Docstoc

Teori_Belajar

Document Sample
Teori_Belajar Powered By Docstoc
					Ada tiga jenis perkembangan teori belajar dalam
behaviorisme:

      1. Contiguity

      2. Classical Conditioning

      3. Operant Conditioning
          1. Teori Contiguity
Didasarkan pada hasil penelitian dari E. Guthrie.

Semua stimulus dan respon cenderung akan selalu
diasosiasikan dan dihubungkan dengan waktu dan/
kejadian (spasi) yang mengikutinya.

Teori Guthrie menjadi fondasi Teori Belajar yang
semakin berorientasi kognitif.
                       Contiguity
Contoh:
Seorang pemain bola memakai sepasang kaos kaki bolong sewaktu
ia mencetak tiga gol pada pertandingan liga.
Mahasiswa X mendapat nilai A dalam ujian setelah ia mencoba
teknik belajar SKS.
Mahasiswa X menyapa temannya Y. Temannya Y tidak membalas
sapaan X. Apa yang kemudian dipikirkan oleh X mengenai Y?

Seorang anak X di-diagnosa Hiperaktif. Di rumah X selalu
bergerak dan tidak bisa diam. Mengapa X tidak bisa diam?
Mengapa X hiperaktif?
Seorang anak X selalu mendapat nilai jelek di sekolah. Guru dan
teman-temannya memanggil si bodoh. Mengapa X dipanggil
bodoh? Mengapa nilai X jelek di sekolah?
     2. Teori Classical Conditioning
Classical Conditioning adalah tipe pertama dari belajar
yang ditemukan dan dipelajari dalam tradisi behavioristik.

Tokoh utama dari Classical Conditioning Ivan Pavlov,
seorang Ilmuwan di bidang kedokteran dan biologi.

Classical Conditioning di-ilustrasikan sebagai:
Belajar S  R

Classical Conditioning dimulai dari refleks atau suatu
perilaku bawaan yang muncul tanpa disengaja
(involuntary).
      Teori Classical Conditioning


Model dari Classical Conditioning:

Belajar adalah hasil dari asosiasi suatu stimulus dengan
stimulus lainnya.
Unconditioned Stimulus (US) menimbulkan Unconditioned
Response (UR). Stimulus yang netral (NS) tidak menimbulkan
perilaku bawaan yang muncul tanpa disengaja akan tetapi stimulus
ini memberi orientasi terhadap respon.
Bel (Neutral/Orienting Stimulus/NS) dihadirkan bersamaan
dengan makanan (Unconditioned/Natural Stimulus/US) yang
dilakukan berulang-ulang.
Bel yang awalnya netral (NS) diubah menjadi Conditioned Stimulus (CS) ketika
dihadirkan sendiri dan menyebabkan anjing berliur (Conditioned Response/CR).
              Classical Conditioning Theory
Respon yang terjadi sama dengan respon yang tidak disengaja ketika ada makanan
(Unconditioned Response/UR) hanya namanya saja yang berubah karena
ditimbulkan oleh stimulus yang berbeda (stimulus discrimiation).




       • This is written CS elicits > CR.
Model Classical Conditioning

                          UR & CR:
US: Makanan             Mengeluarkan liur




              Conditioned reflex

 CS: Bel
     Prinsip Asosiasi Classical Conditioning

Dalam Teori Belajar, Classical Conditioning dipandang berkaitan
dengan pengkondisian perilaku-perilaku emosional. Berbagai hal
yang membuat kita gembira, sedih, marah, dsb. mendapatkan
perhatian kita dan akan dihubungkan dengan stimulus yang netral.
  Mengapa anda belajar Psikologi?
  Psikologi  Sukses  Bahagia/Cita-cita tercapai

  Mengapa anda minum bir?
  Bir  Sosialisasi dengan orang lain/teman  Bahagia

  Mengapa anda suka dengan parfum pacar anda?
  Parfum  Perilaku pacar  Perasaan dicintai
     3. Teori Operant Conditioning

Kalau Classical Conditioning dilustrasikan sebagai Belajar S R
maka Operant conditioning sering dipandang sebagai Belajar R S

Skinner memberi nama teori belajarnya sebagai Respondent
Conditioning karena belajar merupakan respon dari antecedent
yang ada luar individu.

Operant Contioning adalah studi mengenai dampak dari
konsekuensi terhadap perilaku sehingga yang menjadi fokus kajian
adalah perilaku yang disadari atau voluntary.
           Operant Conditioning



Belajar adalah hasil dari shaping, via reinforcement
dan punishment.
            Operant Conditioning
Istilah the three-term model of Operant Conditioning:
(S  R  S) menyertakan konsep bahwa respon tidak dapat
terjadi tanpa suatu peristiwa di lingkungan yang mendahuluinya
(Kontingensi Respon)
Contoh:

Melihat teman tersenyum                  Melambaikan tangan
Memutar kunci kontak kendaraan           Mesin kendaraan hidup
Mendengar bel di rumah berbunyi          Membuka pintu


Kontingensi Respon terjadi diantara perilaku dengan adanya /
kehadiran konsekuensi atau reinforcer.
                 Model Kontingensi Respon
                  Operant Conditioning
                              A B  C
                           Komponen
       Antecedent           Behavior                  Consequences
                         Mengangkat telepon          Berbicara dengan orang lain
 Telepon berdering

 Teman memanggil         Datang mendekat                    Ngobrol

Ibu meminta anaknya     Membereskan tempat tidur       Pujian dan ijin bermain
membereskan kamar       dan barang-barang lainnya

Mie istant kadaluarsa     Makan mie instant         Sakit perut dan muntah-muntah
   Model Operant Conditioning

                  SD               Sesudah
                  Bel             Ada makanan


Sebelum      Behavior
Tidak ada   Mengeluarkan liur
            (respon alternatif:
makanan     menekan tombol)

                                   Sesudah
                   S∆              Tidak ada
            Tidak ada bel          makanan
    Kontingen atau Nonkontingen?


Membawa payung         Hujan

Anak patuh             Orang tua sayang

Soekarno lahir         Gunung Agung meletus

Anak bertindak sopan   Orang tua memuji
   Dasar Kontingensi Operant Conditioning

1. Reinforcement melalui diberikannya suatu
   reinforcer,
2. Reinforcement melalui hilangnya suatu kondisi
   aversive,
3. Punishment melalui diberikannya suatu kondisi
   aversive,
4. Punishment melalui hilangnya suatu reinforcer.

Extinction - tidak diberikan tetapi juga tidak
             dihilangkan.
REINFORCEMENT selalu
meningkatkan      perilaku

PUNISHMENT dan EXTINCTION
selalu menurunkan perilaku
          Schedules of consequences


Stimulus selalu ada di dalam lingkungan dan memiliki
dua kategori dasar penjadwalanya:


   1. Continuous
   2. Intermittent
         a. Ratio (fixed dan variable)
         b. Interval (fixed dan variable)
Schedule of Reinforcement

       Acquisition                         Extinction


100
80
60
40
20
0
   1   2 3   4   5   6   7   8   9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
       Shaping & Chain of Behavior

Bagaimana kita dapat mencapai bentuk-betuk perilaku
yang kompleks?

Lingkungan secara alami membentuk (shaping) perilaku.

Lingkungan membentuk perilaku yang kita bawa, kita
tidak memperoleh perilaku asli dari lingkungan.
                       Analisa
Budi senang camping di gunung bersama teman-temannya.
Ia selalu pergi camping seminggu sekali, setiap hari sabtu.
Kemarin sabtu sewaktu camping bersama dengan teman-
temannya di Gunung Gede, dua orang temannya diam-diam
memasukkan ular ke dalam tendanya. Sewaktu Budi masuk
ke dalam tendanya dan melihat seekor ular di atas sleeping
bag-nya Budi takut setengah mati. Hingga hari ini Budi
tidak mau menerima ajakan teman-temannya untuk pergi
camping.
  a. Perilaku apa yang berubah?
  b. Apakah perilaku itu diperkuat atau dilemahkan?
  c. Apa konsekuensinya?
         Kontribusi bagi Pendidikan


1. Pendidikan bersifat individual
2. Pendidikan terfokus perilaku apa yang menjadi target,
   bukan pada perilaku yang tidak ditargetkan.
3. Guru adalah ‘scientist’
      Jawablah dengan sudut pandang
              Behavioristik
1. Apa tujuan belajar?
2. Metode belajar yang paling konsisten?
3. Apa tujuan sekolah dan pendidikan?
4. Jelaskan mengenai keberhasilan pendidikan?
5. Faktor apa yang memberikan kontribusi keberhasilan
   pendidikan?
6. Faktor apa yang berkontribusi terhadap kegagalan
   pendidikan?
7. Siapa yang bertanggung jawab terhadap kegagalan
   pendidikan?

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:78
posted:3/6/2012
language:Malay
pages:25