LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN by ayankaieza

VIEWS: 278 PAGES: 16

									                                        BAB I
                                 PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang
             Landasan filsafat atau filosofi merupakan landasan yang berkaitan
      dengan makna atau hakikat pendidikan yang berusaha menelaah masalah-
      masalah pokok seperti: apakah pendidikan itu, apa yang seharusnya menjadi
      tujuan. Terdapat kaitan erat dan filsafat karena filsafat dapat merumuskan citra
      tentang manusia dan masyrakat, sedangkan pendidikan akan berusaha
      mewujudkan citra itu.
             Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi
      peserta didik baik potensi fisik, potensi cipta, rasa maupun karsanya, agar
      potensinya itu nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar
      pendidikan adalah cipta-cipta kemanusiaan yang universal. Pendidikan
      bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, persatuan organis,
      harmonis, dinamis, guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat
      pendidikan adalah pendidikan yang digunakan dalam studi menganai masalah-
      masalah pendidikan.


1.2   Tujuan penulisan
             Adapun tujuan penulisan makalah agar penulis khususnya dan pembaca
      umumnya dapat mengetahui tentang fisafat dalam dunia pendidikan serta
      perkembangannya.


1.3   Ruang Lingkup
      Ruang lingkup penulisan makalah ini adalah mengenai :
      a. Pengertian landasan Filosofi
      b. Beberapa system dalam aliran filsasat pendidikan
      c. Tujuan pendidikan


\


                                          1
                                          BAB II
                                       PEMBAHASAN


2.1   Filsafat dan Pendidikan
               Secara etimologis Filsafat berasal dari kata-kata “Fhilos” yang artinya
      love (cinta) dan “sophia” artinya wisdom (kebijaksanaan – kearifan). Jadi
      filsafat dapatt di artikan cinta secara mendalam terhadap kebijak sanaan, cinta
      akan kearifan.
               Menurut Henderson fisafat dapat berarti sebagai pendirian hidup,
      misalnya filsafat pancasila merupakan pandanga atua pendirian hidup bagi
      bangsa Indonesia.
               Plato(427-347 SM), mengatakan bahwa objek filsafat adalah penemuan
      pernyataan atau kebenaran absolut (keduanya sama dalam pandangannya) lewat
      “dilektika”. Sementara aristoteles (384-332 SM) tokoh utama filosof klasik,
      mengatakan bahwa filsafat menyelidiki sebab dan azas srgala terdalam dalam
      wujud.
               Harald Titus, mengemuka kan bahwa filsafat dalam arti sempit
      merupakan science of science, dimana tugas utamanya memberikan analisis
      secara kritis terhadap asumsi – asumsi dan konsep – konsep sains, dan
      mengadakan       sistematisasi    atau   pengorganisasian   ppengethuan.     Dalam
      pengertian yang lebih luas, filsafat mencoba mengintegrasikan pengethuan
      manusia dari berbagai lapangan pengalaman manusia yang berbeda – beda dan
      menjadikan suatu pandangan konprehensif tentang alam semesta, hidup dan
      makna hidup.
               Berfilsafat adalah berpikir yang memiliki 3 ciri yaitu radikal, sistematis,
      dan universal.
               Menurut Sidi Gazalba, Berpikir radikal ialah berpikir sampai ke akar-
      akar nya, tidak tanggung – tanggung sampai kepada konsepkuensi yang
      terakhir. Berpikir sisitematis adalah berpikir logis yang bergerak selangkah
      demi selangkah, dengan penuh kesadaran dengan urutan yang bertanggugn




                                               2
      jawab dan saling berhubungan yang teratur. Berpikir universal ialah berpikir
      secara menyuluruh tidak khusus, tidak terbatas kepada bagian – bagian tertentu.
             Hubungan filsafat dalam dunia pendidikan, pendidikan berhubungan
      langsung dengan tujuanan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat
      yang menyelanggarakan pendidikan. Pendidikan tidak dapat di pahami
      seluruhnya, tanpa memehami tujuan akhir, yang bersumber kepada tujuan serta
      pandangan hidup manusia.
             Filsafat akan menelaa’h suatu realita dengan lebih luas, sesuai dengan
      cirri – cirri berpkir filsafat. Konsep tenteng dunia pandangan dan tujuan hidup,
      akan menjadi landasan dalam menyusun tujuan pendidikan.


2.2   Filsafat dan Metode Filsafat
      a. Definisi Konsepsional Filsafat
               J.A. Leighton mendefinisikan filsafat sebagai system atau sistematika
         filsafat yaitu metafisika, etika dan logika yang artinya secara berturut
         adalah teori tentang kosmologi dan ontology, tentang nilai moral dan ajaran
         berpikir filosofis.
      b. Definisi Analitis Operasional
       1. Filsafat sebagai metode berfikir. Salah satu daya jiwa manusia yang paling
          dipercaya dan yang telah menghasilkan ilmu filsafat adalah pikiran
          manusia. Berpikir sinoptis adalah berpikir merangkum, yaitu penarikan
          kesimpulan umum dari berbagai cabang ilmu pengatahuan dalam suatu
          postulat atau oksioma melalui proses abstraksi dan generalis.
       2. Berpikir radikal sebagai variasi berfikir filsafat yang lain adalah berpikir
          mendalam sampai ke akarnya. Berfikir reflektif kebalikan dari yang
          sinoptis, dimana dari suatu kasus peristiwa individual diajukan berbagai
          macam teori dan asumsi atau spekulasi untuk bidang dan masalah
          kehidupan yang lain.
       3. Filsafat sebagai sifat terhadap dunia dan hidup. Berbagai macam sikap
          yang dikembangkan oleh manusia terhadap semesta ini.




                                          3
       4. Filsafat suatu rumpun poblem sesuai dengan metode filsafat sebagai
          berfikir radikal, maka dalam kehidupan manusia dari semenjak dulu
          dihadapkan oleh persoalan hidup yang mendasar
       5. Filsafat sebagai system pemikiran.
       6. Filsafat sebagai aliran atau teori. Bervariasinya teori tentang kategori-
          kategori sistematika filsafat, menyebabkan timbulnya bermacam-macam
          aliran filsafat seperti edialisme, rasionalisme, realisame, emperisme,
          prakmatisme, materialism, eksisteliarisme.


2.3   Ilmu Filsafat pendidikan
      a. Sebagai ilmu pengetahuan normative, ilmu pendidikan merumuskan kaedah-
        kaedah norma-norma atau ukuran yang dilaksanakan oleh manusia.
      b. Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan menanamkan system-
        sistem norma tingkah laku perbuatan yang didasar kepada dasar-dasar
        filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu
        masyarakat.
      c. Ilmu pendidikan erat hubungannya dengan ilmu filsafat dan ilmu
        pewngetahuan normatife lainnya.
      d. Ilmu pengetahuan yang dapat dimasuk kedalam ilm pengatahuan normatife
        meliputi agama dan filsafat.
      e. Agama, filsafat dengan cabangnya serta istilah yang ekuivalen, menentukan
        dasar-dasar dan tujuan hidup yang akan menentukan dasar dan tujuan
        pendidikan manusia, dan akan menentukan tingkah laku perbuatan manusia
        dalam kehidupannya.
      f. Dalam perumusan tujuan-tujuan proximate dan ultimate pendidikan akan
        ditetapkan hakikat dan sifat hakikat manusia dan segi-segi pendidikan yang
        akan dibina dann dikembangkan melalui proses pendidikan sebagaimana
        yang dirumuskan dalam system pendidikan.
      g. Sistem pendidikan merumuskan alat-alat, prasarana, pelaksanaan, teknik-
        teknik atau pola-pola proses pendidikan dan pengajaran.




                                          4
      h. Isi moral pendidikan atau tujuan perantara adalah berisi perumusan norma-
        norma atau ilai spiritual etis yang akan dijadikan system nilai pendidikan
        dan merupakan konsepsi dasar nilai moral pendidikan, yang berlaku disegala
        jenis dan tingkat pendidikan.
      i. Sewajarnya setiap manusia memiliki filsafat hidup tentang kehidupan dan
        penghidupannya. Setiap pendidikan yang menjadi pedoman dalam
        melaksanakan tugas, baik diluar maupun didalam lembaga pendidikan
        formal sekolah.
      j. filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi bertugas merumuskan
        secara normative dasar-dasar dan tujuan pendidikan, hakikat dan sifat
        hakikat manusia, hakikat dan segi-segi pendidikan, isi moral pendidikan.


2.4   Kegunaan Filsafat Pendidikan
               Tiga asumsi dasar yang berkaitan dengan manfaat yang mempewlajari
      filsafat pendidikan.
      1) Bahwa hidup tanpa perenungan adalah suatu kehidupan yang kurang
         berbobot.
      2) Bahwa apabila pendidikan sebuah proses eksperimentasi, ekprerimentasi
         pendidikan berhasil tidaknya tidak mudah atau tidak segera di ketahui atau
         di buktikan.
      3) Bahwa berbuat salah dan sadar akan kesalahannya, lebih baik dari pada
         berbuat baik tetapi tidak tahu dimana letak kedudukannya.
      Manfaat yang diperoleh denghan mempelajari filsafat pendidikan.
      1) Membiasakan berfikir kritis dan reflektif terhadap problema kehidupan dan
         penghidupan manusia.
      2) Memberikan pengertian akan problema essensial dan dasar pertimbangan
         yang harus di gunakan dalam menyelesaikan problema pendidikan.
      3) Membiasakan diri mengadakan perenungan, berteori, walaupun belum
         sempurnanaya teori tersebut.
      4) Memberikan kesempatan kepada penddidik untuk meninjau kembali
         pandanagan filsafat pendidikan yang di yakini.


                                         5
      5) Berdasarkan kenyataan keragaman aliran-aliran filsafat pendidikan dalam
         pengertian banyaknya aliran tentang dasar dan tujuan pendidikan yang
         menuntut pendidik untuk mninjau perbedaan secara bebas, reflektif.
      Mengapa ilmu pendidikan harus di pelajari oleh setiap guru.
      a. Setiap individu harus bertindak, demi terciptanya manfaat pendidikan,
         secara sadar dan terarah dengan tujuan yang pasti.
      b. Setiap individu harus bertanggung jawab dalam pendidikan, yang tinggi
         rendahnya nilai mutu tanggung jawab tersebut akan banyak ditentukan oleh
         system dasar nilai norma yang melandasinya.
      c. Bahwa setiap manusia yang hidup tentu memiliki filsafat hidup, demikian
         pula manusia yang hidup dalam dunia pendidikan harus memiliki filsafat
         pendidikan yang merupakan tonggak penunjuk jalan sumber dasar, tujuan
         tindakan dan tanggung jawabnya dalam pendidikan.
      d. Suatu kenyataan, bahwa terdapat keragaman aliran-aliran pendidikan
         dimana individu pendidik harus menentukan pilihannya secara bebas,
         terbuka, dan kritis.
      e. Pada suatu saat kaum pendidik telah menentukan pilihannya, maka ia tidak
         netral   lagi   dan    menyakininya   dan   mengamalkan      aliran   filsafat
         pendidikannya secara penuh rasa tanggung jawab.


2.5   Beberapa Sisitem Pendidikan
             Pendekatan filsafat adalah penelaahan pendidikan dengan mengunakan
      metode atau cara kerja filsafat, dengan kata lain menerapkan cara berpikir
      filsafat terhadap pendidikan. Hasil berpikir filsafat, menghasilkan beraneka
      ragam hasil pemikiran manusia. Filsafat memegang peranan penting dalam
      pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita
      dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme,
      eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan
      kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu,
      sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang
      dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di


                                          6
    bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat,
    kaitannya dengan pengembangan kurikulum.
1. Perenialisme
         Yaitu lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan
   keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan
   dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari.
   Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut ,
   kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih
   berorientasi ke masa lalu.
         Dalam pendidikan perenialisme berpandang bahwa dalam dunia yang
   kacau ini, tidak ada yang lebih bermanfaat dari pada kepastian tujuan pendidikan,
   serta kestabilan dalam perilaku pendidikan.
     2. Prinsip-prinsip pendidikannya
        1) Walaupun berbeda lingkungan, namun pada hakikatnya manusia di
             manapun     ia     berada   adalah   sama.   Robert    Maynard      Hutsin
             mengemukanan bahwa manusia pada hakikatnya hewan rasional, (ini
             adalah pandangan aristoteles) dan tujuan pendidikan sama dengan
             tujuan hidup, yaitu untuk mencapai kebaikan dab kebijakan. Pendidikan
             harus sama bagi semua orang, di mana pun dan kapan pun ia berada,
             dan tujuan pendidikan juga harus sama, yaitu memperbaiki manusia
             sebagai manusia.
        2. Apabila       anak gagal dalam belajar, guru tidak b9oleh dengan cepat
             meletakkan keselahan kepada lingkungan yang tidak menyenangkan,
             atau rangkaiaan peristiwa psikologi yang tidak menguntungkan. Guru
             harus mampu mengatasi semua gangguan dengan melakukan
             pendekatan secara intelektual yang sama bagai semua murid.
        3) Tugas pendidikan ialah memberikan pengetahuan tentang kebenaran
             yang pasti, absolute dan abadi. Kurikulum diorganisasi dan ditentukan
             terlebih   dahulu    ditujukan    untuk   melatih   aktivitas   akal,   dan
             pengembangan akal. Anak harus diberi pelajaran yang pasti, yang akan
             memperkenalkan dengan keabadian dunia. Anak tidak dipaksa


                                           7
               mempelajari pelajaran yang peting pada suatu saat yang dipentingkan
               dalam kurikulum ialah general education, meliputi : bahasa, sejarah,
               matematika, IPA, filsafat dan seni.
2. Essensialisme
            Yaitu menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian
   pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota
   masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya
   dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di
   masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih
   berorientasi pada masa lalu.
3. Eksistensialisme
            Yaitu menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang
   hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami
   dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ?
   Apa pengalaman itu ?
4. Progresivisme
            Yaitu menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual,
   berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses.
   Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik
   aktif.
            Filsafat   Rousseau    yang    mendasari   pendidikan   progresif   ialah
   pandangannya mengenai hakikat manusia, sedangkan dari pragmatisme Dewey
   ialah ajarannya tentang minat dan kebebasan dalam teori pengetahuan. Rousseau
   memandang pada hakikatnya manusia itu alamiah, yaitu manusia yang dilahirkan
   dari kandungan alam, adalah manusia yang baik, yang sesuai berbuat dengan asas
   yang tetap. Manusia (anak) pada hakikatnya adalah baik, akan tetapi lingkungan
   masyarak yang banyak mempengruhi tingkah laku anak. Tetapi masyarakat tetap
   diperlukan karena tidak mungkin manusia hidup tanpa bantuan orang lain.
   Keuntungan yang terdapat dalam keadaan alamiah harus diperlihara.
      Anak harus dijauhkan dari lingkungan yang tidak menguntungkan,
kembalikanlah anak kepada dirinya sendiri dalam pendidikan tidak adanya


                                            8
pengertian kekuasaaan, pendidikan mengutamakan minat dan kebutuhan anak,
program sekolah akan diatur sesuai dengan minat dan kebutuhjan anak. Pendidikan
berfungsi sebagai pembaharuan hidup. Hidup itu selalu berubah, selalu menuju
kepada pembaruan. Namun pembaruan hidup tidak berlangsung secara otomatis
melainkan banyak tergantung kepada teknologi, kiesenian, ilmu pengetahuan,
perwujudan, dan moral kemanusiaan.


      1. Pendidikan sebagai pertumbuhan
              Menurut John dewey, pertumbuhan merupakan suatu perubahan
         perilaku yang berlangsung terus menerus untuk mencapai suatu hasil
         selanjutnya. Kekuatan untuk tumbuh tergantung kepada kebutuhan
         terhadap orang lain dan plastisitas yang dimiliki. Plastisitas ialah
         kemampuan belajar dari pengalaman, yang menentukan pembentukan
         kebiasaan. Kapasitas yang potensial adalah kapasitas yang dapat tumbuh
         menjadi suatu yang berlainan, pengaruh dari luar.
      2. Pendidikan sebagai fungsi social
             Menyederhanakan dan menertibkan faktor-faktor bawaaan yang
              dibutuhkan untuk berkembang
             Memurnikan kebiasaan masyarakat yang ada
             Menciptakan lingkungan yang lebih luas, lebih baik sesuai dengan
              harapan anak itu sendiri.
      3. Tujuan pendidikan
                 Tujuan kehidupan harus bersumber kepada situasi kehidupan yang
          berlangsung, tujuan pendidikan harus fleksibel dan mencerminkan
          aktifitas bebas. Apabila suatu tujuan telah tercapai, maka hasil tujuan
          tersebut menjadi alat untuk mencapai tujuan berikutnya.




                                          9
4. Proses belajar
          Proses belajar sangat berperan dalam pentransperan ilmu kepada
   anak didik, setiap guru memiliki cara yang berbeda-beda dalam hal ini,
   setiap pendidik harus mampu menguasai tempat belajar berlangsung dan
   mengatur suasana ruang belajar.
5. Faktor-faktor yang wajib diperhatikan oleh guru
      Pendidik tidak boleh memaksa suatuu idea tau pekerjaan yang tidak
       sesduai dengan minat murid
      Guru hendaknya menciptakan situasi, di mana murid akan merasakan
       adanya suatu masalah yang ia hadapi, sehingga timbul minat unuk
       memecahkan masalah tersebut
      Unuk membangkitkan minat anak, hendaknya guru mengenal
       kemampuan serta minat masing-masing murid
      Guru harus dapat menciptakan situasi yang menimbulkan kerjasama
       dalam belajar, antara murid dengan murid, dan anata guru dengan
       murid,
6. Prinsip-prinsip pendidikan
      Pendidikan adalah hidup itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup.
       Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang intelegen, yaitu
       kehidupan yang mencakup interpretasi dan rekontruksi pengalaman.
       Anak akan memasuki situasi belajar disesuaikan dengan usianya dan
       berorientasi pada pengalaman.
      Pendidikan harus berhubungan secara langsung dengan minat anak,
       minat individu yang dijadikan yang didasarkan sebagai motivasi
       belajar, secara kodraty anak suka belajar sesuai dengan minatnya.
      Belajar dari suatu pemecahan masalah akan menjadi presiden
       terhadap pemnberi subjek mater, jadi belajar harus dapat memecahkan
       masalah yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan anak
      Peranan guru tidak langsung melainkan member petunjuk kepada
       murid, kebutuhan dan minat murid akan menentukan apa yang mereka



                                 10
              pelajari, anak harus diizinkan untuk merencanakan perkembangan
              diri mereka sendiri dan guru harus membimbing kegiatan belajar.
             Sekolah harus member semangat untuk bekerja sama, bukan
              memngembangkan persaingan. Persaingan tidak ditolak, namun
              persaiangan tersebut harus mampu mendorong pertumbuhan pribadi
             Kehidupan yang demokratis merupakan kondisi yang diperlukan bagi
              pertumbuhan. Demokrasi, pertumbuhan, dan pendidikan saling
              berhubungan.
      7. Beberapa kritik terhadap Progresivisme
                 Ada beberapa kritik yang dilontarkan terhadap progresivisme,
          diantaranya:
             Murid tidak mempelajari warisan social, mereka tidak mengetahui apa
              yang seharusnya diketahui oleh orang terdidik
             Mengabaikan kurikulum yang telah ditentukan, yang menjadi tradisi
              di sekolah
             Mengurangi bimbingan dan pengarahan guru, murid memilih aktivitas
              sendiri
             Murid menjadi orang yang mementingkan diri sendiri, ia menjadi
              manusia yang tidak memiliki self discipline, dan tidak mau berkorban
              demikepentingan umum.
5. Rekonstruktivisme
          Yaitu merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada
   rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di
   samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme,
   rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir
   kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis,
   memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan
   pada hasil belajar dari pada proses.




                                          11
2.6      Filasafat pendidikan Indonesia “Pancasila”
         Pancasila memiliki filsafat sebagai Berikut:
         a. Pancasila memberi kebenaran
         b. Pancasila mempunyai metode kebenaran
         c. Pancasila mempunyai system
      a) Pancasila memandang realita sedalam-dalamnya dengan merumuskan realita
         manusia dalam semesta realita: ketuhanan, kemanusiaan persatuan Indonesia,
         keadilan social
      b) Pancasila bermetode dialetik
         -   Terlihat pada preambul undang-undang dasar
      c) Menyeluruh karena sila-sila itu tidak lepas satu sama lain


                 Pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia, atas dasar ini maka
         dengan filsafat pedidikan pancasila mennginginkan anak didik mengakui
         pencipta,    berkeprimanusiaan,      berjiwa   Indonesia,    berkeadilan    serta
         menghargai individu sedrajat. Untuk diperlukan suasana lingkungan yang
         bersesuasana pencasila serta tingkah laku para pendidik yang pancasilais
         sebagai panutan.


2.7 Filsafat dan Ilmu
             Pengertian ilmu yang terdapat dikamus bahasa Indonesia adalah
      pengetahuan tentang suatu bidang yang tersusun secara beristem menurut
      metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala
      tertentu di bidang (pengetahuan) itu.
             Filsafat oleh para filosof disebut sebagai induk ilmu, sebab dari filsafatlah
      ilmu-ilmu modern dan kontemporer berkembang, sehingga manusia dapat
      menikmati ilmu dan sekaligus buahnya yaitu teknologi.
             Filsafat tidak hanuya dipandang sebagai induk dan sumber ilmu, tetapi
      sudah merupakan bagian dari ilmu itu sendiri, yang juga mengalami spesialisasi.
      Dalam taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup keseluruhannya, tetapi sudah
      menjadi sektoral, contohnya filsafat agama, filsafat hokum, dan filsafat ilmu


                                              12
adalah sebagian dari perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan
terkotak dalam suatu bidang tertentu.
       Adapun bebarapa cirri-ciri utama ilmu menurut terminology, antara lain
adalah:
1. Ilmu adalah sebagian pengetahuan bersifat koheran, empiris, sistematis,
   dapat diukur, dan dibuktikan.
2. Ilmu tidak pernah menganaan dertikan kepingan pengetahuan satu putusan
   tersendiri, sebaliknya ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu
   ke objek (alam objek) yang sama dan saling berkaitan secara logis.
3. Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing
   penalaran perorangan, sebab ilmu dapat memuat didalam dirinya sendiri
   hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.


   Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli, di antaranya adalah :
      Mohammad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur
       te
       ntang pekerjaan hokum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama
       tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun
       menurut bangunannya dari dalam.
      Karl pearson, mengatakan iilmu adalah lukisan atau keterangan yang
       komprehensif dan konsisten tentang takta penglaman dengan istilah yang
       sederhana.


   Persamaan dan perbedaan Filsafat dan ilmu
   Persamaan Filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut:
   1. Keduanya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki objek
       selengkap-lengkapnya sampai keakar-akarnya.
   2. Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang
       ada antara kejadian-kejadian yang kita alami dan mencoba mencoba
       menunjukkan sebab-sebabnya.




                                        13
3. Keduanya hendak memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang
   bergandengan.
4. Keduanya mempunyai metode dan system.
5. Keduanya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya
   timbul dari hasrat manusia (objektivitas), akan pengetahuan yang lebih
   mendasar.


Adapaun perbedaan filsafat dengan ilmu adalah sebagai berikut :
1. Ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secara kaku dan
   berkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak berkotak-kotak dalam
   disipilin tertentu.
2. Objek formal (sudut pandangan) filsafat itu bersifat non fragmentaris,
   karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang itu secara luas,
   mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat fregmentaris, spesifik,
   dan intesif. Objek formal ilmu itu bersifat teknik, yang berarti cara ide-ide
   manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita.
3. Filsafat   dilaksanakan     dalam    suatu   susunan   pengatahuan    byang
   menonjolkan daya spekulasi, kritis, dan pengawasan, sedangkan ilmun
   haruslah diadakan risech lewat pendekatan trial and error. Oleh karena itu
   nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat
   timbul dari nilainya.
4. Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan
   pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif,
   yaitu menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak tahu menjadi
   tahu.
5. Filsafat memberikan penjelasan yang terakhir, yang mutlak, dan
   mendalam      sampai      mendasar    (primary   cause)   sedangkan     ilmu
   menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat,
   yang sekunder (secondary cause).




                                   14
                                    BAB III
                                   PENUTUP


3.1   Kesimpulan
      Dari hasil pembahasan,, maka dapat diperoleh suatu kesimpulan bahwa:
      1. Cara kerja dan hasil-hasil filsafat dapat dipergunakan untuk membantu
        memecahkan masalah dalam hidup dan kehidupan, di mana pendidikan
        merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidup manusia.
        Pendidikan membutuhkan filasafat, karena masalah pendidikan tidak hanya
        menyangkut pelaksanaan pendidikan semata yang hanya terbatas pada
        pengalaman.
      2. Dalam pendidikan akan muncul masalah yang luas, kompleks, dan lebih
        mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman indrawi maupun fakta-fakta
        faktua,    yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains pendidikan.
        Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang
        bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup
        manusia. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan suatu fakta, namun
        pembahasanya tidak bias dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan
        oleh sains, melainkan diperlakukan suatu perenungan yang lebih mendalam
      3. Tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup
        dan pandangan hidup individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan
        pendidikan


3.2   Saran
      1. Penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
        penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun
        untuk perbaikan dimasa yang akan datang
      2. Diharapkan kepada pembaca lebih mempelajari filosofi pendidikan, kerena
        filosofi pendidikan merupakan ilmu yang sangat penting dalam kehidupan.




                                       15
                             DAFTAR PUSTAKA


Hadiwijono, Dr. Harun. 2005. Sari sejarah Filsafat 1.Kanisius: Yogyakarta.

Gazalba Sidi. 1973. Sistematika Filsafat Buku 1. Bulan Bintang: Jakarta.

Henderson, Stella Van Petten. 1959. Introduction to Phylosophy of Education.
       Chicago: Univercity of Chycago Press.




                                        16

								
To top