Laporan Hasil Observasi Lapangan by yulitriastuti44

VIEWS: 2,152 PAGES: 39

									           LAPORAN HASIL OBSERVASI
     PENERAPAN ORIENTASI DAN MOBILITAS
 DI SLB A AGRO BISNIS CISARUA BANDUNG BARAT




           Kelompok Kelas Reguler
           Mata Kuliah: Orientasi dan Mobilitas
               Tahun Akademik 2011/2012




                         OLEH:
            Kelas Reguler Angkatan 2010




PROGRAM STUDY PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS
          SEKOLAH PASCASARJANA
     UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
                 BANDUNG
                    2011
                                      Kata Pengantar


       Segala puji bagi Allah semata atas segala limpahan berkat dan rahmat-Nya sehingga
penulisan Laporan Hasil Observasi      yang dilaksanakan di SLB A Agro Bisnis Cisarua
Bandung Barat dapat selesai, meskipun dalam bentuk yang sederhana baik dari segi isi,
struktur, terlebih dalam kadar ilmiahnya.
       Pembuatan laporan ini berkaitan dengan tugas Mata Kuliah Orientasi dan Mobilitas
yang berkaitan dengan materi “ Bagaimana penerapan Orientasi dan Mobilitas Siswa
Tunanetra di SLB A Agro Bisnis Cisarua Bandung Barat”. Dalam penyusunan laporan ini
ditemui berbagai kendala sejak perencanaan, pelaksanaan, dan penyusunan. Namun berkat
rahmat dan lindungan Allah Subahana Wataalah disertai upaya dan tekad yang kuat serta
kerjasama yang baik dari mahasiswa kelas regular Angkatan 2010, maka berbagai hambatan
dan kendala tersebut dapat diatasi sehingga penulisan ini dapat terwujud dalam bentuk
laporan.
       Terselesainya karya tulis ini tidak lepas dari petunjuk dan bimbingan serta bantuan
dari berbagai pihak yang diberikan kepada penulis. Untuk itu selayaknya penulis
mengucapkan terimah kasih yang tidak terhingga kepada semua pihak yang turut membantu
dalam penyelesaian karya tulis ini terlebih kepada Bapak Dr. Djadja Rahardja, M.Ed. selaku
Dosen pengampuh mata kuliah Orientasi dan Mobilitas.
       Kami yakin dan percaya sepenuhnya bahwa di dalam penulisan laporan ini terdapat
kekurangan-kekurangan, karena itu dengan kerendahan hati kami senantiasa bersedia
menerima sumbangan pikiran, saran, dan kritikan yang bersifat membangun untuk
penyempurnaan laporan ini.
       Harapan kami semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, baik di
masa sekarang maupun pada masa-masa yang akan datang.



                                                  Bandung, Desember 2011

                                                           Penulis,



                                                Kelas Reguler Angkatan 2010
                                      Daftar Isi




Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
Bab II Landasan Teori
       A. Pengertian Tunanetra
       B. Dampak Ketunanetraan Terhadap Motorik dan Mobilitas
       C. Mobilitas dan Masalahnya
       D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mobilitas
       E. Program Pembinaan Gerakan Tubuh
       F. Aktifitas Pengembangan Mobilitas
Bab III Pembahasan
       A. Profil Sekolah
       B. Proses Pembelajaran Orientasi Mobilitas Di SLB Agro Bisnis
       C. Masalah-Masalah Dalam Penerapan Orientasi Mobilitas
       D. Masalah-Masalah Dalam Penerapan Orientasi Mobilitas
       E. Kendala-Kendala Mobilitas
Bab IV Penutup
       A. Kesimpulan
       B. Inplikasi
       C. Rekomendasi
Referensi
Lampiran Fhoto-Fhoto Kegiatan
                                            Bab I
                                         Pendahuluan


       Kemampuan penglihatan sangat berpengaruh terhadap aktifitas kehidupan manusia
sehari-hari. Orang yang memiliki kemampuan penglihatan normal mereka dapat memperoleh
informasi lebih banyak dibandingkan mereka yang mengalami hambatan dalam penglihatan.
Pada anak yang sedang belajar, banyak informasi yang        diperoleh melalui penglihatan,
misalnya dalam mempelajari warna, mengamati benda-benda sekitar, mengamati ekspresi
wajah orang lain, menulis, membaca, memahami persepsi jarak, mengamati gerak/mobilitas
orang lain secara utuh dan sebagainya.
       Kemampuan mobilitas yang tinggi dalam segala aspek kehidupan merupakan
dambaan bagi setiap individu tidak terkecuali mereka yang menyandang ketunanetraan. Bagi
anak awas, kemampuan mobilitas ini telah dipelajari sejak lahir dan berkembang pesat
sampai mereka dewasa. Apakah bagi tunanetra juga demikian? Karena mengalami hambatan
dalam penglihatan, maka tunanetra mengalami kemiskinan dalam gerak/mobilitas.
       Mobilitas dapat dipelajari melalui meniru dalam bentuk gerak yang dilakukan oleh
orang lain di sekitarnya. Bagi anak awas mempelajari gerak dengan cara meniru tidak
menjadi masalah, namun bagi anak tunanetra merupakan masalah yang besar. Oleh karena itu
anak tunanetra harus diajarkan melakukan gerak secara benar dan utuh seperti yang dilakukan
oleh orang pada umumnya. Mengajarkan mobilitas secara benar dan utuh merupakan tugas
dan tanggungjawab instruktur     Orientasi Mobilitas dan para guru yang menangani anak
tunanetra baik di rumah, sekolah maupun dilingkungan masyarakat.
       Pertanyaannya adalah mobilitas yang bagaimanakah yang harus dipelajari dan dialami
oleh anak tunanetra sebagai dampak dari ketunanetraannya? Pertanyaan tersebut akan
terjawab ketika mahasiswa langsung terjun kelapangan dan melihat secara langsung kegiatan-
kegiatan mobilitas anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa Agro Industri Sentra Pendidikan
Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Cisarua Bandung Barat. Bagaimana guru/intruktur
mengajar dan bagaimana anak menerapkan pelajaran mobilitas yang telah diterima dari
guru/instruktur tersebut.
       Makalah yang disusun ini berisikan fakta-fakta yang ditemukan dilapangan sesuai
dengan landasan teori. Kemudian dibuat dan disusun dalam bentuk laporan sebagai bagian
dari mata kuliah Orientasi Mobilitas. Secara keseluruhan makalah ini berisi dan membahas
tentang “Bagaimakah Mobilitas Tunanetra Yang Sebenarnya”.
                                           Bab II
                                      Landasan Teori


A. Pengertian Tunanetra
       Secara garis besar ketunanetraan atau hambatan penglihatan (visual impairment)
dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori besar, yaitu buta total (totally blind) dan kurang
lihat (Low Vision) (Friend, 2005: 412). Blindness (kebutaan) menunjuk pada seseorang yang
tidak mampu melihat atau hanya memiliki persepsi cahaya (Huebner dalam Friend, 2005:
412). Seseorang dikatakan buta (blind) jika mengalami hambatan visual yang sangat berat
atau bahkan tidak dapat melihat sama sekali. Kadang-kadang di lingkungan sekolah juga
digunakan istilah functionally blind atau educationally blind untuk kategori kebutaan ini.
Penyandang buta total (totally blind) mempergunakan kemampuan perabaan dan
pendengaran sebagai      saluran utama dalam        belajar. Orang seperti      ini   biasanya
mempergunakan huruf Braille sebagai media membaca dan memerlukan latihan orientasi dan
mobilitas.
       Seseorang dikatakan low vision jika mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-
tugas visual, namun dapat meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan tugas-tugas
tersebut dengan menggunakan strategi visual pengganti, alat-alat bantu low vision, dan
modifikasi lingkungan (Corn dan Koenig dalam Friend, 2005: 412). Orang yang termasuk
low vision adalah mereka yang mengalami hambatan visual ringan sampai berat. Seseorang
dikatakan penyandang low vision atau kurang lihat apabila ketunanetraannya masih
cenderung memfungsikan indera penglihatannya dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
       Saluran utama yang dipergunakannya dalam belajar adalah penglihatan dengan
mempergunakan alat bantu, baik yang direkomendasikan oleh dokter maupun tidak. Jenis
huruf yang dipergunakan sangat bervariasi tergantung pada sisa penglihatan dan alat bantu
yang dipergunakannya. Latihan orientasi dan mobilitas diperlukan oleh siswa low vision
dengan mempergunakan sisa penglihatannya.
       Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa tunanetra adalah seseorang yang
karena sesuatu hal tidak dapat menggunakan matanya sebagai saluran utama dalam
memperoleh informasi dan pengetahuan dari lingkungan sekitarnya. Akibat ketunanetraan
pada seseorang, secara otomatis ia akan mengalami hambatan dan keterbatasan. Keterbatasan
itu adalah dalam hal: 1) memperolah informasi dan pengalaman baru, 2) dalam interaksi
dengan lingkungan, dan 3) dalam bergerak serta berpindah tempat (mobilitas). Oleh karena
itu, dalam perkembangannya seorang anak tunanetra mengalami hambatan dan sedikit
terbelakang mobilitasnya bila dibandingkan dengan anak awas.


B. Dampak Ketunanetraan Terhadap Motorik dan Mobilitas
          Rogow (Hadi, 2005) mengemukakan bahwa anak tunanetra memiliki kesulitan gerak
berupa:
       1.    Spasticity yang ditunjukkan oleh lambatnya bergerak, kesulitan, dan koordinasi
             gerak yang buruk;
       2.    Dyskinesia yaitu adanya aktivitas gerak yang tak disengaja, gerak athetoid, gerak
             tak terkontrol, tak beraturan, gerakan patah-patah, dan berliku-liku;
       3.    Ataxia yaitu koordinasi yang buruk pada keseimbangan postur tubuh, orientasi
             terbatas,   oleh   akibat   kekakuan   atau   ketidakmampuan      dalam   menjaga
             keseimbangan;
       4.    Mixed Types merupakan kombinasi pola-pola gerak dyskitenik, spastic, dan
             ataxic;
       5.    Hypotonia ditunjukkan oleh kondisi lemahnya otot-otot dalam merespon stimulus
             dan hilangnya gerak refleks;
          Jan et al. (Kingsley, 1999) mengemukakan bahwa anak-anak yang mengalami
ketunanetraan yang parah dengan sistem saraf yang sehat, yang belum pernah diberi
kesempatan cukup memadai untuk belajar keterampilan motorik, sering mengalami
keterlambatan dalam perkembangannya. Sering kali mereka lemah, daya koordinasinya
buruk, berjalannya goyah, dan kedua belah kakinya senantiasa "bertukar tempat". Apabila
berjalan kakinya diseret dan tangannya menjulur ke depan.
          Best (1992) mengemukakan bahwa anak-anak tunanetra tidak dapat dengan mudah
memantau mobilitasnya (gerakannya) dan oleh karenanya dapat mengalami kesulitan dalam
memahami apa yang terjadi bila mereka menggerakkan atau merentangkan anggota
tubuhnya, membungkukkan atau memutar tubuhnya. Karena mereka tidak dapat melihat
gerakan orang lain dengan jelas, mereka tidak bisa mengamati bagaimana orang duduk,
berdiri, dan berjalan serta kemudian menirukannya. Maka mereka akan memiliki lebih sedikit
kerangka acuan/pola (term of reference), dan mungkin tidak akan menyadari apa artinya
"duduk tegak", berjalan kaki melangkah dan tangan diayun, sehingga terjadi keserasian gerak
antara kaki, tangan, dan tubuh ketika sedang berjalan.
          Dampak lain ketunanetraan dapat dilihat pada postur tubuh dan gaya jalan. Akibat
ketunanetraan biasanya ia berjalan dengan kaki diseret karena ingin menditeksi jalan yang
berlubang, tangan menjulur ke depan karena kalau menabrak sesuatu lebih baik tangan dulu
yang menabrak daripada kepala, perut ke depan agar dapat menopang tubuh secara
keseluruhan. Kondisi seperti ini akan membentuk Gaya jalan dan postur tubuh yang jelek,
dada dan bahu menyempit, postur tubuh bungkuk, kaki bengkok, dll. Kondisi ini tidak bisa
dibiarkan begitu saja. Perlu penanganan yang tepat dan profesional. Oleh karena itu tanpa
intervensi dan pembinaan mobilitas/gerak yang tepat, benar, dan utuh anak tunanetra tidak
akan memiliki mobilitas yang baik. Secara psikologis akan menimbulkan rasa tidak percaya
diri.


C. Mobilitas dan Masalahnya
        Mobilititas adalah kemampuan, kesiapan, dan mudahnya bergerak dan berpindah.
mobilitas juga berarti kemampuan bergerak dan berpindah dalam suatu lingkungan. Karena
mobilitas merupakan gerak dan perpindahan fisik, maka kesiapan fisik sangat menentukan
keterampilan tunanetra dalam mobilitas. Jadi mobilitas merupakan kesiapan dan mudahnya
bergerak dari suatu posisi dan tempat ke posisi dan tempat lain yang diinginkan.
        Ketunanetraan akan berdampak terhadap kemampuan mobilitas. Hal ini nampak dari
gaya jalan yang jelek, kaku, postur tubuh yang jelek, tidak luwes, tidak lentur, tidak serasi,
dan tidak harmonis. Tidak harmonis antara langkah kaki dan ayunan tangan. Mobilitasnya
nampak kaku dan tidak bervariasi.
        Apabila kita berbicara masalah pembinaan fisik tunanetra, berarti kita sedang
membicarakan mobilitas tunanetra, karena keduanya saling berkaitan. Mobilitas tunanetra
juga akan sangat dipengaruhi oleh sikap dan perlakuan orang tua dan lingkungan terhadap
tunanetra. Orang tua yang terlalu melindungi juga akan berdampak negatif terhadap
perkembangan mobilitas/gerak tunanetra.
        Masalah pembinaan mobilitas/gerak tunanetra bukan hanya dilakukan oleh guru
Orientasi Mobilitas saja akan tetapi juga harus menjadi tanggung jawab semua fihak
termasuk guru pada umumnya dan orang tua dan keluarga yang berhubungan dengan
pendidikan dan rehabilitasi bagi tunanetra. Demikian juga terhadap pengembangan daya
orientasi tunanetra dalam lingkungannya.


D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mobilitas
        Mobilitas yang baik dan utuh merupakan dambaan bagi setiap orang, tidak terkecuali
tunanetra. Untuk dapat melakukan mobilitas dengan baik dan utuh, diperlukan hal-hal
sebagai berikut:
     1.   Postur Tubuh Yang Baik
          Postur tubuh yang baik merupakan kondisi keseimbangan otot dan kerangka yang
          melindungi struktur penopang tubuh dari hambatan, tanpa mempertimbangkan
          posisi/sikap berbaring, duduk, berdiri, jongkok, membungkuk pada saat struktur
          ini bekerja atau diam.
          Sedangkan postur tubuh yang jelek merupakan kondisi yang tidak seimbang dan
          serasi dari anggota tubuh yang menimbulkan ketegangan pada struktur penopang
          tubuh. Di sini tidak terdapat keseimbangan badan yang serasi pada basis
          penopangnya.
     2.   Kelenturan Tubuh
          Kelenturan tubuh merupakan kondisi otot yang lentur (tidak kaku) sehingga
          mudah bergerak dengan lincah, luwes, dan serasi/harmonis.
     3.   Kekuatan Tubuh
          Kekuatan tubuh adalah gerakan yang didukung oleh kekuatan otot yang
          seimbang. Dengan kekuatan otot seseorang akan dapat bergerak dengan baik dan
          seimbang. Sehingga dengan kekuatan tubuh seseorang dapat bergerak dengan
          mudah, seimbang, dan serasi/harmonis.


E. Program Pembinaan Gerakan Tubuh
     1.   Rileksasi
          Rileksasi, santai atau tidak ada ketegangan adalah pengendoran otot-otot dalam
          rangka menghilangkan segala macam ketegangan. Rileksasi dapat dikondisikan
          dengan cara menciptakan suasana santai yang bebas dari kebisingan dan
          keramaian serta bebas dari segala hambatan. Rileksasi perlu dilakukan secara
          kontinu dengan memilih waktu dan tempat yang mendukung. Dapat
          diprogramkan misalnya seminggu sekali.
     2.   Postur Tubuh
          Anak tunanetra perlu diberi pembinaan latihan postur tubuh yang baik. Perlu
          diinformasikan kepada tunanetra pentingnya postur tubuh yang baik bagi
          penampilan dan pergaulan serta interaksi sosial. Jika postur tubuh yang baik tidak
          diinformasikan kepada tunanetra, mungkin mereka akan beranggapan bahwa
          orang lain di luar dirinya kalau berjalan kepalanya miring, perut ke depan, dsb.
          Pembinaan ini perlu dilakukan secara kontinu dan melibatkan semua orang yang
          ada di lingkungan tunanetra di mana mereka berada.
       3.   Keseimbangan
            Kehilangan penglihatan dapat berdampak kepada tidak adanya keseimbangan.
            Sehingga tunanetra goyah dalam berjalan, kaki seperti ada per-nya, jalannya
            kaku, kaki dan tangan kaku, tidak luwes, serasi dan harmonis. Oleh karena itu
            tunanetra perlu dilatih keseimbangan secara kontinu.
       4.   Gerakan Non Lokomotor
            Gerakan non lokomotor adalah gerakan anggota tubuh dengan tidak berpindah
            tempat. Jenis-jenis gerakan yang dapat dilatihkan antara lain:
            a.   Gerakan persendian;
            b.   Gerakan berputar;
            c.   Mengkondisikan gerakan: lentur, bervariasi, ada tempo, keseimbangan,
                 posisi tubuh dengan lingkungan, gerakan membuka dan menutup, ukuran
                 gerak, bentuk gerakan dan menyadari gerakan tersebut.
       5.   Gerakan Lokomotor
            Yaitu gerakan anggota tubuh dengan berpindah tempat. Latihan yang disarankan
            antara lain: rileks, bervariasi, ada tempo, arah, tempat bergerak, berjalan secara
            pelan-pelan, mengatur jarak gerak, dan kesadaran bergerak. Apabila semua itu
            dapat dilakukan maka akan terjadi irama gerak yang serasi dan luwes. Gerakan
            lokomotor ini perlu dilatihkan kepada tunanetra dengan terjadwal, diulang-ulang,
            melakukan, dan berkelanjutan.
       6.   Gerakan Akrobatik dan Senam
            Gerakan-gerakan akrobatik dan senam perlu dilatihkan kepada tunanetra.
            Misalnya: menendang bola, memukul gamelan, berenang, melompat, dan
            sebagainya.


F. Aktifitas Pengembangan Mobilitas
       Gerakan tubuh yang baik dapat diperoleh melalui pembinaan dan latihan yang terarah.
Kegiatan berikut ini merupakan aktifitas pengembangan gerakan tubuh yang baik yang dapat
dilakukan, antara lain:
       1.   Mengembangkan gerakan: keseimbangan, koordinasi gerakan antar anggota
            tubuh, keluwesan gerak (fleksibilitas), dan kekuatan.
       2.   Pola-pola Gerak Lokomotor dasar: (a) berjalan, (b) pemindahan tumpuan berat
            badan dari kaki ke kaki yang lain seraya lengan diayunkan ke arah yang
            berlawanan; (c) berlari (lebih cepat dari berjalan) kedua kaki ada saat melayang
     dari tumpuan tanah; (d) melompat atau jingkrak, melompat dengan satu kaki dan
     jatuh pada kaki yang sama; (e) Melompat dengan kedua kaki dan jatuh pada
     kedua kaki; (f) langkah lompat, sama dengan berlari tetapi dengan sebuah kaki
     terangkat lebih tinggi dan mencapai jarak yang lebih jauh, sehingga tubuh
     terangkat pada setiap langkah; (g) Langkah kuda, yaitu berjalan atau berlari tetapi
     dengan sebuah kaki yang sama tetap di depan, kaki yang di belakang ikut
     melangkah, posisi tubuh terangkat tetapi kaki belakang tidak melewati kaki
     depan; (h) jingkrak lompat, yaitu berjingkrak dengan satu kaki, kemudian
     melangkah dengan kaki yang lainnya; (i) langkah kuda ke samping, yaitu sama
     dengan langkah kuda tetapi gerakan ke samping.
3.   Membantu pemahaman kesadaran gerak.
4.   Mengembangkan konsep tentang gambaran tubuh.
5.   Mengembangkan persepsi kinestetis.
6.   Mengembangkan ekspresi gerakan bebas dan eksplorasi terhadap berbagai
     gerakan yang dapat dilakukan.
7.   Aktifitas yang dianjurkan lainnya:
     a.   Berguling: lengan rapat di sisi kiri dan kanan tunanetra, tubuh kaku, dan bisa
          berguling disepanjang tikar.
     b.   Jalan kepiting: posisi duduk, ke dua tangan di lantai, berat badan pada kaki
          dan tangan, bergerak ke depan, ke belakang, ke samping, badan jangan
          sampai terseret ke lantai.
     c.   Jalan beruang: tangan di lantai, kepala-lengan-dan kaki kaku. Bergerak mula-
          mula kaki kanan dan tangan kanan, kemudian kaki kiri dan tangan kiri.
     d.   Jalan bebek: jongkok, letakkan tangan pada lutut, dan berjalan sambil
          mengeluarkan suara bebek.
     e.   Matahari terbit: posisi telentang, kemudian bangkit dan duduk dengan
          menggunakan tangan sebagai alat keseimbangan. Variasi gerak dilakukan
          dengan kedua tangan dilipat di dada.
     f.   Sang bangau 1: berdiri di atas satu kaki, pegang kaki dan diangkat ke
          belakang tubuh, melompat beberapa langkah ke depan kemudian ke
          belakang. Tangan yang bebas digunakan sebagai alat keseimbangan.
     g.   Sang bangau 2: berdiri di atas satu kaki, kaki lurus, angkat lengan setinggi
          bahu, melompat-lompat berkeliling ke kiri dan ke kanan.
     h.   Gerakan naik-turun: kaki direntangkan-tangan di pinggang, secara perlahan
          lutut dibengkokkan dalam-dalam, punggung lurus tetap keadaan rata,
          kemudian berdiri.
     i.   Anjing laut merangkak: tangan di lantai, bahu dilebarkan, kaki diluruskan ke
          belakang dan berat badan pada tangan dan ujung jari kaki.
     j.   Gasing: dari posisi berdiri dan tangan rapat di sisi. Kemudian melompat ke
          depan, ke atas, dan meliuk sampai melihat/menghadap ke belakang, meliuk
          dan berputar 3/4 lingkaran, kemudian berputar 360 derajat sampai kembali ke
          posisi semula. Gerakan dinilai berhasil jika badan jatuh tegak dengan
          keseimbangan yang baik dan posisi tangan dekat sisi tubuh, berputarlah ke
          kanan dan ke kiri.
     k.   Gergaji balok: dua orang berdiri berhadapan berpegangan tangan, seorang
          jongkok dalam-dalam dan yang lainnya tetap berdiri, kemudian bergantian
          dengan diiringi irama.
     l.   Gilingan tebu
     m. Ulat
     n.   Loncat kodok
     o.   Pompa
     p.   Peras kain
     q.   Saling tarik
     r.   Saling tolak belakang dan lainnya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melaksanakan kegiatan:
1.   Kegiatan dapat dimulai dari yang mudah ke yang lebih sulit. Kemajuan adalah
     dasar dari keberhasilan.
2.   Memperhatikan dan mengutamakan keselamatan.
3.   Setiap latihan dimulai dengan pemanasan.
4.   Menumbuh kembangkan kepercayaan diri dan semangat untuk berlatih.
5.   Jangan tergesa-gesa dalam melakukan kegiatan tersebut, kembangkan kontrol diri
     dan keseimbangan serta keserasian gerak.
6.   Memerlukan layanan secara individual dalam kegiatan kelompok.
                                          Bab III
                                       Pembahasan


A. Profil Sekolah
      1.   Dasar Pemikiran
           Setelah reformasi dan masuk otonomi khusus pada tahun 2000, perubahan terjadi
           secara besar-besaran terutama pada bidang pendidikan luar biasa. Sejak itu pula
           dibentuk Direktorat Pendidikan Luar Biasa (PLB) dibawah kemendiknas, yang
           kemudian sejak tahun 2003 berubah menjadi Direktorat Pembinaan Sekolah Luar
           Biasa (PSLB). Perhatian pemerintah terhadap anak luar biasa atau anak
           berkebutuhan khusus sangat besar melalui kegiatan-kegiatan lomba untuk siswa,
           guru dan kepala sekolah. Pengembangan Sumber Daya Manusia dilakukan
           dengan pemberian kesempatan bagi guru untuk melanjutkan pendidikan dan
           Diklat serta penataran bagi guru secara besar-besaran. Anggaran pendidikan luar
           biasa setiap tahunnya semakin meningkat.
           Akan tetapi, di Indonesia, misalnya, menurut data Depdiknas tahun 2002, hanya
           sekitar 7,5% anak penyandang cacat usia sekolah yang sudah memperoleh
           pendidikan formal di sekolah. Sedangkan menurut data Direktorat Pendidikan
           Sekolah Luar biasa Departemen Pendidikan Nasional (2006:7), jumlah ABK usia
           sekolah di Indonesia adalah 317.000 anak. Dari jumlah tersebut, 66.610 ABK
           atau sekitar 21% telah memperoleh layanan pendidikan pada sekolah luar biasa
           (SLB), sekolah dasar luar biasa (SDLB), dan sekolah terpadu. Hal ini berarti
           bahwa masih banyak ABK, yakni sekitar 79% atau 250.442 di Indonesia belum
           memperoleh layanaan pendidikan. Tahun 2007, baru 26% Anak Luar
           Biasa/berkebutuhan khusus yang mendapat akses pendidikan. Dengan demikian
           ada sekitar 76% Anak Luar Biasa/berkebutuhan khusus yang belum mendapatkan
           akses pendidikan.
           SLB Agro Industri merupakan sekolah yang berbasis inklusif dan dipersiapkan
           untuk menjadi sentra Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus.
           Dengan menjadi sentra, diharapkan SLB Agro Industri menjadi sekolah yang
           terbuka dan dapat dimanfaatkan oleh semua anak baik anak luar biasa maupun
           anak dari sekolah regular yang menginginkan ketrampilan hidup (life skills) di
           bidang industry pertanian, baik anak disekitar lingkungan sekolah maupun dari
           daerah-daerah disekitar bahkan dari pelosok tanah air.
     Dengan ketrampilan industry diharapkan dapat dijadikan usaha informal yang
     dapat menghidupkan dirinya dan keluarganya. Dengan demikian SLB Agro
     Industri dapat memperluas akses pendidikan sekaligus memperluas kesempatan
     bagi anak luar biasa/anak berkebutuhan khusus untuk hidup mandiri secara
     inklusif ditengah-tengah masyarakat.
2.   Visi
     Visi yang ditetapkan oleh sekolah adalah: Menjadi Lembaga Pendidikan yang
     Profesional dan Fungsional Terhadap Peserta Didik Sehingga Mampu Mandiri
     dan Beradaptasi ditengah Masyarakat
3.   Misi
     Selain visi Sekolah Luar Biasa Agro Bisnis mengembangkan misi yaitu:
     mengembangkan pembelajaran peserta didik untuk dapat:
     a.     Terampil dalam mempertaahankan diri hidup di masyarakat.
     b.     Terampil dalam memilihara diri (Self help skill)
     c.     Terampil dalam membina hubungan antarpribadi (Interpersonal relation skill)
     d.     Terampil memiliki dan memahami arti kerja dalam hidup (Work related skill)
4.   Tujuan Sekolah
     Sekolah memiliki tujuan yang akan dicapai yang diuraikan berdasarkan jenjang
     pendidikan yang ada antara lain:
     a.     Taman Kanak-Kanak/Kelas observasi; penggalian dan pengembangan
            kemampuan diri anak berkebutuhan khusus.
     b.     Tingkat Sekolah Dasar Khusus; pengembangan ketrampilan dasar dan sosial
            akademis dasar.
     c.     Sekolah Menengah Pertama Khusus; ketrampilan lanjutan khusus.
     d.     Sekolah menengah Ketrampilan Khusus; ketrampilan untuk kemandirian dan
     adaptasi.
5.   Kurikulum
     Kurikulum yang dikembangkan di SLB Agro Bisnis berdasarkan:
     a.     Pelayanan professional
     b.     Fungsional kurikulum
     c.     Pendekatan pembelajaran aktif dan kontekstual
     d.     Pembelajaran tematik sesuai dengan lingkungan
6.   Fokus Pembelajaran
     Di dalam pelaksanaan pembelajaran SLB Agro Bisnis juga menetapkan fokus-
     fokus utama pembelajaran yang disesuaikan dengan setiap jenjang pendidikan.
     Adapun fokus-fokus pembelajaran tersebut antara lain:
     a.   Taman Kanak-Kanak Luar Biasa (TKLB)/Kelas Observasi (2 tahun)
          Penekanannya pada asesmen dan observasi dengan tujuan untuk mengetahui
          kemampuan yang dimiliki, kemampuan yang dibutuhkan, dan menentukan
          penem patan dengan pendekatan kecerdasan majemuk (multiple Intelligent)
     b.   Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) 3 Tahun Pertama
          Penekanan pada penekanan diri dan menolong diri sendiri yang mencakup
          kebersihan dan kemandirian.
     c.   Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) 3 Tahun Kedua
          Penekanannya     pada   kemandirian,    sosial   akademis   dan       pengenalan
          ketrampilan- ketrampilan dasar.
     d.   Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) 3 Tahun
          Penekanannya pada kemandirian dan pengembangan ketrampilan serta
          komunikasi.
     e.   Sekolah Menengah Kejuruan Luar Biasa (SMKLB) 3 Tahun
          Penekanannya pada kemandirian dan adaftasi serta pendalaman ketrampilan
          yang spesifik dalam menyiapkan hidup dilingkungan masyarakat.
7.   Fasilitas
     Sekolah Luar Biasa Agro Bisnis memiliki fasilitas-fasilitas antara lain:
     a.   Gedung Sekolah
     b.   Gedung Workshop
     c.   Ruang Kelas
     d.   Ruang Konsultasi Untuk Masing-Masing Kecacatan /kebutuhan anak
     e.   Ruang Bermain (In door)
     f.   Area Ketrampilan Pertanian Jamur, Sayuran, Peternakan (sapi, ayam,
          ikan)
     g.   Asrama Putra (kapasitas 12 orang)
     h.   Asrama Putri (kapasitas 12 orang)
     i.   Perumahan Guru dan Pegawai
     j.   Rumah Mandiri Tunanetra
     k.   Outbound
       8.   Siswa
            Sebagaimana langkah awal, anak yang diterima di SLB Agro Industri meliputi:
            a.   Anak Tunanetra
            b.   Anak Tunarungu
            c.   Anak Tunagrahita (ringan dan sedang)
            d.   Anak Tunadaksa
            e.   Anak-Anak Terlantar
       9.   Sumber Daya Manusia
            Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh sekolah antara lain:
            a.   Guru/orthopedagog PLB
            b.   Psikolog
            c.   Dokter Anak
            d.   Dokter Gigi
            e.   Sosial Worker
            f.   Tenaga Administrasi/tata Usaha
            g.   Keamanan Sekolah
            h.   Cleaning Servise
            i.   Ibu Asrama
            j.   Tenaga Ahli lainnya


B. Proses Pembelajaran Orientasi Mobilitas Di SLB Agro Bisnis
        Materi Orientasi Mobilitas yang diberikan bagi tunanetra di SLB Agro Bisnis
Cisarua Bandung Barat secara garis besar meliputi:
   1. Gambaran Tubuh
       Tunanetra pertama kali harus mengenal dan mempelajari mengenai dirinya sendiri,
       sebelum dapat dengan tepat berhubungan dengan orang lain. bila mereka telah
       menguasai konsep yang tepat mengenai dirinya dalam hal ini gambaran tubuh dan
       orientasi ruang, tunanetra akan dapat menguasai tingkah laku motoris secara efektif.
       Menurut informasi yang diperoleh melalui Pak Irham Husni bahwa seorang guru
       yang mulai bekerja dan belajar dengan tunanetra perlu mengadakan assessment
       dengan jalan mengobservasi hal-hal yang mencakup: sikap, tubuh, gaya berjalan, cara
       melakukan tugas-tuas elementer, aktivitas pada saat istirahat dan response terhadap
       perintah melalui kata-kata (bahasa verbal).
   Agar tunanetra menguasai gambaran tubuh dengan tepat kata beliau “tunanetra harus
   memahami fungsi-fungsi dari bagian-bagian tubuh, perlu pengetahuan dasar tentang
   struktur tubuhnya, yang    terdiri dari tulang-tulang yang besar dan kecil, juga
   mengenai persendihan-persendihan dengan bentuk-bentuknya yang bermacam-macam
   yang menentukan jauh dekatnya gerak yang dapat dilakukan oleh persendihan itu”.
   Tunanetra harus didorong untuk bergerak, sejak pada tahap-tahap permulaan dari
   perkembangannya supaya mempu
2. Kesadaran Ruang
  Dalam mempelajari kesadaran ruang tunanetra diharapkan dapat mengenal posisi,
  lokasi arah dan jarak, hal ini tidaklah mudah karena anak tunanetra tidak mempunyai
  alat untuk mengorganisasi pengamatan mengenai objek dalam keseluruhannya.
  Tunanetra membentuk keseluruhan melalui bagian-bagian dan tergantung dari
  jangkauan perabaan, dan apa yang dapat dipelajari melalui perabaan karena hanya
  terbatas, maka tunanetra tidak dapat mengamati kedalaman, susunan dan keseluruhan
  yang merupakan cirri-ciri pokok sesuatu objek.
  Menurut Pak Deddy Handy, jika tunanetra tidak menguasai gambaran tubuhnya
  dengan sempurna, maka dia akan menjumpai banyak masalah waktu mencoba untuk
  menyusun konsepsi-konsepsi ruang. Anak tidak dapat langsung mempunyai
  pengalaman yang menolong menghubungkan           ruang dengan lokasi, karena ruang
  hanya dapat hanya dapat diamati melalui penglihatan. Sehingga tunanetra mengalami
  kesukaran yang jauh lebih besar dalam melakukan abstraksi dibandingkan dengan
  orang awas. Karena itu, untuk mengurangi kesukaran itu, maka bidang pengembangan
  konsepsi perlu diperhatikan sungguh-sungguh dalam program Orientasi dan
  Mobilitas.
  Bagi tunanetra yang terjadi setelah dewasa, rata-rata membutuhkan waktu latihaan
  180 jam untuk mengajarkan suatu program Orientasi dan Mobilitas secara penuh.
  Sedangkan untuk tunanetra yang sejak lahir untuk menyelesaikan suatu program
  penuh dibutuhkan waktu antara 250 sampai dengan 300 jam latihan di SLB Aggro
  Bisnis, kata Bapak Irham Husni.
3. Konsep Belok dan Arah Mata Angin
   Banyak tunanetra yang kebingungan ketika mereka berjalan dan berpindah dari suatu
  tempat ketempat yang lain dalam lahan pertanian. Hal ini disebabkan mungkin karena
  anak tidak memahami konsep belok dan arah mata angin. Sehingga sangat perlu bagi
  guru atau instruktur Orientasi Mobilitas untuk mengenalkan mengenai belokan atau
  arah mata angin. Mulai dari 0⁰, 45⁰, 90⁰ (setengah lingkaran) 180⁰ dan putaran penuh
  (360⁰), sebelum mulai dengan belokan-belokan dengan derajad yang berbeda-beda.
  Dalam mengajarkan pengertian lingkaran guru memulai dengan apa yang sudah
  diketahui oleh anak, kemudian sampai pada arti-arti yang konkrit dari istilah-istilh
  tersebut. Kemudian untuk mengajarkan konsep derajar guru menngunakan meja yang
  bulat yang dibagi menjadi empat bagian, dimana setiap bagian menunjukan sudut 90⁰,
  kemudian dilanjutkan dengan membentuk sudut 45⁰, dan dapat pula membuat derajad
  tersebut dengan jalan berputar, belok kanan, kiri, dua kali belok kanan yang dilakukan
  dengan memegang tembok atau ditempat yang leluasa.
  Untuk   mengajarkan     arah   mata   angin   harus   diawali   dengan    penguasaan
  belokan,kemudia dilanjutkan dengan pengertian arah mata angin. Anak harus dapat
  menghubungkan belokan dengan arah mata angin. Pengertian arah mata angin sangat
  penting bagi anak, karena bersifat tetap dan tidak tergantung pada posisi anak seperti
  pengertian belokan kiri dan kanan.
4. Sikap Tubuh
  Menurut penjelasan dari Pak Irham Husni bahwa sikap tubuh yang baik berhubungan
  dengan bagian-baagian tubuh itu sendiri. posture yang baik merupakan keseimbangan
  otot dan rangka yang dapat melindungi struktur penyokong tubuh dari kecelakaan atau
  cacat, baik pada saaat struktur bekerja maupun tidak dan dalam segala sikap seperti:
  duduk, berdiri, berbaring, jongkok, membungkuk dan sebagainnya.
  Kata beliau, sikap tubuh yang jelek akan mengakibatkan hubungan yang tidak serasi
  dari bagian-bagian tubuh, yang menimbulkan ketegangan pada struktur penyokong
  tubuh, serta tidak ada keseimbangan yang efisien pada dasar penyokongnya.
  Factor yang penting dalam pengembangan sikap tubuh adalah bagaimana sikap
  tunanetra itu sendiri. keinginan dari pengembangan posture harus datang dari niat dan
  sikap tunanetra itu sendiri, baru dengan motivasi akan dapat terjadi perubahan. Untuk
  memberikan motivasi pada anak, guru kadang mengalami kesulitan, karena posture
  yang kurang baik dimiliki oleh anak. Oleh karena itu guru harus memotivasi anak,
  dengan menanamkan pengertian padanya bahwa postur yang baik akan memberikan
  keuntungan-keuntungan dan memberikan kerugian jika posture itu tidak baik. Untuk
  mengenal hasil yang baik guru biasanya meengenalkan lingkungan ddimana anak
  tersebut berada dengan sebaik-baiknya.
   5. Konsep Waktu dan Jarak
       Selain konsep-konsep yang telah di jelaskan di atas, tunanetra juga memiliki
       hambatan dalam pengenalan konsep waktu dan jarak. Konsep waktu dan jarak perlu
       ditanamkan pada tunanetra dan harus dapat dikuasainya dengan sebaik-baiknya.
       Konsep waktu meliputi waktu yang sebenarnya dengan menggunakan jam dan waktu
       yang pribadi yaitu waktu yang berhubungan dengan perasaan seseorang, indra
       waktulah yang secara pribadi turut membantu emosi seseorang.
       Penanaman waktu harus dijelaskan secara berbeda dengan sebaik-baiknya. Sebab,
       apabila tunanetra tidak mengerti perbedaan ini, konsepsi tentang waktu dan jarak akan
       kacau, sehingga dapat mendorong ke suasanaa yang tidak diharapkan dan bahkan
       akan membahayakan anak. Sedangkan untuk konsep jarak anak diajarkan mengenai
       ukuran yang terpanjang baik dalam ukuran baku maupun ukuran yang tidak baku.
       Setelah anak menguasai konsep waktu dan jarak, maka selanjutnya anak akan
       menyadari berapa lama dia akan berjalan dan mengetahui berapa jauh jalan yang telah
       ditempuh dan sebaliknya anak juga akan mengetahui oula berapa lama waktu yang
       dibutuhkan untuk menempuh suatu perjalanan yang akan ditempunya, kata Pak
       Handy.


C. Masalah-Masalah Dalam Penerapan Orientasi Mobilitas
        Walaupun anak sudah dibekali dengan pelajaran Orientasi Mobilitas, namun masih
ada anak yang mengalami kesulitan dalam penerapannya. Tunanetra yang sering mengalami
masalah dalam orientasi mobilitas adalah tunanetra setelah lahir. Kesulitan yang dialami oleh
guru adalah ketika menanamkan konsep Orientasi Mobilitas terhadap mereka. Adanya
konsep yang pernah dilihat membuat ketergantungan pada anak, selain itu anak tidak
memiliki rasa percaya diri terhadap apa yang diajarkan. Mereka lebih mengandalkan apa
yang pernah dilihat sebelum mengalami kelainan. Oleh karena itu dibutuhkan peran guru
yang lebih baik dalam menanamkan konsep-konsep yang berkaitan dengan Orientasi
Mobilitas anak.
        Selain tunanetra total, low vision juga mengalami kesulitan dalam pembelajaran
Orientasi mobilitas. Mereka selalu mengandalkan sisa-sisa penglihatan yang masih dimiliki.
Rasa percaya diri dengan sisa penglihatan yang masih ada membuat mereka tidak mau
menerima materi Orientasi Mobilitas yang diajarkan oleh guru/instruktur. Hal yang paling
utama adalah bagaimana membangun dan mengembangkan kepercayaan dan rasa mau
menerima apa yang diajarkan kepadanya karena hal ini merupakan faktor penting dalam
penanaman materi pelajaran Orientasi Mobiltas.


D. Kendala-Kendala Mobilitas
       Dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan terhadap beberapa guru yang ada
di SLB Agro Bisnis Cisarua Bandung Barat diperoleh infomasi bahwa kendala-kendala
dalam mobilitas pada anak-anak tunanetra mencakup:
       1.   Mengenalkan kondisi sekolah secara keseluruhan
       2.   Mengenalkan kondisi asrama baik putra maupun putri
       3.   Mengenalkan kondisi lahan pertanian
       4.   Mengenalkan kondisi alat bantu mobilitas
       5.   Aksesibilitas belum memadai
                                          Bab IV
                                         Penutup


A. Kesimpulan
B. Implikasi
C. Rekomendasi


DAFTAR PUSTAKA
Benner, Susan. (2003). Assessment of Young Children with Special Needs, A Content-Based
      Approach. Canada: Delmar Learning.

Departemen Sosial RI., (2002). Panduan Orientasi dan Mobilitas, Panti Sosial Penyandang
       Cacat Netra. Direktorat Bina Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat,
       Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Jakarta.

Hadi, Purwaka. (2005). Kemandirian Tunanetra. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti.

Hosni, Irham, (tanpa tahun). Buku Ajar Orientasi dan Mobilitas, Depdiknas, Ditjen Dikti,
       Proyek Pendidikan Tenaga Guru.

Kingsley, Mary. (1999). The Effect of Visual Loss, dalam Visual Impairment (editor: Mason
       & McCall). GBR: David Fulton, Publisher.

Lewis, Vicky. (2003). Development and Disability (second edition). United Kingdom:
       Blackwell Publishing.

Murakami, Takuma, M. Theibaud, Helen. (1987). Assisting The Blind Traveler. Saitama,
      Japan: Japan Association for Behcet’s Disease

Sunanto, Juang. (2005). Mengembangkan Potensi Anak Berkelainan Penglihatan. Jakarta,:
      Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat
      Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.
E. Fhoto-Fhoto Kegiatan Observasi di SLB A Agro Bisnis Cisarua Bandung Barat
   1. Papan Nama Sekolah




   2. Halaman Sekolah
3. Bagian Sekolah Dari Depan




4. Tempat Pelatihan Kerja Pertanian Tunanetra
5. Asrama Tunanetra (putra dan putrid)
6. Gedung Penyuluhan Pertanian
7. Lahan Pertanian Dan Hasil Pertanian
8. Kegiatan-Kegiatan Anak Tunanetra
9. Kolam Ikan dan Persiapan Air

								
To top