Docstoc

Modul_-_Pelatihan_Pemanfaatan_Data_dan_Informasi

Document Sample
Modul_-_Pelatihan_Pemanfaatan_Data_dan_Informasi Powered By Docstoc
					                                 Modul Pelatihan
                                      Pemanfaatan
                             Data dan Informasi
                                     Sebagai Dasar
                          Perencanaan Daerah

                                1. Sistem Informasi Kesehatan
                                          2. Tools Assessment
                                        3. Monitoring Evaluasi
                                        4. Indikator Kesehatan
                                           5. Manajemen Data
                                       6. Penyajian Data Provil
                                                   7. Advokasi
                                 8. Sistem Informasi Geografis




                                                 Kerjasama:

Pusat Kajian Biostatistika dan Informatika Kesehatan FKM UI

                             Dinas Kesehatan Provinsi NTB

                                                           GTZ
KATA PENGANTAR


Dalam pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) melalui
sistim “Satu Pintu” di setiap layanan kesehatan di Nusa Tenggara Barat (NTB),
telah disepakati untuk melakukan pembenahan dalam kelengkapan,
ketepatan, dan kecepatan data bagi para pengguna informasi kesehatan untuk
perbaikan kebijakan kedepan.

Disadari bahwa perbaikan kondisi diatas dapat dicapai bila data dimanfaatkan
secara maksimal baik pada tingkat pengumpul maupun pada tingkat pengguna
untuk perbaikan management harian.

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME yang telah membantu sehingga
Modul Pelatihan Pemafaatan Data dan Informasi Sebagai Dasar Perencanaan
Daerah dapat diselesaikan serta telah dilatihkan kepada Tim SIKDA pada
tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi NTB.

Modul ini berisikan konsep informasi kesehatan, alat untuk melakukan
assessment sistim informasi kesehatan, serta pemanfaatan data untuk
management kesehatan terkait indikator Standard Pelayanan Minimal,
pengenalan System Informasi Geografis dalam fisualisasi data.

Dengan terbitnya modul ini diharapkan dapat dipergunakan secara lebih luas
oleh staf Dinas Kesehatan di semua tingkatan sehingga manajement,
perencanaan dan kebijakan didasarkan pada data yang akurat.



Hormat kami,

Penyusun




                                                                                i
ii
                                           DAFTAR ISI


Kata Pengantar                                                                      i

Daftar isi                                                                          iii

Modul 1: Sistem Informasi Kesehatan                                                 1

1.1.     Definisi sistem                                                            3
1.2.     Sistem informasi kesehatan                                                 5
1.3.     Pengembangan jejaring sistem informasi kesehatan sebagai inisiasi global   6
1.4.     Kebijakan sistem kesehatan nasional                                        7
1.5.     Kegiatan pokok siknas                                                      9
1.6.     Sistem informasi kesehatan daerah (sikda)                                  9
1.7.     Pendekatan balanced scorecard dan dimensi strategis penguatan analisis
         sistem informasi kesehatan                                                 10


Modul 2: Tools Assessment                                                           13

2.1.     Langkah-Langkah Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan (WHO, 2004)        15
2.2.     Rencana Strategi Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA)                 15


Modul 3: Monitoring Evaluasi                                                        29

3.1.     Konsep monitoring dan evaluasi                                             31
3.2.     Definisi serta manfaat monitoring dan evaluasi (monev)                     31
3.3.     Komponen indikator untuk monitoring dan evaluasi                           34
3.4.     Sumber & teknik pengumpulan data                                           37
3.5.     Langkah monitoring dan evaluasi                                            38

Modul 4: Indikator Kesehatan                                                        45

4.1.     Definisi indikator                                                         47
4.2.     Kriteria indikator                                                         47
4.3.     Bentuk dan jenis indikator                                                 48
4.4.     Contoh indikator program                                                   50
4.5.     Langkah-langkah pengembangan indikator                                     62
4.6.     Tools dalam pengembangan indikator                                         62


Modul 5: Manajemen data                                                             69

Bagian I:Manajemen data praktis menggunakan aplikasi spreadsheet                    71
I.1.    Pengantar aplikasi spreadsheet                                              72
I.2.    Penggunaan data eksternal                                                   74
Bagian II:Fungsi analisa data Menggunakan aplikasi spreadsheet                      86
II.1.   Pengantar analysis tool pak (paket alat bantu untuk
        Analisa data) dalam aplikasi spreadsheet                                    87
II.2.   Penggunaan tabel pivot

II.3.    Fungsi-fungsi dasar untuk analisa data                                     89

Lampiran                                                                            98
Macro                                                                               99
Menggunakan option button                                                           105
Menggunakan form input data pada excel                                              106
Fungsi-fungsi                                                                       108




                                                                                          iii
                                          DAFTAR ISI


Modul 6: Penyajian data Profil                         125

BAB I: Pendahuluan                                     127
BAB II: Visi, misi, tujuan dan kebijakan sdmk          129
BAB III: Penyusunan profil sdmk                        138

Modul 7: Advokasi                                      157

7.1.    Definisi advokasi                              159
7.2.    Langkah-langkah advokasi                       160
7.3.    Kegiatan yang harus terus menerus dilakukan    164


Modul 8: Sistem Informasi Geografis                    169

 8.1.   Konsep Sistem Informasi Geografis (SIG)        171
 8.2.   Konsep Basis Data                              172
 8.3.   Manajemen Data Spasial                         174
 8.4.   Membangun Basis Data Spasial
 8.5.   Penyajian Data Kesehatan Berbasis SIG          176




                                                             iv
            MODUL 1
            Pelatihan Pemanfaatan
               Data Dan Informasi
                    Sebagai Dasar
              Perencanaan Daerah




SISTEM INFORMASI
 KESEHATAN (SIK)
                               1
2
                           SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK)




   1             SISTEM INFORMASI
                 KESEHATAN (SIK)

1.1.   DEFINISI SISTEM
Secara umum sistem informasi adalah :

Sebuah    sistem manusia/mesin       yang    terpadu (integrated)   untuk   menyajikan
informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan
dalam sebuah organisasi.


Dengan kata lain, sistem informasi merupakan kesatuan elemen-elemen yang
saling berinteraksi secara sistematis dan teratur untuk menciptakan dan membentuk
aliran informasi yang akan mendukung pembuatan keputusan dan melakukan
kontrol terhadap jalannya suatu organisasi/institusi.




                                              ● Keputusan jangka panjang
                                              ● Informasi tidak rinci
               Manajemen Strategis            ● Informasi eksternal dan internal

                                  ● Keputusan jangka panjang
                                  ● Informasi rinci
                 Manajemen Taktis
                                  ● Informasi internal

                                                   ● Keputusan harian
                                                   ● Informasi rinci dan spesifik
                                                   ● Informasi internal
              Manajemen Operasional



          Gambar 1 : Hirarki Sistem Informasi




                                                                                         3
                        SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK)




      Strategis
      (Executive


      Taktis
      (Management



      Operasional (Data
      Proccessing



                     Gambar 2 : Topologi Sistem Informasi


Sistem sebagai sebuah pendekatan terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu :

  Masukan (Input)

       Masukan yang diolah

       Masukan yang terlibat mengolah

  Proses (Process)

  Keluaran (Output)

  Balikan (Feedback)

  Kontrol (Control)

  Lingkungan (Environment)




                                                                                 4
                              SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK)




                              Gambar 3. Pendekatan Sistem


1.2.     SISTEM INFORMASI KESEHATAN
A health information system cannot exist by itself, but is a functional entity within
the framework of a comprehensive health system (Suatu sistem informasi kesehatan
tidak dapat berdiri sendiri, melainkan sebagai baian dari suatu sistem kesehatan).
Effective health information system provides information support to the decision-
making      process     at    all   levels.    Health      information    system      should    be
transformed into effective management tools (suatu sistem informasi kesehatan
yang efektif memberikan dukungan informasi bagi proses pengambilan keputusan
disemua jenjang.      Sistem informasi harus dijadikan sebagai alat yang efektif bagi
manajemen) (WHO,2003)


Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah tatanan berbagai komponen data dan
informasi kesehatan          yang   saling    terkait   satu    dengan    yang     lainnya   untuk
menghasilkan data dan informasi tentang kondisi kesehatan dan kinerja kesehatan
suatu wilayah. Manajemen data dan informasi kesehatan satu pintu adalah
pengelolaan data dan informasi kesehatan mulai dari input (sumber data),
pengumpulan, pengolahan, analisis, penyajian dan publikasi data & informasi baik
ditingkat Puskesmas dengan jaringannya, tingkat kabupaten dengan jaringannya,
serta    tingkat   provinsi    dengan        jaringannya       yang   terintergrasi   pada     satu
pusat/pengelola data.


                                                                                                      5
                            SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK)


Pusat / pengelola data adalah unit yang diberi kewenangan oleh pejabat yang
berwenang di suatu wilayah, untuk mengelola dan mempublikasikan data &
informasi secara resmi atas nama instansi yang bersangkutan. Perlu tim validasi
dan analisis data di tingkat puskesmas dan kabupaten yang terdiri dari lintas
program dan lintas sektor terkait. Di tingkat Kabupaten melibatkan pengelola data
puskesmas. Jaringan       yang terintegrasi adalah penyatuan semua sistem-sistem
informasi berupa pengembangan, pembagian tugas, otoritas dan mekanisme saling
hubung dengan maksud untuk lebih meningkatkan efisiensi, keterpaduan dan daya
sinergi.


Pada       prinsipnyainformasi   kesehatan   merupakan       informasi    kesehatan yang
mendukung        proses    pengambilan     keputusan     disetiap   jenjang   administrasi
kesehatan. Selain itu beberapa aspek penting dalam           Informasi kesehatan adalah
akurasi dan ketepatan penyajian informasi, pengelolaan informasi kesehatan harus
memadukan pengumpulan data melalui cara rutin dan non rutin. Aspek kerahasiaan
serta autoritas informasi harus diperhatikan.



1.3.       PENGEMBANGAN JEJARING SISTEMINFORMASI KESEHATAN
           SEBAGAI INISIASI GLOBAL
Dalam mengembangkan Sistem Informasi Kesehatan dibutuhkan pengembangan
jejaring (networking). Terdapat 4 prinsip dalam HMN, yaitu (1) Kepemilikan dan
keterlibatan stakeholder; (2) Keterhubungan antara sektor kesehatan               dengan
insitusi penyedia data seperti Badan Pusat Statistik; (3) Harmonisasi dan ; (4)
Pendekatan yang komprehensif dalam membangun sistem informasi kesehatan.
Inisiasi global untuk membangun networking ini dikenal dengan Health Network
Matriks (HMN).        Tujuan yang ingin dicapai dari HMN ini antara lain untuk
memperbaiki validitas, kualitas data dan ketersediaan data kesehatan sehingga
dapat      digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan (better data—better
decission—better health). (Health Matriks Network,2006.
Dalam mencapai tujuan tersebut antara lain dilakukan beberapa mekanisme teknis
yaitu,     dengan   mengembangkan        framework     dan   standar     dalam membangun
sistem informasi kesehatan.


Framework yang dapat dipakai sebagai standar pengembangan sistem
antara lain:




                                                                                             6
                          SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK)


   1. Sumber Data
   2. Sumber Daya
   3. Indikator
   4. Manajemen Informasi
   5. Produk Informasi
   6. Penyebaran dan pemanfaatan informasi




                          Gambar 4. HMN Framework
                            (sumber: HMN, 2006)


1.4.   KEBIJAKAN SISTEM KESEHATAN NASIONAL


Tujuan SIKNAS adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua
potensi bangsa secara sinergi efektif efisien sehingga tercapai derajat kesehatan.
Sistem Kesehatan Nasional terdiri dari 6 Subsistem yaitu:
        Upaya Kesehatan
        Pembiayaan Kesehatan
        Sumberdaya Kesehatan
        Obat dan Perbekalan Kesehatan




                                                                                     7
                         SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK)


       Pemberdayaan Kesehatan
       Manajemen Kesehatan, dimana salah satu subsistemnya adalah
         Sistem Informasi Kesehatan
Terdapat beberapa hal yang terkait dengan kebijakan Sistem Informasi Kesehatan
Nasional, antara lain:


       SIKNAS       dibangun   dari    jejaring   sistem    kesehatan     Provinsi,   dan
          Kabupaten/Kota dengan melibatkan mitra.
       SIKNAS dikembangkan dalam rangka desentralisasi bidang kesehatan
          dalam mencapai Indonesia Sehat 2010.
       SIKNAS dikembangkan secara bertahap untuk             kemudian dapat
          diimplementasi- kan di tingkat Provinsi dan Kabupaten.
       SIKNAS merupakan bagian dari SKN
       SIKNAS yang efektif harus dapat menyediakan data dan informasi bagi
          pengambil keputusan dan masyarakat.




                                       Pengembangan
                                       Teknologi &
       Mngr
                                       Sumberdaya
       & Pengambil                                                       Masyarakat
       Keputusan


                                       Fasilitas
                                       pengembangan
                                       Sistem2 informasi                 Pengembangan
      Pengembangan
                                       kesda                             Pelayanan data &
      pelayanan data &
      informasi untuk                                                    inf. Untuk
      manajemen                                                          masyarakat

                                        Penetapan &
                                        pelaksanaan sistem
                                        pencatatan &
                                        pelaporan



                                         Integrasi/kepaduan
                                         sistem2
                                         pencatatan &
                                         pelaporan yang
                                         ada

                   Gambar 3. Strategi Pengembangkan SIKNAS




                                                                                             8
                          SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK)


1.5.     KEGIATAN POKOK SIKNAS
Kegiatan pokok SIKNAS meliputi antara lain:
1. Menata Sistem Informasi Kesehatan
2. Memfasilitasi Pengembangan dan Penyelenggaraan SIK Daerah
3. Menyelenggarakan pengumpulan, pengolahan, analisis
   dan penyajian data/informasi kesehatan.
4. Mengembangkan sdm pengelola data/info, dan pemanfaatan teknologi
   informasi serta pengembangan jejaring bank data



1.6.     SISTEM INFORMASI KESEHATAN DAERAH (SIKDA)
Sistem Informasi Kesehatan Daerah merupakan sub sistem dari Sistem Kesehatan
Daerah yang diharapkan dapat berjalan secara sinergis, sehingga intervensi-
intervensi di bidang kesehatan dapat dilakukan secara tepat dan cepat sesuai
dengan fakta yang ada di lapangan. Sebagai bagian dari lingkungan sistem, maka
dalam pengembangan sistem informasi kesehatan daerah perlu menyelaraskan
dengan tujuan yang akan         dicapai melalui pengembangan Sistem Informasi
Kesehatan Nasional (SIKNAS) dan Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA).



Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) dikembangkan untuk mendukung
pencapaian visi Indonesia Sehat 2010 dalam bidang informasi. Oleh karena itu,
maka ditetapkan visi Sistem Informasi Kesehatan Nasional yaitu INFORMASI
KESEHATAN ANDAL 2010 (Reliable Health Information 2010). Untuk mewujudkannya
maka ditetapkan misi dari pengembangan Sistem Kesehatan Nasional adalah :
       a. Mengembangkan      pengelolaan      data   yang   meliputi   pengumpulan,
          penyimpanan, pengolahan dan analisis data.
       b. Mengembangkan pengemasan data dan informasi dalam bentuk Bank Data,
          Profil Kesehatan dan kemasan-kemasan informasi khusus.
       c. Mengembangkan jaringan kerjasama pengelolaan data dan informasi
          kesehatan.
       d. Mengembangkan pendayagunaan data dan informasi kesehatan.


Arah kebijakan terhadap pengembangan sistem informasi kesehatan antara lain
adalah pengembangan manajemen data dan informasi kesehatan satu pintu. Yang
dimaksud dengan kebijakan manajemen data satu pintu adalah disetiap tingkat
wilayah administratif harus memiliki bank / pangkalan / pusat /pengelola data, dan




                                                                                      9
                              SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK)


secara bertahap dikembangkan sistem pengelolaan data dan informasi dengan
prinsip satu pintu melalui (berbasis) web, sehingga masing-masing pihak dapat
mengakses dengan cara yang cepat dan mudah.


Tujuan dari pengembangan Manajemen Data dan Informasi Kesehatan Satu Pintu
adalah terwujudnya pengelolaan data dan informasi kesehatan mulai dari input
(sumber data), pengumpulan, pengolahan, analisis, penyajian dan publikasi data &
informasi baik ditingkat Puskesmas dengan jaringannya, tingkat kabupaten dan
jaringannya, serta tingkat provinsi dan jaringannya, yang terintergrasi pada satu
pusat / pengelola data yang berdayaguna dan berhasil guna, sehingga dapat
menjadi tulang punggung pengambilan keputusan yang besifat evidence based.


Pembangunan SIK terintegrasi harus berdasarkan komitmen bersama dari tingkat
puskesmas, kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat, dengan membuat rancang
bangun / Master Plan Sistem Informasi Kesehatan yang disepakati bersama. Untuk
menjamin pelaksanaan dan kesinambungan SIK, sistem penganggaran perlu
dikukuhkan dalam bentuk peraturan daerah (Perda) atau yang setingkat dengan
peraturan itu. Pengembangan SIK dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuandaerah, secara bertahap dan berkesinambungan berdasarkan pada
rancang bangun SIK yang telah disepakati bersama, dan kaidah-kaidah sistem
informasi. SIK yang dibangun harus bermanfaat (untuk efektivitas dan efisiensi
pelayanan) bagi yang bersangkutan, bisa memberikan informasi tentang hasil
kinerja dan derajat kesehatan wilayah, serta informasi yang evidence base sebagai
tulang punggung pengambilan keputusan.


1.7.   PENDEKATAN               BALANCED            SCORECARD         DAN       DIMENSI
       STRATEGIS          PENGUATAN             ANALISIS         SISTEM      INFORMASI
       KESEHATAN

Analisis situasi sistem yang sedang berjalan (Existing System) dilihat dengan
pendekatan Balanced Scorecard dan analisis SWOT. Tujuannya agar hasil yang
didapat   dilapangan    dapat     dikaji   secara   mendalam     berdasarkan    komponen
manajemen     SIK      yang    strategis. Empat     perspektif   manajemen     berdasarkan
Balanced Scorecard yaitu Pendanaan (Financial), Pengguna (Customer), Proses
Bisnis/Lingkup Kegiatan (Bisnis Proses), Pembelajaran (Continual Improvement).


Hasil kuantifikasi dari keempat perspektif tersebut akan menjadi dasar untuk



                                                                                             10
                             SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK)


melakukan analisis SWOT untuk mengembangkan empat tipe strategi dalam
pengembangan SIK terintegrasi yaitu strategi Kekuatan-Peluang (Strengths –
Opportunities/SO), Strategi Kelemahan – Peluang (Weakness – Opportunities/WO),
Strategi Kekuatan-Ancaman (Strengths – Threats/ST), dan Strategi Kelemahan-
Ancaman (Weakness – Threats/WT).


A. Pendanaan (Financial)
Dimensi pendanaan (financial) merupakan kemampuan pembiayaan (sumber
pendanaan) untuk pengembangan dan pemeliharaan sistem informasi guna
keberlangsungan sistem informasi. Alokasi dana merupakan komponen yang
penting dalam pengembangan SIK terintegrasi, terutama dalam konteks memenuhi
input dan terlaksananya proses untuk menghasilkan informasi yang adequate dan
tepat waktu.

Berdasarkan hasil identifikasi dilapangan, pengembangan SIK lebih mengarah
kepada       pengembangan      sumber    daya      manusia, sehingga pendanaan         lebih
diarahkan      kepada     pengembangan    SDM. Selain      itu,    juga   digunakan    untuk
membangun protokol/prosedur manajemen data yang terstandarisasi. Protokol
yang   standar     akan    memperkuat    dan    mempermudah         manajemen     informasi
kesehatan nasional. Manajemen data dimulai dari pengumpulan data sampai
dilakukannya diseminasi informasi baik dalam bentuk laporan tertulis atau bahkan
kearah penggunaan media elektronik.


B. Pengguna (Customer)
Pengguna dapat diterjemahkan dalam konteks lingkungan (stakeholder) yang
merupakan kondisi yang dapat mempengaruhi pembangunan dan penerapan
sebuah SIK terintegrasi. Pengaruh yang paling terlihat dari analisis situasi dengan
perspektif     pengguna    menunjukkan    faktor    keterlibatan    dan   koordinasi   antar
departemen atau unit-unit dalam konteks E-Goverment memiliki skor yang cukup
besar untuk menjadi perhatian
.
C. Proses Bisnis (Business Process)
Proses bisnis merupakan lingkup kegiatan terkait dengan sistem pencatatan dan
pelaporan dari seluruh sumber data kesehatan.           Sumber data kesehatan adalah
seluruh proses bisnis dalam pembangunan kesehatan, baik upaya kesehatan
masyarakat maupun pelayanan medis dan laboratorium. Proses bisnis dalam
lingkup SIKNAS menunjukkan kemampuan pusat dalam mengumpulkan dan




                                                                                               11
                        SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK)


mengintegrasikan data kesehatan baik dari daerah maupun kemampuan dalam
menganalisis dan memanfaatkan data kesehatan nasional.


D. Pembelajaran (Continual Improvement)
Komponen yang termasuk dalam aspek pembelajaran termasuk komponen Sumber
Daya Manusia (peningkatan kemampuan, jenjang karir dan jumlah), pemeliharaan
dan penyempurnaan sistem (dalam konteks penggunaan teknologi ICT), serta
audit sistem   (Quality Assurance). Perspektif pembelajaran memperlihatkan tiga
faktor yang perlu diperhatikan yaitu manajemen SDM, pengelolaan data serta audit
sistem informasi.




                                                                                   12
            MODUL 2
            Pelatihan Pemanfaatan
               Data Dan Informasi
                    Sebagai Dasar
              Perencanaan Daerah




TOOLS ASSESSMENT

                              13
14
                                          TOOLS ASSESSMENT




  2                 TOOLS ASSESSMENT


2.1.       LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI
           KESEHATAN (WHO, 2004) :


(1)        Review the existing system
(2)        Define the data needs of relevant units within the health system
(3)        Determine the most appropriate and effective data flow
(4)        Design the data collection and reporting tools
(5)        Develop the procedures and mechanisms for data processing
(6)   Develop and implement a training programme for data providers and data
users
(7)        Pre-test, and if necessary, redesign the system for data collection, data
           flow, data processing and data utilization
(8)        Monitor and evaluate the system
(9)        Develop effective data dissemination and feedback mechanisms
(10)       Enhance the HMIS


2.2.       RENCANA STRATEGI SISTEM INFORMASI KESEHATAN DAERAH
           (SIKDA)

                   Pengembangan                                 Tools dan Best
                                          Komponen
Proses Analisis     Master Plan                                 Practice (BSC &
                                          Master Plan
                                                                HMN)


                                           Visi & Misi             EFE & IFE



                                            Tujuan
                                                                   Matrix IE




                                                                  Perumusan
                                                                                             KPI      Timeframe
                                                                   Strategy




                                  SDMStrategy      Networking      Indikator      Protokol         ICT Strategy
                                                   Strategy        Strategy       Strategy




                                                                                                                  15
                                   TOOLS ASSESSMENT




                       Evaluasi                      Perumusan
                                                      Strategi       KPI
                        Faktor        Frame
                        Internal                      dengan
                                      Work
     Analisis                                         komponen
                       Evaluasi      Perumusan
     Situasi                                          Matrik
                        Faktor        Strategi
                                                      SWOT
                        External
                                                                     RoadMap




1. Analisis Situasi

   Proses analisis merupakan tahap pertama yang dilakukan untuk mendapatkan
   gambaran kondisi      terkait dengan pelaksanaan SIK di setiap entitas yang
   terlibat. Kegiatan ini merupakan hasil assessment yang dilakukan dengan teknik
   wawancara mendalam. Hasil kegiatan ini selanjutnya akan digunakan sebagai
   bahan pengembangan rencana induk (Master Plan).

 Perspektif Financial

   Merupakan kemampuan Financial/ Pembiayaan, sumber pendanaan untuk
   pengembangan dan pemeliharaan sistem           informasi guna keberlangsungan
   sistem informasi.      Alokasi dana merupakan komponen yang penting dalam
   pengembangan SIK terintegrasi, terutama dalam konteks pemenuhan input dan
   proses untuk dapat menghasilkan output.

 Perspektif Customer (Environment)

   Customer dapat juga diterjemahkan dalam konteks lingkungan atau kondisi
   yang mempengaruhi dari pembangunan dan penerapan sebuah SIK terintegrasi.

 Perspektif Bisnis Proses

   Semua komponen yang terkait dalam lingkup kegiatan manajemen data
   (collecting, procesing, anlyzing, disemination) data kesehatan.

 Perspektif Pembelajaran

   Komponen yang termasuk dalam aspek pembelajaran audit sistem (Quality
   Assurance) untuk komponen Sumber Daya Manusia (peningkatan kemampuan,
   jenjang karir), Maintenance hardware, Penyempurnaan System Requierement



                                                                                    16
                                  TOOLS ASSESSMENT


   Specification (dalam konteks penggunaan teknologi ICT).
2. Pengukuran External Factor (EFE) dan Internal Factor (IFE)

   Ketidakberhasilan dalam pengembangan sistem informasi lebih disebabkan
   karena perencanaan yang kurang baik dimana identifikasi dari faktor-faktor
   penentu keberhasilan (critical succes factors) dalam implementasi sistem kurang
   lengkap dan menyeluruh.

   Analisis internal dan eksternal sistem penting dilakukan agar dapat diukur
   sehingga dapat menghasilkan rumusan analisis kondisi lingkungan sistem baik
   lingkungan internal maupun eksternal yang kemudian dijadikan acuan untuk
   merumuskan dan menetapkan strategi pengembangan sistem.

   Analisis terhadap internal sistem digunakan untuk melakukan introspeksi
   terhadap faktor kekuatan dan kelemahan. Sedangkan hasil analisis eksternal
   bertujuan untuk menghasilkan rumusan peluang dan ancaman yang akan
   dihadapi sistem yang dikembangkan di masa mendatang.

   Dalam pengukuran EFE dan IFE, critical sucses factor yang telah diidentifikasi
   diberikan nilai bobot untuk melihat seberapa besar pengaruh factor tersebut
   terhadap         keselurahan     factor   yang      membangun/mempengaruhi
   pembangunan/pengembangan SIKDA. Kisaran nilai pembobotan           adalah 1-4,
   dimana 1 menunjukkan nilai CSF berpengaruh kecil, 4 menunjukkan nilai CSF
   berpengaruh besar.

   Untuk pengukuran kondisi maka dilakukan penilaian pada critical sucses factor
   dengan kisaran skala 1-4. Untuk faktor peluang dan kekuatan, skala 1
   menunjukkan keadaan / kondisi yang buruk, dan skala 4 menunjukkan
   keadaan/kondisi sangat baik. Untuk faktor tantangan dan kelemahan, skala 1
   menunjukkan keadaan / kondisi yang sangat buruk, dan 4 menunjukkan
   keadaan/ kondisi sangat baik.


3. MATRIX IE

   Merupakan penggambaran hasil evaluasi/pengukuran faktor-faktor Eksternal dan
   Faktor- faktor     Internal sehingga dapat memperlihatkan posisi dan kondisi
   organisasi. Hal ini akan berkaitan dengan perumusan dan menentukan strategi
   dalam perspektif manajemen (Balance scorecard)




                                                                                     17
                                  TOOLS ASSESSMENT


4. Matrix SWOT

   Strategi SO atau strategi kekuatan – peluang menggunakan kekuatan internal
   sistem (existing system) untuk memanfaatkan peluang eksternal. Strategi WO
   atau strategi kelemahan – peluang bertujuan untuk memperbaiki kelemahan
   dengan memanfaatkan peluang. Strategi ST atau strategi kekuatan – tantangan
   menggunakan kekuatan untuk menghindari atau mengurangi tantangan. Dan
   strategi WT atau strategi kelemahan – tantangan merupakan taktik defensive
   yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan dan menghindari tantangan.

   Penggunaan pendekatan Balanced Scorecard memberikan kerangka yang
   komprehensif dan       sistematik   dalam analisis SWOT. Kekuatan, kelemahan,
   peluang dan tantangan dalam            pengembangan SIK Terintegrasi kemudian
   dianalisis melalui empat perspektif Balanced Scorecard : keuangan, customer,
   proses bisnis, dan pembelajaran. Identifikasi terhadap        keempat     perspektif
   tersebut   akhirnya     menghasilkan     rumusan   kekuatan, kelemahan,    peluang
   dan   tantangan       yang   kemudian    digunakan    untuk   perencanaan strategi
   pengembangan SIKDA. Kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada
   dalam sistem yang berjalan saat ini (existing system), antara lain:

      a. Strategi Peluang – Kekuatan (SO)
      b. Strategi Peluang – Kelemahan (OW)
      c. Strategi Tantangan – Kekuatan (ST)
      d. Strategi Tantangan – Kelemahan (TW)

5. Perumusan Tujuan dan Penetapan Indikator (Key Performance Indicator)
   Perumusan tujuan serta penetapan indikator yang dpaat dijadikan pengukuran
   keberhasilan kinerja ataupun pencapaian sebuah rencana stategis pengembangan
   Sistem


6. Penetapan Sasaran dan Target

   Sasaran merupakan rencana atau road map kegiatan yang akan dilaksanakan
   setelah menganalisis faktor internal dan eksternal.     Dalam setiap pelaksanaan
   kegiatan harus memiliki target pencapaian sehingga pada tiap kurun waktu
   tertentu dapat dilakukan evaluasi pencapaian kinerja dalam hal ini adalah
   pengembangan SIKDA.




                                                                                          18
           TOOLS ASSESSMENT




Tools Asessment




                              Menurut WHO




                                            19
TOOLS ASSESSMENT




                   20
TOOLS ASSESSMENT




                   21
TOOLS ASSESSMENT




                   22
TOOLS ASSESSMENT




                   23
TOOLS ASSESSMENT




                   24
TOOLS ASSESSMENT




                   25
                           TOOLS ASSESSMENT




BALANCE SCORECARD


  (dalam software sederhana Tools Balancescorecard Banggai diformat Ms.excell)




                                                                                 26
              MODUL 3
              Pelatihan Pemanfaatan
                 Data Dan Informasi
                      Sebagai Dasar
                Perencanaan Daerah




MONITORING EVALUASI

                               27
28
                          MONITORING DAN EVALUASI




 3               MONITORING EVALUASI
                 (MONEV)
3.1. KONSEP MONITORING DAN EVALUASI
Pertanyaan penting yang selalu dikemukakan terhadap berjalannya suatu program
antara lain;


Apakah program tersebut berjalan sesuai yang direncanakan?;
Apakah telah mencapai populasi atau target yang ingin dicapai?;
dan Seberapa besar tujuan tercapai?


Pertanyaan tersebut penting untuk dijawab karena jangan sampai sumber daya
yang harus maupun telah dialokasikan, untuk program-program tersebut, tetapi
tidak dapat memperlihatkan hasil dan kinerja upaya kesehatan masyarakat secara
jelas.


Monitoring dan evaluasi terkadang dilakukan orang secara sederhana, namun ada
juga yang melakukannya secara lebih hati-hati, dan membuatnya menjadi lebih
kompleks, sehingga monitoring dan evaluasi menjadi proses yang memerlukan
waktu dan tenaga yang lebih banyak.


Pertanyaan kemudian yang perlu diketengahkan adalah bagaimana kita dapat
memanfaatkan kemampuan yang terbatas, seperti tenaga, waktu dan uang
(sumberdaya), untuk dapat melaksanakan evaluasi dan monitoring yang berguna
bagi pengembangan program.


3.2. DEFINISI SERTA MANFAAT MONITORING DAN EVALUASI (MONEV)


1. Monitoring


Definisi Monitoring

Monitoring atau pemantauan adalah upaya sistematis yang bersifat periodik atau
terus menerus (berkesinambungan) untuk mengetahui sedini mungkin apakah

                                                                                 29
                            MONITORING DAN EVALUASI


pelaksanaan program sesuai atau menyimpang dari rencana semula dengan
memanfaatkan sekumpulan indikator terpilih.


Pemantauan atau monitoring diperlukan karena beberapa alasan, antara lain;
    -   Sistem monitoring sangat penting untuk dilaksanakan namun sangat lemah
        dalam pelaksanaannya
    -   Perlu dilakukan pengembangan indikator yang jelas dan kuat untuk
        pelaksanaan monitoring
    -   Selain itu perlu dibangun cara melaksanakan monitoring, termasuk indikator
        monitoring, stategi pengukuran yang terintegrasi dengan system informasi
        kesehatan


Monitoring harus menjadi bagian dalam sistem informasi kesehatan. Hal tersebut
termasuk basis data yang berkualitas dan terus menerus diperbaharui (up-to-date)
terhadap   sumberdaya manusia kesehatan, informasi finansial, infrastruktur
kesehatan, keberadaan jenis pelayanan kesehatan, logistik dan sistem suplaynya.



Manfaat Monitoring


Mengenali masalah program yang sedang dilaksanakan dengan sedini mungkin,
melakukan perbandingan antar lokasi/tempat, menilai trend status situasi tertentu,
sehingga dapat diambil tindakan korektif secara cepat dan tepat.


Monitoring diharapkan dapat menjawab dua pertanyaan penting, berikut ini:
    1. Apakah program telah mencapai populasi atau target yang diinginkan?
    2. Apakah pelaksanaan program sesuai dengan yang direncanakan?


2. Evaluasi

Definisi Evaluasi


Evaluasi merupakan proses periodik dan sistematis untuk menilai seluruh fungsi
organisasi dengan cara menilai hasil yang dicapai kemudian dibandingkan dengan
tujuan/harapa/target yang ingin dicapai. Evaluasi melihat hasil dari proses kegiatan
secara keseluruhan. Hal terpenting bahwa data evaluasi yang digunakan tidak
hanya dari hasil monitoring tetapi perlu didukung dengan data lain seperti survei,
review dokumen untuk memperkuat hasil evaluasi.


                                                                                       30
                           MONITORING DAN EVALUASI




Tujuan Evaluasi adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
   1. Apakah tujuan telah tercapai?
   2. Berapa besar pengaruh program?
   3. Apa saja hasil atau akibat yang tidak diharapkan dari program?
   4. Bagian program mana yang paling atau kurang berhasil?


Beberapa alasan mengapa orang perlu melakukan evaluasi adalah beragam,
namun umumnya untuk menilai;
   1. pencapaian program (achievement), melihat apa yang telah dicapai
   2. mengukur kemajuan (progress), yang terkait dengan tujuan program
   3. peningkatan monitoring, untuk menajemen yang lebih baik
   4. Identifikasi kekuatan dan kelemahan suatu program
   5. melihat efektifitas program, atau melihat perbedaan yang dicapai program
   6. melihat cost-benefit, apakah biaya yang dikeluarkan sesuai
   7. mengumpulkan informasi, untuk perencanaan yang lebih baik
   8. Menyebarkan pengalaman, untuk menghindari kesalahan yang sama, atau
       adopsi metode yang sama
   9. meningkatakan efektifitas program, untuk meningkatkan dampak
   10. untuk perencanaan yang lebih baik
   11. akuntabilitas program bagi sponsor


Karena evaluasi harus melayani berbagai kebutuhan tersebut, maka evaluasi juga
mempunyai strategi atau metode yang banyak, dan dilakukan pada berbagai
tingkatan pelaksanaan program;
   1. Pada perencanaan, menilai kelemahan dan kekuatan dalam suatu
       intervensi untuk menjadi lebih baik
   2. pada proses, untuk menentukan derajat efektifitas program, terhadap target
       dari sumberdaya, pelayanan dan keuntungan yang diharapkan oleh
       sponsor.
   3. Pada dampak, untuk melihat efek dari intervensi


Evaluasi sebagai salah satu dari fungsi manajemen bertujuan untuk mengetahui
efektifitas dan efisiensi pelaksanaan suatu perencanaan, sekaligus mengukur
seobyektif mungkin hasil-hasil pelaksanaan dengan ukuran-ukuran yang dapat
diterima oleh pihak-pihak yang terlibat dalam suatu perencanaan. Tujuan utama
dari penilaian/evaluasi adalah agar hasil penilaian tersebut dipakai sebagai umpan


                                                                                     31
                             MONITORING DAN EVALUASI


balik bagi perencanaan selanjutnya.


     Monitoring VS Evaluasi


      Monitoring:
              melihat kemajuan kinerja program (performance) secara periodik
              untuk tindakan korektif
      Evaluasi :
              menilai hasil program (outcomes) untuk perbaikan program
              selanjutnya



3.3. KOMPONEN INDIKATOR UNTUK MONITORING DAN EVALUASI

Informasi yang dibutuhkan adalah salah satu hal yang harus dikemukakan pada
awal direncanakannya        monitoring dan evaluasi.   Tujuannya adalah untuk
mengetahui apa yang telah dan akan diketahui untuk menilai suatu intervensi. Jenis
informasi yang akan dikumpulkan akan berkaitan erat dengan metode atau cara
yang akan digunakan dalam melaksanakan monitrong dan evaluasi, sehingga
perencaan dapat lebih lengkap dan terarah.



Informasi tersebut berupa indikator, yaitu ukuran tidak langsung (indirect) yang
digunakan dalam proses monev untuk membantu mengukur perubahan-perubahan
yang merefleksikan “keadaan sebenarnya”. Contoh: Berat Badan Menurut Umur
(BB/U) merupakan ukuran tidak langsung (indikator) untuk menilai status gizi anak.

Bila pengukuran dilakukan berturut-turut sepanjang waktu, maka akan memberikan
informasi arah dan kecepatan perubahan program yang terjadi, sehingga dapat
dipakai untuk membandingkan daerah atau kelompok lain yang berbeda pada
waktu yang sama atau kelompok yang sama dalam waktu yang berbeda.


Biasanya indikator dalam bentuk indeks, kuantitatif dan kualitatif.    Contohnya:
Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator tingkat kesejahteraan masyarakat
karena kematian bayi disebabkan bukan disebabkan bayi tersebut tetapi tergantung
perlakuan keluarga kepadanya.           Oleh karena itu secara langsung, AKB
menunjukkan indikator kematian bayi, tetapi secara tidak langsung menunjukkan
tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara.



                                                                                     32
                              MONITORING DAN EVALUASI



Indikator dapat dibedakan menjadi indikator      input, output, dan efek dan impact.
Indikator input dan output merupakan indikator di tingkat program yang bertujuan
menilai kinerja (performance) program, sedangkan indikator efek dan impact
merupakan    indikator di     tingkat   masyarakat/populasi   yang   menjadi   target
program/intervensi. Indikator di tingkat masyarakat      bertujuan menilai outcome
keberhasilan dari program baik bersifat efek (intermediate outcomes) seperti
peningkatan pengetahuan, peningkatan prevelansi kontrasepsi maupun impact
(long-term outcomes) seperti penurunan fertilitas, penurunan kematian ibu.


   Tabel 1. Contoh indikator Pelayanan Keluarga Berencana
             Tingkat Program                           Tingkat Masyarakat
                 (Kinerja)                                 (Outcome)
     Input                                    Efek
        Ketersediaan tenaga,                      Perilaku (dikenal dengan
        suplai                                    Cakupan)
        peralatan                                 Pengetahuan
        dana                                      Prevalensi kontrasepsi
     Output                                  Impact
        Utilisasi pelayanan                       Penurunan fertilitas (TFR)
        Kualitas pelayanan
        Kontak
        Akses Pelayanan




Apabila kita akan melakukan evaluasi program maka memfokuskan pada indikator
outcome di tingkat masyarakat, sedangkan apabila kita akan melakukan monitoring
maka memfokuskan pada indikator kinerja di tingkat program untuk mendapatkan
masukan tindakan korektif apa yang diperlukan.


Berapa banyak indikator yang digunakan?


Dalam menentukkan keberhasilan program, penggunaan satu indikator saja tidak
dapat menggambarkan keadaan yang kita inginkan karena dimensi program yang
kita lakukan pasti banyak. Padahal indikator biasanya bersifat parsial, yaitu hanya
mengukur salah satu bagian aspek yang akan diukur, apalagi pengukuran yang
dilakukan biasanya bersifat tidak langsung. Namun demikian, menggunakan terlalu
banyak menggunakan indikator justru juga akan mempersulit penilaian karena akan
semakin banyak data yang akan dikumpulkan dan dianalisis. Solusinya, dalam
penentuan indikator perlu adanya keseimbangan (balancing) yang relevan dalam


                                                                                        33
                            MONITORING DAN EVALUASI


menentukkan jumlah indikator yang akan ditetapkan. Kriteria yang digunakan
adalah keseimbangan antara kriteria akademik dengan kriteria praktis.


Kriteria akademik seleksi indikator
    Valid, mengukur apa yang diukur
    Objektif, hasil sama, walau diukur oleh orang berbeda dengan waktu
     berbeda
    Sensitif, hasil pengukuran berubah sesuai perubahan kondisi yang diukur
    Spesifik, hasil pengukuran berubah hanya apabila kondisi yang diukur
     berubah, bukan karena perubahan kondisi lain yang tidak diukur


Kriteria praktis seleksi indikator, adalah data dapat diperoleh dengan mudah
sesuai sumber daya yang ada/tersedia.


Ukuran Indikator
Beberapa ukuran indikator yang biasa digunakan, yaitu:
       Jumlah : merupakan ukuran yang paling sederhana, yaitu hanya jumlah
       kejadian atau objek/kasus.      Contoh: 56 kunjungan, 9765 bayi yang
       diimunisasi
       Ratio       :    perbandingan     dua   angka   (pembilang/numerator   dan
       penyebut/denominator) yang saling terpisah satu sama lain atau pembilang
       bukan bagian dari penyebut. Contoh: jumlah dukun terlatih per populasi
       (1:490), rasio jenis kelamim (99:100), dan jumlah kematian ibu per 100.000
       kelahiran hidup (390: 100.000).
       Proporsi :      Ratio perbandingan pembilang dengan penyebut dimana
       pembilang merupakan bagian dari penyebut. Contoh:         Dari 5000 balita
       terdapat 3250 bayi telah diimunisasi (3250/5000= 0,65)
       Persentase: proporsi dikalikan 100. Contoh: 65% bayi telah diimunisasi
       (3250/5000 * 100= 0,65)


Umumnya ukuran indikator menggunakan ukuran ratio dan proporsi dibanding
dengan ukuran jumlah/angka absolut.        Hal ini dikarenakan ukuran ratio dan
proporsi memiliki kelebihan, yaitu:


       Membuat perbandingan antara dua populasi yang berbeda, yang mungkin
       berbeda dalam jumlah orang yang beresiko, oleh karena itu perlu


                                                                                    34
                           MONITORING DAN EVALUASI


       pembakuan dengan mempertimbangkan populasinya.           Contoh:   membuat
       perbandingan masalah status gizi ibu hamil antar beberapa desa, maka
       perlu dipertimbangkan jumlah ibu hamil di masing-masing desa; atau
       membandingkan status gizi ibu hamil di satu desa dibandingkan 3 tahun
       mendatang, maka perlu dipertimbangkan jumlah ibu hamil dua periode
       tersebut.


       Menghitung taksiran jumlah kasus, dengan menggunakan angka rata-
       rata nasional/standar nasional yang telah diketahui maka taksiran kasus
       dapat diketahui. Contoh: angka kematian bayi nasional 120 per 1000
       kelahiran hidup per tahun, jika kecamatan tercatat terdapat 200 kelahiran
       hidup maka taksiran kematian bayi 120/1000 * 200 = 48 per 1000 kelahiran
       hidup.


3.4. SUMBER & TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Sumber Data


Kebutuhan data untuk kegiatan monev sangat penting, mengingat data merupakan
bukti yang menunjukan fakta kondisi yang sebenarnya di masyarakat. Data yang
digunakan untuk monitoring & evaluasi dikumpulkan dari banyak sumber. Secara
garis sumber data dibedakan menjadi dua sumber, yaitu pertama berasal dari
masyarakat (population data based) dan yang kedua berasal dari fasilitas (facility
data based). Sumber data tersebut sangat terkait dengan tingkat pengukuran.
Apabila monitoring dilakukan di tingkat program maka sumber data berasal dari
fasilitas baik melalui data rutin program maupun survei yang di fasilitas, sedangkan
jika monitor dilakukan di tingkat masyarakat maka sumber data berasal dari
masyarakat.




                                                                                       35
                                 MONITORING DAN EVALUASI


Tabel 2. Sumber Data
Tingkat Pengukuran               Sumber Data                         Contoh
Output                     Data rutin program              Sistem pencatatan
(Tingkat program)                                          pelaporan puskesmas
                           Facility survei                 Exit interview
Outcomes
(Tingkat Masyarakat)       Survei masyarakat               Rapid Survei
                           Survei nasional                 SDKI*
                                                           SKRT**
* SDKI    (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia): salah satu survei nasional yang
          memfokuskan pada masalah kependudukan & Keluarga Berencana
** SKRT (Survei      Kesehatan     Rumah    Tangga):   salah   satu    survei   nasional yang
          memfokuskan pada masalah kesehatan (kesakitan, kematian, dan disabilitas)


Teknik Pengumpulan Data
   Data untuk monitoring dapat dikumpulkan dari berbagai sumber tersebut, dapat
   dikumpulkan dengan berbagai cara, yaitu sebagai berikut:
   1. Angket, merupakan teknik pengumpulan data yang bersifat searah karena
         responden mengisi jawaban pada instrumen yang diberikan. Ini berarti
         responden harus berpendidikan tinggi minimal dapat membaca menulis.
   2. Wawancara, teknik ini merupakan teknik yang paling banyak dikenal dan
         dipakai, bersifat dua arah dan menggunakan isntrumen/kuesioner dengan
         pertanyaan terstruktur.
   3. Observasi, seringkali beberapa fenomena/gejala di sekitar kita yang tidak
         dapat     tanyakan,     tetapi   dapat   diukur   lewat      pengamatan/observasi.
         Contohnya: menilai ketrampilan bidan dalam melakukan pemasangan IUD,
         apakah sesuai dengan standar pelayanan medis.
   4. Review Dokumen, melakukan pencatatan data dari dokumentasi kegiatan
         atau program yang ada.


3.5. LANGKAH MONITORING DAN EVALUASI

         Perencanaan
         Tahap 1: Tentukan tujuan monitoring


         Langkah pertama          dalam melakukan monitoring, yaitu 1)               tentukan
         kegiatan/program apa yang akan dimonitor; 2) dan jabarkan tujuannya?.
         Gunakan matriks berikut ini:
         Contoh:


                                                                                                36
                           MONITORING DAN EVALUASI




Matriks 1. Kegiatan & Tujuan Monitoring
  Kegiatan yg                            Tujuan                        Jenis
   dimonitor                                                           Indikator
Keluarga             Mengetahui tingkat pemakaian kontrasepsi             Output
Berencana
                     Mengetahui tingkat pengetahuan perempuan              Effect
                     mengenai KB
                     Mengetahui banyak kehamilan yang tidak                Effect
                     direncanakan
KIA/                 Mengetahui banyaknya dukun terlatih                   Input
Persalinan Aman
                     Mengetahui penanganan kasus komplikasi               Output
                     obstetrik
                     Mengetahui banyaknya persalinan aman                  Effect


Tahap 2: Tentukan lingkup monitoring
Sesudah     program & tujuan monitoring telah dijabarkan, kita sebaiknya
menentukan seberapa luas lingkup monitoring yang akan dilakukan.         Berikut ini
beberapa pertanyaan penting untuk menentukan ruang lingkup monitoring, yaitu:

Matriks 2. Tentukan lingkup monitoring
 1.   Seberapa luas area yang dimonitor? Desa Sinargalih Kecamatan Kemang
 2.   Fasilitas apa saja yang akan dimonitor ? Puskesmas
 3.   Petugas apa saja yang akan dipilih (managers, penyedia pelayanan, atau
      volunter)? bidan
 4.   Berapa lama monitor akan dilakukan ? 6 bulan


Lingkup monitoring perlu dipertimbangkan karena terkait dengan lamanya waktu
pengumpulan dan pengolahan serta analisa datanya. Apabila lingkup montoring
terlalu, dapat menjadi beban dalam pengumpulan data sehingga dapat terjadi
keterlambatan untuk mendapatkan informasi untuk tindakan korektif.


Tahap 3: Tentukan indikator dan/atau performance standard (Target)
Setelah tujuan dan lingkup monitoring telah dijabarkan, maka lakukan pemilihan
beberapa indikator sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Indikator yang telah dipilih
kemudian dijabarkan ukuran       indikator yang dipilih apakah dalam bentuk
jumlah/angka absouli, ukuran ratio, atau proporsi/persentase?, jabarkan formulasi
perhitungan indikator tersebut baik numerator maupun denominator. Formulasi
tersebut diperlukan untuk mengetahui dimana data tersebut bersumber.



                                                                                       37
                            MONITORING DAN EVALUASI




Matriks 4. Tentukan indikator, formulasi indikator dan standar/target.
          Tujuan                              Indikator & Formulasi                             Standar
                                                                                                 /target
 Mengetahui tingkat        % pemakaian kontrasepsi modern
 pemakaian kontrasepsi
                            wanita yang memakai kontrasepsi modern                              67%
                           --------------------------------------------------- x 100%
                            wanita usia subur (15-49 tahun)
 Mengetahui tingkat        % wanita mengetahui salah satu jenis kontrasepsi
 pengetahuan perempuan     modern & dimana tahu mendapatkannya
 mengenai KB                wanita mengetahui salah satu jenis kontrasepsi
                           modern & dimana tahu mendapatkannya                                   90%
                           ----------------------------------------------------------- x 100%
                            wanita usia subur (15-49 tahun)
 Mengetahui banyak         % wanita melahirkan yang ditolong tenaga kesehatan                    60%
 persalinan aman           (nakes)

                            wanita yang ditolong nakes pada persalinan
                           terakhir
                           ----------------------------------------------------------- x 100%
                            persalinan terakhir


Tidak kalah penting adalah penentuan standard (performance standard) untuk
masing-masing indikator, biasanya dikenal dengan “Target”.                   Target dibutuhkan
untuk mengetahui apakah program yang dilaksanakan efektif, contohnya: berapa
persen seharusnya persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan?, berapa persen
seharusnya imunisasi lengkap pada balita dicapai? ; berapa jumlah balita yang
seharusnya berat badan naik per bulan? dll.             Pertanyaan ini diketahui jika kita
membandingkan dengan target.          Target bisanya ditetapkan menggunakan rata-
rata nasional atau local ataupun ditetapkan oleh instansi terkait.




                                                                                                           38
                                    MONITORING DAN EVALUASI



Contoh penggunaan target, yaitu sebagai berikut:

              Target cakupan imunisasi lengkap biasanya ditetapkan 80% dari jumlah balita.

              Jika diperkirakan jumlah balita di kabupaten 5000 dan tercatat jumlah
              balita yang mendapatkan imunisasi lengkap sebanyak 3250 orang

              Cakupan imunisasi lengkap

               bayi yang diimunisasi (3250)
              ---------------------------------------- x 100 = 65%
               balita di kabupaten (5000)


              Pencapaian program:

               bayi yang diimunisasi 3250
              ---------------------------------------- x 100 = 81%
               balita 5000 * 0.80


              Ini berarti cakupan 65% (3250/5000*100) atau lebih rendah 15% di bawah target
              atau program yang dilaksanakan baru mencapai 81% dari target.



Implementasi
Tahap 4: Tentukan sumber data dan teknik pengumpulan data
Untuk setiap indikator, tentukan sumber dan teknik pengumpulan data. Untuk satu
indikator sumber data bisa berbeda-beda.                     Pilihan sumber informasi tergantung
ketersediaan system informasi.                Sebagian besar sumber data monitoring dan
evaluasi berasal dari data rutin yang ada, seperti catatan logistik, register
pengobatan, catatan rekam medis pasien.
Buat matriks berikut ini:
Matriks 5. Sumber dan teknik pengumpulan data
                                                                    Sumber           Teknik Pengumpulan
                  Indikator & Formulasi                                                      data
                                                                       data
% pemakaian kontrasepsi modern                                  Survei masyarakat        Wawancara

% wanita mengetahui salah satu jenis kontrasepsi modern &       Survei masyarakat        Wawancara
dimana tahu mendapatkannya

% wanita melahirkan yang ditolong tenaga kesehatan              Survei masyarakat        Wawancara
(nakes)

% dukun yang mendapatkan pelatihan                                   Catatan rutin     Review dokumen
                                                                      program




                                                                                                          39
                                      MONITORING DAN EVALUASI



Tahap 5: Lakukan Pengolahan dan Analisa data
Ada beberapa cara untuk melakukan pengolahan & analisa data, yaitu sebagai
berikut:
  Membandingkan pencapaian hasil program dengan target program
                                                                                                                             %
                       Indikator & Formulasi                                            Hasil       Standar             Pencapaian
                                                                                                                           target
  % pemakaian kontrasepsi modern                                                     40%            67%                  60%
  % wanita mengetahui salah satu jenis kontrasepsi                                   80%            90%                  89%
  modern & dimana tahu mendapatkannya
  % wanita melahirkan yang ditolong tenaga                                           45%            60%                 75%
  kesehatan (nakes)


  Membandingkan hasil kegiatan dengan standar/target untuk beberapa periode
     Gambar 1. Pencapaian program imunisasi lengkap: Jan’05 – Okt’05


                                           Actual              Target                                  85
            80                                                                     85
            70
            60              50                         50
                                                                                                       55.6

            40                                         49.3
                            47.6                                                 49.7
            30
            20
            10
                0
                           Jan'05                   April'05               Juli'05                 Okt'05


  Membandingkan hasil kegiatan antar tempat kegiatan

                                       ber
                            Average num of clients per week by cities and year


           18
           16
           14
           12
                                                                                                            Jakarta
           10
                                                                                                            Surabay a
           8
                                                                                                            Manado
           6
           4
           2
           0
                    1996   1997     1998      1999               1996     1997       1998   1999
                                           LSW                     NLSW




                                                                                                                                     40
                         MONITORING DAN EVALUASI



Tahap 6 :     Menyajikan dan laporkan temuan serta lakukan tindakan
              Korektif
       Kemukakan temuan utama
       Cari masukan penyebab dan solusi, apabila masalah teridentifikasi, maka:
              o Kenali penyebab
              o Deskripsikan penyebab
              o Rencanakan dan melaksanakan solusi
              o Monitor apakah tindakan sudah benar dan hasil sesuai
                  keinginan




Kepustakaan


Feuerstein, M-T, 1990, Partners in Evaluation, Evaluating Development and
   Community Programmes with Participants, Macmillan, London and
   Basingstoke.


Rossi, P.H., and H.E. Freeman, 1993, Evaluation, a System Approach 5, Sage
   Publication, Newbury Park – London – New Delhi.


Lazenbatt A., 2002, The Evaluation Handbook for Health Professionals, Routledge,
   London and New York.




                                                                                   41
MONITORING DAN EVALUASI




                           41
                          42
             MODUL 4
              Pelatihan Pemanfaatan
                 Data Dan Informasi
                      Sebagai Dasar
                Perencanaan Daerah




INDIKATOR KESEHATAN

                               43
44
                                  INDIKATOR KESEHATAN




     4            INDIKATOR KESEHATAN

Suatu instansi yang telah mempunyai visi dan misi untuk mencapainya tentu
membutuhkan informasi untuk perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan
pelaksanaan    dan    evaluasi.    Oleh   karena   itu   langkah   selanjutnya   adalah
mengidentifikasi kebutuhan informasi. Apabila daftar informasi telah tersusun
barulah untuk masing-masing informasi ditetapkan indikatornya yang tepat.


4.1. DEFINISI INDIKATOR
Ada beberapa definisi indikator, diantaranya sebagai berikut :
a.   Indikator adalah variabel yang membantu kita dalam mengukur perubahan-
     perubahan yang terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung (WHO,
     1981)
b.   Indikator adalah statistik dari hal normatif yang menjadi perhatian kita yang
     dapat membantu kita dalam membuat penilaian ringkas, komprehensif dan
     berimbang terhadap kondisi-kondisi atau aspek- aspek          penting dari suatu
     masyarakat (Departemen kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Amerika
     Serikat, 1969)
c.   Indikator adalah variabel-variabel yang mengindikasikan atau memberi petunjuk
     kepada kita tentang suatu kejadian tertentu, sehingga dapat digunakan
     untuk mengukur perubahan (Green, 1992)



4.2. KRITERIA INDIKATOR
Penetapan Indikator, perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai sebagai
berikut:
a.   Bermanfaat artinya indikator dapat segera memperlihatkan tindakan yang
     diperlukan untuk meningkatkan kinerja program
b.   Terjangkau artinya indikator dapat disediakan dalam format dan waktu
     yang sesuai dengan keperluan program
.    Etis artinya seluruh proses mulai dari pengumpulan data, pengelolaan sampai
     dengan penyajian data untuk indikator bersifat etis yaitu memenuhi hak
     individu, dalam hal kerahasiaan, kebebasan untuk memberikan keterangan

                                                                                          45
                                INDIKATOR KESEHATAN


     (data) dan informed consent, sehubungan dengan implikasi dari data
     ditengah-tengah masyarakat umum
d.   Robust artinya indikator tersebut memenuhi syarat ilmiah yaitu valid, reliabel,
     spesifik dan sensitif
1)   valid artinya indikator tersebut dapat mengukur situasi yang memang sedang
     dipelajari
2)   reliabel artinya hasil pengukurannya selalu akurat dan konsisten
3)   spesifik artinya indikator tersebut dapat secara khas mengidentifikasi situasi
     yang sedang dipelajari dan tidak mengikutsertakan kasus-kasus lain yang
     sedang dipelajari
4)   sensitif artinya indikator tersebut mampu memperlihatkan perubahan situasi
     yang sedang dipelajari
e. Mewakili artinya indikator dapat mencakup seluruh komponen atau kelompok
     masyarakat yang menjadi sasaran program
f.   Dimengerti artinya indikator dapat dengan mudah dimengerti dan
     disimpulkan oleh pelaku program.


 Sesuai kebijakan desentralisasi, pemerintah daerah khususnya Kabupaten/Kota
 diberi tugas, wewenang, kewajiban, dan tanggung jawab untuk menangani urusan
 pemerintahan termasuk kesehatan. Sejalan dengan kebijakan tersebut maka SK
 Menkes RI No. 1457/Menkes/SK/X/2003 menetapkan Standar Pelayanan Minimal
 (SPM) bidang Kesehatan Kabupaten/Kota.            Standar Pelayanan Minimal ini
 merupakan tolok ukur kinerja pelayanan kesehatan yang diselenggarakan di
 Kabupaten/Kota.


 Kinerja dalam Arsitektur Program merupakan struktur yang menghubungkan antara
 sumberdaya dengan hasil atau sasaran perencanaan, serta merupakan instrumen
 untuk merancang, memonitor dan melaporkan pelaksanaan anggaran. Pengukuran
 kinerja memerlukan penetapan-penetapan indikator yang sesuai dan terkait dengan
 informasi kinerja yang terdiri dari input, kegiatan, output, outcome dan impact.
 Secara konseptual, bagan informasi adalah sebagai berikut:




                                                                                       46
                                  INDIKATOR KESEHATAN




DAMPAK                  Hasil pembangunan yang diperoleh dari                Apa yang ingin diubah
                        pencapaian outcome



OUTCOME                 Manfaat dlm jangka menengah untuk                     Apa yang ingin dicapai
                        beneficiaries ttt sbg output



OUTPUT                  Produk/barang/jasa akhir yang                         Apa yg dihasilkan
                                                                              (barang / jasa)


KEGIATAN
                        Proses/kegiatan yang menghasilkan                      Apa yang dikerjakan
                        output yang diinginkan


                        Sumberdaya yg memberikan kontribusi                    Sumber daya yang
INPUT                                                                          digunakan dlm bekerja
                        dalam menghasilkan output

Indikator     ditetapkan    secara     spesifik   untuk     mengukur       pencapaian   kinerja
berkaitan      dengan      informasi    kinerja   (input,    activities,    output,   outcome,
impacts).



4.3. BENTUK DAN JENIS INDIKATOR

   Bentuk Indikator dapat berupa :


           Jumlah
           Proporsi
           Rasio
           Rate

   Jenis Indikator

   1.Indikator sistem

           Input;     sumberdaya kesehatan
           Proses; monitor aktifitas
           Output; hasil pelayanan (cakupan)


                                                                                                       47
                               INDIKATOR KESEHATAN


          Effect; KAP
          Outcome;    efek jangka panjang (mortality, AHH)
   2. Indikator program

       Pembangunan Kesehatan


          Tingkat Puskesmas (basic 6)
          Tingkat Dinas Kesehatan

       Pelayanan Medis


          Tingkat Puskesmas (dalam gedung)
          Tingkat Rumah Sakit

4.4. CONTOH INDIKATOR PROGRAM


Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Program kesehatan ibu dan anak (KIA) merupakan salah satu prioritas utama
pembangunan kesehatan di Indonesia. Program ini bertanggung jawab terhadap
pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi neonatal. Salah satu
tujuan program ini adalah menurunkan kematian dan kejadian sakit di kalangan ibu.


Pengertian KIA
Pengertian Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah upaya dibidang kesehatan
yang       menyangkut tentang        kesehatan   ibu mulai    dari   pelayanan   dan
pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta
anak pra sekolah (Depkes, R.I., 1997).


Tujuan Program KIA
Tujuan program KIA adalah peningkatan derajat kesehatan ibu, bayi dan anak
beserta keluarganya secara optimal melalui pemantapan dan meningkatkan
mutu pelayanan KIA secara efektif dan efisien.     Pelayanan KIA yang efektif dan
efisien diharapkan dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Bayi (AKB).
Kegiatan pokok dalam pemantapan dan peningkatan mutu pelayanan KIA saat ini
adalah sebagai berikut:




                                                                                       48
                                INDIKATOR KESEHATAN


1.   Peningkatan pelayanan antenatal di semua fasilitas pelayanan dengan mutu
     sesuai standar serta menjangkau seluruh sasaran.
2.   Peningkatan pertolongan persalinan ditujukan kepada peningkatan pertolongan
     oleh tenaga kesehatan kebidanan.
3. Peningkatan deteksi dini risiko tinggi/komplikasi kebidanan, baik                        oleh
     tenaga kesehatan maupun dimasyarakat oleh kader dan dukun bayi, serta
     penanganan dan pengamatannya secara terus menerus.
4.   Peningkatan      penanganan       komplikasi     kebidanan      secara      adekuat    dan
     pengamatan secara terus menerus oleh tenaga kesehatan.
5.   Peningkatan pelayanan neonatal dan ibu nifas dengan mutu sesuai standar
     dan menjangkau seluruh sasaran (Depkes, R.I., 2002).


Batasan-Batasan dan indikator Program KIA
A.     Batasan dan Terminilogi Operasional KIA.
       1. Pelayanan Antenatal (ANC).
           Pelayanan      antenatal     adalah      pelayanan   kesehatan        oleh     tenaga
           kesehatan untuk      ibu     hamil    selama       masa    kehamilannya,        yang
           dilaksanakan sesuai dengan               standar   pelayanan       antenatal    yang
           telah     ditetapakan.     Standar operasional yang          ditetapkan saat ini
           untuk     pelayanan minimal antenatal adalah “7T”.               (T)imbang Berat
           Badan, Ukur (T)ekanan Darah, Ukur (T)inggi Fundus Uteri, Imunisasi
           (T)etanus Toxoid, Pemberian (T)ablet Tambah Darah, (T)es terhadap
           penyakit menular seksual dan (T)emu wicara dalam rangka persiapan
           rujukan.
       2. Penjaringan dini kehamilan berisiko.
           Kegiatan yang bertujuan menemukan ibu hamil berisiko/komplikasi,
           yang dapat dilakukan oleh kader, dukun bayi dan tenaga kesehatan.
       3. Kunjungan ibu hamil.
           Kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan
           baik di    posyandu, pondok bersalin desa, atau sarana kesehatan
           lainnya baik yang dikunjungi oleh tenaga kesehatan maupun ibu hamil
           yang berkunjung ke tenaga atau sarana kesehatan untuk mendapatkan
           pelayanan antenatal sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
       4. Kunjungan baru ibu hamil (K1).
           Adalah     kunjungan       ibu   hamil     yang    pertama     kali    pada     masa
           kehamilannya untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan
           standar yang telah ditetapkan.


                                                                                                   49
                               INDIKATOR KESEHATAN

        5. Kunjungan Ulang
            Adalah kunjungan ibu hamil yang kedua dan seterusnya selama masa
            kehamilannya,    untuk     mendapatkan    pelayanan    antenatal   sesuai
            dengan standar selama masa kehamilannya berlangsung.
        6. Kunjungan Ulang Ibu Hamil (K4)
            Adalah kontak ibu dengan tenaga kesehatan yang keempat atau
            lebih dengan syarat satu kali pada triwulan I, satu kali pada triwulan II,
            dan dua kali pada triwulan III sesuai dengan standar yang telah
            ditetapkan.
        7. Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Linakes)
            Adalah ibu hamil yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan
            baik di rumah ibu hamil atau sarana pelayanan kesehatan lainnya.
        8. Kunjungan Neonatal (KN) dan Nifas
            Adalah kontak neonatal dengan tenaga kesehatan minimal 2 (dua) kali
            yaitu 1 (satu) kali kontak dengan tenaga kesehatan pada hari pertama
            sampai hari ke tujuh setalah melahirkan dan 1 (satu) kali kontak
            dengan tenaga kesehatan pada hari ke delapan sampai hari ke dua
            puluh delapan setelah melahirkan.


Program Keluarga Berencana (KB)
Pelayanan keluarga berencana adalah merupakan bagian dari upaya kesehatan
wajib yang harus dilaksanakan oleh Puskesmas dan merupakan bagian dari upaya
kesehatan ibu dan anak serta KB. Puskesmas menjadi penanggungjawab setiap
pelaksanaan pelayanan KB di wilayahnya, mencakup pelayanan yang dilakukan
oleh Puskesmas pembantu, polindes, Klinik swasta termasuk BPS dan DPS yang
ada diwilayah Puskesmas tersebut.
Pengelolaan    program    KB    pada    prinsipnya   bertujuan memantapkan       dan
meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan KB secara efektif dan efisien.
Pemantapan pelayanan KB dewasa ini diutamakan pada kegiatan pokok sebagai
berikut :
1. Peningkatkan mutu pelayanan KB dengan memberikan pelayanan sesuai
    standar yang telah ditetapkan, oleh tenaga yang terampil dan berkompeten.
2. Peningkatan manajemen dalam pelayanan KB dengan lebih memperhatikan
    pencatatan dan pelaporan, dimaksudkan untuk mendapatkan data yang dapat
    dianalisis untuk mengetahui kinerja pelayanan KB
3. Melaksanakan penyeliaan fasilitatif yaitu penyeliaan yang lebih mengutamakan
    kajian terhadap sistem dalam menemukan masalah atau penyebab rendahnya



                                                                                         50
                                      INDIKATOR KESEHATAN



      kinerja.
4. Mnegintegrasikan palayanan KB ke dalam Sistem kesehatan setempat, dengan
      menempatkan pelayanan KB sebagai salah satu upaya prioritas dalam
      kesehatan reproduksi.


Indikator Pelayanan KB

Guna memenuhi ketersediaan data yang lengkap dan akurat dalam pelayanan
program keluarga berencana maka diperlukan sistem pencatatan dan pelaporan
dari hasil pelayanan KB mulai dari unit pelayanan terbawah polindes/poskesdes,
puskesmas pembantu, puskesmas, klinik swasta, Bidan Praktek Swasta, Dokter
Praktek Swasta, Rumah Sakit pemerintah hingga tingkat manajemen Dinas
Kesehatan kabupaten/kota, Dinas Kesehatan propinsi, serta Depkes pusat.

Berikut ini beberapa indikator pelayanan yang ditetapkan depkes untuk digunakan
dalam menggambarkan kinerja dan kualitas pelayanan KB. Akan tetapi pemerintah
daerah dapat melakukan penambahan indikator sesuai kebutuhannya.
Tabel 1. Indikator Pelayanan KB Tingkat Pusat
                                     Indikator Pelayanan KB
           Tenaga                  Sarana dan Prasarana                     Cakupan Pelayanan

                 -             1. Ketersediaan alokon untuk     1.        Persentase Peserta KB Aktif
                                  keluarga Miskin (GAKIN)                 (CPR)
                               2. Ketersediaan alokon untuk     2.        Persentase Komplikasi
                                  Non GAKIN                     3.        Persentase Kegagalan
                                                                4.        Persentase Drop Out
                                                                5.        Persentase PUS Miskin Ber-KB
                                                                6.        Persentase PUS 4T Ber-KB


Tabel 2. Indikator Pelayanan KB Tingkat Prop/Kab/Kota
                                    Indikator Pelayanan KB
             Tenaga                  Sarana dan Prasarana                   Cakupan Pelayanan
 1.    Jumlah dokter SPOG di        1. Ketersediaan peralatan        1.     Persentase Peserta KB
       RS                              pelayanan KB (IUD kit,               Aktif (CPR)
 2.    Jumlah dokter umum              implant kit, dll)             2.     Persentase Peserta KB
       terlatih standardisasi KB    2. Ketersediaan BHP                     Baru
       di fasilitas pelayanan KB       (Bahan Habis Pakai)           3.     Persentase Komplikasi
       (RS, Puskesmas, DPS)         3. Ketersediaan alokon           4.     Persentase Kegagalan
 3.    Jumlah bidan terlatih           untuk keluarga Miskin         5.     Persentase Drop Out
       standardisasi KB di             (GAKIN)                       6.     Persentase PUS Miskin
       fasilitas pelayanan KB       4. Ketersediaan alokon                  Ber-KB
       (RS, Puskesmas, BPS)            untuk Non GAKIN               7.     Persentase PUS 4T Ber-KB
 4.    Jumlah Bidan di desa                                          8.     Persentase PUS dengan
       yang terlatih                                                        atau menderita penyakit
       standardisasi KB                                                     kronis ber-KB
       (Polindes/Poskesdes)                                          9.     Persentase ibu paska
                                                                            bersalin/ abortus ber KB




                                                                                                         51
                              INDIKATOR KESEHATAN




Penjelasan masing-masing indikator berikut perhitungan dapat dilihat berikut ini:

Indikator Tenaga

   a. Jumlah dokter SpOG yang terlatih KB di RS: jumlah seluruh dokter
       spesialis obstetri dan gynekologi yang memberikan pelayanan KB di RS.

   b. Jumlah dokter umum yang terlatih KB di fasilitas pelayanan KB: jumlah
       dokter umum yang bertugas di RS, Puskesmas, dan Dokter Praktek Swasta
       yang telah mendapatkan pelatihan standarisasi pelayanan KB.

   c. Jumlah Bidan yang terlatih KB di fasilitas pelayanan KB: jumlah bidan
       yang bertugas di RS, Puskesmas, dan Bidan Praktek Swasta yang telah
       mendapatkan pelatihan standarisasi KB.

   d. Jumlah Bidan di desa yang terlatih KB:              jumlah bidan desa yang
       bertugas di Polindes/Poskesdes        yang telah mendapatkan        pelatihan
       standarisasi KB.



Indikator Sarana dan Prasarana

   a. Persentase ketersediaan alkon untuk Gakin: persentase jumlah pil, obat
       suntik KB, IUD, Implant dan kondom untuk keluarga/PUS miskin yang
       tersedia di fasilitas pelayanan KB terhadap kebutuhan alokon untuk
       Gakin/PUS miskin.


         Jumlah alokon yang tersedia untuk Gakin x 100%
         Jumlah kebutuhan alokon untuk Gakin




   b. Persentase ketersediaan alokon untuk Non Gakin: persentase jumlah pil,
       obat suntik KB, IUD, Implant dan kondom untuk keluarga tidak miskin yang
       tersedia di fasilitas pelayanan KB terhadap seluruh kebutuhan alokon untuk
       non Gakin.


         Jumlah alokon yang tersedia untuk non Gakin x 100%
         Jumlah kebutuhan alokon untuk non Gakin




                                                                                       52
                             INDIKATOR KESEHATAN




   c. Ketersediaan Peralatan pelayanan KB: jumlah ketersediaan peralatan
      untuk pelayanan KB menurut fasilitas pelayanan KB.

   d. Ketersediaan BHP (Bahan Habis Pakai): jumlah ketersediaan bahan
      habis pakai di fasilitas pelayanan KB.



Indikator Cakupan Pelayanan
   a. Cakupan Peserta KB Baru:

      Definsi Operasional:
      Peserta KB Baru adalah PUS yang baru pertama kali menggunakan metode
      kontrasepsi termasuk mereka yang pasca keguguran, sesudah melahirkan,
      atau pasca istirahat minimal 3 bulan.



      Perhitungan: Persentase peserta KB baru yang dilayani terhadap seluruh
      PUS di suatu wilayah kerja tertentu.


         Jumlah Peserta KB Baru       x 100%
         Jumlah PUS




      Interpretasi:

      Indikator ini digunakan untuk menilai kinerja program KB dengan melihat
      pencapaian per bulan/ per tahun dan membandingkannya dengan target
      masing-masing wilayah. Bila angka yang diperoleh rendah atau menurun,
      hal ini dapat menunjukkan kinerja program yang kurang, khususnya terkait
      dengan pemberian konseling, yang saat ini dianjurkan menggunakan alat
      bantu yang disebut ABPK (Alat Bantu Pengambil Keputusan ber KB).

      Indikator peserta KB baru dapat disajikan menurut metode kontrasepsi, per
      bulan/per tahun maka dapat dilihat kecenderungan jenis kontrasepsi yang
      banyak dipilih PUS. Jika peserta KB baru banyak memilih jenis kontrasepsi
      bukan jangka panjang      seperti pil, suntik, kondom, obat vaginal, maka
      petugas harus meningkatkan pemberian konseling melalui ABPK agar klien
      mampu memilih alat kontrasepsi yang betul-betul efektif dan efisien bagi
      mereka dalam mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, seperti
      kontrasepsi jangka panjang yaitu AKDR, Implant, MOP dan MOW.


                                                                                  53
                             INDIKATOR KESEHATAN




b. Cakupan Peserta KB Aktif (Contraceptive Prevalence Rate/CPR)

   Definsi Operasional : Peserta KB aktif (PA) adalah peserta KB baru dan
   lama yang masih aktif memakai alokon terus-menerus hingga saat ini untuk
   menjarangkan kehamilan atau yang mengakhiri kesuburan.


   Perlu dipahami bahwa dalam konsep kohort, PA bukanlah akseptor
   kunjungan ulang. Sehingga perhitungan seorang akseptor sebagai PA
   hanya dilakukan satu kali dalam satu tahun kalender.


   Perhitungan: Persentase peserta KB aktif terhadap total PUS, di suatu
   wilayah kerja tertentu.


      Jumlah Peserta KB Aktif x 100%
      Jumlah PUS

   Interpretasi:

   Indikator ini menunjukkan berapa besar pasangan usia subur yang
   berpotensi hamil yang terlindungi dari kejadian kehamilan. Indikator ini
   digunakan untuk menilai kinerja program KB dengan melihat pencapaian
   per bulan/ per tahun dan membandingkannya dengan target masing-masing
   wilayah.

   Bila angka ini rendah atau di bawah target nasional 70%, ini menunjukkan
   banyaknya PUS yang tidak menggunakan kontrasepsi padahal mereka
   berpotensi untuk hamil. Hal ini berakibat meningkatnya jumlah kehamilan
   yang       tidak     diinginkan/direncanakan,     meningkatnya       risiko
   kehamilan/persalinan, selanjutnya meningkatnya risiko kesakitan/kematian
   ibu jika kehamilan terjadi pada kelompok PUS dengan ”4 Terlalu” atau PUS
   dari keluarga miskin atau PUS dengan penyakit kronis.


c. Persentasi Komplikasi
   Definisi Operasional: Komplikasi adalah Peserta KB baru atau lama yang
   mengalami gangguan kesehatan mengarah pada keadaan patologis,
   sebagai    akibat   dari    proses   tindakan/pemberian/pemasangan    alat
   kontrasepsi yang digunakan seperti: perdarahan, infeksi/abses, fluor albus



                                                                                 54
                                 INDIKATOR KESEHATAN




        bersifat patologis, perforasi,       translokasi, hematoma,        tekanan darah
        meningkat, perubahan HB, expulsi (Depkes, 2005:16).
        Komplikasi yang terjadi dalam periode satu tahun kalender dihitung satu
        kali. Diihitung per metode IUD, Implant, suntik, Pil, MOP, dan MOW




        Perhitungan: Persentase peserta KB yang mengalami komplikasi (per
        metode kontrasepsi) terhadap seluruh peserta KB aktif (per metode
        kontrasepsi) di wilayah kerja tertentu.



            Jumlah Kasus Komplikasi            x 100%
            Jumlah peserta KB aktif



        Interpretasi:

        Target dari indikator ini digunakan adalah agar semua kasus komplikasi
        dapat diidentifikasi dan dapat tertangani. Indikator ini digunakan untuk
        menilai kualitas pelayanan KB dengan melihat kasus per bulan atau per
        tahun dan membandingkannya dengan angka toleransi                       yang    telah
        ditetapkan oleh para ahli di masing-masing wilayah.

        Bila angka ini tinggi atau diatas angka toleransi (3,5%1), ini menunjukkan
        bahwa kualitas pelayanan KB perlu ditingkatkan terutama terkait dengan
        ketrampilan     petugas. Untuk perbaikan kualitas pelayanan maka perlu
        dianalisis kontrasepsi apa saja yang paling banyak terjadi. Kemudian
        dipikirkan rencana tindak lanjut untuk mengeliminir masalah tersebut.
        Misalnya mungkin diperlukan pelatihan CTU sebagai refreshing bagi bidan-
        bidan dan dokter pemberi pelayanan KB.


    d. Persentase Kegagalan Kontrasepsi
        Definisi Operasional:       Kegagalan Kontrasepsi adalah kasus terjadinya
        kehamilan pada akseptor KB aktif yang pada saat tersebut menggunakan
        metode kontrasepsi (Depkes, 2005:15).



1 Depkes RI dan UNFPA. Analisa Situasi dan Bimbingan Teknis Pengelolaan Pelayanan KB.
Jakarta: Dirjen Binkesmas, 2005.


                                                                                                55
                               MONITORING DAN EVALUASI



           Perhitungan:    Persentase    peserta    KB    yang    mengalami   kegagalan
           kontrasepsi terhadap seluruh peserta aktif di wilayah kerja tertentu.



              Jumlah kasus kegagalan KB        x 100%
              Jumlah peserta KB aktif

           Interpretasi:

           Indikator kegagalan kontrasepsi salah satu indikator untuk menilai kualitas
           pelayanan KB dengan melihat kasus              per    bulan/ per tahun    dan
           membandingkannya dengan angka toleransi di masing-masing wilayah.

           Apabila angka ini tinggi atau diatas angka toleransi (0,2%2), hal ini
           menunjukkan kualitas pelayanan KB perlu ditingkatkan terutama terkait
           dengan pemberian konseling. Kegagalan kontrasepsi dapat terjadi karena
           memang setiap metode kontrasepsi angka efektifitasnya tidak 100%, berarti
           ada kemungkinan terjadinya kegagalan walaupun sangat kecil sekali. Dilain
           pihak, kegagalan ini dapat pula disebabkan oleh ketidaktahuan pada aturan
           pakai atau cara pakai yang keliru sehingga menyebabkan efektifitas
           mencegah kehamilannya rendah. Dalam kejadian ini petugas diharapkan
           meningkatkan kualitas konselingnya dan memberikan pelayanan dalam
           mengatasi kegagalan tersebut.

           Agar perbaikan kualitas dapat dilaksanakan maka setiap kegagalan perlu
           dianalisis menurut jenis kontrasepsi sehingga dapat           diketahui   jenis
           kontrasepsi yang paling banyak mengalami kegagalan.                 Kemudian
           rencanakan tindak lanjut untuk mengeliminir masalah tersebut. Sebagai
           contoh kurangnya kemampuan konseling para bidan pemberi pelayanan,
           maka direncanakan pelatihan ABPK.



      e. Cakupan PUS Miskin Ber-KB:
           Definisi Operasional: PUS Miskin adalah PUS yang memenuhi kriteria
           sebagai keluarga miskin (gakin) menurut BPS.


           Perhitungan: Persentase PUS miskin yang menjadi peserta KB terhadap
           jumlah PUS miskin di wilayah kerja tertentu.


2
    idem




                                                                                             56
                       MONITORING DAN EVALUASI




   Jumlah PUS Gakin ber-KB          x 100%
   Jumlah PUS Gakin



   Interpretasi:

  Indikator ini digunakan untuk menilai akses keluarga miskin untuk ber-KB.
  Untuk menilai akses tersebut maka indikator ini dianalisis dan disajikan per
  bulan/ per tahun dan membandingkannya dengan target masing-masing
  wilayah.

  Bila angka yang diperoleh rendah atau menurun, hal ini dapat menunjukkan
  akses keluarga miskin untuk ber-KB rendah. Rendahnya akses ini dapat
  disebabkan rendahnya promosi KB, tindak lanjutnya perlu ditingkatkan
  upaya promosi terutama untuk kelompok gakin.


f. Cakupan PUS dengan “4T” ber-KB

  Definisi Operasional:PUS dengan “4T” ( 4 Terlalu) adalah PUS dimana
  istrinya memiliki salah satu kriteria “4T” yaitu : 1) berusia kurang dari 20
  tahun; 2) berusia lebih 35 tahun; 3) telah memiliki anak hidup lebih dari 3
  orang; atau 4) jarak kelahiran antara satu anak dengan lainnya kurang dari
  2 tahun.

  Perhitungan: Persentase PUS dengan “4T” yang menjadi peserta KB
  terhadap seluruh PUS dengan “4T” di wilayah kerja tertentu.


       Jumlah PUS “4T” ber-KB x 100%
       Jumlah PUS dengan “4T”

  Interpretasi:

  Kehamilan atau Kelahiran pada kondisi “4T” memiliki resiko terjadinya
  kesakitan bahkan kematian ibu. Oleh karena itu, hamil/bersalin pada PUS
  yang memiliki potensi untuk hamil/melahirkan pada kondisi “4T” harus
  dicegah dengan menggunakan kontrasepsi.

  Indikator   ini    dianalisis     dan     disajikan   perbulan/pertahun    dan
  membandingkanya dengan target masing-masing wilayah.            Bila angka ini
  rendah atau       menurun       maka    program   pemberian   konseling   perlu
  ditingkatkan terutama pada kelompok PUS memiliki potensi “4T”




                                                                                    57
                        MONITORING DAN EVALUASI




g. Persentase Drop Out
   Definisi Operasional: Peserta drop out adalah peserta yang tidak
   melanjutkan penggunaan kontrasepsi (drop-out) dalam satu tahun kalender
   dibandingkan jumlah peserta aktif di wilayah kerja tertentu. Kasus DO tidak
   termasuk mereka yang ganti cara.


   Perhitungan:

      Jumlah kasus drop-out x 100%
      Jumlah peserta KB aktif


   Interpretasi:

   Menurut SDKI 2002-2003,         angka DO cukup tinggi yakni 20,7% dimana
   sebagian besar penyebabnya adalah karena ingin hamil lagi, mengalami
   efek samping, ingin metode yang lebih efektif, dan kurangnya akses.

   Berdasarkan alasan-alasan tersebut diatas, maka petugas kesehatan dapat
   meningkatkan kualitas konselingnya agar klien yang DO karena ingin hamil
   lagi dapat melakukannya apabila jarak kelahirannya sudah 2 tahun,
   kemudian apabila konseling yang diberikan berkualitas maka seharusnya
   tidak terjadi DO bagi klien yang mengalami efek samping karena semua
   obat kontrasepsi pasti ada efek samping yang tidak membahayakan
   kesehatan klien.

   Indikator   ini    dianalisis    dan    disajikan     perbulan/pertahun   dan
   membandingkanya dengan target masing-masing wilayah. Bila angka ini
   meningkat, maka hal ini menunjukkan bahwa mutu pelayanan KB perlu
   ditingkatkan, seperti pemberian konseling yang berkualitas.

h. Cakupan PUS dengan penyakit kronis ber-KB

   Definisi Operasional: PUS dengan penyakit kronis adalah PUS yang
   istrinya menderita salah satu penyakit kronis berikut: kencing manis,
   jantung, asma berat, malaria, TBC, Anemia, KEK (kurang energi
   kronik)/LILA<23,5 cm,      atau Infeksi    menular     seksual/Infeksi saluran
   reproduksi/HIV-AIDS/Hepatitis      B.   Untuk       HIV-AIDS   pelaksanaannya
   disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.




                                                                                    58
                                MONITORING DAN EVALUASI



          Perhitungan: Persentase PUS dengan penyakit kronis yang menjadi
          peserta KB terhadap seluruh PUS dengan penyakit kronis di wilayah kerja
          tertentu.


              Jumlah PUS sakit kronis ber-KB    x 100%
              Jumlah PUS dengan penyakit kronis


         Interpretasi:
          Kehamilan atau kelahiran pada PUS yang memiliki salah satu penyakit
          kronis memiliki resiko terjadinya kesakitan bahkan kematian ibu. Oleh
          karena itu, hamil/bersalin pada PUS yang dengan kondisi tersebut harus
          dicegah dengan menggunakan kontrasepsi.

          Indikator   ini     dianalisis   dan     disajikan     perbulan/pertahun        dan
          membandingkannya dengan target masing-masing wilayah. Bila angka ini
          tinggi atau meningkat maka program pemberian KIP/K perlu ditingkatkan
          terutama pada kelompok ini.

    i.    Cakupan ibu paska persalinan ber KB

          Definisi Operasional:      Paska persalinan ber KB adalah ibu yang mulai
          menggunakan alat kontrasepsi langsung sesudah melahirkan (sampai
          dengan 42 hari sesudah melahirkan).

          Perhitungan: Persentase ibu paska persalinan ber KB terhadap jumlah
          sasaran ibu persalinan dalam 1 tahun.


            Jumlah ibu paska persalinan ber KB x 100%
            Jumlah sasaran ibu bersalin



          Jumlah sasaran ibu bersalin diperkirakan dengan menggunakan cara
          perhitungan berikut:3

           Jumlah sasaran ibu bersalin = CBR x 1,05 x jumlah penduduk di
           wilayah tersebut


          CBR (Crude Birth Rate) = angka kelahiran kasar, angka ini bisa didapatkan
          dari kantor BPS setempat (Propinsi atau Kabupaten/Kota).

3Depkes RI, Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Depkes RI,
2003



                                                                                                59
                               MONITORING DAN EVALUASI



           Interpretasi:

           Kembalinya kesuburan sesudah sesudah bersalin sulit diperkirakan.
           Sehingga kehamilan dapat terjadi tanpa disadari yang menyebabkan
           terjadinya kehamilan yang tidak dinginkan/direncanakan. Maka penggunaan
           kontrasepsi sesudah bersalin harus sesegera mungkin.            Oleh karena itu
           indikator ini menjadi salah satu indikator yang menilai kinerja pelayanan KB.
           Indikator   ini    dianalisis    dan    disajikan    perbulan/pertahun     dan
           membandingkannya dengan target masing-masing wilayah. Bila angka ini
           rendah (tidak mencapai 100%) maka program pemberian KIP/K pasca
           persalinan perlu ditingkatkan.



4.5. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN INDIKATOR
Indikator bersifat dinamis, mengikuti perkembangan kebutuhan informasi suatu
instansi,     oleh karena itu       untuk   memenuhi kebutuhan          tersebut diperlukan
pengembangan indikator. Ada 7 langkah dalam pengembangan indikator yaitu :
      a. Menyusun daftar perogram kesehatan yang berfungsi
      b. Menyebutkan semua indikator yang tersedia, data yang diperlukan dan
             sumber datanya yang relevan pada tiap program
      c. Pada setiap program, nilailah setiap indikator berdasarkan kriteria :
             bermanfaat, terjangkau, etis, robust, mewakili dan dimngerti
      d. Pilih indikator dari daftar yang tersedia untuk setiap program
      e. Kembangkan indikator baru yang diperlukan untuk setiap program
      f.     Nilailah sejauh mana pengumpulan data yang ada dapat memenuhi
             kebutuhan penyajian indikator-indikator terpilih
      g. Tinjau ulang secara lintas program mengenai keseimbangan dan
             saling terkait antar indikator terpilih dan identifikasi kesenjangan.



4.6. TOOLS DALAM PENGEMBANGAN INDIKATOR
   Berikut beberapa contoh format acuan penyusunan indikator :




                                                                                              60
                               MONITORING DAN EVALUASI



  a. Fomulir Bappenas

       FORMULIR 1 : LEMBAR KERJA PENYUSUNAN PROGRAM DAN
                        KEGIATAN (Eselon 1)

UNIT KEMENTRIAN                    / :
LEMBAGA
ESELON 1                                   :
VISI                                       :
MISI                                       :


                       INDIKATOR
TUGAS        INDIKATOR PROGRAM    USULAN  USULAN
      FUNGSI
POKOK         TUPOKSI    UTAMA/  PROGRAM KEGIATAN
                        OUTCOME




 FORMULIR 1 . PENYUSUNAN PROGRAM DAN KEGIATAN DEPARTEMEN
                     KESEHATAN (Eselon 2)

Lembaga     : .........................
Eselon 2      :.........................
Visi        :.........................
Misi        :.........................
Tujuan       : ........................
Sasaran     : ........................

 TUGAS                                INDIKATOR   INDIKATOR    USULAN
             FUNGSI
 POKOK                                 TUPOKSI     KEGIATAN   KEGIATAN




                                                                         61
                            MONITORING DAN EVALUASI

             FORMULIR 3. INFORMASI INDIKATOR KINERJA

                  INDIKATOR UTAMA                                FORM ISIAN
1    NAMA INDIKATOR
     Mengidentifikasi nama dan kategori indikator
     (indikator output, jika juga merupakan indikator
     mainstreaming diberi tanda)
2    DEFINISI SINGKAT
     Memberikan penjelasan singkat mengenai indikator,
     dengan rincian yang jelas untuk memberikan
     pemahaman umum mengenai indikator tersebut
3    TUJUAN/ KEPENTINGAN *)
     Menjelaskan apa yang ingin dicerminkan dari sebuah
     indikator dan mengapa itu penting
4    SUMBER PENGUMPULAN DATA
     Menggambarkan darimana informasi didapat dan
     bagaimana pengumpulannya
5    METODE PENGHITUNGAN *)
     Menggambarkan cara penghitungan indikator
6    HAMBATAN PENGUMPULAN DATA *)
     Mengidentifikasi hambatan pengumpulan data atau
     informasi, terkait dengan pengukuran kinerja
7    TIPE PENGHITUNGAN *)
     Evaluasi/ pengukuran kinerja (kumulatif atau non-
     kumulatif)
8    JADWAL PELAPORAN
     Mengidentifikasi apakah indikator dilaporkan per-
     tigabulan atau pertahun
9    INDIKATOR BARU
     Mengidentifikasi indikator baru atau secara signifikan
     berubah, atau yang tidak berubah dibanding tahun lalu
10   KINERJA YANG DIHARAPKAN
     Mengidentifikasi tingkat dan arah kinerja yang
     diharapkan
11   PENANGGUNG JAWAB INDIKATOR
     Mengidentifikasi tanggungjawab secara individu/
     organisasi mengenai definisi, analisis data, interpretasi
     dan pelaporan yang terkait dengan indikator
12   PENGELOLA DATA INDIKATOR *)
     Mengidentifikasi tanggungjawab secara individu/
     organisasi untuk memastikan data indikator telah
     terkumpul dan tersedia sesuai jadwal
13   WAKTU PELAKSANAAN PENGUMPULAN
     DATA INDIKATOR
     Tanggal yang ditetapkan untuk memulai
     pengumpulan data indikator
14   STANDAR INDIKATOR *)
     Mengidentifikasi kinerja yang dapat diterima

*) Optional (dapat diisi/ tidak)




                                                                              62
2.RPJMN (Form mirip dengan formulir 2 Bappenas namun dengan sedikit pengembangan))

KEMENTRIAN LEBAGA
UNIT ESELON I
TUGAS POKOK
FUNGSI
                           INDIKATOR
                                                       INDIKATOR
                             KINERJA       POKOK
                                                         KINERJA
                              UTAMA      PROGRAM
  USULAN PROGRAM                                          UTAMA      USULAN KEGIATAN   INDIKATOR KEGIATAN
                            PROGRAM       (KOLOM
                                                        KEGIATAN
                               (OUT      ANTARA)
                                                       (OUT PUTS)
                             COMES)




                                                                                                            63
3. Logframe (KKL)

KEMENTERIAN/LEMBAGA
UNIT ESELON I
TUGAS POKOK
FUNGSI
USULAN PROGRAM
TUJUAN PROGRAM


                 GOAL (long term benefits)   INDIKATOR




     PURPOSE
 1/OUTCOME (what
should be attained to
   meet the goal)

RESULT 1.1 (outputs
  of the activities
 implemented and




                                                         64
which contribute to
the achievement of
   the purpose )
 ACTIVITES 1.1.1
(actions and means
   carried out to
achieve the results)
       1.1.2

       1.1.3

       1.1.3

    PURPOSE 2



    RESULT 2.1


  ACTIVITES 2.1.1
(actions and means
   carried out to
achieve the results)
       2.1.2
       2.1.3
    PURPOSE 3
   RESULT 3.1 ,
Activities 3.1.1 and
 sub activities…..




                       65
66
           MODUL 5
           Pelatihan Pemanfaatan
              Data Dan Informasi
                   Sebagai Dasar
             Perencanaan Daerah




MANAJEMEN DATA

                           67
68
                           MANAJEMEN DATA




                BAGIAN I

      5         MANAJEMEN DATA PRAKTIS
                MENGGUNAKAN APLIKASI
                SPREADSHEET


Isi :
I.1     Pengantar Aplikasi Spreadsheet
I.2     Penggunaan Data Eksternal




                                            69
                                     MANAJEMEN DATA




I.1    Pengantar Aplikasi Spreadsheet
Pengolahan data merupakan salah satu bagian rangkaian kegiatan setelah kegiatan
pengumpulan data. Seringkali kesulitan dialami oleh seorang yang bertugas untuk mengolah
data, melakukan analisa dan sekaligus membuat laporan untuk penyajian hasilnya. Salah
satu alasan di antaranya adalah menyangkut keterampilan dan keahlian petugas pengolah
data di dalam menggunakan alat bantu untuk manajemen dan analisa data. Sebagian
kalangan beranggapan diperlukan suatu aplikasi komputer khusus untuk melakukan
pengolahan dan analisa data dengan menggunakan beberapa prosedur statistik, yang
memang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan tertentu untuk menggunakannya.
Dalam modul ini akan diperkenalkan bagaimana memanfaatkan aplikasi spreadsheet
(seperti Ms Excel) yang sudah sangat lazim digunakan dan cukup banyak kalangan yang
sudah terbiasa menggunakan aplikasi tersebut untuk membantu pekerjaannya mengolah
data sehari-hari, meskipun fungsi-fungsi yang digunakan masih sangat terbatas.

       Ms Excel adalah salah satu program aplikasi spreadsheet popular yang banyak
digunakan untuk membantu user dalam melakukan perhitungan, membuat laporan dan
analisa serta mempresentasikan data. Ms Excel versi terbaru lebih terintegrasi dengan Ms
Office yang lain, apabila dibandingkan dengan sebelumnya. Hal ini karena didukung oleh
fasilitas OLE ( Object Linking and Embeadding ) yang memudahkan bertukar objek antar
program aplikasi, serta memudahkan transfer data dari program aplikasi spreadsheet yang
satu ke yang lainnya serta antar database. Ms Excel ini mempunyai banyak kemampuan
dan keunggulan yang dapat kita manfaatkan pengolahan dan analisa data. Excel dapat
menangani tabel data yang kompleks dan memberikan kemudahan dalam mengatur tabel
data tersebut. Fasilitas yang ditawarkan misalnya untuk mempermudah entri data,
mengurutkan data, validasi data, analisa data untuk menghitung nilai subtotal, analisa data


untuk menarik kesimpulan dari suatu tabel data, dan lain sebagainya. Fasilitas manajemen
data tersebut terdapat dalam menu Data. Jika kita klik menu Data tersebut maka ribbon-bar
pada aplikasi Ms Excel akan menampilkan sederetan perintah manajemen data yang dapat
kita gunakan.




                                                                                              70
               MANAJEMEN DATA




    Gambar I.1 Ribbon-bar Pada Excel 2007




Gambar I.2 Menu Pop-up Data Pada Excel 2000/03




                                                 71
                                      MANAJEMEN DATA




I.2    Penggunaan Data Eksternal

Terkadang data yang hendak kita analisa menggunakan Excel, bersumber dari aplikasi
(dengan format data yang berbeda) diluar aplikasi Excel, atau berada di sebuah database
eksternal lainnya. Oleh karena itu terkait dengan penggunaan data eksternal ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan dan atau dilakukan:

                       Template
Format Data                                             Langkah Yang Perlu
                    (Struktur) Data
                                          Membaca data (open file) secara default
Sama            Standar
                                          (biasa/normal)
                                          Membaca data (open file) secara default
Sama            Tidak Standar             (biasa/normal)
                                          Proses standarisasi struktur data
                                          Mengambil, mengimpor data ke dalam format
Berbeda         Standar
                                          tabel Excel
                                          Mengambil, mengimpor data ke dalam format
Berbeda         Tidak Standar             tabel Excel
                                          Proses standarisasi struktur data


                  Tabel I.1 Langkah Terkait Penggunaan Data Eksternal

Contoh Impor Data Eksternal (Format Text)



Misalnya kita mempunyai data dalam format text sebagai berikut:




                       Gambar I.2 Contoh Data Dalam Format Text




                                                                                           72
                                      MANAJEMEN DATA




Proses impor data eksternal dalam Excel:




1. Letakkan pointer pada sel tempat   2. Klik Data-Import External Data-
   data yang diinginkan                  Import Data



                              Gambar I.3 Impor Data Eksternal




                                                                           73
                                      MANAJEMEN DATA




1. Tentukan lokasi folder dari data        2.Pilih tipe file data berformat Text
   eksternal, misal My Documents           3.Sorot nama file data
                                         4. Klik Open

                            Gambar I.4 Memilih Sumber Data




                                                                                   74
                                  MANAJEMEN DATA




1. Pastikan pada opsi Delimited
2. Klik Next


                        Gambar I.5 Text Import Wizard Step 3




  1. Unchecked opsi Tab dan checked
     opsi Comma
  2. Klik Next

                        Gambar I.6 Text Import Wizard Step 2




                                                               75
                                 MANAJEMEN DATA




1. Setiap kolom data sesuaikan
   format datanya
2. Klik Finish


                      Gambar I.7 Text Import Wizard Step 3




             Gambar I.8 Hasil Impor Data Text Dalam Format Excel




                                                                   76
                                       MANAJEMEN DATA




Contoh Update Otomatis (Refresh Data) Data Eksternal (Format Text)



Data yang berhasil diimpor dari file text akan berada dalam lembar kerja sebagai suatu area
data eksternal, yang nama area datanya (data range) dapat diketahui melalui menu Data-
Import External Data-Data Range Properties.




                             Gambar I.9 Data Range Properties

Melalui fasilitas menu ini, kita dapat membuat setting agar secara berkala file data hasil
import tersebut langsung diupdate secara otomatis, apabila file data sumbernya (data
dengan format text) mengalami perubahan data (baik penambahan record maupun
pengurangan record data.

Berikut ini setting yang perlu dilakukan untuk melakukan update data secara otomatis (baik
dalam durasi waktu tertentu, atau setiap file lembar kerja dibuka (open file excel):




                                                                                              77
                                    MANAJEMEN DATA




Sesuai pada gambar I.9
   1. Pada bagian Refresh Control, Unchecked (hapus tanda centang) opsi Prompt for file
       name on refresh
   2. Lalu checked (centang) pada opsi Refresh Every, kemudian masukkan durasi waktu
       yang diinginkan untuk melakukan update data secara otomatis
   3. Opsi Refresh data on file open, juga boleh ditambahkan untuk dicentang
   4. Klik OK
Misal pada file data text sumber (aslinya) mengalami penambahan data seperti berikut




                Gambar I.10 Perubahan Data Pada File Data Text Sumber


Maka setelah dilakukan Refresh Data secara otomatis, file data excel hasil impor juga
mengalami perubahan data, tanpa harus dilakukan proses impor data ulang.




              Gambar I.11 Hasil Refresh Data Otomatis Pada File Data Excel




                                                                                          78
                                       MANAJEMEN DATA




Contoh Impor Data Eksternal (Database)



Untuk contoh pada kasus ini digunakan data eksternal file database dari aplikasi Ms Access,
misalnya berisi struktur tabel data sebagai berikut :




                  Gambar I.12 Contoh Struktur Tabel Data Pada Database




Selanjutnya kita bermaksud menggunakan Aplikasi Excel di mana datanya diimpor yang
berasal dari Aplikasi Database Ms Access tersebut. Adapun langkah-langkah untuk
melakukan impor data eksternal dari Aplikasi Excel adalah sebagai berikut.




                                                                                              79
                               MANAJEMEN DATA




1. Letakkan pointer pada sel tempat     2. Klik Data-Import External Data-
   data yang diinginkan                    Import Data


                      Gambar I.13 Impor Data Eksternal




 1. Tentukan lokasi folder dari data base      2. Pilih tipe file Access Database
    eksternal, misal My Documents              3. Sorot nama file data
                                               4. Klik Open
Gambar I.14 Memilih Database Sumber



                                                                                    80
                                        MANAJEMEN DATA




              1. Geser vertical scroll bar, untuk mencari data yang diinginkan
              2. Sorot tabel data yang diinginkan, misal Tibu (Tabel data Ibu Hamil)
              3. Klik OK




                       Gambar I.15 Memilih Sub (tabel) Data Sumber




                      1. Data terpilih diplot pada sel
                      2. Klik OK


                          Gambar I.16 Plot Data Terpilih Pada Sel


Maka hasil impor database eksternal seperti disajikan pada gambar berikut:




                                                                                       81
                                     MANAJEMEN DATA




                Gambar I.17 Hasil Impor Database Eksternal Pada Excel


Proses impor database eksternal tersebut juga menghasilkan file data hasil impor dalam
format ODC (Office Data Connection).




                  Import database eksternal menghasilkan file data dengan
                  format ODC pada aplikasi Excel


                       Gambar I.18 File Data Dengan Format ODC




                                                                                         82
                                     MANAJEMEN DATA




File ODC tersebut merupakan file koneksi yang berisikan data office yang dapat digunakan
kapan saja dalam dokumen Excel. Sehingga Jika anda bermaksud menggunakannya cukup
memanggil file data dengan format ODC tersebut. Dengan demikian sesungguhnya anda
bekerja dengan file aslinya (file terkoneksi), dan bukan bekerja dalam file berformat Excel
(xls).Di mana data dalam file berformat ODC akan terupdate secara otomatis ketika file
database yang aslinya mengalami perubahan data tanpa melalui mekanisme Refresh Data.




                                                                                              83
                        MANAJEMEN DATA




BAGIAN II
FUNGSI ANALISA DATA
MENGGUNAKAN APLIKASI SPREADSHEET


Isi :
II.1 Pengantar Analysis Tool Pak (Paket Alat Bantu Untuk
     Analisa Data) Dalam Aplikasi Spreadsheet
II.2 Penggunaan Tabel Pivot
II.3 Fungsi-Fungsi Dasar untuk Analisa Data




                                                           84
                                       MANAJEMEN DATA




II.1 Pengantar Analysis Tool Pak (Paket Alat Bantu Untuk
     Analisa Data) Dalam Aplikasi Spreadsheet
Program aplikasi Excel sesungguhnya cukup powerful digunakan untuk manajemen dan
analisa data, disamping beberapa fungsi standar yang tersedia seperti:


   1. Fungsi Finansial
       Fisibilitas investasi, penyusutan, aktiva, angsuran, dll
   2. Fungsi Tanggal dan Wkatu
       Penghitungan dalam dimensi waktu, penanggalan
   3. Fungsi Matematika dan Trigonometri
       Operasi matematika, trigonometri
   4. Fungsi Statistik
       Rata-rata, median, standar deviasi dll
   5. Fungsi Lookup dan Referensi
       Informasi berdasarkan pembacaan tabel data referensi
   6. Fungsi Database
       Penghitungan dan pencarian data
   7. Fungsi Teks
       Informasi dalam format teks
   8. Fungsi Logika
       Penggunaan tes logika yang dikerjakan dan menampilkan hasil proses berupa true
       (benar yang diberi nilai 1) atau false (salah yang diberi nilai 0)
   9. Fungsi Informasi
       Menghasilkan informasi tentang sel maupun range mengenai posisi maupun format
       yang berlaku padanya
   10. Fungsi Engineering
       Untuk perhitungan di bidang teknik dan matematika tingkat lanjut


Aplikasi Excel juga dilengkapi dengan kemampuannya untuk melakukan proses analisa data

yang lebih kompleks dengan menggunakan beberapa fungsi statistik lanjut, meskipun tidak

selengkap fungsi yang disediakan pada aplikasi khusus analisa data dan statistik. Beberapa

fungsi tersebut tersedia dalam paket program tambahan (Add-In) yang disebut dengan



                                                                                             85
                                       MANAJEMEN DATA




Analysis Toolpak. Piranti tambahan itu diperlukan untuk melengkapi fungsi built-in pada

komputer. Fungsi built-in adalah fungsi yang telah disediakan oleh Excel begitu program

selesai diinstal seperti beberapa fungsi tertentu yang telah disebutkan di atas.

Untuk mengecek, apakah fungsi Analysis Toolpak telah tersedia dapat dilakukan melalui

menu Tools-Add Ins.




              Gambar II.1 Mengecek Fungsi Analysis Toolpak Melalui Add-Ins




                     Gambar II.2 Fungsi Analysis Toolpak Telah Diinstal




                                                                                          86
                                       MANAJEMEN DATA




Jika tidak ada tanda centang, maka fungsi tersebut belum terinstal dalam komputer. Untuk

menginstalnya, sediakan CD master aplikasi Excel, lalu beri tanda centang seperti

ditunjukkan pada gambar, dan Klik OK.




II.2 Penggunaan Tabel Pivot
Fungsi tabel pivot digunakan untuk mempermudah dalam analisa data dari suatu susunan

struktur data yang tidak ringkas. Tabel pivot merupakan suatu ringkasan data dalam bentuk

tabel silang interaktif, di mana dapat melakukan proses kombinasi sekaligus perbandingan

data dalam jumlah besar.




                   1.   Sumber data
                   2.   Data pada data sumber yang diringkas
                   3.   Format ringkasan data dalam bentuk tabel pivot
                   4.   Hasil ringkasan data



                               Gambar II.3 Ilustrasi Tabel Pivot



Posisi data antara baris dan kolom dapat dirotasi untuk melihat ringkasan perbedaan dari

data sumber dan dapat ditampilkan bagian yang diperlukan atau diinginkan.




                                                                                            87
                                      MANAJEMEN DATA




Gunakanlah penyajian dalam bentuk tabel pivot ini ketika anda ingin menganalisa suatu nilai

kumulatif, terutama di saat anda memiliki record atau daftar data yang sangat banyak dari

suatu variabel tertentu misalnya dan anda dapat pula membandingkannya dengan antar

variabel lainnya yang berkaitan. Dari contoh ilustrasi tabel pivot di atas kita dapat lebih

mudah melihat atau memaknai total suatu jumlah/frekuensi dari karakteristik 1 dan jika

dibandingkan dengan karakteristik 2 atau lainnya. Tabel pivot juga bersifat interaktif, karena

anda dapat merubah tampilan lebih detil dengan beberapa penggunaan fungsi-fungsi

tambahan di dalam tabel pivot tersebut, seperti menghitung selisih antar karakteristik yang

berbeda, menghitung nilai rata-rata dan sebagainya. Dalam penyajian tabel pivot, setiap

kolom atau field pada data sumber menjadi field tabel pivot yang telah diringkas dari

beberapa baris data yang mempunyai kaitan informasi yang sama sebelumnya,

sebagaimana dilihat dalam contoh.



Kasus Latihan

Berikut ini sebuah template data yang diolah dari laporan Bulanan Penyakit (LB1) SP2TP




                               Gambar II.4 Contoh Data LB1



Kita asumsikan template data di atas dikumpulkan secara rutin dari tiap kabupaten. Record

data setiap bulannya akan bertambah pada baris baru berikutnya, begitu seterusnya. Hingga

kita mendapati sekumpulan data yang semakin banyak, tidak begitu ringkas yang

menyebabkan kita kesulitan untuk melakukan analisa data. Dengan bantuan fungsi tabel



                                                                                                 88
                                    MANAJEMEN DATA




pivot akan membantu kita meringkas data sehingga lebih mudah untuk dimaknai kondisinya,

perbandingan antar karakteristik baik jenis, tempat maupun waktu. Berikut ini dicontohkan

penggunaan tabel pivot secara sederhana :




                                                      1. Klik menu Data
                                                      2. Klik Pivot table




                              Gambar II.5 Menu Pivot Table




                                                              1. Jenis data sumber
                                                              2. Membuat tabel pivot
                                                              3. Klik Next




                     Gambar II.6 Jendela Pivot Table Wizard Step 1




                                                                                            89
                        MANAJEMEN DATA




          1. Sorot alamat area (range) data sumber
          2. Klik Next


    Gambar II.7 Pivot Wizard Step 2 (Range Data Sumber)




        1. Menyimpan pivot tabel di lembar kerja berbeda
        2. Menyimpan pivot tabel di lembar kerja saat ini




Gambar II.8 Pivot Wizard Step 3 (memposisikan pivot tabel hasil)




                                                                   90
                                    MANAJEMEN DATA




               3
      1

          2
                                4

                                       5




          1. Template tabel pivot
          2. Daftar field yang akan di tempatkan ke dalam template


                         Gambar II.9 Template Tabel Pivot



1. Field JENIS  ke blok drop row fields here

2. Field SUBJENIS  ke blok drop row fields here

3. Field KAB  ke blok drop column fields here

4. Field 0-7 Hr  ke blok drop data items here

5. Field 8-28 Hr  ke blok drop data items here




                          Gambar II.10 Hasil Tabel Pivot




                                                                     91
                                     MANAJEMEN DATA




Penyajian dalam tabel pivot jauh lebih ringkas jika dibanding dengan tabulasi data

sebelumnya, sehingga membantu dalam analisa data. Berbagai pola tabulasi dapat kita

desain sesuai dengan tujuan analisa yang diinginkan.




II.3 Fungsi-Fungsi Dasar untuk Analisa Data


Statistik Deskriptif

Alat bantu Descriptive Statistics menyediakan sebuah tabel statistik deskriptif untuk satu

kumpulan nilai masukkan atau lebih. Descriptive Statistics memerlukan satu range data

masukkan yang berisi satu variabel atau lebih dan satu range data keluaran. Anda juga

harus menunjukkan apakah variabel akan disusun menurut kolom atau baris.

Prosedur:



   1. Pilih dan klik menu Tools-Data Analysis. Jendela dan kotak dialog akan ditampilkan.

       Lakukan pemilihan dan pengisian data:

       Input Range  isi data yang akan diolah

       Grouped By  klik salah satu tombol pilihan columns untuk pengelompokkan data

       berdasarkan kolom atau Rows berdasarkan baris

       Label in First Row  tandai kotak periksa jika input range termasuk judul pada baris

       pertama atau dibiarkan kosong jika anda tidak menyertakan judul dalam input range

       Output options  Klik salah satu tombol pilihan untuk menempatkan hasil olah data




                                                                                              92
                                  MANAJEMEN DATA




                       Gambar II.11 Menu Fungsi Analisis Data




                         Gambar II.12 Menu Statistik Deskriptif



2. Untuk beberapa kebutuhan yang lebih detil, dapat digunakan pilihan-pilihan:

   Summary statistics  ringkasan statistik deskriptif

   Confidence for mean  tingkat kepercayaan untuk mean

   Kth largest  angka terbesar urutan ke K

   Kth smallest  angka terkecil urutan ke K




                                                                                 93
                                     MANAJEMEN DATA




Histogram

Histogram adalah sebuah diagram yang mengambil sekumpulan pengukuran dan

menggambarkan banyaknya pengukuran (frekuensi) yang terdapat dalam masing-masing

interval. Interval tidak harus berjarak sama tetapi dalam urutan yang meningkat. Alat bantu

histogram dapat membuat analisa secara terurut (pareto), termasuk persentase kumulatif

dan membuat grafik dengan memilih Chart Output.

Prosedur :

   1. Pilih dan klik menu Tools-Data Analysis. Jendela dan kotak dialog akan ditampilkan.

       Input range  data yang akan diolah

       Bin range  tentukan kelompok data yang ditetapkan

       Labels  tandai kotak periksa jika input range termasuk judul pada baris pertama

       Output options  klik salah satu pilihan untuk menempatkan hasil olah data

       Pareto  untuk pengurutan data

       Cumulative percentage  untuk menampilkan hasil kumulatif dalam bentuk

       persentase

       Chart output  untuk menampilkan pengolahan data dalam bentuk grafik




                                Gambar II.13 Menu Histogram




                                                                                              94
                                     MANAJEMEN DATA




Metode Statistik Parametrik

Metode statistik parametrik digunakan untuk menguji data yang mendekati atau berdistribusi

normal. Dalam melakukan uji hipotesis, terdapat banyak faktor yang menentukan, di

antaranya adalah banyaknya sampel, diketahui atau tidaknya standar populasi dan varians

populasi. Untuk sampel yang cukup besar (>30) atau varians populasi diketahui, yang

dipakai adalah z-test. Untuk sampel kecil digunakan t-test. F-test digunakan untuk pengujian

statistik di antara berbagai macam data sampel dan diasumsikan bahwa karakteristik

mengenai populasi yang mungkin diketahui atau tidak, juga dipakai untuk membuat

kesimpulan mengenai varians dua macam populasi yang berdistribusi normal.




                 Gambar II.14 Contoh Salah satu Fungsi Analisa Statistik



Dalam modul ini tidak dibahas secara detil, namun hanya disampaikan bahwa dalam

aplikasi Excel juga tersedia fungsi-fungsi analisa statistik yang kompleks seperti untuk

menggunakan beberapa teknik pada metode statistik inferensial.




                                                                                               95
           MANAJEMEN DATA




LAMPIRAN




                            96
                                      MANAJEMEN DATA




MACRO

Microsoft Excel memiliki perekam macro internal yang akan menerjemahkan langkah yang
anda lakukan menjadi perintah macro VBA. Setelah dilakukan perekaman, anda bisa
melihat perintah hasil dari perekaman. Perintah-perintah ini bisa anda atur dan rapikan lagi
sesuai kebutuhan pemrograman yang anda inginkan.

Sebelum merekam, rencanakan dulu langkah apa saja yang akan anda lakukan. Hal ini
perlu karena setiap koreksi yang anda lakukan juga akan tercatat oleh perekam, sehingga
akan memperrumit tampilan perintah yang terekam.



A. Merekam Macro
Dalam contoh dibawah, akan direkam macro untuk merubah background menjadi kuning
muda. Langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :


   1. Dari Microsoft Excel (bukan VBE), pilih menu Tools | Macro | Record New Macro




                                                                                               97
                                MANAJEMEN DATA




2. Kemudian akan muncul dialog box Record Macro, ketik nama program yang anda
   kehendaki di kotak macro name, kemudian lanjutkan dengan mengklik OK. Dalam
   contoh ini, digunakan nama SetBackgroundColor.




3. Pada panel warna background, pilih warna kuning muda. Perintah ini akan membuat
   sel yang dipilih berubah menjadi memiliki warna latar kuning muda.




4. Untuk menghentikan perekaman macro, tekan tombol kotak warna biru tua pada
   toolbar macro recorder.




                                                                                     98
                                       MANAJEMEN DATA




Proses perekaman selesai, dan anda telah memiliki program yang anda rekam sendiri.



B. Melihat Perintah (Syntax) yang Terekam
Macro sudah terrekam dan siap dijalankan. Tetapi sebelum dijalankan, lebih baik jika kita
melihat hasil perekaman terlebih dulu.

   1. Buka VBE (Visual Basic Editor) dengan menekan [Alt] + [F11] secara bersamaan
       (seperti tutorial sebelumnya)




                                                                                            99
                                 MANAJEMEN DATA




2. Buka folder Modules pada pada project explorer dengan mengklik tanda [+]




3. Dobelklik folder Module1 untuk melihat isi perintahnya (macro).




Seperti pada gambar, nama subroutine (program) yang kita rekam adalah
SetBackGroundColor. Sedangkan ColorIndex adalah warna yang kita terapkan dan
Pattern adalah pola pewarnaan yang dipakai.

Untuk mempelajari lebih detail mengenai perintah yang muncul, penggunaan menu Help
pada VBE sangat disarankan. Hal ini dikarenakan banyaknya perintah yang bisa
digunakan, yang akan sangat menghambat apabila harus dihafalkan semuanya.




                                                                                     100
                                    MANAJEMEN DATA




C. Menjalankan Macro Yang Sudah Direkam

Pada contoh sebelumnya kita menjalankan macro “Hello World” pada VBE. Kali ini kita akan
menjalankan macro pada MS Excel.

   1. Pada worksheet (sheet) yang anda kehendaki, pilihlah (sorot) sel D3 sampai E6




   2. Jalankan macro yang sudah direkam dengan menekan [Alt] + [F8] secara
       bersamaan, atau dengan memilih menu Tools | Macro | Macros




                                                                                           101
                                MANAJEMEN DATA




3. Dialog box macro akan muncul. Pilih macro yang ingin anda jalankan, kemudian klik
   tombol Run




4. Sel D3 sampai E6 akan memiliki warna kuning.




                                                                                       102
                                      MANAJEMEN DATA




MENGGUNAKAN OPTION BUTTON

Option Button ini bisa digunakan untuk memasukkan data yang berupa pilihan, dimana
pilihan pertama di tanda cek, cell link = 1, pilihan kedua di cek cell link =2 ...dst. Untuk
membuatnya View, Toolbar, Form, pilih button lalu dibuat button pertama, untuk button
kedua dan seterusnya dicopy saja.

Contoh

Button pertama di cek, lalu klik kanan, muncul Format Control, pilih tab Control, cell
link isi B6, 3D Shading di cek, OK.



Untuk Biaya di C7 dibuat rumus =IF(B6=1,B2,IF(B6=2,B3,IF(B2=3,B4,B5)))




                                                                                               103
                                  MANAJEMEN DATA




MENGGUNAKAN FORM INPUT DATA PADA EXCEL

Excel menyediakan fasilitas untuk input data menggunakan Form dengan memanfaatkan
fasilitas pada menu Data-Forms.

Contoh:




                                                                                    104
                                              MANAJEMEN DATA




PIVOT CHART



350




300




250


                                                                                         Data
200                                                                                      KAB
                                                                                          8-28 Hr - Loteng
                                                                                          8-28 Hr - Lobar
150                                                                                       0-7 Hr - Loteng
                                                                                          0-7 Hr - Lobar


100




 50




  0
      Diare ( termasuk tersangka   Disentri        Infeksi penyakit usus yang   Kolera
                 kolera )                                      lain
                                     PENYAKIT INFEKSI PADA USUS




                                                                                                             105
                                   MANAJEMEN DATA




FUNGSI-FUNGSI

                                 FUNGSI MATEMATIKA




 1.      Fungsi Pembulatan


      Fungsi CEILING

      Berguna untuk melakukan pembulatan ke atas berdasarkan suatu nilai penentu.

      Format : =CEILING(bilangan,faktor pembulat)

      Contoh : =CEILING(2.5,1) → pembulatan dilakukan ke bilangan di atas 2,5 yang
      merupakan kelipatan dari 1. Hasil : 3

      Fungsi FLOOR

      Berguna untuk melakukan pembulatan ke bawah berdasarkan suatu nilai penentu.

      Format : =FLOOR(bilangan,faktor pembulat)

      Contoh : =FLOOR(3.9,1) → pembulatan dilakukan ke bilangan di bawah 3,9 yang
      merupakan kelipatan dari 1. Hasil : 3

      Fungsi EVEN

      Berguna untuk membulatkan suatu bilangan ke atas ke bilangan genap terdekat.
      Namun,kalau bilangan yang akan di bulatkan sudah berupa bilangan genap,tidak
      terjadi pembulatan.

      Format : =EVEN(bilangan)

      Contoh : =EVEN (1.5) → pembulatan ke bilangan genap terdekat yang lebih dari
      1,5.Hasil : 2

      Fungsi ODD

      Berguna untuk membulatkan suatu bilangan ke atas ke bilangan ganjil terdekat.
      Namun,kalau bilangan yang akan dibulatkan sudah berupa bilangan ganjil, tidak
      terjadi pembulatan.

      Format : =ODD(bilangan)

      Contoh : =ODD (1.5) → pembulatan ke bilangan ganjil terdekat yang lebih dari 1,5.
      Hasil : 3




                                                                                          106
                             MANAJEMEN DATA




Fungsi INT

Berguna untuk melakukan pembulatan bilangan ke bawah ke bilangan bulat terdekat.

Format : =INT(bilangan)

Contoh : =INT(1.92) → Hasil : 1



Fungsi MROUND

Berguna untuk melakukan pembulatan ke bawah / ke atas tergantung pada faktor
kelipatan pembulatan. Pembulatan dilakukan ke atas hanya jika sisa pembagian
dengan faktor pembulat lebih besar / sama dengan setengah dari faktor pembulat.

Format : =MROUND(bilangan,faktor pembulat)

Contoh : =MROUND(2.92,1) → pembulatan ke atas karena sisa pembagian terhadap
1 adalah sebesar 0,92 yang lebih besar dari setengah faktor pembulat. Hasil : 3



Fungsi ROUND

Untuk melakukan pembulatan sampai ke sejumlah digit.

Format : =ROUND(bilangan,jum_digit)

Contoh : =ROUND(2.925,2) → pembulatan dengan bagian pecahan terdiri atas 2
digit. Hasil : 2.93



Fungsi ROUNDOWN

Menyerupai fungsi ROUND. Namun, pembulatan selalu ke bawah.

Format : =ROUNDDOWN(bilangan,jum_digit)



Fungsi ROUNDUP

Menyerupai fungsi ROUND. Namun,pembulatan selalu ke atas.

Format : =ROUNDUP(bilangan,jum_digit)



Fungsi TRUNC

Untuk mendapatkan bagian bulat dari suatu bilangan real.

Format : =TRUNC(bilangan)




                                                                                   107
                                  MANAJEMEN DATA




     Contoh : =TRUNC(4.3) → 4



     Fungsi QUOTIENT

     Untuk mendapatkan bagian bulat hasil pembagian.

     Format : =QUOTIENT(pembilang,penyebut)



2.      Fungsi Range dan Array


     Fungsi MDETERM

     Berguna untuk memperoleh determinan matriks.

     Format : =MDETERM(array)



     Fungsi MINVERSE

     Untuk memperoleh inversi suatu matriks.

     Format : MINVERSE(array)



     Fungsi MMULT

     Untuk mengalikan 2 buah matriks.

     Format : =MMULT(array1,array2)



     Fungsi SUMPRODUCT

     Untuk menjumlahkan hasil perkalian eleme-elemen matriks pada posisi yang sama.

     Format : =SUMPRODUCT(array_1,array_2,…)



     Fungsi SUMX2MY2

     Merupakan implementasi dari rumus : ∑ (x² - y² )

     Format : =SUMX2MY2(array_x,array_y)




                                                                                      108
                                  MANAJEMEN DATA




     Fungsi SUMX2PY2

     Merupakan implementasi dari rumus : ∑ (x² + y² )

     Format : =SUMX2PY2(array_x,array_y)



     Fungsi SUMXMY2

     Merupakan implementasi dari rumus : ∑ ( x-y )²

     Format : =SUMXMY2(array_x,array_y)



     Fungsi COUNTIF

     Untuk memperoleh jumlah sel dalam suatu range yang memenuhi criteria tertentu.

     Format : =COUNTIF(range,criteria)



3.      Fungsi Pembangkit Bilangan Acak


     Fungsi RAND

     Untuk mendapatkan sebuah bilangan acak yang nilainya lebih besar / sama dengan
     nol dan kurang dari 1.

     Format : =RAND()



     Fungsi RANDBETWEEN

     Untuk mendapatkan bilangan acak yang terletak antara suatu nilai dengan nilai yang
     lain.

     Format : =RANDBETWEEN(a,b)

4.      Fungsi Statistika Dasar


     Fungsi COMBIN

     Untuk memperoleh jumlah kemungkinan sejumlah pasangan data terhadap sejumlah
     data.

     Format : =COMBIN(jumlah_data,jumlah_pasangan_data)




                                                                                          109
                                    MANAJEMEN DATA




     Fungsi FACT

     Untuk memperoleh factorial dari suatu bilangan.

     Format : =FACT(bilangan)



     Fungsi SUM

     Untuk menjumlahkan semua nilai argument.

     Format : =SUM(bil_1,bil_2,…)



     Fungsi SUMIF

     Untuk menjumlah sel-sel yang memenuhi criteria tertentu.

     Format : =SUMIF(range,criteria,range_yang_dijumlah)



     Fungsi SUMSQ

     Untuk menjumlahkan kuadrat dari semua argument.

     Format : =SUMSQ(bil_1,bil-2,…)




5.      Lain-Lain


     Fungsi ABS

     Untuk memperoleh nilai absolute dari suatu bilangan.

     Format : =ABS(bilangan)

     Contoh : =ABS(3)→3



     Fungsi LOG

     Untuk memperoleh logaritma dari suatu bilangan dengan basis logaritma bisa diatur.

     Format : =LOG(bilangan,basis)




                                                                                          110
                               MANAJEMEN DATA




Fungsi LOG10

Untuk mendapatkan logaritma berbasis 10 terhadap suatu bilangan.

Format : =LOG 10(X)



Fungsi MOD

Untuk mendapatkan sisa pembagian.

Format : =MOD(bilangan,pembagi)

Contoh : =MOD(3,2)→ 1 (3-2*1)



Fungsi POWER

Untuk menghitung pangkat.

Format : =POWER(x,y)



Fungsi GCD

Untuk mendapatkan FPB

Format : =GCD(bil_1,bil_2,…)



Fungsi LCM

Untuk mendapatkan KPK.

Format : =LCM(bil_1,bil_2,…)



Fungsi PRODUCT

Untuk mengalikan semua nilai argument.

Format : =PRODUCT(bil_1,bil_2,…)



Fungsi SIGN

Untuk memperoleh tanda bilangan.

Format : =SIGN(bilangan)




                                                                   111
                             MANAJEMEN DATA




Fungsi SQRT

Untuk memperoleh akar kuadrat suatu bilangan.

Format : =SQRT(bilangan)



                           FUNGSI STATISTIKA



Fungsi COUNT

Menghitung jml data argument. Contoh : =COUNT(A1:A10)



AVERAGE

Menghitung nilai rata-rata dari seluruh afgumen. Contoh : =AVERAGE(A1:A10)



DEVSQ

Menghitung jml deviasi kuadrat. Contoh : =DEVSQ(A1:A10)



MAX

Memperoleh nilai terbesar dari seluruh argument. Contoh : =MAX(A1:A10)



MEDIAN

Memperoleh nilai median dari seluruh argument. Contoh : =MEDIAN(A1:A10)



MODE

Memperoleh nilai mode(nilai yang paling banyak berulang) dari seluruh argument.

Contoh : =MODE(A1:A10)



PERMUT

Memperoleh nilai permutasi. Contoh : =PERMUT(100,3)




                                                                                  112
                            MANAJEMEN DATA




STDEV

Memperoleh deviasi standar. Contoh : =STDEV(A1:A10)

VAR

Memperoleh nilai varians dari suatu sample. Contoh : =VAR(A1:A10)



                             FUNGSI TEKS

Fungsi CHAR

Untuk memperoleh karakter berdasarkan suatu kode bilangan.

Format : =CHAR(bilangan)



CLEAN

Untuk membuang semua karakter yang tidak dapat ditampilkan.

Format : =CLEAN(teks)



CODE

Untuk mendapatkan nilai numeric dari karakter pertama dalam teks argument.

Format : =CODE(teks)



CONCATENATE

Untuk menggabungkan sejumlah teks.

Format : =CONCATENATE(teks_1,teks_2,…)



EXACT

Untuk memeriksa kesamaan 2 buah teks tanpa memandang format yang

Digunakan.

Format : =EXACT(teks_1,teks_2)




                                                                             113
                              MANAJEMEN DATA




FIND

Untuk mencari suatu keberadaan suatu teks dalam suatu teks.

Format : =FIND(teks_1,teks_2,awal_pencarian)



FIXED

Untuk memformat bilangan menjadi suatu teks.

Format : =FIXED(bilangan,jum_desimal,tanpa_koma)

LEFT

Untuk memperoleh sejumlah karakter dari suatu teks dimulai dari yang terkiri.

Format : =LEFT(teks,jumlah)



LEN

Untuk memperoleh jumlah karakter yang terdapat pd suatu teks.

Format : =LEN(teks)



LOWER

Untuk mengonversi semua huruf capital menjadi huruf kecil.

Format : =LOWER(teks)

MID

Untuk memperoleh bagian suatu teks dimulai dari posisi yg dikehendaki pemakai.

Format : =MID(teks,posisi_awal,jumlah)



PROPER

Untuk membuat setiap huruf di awal kata dikapitalkan.

Format : =PROPER(teks)



REPLACE

Untuk mengganti bagian dari suatu teks dengan suatu teks.




                                                                                 114
                               MANAJEMEN DATA




Format : =REPLACE(teks,posisi_awal,jum_kar,teks_pengganti)



REPT

Untuk mengulang teks beberapa kali.

Format : =REPT(teks,jumlah)



RIGHT

Untuk mendapatkan sejumlah karakter pada bag.kanan teks.

Format : =RIGHT(teks,jumlah)



SEARCH

Mempunyai kegunaan seperti pada FIND,tetapi tidak membedakan huruf capital dan
huruf kecil.

Format : =SEARCH(teks_1,teks_2,awal_pencarian)



SUBTITUTE

Untuk mengganti suatu bag.teks yg terdapat dlm suatu teks dgn teks yg lain.

Format : =SUBTITUTE(teks,teks_akan_diganti,teks_pengganti,jumlah)



Fungsi T

Fungsi yg akan menghasilkan teks sesuai dengan argument kalau argument berupa
teks,tetapi akan menghasilkan string kosong kalau argument berupa bilangan.

Contoh : =T(“123”)→ “123”



TEXT

Untuk memformat suatu nilai menjadi teks.

Format : =TEXT(nilai,format)




                                                                                 115
                             MANAJEMEN DATA




TRIM

Untuk membuang spasi-spasi yang ada di awal dan di akhir teks.

Format : =TRIM(teks)



UPPER

Untuk mengonversi semua huruf kecil menjadi huruf capital.

Format : =UPPER(teks)



VALUE

Untuk mengubah teks menjadi bilangan.

Format : =VALUE (teks)



                           FUNGSI INFORMASI



COUNTBLANK(range)

Menghitung jml sel yang kosong yg terdapat pd range.



INFO(teks_tipe)

Menghasilkan informasi tentang lingkungan sist.Operasi



ISBLANK(nilai)

Menghasilkan TRUE kalau sel kosong.



ISERR(nilai)

Menghasilkan TRUE kalau nilai menyatakan nilai kesalahan selain #N/A



ISERROR(nilai)

Menghasilkan TRUE kalau nilai menyatakan nilai kesalahan.




                                                                       116
                                 MANAJEMEN DATA




ISEVEN(nilai)

Menghasilkan TRUE kalau nilai menyatakan nilai genap.



ISLOGICAL(nilai)

Menghasilkan TRUE kalau nilai menyatakan nilai logika (TRUE/FALSE)



ISNA(nilai)

Menghasilkan TRUE kalau nilai berupa kode kesalahan #N/A



ISNONTEXT(nilai)

Menghasilkan TRUE kalau nilai bukan berupa teks.



ISNUMBER(nilai)

Menghasilkan TRUE kalau nilai berupa bilangan.



ISODD(nilai)

Menghasilkan TRUE kalau nilai menyatakan nilai ganjil.

ISREF(nilai)

Menghasilkan TRUE kalau nilai berupa referensi



ISTEXT(nilai)

Menghasilkan TRUE kalau nilai berupa teks.



N(nilai)

Mengonversi nilai ke bilangan.




                                                                     117
                                    MANAJEMEN DATA




    TYPE(nilai)

    Menghasilkan tipe nilai.

   Jika nilai adalah bilangan,hasilnya 1
   Jika nilai adalah teks,hasilnya 2
   Jika nilai adalah nilai logika,hasilnya 4
   Jika nilai adalah nilai kesalahan,hasilnya 8
   Jika nilai adalah array,hasilnya 16




                                FUNGSI KEUANGAN



    MENGHITUNG NILAI MENDATANG

    Notasi matematika yg digunakan untuk menghitung nilai mendatang :

    FV = PV (1+i)n.
    Format : =FV(bunga,cacah_angsuran,angsuran,pv,tipe)



    MENGHITUNG NILAI SEKARANG

    Nilai sekarang dpt dihitung dgn menggunakan fungsi PV.

    Format : =PV(bunga,cacah_angsuran,angsuran,fv,tipe)



    MENGHITUNG NPV

    Digunakan untuk menghitung kelayakan investasi.



    MENGHITUNG IRR

    Untuk menilai kelayakan suatu proyek.

    Format : =IRR(.. : ..)



    MENGHITUNG PEMBAYARAN AMORTISASI

    Format : =PMT(6%,3,100000000)




                                                                        118
                              MANAJEMEN DATA




                   FUNGSI LOOKUP DAN REFERENSI



Fungsi ADDRESS

Untuk membuat alamat sel dlm bentuk teks.

Format : =ADDRESS(id_baris,id_kolom,bil_abs,mode_al,nama_ws)



AREAS

Untuk memperoleh jml area dlm referensi.

Format : =AREAS(referensi)



COLUMN

Untuk memperoleh nomor kolom pd suatu referensi.

Format : =COLUMN(referensi)



COLUMNS

Untuk memperoleh jml kolom pd suatu array/referensi.

Format : =COLUMNS(array)



ROW

Untuk memperoleh nomor baris pd suatu referensi.

Format : =ROW(referensi)



ROWS

Untuk memperoleh jml baris pd suatu array/referensi.

Format : =ROWS(array)




                                                               119
                              MANAJEMEN DATA




INDEX

Ada 2 bentuk,yaitu :

1. Format     : =INDEX(array,nomor_baris,nomor_kolom) → untuk mendapatkan
   sebuah nilai pd array.
2. Format     : =INDEX(referensi,nomor_baris,nomor_kolom,nomor_area) →
   untuk memilih referensi yg dihasilkan dgn menyebut nomor areanya).


CHOOSE

Untuk memperoleh adalah 1 nilai argumennya melalui suatu indeks.

Format : =CHOOSE(indeks,nilai1,nilai2,nilai3,…)

INDIRECT

Untuk mendapatkan isi suatu referensi sel berdasarkan suatu teks.

Format : =INDIRECT(teks_referensi,mode_al)

OFFSET

Untuk memperoleh suatu referensi didasarkan pd posisi referensi.

Format : =OFFSET(referensi,jum_baris,jum_kolom,tinggi,lebar)



HYPERLINK

Untuk membuat link ke internet/intranet.

Format : =HYPERLINK(link,keterangan)



HLOOKUP

Untuk mendapatkan suatu data pd suatu daftar data. Daftar data disusun secara
horizontal.

Format : =HLOOKUP(sel,referensi,area,table,data,offset)



VLOOKUP

Untuk mendapatkan suatu data pada suatu daftar data yang disusun secara vertical.

Format : =VLOOKUP(sel,referensi,area,table,data,offset)




                                                                                    120
                             MANAJEMEN DATA




MATCH

Untuk menentukan posisi suatu item dalam array.

Format : =MATCH(nilai_yang_dicari,array,tipe_pencocokan)



TRANSPOSE

Untuk mendapatkan transpose dari suatu array.

Format : =TRANSPOSE(array)




                                                           121
MANAJEMEN DATA




                 122
               MODUL 6
               Pelatihan Pemanfaatan
                  Data Dan Informasi
                       Sebagai Dasar
                 Perencanaan Daerah




PENYAJIAN DATA PROFIL

                               123
124
                               PENYAJIAN DATA POFIL




6                PENYAJIAN DATA PROFIL



                  PEDOMAN PENYUSUNAN PROFIL
PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SUMBERDAYA
                   MANUSIA KESEHATAN (SDMK)


                                        BAB I
                                 PENDAHULUAN


1.1.     Pengertian dan Fungsi Profil
Sebuah profil pada umumnya merupakan sebuah sarana untuk menyajikan informasi
terkait dengan tugas pokok, fungsi serta pencapaian kinerja sebuah organisasi.
Informasi yang disajikan diharapkan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan
keputusan.
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, Badan Pengembangan dan Pemberdayaan
SDM Kesehatan sebagai unit eselon 1 Departemen Kesehatan memiliki tanggung jawab
dalam pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan dengan memperhatikan
perkembangan, masalah serta berbagai kecenderungan pembangunan kesehatan ke
depan.    Agar informasi yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi tersebut dapat
dikelola dan dimanfaatkan secara internal dan eksternal, maka dalam profil PPSDM
Kesehatan harus dapat di dapat tergambarkan secara informatif indikator-indikator yang
relevan dengan informasi yang dibutuhkan.


Sumber data yang terkait dengan SDM Kesehatan sangat bervariasi dan tersebar di
berbagai unit, baik yang terdapat di lingkungan Badan PPSDMK, maupun diluar

                                                                                         125
                                  PENYAJIAN DATA POFIL


lingkungan badan seperti Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten, ataupun Badan
Kepegawaian Nasional/Daerah. Agar data yang tersedia dapat dimanfaatkan secara
optimal, maka diperlukan suatu panduan pengelolaan dan analisis data SDMK.
Pedoman Penyusunan Profil Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan
merupakan salah satu panduan yang dapat digunakan untuk memberikan gambaran
pengolahan dan penyajian data SDM Kesehatan.


1.2.       Sistematika Penulisan Pedoman Penyusunan Profil PPSDMK
Adapun sistematika penulisan pedoman penyusunan profil PPSDMK ini adalah sebagai
berikut:
BAB I : Pendahuluan. Pada bab ini akan dijelaskan secara singkat pengertian dan
            fungsi sebuah profil,dalam hal ini adalah profil SDM Kesehatan.
BAB II :Visi, Misi, Tujuan, Kebijakan SDMK. Pada bab ini akan sajikan visi, misi,
            strategi yang terkait dengan SDMK. Aspek ini merupakan acuan untuk
            mengetahui komponen strategis organisasi.
BAB III :Pedoman Penyusunan Profil. Pada bab ini akan disajikan isi dari profil SDK,
            yang terdiri dari indikator dan ruang lingkup informasi, manajem   Pada
            bab ini akan disajikan set indikator, yang merupakan indikator kunci dari
            pusat-pusat sesuai dengan tugas, pokok dan fungsi setiap pusat.
BAB IV :Pengolahan, Analisis dan Pemanfaatan Data. Berdasarkan identifikasi jenis
            dan sumber data SDMK, maka dapat dilakukan pengolahan, analisis dan
            pemanfaatan datanya.




                                                                                        126
                                  PENYAJIAN DATA POFIL




                                         BAB II
                       VISI, MISI, TUJUAN DAN KEBIJAKAN
                                       SDMK



II.1. Isu Strategis
Beberapa isu strategis yang menjadi isu prioritas yang di angkat dalam Rencana Aksi
Badan PPSDM Kesehatan, antara lain:

   1. Manajemen pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan baik di pusat
      maupun di daerah memerlukan kebijakan dan peraturan perundang-undangan
      yang mendukung, serta pengembangan dan peningkatan pelaksanaan Sistem
      Informasi SDM kesehatan.

   2. Peningkatan kemampuan perencanaan sejak pendidikan sampai dengan
      pendayagunaan tenaga kesehatan. Pengembangan model perencanaan dan
      penempatan tenaga yang sesuai dengan karakteristik dan geografis dari setiap
      daerah.   Pengembangan        sistem   pengendalian, pertanggungjawaban    dan
      pemantauan serta evaluasi.

   3. Peningkatan keterlibatan masyarakat untuk mengatasi ketidakseimbangan
      kebutuhan jumlah tenaga kesehatan dan jumlah tenaga kesehatan yang
      diproduksi dengan penyerapan tenaga kesehatan. Membangun kemitraan
      dengan instansi lintas sektor terkait, Pemerintah Daerah, LSM, Pengusaha,
      Ikatan Profesi dan lembaga donor serta masyarakat dan swasta.

   4. Peningkatan      kualitas    dan   kuantitas   pendidikan   tenaga   kesehatan.
      Pengembangan pendidikan jarak jauh (PJJ) dan pengembangan Sister School
      Programme (SSP) serta kelas internasional.

   5. Pengendalian mutu pelatihan SDMK secara optimal sebagai pusat rujukan
      metode dan teknologi serta manajemen pelatihan. Selain itu peningkatan
      kemampuan Bapelkes sebagai institusi pelatihan SDM kesehatan perlu
      dilakukan secara terus menerus sesuai perkembangan metodologi dan teknologi
      yang dihadapi;




                                                                                        127
                                  PENYAJIAN DATA POFIL


   6. Peningkatan peranan Organisasi Profesi Kesehatan dalam pembangunan
       kesehatan dan SDM kesehatan Terutama dalam pembentukan konsil profesi
       kesehatan dan secara mandiri mendukung program pembangunan kesehatan di
       seluruh Tanah Air.


II.2. Visi, Misi, Tujuan, Strategi dan Program PPSDMK
Sebelumnya sebagai dasar kerangka berpikir, secara sederhana dapat dipahami
kerangka dari core business PPSDMK,adalah sebagai berikut:




            Gambar 2.1 Aktivitas Utama dan Pendukung Badan PPSDMK



II.2.1. Visi

Penggerak terwujudnya SDM Kesehatan profesional yang merata agar masyarakat
mandiri dalam hidup sehat.
II.2.2. Misi
Untuk mewujudkan visi tersebut di atas maka ditetapkan lima misi, yaitu :

1. Meningkatkan Manajemen dan Pembiayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan
  Efektifitas   dan   efisiensi   manajemen   yang   dijalankan,   termasuk   pembinaan
  SDM kesehatan dalam perencanaan, penyediaan, pendayagunaan,                  SDM
  Kesehatan, pengorganisasian, pengawasan/pengendalian serta hubungan fungsional
  dengan lintas program dan lintas sektor terkait.


                                                                                          128
                                  PENYAJIAN DATA POFIL


2. Meningkatkan kompetensi, kualitas dan profesio-nalisme SDM Kesehatan

   Untuk mencapai kemandirian dan sifat kewirausahaan (entrepreneurship) serta
   daya saing yang tinggi.

3. Meningkatkan       pemberdayaan        masyarakat        dalam   pengembangan      dan
   pemberdayaan SDM kesehatan

   Standarisasi mutu penyelenggara pendidikan tenaga kesehatan, melalui
   akreditasi institusi dan sertifikasi tenaga kesehatan.

4. Pendayagunaan dan pendistribusian SDM Kesehatan

   Pengembangan sistem pendayagunaan dan pendistribusian SDM kesehatan
   yang sesuai     dan komprehensif dengan didukung oleh sistem informasi yang
   handal untuk mempermudah komunikasi dan alur informasi antar pusat dan daerah.

5. Meningkatkan pemberdayaan, kreativitas dan kemandirian organisasi profesi

   Mendorong dan memantapkan kewenangan organisasi profesi melalui berbagai
   upaya seperti pembentukan konsil profesi kesehatan dan pemberlakuan legislasi
   yang meliputi registrasi, sertifikasi dan lisensi dalam rangka melindungi masyarakat.


II.2.3. Tujuan
Tersedianya SDM Kesehatan yang berkualitas, kompeten dan professional serta
tersebar secara merata dalam mewujudkan Indonesia Sehat 2010, melalui :
(a) Terumuskannya       kebijakan,    peraturan    perundang-undangan     dan      prosedur
    pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan;
(b) Meningkatnya manajemen Sumber Daya Manusia Kesehatan;
(c) Terlaksananya program/kegiatan inovatif, model, uji coba dan lainnya untuk
    meningkatkan kualitas dan kinerja Badan PPSDM Kesehatan;
(d) Dihasilkannya tenaga kesehatan yang professional melalui pendidikan dan pelatihan
    tenaga kesehatan;
(e) Terwujudnya kemandirian organsasi profesi kesehatan.


II.2.4. Sasaran
Selain tujuan tersebut diatas, sasaran yang ingin dicapai antara lain mencakup :




                                                                                              129
                                PENYAJIAN DATA POFIL


1. Tersedianya berbagai kebijakan, peraturan perundang-undangan dan hukum
   kesehatan     yang       menunjang     pengembangan      dan   pemberdayaan            SDM
   Kesehatan;

2. Meningkatnya manajemen SDM Kesehatan yang                      efektif    yang    meliputi
   perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, pembinaan, pengawasan dan
   dukungan SDM Kesehatan. Pencapaian sasaran tersebut diukur melalui
   tersusunnya perencanaan program Badan PPSDM Kesehatan, prosentase
   penyelesaian tindak lanjut LHP, jumlah laporan keuangan yang tersedia, jumlah
   produk hukum yang terselesaikan dan jumlah penetapan angka kredit jabatan
   fungsional.

3. Dihasilkannya tenaga kesehatan yang berkualitas dan berdaya saing dalam
   jumlah dan jenis sesuai kebutuhan melalui institusi pendidikan tenaga
   kesehatan. Pencapaian sasaran tersebut             diukur melalui:        institusi yang
   terakreditasi, jumlah lulusan tenaga kesehatan, jumlah tenaga pengajar yang
   ditingkatkan kualitasnya melalui pendidikan dan/atau latihan, SDM tenaga
   kesehatan yang ditingkatkan pendidikannya dan/atau kemampuannya, Ratio
   lulusan    tenaga        kesehatan/jumlah    penduduk,     kurikulum       yang    sudah
   disempurnakan dan institusi yang memenuhi standar.

4. Meningkatnya      kompetensi/profesionalisme      SDM      Kesehatan        melalui:    (1)
   Pengembangan Diklat SDM Kesehatan dalam upaya memandirikan masyarakat
   untuk hidup sehat melalui pengembangan produk pelatihan yang inovatif; (2)
   Peningkatan SDM Kesehatan              yang bermutu dalam upaya             mewujudkan
   kemandirian masyarakat; (3) Peningkatan pemberdayaan institusi kediklatan
   kesehatan agar mampu memfasilitasi diklat SDM kesehatan sesuai dengan
   kompetensi yang dibutuhkan melalui akreditasi institusi diklat kesehatan; (4)
   Peningkatan     kapasitas      institusi   dan   SDM     kediklatan      kesehatan;     (5)
   Mengendalikan mutu diklat kesehatan melalui standarisasi, akreditasi, dan
   sertifikasi pelatihan.

5. Tersusunnya sistem perencanaan dan pendayagunaan SDM kesehatan serta
   pelaksanaannya di berbagai jenjang administrasi. Pencapaian sasaran tersebut
   diukur melalui tersusunnya sistem perencanaan tenaga kesehatan, adanya peta




                                                                                                 130
                                 PENYAJIAN DATA POFIL


       SDM Kesehatan,       adanya rencana kebutuhan tenaga,       adanya model-model
       pendayagunaan tenaga kesehatan,          adanya kebijakan     pemerataan SDM
       kesehatan dan jumlah peserta tugas belajar.

   6. Meningkatnya kemandirian organisasi profesi tenaga kesehatan. Pencapaian
       sasaran tersebut diukur melalui prosentase organisasi profesi kesehatan yang
       memiliki standar kompetensi profesi, prosentase kelulusan tenaga kesehatan ke
       luar negeri, prosentasi tenaga kesehatan yang bekerja di luar negeri dan
       terintegrasi tenaga asing yang bekerja di institusi kesehatan di dalam negeri.

   7. Terwujudnya Sistem Informasi       SDM kesehatan yang pencapaiannya diukur
       melalui     tersusunnya   perencanaan   program    Badan    PPSDM     Kesehatan,
       tersedianya data dan informasi SDM Kesehatan, jumlah produksi sistem
       informasi yang dihasilkan dan jumlah laporan monitoring dan evaluasi yang
       dihasilkan.


II.2.5. Strategi
1. Sosialisasi dan advokasi kebijakan, peraturan dan pedoman
2. Menggalang kemitraan baik internal dan eksternal termasuk swasta
3. Meningkatkan Ketrampilan SDM Kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan
4. Menerapkan sistem regulasi di bidang tenaga kesehatan
5. Peningkatan Kemampuan dan Peran Serta Organisasi Profesi Kesehatan


II.2.6. Kebijakan
1. Perencanaan SDM Kesehatan (meliputi jumlah, jenis dan kualitas tenaga) perlu
memperhatikan dan mengaitkan perencanaan pembangunan di sektor lainnya. Di
tingkat pusat bekerja sama dengan Biro Kepegawaian dan Direktorat Jenderal di
lingkungan Depkes menyusun perencanaan SDMK sesuai kebijakan nasional maupun
regional. Tiap daerah membuat perencanaan SDMK sendiri-sendiri.
2. Pengendalian mutu pendidikan tenaga kesehatan dilakukan melalui upaya akreditasi
institusi, standarisasi komptensi dan kurikulum, sertifikasi tenaga pendidik, serta
pemenuhan sarana dan prasarana.
3. Pendayagunaan SDM kesehatan melalui kinerja dan produktifitas tenaga, serta
tercapainya pemerataan tenaga khususnya di daerah terpencil, kawasan tertinggal,
rawan bencana dan daerah lintas batas.



                                                                                          131
                                 PENYAJIAN DATA POFIL


4. Pelatihan SDM kesehatan dalam rangka meningkatkan kompetensi teknis, fungsional,
manajemen, dan penjenjangan untuk menunjang pengembangan karir.
5. Pemberdayaan profesi melalui kemandirian organisasi profesi (mencakup regulasi,
registrasi, sertifikasi dan lisensi) dan penciptaan lapangan pekerjaan baik dalam
maupun luar negeri serta penapisan migrasi tenaga kesehatan asing ke dalam negeri.
6. Kerjasama dengan masyarakat dan swasta dalam advokasi, pengawasan dan
pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan serta standarisasi mutu tenaga yang
dihasilkan.
7. Menyusun dan mensosialisasikan sistem pengembangan karir di seluruh instansi
disetiap jenjang administrasi.


II.2.7. Program
1. Perencanaan badan
      Penyusunan, pengembangan perencanaan program badan
      Pengembangan sistem informasi PPSDMK
      Monitoring dan evaluasi program
2. Perencanaan dan pendayagunaan SDMK
      Pengembangan perencanaan dan pemanfaatan SDMK
      Pengembangan distribusi SDMK
      Pengembangan informasi SDMK
      Peningkatan mutu dan kemandirian SDMK
      Pengelolaan tugas belajar
      Pengembangan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program dan pelaporan
3. Pendidikan
      Pengembangan manajemen
      Pengembangan kurikulum dan proses belajar-mengajar
      Peningkatan SDM pendidikan
      Peningkatan sarana pendidikan
      Pengendalian mutu pendidikan
      Penyelenggaraan pendidikan, pelatihan dan pengabdian masyarakat
4. Peningkatan pelatihan kesehatan
      Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan
      Pemberdayaan institusi diklat dan non diklat melalui akreditasi




                                                                                      132
                                PENYAJIAN DATA POFIL


      Pengembangan sumber daya diklat
      Revitalisasi kelembagaan Pusdiklat dan jaringannya
      Pengendalian mutu pelatihan
      Peningkatan sarana dan prasarana diklat
      Penggalangan kerjasama dan kemitraan lintas sektor dan program
      Pengembangan fungsi Balai Pelatihan Kesehatan
6. Pemberdayaan profesi
      Peningkatan kemandirian organisasi profesi
      Pengembangan regulasi profesi tenaga kesehatan
      Jaringan konsil, organisasi profesi dan institusi pendidikan
      Pemberdayaan tenaga kerja kesehatan ke dan dari luar negeri
7. Peningkatan manajemen badan
      Pengembangan manajemen pembinaan PPSDMK pusat dan daerah
      Pembinaan hukum dan organisasi
      Peningkatan administrasi umum, keuangan dan kepegawaian
8. Pendidikan kedinasan
      Pengembangan standar pendidikan kedinasan
      Manajemen pendidikan kedinasan


5.2 Organisasi Badan PPSDMK
Organisasi Badan PPSDMK pada dasarnya terbagi pada 3 tingkatan : unit-unit
pelaksana teknis badan, pusat-pusat dan sekretariat badan.




                                                                             133
                                   PENYAJIAN DATA POFIL




                   Gambar 2.1 Struktur Organisasi Badan PPSDMK


Pusat-pusat terdiri dari :
       Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan
       Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
       Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM Kesehatan
       Pusat Pemberdayaan Profesi Tenaga Kesehatan


Pusat-pusat menggambarkan substansi program yang menjadi aktivitas utama Badan
PPSDMK. Mengacu pada Permenkes no. 1575/Menkes/Per/XI/2005, tugas dan fungsi
komponen dilingkungan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya
Manusia Kesehatan terdiri dari :


    a. Sekretariat Badan;
        Dalam uraian tugas dan fungsinya, sekretariat badan harus dapat memberikan
        pelayanan teknis dan administrasi pada semua unsur di lingkungan badan,
        termasuk dalam hal penyediaan data dan informasi.




                                                                                     134
                            PENYAJIAN DATA POFIL


b. Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan Sumber Daya Manusia Kesehatan
   (PUSRENGUN-SDMK); tugas dari PUSRENGUN-SDMK adalah melaksanakan
   penyiapan perumusan dan melaksanakan kebijakan di bidang perencanaan
   dan informasi, kemandirian dan distribusi, serta pengelolaan tugas belajar
   sumber daya manusia kesehatan
c. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (PUSDIKNAKES);                adapun tugas dari
   PUSDIKNAKES adalah melaksanakan hal yang terkait dengan penyiapan
   perumusan serta pelaksanaan kebijakan di bidang program dan sumber
   daya, pengembangan kurikulum serta kendali mutu pendidikan tenaga
   kesehatan
d. Pusat    Pendidikan    dan    Pelatihan      Sumber    Daya   Manusia   Kesehatan
   (PUSDIKLAT-SDMK).            Adapun tugas      dari PUSDIKLATSDMKES adalah
   melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dibidang
   program evaluasi dan pelaporan, pendidikan dan pelatihan penjenjangan
   dan manajemen kesehatan, serta pendidikan dan pelatihan teknis dan
   fungsional.
e. Pusat    Pemberdayaan        Profesi   dan    Tenaga     Kesehatan   Luar   Negeri
   (PUSPRONAKES). PUSPRONAKES memiliki tugas melaksanakan penyiapan
   perumusan dan         pelaksanaan kebijakan           dibidang perencanaan    dan
   program, pemberdayaan serta evaluasi dan pemantauan pemberdayaan
   profesi dan tenaga kerja kesehatan Indonesia dan tenaga kerja kesehatan
   asing.




                                                                                        135
                                 PENYAJIAN DATA POFIL



                                        BAB III
                               PENYUSUNAN PROFIL SDMK


Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pada bab ini akan diberikan gambaran
konten atau isi dari sebuah profil SDMK. Adapun gambaran konten tersebut terdiri dari:


III.1. Indikator
Selain memberikan gambaran SDMK, idealnya dalam sebuah profil disajikan indikator
kunci yang digunakan untuk memperoleh gambaran pencapaian kinerja dari sebuah
organisasi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas kinerja sebuah organisasi maka
diperlukan suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menilai apakah tugas pokok dan
fungsi serta keluaran dari organisasi tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan yang
telah direncanakan dan mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Indikator   SDMK    prinsipnya    adalah   ukuran-ukuran     yang   dibutuhkan    untuk
mengidentfikasi kondisi atau gambaran Sumber Daya Kesehatan di Indonesia, baik
dalam sisi jumlah, jenis, distribusi serta mutunya. Beberapa indikator dan ruang lingkup
informasi SDMK pada buku pedoman ini merupakan beberapa informasi terpilih yang
dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan
SDMK baik di daerah maupun di pusat.
Berdasarkan tugas pokok dan fungsi yang ditetapkan melalui Permenkes no.
1575/Menkes/Per/XI/2005, secara garis besar area Indikator kunci PPSDM Kesehatan
mengacu pada 4 aspek, yaitu mengawal Jumlah, Jenis, Mutu dan Distribusi tenaga.
Untuk ke 4 aspek ini, beberapa kebutuhan indikator kunci sebagai ruang lingkup
informasi yang dapat disajikan dalam profil SDMK antara lain sebagai berikut:


III.2.1. Perencanaan dan Pendayagunaan SDM
Kesehatan
Terkait dengan aspek Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan diperlukan
beberapa indikator kunci atau kebutuhan informasi dari stakeholder internal maupun
eksternal. Kebutuhan informasi tersebut, antara lain:
      Distribusi SDM Kesehatan berdasarkan sebaran geografis wilayah
      Distribusi SDM Kesehatan berdasarkan sebaran jenis tenaga kesehatan
      Distribusi SDM Kesehatan berdasarkan jenis fasilitas kesehatan (Rumah Sakit

                                                                                           136
                                  PENYAJIAN DATA POFIL


       dan Puskesmas)

      Distribusi SDM Kesehatan berdasarkan karakteristik wilayah daerah terpencil,
       tertinggal dan perbatasan
      Rasio Tenaga Kesehatan per 100.000 penduduk
      Jumlah (Proyeksi) Total Kebutuhan SDM Kesehatan berdasarkan wilayah dan
       jenis SDM per per periode waktu tertentu
      Jumlah distribusi peserta Tugas Belajar berdasarkan jenjang pendidikan yang
       diambil
      Jumlah usulan dan realisasi beasiswa tugas belajar


III.2.2. Pendidikan Tenaga Kesehatan
Informasi Pendidikan Tenaga Kesehatan dapat dilihat dari sisi supply tenaga, hal ini
relevan dengan tugas pokok dan fungsinya yang antara lain penyiapan perumusan dan
melaksanakan kebijakan dibidang program dan sumberdaya, pengembangan kurikulum,
serta kendali mutu pendidikan tenaga kesehatan.           Untuk melaksanakan tupoksi
tersebut, diperlukan beberapa informasi, antara lain:
     Distribusi frekuensi jenis institusi Poltekes dan Non Poltekes
     Jumlah Tenaga Dosen berdasarkan latar belakang pendidikan formal & non
        formal
     Jumlah Peserta Didik Poltekses dan Non Poltekes per jenis program studi
     Jumlah Lulusan berdasarkan jenis tenaga per institusi Poltekes dan Non
        Poltekes.
     Jurusan/program studi institusi Diknakes Poltekes


III.2.3. Pelatihan dan Pendidikan Tenaga Kesehatan
      Jumlah / frekuensi pelatihan berdasarkan kriteria jenis pelatihan administratif dan
       non administratif
      Jumlah peserta pelatihan berdasarkan kriteria jenis pelatihan
      Jenis pelatihan yang terakreditasi
      Jumlah pelatih yang tersertifikasi
      Jumlah Widya Iswara
      BOR Bapelkes
      SOR Bapelkes
      Tingkat Libat institusi diklat


                                                                                             137
                                 PENYAJIAN DATA POFIL




III.2.4. Pemberdayaan Profesi dan Tenaga Kesehatan
      Jumlah per jenis nakes yang direkruit berdasarkan negara
      Jumlah calon TKKI yang kompeten dan siap dikirim ke luar negeri
      Jumlah organisasi profesi
      Jumlah organisasi profesi yang
      Jumlah nakes yang lulus uji kompentensi
      Kebutuhan dan realisasi TKKI yang bekerja diluar negeri berdasarkan negara
       pengguna


III.2. Ruang Lingkup Informasi SDMK
Informasi yang dapat ditampilkan pada profil SDMK antara lain :
   1. Profil Institusi. Pada bagian ini informasi yang dapat disajikan antara lain
       pengenalan institusi yang terdiri :
          a. Struktur organisasi dan tupoksi,
          b. Jumlah SDM dalam organisasi dan UPT nya


   2. Gambaran Umum SDM kesehatan. Pada bagian ini informasi yang dapat
       disajikan antara lain:
          a. Ketersediaan SDM kesehatan per jenis tenaga
          b. Ketersediaan SDM kesehatan di sarana pelayanan Rumah Sakit
          c. Ketersediaan SDM kesehatan di Puskesmas
          d. Tenaga kesehatan di Daerah Terpencil Tertinggal dan Perbatasan
          e. Rasio Tenaga Kesehatan per jenis tenaga


   3. Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan dan Kemampuan Pemenuhannya
          a. Kebutuhan dan realisasi pemenuhan tenaga kesehatan Indonesia untuk
              luar negeri.
          b. Kebutuhan dan rencana pemenuhan tenaga untuk menunjang desa siaga
          c. Jumlah       (Proyeksi) Total Kebutuhan SDM Kesehatan berdasarkan
              wilayah dan jenis SDM per per periode waktu tertentu


   4. Pengembangan dan Pemberdayaan SDM kesehatan. Pada bagian ini informasi
       yang disajikan adalah tentang :



                                                                                     138
                                 PENYAJIAN DATA POFIL


          a. Pendidikan tenaga kesehatan
                  i. Jumlah dan persebaran institusi
                  ii. Akreditasi institusi
                 iii. Jumlah tenaga pengajar
                 iv. Jumlah peserta didik
                  v. Jumlah lulusan
                 vi. Jumlah perguruan tinggi negeri dan swasta yang menghasilkan
                     tenaga kesehatan
          b. Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan
                  i. Jumlah / frekuensi pelatihan berdasarkan kriteria jenis pelatihan
                     administratif dan non administratif
                  ii. Jumlah peserta pelatihan berdasarkan kriteria jenis pelatihan
                 iii. Jenis pelatihan yang terakreditasi
                 iv. Jumlah pelatih yang tersertifikasi
          c. Tugas Belajar
                  i. Jumlah distribusi peserta Tugas Belajar berdasarkan jenjang
                     pendidikan yang diambil
                  ii. Jumlah usulan dan realisasi beasiswa tugas belajar
          d. Organisasi profesi
                  i. Jumlah per jenis organisasi profesi
                  ii. Jumlah organisasi profesi yang telah memiliki standar kompetensi
                     dan standar etik (kode etik) profesi.


III.3. Penyajian dan Pemanfaatan Data SDMK
Resume informasi yang dapat disajikan didalam profil SDK antara lain sebagai berikut:
                          Tabel III.3. Resume Jenis Informasi
No    Jenis Informasi yang disajikan                         No .lampiran
1     Profil institusi
         a. Struktur organisasi dan tupoksi,
         b. Jumlah SDM dalam organisasi dan UPT              Tabel 1
               nya (berdasarkan kelompok umur, jenjang
               pendidikan)
2     Gambaran Umum SDM kesehatan
         a. Ketersediaan SDM kesehatan per jenis
               tenaga
         b. Ketersediaan SDM kesehatan di sarana
               pelayanan Rumah Sakit



                                                                                         139
                             PENYAJIAN DATA POFIL


       c. Ketersediaan     SDM      kesehatan     di
          Puskesmas
       d. Tenaga kesehatan di Daerah Terpencil
          Tertinggal dan Perbatasan
       e. Rasio Tenaga Kesehatan per jenis tenaga

3   Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan dan
    Kemampuan Pemenuhannya
       a. Kebutuhan dan realisasi pemenuhan
           tenaga kesehatan
       b. Kebutuhan dan rencana pemenuhan
           tenaga untuk menunjang desa siaga
       c. Jumlah (Proyeksi) Total Kebutuhan SDM
           Kesehatan berdasarkan wilayah dan jenis
           SDM per per periode waktu tertentu
4   Pengembangan        dan     Pemberdayaan        SDM
    kesehatan
       a. Pendidikan tenaga kesehatan
                i. Jumlah dan persebaran institusi
               ii. Akreditasi institusi
              iii. Jumlah tenaga pengajar
              iv.  Jumlah peserta didik
               v.  Jumlah lulusan
              vi.  Jumlah perguruan tinggi negeri dan
                   swasta yang menghasilkan tenaga
                   kesehatan
       b. Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan
            i.     Jumlah / frekuensi pelatihan
                   berdasarkan kriteria jenis pelatihan
                   administratif dan non administratif
           ii.     Jenis pelatihan yang terakreditasi
          iii.     Jumlah pelatih yang tersertifikasi
          iv.      Jumlah peserta pelatihan
                   berdasarkan kriteria jenis pelatihan
       c. Tugas Belajar
            i.  Jumlah distribusi peserta Tugas
                Belajar      berdasarkan       jenjang
                pendidikan yang diambil
          ii.   Jumlah      usulan    dan     realisasi
                beasiswa tugas belajar
       d. Organisasi profesi
          i.   Jumlah per jenis organisasi profesi
         ii.  Jumlah organisasi profesi yang telah
                memiliki standar kompetensi dan
                standar etik (kode etik) profesi.




                                                          140
                                  PENYAJIAN DATA POFIL


                 Tabel 1. Jumlah SDM dalam organisasi dan UPT nya


No     Unit Kerja                                         Tahun

                              2005          2006          2007     2008          2009




Berdasarkan tabel diatas, dapat dianalisis lebih lanjut trend jumlah SDM disetiap kurun
waktu tertentu, seperti terlihat pada grafik 1 berikut:


              Grafik 1. Perkembangan Jumlah SDM (dalam organisasi)
                                        Tahun 2005




                                                                                          141
                             PENYAJIAN DATA POFIL




Tabel 2. Jumlah SDM dalam organisasi dan UPT nya berdasarkan kelompok umur
                                pada tahun......


No   Unit Kerja                     Kelompok Umur                        Total
                   <=30 th     31-40 th   41-50 th   51-55 th   >=56th




         Total
          %




Grafik 2. Prosentase SDM Berdasarkan kelompok umur pada tahun......




                                                                                 142
                              PENYAJIAN DATA POFIL


     Tabel 3. Jumlah SDM dalam organisasi dan UPT nya berdasarkan jenjang
                          pendidikan pada tahun......




No   Unit Kerja                         Pendidikan                   Total
                    <= SLTA        D3      S1/D4        S2     S3




     Total
     %




 Grafik 3. Prosentase SDM dalam organisasi dan UPT nya berdasarkan jenjang
                          pendidikan pada tahun......




                                                                             143
                             PENYAJIAN DATA POFIL




     Tabel 4. Jumlah SDM dalam organisasi dan UPT nya berdasarkan golongan
                          kepangkatan pada tahun......


No     Unit Kerja                         Golongan                 Total
                                 I             II            III




Grafik 4. Proporsi Jumlah SDM Menurut Golongan Kepangkatan




                                                                             144
                              PENYAJIAN DATA POFIL




               Tabel 5. Ketersediaan SDM kesehatan per jenis tenaga


Jenis Tenaga                           Tahun                          Total
                   2005     2006       2007       2008      2009
Tenaga Medis
Dr. Spesialis
Dr. Umum
Dr. Gigi
Keperawatan
S.Keperawatan
Perawat
Bidan
Kefarmasian
S1 Farmasi &
Apt
Ass. Apt
Kesmas
S.Kesmas
Sanitarian
Tenaga Gizi
Keterapian Fisik
Keteknisan
Medis
SDM Kes Lain
Total




                                                                              145
                         PENYAJIAN DATA POFIL


Tabel 5.


                         DEFINISI OPERASIONAL


No    Jenis Tenaga                 Definisi Operasional
1     Tenaga Medis
2     Dr. Spesialis
3     Dr. Umum
4     Dr. Gigi
5     Keperawatan
6     S.Keperawatan
7     Perawat
8     Bidan
9     Kefarmasian
10    S1 Farmasi & Apt
11    Ass. Apt
12    Kesmas
13    S.Kesmas
14    Sanitarian
15    Tenaga Gizi
16    Keterapian Fisik
17    Keteknisan Medis
18    SDM Kes Lain




                                                          146
                                         PENYAJIAN DATA POFIL




                  Tabel 4. Jumlah Tenaga Rumah Sakit (Umum dan Khusus) Berdasarkan Kepemilikan RS Tahun...


Pemilik RS   Jumlah       Tenaga Kesehatan                      Tenaga Kes.lain                       Tenaga Non Kesehatan                 Jumlah

             RS    TT   Medis   Keperawatan   Kefarmasian   Kesmas   Gizi   Keterapian   Keteknisan   Sarjana   D3   SMA/SLTA/   Lainnya
                                                                            Fisik        Medis                       SMU
Depkes RI

Pemda
Propinsi
Pemda
Kab/Kota

TNI/POLRI

BUMN

Swasta




                                                                                                                                                    147
                                 PENYAJIAN DATA POFIL




Tabel 4.


DEFINISI OPERASIONAL




Variabel                                Definisi Operasional
Pemilik RS                              ...............................
Tenaga Kesehatan Medis                  Mengacu pada definisi operasional tabel 3
Tenaga Kesehatan Keperawatan            Mengacu pada definisi operasional tabel 3
Tenaga Kefarmasian                      Mengacu pada definisi operasional tabel 3
Tenaga Kesmas                           Mengacu pada definisi operasional tabel 3
Tenaga Gizi                             Mengacu pada definisi operasional tabel 3
Tenaga Keterapian Fisik                 Mengacu pada definisi operasional tabel 3
Keteknisan Medis                        Mengacu pada definisi operasional tabel 3
Tenaga Non Kesehatan (Sarjana)          ...............................
Tenaga Non Kesehatan (D3)               ...............................
Tenaga Non Kesehatan (SLTA/SMU)         ...............................
Lainnya                                 ...............................




                                                                                    148
                                 PENYAJIAN DATA POFIL




            Tabel 5. Rekapitulasi Tenaga Kesehatan Puskesmas Tahun 2005-2009


Jenis Tenaga*                             Tahun                                Total
                                                                               Nakes

                    2005     2006        2007        2008        2009
Dokter
Dokter Gigi
Sarjana
Kesmas
Bidan
Ahli Gizi
Sanitarian
Penyuluh
Kesehatan
Perawat
Apt/Asst. Apt
Analis Laborat




*DEFINISI OPERASIONAL MENGACU PADA TABEL 3




                                                                                       149
                                                     PENYAJIAN DATA POFIL




          Tabel 6. Rekapitulasi Penempatan Tenaga Kesehatan Di Dacil/Galtas Tahun.....




No   Daerah            Dr.               Dr.            Bidan* Perawat* Kesling* Gizi* Total      Keterangan
     Dacilgaltas       Specialis* Umum*




        DEFINISI OPERASIONAL :


        Daerah Dacilgaltas :...................................................................

       *DEFINISI OPERASIONAL MENGACU PADA TABEL 3




                                                                                                         150
                               PENYAJIAN DATA POFIL




                  Tabel 7. Rasio Tenaga Kesehatan per jenis Tenaga


No   Jenis Tenaga                         Jumlah Tenaga s/d   Rasio per 100.000
                                          thn 2008            pddk
1    Dokter Spesialis
2    Dokter Umum
3    Dokter Gigi
4    Perawat
5    Bidan
6    Perawat Gigi
7    Apoteker
8    Asisten Apoteker
9    Sarjana Kesehatan Masyarakat
10   Sanitarian
11   Gizi
12   Keterapian Fisik
13   Keteknisan Medis




                                                                                  151
                                  PENYAJIAN DATA POFIL




    Tabel 8. Perbandingan Kebutuhan dan Produksi Rata-Rata Tenaga KesehatanKebutuhan dan realisasi pemenuhan tenaga
                                 kesehatan Berdasarkan Jenis Tenaga Kesehatan Tahun ....


No      Jenis Tenaga        Indikator      Kebutuhan      Jml      Rasio
                          Tenaga/100.000      Jml        Tenaga    Tahun
                                                                                  Kebutuhan Penambahan Nakes
                              pddk          Tenaga       s/d thn   2008
                                           thn 2010       2008
A           MEDIS                                                              2008        2009     2010       2011
1      Dokter Spesialis
2      Dokter Umum
3      Dokter Gigi


B      KEPERAWATAN
1      Perawat
2      Bidan
3      Perawat Gigi


C      FARMASI
1      Apoteker
2      Asisten Apoteker




                                                                                                                      152
                 PENYAJIAN DATA POFIL




D   KES.
    MASYARAKAT
1   SKM
2   Sanitarian


E   GIZI
F   KETERAPIAN
    FISIK
G   KETEKNISAN
    MEDIS




                                        153
PENYAJIAN DATA POFIL




                       154
           MODUL 7
           Pelatihan Pemanfaatan
              Data Dan Informasi
                   Sebagai Dasar
             Perencanaan Daerah




ADVIKASI

                           155
156
                           MONITORING DAN EVALUASI




   7                 ADVOKASI

7.1 Definisi Advokasi


Berikut beberapa definisi advokasi :


Advokasi adalah upaya untuk memperbaiki atau merubah suatu kebijakan publik
sesuai dengan kehendak atau kepentingan mereka yang mendesakkan terjadinya
perbaikan atau perubahan tersebut.


Advokasi adalah serangkaian strategi yang diarahkan untuk mempengaruhi
penentuan kebijakan di tingkat lokal, propinsi, nasional dan internasional,
khususnya: siapa yang memutuskan, apa yang diputuskan dan bagaimana
diputuskan.


Advokasi adalah seni mempengaruhi orang per orang, atau pengambilan
keputusan secarfa kolektif- atau       penentu kebijakan untuk     mempengaruhi
perubahan yang positif dalam suatu isu atau situasi.
( Policy Project Workshop Participant, march 1997, Accra, Ghana)


Meskipun terdapat banyak definisi advokasi namun, bahasa dan konsep yang
digunakan hampir sama :


Advokasi adalah sebuah proses yang berlangsung untuk jangka waktu yang tidak
ditentukan, bisa panjang ataupun singkat.


Advokasi juga bersifat strategis dan mengarahkan berbagai kegiatan yang
dirancang dengan cermat kepada berbagai “stakeholder” dan pembuat kebijakan




                                                                                  157
                             MONITORING DAN EVALUASI




Advokasi selalu diarahkan untuk mempengaruhi kebijakan, undang-undang,
peraturan, program dan pendanaan untuk berbagai program-mempengaruhi
keputusan-keputusan yang diambil di tingkat tertinggi berbagai institusi publik
maupun swasta.


Advokasi bisa berlangsung sebagai :
   1. Kampanye satu isu yang direncanakan untuk kurun waktu yang terbatas
   2. Kampanye multi isu yang waktu pelaksanaannya tidak dibatasi dengan pasti
   3. Kampanye advokasi bisa dilakukan di tingkat nasional, regional maupun
        lokal.


Kampanye advokasi merupakan rangkaian kegiatan yang :
   1. Tujuan akhirnya adalah pembuat kebijakan
   2. Isu atau isu-isu kebijakan yang ingin dipengaruhi telah diidentifikasi secara
        spesifik
   3. Kegiatan dan aksi-aksinya dirancang secara sistematis dan strategis


7.2 Langkah-Langkah Advokasi


Pelaku advokasi mesti menerapkan pendekatan yang strategis terhadap upaya
advokasinya, dengan mengembangkan langkah-langkah dan kegiatan sistematis
diantaranya:


   1. Membentuk Tim Inti
   Langkah pertama dan utama dari proses advokasi adalah membentuk            “Tim
   Inti”, yakni kumpulan orang yang menjadi penggagas, pemrakarsa, penggerak
   dan pengendali utama seluruh kegiatan advokasi.
   Sebagai upaya sistematik dan terorganisis untuk merubah kebijakan publik, tim
   inti inilah yang berperan utama mewujudkan semua prasyarat yang dibutuhkan
   agar kerja-kerja advokasi dapat terselenggara.


   Dengan kata lain, tim inti suatu gerakan advokasi sebenarnya merupakan suatu
   tim yang siap bekerja purnawatu dan solid.            Langkah-langkah     pokok
   pembentukan tim inti advokasi adalah:
   a.   Tentukan orang-orang yang akan menjadi penggagas dan penggerak
        kegiatan advokasi.


                                                                                      158
                              PENYAJIAN DATA POFIL



b. Membagi peran anggota tim dengan melihat rencana advokasi secara
     keseluruhan, sehingga dapat menentukan posisis dan peran masing-masing
     berdasar kemampuan yang dimiliki
c. Mengadakan serangkaian diskusi mendalam untuk menyatukan visi, cara
     pandang dan isu yang akan diadvokasi.
d. Mereview kembali apakah jumlah orang dan kemampuan anggota telah
     mencukupi atau masih perlu menambah orang, jika masih dianggap perlu
     maka pertimbangkan sesuai persyaratan untuk dapat merekrut / menambah
     jumlah anggota.


2. Pemilihan dan Perumusan Isu Strategis
Advokasi selalu berawal dari adanya isu yang diperjuangkan dengan cara
mempromosikan perubahan kebijakan. Isu ini mesti fokus, jelas, dirasakan
penting oleh semua pendukung organisasi dan dirumuskan melalui kegiatan
analisis lingkungan eksternal, termasuk faktor-faktor ekonomi, politik sosial dan
sebagainya.


Tolok Ukur Isue Strategis Untuk Diadvokasikan
Selain faktor      aktualitas (isu   yang   sedang   hangat menjadi     perhatian
masyarakat), pada dasarnya suatu isu yang dapat dikatakan sebagai „isu yang
strategis‟ jika:
a.   Relevan dengan masalah-masalah nyata dan aktual yang dihadapi oleh
     masyarakat, khususnya kalangan atau lapisan masyarakat tertentu.
b. Masalah yang memang mendesak dan sangat penting untuk diberi
     perhatian segera. Jika tida dicoba untuk diatasi segera, akan berakibat fatal
     di masa depan (misalnya, masalah yang semakin gawat dan rumit, atau
     membawa akibat kerusakan yang lebih parah, dsb)
c. Pengaruh serta dampaknya cukup besar dan meluas. Jika diadvokasikan,
     apalagi jika nantinya berhasil, isu tersebut diperkirakan memang akan
     berdampak positif pada perubahan kebiajakan publik lainnya dalam rangka
     perubahan sosial yang lebih besar dan lebih luas.


Langkah-Langkah Pokok Merumuskan Isue Strategis
     (1) Tim inti mencari dan memilih orang yang berkemampuan untuk
        melakukan kajian kebijakan (policy study) bidang kesehatan.       Tim inti
        mengorganisir mereka menjadi suatu kelompok kerja khusus yang



                                                                                     159
                             PENYAJIAN DATA POFIL



       membantu dan bertanggung jawab langsung kepada tim inti, tetapi
       bukan tim inti.
   (2) Kelompok Kerja Kajian Kebijakan (K4) tersebut segera melakukan tugas
       utamanya: mengumpulkan dan menganalisis semua data dan informasi
       yang berkaitan dengan kebijakan kesehatan pada semua area (dari
       lokal sampai nasional, jika perlu sampai ke area internasional)
   (3) K4 tersebut merumuskan kesimpulan dan rekomendasi tentang isu
       strategis kebijakan kesehatan yang akan diadvokasikan dan menyajikan
       kepada tim inti untuk dibahas dan disepakati. Pada tahap ini, dilakukan
       penilaian berdasrkan tolok ukur isu strategis diatas.
   (4) Jika telah disepakati, maka tim inti kembali menugaskan kepada K4
       untuk menyusun „Kertas Posisi‟ berdasarkan hasil kajian kebijakan
       tersebut.    Kertas posisi inilah yang menjadi dokumen dasar yang
       melandasi seluruh rangkaian kegiatan advokasi berikutnya, karena
       berisi alasan-alasan, konteks permasalahan, tujuan, visi dan misi,
       sasara, strategi dan cara-cara pelaksanaan advokasi terhadap isu
       strategis yang telah ditetapkan.


3. Merancang Strategi Dasar Advokasi
Tujuan jangka panjang adalah suatu pernyataan umum mengenai apa yang
ingin dicapai oleh organisasi advokasi dalam jangka waktu yang cukup lama (3-
5 th). Tujuan strategis ini menggambarkan capaian yang bersifat jangka
pendek, spesifik dan terukur. Capaian ini memberikan kontribusi yang berarti
pada tercapainya tujuan jangka panjang.
Beberapa pedoman dasar mengemas isu advokasi untuk media massa antara
lain sebagai berikut:
    (1) Mengandung unsur berita, aktual dan sesuai dengan isu yang Anda
        advokasikan.
    (2) Mengandung hal-hal yang menarik perhatian orang (human interest)
    (3) Terkait dengan keadaan dan permasalahan setempat (unsur setempat)
    (4) Ada orang yang memang tepat, cakap dan terpercaya bertindak
        sebagai „juru bicara‟ untuk menyampaikannya secara lancar dan mudah
        dipahami oleh masyarakat luas.
    (5) Lebih bagus lagi (dan sangat disarankan) melengkapinya dengan
        bahan-bahan      visual   (foto,   gambar,   grafis,   dll),   terutama   jika
        berhubungan dengan media elektronik (televisi).



                                                                                         160
                               PENYAJIAN DATA POFIL




4. Mengidentifikasi Kelompok Sasaran
Kelompok sasaran utama adalah penentu kebijakan yang memiliki kekuasaan
untuk mewujudkan perubahan kebijakan yang diinginkan. Kelompok sasaran
sekunder   mencakup         pihak-pihak   yang     memiliki   akses   dan    mampu
mempengaruhi kelompok sasaran utama seperti penentu kebijakan lain, media
massa, tokoh-tokoh penting dan publik. Pelaku advokasi harus mampu
mengidentifikasi individu dalam kelompok sasaran, memahami posisi dan
landasan   kekuasaannya         dan    mengenali     apakah    individu-individu    ini
mendukung, menentang atau mungkin bersikap netral terhadap upaya
advokasinya.


5. Membangun Dukungan
Membangun konstituen untuk mendukung upaya advokasi sangat penting
artinya bagi keberhasilan. Semakin luas basis dukungan semakin besar
kesempatan        untuk   berhasil.   Pelaku   advokasi   mesti   „reach-out‟      atau
mengulurkan tangan untuk membangun kerjasama dengan NGO, jaringan,
donor, koalisi, asosiasi profesi, aktifis, dan individu yang mendukung isu dan
mau berkerjasama untuk mencapai tujuan jangka panjang yang dikehendaki.


6. Mengembangkan Pesan
Pesan-pesan advokasi dikembangkan dan dibuat khusus untuk kelompok-
kelompok sasaran tertentu agar mereka memahami isu dan tergerak untuk
mendukung posisi pelaku advokasi. Ada tiga pertanyaan kunci yang selalu
harus dijawab dalam rangka menyiapkan pesan-pesan advokasi:
       -   Siapa yang ingin anda jangkau melalui pesan ini?
       -   Apa dampak yang ingin anda raih dengan menyampaikan pesan ini
       -   Apa tindakan sasaran yang anda inginkan setelah menerima pesan
           ini?


7. Memilih Saluran Komunikasi
Seleksi medium untuk pesan-pesan advokasi yang paling tepat bergantung
kepada kelompok sasaran yang ingin dijangkau. Pilihan saluran komunikasi
bervariasi jika ingin menjangkau publik, mempengaruhi pembuat kebijakan,
mendidik media massa, membangun dukungan dari lembaga-lembaga yang
memiliki ide-ide yang sama, jaringan-jaringan lain dna sebagainya. Beberapa



                                                                                          161
                                 PENYAJIAN DATA POFIL



   saluran komunikasi untuk upaya-upaya advokasi mencakup: siaran pers, kit
   informasi untuk wartawan, konferensi pers, peristiwa debat publik, konferensi
   umum untuk pembuat kebijakan dsb.


   8. Menggalang Dana
   Kampanye advokasi akan sangat terbantu jika ada dukungan dana yang cukup.
   Dana diperlukan untuk mengembangkan dan menyebarluaskan berbagai
   materi, menutup biaya perjalanan pelaku advokasi ketika harus pergi untuk
   menemui berbagai penentu kebijakan, menutup biaya seminar, pertemuan-
   pertemuan, biaya komunikasi dsb. Organisasi pelaku advokasi sebaiknya
   mengembangkan strategi penggalangan dana sejak awal kampanye dengan
   mengenali penyumbang-penyumbang potensial.


   9. Implementasi
   Organisasi pelaku advokasi mesti mengembangkan rencana implementasi
   untuk memberi arah yang jelas pada kampanye advokasinya. Rencana ini mesti
   mengidentifikasi kegiatan-kegiatan, tugas-tugas penanggung jawab, waktu
   pelaksanaan dna sumber daya yang diperlukan.


7.3. Kegiatan yang harus terus menerus dilakukan
   1. Pengumpulan data
   Pengumpulan data diperlukan pada semua tahap kampanye advokasi yang
   disajikan dalam model ini. Data mesti dikumpulkan dan dianalisa untuk :
   -   Menetapkan isu, mengembangkan tujuan jangka panjang dan menentukan
       tujuan-tujuan strategis
   -   Mengembangkan basis dukungan
   -   Mempengaruhi pembuat kebijakan
   Pengumpulan data berlangsung secara terus menerus selama kampenye
   berlangsung
   Prinsip-prinsip mengembangkan sistem informasi atau basis data sebagai
   dasar/fakta (evidence based) antara lain sebagai berikut:
   -   Memahami informasi atau data apa yang dibutuhkan untuk mendukung
       kerja advokasi.
   -   Memahami cara memperoleh, menelusurinya, mengolah, menyimpan dan
       mendistribusikannya.
   -   Selalu mencari data baru dari sumber-sumber lain.



                                                                                   162
                             PENYAJIAN DATA POFIL



-   Ada     orang    yang   secara   khusus     menanganinya,   termasuk     cara
    memutakhirkan data/informasi.
-   Memahami jalur-jalur sumber informasi yang harus dikelola, dijaga dan
    dikembangkan untuk memperoleh informasi/data.
-   Berada dalam kendali (control system) Tim Inti dan Tim Kerja Advokasi.
Adapun langkah-langkah dalam penyiapan sistem informasi dan basis data
adalah sebagai berikut:
(1) Asssesment kebutuhan data dan informasi sesuai dengan isu yang akan
    diadvokasikan:
-   Adakan pertemuan, diskusi dengan Tim Kerja Advokasi, nara sumber dan
    pihak lainnya, untuk mengidentifikasikan data dan informasi sesuai dengan
    kerja-kerja advokasi yang akan dilakukan.
-   Tentukan prioritas data atau informasi apa saja yang diperlukan untuk
    mendukung kerja-kerja advokasi.
-   Lakukan seleksi, klasifikasi dari setiap data dan informasi yang telah
    teridentifikasi dan sesuaikan dengan isu-isu yang akan diadvokasikan.
(2) Pengumpulan informasi dan data:
-   Tim Inti dan Tim Kerja Advokasi mendiskusikan bagaimana pengumpulan
    data dan informasi akan dilakukan, siapa mengumpulkan apa, kapan
    (lakukan pembagian kerja untuk pengumpulan data dan informasi).
-   Tentukan seberapa jauh tim kerja sistem pendukung (support system)
    informasi dan basis data dapat membantu dalam pekerjaan pengolahan
    data.
-   Buatlah sistem klasifikasi data sesuai dengan peruntukannya agar sewaktu-
    waktu dibutuhkan mudah mengaksesnya.
(3) Penetapan sistem penyimpanan dan pengembangan basis data
-   Tentukan seberapa jauh tim kerja sistem pendukung (support system)
    informasi dan basis data dapat membantu dalam pekerjaan pengolahan
    data.
-   Tentukan teknik-teknik yang efektif dan aman berkaitan dengan sistem
    penyimpanan/pangkalan data dan sistem pelacakan, dan pemutakhiran
    data.
-   Lakukan seleksi data dan informasi sekali lagi sebelum masuk ke dalam
    sistem penyimpanan
-   Susun klasifikasi pangkalan data sesuai dengan kebutuhan kerja-kerja
    advokasi.




                                                                                    163
                            PENYAJIAN DATA POFIL



(4) Menetapkan pengelola informasi dan basis data
-   Diskusikan dengan Tim Kerja Advokasi seberapa jauh tim kerja sistem
    pendukung (support system) informasi dan pangkan data dapat membantu
    desiminasi data atau informasi (menyangkut strategi, teknik dan sasaran
    penggunaannya).
-   Tentukan siapa orang dari tim kerja sistem pendukung yang harus
    bertanggung jawab dalam membantu desiminisa data atau informasi.
(5) Pemantauan, refleksi dan evaluasi
-   Lakukan monitoring/refleksi dan evaluasi secara berkala dengan melibatkan
    Tim Kerja Advokasi, dan orang lainnya yang terlibat dengan kerja advokasi
    untuk memperole umpan balik, pelacakan, dan pemutakhiran data.
-   Buatlah catatan-catatan penting dari hasil refleksi dan evaluasi berkala
    untuk menjadi input atau perbaikan selanjutnya.
(6) Penyebarluasan informasi
-   Untuk membantuk Tim Inti dan Tim Kerja Advokasi dalam mengelola
    informasi dan pangkalan data, tunjuklan satu orang yang harus bertanggung
    jawab ke Tim Inti.


2. Monitoring evaluasi
Monitoring dan evaluasi harus terjadi terus menerus, dimana refleksi terhadap
aksi selama proses kampanye advokasi berlangsung tak pernah berhenti
dilakukan. Sebelum suatu kampanye advokasi dimulai harus lebih dulu
ditetapkan bagaimana pelaksanaan rencana implementasi yang telah dibuat
akan dimonitor. Bagaimana perubahan yang terjadi berkat upaya advokasi akan
diukur.




                                                                                164
                                    PENYAJIAN DATA POFIL



                                       Proses Advokasi
Aktifitas terus                                                   Aktifitas terus
                               Langkah-langkah advokasi
   menerus                                                           menerus
                         - Merumuskan isu
                         - Merumuskan tujuan jangka panjang dan




                                                                       Evaluasi dan monitoring
                           tujuan-tujuan strategis
      Pengumpulan data




                         - Menentukan sasaran advokasi
                         - Membangun dukungan
                         - Mengembangkan pesan
                         - Memilih saluran komunikasi
                         - Menggalang dana
                         - Implementasi




Kepustakaan


The Asia Foundation, 2005, Advokasi Menuju Masyarakat Indonesia Yang Lebih
   Sehat, Jakarta
Topatimasang, Roem et.al, 2005, Sehat itu Hak : Advokasi Masalah Kesehatan
   Mayarakat, Koalisi untuk indonesia sehat, Jakarta.




                                                                                                 165
PENYAJIAN DATA POFIL




                       166
            MODUL 8
            Pelatihan Pemanfaatan
               Data Dan Informasi
                    Sebagai Dasar
              Perencanaan Daerah




SISTEM INFORMASI
    GEOGRAFIS

                            167
168
                                 TOOLS ASSESSMENT




 8                  SISTEM INFORMASI
                    GEOGRAFI

8.1 Konsep Sistem Informasi Geografis (SIG)

8.1. 1. Definisi SIG

Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System) adalah sebuah sistem yang
mampu membangun, memanipulasi, dan menampilkan informasi yang memiliki referensi
geografis (georeferences).
SIG merupakan manajemen data spasial dan non-spasial yang berbasis komputer
dengan tiga karakteristik dasar, yaitu:
   a) mempunyai fenomena aktual (variabel data non-lokasi) yang berhubungan
       dengan topik permasalahan di lokasi bersangkutan;
   b) merupakan suatu kejadian di suatu lokasi; dan
   c) mempunyai dimensi waktu.
Pemanfaatan GIS diharapkan mampu memberikan kemudahan-kemudahan yang
diinginkan yaitu:
   1. penanganan data geospasial menjadi lebih baik dalam format baku
   2. revisi dan pemutakhiran data menjadi lebih muda
   3. data geospasial dan informasi menjadi lebih mudah dicari, dianalisa dan
       direpresentasikan
   4. menjadi produk yang mempunyai nila tambah
   5. kemampuan menukar data geospasial
   6. penghematan waktu dan biaya
   7. keputusan yang diambil menjadi lebih baik.


8.1.2. Subsistem SIG
Sistem Informasi Geografis dapat diuraikan menjadi beberapa subsistem sebagai
berikut:
    a) Data Input:     Subsistem ini      bertugas untuk mengumpulkan data dan
       mempersiapkan data          spasial dan atribut dari berbagai sumber dan
       bertanggung jawab dalam mengkonversi atau mentransfortasikan format-

                                                                                       169
                                TOOLS ASSESSMENT


       format data-data aslinya kedalam format yang dapat digunakan oleh SIG.

   b) Data output: Subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh
       atau sebagian basis data baik dalam bentuk softcopy maupun bentuk
       hardcopy seperti: tabel, grafik dan peta.
   c) Data Management: Subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial
       maupun data atribut ke dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga
       mudah dipanggil, di-update dan di-edit.
   d) Data Manipulation & Analysis: Subsistem ini menentukan informasi-informasi
       yang dapat dihasilkan oleh SIG dan melakukan manipulasi serta pemodelan
       data untuk menghasilkan informasi yang diharapkan.


       Definisi SIG di atas mencakup beberapa komponen, yaitu :

       Perangkat keras komputer

       Perangkat lunak komputer

       Data-data geografis

       Sumberdaya manusia




       Gambaran SIG sebagai sebuah sistem meliputi :

       Input : mengumpulkan dan menyimpan data

       Proses : manipulasi, meng-update dan menganalisa

       Output : menampilkan atau menyajikan data hasil pemrosesan



8.2. Konsep Basis Data
Basis data adalah kumpulan dari tabel-tabel yang saling berelasi, disusun secara
logis, sehingga menghasilkan informasi     yang    bernilai   guna   dalam   proses
pengambilan keputusan. Suatu basis data adalah koleksi data yang bisa mencari
secara menyeluruh dan secara sistematis memelihara dan me-retrieve informasi.
Sebuah basis data adalah tempat penyimpanan file data, Sebagai file data, suatu
basis data tidak menyajikan informasi secara langsung kepada pengguna. Pengguna
harus menjalankan aplikasi untuk mengakses data dari      basis      data       dan
menyajikannya dalam bentuk yang dapat dimengerti.

                                                                                      170
                                   TOOLS ASSESSMENT


Ada beberapa sifat yang melekat pada suatu tabel:
   1. Tidak boleh ada record yang sama (kembar)
   2. Urutan record tidak terlalu penting karena data dalam record dapat diurut
       sesuai dengan kebutuhan.
   3. Setiap field harus mepunyai nama yang unik, tidak boleh ada yang sama.
   4. Setiap field mesti mempunyai tipe data dan karakteristik tertentu.


Jenis hubungan antartabel dalam model database relasi juga didefinisikan dengan
hubungan:
   1. Satu ke satu (One to One)
   2. Satu ke banyak (One to Many)
   3. Banyak ke satu (Many to One)
   4. Banyak ke banyak (Many to Many)


Untuk lebih jelasnya penggunaan hubungan ini sering digunakan Diagram Entity
Relationship (DiagramE-R), yang merupakan bagian dari Model Data Entity
Relationship.   Judul   variabel    data   diistilahkan   menjadi   “kunci-kunci”   (Key)
berdasarkan tingkat keutamaan datanya. Jenis-jenis “kunci” (Key) secara umum
terbagi ke dalam empat kategori:

   1. Candidate Key
       Fungsi dari candidate key adalah sebagai calon primary key.
   2. Primary Key
       Merupakan candidate key yang telah dipilih untuk mengidentifikasi setiap
       record secara unik. Primary key harus merupakan field yang benar-benar
       unik dan tidak boleh ada nilai NULL, Misal: NIP dosen dijadikan sebagai
       Primary Key karena lebih sederhana dalam jumlah digit dan unik.
   3. Foreign Key
       Jika sebuah primary key terhubungan ke table entity lain maka keberadaan
       primary key pada entity tersebut disebut sebagai foreign key, misal: Primary
       Key NIP Dosen dari entity Dosen digunakan juga pada field entity KRS, maka
       keberadaan field NIP Dosen pada entity KRS disebut sebagai foreign key.
   4. Alternate Key
       Alternate Key adalah candidate key yang tidak terpilih.




                                                                                            171
                                TOOLS ASSESSMENT


8.2.1. Konsep Basis Data Spasial

Basis data spasial adalah struktur basis data yang dioptimalkan untuk menyimpan
dan mencari data yang berhubungan dengan ruang muka bumi termasuk di
dalamnya obyek berupa titik, garis dan area. Sementara basis data pada umumnya
hanya dapat membaca berbagai data yang bertipe numerik dan kategorik, maka
fungsi geometris digunakan untuk memproses data yang bertipe spasial.
Basis data spasial (spatial database) dapat dibangun dan diintegrasikan dengan
basis data non-spasial (non-spatial database) berupa data sosial ekonomi (termasuk
di dalamnya kesehatan) dan hasil observasi lapangan. Data spasial dan non-spasial
bersama-sama menghasilkan informasi yang sangat bermakna yang dapat
diterapakan di berbagai bidang kehidupan manusia.


8.3. Manajemen Data Spasial
Data spasial adalah data yang memiliki referensi ruang kebumian (georeference)
dimana berbagai data atribut terletak dalam berbagai unit spasial. Sekarang ini data
spasial menjadi media penting untuk perencanaan pembangunan dan pengelolaan
sumber daya alam yang berkelanjutan pada cakupan wilayah continental, nasional,
regional maupun lokal.
Unsur data di dalam SIG memiliki 3 dimensi:
 a) dimensi keruangan (spatial dimensions) yang menunjuk pada sifat ruang atau
     lokasi geografi di permukaan bumi;
 b) dimensi waktu (temporal dimensions) saat dalam suatu waktu/periode tertentu;
 c) dimensi tematik, dimensi ini menerangkan apa yang diukur seperti bentuk,
     kedalaman, variabel. Kadang-kadang dimensi tematik ini disebut sebagai
     dimensi topikal atau dimensi karakteristik.

Data spasial mempunyai dimensi keruangan yang membedakannya dari jenis data
lain. Data tabular yang telah diintegrasikan dengan data spasial sesuai dengan
ketentuan yang disyaratkan, maka dengan sendirinya akan mempunyai aspek
georeference, yang menjadikannya data spasial juga. Aspek georeference itulah
yang membuat pekerjaan dengan data spasial itu unik dan berbeda dari data tabular
pada umumnya.


8.3.1. Extension File Data Spasial
Data spasial mempunyai extension-extension file yang mendukung file shapefile
utama. Extension-extension itu merupakan satu kesatuan, sehingga ketidakadaan


                                                                                       172
                                  TOOLS ASSESSMENT


salah satu extension file dapat mengakibatkan pada tidak dapat dibukanya
keseluruhan file shapefile. Berbeda dengan file excel atau word yang hanya
mempunyai satu extension file (*.xls atau *.doc), maka 1 file shapefile mempunyai 3-
5 extension file dalam bentuk *.shp, *.sbn, *.sbx, *.shx, dan *.dbf. Sebagai contoh,
jika kita mempunyai shapefile bernama indonesia, maka extension-extension yang
melekat di file tersebut bernama:

                        indonesia.shp         indonesia.sbx
                        indonesia.shx         indonesia.dbf
                        indonesia.sbn


Jika suatu ketika kita akan menduplikasi atau memindahkan shapefile “indonesia”
tersebut, maka keseluruhan extension juga harus ikut diduplikasi atau dipindahkan.


8.3.2. Bekerja dengan Healthmapper Project (*.hpr)
Pengelolaan data spasial dengan Healthmapper memerlukan pemahaman
manager data terhadap keterkaitan Healthmapper project (*.hpr) dengan
shapefile-shapefile yang digunakan di dalam project tersebut. Healthmapper
project (*.hpr) merupakan file pekerjaan kita yang di dalamnya berisi file-file
shapefile yang digunakan di project tersebut. Hubungannya dapat dilihat pada
skema berikut ini:


        KEGIATAN
        PEMETAAN                          *.hpr




           Shapefile 1                   Shapefile 2            Shapefile 3




Pengelolaan file Healthmapper project (*.hpr) dan shapefile-shapefile harus
memperhatikan aspek konsistensi. Analogi sederhana yang dapat digunakan
untuk menggambarkan hubungan Healthmapper project (*.hpr) dengan
shapefile adalah hubungan antara “manager” dengan “staf”-nya yang terlibat
dalam satu pekerjaan. Selama pekerjaan itu dilaksanakan, maka “manager”


                                                                                       173
                               TOOLS ASSESSMENT


dan “staf” juga harus merupakan orang yang sama, tidak boleh ada
perubahan personil. Jika terjadi perubahan di salah satu pihak saja, maka
pekerjaan secara keseluruhan tidak dapat dilanjutkan.


8.3.3. Direktori Kerja
Struktur direktori tempat pengelolaan file Healthmapper Project (*.hpr) dengan
shapefile-shapefile yang digunakan harus konsisten dari awal hingga akhir
pengerjaan. Perubahan di dalam alamat direktori dapat mengakibatkan pada
tidak dapat dibukanya file project kita, misalnya: pada awal pengerjaan kita
menyimpan data kita di alamat D:\SIG, maka pengerjaan berikutnya juga
harus dilakukan di alamat yang sama yaitu D:\SIG.


8.4. Membangun Basis Data Spasial

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan di dalam pembuatan basis data spasial
adalah tahap normalisasi tabel dan penggunaan primary key yang sesuai.
Normalisasi tabel dilakukan terhadap isi tabel basis data. Proses tersebut dilakukan
untuk mengurangi jumlah data yang berulang (redundant) di dalam tabel. Pada
proses normalisasi dilakukan pemecahan terhadap kolom-kolom besar, menjadi
kolom-kolom kecil. Manfaat utama dari normalisasi basis data adalah memajukan
konsistensi dan akurasi data antartabel melalui reduksi pengurangan informasi yang
tersimpan.
Primary key digunakan sebagai “penghubung” antartabel, sehingga aspek keunikan
sangat diperhatikan. Field yang umum digunakan adalah nama tempat administratif,
berupa nama desa, kecamatan, kabupaten atau propinsi.


8.5. Penyajian Data Kesehatan Berbasis SIG

8.5.1. Pengenalan HealthMapper

   1. Tatacara Pemetaan dalam Kesehatan Masyarakat
     Pemetaan geografis tentang kejadian penyakit telah lama dikenali sebagai
     epidemiologi era pertama, melihat ke belakang pada tahun 1859 peta pertama
     digunakan oleh John Snow untuk melihat KLB kolera di London. Peta
     sederhana    digunakan   semenjak    saat   itu   untuk   melihat   persebaran,
     mengidentifikasi sumber daya, menentukan wilayah resiko dan menilai resiko
     epidemis.


                                                                                       174
                               TOOLS ASSESSMENT




 Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, dalam 5 tahun terakhir kemajuan
 secara signifikan pengembangan yang menghadirkan unsur geografis dan tools
 pemetaan dalam mendukung pengambilan keputusan. Decision makers dapat
 dengan mudah menilai di mana penduduk tinggal terkait suatu masalah tertentu
 (penyakit dan kejadian-kejadian lainnya) dan dalam hubungan dengan
 keberadaan sumberdaya kesehatan (kesehatan dan pelayanan sosial, supply
 air dan pendidikan). Keberadaan sumberdaya kesehatan dapat lebih dinilai
 secara rasional perencanaan dan prioritas untuk kebutuhan utama masyarakat
 yang membutuhkan.


 Geographic      Information     Systems   (GIS)   menghasilkan     pemahaman
 menakjubkan analisis epidemiologis dan pemrograman data, terkait tren,
 dependensi dan hubungan yang sulit dilihat dalam format data tabular. Secara
 lebih jauh, pengalaman menunjukkan pemetaan kejadian penyakit tidak hanya
 mampu memfasilitasi analisis epidemiologis akan tetapi juga sebagai alat
 efektif untuk advocacy melalui media dan untuk menghasilkan keputusan oleh
 pengambil keputusan dan juga sebagai basis data yang berukuran sangat
 besar.


2. Pentingnya Healthmapper
 Banyak administrator di kesehatan masyarakat dewasa ini mengenali tehnologi
 pemetaan dapat membantu mereka terkait akses informasi yang lebih cepat,
 lebih efisien, penilaian yang lebih baik dan menganalisa hubungan faktor
 berdasarkan ciri wilayah dan lebih menekankan pada implementasi program.


 Bagaimanapun, ada beberapa substansi mengenai operasional implementasi
 dalam tehnologi pemetaan, di antaranya ;
         Software GIS yang mahal yang biasanya sangat kompleks dan
          pengguna memerlukan pelatihan dasar sampai pelatihan mahir
         Database kesehatan masyarakat yang seringkali tidak seragam
          khususnya terkait geo-referensi. Hal tersebut menjadikan intregrasi GIS
          memerlukan waktu yang lama dan terkesan susah
         Pengguna dari kesehatan masyarakat pada umumnya menggunakan
          hanya 10-20% dari paket software yang tersedia




                                                                                    175
                           TOOLS ASSESSMENT


        Pengguna seringkali mengalami kesulitan dalam pengaksesan data
         dijital seperti batas administrasi, peta ketinggian, informasi lokasi
         pemukiman penduduk.




   Untuk mengenali segala keterbatasan pemanfaatan GIS oleh pengguna
   kesmas khususnya WHO membangun sebuah aplikasi sederhana yang
   disebut HealthMapper secara khusus untuk tujuan kesehatan masyarakat.


3. Ide tentang Healthmapper

Healthmapper adalah sebuah perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG)
yang bersifat open source atau tidak perlu menggunakan lisensi untuk
menggunakannya. Healthmapper dirancang dan dikembangkan oleh Badan
Kesehatan Dunia (WHO) bidang Kesehatan Masyarakat dan SIG, berfungsi
menyederhanakan akses dan pemanfaatan SIG serta teknologi pemetaan di
bidang kesehatan masyarakat.


Penggunaan Healthmapper memungkinkan programme manager menggeser
(pan) dan memperbesar (zoom) layer-layer peta; menciptakan peta dinamis
mengenai distribusi penyakit; menampilkan dan        menganalisa kepadatan
penduduk kaitannya dengan ketersediaan sumber kebutuhan dasar hidup;
menentukan catchment areas dari sarana pelayanan kesehatan dan sumber-
sumber mata air yang ada. Software HealthMapper adalah sebuah inovasi
penting yang menawarkan solusi beberapa hal yang akan disebutkan di bawah.


Ide di belakang pengembangan Healthmapper adalah :
        Memberikan pengguna kesmas sebuah database dijital standar
         mengandung informasi yang esensial dengan memasukkan administrasi
         wilayah, faktor lingkungan fisik (seperti danau, sungai, ketinggian)
         sebagus informasi vital pada data kependudukan dan data vital
         kesehatan, sekolah dan infrastruktur PAM
        Menghasilkan fungsi yang mudah dipergunakan oleh pengguna secara
         otomatis dalam membuat peta, tabel dan grafik dari data mereka
        Menghasilkan tampilan menu manajemen data yang sederhana bagi
         pengguna dengan format input yang mudah dan indikator kesmas yang
         mudah di-update dalam format standar geografis


                                                                                 176
                               TOOLS ASSESSMENT


           Membuat sistem yang dapat dioperasionalkan pada level lokal maupun
            global
           Menghasilkan sebuah sistem yang murah bahkan hampir tidak ada
            biaya


            Gambar 1. Healthmapper: Program SIG yang Open Source




   Healthmapper adalah perangkat lunak yang dikembangkan WHO bersama-sama
   dengan Environmental Systems Research Institute Inc. (ESRI Inc.). Oleh karena
   itu terdapat kemiripan tipe data dan software interface dengan software yang
   telah dikeluarkan oleh ESRI, salah satunya adalah ArcView.



                 Gambar 2. Tampilan View pada Healthmapper




Healthmapper sebagai software yang berbasis sistem basis data mampu
mengoperasikan tabel dan mengolahnya, serta melakukan linking (join table) dengan
database non-spasial (tabular) lain. Data kesehatan pada umumnya berbentuk tabel
(tabular), oleh karena itu pemanfaatan Healthmapper sangat memungkinkan


                                                                                    177
                                TOOLS ASSESSMENT


dilakukannya pengoptimalan pemanfaatan data hingga dapat digambarkan kondisi
kesehatan di suatu daerah yang dipetakan.


                       Gambar 3. Integrasi Data (Join Table)




Atribut yang telah diintegrasikan kemudian dapat digambarkan dalam bentuk peta,
dengan menampilkan simbol-simbol dalam bentuk gradasi warna. Penggunaan
gradasi warna dapat menunjukkan hirarki data yang ditampilkan. Pada umumnya
semakin gelap warna berarti tingkatan hirarkinya semakin tinggi.


Gambar 4. Visualisasi Data (warna hijau gelap menunjukkan hirarki yang lebih tinggi)




                                                                                       178
                            TOOLS ASSESSMENT




   8.6. Latihan Pengelolaan Data di Healthmapper
1. Instalasi program Healthmapper
   a. masukkan CD berisi program HealthMapper
   b. akan muncul 2 folder utama ; DataInstaller dan Healthmapper
   c. Klik folder Healthmapper
   d. klik Setup, yang memiliki tipe Application atau Windows Installer
      Packages
   e. ikuti langkah tersebut dengan mengklik tombol Yes dan atau OK. Hal
      tersebut sebagai prasyarat instalasi yang berarti setuju dengan segala
      ketentuan yang ada dalam sistem tersebut.




2. Instalasi Data Manager
   a. masukkan CD berisi program HealthMapper
   b. akan muncul 2 folder utama ; DataInstaller dan HealthMapper
   c. pilih DataInstaller, yang merupakan tipe Apllication




                                                                               179
                           TOOLS ASSESSMENT




       Ikuti langkah-langkah selanjutnya sesuai dengan petunjuk dari software
       ini hingga finish dengan mengklik tombol next, yes atau OK. Hal tersebut
       sebagai opsi yang berarti kita menerima segala prasyarat sistem.


3. Integrasi Data Tabular dengan Data Spasial (Link External Data to Healthmap
   Geodata)  Tekan Get External Data




                                                                                  180
                            TOOLS ASSESSMENT


4. Memanggil file data tabular (*.dbf) yang akan diintegrasikan dengan data
   spasial.




                                                                     Nama file

                                                                     Tipe file (*.dbf)




5. Tahap Penggabungan Data Tabular dengan Data Spasial (Join)




                 Blok Primary Key




                                                                               Eksekusi Pilihan




                                                                                           181
                            TOOLS ASSESSMENT


6. Membuka Legend Editor (Layer Properties Edit Legend)




7. Menampilkan Data Spasial yang Bersifat Rasio (Metode Graduated Color)




                                                                           Data yang ditampilkan
                                                                           Jumlah Kelas

                                                                           Warna




                                                                                           182
                                 TOOLS ASSESSMENT


   8. Data agregat jumlah penderita penyakit saluran pernafasan atas di Propinsi Nusa
       Tenggara Barat tahun 2008.




                                 Daftar Pustaka

Sinarmata, Janner. 2007.Perancangan Basis Data. Yogyakarta. Penerbit ANDI

Laurini, M. 1996. Spatial Information Systems. New York. McGraw-Hill

I Made dkk. 1996. Esensi Kartografi. Jakarta. Penerbit Jurusan Geografi FMIPA UI

http://www.geocities.com/yaslinus/dasar_sig.html. 29 Juli 2009 pukul 17.00 WIB

http://www.dephut.go.id/INFORMASI/RRL/RLPS/sk_dirjenRLPS/l6_167_04.pdf. 29
Juli 2009 pukul 16.30 WIB




                                                                                        183

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:131
posted:3/18/2012
language:Malay
pages:189