Docstoc

Metode Prepeptual

Document Sample
Metode Prepeptual Powered By Docstoc
					                                                                          1




                                      BAB I

                             PENDAHULUAN



1.1.   Latar Belakang

             Pertumbuhan ekonomi masyarakat yang akhir- akhir ini

       mengalami berbagai masalah yang dalam kehidupan masyarakat,

       membuat pemerintah harus bekerja keras untuk membuka lapangan

       kerja dan memberikan kesempatan kerja kepada masyarakat yang belum

       memperoleh pekerjaan. Kesempatan tersebut hanya dapat dipenuhi bila

       ada kemampuan dan kemauan untuk bekerja seperti yang dilakukan oleh

       usaha Gembol Naga Geni di Jl. Chairil Anwar No. 139 Wua-Wua

       Kendari.

             Lapangan kerja yang disediakan oleh pemerintah terdiri dari

       berbagai bidang usaha, mulai dari bidang produksi sampai kepada

       bidang jasa. Hal ini dilakukan oleh pemerintah sebagai tindakan

       antisipasi dalam menganggapi berbagai polemik masyarakat dengan

       latar belakang pendidikannya.

             Bidang usaha yang dikembangkan sebagai bentuk pemberdayaan

       masyarakat sesuai dengan kemampuan dan kondisi masyarakat yang

       meliputi   bidang   produksi    termasuk   produksi   meubel.   Meubel

       merupakan produk asesoris yang melangkapi kebutuhan hidup manusia
                                                                   2




seperti kebutuhan terhadap meja, kursi dan lemari serta hiasan lainnya

dalam bentuk gembol. Produk-produk ini hanya dapat dikerjakan

dengan keterampilan khusus dan berpengalaman, mulai dari teknik

pengerjaan hingga penetapan harga pokok produk meubel yang

dihasilkan.

       Usaha meubel dikelompokan sebagai usaha industri rumah

tangga, karena usaha ini dapat dilakukan oleh anggota keluarga atau

kelompok masyarakat dalam jumlah yang terbatas antara 3 – 5 orang

pekerja dengan menggunakan peralatan semi modern yang mendukung

kelancaran proses produksi seperti mesin gergaji, mesin ketam, mesin

bor dan peralatan lainnya.

       Proses pembuatan meubel tidaklah rumit bagi mereka yang telah

berpengalaman, sehingga meubel yang dihasilkan dapat memenuhi

permintaan konsumen. Jumlah produksi meubel yang dihasilkan

tergantung dari banyaknya bahan baku (kayu) yang tersedia serta bahan

penolong untuk membuat meubel gembol.

       Jenis kayu yang digunakan dalam kegiatan produksi meubel ini

sebagian besar adalah kayu jati dan beberapa jenis kayu lainnya yang

dijadikan sebagai bahan baku pembuatan gembol. ini adalah kayu jati

dan berbagai jenis yang dipasok dari masyarakat untuk diolah menjadi
                                                                      3




meubel gembol dalam berbagai bentuk sesuai dengan kemampuan dari

para pengusaha gembol.

        Harga pokok merupakan satuan nilai yang ditetapkan untuk satu

produk yang dihasilkan dari proses produksi. Penetapan harga pokok

produksi dilakukan dengan menggunakan sejumlah metode seperti

metode full costing dan metode variabel costing. Penetapan harga

pokok     produksi   dengan    menggunakan      metode     full   costing

memperhitungan semua variabel biaya secara langsung seperti biaya

bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik tetap,

dan biaya overhead pabrik variabel yang disatukan. Sedangkan

penetapan harga pokok dengan menggunakan metode variabel cost

dalam menentukan harga pokok produksi melibatkan biaya bahan baku

variabel, biaya tenaga kerja variabel dan biaya overhead variabel.

        Penetapan harga pokok produksi pada umumnya dilakukan pada

perusahaan-perusahaan industri yang memproduksikan produk-produk

yang akan dipasarkan kepada konsumen atau pengguna. Penetapan

harga pokok produk pada usaha gembol, didasarkan pada ukuran meja

yang diproduksi, yang terdiri dari meja ukuran kecil, ½ biro dan meja

biro.

        Harga jual untuk satu unit gembol yang berukuran kecil

mencapai Rp.400.000 meja ½ biro harga jual Rp. 600.000 sedangkan
                                                                     4




meja berukuran besar harga jualnya mencapai Rp.1.500.000. Penetapan

harga jual ini juga didasarkan pada ketersediaan bahan baku dan flutuasi

harga yang berlaku dipasar, sehingga perubahan harga yang terjadi

dipasar dapat memberikan pengaruh terhadap proses produksi gembol.

Secara lengkap data produk, jenis/ukuran, dan harga jual yang

ditetapkan perusahaan ini disajikan pada tabel berikut :

Tabel 1.1. Jenis Produk, Ukuran dan Harga Jual

 No.        Jenis produk          Spesifikasi     Harga Jual (Rp/Unit)

 1.     Meja kecil               70 x 50 x 74                 400.000.

 2.     Meja ½ biro             110 x 62 x 74                 600.000

 3.     Meja biro               150 x 74 x 74                1.500.000
Sumber : Usaha Gembol Naga Geni Kendari, 2007.

       Berdasarkan data pada tabel 1.1, jenis produk yang dihasilkan

adalah meja gembol dengan spesifikasi kecil, sedang dan besar dan

tingkatan harga pokok antara Rp. 400.000 hingga Rp. 1.500.000, selain

itu terdapat juga produk pesanan (job order) dari pihak konsumen dan

perusahaan harus berupaya untuk melayani dan menjaga serta

memelihara hubungan kerja sama dengan konsumen dalam memasarkan

produk. Hal ini juga memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk

memperluas pangsa pasar usaha meubel dengan menawar produk

meubel kepada konsumen.
                                                                   5




      Dalam kegiatan pencatatan biaya, perusahaan melakukan

pencatatan pengeluaran dan pemasukan selama ini secara tradisional

dan berdasarkan pada pengalaman kerja dari pemilik usaha, sehingga

dalam menetapkan harga pokok produksi meubel gembol, masih

dilakukan berdasarkan perkiraan yang menurut perusahaan telah sesuai

dengan harga pokok produk yang berlaku, tetapi bila dilakukan

penyesuaian antara biaya produksi dengan pendapatan, perusahaan

masih mengalami kerugian, hal ini terjadi karena sistem pencatatan

yang dilakukan untuk mencatat biaya-biaya masih bersifat tradisional

sehingga untuk dikajikan dalam bentuk akuntansi, membutukan waktu

yang cukup lama guna memperoleh hasil pencatatan yang sesuai dengan

kaidah ilmu akuntansi yang berlaku untuk dijadikan informasi bagi para

pengguna laporan keuangan dan kelancaran usaha.

      Dalam penetapaan harga pokok produksi meubel gembol, biaya-

biaya yang dikeluarkan untuk bahan baku, tenaga kerja dan biaya

overhead dihitung menjadi satu satuan yang saling berhubungan

sehingga menghasilkan nilai atau harga bagi meubel gembol yang

dihasilkan oleh perusahaan ini

      Dari latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka

penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul
                                                                       6




       skripsi “Penetapan Harga Pokok Produksi Meubel pada Usaha Gembol

       Naga Geni Kendari”

1.2.   Rumusan Masalah

             Berdasarkan uraian yang dikemukakan pada latar belakang, maka

       rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah penetapan harga

       pokok produksi meubel pada Usaha Gembol Naga Geni sudah sesuai

       dengan standar akuntansi yang berlaku?”.

1.3.   Tujuan dan Manfaat Penelitian

       1.3.1. Tujuan Penelitian

              Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui

              penetapan harga pokok produksi meubel pada Usaha Gembol

              Naga Geni Kendari sesuai dengan standar akuntansi.

       1.3.2. Manfaat Penelitian

             Adapun manfaat penelitian ini antara lain :

             1.   Sebagai bahan masukan bagi perusahaan untuk menata

                  pembukuan dan pencatatan harga pokok produksi guna

                  pengambilan keputusan dalam penetapan harga pokok.

             2.   Sebagai bahan pembanding bagi peneliti lain yang relevan

                  dengan penelitian ini.
                                                                         7




1.4.   Ruang Lingkup

             Penelitian ini dikaji dan dibahas dalam ruang lingkup penetapan

       harga pokok produksi meubel gembol yang meliputi pencatatan biaya

       bahan baku, biaya tenaga kerja dan overhead guna memasarkan produk

       meubel gembol kepada konsumen.
                                                                          8




                                  BAB II

                            TINJAUAN PUSTAKA



2.1.   Pengertian Akuntansi

             Dalam kegiatan produksi, setiap perusahaan tidak terlepas dari

       berbagai pengeluaran biaya untuk memperoleh hasil atau output yang

       optimal sesuai dengan keinginan Penggunaan biaya dalam kegiatan

       produksi harus dikendalikan dan dicatat sehingga pada saat kegiatan

       pelaporan, tidak terjadi penafsiran yang memperkirakan biaya-biaya

       yang digunakan dalam proses produksi. Hal ini berhubungan erat

       dengan akuntasi (Abdul Halim 1997 : 17)

             Mulyadi (2000 : 4) mengemukakan bahwa akuntansi adalah

       proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan penyajian dengan

       cara-cara tertentu untuk membentuk laporan keuangan melalui transaksi

       yang terjadi di dalam perusahaan atau organisasi lain serta penafsiran

       terhadap hasilnya.

             Dari definisi yang dikemukakan di atas, dapat dijelaskan bahwa

       obyek kegiatan akuntansi adalah transaksi keuangan yang meliputi

       peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang menyangkut perubahan

       aktiva hutang dan modal yang dinyatakan dalam satuan uang. Selain itu

       kegiatan akuntansi terdiri dari pencatatan, penggolongan, peringkasan
                                                                        9




dan penyajian transaksi keuangan yang terjadi di dalam perusahaan atau

organisasi.

       Sumarsono, (1996 : 5) mengemukakan bahwa akuntansi

merupakan proses yang terdiri dari identifikasi, pengukuran dan

pelaporan informasi ekonomi untuk memungkinkan adanya penilaian

dan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan

informasi tersebut.

       Tujuan utama akuntansi adalah menyajikan informasi ekonomi

dari suatu kesatuan ekonomi kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Untuk menghasilkan informasi ekonomi, perusahaan perlu menciptakan

suatu metode pencatatan, penggolongan, analisa dan pengendalian

transaksi serta kegiatan-kegiatan keuangan.

       Dalam       kamus     bahasa       Indonesia   pengertian   akutansi

dikemukakan     sebagai     teori   dan     praktek   perakunan,   termasuk

tanggung jawab, prinsip, standar, kelaziman (kebiasaan) dari semua

kegiatan. (Hasan Alwi : 2001 : 24)

       Selain itu Matz dan Usry (1998 : 7) mengemukakan bahwa

akuntansi merupakan suatu rangkaian pencatatan yang dilakukan untuk

mengidentifikasi      dan   menggolongkan       transaksi   keuangan   guna

menghasilkan informasi keuangan yang akuntan tentang posisi

keuangan perusahaan.
                                                                      10




         Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa akuntansi merupakan suatu sistem pencatatan,

pengindentifikasian,      penggolongan, pengklasifikasian     biaya-biaya

yang     timbul    dalam transaksi     pada   sebuah   perusahaan   untuk

menghasilkan informasi keuangan yang bermanfaat bagi pengguna.

         Kegiatan pencatatan yang dilakukan berhubungan erat dengan

pengalokasian biaya, sehingga perlu diuraikan juga tentang akuntansi

biaya.

         Menurut Abd. Halim (1998 : 37) akuntansi biaya merupakan

akuntansi yang membicarakan tentang penentuan harga pokok dari

suatu produk yang diproduksikan atau dijual di pasar, baik untuk

memenuhi pesanan dari pemesan ataupun untuk menjadi persediaan

barang dagangan yang akan dijual.

         Dalam operasional perhitungan, seringkali biaya disebut sebagai

harga pokok, namun sebenarnya hal tersebut mempunyai perbedaan dan

persamaan.        Dalam   akuntansi,   biaya-biaya     merupakan    semua

pengeluaran yang sudah terjadi dan telah digunakan dalam memproses

produk yang akan dihasilkan. Seluruh biaya yang terjadi dalam proses

tersebut akan membentuk suatu harga pokok yang bila dibagi dengan

jumlah produk yang dihasilkan atau produk yang dipesan menghasilkan

harga pokok produk per unit. (Abd. Halim,1998 : 37)
                                                                    11




      Dalam arti yang luas, harga pokok dapat berarti sebagai bagian

dari harga perolehan suatu aktiva yang ditunda pembebanannya dimasa

yang akan datang.

      Ciptono, 1992 : 4) mengemukakan bahwa akuntansi biaya

merupakan bidang khusus akuntansi yang mencatat, menghitung,

mengawasi dan melaporkan pada manajemen tentang              biaya dan

produksi. Dengan demikian dalam arti yang sempit akuntansi biaya

adalah prosedur-prosedur yang berhubungan dengan perhitungan biaya

per unit sedangkan akuntasi biaya dalam arti yang luas merupakan

bagian penting dari akuntansi manajemen yang meliputi kalkulasi biaya

dan semua penggunaan akuntansi biaya yang lain sebagai alat untuk

perencanaan, pengawasan dan pengambilan keputusan.

      Akuntansi merupakan tindakan yang dilakukan untuk mencatat

transaksi-transaksi keuangan yang terjadi pada suatu perusahaan dan

dicatat berdasarkan golongan biaya untuk selanjutnya dijadikan

informasi bagi pengguna.

      Dari pengertian yang dikemukakan di atas, maka dapat ditarik

kesimpulan bahwa akuntansi bukan hanya sebagai proses pencatatan,

menghitung, menganalisis dan melaporkan data-data kepada manajemen

tentang masalah biaya produksi atau kalkulasi biaya perunit, akan tetapi
                                                                            12




       juga sebagai dasar perencanaan, pengawasan dalam rangka pengambilan

       keputusan bagi manajer perusahaan.

2.2.   Konsep Biaya

              Perusahaan    dalam    melakukan     aktivitasnya   menggunakan

       sejumlah   biaya    untuk    membiayai    kegiatan   perusahaan   berupa

       pengeluaran. Pengeluaran tersebut merupakan biaya usaha.

              Biaya menurut Abas Kartadinata (1996 : 1) merupakan suatu

       kejadian yang diukur berdasarkan nilai uang yang timbul atau mungkin

       akan timbul untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Selanjutnya

       dikatakan bahwa biaya juga merupakan harga faktor-faktor produksi

       yang digunakan untuk menghasilkan outputnya.

              Usaha produksi yang dilangsungkan dalam suatu pabrik pada

       umumnya terdapat 3 komponen biaya dasar yaitu : (Abas Kartadinata,

       1996 : 4-6).

       a. Biaya bahan langsung

          Biaya bahan langsung merupakan biaya bagi bahan-bahan yang

          secara langsung yang digunakan dalam produksi untuk mewujudkan

          suatu macam produk jadi yang siap untuk dipasarkan atau siap

          diserahkan kepada pemesan.
                                                                   13




b. Biaya tenaga kerja langsung

   Biaya tenaga kerja langsung merupakan biaya      bagi para tenaga

   kerja yang lansung ditempatkan dan didayagunakan dalam

   menangani kegiatan-kegiatan proses produksi, jadi secara integral

   dimasukan dalam kegiatan produksi menangani segala peralatan

   produksi sehingga produksi dapat belangsung dengan baik.

c. Biaya umum (overhead)

   Biaya overhead merupakan baiya-biaya bahan tidak langsung dan

   tenaga kerja tidak langsung yang tersangkut dalam kegiatan produksi

   yang bukan merupakan atau termasuk dalam biaya utama (prime

   cost)

      Helmy Rony (2006 : 27) mengemukakan bahwa biaya adalah

pengorbanan yang dilakukan untuk memperoleh suatu barang ataupun

jasa yang diukur dalam nilai uang, baik itu pengeluaran berupa uang

melalui tukar menukar maupun melalui pemberian jasa. Sedangkan

pengertian ongkos atau expence adalah pengeluaran untuk memperoleh

pendapatan.

      Berdasarkan   pengertian   biaya   menurut   Prinsip    Akuntasi

Indonesia tersebut di atas, dijelaskan bahwa biaya berbeda dengan

ongkos . Pengertian biaya yang dikemukakan oleh PAI tersebut sejalan

dengan pengertian biaya yang dikeluarkan oleh Committe Association
                                                                    14




On Cost Consept and Standard Of The American Accounting

Association, Committe Association On Cost Consept and Standard Of

The American Accounting Association, yang mengemukakan bahwa

biaya adalah pengorbanan yang diukur dengan satuan rupiah yang

dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.

      Sumarsono (1996 : 217) mengemukakan bahwa biaya adalah

pengeluaran yang dianggap akan memberikan manfaat pada waktu yang

akan datang dan karena itu biaya merupakan akibat             yang akan

ditentukan dalam neraca.

      Mulyadi (2000 : 89) mengemukakan bahwa biaya merupakan

pengorbanan sumber-sumber ekonomis yang diukur dengan satuan

rupiah yang telah terjadi atau memungkinkan akan terjadi untuk

mencapai tujuan tertentu.

      Menurut     Sumarsono    (1995:   251)   biaya   pada    dasarnya

diklasifikasi menjadi dua kelas, yaitu biaya pabrikasi dan biaya

komersil. Biaya pabrikasi atau sering disebut biaya produksi yaitu biaya

yang digunakan dalam kegiatan produksi seperti biaya bahan baku

langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead. Yang

dimaksud dengan biaya komersial adalah biaya pemasaran dan biaya

administrasi. Pengklasifikasi biaya dalam hubungannya dengan tiga
                                                                     15




unsur harga pokok produksi dibebankan ke dalam kelompok biaya

produksi dan biaya periode.

      Berdasarkan pengertian di atas maka yang dimaksud dengan

biaya produksi adalah biaya-biaya yang melekat dan membentuk harga

pokok produksi yang dibuat atau dibeli untuk dijual kembali. Sedangkan

biaya periode adalah biaya-biaya yang tidak dapat diidentifikasikan baik

secara langsung maupun tidak langsung kepada produk. Pada

perusahaan manufaktur, semua biaya produksi diperlukan sebagai biaya

produksi, sedangkan biaya non produksi diperlukan sebagai beban

dalam periode bersangkutan.

      Perusahaan dagang yang usaha pokoknya adalah membeli dan

menjual kembali barang dagang tanpa mengubah bentuk asalnya, harga

pokok atau harga perolehan barang dagangan yang dibeli dipandang

sebagai biaya produksi dan biaya periode.

      Pada umumnya pola perilaku biaya diartikan sebagai hubungan

antara total biaya dengan perubahan volume kegiatan. Berdasarkan

perilakunya dalam hubungan dengan perubahan volume kegiatan, baiya

dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu biaya tetap, biaya variabel dan

biaya semi variabel. (Sudarsono, 1994 : 15)

      Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar

perubahan volume kegiatan tertentu. Biaya tetap per satuan      berubah
                                                                   16




dengan adanya perubahan volume kegiatan. Biaya tetap atau biaya

kapasitas merupakan biaya untuk mempertahankan kemampuan

beroperasi perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu.

      Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah

sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya variabel per unit

konstan (tetap) dengan adanya perubahan volume kegiatan.

      Biaya semivariabel adalah biaya yang memiliki unsur tetap dan

varaibel didalamnya. Unsur biaya yang tetap merupakan jumlah biaya

minimum untuk menyediakan jasa sedangkan unsur variabel merupakan

bagian dari biaya semivariabel yang dipengaruhi oleh volume kegiatan.

      Biaya yang tidak bervariasi dalam kaitannya dengan keluaran

disebut biaya tetap. Termasuk didalamnya adalah bunga atau modal

yang dipinjamkan, biaya sewa atas pabrik dan peralatan sewa,

penyusutan yang dikaitan dengan jalannya waktu, pajak bumi dan

bangunan, dan gaji karyawan yang tidak dipecat selama periode

penurunan aktivitas, karena semua biaya adalah variabel dalam jangka

panjang, konsep biaya tetap dibatasi untuk analisis jangka pendek.

Biaya variabel bervariasi dengan perubahan dalam keluaran. Biaya ini

adalah fungsi dari tingkat keluaran. Termasuk di dalamnya adalah

biaya-biaya seperti bahan baku, penyusutan, yang dikaitkan dengan

penggunaan peralatan, bagian variabel dari biaya sarana umum, biaya
                                                                           17




       tenaga kerja tertentu, komisi penjualan, dan biaya semua masukan

       lainnya yang bervariasi dengan keluaran. Dalam jangka panjang semua

       biaya adalah variabel. ( Syarifuddin, 1992 : 42-47)

               Elwood S. Buffa (1998 : 34)       mengemukakan bahwa biaya

       dalam    pemanfaatannya     dapat   dijadikan   biaya   peluang   untuk

       meningkatkan usaha, biaya ini sering disebut sebagai opportunity Cost

2.3.   Pengertian biaya produksi

               Mulyadi (2000 :108) mengemukakan bahwa biaya produksi

       adalah biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan proses

       produksi yang dapat dibagi menjadi :

       a. Biaya bahan baku

       b. Biaya tenaga kerja

       c. Biaya overhead pabrik

               Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja disebut prima cost,

       sedangkan biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik disebut sebagai

       biaya konversi.

               Menurut Abd. Halim (1998 : 72) biaya produksi yaitu biaya-

       biaya yang berhubungan langsung dengan produksi dari suatu produk

       dan akan dipertemukan dengan penghasilan diperiode mana produk itu

       akan dijual.
                                                                      18




        Berdasarkan pendapatan tersebut di atas, ,nampak bahwa biaya

produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan

biaya    overhead   pabrik    tak   langsung     yang   digunakan   untuk

menghasilkan produk dalam suatu periode. Salain itu biaya produksi

dapat diartikan sebagai sebagai biaya yang melekat pada produk

        Budiono (1996 : 117) mengemukakan bahwa biaya tenaga kerja

dibagi menjadi dua bagian yaitu standar biaya dan standar efisiensi. Di

dalam banyak pabrik standar umumnya ditetapkan berdasarkan tarif

yang merupakan hasil perundingan kolektif guna menetapkan upa per

jam per potong dan bonus. Jika tidak ada serikat pekerja, tarif dihitung

berdasarkan tarif pendapatan yang yang ditentukan berdasarkan jam

kerja aktual terhadap tarif upah yang ditetapkan oleh perusahaan.

        Sumarsono (1996 : 85) mengemukakan bahwa biaya produksi

adalah biaya yang dikorbankan di dalam kegiatan produksi untuk

menghasilkan barang dan jasa. Biaya produksi digunakan untuk

membeli bahan baku, tenaga kerja dan overhead pabrik. Biaya ini

digunakan berdasarkan        volume   produksi    yang dilakukan     oleh

perusahaan.

        Munandar (1996 :8) mengemukakan bahwa biaya produksi

merupakan biaya kegiatan atau biaya yang timbul akibat adanya

kegiatan produksi yang dilakukan untuk menghasilkan barang atau jasa.
                                                                  19




      Dari definisi yang dikemukakan tersebut dikatakan bahwa biaya

produksi merupakan perpaduan antara biaya tetap dan biaya variabel

yang disatukan dalam kegiatan produksi guna menghasilkan barang atau

jasa. Sedangkan perhitungan untuk biaya tenaga kerja ditentukan

berdasarkan jam kerja aktual terhadap tarif upah yang ditetapkan oleh

perusahaan.

      Mulyadi (2000 : 31-34) mengemukakan bahwa setiap perusahaan

dalam menghasilkan produknya, memiliki proses produksi tersendiri

yang disesuaikan dengan sifat dan keadaan bahan baku serta produk

yang dihasilkan. Sebelum perusahaan tersebut menetapkan harga pokok

produksinya, sebaliknya perlu dipahami terlebih dahulu pengertian

harga pokok produksi.

      Dalam rangka menjelaskan pemahaman mengenai harga pokok

produksi, maka terlebih dahulu perlu diberikan batasan antara

pengertian harga pokok dengan biaya ekspense. Harga perolehan atau

harga pokok merupakan jumlah yang dapat diukur dengan satuan rupiah

dalam bentuk kas yang dibayarkan atau tambahan modal dalam rangka

pemilikan barang dan jasa yang diperlukan perusahaan, baik pada masa

lalu maupun pada masa yang akan datang. Sedangkan ekspense

merupakan harga peroleh yang dikorbankan atau digunakan dalam
                                                                         20




       memperoleh penghasilan dan akan dipakai sebagai pengurangan

       penghasilan

             Radiks Purba (1996 : 89)Dalam penentuan harga pokok produksi,

       terdapat kegiatan pelaporan dan penyusunan anggaran yang mendukung

       proses yang ditetapkan guna dapat memudahkan perusahaan untuk

       memperoleh keuntungan yang diharapkan. Penentuan harga pokok

       tersebut dilakukan sesuai dengan alokasi anggaran produksi, anggaran

       bahan baku, anggaran tenaga kerja dan anggaran overhead pabrik.

       Adapun elemen-elemen biaya overhead pabrik meliputi biaya bahan

       penolong, biaya reparasi dan pemeliharaan, biaya tenaga kerja tidak

       langsung. Biaya yang timbul akibat berlalunya waktu, dan biaya

       overhead pabrik.

             Biaya produksi yang dikeluarkan setiap perusahaan dapat

       dibedakan dalam biaya eksplisit yaitu biaya perusahaan berupa

       pembayaran dengan uang untuk mendapatkan faktor-faktor produksi

       dan bahan mentah yang dibutuhkan oleh perusahaan. Sedangakn biaya

       tersembunyi adalah biaya yang dikeluarkan atas faktor-faktor produksi

       yang dimiliki oleh perusahaan itu sendiri. (Budiono, 1996 : 74)

2.4.   Penggolongan Biaya

             Setiap perusahaan dalam tahap pengolahan bahan baku

       memerlukan pengorbanan sumber ekonomi yang nantinya akan
                                                                      21




menghasilkan produk. Oleh karena itu untuk memudahkan manajemen

dalam     memenuhi       kebutuhan    perusahaan   maka    perlu   adanya

penggolongan biaya. Untuk lebih memahami tentang pengertian

akuntansi biaya, maka akan diuraikan beberapa klasifikasi biaya

menurut Radiks Purba (1996 : 104) sebagai berikut :

  Bahan Langsung            +   Tenaga Kerja Langsung     = Biaya Utama

   Bahan                Tenaga               Biaya        = BOP
   Tidak         +    kerja Tidak +           Tidak
 Langsung              Langsung             langusng

                                                             =

Biaya Pemasaran         +        Biaya Administrasi       = Biaya Pabrikasi

                                                             +

                                                             Bebas Komersial

                                                             =

                                                             Biaya Operasi
                                                             Total
Skema. 1 Schedule Prime Cost

        Dari schedule prime cost di atas diketahui bahwa proses

pengelompokan biaya dan bahan dapat dimulai dengan mengkaitkan

biaya pada operasi perusahaan. Dalam perusahaan manufaktur. Biaya

operasi total terdiri dari :

1. Biaya Pabrikase terdiri dari bahan langsung, tenaga kerja langsung

   dan overhead pabrik. Dimana bahan langsung dan tenaga kerja
                                                               22




langsung dapat digabungkan kedalam tenaga kerja langsung dan

overhead pabrik dapat digabungkan ke dalam kelompok biaya

konvensi yang mencerminkan biaya pengubahan bahan langsung

menjadi barang jadi.

a. Bahan langsung adalah semua bahan yang membentuk bagian

   integral dari barang jadi dan yang dapat dimaksudkan langsung

   dalam kalkulasi biaya produk.

b. Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang dikerahkan

   untuk mengubah bahan langsung menjadi barang jadi.

c. Overhead adalah biaya dari bahan tidak langsung. Tenaga kerja

   tidak langsung dan semua biaya pabrik kase lainnya yang tidak

   dapat dibebankan langsung pada produk tertentu.

d. Bahan tidak langsung adalah bahan-bahan yang dibutuhkan guna

   menyelesaikan suatu produk. Tetapi pemakaiannya sedemikian

   kecil atau sedikit rumit sehingga tidak dapat dianggap sebagai

   bahan langsung.

e. Tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang dikerahkan

   secara langsung mempengaruhi pembuatan barang jadi.

f. Biaya tidak langsung lainnya adalah biaya yang dikeluarkan pada

   departemen yang secara tidak langsung mendukung proses
                                                                    23




      produksi dan proses distribusi seperti biaya pemelihaaan,

      asuransi dan pajak.

2. Beban komersil, terdiri dari : (1) beban pemasaran dimulai pada saat

   biaya pabrik berakhir yaitu pada saat poses pabrikse diselesaikan dan

   barang sudah dalam kondisi siap untuk dijual, (2) beban administrasi

   meliputi beban yang dikeluarkan dalam mengatur mengendalikan

   organisasi.

      Kemudian Radiks Purba (1996 : 112) mendefenisikan harga

pokok sebagai biaya produksi selesai yaitu biaya pemakaian material,

uah langsung dan biaya overhead pabrik dibebankan kepada akun

produk dalam proses dan keseluruhan menjadi biaya produksi yang

selesai diproduksi selama suatu periode.

      Dari pengertian harga pokok diatas dapat disimpulkan bahwa

harga pokok adalah keseluruhan biaya yang melekat pada produk yang

terdiri dari biaya langsung, upah langsung dan biaya overhead pabrik

yang dikorbankan selama satu periode untuk memperoleh suatu aktiva.

      Tujuan akhir akuntansi biaya adalah menyediakan informasi

tentang biaya untuk manajemen guna membantu mereka di dalam

mengelola   perusahaan      atau   departemennya.   Manajemen    dalam

mengelola perusahaan memerlukan data biaya yang akurat. Biaya yang
                                                                    24




akurat memungkinkan dapat ditentukannya harga pokok produk secara

teliti dan tepat.

       Elemen-elemen biaya yang termuat dalam perhitungan harga

pokok terdiri dari :

a. Biaya produksi dan biaya non produksi

b. Elemen-elemen biaya produksi

c. Biaya pesanan dan proses

d. Biaya total dan biaya per unit

Dari setiap metode penggolongan biaya tersebut, tidak setiap metode

diperlukan     oleh    perusahaan,   karena   manajemen   tidak   dapat

menghindarkan diri dari kebutuhan untuk mengklasifikasi biaya-biaya

yang terjadi dari salah satu atau lebih metode sesuai dengan kategori

obyek biaya tersebut di atas.

       Untuk lebih spesifik lagi penggolongan suatu biaya adalah

sebagai berikut :( Munandar, 1996 : 56-58)

a. Unsur produk (bahan baku, upah tenaga kerja langsung dan

   overhead pabrik)

b. Kaitannya dengan produksi (biaya utama dan biaya konversi)

c. Kaitannya dengan volume ( biaya variabel, biaya tetap dan biaya

   semi variabel).
                                                                        25




       d. Departemen yang dibebani (Departeneb produksi dan departemen

          jasa)

       e. Bidang fungsi (biaya pabrik, baiya pemasaran, biaya administrasi

          biaya keuangan dan analisis menurut fungsi).

       f. Periode pembebanan (biaya produksi dan biaya periode)

       g. Pertimbangan-pertimbangan ekonomi.

2.5.   Pencatatan Biaya

             Kegiatan pencatatan biaya merupakan suatu bentuk kegiatan

       yang dilakukan oleh akuntan dalam perusahaan guna mengetahui

       pengalikasian biaya dalam kegiatan usaha perusahaan dengan demikian

       biaya-biaya dicatat menurut pos-pos transaksi, sehingga memberikan

       kemudahan bagi perusahaan untuk mengetahui penggunaan biaya-biaya

       dalam kegiatan usaha. Mulyadi (2000 : 53)

             Pencatatan biaya-biaya dapat dilakukan dalam bentuk jurnal

       sebagai berikut

       a. Pencatatat bahan baku
          Jurnal

           Deplesi                  Rp. 100.000
                     Akumulasi Deplesi              Rp.100.000



           Barang dalam proses Deplesi      Rp. 100.000
                   Akumulasi                               Rp.100.000
                                                                            26




b. Pencatatan biaya tenaga kerja langsung
   Jurnal

    Gaji tenaga kerja        Rp. 100.000
             Gaji dan upah                   Rp.100.000



    Upah Cetak               Rp. 100.000
           Gaji dan upah                     Rp.100.000



c. Pencatatan biaya overhead pabrik
   Jurnal
     Barang dalam proses BOP         Rp. 100.000
            BOP yang dibebankan              Rp.100.000



    Biaya BOP yang dibebankan      Rp. 100.000
            Biaya BOP Sesungguhnya                    Rp.100.000

d. Pencatatan harga pokok dalam proses

   Jurnal
    Persediaan barang dalam proses                     Rp. 100.000
            Barang dalam proses biaya bahan baku               Rp. 50.000
            Barang dalam proses biaya tenaga kerja             Rp. 35.000
            Barang dalam proses biaya over head pabrik         Rp. 15.000




e. Pencatatan biaya harga pokok produk jadi

   Jurnal
    Persediaan Produk Jadi                             Rp. 100.000
            Barang dalam proses biaya bahan baku               Rp. 50.000
            Barang dalam proses biaya tenaga kerja             Rp. 35.000
            Barang dalam proses biaya over head pabrik         Rp. 15.000
                                                                            27




       f. Pencatatan harga pokok produk yang dijual

          Jurnal
           Harga pokok penjualan   Rp. 100.000
                   Persediaan produk jadi        Rp.100.000



       g. Pencatatan pendapatan penjualan produk

          Jurnal
           Piutang dagang          Rp. 100.000
                   Hasil penjualan         Rp.100.000



               Dari jurnal yang dikemukakan tersebut, dapat disimpulkan

       bahwa pencatatan biaya-biaya memiliki tujuan untuk memudahkan

       perusahaan dalam penentuan harga pokok produksi, sehingga demikian

       perusahaan dapat mengefisiensikan penggunaan biaya dalam kegiatan

       usahanya ( Mulyadi 2000 : 55).

2.6.   Metode Penetapan Harga Pokok Produksi

               Metode penetapan harga pokok produksi dapat dilakukan dengan

       dua cara yaitu dengan perhitungan sebelumnya dan perhitungan

       sesudahnya. Perhitungan sebelumnya dilakukan untuk menentukan

       harga    pokok produksi sebelum selesai          dikerjakan.   Sedangkan

       perhitungan sesudahnya yaitu menentukan harga pokok produk setelah

       barang (produk) tersebut selesai dikerjakan dalam proses produksi

       (Munandar, 1996 : 74)
                                                                     28




      Dalam penentuan harga pokok produksi terdapat dua alternatif

metode yaitu (Abd Halim, 1998 : 47)

a. Metode harga pokok tradisional

   Dalam    akuntansi   biaya   tradisional   seluruh   biaya   produksi

   dimasukkan pada harga pokok suatu suatu produk untuk tujuan

   perhitungan harga pokok persediaan dan seluruh biaya-biaya

   produksi yang dikeluarkan.

b. Metode harga pokok langsung

   Metode alternatif penentuan harga pokok yang disebut metode harga

   pokok langsung adalah metode yang hanya harga pokok pabrik

   variable saja yang dibebankan pada produk yang diproduksi.

      Dari kedua alternatif di atas dapat diketahui bahwa metode full

costing   dari biaya tetap maupun biaya variable dibebankan kepada

produk yang diproduksi atas dasar tarif yang ditentukan sebelumnya.

Sedangkan di dalam metode variable costing harga pokok produksi

ditentukan berdasarkan biaya produksi yang bersifat variabel. Namun

pada dasarnya kedua metode ini hanya membedakan atas perlakuan

biaya overhead pabrik. (Abd. Halim, 1998 : 52)

      Dengan demikian metode Full Costing adalah penentuan harga

pokok produksi yang membebankan seluruh biaya produksi baik yang

bersifat tetap maupun variabel kepada produk (Mulyadi, 2000 : 86)
                                                                   29




       Dijelaskan juga bahwa biaya-biaya yang digunakan dalam

perhitungan atau penetapan harga pokok produksi menurut metode full

costing adalah sebagai berikut :

Biaya bahan baku                   Rp. xxx
Biaya tenaga kerja langsung        Rp. xxx
Biaya overhead pabrik tetap        Rp. xxx
Biaya overhead pabrik variabel     Rp. xxx
Harga Pokok Produksi               Rp. xxx


       Dalam metode full costing biaya overhead pabrik yang bersifat

tetap maupun yang bersifat variabel dibebankan kepada produksi yang

dihasilkan atas dasar tarif yang ditentukan dimuka pada kapasitas

normal atau atas dasar biaya overhead pabrik tetap akan melekat pada

harga pokok persediaan produk jadi yang belum laku dijual dianggap

sebagai biaya, apabila   produk jadi tersebut telah terjual (Mulyadi,

2000 : 18).

       Metode full costing menunda pembebanan biaya overhead pabik

tetap sebagai biaya sampai saat produk terjual, sehingga biaya overhead

pabrik yang masih dianggap sebagai aktiva oleh karena masih menjadi

persediaan barang dan belum terjual.

       Penetapan harga pokok dengan metode full costing akan

menghasilkan nilai harga pokok yang besar. Ini disebabkan oleh

perlakuan metode tersebut, dimana semua biaya produksi tetap maupun
                                                                          30




       variabel turut diperhitungkan sebagai bagian dari harga pokok produk.

       Sebagai akibatnya adalah harga jual produk yang dihasilkan menjadi

       besar karena sekalipun biaya bukan unsur yang yang menentukan atas

       harga jual, tetapi tidaklah mungkin untuk menjual suatu produk dibawah

       harga pokok produksinya.

             Selain itu dengan menentukan harga pokok atas metode full

       costing perusahaan kurang mampu mengambil keputusan yang tepat

       dalam hubungannya dengan harga jual produk. Dalam masalah

       penentuan harga jual yang harus diperoleh untuk tidak menderita

       kerugian, masalah adanya pesanan-pesanan khusus dibawah harga pasar

       dan sebagainya, tidak selamanya kebijaksanaan dengan mendasar pada

       informasi full costing bermanfaat. Manajemen seringkali ingin

       mengetahui jumlah biaya produksi variabel ke dalam harga pokok

       produk disebut metode variabel costing. (Mulyadi, 2000 : 20)

2.7.   Kerangka Pikir

             Usaha meubel merupakan salah satu usaha Naga Geni yang

       dibentuk dengan nama usaha Meubel Naga Geni, melakukan kegiatan

       produksi meubel untuk memenuhi permintaan konsumen. Penggunaan

       biaya di dalam usaha ini dicatat dan digolongan dalam klasifikasi biaya

       untuk melakukan penetapan harga pokok produksi yang ditentukan

       berdasarkan penggunaan bahan baku, tenaga kerja dan overhead pabrik.
                                                                 31




      Untuk mengaplikasikan penetapan harga pokok produksi meubel

digunakan analisis deskriptif guna menjelaskan variabel-variabel yang

digunakan dalam aplikasi penetapan harga pokok produksi meubel

gembol.

      Dengan demikian menghasilkan suatu rekomendasi untuk

memudahkan penentuan harga pokok produksi meubel pada usaha Naga

Geni guna meningkatkan pendapatan usaha dimasa yang akan datang.
                                                32




                  Skema 1

             Kerangka Pikir

     PENETAPAN HARGA POKOK
            PRODUKSI



   KLASIFIKASI BIAYA PRODUKSI
    - Biaya Bahan Baku
    - Biaya Tenaga Kerja
    - Biaya Overhead




     HARGA POKOK PRODUKSI




           ALAT ANALISIS
           Analisis Deskriptif



Sesuai Standari                Tidak Sesuai
  Akuntansi                 Standar Akuntansi




 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
                                                                            33




                                           BAB III

                              METODE PENELITIAN



3.1.   Obyek Penelitian

             Penelitian tentang penetapan harga pokok produksi meubel

       gembol dilakukan pada Usaha Naga Geni sebagai perusahaan yang

       memproduksi meubel di Kota Kendari

3.2.   Jenis dan Sumber Data

       3.2.1. Jenis Data

             1. Data Primer

                      Data primer dalam penelitian ini merupakan data yang

                 diperoleh langsung dari obyek penelitian yang meliputi :

                 a.       Data Kuantitatif yaitu data dalam bentuk angka-angka

                          terdiri dari :

                      -    Volume produksi

                      -    Harga jual meja gembol

                      -    Harga beli bahan baku dan bahan penolong

                 a. Data kualitatif yaitu penjelasan-penjelasan tentang data-

                      data yang dibutuhkan dalam penelitian seperti :

                      -    Penjelasan proses produksi meja gembol

                      -    Penjelasan penjualan meja gembol
                                                                           34




                    -    Penggunaan bahan baku dan bahan penolong

                    -    Gambaran umum perusahaan

3.3.   Teknik Pengumpulan Data

       Data   yang digunakan      dalam penelitian     ini dikumpul dengan

       menggunakan metode :

       a. Wawancara yaitu mengadakan tanya jawab dengan pimpinan

          perusahaa dan karyawan usaha Meubel Naga Geni tentang hal-hal

          yang berhubungan dengan penelitian ini.

       b. Dokumentasi yaitu mengadakan penelitian terhadap data-data yang

          telah didokumentasikan olen perusahaan.

3.4.   Metode Analisis

              Untuk menjawab rumusan masalah yang dikemukakan dalam

       penelitian ini, maka digunakan metode deskriptif yakni untuk

       menghitung dan menjelaskan harga pokok produksi meubel dengan

       menggunakan metode harga pokok.

3.5.   Definisi Variabel Operasional

              Untuk memberikan penjelaskan tentang variabel yang diteliti,

       maka terlebih dahulu diberikan batasan variabel sebagai berikut :

       a. Harga pokok produksi adalah harga dasar yang diperoleh sebagai

          pengorbanan dalam produksi meubel gembol dalam rangka

          memperoleh keuntungan, diukur dengan satuan rupiah.
                                                               35




b. Biaya bahan baku adalah biaya yang digunakan untuk membeli

   bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi meubel

   gembol diukur dengan satuan rupiah.

c. Biaya tenaga kerja adalah biaya yang digunakan untuk membiayai

   tenaga kerja yang dipakai dalam proses produksi meubel gembol,

   diukur dengan satuan rupiah.

d. Biaya overhead pabrik adalah biaya operasional yang digunakan

   oleh perusahaan untuk melakukan kegiatan usaha/proses produksi,

   diukur dengan satuan rupiah.
                                                                           36




                                   BAB IV

               HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1.   Gambaran Umum Perusahaan

       4.1.1 Sejarah Singkat

             Perusahaan Naga Geni Kendari adalah salah satu perusahaan

       yang bergerak di bidang produksi         yang ada di Kota Kendari.

       Perusahaan ini berstatus usaha dagang dimana pemilik bertindak

       sekaligus sebagai pimpinan perusahaan.

             Usaha Naga Geni Kendari ini didirikan pada tahun 1996 awal

       berdirinya perusahaan ini, telah mempekerjakan sebanyak 4 orang

       tenaga kerja yang terdiri dari : tenaga bagian keuangan dan administrasi

       sebanyak 1 orang, bagian pemasaran sebanyak 1 orang serta bagian

       produksi sebanyak 2 orang. Hingga tahun 2006 ini tercatat Usaha Naga

       Geni Kendari telah mempunyai tenaga kerja sebanyak 6 orang.

             Sistem produksi perusahaan adalah sistem produksi continue

       (terus menerus) dengan produk utama yang dihasilkan yaitu meja, kursi,

       lemari, tempat tidur dan produk meubel lainnya yang pesan dari

       konsumen.
                                                                  37




4.1.2 Manajemen dan Organisasi

       Berdasarkan skala usaha dan status kepemilikan perusahaan,

maka kegiatan utama perusahaan dibagi atas 3 fungsi utama, masing-

masing :

1. Bagian administrasi dan keuangan.

2. Bagian produksi

3. Bagian pemasaran

       Sedangkan untuk perekrutan tenaga kerja masih ditangani secara

langsung oleh pimpinan perusahaan sebagai penanggung jawab

produksi dan kegiatan usaha pemasaran meubel..

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema struktur organisasi

berikut :

                              Skema 2

                Struktur Organisasi Usaha Naga Geni

                                Bagian Administrasi
                                  dan Keuangan



     Pimpinan                     Bagian Produksi




                                 Bagian Pemasaran
                                                                      38




         Berdasarkan skema struktur organisasi di atas menunjukkan

  bahwa ketiga bagian tersebut masing-masing bertanggung jawab kepada

  piminan. Setiap bagian tersebut selalu mengadakan koordinasi dengan

  bagian lainnya guna mencapai tujuan perusahaan. Adapun tugas dan

  tanggung jawab setiap bagian dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Pimpinan

   Bertugas untuk menentukan strategi, kebijaksanaan perusahaan dan

   menumbuhkan       rasa   memiliki/motivasi   pada   setiap   karyawan.

   Disamping itu pemimpin perusahaan menentukan arah dan kendali

   manajemen dan segala sesuatu yang menyangkut pelaksanaan tugasnya.

2. Bagian Administrasi dan Keuangan

   Bertugas melaksanakan fungsi administrasi mulai dari pengarsipan

   dokumen sampai pembuatan laporan keuangan untuk setiap jangka

   waktu tertentu. bagian ini juga melakukan pencataan terhadap transaksi

   yang terjadi bagi tunai maupun kredit.

3. Bagian Produksi

   Bagian ini bertanggung jawab terhadap kelancaran proses produksi,

   mengawasi operasional produksi sampai barang siap untuk dipasarkan.

   Disamping itu bagian produksi bersama-sama bagian yang lain

   melakukan perencanaan produksi untuk setiap jangka waktu tertentu
                                                                     39




  serta melakukan penganggaran atas pembelian bahan baku yang

  dibutuhkan dalam proses produksi.

4. Bagian Pemasaran

        Bagian ini bertugas memasarkan hasil produksi. Bagian

  pemasaran bertanggung jawab dalam pencapaian target penjualan dan

  mengambil      langkah-langkah     yang    diperlukan   jika   terdapat

  ketidaksesuaian antara target penjualan dengan pencapaian hasil.

        Berdasarkan skema di atas nampak bahwa Usaha Naga Geni

  Kendari menggunakan sistem organisasi garis. Hal ini efektif dilakukan

  jika adanya kesatuan komando bagi karyawan sekaligus mempercepat

  pengambilan keputusan bagi pimpinan perusahaan.

  4.1.3 Aspek Produksi

        Produksi dapat diartikan sebagai cara/teknik, memproses input

  menjadi output yang diinginkan atau suatu metode menciptakan atau

  menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan

  sumber-sumber seperti : tenaga kerja, mesin-mesin, bahan-bahan dan

  dana yang tersedia.

        Telah diketahui bahwa metode, cara dan teknik dalam

  menghasilkan satu produksi cukup banyak, seperti halnya proses

  produksi yang ada pada Usaha Naga Geni Kendari adalah proses

  produksi yang terus-terus (continues process).
                                                                       40




      Dalam       penelitian   ini,   penetapan   harga   pokok   produksi

difokuskan pada produk meubel meja ½ biro, hal ini dilakukan karena

pada usaha Naga Geni produk ini yang dominan diproduksi dari produk

lainnya. Ukuran meja ½ biro tersebut adalah ukuran dengan panjang

110 cm tinggi 74 cm dan lebar 62 cm.

      Berdasarkan hasil penelitian, dipoeroleh bahwa meja ½ biro

dibuat dengan tapanan kerja yang disusun sesuai pola kerja yang

diterapkan oleh pemilik Usaha Naga Geni Kendari, hal ini dapat dilihat

pada uraian berikut, namun sebelumnya akan dikemukakan tentang

bahan baku dan bahan penolong yang digunakan yaitu :

1. Kebutuhan bahan baku dan bahan penolong

   Untuk menghasilkan produk tersebut dibutuhkan bahan baku dan

   bahan penolong sebagai berikut :

   a. Bahan baku

      Adapun bahan baku utama yang digunakan dalam memproduksi

      tersebut adalah kayu jati.

   b. Bahan penolong meliputi :

       -   Paku

       -   Cat dan minyak cat

       -   Plitur dan minyak plitur

       -   Lem
                                                                    41




      -   Dempul

2. Kebutuhan sumber daya yang dibutuhkan untuk menggerakkan

   proses produksi adalah sebagai berikut :

   - Gergaji (manual dan mesin)

   - Ketam (manual dan mesin)

   - Bor (manual dan mesin)

   - Pahat (manual dan mesin)

   - Martil

   - Mesin profil (manual dan mesin)

3. Proses Produksi

   Proses produksi terdiri atas beberapa tahap yakni sebagai berkut :

   1) Tahap pertama yaitu pembersihan kayu jati (balok dan papan)

      dengan menggunakan mesin ketam.

   2) Tahap kedua pemotongan kayu balok 2 x 5 x 7 dan papan 2 x 6 x

      15 sesuasi kebutuhan produksi.

   3) Tahap ketiga yaitu menetapkan ukuran kayu untuk meja yang

      akan dikerjakan (meja ½ biro) menurut panjang, lebar dan tinggi

      meka.

   4) Tahap keempat yaitu pemotongan kayu (balok dan papan)

      berdasarkan ukuran meja yang telah ditetapkan.
                                                                42




   5) Tahap kelima yaitu pembersihan dengan menggunakan ketam

       untuk mendapat ukuran yang tepat (pembersihan, meluruskan

       serat kayu yang masih melengkung)

   6) Tahap keenam yaitu pemasangan kayu (balok dan papan)

       membentuk meja ½ biro.

   7) Tahap ketujuh yaitu membentuk sudut-sudut papan dengan

       menggunakan mesin profil.

   8) Tahap kedelapan yaitu memberikan dempul pada setiap bekas

       paku atau lubang yang ada pada papan

   9) Tahap kesembilan yaitu menggosok dengan menggunakan kertas

       amplas untuk mendapatkan permukaan papan yang licin dan rata

   10) Tahap kesepuluh yaitu pembersihan dan pengecatan dengan

       menggunakan cat pernis untuk memberikan warna kilap dengan

       pantulan cahaya khas dari kayu.

   11) Tahap kesebelas yaitu pengeringan dan disusun untuk siap

       dijual.

      Tahapan kerja yang dikemukakan tersebut dilakukan untuk

memudahkan para pekerja dalam membuat meja ½ biro. Tahapan ini

dapat gambarkan pada skema berikut :
                                                                                 43

                                  Skema 3

                 Proses Produksi Usaha Naga Geni Kendari

                                  Pembersihan awal terhadap kayu yang akan
Pembersihan Kayu                 digunakan dalam proses produksi meja ½ biro



                               Pemotongan kayu untuk mencari bagian kayu yang
  Pemotongan
                                  lurus untuk digunakan sebagai bahan meja


Penetapan ukuran                 Menetapkan ukuran meja pada kayu yang telah
                                                 dipotong


Pemotongan sesuai               Pemotongan dengan menggunakan gergaji untuk
     ukuran                                 ukuran meja ½ biro

                                Pembersihan ulang dengan menggunakan mesin
  Pembersihan                         ketam kayu yang telah dipotong



                                  Memasangan kayu yang telah disediakan
  Pemasangan                    membentuk meja ½ dengan menggunakan paku



                               Membuat profil pada setiap sudut papan meja agar
     Profil                                 bulat dan tidak tajam



   Pendempulan                 Menutup bekas paku atau lubang yang ada di papan
                                                    meja


                                Menggosok dengan menggunakan kertas amplas
     Amplas
                               sehingga permukaan kayu menjadi licin dan halus.


                                Menutupi pori-pori kayu agar tidak mudah rusak
   Pengecatan
                                      dengan menggunakan cat pernis



   Pengeringan                     Mengeringkan cat pada meja dengan menj
                                                                          44




              Kegiatan produksi meubel untuk meja ½ biro dalam tahun 2006

      perusahaan menghasilkan produk meja ½ biro sebanyak 768 unit. Hasil

      produksi ini menunjukkan kemampuan usaha Naga Geni dalam

      menghasilkan produk meja ½ biro. Apapun hasil produksi, pemakaian

      kayu jati dan jumlah produksi dapat disajikan pada tabel berikut.

      Tabel 4.1 Hasil Produksi Pemakaian Kayu Jati dan Jumlah produksi
                pada Usaha Naga Geni Tahun 2006

                    Hasil Produksi      Pemakaian Kayu      Jumlah Produkis
      Tahun
                         (Rp)               Jati (M3)           (Unit)
      2006           396.000.000         Papan = 49,306          660
                                         Balok = 2,333

              Berdasarkan data pada tabel 4.1 di atas, dapat dijelaskan bahwa

      hasil penjualan meja ½ biro dalm tahun 2006 diperoleh sebesar

      Rp.396.000.000 yang diperoleh dari 660 unit meja ½ biro yang terjual.

      Kayu jati yang digunakan untuk menghasilkan meja ½ biro terdiri dari

      49.306 m3 papan dan 2,333 m3 balok. Hasil penjualan tersebut

      menunjukkan bahwa usaha Naga Geni mampu memperoleh laba dalam

      kegiatan usaha meubelnya.

4.2   Penentuan Harga Pokok Menurut Perusahaan

              Usaha Naga Geni mempunyai metode pencatatan harga pokok

      yang tersendiri dan digunakan untuk menetapkan harga pokok produk

      meja ½ biro secara tradisional. Hasil penelitian diperoleh bahwa usaha

      Naga Geni Kendari menggunakan cara-cara yang sederhana untuk
                                                                                        45




      menentukkan besarnya harga pokok produksi dari meubel yang mereka

      hasilkan. Penetapan         harga pokok produksi meja ½ biro satu unit

      perusahaan menentukan harga pokok produksi dengan rincian sebagai

      berikut :

      Perhitungan biaya produksi per satuan dalam bulan Januari 2006

                            Jumlah Produksi Yang Dihasilkan (Unit            Biaya            Biaya
                                         Ekuivalen)                         Produksi         Produksi
                                                                              (Rp)           (Rp/kg)
     Jenis Biaya                               (1)                             (2)             (2:1)


Biaya Bahan Baku                10.000 m + 100% x 4.000 m= 14.000           1.200.000

Biaya Bahan Penolong            10.000 m + 100% x 4.00 m =14.000            2.315.000

Biaya Tenaga Kerja              10.000 m + 40% x 4.000 m =11.600            2.400.000

Biaya Overhead Pabrik           10.000 m + 40% x 4.000 m =11.600            3.750.000




      Tabel 4.2 Perhitungan Harga Pokok Produksi per satuan dalam Januari
                2006

                                                              Harga          Jumlah
                                                 Volume
       No.        Jenis Biaya        Satuan                   Satuan          Harga
                                                               (Rp)           (Rp)
        I    Bahan Penolong
        1.   Tenaga kerja            Orang           4,000         10.000      40.000
        2.   Cat                      Klg            0,200         15.000       3.000
        3.   Dempul                    Kg            0,200          8.500       1.700
                                                                   46




 4.    Plitur             Klg        0,300        12.000       3.600
 5.    Paku                Kg        0,700          7.500      5.250
 6.    Lem                 Btl       0,200          6.000      1.200
 7.    Kertas Amplas      Lbr        0,300          3.000       900
                         Jumlah                              55.650
  II   Bahan Baku
       Kayu jati
 1.    Papan              m3         0,064     1.100.000     70.620
 2.    Balok              m3         0,003       950.000       2.850
                         Jumlah                              73.470
     Jumlah Harga Pokok Produksi Untuk 1 Unit Meja          133.120
     ½ biro
Sumber : Data primer diolah

       Berdasarkan data pada tabel 4.2, dapat dijelaskan bahwa harga

pokok produksi untuk satu unit meja ½ biro ditetapkan sebesar

Rp.133.120. Harga pokok produksi bahan penolong sebesar Rp.55.650,

sedangkan bahan baku (kayu jati) sebesar Rp.73.470, Dengan demikian

besarnya harga pokok produks yang ditetapkan oleh Perusahaan Naga

Geni adalah sebesar Rp.133.120. Harga pokok produksi tersebut masih

ditambahkan dengan biaya listrik, air dan telepon serta biaya tenaga

kerja tidak langsung per unit meja ½ biro yang dihasilkan.Sedangkan

untuk menetapkan harga pokok penjualan, perusahaan menambahkan

biaya listrik, air dan telepon serta biaya tenaga kerja tidak langsung,
                                                                   47




biaya administrasi dan biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh

perusahaan.

       Berdasarkan perhitungan yang disajikan sebelumnya dapat

dijelaskan bahwa penetapan harga pokok per unit belum sesuai dengan

standar akuntansi yang berlaku. Selain itu penetapan harga pokok

produksi untuk satu unit meja ½ biro masih menggunkan cara

tradisional yang disajikan sebagai berikut :




                                USAHA NAGA GENI
                          Perhitungan Harga Pokok Produksi
                                     Meja ½ Biro
                                    (dalam 1 unit)

 Biaya tenaga kerja langsung        4 orang x Rp.10.000   Rp.   40.000
 Biaya Overhead Pabrik
    Tenaga kerja tidak langsung     1 orang x Rp.10.000   Rp.   10.000
    Kayu jati (papan dan balok)                           Rp.   72.595
    Cat                                                   Rp.   30.000
    Dempul                                                Rp.   17.000
    Plitur                                                Rp.   36.000
    Lem                                                   Rp.   12.000
                                                                             48




          Paku                                               Rp.        52.500
          Deplesi 1 unit x Rp.7.403                          Rp.         7.403
          Depresiasi Peralatan                               Rp.        98.215
          Pemeliharaan gedung                                Rp.        35.500
          Total biaya overhead                               Rp.       371.213
       Harga Pokok Produksi                                  Rp.       401.213

             Cara perhitungan harga pokok produksi untuk satu unit meja ½

      biro tersebut didasarkan atas pengalaman dan cara-cara tradisional yang

      selama ini digunakan hingga pada perhitungan pendapatan usaha yang

      disajikan sebagai berikut

       Harga jual 1 unit x Rp. 600.000,               Rp.          600.000

       Biaya produksi 1 unit x 401.213                Rp.          401.213

       Laba Usaha                                     Rp.          198.787




4.3   Perhitungan Harga Pokok Menurut Standar Akuntansi

      4.3.1. Perhitungan Deplesi

             Perhitungan Deplesi dilakukan secara kotinyu terutama dalam

      proses produksi meubel pada Usaha Naga Geni selama tahun 2006

      dapat dilihat sebagai berikut :

      1. Deplesi Tahun 2006
                                      Cost – Salvage Value
         Deplesi tahun 2006       =          Out Put
                                                                      49




                                  Rp.113.160.730 – 28.290.182
Deplesi kayu jati tahun 2006 =
                                           660 unit


                                 Rp.84.780.547
   Deplesi tahun 2006     =        660 Unit

Deplesi kayu jati tahun 2006 perkubik = Rp. 128.455

Jadi biaya deplesi untuk 1 kali produksi 10 unit meja ½ biro :

Papan = 0,064 kubik x Rp. 128.455 x 10 Unit            = Rp.82.211

Balok = 0,003 kubik x Rp.128.455 x 10 unit             = Rp. 3.854

Jumlah biaya deplesi per unit                          = Rp. 86.065

        Hal ini berarti bahwa dalam l kali produksi sebanyak 10 unit

meja ½ biro terdapat biaya deplesi sebesar Rp. 86.065,-. sehingga dalam

660 unit meja ½ biro mengandung biaya deplesi sebesar Rp.56.802.900
                       86.065
Deplesi perunit =        10        = Rp. 8.606,-

        Dalam tahun 2006 dihasilkan meja ½ biro sejumlah 660 unit.

Maka beban deplesi untuk produksi adalah beban deplesi tahun 2006.

Beban deplesi = 660 x 8.606 = Rp. 5.679.960

        Pada perhitungan harga pokok, perusahaan tidak menghitung

nilai deplesi, sedangkan berdasarkan standar akuntansi nilai deplesi

yang dihasilkan sebesar Rp.5.679.960 dalam proses produksi meja ½

biro.

4.3.2. Metode Pencatatan
                                                                50




       Perhitungan harga pokok secara tradisional tidak menggunakan

metode pencatatan untuk mencatat transaksi biaya selama proses

produksi, sedangkan perhitungan harga pokok yang dilakukan

berdasarkan standar akuntansi, digunakan metode pencatatan yang

disajikan sebagai berikut :

a. Pencatatan Biaya Deplesi Kayu jati

          Dalam melakukan pencatatan biaya kayu jati maka perlakuan

   untuk mencatat biaya dilakukan sama dengan pencatatan deplesi

   kayu jati :

   Adapun pencatatan Deplesi kayu jati sebagai berikut

     Deplesi                      Rp. 8.606
         Akumulasi Deplesi                Rp.   8.606



b. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja

          Tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi 1 unit

   meja ½ biro sebanyak 4 orang. Biaya yang digunakan tenaga kerja

   sebesar Rp. 40.000,-.

       Upah karyawan 1 orang @ Rp. 10.000,- = Rp. 10.000,- hal ini

dicatat dengan jurnal sebagai berikut :

Jurnal upah karyawan pada kas :

     Upah karyawan                Rp. 10.000
                                                                51




         Kas                               Rp.      10.000

Jurnal upah tenaga kerja pada ongkos gergaji

    Upah gergaji                 Rp. 5.000
        Kas                              Rp.        5.000

Jurnal upah tenaga kerja pada ongkos ketam

    Upah ketam                   Rp. 5.000
        Kas                              Rp.        5.000

Jurnal upah tenaga kerja pada ongkos pemasangan (2 orang)

    Upah pemasangan              Rp. 10.000
        Kas                              Rp.        10.000

Jurnal upah tenaga kerja pada pekerjaan finishing

    Upah kerja                   Rp. 40.000
        Kas                              Rp.        40.000

Jurnal gaji dan upah pada ongkos gergaji, ketam, pemasangan dan

finishing Rp. 40.000.

Jurnal upah tenaga kerja pada barang dalam proses

    Barang dalam proses              Rp. 40.000
            Upah gergaji                     Rp.       5.000
            Upah ketam                       Rp.       5.000
            Upam pemasangan                  Rp.       10.000
            Upah finishing                   Rp.       10.000


c. Pencatatan Biaya Bahan Penolong
                                                                      52




      Dalam proses produksi 1 unit meje 1/2biro bahan penolong terdiri

      dari :

        Biaya cat       0,200   Klg      15.000    Rp.       3.000
        Dempul          0,200   Kg        8.500    Rp.       1.700
        Plitur          0,300   Klg      12.000    Rp.       3.600
        Lem             0,200   Btl       6.000    Rp.       1.200
        Paku            0,700   Kg        7.500    Rp.       5.250
        Jumlah                                     Rp.      14.750

           Dengan demikian jurnal untuk biaya bahan penolong dapat

   ditulis sebagai berikut :

        Biaya bahan penolong           Rp. 14.750
                Cat                            Rp.       3.000
                Dempul                         Rp.       1.700
                Plitur                         Rp.       3.600
                Lem                            Rp.       1.200
                Paku                           Rp.       5.250

           Besarnya biaya bahan penolong yang digunakan dalam proses

   produksi adalah Rp. 14.750

  Jurnal

        Biaya overhead pabrik      Rp. 14.750
            Bahan penolong                 Rp.     14.750

d. Pencatatan Biaya Overhead

           Pencatatan biaya overhead pabrik yang dibebankan dilakukan

  pada biaya tenaga dibebankan pada biaya tenaga kerja sebagai berikut :

  Jurnal
                                                                53




    Biaya tenaga kerja tidak langsung   Rp. 10.000
        Kas                                     Rp.    10.000

Jurnal

    Biaya cat                   Rp. 3.000
        Kas                             Rp.   3.000

Jurnal

    Biaya Dempul                Rp. 1.700
        Kas                             Rp.   1.700

Jurnal

    Biaya Plitur                Rp. 3.600
        Kas                             Rp.   3.600

Jurnal

    Biaya Lem                   Rp. 1.200
        Kas                             Rp.   1.200

Jurnal

    Biaya Paku                  Rp. 5.250
        Kas                             Rp.   5.250

Jurnla

    Pemeliharaan Gedung         Rp. 35.500
        Kas                             Rp.   35.500

Jurnal

    Biaya Deplesi               Rp. 7.403
        Akumulasi Deplesi               Rp.   7.403
                                                                        54




   Jurnal

       Biaya Depresiasi Peralatan    Rp. 98.215
           Akumulasi Depresiasi Peralatan    Rp.      98.215

   Jurnal


       Biaya Overhead                 Rp. 167.773
           Deplesi                            Rp.       7.403
           Depresiasi Gedung                  Rp.      62.155
           Depresi Peralatan                  Rp.      98.215

   Jurnal

       Biaya Overhead                 Rp. 60.250
           Tenaga kerja tidak langsung        Rp.      10.000
           Cat                                Rp.       3.000
           Dempul                             Rp.       1.700
           Plitur                             Rp.       3.600
           Lem                                Rp.       1.200
           Paku                               Rp.       5.250
           Pemelihraan                        Rp.      35.500
   Jurnal

       Biaya Overhead                 Rp. 371.213
           Barang Dalam Proses                Rp. 371.213

e. Pencatatan Harga Pokok

  Harga pokok produksi yang ditetapkan sebagai berikut :

    Biaya tenaga kerja                       Rp.               40.000

    Biaya overhaead                          Rp.           371.213

    Jumlah harga pokok produksi              Rp.           411.213
                                                                        55




   Berdasarkan perhitungan di atas maka pencatatan harga pokok produksi

   sebagai berikut :

   Jurnal

       Barang Jadi                       Rp. 411.213
           Barang Dalam Proses                   Rp. 411.213

f. Pencatatan Penjualan Meubel Meja ½ Biro

            Pendapatan yang diperoleh dari penjualan meja ½ biro dicatat

   dengan mendebet ke rekening. Piutang dagang dan mengkredit

   rekening     hasil   penjualan    sehingga   dengan   demikian   jurnal

   pencatatannya sebagai berikut :

   Jurnal

       Harga pokok penjualan             Rp. 411.213
           Barang Jadi                           Rp. 411.213

   Jurnal

       Piutang                           Rp. 600.000
            Penjualan                            Rp. 600.000

   Berdasarkan pencatatan yang dilakukan maka dapat diperoleh

   perhitungan laba usaha yang dapat disajikan sebagai berikut :

    Penjualan per unit                          Rp.           600.000

    Harga Pokok Penjualan (HPP)                 Rp.           411.213

    Laba Usaha                                  Rp.           188.797
                                                                          56




4.4.    Pencatatan Buku Besar

              Dari jurnal pencatatan yang dilakukan dalam penelitian ini, maka

        dapat dibuatkan buku besar untuk mengontrol transaksi dalam usaha

        meubel gembol. Adapun buku besar tersebut disajikan pada lampiran :

4.5.    Laporan Keuangan

        Adapun laporan keuangan dapat disajikan sebagai berikut :


       USAHA NAGA GENI
           Laporan Rugi Laba

                           Periode Produksi (1 kali)

 Penjualan (1 units @ Rp. 600.000 per unit) …………….. Rp. 600.000,-
     Harga Pokok Produksi                   ……………… Rp. 411.213,-

 Laba Kotor ……..…………………… ………………… Rp. 188.787,-



              Dari laporan rugi laba tersebut dapat dijelaskan bahwa

        perusahaan akan memperoleh laba usaha sebesar Rp. 188.787 perunit,-

        sedangkan dalam satu kali produksi perusahaan mampu menghasilkan

        meja ½ biro sebanyak 10 unit sehingga pendapatan yang diperoleh

        perusahaan sebesar Rp.18.878.870.

              Berdasarkan hasil perhitungan harga pokok produksi dalam

        penelitian ini diperoleh bahwa perhitungan harga pokok produksi untuk

        meja ½ biro yang dilakukan pada perusahaan didasarkan pada
                                                                       57




     pengalaman dan cara tradisional yang dianggap dapat mewakili semua

     unsur biaya untuk memperoleh keuntungan atas satu unit meja ½ biro

     yang diproduksikan. Sementara itu perhitungan dilakukan atas

     penggunaan bahan secara menyeluruh dan untuk mengetahui jumlah

     bahan perunit meja tidak tepat dan hal ini dapat menimbulkan kerugian

     dalam penggunaan bahan baku pada proses produksi tersebut.

            Pada perhitungan harga pokok dengan menggunakan standar

     akuntansi, semua unsur biaya dihitung dan dijurnalkan berdasarkan

     penggunaan biaya dalam proses produksi tersebut dan hal tersebut

     dilakukan secara rinci untuk satu unit meja ½ biro yang diproduksikan

     dengan demikian dapat dikemukakan bahwa perhitungan harga pokok

     produksi pada perusahaan belum sesuai dengan standar akuntansi yang

     berlaku.

                                 BAB V

                     KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan

         Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dikemukakan

   sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

   1. Deplesi perunit meja ½ biro adalah sebesar Rp. 7.403,-.
                                                                         58




    2. Hasil analisis diperoleh bahwa penetapan harga pokok dengan

       menggunakan metode full costing sebesar Rp. 483.368,- per unit dapat

       menentukan besarnya biaya yang akan digunakan secara keseluruhan

       dalam kegiatan operasional.

    3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penjualan meja gembol ½ biro

       yang dilakukan perusahaan dapat memberikan laba kotor sebesar

       Rp.116.632 yang diperoleh dari selisih harga jual perunit dengan harga

       pokok produksi per unit.

    4. Penetapan harga pokok produksi meja ½ biro pada perusahaan Naga

       Geni Kendari belum sesuai dengan standar akuntansi karena

       perusahaan menggunakan cara tradisional dan menggabungkan

       keseluruhan biaya untuk menentukan jumlah biaya dan dikuragi

       dengan harga jual untuk mendapatkan laba usaha. Sedangkan

       perhitungan harga pokok produksi berdasarkan standar akuntansi,

       pencatatan biaya dilakukan dengan metode full costing terhadap biaya

       yang timbul dalam usaha produksi meja ½ biro pada Usaha Naga Geni.

5.2. Saran

    Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat disarankan sebagai berikut :

    1. Untuk memperoleh laba yang besar, maka perusahaan harus

       meningkatkan kapasitas produksi pada setiap kali proses produksi dari
                                                                       59




       10 unit menjadi 15 unit dan mengekspansi usaha pada masa yang akan

       datang.

    2. Untuk dapat menetapkan harga yang sesuai dengan standar akuntansi

       maka dianjurkan untuk menggunakan metode full costing yang

       mencakup keseluruhan biaya yang digunakan dalam kegiatan produksi

       meja ½ biro.




                           DAFTAR PUSTAKA




Abas Kartadinata, 1996, Teori Biaya, Rineka Cipta Jakarta

Abd. Halim, 1998, Dasar-Dasar Akuntansi Biaya, BPFE- UGM Yogyakarta.

Budiono, 1996, Analisis Biaya dan Manfaat dan Pengembangan Manajemen
         Biaya, Salemba Empat, Jakarta

Ciptono, 1992, Akuntansi Perusahaan, Cetakan Pertama, Erlangga, Jakarta.
                                                                     60




Elwood S. Buffa, 1998, Manajemen Produk/Operasi, Erlangga, Jakarta

Hasan Alwi, 2001, Kamus Bahasa Indonesia, Penerbit PT. Balai Pustaka,
        Jakarta

Helmy Rony, 2006, Akuntansi Biaya, Penerbit Liberty, Yogyakarta

Hartanto, 1997, Akuntansi Untuk Usahawan, LPFE-UI, Jakarta.

Mulyadi, 2000, Akuntansi Biaya BPFE-UGM Yogyakarta.

Munandar, 1996, Penentuan Harga Pokok, Tarsito Bandung.

Sudarsono, 1994, Teori Ekonomi, Pengantar dan Aplikasi, Bina Aksara,
         Jakarta.

Sumarsono, 1996, Pengantar Akuntansi PT. Rineka Cipta Jakarta

Syarifuddin, 1992, Toeri Biaya, Binarupa Aksara, Jakarta

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:114
posted:3/16/2012
language:Malay
pages:60
Description: Penelitian pendidikan tinggi