unsur psikologis
Description
Unsur psikologis tokoh lasiyem dalam novel musim semi lupa singgah di Sizi karya Naning Pranoto.
Document Sample


BY : BERYN
I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Karya sastra merupakan hasil pemikiran dan cermin dari sebuah budaya
kelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan (Nurgiyantoro, 2001:89).
Sebagai manusia yang hidup diantara manusia lain, pengarang mengamati dan
peka terhadap semua gejolak yang terjadi di lingkungan sehingga pengarang dapat
melahirkan karya-karya yang memang berasal dari dirinya sendiri.
Kompleksitas unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra, hal ini
menuntut kepada kita untuk mengkaji sastra agar memiliki suatu kepekaan emosi
atau perasaan dalam menikmati unsur-unsur keindahan sastra. Novel tidak hanya
serangkain tulisan yang menggairahkan ketika dibaca tetapi merupakan struktur
pikiran yang tersusun dari unsur-unsur yang padu (Santosa dan Wahyuningtyas,
2009:7), maka berangkat dari upaya menangkap salah satu unsur dalam
kandungan karya sastra yaitu lewat telaah tokoh dan penokohan tekstual sastra
dengan pendekatan psikologi inilah dilakukan penelitian yang diberi judul
Analisis Aspek Psikologis Tokoh Lasiyem dalam novel Musim Semi Lupa
Singgah di Shizi karya Naning Pranoto.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis telah merumuskan
masalah sebagai berikut :
1) Bagaimanakah kondisi aspek psikologis tokoh Lasiyem sewaktu masih
menjadi bakul gendong dalam novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya
Naning Pranoto?
2) Bagaimanakah kondisi aspek psikologis tokoh Lasiyem setelah diperistri oleh
tokoh Nick dalam novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning
Pranoto?
1
BY : BERYN
3) Bagaimanakah kondisi aspek psikologis tokoh Lasiyem setelah bergaul
dengan tokoh Teddy dalam novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya
Naning Pranoto?
C. TUJUAN
Tujuan Umum
Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang dikemukakan
di muka, maka secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan
kondisi aspek psikologis tokoh Lasi yang terdapat dalam novel Musim Semi Lupa
Singgah di Shizi karya Naning Pranoto.
Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi atau
gambaran yang obyektif tentang :
a. Kondisi aspek psikologis tokoh Lasiyem semasih menjadi bakul gendong
dalam novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning Pranoto.
b. Kondisi aspek psikologis tokoh Lasiyem setelah diperistri oleh tokoh Nick
dalam novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning Pranoto.
c. Kondisi aspek psikologis tokoh Lasiyem setelah bergaul dengan tokoh Teddy
dalam novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning Pranoto.
D. MANFAAT
Hasil dari penelitian ini ditujukuan bagi kemaslahatan manusia. Yang
paling dominan adalah bahwasannya penelitian ini difokuskan bagi masyarakat
luas pada umumnya dan masyarakat Lamongan pada khususnya. Dengan adanya
penelitian semacam ini diharapkan masyarakat dapat bercermin dan belajar
banyak mengenai hal- hal dalam hidup. Kebudayaan lampau menyisahkan
ketertarikan tersendiri yang sarat akan petuah dan nasehat. Nasehat yang ingin
disampaikan oleh penutur atau pengarang itulah yang sudah seharusnya diserap
2
oleh penikamat karya sastra agar sebuah karya sastra tidak sia- sia karena tidak
dimaknai.
Bagaimanapun sudah sepantasnya kita menjaga kebudayaan kita sendiri.
Kebudayaan daerahlah yang nantinya akan menjadi cikal bakal kebudayaan
nasional. Jika bukan kita siapa yang akan memknai apa yang terkandung di
dalamnya. Selain itu manfaat lainnya adalah dengan adanya penilitian semacam
ini memotifasi para generasi muda (mahasiswa) agar senantiasa peka pada apa
yang ada disekitarnya. Selain itu mendorong mahasiswa menghargai kebudayaan
daerah yang mulai tersisi oleh jaman. Memaknai karya sastra tersebut, kemudian
merefleksikan dalam kehidupan sehari- hari. Generasi mudalah yang akan
menjadi ujung tombak bagi kelangsungan masa depan bangsa.
II. KAJIAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA
A. KAJIAN TEORI
Karya sastra merupakan sebuah struktur yang kompleks, struktur adalah
susunan atau tata unsur-unsur yang saling berhubungan antara bagian satu dengan
yang lain (Santosa dan Wahyuningtyas, 2009:53). Karya sastra novel merupakan
struktur yang bermakna. Novel tidak sekedar serangkaian tulisan yang
menggairahkan ketika dibaca, tetapi merupakan struktur pikiran yang tersusun
dari unsur-unsur yang padu. Abrams (dalam Santosa dan Wahyuningtyas,
2009:53) menyatakan bahwa struktur karya sastra dapat diartikan sebagai
susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi
komponennya secara bersama membentuk komponen yang indah.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Untuk mengetahui keaslian atau keotentikan penelitian ini perlu adanya
tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka adalah uraian sistematis tentang hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu yang berkaitan dengan
masalah yang diteliti(Sangidu, 2004: 10). Fungsi tinjauan pustaka adalah untuk
mengembangkan secara sistematik penelitian terdahulu yang ada hubungannya
3
dengan penelitian tentang sastra yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu, sebuah
penelitian memerlukan keaslian baik itu penelitian tentang sastra maupun bahasa.
Penelitian yang dilakukan oleh Februana (2009, UGM) berjudul “Aspek
Psikologis dalam Novel Nyali karya Putu Wijaya: Tinjauan Sosiologi Sastra”.
Hasil penelitian Februana adalah: 1) aspek konflik psikologis Kropos dengan
Jendral Leonal, 2) Aspek psikologis tokoh utama, yakni Kropos yang memiliki
korelasi dengan watak ideologi gerombolan Zabaza yang mirip dengan
kekomunismenan.
Penelitian Aminatul Fajriyah (2010, UNES) ”Masalah-Masalah psikologis
dalam Kumpulan Naskah Drama Mengapa Kau Culik Anak Kami Karya Seno
Gumira Ajidarma” Hasil penelitian ini adalah berdasarkan analisis psikologis
sastra dalam kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami yaitu (1)
kejahatan, (2) penindasan, (3) pelacuran. Kejahatan terdapat dalam drama
“Tumirah Sang Mucikari”, “Mengapa Kau Culik Anak Kami”, “Jakarta 2039”.
Penindasan dan pelacuran terdapat dalam drama “Tumirah Sang Mucikari”,
sedangkan faktor yang memunculkan adanya masalah psikologis yaitu faktor
sosial, faktor alam, dan faktor biologis. Faktor psikologis terdapat dalam drama
“Tumirah Sang Mucikari”, “Mengapa Kau Culik Anak Kami”, “Jakarta 2039”,
sedangkan faktor alam dan faktor biologis hanya terdapat dalam drama “Tumirah
Sang Mucikari”.
III. METODE
A. OBJEK PENELITIAN
Obyek dalam penelitian ini adalah aspek-aspek psikologi yang berkaitan
dengan proses aktualisasi diri tokoh Lasiyem dalam Novel Musim Semi Lupa
Singgah di Shizi karya Naning Pranoto.
B. METODE ANALISIS DATA
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kualitatif.
Menurut Satoto (1991:15), analisis kualitatif dapat digolongkan ke dalam metode
4
BY : BERYN
deskriptif yang penerapannya bersifat menuturkan, memaparkan, memberikan,
menganalisis, dan menafsirkan.
C. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Menurut Subroto (1992:34) data adalah semua informasi atau bahan yang
disediakan oleh alam (dalam arti luas) yang harus dicari atau dikumpulkan dan
dipilih penulis. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa
teknik pustaka. Teknik pustaka yaitu teknik menggunakan sumber-sumber tertulis
untuk memperoleh data.
IV. PENYAJIAN DATA
A. PENYAJIAN
Teknik penyajian data yang digunakan dalam penelitian ini melalui beberapa
tahapan, yaitu (1) deskripsi korpus data, (2) interpretasi data, dan (3) deskripsi
kualitatif tokoh utama dalam novel sebagai kesimpulan data.
a. Pertama-tama, peneliti mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan tokoh
Lasiyem dalam Novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning
Pranoto.
b. Data-data yang telah terkumpul tersebut direduksi dan diklasifikasikan sesuai
dengan permasalahan yang ada, dalam hal ini klasifikasinya adalah deskripsi
kepribadian dan proses aktualisasi diri tokoh Lasiyem. Klasifikasi data ini
dimaksudkan untuk mengorganisasikan data agar data-data dapat
mengarahkan penelitian ini kepada deskripsi kepribadian dan proses
aktualisasi diri tokoh Lasiyem. Reduksi dan klasifikasi data juga dimaksudkan
agar analisis nanti dapat menjadi lebih tajam kepada pokok persoalan.
Reduksi data tidak berhenti di sini saja akan tetapi reduksi data selalu
berlangsung dalam penelitian tentang kepribadian dan proses aktualisasi diri
tokoh Lasiyem ini.
5
c. Data-data tentang deskripsi kepribadian dan proses aktualisasi diri tokoh
Lasiyem ini disajikan dalam bentuk teks naratif yang tersusun secara
sederhana dan padat sehingga data-data yang berisi informasi tentang proses
aktualisasi diri tokoh Lasiyem dapat tersusun secara padu.
d. Kesimpulan atau makna-makna yang muncul dari data-data yang telah sajikan
tadi, diuji kekokohannya dan kecocokannya dengan proses aktualisasi diri
tokoh Lasiyem sehingga data-data tersebut dapat menjadi dasar yang kuat
dalam analisis proses aktualisasi diri tokoh Lasiyem.
B. PEMBAHASAN
Berikut ini disajikan sinopsis dan beberapa unsur psikologis novel Novel
Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning Pranoto. untuk memudahkan
pemahaman inti cerita:
Dambaan keturunan anak dari rahimnya buah hasil perkawinannya dengan
Nick, Nicholas Evans, suaminya, suami yang telah mengangkat kehidupannya
dari seorang bakul gendong di pasar Beringharjo, Yogya, menjadi sebagai
Nyonya Lasi Evans di Melbourne, Australia; sehingga Lasiyem kemudian
memburu cinta sejatinya terhadap Wang Jinshu yang biasa dipanggil Teddy, guru
les bahasa Mandarinnya. Teddy, pemuda yang usianya lebih pantas menjadi
anaknya. Hal ini terjadi di Shizi disaat ia dan suaminya menikmati liburan musim
semi, sambil suaminya belajar mendalami melukis karakter huruf Cina dan
kalligrafi pada guru lukis bernama Tan- Xiansheng.
Nick memang suami penyayang yang bertanggung jawab baik secara lahir
dan batin, secara moral maupun material, yang telah berjasa mengangkat
martabatnya dari gadis desa, gadis kere, menjadi munggah mbale, menjadi
perempuan gedongan, dalam golongan priyayi. Akan tetapi, soal keinginannya
memiliki anak dari hubungan perkawinan mereka, Nick langsung menolak
mentah-mentah. Nick khawatir tidak bisa menjadi ayah yang baik, sebab ia
6
memiliki pengalaman traumatik masa kecil akibat ditelantarkan oleh ayahnya
yang brengsek, yang membuangnya ke panti asuhan dan membunuh ibunya dalam
penderitaan panjang.
Nick memang telah melakukan operasi vasektomi, sehingga praktis tidak
akan menghasilkan keturunan. Permasalahan keinginan istrinya memiliki anak,
Nick bersedia mengadopsi pemuda Teddy sebagai anak angkatnya yang sekaligus
bisa menjadi guru les bahasa Mandarin bagi Lasiyem. Namun demikian, bagi
Teddy, Ibu Lasi (Nyonya Lasi Evans/Lasiyem) sudah dianggap layaknya ibunya
sendiri. Sedangkan Teddy bagi Lasiyem yang sebenarnya termasuk istri yang
setia kepada suami, namun begitu mulai mengenal Teddy, Lasiyem mulai kagum
terhadap kepribadian dan gaya penampilannya yang dimiliki pemuda tersebut
yang berbeda dengan pemuda Cina pada umumnya. Teddy adalah pemuda yang
cerdas, menguasai bahasa Inggris dengan sangat bagus, juga memiliki selera lidah
seperti orang Indonesia. Karena nenek buyutnya pernah lama tinggal di Solo.
Panggilan Ibu dari Teddy terhadapnya membuat Lasiyem merasa tersanjung dan
membuat Lasiyem terkesan serta semakin simpati kepada guru les bahasa
Mandarinnya tersebut.
Kekaguman terhadap Teddy yang cerdas, sopan, berwawasan luas,
berpenampilan menarik serta memiliki kepribadian yang baik; kekaguman yang
berbuah rasa simpati; rasa simpati berlebihan sehingga membuatnya bertarung
dalam konflik batin antara cinta oleh bias amour atau cinta platonik terhadap
Teddy; ditambah dambaannya akan anak dari rahimnya sendiri atas
perkawinannya dengan Nick; serta sikap pandangan Nick yang justru tidak
menyukai kehadiran anak akibat traumatik masa kecil Nick sehingga telah
mengambil keputusan melakukan operasi vasektomi; beberapa hal inilah yang
membuat pertarungan batin dalam diri Lasiyem semakin bergolak. Kendati saran-
saran dari sahabatnya di Jakarta, yaitu Farida, atas konflik psikologis yang
dialaminya cukup bernilai sebagai nasehat yang arif dan solutif, Lasiyem tetap
belum mampu mengelak dari kenyataan bahwa ternyata cinta sejatinya hanya
7
tertuju kepada Teddy yang tumbuh seiring musim semi di Shizi. Sedangkan
cintanya kepada sang suami tak lebih dari sekadar pengabdian dan balas jasa.
Walaupun perselingkuhan cinta segitiga ini hanya berkecamuk dalam diri
Lasiyem dan tak pernah terungkap kepada siapa pun-kecuali kepada sahabatnya,
Farida- Nick (suaminya) dan juga Teddy tak pernah tahu perang batin dalam diri
Teddy dalam menyikapi rasa cinta, hal ini cukup berlangsung lama. Klimaksnya
adalah saat dirinya diajak menyaksikan pertunjukan Opera Peking oleh suaminya,
Nick, kecemburuan Lasiyem meledak dalam batinnya sehingga membuatnya
serasa oleng hilang kesadaran dan keseimbangan diri, terjatuh dengan kepala
membentur tiang besi. Kejadian ini dilatari oleh adegan Teddy berciuman mesra
dengan gadis Peony sebagai ungkapan rasa salut gadis Shizi, yang mungkin
pacarnya Teddy, atas penampilan akting Teddy dalam lakon opera yang berperan
sebagai Satria Putih yang digelar di gedung teater Bumi Emas. Gejolak konflik
batin berupa kecemburuan yang hanya dipendam sendiri oleh Lasiyem itu
sebenarnya sudah menaik tensinya saat beberapa gadis penonton di depan kursi
tempat duduknya mengomentari ketampanan penampilan Teddy yang
mengagumkan sebagai Satria Putih. Terlebih lagi saat suaminya mengajak dirinya
menemui Teddy di balik panggung seusai pertunjukan dengan maksud
mengucapkan rasa salut, Lasiyem mengatahui betapa Teddy mendapat ciuman
kekaguman bertubi-tubi dari sekian banyak gadis penggemarnya yang puncaknya
adalah kehadiran gadis yang oleh teddy disebut Peony.
Beban psikologis oleh perasaan cemburu, perasaan bersalah telah
mengkhianati suaminya, Nick; dambaan batinnya akan kehadiran anak dari
rahimnya yang seandainya didukung oleh suaminya mungkin anak itu telah ada
dan bisa jadi telah sebesar Teddy yang berusia 18 tahun; semua perasaan ini
berkecamuk bercampur cemburu yang meledak akibat konflik batin apalagi
melihat adegan Teddy dan Peony berciuman mesra sedemikian lama. Inilah yang
membuat Lasiyem merasa kepalanya pusing, mual dan sakit mendadak dan
terjatuh dengan kepala membentur tiang besi yang menyebabkan dirinya harus
segera dilarikan ke rumah sakit. Persiapan operasi esoknya untuk luka pendarahan
8
di kepalanya, tak pernah terlaksana karena Lasiyem telah meregang dalam ilusi,
halusinasi, Lasiyem telah menyabung nyawa. Demikian juga suara menghiba dari
Teddy bahwa musim semi masih menanti di Shizi, suara yang memotivasi untuk
daya hidup, daya bertahan hidup dari suara Teddy yang menunggui sosok yang
telah dianggap ibunya, sosok tubuh Lasiyem, ternyata tak mampu menyelamatkan
nyawa Lasiyem. Akhirnya…, musim semi-tahun nanti-pasti lupa, singgah di
Shizi.
A). Deskripsi Temuan Kondisi Psikologis Tokoh Lasiyem dalam novel Musim
Semi Lupa Singgah Di Shizi karya Naning Pranoto.
Sebelum memasuki tahapan analisis aspek psikologis tokoh Lasiyem,
berdasarkan hasil analisis novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning
Pranoto, dapat diketahui bahwa struktur novel dan unsur-unsur pembentuknya
sebagaimana paparan berikut ini.
a) Alur Cerita novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning Pranoto.
Alur Cerita (Plot atau Struktur Cerita) novel dibuat berupa alur maju
dengan setting kota Shizi di daratan Tiongkok sebagai tahap eksposisi. Hal ini
sangat tepat sesuai judul cerita. Terdiri dari bab I dan Bab II. Sedikit set back
sebagai kilas balik dimaksudkan sebagai pengembangan cerita yang
mengisahkan latar belakang tokoh Lasiyem mulai dari masa kecilnya yang
miskin, papa, tetapi gigih giat bekerja hingga nasib mengantarkan dirinya
diperistri oleh lelaki Londo bagus, menempati hanya bab III. Bab-bab
selanjutnya ke IV dan seterusnya kembali ke alur maju menuju tahapan konflik
psikologis tokoh Lasiyem akibat perselingkuhan batin. Konflik mencapai
klimaks dipaparkan justru di akhir bab yaitu bab X yang sekaligus ditutup
dengan penyelesaian catastrophe yaitu akhir yang menyedihkan dengan
kematian tokoh Lasiyem.
b) Tokoh dan Penokohan novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning
Pranoto.
9
Dengan sudut pandang yang berkaitan posisi pencerita menggunakan
“akuan” yaitu pencerita berada dalam cerita sehingga memiliki kedudukan
sebagai tokoh cerita. Hasil analisis menyimpulkan bahwa Lasiyem termasuk
tokoh utama (aku tokoh), sedangkan Nick (Nicholas Evans), suami Lasiyem,
dan Teddy, yaitu guru les bahasa Mandarin di Shizi adalah tokoh pembantu
karena keberadaannya membantu membangun struktur cerita. Beberapa nama
sebagai tokoh pelengkap yaitu (a) Tan-Xian Sheng (guru melukisnya Nick
tentang karakter huruf cina dan kalligrafi di Shizi), (b) Farida (sahabatnya
Lasiyem yang tinggal di Jakarta), (c) Mbah Urip yaitu nenek tirinya Lasiyem
di Yogya, (d) Pak Sumar, Ketua RT tetangga mbah Urip (saat Lasiyem masih
remaja di Yogya), dan (d) Mbak Ninik. Sebagai tokoh pelengkap tetapi
keberadaannya melengkapi bangunan struktur cerita.
Penokohan dalam novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning
Pranoto, hal ini berkaitan dengan karakter atau perwatakan dari masing-
masing tokoh. Berikut ini dideskripsikan gambaran perwatakan tokoh inti
(tokoh utama) yaitu Lasiyem, dan tokoh pembantu yaitu Nick dan Teddy.
1. Lasiyem, istri Nicholas Evans, seorang perempuan cantik yang memiliki
kepribadian, postur tubuh, dan raut wajah khas Jawa sebagai sosok pribadi
yang ulet, gigih dalam cita-cita masa kecilnya, setia kepada suami, amat
mendambakan kehadiran anak dari rahimnya dalam kehidupan bersama
suaminya tercinta Nicholas Evans.
2. Nicholas Evans, lelaki berdarah Irlandia yang menjadi warganegara
Australia. Sebagai pelukis realis yang memilih spesifikasi obyek lukisan
wanita dengan karakter dari berbagai suku bangsa. Memiliki kepribadian
yang penyayang terhadap istri baik secara lahir dan batin, secara moral
maupun material. Nick inilah yang mengangkat kehidupan Lasiyem dari
kehidupan kere menjadi munggah mbale, dari kehidupan masa remajanya
yang menderita sehingga menjadi perempuan gedongan. Walaupun usianya
terpaut 25 tahun dengan istrinya (saat menikah Lasiyem berumur 20 tahun
10
dan Nick berusia 45 tahun), namun soal bercinta-menyatu raga, mendaki
puncak Gunung Biru, Nick diakui oleh Lasiyem sebagai suami yang
memiliki gairah seks yang menggebu-gebu.
3. Teddy, nama sebenarnya Zhu Wang Jinshu yang dalam arti bahasa Mandarin
yaitu Macan Baja (Metal Tiger). Teddy adalah guru les bahasa Mandarin
yang mengajari Lasiyem secara privat. Teddy, pemuda berdarah Tionghoa-
Amerika, termasuk pemuda yang cerdas, selalu berpenampilan rapi, ulet
dan super aktif. Pemuda yang menganggap Lasiyem sebagai ibunya.
c) Tema novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning Pranoto.
Tema dan pengarang dalam novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi
karya Naning Pranoto, apabila dideskripsikan dalam suatu kalimat yaitu:
Perselingkuhan batin seorang istri bernama Lasiyem dengan pemuda bernama
Tedy saat musim semi di Shizi.
d) Ide dasar novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning Pranoto.
Ide dasar yang melandasi amanat dalam novel Musim Semi Lupa
Singgah di Shizi karya Naning Pranoto bisa dideskripsikan berikut:
1. Cinta sejati tidak tumbuh karena tujuan membalas budi.
2. Cinta dan perkawinan dengan perbedaan umur yang terpaut jauh selalu
memunculkan kompleksitas karakter yang secara psikologis cisa
mengundang permasalahan.
3. Cinta bisa terbiaskan karena amour menjadi cinta platonik.
4. Cinta sejati tidak harus saling memiliki. Cinta sejati memang tidak harus
diwujudkan dengan penyatuan raga. Cinta sejati tidak harus dibawa ke
pelaminan, diikat dengan tali perkawinan.
11
e) Setting novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning Pranoto
Ditinjau setting geografis yang melatari cerita, novel Musim Semi Lupa
Singgah di Shizi karya Naning Pranoto menggunakan setting tempat di
kawasan kota Shizi termasuk flat apartemen yang ditempati Lasiyem bersama
suaminya, Nick di Shizi saat memanfaatkan liburan musim semi di Shizi,
tempat antara Beijing dan Shanghai di daratan Tiongkok. Di samping itu juga
menggunakan setting pasar Beringharjo, setting pemukiman sempit di pinggir
sungai Code, kesemuanya di Yogya, sebagai variasi dalam pengembangan alur
cerita.
Selanjutnya, berdasarkan kajian analisis data tekstual novel Musim Semi
Lupa Singgah di Shizi karya Naning Pranoto, ditemukan beberapa aspek
psikologis sesuai tujuan penelitian atas tokoh Lasiyem yang selengkapnya
diidentifikasikan dan diklasifikasikan di bawah ini.
B) Deskripsi Temuan Kondisi aspek Psikologis tokoh Lasiyem semasih menjadi
bakul gendong dalam novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning
Pranoto
a) Aspek psikologis atas latar filosofi Jawa sebagai pembentuk kepribadian
jiwa Lasiyem adalah sabagai berikut:
1. Pendidikan kasih sayang, tampak pada teks berikut ini. “Kakakku,
Paidi, membantu ayahku, atau terkadang menjadi buruh nyangkul di
tegalan Pak Lurah. Apa yang dikerjakan Kang Paidi, tergantung
komando dari ayah. Yang jelas, Kang Paidi anak lanang yang taat.
Aku hormat, sayang dan tresno-asih kepadanya. Dia juga demikian
terhadapku. Pernah aku dibelikan baju baru ketika Lebaran, waktu itu
usiaku baru enam tahun. Baju itu kini masih kusimpan, karena punya
nilai historis tresno-asih”. (MSLSdS/33)
12
2. …”Bagaimanapun, kamu itu dari keluarga baik-baik. Meski kita miskin,
Yem, martabat adalah di atas segala-galanya. Saya tidak mau melihat
kamu jadi dolanannya lelaki, apalagi dolanannya Londo.” “Terima
kasih, Mbah, Simbah melindungiku’” tanggapku penuh haru, lalu
memeluk Mbah Urip erat-erat. Siang itu, aku baru menyadari bahwa
Mbah Urip menyayangiku. Kesdaran ini membuatku jadi tampil
percaya diri dan mantap menapaki masa depanku. (MSLSdS/41-42)
3. Penghiburan yang kulakukan adalah aku melihat sisi kebaikan Nick
yang oleh Mbah Urip sering dikatakan: “Nick itu seperti malaikat
penyelamat hidupmu.” (MSLSdS/57)
4. Kata Mbah Urip, “Nick mengangkat martabatmu, dari gadis desa, gadis
kere, menjadi munggah mbale!” (MSLSdS/57)
5. …Sedangkan Mbah Urip punya pendapat, “Iyem, punya suami lebih tua
itu enak, bisa ngemong kamu…. (MSLSdS/54)
6. … Lagi pula, aku dan Teddy berada di taman ini menjelang malam
yang oleh orang Jawa disebut wayah surup. Menurut kepercayaan
orang Jawa, banyak setan, roh jahat, dan demit bergentayangan pada
wayah surup. Maka para orang tua selalu melarang anak-anaknya
berada di luar rumah agar tidak kemasukan roh-roh jahat yang
gentayangan. Mbah Urip juga selalu melarangku berada di luar rumah
saat wayah surup tiba. Juga, kedua orangtuaku. Bulu kudukku tiba-tiba
berdiri berada di taman bersama Teddy yang berdiri mematung seperti
kayu. Aku ingin cepat-cepat pulang. “Teddy, ayo kita pulang. Hari
sudah mulai malam. kamu harus belajar dan Nick pasti sudah
menungguku. Kalau kita pulang terlambat, pasti Nick gelisah
memikirkan kita. Ayo, ayo kita pulang, Teddy.” (MSLSdS/104)
b) Aspek psikologis yang memotivasi Lasiyem untuk tetap hidup dan bisa
bersekolah, tampak pada data tekstual berikut.
13
1) “Hidup di kota lebih senang daripada hidup di desa. Tapi, kamu kalau
hidup di kota harus bekerja keras agar bisa hidup,“ kata Mbah Urip ketika
aku baru tiba dari Tuwuh, untuk tinggal bersamanya. “Jadi, kalau kamu
tinggal di kota bersamaku, tidak boleh bermalas-nalasan. Setiap hari kamu
harus bangun pagi, subuh-subuh, ikut aku jualan di pasar,” tegasnya. Aku
diam saja. Dalam kediamanku aku siap bekerja keras. Karena selama
hidup di Tuwuh aku sudah biasa bekerja keras. (MSLSdS/33)
2) …Di sini tiap hari kamu bisa makan nasi, walau lauknya seadanya.
Syaratnya, yaitu kamu harus mau bekerja,” Mbah Urip menegaskan. “Iya,
Mbah, saya siap kerja keras. Kerja apa saja mau. Yang penting bisa
membantu Simbah nyari makan. Iyem ndak mau menyengsarakan Mbah,”
janjiku membuat Mbah Urip berseri-seri. (MSLSdS/34)
3) “Ah, Mbah Urip bicara apa, sih? Saya masih kecil, belum mau mikir kawin.
Kalau punya duit, saya pengin sekolah, Mbah. Biar bisa kerja kantoran.
Biar dapat gaji gede,” … (MSLSdS/35)
c) Aspek psikologis atas peran serta kelompok studi mahasiswa Yogya sebagai
pendukung cita-cita Lasiyem, tampak pada data tekstual berikut ini.
1) …Sungguh mulia bakti mereka dan ini membuatku cinta dan hormat
kepada mereka. Lebih cinta lagi setelah aku menjadi murid mereka dan
dipuji sebagai murid yang cerdas. Dan ini membuat Mbah Urip bangga. Ia
tidak lagi memarahiku kalau aku belajar. Ia justru mendorongku giat
belajar. (MSLSdS/39)
2) mbak Ninik dan kawan-kawannya mendorongku masuk sekolah
formal….Kata Mbak Ninik, aku bisa langsung masuk ke kelas IV. Sayang,
Mbah Urip keberatan …. (MSLSdS/39)
d) Aspek psikologis Lasiyem atas kegigihan bekerja keras sambil bersekolah
sehingga mengantarkan perjalanan nasibnya menuju keberuntungan hidup di
14
BY : BERYN, MUSIM SEMI LUPA SINGGAH DI SIZI
masa depannya karena diperistri oleh Nick. Hal ini tampak pada temuan data
tekstual berikut.
1) “Tuan Nick, Iyem sudah saya kasih tahu mengenai hal itu. Dia mau dilukis,
tapi minta bayaran gede karena mau buat mbayar sekolah. Cucu saya ini,
Iyem, pengin sekolah,” Mbah Urip angkat bicara dengan penuh percaya
diri. Lagi-lagi, sikapnya ini membuatku terharu. (MSLSdS/43)
2) …Tak kusangka-sangka, Mbah Urip langsung menyebut angka yang
diperlukan untuk membayar sekolahku, sambil mengeluarkan selembar
kertas berstempel nama SD yang akan kumasuki. Sungguh, aku terkejut.
Persiapan Mbah Urip begitu lengkap untuk menghadapi Nick, agar aku
bisa masuk sekolah. Tanpa kusadari, tiba-tiba airmataku menetes dan
keharuan menggulung-gulung kalbuku. Betapa sayangnya Mbah Urip
kepadaku. (MSLSdS/43)
C) Deskripsi Temuan Kondisi aspek Psikologis tokoh Lasiyem setelah diperistri
oleh tokoh Nick dalam novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning
Pranoto
a) Aspek psikologis Lasiyem sebagai istri yang setia dalam melayani suami.
Hal ini tampak pada data berikut.
1) Setahuku, selama mengenal Nick, ia selalu tepat janji. Aku mulai
gelisah. Pemandangan Kota Antik yang jelita dan terhampar sebagai
view apartemenku tidak mampu meredakan kegelisahanku.
(MSLSdS/9)
2) Makan siang Nick masih utuh dan telah dingin. Oh, mana Nick? Mana
dia? Mengapa terlambat? Aku khawatir Nick mengalami kecelakaan
atau ada sesuatu yang menimpanya dan tidak ada orang yang
memberitahuku. Uhhh…, aku jadi semakin gelisah dan resah.
(MSLSdS/10)
15
b) Aspek psikologis Lasiyem berkaitan perkawinannya dengan Nick, yang
bagi Lasiyem tidak pernah mencapai klimaks dalam hubungan menyatu
raga. Hal ini banyak diungkapkan dalam novel ini, yaitu sebagai berikut.
1) Ah, ah, Nick! Suamiku memang selalu penuh gairah! Sedangkan aku,
aku tidak demikian. Mengapa? (MSLSdS/16)
2) Ya, aku tidak pernah merasakan kenikmatan dari apa yang disebut Nick
sebagai Gunung Biru. Karena bagiku amat sulit untuk mencapai
klimaks, karena Nick selalu meninggalkanku untuk memburu
kenikmatannya sendiri. Menurut penilaianku, Nick tidak pernah
memberiku kesempatan untuk menikmati klimaks. (MSLSdS/56)
c) Aspek psikologis Lasiyem yang amat mendambakan anak dari rahimnya
buah perkawinannya dengan Nick. Hal ini terdapat pada data tekstual
berikut.
1) kata Nick, aku selalu haus ilmu. Ya, itu dulu, ketika aku masih menjadi
buruh gendong. Tapi, sekarang setelah aku menjadi Nyonya Lasi
Evans, aku telah berubah. Yang benar adalah: aku haus anak.
(MSLSdS/58)
2) nick tidak suka aku hamil. Nick tidak suka aku punya anak. Nick
memang tidak menginginkan dariku maupun dari perempuan lain. Itu
ia katakan tiga bulan setelah kami menikah. (MSLSdS/58)
D) Deskripsi Temuan Kondisi aspek Psikologis tokoh Lasiyem setelah bergaul
dengan tokoh Teddy dalam novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya
Naning Pranoto
a) Gejala psikologis Lasiyem terhadap Teddy
1) …Dia itu kan boleh disebut sebagai Cina-Amerika. Ia tinggal di sini
baru dua tahun. Ya, selama dia belajar di Universitas Kota Antik ini,”
16
aku memberi alasan untuk menolak belajar bahasa Mandarin dengan
Teddy. (MSLSdS/14)
2) “Okay,” sahutku, kubuat seriang mungkin, agar Nick tidak tahu bahwa
sebetulnya aku kurang sreg punya guru bahasa Mandarin – Teddy.
(MSLSdS/15)
Data tekstual yang menunjukkan mulai tumbuhnya rasa simpati
Lasiyem terhadap Teddy, bahkan rasa cinta karena bias amour dan
platonik, serta yang mendasari inti cerita dalam novel ini, adalah sebagai
berikut:
1) Sungguh, aku sangat terkesan. Karenanya, Teddy yang berdiri di
depanku lalu kuperhatikan dengan sekasama. Oh, bukan main.
Ternyata, yang bagus tidak hanya bahasa Inggris-nya, tapi juga
matanya, hidungnya, rambutnya, bibirnya, dan tubuhnya sangat
jangkung….( MSLSdS/19)
2) Sungguh, aku suka sekali mendengarnya. Kalimat-kalimat itu
mengubah pendapatku mengenai dirinya yang semula kuanggap
sebagai ‘anak-anak’ tiba-tiba berubah menjadi lelaki dewasa.
(MSLSdS/21)
3) “Ah, tidak ada yang gawat, Ibu. Percayalah,” seru Teddy,
kalimatnya lembut memanggilku dengan manis: Ibu! Aku senang
sekali mendengarnya. Maka, lalu kutatap dia dalam-dalam.
(MSLSdS/23)
4) Jatuh cinta? Tubuhku bergetar oleh sensasi yang ditimbulkan oleh
bayangan sorot mata Teddy yang selalu tampak indah berkilauan
di pelupuk mataku. Mengapa aku jatuh cinta padanya?
…(MSLSdS/111)
17
b) Aspek psikologis Lasiyem atas perasaan jatuh cintanya kepada Teddy
hanya dicurahkan kepada sahabatnya yaitu Farida, nun di seberang,
Jakarta.
1) “Teddy, anaknya sangat polite – punya manner. Di antara kami, aku
dan Teddy tidak pernah melakukan apa-apa,” tegasku. (MSLSdS/83)
c) Aspek psikologis tokoh Lasiyem dalam memaknai hakekat cinta terhadap
Teddy, yang tidak terlepas dengan bagaimana perasaan cintanya terhadap
suaminya, Nick. Hal ini terdapat pada data tekstual berikut.
1) “Las, cintaku pada Maruli merupakan paduan cinta yang disebut alour
dan platonic. Yaitu, antara cinta birahi dan cinta putih, yang sifatnya
hanya saling memuja,” papar Farida. “Cintaku pada Nick?” selaku
bertanya spontan bernada bingung. “Rasanya bukan keduanya. Aku
hanya menjalani hidup bersama dengan dia.” (MSLSdS/81)
2) ‘Ya!” sahutku dengan perasaan mengambang. “Ida, itu karena aku tidak
mau berbuat salah terhadap diriku sendiri maupun terhadap Nick.
Juga, terhadap diri Teddy. Tolonglah, Ida …” (MSLSdS/82)
3) “Ya, karena aku tidak mau berbuat salah. Aku juga tidak mau
tenggelam dalam getar-getar perasaanku. Aku tidak tahan, Ida! Jeritku
tanpa malu-malu. (MSLSdS/82-83)
Padahal Lasiyem suatu ketika pernah secara spontan
memperlakukan Teddy seperti anaknya sendiri. Sedangkan Teddy,
memang menganggap Lasiyem layaknya ibunya sendiri. Perhatikan
temuan data berikut.
1) …Aku memberanikan diri menghampirinya. “Maaf, Teddy, ada apa
kau menangis, Nak?” tanyaku dengan menyebutnya: “Nak!” Sebutan
‘Nak’ meluncur dari mulutku begitu mulus. (MSLSdS/103)
18
2) …Sejak ia meneleponku malam itu dan mengakuiku sebagai ibunya,
sikap dan perasaanku padanya berubah. Relung-relung perasaanku
tidak bergetar lagi, bila aku menatapnya atau beradu pandang
dengannya. (MSLSdS/126)
3) …Yang jelas, ia berterus terang bahwa ia menganggapku sebagai
ibunya. …(MSLSdS/127)
d) Aspek psikologis tokoh Lasiyem di saat akhir hidupnya.
1) “… Puncaknya adalah ketika kita berdua menyusuri knal
yangmembingkai taman Kota Antik. Di taman itu kita nikmati aroma
musim semi di Shizi. Bila kau pergi, Ibu, musim semi parti lupa
singgah di Shizi,” kudengar suara lagi, suara yang amat kurindukan.
Itukah suara Teddy? (MSLSdS/148)
2) “… Ibu, bertahun-tahun lamanya aku merindukan hadirnya seorang
Ibu dan tiba-tiba saja aku menemukannya dalam dirimu di musim
semi di Shizi. Tapi, mengapa Ibu, saat kau kutemukan, kita hanya
punya waktu singkat untuk bersama-sama? Kondisi Ibu sekarang
dalam titik rawan ….” (MSLSdS/149)
3) …Mungkinkah aku diberi-Nya mukjizat? Mengingat diriku boleh
dikatakan tidak pernah melakukan sembahyang? … Kuikuti lagi
pembicaraan Nick dan Teddy. “Teddy, aku tidak pernah menyangka,
Lasi menghadapi kehidupan yang setragis ini. ia jatuh di gedung
teater, sehabis menonton pertunjukanmu – Opera Peking. Kepalanya
terbentur tiang besi, mengalami pendarahan serius. Darah di
kepalanya lalu menggumpal, menyumbat saraf-saraf otaknya. Hanya
dalam beberapa jam darahnya membusuk dan itu merusak jaringan
otaknya yang membuatnya lumpuh total,” Nick berbicara sambil
terisak-isak. … “Akulah yang bersalah. Aku mengajak Lasi ke
belakang panggung untuk menyalamimu. Ternyata, waktu aku ke
19
belakang panggung, suasananya sangat ramai. Begitu banyak gadis
mengerubutimu. Satu sama lain saling berdesakan dan tanpa kuduga-
duga Lasi jatuh, kepalanya terbentur tiang besi. oHh…Teddy,
seandainya aku tidak mengajak Lasi menjumpaimu di belakang
panggung, barangkali ia tidak akan begini … Lasi tidak akan
begini…” (MSLSdS/151)
4) Nick lalu meraung-raung. Pilu aku mendengarnya. Karena, karena,
aku paling tahu, mengapa aku jadi begini. Nick tidak bersalah, Teddy
juga tidak. Akulah yang bersalah. Aku yang bersalah! Oh, napasku
semakin tipis, tipis sekali dan kemudian melayang membaur bersama
serpihan-serpihan awan-awan yang berarak-arak: Selamat tinggal,
Nick (suamiku, pelindung hidupku!) Selamat tinggal, Teddy!
(kekasihku, jantung hatiku!) Selamat tinggal musim semi di Shizi!
(monumen kisah cintaku!). (MSLSdS/152)
V. SIMPULAN
Dengan mendasarkan pada hasil analisis aspek psikologis tokoh Lasiyem dalam novel
Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning Pranoto yang telah diuraikan pada bab
IV, beberapa temuan sebagai kesimpulan dideskripsikan berikut ini.
1. Novel Musim Semi Lupa Singgah di Shizi karya Naning Pranoto adalah suatu novel
yang lebih mendekati bentuk roman, karena ditinjau dari strukturnya menceritakan
kehidupan seseorang dari awal sampai meninggal.
2. Dengan menggunakan sudut pandang “akuan” yaitu pencerita berada di dalam cerita
yaitu sebagai tokoh Lasiyem (aku tokoh), sehingga secara psikologis aspek kejiwaan
tokoh cerita dapat ditelusuri lewat lakuan, dialog, perasaan serta jalan pikirannya baik
atas tokoh sendiri atau komentar dari tokoh lain terhadap tokoh yang dianalisis.
20
3. Inti cerita menggambarkan kehidupan secara psikologis seseorang (tokoh Lasiyem
sebagai aku tokoh) sebagai kere yang munggah mbale berkat Nick yng telah
menikahinya dan mengangkat martabatnya dari gadis lola-yatim piatu menjadi wanita
priyayi-Nyonya gedongan. Konflik batin yang hanya dirinya dan sahabatnya, Farida
di Jakarta yang tahu, mulai dirasakannya sejak ia jatuh cinta kepada Teddy setelah
mengenal sosok Teddy dengan segala penampilan dan kepribadiannya. Teddy yang
usianya layak sebagai anaknya, anak yang selama ini kehadirannya amat dirindukan
bisa terlahir dari rahimnya. Sebagai istri yang setia, Lasiyem juga tidak mau
berkhianat kepada Nick, suaminya, suami yang telah amat berjasa dalam hidupnya.
Oleh perasaan cinta yang dipendam sehingga berakibat kecemburuan yang bisa
meledak di dalam diri, hal inilah yang membuatnya mengalami kecelakaan sehingga
membuatnya tak tertolong dan meninggal dunia, meninggalkan musim semi sehingga
kelak pasti lupa singgah di Shizi.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Aminatul, Fajriyah. 2010. “Masalah-Masalah psikologis dalam Kumpulan Naskah Drama
Mengapa Kau Culik Anak Kami Karya Seno Gumira Ajidarma”. Skripsi. UNES
Februana. 2009. “Aspek Psikologis dalam Novel Nyali karya Putu Wijaya”. Skripsi.
UMM
Gorys, Keraf. 2001. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Flores: Nusa Indah.
Naning, Pranoto. 2003. Musim Semi lupa Singgah di Sizhi. Jakarta: PT Primamedia
Pustaka
Santosa, W.H dan Sri Wahyuningtyas. 2009. Pengkajian Prosa Fiksi. Purworejo:
Universitas Muhammadiyah Purworejo.
Suharianto, S. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.
21
Related docs
Other docs by beryntuti
PERBANDINGAN CERITA RAKYAT CINDERELLA DENGAN BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH
Views: 456 | Downloads: 0
Get documents about "