Docstoc

1998 01 11 BERITA PELIPUR LARA DATANG

Document Sample
1998 01 11 BERITA PELIPUR LARA DATANG Powered By Docstoc
					PUSAT INFORMASI KOMPAS
Palmerah Selatan 26 - 28 Jakarta, 10270
Telp. 5347710, 5347720, 5347730, 5302200
Fax. 5347743
=============================================

KOMPAS Minggu, 11-01-1998. Halaman: 9



            BERITA PELIPUR LARA DATANG

  PERHITUNGAN kasar jumlah pekerja lepas, menurut Mennaker Abdul
Latief, mencapai 950.000 orang. Mereka itu yang meninggalkan desa
karena musim kering berkepanjangan, berharap memperoleh kerjaan lepas
di Jakarta. Sangat disayangkan, krisis moneter membuat lahan pekerjaan
di sektor konstruksi dan perumahan tertutup.
  Para pekerja lepas ini ada sekitar 450.000 di Jawa Barat, 150.000
di Jawa Tengah, dan 350.000 di DKI Jakarta. Mereka antara lain datang
dari Karawang, Indramayu, Cirebon, Purwakarta, Pekalongan, Tegal dan
Banten. "Pekerjaan mereka sebagai tukang gali, tukang batu, tukang
angkat tanah dan pasir, konstruksi dan sebagainya. Penghasilan mereka
setiap hari antara Rp 10.000 - Rp 15.000 per hari," ujar Mannaker
dalam suatu wawancara.
  Berita agak pelipur lara para pekerja lepas ini segera datang.
Pemerintah dalam hal ini Depnaker sudah meluncurkan crash program
berupa program padat karya untuk mengatasi masalah pengangguran.
Program tersebut dilaksanakan melalui Pemda Tingkat I terutama di
Pulau Jawa. Sektor usaha yang akan dimasukkan dalam program padat
karya, sektor industri, kontruksi, produksi dan distribusi.
                    ***

  PELAKSANAAN program padat karya itu dilakukan melalui kerja sama
lintas sektoral dengan berbagai instansi dan lembaga terkait. Dalam
kaitan itu Kantor Depnaker akan bekerja sama dan berkoordinasi dengan
Kantor Bappenas, Kantor Menpera, dan Menko Produksi dan Distribusi.
  "Diharapkan program padat karya ini bisa dilaksanakan dalam waktu
yang tidak terlalu lama lagi," ujar Abdul Latief, kepada wartawan
setelah buka puasa bersama awal pekan ini. Program padat karya di
sektor industri ditujukan bagi pekerja harian yang kehilangan
pekerjaan di kota.
  Sedangkan program padat karya bagi petani di desa, yang menderita
kerugian akibat kemarau panjang, kini sudah disepakati berupa
pekerjaan perbaikan infrastruktur berupa perbaikan jalan dan sarana
pengairan di desa-desa.
  Menteri Negara Perencanaan Nasional/Ketua Bappenas Ginandjar
Kartasasmita dalam penjelasan RAPBN 1998/1999, membenarkan adanya
proyek-proyek tadi. Melalui program padat karya, kata Mennaker Latief,
diharapkan bisa terserap tenaga kerja di sektor konstruksi sebesar 70
sampai 80 persen.
  Pemda DKI Jakarta pekan lalu sudah menerima dana Rp 33 milyar
untuk sejumlah proyek yang menyerap tenaga kerja lepas ini.
Proyek-proyek tadi seperti membersihkan got, saluran pembuangan,
penghijauan. Banyak proyek lain bisa dikerjakan berkaitan dengan
datangnya musim hujan kelak.
                   ***

  SELAIN program padat karya, ujar Mennaker, pihaknya mengusulkan
kepada otoritas moneter untuk bisa secepatnya melonggarkan likuiditas
agar kegiatan usaha bisa berjalan normal kembali. Bila sektor usaha
berputar lagi, dengan sendirinya akan bisa menyerap kembali tenaga
kerja.
  "Kami sudah berulang kali meminta agar otoritas moneter bisa
melonggarkan likuiditas," kata Abdul Latief. Hal senada diungkapkan
Ketua Kompartemen Real Estat Kadin Indonesia, Moh S Hidayat.
Likuiditas, menurut Hidayat, merupakan darah bagi para pengusaha tapi
pelonggaran likuiditas ini harus dilakukan secara bertahap dan
selektif.
  Sementara itu pengamat properti, Panangian Simanungkalit,
mengusulkan agar peningkatan pembangunan Rumah Sederhana dan Rumah

Sangat Sederhana (RS/RSS) di daerah, bisa dijadikan bagian dari
program padat karya. Dengan membangun 140.000 unit RS/ RSS, akan bisa

diserap jumlah tenaga kerja sebanyak 700.000 orang.
  Memang potensi permintaan terhadap RS/RSS cukup banyak, namun
Ketua DPP REI Budiarsa Sastrawinata mempertanyakan, apakah perbankan

khususnya Bank Tabungan Negara (BTN) bisa menyediakan KPR-nya. Seba
b
saat ini ada kecenderungan dana Kredit Likuiditas Bank Indonesia
(KLBI) untuk pembangunan RS/RSS sudah mulai seret bila bukan dikatakan

sudah dihentikan. Penghentian itu terjadi karena target pembangunan
RS/RSS pada Repelita VI sebesar 500.000 unit sudah tercapai sebelum
waktunya.
  Apa pun juga, program padat karya ini membantu menyediakan sedikit
sangu untuk pulang berlebaran ataupun hadiah saat pulang mudik kampung

bertemu keluarga. Suatu yang menyenangkan untuk sementara waktu. Hari
esok, itu soal nanti! (gun/ppg)
Teksfoto:
Kompas/sk
TERANCAM - Kesulitan ekonomi yang juga mengimbas ke sektor industri
garmen,
bisa membuat para pekerja ini terancam kehilangan pekerjaan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:3/6/2012
language:
pages:3