; SOAL DAN JAWABAN UAS TERAPI
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

SOAL DAN JAWABAN UAS TERAPI

VIEWS: 170 PAGES: 13

  • pg 1
									               JAWABAN UAS



         MATA KULIAH : TERAPI BERMAIN
         KELAS       : REGULER ANGKATAN 2010




                      Oleh
               IRWANTO PAERUNAN
                   NIM 1004801




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS
         SEKOLAH PASCASARJANA S2
     UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
                    2011
                    JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER
                       KELAS KERJASAMA DIKNAS

                       Mata Kuliah            : Terapi Bermain
                       Prodi                  : PKKh
                       Dosen                  : Drs. Suhaeri HN, M.Pd.
                                                Drs.M. Sugiarmin, M.Pd.

1. Jelaskan konsep, asumsi, dan indikator dari terapi bermain berdasarkan teori-
   teori yang mendukungnya?
   A. Psychoanalytic Play Therapy
      Terapi bermain ini didasari oleh teori psikoanalisa Freud yang kemudian
      dikembangkan oleh Klein (1920) dan Anna Freud (1930).
      Konsep
      Menurut teori ini bermain adalah cara terbaik dan paling disukai oleh anak untuk
      memenuhi tugas-tugas perkembangannya (Kate et al, 1992:5). Pada saat bermain
      anak memainkan imaginasinya secara tersendiri dan kreatif, menciptakan
      dunianya sendiri, lebih jujur, dan anak-anak menampilkan dunianya yang baru
      serta terlihat begitu menyenangkan dan menikmatinya. Jadi menurut teori ini
      terapi bermain sesungguhnya suatu metode yang sangat memberikan kenyamanan
      yang dapat membantu anak mengatasi masalahnya sendiri.
      Asumsi
      Bahwa setiap anak yang memiliki masalah maka akan memiliki konflik yang tidak
      disadarinya (di bawah kesadarannya) dan itu bisa ditampilkan melalui bermain, ia
      juga memiliki ego yang sangat kuat, sehigga membutuhkan pemecahan masalah.
      Oleh karena itu melalui bermain dan interpretasi mimpi, terapis mencoba
      membantu kondisi di bawah sadar dibawa menuju kesadaran.
      Asumsi lainnya adalah pada saat bermain dengan terapis maka akan terjadi
      interaksi yang berulang-ulang dan melalui interaksi itu akan menunjukkan
      konflik-konflik dasarnya, terjadi interpretasi perasaan (feeling), pemikiran, dan
      arah motivasi dalam diri anak untuk menguasi konflik dan kematangannya dalam
      menghadapi konflik (Wolf, 1986:225 dalam Kate et al, 1992:6).
      Indikator
      Indikator menurut teori ini adalah:
      -   Bebas campur tangan orang dewasa
      -   Bebas dari batas-batas realitas
   -   Salah satu tugas utama terapis adalah melakukan interpretasi dan memahami
       bermain simbolik yang dilakukan oleh anak
   -   Klein memberikan indicator tempat, yaitu ruangan atau tempat yang di
       dalamnya     terdapat    perlengkapan     bermain,     gambar-gambar        yang
       representative, tidak ada mainan yang bersifat mekanis, dan ruangan dirancang
       dapat menstimulasi dan mendorong anak untuk bermain imaginative.


B. Object Relations Therapy
   Konsep
   Teori ini dikembangkan oleh Winnicott (1988 dalam Kate et al, 1992:6).
   Konsepnya adalah bahwa bermain dipandang sebagai inti pengalaman therapeutic,
   dan diyakini bahwa bermain yang dimiliki oleh masa anak-anak berkaitan
   langsung dengan ‘area intermediet’ pada masa dewasa, misalnya berkaitan dengan
   keterampilan seni dan pemahaman agama, dimana jika pada saat anak-anak
   melalui pengalaman bermain yang tepat maka pada masa dewa akan terlepas dari
   ketegangan mengelola masa transisi antara realaitas dari dalam dan luar dirinya
   maka ia cenderung akan terbebas dari tantangan berat dan bebas dari kecemasan.
   Jadi terapi bermain merupakan aktifitas yang dapat memberikan dampak
   penyembuhan (therapeutic) yang mampu memberikan kebebasan dari rasa cemas,
   tantangan berat dan mencapai tumbuh kembang optimal. Juga dapat mencegah
   masalah yang lebih buruk dimasa datang.


   Asumsi
   Asumsinya adalah aktifitas bermain yang dilakukan saat ini dapat dikaitkan
   dengan kehidupan masa yang akan datang. Jadi terapi bermain dapat digunakan
   untuk mencegah permasalahan yang lebih berat.
   Asumsinya yang adalah bermain merupakan media untuk melepas ketegangan
   dalam mengelola masa transisi dari setiap fase perkembangan.


   Indikator
   Teori ini meiliki indicator yang disebut dengan directive dan interpretative:
   -   Directive: terapis dalam waktu-waktu tertentu memilih suatu bentuk bermain
       yang mengandung aktifitas komunikasi (misalnya terapis menyodorkan puzzle
       atau menyiapkan aktifitas menggambar, melalui aktifitas itu terapis mencoba
       memberikan komentar dan mendorong anak untuk berkomentar terhadap
       aktifitas tersebut).
   -   Interpretative: terapis melakuk interpretasi atas hubungan bermain dengan
       mimpi, mencari kejelasn hubungan perilaku yang tampak dengan yang
       tersembunyi, serta feeling (perasaan-perasaan) yang tidak disadari.
   -   Indikator yang lain adalah memiliki focus untuk menyingkap tabir yang
       menyelimuti materi-materi kesadaran.


C. Cognitive-Behavioural Approaches
   Konsep
   Didasari oleh Roger dikembangkan oleh Truax dan Carkhuff (1967). Terapi
   bermain merupakan aktifitas yang didasari oleh pandan teori kepribadian yang
   memandang bahwa kepribadian itu merupakan perilaku nyata, dapat dipelajari dan
   memiliki tujuan. Jadi terapi bermain merupakan terapi yang didasari oleh perilaku
   yang dihasilkan oleh kemampuan kognitif dan dapat bersifat directive.
   Asumsi
   -   Bermain merupakan bagian dari perilaku manusia yang dapat diamati,
       dipelajari, diukur dan nyata.
   -   Bermain sebagai perilaku dan perilaku dihasilkan dari kemampuan kognitif
       maka bermain merupakan hasil dari proses kognitif yang dapat dipengarui
       oleh lingkungn secara langung atau tidak langsung.


   Indikator
   -   Terapis melakukan interpretasi perilaku yang diharapkan dan yang tidak
       diharapkan
   -   Menurut konsep ini terapis boleh memberikan penguatan-penguatan terhadap
       perilaku yang diharapkan
   -   Terapis mengurangi atau menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan
   -   Teori ini juga memiliki indicator berdasarkan teori-teori belajar, yaitu
       a. Memberikan penguatan terhadap konsep diri yang positif
       b. Memberikan penguatan terhadap perilaku eksplorasi
       c. Mengurangi kecemasan atau rasa takut
       d. Memberikan          penguatan   terhadap   upaya   membangun       hubungan,
           berinteraksi, dan mengurangi perilaku acuh
       e. Mengurangi atau menghilangkan perasaan-perasaan tidak konsisten, etika
           dan perilaku yang sulit diurai.
D. Release Therapy
   Konsep
   Pertama kali dikembangkan oleh Levy (1938) di Amerika. Konsep terapi bermain
   dalam teori ini adalah terapi bermain yang bersifat directive langsung kepada anak
   yang memiliki pengalaman traumatic meskipun harus berhadapan dengan
   perasaan-perasaan yang tidak pasti yang ditimbulkan oleh pengalaman traumatik.
   Teori ini didasari oleh psikoanalisa kompulsif, dimana didalamnya terdapat
   aktifitas yang mengulang peristiwa traumatic itu atau dialihkan dengan bermain
   yang menggunakan material tertentu.


   Asumsi
   Bahwa     bermain    merupakan      media   untuk   menunjukkan     emosi    yang
   membingungkan, pengalaman traumatic, sensasi dan pengalaman-pengalaman lain
   yang menyenangkan. Material yang digunakan dalam bermain merupakan alat
   interpretasi.


   Indikator:
   -   Menggunakan material tertentu yang diarahkan kepada pengalaman traumatic
       yang dialami oleh anak.
   -   Menciptakan situasi tertentu, terkadang merancang ruangan yang sesuai
       dengan permasalahan yang dihadapi oleh anak.
   -   Berdasarkan teori ini Lowenfeld (1920) mengembangkan material tertentu,
       biasanya miniature dari objek nyata (seperti kuda, rumah, mobil, pohon, alat-
       alat pertanian dll) dan menggunakan media pasir untuk menggambar sesuatu.


E. Abreactive Play Therapy
   Konsep
   Teori ini dikembangkan oleh Solomon (1938). Teori ini hampir sama dengan teori
   release therapy yaitu bersifat directive langsung kepada anak yang mengalami
   kekerasan dan pengalaman traumatic lainnya, bedanya adalah Solomon
   mengembangkan identifikasi tujuan terapi dan sasaran bermain sejak sebelum
      bertemu dengan anak yang akan diterima. Jadi terapis membuat dugaan sebelum
      proses dimulai.


      Asumsi
      Aktifitas bermain merupakan media untuk mengekspresikan pengalman-
      pengalman traumatic.
      Indikator
      -   Anak didorong untuk mengeluarkan emosi-emosi negatifnya, memperlihatkan
          rasa takut, marah.melalui bermain, dan mungkin saja dikonfrontasikan atau
          ditantang untuk mengekspresikan itu jika anak tidak mau, menolak atau
          menggunakan          mekanismen   pertahanan   diri   lainnya   untuk   tidak
          memperlihatkan traumanya.


   F. Structured Play Therapy
      Konsep
      Dikembangkan oleh Oaklander (1978) didasari oleh teori Gestalt. Bermian
      merupakan aktifitas yang memiliki struktur pengganti dari perilaku yang
      disembunyikan atau perilaku yang terperangkap dalam diri anak.


      Asumsi
      Perilaku yang tidak diarapkan dapat memunculkan aktifitas bermain yang tidak
      focus dn tidak memiliki struktur.
      Indikator
      -   Menggunakan berbagai teknik dan material sesuai dengan hasil asesmen
      -   Bekerja secara imaginative
      -   Bersifat directive


2. Bagaimana prinsip-prinsip dan keterampilan yang dikembangkan dalam terapi
   bermain berdasarkan rujukan yang Anda pelajari?
   Prinsip-prinsip
   a. Tterapis harus mengembangkan sikap-sikap kehangantan, ramah, membangun
      hubungan dengan anak, dibarengi dengan membuat pelaporan sesegera mungkin.
   b. Terapis menerima anak apa adanya
   c. Terapis memunculkan rasa permisif dalam menjalin hubungan dengan anak
      sehingga anak merasa bebas untuk mengekspresikan dirinya selengkap-
      lengkapnya.
   d. Terapis harus benar-benar memperhatikan dan mengenali perasaan anak
   e. Anak diberi kesempatan untuk memecahkan masalahnya sendiri dan terapis
      menghormati kemampuan anak tesebut. Anak diberi kesempatab atau tanggung
      jawab untuk memilih dan membuat perubahan sendiri.
   f. Terapis tidak boleh campur tangan langsung terhadap tindakan anak atau
      berkomentar langsung. anak-anak sendiri yang menentukan jalannya; terapis
      mengikutinya.
   g. Terapis tidak boleh terburu-buru dalam melakukan terapi bermain ini, meskpun
      butuh waktu lama sekalipun. Dilakukan dalam proses yang bertahap dan setiap
      terapis mengetahuinya.
   h. Terapis boleh membatasi jika dirasa perlu agar proses terapi teteap dalam dunia
      realitas dan tetap menyadarkan anak bahwa tanggung jawabnya adalah tetap
      berubungan.


   Keterampilan lain yang dibutuhkan selain yang sudah beberapa disebutkan di atas:
   a. Membuat perencanaan
   b. Menentukan material untuk bermain yang tepat atau terapis memiliki focus
      material tertentu misalnya boneka, menggambar, bola, dan lain-lain.
   c. Mencatat setiap proses
   d. Membuat laporan


3. Bagaimana tahapan yang dikembangkan dalam mengimplementasikan terapi
   bermain seperti yang dilakukan dalam kasus Helen?
   a. Persiapan, termasuk didalamnya adalah merencanakan dan mempersiapkan
      ruangan dan peralatan yang dibutuhkan
   b. Initial (pembukaan) play therapy session
      -   Tahap ini terapis berusaha untuk memperoleh kepercayaan dari anak sehingga
          terapis harus berusaha menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan tenang.
      -   Terapis mengembangkan sikap-sikap bersahabat, ramah, dan bijaksana.
      -   Komentar atas pertanyaan dan perilaku harus tepat
   -   Biarkan anak untuk melakukan apapun dalam ruang terapi selama tidak
       membahayakan dan dalam batas kewajaran
   -   Akhir pertemuan dan akhir sesi anak sendiri yang menentukan
c. The middle session: didalamnya termasuk
   1) the stage of false independence (mencapai kebebasan semu)
       Anak    mulai     menunjukkan     aktifitas   bermain   sesuatu   dan   terapis
       membiarkannya. Tujuannya agar memupuk independen yang sudah mulai
       dimunculkan oleh anak meskipun masih semu. Seperti kasus Helen.
       Tekanannya bukan pada Helen berani mnyuruh terapis tapi itu merupakan
       kelanjutan dari kemandirian. 3 sesi sebelumnya Helen masih merasa asing,
       ketika masuk sesi ini Helen sudah merasa aman.
       Sebagaimana menurut Erickson bahwa anak itu mengalami fase ‘truth’ =
       kepastian. Misalnya anak merasa yakin kalau ibunya akan memberinya susu,
       anak merasakan keberadaan dirinya. Begitu pula pada kasus Helen, Helen
       sudah masuk pada fase truth ini. Helen tidak takut lagi (itulah independennya),
       misalnya Helen mengambil kertas, memainkannya sampai memenuhi ruangan.
       Mengapa terapis mengikuti terus keinginan Helen? Sebab untuk memupuk
       independen itu.
   2) The third stage: initiative and mutuality (kerjasama saling menguntungkan)
   -   Menunjukkan adanya aktifitas yang bertujuan
   -   Terjadi dialog meskipun sedikit
   -   Adanya kontak mata dgn terapis sambil memperhatikan komentar terapis
   -   Mulai menikmati suasana ruangan
   3) The fourth stage: symbolic play (bermain simbolik)
       Tahap bermain simbolik artinya anak mulai memainkan benda yang
       menggambarkan situsi yang menyedihkan atau pengalaman yang tidak
       menyenangkan yang pernah dialaminya, lengkap dengan berbagai komponen
       emosi yang menyertainya.
       Dalam bermain simbolik terjadi pemindahan situasi. (displacement).
       Displacement berfungsi mengurangi atau bahkan menghilangkan tekanan dan
       ketegangan mental anak.
   4) The fifth stage: self controlled regression (mundur)
       Pada tahap ini anak bermain peran yang mengekspresikan perjalanan
       kehidupan masa lalunya yang terlewati.
       d. The final stage: Inner acceptance, normal play and a skill (kesadaran) in family
           Dynamic
           Anak menunjukkan perkembangan dan kesiapan untuk mengakhiri proses terapi
           bermain ini. Tanda-tanda bisa dilihat dari adanya bukti perkembangan emosi yang
           semakin baik dan perkembangan fisiknya pun ada perubahan (maksudnya menjadi
           lebih ceria, berpenampilan rapih dan bersih = seperti kasus Helen). Kemajuan atau
           perubahan perilaku itu cukup permanen artinya tidak hanya terjadi dalam situasi
           terapi di ruang terapi tapi juga dalam berbagai situasi (di rumah, sekolah, dan
           tempat lainnya).
    4. Untuk mendukung terapi bermain, teori dari Erikson seringkali dijadikan
       rujukan. Bagaimana teori tsb dan kontribusi apa yang diperoleh untuk terapi
       bermain?
                 Teori Erikson adalah teori yang berkaitan dengan teori perkembangan
       kepribadian yang erat kaitannya pula dengan perkembangan emosi.
                 Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian menurut Erikson memiliki
       ciri utama setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis dan di lain pihak
       bersifat sosial, yang berjalan melalui krisis diantara dua polaritas. Adapun tingkatan
       dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia menurut Erikson
       adalah sebagai berikut         Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat
       digambarkan            dalam      tabel        berikut          ini    (dikutip       dari:
       deviarimariani.files.wordpress.com/2008/11/erik-eriksoi.doc):
:
             Developmental Stage                             Basic Components
    Infancy (0-1 thn)                            Trust vs Mistrust
    Early childhood (1-3 thn)                    Autonomy vs Shame, Doubt
    Preschool age (4-5 thn)                      Initiative vs Guilt
    School age (6-11 thn)                        Industry vs Inferiority
    Adolescence (12-10 thn)                      Identity vs Identity Confusion
    Young adulthood ( 21-40 thn)                 Intimacy vs Isolation
    Adulthood (41-65 thn)                        Generativity vs Stagnation
    Senescence (+65 thn)                         Ego Integrity vs Despair
a. Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan)
            Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Perilaku
   bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di
   sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang dianggap
   asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis
   bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada
   orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat asing, suara asing,
   perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali
   bayi menangis. Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada umur 0-1
   atau 1 ½ tahun.
b. Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu
            Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan
   autonomy – shame, doubt. Pada masa ini sampai batas-batas tertentu anak sudah bisa
   berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri
   tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain dia telah mulai memiliki rasa
   malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau
   persetujuan dari orang tuanya. Berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4
   tahun.
c. Inisiatif vs Kesalahan
            Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative –
   guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-
   kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena
   kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan.
   Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan
   untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.
            Tahap ketiga ini juga dikatakan sebagai tahap kelamin-lokomotor (genital-
   locomotor stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode
   tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun,
d. Kerajinan vs Inferioritas
            Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–
   inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini
   anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk
   mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain
   karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang
   dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini
   dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. Tahap keempat ini dikatakan juga
   sebagai tahap laten yang terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12
   tahun.
e. Identitas vs Kekacauan Identitas
            Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat
   masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Masa Remaja (adolescence)
   ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Sebagai persiapan ke
   arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang
   dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri
   yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini,
   pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang
   dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan
   pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia
   kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara kelompok
   sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh
   terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.
f. Keintiman vs Isolasi
            Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan
   memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-
   30 tahun. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan
   intimacy – isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang
   kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai
   longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya
   dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan
   untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang
   akrab atau renggang dengan yang lainnya.
g. Generativitas vs Stagnasi
            Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh
   orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa (Adulthood)
   ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai dengan namanya masa
   dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala
   kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga
   perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu
   sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan
   kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk
   mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan.
h. Generativitas vs Stagnasi
          Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh
   orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa (Adulthood)
   ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai dengan namanya masa
   dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala
   kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga
   perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu
   sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan
   kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk
   mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan.


Kontribusi Teori Erikson Terhadap Terapi Bermain
        Teori Erickson dalam terapi bermain memberikan kontribusi dalam kerangka
kerja terapi bermain dan refleksi serta proyeksi terhadap perkembangan emosi anak yang
sedang ditangani dengan perkembangan emosi anak pada umumnya. Misalnya dalam
tahap inisiasi/tahap awal terapi diupayakan untuk membangun kepercayaan anak terhadap
terapis. Ini sesuai dengan tahapan perkembangan kepribadian Erikson pada tahap trust vs
mistrust. Jadi terapis melakukan refleksi dan proyeksi sesuai dengan tahapan
perkembangan tersebut karena diyakini ada tahapan perkembangan tertentu yang dilewati
atau mengalami hambatan.


5. Konsep yang dikembangkan dalam terapi bermain sejalan dengan pandangan
   humanisme, bagaimana Anda menjelaskan hal ini?
   Terapi bermain adalah suatu metode untuk mengatasi berbagai masalah pada anak
   yang di dalamnya anak melakukan aktifitas bermain dan orang dewasa tidak
   memberikan nasehat atau pendapat terhadap aktifitas bermain itu, tapi orang dewasa
   melakukan proyeksi dan refleksi, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara
   optimal. Bahkan Axline (1969:9) menegaskan bahwa terapi bermain adalah suatu
   metode yang dapat membantu anak untuk mengatasi masalahnya sendiri.
   Konsep terapi bermain ini berawal dari pandangan humanism. Humanisme
   memandang bahwa pada dasarnya manusia itu baik, jadi ketika ada permasalahan
       pada diri manusia maka harus dikembalikan kepada potensi-potensi kebaikan yang
       dimiliki oleh manusia.
       Selanjutnya potensi-potensi kebaikan itu dianalisa yang disebut oleh Descrates
       sebagai analisis kejiwaan:



                     kognitif   sugesti

                     afeksi     Kehendak: instinct



   -   Kognitif
   -   Afeksi
   -   Kehendak (instinct/naluri=kecenderungan melakukan sesuatu tanpa belajar, …
   -   Sugesti

Selanjutnya perkembangan analisis jiwa itu buntu maka freud mendobrak bahwa jiwa itu
tidak dipecah-pecah. Dalam jiwa ada kemauan,kognitif, dst. Tapi tdk bisa dipecah-pecah.

Menurut freud Ketika ada manusia yg tdk sehat ternyata orang itu mengalami konflik. Dasid
dan norma berlawanan maka terjadilah konflik.
Menurut freud untuk mengetahui konflik seseorang maka dilakukannlah:
   - free association (berpikir bebas) melalui pertanyaan terbuka
   - Tafsir mimpi
   - Intepretasi
   - Analysis resistance (analisis penolakan)
   - Analysis transference (analisis tudingan), biasanya ditudingkan kepada terapis.

Teori struktur kepribadaian itu dibawa ke terapi bermain oleh Anna Freud (di Jerman),
Melanie Klein (di Inggris), dan Lowenfeld. Setiap orang tersebut membuka praktek
psikoanalisis.

Dalam kenyataanya bermain merupaka aktifitas alami yang manusiawi (humanis) dan itu
dimiliki oleh setiap orang, terutama anak-anak. Melalui bermain akan terpancar sisi-sisi baik
dari diri manusia.

								
To top