gilut gigi dan mulut doc (DOC)

Document Sample
gilut gigi dan mulut doc (DOC) Powered By Docstoc
					TUGAS ILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT
    ( NOMENKLATUR GIGI DAN ERUPSI GIGI )




        Nama :     SONIA ARIANTI

        Npm :      07310265




        UNIVERSITAS MALAHAYATI

          FAKULTAS KEDOKTERAN

             BANDAR LAMPUNG

                  2010-2011
                           KATA PENGANTAR

     Puji syukur saya aturkan kan kehadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat dan hidayah-Nyalah saya dapat menyelesaikan Tugas mata kuliah
ilmu penyakit gigi dan mulut tentang nomenklatur gigi dan erupsi gigi tepat
pada waktunya.

     Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah turut membantu dalam proses penyelesaian tugas ini. Saya
menyadari dalam pembuatan tugas ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat saya
harapkan demi perbaikan karya tulis saya selanjutnya. Atas bantuan dan
perhatiannya kami sampaikan terima kasih.




                                                               Penulis
           Nomenklatur gigi dan Erupsi gigi




     Erupsi gigi merupakan proses bergeraknya gigi menembus gusi
untuk tumbuh ke dalam tulang rahang ke posisinya dalam rongga
mulut. Erupsi gigi pada bayi dimulai dari gigi depan rahang bawah
dan disusul gigi depan rahang atas sampai keduapuluh gigi anak
muncul.1-3 Erupsi gigi biasanya dimulai antara usia 4-7 bulan, tetapi
beberapa anak ada yang sudah memiliki gigi ketika ia lahir dan ada
juga yang belum tumbuh gigi sampai usia 12 bulan.
     Pertumbuhan gigi sudah banyak dibicarakan oleh para ahli
sejarah dan mereka menyatakan bahwa erupsi gigi memegang
peranan penting dalam mempengaruhi keadaan umum anak.
      Erupsi gigi dapat mengubah mood dan tingkah laku anak, dari
yang baik menjadi lebih rewel. Pengetahuan yang dimiliki orangtua
terhadap perubahan tingkah laku anak tersebut membuat orangtua
mengambil suatu sikap atau tindakan yang dapat membantu anak
dalam menangani masalah erupsi gigi tersebut.
        Secara umum diketahui bahwa erupsi gigi dapat menimbulkan
tanda dan gejala yang bervariasi. Pada kebanyakan kasus, erupsi
gigi susu tidak menyebabkan anak maupun orangtua merasa panik,
sehingga keadaan ini sering dianggap remeh, meskipun secara
signifikan keadaan ini mempengaruhi anak dan orangtua karena
terkadang proses ini dapat menyebabkan iritasi, baik secara lokal
maupun sistemik. Kebanyakan orangtua berpendapat bahwa erupsi
gigi sangat mempengaruhi keadaan umum anak sehingga dapat
menyebabkan anak demam, batuk, flu, kurang nafsu makan, gelisah
dan gangguan tidur. Namun ada juga yang berpendapat bahwa
erupsi gigi merupakan pengalaman biasa yang dialami oleh setiap
anak,     erupsi   gigi   dapat   disertai   gejala-gejala   sehingga
mempengaruhi keadaan umum anak atau tanpa gejala.
        Pada abad ke-4 SM, para ahli sejarah (Hipocrates, Thomas
Phaire dan Marshall Hall) dan orangtua-orangtua dulu juga
mempercayai adanya penyakit yang muncul bersamaan dengan
erupsi gigi. Hal ini hanyalah suatu mitos atau kepercayaan kuno yang
diyakini harus terjadi pada setiap anak sehingga hal ini dianggap
sebagai suatu kewajaran bagi pertumbuhan anak.
        Penelitian Barlow, dkk (2002) menyatakan ada lima gejala
teratas yang dipercayai orang tua yang menyertai erupsi gigi
anaknya, gejala itu adalah inflamasi gusi (100%), iritabilitas (100%),
pembengkakan gusi (91%), susah tidur (87,6%), dan banyak
mengeluarkan liur (87,6%).7 Pada penelitian Wake, dkk. (2000)
mengenai survey kepercayaan dan pengalaman ibu tentang gejala
yang menyertai teething dijumpai bahwa pipi merah (76% orang tua
percaya dan mengalami), iritabilitas (71%), gangguan tidur (71%),
sakit (67%), berliur (57%) berhubungan dengan erupsi gigi. Wake,
dkk juga mengadakan penelitian observasi langsung terhadap gejala-
gejala yang berhubungan dengan erupsi terhadap 21 orang anak
usia antara 6,8-22,5 bulan dengan rata-rata 14,4 + 4,9 bulan, didapat
bahwa tidak ada hubungan yang erat antara erupsi gigi dengan
beberapa gejala seperti demam, diare, gangguan suasana hati, sakit,
gangguan tidur, berliur, diare, pipi merah/ruam pada wajah/tubuh.
       Sementara Macknin ber-pendapat bahwa erupsi gigi menim-
bulkan gejala-gejala ringan seperti suka menggigit, berliur dan
menggosok-gosok gusi, iritabilitas dan suka menghisap.
        Carpenter melaporkan bahwa ketika bayi mengalami erupsi
gigi maka akan terjadi gangguan sistemik seperti diare, rhinorea, dan
iritabilitas.
        Sedangkan Hulland mengatakan bahwa ketika gigi bayi
tumbuh, gejala-gejala yang muncul merupakan gangguan lokal
seperti pembengkakan pada gusi dengan derajat yang ringan.
       Menurut Situmorang N (2002), dalam praktek kesehatan ibu
pemeli-haraan     kesehatan     gigi   anak     dipengaruhi    faktor
sosiodemografi antara lain pendidikan ibu. Berdasarkan tingkat
pendidikan terakhir ibu ternyata persentase kepercayaan dan
pengalaman ibu terhadap gejala-gejala yang menyertai erupsi gigi
tidak jauh berbeda pada masing-masing tingkat pendidikan, secara
statistik tingkat pendidikan tidak mempengaruhi kepercayaan dan
pengalaman terhadap gejala yang menyertai erupsi gigi (p>0,05).
       Demikian   juga   dengan    persentase    kepercayaan        dan
pengalaman ibu mengenai gejala yang menyertai erupsi gigi anaknya
secara statistik tidak berbeda antara anak laki-laki dan perempua, hal
ini sesuai dengan pendapat Wake dkk (2000).
     Menurut Macknin gejala erupsi gigi lebih sering terlihat jelas
muncul pada saat gigi belakang tumbuh daripada gigi depan, hal ini
disebabkan karena ukuran gigi belakang yang lebih besar daripada
gigi depan, namun persentase gejala erupsi lebih banyak pada gigi
depan dibandingkan dengan gigi belakang. Pada umumnya teething
dapat sebagai penyebab gangguan sistemik pada bayi terutama
pada masa erupsi gigi insisivus desidui (usia 6-12 bulan), hal ini
mungkin menyebabkan ibu lebih ingat timbulnya gejala erupsi gigi
pada gigi depan anaknya.
     Gejala sistemik seperti diare (59,35%) muncul pada saat gigi
tumbuh, namun ada sebagian ibu (40,65%) yang tidak meyakini hal
tersebut sebagai salah satu gejala yang berhubungan dengan erupsi
gigi, hal ini mungkin karena anak suka memasukkan tangan atau
benda yang tidak bersih ke mulutnya sehingga anak terkena diare.
Penelitian Wake dkk yang mengobservasi langsung gejala erupsi
pada 21 orang anak mendapatkan hasil tidak ada hubungan yang
kuat antara demam dengan erupsinya gigi, sedangkan demam
termasuk dalam salah satu gejala erupsi terbanyak.
     Pengobatan terhadap gejala erupsi gigi kebanyakan dilakukan
sendiri oleh ibu yaitu dengan pengobatan farmakologis/obat sistemik
(memberikan obat parasetamol) dan nonfarmakologis (teething toys,
teething food). Tindakan ibu-ibu ini sebagian besar sudah benar,
namun perlu diperhatikan dosis obatnya. Begitu juga pemberian
teething toys (contoh: teething rings) dan teething food (roti/biskuit
untuk bayi, pisang/wortel yang dibekukan), merupakan tindakan yang
  sudah benar apabila timbul gejala teething pada anak. Pemberian
  teething toys dan teething food dimaksudkan untuk memuaskan
  kecenderungan alamiah anak untuk menggigit dan menghisap
  sehingga rasa sakit yang dirasakan bayi dapat berkurang melalui
  tekanan pada saat menggigit benda yang keras dan dingin.
        Dokter gigi juga dapat memberikan obat-obat sistemik/analgetik
  dan anti-piretik yang bebas gula maupun obat secara lokal/topikal
  untuk mengurangi rasa sakit pada gusi anak. Pemberian bahan
  topikal yang dingin dalam bentuk gel seperti Anbesol Teething Gel®
  (berisi     lignocaine),        Bonjela®   (berisi    choline   salicylate)    dapat
  dioleskan pada membran mukosa yang sakit. Anestesi topikal ini
  akan segera meresap pada membran mukosa sehingga dapat
  mengurangi rasa sakit.
     Erupsi gigi desidui :
                        kode                     atas                Bawah
Incisivus 1                  i1               7 - 8 bulan          6 - 7 bulan
Incisivus 2                  i2               8 - 9 bulan          8 - 9 bulan
 Caninus                     c               16 - 18 bulan        14 - 16 bulan
 Molar 1                 m1                  12 - 14 bulan        12 - 14 bulan
 Molar 2                 m2                  20 - 30 bulan        20 - 30 bulan


     Erupsi gigi permanen :
                        kode                     atas                 bawah
incisivus 1                  i1               7 – 8 tahun          6 – 7 tahun
incisivus 2                  i2               8 – 9 tahun          7 – 8 tahun
 caninus                     c               11 – 12 tahun         9 – 10 tahun
premolar 1   p1   10 – 11 tahun   10 – 12 tahun
premolar 2   p2   10 – 12 tahun   11 – 12 tahun
 molar 1     m1    6 – 7 tahun     6 – 7 tahun
 molar 2     m2   12 – 13 tahun   11 – 13 tahun
 molar 3     m3   17 – 21 tahun   17 – 21 tahun

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:375
posted:3/9/2012
language:
pages:8