PENDEKATAN INTERAKSIONISME SIMBOLIK DAN HERMENEUTIK

Document Sample
PENDEKATAN INTERAKSIONISME SIMBOLIK  DAN HERMENEUTIK Powered By Docstoc
					i
                 PENDEKATAN INTERAKSIONISME SIMBOLIK
                               DAN HERMENEUTIK
                          Oleh : Muhdar (P0500311415)


A. Pendahuluan
       Salah satu persoalan yang sering kali muncul dalam teori-teori
social adalah tentang hubungan antara individu dan masyarakat.
Bagaimana masyarakat ‘membentuk’ individu-individu atau sebaliknya
bagaimana        individu-individu   menciptakan,    mempertahankan,    dan
mengubah masyarakat? Dalam hal apa saja masyarakat dan kepribadian
mempunyai hubungan timbal balik tetapi juga terpisah satu sama lain?
       Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak bisa dijawab oleh teori-teori
makro seperti fubgsionalisme atau teori konflik. Itulah sebabnya muncul
minat baru untuk mempelajari proses-proses yang terjadi antara individu
dengan individu dan antara individu dengan masyarakat. Dalam hal ini,
perhatian baru lebih diarahkan kepada pemahaman tentang proses-
proses interaksi social dan akibat-akibatnya bagi individu dan masyarakat.
Hal seperti inilah yang menjadi pokok perhatian dari perspektif
interaksionisme simbolik.
       Istilah interaksionisme simbolik yang digunakan pertama kalinya
oleh Herbert Blumer, pada dasarnya merupakan satu perspektif psikologi
social. Perspektif ini memusatkan perhatiannya pada analisa hubungan
antar-pribadi.     Individu   yang    unik   dalam   diri   manusia   adalah
kemampuannya untuk berpikir. Selama hidupnya dia berusaha untuk
memahami         kesadaran       manusia.    Pertanyaan-pertanyaan     yang
menghantuinya ialah bagaimana cara kerjanya pikiran itu? Kemudian
bagaimanan pikiran membantu manusia untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan? Konsep Dewey tentang pikiran sebagai suatu proses
penyesuaian diri dengan lingkungan banyak mempengaruhi Herbert
Mead. Dewey telah menunjukkan bahwa pikiran timbul dari interaksi
dengan dunia social. Sekalipun para pemikir ini menyajikan sejumlah
                                                                           1
konsep yang berhubungan dengan interaksionisme simbolik, namun
mereka tidak berhasil membuat satu sintese atau sistematisasi menjadi
perspektif itu. Interaksionisme simbolik berkembang menjadi satu
perspektif dalam sosiologi berkat usaha dua teoritikus terkenal, yakni
Geroge Herbert Mead dan Herbert Blumer. G.H. Mead adalah pencetus
dari teori ini sedangkan Blumner, yang tidak lain adalah murid dari Mead,
mengembangkan ajaran gurunya itu. Pada bagian berikut ini kita akan
menguraikan beberapa pokok pikiran mengenai teori ini.

       Selanjutnya dalam konteks pendekatan Hermeneutika, merupakan
teori filsafat mengenai interpretasi makna. Sebagai sebuah pendekatan,
akhir-akhir ini, hermeneutika semakin di      gandrungi oleh para peneliti
akademis, kritikus sastra, sosiolog, sejarawan, antropolog, filosof, maupun
teolog, khususnya untuk mengkaji, memahami, dan menafsirkan teks
(scripture).

       Fahruddin Faiz mengutip pendapat Sudarto, hermeneutika pada
dasarnya adalah suatu metode atau cara untuk menafsirkan simbol yang
berupa teks atau sesuatu yang diperlakukan sebagai teks untuk dicari arti
dan maknanya, di mana metode hermeneutika ini mensyaratkan adanya
kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami,
kemudian dibawa ke masa sekarang.

       Yusdani     mengutip     pendapat   Josef    Bleicher,      Hermeneutika
merupakan suatu teori atau filsafat tentang interpretasi makna. Namun, ia
lazim dimaknai sebagai seni menafsirkan (the art of interpretation). Konon,
dalam tradisi kitab suci, kata ini sering dirujuk pada sosok Hermes, yang
dianggap menjadi juru tafsir Tuhan. Sosok Hermes ini oleh Sayyed
Hossen     Nasr,   sering     disebut   sebagai    Nabi   Idris.    Pendekatan
hermeneutika, umumnya membahas pola hubungan segitiga (triadic)
antara teks, si pembuat teks, dan pembaca (penafsir teks). Dalam
hermeneutika, seorang penafsir (hermeneut) dalam memahami sebuah

                                                                              2
teks – baik itu teks kitab suci maupun teks umum – dituntut untuk tidak
sekedar melihat apa yang ada pada teks, tetapi lebih kepada apa yang
ada dibalik teks.

       Dua tema sentral yang dikemukakan pada pendahuluan diatas
adalah termasuk metode penelitian interpretif        dengan pendekatan
interaksionisme simbolik dan pendekatan hermeneutika. Dua tema
tersebut merupakan bahasan yang akan dibahas dalam makalah ini.

B. Pendekatan Interaksionisme Simbolik

       Interaksionisme simbolik adalah salah satu model penelitian
budaya yang berusaha mengungkap realitas perilaku manusia. Falsafah
dasar interaksionisme simbolik adalah fenomenologi.Namun, dibanding
penelitian   naturalistik   dan   etnografi   yang   juga   memanfaatkan
fenomenologi, interaksionisme simbolik memiliki paradigma penelitian
tersendiri. Model penelitian ini pun mulai bergeser dari awalnya, jika
semula lebih mendasarkan pada interaksi kultural antar personal,
sekarang telah berhubungan dengan aspek masyarakat dan atau
kelompok. Karena itu bukan mustahil kalau awalnya lebih banyak
dimanfaatkan oleh penelitian sosial, namun selanjutnya juga diminati oleh
peneliti budaya.

       Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami budaya lewat
perilaku manusia yang terpantul dalam komunikasi. Interaksi simbolik lebih
menekankan pada makna interaksi budaya sebuah komunitas. Makna
esensial akan tercermin melalui komunikasi budaya antar warga setempat.
Pada saat berkomunikasi jelas banyak menampilkan simbol yang
bermakna, karenanya tugas peneliti menemukan makna tersebut.

       Menurut Blomer (Spradley, 1997:7) ada beberapa premis inte-
raksionisme simbolik yang perlu dipahami peneliti budaya, yaitu sebagai
berikut: Pertama, manusia melakukan berbagai hal atas dasar makna

                                                                        3
yang diberikan oleh berbagai hal itu kepada mereka. Misalkan, para polisi,
mobil polisi, penjual minum, tipe orang, dan sebagainya dalam suatu
kerumunan memiliki simbol yang bermakna khusus. Kedua, dasar
interaksionisme simbolik adalah “makna berbagai hal itu berasal dari, atau
muncul dari interaksi sosial seorang dengan orang lain. Kebudayaan
sebagai suatu sistem makna yang dimiliki bersama, dipelajari, diperbaiki,
dipertahankan, dan didefmisikan dalam konteks orang yang berinteraksi.
Ketiga, dari interaksionisme simbolik bahwa makna ditangani atau
dimodifikasi melalui suatu proses penafsiran yang digunakan oleh orang
dalam kaitannya dengan berbagai hal yang dia hadapi. Seorang polisi
juga menggunakan kebudayaan untuk menginterpretasikan situasi.

       Di   samping    tiga   premis   tersebut,    Muhadjir    (2000:184-185)
menambahkan lagi tujuh proposisi. Tujuh proposisi tersebut terkait dengan
para   tokoh-tokoh    penemu     pendahulunya,       yakni:    pertama, perilaku
manusia     itu   mempunyai      makna     di      balik   yang     menggejala.
Kedua pemaknaan kemanusiaan perlu dicari sumbernya ke dalam
interaksi sosial. Ketiga, komunitas manusia itu merupakan proses yang
berkembang holistik, tak terpisah, tidak linier, dan tidak terduga.
Keempat, pemaknaan berlaku menurut penafsiran fenomenologi, yaitu
sejalan dengan tujuan, maksud, dan bukan berdasarkan mekanik.
Kelima, konsep mental manusia berkembang secara dialektik. Ke-
enam, perilaku manusia itu wajar, konstruktif, dan kreatif, bukan
elementer-reaktif:    Ketujuh, perlu   menggunakan         metode    introspeksi
simpatetik, menekankan pendekatan intuitif untuk menangkap makna.

       Melalui premis dan proposisi dasar di atas, muncul tujuh prinsip
interaksionisme simbolik, yaitu: (1) simbol dan interaksi menyatu. Karena
itu, tidak cukup seorang peneliti hanya merekam fakta, melainkan harus
sampai pada konteks; (2) karena simbol juga bersifat personal, diperlukan
pemahaman tentang jati diri pribadi subyek penelitian; (3) peneliti
sekaligus mengkaitkan antara simbol pribadi dengan komunitas budaya
                                                                              4
yang mengitarinya; (4) perlu direkam situasi yang melukiskan simbol; (5)
metode perlu merefleksikan bentuk perilaku dan prosesnya; (6) perlu
menangkap makna di balik fenomena; (7) ketika memasuki lapangan,
sekedar mengarahkan pemikiran subyek, akan lebih baik.

       Dalam pemaknaan interaksi simbolik, bisa melalui proses: (1)
terjemah (translation) dengan cara mengalih bahasakan dari penduduk
asli dan memindahkan rekaman ke tulisan; (2) penafsiran, perlu dicari latar
belakangnya, konteksnya, agar terangkum konsep yang jelas; (3)
ekstrapolasi, lebih menekankan kemampuan daya pikir manusia untuk
mengungkap di balik yang tersaji; (4) pemaknaan, menuntut kemampuan
integratif manusia, inderawinya, daya pikirnya, dan akal budi.

       Pemaknaan sebaiknya memang tidak mengandalkan pandangan
“subjektif   murni”   dari   pemilik   budaya,    melainkan     menggunakan
wawasan “intersubjektif’. Artinya, peneliti berusaha merekonstruksi realitas
budaya yang terjadi melalui interaksi antar anggota komunitas. Pada saat
interaksi itu terjadi, peneliti bisa melakukan umpan balik berupa
pertanyaan-pertanyaan yang saling menunjang. Pancingan-pancingan
pertanyaan peneliti yang menggelitik, akan memunculkan makna dalam
sebuah interaksi antar pelaku budaya.

       Penafsiran bukanlah tindakan bebas, melainkan perlu bantuan
yang lain, yaitu sebuah interaksi. Melalui interaksi seseorang dengan
orang lain, akan terbentuk pengertian yang utuh. Penafsiran semacam ini
menurut Moleong (2001:11) lebih esensial dalam interaksi simbolik. Oleh
karena interaksi menjadi paradigma konseptual yang melebihi “dorongan
dari dalam”, “sifat-sifat pribadi”, “motivasi yang tidak disadari”, “kebetulan”,
“status sosial ekonomi”, “kewajiban peranan”, atau lingkungan fisiknya.
Konsep teoritik mungkin bermanfaat, namun hanya relevan sepanjang
memasuki proses pendefinisian.



                                                                              5
      Implikasi interaksi simbolik menurut Denzin (Mulyana, 2002:149)
perlu memperhatikan tujuh hal, yaitu: (1) simbol dan interaksi harus
dipadukan sebelum penelitian tuntas, (2) peneliti harus memandang dunia
atas dasar sudut pandang subjek, (3) peneliti harus mengaitkan simbol
dan subjek dalam sebuah interaksi, (4) setting dan pengamatan harus
dicatat, (5) metode harus mencernunkan proses perubahan, (6)
pelaksanaan harus berbentuk interaksi simbolik, (7) penggunaan konsep
awalnya untuk mengarahkan kemudian ke operasional, proposisi yang
dibangun interaksional dan universal.

      Atas dasar berbagai rujukan interaksionis simbolik, peneliti budaya
memang harus cermat dalam memperhatikan interaksi manusia dalam
komunitas budaya. Interaksi manusia tersebut, umumnya ada yang
berencana, tertata, resmi, dan juga tidak resmi. Berbagai momen interaksi
dalam bentuk apa pun, perlu diperhatikan oleh peneliti budaya. Pelaku
budaya tidak dapat dianggap sebagai komunitas yang pasif, melainkan
penuh interaksi dinamis yang banyak menawarkan simbol-simbol. Pada
saat ini peneliti segera memasuki interaksi budaya pelaku.

      Dalam setiap gerak, pelaku budaya akan berinteraksi dengan yang
lain. Pada saat itu, mereka secara langsung maupun tidak langsung telah
membeberkan stock of culture yang luar biasa banyaknya.

      Persediaan pengetahuan budaya yang ditampilkan lewat interaksi
itulah yang menjadi fokus penelitian jnodel interaksionis simbolik. Dari
interaksi tersebut, akan muncul sejumlah tanda-tanda, baik verbal maupun
non verbal yang unik.

      Oleh karena kemajuan zaman semakin pesat, peneliti juga perlu
memperhatikan ketika pelaku budaya berinteraksi melalui alat-alat
canggih. Mungkin sekali mereka berinteraksi menggunakan HandPhone
(HP), internet, faximile, surat dan lain-lain. Seluruh aktivitas budaya
semacam itu tidak lain merupakan incaran peneliti interaksionis simbolik.
                                                                        6
Yang perlu diingat oleh peneliti budaya adalah, bahwa pelaku itu sendiri
adalah aktor yang tidak kalah cerdiknya dengan pemain drama. Karena itu
dari waktu ke waktu interaksi mereka perlu dicermati secara mendalam.
Jangan sampai ada interaksi semu yang sengaja menjebak peneliti.

       Menurut pandangan model interaksionis simbolik perilaku budaya
akan berusaha menegakkan aturan-aturan, hukum, dan norma yang
berlaku bagi komunitasnya. Jadi, bukan sebalilrnya interaksi mereka
dibingkai oleh aturan-aturan mati, melainkan melalui interaksi simbolik
akan muncul aturan-aturan yang disepakati secara kolektif. Makna budaya
akan tergantung proses interaksi pelaku. Makna biasanya muncul dalam
satuan interaksi yang kompleks, dan kadangkadang juga dalam interaksi
kecil antar individu.

       Dengan’demikian, model interaksionis simbolik akan menganalisis
berbagai hal tentang simbol yang terdapat dalam interaksi pelaku.
Mungkin sekali pelaku budaya menggunakan simbol-simbol ,unik atau
spesial yang hanya dapat dipahami ketika mereka saling berinteraksi.
Katakan saja, kemenyan dan bunga kantil, keduanya kalau berdiri sendiri
belum mewujudkan sebuah simbol bermakna. Namun, ketika benda
tersebut diletakkan pada salah satu prosesi budaya, diberi mantra oleh
seorang dukun dan sebagainya, barulah benda simbolik ‘ itu bermakna.

       Itulah sebabnya ada beberapa catatan penting yang perlu
diperhatikan bagi peneliti interaksionis simbolik, yaitu: (1)simbol akan
bermakna penuh ketika berada dalam konteks interaksi aktif, (2) pelaku
budaya akan mampu merubah simbol dalam interaksi sehingga
menimbulkan      makna   yang   berbeda   dengan   makna   yang    lazim,
(3) pemanfaatan simbol dalam interaksi budaya kadang-kadang lentur dan
tergantung permainan bahasa si pelaku, (4) makna simbol dalam interaksi
dapat bergeser dari tempat dan waktu tertentu.



                                                                        7
      Atas dasar hal-hal tersebut di atas, berarti interaksionis simbolik
merupakan    model penelitian     yang   lebih   cocok diterapkan   untuk
mengungkap makna prosesi budaya sebuah komunitas. Dari prosesi itu
akan terungkap makna di balik interaksi budaya antar pelaku. Tentu saja,
yang diharapkan adalah pengungkapan proses budaya secara natural,
bukan situasi buatan.

      Memang harus disadari bahwa interaksionis simbolik tetap memiliki
berbagai kelemahan dasar. Antara lain, seringkali model penelitian ini
kurang memperhatikan masalah emosi dan gerak bawah sadar manusia
dalam interaksi. Interaksionisme simbolik lebih memahami hal-hal
yang.kpnkret dalam interaksi baru ditafsirkan, padahal di balik jiwa
manusia terdapat gelombang besar yang kadang-kadang tidak tampak.
Namun demikian, interaksionis simbolik tetap memiliki kekuatan empiris
yang patut dipuji. Di samping itu, melalui pemaknaan simbol berdasarkan
interaksi, berarti penafsiran selalu berada pada konteksnya.



C. Pendekatan Hermeneutik


      Pendekatan hermeneutik menganggap objek kajian sebagai gejala
teks. Fakhruddin faiz mencatat pendefinisian dan perkembangan persepsi
terhadap hermeneutik menunjukkan bagaimana kronologi pemahaman
manusia terhadap model penafsiran. Sebagai suatu metode penafsiran
dapat dikatakan bahwa hermeneutik adalah sebuah kajian yang
membahas mengenai bagaimana menggunakan instrumen sejarah,
filologi, manuskriptologi dan lain sebagainya sebagai sarana untuk
memahami maksud dari suatu objek yang ditafsirkan.
      Hermeneutik adalah suatu pemahaman terhadap pemahaman yang
dilakukan oleh seseorang dengan menelaah proses asumsi-asumsi yang
berlaku dalam pemahaman tersebut, termasuk diantaranya konteks-
konteks yang melingkupi dan mempengaruhi proses tersebut.
                                                                        8
       Setidaknya untuk dua tujuan : Pertama, untuk meletakan hasil
pemahaman yang dimaksud dalam porsi dan proporsi yang sesuai, kedua,
untuk melakukan suatu reproduksi makna darai pemahaman terdahulu
tersebut dalam bentuk kontekstualisasi.
       Hermeneutik bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam
sebuah     simbol   dengan      cara    membuka   selubung-selubung    yang
menutupinya.      Hermeneutik        membuka   makna   yang   sesungguhnya
sehingga dapat mengurangi keanekaan makna dari simbol-simbol itu tadi.
Berkaitan dengan studi islam, penting kiranya memahami makna dari
ekspresi    simbol-simbol      yang     ada    guna    mengungkap     makna
sesungguhnya dibalik suatu teks atau nash.
       Peta hermeneutik menurut palmer adalah:
1.   Sebagai teori penafsiran kitab suci( oleh J.C. Danhauer)
2.   Sebagai metode filologi, yang hanya menakankan pada kosakata atau
     gramatikal
3.   Sebagai ilmu pemahaman linguistik, sebagai kritik pada metode
     filologi,dan menawarkan perpaduan gramatikal dan psikologi (oleh
     Schleiermacher)
4.   Sebagai fondasi metodologi ilmu-ilmu kemansusiaan (oleh Wilhelm
     Dilthey)
5. Sebagai fenomena dasein dan pemahaman eksistensial
6. Sebagai sistem penafsiran
       Menurut Josef Bleicherr,peta hermeneutik ada tiga, sebagai berikut:
1. Sebagai metodologi
2. Sebagai filsafat atau filosofis
3. Sebagai kritik

Teori-teori Hermeneutika

1. Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher




                                                                          9
      Model hermeneutika sebelum Schleiermacher masih terbagi
menjadi dua kelompok besar, hermeneutika filologis yang diterapkan atas
teks-teks Romawi dan Yunani kuno serta hermeneutika teologis       yang
dipakai dalam interpretasi kitab suci (Bibel). Namun Schleiermacher
menyatakan bahwa seorang interpret harus berada di atas objek
interpretasinya, baik teks klasik maupun Bibel. Poin penting lain dalam
pemikiran   universal hermeneutics Schleiermacher adalah persamaan
sikap atau perlakuan antara Bibel dengan teks karya manusia. Karena
permasalahan tidak terletak pada materi akan tetapi cara memahaminya.
Sebagai konsekuensinya, kajian filologi teks dan teologi dalam Bibel
disubordinasikan kepada problem penafsiran yang umum. Schleiermacher
juga berpendapat bahwa kesalahpahaman dalam interpretasi berakar
pada perbedaan pandangan hidup dan sebagainya yang disebabkan oleh
perbedaan zaman dan rentang waktu antara pengarang dan penafsir.
Makna sebenarnya sebuah teks didapatkan dengan rekonstruksi historis
saat teks tersebut ditulis. Jadi apa yang dimaksud oleh sebuah teks
bukanlah apa yang kelihatannya dikatakan kepada sang pembaca.

Dalam pembacaan teks, Schleiermacher berpendapat bahwa interpretasi
dapat dicapai dengan dua cara, yaitu ketata-bahasaan dan psikologis
(grammatical and psychological interpretation). Interpretasi tata-bahasa
berfungsi untuk menyingkap arti sebuah kata dan interpretasi psikologis
berfungsi untuk mengetahui motif pengarang ketika menulis teks tersebut.

Schleiermacher juga menegaskan bahwa makna setiap kata harus
dipahami sebagai bagian dari keseluruhan mental pengarang. Ketika
tahapan ini dicapai, maka seorang penafsir dapat memahami teks sebaik
pengarang atau bahkan lebih baik darinya dan memahami diri sang
pengarang lebih baik dari pengarang memahami dirinya sendiri.

2. Wilhelm Dilthey



                                                                      10
      Teori     hermeneutika      Dilthey      banyak     dipengaruhi     oleh
Schleiermacher, Dilthey sepakat bahwa dengan hermeneutika, seorang
penafsir dapat memahami teks sebaik atau lebih baik dari pengarang teks
itu sendiri. Untuk itu Dilthey membagi pemahaman menjadi tiga tingkat:

a. Pemahaman sebagai menangkap sebuah makna dengan melalui
   tanda yang menunjukkan atau mewakili apa yang dimaksud
b. Nacherleben, mengimbas kembali perasaan dan pengalaman yang
   dipercayai   telah   dialami   oleh   pengarang      dengan   berdasarkan
   pengalaman yang terwujudkan dalam ungkapan yang dapat diakses
c. Besserverstehen.     Di   tingkatan     inilah   seorang   penafsir   dapat
   memahami maksud sebenarnya seorang pengarang. Makna dalam
   tingkatan ini adalah asumsi bahwa makna dalam konteks, signifikansi
   dan implikasi sebuah pernyataan, tindakan atau peristiwa tidak pernah
   bisa tetap dan sempurna. Ide yang mendasari teori tingkatan terakhir
   Dilthey adalah pertimbangan unsur historis teks. Menurutnya unsur
   historis memegang peran penting karena yang dikaji adalah teks
   dengan segala keterkaitannya dengan komponen sejarah yang lain.
   Karena itu Dilthey mengkritik Schleiermacher yang telah mengabaikan
   sisi sejarah dalam interpretasi teks.
3. Martin Heidgger
      Pemikiran filsafat Heidgger meliputi dua periode sebagai berikut :

1. Periode 1 meliputi hakikat tentang “ada” dan “waktu”. Manusia adalah
   satu-satunya makhluk        yang menanyakan tentang “ada”. Sebab,
   manusia pada hakikatnya”ada” tetapi tidak begitu saja ada, melainkan
   senantiasa secara erat berkaitan dengan “adanya” sendiri.
2. Periode 2 Menjelaskan pengertian”kehre” yang berarti “pembalikan”.
   Ketidaktersembunyian ”ada” merupakan kejadian asli. Berpikir pada
   hakikatnya adalah terikat pada arti. Oleh karena itu, manusia bukanlah
   pengauasa atas apa yang ”ada” melainkan sebagai penjaga padanya.


                                                                            11
           Bahasa bukan sekedar alat untuk menyampaikan dan memperoleh
informasi. Bahas pada hakikatnya adalah”bahasa hakikat” artinya berpikir
adalah suatu jawaban, tanggapan atau respons dan bukan manipulasi ide
yang hakikatnya telah terkandung dalam proses penuturan bahasa dan
bukan hanya sebagai alat belaka.                 Dalam realitas, bahasa lebih
menentukan daripada fakta atau perbuatan. Bahasa adalah tempat tinggal
” sang ada”. Bahasa merupakan ruang bagi pengalaman yang bermakna.
Pengalaman yang telah diungkapkan adalah pengalaman yang telah
mengkristal, sehingga menjadi semacam substansi dan pengaaman
menjadi tak bermakna jika tidak menemukan rumahnya dalam bahasa.
Sebaliknya, tanpa pengalaman nyata, bahasa adalah ibarat ruang kosong
tanpa kehidupan.
           Pemahaman teks terletak pada kegiatan mendengarkan lewat
bahasa       manusia    perihal   apa     yang    dikatakan   dalam   ungkapan
bahasa.Bahasa adalah suatu proses, suatu dinamika, atau suatu gerakan.

4. Hans-Georg Gadamer

           Konsep Gadamer yang menonjol dalam hermeneutika adalah
menekankan apa yang dimaksud ”mengerti”. Lingkaran hermeneutika –
hermeneutic circle , bagian teks disa dipahami lewat keseluruhan teks
hanya bisa dipahami lewat bagian- bagiannya.

           Setiap pemahaman merupakan sesuatu yang bersifat historis,
dialetik dan peristiwa kabahasaan. Hermeneutika adalah ontologi dan
fenomologi pemahaman.

5. Jurgen Habermas
           Hermeneutika bertujuan untuk memahami proses pemahaman –
understanding the process of understanding.

           Pemahaman adalah suatu kegiatan pengalaman dan pnegertian
teoritis    berpadu    menjadi    satu.   Tidak    mungkin    dapat   memahami

                                                                            12
sepenuhnya makna sesuatu fakta, sebab selalu ada juga fakta yang tidak
dapat diinterpretasikan.

      Bahasa sebagai unsur fundamental dalam hermeneutika. Sebab,
analisis suatu fakta dilakukan melalui hubungan simbol-simbol dan simbol-
simbol tersebut sebagai simbol dari fakta.

6. Paul Ricoeur
      Teks adalah otonom atau berdiri sendiri dan tidak bergantung pada
maksud pengarang. Otonomi teks ada tiga macam sebagai berikut :

      1. Intensi atau maksud pengarang.
      2. Situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks.
      3. Untuk siapa teks dimaksud.
      Tugas hermeneutika mengarahkan perhatiannya kepada makna
objektif dari teks itu sendiri, terlepas dari maksud subjektif pengarang
ataupun orang lain.

      Interpretasi dianggap telah berhasil mencapai tujuannya jika ”dunia
teks” dan ” dunia interpreter” telah berbaur menjadi satu.

7. Jacques Derrida
      Dalam filsafat bahasa – dalam kaitan dengan hermeneutika,
membedakan antara ”tanda” dan ”simbol”. Setiap tanda bersifat arbitrer.
Bahasa menurut kodartnya adalah ”tulis”Objek timbul dalam jaringan
tanda, dan jaringan atau rajutan tanda ini disebut ”teks”. Segala sesuatu
yang ada selalui ditandai dengan tekstualitas. Tidak ada makna yang
melebihi teks. Makna senantiasa tertenun dalam teks.




                                                                       13
                          DAFTAR PUSTAKA

Bernstein, Richard, J., 1985, Beyond Objectivism and Relativism: Science,
      Hermeneutics,    and    Praxis,   University   of   Pennsylvania    ,
      Philadelphia.

Bernard Raho, 2007, Teori Sosiologi Modern, Pustaka Pelajar, Jakarta

http://id.shvoong.com/books/dictionary/2090743-hermeneutika-filosofis-
      hans-georg-gadamer. Sejarah Hermeneutik: Dari Plato sampai
      Gadamer. Akses Tahun 2011.

http://alwyamru.blogspot.com/2010/05/hermeneutika-gadamer
      elevankah.html. Hermeneutika Gadamer, Relevankah?. Akses
      tahun 2011.

http://teguhimanprasetya.wordpress.com/2008/09/25/interaksionisme-
      simbolik-grounded-theory-dan-cross-cultural-studies/

Sumaryono, E, 1999, Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat,         Penerbit
      Kanisius Yogyakarta




                                                                         14

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:936
posted:3/14/2012
language:Indonesian
pages:15