UPAYA INDONESIA DALAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KEJAHATAN LINTAS NEGARA TERORGANISIR (TOC)
Description
Andhika Chrisnayudhanto Kasubdit Penanggulangan Kejahatan Lintas Negara Dit. Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata Kementerian Luar Negeri RI Jakarta, 30 April 2010
Document Sample


UPAYA INDONESIA DALAM
PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN
KEJAHATAN LINTAS NEGARA
TERORGANISIR (TOC)
Andhika Chrisnayudhanto
Kasubdit Penanggulangan Kejahatan Lintas Negara
Dit. Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata
Kementerian Luar Negeri RI
Jakarta, 30 April 2010
1
TOC
- Pendahuluan
- Profil Kerjasama RI
- Kebijakan RI
- Tantangan dan Kesimpulan
2
PENDAHULUAN
3
DEFINISI TOC
• it is committed in more than one state;
• it is committed in one state but the substantial
part of its preparation, planning, and control
takes place in another state;
• it is committed in one state but involved
organized criminal group in more than one
state; and
• it is committed in one state but has substantial
effects in another state.
(UN Convention Against Transnational Organized Crime
2000)
4
KARAKTERISTIK TOC
Cakupan operasi yang semakin global (dari
kelompok kriminal biasa menjadi kelompok
dengan kompleksitas dan diversifikasi usaha
yang luas);
Perkembangan jaringan (dari kerjasama antar
kelompok kriminal menjadi kerjasama dengan
kelompok non kriminal);
Kemampuan mengancam negara melalui
upaya blocking perekonomian dan
melenyapkan sendi-sendi demokrasi.
5
PERKEMBANGAN TOC
TOC berdasarkan UNCTOC: pencucian uang,
korupsi, perdagangan manusia, penyelundupan
migran, produksi dan perdagangan gelap senjata api
(perdagangan gelap narkotika juga termasuk dalam
TOC namun telah diatur dalam konvensi tersendiri).
TC dalam konteks ASEAN: perdagangan gelap
narkoba, perdagangan manusia, sea-piracy,
penyelundupan senjata, pencucian uang, terorisme,
international economic crime dan cyber crime.
Aktivitas TOC lainnya: kejahatan pencurian dan
penyelundupan obyek-obyek budaya, perdagangan
organ tubuh manusia, environmental crime (illegal
logging dan illegal fishing), cyber crime dan
computer-related crime.
6
PROFIL
KERJA SAMA RI
7
• Lingkup Internasional
○ Negara pihak seluruh konvensi terkait dengan narkotika
dan psikotropika.
○ Negara pihak UNCTOC dan 2 protokolnya (trafficking in
persons dan smuggling of migrants).
○ Negara pihak Konvensi PBB menentang Korupsi
○ Partisipasi di berbagai organisasi dan forum internasional
• Lingkup Regional
○ ASEAN, ARF, Bali Process
• Lingkup Bilateral
○ Penandatanganan MoU di berbagai bidang termasuk
perjanjian MLA dan ekstradisi
8
Kebijakan RI
9
Kebijakan RI pada Isu-isu Utama (1)
KORUPSI
• Ratifikasi UNCAC pada tahun 2006
• Arah Kebijakan Indonesia: Peningkatan kapasitas,
bantuan teknis, kerjasama dalam asset tracing dan
asset recovery serta pengembalian hasil kejahatan
korupsi ke Indonesia.
• Rancangan Strategi Nasional Pemberantasan Korupsi
(2010-2025)
• Indonesia merupakan peserta pilot program review
mechanism UNCAC dan pilot testing efektifitas
pemberian bantuan teknis
10
Kebijakan RI pada Isu-isu Utama (2)
PENCUCIAN UANG
• FATF: Rezim anti Money Laundering
• Upaya penyelarasan kebijakan anti pencucian uang
dengan Resolusi DK-PBB terkait dengan terrorist
financing dan FATF+9 Recommendations melalui
amandemen UU Tindak Pidana Pencucian Uang dan
RUU Perampasan Aset
• Stranas TPPU
• Digunakannya pendekatan ‘pencucian uang’ untuk
melacak hasil kejahatan terorganisir lintas negara
11
Kebijakan RI pada Isu-isu Utama (3)
PERDAGANGAN ORANG
• Ratifikasi Protokol Perdagangan Orang melalui UU No.
14/2009
• UU No.21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Perdagangan Orang
• Indonesia merupakan negara asal sekaligus untuk kadar
tertentu juga merupakan negara transit dan tujuan
• Bentuk eksploitasi : kerja paksa dan eksploitasi seksual
• Kebijakan Indonesia diarahkan pada : memberantas
jaringan perdagangan manusia dan memastikan
perlindungan korban (pencegahan, prosekusi,
perlindungan)
• Kerjasama internasional (PBB), regional (ASEAN dan
Bali Process), bilateral
12
Kebijakan RI pada Isu-isu Utama (4)
PENYELUNDUPAN MANUSIA
• Ratifikasi Protokol Penyelundupan Manusia (smugling
of migrants) melalui UU No. 15/2009
• Belum adanya UU yang komprehensif terkait dengan
penyelundupan manusia
• Pembentukan Gugus Tugas Penanganan Imigran
Ilegal
• Kerjasama internasional
13
Kebijakan RI pada Isu-isu Utama (5)
PERDAGANGAN GELAP NARKOBA
From public security to public health and development
• Pencegahan dan pemberantasan perdagangan gelap dan
penyalahgunaan narkoba melalui pendekatan berimbang
antara demand dan supply reduction serta penekanan
bahwa permasalahan narkoba merupakan “shared
responsibility”.
• Kerjasama internasional (UNODC, CND, INCB), regional
(ASEAN) dan bilateral (MoU dengan sejumlah negara)
• Program alternative development untuk menanggulangi
penanaman ganja: pilot project di provinsi NAD.
14
Kebijakan RI pada Isu-isu Utama (6)
CYBER CRIME
• UU no. 11/2008 ttg ITE membantu mencegah cyber crime
• RUU TiPiTi (Tindak Pidana Teknologi Informasi): Mengatur
perbuatan pidana dalam Convention on Cyber Crime yang
belum diatur UU ITE
• Arah Kebijakan Indonesia : adanya UU Cyber Crime (UU
TiPiTi), perlunya membentuk instrumen internasional
mengenai cyber crime, transfer of knowledge dari negara
maju ke negara berkembang, dan mekanisme
peningkatan kapasitas nasional.
15
Emerging Issues
1. Environmental Crime
Indonesia berupaya untuk memasukkan kejahatan illegal
logging dan illegal fishing sebagai bagian dari TOC yang
diakui PBB.
Trafficking in Forest Products
• Resolusi CCPCJ 16/1 2007 – ECOSOC 2008 tentang
“International Cooperation in Preventing and
Combating Illicit International Trafficking in Forest
Products including Timber, Wildlife and Other Forest
Biological resources” mendorong negara-negara untuk
mengkriminalisasi perdagangan gelap produk
kehutanan termasuk kayu
Illegal, Unregulated and Unreported Fishing
2. Illicit Trafficking in Cultural Property
16
TANTANGAN
Beberapa hambatan dalam pencegahan dan pemberantasan
kejahatan lintas negara terorganisir :
Di tingkat internasional:
• kurangnya dukungan politis dan lambannya proses
negosiasi bantuan hukum timbal balik dan ekstradisi;
• perbedaan kepentingan, prioritas, pola penanganan dan
sistem hukum; dan
• perbedaan intepretasi hukum dan kegiatan-kegiatan yang
dapat diklasifikasikan sebagai TOC.
17
TANTANGAN
Beberapa hambatan dalam pencegahan dan pemberantasan
kejahatan lintas negara terorganisir :
Di tingkat nasional:
• Lemahnya kapasitas penegak hukum dan lembaga
peradilan
• Lemahnya implementasi atas komitmen Indonesia dalam
berbagai instrumen hukum internasional
• Belum maksimalnya fungsi central authority sebagai focal
point pemberian dan permintaan bantuan hukum timbal
balik dan ekstradisi
• Korupsi
18
KESIMPULAN
Guna meningkatkan kerjasama dalam pencegahan dan
pemberantasan kejahatan lintas negara terorganisir, perlu
dilakukan hal-hal sebagai berikut:
• Meningkatkan koordinasi antar instansi/lembaga terkait di
Indonesia
• Meningkatkan kemitraan dengan counterpart di kawasan
• Data collection guna mendukung kecepatan pertukaran
informasi terkait dengan trend kejahatan, ancaman, tantangan
dan modus operandi TOC.
• Meningkatkan kerjasama pelatihan, sharing experiences dan
best practices guna peningkatan capacity building aparat
penegak hukum di kawasan termasuk kerjasama MLA dan
ekstradisi.
• Meningkatkan kemampuan deteksi dan investigasi terhadap
kasus-kasus yang termasuk dalam TOC dan kemampuan untuk
menguasai perkembangan teknologi sejalan dengan
perkembangan modus operandi kelompok kejahatan lintas
negara.
• Meningkatkan kerjasama antara negara-negara asal, transit dan
tujuan kejahatan lintas negara. 19
SARAN DAN REKOMENDASI?
toc.kemlu@gmail.com
20
Related docs
Other docs by ZuanDriza
Terminology The importance of migration terminology 1 Migration Terminology • Importance
Views: 98 | Downloads: 0
Get documents about "