Docstoc

ayo-sunaryo_foklor_lisan_nyanyian_sunda

Document Sample
ayo-sunaryo_foklor_lisan_nyanyian_sunda Powered By Docstoc
					                          REINVENTARISASI FOLKLOR LISAN
                   JENIS NYANYIAN RAKYAT SUNDA DI JAWA BARAT
                    UPAYA KONSERVASI KEARIFAN BUDAYA LOKAL

                             Oleh: Ayo Sunaryo, M.Pd. FPBS

        Ceritera Nini Anteh yang dikaitkan dengan lagu bulantok yang didalamnya
terdapat laguan dan kakawihan barudak merupakan salah satu dari ceritera rakyat yang
disebut dengan Folklor atau kesenian rakyat. Pada perkembangannya, folklor
mempunyai peranan penting dan budaya Sunda di Jawa Barat. Lalaguan atau kakawihan
barudak termasuk dalam sastra rakyat. Sastra rakyat adalah sastra yang hidup secara
lisan yaitu sastra yang tersebar dalam bentuk tidak tertulis. Sastra rakyat dalam arti
folklore merupakan bagian dari persendian ceritera yang telah lama hidup dalam sebuah
tradisi masyarakat, baik masyarakat yang mengenal huruf maupun yang belum
mengenal huruf.
        Hal tesebut dipertegas oleh William Thoms (1849) dalam Supendi (2008) yang
mengungkapkan sebagai berikut.
        Folklore is the body of expressive culture, including tales, music, dance, legends,
oral history, proverbs, joker, popular beliefs, customs, and so forth within a particular
population comprising the traditions (including oral traditions) of that culture,
subculture, or group. It is also the set of practices through which those expressive genres
are shared.

        Menurut pengertian di atas folklor adalah sebuah ekspresi budaya termasuk
ceritera rakyat, musik, tari, ceritera legenda, sejarah lisan, ceritera humor, kepercayaan
masyarakat, adat di sekelompok masyarakat tertentu.
        Menurut Danandjaja (1994) istilah folklor diambil dari bahas Inggris folklore, kata
itu berasal dari dua suku kata folk dan lore. Folk artinya kolektif dan lore artinya tradisi
kolektif, yaitu sebagian kebudayaannya yang dieariskan secara turun-temurun.
Selanjutnya, Danandjaja (1994) mendefinisikan bahwa “folklore adalah sebagian
kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun temurun, di antara
kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk
lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat
(mnemonic device)”. Bentuk-bentuk folklor yang didefinisikan oleh Danandjaja terdiri
dari folklor lisan (verbal folklore), folklor setengah lisan (partly folklore), dan folklor
bukan lisan (nonverbal folklore). Folklor lisan adalah folklor yang bentuknya memang
murni lisan. Folklor setengah lisan adalah folklor yang bentuknya merupakan campuran
unsur lisan dan bukan lisan. Folklor bukan lisan adalah folklor yang bentuknya bukan
lisan, walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan (Danandjaja, 1994: 22).
        Pada folklor lisan, terdapat beberapa jenis folklor, diantaranya bahasa rakyat,
ungkapan tradisional, sajak, puisi rakyat, ceritera prosa rakyat dan nyanyian rakyat.
Penelitian ini memfokuskan pada jenis nyanyian rakyat (Folksong). Nyanyian rakyat
adalah salah satu genre atau bentuk folklor yang terdiri dari kata-kata dan lagu, yang


                                                                                          1
beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional, serta
banyak mempunyai varian (Danandjaja, 1994:141).
       Folklore yang ada di Jawa Barat yang termasuk pada jenis nyanyian rakyat yaitu
kaulinan barudak Sunda (permainan anak-anak Sunda) dan kakawihan barudak sunda
(lagu anak-anak Sunda). Kaulian barudak yang berkembang dan biasa dilakukan anak-
anak di pedesaan. Kaulinan barudak merupakan hasil kebudayaan yang diwariskan
secara turun-temurun secara lisan yang tidak diketahui siapa pengarangnya. Jadi,
pengarangnya bersifat anonim, sehingga dikatakan merupakan hasil balarea (komunal).

        Bentuk Kaulinan barudak Sunda termasuk kegiatan folklor karena diperoleh
melalui warisan lisan dalam bentuk permainan anak-anak karena permainan ini
disebarkan hampir murni melalui tradisi lisan yang banyak diantaranya disebarluaskan
tanpa bantuan orang dewasa seperti orang tua atau guru sekolah mereka. Bentuk
kaulian barudak Sunda, biasanya ada yang hanya menggunakan lagu kaulinan barudak,
gerak tanpa lagu, maupun lagu yang diikuti oleh gerak. Selain itu semua bentuk
”kaulinan” umumnya memiliki nama, aturan permainan, alat dan jumlah pemain
tertentu. Untuk kaulinan yang mengandung unsur gerak dan lagu tentu saja memiliki
iringan dengan gerak yang disesuaikan. Ikatan bahasanya yang terdapat pada lagu
eundeuk-eundeukan, trang trang kolentrang, dan sebagainya. Pada dasarnya yang
dimaksud dengan lagu anak-anak tersebut adalah nyanyian anak-anak yang bersifat
permainan dalam pergaulan sesama anak-anak atau kaulinan barudak. Lirik dan irama
yang digunakan dalam lagu kaulinan barudak umumnya dapat memotivasi anak untuk
bergerak. Gerak-gerak dalam lagu pada bentuk kaulinan ini dapat diteliti dan
dikembangkan untuk bahan dasar dalam penciptaan tari anak.
        Lagu pada kaulinan barudak dinamakan dengan kakawihan. Kakawihan barudak
Sunda atau lagu anak-anak Sunda, dalam perwujudannya adalah kearifan orang Sunda
dan mencerminkan budaya berbahasa yang mengandung nilai-nilai universal, seperti
gembira, gotong royong, menghargai, kerjasama, mengasihi, perjuangan, sengsara,
suka, duka, baik, buruk, benar, salah, hidup, maut, benar, dsb. Unsur-unsur tersebut
merupakan sesuatu yang alamiah yang merupakan suatu jalinan peristiwa yang terpadu
dan sering ditemukan dalam kehidupan (Suwarsih Warnaen: 1987). Atik Sopandi
berpendapat bahwa lagu-lagu untuk kaulinan barudak adalah bentuk lagu dalam bahasa
ikatan yang dinyanyikan oleh anak-anak (1985: 53).
        Kakawihan barudak berfungsi sebagai hiburan atau pengiring permainan anak-
anak, pendidikan, menjunjung nilai moral dan etika, sosial, yang bersumber pada nilai-
nilai budaya yang dianut masyarakat Sunda. Bahkan kritik pun dilontarkan dengan cara
halus dan menggelitik seperti dalam lagu Ayang-ayang gung, misalnya. Hal ini
tampaknya sudah merupakan perwatakan orang Sunda yang setia, cinta kedamaian,
cinta akan kesenian dan memiliki rasa humor yang tinggi.
        Contoh-contoh di atas perlu diteliti dan diinventarisasi keberadaannya di
beberapa Kabupaten dan Kota di Jawa Barat. Hal ini penting karena folklor tesebut mulai
hilang karena tidak ada masyarakat pendukungnya. Generasi masa kini tidak lagi
mengenal folklore Sunda walaupun mereka adalah asli suku Sunda dan berdomisili
dalam cakupan budaya Sunda. Tidak mengherankan apabila anak-anak sekarang lebih

                                                                                     2
menyukai irama disko dan bernyanyi lagu-lagu pop tentang tema cinta walaupun secara
psikologis tidak cukup umur untuk menyanyikannya. Pada umumnya anak sekarang
lebih menyukai ceritera Upin dan Ipin dalam film kartun produksi Malaysia dan memuja
tokoh Naruto dalam film kartun Jepang daripada menyukai ceritera Nini Anteh dan
memuja tokoh Gatotkaca dalam ceritera pewayangan. Semua ini terjadi karena tidak
dikenalkan, baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Sementara budaya
televisi yang membawa kebudayaan global tidak bisa dihindari. Oleh karena itu
reinventarisasi folklor Sunda sangat penting dalam upaya konservasi kearifan budaya
lokal di Jawa Barat.
        Adapun folklor jenis nyanyian rakyat yang ada di Jawa Barat adalah kakawihan,
sisindiran (rarakitan/paparikan) dan Nadoman dengan mengambil sampel tiga
Kabupaten, yaitu: Kabupaten Subang, Kabupaten/Kota Bandung dan Kabupaten Ciamis,
sebagai perwakilan dari tiga wilayah yang ada di jawa Barat. Ketiga bentuk folklor
tersebut akan dijelaskan di bawah ini.

Kakawihan

        Kakawihan barudak sunda atau lagu anak-anak sunda, dan mencermainkan
budaya berbahasa yang mengandung nilai-nilai universal seperti gembira, sengsara,
suka, duka, baik, buruk, benar, salah, hidup, maut, dsb. Unsur-unsur tersebut
merupakan sesuatu yang alamiah dan merupakan suatu jalinan peristiwa yang terpadu
dan sering ditemukan dalam kehidupan (Suwarsih Warnaen: 1987). Atik Soepandi
berpandapat bahwa lagu-lagu untuk Kaulinan Barudak adalah bentuk lagu dalam ahasa
ikatan yang dinyanyikan oleh anak-anak (1985: 53). Bahasa yang dipergunakan dalam
Kakawih barudak adalah bahasa yang dipakai oleh masyarakat Sunda sehari-hari. Untuk
usuk bahasa yang dipakai selain itu juga ditemukan bahasa Sansekerta, Arab, Kawi,
Jawa. Purwakanti (Persajakan) banyak sekali ditemukan dalam kakawih barudak,
seperti asonsasi yaitu purwakanti berupa persamaan atau perulangan bunyi vokal, yang
oleh M.A. Salmun dinamakan purwakanti swara, sedangkan Yus Rusyana menamakan
adusari (assonance), seperti yang dikatakanya : inti vokal –i dalam Cingciripit.

Cingciripit( cingciripit )
Tulang bajing kacapit (tulang bajing terjepit)

        Selain itu dalam gaya ahasa yang dipergunakan ada yang memperbandingkan
seperti hiperbola, yaitu yang menyatakan arti yang berlebih-lebihan contoh dalam
Hompimpah, dikatakan alaihim gambreng (sebesar tak terkira gambreng) mempertegas
seperti paralelisme yaitu penegasan yang dipakai dengan mengulang-ulang kata atau
kelompok kata, misalnya : Meuncit Reungit.
Ka dieu meuncit reungit (ke sini menyembelih reungit)
Ka ditu meuncit domba (kesana menyembelih domba)
Ka dieu beuki lengit (kesini makin hilang)

Sisindiran

                                                                                   3
        Istilah sisindiran sudah ada sejak abad ke-16 Naskah kuno siksakandang karesian
memberi informasi tentang hal itu, tetapi diawali dengan satu kata kawih, jadi kawih
sisindiran (Wahyu Wibisana, 431: 2000). Ini mungkin nama lagu bukan nama bentuk
sastra. Namun tidak tertutup kemungkinan sebaliknya: saat itu sudah ada bentuk sastra
yang bernama sisindiran. Hanya saja, seperti pada tulisan atau naskah berbahasa kuno
yang sampai ke bahasa kita tidak terdapat teks pada bentuk sisindiran.
        Paparikan berasal dari parikan, bahasa Jawa. Asal katanya parik searti dengan
parek (dekat). Kata parek terdapat juga dalam bahasa Sunda seperti arti yang sama
dengan bahasa Jawa. Hanya saja parikan sunda tidak diterjemahkan dalam bahasa
Sunda, sebab kata itu mempunyai arti lain, yakni “orang yang dekat dengan raja” yang
kemudian beralih arti menjadi “selir” dan kemudian menjadi dwipurwa yaitu menjadi
paparikan (Wibisana, 2000).
        Rarakitan berarti berpasangan. Pantun di sebut rarakitan karena ada hal yang
berpasangan, yakni sampiran di satu pihak dengan isi di lain pihak. Sementara ahli sastra
Sunda mengatakan disebut rarakitan bila kata awal pada sampiran sama dengan kata
awal pada isi, seperti:
Sapanjang jalan soreang
Moal weleh diaspalan
Sapanjang tacan ka sorang
Moal weleh di akalan.

Sementara menurut ahli sastra Sunda ada bentuk lain yang dimasukan ke dalam bentuk
sisindiran, yakni wawangsalan, sebuah istilah yang juga berasal dari Jawa “wangsalan”.
Pada bentuk sastra ini ada semacam sampiran yang amat menyurupai teka-teki, contoh:
Teu beunang di tiwu leuweung
Teu beunang dipikasono

Wawangsalan di atas isinya “kaso”
Istilah lainnya yang berkaitan dengan sisindiran adalah sesebred yang kira-kira sama
dengan pantun jenaka. Jadi, sesebred yang berhubungan dengan isi sisindiran,
disamping dikenal sisindiransilih asih (pantun percintaan) dan sisindiran piwuruk
(pantun nasihat).

Nadoman/Pupujian

        Seperti seni pada umumnya, puisi pun mempunyai fungsi ekspresi pribadi dan
fungsi sosial (Yus dalam Kartini, 1986). Berdasarkan hasil penelitiannya. Yus menemukan
bahwa fungsi pupujian sangat menonjol dibandingkan dengan fungsi ekspresi pribadi.
Pupujian dipergunakan untuk mempengaruhi fikiran, perasaan dan tingkah laku
manusia, disamping dipergunakan untuk menyampaikan berbagai macam agama.
Sebagai media pendidikan, pupujian yang berisi berbagai nasihat dan pelajaran agama
yang disampaikan dengan dinyanyikan itu umumnya dihafalkan di luar kepala. Dengan
hafalnya ndan seringnya mendengarkan pupujian, diharapkan anak-anak didik, para


                                                                                       4
santri, serta masyarakat umum tergugah dan mempunyai keinginan untuk mengikuti
nasihat serta ajaran agama yang dikumandangkan melalui pupujian itu.
        Pada masa-masa sebelum perang, pupujian sering dikumandangkan, baik
dipesantren, madrasah, mesjid, langgar atu tempat pengajian lainnya. Pupujian
deikumandangkan sebelum solat Kartini, 1986).
    Pada masa sekarang penggunaan pupujian sudah agak berkurang, baik di masjid,
pesantren maupun tempat pengajian lainnya. Di beberapa tempat pupujian masih di
pakai, tetapi fungsinya sudah berubah, yaitu dari media pendidikan menjadi kegiatan
kesenian yang sewaktu-waktu saja dipergunakan atau bahkan sekarang ini sudah dibuat
rekaman audio visual untuk kepentingan bisnis atau inventarisasi pada kelompok-
kelompok masyarakat tertentu.

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Folklor Jenis Nyanyian Sunda di Jawa Barat
        Nyanyian Sunda yang di sebut dengan kakawihan, pupuh, rarakitan,wawangsalan
dan paparikan di dalamnya terdapat nilai-nilai yang adiluhung. Adapun nilai-nilai itu
akan dipaparkan di bawah ini.

Kakawihan
        Kakawihan merupakan alat yang digunakan oleh masyarakat supaya apa yang
ada dalam benaknya tidak dimengerti oleh orang lain diluar komunitasnya. (bahasa
sandi). Contohnya, lagu ambil-ambilan bisa jadi ada pengaruhnya dengan masyarakat
sunda pada saat itu yang akan dijadikan kuli atau rodi. (mungkin dibuatnya pada masa
penjajahan).
Ayang-ayang gung.
Lagu ini menceritaerakan salah satu wilayah yang sedang bergejolak atau ramai (Ayang-
ayang gung Gung goongna ramé)
Menceriterakan tingkah laku seorang bangsawan yang bernama Wastanu yang
memegang jabatan Wedana.
Jadi bahan pembicaraan orang karena tingkah lakunya yang olo-olo atau males-malesan
(naha manéh kitu – tukang olo-olo),
(lobak jeung kumpeni (bermitra dengan kompeni).
(Niat Jadi Pangkat)
(Katon Kagorenga). Tujuannya supaya bisa naik pangkat, tapi dengan jalan kurang baik,
padahal rakyat begitu mengharapkannya tapi seorang bangsawan juga sama jeleknya.
(Ngantos kang jeung dalem, Lempa lempi lempong, Ngadu pipi jeung nu ompong) Dapat
diartikan bangsawan lebih berorientasi ke atas alias ke Betawi, atau pusat
pemerintahan.
        Dari kakawihan tersebut di atas, jika kita dapat menyanyikannya dan mengetahui
artinya maka akan terdapat nilai-nilai kejuangan, nilai cinta tanah air dan nilai
kemerdekaan atau kebebasan.

Sisindiran
        Dalam sisindiran yang terdiri dari paparikan dan rarakitan terdapat nilai-nilai,
seperti di bawah ini.

                                                                                      5
Nilai Piwuruk (Pendidikan)

Lain bangban lain pacing                      Lamun urang ninun kantéh
lain kananga aduna                            ulah resep maké poléng
Lain babad lain tanding                       Lamun urang leutik kénéh
lain ka dinya kuduna                          ulah resep ngomong goréng



Nilai Silihasih (saling mencintai)

Abong-abong abdi bonténg                      Daék sotéh ka Cinangka
seubeuh diacar diangeun                       ka Cisitu mah teu purun
Abong-abong abdi goréng                       Daék sotéh ka manéhna
seubeuh disangsara deungeun                   ka nu itu mah teu purun



Nilai Sesebred (banyolan)
Aya roda na tanjakan                          Rarasaan ngala mayang
katinggang ku pangpun jéngkol                 teu nyaho cangkeuteuk leuweung
Aya rangda gogoakan                           Rarasaan konéng umyang
katinggang ku hulu kohkol                     teu nyaho cakeutreuk hideung



Pupujian/Nadoman
     Pupujian atau kata lainnya nadom adalah puisi yang di nyanyikan, biasanya sebelum
atau pada waktu menunggu shalat berjamaah. Seperti seni pada umumnya, puisi pun
mempunyai fungsi ekspresi pribadi dan fungsi sosial.
    Adapun nilai yang terkandung dalam pupujian adalah nilai pendidikan, pupujian yang
berisi berbagai nasihat dan pelajaran agama yang disampaikan dengan dinyanyikan itu
umumnya dihafalkan di luar kepala. Dengan hafalnya ndan seringnya mendengarkan
pupujian, diharapkan anak-anak didik, para santri, serta masyarakat umum tergugah dan
mempunyai keinginan untuk mengikuti nasihat serta ajaran agama yang
dikumandangkan melalui pupujian itu. Pada masa-masa sebelum perang, pupujian
sering dikumandangkan, baik dipesantren, madrasah, mesjid, langgar atu tempat
pengajian lainnya. Pupujian deikumandangkan sebelum solat Kartini, 1986).
    Pada masa sekarang penggunaan pupujian sudah agak berkurang, baik di masjid,
pesantren maupun tempat pengajian lainnya. Di beberapa tempat pupujian masih di
pakai, tetapi fungsinya sudah berubah, yaitu dari media pendidikan menjadi kegiatan
kesenian yang sewaktu-waktu saja dipergunakan atau bahkan sekarang ini sudah dibuat
rekaman audio visual untuk kepentingan bisnis atau inventarisasi pada kelompok-
kelompok masyarakat tertentu.

                                                                                    6
Sebagai contoh dalam pupujian berikut ini.
IIIahi las tulis firdaus ahla
 wala aqwa alanaril jahimi
fahabli taubat
 tawwafir dzunubi
fainaka gofirun dzanbir adziimi
(Ya Allah saya bukan ahli surga saya tidak akan kuat masuk neraka Semoga engkau
mengampuni dosa saya, karena engkau mengampuni kami semua).         Dari pupujian
di atas, tetntunya mengajk manusia untuk berbuat baik supaya kelak dapat ampunan
drai Allah SWT.




                                   DAFTAR PUSTAKA

Atik Sopandi dan Oyon S. Umsari.1985. Kakawihan Barudak, Nyanyian anak-anak Sunda.
     Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian
     Kebudayaan Nusantara. Bandung.

Ayip Rosidi. (1984). Manusia Sunda. Inti Idayu Press. Jakarta
Danandjaja James. 1994. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Grafitti,
    Jakarta.

Mang Koko. 1970. Bintjarung. Tarate, Bandung.

Permainan Rakyat Daerah Jawa Barat.. Sejarah dan Nilai Tradisi Jawa Barat,
    Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bandung.

Suwarsih Warnaen, et all. 1987. Pandangan Hidup Orang Sunda, Seperti Tercermin
     dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda. Sundanologi Departemen Pendidikan dan
     Kebudayaan bagian Proyek Penelitian Sunda. Bandung.

Tini Kartini. 1986. Puisi Pupujian Dalam bahasa Sunda. Pusat Pembinaan Dan
      Pengembangan bahasa Depdikbud. Jakarta

Usman Supendi. 2008. Folklore Jawa Barat. Artikel. Tidak Diterbitkan

                                                                                           7
Wahyu Wibisana. 2000. Lima Abad Sastra Sunda, Sebuah Antologi Jilid 1. Geger Sunten.
    Bandung.




                                                                                   8
9

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:225
posted:3/11/2012
language:Malay
pages:9