Docstoc

PERKEMBANGAN DIPLOMASI EKONOMI RI

Document Sample
PERKEMBANGAN DIPLOMASI EKONOMI RI Powered By Docstoc
					PERKEMBANGAN DIPLOMASI
EKONOMI RI


 Oleh:
 Soemadi D. M. Brotodiningrat



                 Mei 2009
AWAL KEMERDEKAAN
 Diplomasi RI masih diprioritaskan pada masalah
  politik
   Memantapkan pengakuan
   Memperjuangkan/memelihara kesatuan
   Menyikapi ideological divide Barat >< Timur
 Dasa Sila KAA Bandung (1955)
  “Cooperation in the economic, social and
  cultural fields would help bring about the common
  prosperity and well-being of all”
 Perundingan pampasan perang dengan Jepang
 DirektoratEkonomi Antar Negara (DEAN); Biro Urusan
  Pampasan; ADHELN  Direktorat Jenderal HELN
 Partisipasi dalam badan-badan ekonomi,
  perdagangan, keuangan internasional belum menonjol

                                                   2
PERMULAAN PENANGANAN DIPLOMASI
EKONOMI SECARA SISTEMATIS
 Dari dekolonisasi politik ke emansipasi ekonomi
 Perkembangan signifikan pertengahan 1960an
   Lingkungan internasional: peningkatan perhatian
     terhadap masalah ekonomi, perdagangan dan
     pembangunan  UN Development Decade; UN
     Conference on Trade and Development (UNCTAD)
   Prioritas nasional: Orde Baru  penyelamatan
     ekonomi; penjadwalan ulang hutang LN;
     pembentukan IGGI; Pelita
   Pembentukan ASEAN 1967  awal dari diplomasi
     regional RI, termasuk diplomasi ekonomi
 Direktorat Jenderal HELN (Direktorat KSEM;
  Direktorat Ekubang); Set. Nas. ASEAN

                                                      3
PENANGANAN DIPLOMASI
EKONOMI BILATERAL
 Forum: Bilateral Joint Commissions
 Instrumen:
   Persetujuan Perdagangan
   Persetujuan Jaminan Investasi
   Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda
   Persetujuan Udara
   Persetujuan Kerja Sama Teknik
 Kegiatan: promosi TTI; program KST
 Direktorat Jenderal HELN (Direktorat HPI; Direktorat
  Jasekon; Direktorat KST)
 Jalur bilateral: pendekatan realistis, kepentingan
  konkrit jangka pendek, breads & butter (multilateral:
  pendekatan idealistis, cita-cita jangka panjang,
  perombakan sistem)

                                                          4
TATA EKONOMI DUNIA BARU (TEDB)/NEW
INTERNATIONAL ECONOMIC ORDER (NIEO)
   Kelanjutan emansipas ekonomi; peningkatan perjuangan
    melalui UNCTAD  Deklarasi dan Program Aksi TEDB
    disahkan pada Special Session VI MU PBB 1974)
   Dipicu a.l. oleh 2 hal penting:
       Diakhirinya Sistem Bretton Woods, 1971
       Embargo minyak bumi 1973
   Elemen-elemen penting: komoditas (harga remuneratif);
    perdagangan (preferential treatment); keuangan (financing
    for development); industri (industrialisation); S & T
    (access); TNC (regulated); sistem ekonomi (penghormatan
    semua sistem)
   Pendekatan politis dan langkah bersama yang disengaja
    bias untuk kepentingan negara berkembang
   Produk = deklarasi,resolusi, statement politis  political
    commitments yang morally binding


                                                             5
PETA CARA PANDANG DIPLOMASI EKONOMI
WAKTU ITU
                                                                Negara-Negara
             Negara-Negara                                     Ertim/Menengah/
                                   -Kerja sama non Sistemik
            Maju/Kaya/OECD/                                    COMECON/Group
U               Group B            -Persaingan Sistemik               D

T                 -Ekonomi                                    -Ekonomi Sentralistis
               Terbuka/Pasar                                   -Integrasi Alternatif
A             -Proses Integrasi                                    -Kerja sama
R               -Kerja sama
                 -Persaingan
                                                                    -Tidak Ada
                                                                    Persaingan
A


-Konfrontasi/Dialog Sistemik                                  -Dukungan Politis
                                                                                  S
-Kerja Sama non Sistemik                                      -Kerja Sama
-Asosiasi                                                     -Asosiasi
                                                                                  E
                                     Negara-Negara                                L
                                  Berkembang/Miskin/
                                  Menengah/Group 77                               A
                                                                                  T
                                        -Ekonomi
                                   Terbuka/Sentralistis                           A
                                     -Integrasi Awal
                                       -Kerja sama
                                                                                  N
                                       -Persaingan

                                                                                       6
PERAN INDONESIA DALAM
DIPLOMASI TEDB
 Partisipasi dalam North-South
  Dialogue-Pans
 Peran Prof. Widjojo Nitisastro
  (UNCTAD; South Commission)
 Peran Dubes Ali Alatas (Juru runding
  Kelompok 77 untuk
  Komoditas/Common Fund)
 Indonesia  Managing Director
  pertama pada Common Fund
                                         7
PERGESERAN PRIORITAS
INTERNASIONAL
   Tindak lanjut proses menuju TEDB sulit; voted resolutions
    tidak efektif; usaha mengadakan global negotiation kolaps
    (1985)  kegagalan Centrally Planned Economy (akhir
    1980an)
   Dihadapkan kesulitan menyepakati hard-core elements dari
    NIEO/TEDB, prioritas internasional beralih ke softer areas
    seperti pangan, kependudukan, social development,
    disamping masalah mendesak lainnya seperti environment
    dan gender
   Semakin maraknya kerja sama dan pengelompokan
    regional, termasuk KENB/KTNB
   Peran Indonesia tetap menonjol: penghargaan FAO kepada
    Presiden Suharto; Indonesia sebagai contoh keberhasilan
    dalam Keluarga Berencana; di tingkat regional: keaktifan di
    berbagai forum regional (APEC; G-15)



                                                              8
HAL-HAL YANG MENDUKUNG
DIPLOMASI EKONOMI WAKTU ITU
I.    Aset Diplomasi yang kuat  keberhasilan pembangunan ekonomi
             Indikator makro ekonomi (pertumbuhan, inflasi, dll)
             Struktur ekonomi (dari oil & gas based  diversifikasi)
             Poverty
             Swasembada pangan
             Kependudukan/Keluarga Berencana
             Lingkungan Hidup
             Illiteracy

      Kesemuanya ini cocok/sejalan dengan agenda/prioritas internasional
      waktu itu

II.   Arah yang jelas
             Ke arah keterbukaan ekonomi  deregulasi dan debirokratisasi
             Dari substitusi impor ke orientasi ekspor
             Tata ekonomi dunia yang lebih adil
             Kerja sama regional mengenai ekonomi




                                                                             9
HAL-HAL YANG MENDUKUNG DIPLOMASI
EKONOMI WAKTU ITU (LANJUTAN)
III.   Pendekatan yang pasti
             Tanpa mengurangi arti penting diplomasi politik/keamanan, mendorong diplomasi
              ekonomi
             Dari konfrontatif ke kooperatif

IV.    Kelembagaan yang mendukung
             Sidang Kabinet Terbatas bidang EKUIN/EKUWASBANG-PRODI, Menlu dan Dirjen
              HELN peserta tetap
             Rapat Koordinasi bidang EKUIN/EKUWASBANG-PRODIS, Menlu anggota pada
              tingkat menteri, Dirjen HELN pada tingkat Eselon I
             Tim Koordinasi Interdep (WTO, Tenaga Kerja, LH, dll), Deplu diwakili pada
              tingkat Eselon I
             Sistem Personal Representative, Shepherd, dll

V.     Contoh Profil Diplomasi Ekonomi RI
             Pembentukan IGGI/CGI
             Peran yang cukup menonjol antara lain di UNCTAD/IPC/CF, N-S Dialogue Paris,
              KTT Rio, KTT Pangan (Rome), KTT Kependudukan (Kairo)
             Peluncuran AFTA (1992); APEC Bogor Goal (1994); Ratifikasi Marakesh
              Agreement (hasil Uruguay Round 1994)




                                                                                        10
PERKEMBANGAN LINGKUNGAN
EKSTERNAL
I.   Pergeseran Kekuatan Ekonomi

        Meskipun masih akan sangat berpengaruh, dominasi
         relatif ekonomi AS akan cenderung berkurang
        Proses dan hasil perluasan dan pendalaman integrasi
         ekonomi UE akan sangat berpengaruh terhadap
         ekonomi dunia
        Dampak kebangkitan ekonomi China, pemulihan
         ekonomi Jepang dn kemajuan ekonomi India sudah
         terasa ke luar kawasan Asia
        Keberhasilan dari “winners” (Singapura, Korea Selatan
         dan Chile) di antara negara-negara berkembang akan
         turut menentukan cara pandang diplomasi ekonomi
         internasional ke depan



                                                            11
PERKEMBANGAN LINGKUNGAN
EKSTERNAL (LANJUTAN)
II.    Perkembangan cara pandang dari konsep
       dependensi/interdependensi  realita globalisasi

            Kemajuan iptek yang mengikis batas-batas ekonomi nasional
            Kegagalan sistem ekonomi sosialis/sentralistis dan keberhasilan
             ekonomi pasar/terbuka

III.   Menurunnya relevansi wacana sistemik >< non-sistemik,
       meningkatnya relevansi pertimbangan liberalisasi integratif ><
       liberalisasi non-integratif

            Diterimanya sistem ekonomi pasar/terbuka sebagai kenyataan
             mengalihkan wacana diplomasi ekonomi ke tingkat-tingkat kerja
             sama: liberalisasi/national treatment; fasilitasi/transparansi;
             kooperasi/capacity building
            Di tingkat internasional prinsip S&D di GATT: mencuatnya
             development agenda di WTO
            Kecenderungan meningkatnya kegiatan dari principle setting/policy
             coordination yang hanya morraly-binding ke rule-making yang
             legally-binding


                                                                                 12
PERKEMBANGAN LINGKUNGAN
EKSTERNAL (LANJUTAN)
IV.   Gejala maraknya kerja sama ekonomi regional dan
      bilateral yang mengimbangi multilateralisme

          Globalisasi juga dicapai melalui jalur/jaringan regional dan
           bilateral
          Kaitan antara jalur bilateral, regional dan multilateral 
           forums game
          Dampak kerja sama bilateral terhadap pihak ke-3 
           bandwagon effect

V.    Kecenderungan dispersi forum-forum ekonomi
      multilateral/global

          Primacy dan peran sentral PBB dalam diplomasi ekonomi
           multilateral terkikis, reinvigorasinya akan tergantung kepada
           keberhasilan restrukturisasi PBB
          Meluasnya pengertian perdagangan dan cakupan WTO


                                                                          13
      PARTISIPASI INDONESIA DALAM ORGANISASI REGIONAL DAN SUBREGIONAL



                                                             CHILE                               ARGENTINA     BOLIVIA       BRAZIL
                                                             PERU                                COLOMBIA      COSTA RICA    CUBA
                                                            MEXICO                               ECUADOR       PARAGUAY
                                                         CHINESE TAIPEI                          EL SALVADOR   PANAMA
                                                        HONGKONG CHINA



                                                                      JAPAN
                                  UNITED STATES
                                                                      CHINA
                                  CANADA
                                                                      SOUTH KOREA
                                  RUSSIA
FIJI
VANUATU
TUVALU
NAURU                                                THAILAND       MALAYSIA          BRUNEI
TONGA                                                                               DARUSSALAM
SOLOMAN ISLAND
                                                                                                 CAMBODIA
                                                                                                 CAMBODIA
SAMOA
KIRIBATI                           NEW ZEALAND
                  TIMOR LESTE
                                                    PHILIPPINES     INDONESIA                    MYANMAR
NIUE                             PAPUA NEW GUINEA
PALAU
MICRONESIA                          AUSTRALIA                                                    LAOS
COOK ISLAND
NEW CALEDONIA                                          SINGAPORE                VIETNAM
MARSHALL ISLAND
NORTHERN MARIANAS


 ALGERIA   SUDAN
 BAHRAIN   TURKEY                                                          PAKISTAN    EUROPEAN UNION
 EGYPT     UZBEKISTAN                INDIA                                 MONGOLIA    NORTH KOREA
 IRAQ      SRILANGKA   TUNISIA
 JORDAN
 LEBANON
 MALDIVES
                 BHUTAN          BANGLADESH          YEMEN
 MAURITANIA      KAZAKHSTAN      IRAN                MAURITIUS
 MOROCCO         KUWAIT          OMAN                KENYA
                 QATAR           SRI LANKA
 NEPAL
 PALESTINE                       UNI ARAB
                                                     MOZAMBIQUE                                                         14
                                                     SOUTH AFRIKA
 SAUDI ARABIA                    EMIRATES            TANZANIA
DIPLOMASI EKONOMI RI DI MASA
KRISIS 1997/1998
I.    Membantu Penanggulangan Krisis dan Pemulihan
      Ekonomi

          Merundingkan re-financing proyek-proyek kerja sama
          Lobby bantuan keuangan dan re-scheduling utang
          Penyelesaian masalah-masalah dampak krisis

II.   Kegiatan Diplomasi Ekonomi Konvensional Tetap
      Berjalan
          Promosi dagang dan investasi
          Partisipasi pada konferensi-konferensi penting dan
           peran serta pada existing forums

Yang dirasakan “missing” adalah desain menyeluruh
diplomasi ekonomi yang koheren dan kohesif

                                                                15
MASALAH & TANTANGAN BAGI
INDONESIA PASCA REFORMASI
I.     Penurunan Modal/Aset Diplomasi

           Menurunnya kinerja dan berkurangnya relevansi aset lama
           Lemahnya aset baru yang diperlukan untuk menghadapi
            situasi baru: daya saing dan kesadaran akan rule of law

II.    Kekurangjelasan Arah

           Tuntutan keterbukaan ekonomi >< trauma krisis  inward-
            looking
           Orientasi ekspor  fokus: manufaktur, pertanian?

III.   Ketidakpastian Pendekatan

           Apakah diplomasi ekonomi masih diberkan prioritas?
           Rendahnya penghayatan budaya bersaing di hadapan kancah
            yang makin sarat persaingan

                                                                      16
MASALAH & TANTANGAN…
(LANJUTAN)
IV. Tantangan Sentimen Publik

        Meningkatnya semangat nasionalisme sempit
        Meningkatnya tekanan proteksionisme

V.   Kelemahan Kelembagaan

        Melemahnya koordinasi interdep
        Proses restrukturisasi Deplu
        Kurangnya SDM untuk menghadapi tuntutan
         baru dalam negosiasi


                                                   17
ASET BARU DIPLOMASI EKONOMI
INDONESIA
I.     Demokratisasi
             Pemilihan Presiden secara langsung berjalan dengan aman, tertib dan demokratis
             Stabilitas politik yang membaik
             Keterbukaan

II.    Good Governance/Pemberantasan Korupsi
             KPK sebagai lembaga independen telah menunjukkan kesungguhan
             Peningkatan kontrol publik terhadap pemerintah/birokrasi

III.   Ketahanan Ekonomi
             Sentimen pasar, stabilitas nilai tukar, positive economic growth, dll
              (macroeconomic stability)
             Pemberdayaan ekonomi rakyat

IV.    Pengakuan Internasional

             Perkembangan integrasi ASEAN
             Outreach G-7; Outreach OECD; G-20



                                                                                         18
BERBAGAI ISU SPESIFIK LAINNYA
YANG MEMERLUKAN PERHATIAN
I.     UTANG LUAR NEGERI

II.    ENERGI

III.   PANGAN

IV.    ECONOMIC MIGRATION/PEKERJA MIGRAN

V.     LINGKUNGAN HIDUP

VI.    IPTEK/PENDIDIKAN


                                           19
TANDA-TANDA PENINGKATAN KEMBALI
PROFIL DIPLOMASI EKONOMI RI
1.   Upaya keluar dari “business as usual” dalam
     hubungan ekonomi bilateral
2.   Akselerasi integrasi ekonomi ASEAN,
     pengembangan konsep ASEAN centered regional
     economic integration
3.   Peran aktif RI dalam skala global melalui G-
     33/WTO, G-20, outreach programs G-7 dan
     enhanced engagement OECD
4.   Environment Diplomacy/Climate Change
5.   NAASP
6.   Penggunaan krisis global 2008/2009 sebagai
     momentum (?)

                                                20
PENUTUP
I.     Tepat waktu untuk merumuskan desain baru
       diplomasi ekonomi Indonesia

II.    Desain baru perlu:
           Didasarkan kepentingan nasional (knowing what we
            want)
           Dijuruskn ke arah yang jelas (knowing where to go)
           Tanggap terhadap perkembangan lingkungan
            eksternal (knowing what to face)

III.   Untuk pelaksanaan diperlukan
           Dukungan kelembagaan yang memadai dan
            koordinasi yang mantap
           Peranan Deplu
           Dukungan sarana personil yang cukup dan handal

                                                             21
TERIMA   KASIH



                 22

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:210
posted:3/11/2012
language:Indonesian
pages:22
Description: Diplomasi RI masih diprioritaskan pada masalah politik Memantapkan pengakuan Memperjuangkan/memelihara kesatuan Menyikapi ideological divide Barat >< Timur