Docstoc

Kritik Matan Hadist Shahih Bukhari vs Al Qur

Document Sample
Kritik Matan Hadist Shahih Bukhari vs Al Qur Powered By Docstoc
					Kritik Matan Hadist Shahih Bukhari vs Al Qur'an

MENGUJI KESHAHIHAN HADIST DARI MATANNYA

Bagaimanakah kita menguji validitas atau ke-shahih-an sebuah hadis? Untuk kepentingan
penelitian terhadap sumber kedua Islam ini, ulama hadis menetapkan lima syarat yang
harus dipenuhi oleh suatu hadis;
§ Sanad-nya bersambung (muttashil),
§ periwayatnya adil (‘adl),
§ dhabith,
§ tidak terdapat kejanggalan (syudzudz), dan
§ tidak terdapat cacat (‘illah).
Tiga syarat pertama berkaitan dengan sanad, dan dua syarat terakhir, di samping
berkaitan dengan sanad, juga berkenaan dengan matan. Mayoritas ulama hadis
menyepakati lima hal tersebut sebagai syarat yang harus dipenuhi dalam menetapkan ke-
shahih-an sebuah hadis.

Yang mendasari perlunya kritik matan hadist, adalah:
I. Firman Allah QS Al Ahqaaf (46:9):
Artinya: Katakanlah: "Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul dan aku
tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku
tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain
hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".
II. Mukhadimah Kitab Hadist dalam Fashal ke-32
Tidak ada satupun daripada kitab-kitab hadist yang tidak terdapat didalamnya hadist-
hadist lemah. Ada yang sedikit dan ada yang banyak, kecuali Bukhari dan Muslim dapat
dikatakan bahwa hampir semua hadist yang tersebut dalam dua kitab itu, shahihur-
riwayat walaupun ada hadist-hadist yang maknanya perlu diperbincangkan

Kritik terhadap sanad hadis sebenarnya telah dilakukan sejak awal terjadinya periwayatan
hadis. Pada masa Nabi, para sahabat biasa meriwayatkan hadis yang didengar atau yang
diterimanya dari Nabi kepada para sahabat lainnya yang tidak hadir dalam majlis-majlis
Nabi. Apabila seorang sahabat meriwayatkan hadis, sementara dia tidak melihat secara
langsung atau mendengar sendiri dari Nabi, maka dengan sendirinya dia akan
menyebutkan periwayat yang menjadi sumber hadis tersebut. Dan para sahabat memiliki
kriteria masing-masing dalam menilai kredibilitas seorang periwayat yang
menyampaikan hadis kepada mereka.

Selanjutnya, kritik sanad ini mengalami perkembangan menjelang akhir abad 1 H.
Peristiwa fitnah atau terbunuhnya Usman Bin Affan pada tahun 36 H., kemudian Husein
bin Ali pada tahun 61 H., yang menyebabkan lahirnya faksi-faksi politik di kalangan
umat Islam, mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan kritik hadis,
khususnya kritik sanad. Hal ini karena setiap kelompok berusaha mengemukakan
pernyataan-pernyataan yang dinisbatkan kepada Nabi Saw., untuk memperoleh legitimasi
atau dukungan terhadap kelompok mereka. Dalam kondisi seperti ini, kritik sanad hadis
menjadi salah satu bagian yang sangat penting dalam menetapkan keotentikan hadis Nabi
Saw., sehingga dalam perkembangan selanjutnya telah melahirkan cabang ilmu khusus
dalam ilmu hadis yang disebut al-jarh wa al-ta’dil. Ilmu inilah yang digunakan ulama
untuk menilai kualitas para periwayat dalam sebuah sanad dalam kaitannya dengan
diterima atau tidaknya sebuah hadis.

Sementara itu, penelitian terhadap matan hadis belum banyak dilakukan oleh ulama
hadis. Hal ini bisa dilihat dari masih minimnya kitab-kitab yang membahas kritik matan
secara khusus. Tampaknya, para ulama lebih memfokuskan diri dalam penelitian sanad
hadis dan menyusun kitab-kitab yang berkaitan dengannya. Bila dalam penelitian sanad
hadis para ulama telah menyusun berbagai kitab yang secara khusus membahas hal itu,
maka dalam penelitian matan, selain masih memerlukan pengembangan kajian

Sebenarnya, kritik matan hadis bukan merupakan hal baru. Kritik yang dilakukan oleh
Umm al-mukminin ‘Aisyah, Umar bin al-Khattab, dan beberapa sahabat lainnya
menunjukkan bahwa kritik matan hadis telah terjadi sejak masa Nabi Saw. dan para
sahabatnya. Pada masa ini, metode kritik matan masih simple, karena Nabi masih hidup
dan otentitas sebuah hadis ditentukan langsung oleh Nabi Saw. Para sahabat yang tidak
mendengar hadis secara langsung dari Nabi, dapat menanyakan dan meminta penjelasan
langsung dari Nabi Saw. Akan tetapi setelah Nabi wafat, hal itu tidak dapat lagi
dilakukan. Metodologi kritik matan yang digunakan para sahabat setelah Nabi wafat
adalah dengan menanyakan kepada sahabat lain yang ikut mendengarkan hadis dari Nabi
Saw. atau membandingkannya dengan ayat-ayat Alquran.

Metode yang disebutkan terakhir ini rupanya masih dijadikan pegangan oleh beberapa
ulama modern dalam melakukan kritik terhadap matan hadis. Mereka beranggapan
bahwa terdapat banyak hadis yang dari segi sanad termasuk kategori shahih, namun dari
segi matan dianggap bertentangan dengan Alquran. Karena bertentangan dengan Alquran
itulah, maka hadis tersebut dianggap dla’if atau diduga dla’if, meskipun sanadnya shahih
dan termaktub dalam kitab-kitab yang dikenal hanya memuat hadis-hadis shahih, seperti
shahih al-Bukhari dan shahih Muslim.

Secara umum, beberapa tokoh tersebut berkesimpulan bahwa sejauh ini penelitian
terhadap hadis hanya dititikberatkan pada al-naqd al-khariji (kritik ekstern), yaitu sanad,
dan bukan pada al-naqd al-dakhili (kritik intern), yaitu matan hadis.

Dalam penelitian hadis, sanad dan matan mempunyai kedudukan yang sama penting. Ke-
shahih-an sebuah hadis tidak dapat hanya ditentukan oleh ke-shahih-an sanad, tetapi juga
harus disertai dengan matan yang sama shahih, karena, menurut para ahli hadis, ke-
shahih-an sanad tidak menjamin ke-shahih-an matan dan demikian pula sebaliknya. Bila
sebuah hadis sanadnya shahih, tapi matannya tidak shahih, atau sebaliknya, maka hadis
tersebut tidak dapat dihukumi shahih. Dengan kata lain, sebuah hadis hanya dapat
dinyatakan berkualitas shahih, apabila telah betul-betul diteliti dan diketahui tidak ada
syadz maupun ‘illah dalam matan dan sanad hadis tersebut.

Kaidah mayor dalam penelitian matan hadis ada dua macam, yaitu tidak terjadi syadz dan
tidak terdapat ‘illah. Dua hal ini merupakan kaidah umum yang disepakati ulama dalam
menilai ke-shahih-an suatu matan hadis. Namun para ulama tidak mengemukakan
klasifikasi unsur-unsur kaidah minornya secara rinci dan sistematik sebagaimana mereka
jelaskan dalam klasifikasi untuk sanad. Secara umum, kerangka metodologis kritik matan
dapat dijelaskan dalam beberapa langkah berikut:

Pertama, meneliti matan dengan terlebih dahulu melihat kualitas sanadnya. Dalam urutan
kegiatan penelitian hadis, kritik sanad didahulukan dari kritik matan. Tapi tidak berarti
bahwa sanad lebih penting dari matan. Kedua bagian riwayat itu tetap sama-sama
penting. Hanya saja, penelitian terhadap matan baru dianggap perlu apabila sanad dari
matan hadis yang bersangkutan itu telah jelas qualified. Tanpa adanya sanad, suatu matan
tidak dapat dijamin otentisitasnya sebagai sabda Nabi Saw.

Kedua, meneliti susunan redaksional matan hadis-hadis yang semakna. Dalam
periwayatan hadis terjadi periwayatan secara makna (al-riwayah bi al-ma’na). Hal ini
dibuktikan dengan banyak matan hadis yang kandungan maknanya sama dengan sanad
yang sama shahih-nya pula, namun tersusun dengan redaksi yang berbeda. Menurut
ulama hadis, perbedaan lafadz yang tidak sampai mengakibatkan perbedaan makna,
sepanjang sanadnya sama-sama shahih, masih dapat diterima. Di samping itu, perbedaan
redaksional dalam hadis-hadis Nabi bisa juga disebabkan terjadinya kesalahan dalam
periwayatan. Betatapun tsiqah seorang periwayat, ia tetap manusia biasa yang dapat
melakukan kekeliruan dalam meriwayatkan hadis. Jadi, untuk meneliti ke-shahih-an
sebuah matan hadis, diperlukan metode komparatif (muqaranah), yaitu membandingkan
otentisitas suatu matan dengan matan-matan hadis lainnya yang semakna dan sama-sama
mempunyai sanad yang shahih.

Ketiga, meneliti kandungan matan hadis. Dalam hal ini, seorang peneliti perlu
memperhatikan matan-matan dan dalil-dalil lain yang mempunyai topik masalah yang
sama. Apabila kandungan matan hadis yang dikomparasikan ternyata sama dengan
matan-matan lainnya atau dalil-dalil lain yang kuat atau minimal tidak bertentangan,
maka kegiatan penelitian telah dapat dianggap selesai. Akan tetapi bila yang terjadi
sebaliknya, yaitu kandungan matan tersebut tampak bertentangan dengan matan atau dalil
lain yang kuat, maka kegiatan penelitian diarahkan pada upaya penyelesaian hadis yang
tampak bertentangan tersebut.

Saya meyakini bahwa tidak mungkin sebuah hadis Nabi yang shahih bertentangan
dengan hadis Nabi yang lain yang sama-sama shahih ataupun dalil-dalil Alquran, sebab
semua yang disampaikan oleh Nabi, baik berupa hadis maupun ayat-ayat Alquran sama-
sama merupakan kebenaran yang berasal dari Allah Swt. Apabila terdapat sejumlah hadis
Nabi yang tampak secara tekstual bertentangan dengan hadis yang lain atau dengan ayat
Alquran, maka perlu dilakukan penyelesaian dengan menggunakan metode-metode yang
telah dirumuskan dan diterapkan oleh ulama hadis dalam ilmu mukhtalaf al-hadis.

Keempat, langkah terakhir yang harus dilakukan oleh seorang peneliti adalah
menyimpulkan hasil penelitian matan. Kesimpulan tentang ke-shahih-an atau ke-dla’if-an
suatu matan yang diteliti mesti didasarkan pada argumen-argumen yang jelas. Apabila
matan dan sanad memiliki kualitas yang sama, baik sama-sama dla’if atau shahih, maka
dalam kesimpulan harus disebutkan kualitas hadis tersebut, berdasarkan penelitian
terhadap kualitas sanad dan matannya. Ke-shahih-an sebuah hadis tidak dapat hanya
ditentukan dengan otentisitas sanad, tapi juga validitas matannya. Dengan kata lain, kritik
sanad dan matan dilakukan secara bersamaan dalam menentukan keshahihan sebuah
hadis Nabi Saw.

Hadis-hadis yang berstatus mutawatir sehingga nilai kepastian wurudnya sama seperti
Alquran. Dan bila orang mengingkari hadis-hadis mutawatir ini, maka ia telah keluar dari
Islam dengan kata lain, bila seorang mengingkari Alquran sebagai wahyu dari Allah Swt.
atau mengingkari hadis-hadis mutawatir, maka hal itu menyebabkan ia menjadi kafir.
Tetapi meragukan keabsahan hadis-hadis ahad sebagai ucapan yang betul-betul
disampaikan Nabi Saw tidak akan membuat seseorang menjadi kafir.

Bila seseorang mempersoalkan otentisitas dan validitas suatu hadis dengan argumen-
argumen yang kuat maka hal itu merupakan sikap kritis yang tidak semestinya dihalangi,
karena bukan sesuatu yang tabu. Dan sikap seperti itu bukan hal baru di kalangan ulama
Islam. Rata-rata ulama pernah menolak suatu hadis yang dianggapnya tidak shahih
dengan alasan-alasan tertentu yang jelas dan dapat diterima meskipun sebagian ulama
lainnya menilai hadis tersebut shahih. Wallahu a’lam.

AL QUR’AN SEBAGAI SUMBER UTAMA HUKUM ISLAM

Sekalipun al-Qur'an dan as-Sunnah/al-Hadits sebagai sumber hukum Islam namun di
antara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup prinsipil. Perbedaan-
perbedaan tersebut antara lain:
1. Al-Qur'an nilai kebenarannya adalah qath'i (absolut), sedangkan al-Hadits adalah
zhanni (kecuali hadits mutawatir).
2. Seluruh ayat al-Qur'an mesti dijadikan sebagai pedoman hidup, tetapi tidak semua
hadits kita jadikan sebagai pedoman hidup. Sebab di samping ada sunnah yang tasyri' ada
juga sunnah yang ghairu tasyri'. Di samping ada hadits yang shahih (kuat) ada pula hadits
yang dha'if (lemah),dan seterusnya.
3. Al-Qur'an sudah pasti otentik lafazh dan maknanya, sedangkan hadits tidak.
4. Apabila al-Qur'an berbicara tentang masalah-masalah aqidah atau hal-hal yang ghaib
maka setiap Muslim wajib mengimaninya, tetapi tidak demikian apabila masalah-masalah
tersebut diungkapkan oleh hadits (ada yang wajib diimani dan ada yang tidak).

Di samping itu tidak sedikit pula kesalahan-kesalahan yang berkembang di kalangan
masyarakat Islam, berupa anggapan terhadap pepatah-pepatah dalam bahasa Arab yang
dinilai mereka sebagai hadits. Walaupun ditinjau dari isi materinya tidak bertentangan
dengan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, tetapi kita tetap tidak boleh mengatakan
bahwa sesuatu ucapan itu sebagai ucapan Rasulullah kalau memang bukan sabda
Rasulullah. Sebab sabda Rasulullah dalam Shahih Bukhari hadist No.80
Dari Abu Hurairah ra.,: katanya Nabi saw. bersabda: Namailah dirimu dengan namaku
dan jangan memakai gelarku.” “Siapa yang bermimpi melihat aku dalam tidurnya,
sebenarnyalah ia melihatku, karena setan tidak mampu menjelma seperti aku. "Dan siapa
yang sengaja berdusta atas nmakau maka biarkalah dia menempati tempatnya di neraka."
Dalam memahami hadist (perkataan Muhammad saw.) segala apa yang diucapkannya
semata-mata mengikuti wahyu, seperti dalam Firman Allah QS Al Ahqaaf (46:9):
Artinya: Katakanlah: "Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul dan aku
tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku
tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain
hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".

Dalam Mukadimah Kitab Hadist Pasal ke-32: Kitab ash-Shahih Bukhari dan Kitab ash-
Shahih Muslim dapat dijamin keshahihannya ditinjau dari segi sanad dan rawi. Sedang
dari segi matan masih perlu diperbincangkan; yaitu kita dapat memberikan seleksinya
dengan pedoman-pedoman di atas. Beberapa langkah praktis dalam usaha seleksi hadits,
Suatu materi hadits dapat dinilai baik apabila materi hadits itu tidak bertentangan dengan
al-Qur'an atau hadits lain yang lebih kuat, realita, fakta sejarah, dan prinsip-prinsip pokok
ajaran Islam. Untuk sekedar contoh dapat kita perhatikan hadits-hadits yang dinilai baik
tapi bertentangan isi materinya dengan al-Qur'an:

i. Hadits yang mengatakan bahwa "Seorang mayat akan disiksa Tuhan karena ratap tangis
ahli warisnya", adalah bertentangan dengan firman Allah "Wala taziru waziratun wizra
ukhra" yang artinya "Dan seseorang tidak akan memikul dosa orang lain" (al-
An'am:164).
ii. Hadits yang mengatakan "Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan
meninggalkan hutang puasa, maka hendaklah dipuasakan oleh walinya", adalah
bertentangan dengan firman Allah " wa allaisa lil insani illa ma-sa'a", yang artinya "dan
seseorang tidak akan mendapat pahala apa-apa kecuali dari apa yang dikerjakan dia
sendiri" (an-Najm: 39).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:243
posted:3/11/2012
language:Malay
pages:5
Riza Asmadi Riza Asmadi Design Grafics http://www.cityville-asia.com/
About Im Riza From Indonesia