Docstoc

Dosa Besar

Document Sample
Dosa Besar Powered By Docstoc
					Dosa Besar
Hadist riwayat Abdullah ra., ia berkata:

Aku bertanya kepada Rasulullah saw: Dosa apakah yang paling besar menurut Allah?
Rasulullah saw. bersabda: Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang
menciptakanmu. Aku berkata: Sungguh, dosa demikian memang besar. Kemudian apa
lagi? Beliau menjawab: Engkau membunuh anakmu karena takut miskin. Aku tanya
lagi: Kemudian apa? Rasulullah saw. menjawab: Engkau berzina dengan istri
tetanggamu

Dosa-dosa yang Dilupakan Manusia

Tak terasa kita sudah berada di ujung fase sepuluh hari kedua bulan Ramadan. Fase
yang disebut maghfirah (ampunan). Beberapa hari lagi, kita masuk ke fase sepuluh
terakhir yakni itqun minannari (pembebasan dari api neraka).

Mumpung kita berada pada fase ampunan, sebaiknya dimanfaatkan untuk melakukan
taubat nasuha. Tobat sebenar-benarnya tobat, agar dosa-dosa kita diampuni Allah
SWT.

Berikut ini penulis ungkapkan sebagian kecil dari dosa-dosa manusia, yang kadang-
kadang luput dari perhatian sehingga ketika melakukannya merasa tidak berdosa,
antara lain :

1. Tidak bersuci setelah buang air kecil (kencing)

   Banyak orang setelah kencing tidak membasuhnya dengan air atau benda lain yang
   kering dan bersih (kertas tisu, batu, atau potongan kayu kering).

   Hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, mengungkapkan, Nabi Muhammad Saw
   lewat pada dua kuburan. Kedua penghuninya sedang disiksa, bukan karena
   melakukan dosa besar. Yang seorang tidak suka bersuci setelah buang air kecil,
   yang seorang lainnya lagi suka memprovokasi.

   Pada hadis lain, riwayat Imam ad Daruqutni, disebutkan : Tanazzahu minal bauli
   fainna ammata adzabil qabri minhu. Bersucilah dari air kencing, karena umumnya
   siksa kubur disebabkan oleh hal itu.

2. Kesaksian palsu dan sumpah palsu.

   Zaman sekarang, kesaksian palsu dan sumpah palsu sudah dianggap lumrah. Baik di
   tengah kehidupan biasa maupun di sidang-sidang pengadilan. Tujuannya adalah
   untuk memenangkan perkara, mendukung atau memojokkan seseorang, dan
   sebagainya. Padahal, kesaksian palsu termasuk dosa paling besar di antara dosa-
   dosa besar. Rasulullah Saw, bersabda, "Dosa terbesar di antara dosa-dosa besar
   adalah menyekutukan Allah, menyakiti kedua orang tua, perkataan dusta, dan
   kesaksian palsu". (Hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim).
3. Membual.

   Berkata-kata melebihi dari yang diketahuinya, menceriterakan sesuatu yang tak
   pernah diketahui dan tak pernah dikerjakannya, termasuk kategori membual (al
   kadzdzabu fi ghalibil aqwali). Orang pembual tidak akan mendapat petunjuk Allah
   (Alquran Surah Al Mu'min ayat 28), dan Allah SWT juga mengutuknya (Alquran Surah
   Ali Imron ayat 61, Adz Dzariyat ayat 10). Menurut Rasulullah Saw, seorang Muslim
   memiliki semua karakter, kecuali karakter pengkhianat dan pendusta (hadis
   riwayat Imam Ahmad).

   Rasulullah Saw menegaskan lagi, bahwa ada tiga golongan yang tidak diajak
   berbicara oleh Allah SWT. Salah satunya adalah penguasa yang membual (riwayat
   Imam Muslim).

4. Menganggap sesuatu mendatangkan sial

   Suka ada orang menganggap segala sesuatu sebagai pertanda mendatangkan sial,
   sehingga muncul sikap pesimis dan buruk sangka. Rasulullah mengategorikan hal itu
   sebagai syirik (riwayat Imam Turmudzi). Nabi Saw bersabda (hadis sahih riwayat
   Bukhari dan Muslim), bahwa tak ada penularan dan kesialan (la 'adwa wa la
   thirata). Yang ada justru kata-kata dan dugaan baik yang mengandung optimisme
   (al fa'lu).

5. Memberi dan menerima suap

   Suap atau sogok juga sudah dianggap lumrah. Hampir semua bidang kehidupan di
   negeri kita sekarang, tak pernah luput dari suap-sogok. Sehingga sogok-menyogok
   menjadi "kewajiban" dan "jalan sukses" untuk mencapai hasil. Padahal Allah SWT
   melaknat pelaku sogok-menyogok dan juga melaknat penerimanya. La'natullahi
   alar rasyi wal murtasyi (hadis sahih Imam Turmudzi).

6. Merasa aman dari siksa Allah

   Bebas melakukan perbuatan maksiat. Korupsi, sogok-menyogok, berjudi, mabuk-
   mabukkan, dll. Seolah-olah perbuatan itu tidak akan mendapat hukuman dari Allah
   SWT, karena merasa luput dari hukum manusia (dunia). Tidak ditangkap polisi,
   tidak dijatuhi vonis. Bahkan, lepas dari tuduhan dan tuntutan. Orang semacam itu,
   menurut Alquran, adalah orang-orang merugi (Alquran Surah Al A'raf ayat 99).
   Mereka akan mendapat azab yang tiba-tiba (Alquran Surah Al An'am ayat 44), dan
   mendapat siksa neraka (Alquran Surah Yunus ayat 7-8).

7. Korupsi

   Korupsi di negeri kita sudah dianggap pekerjaan "sambilan" dan "mulia". Apalagi
   jika mencapai triliunan rupiah dan dapat memberi bagian ke berbagai pihak.
   Istilahnya "korupsi berjemaah". Padahal, korupsi jelas-jelas sangat haram. Dosa
   besar. Walaupun hasil korupsi dizakatkan atau disedekahkan. Sabda Rasulullah
   Saw, dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan, "La yaqbalullahu
   shalatan bi ghairi thuhurin, wa la shadaqatun min ghululin. Allah tidak menerima
   salat tanpa wudu dan bukanlah sedekah jika hartanya diperoleh dari korupsi.***

H. Usep Romli H.M./sumber : Kitab "Al Kabair" Syekh Syamsuddin Muhammad adz



Apakah Dosa Syirik Tetap Tidak Diampuni Walau Bertaubat ?

Pertanyaan:

syirik adalah dosa yang tidak terampuni oleh Allah. tapi kalau kita mohon ampun
kepada Allah, apakah yang terjadi? jika Allah mengampuninya, lalu bagaimana
pengertian dari klausul Allah : "semua dosa akan diampuni oleh Allah kecuali dosa
syirik". apakah dengan demikian dosa-dosa lain bisa diampuni walau kita tidak
memohon ampun (dosa-dosa besar misalnya)?. Terima kasih. Allahummanshurnaa..

M Harry

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba�d.



Dosa syirik itu tidak diampuni adalah apabila seseorang berbuat syirik dan meninggal
sebelum meminta ampun. Bila dosa syirik itu dibawa mati, maka tidak akan diampuni
Allah SWT. Sedangkan dosa lainnya, bila sampai mati belum minta ampun, maka bila
Allah SWT menghendaki akan diampuninya dan bila tidak maka tidak diampuni.

Karena itu bila pernah melakukan perbuatan syirik, maka harus segera bertobat dan
minta ampun kepada Allah sebelum ajal menjemput. Karena bila sudah meninggal,
dosanya tidak ada harapan lagi untuk diampuni.

Demikian dijelaskan oleh At-Thabari dalam tafsir ayat surat An-Nisa` Allah berfirman :

�Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan syirik kepada-Nya dan
mengampuni selain syirik kepada siapa yang dikehendakinya�. (QS. An-Nisa : 48)



Hadaanallahu    Wa    Iyyakum     Ajma`in,    Wallahu          A`lam     Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
26/05/2006 09:42 WIB
Ketika Zina tak Lagi Dianggap Dosa Besar
[penulis: Zulkifli Arif | topik: Agama]


Kitab suci Al-Quran telah melarang perbuatan zina dengan sangat tegas. Dalam surah
Bani Israil (surah Al-Isra) ayat 32 Allah SWT berfirman: "Janganlah kamu sekalian
mendekati zina, karena sesungguhnya perbuatan zina itu merupakan fahisyah dan
jalan yang sangat buruk".


Pengertian fahisyah dipahami sebagai suatu perbuatan keji, kotor dan menjijikkan.
Sesungguhnya nafsu jahat yang ada dalam diri manusia selamanya mendorong orang
melakukan perbuatan jahat, mungkar dan dimurkai Tuhan. Tidak terkecuali siapapun
termasuk orang-orang salih bahkan para nabi sekalipun, sebagaimana diungkapkan oleh
nabi Yusuf alaihi as salam.


Nabi Yusuf AS, dalam surah Yusuf ayat 53 menegaskan bahwa dirinya tidak
terbebaskan membuat kesalahan, karena nafsu itu selalu menyuruh berbuat
kejahatan. Konon lagi manusia biasa, godaan demi godaan selalu saja melekat dengan
dirinya, tidak terkecuali berbuat zina. Apalagi ketika perbuatan keji ini sudah
dianggap ringan dan enteng, dapat dibayangkan kejahatan zina akan merajalela.


Kejahatan zina dapat terjadi dan menjangkiti semua lapisan dan golongan masyarakat.
Lebih-lebih jika kesempatan berbuat dan mencoba terbuka lebar, sebagaimana di
tempat-tempat lokalisasi resmi di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya,
dan kota-kota lainnya. Semoga bumi tercinta, Serambi Makah Nanggroe Aceh
Darussalam terbebaskan dari kejahatan zina ini.


Sebuah hasil penelitian di suatu kota pelajar di Tanah Air, sangat mengejutkan semua
pihak. Lip Wijayanto sang peneliti menyebutkan dalam hasil laporan penelitiannya,
97,05 % mahasiswi telah kehilangan keperawanannya, selama kuliah. Ruslan Ismail
Mage, menyebutkan sering terdengar dikalangan mahasiswa istilah “ayam
kampus”. Yaitu ditujukan kepada para mahasiswi yang berprofesi menjajakan
tubuhnya kepada sang hidung belang. Majalah kampus Retorika terbitan Senat
Mahasiswa Fisipol Unair menyebutkan jumlah ayam kampus di Unair Sendiri ada 0,02 %
dari total mahasiswi.


Terbanyak mereka (tidak disebutkan angka pasti) berasal dari Fakultas Ekonomi. Ada
40 orang mahasiswi FISIP sendiri. Dilaporkan pula sebanyak 5,7 % mahasiswi Fisip Unair
sebagai penganut sek bebas. Patut diprihatini apabila hidup bergelimang zina telah
menjadi trend dan telah melanda gaya hidup kaum intelektual. Para mahasiswa dan
mahasiswi adalah anak-anak bangsa calon pemimpin masa depan. Pupus sudah harapan
untuk membangun umat dan bangsa, apabila kebejatan moral dan akhlak telah
melanda hidup mereka. Ini semua terjadi ketika zina dianggap ringan dan enteng.
Sebagai akibat laju pembangunan dan industrialisasi tanpa diimbangi atau tidak diikuti
oleh pembangunan spiritual, keimanan dan agama yang tangguh, perzinaan juga akan
tumbuh subur seirama dengan laju pembangunan itu sendiri. Sebagai contoh
perkembangan industrialisasi di Pulau Batam, juga mengakibatkan berkembangnya
industri seks disini, secara besar besaran. Dikatakan industri perzinaan di sini
diramaikan oleh pendatang dari seluruh Indonesia, bahkan dari kawasan Asia Tenggara
lainnya. Sangat ironis memang, karena sesungguhnya bisnis perzinaan sudah
berlangsung lama di Republik ini.


Sehubungan dengan ini sekarang muncul istilah baru pekerja seks komersial (PSK),
sebagai penghalusan makna dan pelaku zina. Dengan istilah tersebut yang sangat
dirugikan sebenarnya adalah perempuan sendiri. Perzinaan itu dapat berlangsung
karena andil baik laki laki maupun perempuan.


Ajaran agama (Islam), akan dapat membentengi diri melakukan perbuatan bejat dan
terkutuk itu. Dalam sebuah hadist Nabi SAW, dijelaskan sebuah pandangan spiritual
tatkala Rasul Saw melakukan perjalanan mikraj. Rasulullab Saw menyaksikan
segerombolan manusia (laki-laki dan perempuan), memperebutkan piringan berisikan
daging. Di hadapan mereka tersedia dua piringan berisi daging. Sebuah piringan
berisikan daging yang gurih dan enak rasanya.


Satu piring lagi berisikan daging yang sudah busuk. Yang sangat mengherankan adalah
gerombolan manusia itu memperebutkan piring berisikan daging-daging yang sudah
berulat dan busuk itu. Inilah tamsilan bagi orang-orang selama hidup di dunia ini,
gemar melakukan perbuatan keji, kotor, dan berzina.


Di dunia mereka enggan melakukan nikah secara sah menurut syariat. Selalu asyik
mencari perempuan lacur, atau lelaki lacur. Daging yang rasanya enak tidak mau
dicicipi, daging yang berbau busuk yang suka disantapnya. Istri yang sah dan halal
dipergauli tidak disukai, tetapi berfoya-foya, pelesir dan mengikuti jalan setan itu
yang digemari.


Dalam pandangan spiritual lain tatkala Nabi Saw melakukan perjalanan mikraj, juga
dikisahkan suatu peristiwa lain yang sangat mengerikan pula. Rasulullah Saw
menyaksikan sekelompok manusia yang diikat dengan rantai api neraka, pada buah
dada mereka. Melalui alat kemaluan mereka keluar danur dan nanah yang berbau
busuk sekali. Demikian busuknya nanah tersebut, dikabarkan, penghuni neraka yang
lain mengeluh berat, dan mengharapkan mereka yang berbau busuk itu dipindahkan
jauh dari sisi mereka.


Dalam sebuah hadis lain Nabi SAW memperingatkan umatnya: “Siapa saja yang
berzina dengan seorang perempuan (tentu pula dengan suami orang, seorang lelaki)
sewaktu dibangkitkan dari kuburnya kelak, akan merasakan sangat kehausan.
Dalam sebuah hadis lain riwayat Imam Thabrani dari Ibnu Abbas Nabi bersabda:
Jauhilah dirimu dari melakukan perbuatan zina. Perbuatan zina itu mendatangkan
empat macam kecelakaan. Pertama hilang cahaya kebagusan raut wajahnya. Kedua
Allah akan menyempitkan rizkinya. Ketiga Allah sangat memurkainya. Keempat Allah
akan mengekalkannya dari siksaan azab neraka. Semoga semua kita akan terlindung
dari melakukan perbuatan bejat, nista, murka, dan terkutuk itu.


Seorang muslim yang sungguh-sungguh meyakini kebenaran Islam, tentu tidak akan
ragu-ragu terhadap ketentuan Allah dan rasul. Sang muslim itu akan beriman dengan
sepenuh hatinya dan jiwanya. Seorang muslim yang terus saja bergelimang dengan
perbuatan zina, atau melakukan maksiat lainnya, tentu karena akidahnya tidak murni.
Akidahnya masih goyang. Akidahnya belum mantap, bahkan akidahnya rusak
samasekali. Semoga kita tetap menjadi mukmin dan muslim sejati. Amin.


*) Penulis adalah Lektor Kepala, pengampu mata kuliah Pendidikan Agama pada UPT
MKU Universitas Syiah Kuala, Darussalam
Banda Aceh.




Ke Orang Pintar, Minta Agar Anak Yang Durhaka Menjadi Penurut

Pertanyaan:

assalammu'alaikum, ustad yang ingin saya tanyakan, apakah boleh seorang orang tua
datang ke orang pintar untuk menyembuhkan anaknya yang selalu durhaka dan mulai
kenal dunia malam agar kembali menjadi anak yang baik dan penurut?
apabila hal tsb ditentang oleh ajaran islam lalu sebaiknya apa yang mesti
dilakukan?walau telah dilakukan upaya segala macam ibadah pada Allah,spt sholat
malam, dzikir,puasa tp belum ada hasil.Apa ada yang kurang dari ibadah2 tersebut?
demikian atas jawaban kami ucapkan terima kasih.

wassalam,
aj
surabaya

Ajeng

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba�d.
Istilah `orang pintar` itu punya bias makna, namun biasanya sebutan itu identik
dengan dukun, paranormal, orang yang punya kekuatan ghaib, hamba jin dan
sejenisnya. Kalau yang mereka ini yang dimaksud dengan `orang pintar`, tentu sejak
niat mendatanginya hingga meminta pertolongan dari mereka pun sudah haram. Sebab
apa yang mereka lakukan itu tidak lepas dari praktek syirik mempersekutukan Allah
SWT. Padahal dosa syirik itu adalah dosa yang tidak akan pernah diampuni di akhirat,
selama di dunia ini pelakunya belum meminta ampun dan diampuni.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni
segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-
Nisa: 48)


Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan dengan Dia, dan dia
mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa
yang mempersekutukan dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-
jauhnya. (QS. Allah SWT-Nisa : 116)


Meskipun apa yang dimintakan kepadanya adalah hal-hal yang baik, namun karena
praktek orang pintar itu syirik, maka keharamannya jelas dan nyata.

Anak Durhaka

Agar seorang anak tidak menjadi durhaka kepada orang tuanya serta menjadi orang
baik-baik yang shalih, pendidikan agama sejak kecil adalah hal yang mutlak diberikan.
Dan pendidikan itu tidak boleh hanya sekedar formalitas belaka, namun harus
dicontohkan secara benar oleh kedua orang tuanya. Sebab pendidikan dengan contoh
nyata merupakan metode yang paling berhasil. Juga tidak boleh berhenti pada masa
anak-anak saja, tetapi pendidikan itu harus terus menerus dilakukan hingga anak itu
remaja dan dewasa.

Selama itu, kedua orang tua bertanggung-jawab dalam masalah pergaulan sang anak
dengan lingkungannya, termasuk dengan teman-temannya. Sebab biasanya, pergaulan
dengan lingkungan yang buruk inilah yang akan merusak semua nilai yang pernah
diajarkan.

Kalau anak itu sudah terlanjur dipengaruhi secara negatif oleh teman dan
linkungannya dan dibiarkan saja hingga menjadi parah, tentu menjadi kesalahan orang
tuanya juga. Dia bertanggung-jawab untuk mengembalikan anaknya ke jalan yang
benar.

Diantara caranya adalah dengan berdoa langsung kepada Allah SWT, meminta dan
memohon kepada Yang Maha Kuasa. Selain itu juga dengan mengajaknya berdialog
secara baik-baik, bukan dengan dimarahi atau dibentak-bentak. Langkah lainnya tentu
dengan mengusahakan lingkungan yang kondusif buat anak, sebab biasanya pengaruh
negatif itu datang dari lingkungan pergaulan yang buruk. Termasuk dalam hal ini
adalah pengaruh teman dekatnya. Upayakan agar dia bisa punya teman dekat dari
kalangan baik-baik, sehingga diharapkan bisa memberikan pengaruh yang positif.

Selain itu memang ada juga dengan cara hukuman, namun upayakan tidak dijadikan
prioritas utama. Sebab bila seseorang terlalu sering diancam dengan hukuman,
mungkin dia akan menjadi kebal.

Tapi datang ke dukun, paranormal, atau pemuja jin serta meminta-minta kepadanya
adalah tindakan yang sejak awal sudah salah. Itu bukan keputusan yang bijak dan jauh
dari penyelesaian. Alih-alih mendapatkan barakah, justru diancam dengan dosa syirik
yang tak terampuni. Nauzu billahi min zalik.

Hadaanallahu    Wa    Iyyakum     Ajma`in,    Wallahu         A`lam      Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.




http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-2.html


               KRITERIA DOSA BESAR MENURUT Al-QUR'AN DAN HADIS
                             Oleh : Burhan Djamaluddin

Di dalam ajaran Islam, dikenal adanya dosa besar dan dosa kecil. Namun tidak didapati
rincian dalam al-Qur'an dan Hadis, dua sumber agama Islam, tentang kesalahan apa
saja yang dikategorikan dosa besar dan dosa kecil.

Dalam al-Qur'an, misalnya surat al-Nisa' ayat 37, dan surat al-Najm ayat 32, disebut
kata kaba'ir dan kaba'ir al-ism. Menurut Muhammad Fuad Abd al-Baqi, hanya 3 ayat
dalam al-Qur'an yang mengandung kata kaba'ir atau kaba'ir al-ism. Dalam ayat-ayat
itu, yang disebut kaba'ir tidak jelas. Kata kaba'ir atau kaba'ir al-ism, yang biasanya
diterjemahkan dengan dosa besar dan muncul dalam al-Qur'an sebanyak 3 kali itu,
semuanya tidak menyebut kesalahan apa saja yang disebut dosa besar.

Hadis, yang fungsinya antara lain menjelaskan yang masih umum dalam al-Qur'an,
tidak banyak membantu kita untuk dapat memahami kesalahan apa saja yang disebut
dosa besar. Dalam Hadis, justeru yang terungkap hanya dosa-dosa yang paling besar
diantara dosa-dosa besar (akbar al-kaba'ir), yaitu syirik, durhaka kepada kedua orang
tua, saksi palsu, mundur dari medan perang melawan orang kafir, dan sihir. Jika ada
dosa paling besar, tentu ada dosa besar dan dosa kecil. Dengan demikian, perincian
dosa-dosa besar belum jelas adanya. Bahkan, ungkapan-ungkapan dalam al-Qur'an atau
Hadis yang mengacu kepada arti dosa-dosa besar belum jelas. Oleh karena itu, tulisan
ini mencoba mengungkap kriteria-keriteria dosa besar, baik melalui sumber pertama
(al-Qur'an) maupun sumber kedua (Hadis) Rasulullah, dengan cara menelusuri istilah
atau ungkapan yang digunakan dalam dua sumber ajaran Islam tersebut.

Sebelum dicoba diuraikan ungkapan-ungkapan yang mengacu kepada arti dosa besar
dalam al-Qur'an dan Hadis, terlebih dahulu dikemukakan beberapa ungkapan yang
biasa diterjemahkan dengan arti dosa dalam bahasa Indonesia.

Istilah-Istilah Dosa Dalam Al-Qur'an

Dalam al-Qur'an, terdapat sejumlah istilah atau kata yang biasa diterjemahkan dengan
dosa dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah tersebut ,misalnya: al-itsm, al-zanb, al-
khith'u, al -sayyi'at dan al-hub.

Kata al-itsm dengan berbagai bentuk kata jadiannya, menurut perhitungan Muhammad
Fuad 'Abd al-Baqi, muncul sebanyak 44 kali dalam al-Qur'an. Menurut Lewis Ma'luf,
kata al-itsm, berarti 'amila ma la yahillu (mengerjakan sesuatu yang tidak halal atau
tidak dibolehkan agama). Makna kata al-itsm, seperti diungkap Lewis Ma'luf, umum
sekali, yaitu mencakup semua amal yang dilarang agama. Padahal al-Qur'an, ketika
menunjuk hal-hal yang dilarang agama, misalnya zina, mengungkapnya dengan kata
fahisyat. Jadi, tidak selamanya hal-hal yang dilarang agama disebut al-itsm oleh al-
Qur'an. Berbeda dengan Lewis Ma'luf, Al-Raghib al-Asfahani, salah seorang pakar
bahasa al-Qur'an, mengemukakan bahwa kata al-itsm berarti sebutan bagi perbuatan-
perbuatan yang menghambat tercapainya pahala. Dengan kata lain, al-itsm adalah
sebutan bagi tindakan yang menghambat terwujudnya kebaikan.

Berbeda dengan Lewis Ma'luf dan al-Asfahani, al-Maraghi (penulis tafsir al-Maraghi),
mengatakan bahwa al-itsm sama dengan al-zanb. Sesuatu perkataan atau tindakan
baru dapat disebut al-itsm, demikian al-Maraghi, bila mendatangkan bahaya yang
menimpa jasmani, jiwa, akal, dan harta benda (materi). Ibn Mandhur, penulis kamus
Lisan al-Arab, lebih khusus lagi mengartikan al-itsm dengan al-khamar. Alasan yang
dikemukakan Ibn Mandhur ialah bait syair Arab yang berbunyi "syaribtu al-itsm hatta
dlalla 'aqliy, kazalika al-itsm tazhabu bi al-'uqul" (saya meminum al-ism, "al-khamar",
maka ingatanku hilang. Memang khamar dapat menghilangkan ingatan).

Dalam al-Qur'an, terdapat dua tindakan yang dapat dikategorikan al-itsm, yakni
meminum khamar dan bermain judi, seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah
ayat 219. Memang, mengartikan al-itsm dengan sesuatu yang menghambat perbuatan
baik, mendatangkan bahaya, dan bahkan secara eksplisit sama dengan khamar, seperti
yang dilakukan oleh ibn Mandhur, tidak jauh dari hakikat kata al-itsm, seperti yang
ditunjukkan oleh al-Qur'an. Seseorang yang meminum khamar dan bermain judi,
misalnya, dapat mengganggu aktifitas yang positif, dapat membahayakan kesehatan
jasmani dan rohani,dan dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan negatif lainnya.

Dari sejumlah kata al-itsm yang muncul dalam al-Qur'an, terlihat bahwa kata al-ism
digunakan untuk menyebut pelanggaran yang memiliki efek negatif dalam kehidupan
seseorang dan masyarakat.

Kata al-zanb dengan berbagai bentuk kata jadiannya disebut sebanyak 48 kali dalam
al-Qur'an. Menurut Lewis Ma'luf, kata al-zanb berarti tabi'ahu falam yufarriq israh
(menyertai dan tidak pernah berpisah). Kata al-zanab yang dirangkai dengan binatang,
misalnya zanab al-hayawan berarti ekor binatang. Ekor binatang biasanya terletak di
belakang, dekat dengan tempat keluarnya kotoran. Ekor, kalau begitu,
menggambarkan keterbelakangan atau kehinaan. Ungkapan zanab al-qawm berarti
masyarakat terkebelakang. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ungkapan al-zanb
yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan dosa, ditujukan kepada
perbuatan-perbuatan yang mengandung nilai kehinaan dan keterbelakangan, seperti
letak ekor binatang yang dekat dengan tempat keluarnya kotoran.

Diantara 48 kata al-zanb yang muncul dalam al-Qur'an adalah terdapat dalam surat Ali
Imran ayat 135. Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang meminta
ampun dari dosa (al-zanb), karena mengerjakan fahisyat, maka Allah akan
mengampuni dosa mereka. Kata fahisyat berarti al-zina atau ma yusytaddu qubhuh
min al-zunub (dosa yang paling jelek atau paling besar). Dengan demikian, dapat
dipahami bahwa kata al-zanb mengacu juga kepada perbuatan dosa yang paling jelek
termasuk zina. Apalagi, diantara ulama tafsir, misalnya al-Maraghi, memang
mengartikan kata fahisyat dalam ayat itu dengan arti zina.

Tindakan lain yang dikatakan al-zanb oleh al-Qur'an adalah mengubur hidup-hidup
anak perempuan, seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah. Tindakan mereka
disebutkan dalam surat al-Takwir ayat 9. Perbuatan masyarakat Jahiliyah seperti
diungkap dalam ayat itu termasuk perbuatan keji, sebab tindakan itu tidak mengenal
perikemanusiaan sama sekali. Dalam Islam, merusak tubuh manusia yang telah
meninggal, jika tidak ada kepentingan keilmuan atau kepentingan lain, diketegorikan
dosa, apalagi mengubur hidup-hidup manusia.

Mendustakan ayat-ayat Allah diungkap pula dengan kata al-zanb, seperti terdapat
dalam surat al-Anfal ayat 54. Hal ini, menurut pandangan Allah, karena dosa
mendustakan ayat-ayat Allah termasuk dosa paling besar. Dalam ajaran Islam, puncak
ajaran agama adalah tauhid (mengesakan Allah). Oleh karena ajaran tauhid paling
penting dalam ajaran Islam, maka orang-orang yang menganggap Allah memiliki anak,
seperti dalam surat al-Maidah ayat 18, dikatakan sebagai orang berdosa besar.

Dari sekian banyak ayat yang mengadung kata al-zanb dalam al-Qur'an, dapat dipahami
bahwa kata al-zanb digunakan untuk menyebut dosa terhadap Allah dan dosa terhadap
sesama manusia. Kebanyakan kata al-zanb muncul dalam bentuk yang sangat umum,
sehingga tidak dapat diketahui apakah dosa yang ditunjukkannya termasuk dosa besar
atau dosa kecil. Untuk mengetahui besar kecilnya dosa yang ditunjuk oleh kata al-zanb
harus didukung oleh petunjuk lain yang terdapat dalam konteks ayat yang memuat
kata al-zanb itu, atau petunjuk dari Hadis Rasulullah.

Al-khith'u juga termasuk salah satu kata yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia dengan arti dosa. Bentuk kata kerja madli (kata kerja lampau) dari kata al-
khith'u ialah khati'a. Penggunaan kata khathi'a fi dinih berarti salaka sabila khatha'in
amidan aw ghaira amidin (mengikuti jalan yang salah, baik disengaja maupun tidak
disengaja). Nampaknya, kata al-khith'u ini dianggap sama dengan kata al-zanb oleh
Lewis Ma'luf. Namun, Lewis menambahkan pendapat lain bahwa al-khith'u khusus
digunakan untuk mengungkap kesalahan yang tidak disengaja.
Berbeda dengan Lewis, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-khith'u dengan arti
melenceng dari arah yang sebenarnya. Pengertian melenceng seperti diungkap al-
Asfahani ini, memiliki beberapa kemungkinan. Pertama, niat mengerjakan sesuatu
yang salah, kemudian benar-benar dikerjakan. Kesalahan seperti ini dinamakan al-
khith'u al-tamm (betul-betul salah). Kedua, niat mengerjakan sesuatu yang boleh
dikerjakan tetapi yang dikerjakan justru sebaliknya. Dengan kata lain, benar niatnya,
tetapi tindakannya salah. Ketiga, niat mengerjakan yang tidak boleh dikerjakan, tetapi
yang dilakukan sebaliknya, yaitu mengerjakan perbuatan yang boleh dilakukan. Yang
disebut ketiga ini, salah niatnya tetapi benar tindakannya. Kata al-khith'u dalam al-
Qur'an, menurut perhitungan Muhammad Fu'ad Abd al-Baqi, muncul sebanyak 22 kali.
Diantara kata al-khith'u yang muncul dalam al-Qur'an ialah dalam surat al-Isra' ayat 31.
Kata al-khith'u dalam ayat ini dirangkai dengan kata kabiran (besar). Kata kabiran
adalah sifat dari kata al-khith'u, sehingga rangkaian dua kata yang disebut terakhir ini
berarti dosa besar. Dengan demikian, kata al-khith'u dalam ayat ini dapat
diterjemahkan sebagai dosa besar jika dirangkai dengan kata kabiran.

Dari sekian banyak ayat al-Qur'an yang mengandung kata al-khith'u dapat dipahami
bahwa kata ini digunakan untuk menyebut dosa yang cukup bervariasi, misalnya dosa
terhadap Allah, dan dosa terhadap sesama manusia. Juga dapat dipahami bahwa al-
Qur'an, ketika menggunakan kata al-khith'u atau al-khathiat, tidak menjelaskan secara
tersurat, apakah dosa yang ditunjukkannya dosa besar atau dosa kecil. Untuk
membedakan dosa yang ditunjukkannya, dibutuhkan petunjuk lain, seperti adanya
kata kabiran dalam ayat 31 surat al-isyra' yang dikutip di depan.

Seperti disebut di depan, kata al-sayyi'at juga termasuk kata yang diterjemahkan
dalam bahasa Indoenesia dengan arti dosa. Kata ini dengan segenap kata jadiannya,
menurut perhitungan Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqi, muncul sebanyak 167 kali.
Seorang pakar bahasa al-Qur'an, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-sayyi'at
atau al-su' dengan kullu ma yaghummu al-insan min al-umur al-dunyawiyyat wa al-
ukhrawiyyat wa min al-ahwal al-nafsiyyat wa al-badaniyyat wa al-kharijat min fawat
malin wa jahin wa faqd hamim (segala sesuatu yang dapat menyusahkan manusia, baik
masalah keduniaan maupun masalah keakhiratan, atau baik masalah yang terkait
dengan kejiwaan atau jasmani, yang diakibatkan oleh hilangnya harta benda,
kedudukan dan meninggalnya orang-orang yang disayangi).

Ternyata kata al-sayyi'at yang muncul dalam al-Qur'an, semuanya merujuk kepada arti
yang disebutkan al-Asfahani tersebut. Dalam al-Qur'an, surat Thaha ayat 22, dikatakan
bahwa Tuhan memerintahkan Nabi Musa untuk memasukkan tangannya ke ketiaknya,
niscaya tangan Nabi Musa akan keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacad. Hal itu
sebagai mu'jizat lain yang dimiliki Nabi Musa dari Tuhannya. Kata al-su', dalam ayat ini
berarti penyakit, yaitu al-barash (belang), yang banyak menimpa tangan, penyakit
yang selalu menyusahkan orang yang ditimpanya. Oleh karena itu, sangat tepat bila
kata al-su' diartikan juga dengan al-huzn (susah). Sesuatu hal yang jelek juga
dikatakan al-su', dan karena itu kata al-su' dalam hal ini dilawankan dengan al-husna
(baik), dan al-sayyiat dilawankan dengan kata al-hasanat, seperti terdapat dalam
surat al-Nisa' ayat 79.

Dalam al-Qur'an, perbuatan-perbuatan yang dikategorikan al-su antara lain: perzinaan
(Surat al-Nisa' ayat 22), menjadikan syetan sebagai teman (surat al-Nisa' ayat 38),
mengubur hidup-hidup anak perempuan seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah
(surat al-Nisa' ayat 58-59). Dari sekian banyak kata al-su' atau al-sayyi'at yang muncul
dalam al-Qur'an, kelihatannya tidak selalu mengacu kepada arti dosa besar (seperti
yang disebutkan dalam Hadis Rasulullah) atau dosa kecil. Terkadang kata al-su'
digunakan untuk menyebut dosa besar, seperti zina (surat al-Isra' ayat 32), membunuh
anak perempuan hidup-hidup (surat al-Nahl ayat 59), dan sebagainya. Terkadang juga
kata al-su' ada yang mengacu kepada dosa kecil, seperti yang muncul dalam surat al-
Nisa' ayat 31. Disamping itu, ada lagi kata al-su' dalam al-Qur'an yang tidak jelas
mengacu kepada dosa besar atau dosa kecil, seperti yang muncul dalam surat al-A'raf
ayat 95, surat al-Ra'd ayat 6, surat Yunus ayat 28, surat al-Naml ayat 90, surat Ghafir
ayat 40, dan lain-lain.

Kata al-hub, yang diterjemahkan dengan arti dosa, muncul dalam al-Qur'an sebanyak
satu kali, yaitu dalam surat al-Nisa' ayat 2. Menurut al-Asfahani, kata al-hub sama dan
sinonim dengan kata al-itsm. Oleh karena kata al-hub ini muncul hanya satu kali dalam
al-Qur'an, tidak dapat diketahui berbagai makna yang timbul dari kata tersebut,
apakah ia mengacu kepada arti dosa besar atau dosa kecil, atau dosa secara umum.
Khusus dalam surat al-Nisa' ayat 2 di atas, karena kata al-hub dirangkai dengan kata
kabiran, maka rangkaian itu diterjemahkan dengan dosa besar.

Kriteria Dosa Besar

Tidak mudah untuk menentukan kriteria dosa besar dalam al-Qur'an. Kesulitan itu
tetap terasa, walaupun istilah-istilah yang biasa diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia dengan dosa telah dijelaskan sebelum ini. Diantara lima istilah tersebut,
tidak satu pun yang secara eksplisit dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
dengan dosa besar. Bila al-Qur'an menyebut dosa besar, maka istilah-istilah tersebut
dirangkai dengan kata kabir atau adim (dua kata yang berarti besar). Oleh karena itu,
ditemukan rangkaian kata-kata: isman adiman, isman kabiran, zanban adiman,
khith'an kabiran, atau huban kabiran, untuk merujuk dosa-dosa besar. Dengan
demikian, jika ditemukan kata ism, zanb, khith' saja, maka tidak dihukumi sebagai
dosa besar, tanpa melihat indikator lain yang dapat mengantarkan kita memahaminya
sebagai dosa besar.

Sebagai dikatakan di atas, Hadis pun tidak banyak membantu kita menjelaskan
kekaburan itu. Yang disebut dalam Hadis hanyalah dosa-dosa terbesar diantara dosa-
dosa besar. Sedangkan dosa besar itu sendiri masih kabur. Setelah tidak jelas macam-
macam dosa besar, menurut al-Qur'an dan Hadis, maka ijtihadlah yang harus
difungsikan untuk mengetahui macam-macam dosa besar. Oleh karena dasar untuk
mengetahui dosa besar itu ijtihad, maka hasilnya menjadi relatif. Jika dampak negatif
yang ditimbulkan suatu tindakan pelanggaran dijadikan tolok ukur untuk mengetahui
dosa besar, kesulitan yang ditemui ialah bahwa dampak negatif itu sendiri relatif juga.
Suatu pelanggaran, yang dianggap oleh seseorang memiliki dampak yang relatif cukup
besar bagi dirinya, belum tentu dirasakan sebagai hal yang sama oleh orang lain.
Dalam menyelesaikan problem ini, akan digunakan tolok ukur lain, yaitu istilah apa
yang digunakan al-Qur'an ketika mengancam pelanggar suatu aturan. Tentu yang
dianalisa adalah bahasa yang digunakan oleh al-Qur'an atau Hadis tersebut.

Berdasarkan tolok ukur kebahasaan itu, dosa besar menurut al-Baruzi, seperti dikutip
al-Ghimari setidak-tidaknya ada lima belas kategori, yaitu dosa besar yang diancam
dengan hukuman had, dosa besar yang ditandai dengan ungkapan "fahisyah", dosa
besar karena pelanggaran yang dilakukan termasuk perbuatan syetan, dosa besar
karena Allah tidak menyenangi tindakan itu termasuk pelakunya, dosa besar karena
pelaku dosa diancam dengan laknat, dosa besar karena Allah marah terhadap
pelakunya, dosa besar ditandai dengan ungkapan "shalat yang dikerjakan seseorang
ditolak Allah", dosa besar karena pelakunya dikecam sebagai orang merugi, dosa besar
ditandai dengan ungkapan "bukan dari golongan kami", dosa besar ditandai dengan
ungkapan "Allah menutup pintu taubat bagi pelaku dosa", dosa besar ditandai dengan
ungkapan "kemaksiatan menghabiskan kebaikan", dosa besar ditandai dengan ancaman
wayl, dosa besar karena tindakan itu membatalkan amalan shaleh, dosa besar ditandai
dengan ungkapan "Allah tidak menyenangi pelaku dosa", dan dosa besar ditandai
dengan ungkapan "tidak perlu ditanyakan resiko yang akan diterima pelaku dosa".
Macam-macam dosa besar yang dikemukakan al-Baruzi tersebut, tidak dijelaskan
semua di sini, karena disamping tidak memungkinkan dari segi tempat yang
disediakan, juga karena sebagian besar dari dosa-dosa tersebut, sudah disebutkan
dalam Hadis Rasulullah, bahkan ada yang termasuk dosa terbesar. Oleh karena itu
hanya sebagian saja yang akan diuraikan di sini.

1. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Hukuman Had.

   Terdapat sejumlah ayat al-Qur'an yang mengancam sebuah pelanggaran dengan
   hukuman had, misalnya surat al-Baqarah ayat 178. Ayat ini membicarakan
   hukuman had bagi pembunuh, atau terkenal dengan qishash. Secara eksplisit,
   memang sudah dikatakan dalam Hadis bahwa dosa pembunuhan termasuk dosa
   besar. Namun, tidak semua pelanggaran yang diancam dengan hukuman had
   disebut oleh Hadis Rasulullah. Dalam Hadis disebutkan bahwa dosa besar karena
   diancam hukuman had hanyalah zina, dan saksi palsu. Padahal dosa besar dengan
   tolok ukur ancaman had bagi sebuah pelanggaran cukup banyak, misalnya:
   membunuh, zina, qazaf (tuduhan palsu), mencuri, pengacau di jalan, liwath (homo
   seksual) .

   Kata had berasal dari kata kerja hadda. Kalimat hadda Allah 'anna al-syarra,
   berarti kaffahu wa sharrafahu (menjauhkan atau memalingkan). Tegasnya, Allah
   menjauhkan kita dari bahaya. Ungkapan hadda al-muzniba berarti aqama 'alyhi al-
   had bima yamna'u ghairahu wa yamna'uhu min irtikab al-zanb (menerapkan
   hukuman had kepada seseorang yang berbuat dosa, agar dia jera dan agar orang
   lain yang mengetahui hukuman tersebut dapat juga jera). Kemudian muncullah
   istilah had dan dalam bentuk jamaknya hudud, yang berarti hukuman yang
   diterapkan di dunia bagi pelanggar hukum tertentu, seperti pencurian dengan
   hukuman potongan tangan, zina dengan hukuman rajam, pembunuhan dengan
   hukuman qishash, dan sebagainya.

   Hukuman bagi pembunuhan, perzinaan, qazaf, mencuri, mengacau di jalan, dan
   liwath (homoseksual) dikategorikan dosa besar, bukan saja karena diancam dengan
   hukuman had, tetapi karena dampak negatif dari tindakan- tindakan tersebut
   memang besar. Di sini, untuk menilai tindakan-tindakan tersebut sebagai dosa
   besar, bukan saja acuan kebahasaan tetapi juga acuan dampak negatif yang
   ditimbulkannya. Pembunuhan, misalnya, memiliki dampak negatif yang cukup
   besar, sebab pembunuhan tidak saja menghilangkan nyawa orang yang terbunuh.
   Lebih dari itu, pembunuhan dapat menambah penderitaan keluarga yang
   ditinggalkannya, terutama jika yang terbunuh itu orang yang menjadi tulang
   punggung kehidupan keluarga.

   Demikian juga perzinaan, dikategorikan dosa besar, karena disamping diancam
   dengan hukuman had, juga karena dampak negatif yang ditimbulkan zina cukup
   besar. Penyakit kelamin, anak lahir tanpa orang tua sah dan hidup terlantar,
   cemoohan masyarakat dan masih banyak lagi yang lainnya, adalah dampak-dampak
   yang ditimbulkan perzinaan. Qazaf pun tidak kalah besar dampaknya bila
   dibandingkan dengan pembunuhan dan perzinaan. Orang yang dituduh palsu, dalam
   hal ini wanita baik-baik yang dituduh berzina, nama baiknya akan tercemar,
   termasuk nama baik keluarganya. Wanita itu juga akan dikucilkan dari masyarakat,
   dan akan mengalami penderitaan batin yang cukup hebat. Tidak mudah untuk
   memulihkan nama baiknya, dan kalaupun bisa, membutuhkan waktu yang cukup
   lama dan membutuhkan mental yang cukup prima. Wajar bila penuduh palsu
   diancam dengan hukuman berat, yaitu dipukul delapan puluh kali (hukuman had),
   kesaksian mereka ditolak selamanya, dan mereka dikategorikan orang fasik.
   Demikian juga mencuri dan mengacau di jalan, termasuk yang diancam dengan
   hukuman had oleh al-Qur'an. Hukuman-hukuman yang diancamkan kepada pezina,
   pencuri, penuduh palsu, dan pengacau di jalan tersebut cukup berat. Dengan
   melihat ancaman hukuman tersebut, tidak salah jika pelanggaran-pelanggaran yang
   diancam dengan hukuman had dikategorikan dosa besar.

2. Dosa Besar Ditandai Ungkapan "Fahisyat'.

   Dosa besar dapat dikenal juga dengan adanya ungkapan fahisyat bagi tindakan
   pelanggaran. Diantara ayat yang menggunakan kata fahisyat untuk menunjuk suatu
   pelanggaran adalah ayat 15 surat al-Nisa'. Dalam ayat ini, Allah menetapkan bahwa
   para isteri yang dituduh mengerjakan perbuatan fahisyat, harus dibuktikan
   kebenarannya oleh empat orang saksi. Kata fahisyat berarti qabihat dan syani'at
   (jelek dan keji). Banyak mufassir menafsirkan kata fahisyat dalam ayat ini dengan
   arti zina. Namun dalam beberapa ayat lain, kata fahisyat muncul dalam makna
   yang sangat umum, misalnya dalam ayat 45 surat al-Ankabut. Dalam ayat disebut
   terakhir, dikatakan bahwa shalat dapat mencegah seseorang dari perbuatan fahsya'
   (bentuk jamak dari fahisyat). Kata fahisyat dalam ayat ini tidak dapat dipahami
   dengan makna zina, karena tidak ada petunjuk yang mengantarkan kita untuk
   dapat memahaminya dengan arti zina. Demikian pula kata fahsya' dalam ayat 169
   surat al-Baqarah, ayat 28 surat al-A'raf, ayat 24 surat Yusuf, ayat 22 surat al-Nisa'
   dan sebagainya, muncul dengan makna yang sangat umum. Kata-kata fahsya' atau
   fahisyat dalam konteks seperti ini tidak dapat dipahami dengan mengacu kepada
   arti dosa besar atau dosa kecil. Namun pada saat tertentu, misalnya ada petunjuk
   yang tegas yang mengarah kepada arti dosa besar, kata fahisyat atau fahsya',
   dapat dijadikan dasar untuk menghukumi sebuah pelanggaran sebagai dosa besar.

3. Dosa Besar Karena Pelakunya Diancam Dengan Laknat.

   Dosa besar terkadang dapat diketahui dengan adanya ungkapan lain yang
   digunakan al-Qur'an atau Hadis, selain yang dikemukakan di atas, yaitu pelakunya
   diancam dengan laknat, misalnya dalam ayat 51-52 surat al-Nisa. Dalam ayat ini,
   Allah menyatakan melaknat orang-orang musyrik dan orang-orang yang percaya
   kepada Thaghut dan orang-orang yang mengakui bahwa orang kafir Makkah lebih
   benar jalannya dari orang-orang beriman. Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata
   "la'ana" yang, dari segi bahasa, berarti akhaza wa sabba (menyiksa dan mencaci)
   dan dapat juga berarti ab'adahu min al-khair (menjauhkan dari kebaikan). Lebih
   jauh lagi, kata la'ana berarti 'azzaba (menyiksa). Al-Maraghi mengartikan kata
   la'ana dengan ab'adahu min al-khayr. Dengan arti bahasa dan istilah dari kata
   la'ana seperti dikutip di atas, dapat dipahami bahwa kata la'ana mengakibatkan
   jauhnya seseorang dari kebaikan, atau tegasnya, jauhnya seseorang dari rahmat
   Allah. Orang yang dijauhi memang ada kemungkinan karena tidak disenangi, dan
   dampak dari tidak disenangi orang antara lain tidak mendapatkan kebaikan orang
   lain. Orang tidak disenangi dalam ayat di atas ialah orang musyrik, dan
   kemusyrikan termasuk dalam akbar al-kabair (salah satu dosa terbesar diantara
   dosa-dosa besar).

   Orang-orang yang tidak disenangi Allah, seperti tercantum dalam al-Qur'an cukup
   bervariasi, misalnya orang-orang kafir (Qs. al-Ahzab ayat 64). Bahkan golongan ini
   dinyatakan secara tegas akan dimasukkan ke dalam neraka yang apinya menyala-
   nyala di akhirat nanti. Golongan yang tidak disenangi Allah, juga termasuk orang-
   orang Yahudi dan Nasrani yang telah melanggar janji kepada Allah. Hati mereka
   pun enggan dan kaku, serta keras bagaikan batu, sehingga tidak mau menerima
   ayat-ayat Allah. Bahkan lebih jauh lagi, mereka berani merubah ayat-ayat Allah
   (ayat al-Qur'an), seperti merubah arti dan mengurangi atau menambah huruf dan
   kata-kata dalam ayat al-Qur'an tersebut.

   Dalam Hadis Rasulullah pun terdapat kata la'ana, yaitu sabda Rasulullah: "la'ana
   Allah al-rasyi wa al-murtasyi" (Allah melaknat orang yang menyuap dan yang
   disuap). Beberapa kata la'ana yang muncul, baik dalam al-Qur'an maupun dalam
   Hadis memang mengacu kepada arti dosa besar. Apalagi pelanggaran-pelanggaran
   yang diungkap dengan kata la'ana, dampak negatifnya memang besar, sehingga
   tepat bila kata la'ana digunakan sebagai dasar untuk menghukumi pelanggaran
   yang ditunjuknya sebagai dosa besar.

4. Dosa Besar Yang Ditandai Ungkapan "Kemaksiatan Dapat Merusak Kebaikan".

   Dosa besar dalam kategori ini tidak ditemukan dalam al-Qur'an, tetapi ditemukan
   dalam Hadis Rasulullah. Hadis tersebut berbunyi: "Iyyakum wa al-hasad fa inna al-
   hasad ya'kul al-hasanat kama ta'kul al-nar al-hathab" (Jauhilah sifat hasad
   (dengki), sebab dengki itu dapat memakan amalan baik, sebaimana halnya api
   membakar kayu). Dalam kamus Arab, kata hasad digunakan, misalnya dalam
   ungkapan "hasada fulan ni'matahu wa 'ala ni'matihi" yang berarti "tamanna zawala
   ni'matih wa tahawwulaha ilayhi" (Seseorang berharap hilangnya ni'mat yang
   didapat orang lain, dan dapat berpindah ke tangan dia). Hasad, kalau begitu,
   adalah sifat yang tidak terpuji. Kemudian, bagaimana sifat hasad dapat memakan
   amal-amal baik, sehingga digambarkan sebagai api membakar kayu? Tidak
   dijelaskan oleh Rasulullah. Dapat diduga bahwa alasan hasad dapat memakan
   amal-amal baik, adalah karena orang kalau sudah hasad, tidak pernah merasa puas
   dengan nikmat yang diberikan Allah. Bahkan, nikmat Allah yang ada di tangan
   orang lain diusahakan pindah ke tangannya. Dalam pandangan orang hasad,
   kebaikan dan nikmat yang ada di tangannya selalu dirasakan kurang. Bahkan,
   nikmat tersebut tidak diakui eksistensinya. Jadi, sifat hasad sama dengan api yang
   membakar kayu. Yang tersisa hanya arang dan debu. Lama kelamaan, arang dan
   debu pun akan hilang tanpa bekas. Gambaran hasad dapat menghilangkan kebaikan
   bersifat abstrak. Proses hilangnya kebaikan oleh sifat hasad tidak dapat dilihat.
   Oleh karena itu, dibutuhkan perumpamaan. Kemudian, Rasulullah mengambil
   perumpamaan: Hasad menghilangkan kebaikan sama dengan api membakar kayu.
   Dengan cara mempersamakan seperti ini, sesuatu yang awalnya bersifat abstrak
   berubah menjadi kongkrit. Ia menjadi seakan-akan dapat diihat, seperti halnya
   benda nyata. Seseorang yang telah hangus amal baiknya, berarti ia tidak memiliki
   peluang untuk memperoleh balasan kebaikan dari Allah. Sebaliknya, justeru
   balasan keburukan (neraka) yang akan diperolehnya. Bila demikian, dapat
   dipahami kalau sifat hasad dikategorikan sebagai dosa besar.

5. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Wayl (Celaka).

   Dalam al-Qur'an terdapat beberapa ayat yang mengandung kata wayl (celaka),
   antara lain dalam surat al-Muthaffifin ayat 1-3. Kata wayl menurut kamus bahasa
   Arab berarti al-halak (kehancuran). Kata wayl dalam ayat 1 surat al-Muthaffifin
   tersebut, menurut al-Maraghi, merujuk kepada arti kehancuran yang besar.
   Kehancuran besar menggambarkan besarnya dampak yang ditimbulkan. Kehancuran
   besar dalam ayat ini ialah menimbang dengan timbangan yang besar ketika
   membeli dan menimbang dengan timbangan kecil ketika menjual. Tindakan ini
   jelas mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dalam perdagangan, tanpa
   memperhatikan kerugian dan penderitaan orang lain. Setidak-tidaknya, ada dua
   keuntungan yang diraih oleh orang yang melakukan penipuan seperti itu: Pertama,
   keuntungan dari selisih timbangan barang yang dibeli; Kedua, keuntungan dari
   selisih harga jual barang. Oleh karena itu, tindakan tersebut sangat
   menguntungkan diri sendiri dan sangat merugikan orang lain. Dengan demikian,
   adalah tepat bila al-Qur'an mengancam pelakunya dengan kata wayl, yang merujuk
   kepada besarnya dosa bagi pelaku tindakan tersebut.

   Al-Asfahani mengartikan kata wayl dengan al-qubh (jelek) atau al-tahassur
   (penyesalan). Pengertian wayl seperti yang dikemukakan al-Asfahani, secara
   etimologis, berbeda dengan pengertian yang diberikan oleh Lewis Ma'luf. Namun
   pada hakekatnya, dua pengertian itu memiliki makna yang sama, yaitu merujuk
   kepada arti kejelekan atau kejahatan yang besar, dan dampaknya menimbulkan
   kehancuran yang besar pula. Pendusta lagi banyak berbuat dosa, sebagai dikatakan
   dalam al-Qur'an surat al-Hujurat ayat 7, tepat diancam dengan wayl. Kedustaan
   sudah cukup membahayakan, apalagi ditambah dengan kesenangan melakukan
   dosa.

6. Dosa Besar Ditandai Ungkapan"Allah Tidak Suka Melihat Pelaku Dosa".

   Dosa besar dalam kategori ini ditandai ungkapan "la yandhuru" (tidak melihat).
   Kata nadhara, bentuk kata kerja lampau dari kata kerja yandhuru, dalam al-Qur'an
   ditemukan lebih seratus kali dengan berbagai bentuk kata jadiannya. Seperti
   dikatakan di atas, kata la yandhuru, yang berarti tidak melihat, bukan saja berarti
   tidak melihat karena tidak bertemu atau tidak menemukan, akan tetapi ungkapan
   itu memiliki arti tertentu, yaitu tidak ingin melihat karena merasa tidak senang
   dengan sesuatu. Dalam al-Qur'an, tidak ditemukan ungkapan la yandhuru, dalam
   arti seperti disebut terakhir. Ungkapan la yandhuru dalam arti tersebut terakhir
   hanya ditemukan dalam Hadis, misalnya "la yandhuru Allah 'azza wa jalla ila al-
   rajuli ata rajulan aw imrataan fi duburiha" (Allah tidak senang melihat seseorang
   yang menyetubuhi sesama lelaki (homoseksual) dan bersetubuh dengan perempuan
   melalui duburnya (sodomi).

   Ungkapan la yandhuru (tidak mau melihat) seperti dalam Hadis di atas, disebabkan
   ketidaksenangan kepada sesuatu. Ketidaksenangan boleh jadi menjurus kepada
   tidak mau melihat yang tidak disenangi itu, sebab pada umumnya orang yang tidak
   senang kepada sesuatu atau kepada seseorang, boleh jadi ia tidak mau melihat
   sesuatu atau seseorang yang dibencinya. Dalam Hadis lain dikatakan: Salasatun la
   yukallimuhum Allah yawm al-qiyamat wa la yuzakkihim wa la yandhuru ilayhim wa
   lahum 'azabun alim: syaikhun zanin, wa malikun kazzab, wa 'ailun mustakbirun
   (ada tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah di hari qiyamat, tidak
   dibersihkan hatinya, dan akan disiksa dengan siksaan yang pedih, yaitu orang tua
   yang berzina, raja pendusta, dan orang miskin yang sombong).

   Kata la yukallimuhum Allah (mereka tidak diajak bicara oleh Allah), bukan karena
   Allah tidak bertemu dengan orang itu, akan tetapi ungkapan itu memiliki makna
   kiasan, yaitu kiasan bahwa Allah tidak senang kepada mereka. Bahkan,
   ketidaksenangan Allah itu ditegaskan lagi dengan kata berikutnya wa la yandhuru
   ilayhim (Allah tidak mau melihat mereka). Mengapa Allah tidak senang kepada
   mereka ? Tentu saja karena perilaku mereka sudah melampaui batas. Orang tua
   yang berzina, dianggap melampaui batas, sebab orang tua seharusnya memberi
   contoh yang baik kepada anak cucu. Raja yang berdusta juga sangat dibenci Allah,
   sebab raja seharusnya jujur dalam menjalankan pemerintahan, bukan malah
   mengelabui rakyatnya.

Kesimpulan

Dari uraian yang telah dipaparkan sebelum ini, dapat dipahami bahwa al-Qur'an tidak
menyebut secara tegas macam-macam dosa besar. Dalam al-Qur'an hanya terdapat
ungkapan-ungkapan yang dapat mengantarkan kita untuk dapat menghukumi sebuah
pelanggaran itu sebagai sebuah dosa besar. Dengan meresapi sejumlah istilah atau
ungkapan yang menjadi tanda untuk memahami dosa besar, sebagaimana yang
dikemukakan al-Baruzi, maka akan muncul puluhan macam dosa besar. Dosa-dosa yang
pernah diucapkan oleh Rasulullah hanyalah sebagian dari dosa-dosa besar yang
terdapat dalam ajaran Islam. Untuk mengetahui secara rinci macam-macam dosa
besar, kita hanya merujuk saja kepada ungkapan-ungkapan tersebut, baik yang
terdapat dalam al-Qur'an maupun Hadis.



          Penulis adalah dosen tetap pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel
                   Tamat S-3 dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta




http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/9541
Konsultasi : Aqidah

Nikah Mengunakan Adat Jawa Sirik-kah....

Pertanyaan:

Assalamualaikum ww

Pak Ustad

Temanku bertanya tentang "ritual adat2 yang ada di Indonesia masalah "pernikahan"
Biasanya kalo di adat jawa, itu ada ritual nginjek telor sebelum masuk ke rumah
mempelai wanita atau penyerahan keris atau dan lain-lain....." Di karenakan teman
saya akan menikah..dan orangtua teman saya itu paling anti masalah
begituan....karena di takutkan dari mempelai wanitanya akan melakukan begitu
nantinya...

Bagaimana menurut Islam ? Apakah itu syirik ?
Apakah mutlak tidak boleh dilaksanakan ?

Soalnya Bos rumah gue, anti yang seperti itu.....

Terima kasih....

wassalam

IVAN

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba�d.


Beberapa ritual dalam tradisi adat memang ada yang masih belum bisa dipisahkan
dengan nilai-nilai kemusyrikan. Namun tidak berarti bahwa semua elemet upacara
adat itu semuanya syirik. Disini, Anda perlu lebih cerdas untuk bisa memilah dan
memilih, manakah yang kental nilai syiriknya dan manakah yang masih mungkin
ditolelir.

Sesungguhnya ketika Islam datang ke negeri ini, Jawa adalah bangsa yang telah
diislamkan. Bukan hanya mayoritas orang jawa itu masuk Islam, namun para raja dan
sistem pemerintahannya pun pernah berjalan dengan sistem Islam. Nama �JAWA� itu
sendiri di negeri Arab identik dengan bangsa Islam.

Namun harus kita akui bahwa belum semua sendi kehidupan masyarakat jawa itu
terislamkan 100 %. Apalagi memang ada kelompok pembangkang yang tidak mau
mengakui ajaran Islam pada beberapa daerah dimasa pengislaman jawa. Sehingga
wajarlah bila disana sini seringkali kita dapati nilai-nilai kejawaan yang masih belum
tersentuh dengan nilai-nilai tauhid.

Ini semua harus diamati sebagai sebuah proses yang barangkali sempat terhenti. Maka
menjadi tugas generasi muslim keturunan jawa untuk meneruskan proses Islamisasi
adat jawa secara lebih lengkap lagi. Namun secara umum, bangsa jawa tetaplah
bangsa muslim.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.




http://hizbut-tahrir.or.id/main.php?page=alwaie&id=132



Kamis, 1 Desember 2005

                                         PEMELIHARAAN ISLAM ATAS KEHIDUPAN
                                              (Tafsir QS al-Isra' [17]: 33)
                                            Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.


           َْ َ            ِ ْ ْ      ْ ِ                   ُ ِ َ             َ َ ْ ً ْ َ َ ْ َ َ ِّ َ ْ
   ‫والَ تَقتُلُوْ ا النَّفس الَّتِي حرم هللا ُ إِالَّ بِالحق ومن قُتِل مظلُوْ ما فَقَد جع ْلنَا لِولِيِّه س ْلطَانُا فَالَ يُسْرف فِي القَتل إِنَّهُ كانَ منصُوْ رًا‬
                                                                                                                                َ َّ َ      َ ْ             ْ َ

 Janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah, melainkan dengan suatu
alasan yang benar. Siapa saja yang dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami
memberikan kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu
melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat
pertolongan. (QS al-Isra' [17]: 33).

Ayat ini masih merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang berisi beberapa
larangan. Jika dalam ayat sebelumnya, manusia dilarang membunuh anak-anak mereka
dan mendekati perbuatan zina, dalam ayat ini manusia dilarang membunuh jiwa
manusia lainnya. Ada benang merah yang menghubungkan ketiga larangan itu, yakni
menjaga keberlangsungan kehidupan manusia secara umum. Az-Zuhayli menuturkan,
jika membunuh, baik dilakukan terhadap anak maupun secara umum, dapat
melenyapkan manusia setelah adanya, zina dapat mengantarkan pada ketidakadaan
manusia dan kelangkaan kelahiran manusia.1

Tafsir Ayat

Allah Swt. berfirman: Walâ taqtulû an-nafs al-latî harrama Allâh illâ bi al-haqq
(Janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah, melainkan dengan suatu
alasan yang benar). Kata an-nafs dalam ayat ini bermakna nafs al-insân (jiwa manusia)
2
  . Huruf alif dan lâm dalam kata tersebut li al-jins (untuk menyatakan jenis) 3, yakni
meliputi semua jenis jiwa manusia; tua-muda, laki-laki-perempuan, merdeka atau
budak, Muslim atau kafir yang terikat perjanjian 4; bahkan mencakup pula janin
manusia yang telah memiliki ruh. Berdasarkan ayat inilah, para fuqaha sepakat
tentang haramnya pengguguran janin (aborsi) setelah ruh ditiupkan.5

Frasa lanjutan yang menjadi sifatnya: al-latî harrama Allâh (yang diharamkan Allah)
menurut ar-Razi berfungsi untuk mempertegas haramnya perbuatan membunuh ('alâ
sabîl al-ta'kîd) 6. Al-Alusi, asy-Syaukani, dan al-Qinuji berpendapat, yang dimaksud
dengan jiwa yang diharamkan Allah Swt. adalah jiwa yang terpelihara (ma'shûmah),
baik disebabkan oleh Islam maupun oleh al-'ahd (perjanjian). 7

Ayat ini menegaskan: illâ bi al-haqq' (melainkan dengan suatu alasan yang benar). Al-
Alusi mengurai, huruf al-ba' memberikan makna sababiyyah, sedangkan istitsna'
memberikan peluang. Dengan demikian, frasa ini dapat dimaknai: Janganlah kalian
membunuh jiwa dengan sebab apa pun kecuali dengan sebab yang haq. 8

Menurut lahiriah ayat ini, perbuatan yang tergolong sebagai sebab yang haq itu adalah
pembunuhan yang dilakukan secara zalim 9. Oleh ayat ini, kepada keluarga korban
diberi hak untuk menuntut qishâsh. Selain pembunuhan secara sengaja (al-qatl al-
'amd), zina muhshan dan kufur setelah iman juga merupakan perbuatan yang
dimasukkan dalam sebab yang haq. Rasulullah saw. bersabda:

                 »‫«الَ يَحلُّ دم امرئ مسلِم إِال َّ من ثَالَثَة: إِالَّ من زنَىبَعدما أَحْ صَنَ أَوْ كفَر بَعدما أَسلَم أَوْ قَتَل نَفسًا فَقُتِل بِهَا‬
                        َ          ْ َ            َ ْ ََْ َ َ                        ََْ َ ْ َ            ٍ        ْ ِ        ٍ ْ ُ ٍ ِ ْ َُ ِ

Tidak halal darah seorang Muslim (ditumpahkan) kecuali karena tiga hal: orang yang
berzina setelah muhshan; kufur setelah Islam; dan membunuh jiwa, lalu dia dibunuh
karenanya. (HR Ahmad, Muslim, dan an-Nasa'i).

Ketiga hal inilah yang dipahami oleh para mufassir sebagai alasan yang dibenarkan
untuk membunuh jiwa. 10

Namun demikian, masih ada beberapa tindakan lain yang mewajibkan hukuman mati.
Perbuatan itu adalah qutha' ath-tharîq atau pembegal yang membunuh dan merampas
harta benda (QS al-Maidah [5]: 33) dan liwâth (homoseksual). Rasulullah saw.
bersabda:

                                                                     ِ َ َْْ َ َ ِ ْ                 ْ ٍ ِ َ ََ ُ َ ْ
                                                                    »‫«من وجدتُموْ هُ يَعمل عمل قَوْ م لُوْ ط فَاقتُلُوْ ا الفَاعل والمفعُوْ ل بِه‬
                                                                                                                                       ُ َْ َ ْ َ

Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, bunuhlah pelaku
dan                                                                     obyeknya.

Menurut Qadhi Abu Muhammad, semua perbuatan yang harus dijatuhkan hukuman mati
pada dasarnya dapat dikembalikan pada tiga jenis perbuatan yang disebutkan dalam
Hadis Nabi saw. di atas. Perbuatan qath' ath-tharîq dapat dimasukkan ke dalam makna
membunuh jiwa. Perbuatan zindiq dan meninggalkan shalat dapat dikategorikan
sebagai kufur setelah iman. Tindakan menolak membayar zakat dapat pula dimasukkan
ke dalam hal ini sehingga Abu Bakar ash-Sihiddiq ra. memerangi para penolak zakat. 11
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: Waman qutila madzlûm[an] faqad ja'alnâ liwaliyyih
sulthân[an] (Siapa saja yang dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami
memberikan kekuasaan kepada walinya). Yang dimaksud dengan man qutila
madzlûm[an] adalah orang yang dibunuh tanpa alasan yang dibenarkan syariah
sebagaimana dipaparkan di muka.

Menurut Ibnu Khuwaiz Mandad, al-waliyy haruslah laki-laki. Sebab, hak perwalian
dikhususkan kepadanya yang ditunjukkan dengan kata mudzakkar (kata benda jenis
laki-laki). Wanita tidak memiliki hak dalam masalah ini. Pendapat yang sama juga
dikemukakan Malik dan Ismail bin Ishaq. 12

Mufassir lainnya berpandangan, yang dimaksud kata al-waliyy adalah ahli warisnya 13.
Dengan demikian, semua ahli waris-baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak-
memiliki hak yang sama untuk menuntut qishâsh. Demikian pendapat Abu Hanifah dan
pengikutnya 14. Alasannya, meskipun kata al-waliyy dalam ayat ini secara lahiriah
menunjukkan mudzakkar, kata tersebut bermakna jenis, yang menyamakan antara pria
dan wanita di dalamnya 15. Pendapat ini diperkuat dengan penggunaan kata awliyâ' (QS
at-Taubah [9]: 71; QS al-Anfal [8]: 71) atau awlâ (QS al-Anfal [8]: 75) yang merujuk
pada laki-laki dan perempuan. Baru jika korban pembunuhan itu tidak memiliki wali,
maka yang bertindak menjadi walinya adalah penguasa.16

Kata sulthân dalam frasa ini bermakna hak yang diberikan kepada wali korban
pembunuhan. Mereka berhak penuh untuk memilih salah satu dari tiga pilihan, yakni:
menuntut hukuman qishâsh, meminta diyat (denda), atau memaafkan pelaku
pembunuhan 17. Demikian pendapat Ibnu Abbas, Asyhab, al-Syafii 18, Mujahid, adh-
Dhuhak 19. Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah:

                                         »‫«منْ قُتِل لَهُ قَتِيْل فَهو بِخير النَّظَريْن إِما أَنْ يَفتَدي وإِما أَنْ يَقتُل‬
                                          َ ْ          َّ َ َ ِ ْ         َّ ِ َ          ِ َْ ِ ُ ٌ              َ       َ

Siapa saja yang terbunuh, maka walinya memiliki dua pilihan: meminta tebusan
(diyat) atau membunuh pelakunya. (HR al-Bukhari).

Allah Swt. berfirman: falâ yusrif fî al-qatl (maka janganlah ahli waris itu melampaui
batas dalam membunuh). Kata al-isrâf berarti mujâwaz al-hadd (melampaui batas).
Menurut para mufassir, ada beberapa tindakan yang dapat dikategorikan sebagai
tindakan melampaui batas. Pertama: membunuh lebih dari seorang, padahal pelaku
pembunuhan hanya satu. Tindakan ini dulu menjadi tradisi bangsa Arab semasa
jahiliah. Kedua: membunuh orang yang bukan pelaku pembunuhan. Demikian pendapat
ad-Dhuhak, Mujahid, dan Said bin Jubair. Ketiga: membunuh pelaku pembunuhan
dengan cara mencincang. Demikian dinyatakan Thalq bin Habib 20. Jika dicermati,
ketiga tindakan itu dapat dikategorikan sebagai tindakan melampaui batas.

Allah Swt. mengakhiri ayat ini dengan firman-Nya: Innahu kâna manshûra[an]
(Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan). Menurut sebagian
mufassir, dhamîr al-hâ' kembali kepada al-waliyy. Pertolongan Allah Swt. kepada wali
korban pembunuhan adalah dengan mewajibkan qishâsh atau diyat, dan
memerintahkan penguasa untuk membantu diperolehnya hak ahli waris secara
sempurna 21. Karena telah mendapatkan pertolongan-Nya, janganlah mereka mencari
segala sesuatu selain haknya. 22
Adapun Mujahid dan Qatadah berpendapat, dhamîr al-hâ' itu kembali kepada korban
pembunuhan. Di dunia, ia ditolong Allah Swt. dengan adanya kewajiban hukuman
qishâsh atau diyat atas pembunuhnya. Di akhirat kelak ia ditolong dengan ditutupinya
kesalahannya dan dimasukkannya pembunuhnya ke dalam neraka 23. Karena dia telah
ditolong Allah Swt., janganlah walinya melakukan tindakan yang melampaui batas
dalam urusannya. 24

Islam Melindungi Jiwa

Siapa pun yang mencermati ayat ini, pastilah berkesimpulan bahwa Islam amat
melindungi jiwa manusia. Perlindungan itu tampak pada beberapa hal. Pertama:
Larangan membunuh semua jiwa yang diharamkan Allah Swt., kecuali jika ada sebab
yang haq. Selama tidak ada sebab yang dibenarkan syariah, menumpahkan darah
merupakan tindakan terlarang. Bagi seorang Mukmin, larangan itu sudah cukup
mencegah dirinya melakukan pembunuhan. Apalagi dalam nash-nash lainnya,
membunuh dikategorikan sebagai dosa besar dan pelakunya diancam dengan azab yang
amat dahsyat. (QS an-Nisa' [4]: 92).

Kedua: Adanya sanksi terhadap pelaku pembunuhan. Dalam ayat ini, Allah Swt. tidak
hanya melarang membunuh, namun juga menjatuhkan hukuman terhadap pelakunya.
Hukuman itu diserahkan kepada ahli waris korban: antara qishâsh atau diyat. Qishâsh
merupakan hukuman bunuh yang dijatuhkan atas si pembunuh. Adapun diyat
pembunuhan sengaja sebesar 100 ekor unta, 40 ekor di antaranya dalam keadaan
bunting atau 1000 dinar (1 dinar=4,25 gr emas)!

Memang, masih ada pilihan ketiga, yakni memberikan maaf. Akan tetapi, alternatif
pilihan itu sepenuhnya menjadi hak keluarga korban. Pihak pembunuh tidak boleh
memaksa keluarga korban untuk memilih salah satu di antara tiga pilihan itu. Dengan
begitu, sebelum membunuh, seseorang tidak akan mengetahui secara pasti hukuman
apa yang bakal dia terima. Karena tidak mengetahui, tuntutan qishâsh dari keluarga
korban tetap menjadi ancaman yang menakutkan bagi orang yang akan melakukan
pembunuhan. Ketakutan terhadap hukuman qishâsh itu bisa mencegah terjadinya
pembunuhan.

Patut dicatat, hukuman di dunia terhadap setiap pelaku kejahatan itu amat penting.
Dalam kasus pembunuhan, misalnya, meskipun telah dinyatakan sebagai perbuatan
terlarang dan pelakunya diancam dengan azab neraka, jika tidak disertai hukuman di
dunia, larangan dan ancaman itu hanya bisa mencegah orang-orang beriman saja.
Adapun bagi orang-orang yang tidak beriman atau tipis imannya, larangan dan
ancaman siksa neraka tidak akan berarti apa-apa. Di sinilah pentingnya hukuman di
dunia dalam rangka mencegah pembunuhan oleh orang-orang yang tidak beriman atau
tipis imannya. Tepat sekali jika dinyatakan, diterapkannya hukuman qishâsh akan
menjamin berlangsungnya kehidupan (QS QS al-Baqarah [2]: 179).

Ketiga: larangan kepada keluarga korban melakukan tindakan melampaui batas. Dalam
kasus pembunuhan, keluarga korban merupakan pihak yang paling dirugikan. Wajar
jika dalam ayat ini mereka diberi kekuasaan dalam menentukan pilihan sanksi.
Meskipun demikian, mereka tidak boleh melampaui batas yang telah ditetapkan
syariah. Mereka tidak boleh menuntut qishâsh kecuali terhadap pelaku pembunuhan.
Mereka juga tidak boleh membunuh pelakunya dengan cara yang keji, seperti
mencincang. Jika itu mereka lakukan, kemarahan keluarganya bisa saja tersulut.
Berikutnya, pertumpahan darah antar keluarga bisa tidak terelakkan karenanya.
Dengan demikian, ketentuan ini pun memberikan penjagaan terhadap jiwa manusia
dari ancaman pembunuhan yang dilakukan secara zalim. Dengan begitu,
keberlangsungan kehidupan manusia pun dapat terjaga. Siapa yang tidak
merindukannya? Wallâh a'lam bi ash-shawâb. []

Catatan Kaki:

   1.    Wahbah al-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, vol. 15. (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1991), 70
   2.    Al-Qasimi, Mahâsin al-Ta'wîl, vol. 6 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), 459.
   3.    Ibn Athiyah al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajîz fî Tafsîr al-Kitâb al-'Azîz, vol. 3 (Beirut: Dar al-
         Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 452.
   4.    Abd al-Rahman al-Sa'di, Taysîr al-Karîm al-Rahman fî Tafsîr Kalâm al-Mannân, vol. 1 (Beirut:
         Alam al-Kutub, 2000), 615.
   5.    Abd al-Qadim Zallum, Hukm al-Syar'i fî: al-Istinsâkh, Naql al-A'dha', al-Ijhâdh, Athfâl al-Anâbîb,
         Ajhizat. al-In'âsyal-Thayyibah,al-H}ayah wa al-mawt (Beirut: Dar al-Ummah, 1997), 31.
   6.    Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb, vol. 20 (Beirut: Dar al-Kutub al-
         Ilmiyyah, 1990), 160
   7.    Shihab ad-Din al-Alusi, Rûh al-Ma'ânî, vol. 8 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 67; al-
         Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 277; Abu Thayyib al-
         Qinuji, Fath al-Bayân fî Maqâshîd al-Qur'ân, vol. 7 (Qathar: Idarat Ihya' al-Turats al-Islami, 1989),
         386.
   8.    Al-Alusi, Rûh al-Ma'ânî, vol. 8, 67.
   9.    Nizham ad-Din, Tafsîr Gharâib al-Qur'ân wa Raghâib al-Furqân, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-
         Ilmiyyah, 1996), 346.
   10.   Ath-Thabari, Jâmi' al-Bayân fî Ta'wîl al-Qur'ân, vol. 8 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992),
         346; Ibn 'Athiyah al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajîz, vol.3, 452; al-Baghawi, Ma'âlim al-Tanzîl,
         vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 94; al-Baqa'i, Nadhm Durar fî Tanâsub al-Ayât wa
         al-Suwar, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 376.
   11.   Ibn 'Athiyah al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajîz, vol.3, 452.
   12.   Al-Quthubi, al-Jâmi' li Ahkâm al-Qur'ân, vol. 10 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 165-166;
         Ibn Juzyi al-Kalbi, al-Tasyhîl li 'Ulûm al-Tanzîl ,vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995),
         486.
   13.   Al-Wahidi al-Naysaburi, al-Wasîth fî Tafsîr al-Qur'ân al-Majîd, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-
         Ilmiyyah, 1994), 106; Abu Bakr al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr li Kalâm al-'Aliyy al-Kabîr, vol. 3 (tt:
         Nahr al-Khair, 1993), 190; Wahbah al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr , vol. 15, 65.
   14.   Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsîr al-Bahr al-Muhith, vol. 6 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993),
         30.
   15.   Al-Quthubi, al-Jâmi' li Ahkâm al-Qur'ân, vol. 10, 166.
   16.   Al-Zamakhsyari, al-Kasyâf, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 638.
   17.   Ath-Thabari, Jâm' al-Bayân, vol. 8, 75; Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur'ân al'Azhîm, vol. 3 (Riyadh: Dar
         'Alam al-Kutub, 1997), 52; al-Samarqandi, Bahr al-'Ulûm, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah,
         1993), 267.
   18.   Al-Quthubi, al-Jâmi' li Ahkâm al-Qur'ân, vol. 10, 166.
   19.   Al-Baghawi, Ma'âlim al-Tanzîl, vol. 3, 94.
   20.   Al-Quthubi, al-Jâmi' li Ahkâm al-Qur'ân, vol. 10, 166; al-Syatqithi, Adhwâ' al-Bayân fî Idhâh al-
         Qur'an, vol. 3 (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), 87-88.
   21.   Al-Qinuji, Fath al-Bayân fî Maqâshîd al-Qur'ân, vol., 386; al-Qasimi, Mahâsin al-Ta'wîl, vol. 6,
         459; Nidzam al-Din al-Naysaburi, Tafsîr Gharâib al-Qur'ân wa Raghâib al-Furqân, vol. 4 (Beirut:
         Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1996), 347
   22.   Al-Zamakhsyari, al-Kasyâf, vol. 2, 638; al-Alusi, Rûh al-Ma'ânî, vol. 8, 68; al-Qasimi, Mahâsin al-
         Ta'wîl, vol. 6, 459.
   23.   Al-Baghawi, Ma'âlim al-Tanzîl, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 94; al-Khazin,
         Lubâb al-Ta'wîl fî Ma'ânî al-Tanzîl, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), ; al-Qinuji,
         Fath al-Bayân fî Maqâshîd al-Qur'ân, vol., 386; Nizham ad-Din al-Naysaburi, Tafsîr Gharâib al-
         Qur'ân, vol. 4, 347.
   24.   Al-Alusi, Rûh al-Ma'ânî, vol. 8, 68
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/6609


Konsultasi : Aqidah

Apakah Ramalan Bintang (Zodiac) Boleh Dipelajari Dan Dipercaya?

Pertanyaan:

Ustadz,
Mau nanya nih, saya suka lihat saudara sepupu saya sering melihat tayangan ramalan
bintang di atau di majalah remaja.
Pertanyaannya : apakah ramalan bintang itu ilmu yang boleh dipelajari atau
diharamkan islam ?

Ari

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa
ba`du,


Hukum ramalan itu haram sebab mengandung unsur syirik di dalamnya. Bahkan ada
sebuah dalil yang menyebutkan bahwa saking haramnya, hingga sekedar bertanya
kepada peramal tanpa percaya pun sudah syirik.

Sehingga urusan ramalan bintang yang sumbernya adalah mitologi yunani memang
bukan masalah sepele. Sayangnya, ramalan syirik seperti itu masih saja ada menghiasi
majalah dan koran, bahkan sekarang sudah masuk ke dunia yang lebih canggih seperti
SMS dan internet. Kami yakin mereka melakukannya bukan karena semata-mara
percaya, melankan hanya sekedar having fun.

Hanya saja masalahnya, kalau ada keterangan yang menyebutkan bahwa sekedar
mendatangi peramal saja sudah dianggap syirik meski tidak percaya, maka kasusnya
sama saja. Sekedar membaca-baca dan bermain dengan ramalan bintang itu sudah
dianggap syirik.

Karena itu, janganlah membeli majalah, koran atau media apapun yang ada ramalan
bintangnya, sebab sedikit banyak kita punya andil atas media yang syirik itu. Sekecil
apapun.

Ramalan zodiak itu sebenarnya bersumber dari mitos yunani yang dahulu disuplai oleh
syetan. Budaya yunani kuno itu menerima kabar dari syaithan dengan jalan melihat
letak bintang untuk menentukan atau mengetahui peristiwa-peristiwa di bumi, seperti
letak benda yang hilang, nasib seseorang, perubahan musim, dan lain-lain. Inilah yang
biasa disebut ilmu perbintangan atau tanjim. Sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

� � Kemudian melemparkan benda itu kepada orang yang di bawahnya sampai
akhirnya kepada dukun atau tukang sihir. Terkadang setan itu terkena panah
bintang sebelum menyerahkan berita dan terkadang berhasil. Lalu setan itu
menambah berita itu dengan seratus kedustaan.� (HR. Bukhari dari Abi Hurairah
radliyallahu 'anhu)


Meskipun demikian, masih banyak orang yang mempercayai dan mau mendatangi
peramal atau astrolog atau para dukun, bukan saja dari kalangan orang yang
berpendidikan dan ekonomi rendahan bahkan dari orang-orang yang berpendidikan dan
berstatus sosial tinggi. Perbuatan orang yang mendatangi atau yang didatangi dalam
hal ini para dukun sama-sama mendapatkan dosa dan ancaman keras dari Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berupa dosa syirik dan tidak diterima shalatnya selama 40
malam.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

�Barangsiapa yang mendatangi dukun dan menanyakan tentang sesuatu lalu
membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya 40 malam.� (HR. Muslim dari
sebagian istri Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam)


Pada kesempatan lain, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam juga mengancam mereka
tergolong orang-orang yang ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa beliau Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam :

Barangsiapa yang mendatangi dukun (peramal) dan membenarkan apa yang
dikatakannya, sungguh ia telah ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. (HR. Abu Dawud)


Ancaman dalam hadits di atas berlaku untuk yang mendatangi dan menanyakan, baik
membenarkan    atau     tidak.    (Syaikh   Abdurrahman    Alu   Syaikh  1979)

Hadaanallahu    Wa    Iyyakum     Ajma`in,    Wallahu          A`lam      Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.




http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/msg00531.html
[daarut-tauhiid] Riya Menjelma Syirik

shofy                                                                         nafsany
Thu, 06 Apr 2006 23:32:18 -0700

fyi.... mudah2an bermanfaat.
 buat yang mo weekend.... Have a nice holiday.


Riya Menjelma Syirik


Riya adalah sifat tercela, ia sangat membahayakan perjalanan seorang salik (pejalan
menuju Allah), karena bisa memberangus nilai ibadahnya. Bahkan riya dikatagorikan
syirik khafi (tersembunyi).


Hasrat mendapatkan sesuatu dari makhluk, sebagai wujud riya yang dapat mengotori
niat ibadah seseorang. Riya juga dapat membuat seseorang jadi munafik bahkan
menjadi musyrik. Karena itu berhati-hatilah dengan sifat riya yang sangat
membahayakan.


“Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka
menyebut Allah kecuali sedikit sekali•E (An Nisaa': 142)


Bahaya riya


Setiap manusia mempunyai kecenderungan ingin dipuji, dan keinginan itu merupakan
proses pembentukan riya dalam diri seseorang. Sifat riya sangat lembut dan halus,
bagaikan gumpalan asap yang memenuhi jiwa dan mengalir kesegenap pembuluh
darah, dampaknya dapat menutup pandangan akal dan iman seseorang. Bila sifat itu
dibiarkan berkembang mewarnai hidupnya, maka sudah dapat dipastikan, tidak mampu
membendung riya menjelma jadi syirik. Sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Adz
Dzahabi.
“Maka takutlah kamu sekalian akan riya, karena sessungguhnya riya itu adalah
menyekutukan (syirik) kepada Allah•E
Sifat riya sangat berbahaya bagi orang yang menjalankan ibadah, karena menelusup ke
sela-sela niat. Padahal niat merupakan pangkal dari murni tidaknya suatu ibadah. Bila
amal ibadah seseorang tidak mencerminkan kemurnian (keikhlasan), akan sia-sia.
Sebab, Allah tidak pernah menyuruh hamba-hamba-Nya untuk berbuat ibadah, kecuali
yang dilandasi niatan ikhlas (murni). Sesungguhnya setiap amal ibadah seorang hamba,
tidak dilihat dari sisi lahiriahnya, melainkan apa yang terlintas dalam hatinya, yaitu
niatan ikhlas.
Barangsiapa mencampur adukkan niat ibadah dengan keinginan nafsunya, sekalipun
surga yang diinginkannya, niscaya gugurlah segala amal ibadahnya. Pahala dan surga
adalah makhluk Allah. Mengapa masih mengharap sesuatu selain Allah.
“Maka perumpamaan orang (yang beramal serta riya) itu seperti batu licin yang
diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, Allah menjadikan dia
bersih (tidak bertanah) (Al Baqarah : 264 )


Mengapa harus mencari pujian dan sanjungan dari makhluk. Bukankah setiap
perbuatan yang bersifat baik dan terpuji, dengan sendirinya pasti terpuji dan
tersanjung. Begitu pula sebaliknya, setiap perbuatan yang tercela, walau berusaha
mencari pujian dan sanjungan, tetap saja tercela. Yang sudah pasti, Allah tidak
menerima amal ibadah yang disertai pamrih. Karena Allah Dzat Yang Suci. Seseorang
yang mengharap perjumpaan dengan-Nya, hendaklah memakai busana yang suci lahir
dan batin.
Karena itu, barangsiapa beribadah mencari selain Allah, seperti popularitas,
mengharap puji dan sanjung, Allah akan meninggalkan dan tidak peduli pada amal
ibadahnya orang-orang yang bersifat riya.
Perlu digaris bawahi, Allah tidak mau “dimadu•E(didua-kan). Allah adalah Dzat yang
Esa. Ia tidak butuh amal ibadah seorang hamba yang menduakan-Nya. Siapa pun
mengerjakan ibadah yang disertai riya, berarti telah menyekutukan Allah alias syirik.


Riya dalam Shalat
Tumbuh riya pada jiwa orang yang shalatnya diawali motivasi mengharap sesuatu dari
manusia, Misalnya melakukan shalat, dengan harapan dikenal sebagai orang yang
shaleh dan ahli ibadah. Atau mendirikan shalat karena ingin dikenang sebagai orang
yang mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub).
Seseorang tidak akan mengetahui riya yang tumbuh pada jiwa orang lain, karena sifat
riya sangat halus dan lembut. Ia menelusup dalam diri setiap manusia. Tidak ada yang
mengetahui riya, kecuali diri orang yang bersifat riya.
Sifat riya pada orang yang melakukan shalat dapat muncul dari awal persiapan sampai
akhir shalat. Shalatnya menjadi tidak khusyu' dan tidak bernilai, sebab shalatnya tidak
dilakukan dengan tulus dan murni karena panggilan Allah.
Sungguh sangat tercela, shalat orang yang dilandasi dengan riya. Betapa nista orang
yang dapat dikelabui oleh setan, dengan pandangan dan bayangan kemuliaan. Sungguh
celaka orang yang mengotori niat shalatnya dan melalaikan seruan Rasulullah saw.
”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan
mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat, mereka berdiri dengan malas.
Mereka bermaksud riya (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka
menyebut Allah kecuali sedikit sekali (An Nisaa': 142).
Rasulullah saw. bersabda :
“Barangsiapa yang menyempurnakan shalatnya ketika dilihat manusia dan
menguranginya diwaktu sendirian. Maka itulah penghinaan terhadap Tuhannya
(Allah)•E (HR. At Thabrani dan Al Baihaqi)
Riya saat zakat


Sifat riya juga tumbuh pada jiwa orang yang memiliki harta, sifat tersebut dapat
merubah seseorang menjadi kikir. Zakat dan sedekah yang ditunaikan acap kali
diwarnai sifat riya. Tidak ada zakat dan sedekah baginya, kecuali hasrat dipuji dan
disanjung.
Ciri-ciri orang semacam itu, saat memberi selalu disertai kata-kata yang menyakitkan
hati si penerima. Cara menghitung zakat harta, zakat infak, zakat fitrah dan zakat
lainnya, cenderung menyimpang dari ketetapkan syari'at Islam.
Orang yang menafkahkan hartanya karena riya, bukan termasuk golongan orang yang
beriman kepada Allah dan hari kemudian. Bahkan mereka termasuk golongan orang
yang merugi. Karena mereka telah mengambil setan-setan dari jenis manusia sebagai
temannya. Padahal setan adalah seburuk-buruk teman bagi manusia.
“Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada
manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian.
Barangsiapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu adalah
teman yang seburuk-buruknya•E (An Nisaa': 38).


Riya saat ibadah


“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya
dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi
(orang) dari jalan Allah•E Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (Al
Anfaal: 47).


Kemurahan Allah tercurah pada setiap orang yang mengamalkan ibadah. Apapun yang
diniatkan dalam melaksanakan ibadah, niscaya akan dapat hasilnya sesuai dengan
niatannya.


Sebagaimana Nabi saw bersabda:
“Barangsiapa yang beramal karena ingin didengar (cari popularitas), maka Allah akan
mendengarkannya. Dan barangsiapa yang beramal karena ingin dilihat (mencari puji
dan penghormatan), maka Allah akan memperlihatkannya.•E (HR. Muslim bersumber
dari Ibnu ’Abbas. ra.)
“Dan sesungguhnya bagi setiap amal manusia akan mendapatkan apa yang diniatkan".
(HR. Bukhari bersumber dari Umar bin Khaththab ra.)


Riya akan menghanguskan semua amal ibadah yang telah dilakukan dengan susah
payah. Sifat riya juga dapat tumbuh subur di lingkungan santri, dengan mengajak
berangan-angan menjadi ulama besar dan terhormat yang disegani masyarakat. Bukan
bercita-cita menjadi hamba Allah yang shaleh, tetapi cenderung menginginkan
kemuliaan di dunia dan kemegahan derajat.
Begitu pula di kalangan ahli zikir, sifat riya tumbuh dengan lintasan jiwa ingin meraih
aura ruhani, sehingga mampu mengelabui di setiap desah zikirnya. Bahkan jiwanya
akan membujuk hati untuk mempercepat zikir bahkan menuntut keistimewaan atau
“karomah•E Bagi ahli zikir, tak ada hijab yang menjelma syirik, kecuali riya'. Karena
itu ikhlaskan niat agar benar-benar bersih dari noda syirik.


“Aku tidak butuh sekutu dalam segala-galanya. Karena itu barangsiapa yang
mengamalkan suatu amalan, lalu dia menyekutukan-Ku dalam amalnya itu dengan
selain-Ku, maka Aku tinggalkan amalnya itu padanya dan pada sekutunya. (Hadis
Riwayat Muslim. Dari Abu Hurairah ra).


Penawar sifat riya


Penawar sifat riya sesungguhnya ada pada diri orang yang
bersangkutan. Yaitu dengan menyingkirkan segala keinginan yang bersifat duniawi
maupun ruhani, karena semua itu hanyalah hiasan bagi orang yang sedang menuju
Allah.


”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepadanya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus"
(Al Bayyinah: 5).
Maka satu-satunya jalan menuju keselamatan hati adalah mawas diri, dan mengikis
habis sifat-sifat tercela terutama riya. Tentu dengan cara senantiasa melatih dan
meningkatkan kadar keimanan.


”Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya
dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi
(orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.•E(Al
Anfaal: 47).


Merupakan karakter dasar manusia yang selalu ingin dipuji dan dihormati, sehingga
riya berkembang dalam diri. Namun bagi orang yang memiliki kesadaran diri,
kesadaran spiritual, dan keimanan yang baik yang menyadari bahwa hanya Allah yang
berhak dipuji dan menerima pujian dari setiap makhluk. Hanya Dia-lah Dzat yang patut
dipuji. Apabila hasrat ingin dipuji muncul di dalam hati dan sulit dikendalikan maka
ingatlah kepada Allah swt. dan tumbuhkan niat ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.
Barangsiapa yang hendak meraih kemuliaan dan kebesaran Tuhannya di dunia maupun
di akhirat, beramallah dengan amalan-amalan yang baik (shaleh) dengan memurnikan
akidahnya dalam beribadah kepadaNya, dan tidak syirik dengan sesuatu apapun. Allah
adalah Dzat yang Esa, maka Allah cinta kepada hamba-hamba-Nya yang mengesakan
niatnya dalam melaksanakan amal ibadah yang diserukan-Nya. Itu sebagai tanda bersih
hatinya dari sifat riya. Jika hati tidak bersih dari sifat tersebut, maka riya akan
menjelma jadi syirik.


"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala
dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (An Nisaa':
48)


Kalam Hikmah :


 1. Setiap manusia mempunyai kecenderungan ingin dipuji, dan keinginan itu
    merupakan proses pembentukan riya dalam diri seseorang.
 2. Jika hati tidak bersih dari sifat tersebut, maka riya akan menjelma jadi syirik.
 3. Mengapa harus mencari pujian dan sanjungan dari makhluk. Bukankah setiap
    perbuatan yang bersifat baik dan terpuji, dengan sendirinya pasti terpuji dan
    tersanjung.
 4. Riya akan menghanguskan semua amal ibadah yang telah dilakukan dengan susah
    payah.


Dikutip dari Majalah "KASYAF"
KASYAF adalah majalah Kajian Tauhid dan Hakikat yang terbit setiap dua bulan sekali.
Saat ini sedang beredar Edisi 5 yang mengangkat tema
"HIJRAH MENGGAPAI MA’RIFATULLAH•E
Akan beredar KASYAF Edisi 6 dengan mengusung TEMA :
"CAHAYA MUHAMMAD SAW
KASYAF dapat diperoleh di toko buku atau lapak-lapak koran terdekat atau dapat
langsung menghubungi Bagian Marketing/Sirkulasi (Sdr. Ahmad Rivai) Telp
(021)87710094 atau kunjungi websitenya : www.akmaliah.com dan [EMAIL PROTECTED]




http://republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=179343&kat_id=105&kat
_id1=147&kat_id2=269


Jumat, 26 Nopember 2004

H Shiddiq al-Jawi

Islam Menghargai Kehidupan
Euthanasia secara bahasa berasal dari bahasa Yunani eu yang berarti "baik" dan
thanatos yang berarti "kematian". Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah qatlu ar-
rahma atau tafsir al-maut. Sementara menurut istilah kedokteran, euthanasia berarti
tindakan agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal
diperingan.

Ada dua macam euthanasia, yakni euthanasia aktif dan euthanasia pasif. Dan menurut
H Shiddiq al-Jawi dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), syariat Islam sebenarnya telah
mampu mengatasi segala persoalan, termasuk menyangkut euthanasia ini, baik yang
aktif maupun yang pasif.

"Islam tidak membenarkan dilakukan tindakan euthanasia aktif. Sedangkan pada
euthanasia pasif dengan menghentikan perobatan melalui pencabutan alat-alat bantu,
hukumnya boleh dan tidak haram," kata Shiddiq ketika ditemui pada seminar
euthanasia, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Kendati begitu, euthanasia tetap
menjadi bahan perdebatan di kalangan medis, tokoh agama, dan hak azasi manusia.
Masalah etika dan moral pun lebih mengemuka. Berikut ini petikan wawancara
Wartawan Republika Yusuf Assidiq, dengan Shiddiq al-Jawi mengenai hal itu:

Seperti apa sebenarnya konsep Islam mengenai kehidupan dan sekaligus juga
kematian?
Perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana kehidupan itu berawal. Dari berbagai nash
Quran dan fakta yang ada, menunjukkan bahwa bayi di dalam janin baru mendapatkan
ruh setelah 120 hari. Tapi sesungguhnya sebelum 120 hari, Allah SWT sudah
memberikan kehidupan. Kehidupan itu ditandai dengan adanya keperluan terhadap
nutrisi, pergerakan, diferensiasi sel-sel, dan seterusnya. Itu adalah tanda-tanda
kehidupan. Jadi dari 0 sampai 120 hari, sudah ada kehidupan tapi belum ada nyawa.

Dari situ diketahui, antara ruh dan kehidupan bukan sesuatu yang identik. Namun
kemudian ada bukti yang kedua bahwa ruh dan kehidupan juga punya kaitan. Pada
surah Az-Zumar disebutkan "..Allah-lah yang mewafatkan jiwa-jiwa manusia dan Allah
pulalah yang memegang jiwa manusia ketika dia tidur." Dalam buku Emansipasi Adakah
Dalam Islam karya Al-Baghdadi, dikatakan ayat ini menunjukkan ketika manusia tidur,
sebenarnya tidak memiliki nyawa. Penjelasannya adalah bahwa di saat kita tidur,
kehidupan masih ada, normal, kita pun bernafas. Tapi menurut nash Quran, manusia
justru sedang tidak bernyawa waktu tidur.

Bukti ketiga, ketika nyawa manusia dicabut oleh Allah, ternyata masih dimungkinkan
adanya tanda-tanda kehidupan pada sebagian organ. Karena itu bila ada orang yang
mengalami gegar otak atau mati batang otak, organ tubuhnya masih bisa berfungsi dan
bisa ditransplantasikan kepada orang lain. Meski sebenarnya sudah tidak bernyawa,
tapi masih ada organ-organnya yang memiliki tanda-tanda kehidupan.

Dari penjelasan ini diketahui bahwa nyawa dan kehidupan tidaklah identik, akan tetapi
ada hubungannya, bahwa nyawa itu hanya mau bersemayam pada manusia yang
memiliki daya dukung untuk hidup. Bila seorang manusia organ tubuhnya sudah
hancur, jelas tidak lagi punya kemampuan untuk hidup. Dan nyawa dengan sendirinya
tidak bisa bersemayam di sana.
Menyangkut euthanasia, bagaimana Islam memandang persoalan ini?

Berdasarkan literatur, para ulama membagi euthanasia ke dalam dua kategori, yaitu
euthanasia aktif dan pasif. Mungkin di sini pendefinisiannya agak berbeda dengan yang
diterapkan pada bidang kedokteran. Euthanasia aktif adalah tindakan dokter untuk
mempercepat kematian pasien misalnya dengan memberikan suntikan mematikan ke
dalam tubuh pasien. Sementara euthanasia pasif, adalah tindakan dokter untuk
menghentikan pengobatan pasien.

Euthanasia aktif secara jelas diharamkan dalam Islam. Tindakan dokter mempercepat
kematian pasien termasuk kategori pembunuhan secara sengaja yang merupakan
tindak pidana. Walaupun niatnya baik untuk meringankan penderitaan pasien namun
hukumnya tetap haram, tak peduli ada permintaan sendiri dari pasien atau
keluarganya.

Dalil-dalilnya juga sangat jelas. Seperti pada surat An-Nisaa ayat 92 "..dan tidak layak
bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah
(tidak sengaja).." Selain itu dalam surat Al-An'aam ayat 51 disebutkan "..dan janganlah
kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) melainkan dengan
sesuatu (sebab) yang benar."

Berdasar dalil-dalil tersebut jelaslah hukumnya bagi dokter melakukan euthanasia
aktif. Tindakan itu adalah dosa besar. Oleh sebab itu dokter yang melakukan
euthanasia aktif, misalnya dengan memberikan suntikan mematikan, menurut hukum
pidana Islam, dapat dijatuhi hukuman qishash (hukuman mati karena membunuh).

Dalih yang dipakai selama ini saat hendak melakukan euthanasia aktif adalah guna
mengurangi penderitaan pasien. Apakah alasan tersebut bisa diterima menurut
Islam?
Tidaklah dapat diterima alasan euthanasia aktif yang sering kali dikemukakan yakni
kasihan melihat penderitaan pasien sehingga kemudian dokter memudahkan
kematiannya. Alasan ini hanya melihat aspek lahiriah (empiris), padahal dibalik itu ada
aspek-aspek lainnya yang tidak diketahui dan tidak dijangkau manusia. Dengan
mempercepat kematian pasien dengan euthanasia aktif, pasein tidak mendapatkan
manfaat dari ujian sakit yang diberikan Allah kepadanya, yaitu pengampunan dosa.

Tidak diterimanya alasan itu juga berlaku pada euthanasia pasif?

Euthanasia pasif adalah praktek menghentikan pengobatan. Tindakan itu dilakukan
berdasarkan keyakinan dokter bahwa pengobatan yang dilakukan tidak ada gunanya
lagi dan tidak memberikan harapan sembuh pada pasien. Karena itu dokter
menghentikan pengobatan pada pasien misalnya dengan cara menghentikan alat
pernapasan buatan dari tubuh pasien.

Bagaimana hukumnya menurut Islam? Jawabannya sangat tergantung kepada
pengetahuan kita tentang hukum berobat itu sendiri. Yakni apakah berobat itu wajib,
mandub, mubah atau makruh. Dalam masalah ini masih ada perbedaan pendapat.
Menurut jumhur ulama, mengobati itu hukumnya sunah. Namun sebagian ulama ada
yang mewajibkan berobat.
Dari beberapa hadis nabi, jelas diketahui bahwa pengobatan atau berobat hukumnya
sunah, termasuk dalam hal ini memasang alat bantu bagi pasien. Terkait hal ini, Abdul
Qadim Zallum mengatakan jika para dokter telah menetapkan si pasien telah mati
organ otaknya, maka dokter berhak menghentikan pengobatan, seperti melepas alat
bantu pernapasan dan sebagainya. Sebab pada dasarnya penggunaan alat-alat bantu
itu termasuk aktivitas pengobatan yang hukumnya sunah, bukan wajib.

Namun untuk bebasnya tanggung jawab dokter, disyaratkan adanya izin dari pasien,
walinya atau washi-nya (orang yang ditunjuk untuk mengawasi dan mengurus pasien).
Jika pasien tidak punya wali dan washi, izin perlu ada dari pihak penguasa.

MUI sudah mengeluarkan fatwa haram euthanasia. Menurut Anda?

Mungkin perlu diteliti lagi. Seperti sudah dikemukakan, ada euthanasia aktif untuk
mempercepat kematian pasien. Kita sepakat itu tidak boleh karena sama saja dengan
pembunuhan disengaja. Tapi mengenai euthanasia pasif dalam arti untuk
menghentikan pengobatan, saya kira perlu ditinjau lagi lantaran ada pendapat dari
beberapa ulama yang membolehkan euthanasia setelah matinya batang otak.

( yus )




http://moslemyouthcrew.com/index.php/2006/12/06/syirik-tauhid-aliran-sesat/



Membedah Kesyirikan
December 06th, 2006 | Kategori: tauhid

                         Syirik sebagai sebuah penyakit, selalu berjangkit di setiap
                         generasi. Menimpa individu maupun masyarakat. Sejarah
                         kehidupan mencatat, bahwa kesyirikan dalam level
                         masyarakat berlangsung awal sekali di zaman Nabi Nuh
                         Alaihis-Salam. Sejarah manusia sebelumnya adalah lurus,
                         bersih dan bertauhid kepada Allah. Sejak Nabi Adam generasi
                         insane senantiasa hanif (lurus) beribadah kepada Allah
                         semata. Sampai syaitan mendatangi manusia, membisikkan
                         rayuan persekutuan kepada Allah. Memberikan sebuah umpan
                         yang terbukti jitu mengantar manusia kepada kerendahan
                         adalah pengagungan orang-shalih lebih dari kapasitasnya,
                         disembah, dimohon, dijadikan perantara dalam berseru
                         kepada Allah Ta’ala. Umpan ini terbukti manjur diterapkan di
                         setiap generasi, hingga zaman Nabi kita Muhammad
Shallallahu Alaihi wa Sallam. Berlanjut pula hingga detik ini, dan sampai waktu yang
Allah saja yang mengetahui.
Di level individu , tentunya telah berlangsung di sepanjang sejarah menusia itu sendiri.
Fenomena nyata terjadinya kesyirikan di tingkat individu dan kita temukan banyak di
sekitar kita terjerumusnya manusia dalam penyembahan terhadap hawa nafsunya.

Ibarat sebuah penyakit, baik ia menimpa individu maupun masyarakat, kesyirikan tak
boleh sedikitpun dibiarkan, ditumbuhkembangkan, terlebih ‘diuri-uri’ (dilestarikan).
Ancaman Allah berkaitan dengan aktivitas kesyirikan ini sangatlah mengerikan, dahsyat
dan luar biasa sehingga tak boleh disepelekan. Ia berkaitan dengan masa depan abadi
kehidupan manusia.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni yang selain
syirik kepada yang dikehendaki”.

                                                                           (An-Nisa 48)

Tiada ampunan Allah bagi pelaku kesyirikan adalah musibah terbesar bagi hidup
manusia. Syirik mensuramkan masa depan manusia di dunia maupun akhirat.
Pentingnya hal itu, memberikan konsekuensi bagi seorang muslim untuk mengetahui
dan mengenal hal-hal yang bermuatan kesyirikan untuk bisa menjauhi sejauh-jauhnya.

Bila kesyirikan dipilah pilah menurut besarnya, maka dapat dikategorikan menjadi 2
macam, yaitu :

   1. syirik (Akbar) besar
   2. syirik (Ashgor) kecil

Apa beda keduanya ?
Syirik akbar atau besar secara mudahnya adalah menjadikan tandingan di sisi Allah
dalam hal ibadah, atau memalingkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah.
Kesyirikan bisa dalam bentuk berdo’a kepada selain Allah, bernadzar, berqurban,
tawakal, meminta pertolongan dan ibadah yang lain. Ibnu Mas’ud pernah bertanya
kepada Rasulullah “Apakah dosa terbesar?”, jawab Rasulullah :

“Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padalah Dia (Allah) telah menciptakan engkau”.

                                                               (HR Bukhari dan Muslim)

Kategori syirik (Akbar) inilah yang mengeluarkan seseorang dari keislamannya dan tak
akan diampuni oleh Allah ta’ala. Syirik akbar ini tak hanya semacam saja, namun
ternyata ada bermacam-ragam. Diantara model syirik besar :

Syirik dalam do’a (Syirku ad du’a):

yaitu dengan memohon kepada selain Allah, tanpa kecuali. Kepada siapa dan apa pun
selain Allah SWT seseorang berdo’a, maka dia telah mensekutukan Allah ta’ala dan
keluar dari Islam. Walaupun yang diminta do’a adalah malaikat, para Nabi, wali dan
orang shalih, tetaplah perbuatan syirik.
“Janganlah engkau berdo’a kepada selain Allah yang tak dapat memberikan manfaat
dan bahaya, apabila kalian melakukannya niscaya kalian menjadi orang-orang yang
merugi”

                                                                       (QS Yunus 106)

Syirik dalam niat (Syirku an niyah):

yaitu beramal kebaikan hanya untuk meraih dunia, materi semata. Beramal shalih,
menuntut ilmu, bersedekah dan amalan yang lain tidak diniatkan mencari pahala di sisi
Allah SWT namun ia inginkan kedudukan, prestise, pujian, harta, isteri/suami dan hal-
hal keduniaan. Allah SWT berfirman :

“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka akan kami
sempurnakan amalan-amalan mereka di dunia , dan mereka tidak dirugikan merekalah
yang tiada bagian di akhirat kecuali neraka, dan terhapus apa yang mereka buat dan
batillah apa yang mereka kerjakan”.

                                                                          (QS Hud 15)

Syirik kecintaan (Syirku al mahabbah):

model ini adalah mencintai selain Allah SWT sebagaimana mencintai Allah. Membagi
atau memadu cinta adalah model syirik yang satu ini. Cinta kepada Allah namun cinta
pula kepada selain Allah SWT. Cinta yang dimaksud adalah cinta ibadah, yang berisi
ketundukan, dan perendahdirian. Dengan cinta ini seorang rela untuk tunduk, patuh
taat, mendekatkan diri, sujud ruku’ meninggalkan perintah Allah SWT, melanggar
aturan Allah SWT. Allah SWT berfirman tentang hal ini : “dan diantara manusia ada
yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu-sekutu, mereka mencintai tandingan-
tandingan tadi sebagaimana mencintai Allah ta’ala”.

Syirik ketaatan (syirk ath tho’ah);

syirik model ini adalah syirik dalam menaati ulama, para syaikh, kyai dan ustadz dalam
hal kemaksiatan kepada Allah ta’ala. Di negeri ini, syirik ketaatan sangat luas
menyebar, segala hal yang dikatakan pemuka agamanya (kyai) mesti benar, tak ada
yang salah. Tak heran, bila sihir dikatakan halal dan bagus, maka para pengikut pun
mengangguk dan taat. Lihat fenomena pasukan berani mati beberapa waktu yang lalu.
Mereka dilengkapi dengan kekebalan, tahan peluru, bisa merayap di dinding dan
macam-macam keganjilan yang lain, jelas ini adalah syihir. Anehnya lagi sihir yang
beginian diperoleh dari mereka yang dikatakan ulama. Syirik ketaatan seperti yang
difirmankan Allah :

“Mereka menjadikan ahli-ahli ilmu dan ahli ibadah mereka sebagai tuhan-tuhan selain
Allah”

                                                                       (At Taubah 31)
Ketaatan ibadah tetapi dikatakan sebagai maksiat adalah dengan mentaati rahib dan
ruhban (kyai atau ulama) dalam menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah dan
mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah SWT. Perbuatan ini telah disinggung
dalam sabda Nabi kita yang mulia sholallohu alaihi wasallam :

“Tidak ada ketaatan makhluk dalam memaksiati Al Kholiq”

                                                                        (HR Ahmad)

Syirik al hulul:

yaitu keyakinan bahwa Allah bersatu bersama makhluknya. Keyakinan hulul adalah
aqidahnya Ibnu Arabi seorang penganut ajaran sufi yang dikubur di Damsyik. Sampai-
sampai Ibnu Arabi ini melantunkan syair kesyirikannya dengan menyatakan “Bukanlah
anjing dan babi melainkan tuhan kami….dan bukanlah Allah kecuali pendeta di
gereja”. Sebuah keyakinan yang sangat ekstrim, menyesatkan aqidah kaum muslim.
Di Indonesia, kita mungkin pernah mendengar kisah semisal dengan ungkapan
“manunggaling kawula gusti” (bersatunya tuhan dengan makhluk) yang dipopulerkan
oleh Syaikh Siti Jenar dan ajaran ini menyebar dalam keyakinan Kejawen, …Wallahu
a’lam. Menjadi sebuah hal memprihatinkan dan disayangkan bahwa buku-buku milik
Ibnu Arabi ini kini tersebar, dijual murah di took-toko buku. Tentu ini sangat
berbahaya bagi keyakinan dan aqidah kaum muslimin.

Syirik at-tasharruf :

yaitu keyakinan bahwa sebagian wali-wali memiliki kemampuan untuk mengubah alam,
dan mengatur perkara-perkara alam semesta seperti wali kutub, wali ghauts. Sehingga
dengan keyakinan seperti ini mereka berdo’a dan memohon kepada wali-wali tersebut.
Keyakinan ini benar-benar ada dan bukan hanya isapan jempol belaka. Tak jauh dari
kita berada, di wilayah Jogjakarta, tepatnya di daerah Imogiri kita akan mendapatkan
keyakinan seperti ini. Orang-orang disekitar makam punya acara bulanan yang
didalamnya ada do’a “wali kutuban”. Orang di desa tersebut biasa beristigotsah,
berdo’a dan memohon dalam acara tersebut kepada para wali kutub dan al ghauts. Di
daerah lain yang ajaran tasawuf berkembang pesat, akan kita dapati hal yang semisal.
Kesyirikan orang zaman sekarang memang lebih parah bila disbanding orang masa
lampau. Musyrikin di masa lampau bila ditanya :

“Siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan mengatakan Allah”

                                                                      (QS Yunus 31)

dengan kondisi yang demikian maka keadaan musyrikin di zaman dulu lebih baik dari
pada pelaku syirik at-tasharruf.

Keseluruhan syirik besar tersebut menghapuskan amalan dan mengeluarkan seseorang
dari agama Islam. Firman Allah SWT :
“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan orang-orang sebelummu apabila
engkau berbuat syirik niscaya akan hapus amalan-amalan kamu dan menjadilah engkau
orang yang merugi”.

                                                                    (QS Az Zumar 65)

Alangkah berbahaya syirik akbar ini, yang semestinya menyita perhatian kita agar kita
tidak terjerumus ke dalamnya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:925
posted:3/14/2012
language:Malay
pages:37
Description: Ebook islami