PENDEKATAN ETNOMETODOLOGI, ETNOGRAFI DAN FENOMENOLOGI

Document Sample
PENDEKATAN   ETNOMETODOLOGI,  ETNOGRAFI  DAN FENOMENOLOGI Powered By Docstoc
					           PENDEKATAN ETNOMETODOLOGI, ETNOGRAFI
                           DAN FENOMENOLOGI


I.   Pendahuluan
       Dalam khasanah penelitian ilmu-ilmu sosial, kita menemukan
berbagai ragam pendekatan. Pertama-tama hal disebabkan oleh objek
penelitian ilmu sosial yaitu masyarakat adalah sebuah sebuah fakta yang
sangat kompleks. Alasan lainnya adalah munculnya ketidakpuasan dari
seseorang atau beberapa pakar yang merasa tidak puas dengan
pendekatan tertentu. Ketidakpuasan ini lalu memicu mereka untuk
menemukan model pendekatan baru yang dianggap paling baik.
       Kita mengenal dua metodologi penelitian yang pokok dalam ilmu-
ilmu   sosial   yaitu   pendekatan     kuantitaif   dan   kualitatif.    Secara
epistemologis, kuantitatif adalah turunan dari postivisme. Positivisme
merupakan sebuah paham dalam ilmu pengetahuan dan filsafat yang
berasumsi bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang
didasarkan pada fakta-fakta positif yang diperoleh melalui proses
penginderaan. Metode kuantitatif sangat menekankan pada objektivisme
dan penggunaannya menggunakan alat bantu statistik. Penelitian
kuantitatif yang paling termasyur dalam sosiologi berasal dari Emile
Durkheim. Sementara metode kualitatif secara epistemologis adalah
turunan dari rasionalisme. Metode kualitatif        menekankan             pada
subjektivisme. Dalam sosiologi, Webber-lah yang dianggap sebagai
peletak dasar metode kualitatif ini.
       Metodologi adalah persoalan penting dalam ilmu pengetahuan atau
sains. Untuk memperoleh pengetahuan yang sistematis, setiap peneliti
bahkan ilmuwan membutuhkan metodologi. Metodologi merupakan cara-
cara yang ditetapkan dengan logika tertentu untuk melihat realitas atau
fenomena oleh para ilmuwan.
       Positivisme merupakan sebuah paham dalam ilmu pengetahuan
dan filsafat yang berasumsi bahwa pengetahuan yang benar adalah


                                                                        Page | 1
pengetahuan yang didasarkan pada fakta-fakta positif yang diperoleh
melalui proses penginderaan. Pendekatan kuantitatif sangat menekankan
pada objektivisme dan penggunaan alat bantu statistik. Sementara
pendekatan kualitatif menekankan pada subjektivisme.             Pendekatan
kualitatif seperti yang diutarakan Bogdan dan Tylor adalah prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan
dan perilaku yang dapat diamati dari orang-orang (subjek) itu sendiri.
Pendekatan ini langsung menunjukkan setting dan individu-individu dalam
setting itu secara keseluruhan, individu dalam batasan yang sangat
holistik (Furchan, 1992).
      Jane Richie mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai upaya
untuk menyajian dunia sosial, dan perspektifperspektif di dalam dunia, dari
segi konsep, perilaku, persepsi dan persoalan tentang manusia yang
diteli. Sementara Moleong (2004) membatasi penelitian kualitatif sebagai
penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang
dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan
dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-
kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan
memanfaatkan berbagai metode ilmiah.
      Namun dalam paper ini, yang menjadi fokus pembahasan adalah
metodologi    penelitian    kiualitatif   interpretif   dengan   pendekatan
etnometodologi, entografi dan fenomenologi.

II. Etnometodologi

2.1. Sejarah Ringkas Munculnya Etnometodologi
      Etnometodologi sendiri adalah suatu studi tentang praktek sosail
keseharian yang diterima secara taken for granted berdasarkan akal sehat
(common sense). Etnometodologi mulai berkembang di tahun 1950
dengan tokoh penggagasnya adalah Harold Garfinkel. Garfinkel sendiri
adalah dosen pada UCLA di West Coast. Akan tetapi baru dikenal oleh
kalangan luas (oleh profesi-profesi lain) pada akhir 1960-an dan awal


                                                                    Page | 2
1970-an ( Poloma : 1994 : 281). Garfinkel memunculkan etnometodologi
sebagai bentuk ketidaksetujuannya terhadap pendekatan-pendekatan
sosiologi konvensional yang dianggapnya mengekang kebebasan peneliti.
Penelitian konvesional selalu dilengkapi asumsi, teori, proposisi dan
kategori yang membuat peneliti tidak bebas di dalam memahami
kenyataan sosial menurut situasi di mana kenyataan sosial tersebut
berlangsung.


         Garfinkel   sendiri   medefenisikan    etnometodologi    sebagai
penyelidikan atas ungkapan-ungkapan indeksikal dan tindakan-tindakan
praktis lainnya sebagai kesatuan penyelesaian yang sedang dilakukan
dari   praktek-praktek    kehidupan     sehari-hari   yang    terorganisir.
Etnometodologi Grafinkel ditujukan untuk meneliti aturan interaksi sosial
sehari-hari yang berdasarkan akal sehat. Apa yang dimaksudkan dengan
dunia akal sehat adalah sesuatu yang biasanya diterima begitu saja,
asumsi-asumsi yang berada di baliknya dan arti yang dimengerti bersama.
Inti dari etnometologi Granfikel adalah mengungkapkan dunia akal sehat
dari kehidupan sehari-hari (Furchan, 1992 : 39-41).
       Dalam prakteknya, etnometodogi Grafinkel menekankan pada
kekuatan pengamatan atau pendengaran dan eksperimen melalui
simulasi. Pengamatan atau pendengaran digunakan Grafinkel ketika
melakukan penelitian pada sebuah toko. Di sana Grafinkel mengamati
setiap pembeli yang keluar dan masuk di toko tersebut serta mendengar
apa yang dipercakapkan orang-orang tersebut. Seementata untuk
eksperimen (simulasi), Grafinkel melakukan beberapa latihan pada
beberapa orang. Latihan ini terdiri dari beberapa sifat, yaitu responsif,
provokatif dan subersif. Pada latihan responsif yang ingin diungkap adalah
bagaimana seseorang menanggapi apa yang pernah dialaminya. Pada
latihan provokatif yang ingin diungkap adalah reaksi orang terhadap suatu
situasi atau bahasa. Sementara latihan subersif menekankan pada
perubahan status atau peran yang biasa dimainkan oleh seseorang dalam


                                                                 Page | 3
kehidupan sehari-harinya. Pada latihan subersif, seseorang diminta untuk
bertindak secara berlainan dari apa yang seharusnya dilakukan dalam
kehidupan sehari-hari.
        Latihan pertama (responsif) adalah meminta orang-orang tersebut
menuliskan apa yang pernah mereka dengar dari para familinya lalu
membuat tanggapannya. Latihan kedua (provokatif) dilakukan dengan
meminta     orang-orang     bercakap-cakap    dengan      lawannya     dan
memperhatikan setiap reaksi yang diberikan oleh lawan mereka tersebut.
Sementara latihan ketiga (suberrsif) adalah menyuruh mahasiswanya
untuk tinggal di rumah mereka masing-masing dengan berprilaku sebagai
seorang indekos. Lewat latihan-latihan ini orang menjadi sadar akan
kejadian sehari-hari yang tidak pernah disadarinya. Latihan ini adalah
strategi dari Grafinkel untuk mengungkapkan dunia akan sehat, sebuah
dunia    yang   dihidupi   oleh   masing-masing   orang    tanpa     pernah
mempertanyakan mengapa hal tersebut harus terjadi sedemikian.
        Sesudah     Grafinkel     muncullah   beberapa     pakar      yang
mengembangkan studi etnometodologi di antaranya Jack Douglas, Egon
Bittner, Aaron Cicourel, Roy Turner, Don Zimmerman dan D. Lawrence
Wieder. Di antara para pakar ini Jack Douglaslah yang paling lengkap
pembahasan etnometodologinya. Douglas menggunakan etnometodologi
untuk menyelidiki proses yang digunakan para koroner (pegawai yang
memeriksa sebab-musabab kematian seseorang untuk menentukan suatu
kematian sebagai akibat bunuh diri. Douglas mencatat bahwa untuk
menentukan hal itu , koroner harus menggunakan pengertian akal sehat
yaitu apa yang diketahui oleh setiap orang tentang alasan orang bunuh
diri sebagai dasar menetapkan adanya unsur kesengajaan ( Furchan,
1992 : 39). Di sini seorang koroner mengumpulkan bukti-bukti berupa
peritiwa hidup (hari-hari terakhir) dari seseorang yang mati tersebut
mengenai apakah ia mengalami peristiwa yang memungkinkan ia bunuh
diri atau tidak. Jika ia tidak menemukan bukti-buktinya maka ia akan
menyimpulkan bahwa kematian tersebut bukanlah suatu tindakan bunuh


                                                                   Page | 4
diri, pada hal mungkin saja ia telah melakukan bunuh diri. Atau
sebaliknya, jika ia menemukan bukti maka ia akan menyimpulkan bahwa
kematian tersebut adalah suatu tindakan bunuh diri pada hal belum tentu
seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Pendekatan ini sangat berbeda
dengan apa yang pernah dilakukan oleh Durkheim tentang bunuh diri
(suicide) yang dilakukannya dengan pendekatan statistikal. Di sini
tampaklah bahwa etnometodologi adalah suatu studi atas realitas
kehidupan manusia atau masyarakat yang secara radikal menolak
pendekatan-pendekatan sosiologi konvensional sebagaimana yang telah
disentil di bagian pengantar di atas.


2.2. Pengertian Etnometodologi
       Istilah etnometodologi (ethomethodology), yang berakar pada
bahasa    Yunani    berarti   “metode”   yang   digunakan   orang     dalam
menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari. Bila dinyatakan secara
sedikit berbeda, dunia dipandang sebagai penyelesaian masalah secara
praktis secara terus-menerus. Manusia dipandang rasional, tetapi dalam
menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan
“penalaran praktis”, bukan logika formula. (Ramlan Surbakti, 2010 :)185)
       Kita mulai dengan definisi etnometodologi studi tentang “kumpulan
pengetahuan berdasarkan akal sehat dan rangkaian prosedur dan
pertimbangan (metode) yang dengannya masyarakat biasa dapat
memahami, mencari tahu, dan bertindak berdasarkan situasi di mana
mereka menemukan dirinya sendiri”. (Heritage, 1984:4).
       Pemahaman lebih mendalam tentang sifat dasar etnometodologi
akan bisa kita dapatkan dengan meneliti upaya pendirinya, Garfinkel
(1988, 1991), untuk mendefinisikannya seperti Durkheim, Garfinkel
menganggap “fakta sosial” sebagai fenomena sosiologi fundamental.
Namun, fakta sosial menurut Garfinkel sangat berbeda dari fakta sosial
menurut Durkheim.menurut Duekheim, fakta sosial berada di luar dan
memaksa individu. Pakar yang menerima pemikiran demikin cenderung


                                                                    Page | 5
melihat actor dipaksa atau ditentukan oleh struktur dan pranata sosial dan
sedikit sekali kemampuannya atau tak mempunyai kebebasan untuk
membuat     pertimbangan.     Seperti   sosiolog,   pakar   etnometodologi
cenderung membicarakan actor seperti “si tolol yang memberikan
pertimbangan”. (Muhammad Zeitlin., 1998: 132-133 )
      Sebaliknya etnometodologi membicarakan objektivitas fakta sosial
sebagai prestasi anggota (definisi anggota segera menyusul) sebagai
produk aktivitas metodologis anggota. Garfinkel melukiskan sasaran
perhatian etnometodologi sebagai berikut:
      Realitas objektif fakta sosial bagi etnometodologi adalah fenomena
fundamental sosiologi karena merupakan setiap produk masyarakat
setempat yang diciptakan dan diorganisir secara alamiah, terus-menerus,
prestasi praktis, selalu, hanya, pasti dan menyeluruh, tanpa henti dan
tanpa peluang menghindar, menyembunyikan diri, melampaui, atau
menunda (Garfinkel, 1991:11).
      Salah satu pendirian kunci Garfinkel mengenai etnometodologi
adalah bahwa mereka “dapat dijelaskan secara reflektif”. Penjelasan
adalah cara actor malakukan sesuatu seperti mendeskripsikan, mengkritik,
dan mengidealisasikan situasi tertentu. Penjelasan (acaunnting) adalah
proses yang dilalui actor dalam memberikan penhelasan untuk memahami
dunia. Pakar etnometodologi menekankan perhatian untuk menganalisis
penjelasan actor maupun cara-cara penjelasan diberikan dan diterima
(atau ditolak) oleh orang lain. Inilah salah satu alasan mengapa pakar
etnometodologi memustkan perhatian dalam mengalisis percakapan. Satu
contoh, ketika seorang maahasiswa menerangkan kepada profesornya
mengapa ia gagal mengambil ujian, ia sebenarnya memberikan suatu
penjelasan. Mahasiswa itu mencoba mengemukakan pemikiran mengenai
suatu peristiwa kepada profesornya. Pakar etnometodologi tertarik pada
sifat dasar panjelasan itu, dan lebih umum lagi, pada praktik penjelasan
yang dengannya mahasiswa memberikan penjelasan dan profesor
menerima    atau   menolak.     Dalam   menganalisis   penjelasan,   pakar


                                                                  Page | 6
etnometodologi menganut pendirian ketakacuhan metodologis. Artinya
mereka tidak menilai sifat dasar penjelasan, tetapi lebih menganalisis
penjelasan itu dilihat dari sudut pandang bagaimana cara penjelasan itu
digunakan dalam tindakan praktis. (George Ritzer, 2007: 323-324).
      Kumpulan      pengetahuan        berdasarkan       akal     sehat      dan
rangkaian prosedur dan pertimbangan (metode) yang dengannya
masyarakat bisa dapat memehami, mencaritahu, dan bertindak
berdasarkan situasi dimana mereka menemukan diri mereka
sendiri (Heritage, 1984 : 4)
      Etnometodologi memusatkan perhatian pada kehidupan
sehari-hari.    Penggambaran          Grafinkel     tentang     etnometodologi
sebagai realitas objektif yang terdapat fakta social didalamnya.
Etnometodologi mencari capaian praktis yang dihasilkan pada
tingkat lokal dan endogen. Hal ini, dapat diorganisasikan secara
ilmiah, dilaporkan secara reflektif, berkesinambungan, pencapaian
praktis, selalu, hanya, pasti dan menyeluruh, tanpa henti dan tanpa
peluang menghindar, melampaui, atau menunda. Salah satu pendirian
Grafinkel mengenai etnometodologi yakni “dapat dijelaskan secara
reflektif”. Para aktornya menekankan pada anlisis maupun cara yang
diberikan dan diterima (atau di tolak) oleh orang lain. Dalam menganalisis
penjelasan para pakar etnometodologi menganut pendirian ketakacuhan
etnometodologis.     Artinya,    mereka     tidak    menilai     sifat    dasar
penjelasan, tetapi lebih menganalisis penjelasan itu dilihat dari sudut
pandang bagaimana cara penjelasan itu digunakan dalam tindakan
praktis. Mereka memperhatikan penjelasan dan metode yang
digunakan      pembicaraan      dan    pendengar      untuk     mengajukan,
memahami dan menerima atau menolak penjelasan. (George
Ritzer- Douglas j. Goodman, 2008 :324)




                                                                         Page | 7
2.3. Diversifikasi Enometodologi
       Bagimanapun juga, masalah pokok yang menjadi sasaran studi
etnometodologi adalah berbagai jenis kehidupan sehari-hari yang
terbatas. Karena itu akan semakin banyak studi makin banyak
diversifikasinya dan makin “growing paints”.
       Zimmemen menyatakan ada beberapa jenis etnometodologi.
Etnometodologi mencakup sejumlah penyelidikan yang kurang lebih
berbeda dan adakalanya saling bertentangan.” (1978:6)


2.3.1. Studi setting institusional.
       Studi ini pertama kali dilakukan oleh Garfinkel dan rekannya, studi
yang dilakukan dengan setting santai dan noninstitusional seperti
rumah. Kemudian dilanjutkan ke arah studi praktik sehari-hari, di
berbagai setting institusional ruang pengadilan, setting rumah sakit, dan
kantor polisi. Tujuannya adalah memahami bagaimana orang atau pekerja
menjalankan    tugas-tugas     resmi    mereka,   dalam   proses    tersebut,
membangun institusi tempat dijalankan tugas-tugas tersebut.
       Misalnya, tingkat angka criminal disusun oleh kantor polisi bukan
semata-mata karena akibat petugas mengikuti peraturan yang ditetapkan
secra jelas dalam tugas mereka. Petugas lebih memanfaatkan prosedur
berdasarkan akal sehat untuk memutuskan umpamanya apakah korban
harus digolongkan sebagi korban pembunuhan. Jadi, angka criminal
seperti itu berdasarkan penafsiran pekerjaan dan profesional, dan
pemeliharaan catatan criminal seperti itu adalah kegiatan yang berguna
untuk studi yang sebenarnya.


2.3.2. Analisis percakapan (Conversation analisis).
       Tujuan dari analisis ini adalah “memahami secara rinci struktur-
struktur   fundamental   interaksi     percakapan”(Zimmerman,      1988:429).
Analisis ini didasarkan pada asumsi bahwa percakapan adalah prinsip dari
bentuk-bentuk relasi antar pribadi lainnya (Gribson, 2000).


                                                                     Page | 8
      Percakapan didefinisikan dalam arti yang sama dengan unsure
dasar perspektif etnometodologi: “percakapan adalah aktivitas interaksi
yang menunjukkan aktivitas yang stabil dan teratur yang merupakan
kegiatan yang dapat dianalisis”. Meski percakapan mempunyai aturan
dalam prosedur keduanya tak menentukan apa yang dikatakan, tetapi
lebih digunakan untuk “menyempurnakan percakapan”. Sasaran perhatian
percakapan terbatas pada mengenai apa yang dikatakan dalam
percakapan itu sendiri dan bukan kekuatan eksternal yang membatasi
percakapan. Percakapan dipandang sebagai tatanan internal sekuensial.
(George Ritzer, 2007: 326-327)
      Sasaran     sentral    kajian   etnometodologi   adalah   menganalisis
penalaran sosiologis praktis dan melaluinya aktivitas sosial diatur dan
dijelaskan.   Perhatian     ini   mengsumsikan   gagasan    bahwa    semua
ciri scenic dari interaksi sosial muncul sesekali dan dibentuk sebagai
prestasi praktis, di mana melaluinya masing-masing pihak menunjukkan
kompetensi mereka dalam manajemen praktis dalam tatanan sosial.
Sebagai analisis, minat kita adalah untuk menerangkan, dalam kaitannya
dengan pemanfaatan, metode yang dengannya keteraturan semacam itu
dapat di tampilkan, dikelola, dan dikenali oleh anggotanya. (Ramlan
Surbakti, 2010: 187).
      Bagi seorang ahli etnometodologi asumsi-asumsi demikian secara
substansial tidak ada dan di dalam masing-masingnya, setiap kelas
berkonspirasi secra bersama-sama, guna           memberikan kesan bahwa
mereka ada. Kita sedang “membuat” sebuah kelas-mahasiswa saya
sedang membuat dirinya sebagai seorang mahasiswa dan saya sedang
membuat diri saya sebagai seorang dosen. Setiap interaksi sosial yang
stabil adalah sebuah prestasi, sesuatu yang sudah dikerjakan, juga
etnometodologi mencari tahu bagaimana hal itu dikerjakan. Karena itu
nama ologi (studi mengenai), ethno (orang-orang) method(metode) guna
menciptakan keteraturan sosial. (George Ritzer, 2007 : 138).




                                                                    Page | 9
2.4. Etnometodologi dalam Penelitian Kuantitatif
      Etnometodologi       berupaya     untuk     memahami          bagaimana
masyarakat memandang, menjelaskan dan menggambarkan tata
hidup mereka sendiri. Teori ini berusaha memahami bagaimana
orang-orang mulai melihat , menerangkan, dan menguraikan
keteraturan    dunia     tempat    mereka      hidup.     Seorang      peneliti
kuantitatif   yang     menerapkan      sudut     pandang      ini    berusaha
menginterprestasikan       kejadian     dan     peristiwa    social     sesuai
dengan        sudut      pandang        dari      objek       penelitiannya.
(www.pustaka.ut.ac.id)

2.5. Etnometodologi dalam Penelitian Kualitatif

      Metode kualitatif seperti yang didefinisikan oleh Tylor dan
Bogdan adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif. Arti deskriptif itu sendiri mengacu pada ucapan atau tulisan dan
perilaku yang dapat diamati dari orang – orang (aktor/subyek) itu
sendiri. Pendekatan ini langsung menunjukan plot daripada sang
actor dalam setting itu secara keseluruhan, individu dalam
batasan yang sangat holistik (Furchon, 1992:19-20 & Maleong,
2004:4).
      Jane Richie mengdefinisikan penelitian kualitatif sebagai upaya
untuk menyajikan dunia social dan perspektif – perspektif di dalam dunia,
dari segi konsep, perilaku, persepsi dan persoalan manusia yang
diteliti (Maleong, 2004:6).         Definisi ini mengajak kita untuk
memahami hubungan antara etnometodologi dan kualitatif.
      Dalam        kerangka       peneltian    kualitatif,   etnometodologi
berperan sebagai sebuah landasan teori dalam metode tersebut
(Maleong, 2004:14-24). Seperti yang diketahui etnometodologi berkutat
pada studi dunia subyektif tentang             kesadaran, persepsi dan
tindakan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan social
sesuai dengan kaidah penelitian kualitatif. Persamaannya adalah



                                                                      Page | 10
sama-sama menekankan pada dunia subyektif dengan fisiografi
social yang dilibatinya.
      Sementara fenomenologi menekankan studi mereka pada individu
itu sendiri. Fenomenologi berusaha memahami perilaku manusia dari
kerangka berpikir pelaku itu sendiri. Jack Douglas, seorang etnometodolog
menuliskan bahwa : “kekuatan yang menggerakan manusia sebagai
manusia bukan sebagai badan yang wagag... adalah sesuatu yang berarti.
Kekuatan-kekuatan itulah yang disebut gagasan, perasaan dan motif yang
internal.” (sebagaimana yang dikutip Furchan, 1992 :18).
      Perbedaan paradigma ini kemudian serta-merta mempengaruh
metodologi yang dipakai oleh masing-masing aliran terebut. Kaum
positivis di dalam studi atau penelitiannya dilalui dengan metode
kuesioner, survei, inventori yang menghasilkan data kuantitatif. Sebaliknya
kaum fenomenologis mencari pemahaman lewat metode kualitatif lewat
metode participant observation, open-ended interviewing dan dokumen
pribadi. Terdapat anggapan bahwa penelitian yang dilakukan terhadap
keluarga dan komunitas di Eropa oleh Frederick LePlay pada abad XIX
adalah asal mula penelitian kualitatif. Akan tetapi penggunaan metode
kualitatif sendiri menjadi populer di dunia sosiologi Amerika yang
dipelopori oleh Sekolah Chicago.
      Metode kualitatif seperti yang didefenisikan oleh Bogdan dan Tylor
adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskritif : ucapan atau
tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari orang-orang (subjek) itu
sendiri. Pendekatan ini langsung menunjukkan setting dan individu-
individu dalam setting itu secara keseluruhan, individu dalam batasan
yang sangat holistik (Furchon, 1992 : 19-20 & Maleong, 2004 : 4).
Sementara Jane Richie mendefenisikan penelitian kualitatif sebagai upaya
untuk menyajikan dunia sosial, dan perspektif-perspektif di dalam dunia,
dari segi konsep, perilaku, persepsi dan persoalan tentang manusia yang
diteliti (Maleong, 2004 : 6). Dan Maleong sendiri membatasi penelitian
kualitatif sebagai penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena


                                                                 Page | 11
tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi,
motivasi, tindakan dan lain-lain secara holstik dan dengan cara deskripsi
dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang
alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Maleong,
2004 : 6)
        Defenisi Maleong ini tegas menghantar kita untuk melihat
hubungan antara penelitian kualitatif fan etnometodogi. Etnometodologi
sebagai studi tentang praktek sosial keseharian yang diterima secara
taken for granted, sebagai pengungkapan terhadap dunia akal sehat,
dunia yang digeluti individu dalam kesehariannya jelas memiliki hubungan
yang erat sekali dengan metode penelitian kualitatif itu sendiri. Dalam
kerangka penelitian Kualitatif, etnometodologi diposisikan sebagai sebuah
landasan teoritis dalam metode tersebut ( Maleong, 2004, 14, 24).
Etnometodologi sebagai sebuah studi pada dunia subjektif, tentang
kesadaran, persepsi dan tindakan individu dalam interaksinya dengan
dunia sosial yang ditempatinya sesuai dengan pokok penelitian kualitatif
yang juga menekankan pada dunia subjektif dengan setting sosial yang
dilibatinya.


2.6. Keunggulan dan Kelemahan Etnometodologi

        Dalam      penggunaan         metode     etnometodologi         dijumpai
beberapa keunggulan dibandingkan metode lainnya, diantaranya
(a) Longitudinal: sebagai suatu metode observasi yang sedang
berlangsung,              etnometodologi              dapat          merekam
perubahanperubahan             apa    yang     terjadi,   dan    tidak     harus
menyandarkan diri pada ingatan partisipan seperti rekaman
dalam       penelitian    survey     cross   sectional;    (b)   Baik    prilaku
nonverbal        maupun         verbal,      keduanya       dipelajari      oleh
etnometodologi;          (c)         Etnometodologi       memberikan        satu
pemahaman tentang bagaimana narasumber menyadari atau
merasa benar-benar dalam keadaan sadar dan mengerti terhadap


                                                                        Page | 12
daftar      pertanyaan          yang      ada     dan       bagaimana          mereka
menjawabnya.
         Penelitian ini memberikan bukti yang bermanfaat bagi
peneliti dalam menganalisis ‘tidak ada respons’ seperti sering
dialami oleh penelitian survey; (d)               Etnometodologi memberikan
satu     pemahaman             tentang     kekonsistenan        reliabilitas     yang
terkadang didapat lewat koder-koder (penyandi) yang mengikuti
aturan akal sehatnya.
         Disamping memiliki keunggulan, etnometodologi                        memiliki
kelemahan      diantaranya         (a) Produk:           Etnometodologi         bukan
merupakan pilihan yang baik untuk meneliti dan mempelajari
produk-produk sosial. Misalnya dalam melakukan penelitian tidak
seharusnya         meneliti      tentang     sikap      etnis   tertentu       dengan
menggunakan etnometodologi, meskipun bisa menggunakannya
untuk mempelajari proses terjadinya atau berasalnya sikap tadi;
(b) Studi dalam skala luas: Sikap masyarakat dalam skala luas
lebih     cocok     diteliti     dengan     menggunakan            metode       survey
dibandingkan dengan              etnometodologi. Disamping itu, memang
sikap     adalah     produk      yang     hanya      baik   jika   diteliti    dengan
menggunakan metode penelitian survey, atau metode lain yang
bukan etnometodologi


III.     Pendekatan Etnografi

         Etnografi berasal dari budaya anthropology. (Lawrence Neuman.,
1998 :282). Etno berarti orang atau bangsa, sedangkangraphy mengacu
pada menggambarkan. Jadi etnografi berarti menggambarkan suatu
budaya dan cara lain memahami cara hidup dari sudut pandang asli. Hal
ini berarti, peneliti yang menggunakan penelitian etnografi berusaha
memahami budaya atau aspek-aspek budaya melalui serangkaian
pengamatan dan penafsiran prilaku manusia yang berinteraksi dengan



                                                                              Page | 13
manusia lainnya. Etnografi secara modern diperkenalkan oleh Franz Boas
dan Bronislaw Malianowski, sebelumnya etnografi digunakan untuk
memberikan kesaksian dari penjelajah, misionaris, dan pencarian data
pejabat kolonial. (Roice Singleton,1988: 308)
      Etnografi mengasumsikan bahwa seorang peneliti dalam membuat
kesimpulan, melampaui apa yang dilihat atau dikatakan secara eksplisit
dari apa yang dimaksud atau tersirat. Dengan kata lain, pengamatan tidak
dilakukan   dipermukaan    tetapi dilakukan     dengan   pengkajian   yang
mendalam. Antropolog Clifford Geertz menyatakan bahwa bagian penting
dari etnografi adalah deskripsi yang kaya, penjelasan yang spesifik dan
rinci (sebagai lawan dari ringkas, standar, dan general). (Lawrence
Neuman, 1998:367) Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil tersebut
seorang peneliti harus dapat hidup secara khusus dalam waktu yang lama
di dalam suatu komunitas sosial.
      Etnografi oleh Spradley dan McCurdy didefinisikan sebagai “Tugas
menggambarkan kebudayaan tertentu.” Sebagaimana telah dijelasakan di
atas, Etnografi adalah metode utama yang digunakan oleh antropolog
budaya untuk mempelajari kebudayaan yang relatif primitif. Namun,
metode etnografi juga dapat digunakan dalam masyarakat yang kompleks
seperti kelompok-kelompok dalam masyarakat kota yang memiliki
kelompok subkultur tersendiri. Sejumlah contoh lain dari etnografi
perkotaan sebagaimana dilakukan oleh Spradley dan McCurdy (1972),
termasuk etnografi dari sebuah toko perhiasan perkotaan, orang tua,
pramugari maskapai penerbangan, dan pemadam kebakaran. (Kanneth D.
Bailey, 1982: 255).
      Patton mengutip pendapat Agar, menegaskan bahwa metode
etnografi dalam antropologi medern digunakan untuk mempelajari
masyarakat kontemporer dan masalah-masalah sosial, seperti kecanduan.
(Michael Quinn Patton.,1998:68)
      Karena tujuan dari metode etnografi untuk menggambarkan budaya
tertentu, etnografi pada umumnya hanya memiliki beberapa hipotesis dan


                                                                Page | 14
tidak ada kuesioner terstruktur. Bahkan, menurut Flood seorang peneliti
yang menggunakan penelitian etnografi tidak wajib menyusun kerangka
teori terlebih dahulu. Peneliti tidak mengetahui dengan persis hasil dari
sebuah penelitian, peneliti dapat menampilkan pernyataan teoritis baru
saat proses peneltian berlangsung. Gaya bergulir dalam melahirkan teori
ini disebut Flood “organisational epistemologi”.( Sulistyowati Irianto dan
Lim Sing Meij, 2009: 198).
      Tujuan penelitian etnografi adalah untuk menggambarkan budaya
atau subkultur dengan serinci mungkin, termasuk bahasa, adat istiadat,
nilai-nilai, upacara keagamaan, dan hukum. Berarti secara umum
penelitian etnografi memiliki tujuan menemukan dan menggambarkan
budaya suatu masyarakat atau organisasi tertentu. Fokus penelitiannya
adalah pola-pola yang tercermin dalam sikap tidak dan prikelakuan
masyarakat atau organisasi yang diteliti. Adapun yang dicari dalam
penelitian ini berarti bukan hal yang tampak, melainkan yang terkandung
dalam hal yang nampak tersebut.
      Penelitian etnografi berfokus pada pertanyaan: “Apakah budaya
sekelompok orang”, maka metode utama ahli etnografi adalah observasi
dalam tradisi antropologi. (Michael Quinn Patton.,1998:67). Penelitian ini
merupakan penelitian lapangan yang dilakukan intensif di mana peneliti
terbenam dalam budaya yang diteliti. Hal ini berarti peneliti masuk dalam
budaya yang diteliti atau sering disebut dengan in depth studies. Gagasan
budaya merupakan inti etnografi. Asumsi penting penelitian etnografi
adalah bahwa setiap kelompok manusia secara bersama-sama untuk
jangka waktu tertehtu akan berkembang budaya. Budaya adalah
kumpulan pola perilaku dan keyakinan yang merupakan “standar untuk
memutuskan apa yang ada, standar untuk menentukan apa yang dapat,
standar untuk menentukan bagaimana seseorang merasa tentang suatu
hal, standar untuk memutuskan apa yang harus dilakukan tentang suatu
hal, dan standar untuk memutuskan bagaimana untuk melakukan hal itu”.
(Michael Quinn Patton.,1998:67).


                                                                Page | 15
        Umumnya penelitian etnografi mensyaratkan seorang peneliti yang
berpengalaman, peneliti harus dapat membenamkan dirinya dalam
budaya masyarakat yang ia teliti. Bahkan, tujuan peneliti dalam studi
etnografi sebenarnya untuk bersosialisai dirinya sendiri ke dalam budaya
yang ia mencoba untuk dijelaskan. Peneliti mencoba untuk melupakan
apa yang ia telah diajarkan oleh budaya sendiri dan menjadi bagian dari
budaya yang ia pelajari, bahkan hal ini menjadi masalah ketika ia kembali
kepada kebuadayaan semula. Jelas, tidak semua orang umumnya dapat
sepenuhnya bersosilisasi. Oleh karena itu, didalam kenyataannya suku,
masyarakat, atau subkultur yang dipelajari dapat tidak menerima
kehadiran peneliti (orang luar) dan tidak diperbolehkan menjadi bagain
kelompok tersebut secara penuh bahkan tidak diijinkan tinggal di antara
mereka.
        Hal ini berarti seorang yang akan melakukan penelitian etnografi
harus       memiliki    latar    belakang    pengetahuan       yang   menunjang
penelitiannya, mengetahui dengan jelas obyek yang akan diteliti atau
dipelajari. Peneliti juga harus mengetahi cara melakukan penelitian agar
diperoleh hasil yang sesuai dengan situasi yang sebenarnya. Untuk
mendapatkan data yang lengkap dan mendalam tentang apa yang diteliti,
peneliti harus terjun dalam kehidupan masyarakat yang diteliti, dan
sebagaimana telah di jelasakan diatas sering membutuhkan jangka waktu
yang panjang.
        Etnografi pada hakikatnya bertujuan untuk menguraikan budaya
tertentu secara holistik, (Earl babbie, 1998: 282). yaitu aspek budaya baik
spiritual     maupun       material.    Uraian      tersebut   kemudian       akan
mengungkapkan pandangan hidup dari sudut pandang penduduk
setempat. Selain analisis data yang dilakukan secara holistic -bukan
parsial, ciri-ciri lainnya dari penelitian etnografi adalah: (a) sumber data
bersifat     ilmiah,   artinya   peneliti   harus   memahami     gejala     empirik
(kenyataan) dalam kehidupan sehari-hari; (b) peneliti sendiri merupakan
instrumen yang paling penting dalam pengumpulan data; (c) bersifat


                                                                          Page | 16
menggabarkan (deskripsi), artinya, mencatat secara teliti fenomena
budaya yang dilihat, dibaca, lewat apa pun termasuk dokumen resmi,
kemudian mengkombinasikan, mengabstrakkan, dan menarik kesimpulan;
(d) digunakan untuk memahami bentuk-bentuk tertentu (shaping), atau
studi kasus; (e) analisis bersifat induktif; (f) di lapangan, peneliti harus
berperilaku seperti masyarakat yang ditelitinya; (g) data dan informan
harus berasal dari tangan pertama; (h) kebenaran data harus dicek
dengan dengan data lain (data lisan dicek dengan data tulis); (i) orang
yang dijadikan subyek penelitian disebut partisipan (buku termasuk
partisipan juga), konsultan, serta teman sejawat; (j) titik berat perhatian
harus pada pandangan emik, artinya, peneliti harus menaruh perhatian
pada masalah penting yang diteliti dari orang yang diteliti, dan bukan dari
etik; (k) dapat menggunakan data kualitatif maupun kuantitatif, namun
sebagian besar menggunakan kualitatif. Berdasarkan ciri-ciri tersebut,
dapat dipahami bahwa etnografi merupakan model penelitian budaya
yang khas.
      John Lofland menggambarkan unsur-unsur kunci dalam strategi
penelitian etnografi, yakni: (Earl babbie, 1998: 282). Generic Propositions.
Ahli etnografi pada akhirnya berkomitmen untuk membangun proposisi
umum mengenai pola-pola kehidupan sosial manusia. Beberapa pola-pola
ini adalah deskriptif (seperti frekuensi kejadian tertentu) dan penjelasan
(seperti apa yang menyebabkan beberapa jenis perilaku). Unfettered
Inquiry. Peneliti lapangan menunjukkan bahwa pada dasarnya memiliki
pandangan bahwa segala sesuatu adalah permainan yang adil.
Dan, Deep Familiarity. Sedapat mungkin peneliti menempatkan diri pada
posisi orang yang ingin dipahami.
      Ada 2 (dua) pijakan teoritis yang memberikan penjelasan tentang
model etnografi, yiatu interaksi simbolik dan aliran fenomonologi.
(Bambang Mudjiyanto, 2009: 81) Menurut Spradley dalam teori interaksi
sibolik, budaya dipandang sebagai sistem simbolik dimana makna tidak
berada dalam benak manusia, tetapi simbol dan makna itu terbagi dalam


                                                                  Page | 17
aktor sosial (di antara, bukan di dalam, dan mereka adalah umum, tidak
mempribadi).
       Budaya adalah lambang-lambang makna yang terbagi (bersama).
Budaya juga merupakan pengetahuan yang didapat seseorang untuk
menginterpretasikan     pengalaman      pengalaman     dan    menyimpulkan
perilaku sosial. Teori ini mempunyai tiga premis, yaitu (1) tindakan
manusia terhadap sesuatu didasarkan atas makna yang berarti baginya,
(2) makna sesuatu itu diderivasikan dari atau lahir di antara mereka dan
(3) makna tersebut digunakan dan dimodifikasi melalui proses interpretasi
yang digunakan manusia untuk menjelaskan sesuatu yang ditemui.
       Ketiga premis ini kemudian dikembangkan menjadi ide-ide dasar
dari interaksi simbolik. Menurut Poloma ide-ide dasar itu menyebutkan
bahwa (a) masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi dan
membentuk apa yang disebut organisasi atau struktur sosial (b) interaksi
yang berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan manusia lain
ini bisa merupakan non-simbolik bila mencakup stimulus respon yang
sederhana, ataupun simbolik mencakup “penafsiran tindakan”; (c) obyek
itu sendiri tidak memiliki makna intrinsik, makna lain merupakan produk
interaksi simbolik, artinya dunia obyek “diciptakan, disetujui, ditransformir,
dan dikesampingkan” lewat interaksi simbolik; (d) bahkan manusia sendiri
tidak mengenal obyek eksternal, mereka dapat melihat dirinya sebagai
obyek, pandangan hidup terhadap dirinya ini lahir saat proses interaksi
simbolik (e) tindakan manusia itu merupakan tindakan interpretatif yang
dibuat oleh manusia itu sendiri, dan (f) tindakan tersebut saling dikaitkan
dan disesuaikan oleh anggota-anggota kelompok, dan menjadi tindakan
bersama.
       Penelitian etnografi dengan landasan pemikiran fenomenologi
menurut Michael H. Agar dan Giddens adalah inti dari proses mediasi
kerangka pemaknaan. Hakekat dari suatu mediasi tertentu akan
bergantung dari hakekat tradisi dimana terjadi kontak selama penelitian
lapangan.


                                                                   Page | 18
        LeCompte dan Schensul menjelaskan langkah-langkah umum yang
dapat diterapkan dalam penelitian etnografi: (1) Temukan informan yang
tepat dan layak dalam kelompok yang dikaji; (2) Definsikan permasalahan,
isu, atau fenomena yang akan dieksplorasi; (3) Teliti bagaimana
masingmasing individu menafsirkan situasi dan makna yang diberikan
bagi mereka; (4) Uraikan apa yang dilakukan orang-orang dan bagaimana
mereka mengomunikasikannya; (5) Dokumentasikan proses etnografi; (6)
Pantau implementasi proses tersebut; (7) Sediakan informasi yang
membantu menjelaskan hasi riset.


Kelebihan dan kelemahan Etnografi
        Berdasarkan penjelasan pada sub bagian diatas, dapat ditarik
kesimpulan kelebihan dan kelemahan penelitian etnografi, yakni:


1.    Kelebihan
        Salah satu aspek yang paling berharga yang dihasilkan dari
penelitian etnografi adalah kedalamannya. Karena peneliti berada untuk
waktu yang lama, peneliti melihat apa yang dilakukan orang serta apa
yang mereka katakan. Peneliti dapat memperoleh pemahaman yang
mendalam tentang orang-orang, organisasi, dan konteks yang lebih
luas.[36] Peneliti lapangan mengembangkan keakraban yang intim
dengan dilema, frustrasi, rutinitas, hubungan, dan risiko yang merupakan
bagian dari kehidupan sehari-hari. Kekuatan yang mendalam dari
etnografi adalah yang paling “mendalam” atau “intensif”. Dari pengetahuan
tentang apa yang terjadi di lapangan dapat memberikan informasi penting
untuk    perumusan    asumsi    penelitian. Secara   singkat   keuntungan
pengunaan penelitian etnografi dijelaskan di bawah ini, sebagai beriku:
 Mengasilkan pemahaman yang mendalam. Karena yang dicari dalam
     penelitian ini bukan hal yang tampak, melainkan yang terkandung
     dalam hal yang nampak tersebut




                                                                  Page | 19
 Mendapatkan atau memperoleh data dari sumber utama yang berarti
     memiliki tingkat falidasi yang tinggi.
 Mengasilkan deskripsi yang kaya, penjelasan yang spesifik dan rinci.
 Peneliti berinteraksi langsung dengan masyarakat sosial yang akan
     diteliti.
 Membatu           kemapuan      beinteraksi    karena     menutu     kemampuan
     bersosialisai dalam budaya yang ia coba untuk dijelaskan.
2.      Kelemahan
         Salah satu kelemahan utama penelitian etnografi adalah bahwa
dibutuhkan lebih lama daripada bentuk penelitian lainnya. Tidak hanya
membutuhkan waktu lama untuk melakukan kerja lapangan, tetapi juga
memakan waktu lama untuk menganalisis materi yang diperoleh dari
penelitian.        Bagi   kebanyakan         orang,   ini    berarti       tambahan
waktu. Kelemahan lain dari penelitian etnografi adalah bahwa lingkup
penelitiannya tidak luas. Etnografi sebuah studi biasanya hanya satu
organisasi budaya. Bahkan keterbatasan ini adalah kritik umum dari
penelitian etnografi, penelitian ini hanya mengarah ke pengetahuan yang
mendalam konteks dan situasi tertentu. Secara singkat kelemahan
pengunaan penelitian etnografi dijelaskan di bawah ini, sebagai beriku:
 Menutu seorang peneliti yang memiliki latar belakang pengetahuan
     yang kuat, mengetahui dengan jelas subyek yang akan diteliti atau
     dipelajari.
 Perspektif pengkajian kemungkinan dipengaruhi oleh kecenderungan
     budaya peneliti.
 Membutuhkan jangka waktu yang panjang untuk mengumpulkan data
     dan mengelola data.
 Pengaruh budaya yang diteliti dapat mepengaruhi psikologis peneliti,
     ketika peneliti kembali kebudaya asalnya.
 Peneliti         yang   tidak   memiliki      kemapuan     sosialisai,    terdapat
     kemungkinan penolakan, dari masyarakat yang akan diteliti.




                                                                           Page | 20
IV. Pendekatan Fenomenologi
       Fenomenologi secara etimologi berasal dari kata “phenomenon”
yang berarti realitas yang tampak, dan “logos” yang berarti ilmu. Sehingga
secara terminology, fenomenologi adalah ilmu berorientasi untuk dapat
mendapatkan penjelasan tentang realitas yang tampak. (Soerdjono
Soekanto, 1993 : 68).     Fenomena yang tampak adalah refleksi dari
realitas yang tidak berdiri sendiri karena ia memiliki makna yang
memerlukan penafsiran lebih lanjut. Fenomenologi menerobos fenomena
untuk dapat mengetahui makna (hakikat) terdalam dari fenomena-
fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Tokoh-tokoh fenomenologi:
   Edmund Husserl
   Alfred Schutz
   Peter L. Berger
       Ahli teori sosiologi-fenomenologi yang paling menonjol adalah
Alfred Schutz, seorang murid Husserl yang berimigrasi ke Amerika Serikat
setelah munculnya fascism di Eropa, melanjutkan karirnya sebagai bankir
dan guru penggal-waktu (part-time). Dia muncul di bawah pengaruh
filsafat pragmatis dan interaksionisme-simbol; barngkali cara terbaik untuk
mendekati karyanya adalah melihatnya sebagai bentuk interaksionisme
yang lebih sistematik dan tajam. Akan tetapi, dalam karya klasiknya yang
berjudul The Phenomenology of the Social World, bagaimanapun, dia
tertarik dengan penggabungan pandangan fenomenologi dengan sosiologi
melalui suatu kritik sosiologi terhadap karya Weber. ( Muhammad Zeitlin,
1998:128)
       Dia mengatakan bahwa reduksi fenomenologis, pengesampingan
pengetahuan kita tentang dunia, meninggalkan kita dengan apa yang ia
sebut sebagai suatu “arus-pengalaman” (stream of experience). Sebutan
fenomenologis berarti studi tentang cara dimana fenomena hal-hal yang
kita sadari muncul kepada kita, dan cara yang paling mendasar dari
pemunculannya adalah sebagai suatu aliran pengalaman-pengalaman


                                                                 Page | 21
inderawi yang berkesinambungan yang kita terima melalui panca indera
kita. (Ibid, 129 )
        Fenomenologi tertarik dengan pengidentifikasian masalah ini dari
dunia pengalaman inderawi yang bermakna, suatu hal yang semula yang
terjadi di dalam kesadaran individual kita secara terpisah dan kemudian
secara kolektif, di dalam interaksi antara kesadaran-kesadaran. Bagian ini
adalah suatu bagian dimana kesadaran bertindak (acts) atas data
inderawi yang masih mentah, untuk menciptakan makna, didalam cara
yang sama sehingga kita bisa melihat sesuatu yang bersifat mendua dari
jarak itu, tanpa masuk lebih dekat, mengidebtifikasikannya melalui suatu
proses     dengan     menghubungkannya        dengan      latar   belakangnya.
(Soerdjono Sukanto, 1993 : 69)
        Hal ini mengantarkan kita kepada salah satu perbedaan yang jelas
antara fenomenologi dan bentuk lain dari teori tindakan: “tindakan” sejauh
ini mengacu pada tindakan manusi dalam berhubungan satu denan yang
lain dan lingkungannya. Bagi fenomenologi juga sama halnya, bahkan
tindakan terutama ditujukan kepada proses internal dari kesadaran
(manusia),     baik     individualataupun   kolektif.   Sekali    tindakan   itu
ditransformasikan ke dalam fikiran kita, ia menjadi sulit untuk keluar lagi
dan ini mempunyai konsekuensinya pada usaha untuk memperluas
sosiologi-fenomenologis menjadi sebuah teori tentang masyarakat seperti
juga tentang pribadi.


        Menurut Schutz, cara kita mengkonstruksikan makna diluar dari
arus utama pengalaman ialah melalui proses tipikasi. Dalam hal ini
termsuk membentuk penggolongan atau klasifikasi dari pengalaman
dengan melihat keserupaannya. Jadi dalam arus pengalaman saya, saya
melihat bahwa objek-objek tertentu pada umumnya memiliki ciri-ciri
khusus, bahwa mereka bergerak dari tempat ke tempat, sementara
lingkungan sendiri mungkin tetap diam. (Muhammad Zeitlin, 1998 : 129-
130 )


                                                                     Page | 22
      Jadi, kita menentukan apa yang Schutz sebutkan sebagai
“hubungan-hubungan makna” (meanings contexs), serangkaian kriteria
yang dengannya kita mengorgnisir pengalaman inderawi kita ke dalam
suatu dunia yang bermakna. Hubungan-hubungan makna iorganisir
secara bersama-sama, juga melalui proses tipikasi, ke dalam apa yag
Schutz namakan “kumpulan pengetahuan” (stock of knowledge).
      Kalau kita tetap pada tingkat kumpulan pengetahuan umum
(commomsense knowledge), kita diarahkan kepada studi-studi yang
berlingkup kecil, mengenai situasi-situasi tertentu, yang merupakan jenis
karya empiris. Dimana interaksionisme simboliklah yang lebih unggul.
Secara umum karya Schutz telah digunakan untuk memberikan konsep-
konsep kepekaan yang lebih lanjut, sering secara implicit. Saya kira tiada
satupun studi empiris yang menggunakannya secara sistematik kecuali
melalui pengembangan etnometodologi. Namun demikian, Peter Berger
telah mencoba secara sistematis untuk mengembangkan fenomenologi
menjadi suatu teori mengenai masyarakat. (George Ritzer, 2007 : 346).
      Sosiologi-fenomenologi memiliki kemampuan tertentu untuk bersifat
sangat menarik dan sekaligus membosankan. Khususmya di dalam
fungsionalisme   structural,   ia   merupakan   suatu   perubahan     yang
menyegarkan, yang bergerak dari kategori-kategori teoritis yang sangat
abstrak, yang sedikit sekali keitannya dengan dunia sosial yang kita alami,
dan langsung masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. ( Ibid, 345)
      Contoh teori fenomenologi dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini
sepasang pemuda-pemudi tidak lagi mempunyai rasa malu dalam hal
berpacaran. Banyak di jumpai misalkan di taman, mereka tidak malu
bermesraan atau bahkan beradegan hal yang tidak senonoh seperti
ciuman di tempat umum. Hal itu merupakan suatu fenomena atau suatu
realitas yang nampak pada saat ini dan menjadi suatu yang tidak di
anggap tabuh lagi.




                                                                 Page | 23
                            DAFTAR PUSTAKA



Babbie, Ear, 1998. l The Practice of Social Research. Internasional
              Thomson Publishing,.

Bailey, Kanneth D. 1982. Methods of Social Research. New York: A
              Division of Macmillan Publishing Co. Inc, 1982.

http://www.balitbang.depkominfo.go.id/addfile/jurnal/BPPKI%20jakarta/Maj
              alah%20Vol%205.%20No%202%202009/7%20etno%20dum
              my.pdf

Mudjiyanto,    Bambang      2009.    “Metode   Etnografi   dalam   Penelitian
              Komunikasi”, Komunikasi Massa. Volume 5 Nomor 1

              Neuman, W. Lawrence, 2003. Social Research Methods
              (Qualitative and Quantitative Approaches). Boston: Allyn and
              Bacon.

Paul Jhonson, Doyle. 1986. Teori Sosiologi Klasik Dan Modern. Jakarta:
              Gramedia Pustaka Utama.

Patton, Michael, 1990.. Qualitative Evalution And Research Methods,
              London: Sage Publication.

Ritzer, George. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana

Singleton, Roice ed.all, 1988. Approaches to Social Research. New York:
              Oxford University Press.

Soekanto, Soerjono. 1993. Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur
              Masyarakat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Surbakti, Ramlan. 2010. Anatomi dan Perkembangan Teori Sosial.
              Malang: Aditya Media Publishing.

Zeitlin, Muhammad. 1998. Memahami kembali Sosiologi. Yogyakarta:
              Gadjah MadaUniversity Press.



                                                                   Page | 24

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:2703
posted:3/14/2012
language:Malay
pages:24