AKHLAK TERPUJI DAN AKHLAK TERCELA by anamaulida

VIEWS: 1,226 PAGES: 11

									AKHLAK TERPUJI DAN
 AKHLAK TERCELA
          DI
           S
           U
           S
           U
           N
        OLEH :


      WIKI TASA


 SMP NEGERI 1 LANGSA
TAHUN AJARAN 2011 - 2012
                            KATA PENGANTAR
       Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan akal kepada manusia sehingga
manusia bisa berfikir, dan dengan petunjuk-Nya dapat beraktivitas dengan baik. Shalawat
beserta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammd saw. yang telah
memberi kita pencerahan.
       Alhamdulillah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik walaupun masih
jauh dari kata sempurna
       Akhirnya, penyusun berharap semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai satu titik
sumbangan ilmu pengetahuan bagi sekalian pembaca. Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun
sangat penyusun harapkan demi perbaikan di masa mendatang.


                                                             Langsa , 16 Maret 2012


                                                                       Penyusun
                                              BAB I
                                          PENDAHULUAN

A. Latar belakang
        Kata akhlak berasal dari dari bahasa arab khuluq yang jamaknya akhlak yang artinya
   perangi atau budi pekerti. Ukuran akhlak itu baik atau buruk adalah motif yang mendasari
   perbuatan dan tindakan dan adanya petunjuk yang mengatakan itu baik berdasarkan firman
   Allah dan sabda Rasul saw. Jadi pemahaman akhlak adalah seseorang yang mengerti benar
   tentang segala sesuatu tindakannya hanya mengharap ridho Allah swt.
        Akhlak merupakan masalah yang sangat penting dalam islam. Seseorang dapat dikatakan
   berakhlak ketika dia menerapakan nilai-nilai islam dalam aktifitas hidupnya. Jika aktifitas itu
   terus dilakukan berulang-ulang dengan kesadaran hati maka akan menghasilkan kebiasaan hidup
   yang baik. Akhlak merupakan perpaduan antara hati, pikiran, perasaan, kebiasaan yang
   membentuk satu kesatuan tindakan dalam kehidupan. Sehingga bisa membedakan mana yang
   baik dan tidak baik, mana yang jelek dan mana yang cantik dan hal ini timbul dari futrahnya
   sebagai manusia.
       Hati nurani manusia selalu mendambakan dan merindukan kebenaran, ingin mengikuti
   ajaran-ajaran Allah Swt. Namun fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan baik
   karena pengaruh dari luar misalnya pengaruh pendidikan, lingkungan, pakaian dan juga
   pergaulan. Sehingga menyebabkan manusia sulit membedakan antara akhlak terpuji dan akhlak
   tercela. Maka kami dalam makalah ini membahas tentang “materia akhlak (akhlak baik dan
   akhlak buruk”)

B. Rumusan masalah
   Berdasarkan latar belakang yang telah kami paparkan maka rumusan masalah yang kami ambil :
1. Apa pengertian dari akhlak baik dan akhlak buruk?
2. Apa saja yang termasuk akhlak baik dan akhlak buruk?
3. Bagaimana penerapannya dalam kehidupan?
C. Tujuan penulisan
       Tujuan penulisan dari makalah ini antara lain
1. Bentuk penyelesaian tugas mata kuliah akhlak dan tasawuf
2. Menjelaskan akhlak baik dan macam-macam akhlak baik dan akhlak buruk dengan macam-
   macam akhlak buruk.
3. Mengetahui penerapan akhlak baik dan akhlak buruk dalam kehidupan sehari-hari.

D. Manfaat penulisan
   Kami berharap makalah ini mampu menambah wawasan pembaca mengenai akhlak terpuji yang
   di ridhoi Allah SWT dan Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang mampu menambah
   iman para pembaca.
                                             BAB II
                                          PEMBAHASAN

 A. Pengertian akhlak baik dan akhlak buruk
         Akhlak baik disebut juga akhlakul kharimah atau akhlakul mahmudah, artinya segala
  macam perilaku atau perbuatan baik yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan
  akhlak buruk yang disebut juga akhlak mazmumah, yaitu segala macam perilaku atau perbuatan
  buruk/tercela yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.
          Menurut ajaran Islam penentuan baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk al-
  qur’an da al-hadis. Jika kita perhatikan al-qur’an atau hadis dapat dijumpai berbagai istilah yang
  mengacu kepada baik dan ada pula yang mengacu kepada yang buruk. Diantara istilah yang
  mengacu kepada yang baik misalnyaal-hasanah, thayyibah, khairah, karimah, mahmudah,
  azizah dan al-birr.

            Bila dilihat dari istilah maka akhlak yang baik itu adalah al-mahmudah sedangkan
   akhlakul karimah adalah akhlak yang terpuji. Tetapi pada penerapannya akhlak yang baik itu
   adalah akhlak yang terpuji.
            Keutamaan akhlak terpuji disebutkan dalam hadist salahsatunya adalah hadis yang
   diriwayatkan oleh Abu dzar dari Nabi Muhammad saw, yang artinya:
           “ wahai abu dzar! ‘maukah aku tunjukan dua hal yang sangat ringan dipunggung, tetapi
   sagat berat ditimbangan(pada hari kiamat kelak?)’, Abu dzar menjawab, ‘hendaklah kamu
   melakukan akhlak terpuji dan banyak diam. Demi Allah yang tanganku berada
   digenggamannya, tidak ada makhluk lain yang dapat bersolek dengan dua hal tersebut” (H.R
   Al-baihaqi)
           Akhlak buruk atau akhlakul mazmumah adalah akhlak yang tercela dan akhlak baik pun
   bisa menjadi akhlak tercela jika dalam melakukan perbuatan baik itu niat dan cara melakukannya
   dengan cara tidak baik.
           Segala bentuk akhlak yang bertentangan dengan akhlak terpuji disebit dengan akhlak
   tercela. Akhlak terceka merupakan tingkah laku yang tercela yang dapat merusak keimanan
   seseorang dan adapat menjatuhkan amartabatnya sebagai manusia.
           Sebagai maunsia yang beriman kita harus menjauhi akhlat tercela, sebagaimana yang
   nyatakann dalam beberapa keterangan.
1. Rasulullah saw.bersabda:
   “ seandainya akhlak buruk itu seseorang yang berjalan ditengah-tengah manusia, ia pasti
   seseorang yang buruk. Sesungguhnya Allah tidak menjadikan perangiku jahat.”
2. Rasulullah saw bersabda
   “ sesungguhnya akhlak tercela merusak kebaikan sebagaimana cuka merusak madu”
  B. Macam – macam Akhlak Baik

   1. Jujur

        Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akan
   tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh
   pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang
   berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di
   mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang,
   sumpah, dan sebagainya.
        Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat
   jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka.
        Dari Abdullah bin Mas’ud ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda : “kalian harus berbuat
   jujur karena kejujuran akan mengantarkan ke surga. Jika manusian senantiasa berbuat jujur
   dan memperhatikan kejujuran, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur “ (mutafaq
   a’laih).
    2. Memenuhi janji
          Allah Swt berfirman :
                                         
                                     ......   
    “hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.”
    (Q.S Al Maidah 1)

    “Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu diminta pertanggungjawaban.” (Q.S Al Isra :34)

    3.    Amanah
         Amanah merupakan sikap yang harus dimiliki oleh umat Islam, yang merupakan salah satu
    bentuk akhlak karimah. Pengertian amanah menurut arti bahasa ialah ketulusan hati, kepercayaan
    (tsiqah), atau kejujuran. Amanah merupakan kebalikan dari khianat.
         Yang dimaksud dengan amanah di sini adalah suatu sifat dan sikap pribadi yang setia, tulus
    hati, dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya, berupa harta benda,
    rahasia maupun tugas kewajiban. Pelaksanaan amanat dengan baik disebut al amin yang berarti
    dapat dipercaya, jujur, setia dan aman.
         Allah Swt berfirman, “sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanatmu
    kepada yang berhak menerimanya”... (Q.S An Nisa : 58)
         Seluruh perintah syariat merupakan amanat. Melakukan ketaatan terhadap syariat juga dapat
    dikatakan sebagai amanah. Oleh karena itu seluruh perintah dan larangan pada dasarnya
    merupakah amanah.

    4.   Bersifat baik kepada tetangga

         Allah Swt berfirman, “sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan
    sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak
    yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu
    sabil dan hamba sahayamu.” (Q.S An Nisa : 36)
         Dari Anas ra, Rasulullah Saw bersabda, “demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak
    dikatakan beriman seorang hamba hingga ia mencintai tetangga atau saudaranya seperti
    mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muslim)

    5.   Memuliakan orang tua
         Dari ubadah bin ash-shamit ra, Rasulullah Saw bersabda, “bukan termasuk umatku yang
    tidak memuliakan orang tua”....... (hadis ini dirawayatkan Ahmad dengan sanad Hasan)

    6. Sabar
    Sabar karena taat kepada Allah artinya sabar untuk tetap melaksanakan perintah Allah dan
    menjauhi segala larangan-Nya dengan senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Nya Allah
    swt berfirman: Terjemahan: Hai orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah
    kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan)
    Sabar karena maksiat, artinya bersabar diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang
    agama. Untuk itu sangat dibutuhkan kesabaran dan kekuatan dalam menahan hawa nafsu. Allah
    swt berfirman: Terjemahannya: Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena
    sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat
    oleh Tuanku. Sesungguhnya tuhanku maha pengampun lagi maha penyayang. (QS. Yusuf : 53)
    Sabar karena musibah, artinya sabar pada saat ditimpa kemalangan, ujian, serta cobaan dari
    Allah. Allah swt berfirman: Terjemahnya: Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu,
    dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah
    berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa
    musibah, mereka mengucapkan, innah lillahi wa inna ilaihi raaji’un mereka itulah yang
    mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-
    orang yang mendapat petunjuk (Al Baqarah : 155-157)
        Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan, sabar ialah tahan menderita dan
   menerima cobaan dengan ridha hati serta menyerahkan diri kepada Allah setelah berusaha.
   Selain itu, yang dimaksud sabar disini bukan hanya bersabar terhadap ujian dan musibah, tetapi
   juga dalam hal ketaatan kepada Allah yakni menjalankan perintahNya dan menjauhi
   laranganNya.

   7.   Syukur
        Syukur merupakan sikap dimana seseorang tidak menggunakan nikmat yang diberikan oleh
   Allah untuk melakukan maksiat kepadaNya. Bentuk syukur ini ditandai dengan menggunakan
   segala nikmat atau rezeki karunia Allah tersebut untuk melakukan ketaatan kepada Nya dan
   memanfaatkannya ke arah kebajikan bukan menyalurkannya ke jalan maksiat atau kejahatan.
        Dalam hidup ini banyak sekali nikmat yang kita peroleh dari Allah. Kita tentu dapat
   merasakan dan menyadari bahwa nikmat Allah itu sudah kita peroleh sejak masa kanak-kanak,
   bahkan sejak di dalam rahim ibu. Begitu lahir, kita telah mendapatkan kasih sayang ibu bapak
   yang memenuhi segala keperluan kita. Tanpa limpahan kasih sayang ibu dan bapak, kita tidak
   akan dapat menikmati kehidupan ini.
        Nikmat yang diberikan Allah itu cukup banyak dan tidak mampu kita hitung Allah
   berfirman:
       Terjemahnya:
   “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya” (QS.
   Ibrahim : 34)
   Orang yang beriman akan merasa senang dan puas serta bersyukur terhadap nikmat yang Allah
   berikan tersebut. Jiwa keimanan yang ada dalam dirinya dapat membatasi supaya ia tidak
   memperturutkan loba dan tamak.
   Bentuk syukur terhadap nikmat yang Allah berikan adalah dengan jalan mempergunakan nikmat
   Allah dengan sebaik-baiknya. Karunia yang diberikan oleh Allah harus kita manfaatkan dan
   dipelihara, seperti panca indra, harta benda, ilmu pengetahuan dan sebagainya.
   Apabila sudah mensyukuri karunia Allah itu, berarti kita telah bersyukur kepada Nya sebagai
   penciptaannya. Bertambah banyak kita bersykur, bertambah banyak pula nikmat yang akan kita
   terima

   C. Macam-macam akhlak buruk

   1.   Syirik
       Secara bahasa adalah menyamakan dua hal sedangkan menurut pengertian istilah, terdiri atas
   definisi umum dan definisi khusus. Definisi umum adalah menyamakan sesuatu dengan Allah
   dalam hal yang secara khusus yang dimiliki Allah. Ada tiga macam syirik berdasarkan definisi
   umum, yaitu (1) Asy-Syirik fi Ar-Ribbubiyah, yaitu menyamakan Allah swt dengan makhluknya
   mengenai sesuatu yang berkaitan dengan pemeliharaan alam. (2) Asy-syirk fi al-asma wal ash-
   shifat yaitu menyamakan Allha dengan makhluknya mengenai nama dan sifat (3) Asy-syirk fi
   Al-uluhiyah yaitu menyamakan Allah swt dengan makhluknya mengenai ketuhanan.
           Definisi syirik secara khusus adalah menjadikan sesuatu selain allah dan
   memeperlakukannya seperti Allah. Syirik ada dua macam:
a. Syirik akbar adalah menjadikan sekutu selainAllah
b. Syrik ashgar adalah segla perbuatan yang menjadi perantara menuju syirik akbar
   Syirik merupakan perbuatan yang dilarang. Hal ini bisa kita lihata dari firman Allah dalam surat
   al-Kahf:110
   Artinya:
   “ …barang siapa mengharap pertemuan dengan tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan
   kebajikan dan janganlah dia memepersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada
   tuhannya”
   Selain dalam surat al-kahf allah juga berfirman dalam surat An-nisa:48, Al-maidah:72,.

   2.    Kufur
       Kufur secara bahasa artinya menutupi, menurut syara kufur adalah tidak beriman kepada
   Allah SWT. Dan rasulnya, baik dengan mendustakan atau tidak mendustakan. Kufur ada dua
   jenis, yaitu ada kufur besar dan kufur kecil. Kufur besar adalah perbuatan yang menyebabkan
   pelakunya keluar dari agama islam dan abadi di dalam neraka. Kufur besar ada lima macam
   yaitu :
a. Kufur karena mendustakan para rasul dalillnya adalah firman Allah SWT.
        
                                                    
        
                                                       
   68. dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan
   terhadap Allah atau mendustakan yang hak[1159] tatkala yang hak itu datang kepadanya?
   Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?
   (Q.S. Al-Ankabut [29]: 68)

b. Kufur karena enggan dan sombong, padahal tahu kebenaran risalah para rasul.
    Firman Allah SWT. :
      
       
      
                                                                                   
   34. dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada
   Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk
   golongan orang-orang yang kafir.
   (Q.S. Al-baqarah[2]:34)
c. Kufur karena ragu terhadap kebenaran para rasul.
   Firman Allah SWT. :
                                                         
        
                                                    
       
       
                                                         
                                               
         
                                     
            
   35. dan Dia memasuki kebunnya sedang Dia zalim terhadap dirinya sendiri[882]; ia berkata:
   "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,
   36. dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika Sekiranya aku kembalikan
   kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-
   kebun itu".
   37. kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya - sedang Dia bercakap-cakap dengannya:
   "Apakah kamu kafir kepada (tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes
   air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?
   38. tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan
   seorangpun dengan Tuhanku.
       (Q.S Al-kahf[18]:35-38)

d. Kufur karena berpaling secara menyeluruh dari agama dan apa yang dibawa para rasul.
   Firman Allah SWT. :
                                                       
                                                         
       
                             
   Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan
   (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. dan orang-orang yang kafir berpaling
   dari apa yang diperingatkan kepada mereka.
      (Q.S. Al-ahqaf [46]:3)
e.     Kufur karena nifak I’tikad, menampakan keimanan dan menyembunyikan kekufuran.
      Firman Allah SWT. :
          
           
                                                                                     
 3. yang demikian itu adalah karena bahwa Sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi
    kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.(Q.S. Al-
    Munafiqun [63]:3)

      Adapun kufur kecil yaitu yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama islam, tidak
      menyebabkan abadi di dalam neraka.




     4.NIFAK
               Secara bahasa nifak berarti lubang tempat keluarnya yarbu (binatang sejenis tikus) dari
       sarangnya. Jika ia keluar dari lubang yang satu maka akan keluar dari lubang yang lain. Adapun
       nifak secara syara adalah menampakan islam dan kebaikan dan menyembunyikan kekufuran dan
       kejahatan. Dengan kata lain nifak adalah menampakan sesuatu yang bertentangan dengan apa
       yang terkandung di dalam hati.

      5. UJUB dan TAKABUR
            Takabur hampir sama dengan sombong orang yang memiliki akhlak ini selalu
      memandang rendah orang lain seolah dia paling hebat paling disegani dan paling pandai Allah
      SWT. Mencela sikap takabur dalam beberapa firman diantaranya :
                                                    
          
                                                                                .........
      aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan
      yang benar
                                             (Q.S. Al-A’raf[7]:146)

                 
         
                                             
    Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk
    neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina".
    Dilihat dari subjeknya takabur terbagi pada tiga bagian
 a. Takabur pada Allah
 b. Takabur pada Rasul
 c. Takabur terhadap sesame manusia


      6. Dengki
              Diantara sifat buruk manusia yang banyak merusak kehidupan adalah dengki menurut
      imam ghazali dengki adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah SWT. Kepada orang
      lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu.
      Allah SWT. Berfirman :
                                                         
                                                  
         
                                              
                                                                       
     54. ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia[311] yang Allah telah
     berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan Hikmah kepada keluarga
     Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.
                                                            (Q.S. An-Nisa[4]:54)
     7. Gibah (mengumpat)
             Al-Ghazali menjelaskan menjelaskan bahwa gibah adalah menuturkan sesuatu yang
     berkaitan dengan orang lain yang apabila penuturan itu apabila disampaikan ia tidak
     menyukainya. Ibnu atsir menjelaskan bahwa gibah adalah membicarakan keburukan orang lain
     yang tidak pada tempatnya walaupun keburukan itu memang ada padanya. Tidak diraguakan lagi
     menurut ulama sepakat bahwa gibah itu hukumnya haram dasar larangan berbuat gibah adalah :
     Allah SWT. Berfirman :
                                                    
         
           
          
                                                             
          
                                                 
     12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena
     sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
     menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
     saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah
     kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-
     Hujurat[104]:1)
                          
     1.kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela, (Q.S. Al-Humajah [104]:1)

     8. Riya’
            Kata riya diambil dari kata dasar Ar-ru’yah yang artinya memancing perhatian orang lain
     agar di nilai sebagai orang baik. Orang riya’ beramal bukan ikhlas karena Allah SWT. , tetapi
     semata-mata mengharapkan pujian dari orang lain. Riya dapat muncul dalam beberapa bentuk
     kegiatan diantaranya :
a.    Riya dalam beribadah
b.   Riya dalam berbagai kegiatan
c.    Riya dalam berderma atau bersedekah
d.   Riya dalam berpakaian
                                         BAB III
                                        PENUTUP
Simpulan
       Dalam islam akhlak merupakan hal yang sangat diperhatikan, sehingga dalam islma
akhlak terbagi atas dua akhlak terpuji dan akhlak tercela. Akhlak terpuji adalah akhlak yang
disukai , disenangi oleh Allah swt bahakn dianjurkan dan diwajibkan. Akhlak tercela adalah
akhlak yang dilarang dan diharamkan oleh Allah swt. Akhlak terpuji dan akhlak tercela begitu
banyak, tetapi pada intinya niatkan hati kita hanya untuk beribadah kepada Allah swt.

Saran
       Alhamdulillah akhirnya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini, segala koreksi dan
saran demi kesempurnaan makalah ini penyusun harapkan sebagai bentuk kepedulian bagi yang
ingin menambah khazanah kekeliruan dan sebagai bahan untuk memperbaiki dari apa yang telah
disusunnya. Sehingga mudah-mudahan kedepannya bisa lebih baik.
                                   DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. 2010 .Akhlak Tasawuf.Jakarta : Rajawali Pers

Anwar, rosihin.2010.akhlak tasawuf.bandung:pustaka setia

Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. “Akhlak Tasawuf”, Jakarta : Rajawali Pers. 2010


Rosihin anwar.akhlak tasawuf.bandung.pustaka setia
[1159] Maksudnya: mendustakan kenabian Nabi Muhammad s.a.w.
[36] Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud
memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada
Allah.


[882] Yaitu: dengan keangkuhan dan kekafirannya.

[1326] Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku.
[311] Yaitu: kenabian, Al Quran, dan kemenangan.

								
To top