Anggrek Dendrobium by Sevtiandy_Muhammad

VIEWS: 977 PAGES: 27

									Anggrek Dendrobium

Kingdom: Plantae
Division:   Magnoliophyta
Class:      Liliopsida
Order:      Asparagales
Family:     Orchidaceae
Subfamily: Epidendroideae
Tribe:      Dendrobieae
Subtribe:   Dendrobiinae
Genus:      Dendrobium
            Sw, 1799




Dendrobium adalah salah satu marga anggrek epifit yang biasa digunakan sebagai
tanaman hias ruang atau taman. Bunganya sangat bervariasi dan indah. Dendrobium
relatif mudah dipelihara dan berbunga.

Anggrek Dendrobium bertipe monopodial, berarti batang tumbuh tegak dan tidak
bercabang. Bunganya tersusun dalam rangkaian memanjang. Bentuknya khas bunga
anggrek, dengan kekhususan bagian belakangnya memiliki tonjolan yang dalam.




  Tanaman Anggrek Dendrobium merupakan tanaman anggrek yang cukup baik
  untuk dikembangkan pada dataran rendah sampai menengah (0 – 600m dpl). Bibit
  anggrek Dendrobium bisa didapatkan dengan cara vegetatif melalui pemisahan
  bulb atau dengan kultur jaringan. Di Indonesia jenis anggrek Dendrobium ini sangat
  banyak diusahakan, karena disamping dapat tumbuh pada dataran rendah, juga
  pemeli-haraannya relatif tidak begitu sulit.
  Dalam melakukan usaha tani anggrek Dendrobium dapat dilakukan dalam 4
  tahapan berdasarkan pangsa pasar yang ada, yaitu tahap botol ke kompot, kompot
  ke seedling, tahap remaja dan tahap pembungaan. Pada bagian ini disajikan
  analisis usahatani tahap remaja dan tahap pembungaan.
  1. Analisa Usaha Tani Anggrek Dendrobium tahap remaja (panen setiap 4 bulan)
  Budidaya tanaman anggrek Dendrobium memerlukan biaya produksi yang cukup
  tinggi. Total biaya produksi dari tanaman Anggrek Dendrobium tahap remaja
  dengan luas serre 1.000m2 (kapasitas 25.000 batang) dengan masa panen 4 bulan
  adalah Rp. 122.349.667 tanpa menggunakan kredit dari Bank dan kalau
  diasumsikan bunga Bank 18%, maka total pengeluaran untuk ongkos produksi
  mwncapai Rp. 129.690.647. Biaya produksi terbesar digunakan untuk pengadaan
  bibit sebesar Rp. 87.500.000 (67,46%), untuk pegadaan pot Rp. 15.000.000
  (11,56%), pembelian media tanam sebesar Rp. 12.500.000 (9,64%), Pupuk
  mencapai Rp. 2.048.000 (1,58%), tenaga kerja Rp. 1.200.000 (0,9%) dan untuk
  biaya tetap sebesar Rp. 3.141.667 (2,42%).
  Dengan perkiraan tingkat kematian dan tanaman afkir lebih kurang 1% sampai saat
  tanaman anggrek Dendrobium siap panen pada umur 4 bulan, maka didapat
  produksi 24.750 batang anggrek, denngan nilai sebesar Rp. 247.500.000. Dengan
  demikian berdasarkan analisis masukan dan keluaran dalam usaha tani tanaman
  Anggrek Dendrobium tahap remaja dengan luas serre 1.000m2 (kapasitas 25.000
  batang), diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp. 112.859.353.


Terjemahan:

dendrobium, menyingkat sebagai liang di perdagangan mengenai ilmu perkebunan,
genus besar anggrek tropis yang terdiri dari kira-kira 1200 spesies. genus terjadi di
bermacam-macam habitat sepanjang banyak dari selatan, timur dan asia tenggara,
termasuk begara pilipina, kalimantan, australia austria, nugini dan selandia baru. nama
dari yunani dendron (pohon arti) dan bio (hidup arti).

spesies salah satu epiphytic, mengakar pohon, atau kadang-kadang lithophytic,
tumbuh melalui batu. mereka telah beradaptasi ke suatu yang luas habitat, dari tinggi
tinggi di gunung himalaya ke dataran rendah hutan tropis dan bahkan kepada iklim
kering australia gurun pasir.

anggrek di genus ini sering mengembangkan pseudobulb, yang gabungkan ke panjang
reedlike menahan dengan panjang khas lebih dari 30 cm. muncul padat menutup
dengan rambut putih pendek. pendek, ovate tumbuh dedaunan secara berurutan
melalui panjang keseluruhan menahan. axillary kuncup bunga mengembangkan ke
batang bunga pendek dengan satu atau dua bunga-bungaan terminal. tumbuh anggrek
dengan cepat sepanjang musim panas, tetapi ambil panjang istirahat selama musim
dingin. di melompat, baru menembak dilengkungkan dari markas tanaman utama dan
kuncup kegiatan kembali ke aksi. mekar bunga-bungaan ditemukan di pseudobulb
dibentuk di sebelumnya tahun.

spesies sedang banyak permintaan dengan pecinta anggrek. telah menghasilkan di ini
banyak jenis dan cangkokan, seperti dendrobium nobile jenis, yang punya sangat
memperluas jarak warna bunga asli dari himalaya.

kimilsungia, salah satu [dari] bunga-bungaan nasional utara begara korea, memperbaiki
mutu tanah dendrobium 'kim il dinyanyikan'.
taxonomical bekerja

di 1981, briegar reclassified semua ete leaved dendrobium dari australia austria dan
nugini ke genus baru, dockrillia.

tapak kaki selandia baru wakil, dendrobium cunninghamii punya sekarang
memindahkan ke monotypic genus, winika.

di 1989, mengupgrade d nyaman. speciosum gabungan ke spesies sendiri


AKLIMATISASI ANGGREK DENDROBIUM DI KEBUN RAYA PURWODADI SEBAGAI
MODEL KONSERVASI EX-SITU

Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-05-31 05:42:00
Oleh : FAIRUS AMALIA (96710051), Dept. of Agronomy
Dibuat : 2002-07-29, dengan 1 file

Keyword : AKLIMATISASI, ANGGREK ,DENDROBIUM

Angrek Dendrobium merupakan jenis Anggrek asli Indonesia yang mempunyai banyak warna,
bentuk dan aroma yang khas, serta bunga Anggrek Dendrobium dapai bertahan kurang lebih 2
mingguan. Anggrek Dendrobium adalah salah satu genus Anggrek terbesar yang terdapat pada
dunia ini. Diperkirakan Anggrek ini terdiri dari 1600 spesies. Bentuk bunga Anggrek
Dendrobium mimiliki sepal yang bentuknya hampir menyerupai atau menyamai segitiga,
dasarnya bersatu dengan kaki tugu untuk membentuk taji. Petal biasanya lebih tipis dari sepaldan
bibirnya berbelah.

Kegiatang pemanfaatan Anggrek asli Indonesia dalam hal hibridasi relatif kurang, meskipun jika
ditinjau dari produk silangan dibeberapa nursery (petani-petanipengembangbiakan Anggrek) dari
tahun ketahun ada penambahan silangan baru, tetapi sayangnya tidak dikembangkan secara
banyak. Dengan demikian problem kelestarian dan pemaanfaatan Anggrek asli Indonesia, tidak
hanya karena eksploitasi dan perusakan habitat, tetapi ditunjang juda oleh problem hibridasi,
industrialisasi, dan kebijakan yang kurang kondusif dan optimal. Apabila keadaan sudah
demikian, maka jalan positif menyelamatkan Anggrek – anggrek asli Indonesia perlu terus
dilakukan, karena seperti halnya banyak hibrida dunia yang lahir dari anggrek alam Indonesia.

Dalam usaha meningkatkan kelestarian dan pemanfaatan Anggrek asli Indonesia dilakukan
berbagai cara, diantaranya yaitu dengan melakukan konservasi. Konservasi adalah suatu usaha
yang dapat dilakuka dengan segera. Salah satu model yang akan dilakukan terhadap
perkembangan Anggrek dari hasil kultur jaringan dalam aklimatisasi lanjutan, di lingkungan luar
(konservasi ex-situ).

2.Tujuan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman Anggrek Dendrobium dialam
terbuka (di kebun Raya Purwodadi) dan menentukan jumlah bibit (populasi) bibit Dendrobium
hasil kultur in-vitro yang mampu menunjkkan adaptasi yang lebih baik dalam aklimatisasi ex-
situ di Kebun Raya Purwodadi.

3.Metode Percobaan

Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun dengan model
petak terbagi dengan 15 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang 4 kali. Adapun
sebagai petak utama kondisi lingkungan (L) yang terdiri dari L1 lingkungan terbuka, L2
lingkungan setengah terbuka, dan L3 lingkungan ternaungi. Sedangkan sebagai anak petak
jumlah populasi tanaman perpohon (P) terdiri dari : P1 jumlah populasi I bibit tanaman
perpohon, P2 jumlah 2 bibit tanaman perpohon, P3 jumlah 3 bibit tanaman perpohon, P4 jumlah
4 bibit tanaman perpohon dan P5 jumlah 5 bibit tanaman perpohon. Sehingga terdapat 60 kali
unit perlakuan setiap unit perlakuan, setiap unit perlakuan sebanyak 20 unit perlakuan.
Sedangkan perubahan yang diamati adalah jumlah bibit yang hidup, julah daun, jumlah akar, luas
daun, warna daun dan panjang akar.

4. Tempat dan Waktu

Percobaan dilakukan di Kebun Raya Purwodadi, Desa Purwodadi,Kecamatan Purwodadi,
kabupaten Pasuruan. Dengan ketinggian tempat 300 m dpl serta mempunyai curah hujan yang
sedang.

5. Hasil percobaan berdasarkan hasil Analisis Ragam menunjukkan bahwa pada variabel
pengamatan jumlah bibit yang hidup, warna daun dan jumlah akar terjadi interaksi, sedangkan
yang lainnya tidak menunjukkan adanya interaksi yaitu pada variabel pengamatan luas daun,
panjang akar dan jumlah daun. Tetapi pada variabel pengamatan jumlah daunmenunjukkan
berbeda nyata pada perlakuan petak utama (L1)yaitu kondisi lingkungan terbuka (l1). Variabel
pengamatan luas daun juga menunjukkan berbeda nyata pada petak utama (L) yaitu pada kondisi
lingkungan ternaungi (L3) dan pada variabel panjang akar tidak menunjukkan berbeda nyata,
tetapi nilai rerata tertinggi pada perlakuan kondisi lingkungan terbuka (L!) dan populasi 5 bibit
tanaman perpohon (P5).

Pada variabel pengamatan jumlah bibit menunjukkan berbeda sangat nyata pada anak petak (P)
dan berbeda nyata pada anak petak (P) dan berbeda nyata pada petak utama (L) sedangkan hasil
tertinggi pada variabel pengamatan jumlah bibit yang hidup ditunjukkan pada perlakuan kondisi
lingkungan terbuka (L1), dan populasi 5 bibit tanaman perpohon (P5). Sedangkan hasil Analisis
Ragam pada variabel pengamatan jumlah akar menunjukkan berbeda nyata pada petak utama (L)
dan anak petak (P). hasil analisis ragam tertinggi pada pengamatan di atas adalah kondisi
lingkungan terbuka (L1) dan populasi 1 bibit tanaman perpohon.

Pengaruh interaksi antara kondisi lingkungan dengan populasi jumlah bibit tanaman perpohon
terhadap jumlah bibit yang hidup tampak pada pengamatan yang ke-8 (60 HST) sampai pada
pengamatan yang ke-11 (81 HST) sedangkan pada variabel jumlah akar tampak pada
pengamatan yang ke-5 (37 HST) sampai pada pengamatan Ke-11 (8I HST).
6. Kesimpulan.

Dari hasil percobaan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

 Perlakuan kondisi lingkungan dan populasi jumlah bibit berpengaruh/ berbeda nyata pada
jumlah daun, luas daun, warna daun dan jumlah akar. Sedangkan pada jumlah bibit yang hidup
berpengaruh sangat nyata.

 Terdapat interaksi yang sangat nyata pada variabel pengamatan jumlah bibit yang hidup yaitu
setelah umur 60-80 HST. Dan pada jumlah akar terjadi interaksi yang nyata setelah verumur 37-
81 HST.

Deskripsi Alternatif :

Angrek Dendrobium merupakan jenis Anggrek asli Indonesia yang mempunyai banyak warna,
bentuk dan aroma yang khas, serta bunga Anggrek Dendrobium dapai bertahan kurang lebih 2
mingguan. Anggrek Dendrobium adalah salah satu genus Anggrek terbesar yang terdapat pada
dunia ini. Diperkirakan Anggrek ini terdiri dari 1600 spesies. Bentuk bunga Anggrek
Dendrobium mimiliki sepal yang bentuknya hampir menyerupai atau menyamai segitiga,
dasarnya bersatu dengan kaki tugu untuk membentuk taji. Petal biasanya lebih tipis dari
sepaldan bibirnya berbelah.

Kegiatang pemanfaatan Anggrek asli Indonesia dalam hal hibridasi relatif kurang, meskipun
jika ditinjau dari produk silangan dibeberapa nursery (petani-petanipengembangbiakan
Anggrek) dari tahun ketahun ada penambahan silangan baru, tetapi sayangnya tidak
dikembangkan secara banyak. Dengan demikian problem kelestarian dan pemaanfaatan
Anggrek asli Indonesia, tidak hanya karena eksploitasi dan perusakan habitat, tetapi ditunjang
juda oleh problem hibridasi, industrialisasi, dan kebijakan yang kurang kondusif dan optimal.
Apabila keadaan sudah demikian, maka jalan positif menyelamatkan Anggrek – anggrek asli
Indonesia perlu terus dilakukan, karena seperti halnya banyak hibrida dunia yang lahir dari
anggrek alam Indonesia.

Dalam usaha meningkatkan kelestarian dan pemanfaatan Anggrek asli Indonesia dilakukan
berbagai cara, diantaranya yaitu dengan melakukan konservasi. Konservasi adalah suatu usaha
yang dapat dilakuka dengan segera. Salah satu model yang akan dilakukan terhadap
perkembangan Anggrek dari hasil kultur jaringan dalam aklimatisasi lanjutan, di lingkungan
luar (konservasi ex-situ).

2.Tujuan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman Anggrek Dendrobium dialam
terbuka (di kebun Raya Purwodadi) dan menentukan jumlah bibit (populasi) bibit Dendrobium
hasil kultur in-vitro yang mampu menunjkkan adaptasi yang lebih baik dalam aklimatisasi ex-
situ di Kebun Raya Purwodadi.

3.Metode Percobaan
Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun dengan model
petak terbagi dengan 15 kombinasi perlakuan yang masing-masing diulang 4 kali. Adapun
sebagai petak utama kondisi lingkungan (L) yang terdiri dari L1 lingkungan terbuka, L2
lingkungan setengah terbuka, dan L3 lingkungan ternaungi. Sedangkan sebagai anak petak
jumlah populasi tanaman perpohon (P) terdiri dari : P1 jumlah populasi I bibit tanaman
perpohon, P2 jumlah 2 bibit tanaman perpohon, P3 jumlah 3 bibit tanaman perpohon, P4
jumlah 4 bibit tanaman perpohon dan P5 jumlah 5 bibit tanaman perpohon. Sehingga terdapat
60 kali unit perlakuan setiap unit perlakuan, setiap unit perlakuan sebanyak 20 unit perlakuan.
Sedangkan perubahan yang diamati adalah jumlah bibit yang hidup, julah daun, jumlah akar,
luas daun, warna daun dan panjang akar.

4. Tempat dan Waktu

Percobaan dilakukan di Kebun Raya Purwodadi, Desa Purwodadi,Kecamatan Purwodadi,
kabupaten Pasuruan. Dengan ketinggian tempat 300 m dpl serta mempunyai curah hujan yang
sedang.

5. Hasil percobaan berdasarkan hasil Analisis Ragam menunjukkan bahwa pada variabel
pengamatan jumlah bibit yang hidup, warna daun dan jumlah akar terjadi interaksi, sedangkan
yang lainnya tidak menunjukkan adanya interaksi yaitu pada variabel pengamatan luas daun,
panjang akar dan jumlah daun. Tetapi pada variabel pengamatan jumlah daunmenunjukkan
berbeda nyata pada perlakuan petak utama (L1)yaitu kondisi lingkungan terbuka (l1). Variabel
pengamatan luas daun juga menunjukkan berbeda nyata pada petak utama (L) yaitu pada
kondisi lingkungan ternaungi (L3) dan pada variabel panjang akar tidak menunjukkan berbeda
nyata, tetapi nilai rerata tertinggi pada perlakuan kondisi lingkungan terbuka (L!) dan populasi
5 bibit tanaman perpohon (P5).

Pada variabel pengamatan jumlah bibit menunjukkan berbeda sangat nyata pada anak petak (P)
dan berbeda nyata pada anak petak (P) dan berbeda nyata pada petak utama (L) sedangkan
hasil tertinggi pada variabel pengamatan jumlah bibit yang hidup ditunjukkan pada perlakuan
kondisi lingkungan terbuka (L1), dan populasi 5 bibit tanaman perpohon (P5). Sedangkan hasil
Analisis Ragam pada variabel pengamatan jumlah akar menunjukkan berbeda nyata pada petak
utama (L) dan anak petak (P). hasil analisis ragam tertinggi pada pengamatan di atas adalah
kondisi lingkungan terbuka (L1) dan populasi 1 bibit tanaman perpohon.

Pengaruh interaksi antara kondisi lingkungan dengan populasi jumlah bibit tanaman perpohon
terhadap jumlah bibit yang hidup tampak pada pengamatan yang ke-8 (60 HST) sampai pada
pengamatan yang ke-11 (81 HST) sedangkan pada variabel jumlah akar tampak pada
pengamatan yang ke-5 (37 HST) sampai pada pengamatan Ke-11 (8I HST).

6. Kesimpulan.

Dari hasil percobaan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
 Perlakuan kondisi lingkungan dan populasi jumlah bibit berpengaruh/ berbeda nyata pada
jumlah daun, luas daun, warna daun dan jumlah akar. Sedangkan pada jumlah bibit yang hidup
berpengaruh sangat nyata.

 Terdapat interaksi yang sangat nyata pada variabel pengamatan jumlah bibit yang hidup yaitu
setelah umur 60-80 HST. Dan pada jumlah akar terjadi interaksi yang nyata setelah verumur
37-81 HST.

PERTUMBUHAN TANAMAN ANGGREK DENDROBIUM (Dendrobium sp.) AKIBAT
PEMBERIAN KONSENTRASI VITAMIN B1 DAN MACAM PUPUK MAJEMUK CAIR

Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-05-14 10:53:00
Oleh : Alus Ambar Ayu (97710026), Dept. of Agronomy
Dibuat : 2002-07-12, dengan 1 file

Keyword : PERTUMBUHAN, TANAMAN, ANGGREK, DENDROBIUM

Penelitian ini merupakan kajian percobaan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman anggrek
Dendrobium (Dendrobium sp.) akibat pemberian konsentrasi Vitamin B1 dan macam pupuk
majemuk cair.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah

1. Diduga terdapat interaksi antara Vitamin B1 dan macam pupuk majemuk cair terhadap
pertumbuhan tanaman anggrek Dendrobium (Dendrobium sp.).

2. Diduga terdapat pengaruh perlakuan Vitamin B1 terhadap pertumbuhan tanaman anggrek
Dendrobium (Dendrobium sp.).

3. Diduga terdapat pengaruh perlakuan macam pupuk majemuk cair terhadap pertumbuhan
tanaman anggrek Dendrobium (Dendrobium sp).

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan April 2002, yang bertempat di Screen
House pusat pengembangan Bioteknologi pertanian UMM, dengan ketinggian tempat 500-550
mdpl.

Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan
2 faktor yang meliputi: Faktor l: Vitamin B1 (K) yang terdiri atas 4 level: K0 (0 ppm Vit.B1/
tanpa Vit.B1), K1 (60 ppm Vit.B1), K2 (120 ppm Vit.B1), K3 (180 Vit.B1). Faktor ll: macam
pupuk majemuk cair (P): P1(Mamigro dengan konsentrasi 2 ml/l), P2 (Grow Team-M dengan
konsentrasi 2 ml/l). Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali dan tiap perlakuan 5 pot,
sehingga didapatkan 120 pot percobaan.

Pengamatan dilakukan 2 minggu setelah tanam (mst), dengan selang waktu 10 hari. Parameter
pengamatan meliputi Panjang tanaman (cm), jumlah daun (helai), luas daun (cm2), panjang akar
(cm), jumlah akar, berat basah (gram), dan berat kering (gram) tanaman.
Hasil pengamatan menunjukkan, bahwa terjadi interaksi antara perlakuan Vitamin B1 dengan
pupuk majemuk cair ter0hadap panjang tanaman, jumlah daun, luas daun, dan berat basah
tanaman. Kombinasi perlakuan K0P1 (0 ppm Vit.B1 Mamigro), K0P2 (0 ppm Vit.B1 Grow
Team-M), K1P1 (60 ppm Vit.B1 Mamigro), K1P2 (60 ppm Vit.B1 Grow Team-M), K2P1 (120
ppm Vit.B1 Mamigro), memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap panjang tanaman dan
luas daun, untuk pengamatan jumlah daun perlakuan K0P1 (0 ppm Vit.B1 Mamigro), K0P2 (0
ppm Vit.B1 Grow Team-M), K1P1 (60 ppm Vit.B1 Mamigro), K2P1 (120 ppm Vit.B1
Mamigro) dan K2P2 (120 ppm Vit.B1 Grow Team-M) memberikan pengaruh yang lebih baik,
sedangkan pada parameter pengamatan berat basah tanaman perlakuan yang terbaik adalah K0P2
(0 ppm Vit.B1 Grow Team-M) dan K1P1 (60 ppm Vit.B1 Mamigro).

Penggunaan Vitamin B1 yang dikombinasikan dengan pupuk majemuk cair Mamigro
memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap panjang tanaman, jumlah daun, luas daun dan
berat basah tanaman jika dibandingkan dengan pupuk majemuk cair Grow Team-M. Penggunaan
Vitamin B1 di atas 120 ppm memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap semua parameter
pengamatan.

Deskripsi Alternatif :

Penelitian ini merupakan kajian percobaan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman anggrek
Dendrobium (Dendrobium sp.) akibat pemberian konsentrasi Vitamin B1 dan macam pupuk
majemuk cair.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah

1. Diduga terdapat interaksi antara Vitamin B1 dan macam pupuk majemuk cair terhadap
pertumbuhan tanaman anggrek Dendrobium (Dendrobium sp.).

2. Diduga terdapat pengaruh perlakuan Vitamin B1 terhadap pertumbuhan tanaman anggrek
Dendrobium (Dendrobium sp.).

3. Diduga terdapat pengaruh perlakuan macam pupuk majemuk cair terhadap pertumbuhan
tanaman anggrek Dendrobium (Dendrobium sp).

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan April 2002, yang bertempat di
Screen House pusat pengembangan Bioteknologi pertanian UMM, dengan ketinggian tempat
500-550 mdpl.

Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial
dengan 2 faktor yang meliputi: Faktor l: Vitamin B1 (K) yang terdiri atas 4 level: K0 (0 ppm
Vit.B1/ tanpa Vit.B1), K1 (60 ppm Vit.B1), K2 (120 ppm Vit.B1), K3 (180 Vit.B1). Faktor ll:
macam pupuk majemuk cair (P): P1(Mamigro dengan konsentrasi 2 ml/l), P2 (Grow Team-M
dengan konsentrasi 2 ml/l). Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali dan tiap
perlakuan 5 pot, sehingga didapatkan 120 pot percobaan.
Pengamatan dilakukan 2 minggu setelah tanam (mst), dengan selang waktu 10 hari. Parameter
pengamatan meliputi Panjang tanaman (cm), jumlah daun (helai), luas daun (cm2), panjang
akar (cm), jumlah akar, berat basah (gram), dan berat kering (gram) tanaman.

Hasil pengamatan menunjukkan, bahwa terjadi interaksi antara perlakuan Vitamin B1 dengan
pupuk majemuk cair ter0hadap panjang tanaman, jumlah daun, luas daun, dan berat basah
tanaman. Kombinasi perlakuan K0P1 (0 ppm Vit.B1 Mamigro), K0P2 (0 ppm Vit.B1 Grow
Team-M), K1P1 (60 ppm Vit.B1 Mamigro), K1P2 (60 ppm Vit.B1 Grow Team-M), K2P1 (120
ppm Vit.B1 Mamigro), memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap panjang tanaman dan
luas daun, untuk pengamatan jumlah daun perlakuan K0P1 (0 ppm Vit.B1 Mamigro), K0P2 (0
ppm Vit.B1 Grow Team-M), K1P1 (60 ppm Vit.B1 Mamigro), K2P1 (120 ppm Vit.B1 Mamigro)
dan K2P2 (120 ppm Vit.B1 Grow Team-M) memberikan pengaruh yang lebih baik, sedangkan
pada parameter pengamatan berat basah tanaman perlakuan yang terbaik adalah K0P2 (0 ppm
Vit.B1 Grow Team-M) dan K1P1 (60 ppm Vit.B1 Mamigro).

Penggunaan Vitamin B1 yang dikombinasikan dengan pupuk majemuk cair Mamigro
memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap panjang tanaman, jumlah daun, luas daun dan
berat basah tanaman jika dibandingkan dengan pupuk majemuk cair Grow Team-M.
Penggunaan Vitamin B1 di atas 120 ppm memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap
semua parameter pengamatan.


Dendrobium
From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search
           Dendrobium
          Dendrobium lindleyi
      Scientific classification
    Kingdom: Plantae
    Division:    Magnoliophyta
    Class:       Liliopsida
    Order:       Asparagales
    Family:      Orchidaceae
    Subfamily: Epidendroideae
    Tribe:       Dendrobieae
    Subtribe:    Dendrobiinae
    Genus:       Dendrobium
                 Sw, 1799

                Species
1190 species;
see List of Dendrobium species

Dendrobium, abbreviated as Den in horticultural trade, is a large genus of tropical orchids that
consists of about 1200 species. The genus occurs in diverse habitats throughout much of south,
east and southeast Asia, including the Philippines, Borneo, Australia, New Guinea and New
Zealand. The name is from the Greek dendron (meaning tree) and bios (meaning life).
The species are either epiphytic, growing on a tree, or occasionally lithophytic, growing over a
rock. They have adapted to a wide variety of habitats, from the high altitudes in the Himalayan
mountains to lowland tropical forests and even to the dry climate of the Australian desert.

The orchids in this genus often develop pseudobulbs, which unite into a long reedlike stem with
a typical length of more than 30 cm. Some appear densely covered with short white hairs. The
short, ovate leaves grow alternately over the whole length of the stems. The axillary flower buds
develop into short flower stalks with one or two terminal flowers. The orchids grow quickly
throughout summer, but take a long rest during winter. In the spring, new shoots are formed from
the base of the main plant and the dormant buds come back into action. The blooming flowers
are found on pseudobulbs formed in the previous year.

Some species are in great demand by orchid lovers. This has resulted in numerous varieties and
hybrids, such as the Dendrobium nobile varieties, which have greatly extended the range of
colors of the original flower from the Himalayas.

Kimilsungia, one of the national flowers of North Korea, is the cultivar Dendrobium 'Kim il
Sung'.

Contents
[hide]

        1 Taxonomical Work
        2 Some species
        3 References
        4 External links



[edit] Taxonomical Work
In 1981, Briegar reclassified all terete leaved Dendrobiums from Australia and New Guinea into
a new genus, Dockrillia.

The sole New Zealand representative, Dendrobium cunninghamii has now been moved into a
monotypic genus, Winika.

In 1989, Clements upgraded D. speciosum complex into individual species [1]

[edit] Some species
        Dendrobium aduncum Angelfish Orchid
        Dendrobium aemulum Ironbark Orchid
        Dendrobium antennatum Antelope Orchid (Also: Ceratobium antennatum)
   Dendrobium aurantiroseum Aunty Rosie
   Dendrobium beckleri Pencil Orchid
   Dendrobium canaliculatum Yellow Teatree Orchid
   Dendrobium carronii Pink Teatree Orchid
   Dendrobium chrysotoxum Fried-egg Orchid
   Dendrobium crassilabium P.J.Spence (Papua New Guinea.)
   Dendrobium crumenatum Dove Orchid, Pigeon Orchid, Sparrow Orchid
   Dendrobium cucumerinum Cucumber Orchid
   Dendrobium cunninghamii Winika (its Māori name) (synonym of Winika cunninghamii)
   Dendrobium cuthbertsonii
   Dendrobium densiflorum Pineapple Orchid
   Dendrobium discolor Golden Orchid
   Dendrobium ephemerum Small white Orchid
   Dendrobium falcarostrum Beech Orchid
   Dendrobium farinatum Schildh. & Schraut (Vietnam)
   Dendrobium finisterrae Schltr, 1912 The End of the World Orchid (Papua New Guinea)
   Dendrobium gouldii (light coloured) Guadalcanal Gold
   Dendrobium gouldii (blue form) Florida Blue
   Dendrobium goldiei Rchb.f.
       o Dendrobium goldiei var. karthausianum Rolfe (Germany)
   Dendrobium gracilicaule : Leopard Orchid




    Dendrobium aphyllum

   Dendrobium hasseltii Spinach Orchid
   Dendrobium johannis Brown Antelope Orchid
   Dendrobium kingianum Pink Rock Orchid, Pink Rock Lily
   Dendrobium lawesii Christmas bell Orchid
   Dendrobium lindleyi Dendrobium aggregatum
   Dendrobium linguaeforme Thumbnail Orchid, Tongue Orchid
   Dendrobium loddigesii Loddiges' dendrobium
   Dendrobium macarthiae Vesak Mala
   Dendrobium macrophyllum (D. musciferum) : The Pastor's Orchid
   Dendrobium mirbelianum Mangrove Orchid
   Dendrobium moniliforme Sekikoku
   Dendrobium monophyllum Lily of the Valley Orchid
   Dendrobium mortii Pencil Orchid, Rattail Orchid
   Dendrobium nindii Cowslip Orchid




    Dendrobium chrysotoxum

   Dendrobium nobile
   Dendrobium ostrinoglossum May River Orchid, Sepik Blue Orchid
   Dendrobium phalaenopsis Cooktown Orchid (was Dendrobium bigibum var.
    phalaenopsis)
   Dendrobium pugioniforme Dagger Orchid (from the shape of its leaves), now Dockrillia
    pugioniformis
   Dendrobium racemosum Rat tail Orchid
   Dendrobium ruppianum (fusiforme) Small Demon, Small lemon orchid
   Dendrobium secundum Toothbrush Orchid
   Dendrobium senile Old Man Orchid
   Dendrobium smilliae Bottle-brush Orchid
   Dendrobium speciosum Captain King's Dendrobium, King Orchid, Pink Rock Orchid,
    Rock Lily
   Dendrobium striolatum Rat tail Orchid, Streaked Rock Orchid
   Dendrobium superbum Honohono
   Dendrobium taurinum Bull Orchid
   Dendrobium tenuissimum Rattail Orchid
   Dendrobium teretifolium Bridal-veil Orchid, Pencil Orchid, Rattail Orchid (now
    Dockrillia teretifolia
   Dendrobium tetragonum Spider Orchid, Tree Spider Orchid
   Dendrobium trillamelatum Brown Antelope Orchid
   Dendrobium victoriae-reginae : Blue Orchid
                                                Dendrobium x
                      Dendrobium delacourii     delicatum (a natural   Dendrobium
Cooktown orchids                                hybrid)                densiflorum
Dendrobium bigibbum




Dendrobium            Dendrobium                                       Dendrobium
                                                Dendrobium
densiflorum x farmeri fuerstenbergianum                                kingianum
                                                hercoglossum
pink (a hybrid)




Dendrobium Mini
Brown (a man-made                               Dendrobium parishii Dendrobium
hybrid)               Dendrobium nobile
                                                                    unicum




                      Painting of a typical
                      Dendrobium, by I. V.      Dendrobium "Doctor
                      Passmoore; probably the   Prakob"
                      hybrid Dendrobium Lucky
                      Seven


PENDAHULUAN
Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau yang membentang di daerah khatulistiwa yang luasnya
lebih dari 8.000.000 km persegi, ditumbuhi oleh lebih dari 6.000 jenis anggrek spesies dan lebih
dari 200 jenis mempunyai nilai komersial. Jumlah terbanyak ialah Dendrobium yang tumbuh di
daerah panas, tumbuh didaerah Indonesia Bagian Timur, dan merupakan induk induk bunga
anggrek potong jenis Dendrobium. Dan sudah banyak hibrida-hibrida Dendrobium yang telah
dihasilkan dan didaftarkan ke Sander List (Santoso S, 1988).

Berbagai jenis anggrek Dendrobium sangat diminati oleh masyarakat, karena menghasilkan
bungan yang cantik dan warna yang menawan. Disamping itu mahkota bunganya tidak mudah
rontok, dibandingkan dengan jenis anggrek lainnya

Tanaman anggrek Dendrobium bersifat kospolitan (dapat dijumpai dari daerah tropik sampai sub
tropik). Penyebaran anggrek ini mulai dari daerah pantai hingga daerah pegunungan dan bersalju,
yang tersebar mulai dari India, Srilangka, China Selatan, Jepang ke Selatan sampai Asia
Tenggara hingga kawasan Pasifik. Australia, New Zealand serta papua New Guinea (Hawkes,
1965; Gunadi, 1979; Rentoul, 1982).

Cara hidup anggrek Dendrobium adalah menempel pada benda lain seperti batang pohon,
lempengan pakis, beberapa jenis ada yang bbatu batuan di lereng pegunung, dan ada juga yang
tumbuh memanjat pada batang tanaman lain tanpa merugikan tempat yang ditempeli (bersifat
epifit). Sedangkan pola pertumbuhannya simpodial

Penggunaan anggrek Dendrobium selain dapat digunakan sebagai bunga potong untuk
rangkaian, juga dapat digunakan sebagai bunga pot dan bunga taman untuk pembuatan
landscape




MENGENAL AGGREK DENDROBIUM
Klasifikasi Pada umumnya klasifikasi tanaman anggrek didasarkan pada keistimewaan bunga,
khususnya alat reproduksi. Klasifikasi anggrek Dendrobium adalah sebagai berikut (Hsuang
Keng, 1978; Fanfani dan Rosssi, 1989):

Kingdom      : Planthae
Divisi       : Spermatophyta
Sub Divisi   : Angiospermae
Kelas        : Monocotyledonae
Ordo          : Orchidales
Famili        : Orchidaceae
Sub famili    : Epidendroidae
Suku/Tribe   : Malaxideae (Dressler & Dodson, 1960)
               Epidendreae (Comber, 1960)
               Dendrobieae (Chan et al., 1994)
Sub tribe    : Dendrobiinae
Genus        : Dendrobium
Species      : D. bifalce, D. macrophyllum, D. phalaenopsis dll


Genus Dendrobium
Genus angrek Dendrobium terbagi dalam beberapa seksi dan sangat bervariasi. Menurut
Holtum (1965) genus Dendrobium terbagi dalam 20 seksi yaitu: 1. Diplocaulobium
2. Desmotrichum
3. Sacopodium
4. Bolbidium
5. Euphlebium
6. Latourea – bunga besar, warna hijau/kuning hijau
7. Callista8. Eugenanthe
9. Nigrohirsutae
10. Phalaenanthe – bunga besar & bulat, w. putih / ungu
11. Ceratobium – bunga bintang / keriting / tanduk , w. variasi
12. Stachyobium
13. Pedilonum
14. Distichophyllum
15. Rhopalanthe
16. Aporum
17. Oxystophyllum
18. Strongyle
19. Grastidium
20. Conostalix

Dendrobium: Bunga Indah Perawatan Mudah


Anggrek dendrobium adalah salah satu jenis anggrek yang kaya warna dan panjang umur.
Menanam dan merawatnya mudah. Pupuk, siram, dan tempatkan di tempat yang tepat.
                           Bunga mekar mewangi.

                              Menanam dendrobium tidak sulit, cukup sediakan media tanam
                              yang baik. Bisa berupa arang kayu, pecahan genteng, ijuk
                              kelapa, dan pakis. Agar dapat tumbuh dengan baik, ganti media
                              tanam setiap enam bulan sekali.

                              Selain media tanam yang baik, perhatikan juga nutrisi yang
                              harus diberikan. Tanpa nutrisi yang pas, dendrobium tidak akan
                              bisa tumbuh dan berbunga dengan baik. Agar selalu berbunga,
                              berikan pupuk NPK secara teratur. Untuk pemupukan, lakukan
sesuai kebutuhan. Pemberian nutrisi akan membantu pertumbuhannya.

Seperti jenis anggrek pada umumnya, dendrobium dapat tumbuh sehat pada suhu 15-28 derajat
celcius. Kelembapan yang dibutuhkan adalah 60%-85%. Untuk mendapatkan kelembapan yang
pas, lakukan penyiraman dua kali sehari, pagi dan sore hari.

Cermati juga soal penempatan. Tempatkan dendrobium di tempat yang teduh, jauh dari sinar
matahari langsung. Jika perlu pasang paranet di atas lokasi tanam. Untuk menghindari kutu, atau
ulat, semprotkan insektisida, satu sampai dua kali sebulan.

SEMARANG & SEKITARNYA

22 Agustus 2008
Anggrek Dendrobium Diminati

SALATIGA- Beberapa bulan terakhir ini minat masyarakat terhadap tanaman hias sedikit merosot.
Karena itu, perlu upaya untuk mendongkrak dan menggairahkan kembali minat terhadap tanaman hias.

Salah satunya dilakukan Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Cabang Salatiga dengan menggelar Expo
Flora dan Fauna yang bertajuk ’’Salatiga Menuju Kota Industri Bunga’’, Senin-Minggu (18-24/8) di
Gedung Pertemuan Daerah (GPD). Pameran diikuti 37 stan flora dan tujuh stan campuran.

Beberapa di antaranya dari luar kota seperti Kudus, Semarang, Ungaran, Solo, dan peserta lokal.
Walaupun tidak booming seperti dulu, jenmanii dan anthurium masih mendominasi pameran. Ada pula
aglaonema dan puring yang saat ini banyak diminati. Pameran juga mengenalkan berbagai jenis anggrek.

Ny Doah, salah pemilik stan mengatakan, masyarakat lebih banyak membeli tanaman anggrek
dendrobium dengan harga Rp. 20.000. (H2-37)



Anggrek Malang, “Enaknya
Mau Ke Mana?”
Friday, 18 July 2008
Terakhir Diperbaharui ( Tuesday, 29 July 2008 )

By ketut wirawan,
Views : 49
Published in : Perkembangan Anggrek, Anggrek


Anggrek merupakan salah satu dari ratusan jenis tanaman hias yang ada disekitar kita. Kata
“anggrek” akan memberi makna tersendiri. Kenapa? Karena kalau mendengar kata anggrek
seseorang akan membayangkan suatu tanaman hias yang langka, eksotik, mahal, indah,
beranekaragam warna dan unik. Tidak heran apabila pada suatu kegiatan bursa anggrek di
Malang beberapa waktu lalu, ada seorang pembeli anggrek Dendrobium dengan harga Rp.
40.000 sudah bilang “kok mahal”, padahal di tempat bursa yang lain ada satu jenis anggrek yang
harganya jutaan,toh juga laku. Hal ini menandakan bahwa presepsi masyarakat terhadap anggrek
sangat beragam tergantung dari sisi mana melihatnya kalau membeli anggrek tersebut.

Anggrek telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai tanaman hias unggulan nasional adalah sangat
wajar karena di Indonesia diperkirakan terdapat lebih dari 5000 spesies asli. Bagaimana para
penganggrek di belahan dunia sangat kagum dan mengkoleksi anggrek Indonesia, hal ini terbukti
dari banyaknya buku-buku yang telah diterbitkan tentang anggrek Indonesia antara lain :
“Orchids of Java”, “Orchids of Borneo I, II, dan III”. “Orchids of Sumatra”, “Orchids of
Sulawesi” dan” Orchids of Indonesia”. Semua buku yang dibuat tersebut berdasarkan hasil
koleksi mereka. Disisi lain istilah protocorm merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan di
Bogor Botanical Garden oleh Melchior Treub sekitar tahun 1890. Pada fakta yang lain penulis
merasa sangat sedih ketika membaca di Internet mengenai kegiatan seminar di Siangpura,
mengenai penemuan dua anggrek baru dari Sulawesi. Akan tetapi informasi ini harus ditanggapi
sebagai suatu tantangan buat kita untuk mulai berbuat sesuatu terhadap anggrek Indonesia kita
ini.

Dalam dua tahun terakhir ini apabila kita mengikuti kegiatan bursa maupun pameran anggrek di
Malang dan Surabaya terlihat kesan bahwa prosentase jumlah tanaman anggrek dalam negeri
yang ditampilkan makin berkurang, sedangkan angrrek impor semakin bertambah banyak, lebih
menarik, beraneka ragam bentuk serta cukup murah. Pertanyaannya adalah ada apa dan
bagaimana anggrek kita sendiri? Untuk itu jawabannyapun juga tidak mudah karena dapat
disoroti dari berbagai aspek..Salah satunya aspek misalnya pada keanekaragaman bentuk, warna
dsb, terlihat bahwa perkembangan anggrek dalam negeri cukup tertinggal jauh, walaupun
penyilang-pengyilang kita telah berusaha, akan tetapi dalam hal jumlah dan keanekaragaman
jenis yang dihasilkan masih terbatas. Apakah kita patut merasa rendah diri terhadap anggrek
kita?semoga hal tersebut tidak terjadi, karena keanekaragaman anggrek kita tidak tertandingi
oleh anggrek lain, misalnya Dendrobium Phalaenopsis, species asli, sangat banyak disilangkan
atau direkayasa genetik menjadi anggrek-anggrek unggul yang baru yang indah dan mahal.
Sebagai contoh yang sederhana ternyata tanaman anggrek remaja yang belum berbunga dari hasil
persilangan antar species asli Indonesia sangat laku keras pada suatu bursa di Singapura. Hanya
siapa-siapa saja yang akan melakukan persilangan maupun perbanyakan anggrek-anggrek
spesies asli kita? Pada sarasehan anggrek pada tahun 2004 lalu, salah satu pembicara yaitu Bp.
Sutikno telah menekankan bahwa pendekatan melalui bioteknologi rupanya satu-satunya cara
yang harus dikembangkan kalau kita mau berkompetisi dengan penganggrek di luar negeri. Hal
ini juga searah dengan salah salah satu program Pengembangan Anggrek di Indonesia oleh
Direktorat Tanaman Hias yang menyatakan bahwa peningkatan daya saing harus dilakukan
melalui penggunaan komponen inovasi teknologi (IPTEK), sehingga akan mampu menghasilkan
varietas anggrek unggul dan dapat memenuhi persyaratan kualitas yang diminta pasar serta
mampu bersaing dengan produk sejenis dari negara lain. Aspek ini ternyata menjadi sangat
penting karena pada pameran Hortifair 2005 di Belanda, dilaporkan bahwa inovasi pembentukan
varietas-varietas unggul baru sangat ditonjolkan dalam pameran tersebut, sedangkan jenis
anggrek Dendrobium, Phalaenopsis, Cymbidium dan Paphiopedilum termasuk deretan tanaman
hias yang dipamerkan.
Pada aspek lain kiranya perlu ada upaya-upaya untuk memberi dorongan yang kuat secara
berkelanjutan kepada generasi muda kita mau berkiprah pada tanaman anggrek. Cukup ironis
memang apabila kota Malang yang mempunyai 7 fakultas pertanian negeri maupun swastanya,
sangat sedikit sekali kegiatan penelitian atau tesis S1/S2/S3 pada tanaman anggrek, padahal
tumbuh dan berkembang ilmuwan/ praktisi muda diharapkan merupakan produk dari kalangan
kampus. Peluang kerjasama dengan PAI Malang masih terbuka lebar dan tentunya dengan segala
keterbatasan-keterbatasan kedua pihak yang ada, akan tetapi paling tidak ada sesuatu yang bisa
dimulai untuk mencoba memecahkan maslah anggrek secara bersama-sama. Saat ini sudah mulai
ada greget dengan terbentuknya pusat kajian anggrek, mahasiswa pecinta anggrek, dan club
anggrek.

Pada khasanah penganggrekan, daerah Malang telah dikenal sebagai salah satu pusat
perkembangan anggrek di Indonesia sejak zaman dulu, hal ini telah dibuktikan dengan sederetan
hasil anggrek silangan yang didaftarkan di Royal Orchid, Inggris oleh Bapak Handoyo Hardjo,
Kolopaking sejak tahun 1970 yang juga diikuti pula oleh para penyilang PAI Surabaya antara
lain Molin Sumardjo, Wirakusuma dan Sutikno.




Saat ini di Malang telah banyak berkembang para penganggrek baru yang tentunya diharapkan
akan dapat menjadi pelaku usaha pendukung untuk perkembangan anggrek dimasa mendatang
khususnya untuk kota Malang. Tekanan akibat membanjirnya anggrek-anggrek impor tentunya
tidak akan melemahkan kondisi anggrek dalam negeri akan tetapi justru menjadi pemacu bagi
penggemar/ grower/ penyilang untuk mengembangkan kreativitas/ ide bagaimana meningkatkan
kualitas anggrek dalam negeri. “Upayakan untuk tampil beda dengan sentuhan seni”, kata Bp
Rizal (pakar anggrek dari Bandung) dan akan lebih baik lagi apabila ditambah dengan sentuhan
teknologi, maka pasti akan berhasil. Untuk forum-forum diskusi diantara anggota PAI atau
bukan, mengembangkan pusat informasi tentang anggrek di dunia, pelatihan dan menggalakkan
penelitian tanaman anggrek diharapkan dapat mempercepat proses peningkatan kualitas
walaupun memerlukan waktu yang cukup lama. Pernah ada pemikiran untuk meniru seistem
pengembangan Anggrek di Ragunan atau TMII Jakarta, akan tetapi realitasnya tidak mudah
karena masih banyak hal/ masalah yang harus dipelajari secara seksama dan cermat sebelum
dilaksanakan, antara lain lokasi yang strategis, luas lahan yang memadai, aspek pemasaran, dana
pengadaan lahan, siapa saja yang akan menempati kapling tersebut, bagaimana sistemnya, dsb.
Akan tetapi dimasa mendatang pendekatan ini patut untuk dipertimbangkan kembali.

Ada hal lain yang perlu dipikirkan dan syukur-syukur bisa dilaksanakan adalah membuat buku
tentang tanaman anggrek dari segala jenis dan aspeknya berdasarkan pengalaman nara sumber
yang telah bertahun-tahun berkecimpung pada tanaman anggrek misalnya Bapak Handoyo
Hardjo, Moling Sumardjo, Sutikno, Wirakusuma, Soerjanto dll, dan tentunya buku tersebut
sangat berguna untuk generasi penerus. Diluar negeri penulis buku umumnya sudah puluhan
tahun menggeluti masalah anggrek sehingga tahu secara tepat apa yang harus dilakukan untuk
tanaman anggrek. Pak Rizal telah memulai dengan anggrek Phalaenopsis dan siapa menyusul?

Dari uraian singkat diatas, bila diurai dengan menggunakan analisa SWOT, anggrek Malang
secara sederhana adalah sebagai berikut :

Kekuatan (S) : Potensi jenis anggrek yang melimpah, kondisi alam, tanah dan iklim yang
               mendukung, ketersediaan tenaga kerja yang cukup

Kelemahan (W) : Skla usaha masih terbatas, kualitas masih perlu peningkatan, kontinuitas
              pasokan tidak terjamin, kebijakan ekspor kurang mendukung, sistem informasi
              pasar dan teknolohi terbatas, serta kerjasama antara perilaku usaha juga masih
              terbatas.

Peluang (O) : Permintaan pasar tanaman anggrek baik didalam dan luar negeri semakin
               meningkat.

Ancaman (T) : Masuknya anggrek impor dan tuntutan standart mutu.



Dari gambaran analisa SWOT tersebut diatas jelas bahwa para penganggrek di Malang mau tidak
mau harus berani mulai melakukan perubahan-perubahan dala perilaku usaha anggrek. Ada
beberapa langkah yang mungkin dapat dilakukan untuk menatap masa mendatang semakin cerah
dengan cara antara lain :

      1. Meningkatkan motivasi usaha agribisnis anggrek dari skala kecil menjadi skala
         menengah/ besar.

      2. Melakukan pertemuan/ komunikasi antara pelaku usaha anggrek untuk memecahkan
         masalah-masalah tehnis dan ekonomis yang timbul.

      3. Mengembangkan/ mencari teknologi inovatif (varietas, bibit dan budidaya)

      4. Melakukan promosi dan kontak bisnis yang lebih aktif

      5. Menerapkan sistem manajemen mutu.

      6. Mengembangkan sistem informasi anggrek.



Dari keenam pendekatan tersebut diharapkan para penganggrek dapat memperkuat basis
produksi dan menerapkan jaminan mutu yang mengacu pada preferensi dan meningkatkan akses
pasar sehingga mempunyai daya saing yang kuat yang tidak hanya dengan para pelaku usaha di
luar negeri tetapi juga didalam negeri sendiri. Dimasa mendatang diharapkan anggrek di Malang
sudah merupakan suatu industri tanaman hias yang berdaya saing. Pada sisi lain apapun yang
akan dilaksanakan oleh para pelaku usaha anggrek tidak terlepas dari dukungan pemerintah
daerah maupun pusat, untuk itu mudah-mudahan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan saat ini
dan mendatang tentunya diahrapkan dapat mempercepat tumbuh dan berkembangnya anggrek di
Malang.




MANFAAT

menyerap gas-gas polutan di dalam ruangan




Dendrobium adalah jenis anggrek terbesar kedua setelah Bulbophylum dengan lebih dari 1200
jenis yang terdapat dibenua Asia dan Pacific, serta jenis anggrek yang paling disukai kedua
setelah Cattleya. Tumbuh secara epiphytic dan kadang-kadang lithophytic, sympodial, batang
bulp dengan berbagai ukuran, dapat berbunga selama 1 bulan. Ditemukan mulai dari ujung timur
India, seluruh Asia, China dan diseluruh kepulauan Pacific yang mencakup Australia, sampai
Austria. Bagian-bagian dari bunga sebagai berikut : Sepal di belakang, daun bunga, sepal,
labellum, kolom. Species Pertama yang diidentifikasi : Dendrobium moniliforme [L.}Sw. 1799

Daftar Dendrobium Spesies Yang Berhasil Di Identifikasi / List of Dendrobium A Success
                                Species Identifying
No.      Nama Dendrobium Spesies / Name Of
                                                         Asal / From           Gambar / Picture
Urut           Dendrobium Species

        Dendrobium aberrans Schltr. 1912 SECTION
  1                                                   Papua New Guinea
                       Latourea



        Dendrobium acerosum Lindl. 1841 SECTION Borneo/Kalimantan, Sulawesi,
  2         Aporum SUBSECTION Strongyle         Sumatra, Malaysia, Thailand,
                     [Lindl.]J.J.Sm.                    dan Birma



            Dendrobium acianthum Schltr. 1912
  3                                                         PNG
                SECTION Oxystophyllum



                                                   Himalaya, Hainan-China,
           Dendrobium acinaciforme Roxb. 1878       China, Malaysia, Laos,
  4
                 SECTION Crumenata                  Kamboja, Vietnam dan
                                                           Molucca




      Anggrek dendrobium adalah salah satu jenis anggrek yang kaya warna dan panjang
      umur. Menanam dan merawatnya mudah. Pupuk, siram, dan tempatkan di tempat yang
      tepat. Bunga mekar mewangi. Ini tips dan trik menanam sekaligus merawat
      dendrobium.
                                               Klik untuk melihat foto lainnya... Menanam
dendrobium tidak sulit, cukup sediakan media tanam yang baik. Bisa berupa arang kayu, pecahan
genteng, ijuk kelapa, dan pakis. Agar dapat tumbuh dengan baik, ganti media tanam setiap enam
bulan sekali.

Selain media tanam yang baik, perhatikan juga nutrisi yang harus diberikan. Tanpa nutrisi yang
pas, dendrobium tidak akan bisa tumbuh dan berbunga dengan baik. Agar selalu berbunga,
berikan pupuk NPK secara teratur. Untuk pemupukan, lakukan sesuai kebutuhan. Pemberian
nutrisi akan membantu pertumbuhannya.

Seperti jenis anggrek pada umumnya, dendrobium dapat tumbuh sehat pada suhu 15-28 derajat
celcius. Kelembapan yang dibutuhkan adalah 60%-85%. Untuk mendapatkan kelembaban yang
pas, lakukan penyiraman dua kali sehari, pagi dan sore hari.

Cermati juga soal penempatan. Tempatkan dendrobium di tempat yang teduh, jauh dari sinar
matahari langsung. Jika perlu pasang paranet di atas lokasi tanam. Untuk menghindari kutu, atau
ulat, semprotkan insektisida, satu sampai dua kali sebulan. (Dewi/Anissa/ Idea Online)



PEMUPUKAN PADA TANAMAN ANGGREK DENDROBIUM
(Saturday, 09 December 2006) - , ditulis oleh Administrator - Terakhir diperbaharui (Thursday, 14 December 2006)
Anggrek merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang mempunyai potensi untuk dikembangkan
di Jakarta, baik
sebagai bunga potong maupun tanaman dalam pot.
Salah satu jenis bunga yang banyak dikembangkan di Jakarta adalah anggrek Dendrobium. Selain
tingkat kebutuhan
konsumen akan bunga anggrek Dendrobium cenderung meningkat, harganya pun cukup tinggi.
Dalam membudidayakan tanaman anggrek Dendrobium, media yang digunakan tidak cukup
menyediakan unsur-
unsur
yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya, sehingga perlu diberi pupuk, baik organik maupun anorganik.
Anggrek
Dendrobium merupakan tanaman epifit, sehingga penyerapan hara melalui akar sangat sedikit karena itu
penyerapan
hara dapat ditingkatkan dengan cara memberikan pupuk melalui daun.
Selama ini pupuk majemuk yang digunakan petani adalah: Hyponex, Gaviota, Cristalon, dan lain-lain,
sementara harga
pupuk tersebut akhir-akhir ini meningkat. BPTP Jakarta telah melakukan pengkajan beberapa jenis pupuk
pada tanaman
anggrek Dendrobium sebagai salah satu upaya mendapatkan pupuk pengganti (alternatif) yang efektif
dan efisien.

JENIS DAN MANFAAT PUPUK
-
Pupuk Nitrogen (N) berpengaruh meningkatkan pertumbuhan tanaman. Tetapi bila diberikan secara
berlebihan, tanaman
mudah terserang penyakit dan pembentukan bunga menjadi terhambat.
-
Pupuk Phospor (P) berpengaruh untuk merangsang pembungaan. Kekurangan unsur P menyebabkan
pertumbuhan
tanaman terhambat.
-
Pupuk Kalium (K) merangsang pertumbuhan akar dan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit.
Kekurangan unsur
K menyebabkan terhambatnya proses fotosintesa dan jumlah tangkai bunga menurun.

PEMBERIAN PUPUK
Pemberian pupuk pada tanaman anggrek Dendrobium disesuaikan dengan tahap pertumbuhan tanaman
yaitu:
1. Dendrobium bibit (Seedling) membutuhkan pupuk dengan perbandingan N:P:K sebanyak 60:30:30.
2. Dendrobium ukuran sedang tumbuh membutuhkan pupuk dengan perbandingan
N:P:K sebanyak 30:30:30.
3. Dendrobium yang sedang berbunga membutuhkan pupuk dengan perbandingan N:P:K sebanyak
10:60:10.
4. Dosis untuk pupuk daun yang berbentuk kristal adalah 1 gram/liter dan dosis untuk pupuk berbentuk
cairan adalah 2
cc ? 3 cc dilarutkan dalam 1 liter air.
5. Pemupukan dilakukan seminggu sekali dengan menyemprotkan ke seluruh bagian tanaman.
6. Sebaiknya tidak menyiramkan pupuk ke media karena tidak efisien, hanya ujung akar yang
memanfaatkanya.
7. Waktu penyemprotan sebaiknya pada pagi atau sore hari.
8. Jika cuaca mau hujan tunda pemupukan karena pupuk yang diberikan akan tercuci sebelum diserap
tanaman.


HASIL KAJIAN
Pupuk yang dikaji terdiri dari:
a) 30 gr NPK + 5 cc Metalik/10 lt,
b) 5 gr Dekastar + 5 cc Metalik/10 lt,
c) 40 cc Herbasri/10 lt.
Bibit anggrek yang digunakan berasal dari kultur jaringan dengan ukuran bibit 10 cm yang ditanam pada
pot tanah
berdiameter 15 cm.
Pot diisi dengan pecahan batu bata sampai 1/3 bagian tinggi pot.
Selanjutnya anggrek ditanam pada bagian tengah pot yang telah berisi media.
Pemupukan pertama dilakukan pada saat tanaman telah berumur 1 minggu dengan cara disemprot
melalui daun dan
diulang tiap minggu.
Pemeliharaan tanaman dilakukan secara rutin terutama penyiraman. Pengendalian terhadap ulat daun
digunakan
Dithane 0,2%.
Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk NPK ditambah unsur mikro Metalik cenderung
memberikan
pertumbuhan yang terbaik diikuti oleh penggunaan pupuk Dekastar + Metalik dan penggunaan pupuk
Herbasri.

Sumber: LIPTAN BPTP JAKARTA, No.: 02/RL/LIPTAN/BPTP JKT/2002
http://jakarta.litbang.deptan.go.id/klinikagribisnis/ - Klinik Agribisnis DKI Jakarta Powered by Mambo Open Source Generated: 29 October, 2008, 16:16




Membesarkan Anggrek Dendrobium

Tanaman anggrek me-rupakan sebuah keluarga (famili) yang terdiri atas pu-luhan marga
(genus) dan ra-tusan jenis (spesies), serta ribuan varietas (subspesies). Setiap spesies, apalagi
varietas, dapat disilangkan de-ngan spesies / varietas lain, untuk ''menciptakan'' spesies dan
varietas baru.

Salah satu genus anggrek yang menawan adalah dendrobium. Selain bunganya indah, tanaman
ini juga memiliki beberapa keunggulan ketimbang anggrek biasa. Perawatannya lebih mudah,
daya tahan bunga lebih lama (3-6 bulan), dan bisa menghasilkan berbagai hibrida baru yang unik
dan langka.

Harganya relatif terjang-kau, mulai dari Rp 10.000 hingga ratusan ribu dan jutaan rupiah. Dalam
berbagai pameran tanaman hias, stan-stan dendrobium selalu di-banjiri pengunjung. Ini
membuktikan kalau tanaman yang termasuk kelompok anggrek panas ini sangat elok di mata
penggemarnya.

Empat Segmen

Pembibitan dendrobium terbagi dalam empat segmen yang saling terkait. Segmen pertama, dari
botol ke kompot. Kedua, dari kompot ke seedling.

Ketiga, dari seedling ke tanaman remaja. Keempat, dari tanaman remaja ke pembungaan.

Pemula dianjurkan un-tuk mencoba segmen terakhir dulu. Jika sudah menguasai, keterampilan
dapat diting-katkan bertahap dengan menggeluti segmen ketiga, kedua, dan yang tersulit segmen
pertama. Artinya, segmen pertama hanya bisa dilakukan oleh penangkar yang sudah mahir.

Dalam segmen pertama, penangkar bisa melakukan persilangan antarspesies un-tuk
menghasilkan aneka hibrida baru yang langka, unik, dan menarik.

Material yang diperlukan adalah botol, yang berisi calon bibit (bisa dibeli di beberapa nursery
yang bona-fid).
Dari botol, calon bibit dipindah ke pot kecil (diameter 15 cm). Setiap pot diisi 25-30 bibit.

Karena itulah, metode ini disebut community pot, disingkat compot atau kompot. Artinya, satu
pot digunakan untuk beberapa bibit tanaman.

Lama pemeliharaan dalam kompot sekitar 3-4 bulan. Be-berapa nursery kini menye-diakan bibit
dendrobium da-lam bentuk kompot. Jadi penggemar / calon penangkar bisa meneruskan
pemeliharaan ke segmen kedua, dari kompot ke seedling (persemaian).

Pada segmen inilah tanaman dipindah ke pot-pot individual (diameter 8 cm). Lama pemeliharaan
sekitar 4 bulan. Selanjutnya saat berumur 7-8 bulan, tanaman dipindah ke pot individual
berdiameter 15 cm. Inilah segmen ketiga, di mana tanaman sudah memasuki fase remaja.

Apabila tingginya sekitar 2-3 cm, atau telah tumbuh 3-4 lembar daun, tanaman dipindah ke
kebun atau pot besar. Pada segmen keempat inilah tanaman dipelihara sampai berbunga. Segmen
ini sangat dianjurkan untuk pemula.

Beberapa nursery juga menyediakan dendrobium segmen keempat, sehingga kita tinggal
menanamnya di media tanam yang dikehendaki (kebun/pot).

Ia bisa dipelihara sampai berbunga. Tentunya dibutuhkan beberapa sarana dan prasarana sebelum
memindah bibit remaja dalam pot ke media tanam.

Mengoleksi dendrobium dengan membesarkan sendiri bibit sejak kecil memiliki banyak
keuntungan. Antara lain lebih ekonomis, karena harganya lebih murah. Selain itu, tanaman
cenderung lebih sehat. (Arief Ariyadi-32)

								
To top