Fatwa Tarjih Muhammadiyah Hadits Maulid Nabi dan Hadits Sedekah tarjihmuhammadiyah blogspot com by 7K103y

VIEWS: 319 PAGES: 3

									                ADAKAH HADITS TENTANG
  KEWAJIBAN MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW DAN
BAGAIMANAKAH KEDUDUKAN HADITS TENTANG BERSEDEKAH UNTUK
           ORANG YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA?

                                     Pertanyaan dari:
                     Iluluddin, Agen SM No. 15, Manna Bengkulu
       (Disidangkan pada hari Jum'at, 6 Dzulqa'dah 1428 H / 16 November 2007 M)


Pertanyaan:

      Assalamu'alaikum Wr. Wb.
      Berhubung keterbatasan ilmu dalam mencari kebenaran terutama masalah agama
Islam saya mohon bantuan kiranya Bapak dapat menjelaskan:
1. Hadits yang dikemukakan khatib dalam berkhutbah berkenaan dengan memperingati
    hari kelahiran Rasulullah yang merupakan keharusan bagi umat Islam dengan alasan
    sebuah hadits. Setelah dikonfirmasikan ternyata hadits tersebut diperolehnya dalam
    buku khutbah (matan hadits terlampir). Yang menjadi pertanyaan saya, benarkah matan
    terlampir itu sebuah hadits? Kalau benar, bagaimana kedudukan hadits tersebut?
    Shahih, hasan, dhaif, atau yang lain?
2. Dalam buku berjudul "Pilihan Hadits Politik, Ekonomi Dan Sosial" yang disusun oleh
    S. Ziyad 'Abbas terbitan Pustaka Panji Mas Jakarta 1991 halaman 291 s.d. 294 tentang
    sedekah untuk orang mati (matan hadits terlampir). Yang menjadi pertanyaan saya, apa
    makna dan maksud hadits tersebut, dan bagaimana kedudukan hadits tersebut kalau
    dihubungkan dengan al-Quran surat an-Najm ayat 39 dan dengan hadits yang
    diriwayatkan Al-Bukhari maupun Muslim (dalam Tanya Jawab Agama Jilid I halaman
    117 dan 118 susunan Tim Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah)?
      Demikian, keberkenanan Bapak menjawab serta menjelaskan pertanyaan saya
tersebut di atas saya aturkan banyak terima kasih. Nasruminallah wa fathun qarib.
      Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Jawaban:

    Wa'alaikumussalam Wr. Wb.
    Berikut ini jawaban atas pertanyaan bapak:
1. Hadits yang bapak lampirkan pada lampiran no. 1 berbunyi:
             ْ                     ْ ُ                ُ ‫َّ ْ َّ ْ ك‬                                      ‫الن ي َّ هلل‬
   َ‫قَالَ َّبِ ُّ صَلي ا ُ عَلَْيهِ وَسَلمَ: مَن عَظمَ مَولِدِي ُْنت شَفِْيعًا لَه يَومَ ْالقِيَامَةِ، وَمَن أَْنفَ ق‬
                                                                         ْ                       ‫ن‬             ْ            ْ
                                              .ِ‫دِرهَمًا فِي مَولِدِي فَكَأََّمَا أَْنفَقَ جَبَالً مِن ذَهَبٍ فِي سَبِْيلِ اهلل‬
   Artinya: “Nabi saw bersabda: 'Barang siapa mengagungkan hari kelahiranku, niscaya
   aku akan memberi syafa'at kepadanya kelak pada hari kiamat. Dan barang siapa
   mendermakan satu dirham di dalam menghormati hari kelahiranku, maka seakan-akan
   dia telah mendermakan satu gunung emas di jalan Allah'.”
         Setelah kami lacak dan teliti dalam kitab-kitab hadits, kami tidak mendapatkan
   hadits tersebut. Kami cenderung untuk mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits
   maudhu' atau palsu. Kecurigaan kami terhadap hadits ini karena beberapa sebab, antara
   lain hadits tersebut tidak ada perawinya. Selain itu, redaksinya juga menunjukkan
   bahwa itu bukan sabda Rasulullah saw, karena di dalam redaksinya disebutkan amalan
   yang kecil (sedekah satu dirham) dibalas dengan pahala yang sangat besar (seakan-
   akan telah mendermakan satu gunung emas). Tambahan pula dalam masalah maulid
   (hari kelahiran) Nabi saw itu memang banyak hadits palsu yang dibuat untuk
   mengagungkan perayaan hari kelahiran tersebut oleh orang-orang yang mengaku
   mencintai Nabi saw. Mereka membuat hadits palsu itu dengan alasan tidak mengapa
   berbohong untuk (kepentingan) Nabi saw. Padahal Nabi saw tidak perlu kepada
   pembohongan mereka itu. Menurut pendapat kami, memperingati hari kelahiran Nabi
   saw itu hukumnya bukan wajib, tetapi ia boleh dilakukan dengan syarat menjauhi
   perkara-perkara bid'ah dan syirik.
2. Hadits-hadits yang bapak lampirkan pada lampiran no. 2 berbunyi:
   ُ ‫َّ َّ م‬                      ‫لى هلل‬             ُ              ُ َّ        ُ ‫هلل‬               ‫ب‬          ْ
   ‫عَن اْبنِ عََّاسٍ رَضِيَ ا ُ عَْنهمَا: أَن رَجالً قَالَ لِرَسولِ اهللِ صَ َّ ا ُ عَلَْيهِ وَسَ لمَ: إِن ُأ َّ ه‬
   ْ                ُ                 ْ         َّ           ْ                   ُ ْ ‫ُف ْ ُ ْ د‬
   ‫ُتوِّيَت، أَيَْنفَعهَا إِن تَصَ َّقت عَْنهَا؟ قَالَ: نَعَم، قَالَ: فَإِن لِي مِخرَافًا وَُأشْ هِدكَ أَن ي قَ د‬
                                                                                                        ُ ْ‫د‬
                                                                        ]‫تَصَ َّقت بِهِ عَْنهَا. [رواه البخاري‬
   Artinya: “Diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki berkata
   kepada Rasulullah saw: Sesungguhnya ibuku telah wafat, apakah bermanfaat baginya
   jika saya bersedekah atas namanya? Jawab beliau: "Ya". Orang itu berkata:
   Sesungguhnya saya mempunyai kebun yang berbuah, maka saya mempersaksikan
   kepadamu bahwa saya telah menyedekahkannya atas namanya.” [HR. al-Bukhari]
        Dan sabda beliau:
   ْ                 َّ َّ                  ‫لن لى هلل‬                   ُ َّ             ‫هلل‬                  ْ
   ‫عَن عَائِشَةَ رَضِيَ ا ُ عَْنهَا: أَن رَجالً قَالَ لِ َّبِي صَ َّ ا ُ عَلَْيهِ وَسَ لمَ: إِن ُأم ي افْتَلَتَ ت‬
            ْ                     ُ ْ‫ْ ٌ ْ د‬                  ْ ْ ‫ُن ْ َّ ْ د‬
   ‫نَفسهَا، وَأَظُّهَا لَو تَكَلمَت تَصَ َّقَت، فَهَل لَهَا أَجر إِن تَصَ َّقت عَْنهَا؟ قَ الَ: نَعَ م. [رواه‬ُْ
                                                                        ]‫البخاري ومسلم واللفظ للبخاري‬
   Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada
   Nabi saw: Sesungguhnya ibuku meninggal secara mendadak, dan saya menduga jika
   dia berkata pasti dia bersedekah, maka apakah dia mendapat pahala jika saya
   bersedekah atas namanya? Jawab beliau: "Ya".” [HR. al-Bukhari dan Muslim, lafadz
   al-Bukhari]
        Dan sabda beliau lagi:
   ْ                                   َّ َّ                 ‫لن لى هلل‬                   ُ َّ             ‫ْ ه‬
   ‫عَن أَبِي ُرَْيرَةَ: أَن رَجالً قَالَ لِ َّبِي صَ َّ ا ُ عَلَْيهِ وَسَلمَ: إِن أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَ االً وَلَ م‬
                                                        ْ             ُ ُ ‫ْ فُ ُ ْ د‬
                                   ]‫ُيوصِ، فَهَل ُيكَ ِّر عَْنه إِن أَتَصَ َّق عَْنه؟ قَالَ: نَعَم. [رواه مسلم‬     ْ
   Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki berkata
   kepada Nabi saw: Sesungguhnya ayahku wafat dan meninggalkan harta akan tetapi
   beliau belum berwasiat. Maka apakah dia dihapuskan (dosanya) jika saya bersedekah
   atas namanya? Jawab beliau: "Ya".” [HR. Muslim]
         Hadits-hadits sahih riwayat al-Bukhari dan atau Muslim ini menunjukkan dengan
   jelas bahwa sedekah yang kita lakukan dengan mengatasnamakan orang tua kita itu
   pahalanya sampai kepada mereka. Adapun jika hadits-hadits di atas dihubungkan
   dengan ayat dan hadis berikut:
     
                                   
 Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
 diusahakannya.” [QS. An-Najm (53): 39].
      ْ           ْ ْ َّ                    ‫لى هلل‬          ‫ُل‬            ْ              ‫هلل‬                  ْ
 ‫عَن عَائِشَةَ رَضِيَ ا ُ عَْنهَا قَالَت: قَالَ رَسو ُ اهللِ صَ َّ ا ُ عَلَْيهِ وَسَلمَ: مَن أَحدَثَ فِي أَمرِنَا‬
                                                                                     ‫ُ د‬
                                                     ]‫هَذَا مَا لَْيسَ فِيهِ فَهوَ رَ ٌّ. [رواه البخاري ومسلم‬
 Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah r.a. beliau berkata: “Rasulullah saw bersabda:
 'Barangsiapa yang membuat hal baru pada ajaran kami ini yang bukan termasuk
 darinya maka tertolaklah ia'.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
 Maka dapat diambil kesimpulan berikut:
 a. Pada umumnya, sebagaimana dinyatakan dalam surat an-Najm (53) ayat 39,
     seorang manusia itu tidak memperoleh pahala dari Allah selain apa yang telah
     diusahakannya/dikerjakannya sebelum dia meninggal dunia. Oleh karena itu,
     setelah meninggal dunia, dia tidak akan mendapatkan pahala apa-apa dari Allah
     karena dia tidak bisa lagi beramal saleh.
 b. Namun keumuman ayat di atas dikhususkan oleh hadits-hadits yang menyatakan
     bahwa sedekah yang dilakukan seorang anak atas nama orang tuanya yang telah
     meninggal dunia, pahalanya sampai kepada orang tua yang telah meninggal dunia
     tersebut. Sebagian ulama menambahkan, bahwa kemauan anak untuk bersedekah
     atas nama orang tuanya itu termasuk hasil usahanya mendidik anak tersebut ketika
     masih di dunia dahulu, sehingga layak jika sedekahnya itu sampai kepadanya.
 c. Adapun hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim terakhir itu adalah mengenai sesuatu
     yang dibuat-buat dalam agama atau disebut dengan bid'ah, yaitu sesuatu yang tidak
     mempunyai sandaran hukum. Dan masalah sedekah atas nama orang tua yang telah
     meninggal itu --karena ada dalil atau sandaran hukumnya-- bukan termasuk perkara
     bid'ah.

   Wallahu a'lam bish-shawab. *mi)

								
To top