Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Pendekatam Geografi

VIEWS: 101 PAGES: 6

									       PENDEKATAN GEOGRAFI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH
                     Oleh : DR. Djoko Harmantyo, MS {*)
              Staf Pengajar Departemen Geografi FMIPA-UI (**)


Pengantar

Tulisan ini disusun untuk memenuhi permintaan Panitia Penyelenggara Pelatihan
Peningkatan Kompetensi Guru Geografi Dalam Persiapan Sertifikasi Guru. Oleh karena
itu tulisan ini disusun sedemikian rupa di samping memuat konsep berpikir logis dan
rasional serta landasan teoritis juga disampaikan bagaimana metode mengajar Geografi
pada tingkat pendidikan sebelum memasuki dunia perguruan tinggi. Materi tulisan
disampaikan sesederhana mungkin agar mudah dipahami oleh para peserta pelatihan
dengan asumsi para peserta adalah guru yang mengajar pelajaran Geografi.


PENDAHULUAN

   Bidang ilmu Geografi pada dasarnya mempelajari berbagai komponen fisik muka
bumi, mahluk hidup (tumbuhan, hewan dan manusia) di atas muka bumi, ditinjau dari
persamaan dan perbedaan dalam perspektif keruangan yang terbentuk akibat proses
interaksi dan interrelasinya. Untuk mempermudah mempelajarinya, berbagai persoalan
keruangan (spatial problems) dirumuskan dalam rangkaian pertanyaan : Apa jenis
fenomenanya? Kapan terjadinya? Di mana fenomena tersebut terjadi? Bagaimana dan
kenapa fenomena tersebut terjadi di daerah tersebut dan tidak terjadi di daerah lainnya?

   Fenomena keruangan, atau fenomena geografis, baik tentang aspek fisik maupun
aspek non-fisik serta interaksi dan interrelasi ke duanya, dalam proses belajar mengajar
dapat dimulai dari yang paling sederhana seperti lokasi sekolah, lokasi pasar, kantor
kelurahan atau kantor puskesmas, atau lokasi banjir, longsor, gempa bumi, dapat
diungkap melalui pertanyaan bagaimana dan kenapa “ada” di tempat tersebut sedang di
tempat lain tidak? Selanjutnya, adanya perbedaan kepadatan penduduk di wilayah
perdesaan dan wilayah perkotaan, adanya perubahan pola penggunaan tanah untuk
memenuhi kebutuhan hidup penduduk sebagai contoh adanya peranan manusia dalam
perubahan fisik muka bumi (mans role in changing the face of the earths).
Fenomena keruangan saat ini yang menjadi issue global seperti konflik wilayah
perbatasan antar Negara, terbentuknya ketimpangan ekonomi Negara Negara di dunia
(ada yang sangat kaya dan sangat miskin), dampak perkembangan teknologi informasi
yang bersifat “tanpa batas” (borderless) sebagai tantangan geograf di seluruh dunia untuk
merespon bahwa “the end of Geography” adalah tidak terjadi.      Interaksi dan interrelasi


(*) Makalah disampaikan pada Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Geografi Dalam
Persiapan Sertifikasi Guru yang diselenggarakan oleh Ikatan Geograf Indonesia (IGI)
bekerjasama dengan Depdiknas di Bandung tanggal 15-18 Nopember 2006.
(**) Staf Pengajar Departemen Geografi FMIPA-UI dan Ketua III IGI Pusat.
antar ruang muka bumi masih nyata dengan adanya issue mengglobalnya penyakit
menular yang mematikan seperti kasus penyakit SARS, kolera tahun 60-an, HIV Aids
atau kekawatiran dunia saat ini terhadap issue penyakit Avian Influensa atau Flu burung
yang memiliki kecenderungan terjadi pandemic.

    Sebagaimana bidang ilmu lain, ilmu Geografi juga memiliki alat ukur keruangan
seperti jarak antar dua tempat, baik dalam satuan panjang, satuan nilai ekonomi dan
satuan waktu, dan satuan luas (biasanya diekspresikan dalam bidang datar) dalam hektar
atau km2, hasil perhitungan jumlah obyek, baik berdiri sendiri maupun dalam satuan luas
(kepadatan) atau dalam satuan ratio. Di samping disajikan dalam bentuk diagram, table
atau gambar profil, sarana penyajian informasi geografi paling efektif adalah dalam
bentuk peta karena sebuah peta dapat memberikan penjelasan fenomena geografis dalam
perspektif keruangan. Oleh karena keterbatasan media penyajian ruang muka bumi ke
dalam bidang datar maka sebuah peta mensyaratkan adanya skala peta. Kita mengenal
istilah skala kecil dan skala besar sesuai dengan tingkat informasi yang akan dihasilkan.
Semakin besar skala peta maka informasi atau data yang dihasilkan semakin detil dan
sebaliknya. Skala peta sangat tergantung pada tujuan pengguna peta. Teknik membuat
peta dipelajari dalam Kartografi sebagai salah satu pelajaran inti dalam Geografi. Dengan
adanya kemajuan teknologi computer saat ini dikenal teknologi GIS atau Sistem
Informasi Geografi yang mampu menghasilkan sebuah peta relative secara lebih cepat
dan akurat. Teknologi GIS juga dapat digunakan sebagai alat bantu analisis geografis.

   Secara teoritis, dalam menelaah suatu persoalan keruangan, Geografi memiliki tiga
pendekatan utama yaitu (1) analisis spasial, (2) analisis ekologis dan (3) analisis komplek
regional sebagai gabungan dari pendekatan (1) dan (2). Pendekatan ke tiga merupakan
cara yang lebih tepat digunakan untuk menelaah fenomena geografis yang memiliki
tingkat kerumitan tinggi karena banyaknya variable pengaruh dan dalam lingkup multi
dimensi (ekonomi, social, budaya, politik dan keamanan). Salah satu contoh adalah telaah
tentang pengembangan wilayah.



PENGEMBANGAN WILAYAH

    Kegiatan pengembangan wilayah adalah suatu kegiatan yang memiliki dua sifat yaitu
sifat akademis dan sifat birokratis dalam mengelola wilayah. Sifat akademis biasanya
menggunakan istilah “seyogyanya” dan sifat terapan biasanya menggunakan istilah
“seharusnya”. Dengan demikian, pendekatan geografi, dalam tulisan ini, dapat digunakan
dan dapat pula tidak digunakan dalam kegiatan pengembangan wilayah tergantung
kemauan politis pemegang kekuasaan. Suatu pendekatan yang sudah dipilih dan
diputuskan oleh pengambil keputusan politis maka “harus” dilaksanakan oleh para
pelaksana di lapangan dan “tidak boleh” menggunakan yang lain. Produk politik seperti
itu biasa disebut Undang Undang atau berbagai peraturan lainnya. Tulisan ini mencoba
melakukan elaborasi sistim pembangunan yang berlaku saat ini dengan menggunakan
pendekatan geografi.
   Berbeda dengan sistim pembangunan pada era orde baru yang bertitik tolak dari
GBHN yang berisi garis besar rencana pembangunan yang ditetapkan oleh MPR, sistim
pembangunan pada era reformasi saat ini bertolak dari Program Pembangunan Nasional
(Propenas) yang berisi rencana pembangunan (lima tahun) yang disusun oleh Presiden
yang dipilih secara langsung oleh rakyat dan setelah mendapatkan persetujuan dari DPR.
Saat ini, pemerintah (pemerintah pusat) dan pemerintah daerah, dalam melaksanakan
pembangunan mengacu pada UU nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
atau dikenal dengan UU Otonomi Daerah sebagai amandemen dari UU nomor 22 dan 25
tahun 1999. Di samping itu berbagai UU lainnya seperti UU nomor 33 tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, UU
nomor 25 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, UU nomor 2 tahun 1992
tentang Rencana Tata Ruang, UU nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan UU
lainnya yang telah mendapatkan persetujuan DPR-RI digunakan sebagai acuan dalam
melaksanakan pembangunan.
Namun demikian pada prakteknya sistim pembangunan saat ini tidak berbeda dengan
masa yang lalu karena masih menggunakan istilah pembangunan sektoral dan
pembangunan daerah. Bidang pembangunan dijabarkan dalam sector, program dan
proyek pembangunan. Proyek merupakan jenjang terrendah dari hirarki istilah dalam
pembangunan dan pada tahap ini pelaksanaannya membutuhkan “dana” dan “tanah”. Dan
dapat dimengerti, hasil pelaksanaan dari proyek pembangunan tahap inilah yang akan
merubah kualitas lingkungan hidup, apakah semakin baik atau sebaliknya malah banyak
menimbulkan masalah baru bagi masyarakat.

   Konsepsi pembangunan wilayah pada dasarnya adalah pembangunan proyek proyek
berdasarkan hasil analisa data spasial (Sandy dalam Kartono, 1989). Karena yang
disajikan adalah fakta spasial maka ketersediaan peta menjadi mutlak diperlukan. Karena
keseluruhan proyek berada di tingkat kabupaten/kota maka pemerintah kabupaten/kota
mutlak perlu menyiapkan peta peta fakta wilayah dalam tema tema yang lengkap. Dalam
lingkup pekerjaan inilah antara lain dituntut peran aktif para ahli geografi.
Pengwilayahan data spasial untuk menetapkan proyek pembangunan disebut wilayah
subyektif, sedang wilayah yang ditetapkan untuk suatu bidang kehidupan sebagai tujuan
pembangunan (penetapan wilayah pembangunan) disebut wilayah obyektif. Implementasi
wilayah pembangunan pada umumnya tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat.
Produk akhir dari analisis data spasial disebut “wilayah geografik” sedang cakupan ruang
muka bumi yang dianalisis disebut “area/geomer/daerah”.

   Saat ini semakin dapat dirasakan bahwa perkembangan suatu daerah tertentu tidak
dapat dilepaskan dari pengaruh daerah sekitarnya mulai dari daerah tetangga sampai
daerah yang lebih jauh jaraknya bahkan pengaruh dari bagian bumi lainnya. Dampak
globalisasi telah membuktikan hal itu. Oleh karena itu, wilayah sebagai system spasial
dalam lingkup kegiatan pengembangan wilayah merupakan subsistem spasial dalam
lingkup yang lebih luas. Sebuah kabupaten/kota, dalam kegiatan pengembangan wilayah,
di samping menganalisis data spasial kabupaten/kota yang bersangkutan, juga perlu
memperhatikan paling tidak bagaimana perkembangan daerah sekitarnya (interregional
planning). Sebuah kabupaten/kota tidak dapat hidup sendiri dan oleh karena itu perlu
mengadakan kerja sama dengan daerah tetangganya.
     Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, suatu proyek pembangunan daerah
dilaksanakan pada tingkat kabupaten/kota sebagai unit terrendah dalam hirarki
pembangunan. Proyek terkait dengan jenisnya dan dananya. Setelah jenis dan dananya
disediakan maka tahap berikutnya adalah menetapkan di bagian mana dari daerah
kabupaten/kota proyek tersebut akan dilaksanakan. Ada beberapa cara untuk menetapkan
proyek pembangunan. Cara penetapan proyek biasanya dilakukan, pada tahap awal,
melalui suatu kajian akademis antara lain berdasarkan pendekatan geografi, pendekatan
ekonomi dan lainnya.

   Pendekatan geografi dilakukan melalui tahapan penetapan masalah, pengumpulan data
dan analisis data mulai dari kegiatan penyaringan, pengelompokan, klasifikasi data,
kegiatan pengwilayahan, korelasi dan analogi. Oleh karena adanya keragaman berbagai
masalah yang dihadapi masyarakat, berdasarkan kemampuan keuangan pemerintah dan
skala waktu pelaksanaan, disusun skala prioritas proyek.
Hasil korelasi secara spasial (tumpang tindih atau overlay peta wilayah) dapat ditunjukan
masalah apa sebagai prioritas proyek dan di mana lokasi proyek tersebut dilaksanakan.
Dalam pelaksanaanya, pendekatan geografi tidaklah sesederhana itu.

   Beberapa cara lain untuk menetapkan proyek pembangunan dapat disebutkan antara
lain dengan menerapkan teori Economic Base, Multiplier Effect yang berkaitan dengan
teori input-output dan penerapan teori lokasi,(Location Theory), teori pusat (Central
Place Theory) dan penerapan teori Kutub Pengembanngan (Growth Pole Theory). .
    1. Teori Lokasi. Paling tidak ada tiga hal yang dapat dijadikan pertimbangan dalam
        menetapkan lokasi proyek pembangunan yaitu (1) pengeluaran terrendah (2)
        jangkauan pemasaran dan (3) keuntungan tertinggi.
    2. Teory Pusat Pelayanan. Pola ideal yang diharapkan terbentuk, asumsi homogin
        dalam hal bentuk medan, kualitas tanah dan tingkat ekonomi penduduk serta
        budayanya, Christaller menyajikan bentuk pola pelayanan seperti jejaring segi
        enam (hexagonal). Bentuk pola pelayanan hexagonal ini secara teoritis mampu
        memperoleh optimasi dalam hal efisiensi transportasi, pemasaran dan administrasi
        (Haggett, 2001).
    3. Teori Kutub Pertumbuhan. Berbeda dengan Christaller yang berlatar belakang
        ahli Geografi, teori Kutub Pertumbuhan diprakarsai dan dikembangankan oleh
        para ahli ekonomi. Teori ini melahirkan konsep ekonomi seperti konsep Industri
        Penggerak (leading industry), konsep Polarisasi dan konsep penularan (trickle
        atau spread effect).
Beberapa kelemahan penerapan cara cara di atas dalam penetapan proyek pembangunan
dihadapkan pada factor politis pengambil kebijakan di tingkat kabupaten/kota utamanya
pada era otonomi daerah saat ini, factor ketersediaan dana dan bidang tanah tempat
dilaksanakannya proyek tersebut. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa pendekatan
geografi menjadi factor kunci dalam kegiatan penetapan proyek pembangunan
berdasarkan penetapan prioritas secara tepat.
PENUTUP

   Pendekatan geografi dalam pengembangan wilayah paling tidak menggabungkan dua
hal yang berbeda dalam substansi analisis yaitu domain akademik dan domain birokratik.
Pendekatan geografi yang telah diuraikan di atas adalah suatu pendekatan akademis yang
bersifat logis dan rasional karena obyek terapannya dalam konteks ruang muka bumi
yang karena sifatnya disebut wilayah. Oleh karena itu peta menjadi instrument dasar, baik
pada tahap awal maupun akhir dari kegiatan pengembangan wilayah.
   Secara sederhana, karena contoh pengembangan wilayahnya di Indonesia, usaha untuk
memperoleh hasil/manfaat yang lebih baik dari kegiatan pengembangan atau
pembangunan suatu “wilayah” selalu berorientasi pada kehendak pemegang kedaulatan
atas wilayah yang dimaksud yaitu rakyat yang diekspresikan dalam perangkat UU.
Karena pada dasarnya kegiatan pengembangan wilayah diarahkan untuk sebesar besarnya
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, lahir dan batin, argument dari sudut pandang
ekonomi, social budaya dan keamanan tidak dapat diabaikan dalam pengembangan
wilayah.
   Para peserta pelatihan diharapkan dapat menularkan esensi tulisan ini kepada para
murid sekolah, dengan cara sederhana sesuai tingkat sekolahnya, dengan menggunakan
kata kunci : location, place dan space, sebagai alat bantu menjelaskan berbagai fenomena
geografis dalam perspektif keruangan.


BAHAN BACAAN

Haggett, 2001; “Geography. A Global Synthesis”. Pearson Education Ltd, Prentice
Hall,NY.
Sandy, IM dalam Kartono, 1989; “ Esensi Pembangunan Wilayah dan Penggunaan Tanah
Berencana” Departemen Geografi FMIPA-UI Jakarta.
Undang Undang Otonomi Daerah, 2005,Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Geografi Regional, 2005; Kumpulan Bahan Kuliah Program Pasca sarjana Ilmu Geografi
Departemen Geografi FMIPA-UI .
CONTOH : Bagian dari wilayah DKI Jakarta




Sumber : CD ROM Gunther, 2005

								
To top