauhmana peningkatan ranah kognitif siswa.
   c.      Pada saat pembelajaran ini guru menggunakan penilaian individual dan
           kelompok yang mengacu pada ranah afektif serta ranah kognitif. (Penilaian
           lihat lampiran)
   d.      Semua kegiatan PTK di kelas X-6 baik observasi, analisis serta evaluasi
           direkam oleh peneliti sebagai follow up untuk mendapatkan gambaran
           hasil tindakan dan juga sebagai bahan releksi siklus 1
   Hasil refleksi siklus 1 digunakan untuk membuat perencanaan siklus 2,


b. Perencanaan pada siklus 2
   Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei minggu ke 3 tahun 2007
   Tahap perencanaan meliputi :
   a. Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP) sejarah
   b. Kelas yang dipergunakan untuk penelitian adalah kelas X-6 (46 siswa)
                                          17
c. Pokok bahasan adalah Tradisi Prasejarah Masyarakat Indonesia dengan
     kegiatan sebagai berikut :
1    Kelas X-6 dibagi ke dalam kelompok yang lebih kecil namun tetap heterogen
     (setiap kelompok berjumlah 4-5 siswa) Sub pokok bahasan adalah Tradisi
     Prasejarah masyarakat Indonesia meliputi hasil budaya dari jaman
     peleolithikum sampai dengan jaman logam.
2    Setiap kelompok mendeskripsikan suatu cerita bergambar Tradisi Prasejarah
     masyarakat Indonesia meliputi hasil budaya dari jaman peleolithikum sampai
     dengan jaman logam.
3    Kemudian membuat deskripsi utuh mengenai cerita bergambar tersebut.
4    Pada saat pembelajaran, masing-masing anggota kelompok saling
     mempelajari satu gambar dan membuat kesimpulan dari cerita tersebut
     kemudian mendiskusikan hasilnya
5    Setelah mendeskripsikan alur cerita kemudian mempresentasi di depan kelas.
6    Peneliti memandu jalannya diskusi sementara siswa lain dapat mengajukan
     pertanyaan, atau mengomentari kelompok presentasi dengan membuat rekaan
     interpretasi permasalahan melalui analisisnya.
Pada tahap evaluasi meliputi :
a.      Mengevaluasi kognitif siswa dengan cara memberikan post test dalam
        bentuk pertanyaan quiz
b.      Mencari kata-kata kunci historis, aspek kemanusian dan pengalaman hidup
        dalam cerita bergambar tersebut sebagai alat evaluasi dalam mengukur
        sejauhmana peningkatan ranah afektif siswa.
c.      Pada saat pembelajaran ini guru menggunakan penilaian individual dan
        kelompok yang mengacu pada ranah afektif serta ranah kognitif.
d.      Semua kegiatan PTK di kelas X-6 direkam oleh peneliti sebagai follow up
        untuk mendapatkan gambaran hasil tindakan dan releksi.


                                         18
                                        BAB IV
                      HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian
1. Tahap Pendahuluan
       Sebelum penelitian ini dilaksanakan, pada tanggal 5 dan 6 April peneliti
bersama bapak dan ibu guru dalam satu rumpun melakukan pertemuan awal.
Pertemuan ini dihadiri oleh anggota rumpun yang terdiri atas Bapak Teguh, Ibu
Gunarti dan Ibu wiwik dengan hasil adalah
(a). pertengahan bulan April 2007 melakukan persiapan dan pembuatan proposal
     penelitian tindakan kelas yang berlangsung kurang lebih 3 minggu
(b). Kelas yang akan digunakan untuk penelitian adalah kelas X-6 dengan jumlah 44
     siswa
(c). menentukan dan menyusun rencana pembelajaran yang disesuaikan dengan
     perjalanan materi semester 2, peneliti telah sampai pada materi masyarakat pra
     sejarah Indonesia
(d). Masyarakat pra sejarah Indonesia adalah topik pembelajaran yang paling sesuai
     dengan metode Picture and Student Active karena lebih fokus pada visualisasi
     gambar-gambar
(e). menyusun visualisasi materi dengan proyeksi gambar-gambar apa saja yang
     relevan dengan tujuan pembelajaran ranah kognitif, dan afektif.
       Walaupun penelitian tindakan kelas bersifat individual namun kerjasama
rumpun sangat diperlukan mengingat penelitian ini tidak dapat berjalan dengan baik
tanpa adanya dukungan dan kerjasama dengan anggota rumpun. Peneliti bersama
rumpun melakukan penelaahan materi gambar dalam rangka Picture and Student
Active, harapannya adalah agar kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran
dapat berjalan dengan baik dan maksimal.


                                         19
        Persiapan media dan sumber belajar juga dilakukan untuk membatasi ruang
lingkup penelitian, misalnya buku paket, atlas, visualisasi gambar dan lain-lain.
Mengingat dalam penelitian tindakan kelas terdapat observer (pengamat) maka dibuat
juga format observasi untuk memudahkan pengamat melakukan penilaian dan refleksi
perbaikan di siklus berikutnya.


2. Paparan Data Tindakan
A. Siklus I (On Board Stories)
Rencana Tindakan
       Penelitian tindakan kelas pada siklus I (On Board Stories) dilaksanakan pada
tanggal 27 April 2007, di kelas X-6 dengan observer bapak Moch. Teguh. Materi
pelajaran yang disampaikan adalah perkembangan masyarakat prasejarah Indonesia.


Pelaksanaan Tindakan
   Paparan data tindakan kegiatan pembelajaran pada pelaksanaan penelitian
tindakan kelas siklus I adalah :
   a. Membuka pelajaran dengan salam, kemudian menjelaskan secara singkat
       kompetensi dasar yang akan dibahas sementara siswa menyimak penjelasan
       guru
   b. Menjelaskan secara singkat perkembangan kehidupan manusia purba, dimulai
       dari manusia purba Asia, Afrika, Eropa dan Amerika , menghubungkan teori
       evolusi dengan manusia purba Indonesia, sementara siswa mendengarkan dan
       mencatat hal-hal yang penting.
   c. Guru meminta siswa untuk membuat kelompok dengan jumlah maksimal 8
       siswa, dalam hal ini dibentuk kelompok heterogen.
   d. Siswa mempersiapkan alat tulis seperti, buku referensi, atlas, spidol warna,
       kertas warna, gunting, lem dan lain-lain.


                                          20
e. Setiap siswa diberikan satu lembar kerja (LKS) dan satu format kerja
   kelompok dengan mendapatkan tugas yang berbeda.
f. Enam kelompok yang terbentuk dengan pembagian tugas kerja sebagai
   berikut :
       1. kelompok satu terdiri 7 siswa: Trio, Dwi Adi, Ricky Bayu, Ridho,
           Ferry, M. Hardi dan Bahuddin membahas peta penemuan manusia
           purba di Jawa,
       2. kelompok dua terdiri 7 siswa : Inke, Ganes, Sahda, Rizky, Chntya,
           Gregoria dan Tika, membahas peta kebudayaan jaman Paleolithiklum,
       3. kelompok tiga terdiri 7 siswa : Kurnia, Layly, Fitria, Kartika, Fitri,
           Desi dan Alita membahas peta penemuan jaman Mesolithikum,
       4. kelompok empat terdiri 7 siswa : Shlvy, Selvia, Bobby, Stefani,
           Wahyu, Septi dan Tatya membahas hasil kebudayaan Neolithikum,
       5. kelompok lima tediri 8 siswa: Wendi, Dio, Febri, Wahyu Tri, Ricky
           Indri, Anas dan Ervin membahas peta penemuan budaya
           Megalithikum,
       6. kelompok enam terdira 6 siswa : Hesti, Devita, Lukita, Sukma, Nurika
           dan Emil membahas peta penemuan budaya jaman logam.
g. Setiap kelompok menggambar satu peta Indonesia di kertas karton kemudian
   mengguntingkan lambang tertentu dengan kertas warna kemudian ditempel di
   daerah atau tempat penemuan budaya prasejarah dengan diberikan penjelasan.
h. Guru mengawasi jalannya kerja kelompok, memonitor setiap pekerjaaan siswa
   dan memberikan petunjuk apabila ada permasalahan yang ditanyakan siswa
i. Pada saat presentasi di depan kelas, setiap kelompok diwajibkan maju dengan
   dua perwakilan siswa untuk memaparkan data temuannya dengan
   menempelkan karton peta Indonesia di papan tulis.




                                      21
j. Perwakilan kelompok kemudian menjelaskan hasil temuannya dengan
   menempelkan simbol berwarna dalam bentuk segitiga, persegi panjang,
   lingkaran dan lain-lain untuk menunjukan titik-titik penemuan kebudayaan.
k. Diskusi dimulai dari kelompok satu yang membahas peta penemuan manusia
   purba di Jawa seperti Pithecan thropus Erectus, Meganthropus Paleojavanicus,
   Homo Wajakensis, Homo Soloensis dengan menunjukan tempat penemuan
   manusia purba seperti di Sangiran Solo, Trinil Ngawi, Pacitan dan Mojokerto.
l. kelompok dua menjelaskan peta penemuan kebudayaan jaman paleolithikum
   di Indonesia seperti kapak genggam, perimbas, Abris Sousch Roche,
   Kjokkenmoddinger, dan Flakes
m. kelompok tiga mendeskripsikan sistem berburu dan meramu masa
   mesolithikum, penemuan budaya kapak persegi dan kapak lonjong
n. kelompok empat menjelaskan kehidupan sosial masyarakat jaman
   neolithikum seperti peralihan dari food gathering ke food producing,
   kehidupan semi sedenter kepada permanen
o. kelompok lima mendeskripkan temuan benda budaya megalihikum seperti
   menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu dan punden berundak
p. kelompok enam membahas cara kerja jaman logam, teknik a cire perdue dan
   bivalve, penemuan kapak corong, nekara dan bejana perunggu.
q. Guru berperan sebagai moderator yang mengarahkankan jalannya diskusi
   sekaligus sebagai jembatan penghubung permasalahan, menilai aspek afektif
   setiap individu dalam rangka kerjasama siswa antar dan dalam kelompok
r. Presentasi hasil kegiatan diskusi kelas berlangsung dalam rangka saling
   memberikan infomasi kepada kelompok lain, dengan umpan balik dan tanya
   jawab antar siswa kegiatan pembelajaran menjadi semakin hidup.
s. Setiap siswa diperkenankan untuk bertanya, menyanggah, memberikan
   masukan, memecahkan masalah kepada kelompok presentasi.


                                     22
   t. Akhir diskusi setiap kelompok memberikan kesimpulan akhir yang dibantu
       oleh guru.
   u. Guru memberikan test berupa pertanyaan quiz untuk mengukur tingkat
       kemampuan memahami materi (lihat lampiran)


Observasi dan Evaluasi
       Pada penelitian tindakan kelas ini, peneliti dibantu oleh seorang observer
yaitu Bapak M.Teguh. Tujuan observer pada penelitian ini antara lain :
           1. mengamati rangkaian kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir
           2. memberikan masukan tertulis dan lisan berkaitan dengan penelitian
           3. menganalisis setiap siswa untuk merekam sejauhmana model
              pembelajaran yang dipakai mempengaruhi ranah kognitif, afektif dan
              psikomotor.
           4. memberikan catatan-catatan penting kepada peneliti tentang siswa di
              kelas.
           5. membantu peneliti untuk menyempurnakan tujuan yang hendak
              dicapai dalam penelitian tersebut.
       Pelaksanaan penelitian tindakan kelas di kelas X-6 dicatat, direkam dan
diamati sepenuhnya oleh Bapak Teguh sebagai Observer (lihat format observasi).
Namun tentunya pada siklus I ini jalannya penelitian belum sampai pada tujuan yang
diinginkan karena kesempurnaan belum mencapai hasil. Evaluasi pertanyaan quiz
boleh dibilang telah mewakili dari keseluruhan substansi, namun pertanyaan obyektif
juga diperlukan untuk mencari tingkat kognitif secara utuh. Picture and Studen Active
merupakan pengembangan inovasi pembelajaran khususnya pelajaran sejarah yang
dianggap sebagai pelajaran hafalan. Dengan model PaSA siswa menjadi lebih
antusias dalam pembelajaran.




                                         23
       Dari hasil observasi dan evaluasi bahwa pembelajaran model PaSA sudah
baik dan menarik namun pada proses pembelajarannya masih diketemukan hal-hal
yang perlu mendapatkan perhatian berkaitan dengan penelitian tindakan kelas yaitu :
   1. pembagian kelompok terlalu besar sehingga beberapa siswa cenderung kurang
       memperhatikan proses identifikasi dan presentasi kelompok
   2. penempatan gambar pada lokasi kebudayaan belum mendapatkan proses
       gambaran persebaran kebudayaan misalnya dengan panah-panah
   3. Model dan metode pembelajaran sudah sesuai dengan materi pelajaran yaitu
       persebaran kebudayaan prasejarah, tetapi untuk manusia purba kurang begitu
       sesuai. Untuk materi manusia purba difokuskan pada ciri-ciri fisik dengan
       disertai gambar manusia purba
   4. sistem presentasi yang dilakukan oleh tiap kelompok lebih difokuskan pada
       satu sub pokok bahasan, walaupun tiap kelompok diberikan materi yang
       berbeda-beda.
   5. pembahasan lebih didominasi oleh satu atau dua orang sedangkan anggota
       lain hanya mengikuti saja.
   6. pembuatan peta Indonesia lebih baik dipergunakan skala supaya lebih akurat
       posisi persebaran kebudayaan pra sejarah.
   7. Banyak siswa yang pasip karena pembagian lembar kerja tidak efektif
   8. siswa kurang dalam mengajukan pertanyaan atau pendapat pada prentasi yang
       telah dilakukan kelompok lain.
   Semua kegiatan penelitian tindakan kelas di kelas X-6 baik observasi, analisis,
catatan dan evaluasi direkam oleh peneliti beserta observer sebagai follow up untuk
mendapatkan gambaran hasil tindakan dan juga sebagai bahan releksi siklus 1. Hasil
refleksi siklus 1 digunakan untuk membuat perencanaan siklus 2,




                                         24
Refleksi
   Dari paparan deskripsi penelitian tindakan kelas siklus I, maka dalam pada
refleksi diupayakan perbaikan untuk siklus 2 penelitian tindakan kelas yaitu :
   1. minimalisasi jumlah anggota kelompok antara 4-5 siswa
   2. diberikan ciri fakta gambar, dibuatkan alur cerita bergambar
   3. untuk masyarakat pra sejarah khususnya manusia purba sebaiknya siswa
       diberikan gambar visual seperti bentuk Pithecanthropus, Meganthropus dan
       Homo
   4. supaya pembahasan diskusi melibatkan seluruh siswa dalam kelompok itu
   5. peta Indonesia diperjelas dengan keterangan sumber
   6. lembar kerja siswa disiapkan lebih rinci lagi
   7. peneliti supaya lebih antusias memberikan dorongan dan semangat siswa
       untuk bertanya, menjawab dan memberikan komentar dalam diskusi kelas




                                          25
                Tabel penilaian proses dan hasil belajar siklus I

   No         Nama Siswa     UH    Qz     Tgs   Dsk   NA    Afektif    KET
   1    ALITA FARIDA         75    65     80    70    72      A          T
   2    DEVITA P             70    70     85    70    73      A          T
   3    DIO GUSTI            70    60     85    70    71      B          T
   4    EMIL S               60    60     80    75    68      B         TT
   5    ERVIN                60    65     85    75    71      C          T
   6    FERY NURCAHYO        70    60     70    75    69      C         TT
   7    GHANES RINDHA        70    65     85    75    73      A          T
   8    GREGORIA AYU         70    60     80    75    72      B          T
   9    HESTI W              70    60     85    75    73      B          T
   10   KARTIKA MURTI        75    65     80    70    73      B          T
   11   KURNIA W             60    70     75    70    68      B         TT
   12   LUKITA AYU           60    65     90    75    73      B          T
   13   RICKY BAYU           60    60     80    75    68      B         TT
   14   RICKY INDRA          70    60     80    75    71      B          T
   15   SAHDA SELANIAR       70    60     85    75    72      B          T
   16   SEPTI H              75    60     80    75    74      A          T
   17   SHYLVI INDAH         70    60     90    75    74      A          T
   18   STORMY YUDO          65    75     80    75    73      B          T
   19   TAUFIK ISLAMI        60    70     75    70    68      C         TT
   20   TRIO KUSUMA          65    60     80    70    69      B         TT
   21   WAHYU REDA           70    70     85    70    74      B          T
   22   ANAS F               70    70     80    70    70      B          T
   23   BAHAUDDIN            70    70     85    70    73      B          T
   24   BOBBY ADITYA         60    70     80    70    70      B          T
   25   CYNTHIA D            65    65     85    75    72      A          T
   26   DESY AYU             65    65     85    75    72      A          T
   27   DWI ADI              70    70     70    75    70      B          T
   28   FEBRI ARISMA         60    65     80    75    70      B          T
   29   FITRI ASTIKA         70    70     80    75    73      B          T
   30   FITRI WULANDARI      70    70     80    75    73      B          T
   31   INKE NADIA           70    75     85    70    74      B          T
   32   M HARDI ARIF         65    70     70    70    68      C         TT
   33   M.RIZKI              70    70     80    75    74      B          T
   34   NURIKA               65    70     85    75    74      B          T
   35   RIDHO ALAMSYAH       60    70     80    75    71      B          T
   36   RIZKY ARIEF          65    60     80    75    70      B          T
   37   SELVIA               70    70     80    75    74      A          T
   38   STEFANI              70    70     85    75    75      B          T
   39   SUKMA                70    70     85    75    75      B          T
   40   TATYA                60    70     80    70    70      A          T
   41   TIKA ADAM            70    70     80    70    70      B          T
   42   WAHYU TRI            60    70     85    70    72      B          T
   43   WENDY                60    70     70    75    68      C         TT
   44   LAYLI                65    60     85    75    71      B          T

Keterangan :               UH                    : Ulangan Harian
                           Qz                    : Quiz
                           Tgs                   : Tugas
                           Dsk                   : Diskusi
                           NA                    : Nilai Akhir
                                                 UH + Qz + Tsg + Dsk    = NA
                                                        4
         Tabel penilaian proses dan hasil belajar Afektif siklus I

No         Nama Siswa     1       2         3   4    5    Skor   Na
1    ALITA FARIDA         20     20        10   20   20    90    A
2    DEVITA P             15     20        15   20   15    85    A
3    DIO GUSTI            10     10        10   20   20    70    B
4    EMIL S               15     15        15   15   15    75    B
5    ERVIN                15     10        10   10   15    60    C
6    FERY NURCAHYO        15     15        10   15   10    65    C
7    GHANES RINDHA        20     20        10   20   20    70    A
8    GREGORIA AYU         10     10        10   20   20    70    B
9    HESTI W              15     15        10   15   20    75    B
10   KARTIKA MURTI        10     10        15   20   20    75    B
11   KURNIA W             15     15        10   15   15    70    B
12   LUKITA AYU           10     10        15   20   20    75    B
13   RICKY BAYU           15     15        10   15   15    70    B
14   RICKY INDRA          10     10        10   20   20    70    B
15   SAHDA SELANIAR       15     15        15   15   15    75    B
16   SEPTI H              20     20        15   20   20    95    A
17   SHYLVI INDAH         20     20        10   20   20    90    A
18   STORMY YUDO          10     10        15   20   20    75    B
19   TAUFIK ISLAMI        15     15        10   15   10    65    C
20   TRIO KUSUMA          10     15        15   15   10    70    B
21   WAHYU REDA           15     15        10   15   15    70    B
22   ANAS F               15     15        10   15   15    70    B
23   BAHAUDDIN            10     10        15   20   20    75    B
24   BOBBY ADITYA         15     15        10   15   15    70    B
25   CYNTHIA D            15     20        15   20   20    90    A
26   DESY AYU             20     20        10   20   20    90    A
27   DWI ADI              20     20        15   10   10    70    B
28   FEBRI ARISMA         10     15        10   20   20    75    B
29   FITRI ASTIKA         15     15        10   15   15    70    B
30   FITRI WULANDARI      15     15        15   15   15    75    B
31   INKE NADIA           10     10        10   20   20    70    B
32   M HARDI ARIF         15     15        10   15   10    65    C
33   M.RIZKI              10     10        10   20   20    70    B
34   NURIKA               15     15        15   15   15    75    B
35   RIDHO ALAMSYAH       15     15        10   15   15    70    B
36   RIZKY ARIEF          15     15        10   20   15    75    B
37   SELVIA               20     20        10   20   20    90    A
38   STEFANI              10     10        15   20   20    75    B
39   SUKMA                15     15        10   15   15    75    B
40   TATYA                20     20        10   20   20    90    A
41   TIKA ADAM            10     10        15   20   20    75    B
42   WAHYU TRI            15     15        15   15   15    70    B
43   WENDY                15     15        10   15   10    65    C
44   LAYLI                15     15        15   15   15    75    B




                                      27
Keterangan :
Aspek yang dinilai :
            1    Ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas
            2    Kerjasama
            3    Tnggung jawab
            4    Minat terhadap materi
            5    Keaktifan dalam diskusi
            6    Cara mengungkapkan pendapat
            7    Menghargai/menghormati pendapat orang lain
            8    Kerapian dalam menjawab pertanyaan
            9    Menggunting, menempel dengan rapi
            10   Keseriusan dalam menelaah gambar

         Σ skor yang peroleh
Skor =                               X100%
         Σ skor maksimal

     No           Angka        Abjad        Keterangan
     1.          100 - 85       A       Baik sekali
     2.          84 – 70        B       Baik
     3.          69 – 55        C       Cukup
     4.          54 – 40        D       Kurang
     5.           39 - 0        E       Sangat kurang

Prosentase ketuntasan siklus 1 :
Jumlah siswa 44
Tuntas                  : 36 siswa ( 81.81 % )
Tidak Tuntas            : 8 siswa ( 18.18 % )




                                           28
Siklus 2 (Pictures Stories)
Rencana Tindakan
         Melihat hasil evaluasi belajar siklus 1 dimana yang tuntas belajar 36 siswa
dari 44 siswa ( 81.81 % ) sedangkan yang tidak tuntas 8 siswa ( 18.18 % ), maka
sebelum penelitian lanjutan siklus 2 dilaksanakan, pada tanggal 4 Mei 2007 peneliti
bersama bapak Teguh melakukan refleksi hasil siklus 1. Refleksi ini bertujuan :
     (1) memecahkan masalah dan kendala-kendala pada siklus 1,
     (2) membuat rancangan tindakan di siklus 2,
     (3) melakukan evaluasi terpadu terhadap peningkatan hasil belajar ranah
kognitif dan afektif. Pertemuan ini menghasilkan langkah-langkah sebagai berikut
adalah
(a). Melakukan persiapan dan menyusun pembuatan rancangan pengajaran yang
     lebih komprehensif pada siklus 2
(b). Siklus 2 tetap pada kelas yang sama yaitu X-6 dengan jumlah siswa 44
(c) Peneliti tetap pada materi masyarakat pra sejarah Indonesia, hanya titik tekan
     perkembangan secara kronologis masyarakat pra sejarah pada cerita bergambar
(d). menyusun ulang visualisasi materi dengan proyeksi gambar-gambar yang lebih
     terfokus pada tujuan pembelajaran .
         penelitian tindakan kelas siklus 2 tetap membutuhkan kerjasama rumpun
mengingat penelitian ini tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dan
kerjasama dari anggota rumpun. Peneliti bersama bapak Teguh melakukan analisis
secara mendalam terhadap materi gambar, dengan harapan kekurangan pada siklus 1
baik kompetensi dasar, indikator, maupun tujuan pembelajaran dapat berjalan dengan
baik dan maksimal.
         Persiapan media dan sumber belajar juga dilakukan di siklus 2 misalnya buku
paket, atlas, visualisasi gambar dan lain-lain. Pada siklus 2 penelitian tindakan kelas
tetap memakai observer (pengamat), maka dibuat juga format observasi untuk
memudahkan pengamat melakukan penilaian dan refleksi.
                                           29
       Penelitian tindakan kelas pada siklus 2 (Pictures Stories) dilaksanakan pada
tanggal 24 Mei 2007, di kelas X-6 dengan observer Ibu Husnul Chotimah, Ibu
Kartini dan Bapak Samsul. Materi pelajaran yang disampaikan adalah perkembangan
secara kronologis masyarakat prasejarah Indonesia.


Pelaksanaan Tindakan
   Paparan data tindakan kegiatan pembelajaran pada pelaksanaan penelitian
tindakan kelas siklus 2 hampir sama dengan siklus 1 yaitu:
   a. Membuka pelajaran dengan salam, kemudian menjelaskan secara singkat
       kompetensi dasar yang akan dibahas sementara siswa menyimak penjelasan
       guru
   b. Menjelaskan secara singkat perkembangan kehidupan manusia purba Asia,
       Afrika dengan menghubungkan teori evolusi, sementara siswa mendengarkan
       dan mencatat hal-hal yang penting.
   c. Guru meminta siswa untuk membuat kelompok kecil dengan teman sekitarnya
       tanpa harus pindah kursi dan meja, jumlah setiap kelompok maksimal 5 siswa,
       dalam hal ini dibentuk kelompok heterogen.
   d. Siswa mempersiapkan alat tulis dan buku referensi
   e. Setiap siswa diberikan satu lembar kerja (LKS) dan satu format kerja
       kelompok dengan tugas yang sama.
   f. Sepuluh kelompok yang terbentuk dengan pembagian tugas sama yaitu
       menganalisis kronologis cerita bergambar masa pra sejarah Indonesia yaitu :
           1. kelompok A terdiri 5 siswa: Trio, Dwi, Adi, Ricky Bayu, Ridho.
           2. kelompok B terdiri 4 siswa : Inke, Ganes, Sahda, Rizky
           3. kelompok C terdiri 4 siswa : Kurnia, Layly, Fitria, Kartika.
           4. kelompok D terdiri 4 siswa : Shlvy, Selvia, Bobby, Stefani,
           5. kelompok E ediri 4 siswa      : Wendi, Dio, Febri, Wahyu.
           6. kelompok F terdiri 4 siswa : Hesti, Devita, Lukita, Sukma.
                                         30
          7.   kelompok G terdiri 4 siswa : Ferry, M. Hardi, Bahuddin ,Chntya
          8. kelompok H terdiri 4 siswa : Gregoria, Tika, Hesti, Septi,
          9. kelompok I terdiri 4 siswa : Tri, Ricky Indri, Anas dan Ervin
          10. kelompok I terdiri 5 siswa : Alita., Nurika, Tatya, Wahyu
   Setiap individu dalam kelompok saling bekerjasama untuk menganalisis
kronologis gambar pra sejara, kemudian dibuat rekaan deskriptif menurut
kemampuan individu yang selanjutnya diterjemahkan dalam alur cerita bergambar.
   g. Guru mengawasi jalannya kerja kelompok, memonitor setiap pekerjaaan siswa
       dan memberikan petunjuk apabila ada permasalahan yang ditanyakan siswa
   h. Pada saat presentasi diskusi, setiap kelompok diwakilkan salah satu siswa
       dengan berdiri untuk memaparkan data temuannya yaitu menjelaskan apa dan
       bagaimana gambar yang telah mereka analisis kemudian dijadikan cerita yang
       menarik, sementara siswa lain menyimak anggota kelompok yang
       menjelaskan.
   i. Dalam menjelaskan hasil temuannya kelompok lain melakukan penelaahan
       kebenaran data, dengan mengajukan pertanyaan, sanggahan, dan komentar.
   j. Siswa yang memaparkan datanya dilakukan secara random dimulai dari
       kelompok F yaitu terdiri Hesti, Devita, Lukita, Sukma
   k. Guru berperan sebagai moderator yang mengarahkankan jalannya diskusi
       sekaligus sebagai jembatan penghubung permasalahan, menilai aspek afektif
       setiap individu dalam rangka kerjasama siswa antar dan dalam kelompok
   l. Presentasi hasil kegiatan diskusi berlangsung dalam rangka saling
       memberikan infomasi kepada kelompok lain dimana setiap gambar cerita
       diinterpretasikan berbeda-beda, siswa dapat membuat alur cerita sendiri
       menurut kemampuan dirinya berdasarkan rujukan referensi.
   m. Setiap siswa yang bertanya, menyanggah, memberikan masukan,
       memecahkan masalah diberikan penghargaan nilai lebih.
   n. Akhir diskusi setiap kelompok memberikan kesimpulan akhir.
                                        31
Observasi dan Evaluasi
       Pada penelitian tindakan kelas ini, peneliti dibantu oleh seorang observer
yaitu Ibu Husnul Chotimah, Ibu Kartini dan Bapak Samsul.
       Pelaksanaan penelitian tindakan kelas siklus 2 dicatat, direkam dan diamati
sepenuhnya oleh Ibu Husnul Chotimah, Ibu Kartini dan Bapak Samsul sebagai
Observer (lihat format observasi). Pada siklus 2 ini penelitian tindakan kelas
merupakan penyempurnaan atau perbaikan karena bertujuan mencari format baru
dan reinforcement hasil peningkatan belajar sejarah di kelas X-6.
       . Dengan model PaSA siswa menjadi lebih antusias dalam pembelajaran,
karena mereka melihat sesuatu yang baru yaitu cerita bergambar. Dari hasil observasi
dan evaluasi siklus 2 sudah ada perbaikan namun tetap diketemukan hal-hal yang
perlu mendapatkan perhatian yaitu :
   1. gambar supaya diberikan keterangan misalnya dengan abjad atau angka yang
       bertujuan menghindari kesalahan dari siswa
   2. penjelasan yang rinci dari lembar tugas siswa supaya tidak banyak menyita
       waktu bertanya
   Semua kegiatan penelitian tindakan kelas di kelas X-6 baik observasi, analisis,
catatan dan evaluasi direkam oleh peneliti beserta observer sebagai untuk perbaikan
penelitian berikutnya


Refleksi
   Dari paparan deskripsi penelitian tindakan kelas siklus 2, maka pada refleksi
observer tidak lagi mempermasalahkan pada substasi materi tetapi lebih kepada
teknis format lembar kerja siswa yang lebih rinci atau jelas.




                                          32
                 Tabel penilaian proses dan hasil belajar siklus

   No         Nama Siswa      UH        Qz   Tgs    Dsk   NA    Afektif    KET
   1    ALITA FARIDA                                              A         T
   2    DEVITA P                                                  A         T
   3    DIO GUSTI                                                 B         T
   4    EMIL S                                                    B         T
   5    ERVIN                                                     B         T
   6    FERY NURCAHYO                                             B         T
   7    GHANES RINDHA                                             A         T
   8    GREGORIA AYU                                              B         T
   9    HESTI W                                                   B         T
   10   KARTIKA MURTI                                             B         T
   11   KURNIA W                                                  B         T
   12   LUKITA AYU                                                B         T
   13   RICKY BAYU                                                B         T
   14   RICKY INDRA                                               B         T
   15   SAHDA SELANIAR                                            B         T
   16   SEPTI H                                                   A         T
   17   SHYLVI INDAH                                              A         T
   18   STORMY YUDO                                               B         T
   19   TAUFIK ISLAMI                                             B         T
   20   TRIO KUSUMA                                               B         T
   21   WAHYU REDA                                                B         T
   22   ANAS F                                                    B         T
   23   BAHAUDDIN                                                 B         T
   24   BOBBY ADITYA                                              B         T
   25   CYNTHIA D                                                 A         T
   26   DESY AYU                                                  A         T
   27   DWI ADI                                                   B         T
   28   FEBRI ARISMA                                              B         T
   29   FITRI ASTIKA                                              B         T
   30   FITRI WULANDARI                                           B         T
   31   INKE NADIA                                                B         T
   32   M HARDI ARIF                                              B         T
   33   M.RIZKI                                                   B         T
   34   NURIKA                                                    B         T
   35   RIDHO ALAMSYAH                                            B         T
   36   RIZKY ARIEF                                               B         T
   37   SELVIA                                                    A         T
   38   STEFANI                                                   B         T
   39   SUKMA                                                     B         T
   40   TATYA                                                     A         T
   41   TIKA ADAM                                                 B         T
   42   WAHYU TRI                                                 B         T
   43   WENDY                                                     B         T
   44   LAYLI                                                     B         T

Keterangan :
UH                   : Ulangan Harian                UH + Qz + Tsg + Dsk    = NA
Qz                   : Quiz                                4
Tgs                  : Tugas                       Nilai Standar Ketuntasan : 70
Dsk                  : Diskusi
NA                   : Nilai Akhir
         Tabel penilaian proses dan hasil belajar Afektif siklus I

No         Nama Siswa     1       2         3   4    5    Skor   Na
1    ALITA FARIDA         20     20        10   20   20    90    A
2    DEVITA P             15     20        15   20   15    85    A
3    DIO GUSTI            10     10        10   20   20    70    B
4    EMIL S               15     15        15   15   15    75    B
5    ERVIN                15     10        10   10   15    60    B
6    FERY NURCAHYO        15     15        10   15   10    65    B
7    GHANES RINDHA        20     20        10   20   20    70    A
8    GREGORIA AYU         10     10        10   20   20    70    B
9    HESTI W              15     15        10   15   20    75    B
10   KARTIKA MURTI        10     10        15   20   20    75    B
11   KURNIA W             15     15        10   15   15    70    B
12   LUKITA AYU           10     10        15   20   20    75    B
13   RICKY BAYU           15     15        10   15   15    70    B
14   RICKY INDRA          10     10        10   20   20    70    B
15   SAHDA SELANIAR       15     15        15   15   15    75    B
16   SEPTI H              20     20        15   20   20    95    A
17   SHYLVI INDAH         20     20        10   20   20    90    A
18   STORMY YUDO          10     10        15   20   20    75    B
19   TAUFIK ISLAMI        15     15        10   15   10    65    B
20   TRIO KUSUMA          10     15        15   15   10    70    B
21   WAHYU REDA           15     15        10   15   15    70    B
22   ANAS F               15     15        10   15   15    70    B
23   BAHAUDDIN            10     10        15   20   20    75    B
24   BOBBY ADITYA         15     15        10   15   15    70    B
25   CYNTHIA D            15     20        15   20   20    90    A
26   DESY AYU             20     20        10   20   20    90    A
27   DWI ADI              20     20        15   10   10    70    B
28   FEBRI ARISMA         10     15        10   20   20    75    B
29   FITRI ASTIKA         15     15        10   15   15    70    B
30   FITRI WULANDARI      15     15        15   15   15    75    B
31   INKE NADIA           10     10        10   20   20    70    B
32   M HARDI ARIF         15     15        10   15   10    65    B
33   M.RIZKI              10     10        10   20   20    70    B
34   NURIKA               15     15        15   15   15    75    B
35   RIDHO ALAMSYAH       15     15        10   15   15    70    B
36   RIZKY ARIEF          15     15        10   20   15    75    B
37   SELVIA               20     20        10   20   20    90    A
38   STEFANI              10     10        15   20   20    75    B
39   SUKMA                15     15        10   15   15    75    B
40   TATYA                20     20        10   20   20    90    A
41   TIKA ADAM            10     10        15   20   20    75    B
42   WAHYU TRI            15     15        15   15   15    70    B
43   WENDY                15     15        10   15   10    65    B
44   LAYLI                15     15        15   15   15    75    B




                                      34
B. Pembahasan
Peningkatan Ranah Kognitif dan Afektif
       Perbedaan pembelajaran klasikal dengan pembelajaran konstruktif terletak
pada dinamika kelas yang produktif. Siswa menjadi lebih senang dan terfokus pada
pokok bahasan. Model PaSA telah terbukti meningkatkan kemampuan berfikir, peka
terhadap analisis lingkungan sekitar, mampu bekerjasama dalam kelompok serta
dapat mengembangkan dasar-dasar visual yang diterjemahkan ke dalam rangkaian
kronologis cerita. Utamanya adalah pelajaran sejarah yang syarat akan peristiwa,
fakta dan data masa lampau.
       Pada siklus 1 PTK dengan model PaSA (Pictures and Studen Active)
mengembangkan pola berfikir kreatif untuk mencari jejak-jejak masa lampau dengan
Picture on Board (gambar di papan tulis), disamping itu interaksi sosial antar teman
sejawat dalam diskusi. Pola berfikir ini terlihat ketika siswa melakukan debat diskusi
terjadinya manusia purba yang dihubungkan dengan teori evolusi. Antusias siswa
semakin besar ketika muncul pertanyaan mengapa manusia berasal dari simpanze.
Siklus 1 walaupun semangat belajar dirasakan tidak sebesar siklus 2 hal ini
disebabkan oleh kurangnya referensi dan sumber belajar yang memadai seperti peta
Indonesia dan gambar-gambar.
       Siklus 2 menggunakan pola Picture Stories (cerita bergambar). Suasana
pembelajaran di siklus 2 semakin antusias, karena siswa ditantang untuk menguraikan
cerita bergambar, siswa semakin siap dan aktif dalam merekontruksi sejarah, hal ini
disebabkan sumber belajar sudah mulai dipersipkan sejak dini. Jika dilihat dari format
hasil penilaian belajar siklus 1 walaupun masih ada yang tidak tuntas namun secara
umum model pembelajaran PaSA sedikit banyak telah berhasil untuk mendongkrak
dominasi guru sebagai central klas. Pendekatan CTL dengan mencoba menggali
kemampuan siswa terutama pada model pembelajaran picture and Student Active
telah mampu membuka semangat belajar di kelas.


                                          35
        Siklus 1 siswa belum merasa tertantang untuk menggali informasi, walaupun
pada kenyataannya di lapangan banyak siswa yang senang dengan model PaSA.
Dalam perkembangan penelitian tindakan kelas ini, utamanya adalah mencari solusi
untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa. Pada siklus 1 setiap siswa dituntut
untuk berani tampil mendeskripsikan temuannya, ini dapat kita lihat ketika kelompok
1 menjelaskan peta temuan manusia purba di pulau Jawa, banyak pertanyaan yang
dikemukakan bagaimana Indonesia dapat menjadi menjadi tempat diketemukannya
manusia purba, dengan demikian siswa dituntut untuk melakukan analisis mendalam
bukan hanya kaitan dengan sejarah tetapi juga faktor-faktor lain yang mendukung
seperti geografi, geologi dan antropologi. Selain itu pada siklus 1 kerjasama
kelompok dalam mengidentifikasi tempat temuan budaya dengan menempelkan
lambang tertentu dibutuhkan ketelitian.
       Pokok bahasan siklus 1 dan siklus 2 pada prinsipnya adalah mata rantai pokok
bahasan yang terintegrasi dimana siklus 1 siswa mencoba menjelaskan,
mengiterpretasikan dan menganalisis peta penemuan benda-benda kebudayaan masa
pra sejarah Indonesia, sedangkan pada siklus 2 siswa dituntut untuk membuat urutan
cerita sejarah berdasarkan kronologis waktu yaitu pada masa paleolithikum,
mesolithikum, neolithikum, megalithukum dan jaman logam. Ketrampilan
meletakkan simbol-simbol pada peta Indonesia untuk menunjukan tempat atau daerah
penemuan kebudayaan menjadi bagian terpenting dalam penilaian afektif karena
tanpa kerjasama dari kelompok akan sulit untuk mendeskripsikan masa lampau
apalagi yang dibahas adalah perkembangan masyarakat prasejarah.
       Debat diskusi yang menarik terjadi pada siklus 2, karena siswa bukan
berhadapan pada teks buku tetapi berhadapan pada gambar-gambat prasejarah yang
harus mereka tata ulang urutan ceritanya menjadi kisah yang menarik. Banyak siswa
yang menyampaikan ceritanya dengan berbagai versi serta kemampuan. Tentunya
disini pembelajaran sejarah semakin menarik dan tidak membosakan.


                                          36
       Setelah refleksi pada siklus 1, terjadi perbaikan dan penyempurnaan
pembelajaran membuahkan hasil yang diharapkan, siswa menjadi lebih faham dalam
menelaah sejarah .Siklus 1 siswa cenderung tidak dapat bebas mengemukakan
pendapat karena keterbatasan buku dan referensi. Dalam kelompok yang minimal
sumber buku, maka mereka kesulitan untuk menterjemahkan simbol-simbol
penemuan budaya.
       Sedangkan pada siklus 2 siswa bebas berekspresi dengan cerita bergambar.
Hal ini dibuktikan dengan adanya ekspresi cerita, narasi pemikiran dari apa yang
mereka lihat. Di dalam format gambar ada benda budaya, manusia purba dan peta,
sehingga keragaman materi ini membuat siswa tertantang untuk mendalami
materi.Metode PaSA siswa tidak lagi sebagai penerima ilmu tetapi sebagai
penterjemah ilmu, mereka melakukan rekonstruksi masa lampau dengan bekal
imajinasi dan rekayana kreasi berdasarkan buku teks sejarah dan referensi lainnya.
        Hasil evaluasi pada siklus 1 belum maksimal kemudian diperbaiki pada
siklus 2. Siswa diberikan pertanyaan secara langsung berupa pertanyaan quiz dengan
tujuannya untuk mengetahui hasil belajar secara langsung dan untuk mengembangkan
metode pembelajaran yang dapat mempengaruhi peningkatan hasil belajar siswa.
Sementara pada siklus 2 juga siswa diberikan pertanyaan quiz secara langsung dan
ternyata hasilnya memuaskan karena adanya peningkatan hasil belajar. Dengan hasil
yang signifikan antara siklus 1 dan siklus 2, peneliti di masa yang akan datang akan
mencoba menggabungkan model-model pembelajaran dengan rangkaian model
PaSA, harapannya adalah mencari titik temu yang vaid metode pembelajaran yang
paling efektif untuk pelajaran sejarah.
       Peneliti dengan pendekatan CTL model PaSA mencoba menghilangkan
dominasi guru sejarah sebagai pusat transfer ilmu. Siswa semakin kritis dan aktif,
sebagai ilustrasi pada siklus 2, ketika mencoba mendeskripsikan gambar manusia
purba yang dihubungkan dengan hasil budaya, setiap kelompok memiliki argumen
masing-masing, saling mempertahankan pendapatnya.
                                          37
       Pada pembahasan cerita gambar sampai pada peralihan jaman batu besar
(Megalithikum) ke jaman logam, kelas semakin ramai dengan berbagai argumen.
Model PaSA yang mengadopsi model pembelajaran Picture on Picture ternyata
mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas pembelajaran kelas X-6 SMA Lab UM.
Suatu saat model ini diharapkan menjadi Historical Comprehensif Method Teaching
and Learning, sehingga siswa tetap semangat dan tidak jenuh.
       Hal yang perlu di garis bawahi adalah dengan adanya penelitian tindakan
kelas maka guru akan lebih inovatif, memiliki kepedulian pendidikan, memiliki
semangat membangun, memiliki daya kreasi optimal dan yang lebih penting lagi
adalah kepada proses peningkatkan kualitas guru sebagai pendidik profesional.




                                        38
                                         BAB IV
                                       PENUTUP


A. Kesimpulan


       Penelitian tindakan kelas (PTK) ini menggunakan model pembelajaran
Pictures and Student Active dengan tujuan mendapatkan strategi pembelajaran yang
dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan di kelas
X-6 dengan jumlah siswa 44 SMA Laboratorium UM dengan 2 siklus penelitian.
Siklus 1 model Picture On Board dan siklus 2 model Stories Board.
       Pada siklus 1 Picture On Board, kelas dibagi 6 kelompok dengan jumlah 7-8
siswa, membahas tentang masyarakat prasejarah Indonesia, dimana setiap kelompok
mengidentifikasi peta penemuan manusia purba serta hasil-hasil kebudayaan jaman
paleolithikum, mesolithikum, neolithikum, megalithikum dan jaman besi dengan
menempelkan simbol berwarna pada kertas karton di papan tulis yang dilanjutkan
dengan diskusi kelas. Siklus 2 Picture stories kelas di bagi kedalam kelompok kecil
untuk membahas gambar-gambar masa prasejarah Indonesia, kemudian siswa secara
bebas mengintepretasikan gambar-gambar disusun secara kronolagis waktu.
       Evaluasi dilakukan setiap siklus dengan ulangan harian, tugas terstrukur, hasil
diskusi kelas serta pertanyaan quiz singkat, tujuannya adalah untuk mengetahui
sejauhmana hasil belajar dengan model Pictures and Student Active (PaSA) Picture
On Board maupun Picture stories mempengaruhi kualitas belajar siswa.
       Hasil evaluasi menunjukan peningkatan hasil pembelajaran sejarah di kelas
X-6 yaitu evaluasi pada siklus 1 kelas X-6 yang berjumlah 44 siswa yang tuntas
belajar adalah 36 siswa ( 81.81 % ) sedangkan yang tidak tuntas 8 siswa ( 18.18 % )
sedangkan evaluasi pada siklus 2 tuntas 100%. Berarti melalui pendekatan CTL
dengan model PaSA (Pictures and Student Active) meningkatkan hasil belajar ranah
kognitif dan afektif
                                            39
B. Saran-saran
      Dalam rangka lebih meningkatkan kualitas pembelajaran di SMA
Laboratorium UM maka, peneliti mengharapkan :
   1. adanya sumber pembelajaran yang memadai seperti perangkat lunak dan keras
      audio visual untuk pembelajaran sejarah.
   2. sarana dan prasarana pendukung di kelas seperti gambar-gambar kesejarahan
      dan, baik peta nasional maupun dunia
   3. sumber sejarah berupa laboratorium IPS untuk memperdalam siswa
      mengembangka kemampuan
   4. kerjasama dengan instansi yang terkait seperti museum, perpustakaan umum,
      perpustakaan UM dan balai-balai konservasi purbakala.
   5. kerjasama dengan rumpun bidang studi lain untuk bertukar pikiran tentang
      pengembangan model pembelajaran inovatif.




                                       40
                              DAFTAR PUSTAKA


  ----------.1988.Garis-garis Besar Haluan Negara. Jakarta:Sekretaris Negara
  Hariyono.1998.Memahami Sejarah dalam Pembelajaran. Malang : IKIP
MALANG
  Kemmis,S&MC Taggart R.1988. The Action Research Planner. Victoria :
          Deakin University Press
  Kartodirdjo.S.1993. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.
          Jakarta : PT.Gramedia
  Kasbollah, Kasihani.1999. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru Sains.
          Malang : RUT VI LIPI.
  Moleong, L,J.1994. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Bandung : PT Remaja
          Rosdakarya
  Notosusanto, N. 1985. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
  Suryabrata, S.1992. Metodologi Penelitian. Jakarta : CV Rajawali

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1368
posted:4/1/2012
language:
pages:45