KARYA BUKU AMSTRONG SEMBIRING BERJUDUL MASYARAKAT KONSUMER DALAM OPTIK FILOSOFIS
Shared by: JjSembiring
-
Stats
- views:
- 400
- posted:
- 3/5/2012
- language:
- Malay
- pages:
- 96
Document Sample


Foto : Amstrong Sembiring
PENDAHULUAN 1
____________________________________________________
Masyarakat Konsumer
Dalam ranah masyarakat konsumer hasrat direproduksi lewat ide-ide yang
terbentuk lewat proses sosial. Baudrillard misalnya melihat bahwa struktur
nilai yang tercipta secara diskursif menentukan kehadiran hasrat. Struktur
nilai dalam realitas masyarakat konsumer ini menurutnya mengejawantah
dalam kode-kode.
Produksi tidak lagi menciptakan materi sebagai objek eksternal, produksi
menciptakan materi sebagai kode-kode yang menstimulasi kebutuhan atau
hasrat sebagai objek internal konsumsi.
1
Masyarakat konsumer disebut Jean Braudillard dengan Masyarakat
Kapitalis Mutakhir (Jean Braudillard, 2005) dan Adorno dengan
“masyarakat komoditas” (commodity society) (Ibrahim dalam Ibrahim, hal.
1997, hal. 24).
Adorno mengemukakan 4 (empat) aksioma penting yang menandai
“masyarakat komoditas” atau ”masyarakat konsumer”. Empat aksioma
tersebut adalah; Pertama, masyarakat yang di dalamnya berlangsung
produksi barang-barang, bukan terutama bagi pemuasan keinginan dan
kebutuhan manusia, tetapi demi profit dan keuntungan.
Kedua, dalam masyarakat komoditas, muncul kecenderungan umum ke
arah konsentrasi kapital yang massif dan luar biasa yang memungkinkan
penyelubungan operasi pasar bebas demi keuntungan produksi massa yang
dimonopoli dari barang-barang yang distandarisasi. Kecenderungan ini akan
benar-benar terjadi, terutama terhadap industri komunikasi.
Ketiga, hal yang lebih sulit dihadapi oleh masyarakat kontemporer adalah
meningkatnya tuntutan terus menerus, sebagai kecenderungan dari
kelompok yang lebih kuat untuk memelihara, melalui semua sarana yang
tersedia, kondisi-kondisi relasi kekuasaan dan kekayaan yang ada dalam
menghadapi ancaman-ancaman yang sebenarnya mereka sebarkan sendiri.
Dan keempat, karena dalam masyarakat kita kekuatan-kekuatan produksi
sudah sangat maju, dan pada saat yang sama, hubungan-hubungan produksi
terus membelenggu kekuatan-kekuatan produksi yang ada, hal ini membuat
masyarakat komoditas “sarat dengan antagonisme” (full of antagonism).
Antagonisme ini tentu saja tidak terbatas pada “wilayah ekonomi” (economic
sphere) tetapi juga ke “wilayah budaya” (cultural sphere).
Masyarakat yang hidup dalam budaya konsumer. Ada tiga perspektif
utama mengenai budaya konsumer menurut Featherstone (1991). Tiga
perspektif yang dimaksud adalah ; Pertama, budaya konsumer di dasari pada
premis ekspansi produksi komoditas kapitalis yang telah menyebabkan
peningkatan akumulasi budaya material secara luas dalam bentuk barang-
barang konsumsi dan tempat-tempat untuk pembelanjaan dan untuk
konsumsi. Hal ini menyebabkan tumbuhnya aktivitas konsumsi serta
menonjolnya pemanfaatan waktu luang (leisure) pada masyarakat
kontemporer Barat.
Kedua, perspektif budaya konsumer berdasarkan perspektif sosiologis
yang lebih ketat, yaitu bahwa kepuasan seseorang yang diperoleh dari
barang-barang yang dikonsumsi berkaitan dengan aksesnya yang terstruktur
secara sosial. Fokus dari perspektif ini terletak pada berbagai cara orang
memanfaatkan barang guna menciptakan ikatan sosial atau perbedaan sosial.
2
Ketiga, perspektif yang berangkat dari pertanyaan mengenai
kesenangan/kenikmatan emosional dari aktivitas konsumsi, impian dan
hasrat yang menonjol dalam khayalan budaya konsumer, dan khususnya
tempat-tempat kegiatan konsumsi yang secara beragam menimbulkan
kegairahan dan kenikmatan estetis langsung terhadap tubuh.
Konsumerisme tak hanya menyangkut proses sosio-psikologis1, tetapi
juga memasuki wilayah ”zone” lebih luas berupa gejala ekonomi-politik.
Konsumerisme menjadi syarat absolut bagi kelangsungan bisnis status
dan gaya-hidup – eksistensi diri, meski suka dihaluskan dengan menutup-
nutupinya dalam istilah value-added. Orang akan tertawa sinis karena istilah
"nilai tambah" lebih sering bukan urusan kualitas, tetapi soal klaim pada
rasa percaya diri.
1.1 Konsumerisme
Dalam pengertian lebih luas, istilah consumerism, dapat diartikan
sebagai gerakan yang memperjuangkan kedudukan yang seimbang antara
konsumen, pelaku usaha dan negara dan gerakan tidak sekadar hanya
melingkupi isu kehidupan sehari-hari mengenai produk harga naik atau
kualitas buruk, termasuk hak asasi manusia berikut dampaknya bagi
konsumer.
Kamus bahasa Inggris-Indonesia kontemporer (Peter Salim, 1996), arti
konsumerisme (consumerism) adalah cara melindungi publik dengan
memberitahukan kepada mereka tentang barang-barang yang berkualitas
buruk, tidak aman dipakai dan sebagainya. Selain itu, arti kata ini adalah
pemakaian barang dan jasa.
Demikian pula hal pemaknaan istilah konsumerisme dan konsumtivisme
adalah juga berbeda, sama halnya dengan orang menilai apa itu unsur emas
dan kuningan, akan tetapi kerap kali konsumtivisme di-sama-arti-kan
dengan konsumerisme. Kedua istilah tersebut adalah dua hal yang berbeda
maknanya.
Dari kedua arti kata-kata tersebut jelas bahwa konsumerisme justru yang
harus digalakkan dan konsumtivisme yang harus dijauhi. Sedangkan arti
kata konsumtif (consumtive) adalah boros.
Konsumerisme merupakan gerakan konsumen (consumer movement),
sedangkan, konsumtivisme itu sendiri merupakan paham untuk hidup secara
konsumtif, sehingga orang yang konsumtif dapat dikatakan tidak lagi
1 Dengan memakai sebuah teori sosio-psikologis yang dinamakan “cognitive
dissonance” (CD),
3
mempertimbangkan fungsi atau kegunaan ketika membeli barang melainkan
mempertimbangkan prestise yang melekat pada barang tersebut. Oleh karena
itu, makna kata konsumtif adalah sebuah perilaku yang boros, yang
mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan.
Dalam arti yang lebih luas konsumtif adalah perilaku berkonsumsi yang
boros dan berlebihan, yang lebih mendahulukan keinginan daripada
kebutuhan, serta tidak ada skala prioritas. Juga dapat diartikan sebagai gaya
hidup yang bermewah-mewah.
1.1.1 Dalam Optik Umum
Konsumerisme bukan sesuatu hal yang baru. Sebab pada dasarnya -isme
yang satu ini ternyata sudah lama ada dan sejak awal telah mengakar kuat
didalam kemanusiaan kita (our humanity).
Hal ini bisa kita lihat dari ekspresinya yang paling primitif hingga yang
paling mutakhir di jaman modern ini. Tendensi yang ada dalam diri manusia
untuk selalu tak pernah puas (never-ending-discontentment) ”mau ini-mau
itu-mau atau mau ini-itu” dengan hal-hal yang telah mereka miliki, ditambah
dengan dorongan kuat ambisi pribadi dan semangat kompetisi untuk
mencapai sesuatu yang lebih daripada tetangga sebelah membuat pola hidup
konsumerisme semakin subur dan berkembang amat cepat saja, sehingga
menjadi semacam budaya. Yaitu budaya Konsumerisme.
Budaya konsumerisme merupakan jantung dari kapitalisme, adalah
sebuah budaya yang di dalamnya berbagai bentuk dusta, halusinasi, mimpi,
kesemuan, artifisialitas, pendangkalan, kemasan wujud komoditi, melalaui
strategi hipersemiotika dan imagologi, yang kemudian dikonstruksi secara
sosial melalui komunikasi ekonomi (iklan, show, media dan sebagainya)
sebagai kekuatan tanda (semiotic power) kapitalisme - Semiotika (semiotics)
adalah salah satu dari ilmu yang oleh beberapa ahli/pemikir dikaitkan
dengan kedustaan, kebohongan, dan kepalsuan, sebuah teori dusta.
Jadi, ada asumsi terhadap teori dusta ini serta beberapa teori lainnya yang
sejenis, yang dijadikan sebagai titik berangkat dari sebuah kecenderungan
semiotika, yang kemudian disebut juga sebagai hipersemiotika (hyper-
semiotics).
1.1.2 Teori Semiotika
4
Umberto Eco yang menulis tentang teori semiotika ini mengatakan bahwa
semiotika “…pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie).”2
Definisi Eco cukup mencengangkan banyak orang, secara eksplisit
menjelaskan betapa sentralnya konsep dusta di dalam wacana semiotika,
sehingga dusta tampaknya menjadi prinsip utama semiotika itu sendiri.
Dalam semiotika, bila segala sesuatu yang dalam terminologi semiotika
disebut sebagai tanda (sign), semata alat untuk berdusta, maka setiap tanda
akan selalu mengandung muatan dusta; setiap makna (meaning) adalah
dusta; setiap pengguna tanda adalah para pendusta; setiap proses pertandaan
(signification) adalah kedustaan.
Umberto Eco menjelaskan bahwa bila sesuatu tidak dapat digunakan
untuk mengungkapkan dusta, maka sebaliknya ia tidak dapat pula digunakan
untuk mengungkapkan kebenaran (truth): ia pada kenyataannya tidak dapat
digunakan untuk “mengungkapkan” apa-apa. Dia berpikir definisi sebagai
sebuah teori kedustaan sudah sepantasnya diterima sebagai program
komprehensif untuk semiotika umum.3
Hipersemiotika tidak sekadar teori kedustaan, melainkan teori yang
berkaitan dengan relasi-relasi lainnya yang lebih kompleks antara tanda,
makna dan realitas, khususnya relasi simulasi.
Hipersemiotika yang berarti melampaui batas semiotika merupakan
sebuah kecenderungan yang berkembang pada beberapa pemikir, khususnya
pemikir semiotika yang berupaya melampaui batas oposisi biner (prinsip
pertentangan di antara dua istilah berseberangan dalam strukturalisme, yang
satu dianggap lebih superior dari yang lainnya: maskulin/feminin.
Barat/Timur, struktur perkembangan, fisika/meta-fisika, tanda/realitas dsb.
Prinsip ini sangat sentral dalam pemikiran struktural mengenai semiotika,
antara lain: perubahan dan transformasi, sifat imanensi, perbedaan,
permainan bahasa, simulai, dan diskontinuitas.4
1.1.2.1 Dunia Hiperealitas
Dengan demikian, dunia hipersemiotika tidak dapat dipisahkan dari
dunia hiperealitas yang dilukiskan oleh Baudrillard, sebuah dunia realitas
yang dalam konstruksinya tidak bisa dilepaskan dari produksi dan permainan
berupa tanda-tanda yang melampaui (hyper-sign), sebuah tanda yang
2 Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna,
Yogyakarta : Jalasutra, 2003, hlm. 43-44.
3 Ibid., hlm. 44-45.
4 Ibid., hlm. 46-58.
5
melampaui prinsip, definisi, struktur, dan fungsinya sendiri. Prinsipnya
hipersemiotika sama dengan poststrukturalisme, persamaan konsep kunci
yang digunakan di dalamnya, namun berbeda pada penekanannya.
Karena itu, dunia hiperealitas dapat dipandang sebagai dunia
perekayasaan (dalam pengertian distorsi) realitas lewat hyper-sign, sehingga
tanda-tanda tersebut kehilangan kontak dengan realitas yang
direpresentasikannya.
Hiperealitas menciptakan satu kondisi yang di dalamnya kepalsuan
berbaur dengan keaslian; masa lalu berbaur masa kini; fakta bersimpang siur
dengan rekayasa; tanda melebur dengan realitas; dusta bersenyawa dengan
kebenaran.
Kategori-kategori kebenaran, kepalsuan, keaslian, isu, realitas seakan-
akan tidak berlaku lagi di dalam dunia seperti itu - sehingga pada akhirnya
membentuk kesadaran diri (self-consciousness) yang sesungguhnya adalah
palsu.
Dan kekuatan hipersemiotika dan hyper-sign merupakan kekuatan utama
dari apa yang disebut sebagai wacana postmodernisme, seperti dalam
arsitektur, desain, sastra, media, iklan, fashion, musik, film dan berbagai
produk kebudayaan lain yang sangat luas.5
Tak heran jika menjelang hari perayaan keagamaan selalu disambut
dengan suka cita bagi umat pemeluknya. Namun, ajang sukacita ini kerap
kali dimanfaatkan oleh korporasi untuk memancing mereka menuju
konsumerisme.
Bukan hanya memancing, saat ini konsumerisme justru telah merebak
dengan dahsyatnya ditengah-tengah budaya masyarakat. Perayaan hari-hari
besar keagamaan dari hari ke hari semakin identik dengan 'perayaan'
konsumerisme.
Pasar swalayan, supermarket dan mal-mal (puri-puri kapitalis) menjadi
lebih menarik untuk dikunjungi ketimbang tempat-tempat peribadatan.
Bahkan tampaknya, pusat-pusat perbelanjaan ini telah menjadi 'wahana
peribadatan' baru bagi para konsumer fanatik yang tergantung sekali pada
merek-merek kondang itu. Belanja besar-besaran selama musim
obralan merupakan ekspresi kerelijiusan mereka pada 'agama' mereka yang
'baru' ini.
1.1.3 ”Agama Baru”
5Stanley J. Grenz, A Primer on Postmodernism, (Terjemahan), Yogyakarta : Yayasan
Andi, 2001,
6
Gelombang-gelombang riak binal 'agama baru' (new-yet-old-ism)6 -
konsumerisme ini telah mengubah banyak aspek dalam kehidupan manusia
di jaman ini. Sayangnya perubahan yang terjadi ini, lebih menjurus pada hal-
hal yang bersifat negatif dan menyengsarakan hidup manusia itu sendiri.
Salah satu contoh perubahan image didunia konsumerisme ini adalah.
Ambil contoh saja, sekitar sosok Santa Klaus (Sinterklas) yang menjadi
maskot di bulan Desember saat perayaan Natal sedang marak-maraknya itu.
Santa Klaus yang sesungguhnya adalah bernama Bapa Suci Nikolas,
Episkop dari Gereja Kristen Orthodoks Timur di wilayah keuskupan
Smyrna yang hidup sekitar abad ke-4 itu. Memang ia adalah seorang
pemimpin yang bijaksana dan baik hati serta selalu memperhatikan umatnya,
tapi sosok Santa Klaus yang ada sekarang ini telah berubah dari sosok
aslinya.
1.1.3.1 Kapten Iklan
Para kapten iklan tahu, barang/ jasa obyek konsumerisme tidak punya arti
dalam diri sendiri. Mereka diburu dengan harga absurd karena memberi kita
klaim pada rasa percaya diri dan eksklusif. Lantaran eksklusif, maka juga
prestise dan status.
Fakta bahwa semua itu ternyata bukan nirvana tidak soal karena status dan
rasa pede tertinggi pun dengan cepat dilampaui, konsumerisme bagai urusan
mengejar langit di atas langit. Orang tidak hanya merasa naik mobil, tetapi
Jaguar; tidak hanya merasa mengenakan pakaian, tetapi memakai Armani.
Obsesi pada klaim itu menjadi syarat kelangsungan bisnis konsumsi yang
mengada-ada. Tanpa itu, bisnis gaya-hidup akan mati kering kerontang.
Maka, seandainya kita tak punya kebutuhan akan barang/jasa yang
mengada-ada, para kapten iklan bisnis gaya-hidup akan melakukan siasat
intrik apa pun guna menciptakannya.
Lugasnya, konsumsi yang tidak mengada-ada adalah musuh besar
ekonomi megalomania. Keluwesan konsumerisme terbentuk dalam
kombinasi dengan kultus selebriti atau tokoh punya reputasi nama.
Tak kaget pula jika ada seorang penyanyi yang sedang tenar di negeri ini
menghabiskan Rp 100 juta per bulan untuk make-up kecantikan. Atau
politisi kartun senang nongkrong sambil kongkow-kongkow di lobby cafe
hotel berbintang menghabiskan 5 juta per-hari. Mungkin ia menjadi sumber
6 Joshua W. Utomo, Gelombang Binal Konsumerisme, 1 November 2005 - 07:15
(pembelajar.com).
7
decak kagum, atau panutan sebuah tren. Namun, bagi mereka yang sempat
berpikir, berita itu adalah cerita tentang narcissisme seorang konsumeris.
Bagi banyak orang, konsumerisme (baca : konsumtivisme) seperti
pemburuan prestasi. Dan, ia sejenis spending yang menjadi indikator
bagusnya demand economy. Bagi para kapten iklan, konsumerisme seperti
tambang emas yang tidak habis digali.
Tetapi, bagaimana kita mengartikan praktik konsumerisme? Jika
dipadatkan, kira-kira begini: konsumerisme adalah konsumsi yang mengada-
ada. Soalnya adalah bagaimana kita tahu suatu konsumsi telah mencapai
tahap mengada-ada? Sebagai contoh, bintang tenis AS, Serena Williams,
mengaku terus shopping pakaian, tas, sepatu, dan aksesori anjingnya. "Aku
terus shopping, belanja hal-hal yang tidak kubutuhkan; aku bahkan jarang
memakainya." (The Guardian, 9/8/01).
Konsumeris ialah narcissists yang dengan mengonsumsi mengada-ada,
memberi ucapan selamat kepada diri sendiri. Dan, seperti selebriti, para
konsumeris bagai wajah-wajah yang memuja topengnya sendiri.
Menurut Jean Braudillard ; nilai tukar dan nilai guna kini telah berganti
dengan nilai simbol atau lambang. Ketika membeli mobil, orang sekaligus
membeli simbol kemapanan yang melekat pada mobil tersebut. Ketika
membeli baju orang juga membeli kepercayaan diri untuk dirinya.
Dalam banyak hal bisa dikatakan, sejarah manusia adalah sejarah
konsumsi (dan produksi). Sesudah dengan tangan telanjang kita memakai
daun, batok kelapa, piring untuk makan, lalu memakai pisau, sendok-garpu
sumpit guna mengonsumsi makanan.
Konsumsi berkait pemakaian barang/ jasa untuk hidup layak dalam
konteks sosio-ekonomis-kultural tertentu. Ia menyangkut kelayakan survival
sejati. Sedangkan konsumerisme adalah soal lain. Karena "konsumerisme"7
beda dengan "konsumsi".
1.1.4 Kebutuhan Semu
Dalam memenuhi kebutuhan semu biasanya orang tidak tahu mengapa ia
membutuhkannya. Dorongan untuk membeli dan menggunakannya tidak
sungguh-sungguh timbul dari dalam dirinya sendiri, melainkan hanya
sekedar melihat orang lain berbuat begitu. Kebutuhan tersebut dipaksakan
7 B Herry-Priyono, “Konsumerisms”, Kompas, 08 Maret 2003.
8
dari luar dan individu tidak mampu menguasai diri terhadap tekanan-tekanan
yang datang dari luar itu (J. Sudarminta, hal. 126).
Pada masyarakat industri modern kebutuhan macam itu sudah semakin
meluas dan tertanam kuat pada masing-masing individu dengan jalan
manipulir kecenderungan untuk memiliki dan menikmati yang serba baru,
paling enak, paling hebat dan segala paling lainnya.
Sehubungan dengan ini media massa merupakan sarana paling ampuh
untuk merangsang dan membangkitkan kehausan selera masyarakat. Media
massa menjadi alat paling efektif untuk memperkenalkan dan
menyebarluaskan perilaku satu dimensi. Bahasa yang dipakai sehari-hari
oleh media pun turut mendukung pemikiran establishment, menentang
pemikiran-pemikiran kritis dan kreatif.
Dalam bahasa iklan di media, istilah dan kata tidak lagi mencermikan
realitas yang sebenarnya. Bahasa yang digunakan bersifat membujuk,
menanamkan gambaran-gambaran tertentu dan menghipnose pembaca atau
pendengar untuk membeli.
Kerap kali digunakan kata-kata pencitraan yang bersifat memikat, disertai
gambaran kongkret tertentu. Bahasa iklan yang bersifat familiar membuat
orang dengan spontan menyesuaikan dirinya. Padahal, dalam proses
penyesuaian diri ini dimensi akal budi yang begitu mendalam, tempat
berakarnya sikap kritis telah dihancurkan.
Hilangnya dimensi ini berarti juga hilangnya kemampuan untuk
menegasi akal budi. Padahal kemampuan berpikir kritis sangat perlu sebagai
imbangan terhadap suatu proses yang semata-mata sangat materialistis
dalam masyarakat industri modern.
Marcuse berpendapat, tidak peduli sejauh mana kebutuhan-kebutuhan
tersebut telah menjadi kebutuhan masing-masing individu, itu demi
perjuangan kemanusiaan (baik kemanusiaan orang yang merasa menemukan
kebagiaan di dalamnya, maupun mereka yang menderita sebagai
korbannya) kebutuhan tersebut harus dihancurkan. Memang pada dasarnya
penilaian dan pengambilan keputusan mengenai mana kebutuhan yang semu
dan mana kebutuhan yang sebenarnya harus diberikan oleh masing-masing
idividu sendiri. Tetapi sejauh mereka tidak lagi otonom, karena sangat
dipengaruhi sampai naluri-nalurinya, maka penilaian dan keputusan mereka
itu sama sekali bukan berasal dari dalam diri mereka sendiri lagi (J.
Sudarminta, hal. 127).
9
Kodrat Kedua 2
_____________________________________________________________
Apa yang dinamakan sebagai ekonomi konsumen dan politik kapitalisme
yang telah melembaga sudah menciptakan semacam “kodrat kedua” dalam
manusia yang mengikatnya secara libidinal (dorongan nafsu) dan agresif
pada barang-barang.
10
Kebutuhan-kebutuhan semu yang telah di-introyeksikan pada masing-
masing individu sudah menjadi kebutuhan biologis (kebutuhan yang mesti
dipenuhi, bila tidak maka organisme akan sakit), menjadi bagian pokok
kehidupannya: seakan-akan hanya dengan membeli barang-barang itu
mereka dapat mewujudkan kehidupannya, dan bila tidak mereka akan
menjadi frustasi. “kodrat kedua’ semacam itu membentuk sikap yang
mendukung sistem yang ada serta menentang setiap perubahan yang akan
merenggut serta membebaskan mereka dari ketergantungan manusia pada
pasar yang semakin penuh dengan barang-barang dagangan (J. Sudarminta,
hal. 127).
2.1 Hasrat
Dengan tertanamnya kehausan untuk membeli dan membeli lagi barang-
barang produksi yang baru, produsen seakan-akan dalam memproduksi
barang-barangnya hanya menuruti saja permintaan masyarakat. Hukum
penawaran dan permintaan membangun suatu keselarasan antara yang
memerintah dan yang diperintah. Antara kapitalis (yang memerintah) dan
konsumen (yang diperintah).
Keselarasan ini benar-benar telah terbangun sejauh produsen dapat
menciptakan masyarakat yang selalu haus akan barang-barang produksinya
sebagai pemuas rasa frustasinya. Dari sini kita dapat melihat adanya isu
pembebasan.
Dalam buku One Dimensional Man dikemukakan oleh Marcuse bahwa
ciri dasar yang dapat menandakan masyarakat industri maju adalah matinya
sifat efektif terhadap kebutuhan-kebutuhan yang menuntut pembebasan.
Kontrol sosial mengharuskan kebutuhan yang melimpah untuk produksi
dan konsumsi sampah; kebutuhan akan kerja yang dimana kerja itu tidak lagi
merupakan kebutuhan yang sesungguhnya; kebutuhan untuk mode-mode
rileksasi yang membuat tenang dan meneruskan kelumpuhan/ketakutan
(stupefication); kebutuhan untuk memelihara kebebasan-kebebasan deseptif
semacam itu sebagai kompetisi bebas di dalam menetapkan harga-harga,
suatu pers bebas yang dapat menyensor dirinya sendiri, pilihan bebas antara
merek dan barangnya.
Dengan demiikian sejalan oleh apa menurut tinjauan teori ekonomi politik
media, institusi media harus dinilai sebagai bagian dari sistem ekonomi yang
juga berkaitan erat dengan sistem politik. Kualitas pengetahuan tentang
masyarakat yang diproduksi oleh media untuk masyarakat, sebagian besar
dapat ditentukan oleh nilai tukar berbagai ragam isi dalam kondisi yang
memaksakan perluasan pesan, dan juga ditentukan oleh kepentingan
11
ekonomi pra pemilik dan penentu kebijakan (Garnham dalam McQuail,
1991, hal. 63).
Konsekuensi keadaan seperti itu terlihat dalam wujud berkurangnya
jumlah sumber media independen, terciptanya konsentrasi pada pasar besar,
munculnya sikap masa bodoh terhadap calon khalayak pada sektor kecil
(McQuail, 1991, hal. 63). Walaupun pendekatan ini memusatkan perhatian
pada media sebagai proses ekonomi yang menghasilkan komoditi (content),
namun pendekatan ini kemudian melahirkan ragam pendekatan baru yang
menarik, yaitu ragam pendekatan yang menyebutkan bahwa media
sebenarnya menciptakan khalayak dalam pengertian bahwa media
mengarahkan perhatian khalayak ke pemasang iklan dan membentuk
perilaku publk media sampai pada batas-batas tertentu (Symthe dalam
McQuail, 1991, hal. 64).
2.2 Hegemonik Simbol
Dalam masyarakat komoditas (commodity society) dengan meminjam
istilahnya Adorno, konsumsi sudah merupakan suatu tanda atau makna
keberadaan manusia modern itu sendiri. Segala bentuk pemasaran telah
dikomodifikasikan dalam bentuk yang lebih persuasif sekaligus hegemonik
melalui simbol-simbol yang digunakan dalam sebuah iklan.
Dapat dikatakan bahwa simbol-simbol tersebut adalah media baru bahkan
pesan yang dibungkus dalam simbol merupakan media itu sendiri. Desain,
mode, bentuk kata, tipografi muncul sebagai “avant garde” yang pada
akhirnya menjadi penentu kebutuhan manusia.
Pada konteks permasaran modern, seseorang sekarang membeli bukan
karena barang atau jasa itu sendiri tapi rangkaian kata, simbol yang
membentuk gaya hidup yang disimbolisasikan dalam tanda-tanda yang
dibuat. Sekarang ada istilah yang disebut sebagai “consumers are the citizen
of Brand”.
Atau dengan kata lain, kalau kita makan mie sebenarnya yang kita makan
adalah merek mie tersebut, kalau kita memakai celana jeans kita tidak
semata-mata memakai celana, tapi menggunakan gaya hidup yang inheren
melekat dalam jeans tersebut.
Logika konsumen adalah logika merek atau brand. Satu sisi kekuatan
iklan modern terletak pada daya rayu Iklan yang menekankan aspek
simbolisasi yang berhubungan dengan gaya hidup manusia. Penekanan
aspek simbolisasi tentu saja akan sangat berhubungan dengan kemampuan
manusia untuk menarasikan dan mengabstraksikan gaya hidup dalam
sekumpulan tanda, ikon atau indeks yang tepat.
12
Tapi hal yang perlu dipahami adalah bahwa aspek simbol, ikon atau
terminologi apa saja yang ada dalam telaah semiotika berhubungan dengan
proses kultur dalam hal ini adalah kultur konsumtif manusia.Pola nilai
budaya yang hidup dalam sebuah masyarakat akan sangat berhubungan
dengan sistem nilai dan penafsiran tentang apa yang disebut dengan indah
atau menarik.
Estetisasi budaya konsumtif merupakan aras pelengkat dalam daya pikat
iklan tertentu. Dalam pemahaman ini, maka wajar bahwa sebuah iklan dalam
budaya tertentu merupakan kombinasi –meminjam istilah Saussure- langue
(konsep) dan parole (tuturan).
Masyarakat konsumer dalam arti tertentu juga mencoba menggapai
kepuasan secara irasional. Ia mencoba apa saja tak mempedulikan resiko
yang akan diterimanya. Seperti seorang bayi yang mencoba apa saja secara
spontan untuk menggapai kesenangan.
Oleh karena itu masyarakat konsumer dalam beberapa hal seperti bayi. Ia
mengonsumsi segalanya mengikuti logika hasrat untuk mencapai kepuasan-
kepuasan yang bersifat spontan dan temporal. Adalah jelas bahwa ini adalah
satu hal yang mengindikasikan irasionalitas masyarakat konsumer.
Bahkan bila kita merujuk pada teori psikoanalisis, logika hasrat yang
memperbudak masyarakat konsumer sama dengan logika hasrat seorang
anak yang berada dalam fase id. Semuanya dikonsumsi, bahkan, maaf,
sampah ia makan, seperti bayi yang tak tahu apa-apa mencoba segalanya.
Karena dalam konteks konsumerisme tidak ada kontrol dan represi
rasional (mekanisme bertahan) pada fase ego, apalagi kontrol dalam fase
superego. Tindakan konsumsi terus mengalir mengikuti logika hasrat,
menuju kepuasan-kepuasan atau kesenangan yang bersifat spontan dan
temporal. Adalah jelas bahwa logika hasrat benar-benar membuat seseorang
bersikap irasional dan kekanak-kanakan.
2.3 Logika Hasrat
Logika hasrat (yang tak pernah selesai) tak dapat dimungkiri telah
menawan hidup masyarakat konsumer. Semua tindakan konsumsi, selain
untuk bertahan hidup, mengarah pada satu tujuan: yaitu kepuasan dan
kesenangan yang bersifat spontan dan temporal. Logika ini sekarang seakan-
akan menjadi nyata dan rasional. Semuanya dikonsumsi. Budaya, tubuh,
fantasi-fantasi, dan semua aspek kehidupan sosial dapat dikonsumsi.
Konsumsi selalu membutuhkan objek. Karena konsumsi tanpa objek
adalah bukan konsumsi. Inilah yang membawa para konsumer masuk ke
13
dalam logika hasrat yang tak pernah habis dan terpuaskan. Objek produksi
telah membentuk sistem quasi-rasional yang menstimulasi dan mereproduksi
hasrat konsumer. Subjek selalu saja menghasrati objek di luar dirinya.
Akibatnya subjek terpenjara oleh hasratnya sendiri.
Seperti yang telah dijelaskan, objek konsumsi adalah fiksi (ide) yang
dikonstruksikan secara diskursif. Konsekuensinya hasrat pun bila kita
cermati adalah fiktif juga. Satu hal yang membedakan adalah bahwa ia
berada dalam subjek. Karena subjeklah yang merasakan hasrat. Untuk
mengatasi hal ini adalah mungkin menurut saya menempatkan hasrat
menjadi sesuatu yang objektif. Hasrat diobjektifikasikan agar ia bisa
“ditelan”. Menelan atau mengonsumsi hasrat yang kita rasakan adalah sama
dengan menelan diri sendiri.
Bila demikian dapat dikatakan bahwa mode konsumsi tidak terbatas pada
relasi subjek yang mengonsumsi objek-objek. Subjek juga dapat
mengonsumsi dirinya sendiri. Tubuh sebagai subjek (yang kemudian
menjadi objek) dapat mengonsumsi dirinya sendiri. Tentu ini menjadi
kontradiktif bila kita merujuk pada gagasan ”bahwa konsumsi tanpa objek
bukanlah konsumsi”. Namun ini dapat ditanggapi demikian: bahwa tubuh
yang berhasrat adalah objek itu sendiri. Sebagaimana subjek dapat
mengeksternalisasikan dirinya yang berhasrat menjadi objek-objek yang
dapat dimakan.
Bila merujuk pada gagasan Baudrillard ia dapat dipahami sebagai salah
satu bentuk idealisasi dalam diskursus. Seperti objek-objek konsumsi yang
hadir sebagai fiksi. Swa-konsumsi (self-consumption) adalah afirmasi
terhadap fiksi-fiksi tersebut.
Subjek yang berhasrat dapat diidelisasikan menjadi objek konsumsi.
Menelan diri sendiri adalah menelan hasrat yang hadir karena fiksi-fiksi
konsumsi. Diskursus intelektual dan percakapan punya potensi untuk
mengobjektifkan hasrat menjadi fiksi-fiksi konsumsi.
Karena dalam beberapa hal mengonsumsi hasrat sama fiktifnya dengan
mengonsumsi citra dalam ide-ide konsumsi seperti kemasan atau bahasa
iklan. Bila dalam ide dan diskursus hasrat hadir, dalam ide dan diskursus
pula hasrat dapat dimusnahkan (dimakan).
Dalam mode swa-konsumsi subjek mengonsumsi hasratnya (dirinya)
sendiri. Objek konsumsi adalah hasrat itu sendiri. Melalui diskursus hasrat
konsumer dapat dikodifikasi menjadi objek-objek konsumsi. Menelan hasrat
adalah mode swa-konsumsi, sebuah ciri konsumsi yang malampaui
masyarakat konsumer - inilah masyarakat super-konsumer.
2.3.1 Fase Maya
14
Pada fase masyarakat super-konsumer kebutuhan atau hasrat disadari
sebagai fiksi-fiksi yang menipu. Sebenarnya kebutuhan (yang memicu
hasrat) sebagai fiksi ini sudah dapat kita kenali dalam gagasan Karl Marx
melihat bahwa proses produksi tidak hanya menciptakan produk material
untuk kebutuhan manusia, tetapi juga menciptakan kebutuhan itu sendiri.
Pada fase masyarakat industri kebutuhan dalam beberapa hal diciptakan
oleh produser. Produksi misalnya tidak hanya menciptakan objek, tapi juga
menciptakan cara-cara untuk mengonsumsi objek. Sebuah objek diciptakan
secara khusus agar dapat dikonsumsi seturut dengan mode produksi.
Konsumer tidak dapat begitu saja mengonsumsi objek, ia mesti mengikuti
logika produksi yang diciptakan oleh produser.
Kita tidak dapat langsung begitu saja memakai ponsel, dalam beberapa hal
kita harus menuruti logika produksi ponsel (fitur-fitur dan cara
penggunaan) agar kita dapat mengonsumsinya. Dapat kita ketahui
kebutuhan tidak datang dari dalam diri melainkan datang dari objek
produksi.
Dengan demikian dalam masyarakat konsumer kebutuhan dikontruksikan
secara diskursif. Jadi tidak hanya proses produksi yang menentukan
kebutuhan-kebutuhan, tapi juga proses sosial. Proses sosial tentu belum
merepresentasikan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh para konsumer.
Karena itu dapat dipahami bahwa tidak hanya produser yang dapat
menciptakan kebutuhan secara ilusif, tapi juga proses sosial dalam diskursus.
Kebutuhan yang memicu hasrat adalah fiksi yang dapat diobjektifikasikan
melalui percakapan sehari-hari atau proses sosial. Kebutuhan (yang memicu
hasrat) adalah turunan dari objek hasil produksi. Artinya objek material
hasil produksi bersifat eksternal, sedangkan kebutuhan inheren di dalamnya
- internal.
Swa-konsumsi adalah terma yang mengacu pada pernyataan bahwa
kebutuhan yang memicu hasrat itu dapat dikonsumsi. Hasrat misalnya dapat
diidealkan lewat diskursus menjadi sesuatu yang memuaskan konsumer.
Mengonsumsi hasrat adalah mengontrol aliran hasrat.
Dengan mengontrol dan mempertahankan aliran hasrat boleh jadi
konsumer dapat merasakan semacam ekstasis yang melebihi kenikmatan
hasrat itu sendiri.
Namun menelan semua jenis aliran hasrat adalah sulit untuk dipahami.
Karena dalam beberapa hal hasrat merupakan syarat dari kehidupan.
Tanpanya seseorang menjadi pasif dan redup. Tak ada dinamika,
“perjuangan” dan penciptaan. Dalam perspektif ini tentunya, mengonsumsi
15
hasrat adalah sebatas melepaskan diri dari penjara hasrat. Namun bukan lari
dan menghindar darinya.
Swa-konsumsi sebagai ciri utama masyarakat super-konsumer akhirnya
menjelaskan bahwa tindakan anti konsumtif sebenarnya adalah tindakan
konsumtif juga. Anti konsumsi adalah mengonsumsi diri sendiri. Dalam
mode swa-konsumsi, memblokade hasrat adalah sama dengan
mengonsumsinya.
Konsumerisme Dalam Wilayah ”Zone”
Lebih Luas 3
_____________________________________________________________
Konsumerisme (baca: konsumtivisme) disini ini melibatkan proses
korosi yang tidak sekedar menyangkut konsumsi mobil, handphone, jam,
cincin, sepatu atau tas yang mengada-ada, tetapi telah melibatkan soal sosial
- ekonomi – politik yang lebih luas. Misalnya, konsumerisme (baca:
konsumtivisme) ruang (consumerism/consumtivism of space) yang
16
menghancurkan ekologi, kemacetan lalu lintas, atau masalah abadi KKN dan
kehancuran infrastruktur publik.”
Bagaimana gejala absurditas itu bisa menjadi dan mesti dipahami? Di
sinilah kita menemukan benang merahnya kaitan konsumerisme dan
ekonomi-politik.
Korosi dan pendangkalan hidup di suatu negara entah berbentuk
Republik atau Monarkhi tidak hanya terjadi karena tindakan brutal seperti
terorisme, rasialisme, primodialisme, militerisme, fundamentalisme,
rezimisme dan represifisme, tetapi juga melalui berbagai praktik "lembut-
gemulai" dalam konsumsi mengada-ada bagi gaya-hidup.
Kesesakan kondisi ekonomi-politik, kultural, dan psikologis yang
mendera kita rupanya tidak akan menemukan solusinya tanpa kita serius
melihat watak korup, kolusif dan korosif konsumerisme. Lingkaran
persoalan macam KKN, keadilan, marjinalisasi, dan kemiskinan terkait
dengannya.
3.1 Konsumerisme Ekonomi - Politik
Konsumerisme disini tidak dapat dipisahkan dari berbagai derita psikis
menyelimuti, seperti : Pertama, teror - menurut Henri Lefebre (1968/1984),
seorang marxis, orang yang hidup pada masyarakat kapitalis, adalah hidup
dalam situasi teror psikologis. Pada kehidupan kita keseharian, kita berada
dalam “serangan” yang konstan (oleh periklanan cetak, program radio dan
tv, yang dibawa oleh media massa), meskipun kita barangkali tidak
mengenali serangan yang membuat kita terkepung atau tidak memungkinkan
kita mengartikulasikan perasaan kita (Berger, 2000a; hlm.51).
Kedua, rasa takut (horror), 'Horor'8 adalah lukisan dan citra dunia, yang
di dalamnya manusia menerima eksistensinya sebagai sebuah perjalanan di
dalam berbagai ancaman kekerasan menuju kematian.
Ketiga, kecemasan (anxiety) - Tillich berpendapat bahwa kecemasan dari
ketidakberadaan (non-being) (kecemasan eksistensial) itu inheren di dalam
pengalaman mengada itu sendiri. Secara sederhana, orang takut akan
ketidakberadaan mereka sendiri, yakni, kematian. Mengikuti alur yang
serupa dengan Soren Kierkegaard dan hampir identik dengan alur Sigmund
Freud, Tillich mengatakan bahwa di dalam momen-momen paling
introspektif kita, kita menghadapi teror dari ketidakberadaan kita sendiri.
8 'Horror-culture': Kekerasan Fisik dan Kekerasan Simbolik? Dalam Konteks Budaya
Indonesia ? Yasraf A. Piliang?
17
Artinya, kita "menyadari kefanaan kita", bahwa kita adalah makhluk-
makhluk yang fana. Pertanyaan yang sewajarnya muncul dalam pikiran
orang di dalam pemikiran introspektif ini ialah apakah yang pertama-tama
menyebabkan kita "mengada". Tillich menyimpulkan bahwa makhluk yang
secara radikal fana (sebaliknya, sekurang-kurangnya secara potensial,
kekal) tidak dapat dipertahankan atau disebabkan oleh makhluk yang fana
lainnya.
Keempat, rasa terancam (paranoia), keputus-asaan, kegelisahan, rasa
tidak aman dan trauma, baik pada tingkat fisik, psikis dan simbolik. Artinya,
pada tingkat eksistensial, ada semacam rasa 'ketiadak-amanan ontologis'
(ontological insecurity) yang bersifat struktural, yang menghambat
terciptanya sebuah dunia kehidupan sosial, politik, ekonomi yang nyaman
untuk didiami.
3.1.1 Era Kapitalisme Sibernetik
Pada era kapitalisme sibernetik, perusahaan-perusahaan raksasa (negara-
negara kuat) mampu mempertahankan kekuasaannya melalui manipulasi
psikologis dan rekayasa manusia. Kapitalisme ini membutuhkan manusia
yang sangat mudah ditempa dan dipengaruhi.
Masyarakat industri masa kini memiliki visi tujuan hidup yang berbeda
dengan dahulu. Dulu, idealnya adalah kemandirian dan inisiatif pribadi, atau
menjadi kapten di kapal sendiri, sebaliknya, kini menjadi komsumsi dan
penguasaan tak terbatas atas sumber daya alam. Manusia bergerak dalam
multi kapasitas dan boleh jadi latar belakang politik sering mewarnai
perilaku mereka.
Dalam konsep B.F. Skinner seorang filsuf era pencerahan yang
melahirkan rumusan brilian Neobehaviorisme yang menyatakan mengenai
kata "penguasaan", budak dan pemilik budak berada dalam hubungan timbal
balik. Dalam makna sehari-hari si tuanlah yang menguasai budaknya, bahwa
tidak ada penguasaaan balik dari yang lemah misalnya dengan ancaman
pemogokan dari yang lemah.
Tetapi Skinner menyatakan dalam sebuah lelucon, cerita tentang seekor
tikus yang memberitahu tikus lain bagaimana cerdiknya ia menkondisikan
(menguasai) orang yang melakukan eksperimen terhadapnya, kapan saja
sang tikus menekan tombol tertentu, sang eksperimenter akan memberinya
makan.
Manusia dapat dikondisikan berperilaku dalam semua pola yang
dikehendakinya, tetapi manusia bereaksi dalam pola yang berbeda dan baku
terhadap kondisi yang bertentangan dengan tuntutan insaninya. Dia bisa
18
dikondisikan sebagai budak, karena dia bereaksi agresif atau sebaliknya,
atau ia dapat dikondisikan untuk merasa sebagai bagian dari mesin dan
karenanya ia bisa saja bereaksi dengan keengganan, keagresifan, atau
ketidaksenangan.
Prinsip neobehaviorisme menyatakan, kepentingan diri demikian kuat
terutama dalam bentuk imbalan oleh lingkungan terhadap individu karena
bertindak sesuai dengan keinginannya. Skinner percaya bahwa manusia
ditempa oleh, dan rentan terhadap, pengaruh sosial.
Di era sibernatika, individu menjadi semakin rentan terhadap manipulasi.
Profesinya, konsumsinya, dan waktu luangnya dimanipulasi oleh iklan,
ideologi, dan apa yang oleh Skinner dinamakan "pembiasaan positif".
Individu kehilangan peran tanggung jawab aktifnya di dalam proses sosial.
Ketika tanggungjawab individual kehilangan makna maka individu akan
berlindung dalam kelompok. Pada saat kondisi anonimitas ini muncul,
individu akan leluasa melakukan perbuatan apa saja tanpa rasa
tanggungjawab. Karena tanggungjawab dipikul oleh kelompoknya. Disinilah
brutalisme massa mendapatkan peluang untuk mengekspresikan dirinya
dalam berbagai bentuk kekerasan, perusakan dan membunuhan. Apalagi jika
ada yang menggerakkan sebagai provokator yang memiliki motivasi
tertentu.
Erich Fromm dalam bukunya berjudul Akar Kekerasan (2000)
memberikan rumusan mengenai makna frustasi yaitu: (a) Terhentinya
aktivitas bertujuan yang sedang berlangsung. (Contohnya orang sedang
makan enak, piringnya diambil). (b) Frustasi sebagai penghilangan hasrat
atau keinginan - "putus harapan" menurut Buss - (contohnya anak meminta
roti oleh ibunya ditolak).
Heidegger di dalam Discourse on Thinking, menyebut manusia yang tidak
mampu lagi menggunakan akal sehat ini sebagai manusia yang terjerat
dalam 'ketidak-berpikiran' (thoughtlessness). Namun, dengan istilah itu,
Heidegger tidak bermaksud untuk mengatakan, bahwa manusia itu tidak
berpikir sarna sekali (sebab, kalau begitu mereka tak lebih dari 'hewan).
Mereka berpikir, akan tetapi berpikir di dalam model 'berpikir kalkulatif’
(calculative thinking), yaitu berpikir semata mengenai statistik, di satu
pihak: keuntungan, kerugian, laba, bunga, modal, produksi; di pihak lain,
persaingan, ekspansi, penguasaan, penyerangan, perebutan, bahkan
penghancuran; tanpa mampu lagi menghidupkan model 'berpikir meditatif
(meditative thinking), yaitu berpikir ke arah pencarian makna eksistensial
yang lebih dalam.3 Inilah cara berpikir 'kapitalistik' dan 'militeristik', yang
mendominasi citra bangsa kita, yang di dalamnya inheren sifat-sifat
'agresivitas' dan 'destruktivisme'.
19
Kekerasan dan agresivitas bukanlah tindakan yang berdiri sendiri, akan
tetapi merupakan bagian dari sebuah 'sindrom'. la merupakan bagian dari
sebuah sistem, yang memungkinkannya terjadi, seperti : dominasi
berlebihan, birokrasi kaku, kelas-kelas sosial, dsb.
Agresi merupakan produk sosial dan kultural, yang menanamkan nilai-
nilai 'kekerasan' pada masyarakat4 Akan tetapi, selain faktor sosial-kultural,
ada faktor-faktor subyektif lainnya, yang memicu kekerasan. Faktor
subyektif yang dimaksud Fromm kecenderungan 'trance'. Kekerasan
merupakan sebuah trance.
Fromm menyebut kekerasan berlatar-belakang trance ini 'penghancuran
bersifat ekstasi' (ecstatic destructiveness).
'Ekstasi' adalah sebuah kondisi mental atau spiritual yang mencapai
keadaan puncak, tatkala jiwa secara tiba-tiba naik menuju tingkat
pengalaman yang jauh 'melampaui' kenyataan sehari-hari, sehingga
mencapai puncak kemampuan diri dan kebahagiaan yang luar biasa, diiringi
oleh trance, dan kemudian 'pencerahan.
Dalam ekstasi, orang 'tidak lagi menjadi dirinya'. Ia 'menjadi sesuatu
yang lain'. Ada satu kekuatan lain yang mengendalikannya. la tidak menjadi
'diri'nya ketika menikmati kesenangan (ekstasi), termasuk ekstasi
penghancuran.
John Gunn, di dalam Violence in Human Society mengatakan, bahwa
bencana krisis kemanusiaan di dalam sebuah masyarakat terjadi bila ikatan
positif atau perekat (sosial, kultural, spiritual) – jalan bentuk cinta,
persahabatan, kasih sayang, saling pengertian telah hancur. Hancurnya
ikatan-ikatan itu, akan menggiring masyarakat ke arah sifat-sifat kebencian
(hatred) atau kemarahan (anger), yang menggiringnya ke arah tindak-tindak
kekerasan atau kekejaman.
Dalam bahasa yang lebih eksistensial, kekerasan berkembang disebabkan
masyarakat tidak mampu lagi merawat (care) hidup dan eksistensi. Hidup
dibiarkan dalam kondisi ketidak-terawatan (carelessness), sehingga dikuasai
oleh citra.
3.1.2 Era Pencitraan
Konsumerisme mewarnai Politik Pencitraan, terutama karena hampir
semua aspek Politik Pencitraan mesti dilakukan dengan semangat
konsumerisme. Gaya-gaya konsumerisme dijamin melahirkan selebritas.
Sering kita lihat, para calon presiden lebih dikenal karena soundbyte (moto
pamungkasnya) atau posisinya sebagai Si Ganteng, orang yang
berpengalaman, dan sebagainya.
20
Hal-hal tersebut jauh lebih terkenal dari perkara apa kebijakan detailnya
dan berapa lama itu akan diwujudkan, lalu kalau tidak tercapai apa
alternatifnya (Plan B) atau rakyat bisa menagih dalam bentuk apa? Para
tokoh politik yang tiba-tiba menjadi sadar citra, bergerak menuju lebih
sering atau memelihara pemunculan di berbagai media secara teratur,
khususnya televisi.
Mereka terus dan terus berbicara di televisi, sekalipun apa yang
disampaikan normatif-normatif saja, masih janji dan mimpi, atau
konkretnya: tidak ada yang langsung bisa dirasakan oleh rakyat setelah
mereka mematikan pesawat televisinya.
Pada Era Pencitraan, jarak antara janji-janji yang besar-besar dan seakan
tak bertepi. Dalam komunikasi politik berlakulah prinsip “harapan besar
akan memimpin seseorang kepada kekecewaan nan besar pula”.
3.1.2.1 Silih Berganti
Produk, gaya, citraan yang datang dan pergi silih berganti, hanya
menciptakan hutan rimba tanda-tanda yang silang-menyilang dan saling
kontradiktif, menciptakan jaringan pertandaan tumpang-tindih yang disebut
Lacan ‘skizofrenia’. Gilles Deleuze dan Felix Guattari mengembangkan
model subyektivitas dengan berlandaskan pada wawasan keterbukaan
terhadap penafsiran yang akan disebut orang sebagai skizoanalisis.
Bagi Deleuze dan Guattari, meskipun manusia lahir seperti ‘hommelette’
—yang harus berhadapan dengan mitos, tabu dan bahasa simbolik dalam
sistem keluarga, namun, manusia harus keluar dari ‘rumah penjara simbolik’
tersebut, dan mencoba menafsirkan kembali bahasa simbolik yang telah
diterima tersebut.
Untuk itu, manusia harus melepaskan diri dari perangkap segitiga
Oedipus Complex , dan mengembangkan serta memasuki satu ruang dan
bahasa yang disebutnya ruang dan bahasa ‘skizofrenia’ —ruang dan bahasa
yang memungkinkan bagi pengakuan akan abnormalitas, pelanggaran tabu,
pemutarbalikkan gramar atau tata bahasa.
Kerangka seperti inilah, Deleuze & Guattari menyebut masyarakat
kapitalis akhir sebagai skizofrenia. Menurut Deleuze & Guattari, skizofrenia
menggoreskan pada tubuhnya doa-doa keterputusan, dan menciptakan bagi
dirinya dunia tangkisan-tangkisan, di mana setiap perpindahan tempat
(permutasi) dianggap sebagai tanggapan terhadap situasi baru, atau jawaban
terhadap pertanyaan iseng. Adalah posisi seperti ini pulalah yang ditempati
oleh para konsumer di dalam masyarakat kapitalisme akhir. Setiap waktu
mereka mengkonsumsi produk, tanda atau citraan baru.
21
Dalam menjelaskan posisi konsumer tersebut di atas, Dick Hebdige
mengemukakan bahwa kini ada konsumer skizofrenik yang terdisintegrasi
ke dalam rangkaian kesesaatan-kesesaatan (instant) yang tak mampu mereka
cerna, yang terperangkap ke dalam keberadaan di mana-mana dan seketika
citraan dan informasi yang dikomodifikasi, dan hidup selamanya di dalam
chronos (ini—lalu—ini—lalu—ini—lalu–), tanpa pernah mampu
menemukan jalan menuju tempat suci kairos (kehidupan siklus, mistis dan
bermakna).
Pada proses identifikasi diri di hadapan cermin, apa yang dipantulkan
bukan lagi rangkaian makna-makna, akan tetapi, pergantian citra diri itu
sendiri–“Aku berganti, karenanya Aku ada”!.
3.1.2.2 Hawa Nafsu
Kondisi kehidupan di dalam masyarakat konsumer sekarang ini adalah
sebuah kondisi yang di dalamnya hampir seluruh energi dipusatkan bagi
pelayanan hawa nafsu.
Di dalam kebudayaan yang dikuasai oleh hawa nafsu ketimbang
kedalaman spiritual, maka sebuah revolusi kebudayaan tak lebih dari sebuah
revolusi dalam penghambaan diri bagi pelepasan hawa nafsu.
Felix Guattari melihat bahwa kini tak ada lagi perjuangan revolusioner
yang dapat hidup tanpa menghambakan dirinya pada pembebasan hawa
nafsu. Dengan terbuka lebarnya belenggu hawa nafsu, maka menurut Jean
Baudrillard, pusat gravitasi dunia kini telah digantikan oleh apa yang
disebutnya ekonomi libido, yaitu yang berkaitan dengan perkembangbiakan
dan naturalisasi hawa nafsu.
Hawa nafsu, menurut Baudrillard, menampakkan kecenderungannya pada
bentuk-bentuk amoral, oleh karena ia sangat dipengaruhi oleh sikap
penolakan akan segala bentuk penilaian moral. Ia lebih menghambakan
dirinya pada tujuan ekstasi, sehingga menengelamkan segala sesuatu dari
kualitas subjektifnya, serta membiarkannya pada sifat mendua; mengelakkan
diri dari pertimbangan objektif dan membiarkan diri hanyut bersama
kekuatan-kekuatan pengaruh yang tak bisa dicegah.
Adapun Christopher Lasch dalam melihat narsisme menganggapnya lebih
sebagai satu dimensi dan kondisi psikologis dalam diri seseorang yang
mengalami ketergantungan pada citraan diri dan ilusi-ilusi yang
menyertainya, serta pada khalayak ramai atau massa untuk mengakui
keberadaan citraan ini.
Dengan demikian, seorang narsisis tidak hidup tanpa khalayak penonton,
yang merupakan cermin tempat ia berkaca. Masyarakat semakin terbiasa
22
dengan ekstasi penampakkan, prestise dan gaya hidup (tongkrongan mobil,
rumah, pesta), seakan-akan gaya hidup itu menjadi tujuan hidup. Salah satu
sifat dari hawa nafsu adalah, bahwa ia tidak pernah mau terpancang pada
teritorial (kepuasan) yang telah dikuasainya.
Hawa nafsu selalu bersifat deteritorial—ia selalu berontak melewati
teritorialnya dan mencari teritorial-teritorial baru. Ia selalu menembus setiap
batas-batas teritorial tanpa akhir. Hawa nafsu selalu membuat trik-trik atau
tipu daya. Akan tetapi, tipu daya saja tidaklah cukup: ia membutuhkan
sesuatu yang abadi, yaitu ritual pencarian yang tak ada akhirnya.
Gilles Deleuze dan Felix Guattari menggunakan istilah mesin hawa nafsu
(desiring machine) untuk menjelaskan self -produksi dan reproduksi hawa
nafsu di dalam masyarakat kapitalisme.
Dalam mereproduksi hawa nafsu, mesini ini menurut Deleuze dan
Guattari selalu menghubungkan diri dengan mesin-mesin lain. Deleuze dan
Guattari menggunakan kata libido untuk menjelaskan energi khusus mesin
hawa nafsu ini. Hawa nafsu, menurut Deleuze dan Guattari, adalah sebuah
mesin, sebuah sintesis mesin, sebuah aransemen mesin—mesin hawa nafsu,
yang selalu berhubungan dengan mesin-mesin lainnya.
Mesin hawa nafsu adalah mesin biner, mengikuti hukum atau perangkat
aturan biner yang mengatur produksi: satu mesin selalu digandeng atau
dikawini oleh mesin lain. Perkawinan ini selnjutnya menghasilkan semacam
sintesis produktif, yakni proses tanpa henti mereproduksi produksi. Hal ini
disebabkan selalu ada mesin produksi arus.
Artinya, setiap yang diproduksi oleh mesin produksi dan dihubungkan
dengan mesin eksploitasi hanya menyalurkan sebagian kecil dari arus hawa
nafsu, dan ini mengakibatkan mesin hawa nafsu memproduksi arus yang
lebih besar.
Hawa nafsu selalu menghubungkan arus produksi produksi yang mengalir
terus menerus dengan objek-objek eksploitasi secara parsial, dan objek-
objek ini secara alamiah akan terfragmentasi, sesuai dengan fragmentasi
pasar yang mengikutinya.
Mesin hawa nafsu menyebabkan arus produksi dan arus eksploitasi selalu
mengalir tanpa henti: setelah ini-lalu-ini-lalu-ini-lalu - Apa yang secara
terus-menerus menjadi fondasi bagi produktivitas tanpa henti hawa nafsu
adalah satu kondisi bahwa kehadiran hawa nafsu (desire) seolah-olah selalu
disokong oleh kebutuhan (need), sementara relasi kebutuhan ini sendiri
dengan objek kebutuhan adalah relasi, di mana objek tersebut selalu sesuatu
yang ia rasa kurang di dalam dirinya atau sesuatu yang hilang. Rasa kurang
(lack) itu sendiri diciptakan, direncanakan dan diorganisasi di dalam dan
melalui produksi sosial.
23
Kecenderungan ini melibatkan pengorganisasian saluran keinginan dan
kebutuhan melalui kelimpahruahan produksi; menjadikan seluruh hawa
nafsu bergejolak dan menjadi korban rasa ketakutan yang tiada akhir
terhadap tidak terpenuhinya kepuasan (setiap orang), dan menjadikan objek
hawa nafsu sangat bergantung pada produksi nyata objek-objek, yang
sebetulnya bersifat eksterior terhadap hawa nafsu itu sendiri.
Mesin hawa nafsu berada di dalam mesin sosial dan hanya di sini,
sehingga rangkaian arus (produksi-konsumsi) dengan segala kode-kode yang
digalinya di dalam mesin kapitalisme cenderung untuk membebaskan sosok-
sosok libido subjek secara universal.
Arus hawa nafsu dan libido mengalir tanpa henti dan tanpa interupsi
bersama-sama dengan arus produksi kapitalisme—semuanya merupakan
mesin-mesin kapitalisme dan sekaligus mesin hawa nafsu. Segala sesuatu
berlipat ganda, segala sesuatu berkembang biak tanpa ada hentinya.
Bersamaan dengan perkembangbiakan dan pelipatgandaan semuanya itu
terjadi pula perkembangbiakan dan pelipatgandaan jouissance —
kenikmatan. Semua intensitas, semua potensi kegairahan dan kesenangan di
mana pun ada kesempatan digali dan dimodifikasi tentulah proses ini tidak
pernah berhenti
3.2. Konsumerisme Ruang
Secara prologis bagaimana konsumerisme (baca: konsumtivisme) ruang
(consumerism/consumtivism of space) menghancurkan ekologi akibat dari
dampaknya limbah tailing yang dihasilkan oleh kegiatan tambang, selain
limbah lain seperti, limbah batuan keras (overburden), limbah minyak
pelumas, limbah kemasan bahan kimia, dan limbah domestik
3.2.1 Limbah Tailing
Limbah tailing adalah.9 Limbah yang menyerupai lumpur kental, pekat,
asam dan mengandung logam-logam berat itu berbahaya bagi keselamatan
makhluk hidup.
Di beberapa tempat penambangan seperti PT Freeport Indonesia dan PT.
Newmont Nusa Tenggara jumlah tailing yang dibuang mencapai ratusan ribu
9 Walhi , Indonesia Kehabisan Ikan, International Marinelife Alliance, Jakarta,Indonesia.
24
ton setiap hari10. Tailing penambangan emas mengandung salah satu atau
lebih bahan berbahaya beracun : seperti : Arsen (As), Kadmium (Cd),
Timbal (Pb), Merkuri Sianida (Cn) dan lainnya. Keadaannya semakin
menakutkan karena limbah tailing yang dibuang oleh satu aktivitas
pertambangan berjumlah jutaan ton11.
Operasi tambang PT Freeport Indonesia di Papua Barat sebagai contoh
masalah serius yang dihadapi perusahaan 'raksasa' asal Amerika itu salah
satunya adalah tailing. Setiap hari perusahaan asing pertama di masa
kekuasaan Soeharto ini, membuang limbah tailingnya ke sungai.
Bagi penduduk lokal sungai Ajkwa tempat limbah Freeport dibuang
adalah 'urat nadi' kehidupan mereka. Kini Ajkwa tidak dapat digunakan
karena tercemar limbah tailing. Jutaan tailing sudah dibuang di sungai itu.
Dari 7.275 ton/hari di tahun 1973, meningkat menjadi 31.040ton/hari di
tahun 1988 dan saat ini menjadi 223.100 ton/hari12.
Tailing Freeport telah mematikan ratusan hektar hutan alam di wilayah
pengendapan tailing. Kebun-kebun sagu Komoro di Koperaporka pun ikut
mati terendam rembesan tailing moluska yang menjadi sumber penghasilan
ibu-ibu nelayan suku Komoro kini isinya berubah warna dan rasa13.
Penduduk desa Olung Muro, Olung Hanangan, Dirung Li dan Datah Kuto
punya cerita tentang tailings dam. Pendiu pedalaman Kalimantan Tengah
itu, mengeluh karena ikan dan air dalam jumlah banyak mati terapung di
sungai Mure Manawing tahun 1994 dan seterusnya.
3.2.2 Polusi Udara
Dashyatnya konsumerisme ruang di planet bumi dalam bentuk proses
aktivitas lain, menurut laporan Bank Dunia 1992, diketahui bahwa
pencemaran udara akibat timbal, menimbulkan 350 kasus penyakit jantung
koroner, 62.000 kasus hipertensi dan menurunkankan IQ hingga 300.000
point. Juga Pb menurunkan kemampuan darah untuk mengikat oksigen.
Keadaan ini menyebabkan meningkatnya biaya sosial berupa biaya
kesehatan yang menurut estimasi World Bank (1993) mencapai US$ 62
million (1990) dan US$ 222 Million (2008).
Estimasi dengan menggunakan metoda yang sama yaitu yang
diindikasikan oleh Bapedal mencapai US$ 600 Million untuk 5 tahun (1996-
10 Walhi , 1998, Penyakit Minamata dalam gambar, Yayasan Pusat Minamata-Soshisa
11 Walhi , 2000, Bebaskan Meru Betiri dari Pertambangan Emas, Pers Conference, Jakarta
12 Walhi , 1997," Taking Responsibility Metal Mining, People and the Environment", Milieudefensie,
Amsterdam, Desember.
13 Walhi , 1999, Evaluasi terhadap Usulan Taman Nasional Lalobata dan Tajawe, BirdLife lP
25
2000). Meng-konsumsi atas barang/jasa ini merupakan cerminan penurunan
derajat kesejahteraan masyarakat. Secara makro ekonomi ini merupakan
penurunan pertumbuhan ekonomi nasional. Konsumerisme ruang bagaikan
monster.
Ganasnya konsumerisme dalam manajemen kenegaraan itu sejalan
dengan patologi ekonomi-politik pada lingkup global dan disangga ekses
sistem pasar yang sedang kehilangan genius-nya. Tahun 1999, misalnya,
warga AS menghabiskan 8 milyar dollar untuk belanja kosmetik. Di tahun
yang sama, PBB tidak bisa memperoleh 9 milyar dollar untuk membangun
fasilitas paling sederhana bagi seluruh penduduk dunia yang selama ini tak
pernah punya akses pada air minum bersih (Hertz 2001).
Di tahun 2005, 2,7 Miliar Orang Kekurangan Air - Jakarta, CyberNews.
Komparta mengungkapkan, krisis air dunia saat ini sudah masuk pada tahap
genting. Menurut data, satu dari empat orang di dunia kekurangan air
minum, serta satu dari tiga orang tidak mendapat sarana sanitasi yang layak.
Bahkan menjelang tahun 2005, sekitar 2,7 miliar orang atau sekitar sepertiga
populasi dunia akan menghadapi kekurangan air dalam tingkat yang parah.
Di belahan dunia seperti halnya di negeri tropis seperti Indonesia,
banyak keluarga tidak mempunyai saluran air yang memadai. Karenanya
jika hujan turun maka banjir terjadi dan menggenangi rumah, membuat
septic tank meluap dan mencemari air sumur. Akibatnya, air sumur sudah
tidak bisa direkomendasikan lagi untuk keperluan rumah tangga, terutama
untuk memasak. "Sebab kadar tingkat nitrat yang tinggi mencemari air
tersebut bisa berbahaya, akan mengurangi oksigen darah pada bayi dan ini
bisa fatal. Situasi ini juga sangat berbahaya terutama bagi anak-anak jika
mereka meminum air keruh tersebut, selain tentunya menjangkitnya
penyakit menular akibat air sudah menjadi umum.
Catatan World Commission on Water for 21th Century bahwa sedikitnya
3,4 juta orang meninggal secara langsung akibat mengkonsumsi
makanan/minuman yang terkontaminasi. Atau secara tidak langsung akibat
penyakit disebabkan mengkonsumsi air kotor.
Setiap tahun diperkirakan 2,2 juta orang meninggal karena diare, 1,1
juta meninggal karena malaria, 17.000 karena cacingan, dan 15.000 karena
demam berdarah.
3.2.3 Bencana Alam
Demikian pula bencana dilakukan monster apa yang dinamakan
konsumerisme ruang meluas, di Tahun 1997 147.000 balita mati karena
malnutrisi. Di tahun 1998, kematian balita karena malnutrisi melonjak
26
menjadi sekitar 180.000, atau 59 persen dari total 305.000 kematian balita
tahun 1998 (UNICEF). (...) Sebanyak 76 mayat ditemukan tim SAR
gabungan setelah lima hari berturut-turut, sejak Rabu (4/1) hingga Minggu
(8/1), mereka mencari korban bencana longsor di Banjarnegara, Jawa
Tengah. Hujan deras sejak Jum'at (6/11) hingga Senin (9/1) pagi mengguyur
Kota Batam dan sekitarnya, mengakibatkan pohon-pohon tumbang, longsor,
dan banjir. (Suara Pembaruan, Senin 9 Januari 2006).
Pusat Vulkanologi dan Mitagasi Bencana Geologi Badan Geologi,
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan potensi
longsor mengancam 246 kecamatan di Pulau Jawa selama musim penghujan
tahun 2006. Longsor dan banjir bandang telah terjadi di tiga kecamatan.
Sekitar tiga juta hektar luas hutan alam Riau tergerus pada tahun 1984-2005.
Penurunan luas hutan alam mencapai 840.000 hektar pada 1999-2005. Rata-
rata per tahun 150.000 hektar hutan alam Riau hilang. Kini kondisi
lingkungan alam di Riau menunjukkan kehancuran ekstrem. (Kompas, 11
Januari 2006).
3.2.4 Kehancuran Lain
Konsumerisme ruang (consumerism of space) tidak hanya menghancurkan
ekologi di atas tadi, tapi menimbulkan masalah abadi KKN dan kehancuran
infrastruktur publik.
Konon penyusunan pidato kenegaraan sebesar Rp 74 juta per bulan (Rp
887,7 juta per tahun), begitu pula anggaran lain-lainnya. Tidak berlebihan
mengatakan anggaran tersebut merupakan premeditated consumerism.
Demikian pula pengalihan anggaran untuk membeli 55 mobil bagi anggota
DPRD DKI Jakarta. (Kompas, 24/2/01) dan tentunya masih banyak lagi.
3.2.4.1 Infrastruktur Publik
Ambil contoh saja mengenai Perolehan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
PAM Jaya selama bekerjasama dengan mitra asing swasta-nya pada tahun
1998 hingga 2000 tidak tercapai (Rp. 0), membuat utang PAM Jaya.
Tabel
Proyeksi Setoran
Tahun Realisasi Keterangan
PAD
1996/97 Rp. Rp. Ada setor
10.800.000.000,- 10.000.000.000,-
27
1998/99 Rp. Rp. 0,- Tidak setor
10.000.000.000,-
1999/00 Rp. Rp. 0,- Tidak setor
13.000.000.000,-
Sumber : Website PEMDA DKI/sub PAM JAYA, TH. 2003
Sehubungan dengan peran swasta asing selama ini tidak memberikan
peningkatan pelayanan terhadap masyarakat konsumennya. Sebagaimana
dirasakan masyarakat konsumen air. Pertama, tarif air berbanding terbalik
dengan kualitas pelayanan, aspek pelayanan bukannya membaik malahan
semakin memburuk seperti debit air minum yang hanya mengalir kecil
bahkan sering tidak sama sekali, air olahan yang keruh, berwarna kecoklat-
coklatan, berbau larutan zat kimia, dan lebih mengecewakannya lagi pernah
diberitakan ada pelanggan menemukan seekor "cacing" dari air yang
disediakan oleh PAM Jaya.
Sehingga masih banyak masyarakat pelanggan air dibeberapa wilayah
akhirnya hanya menggunakan air PAM Jaya untuk mandi, sedangkan untuk
minum terpaksa mengeluarkan uang ekstra untuk membeli Air Minum
Dalam Kemasan (AMDK) yang harganya lebih mahal dari bensin. Begitu
pula, soal penagihan rekening air yang manajemennya sangat
memprihatinkan. Dapatlah dibayangkan jika dalam kondisi tidak
menunggak, Anda justru direpotkan oleh adanya tagihan tunggakan
rekening. Dalam kaitan dengan kualitas pelayanan diberikan Perusahaan
tersebut yang memang sangat mengecewakan.
Kedua, tarif air membawa dampak penolakan dari masyarakat konsumen
air, yang akhirnya dapat berpengaruh terhadap target-target teknis yang
ingin dicapai. Meski pemerintah akan menerapkan subsidi silang antara
pelanggan kelas menengah ke atas dengan kalangan menengah ke bawah,
namun pada kenyataan secara riil hal tersebut tidak dapat membantu, karena
selama ini justeru pelanggan kelas menengah ke bawah pada kenyataannya
mensubsidi pelanggan kelas menengah ke atas. Hal tersebut berkaitan
dengan pemakaian rata-rata pelanggan kelas menengah ke atas yang jauh
lebih lebih rendah dibanding pelanggan kelas menengah ke bawah, hal itu
disebabkan pelanggan kelas menengah ke atas memiliki sejumlah
kemudahan untuk mengkonsumsi Jet Pum atau air mineral, sedangkan
pelanggan kelas menengah ke bawah hanya menggantungkan kebutuhannya
kepada air olahan PAM Jaya. Belum lagi dampaknya terhadap lingkungan,
sebab dikuatirkan masyarakat secara ekstrem akan beralih kepada eksplorasi
air tanah secara berlebihan.
28
Ketiga, tarif air membuat masyarakat konsumen air harus menanggung
beban semakin besar bila penentuan tarif air tidak disesuaikan dengan
tingkat atau daya beli masyarakat.
3.3 Konsumerisme Media
Dalam masyarakat moderen ditandai dengan semakin tingginya waktu
untuk bertukar informasi, baik dengan media komunikasi maupun dengan
pemakaian teknologi komunikasi seperti telepon dan komputer. Media
komunikasi, dalam hal ini media massa, memiliki fungsi-fungsi bagi
masyarakat. Bahkan pada abad informasi sekarang ini, demokrasi yang
sifatnya bebas, adil dan partisipatif hanya mungkin hadir dalam demokrasi
digital. Demokrasi digital adalah manifestasi dari peralihan paradigma
dalam dinamika politik yang berbasis pada teknologi komunikasi dan
informasi.
3.3.1 Demokrasi Digital
Dimana dalam arti tertentu partisipasi publik dimanifestasikan melalui
media teknologi - contoh internet. Barry N. Hague dalam pengantar buku
antologi tentang diskursus demokrasi elektronik (1999) menjelaskan
beberapa unsur demokrasi yang mencerminkan nilai-nilai demokrasi digital.
Di antaranya adalah: sifatnya yang interaktif; proses interaktif
mengandaikan adanya komunikasi yang bersifat resiprokalitas, semua warga
negara bisa berdialog secara interaktif.
Lalu lewat demokrasi digital juga dijamin Kebebasan berbicara;
sehingga pengguna internet14 atau teknologi informasi dapat
14 Internet merupakan contoh dari suatu fenomena yang sangat baru namun telah
mempengaruhi dan membentuk keseharian dari individu-individu dalam masyarakat.
Lebih dari sekedar pengaruh, keberadaan Internet ini merupakan suatu fenomena
multi-wajah yang secara radikal mengubah keyakinan mengenai kekuatan ber-ekspresi
dan bagaimana kekuatan ini dipergunakan. Para pakar dalam bidang media massa
menyimpulkan bahwa karena sifat interaktif dan demokratiknya, Internet menawarkan
model komunikasi massa yang radikal. Dalam beberapa kasus, model ini banyak sekali
kemiripannya dengan arus informasi tradisional, dari produser kepada konsumer.
Inilah yang terjadi ketika orang melihat berita di Internet melalui organisasi/institusi
berita tradisional yang sudah dikenal. Namun dalam kasus yang lain, arus informasi
virtual dapat digambarkan sebagai suatu model komunikasi yang sama sekali berbeda.
Ketika pembaca berkomunikasi dengan jurnalis di Internet, misalnya, hal ini
menggambarkan suatu model kombinasi antara komunikasi massa dan komunikasi
inter-personal. Dalam menganalisa kasus-kasus komunikasi mediatif yang kompleks,
teori-teori dibutuhkan untuk membantu akademisi untuk memprediksi skala dan efek
yang mungkin timbul dari suatu fenomena baru. Teori yang paling sering dirujuk
29
mengekspresikan dirinya tanpa kontrol yang signifikan dari penguasa. Setiap
warga negara misalnya bisa secara diskursif mengetengahkan gagasan-
gagasannya yang paling gila sekalipun. Selain itu terbentuknya komunitas
virtual yang peduli terhadap kepentingan publik dan komunikasi global
yang tidak terbatas pada satu negara-bangsa. Lewat demokrasi digital juga
informasi atau kajian politik dapat diproduksi secara bebas dan disebarkan
ke ruang publik virtual untuk diuji.
Melihat paparan Barry N. Hague tersebut di atas adalah jelas bahwa
demokrasi digital menekankan partisipasi dalam ruang publik virtual.
Sehingga diskursus sepenuhnya dimanifestasikan secara bebas dalam
demokrasi digital; lewat surat elektronik, newsgroup, milis, live discussion,
website dan bentuk-bentuk lain dari perkembangan TI yang dapat
disesuaikan. Berawal dari sini dipahami bahwa ada semacam dialektika
antara teknologi dan masyarakat. Dialektika ini menghasilkan satu terma
yang bernama demokrasi digital.
Di dalamnya setiap orang bebas mengungkapkan pendapatnya secara
langsung. Karena itulah demokrasi digital dapat dikatakan mempunyai
bentuk yang kira-kira sama dengan demokrasi yang dipraktikan pada zaman
Yunani dan Roma kuno. Selain lewat teknologi informasi, seperti kita
ketahui ruang publik juga disediakan oleh industri media massa seperti
televisi, radio, koran atau majalah.
dalam kasus ini adalah teori massa kritis (critical mass theory) dan teori difusi inovasi
(diffusion of innovation theory) . Dengan menerapkan kedua teori ini pada Internet,
keduanya mendekati isu ini dari sudut yang berbeda, tetapi membantu untuk
memperlihatkan bahwa di Indonesia kita sedang mengalami banjir informasi. Penetrasi
Internet di Indonesia hanya mencapai 2% di akhir tahun 2002 (APJII di Bisnis, 2003).
Teori massa kritis mengatakan bahwa prosentase dari active-users suatu fenomena
haruslah mencapai paling tidak 10% dari populasi total agar fenomena tersebut bisa
diadaptasi oleh masyarakat dan memiliki efek yang penting dalam masyarakat tersebut
(Singer, 1998). Dalam hal ini, Indonesia belum mencapai prosentase massa kritis,
namun sangat jelas bahwa kita harus bersiap-siap menghadapi tantangan baru yang
sudah di depan mata. Berdasarkan teori difusi inovasi, fenomena perubahan akan
menyebar melalui sistem sosial yang dibentuk oleh: bermacam kegiatan sosial (melalui
debat dan diskusi antar warga masyarakat), artifak budaya (yang bersentuhan dengan
fenomena tersebut), dan media massa (Rogers, 1995). Bermacam-macam indikasi dari
beragam fenomena (dalam hal ini adalah penggunaan Internet) dapat ditemukan dalam
sistem sosial di masyarakat manapun, namun media memiliki peran yang paling
penting dalam masa adaptasi. Teori yang lain, yakni teori pembelajaran sosial,
mengindikasikan bahwa manusia bisa belajar mengenai sesuatu hanya dengan
mengamati, dan ini sangat bisa terjadi melalui media massa (Bandura, 1977). Ini
berarti media massa memiliki peran yang luar biasa dalam mempromosikan hal-hal
dan ide-ide baru.
30
Namun bila kita cermati sungguh media massa bukanlah tempat yang
memadai untuk mewujudkan kehendak dan kepentingan semua warga
negara. Karena ada monopoli komunikasi dan informasi di dalamnya. Kita
tidak menemukan ruang yang sifatnya adil dan partisipatif. Jelaslah industri
media massa tidak cukup menyediakan ruang publik yang bebas bagi setiap
warga negara. Kita semua sama-sama ketahui bagaimana opini publik dapat
diarahkan oleh media massa. Tentu ini menyadarkan kita bahwa media
massa (kepemilikan media) belumlah sepenuhnya memberikan semacam
diskursus dan pendidikan tentang demokrasi itu sendiri.
Manuel Castells, ahli sosiologi urban, menyebut hal tersebut di atas
sebagai depolitik media. Politik media merupakan politik elit industri media
massa yang menggunakan kekuasaannya untuk mempengaruhi kebijakan-
kebijakan publik. Pendapat atau opini misalnya dibahasakan searah dengan
kebijakan yang mendukung egosentrisme ekonomi. Akhirnya dapat kita
pahami bahwa dinamika demokrasi belum hadir secara utuh dalam ruang
publik yang disediakan oleh industri media massa (televisi, radio, koran,
majalah). Karena kita semua tahu itu politik media membahasakan opini
secara ideologis, sesuai dengan kepentingan golongan dan di atas semua itu
adalah kepentingan modal (ekonomi).
Tak heran juga, jika dunia digital dan media elekronika lainnya seperti
televisi, video, video game, film, komputer, internet adalah dunia yang di
dalamnya dikembangkan citra-citra15 kekerasan dan agresivitas, yaitu dunia
15 pengaruh iklan di TV yang semakin hari semakin bombastis. Ada begitu banyak
iklan yang menawarkan berbagai barang. Misalnya, mainan anak, makanan, dan
minuman. Iklan-iklan itu sangat bombastis memberikan janji-janji kesenangan,
kecerdasan, dan permainan yang akan diperoleh bila membeli produk tersebut. Hal itu
secara tidak sadar bisa menanamkan nilai-nilai konsumerisme pada anak. Orang
dewasa banyak terpengaruh iklan-iklan di TV, begitu juga dengan anak kecil.
Meningkat Drastis Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika menegaskan,
tingkat konsumsi anak-anak meningkat drastis setelah terus-menerus berada di depan
televisi. Hasil penelitian menunjukkan, anak mudah terbujuk iklan, yakni saat si kecil
mulai merengek-rengek meminta makanan yang manis-manis atau berlemak tinggi.
Sebab, saat ini banyak perusahaan makanan ringan yang bersaing membuat iklan
semenarik mungkin untuk mempengaruhi orang agar membelinya. Tak jarang, anak
meminta sejenis makanan ringan yang tidak ada nilainya. Efek lain terlalu banyak
menonton TV, anak menjadi pasif dan tidak kreatif. Mereka kurang beraktivitas.
Mereka hanya duduk melihat TV. Lantas, fisik maupun mental anak menjadi pasif.
Sebab, orang yang menonton TV memang tidak perlu berbuat apa-apa. Hanya duduk,
mendengar, dan melihat. Kemampuan berpikir dan kreativitas anak tidak terasah.
Sebab, mereka tidak perlu lagi membayangkan sesuatu seperti bila membaca buku
atau mendengarkan musik. Terus-menerus tanpa terasa, TV menghilangkan ruang
interaksi bermain anak-anak secara sosial. Pokok permasalahan yang paling besar, TV
mempunyai efek buruk, yakni ketidakmampuan anak mencerna serta membedakan
dunia yang ditonton di TV dan yang sebenarnya. Bagi orang dewasa mungkin, hal itu
tidak masalah. Sebab, mereka mengetahui hal yang sungguh-sungguh terjadi di dunia
31
santet, dukun, mistik, perkosaan, kriminalitas, robot, monster, alien, iblis,
cyborg, super-hero, bencana nuklir, dan persenjataan hi-tech yang macho.19
Yang banyak muncul di dalam media kita adalah tema-tema ideologis
mistisisme, militerisme, seksisme, dan teknokratisme, yang di dalamnya
dieksplorasi perasaan alienasi dan ketidakberdayaan manusia
(powerlessness), sebuah dunia yang penuh permusuhan, kebencian,
persaingan, dan kecabulan.
Kecabulan dan pornografi di dalam media-lewat ekspose pantat,
payudara dan paha-adalah salah satu dari bentuk 'kekerasan simbolik' itu,
oleh karena di dalamnya ada unsur 'pemaksaan dan kekerasan terhadap
keyakinan orang lain', terhadap 'ruang-ruang pribadi' orang lain. Dunia
media yang bermuatan makna-makna agresivitas tersebut itu hanya akan
semakin mendorong kecerdasan destruktif (destructive intelligence), yang
menjauhkan bangsa ini dari kecerdasan merasakan, berempati, dan bersosial.
Pada zaman elektronik, konsep virtual mempunyai banyak arti. Selain
dalam arti seperti tersebut di atas, dunia virtual juga sering disebut sebagai
sebagai dunia simulasi; seperti yang dihadirkan oleh sinema atau komputer
grafik. Ada pandangan lainnya yang mensejajarkannya dengan ruang saiber
atau internet.
Ada juga yang memahami dunia virtual sebagai informasi (teks) dan
imagi yang dihadirkan oleh media (televisi, majalah atau koran), yang
atau yang fiksi belaka. Bila orang dewasa melihat film-film aksi atau misteri, mereka
tahu hal yang mungkin dan yang tidak mungkin. Orang dewasa juga tahu bahwa orang
tidak dibunuh atau dipukul sungguh-sungguh dalam film. Sebaliknya, anak kecil
kebanyakan belum mengenal dan mengetahui akting, efek film, atau tipuan kamera.
TV Media Perubahan Besarnya potensi media televisi terhadap perubahan masyarakat
menimbulkan pro-kontra. Pandangan pro melihat televisi sebagai wahana pendidikan
dan sosialisasi nilai-nilai positif masyarakat. Sebaliknya, pandangan kontra menilai
televisi sebagai ancaman yang bisa merusak moral serta perilaku destruktif lainnya.
Secara umum, kontroversi tersebut dapat digolongkan dalam tiga kategori. Pertama,
tayangan televisi bisa mengancam tatanan nilai masyarakat. Kedua, televisi bisa
menguatkan tatanan nilai. Ketiga, televisi dapat membentuk tatanan nilai baru
masyarakat, termasuk lingkungan anak. Contohnya, peristiwa anak SD di Palembang
yang gantung diri karena tidak bisa membayar SPP. Di Garut, seorang anak gantung
diri karena tidak diberi uang untuk mengikuti pelajaran renang. Tentunya, si anak
pernah melihat hal serupa, sehingga mempengaruhi benaknya. Masalahnya, kekerasan
di mata anak-anak menjadi hal yang biasa dan boleh-boleh saja dilakukan, apalagi
terhadap orang yang bersalah. Sebab, semua itu memang ditunjukkan dalam film-film.
Bahkan, ada kecenderungan orang yang melakukan kekerasan terhadap orang jahat
adalah tindakan pahlawan, tidak peduli dengan prosedur hukum yang seharusnya
berlaku. Hal itu pernah dibuktikan di AS. Penelitian menunjukkan, karena terlalu
banyak menonton TV, anak bisa beranggapan bahwa kekerasan adalah hal yang wajar
dan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Akibatnya, mereka menjadi lebih
agresif dan cenderung memecahkan tiap persoalan dengan jalan kekerasan terhadap
orang lain.
32
virtual dalam konteks ini merupakan (re)- presentasi dari dunia aktual. Yang
aktual divirtualkan. Sebenarnya dari semua definisi di atas dipahami adanya
satu kesamaan, bahwa yang virtual tak pernah hadir begitu saja ia selalu
dikonstruksikan, manusia selalu memvirtualisasikan kenyataan. Proses
virtualisasi bukanlah sesuatu yang sifatnya alamiah. Karena ia
mengandaikan sebuah upaya menampilkan kembali secara etis, politis, dan
estetis segala yang aktual (kenyataan sesungguhnya) ke dalam sebuah
medium.
Karenanya wajar bila ada asumsi yang mengatakan bahwa dunia
kehidupan sekarang terangkum dalam sebuah layar. Seseorang bisa saja
melihat sesuatu secara langsung (real time) kejadian yang terjadi di belahan
dunia lain. Untuk memperluas cakrawala perseptual, kita hanya memerlukan
mata dan pikiran saja. Asumsi inilah yang mengantarkan kita pada sebuah
ide tentang mutasi ontologi dalam sejarah kehidupan manusia.
Realitas bergerak dinamis, walalaupun kita tidak menggerakkan tubuh.
Kerlap-kerlip televisi (dan tentunya juga internet) dalam setiap rumah
misalnya telah menyediakan ruang secara virtual dan aktual sekaligus.
Demikian juga ketika realitas hilang dalam gelap bioskop. Manusia
berkerumun dan secara bersama-sama merasakan ekstase sinematik,
merasakan emosi-emosi temporal (artifisial) yang distimulasi oleh gambar
bergerak. Industri film yang telah menyebar sampai ke pelosok-pelosok
negeri jelaslah memberikan sebuah gambaran betapa manusia tak puas
dengan hidupnya yang biasa-biasa saja.
Menonton film misalnya menjadi semacam ritus, manusia seperti ingin
lari dari kenyataan, bukan mempelajarinyah demikian kata Rosalind William
dalam bukunya The Dream World: Mass Consumption in Late Nineteeenth-
Century.
Sekarang keterasingan tampaknya sudah mulai dijinakkan oleh penyebab
keterasingan itu sendiri (relasi produksi). Kini kekuasaan kapitalis telah
mengimunisasikan dirinya dan menguatkan cengkeramannya dengan
memproduksi sesuatu yang dapat menangkal keterasingan yang diidap
masyarakat pos-industri; yakni film.
Industri film (dan hiburan) juga telah merekam roh zaman - dengan
mengartikulasikan, atau merepresentasikan sejarah secara dramatik dan
artistik. Sejarah dalam arti tertentu divirtualkan lewat alat-alat teknologi.
Inilah yang membuat Baudrillard secara profetik mengatakan tentang adanya
semacam zaman di mana film dan sejarah menjadi tak terpisah dan
terdefinisikan. Yaitu ketika kita tidak bisa mengetahui apakah gambar
bergerak yang ditampilkan dalam film Ben-Hur si pangeran Yahudi itu ada
pada zaman modern atau pada zaman kekaisaran Romawi awal abad Masehi.
33
Ada semacam skizofrenia sejarah dalam virtualitas yang dihadirkan lewat
film. Dalam internet, yakni cyberspace, virtualitas menemukan bentuk
sejatinya. Seseorang dalam ruang ini tidak saja menjadi penerima pasif
informasi atau imagi (seperti dalam film atau acara televisi), tapi ia juga
dapat dengan aktif memproduksinya; bahkan seseorang dapat
memvirtualisasikan dunia dirinya.
Ruang ini secara etis dan politis memang kacau balau, tapi tak dapat
dimungkiri di sinilah kita mengerti secara tentatif apa itu kebebasan - dalam
arti anarki atau kebebasan absolut. Kebebasan dikatakan ada dalam ruang
cyber karena memang dalam ruang ini tak ada relasi kekuasaan yang
menentukan sesuatu secara etis, estetis dan politis. Dari yang suci sampai
yang terkutuk ada dalam ruang ini. Virtualisasi kenyataan dalam sinema,
televisi atau internet dalam arti tertentu memang telah mengaburkan cara
pandang manusia tentang dunianya. Yang aktual misalnya secara ontologis
bisa melebur dengan yang virtual lewat teknologi satelit. Karenanya ia
mempunyai efek yang cukup mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat.
Bagaimana ia secara etis mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat
adalah virtualisasi teror. Virtualisasi teror terjadi ketika keadaan takut dan
trauma akibat aksi teroris dihadirkan, disebarkan, dan gemakan kembali oleh
media informasi; sehingga tercapailah tujuan utama dari teror. Wajarlah bila
Derrida mengatakan, dalam penafsiran Giovanna Borradori (dalam bukunya
Philosophy in a Time of Terror), bahwa media, juga kekuasaan politik
tentunya, punya andil dan tanggung jawab untuk mereduksi dan
menyebarkan teror.
Derrida dalam hal ini sebenarnya mencoba menyampaikan bahwa esensi
dari teror adalah ketakutan yang digemakan dan disebarkan. Inilah yang
dipercaya olehnya sebagai semasa depan terorisme; yakni serangan-
serangan virtual. Serangan virtual tentu tidak hanya informasi mencekam
tentang bencana teror saja, tapi juga banyak lainnya.
Misalnya rekayasa kultural guna mendukung laju dan kepentingan pasar
global yang semakin hari semakin menjauhi nilai-nilai keadilan melalui film
atau acara televisi. Dari sinilah kita ketahui bahwa virtualitas telah menjelma
menjadi kekuatan yang menentukan nilai-nilai, atau, katakanlah, lokus
utama diskursus. Ia dalam beberapa hal merupakan cermin yang
memantulkan (yang terkadang membiaskan) gambaran kondisi masyarakat.
McQuail mengemukakan fungsi-fungsi media massa sebagai pemberi
informasi, pemberi identitas pribadi, sarana intergrasi dan interaksi sosial
dan sebagai sarana hiburan (Denis McQuail, 2000).
34
Selain sebagai pemberi informasi media massa juga berfungsi sebagai
pemberi identitas pribadi khalayak.16 Sebagai pemberi identitas pribadi,
media massa juga berfungsi sebagai model perilaku. Model perilaku dapat
kita peroleh dari sajian media. Apakah itu model perilaku yang sama dengan
yang kita miliki atau bahkan yang kontra dengan yang kita miliki. 17Selain
berfungsi menjadi model perilaku, sebagai pemberi identitas media massa
juga berfungsi sebagai sarana untuk mengidentifikasikan diri dengan nilai-
nilai lain (dalam media). Manusia memiliki nilai-nilai hidupnya sendiri yang
pada gilirannya akan ia gunakan untuk melihat dunia. Namun manusia juga
perlu untuk melihat nilai-nilai yang diciptakan oleh media. Seperti yang kita
ketahui, media membawa nilai-nilai dari seluruh penjuru dunia.
Implikasinya adalah konsumen media dapat mengetahui nilai-nilai lain di
luar nilainya.
Fungsi lain media massa sebagai pemberi identitas, dimana media
merupakan sarana untuk meningkatkan pemahaman mengenai diri sendiri.
Untuk melihat serta menilai siapa, apa dan bagaimana diri kita, pada
umumnya dibutuhkan pihak lain. Kita harus meminjam kacamata orang lain.
Media dapat dijadikan sebagai salah satu kacamata yang dipergunakan untuk
melihat siapa, apa serta bagaimana diri kita sesungguhnya. Bersosialisasi
dengan orang lain di saat kita tidak berusaha untuk mengadakan komunikasi
dengan orang tersebut merupakan hal yang sulit.
Di lain pihak, akan sulit bagi kita untuk berkomunikasi dengan orang lain
apabila kita tidak mengetahui topik apa yang bisa digunakan untuk
16 Di dalam artikel A Prasetyantoko, berjudul ”Menuju Kekuasaan Bisnis” di harian
Kompas. Selasa, 27 Agustus 2002. Menurut penulis bisa juga dimaknai membuktikan
bisnis ”media-iklan” salah satu bahasa universal yang paling kuat menyebar ke seluruh
penjuru dunia. Dengan peristiwa yang terjadi di Riyadh, Arab Saudi. Seorang aktivis
memaki-maki Amerika Serikat (AS) dan memuji-muji Al Qaeda sambil menggenggam
secangkir Coffee Latte di salah satu sudut Starbucks Cafe. Perusahaan AS ini baru saja
membuka outlet-nya yang terakhir di pusat Kota Arab Saudi. Ironi ini menggambarkan
bagaimana bisnis mampu melakukan penetrasi sampai ke jantung wilayah yang tak
tembus pengaruh apa pun, seperti ideologi, politik, maupun religius.
17 Ambil contoh saja, tayangan seperti Indonesian Idol, Afi, dan semacamnya benar-
benar telah menghipnotis sebahagian besar masyarakat Indonesia, sehingga banyak
idola masyarakat yang lahir karena pengaruh media. Ironisnya, parameter untuk
menjadi sebuah idola seperti pada tayangan tersebut adalah bentuk fisik, mode, dan
gaya, yang bisa jadi sangat jauh dari kriteria moral. Dan dampaknya di masyarakat
adalah semakin maraknya budaya konsumerisme dan semakin rapuhnya karakter
masyarakat. Ini mungkin dianggap sangat konservatif, tapi atas fakta akan dampak
dari tayangan tersebut (seperti juga sinetron) tidak membuat masyarakat semakin
cerdas, tapi semakin jauh dari karakter dan integritas yang ingin dibangun untuk
menciptakan masyarakat Indonesia yang tangguh, bermoral, dan cerdas. Ibarat orang
yang hanyut di sungai yang berusaha untuk mencari apa saja yang bisa dipegang.
Pada masyarakat kita sekarang, telah terjadi semacam "Kepanikan Budaya".
35
membangun komunikasi dengan orang tersebut. Media membantu kita
dengan memberikan berbagai pilhan topik yang bisa digunakan dalam
membangun dialog dengan orang lain. Hal ini pada gilirannya menjadikan
media massa sebagai sarana integrasi dan interaksi sosial berfungsi untuk
penyedia bahan percakapan dalam interaksi sosial. Media massa
memungkinkan seseorang untuk dapat mengetahui posisi sanak keluarga,
teman dan masyarakat. Baik posisi secara fisik, secara intelektual maupun
secara moral mengenai suatu peristiwa.
Fungsi media massa yang satu ini biasanya dapat dilihat pada surat untuk
redaksi, kolom pembaca dan yang sejenis. Pada multimedia fungsi ini
menjadi sangat menonjol karena kita dimungkinkan untuk berinteraksi
langsung dengan orang lain dalam waktu relatif lebih cepat.
Fungsi media massa sebagai hiburan. Berkaitan dengan itu media massa
menjalankan fungsinya sebagai pelepas khalayak dari masalah yang sedang
dihadapi. Rasa jenuh di dalam melakukan aktivitas rutin pada saat tertentu
akan muncul.
Di saat itulah media menjadi alternatif untuk membantu kita di dalam
melepaskan diri dari problem yang sedang dihadapi atau lari dari perasaan
jenuh. Khalayak juga memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis dari
mengkonsumsi media massa. Manusia tidak saja perlu untuk memenuhi
kebutuhan fisiknya, namun ia juga harus memenuhi kebutuhan rohaninya,
jiwanya. Kebutuhan ini dapat terpuaskan dengan adanya media massa.
Media massa memenuhi kebutuhan tersebut dengan sajian yang menurut
media yang bersangkutan dapat dinikmati dan memiliki nilai estetika.
Media massa juga dapat berfungsi sebagai pengisi waktu, dimana ini juga
termasuk fungsi media massa sebagai sarana hiburan bagi khalayak. Kadang
orang melakukan sesuatu tanpa ada tujuan. Mengkonsumsi media massa
tanpa memiliki tujuan adalah salah satunya. Dalam penyaluran emosi. Ini
merupakan fungsi lain dari media massa sebagai sarana hiburan. Emosi pasti
melekat dalam diri setiap manusia. Dan layaknya magma yang tersimpan di
dalam perut bumi, emosi ada saatnya untuk dikeluarkan. Emosi butuh
penyaluran, dan salah satu salurannya adalah dengan mengkonsumsi media
massa atau bahkan memproduksi media yang senada dengan emosinya.
Berdasarkan fungsi-fungsi media massa yang telah dijelaskan
sebelumnya, maka dapat dikatakan pula bahwa media massa memiliki peran
di dalam menciptakan apa yang disebut dengan daya tarik seks (sex appeal).
Mengenai hal ini dapat diasumsikan bahwa fungsi media massa sebagai
salah satu sarana pembangkit gairah seks adalah fungsi yang paling dapat
menjelaskan mengapa media massa dipandang berperan di dalam
menciptakan apa yang berkaitan dengan seks. Entah itu standarisasi daya
36
tarik seks yang perlu dimiliki seseorang, apa yang perlu dilakukan untuk
mendapat daya tarik seks yang tinggi, apa yang akan didapat dengan
memiliki daya tarik seks tertentu, dan sebagainya.
Model-model yang ditampilkan pada sebuah majalah, misalnya, bisa
diartikan sebagai bagian upaya media massa di dalam mengatakan apa yang
mereka nilai sebagai orang yang memiliki daya tarik seks. Seperti yang kita
lihat, majalah-majalah tidak sembarangan di dalam memilih model yang
akan dijadikan model sampulnya. Ada semacam kriteria tertentu yang harus
dimiliki model tersebut agar ia dapat ditampilkan oleh majalah yang
bersangkutan.
Memang, daya tarik seks pada umumnya sering disamakan dengan daya
tarik fisik pria atau perempuan. Bentuk tubuh, wajah, bibir, rambut, dan
sebagainya yang menyangkut fisik adalah kriteria yang digunakan untuk
mengukur daya tarik seks seseorang.
Namun ternyata ada hal lain selain daya tarik fisik yang diperlukan untuk
membentuk daya tarik seks. Karisma, tingkat intelektual yang tinggi,
kesuksesan, dan kemapanan secara materi, merupakan beberapa diantara hal
yang bisa dikategorikan sebagai unsur yang menjadikan seseorang memiliki
daya tarik seks. Kesemua ini pada gilirannya akan bermuara pada
konsumerisme dan hedonisme.
Materi apa yang dikatakan oleh media massa sebagai sesuatu yang
memiliki daya tarik seks akan mendorong khalayak untuk memiliki gaya
hidup konsumtif karena media massa memiliki kekuatan untuk menawarkan
apa yang saat ini sedang tren, apa yang saat ini dicari orang, apa yang saat
ini harus dimiliki orang, dan berbagai pikiran yang sejalan dengan itu,
termasuk menentukan apa yang harus dimiliki khalayak untuk dapat
memiliki sex appeal.
Begitu juga dengan apa yang melekat pada orang-orang yang memiliki
sex appeal, dapat mendorong orang kepada gaya hidup hedonis. Ketika ada
ABG mengecat rambutnya menjadi merah, banyak orang terperanjat dan
bergumam, "Korban iklan apa lagi?" Maka, warna rambut pun menjadi
obrolan orang tua karena itu adalah dagangan 'gaya hidup' terkini. Saya pun
pernah terkena giliran. Saat seorang keluarga tergiur kosmetik pemutih kulit,
saya pun berteriak sama, "Korban iklan apa lagi?" Tapi itulah. Walaupun
krisis masih melanda negeri ini, ribuan remaja terus saja jadi korban iklan.
Dan mereka pun tiba-tiba mendambakan rambut warna-warni, kosmetik
dan parfum berganti-ganti, handphone bermacam seri, dan impian mobil
mewah keluaran terkini. Welcome to Consumer Society!. Tumbuhnya
masyarakat pasar-industri (the market-industrial society) dalam konteks
37
kapitalisme modern ternyata telah membawa perubahan radikal dalam
kehidupan masyarakat.
Sejak revolusi industri yang membawa pelipatgandaan barang-barang
yang dikonsumsi manusia, untuk pertama kalinya, masyarakat hidup
dikelilingi oleh beragam komoditas barang dan jasa dalam jumlah dan
keragaman luar biasa.
Walaupun awalnya, barang-barang yang diproduksi lebih merupakan
duplikasi dari apa yang digunakan di dalam rumah, inovasi dalam produksi
modal industri semakin lama membanjiri pasar, memberikan aneka pilihan,
jauh melampaui sekadar kebutuhan dasar (basic needs) yang diperlukan.
Industri dalam kapitalisme modern memiliki kemampuan menciptakan
'kebutuhan-kebutuhan baru' dalam kehidupan. Akibatnya, masyarakat sering
kali dihadapkan pada tawaran-tawaran kebutuhan menarik yang mereka
sendiri awalnya tak merasa pasti benar-benar membutuhkannya.
3.3.2 Hedonisme
Hedonisme dapat didefinisikan sebagai bentuk dari kecintaan seseorang
pada dunia, sehingga apa saja yang dilakukannya berorientasi pada kepuasan
duniawi semata. Media massa, dalam hal ini, memiliki pengaruh terhadap
penciptaan kriteria daya tarik seks pada pria dan perempuan. Dukungan
terhadap kriteria daya tarik seks itu sendiri pada dasarnya dilandasi oleh
kepentingan ekonomi. Hal tersebut juga dapat diartikan bahwa pria dapat
digolongkan sebagai pengendali perekonomian, dimana mereka merupakan
pasar potensial bagi barang konsumen.
Kecenderungan ini dapat dilihat dari fenomena mulai maraknya produksi
barang yang diperuntukkan bagi kaum pria. Bukan saja barang-barang yang
memang dekat dengan bidang produksi (mobil, alat-alat telekomunikasi, dan
sebagainya), tetapi juga bidang domestik (perawatan tubuh dan wajah,
pakaian, penambah vitalitas (gairah seks). Walaupun mungkin tidak sebesar
potensi yang dimiliki perempuan sebagai big spender, namun pria tetap saja
dapat digolongkan sebagai pasar yang menjanjikan.
Ditambah lagi dengan semakin banyaknya majalah atau media massa lain
yang mulai bermain di celung segmen ‘khusus pria’. Mulai dari majalah,
tabloid, dan radio semakin mengukuhkan pria sebagai golongan yang
memiliki tempat khusus dihati pelaku ekonomi yang kapitalistik.
38
Pada zaman modern ini manusia perlu kembali pada konsep kebenaran
yang sesungguhnya. Konsep kebenaran sesungguhnya menurut Marcuse18
bersifat normatif, dimana kebenaran itu mengandung suatu dialektika.
Dialektika adalah suatu ketegangan antara apa yang seharusnya dan apa
yang yang tampak sebagai fakta.
Cara memahami kebenaran secara dialektis, pada dirinya sendiri
merupakan suatu kritik terhadap kondisi-kondisi aktual agar dapat
berlangsung pembebasan sosial. Ini perlu untuk menyadari bahwa pada
masyarakat industri ilmu pengetahuan dan teknologi di satu pihak
melambangkan penguasaan manusia atas alam namun di lain pihak
melambangkan perbudakan manusia. Ilmu pengetahuan hanya berusaha
memperhatikan apa yang dapat diukur dan dapat ditaklukan pada
kepentingan teknik semata. Pertanyaan yang dimiliki ilmu pengetahuan
adalah pertanyaan mengenai bagaimana suatu barang bekerja, bukan
mengenai apa barang itu sesungguhnya. Benda telah kehilangan konsistensi
ontologisnya (Majalah Driyarkara, hal. 10).
Handphone PDA, misalnya. Berlomba-lomba produsen handphone
meluncurkan produksinya dengan berbagai feature yang diciptakan untuk
solusi atas problem khas masyarakat modern. Bagaimana feature itu
beroperasi, fasilitas serta keunggulan apa yang dimiliki sebuah handphone,
itulah yang ditemui disekeliling kita. Tetapi apa sebenarnya handphone itu-
lah yang jarang dikemukakan, dipikirkan. Apakah ia sebuah barang yang
memang benar membawa perubahan signifikan pada kehidupan sosial,
apakah ia membawa kebahagiaan bagi manusia atau justru sebaliknya?
18 Herbert Marcuse dilahirkan pada 1898 di Berlin dan setelah mengikuti wajib militer
untuk tentara Jerman dalam Perang Dunia I, ia pergi ke Freiburg untuk melanjutkan
studinya. Setelah mendapatkan gelar Ph.D. dalam sastra pada 1922, dan sempat
menjadi pedagang buku di Berlin, pada 1928, ia kembali ke Freiburg untuk belajar
filsafat dari Martin Heidegger. Artikel yang pertama kali dipublikasikan Marcuse pada
1928 berupaya untuk mensintesakan pendekatan filsafat dari aliran fenomenologi,
eksistensialisme dan Marxisme, sebuah sintesa yang beberapa tahun setelahnya akan
dikembangkan lagi oleh sejumlah filsuf Marxis yang beraliran eksistensial dan
fenomenologis seperti, Jean-Paul Sartre and Maurice Merleau-Ponty, dan sejumlah
mahasiswa dari Amerika dan kaum intelektual gerakan Kiri Baru. Ada sejumlah
pemikir yang mempengaruhi Marcuse, yaitu Hegel, Karl Marx, Freud, dan Heidegger.
Berkaitan dengan pemikiran Marx, Marcuse berargumen bahwa porsi terbesar dari
pemikiran Marx sudah merosot menjadi sebuah ajaran ortodoks yang kaku, dengan
demikian mereka (pemikiran Marx, teori-teori Marxis) membutuhkan sentuhan
pengalaman konkret dan ‘fenomenologis’ agar terbangun dari ‘tidur dogmatis’. Pada
saat yang bersamaan, Marcuse percaya bahwa Marxisme sudah meninggalkan individu
di trotoar sejarah pemikiran Barat, dan sepanjang hidupnya, concern inilah yang
memompa semangat intelektual Marcuse, yaitu kebebasan individu dan
kesejahteraannya (well-being) selain berkutat dengan persoalan transformasi sosial dan
kemungkinan transisi dari era kapitalisme menjadi sosialisme.
39
Marcuse, berkaitan dengan hal tersebut, melemparkan kritiknya terhadap
berbagai aspek kehidupan masyarakat industri modern, seperti pada aspek
sosial-ekonomi, sosial-politik, dan sosial-budaya. Secara ekonomis kini
masyarakat industri semakin bertambah kaya, baik secara kuantitas maupun
kualitas.
Namun keadaan yang baik ini menurut Marcuse adalah keadaan yang
terlihat baik dari segi luarnya saja. Sesuatu yang menipu karena pada
kenyataannya peningkatan kualitas dan kuantitas kesejahteraan manusia
hanya dimiliki oleh lahiriah saja.
Manusia pada masyarakat industri dewasa ini merupakan manusia yang
tidak utuh nilai-nilai kemanusiaannya, yang terjebak dalam hedonisme.
(Penulis berpendapat teori itu bisa dibuktikan sebagaimana terjadi fenomena
sekarang ini di Korea Selatan, data dari Departemen Penerangan dan
Komunikasi (DPK) menyebutkan bahwa hingga Mei 2004 terdapat 11,5 juta
pelanggan Internet dan lebih dari 36 juta pengguna ponsel.
Menurut pemerintah, jumlah penduduk di tahun 2003 adalah 49 juta
orang. Survei DPK yang dilakukan pada akhir 2003 menemukan bahwa 65
persen masyarakat yang berumur 6 tahun ke atas menggunakan Internet
sedikitnya 12,5 jam per minggu. Para pelajar sekolah menengah dan atas
rata-rata "online" lebih dari tiga jam per hari. Mereka lebih banyak
menghabiskan waktu di internet dibanding menonton televisi. Bahwa situasi
ini bisa meningkatkan komunikasi di kalangan para anggota keluarga dan
menguatkan hubungan keluarga. "Internet bisa melengkapi percakapan 'off-
line,' dan ponsel memungkinkan para anggota keluarga untuk berbicara
tanpa batas ruang dan waktu."
Namun selain potensi seperti itu, teknologi komunikasi baru dan budaya
konsumtif lebih sering "menghilangkan peradaban" manusia dan
mengancam keluarga-keluarga, lanjutnya. Budaya konsumtif 'pakai-dan-
buang' diterapkan pada hubungan manusia. Misalnya orang-orang tua yang
tersingkir dan penyalahgunaan anak).
Semu! Kemajuan teknologi dengan sokongan kapitalisme hadir untuk
membantu manusia mengisi kekosongan dalam kehidupan pribadi manusia.
Bagi yang merasa lelah setelah bekerja seharian mencari nafkah, diberikan
solusi untuk relaksasi. Aneka bentuk, jenis serta lokasi relaksasi digelar dan
ditawarkan. Alih-alih melepas lelah, orang-orang menghabiskan apa yang
telah diperolehnya dalam bekerja (di dunia) untuk kesenangan duniawi.
Masyarakat dijadikan konsumen, yang sebetulnya mereka sendiri yang
sebetulnya menjadi bahan konsumsi pasar. Artinya, mereka terjebak dalam
gaya hidup konsumtif yang hedonis.
40
Herbert Marcuse merupakan salah satu tokoh generasi pertama Mahzab
Frankfurt, di mana mahzab ini berasal dari sekelompok pemikir yang
muncul dari lingkungan Institut fur Sozialforschung Universitas Frankfurt.
Para pemikir ini ingin membuat suatu refleksi kritis tentang masyarakat
pasca-industri dan konsep mengenai rasio yang ikut membentuk
menciptakan masyarakat tersebut.
Mahzab Frankfurt ingin memperjelas secara rasional struktur yang
dimiliki oleh masyarakat industri sekarang serta melihat implikasi struktur
tersebut dalam kehidupan manusia dan dalam kebudayaan. Mahzab ini
bertolak dari proyek atau usaha rasio pada abad ke-18 (Aufklarung) untuk
menjadi penyelamat manusia melalui ilmu pengetahuan positif dan
penerapannya dalam teknik. Masa Aufklarung diisi dengan upaya terus-
menerus untuk membebaskan manusia dari ketakutan atas kuasa magis dan
usaha tersebut bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai tuan atas dirinya
sendiri. Dengan bantuan ilmu pengetahuan, Aufklarung ingin
menghancurkan mitos-mitos yang menyisihkan imajinasi. Bertolak dari situ,
Mahzab Frankfurt merumuskan sasarannya sebagai teori kritis (Majalah
Filsafat Driyarkara, Tahun XXIII, 1997, no. 1 hal. 5).
3.3.3 Acuan Terhadap Teori Kritis
Teori kritis sendiri merupakan teori yang tidak berkaitan dengan prnsip-
prinsip umum, tidak membentuk sistem ide. Teori ini berusaha memberikan
kesadaran untuk membebaskan manusia dari irasionalisme. Dengan
demikian fungsi teori ini adalah emansipatoris. Ciri teori ini adalah (Majalah
Filsafat Driyarkara, 1997, no. 1, hal. 5):
Pertama, kritis terhadap masyarakat. Teori Kritis mempertanyakan sebab-
sebab yang mengakibatkan penyelewengan-penyelewengan dalam
masyarakat. Struktur masyarakat yang rapuh ini harus diubah. Kedua, teori
kritis berpikir secara historis, artinya berpijak pada proses masyarakat yang
historis. Dengan kata lain teori kritis berakar pada suatu situasi pemikiran
dan situasi sosial tertentu, misalnya material-ekonomis. Ketiga, teori kritis
tidak menutup diri dari kemungkinan jatuhnya teori dalam suatu bentuk
ideologis yang dimiliki oleh struktur dasar masyarakat. Inilah yang terjadi
pada pemikiran filsafat modern.
Menurut Mahzab Frankfurt, pemikiran tersebut telah berubah menjadi
ideologi kapitalis. Teori harus memiliki kekuatan, nilai dan kebebasan
untuk mengkritik dirinya sendiri dan menghindari kemungkinan untuk
menjadi ideologi. Keempat, teori kritis tidak memisahkan teori dari praktek,
pengetahuan dari tindakan, serta rasio teoritis dari rasio praktis. Perlu
41
digarisbawahi bahwa rasio praktis tidak boleh dicampuradukkan dengan
rasio instrumental yang hanya memperhitungkan alat atau sarana semata.
Mahzab Frankfurt19 menunjukkan bahwa teori atau ilmu yang bebas nilai
adalah palsu. Teori kritis harus selalu melayani transformasi praktis
masyarakat.
Kritik pertama terhadap masyarakat modern dikemukakan oleh Marcuse.
Kritik ini bertolak dari teori Freud yang berbicara mengenai kebudayaan.
Dalam teorinya Frued mengatakan bahwa setiap kebudayaan dan peradaban
merupakan akibat dari usaha-usaha masyarakat untuk menekan keinginan-
keinginan instingtif individu. Eros (insting kehidupan) dan Thanatos (insting
kematian)20 digunakan oleh manusia untuk melawan alam, misalnya dalam
meningkatkan efisiensi kerja.
Semakin maju kebudayaan maka akan semakin tinggi pula kadar represi
itu. Sebab, alat-alat yang dihasilkan oleh kebudayaan untuk meringankan
penderitaan karena represi pada gilirannya berubah menjadi sarana represi
baru pada tingkat yang lebih tinggi lagi. Teori dari Freud21 ini kemudian
19 Hal ini bertentangan dengan Thomas Kuhn ”The Structure of Scientific Revolutions
(1962)”, mengungkapkan betapa ilmu pun bisa dipandang sebagai aktivitas sosial. Ia
mereduksi ilmu menjadi upaya pemecahan masalah di dalam sistem-sistem keyakinan
tertentu, dan ia menyatakan bahwa ilmu ’normal’ tak lebih dari suatu stabilitas
dogmatis yang sesekali diselingi oleh revolusi. Para sosiolog ilmu bahkan melangkah
lebih jauh dengan mengatakan bahwa yang dilakukan para ilmuwan sekadar
’merundingkan’ sejumlah kesepakatan. Dalam tahun-tahun belakangan ini serangan
balik dari kalangan ilmuwan terhadap sosiolog pun telah dilancarkan. Thomas Kuhn
dan Perang Ilmu menunjukkan bagaimana ilmu telah menjadi simbol kultural yang
diperebutkan, dan menyatakan bahwa kita memerlukan sebuah sintesis ’pasca-normal’
yang baru untuk mengatasi berbagai perdebatan lama. Ilmu tak lagi bersangkut-paut
dengan pembuktian-pembuktian oleh para pakar melainkan dialog di antara semua
pihak yang terlibat dalam suatu masalah. Inilah wajah ilmu yang baru, yang akan
menghidupkan kembali pandangan Kuhn yang berpengaruh.
20 Pakar psikoanalisis S.Freud mendalilkan dikotomi baru yaitu insting kehidupan
(eros) dan insting kematian (death instinct). Insting kematian bisa tertuju pada
organisme itu sendiri dan dengan demikian merupakan dorongan perusakan-diri, atau
tertuju keluar, yang berarti kecenderungan merusak pihak lain. Meskipun Freud
berpendirian, insting kematian dapat dikurangi, asumsi dasar Freud tetap mengatakan
manusia berada dalam pengaruh dorongan untuk merusak, agresi bukanlah reaksi
terhadap stimuli, melainkan dorongan yang terus menggelora berakar dari kondisi
organisme manusia. Asumsi Freud ini masih berkembang dengan pendapat pakar
lannya yang memunculkan konsep bahwa agresi merupakan spontanitas respon demi
kepentingan hidup.
21
Sigmund Freud lahir di Frieberg, Moravia (sekarang Republik Chek) pada 1856.
Ketika dia berusia empat tahun keluarganya pindah ke Wina, tempat Freud tumbuh
dan menghabiskan sebagian masa hidupnya. (...).Pokok pangkalnya adalah teori Freud
soal kecemburuan penis. Dia menyatakan, psikologi perempuan didasarkan pada
perasaan ketidaklengkapan genital, yang menurunkan kecenderungan ke arah
pasivitas, narsisme, dan masokisme. Hal ini sudah dilontarkan jauh hari sebelumnya
oleh Simone de Beauvoir dalam The Second Sex (1949). Psikoanalisis sebagai sebuah
42
dimodifikasi oleh Marcuse. Benar bahwa kebudayaan berkembang
berdasarkan insting-insting yang ditekan represi juga merupakan hal yang
dapat dimengerti sejauh manusia masih harus bekerja keras memperbaiki
kondisi hidupnya dengan menyalurkan energi-energi instingnya pada hal
yang lain.
Misalnya saja produksi material. Namun di saat teknologi sudah dapat
memenuhi kebutuhan hidup manusia, maka perkembangan kebudayaan tidak
lagi berdasarkan represi. Artinya, kebudayaan tidak lagi menuntut manusia
untuk menekan insting-instingnya. Dengan perkembangan teknologi energi-
energi yang dulu ditekan akan kembali berfungsi normal. Prinsip
kesenangan sudah bebas dari represi dan akan meresapi seluruh kegiatan
manusia. Kesenangan serta kebahagiaan akan diakui sebagai tujuan pada
dirinya sendiri.
Marcuse banyak mengemukakan gagasan-gagasan yang pada intinya
memberikan peringatan atas bahaya yang mengancam dunia dan umat
manusia akibat pesatnya kemajuan teknologi. Gagasan-gagasan tersebut
antara lain tertulis pada bukunya yang berjudul One-Dimensional Man,
dimana pada buku tersebut
Marcuse memuat pokok-pokok kritiknya terhadap masyarakat industri
modern. Teknologi danggap dapat mengancam keberlangsungan hidup
karena teknologi dapat menjajah masyarakat dengan dalih memudahkan
segala urusan kehidupan yang bermasalah. Segala masalah dapat
diselesaikan dengan teknologi. Teknologi menjadi agama baru bagi
masyarakat modern. Pada gilirannya masyarakat hanya akan hidup dan
bekerja untuk mendapatkan teknologi yang dianggap mampu membantunya
menghadapi masalah kehidupan. Disinal kemudian terjadi apa yang
dikatakan oleh Marcuse; masyarakat menjadi sakit.
metode ilmiah juga mendapat serangan tajam, misalkan dari Karl Popper. Popper,
dengan metode falsifikasinya, mengritik psikoanalisa Freud (dan psikologi Adler)
sebagai ilmu-semu (pseudoscience), karena, “Teori itu cocok untuk segala hal yang
dapat terjadi,” tulisnya dalam The Philosophy of Karl Popper (1974). Kritik Popper
berdasarkan prinsip falsifikasi: ilmu-semu mungkin mendasarkan gagasannya pada
observasi, tapi, tak seperti ilmu sebenarnya, ia mengembangkan proposisiproposisi
yang tak terbuka bagi kemungkinan dibuktikan keliru. Terlepas dari kritik-kritik pedas
itu, belakangan psikoanalisa Freud justru kembali berjaya, bukan di ranah psikologi,
tapi di ranah hermenetika dan sastra (...). Bagi kita dia tak lebih dari seseorang Kini
kecuali muara seluruh pendapat. (W. H. Auden, penyair) (...). Itu sekeping potongan dari
mozaik besar kehidupan Sigmund Freud. Tak mudah menyimpulkan macam apa sosok
Freud itu. Boleh dibilang, dia sendiri, sepanjang hidupnya berjuang untuk memahami
dirinya. Bahkan dia melakukan studi atas otobiografinya sendiri. (Koran Tempo, Edisi
28 Mei 2006 ).
43
Masayarakat Sakit 4
_____________________________________________________________
Masyarakat dikatakan sakit apabila masyarakat hanya memiliki satu
tujuan dalam kehidupannya. Artinya, segala segi kehidupannya hanya
diarahkan kepada keberlangsungan serta peningkatan sistem yang telah ada
(dalam hal ini adalah kapitalisme). Keberadaan dimensi-dimensi lain dalam
kehidupan mereka menjadi tersingkirkan dan tertindas.
Masyarakat industri modern, menurut Marcuse, merupakan yang termasuk
dalam golongan masyarakat sakit ini, dimana masyarakat tersebut hanya
44
memiliki satu dimensi. Masyarakat berdimensi satu merupakan masyarakat
yang bersikap reseptif dan pasif sehingga semakin menguatkan dominasi
atas diri masyarakat tersebut sehingga dominasi tidak lagi dirasakan dan
disadari sebagai sesuatu yang tidak wajar.
Dengan kata lain, manusia modern kehilangan prinsip kritisnya. Pola
pemikiran dan tingkah laku satu dimensi ditandai dengan kondisi dimana
gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi dan yang, oleh isinya, melampaui semesta
wacana dan tindakan yang sudah mapan menjadi ditolak ataupun dikurangi
dalam istilah-istilah semesta ini (Marcuse, 2000, hal. 18).
Contoh tersebut bisa memberikan ilustrasi bahwa teknologi, dengan
segala implikasinya, kini semakin bebas memaksakan tuntutan-tuntutan
ekonomis dan politisnya untuk tetap mempertahankan dan bahkan
meningkatkan waktu kerja manusia, termasuk memanipulasi kebutuhan.
Dengan adanya manipulasi kebutuhan dalam usaha melariskan barang-
barang hasil produksi maka terciptalah dalam masyarakat dua macam
kebutuhan. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan semu atau palsu dari
kebutuhan sebenarnya (J. Sudarminta, hal. 126). Kebutuhan semu menurut
Marcuse adalah ; “Segala kebutuhan yang ditanamkan ke dalam masing-
masing individu demi kepentingan sosial tertentu dalam
represinya.”Kebutuhan ini bisa dikatakan sebagai kebutuhan yang
diciptakan oleh pihak lain yang kemudian oleh pihak tersebut
diinternalisasikan dalam pikiran kita sehingga kita tidak menyadari lagi
apakah memang kita benar-benar membutuhkan apa yang ditawarkan oleh
pihak tersebut (J. Sudarminta, hal. 126).
Menurut Herbert Marcuse, ada 4 karakter ‘totaliter’ dalam masyarakat
industri maju, sebagai berikut : Pertama, Munculnya bentuk-bentuk kontrol
yang baru - Dalam masyarakat industri maju, manusia terbelenggu oleh
ketidakbebasan yang berkedokkan kemajuan teknis yang digerakkan oleh
rasionalitas, efektivitas dan produktivitas. Ada harga yang harus dibayar
untuk kemajuan ini yaitu hilangnya nalar dan isi tradisional. Kebebasan
berpikir, berbicara & berkesadaran (ber-hati nurani) adalah ide-ide kritis
yang bertujuan untuk menggantikan tatanan yang kuno, ketinggalan zaman
dengan sesuatu yang lebih produktif dan rasional. Bebas dari kekurangan
adalah substansi paling konkret dari semua (jenis) kebebasan.
Maka, akhir dari rasionalitas teknologis: saat aparatus memaksakan
persyaratan-persyaratan ekonomis dan politis sebagai pembelaan atas dan
sekaligus ekspansi dari waktu bekerja dan waktu senggang. Hanya karena
tata cara pengelolaan dasar teknologinya, masyarakat industri sekarang
cenderung menjadi totaliter. Sebab “totalitarian” tidak hanya (berarti)
menata masyarakat secara teroristis, namun juga menata masyarakat secara
45
ekonomis-teknis dan non teroristis yang bekerja dengan cara manipulasi
kebutuhan oleh ‘kepentingan-kepentingan sempit’ (vested interests).
Ada macam-macam kebebasan yang mau digarisbawahi Marcuse, yaitu
kebebasan ekonomis yang berarti kebebasan dari ekonomi (dikontrol oleh
daya-daya dan relasi-relasi ekonomis; bebas dari membanting tulang
mencari sesuap nasi.), kebebasan politis yang berarti pembebasan individu
dari politik yang tidak bisa mereka kontrol, kebebasan intelektual yang
berarti pemulihan cara & isi pikiran individu yang sekarang begitu terhisap
ke dalam komunikasi massa dan indoktrinasi, pelenyapan ‘opini publik’
sekaligus orang-orang yang mengutarakannya.
Maka kita bisa bertanya, apa artinya kebutuhan (needs)? Apakah ada
sesuatu yang dinamakan kebutuhan palsu dan kebutuhan sejati? Kebutuhan
disebut palsu karena kebutuhan itu dipaksakan pada individu oleh
kepentingan-kepentingan sosial tertentu dengan cara represi. Dengan kata
lain, kebutuhan-kebutuhan yang melanggengkan kerja keras, keagresifan,
penderitaan, dan ketidakadilan. Ada semacam euforia dalam
ketidakbahagiaan. Kebutuhan untuk berelaksasi, bersenang-senang,
berkelakuan dan mengkonsumsi seturut apa kata iklan, mencintai dan
membenci apa yang orang lain cintai dan benci, termasuk ke dalam kategori
kebutuhan palsu ini.22
Apakah orang bisa benar-benar membedakan antara media massa sebagai
instrumen informasi dan hiburan dengan media massa sebagai agen
manipulasi dan indoktrinasi? Sekali lagi kita dihadapkan pada buah
simalakama dari peradaban industri maju: karakter rasional dari
irasionalitas-nya. Orang mengenali dirinya sendiri lewat identifikasi dengan
barang-barang yang ia miliki, seolah-olah jiwanya berkecambah di dalam
22 Dalam banyak hal, distingsi Marcuse mengenai kebutuhan palsu dan sejati
merupakan gema dari kritik yang sudah dilancarkan oleh Theodor Adorno and Max
Horkheimer, yang dalam magnum opusnya, Dialectic of Enlightenment (1944),
khususnya dalam bab The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception, pernah
mengatakan bahwa “Films, radio and magazines make up a system which is uniform as
a whole and in every part. Even the aesthetic activities of political opposites are one in
their enthusiastic obedience to the rhythm of the iron system… Yet the city housing
projects designed to perpetuate the individual as a supposedly independent unit in a
small hygienic dwelling make him all the more subservient to his adversary - the
absolute power of capitalism. Because the inhabitants, as producers and as consumers,
are drawn into the center in search of work and pleasure, all the living units crystallise
into well-organised complexes. The striking unity of microcosm and macrocosm
presents men with a model of their culture: the false identity of the general and the
particular… Movies and radio need no longer pretend to be art. The truth that they are
just business is made into an ideology in order to justify the rubbish they deliberately
produce..”(dikutip http://www.marxists.org/reference/subject/philosophy/index.htm).
46
peralatan hi-fi, otomobil, rumah mewah dan megah, peralatan dapur nan
canggih.
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa bentuk-bentuk kontrol sosial
yang sedang merebak adalah technological in a new sense.23 Bagi Marcuse,
teknologi dalam kapitalisme berarti sebuah bentuk kontrol sosial yang khas.
Dan kontrol ini mempunyai kecenderungan totaliter. Jadi, tidak bisa diklaim
bahwa teknologi itu netral. Piranti teknologi yang berkembang teramat pesat
yaitu media massa berhasil mengobok-obok kesadaran sekaligus
memanipulasinya.
Orang-orang yang bekerja menciptakan dan mengembangkan teknologi
baru oleh Marcuse dituduh sebagai orang-orang (aparat) yang menentukan
kebutuhan sosial, kemampuan, relasi kerja dan sikap-sikap --- dengan
demikian melanggengkan tipe-tipe kontrol dan dominasi sosial. Selain itu,
cara berpikir (paradigma) saintifik yang ditunjang oleh semakin
berkembangnya metode ilmiah dalam masyarakat industri maju juga
berperan besar dalam memanipulasi realitas. Contoh: operasionalisme dalam
fisika dan behaviorisme dalam ilmu-ilmu sosial. Maka, nalar teoretis dan
nalar praktis (distingsi dari Kant), behaviorisme akademis dan sosial,
bertemu di perempatan jalan yang bernama sama, yaitu ‘masyarakat maju
yang membuat kemajuan ilmiah dan teknis sebagai instrumen untuk
menguasai. Cara mengada yang baru ini tidak bisa hanya dilihat sebagai efek
samping (by-product) dari perubahan-perubahan yang terjadi di bidang
ekonomi dan politik. Perubahan kualitatif ini juga melibatkan perubahan
dalam technical basis yang menjadi tumpuan dari masyarakat maju ini.
Teknik-teknik industrialisasi sama dengan teknik-teknik politis.
Kedua, menutupnya Semesta Politis - Masyarakat yang dimobilisasi
secara total (The Society of Total Mobilization : STM) merupakan kombinasi
dari Welfare State (Negara Kesejahteraan) dan Warfare State (Negara
Perang). Jika dibandingkan dengan para pendahulunya, STM adalah jenis
masyarakat yang baru. Ciri-ciri yang bisa ditemukan dalam STM adalah: (a)
Pemusatan ekonomi nasional di tangan kepentingan segelintir perusahaan
besar; (b) Pemerintah berfungsi menstimulasi, mendukung dan terkadang
mengontrol kekuatan ini; (c) Penyebaran sistem ekonomi ini ke dalam
sistem berskala global yaitu aliansi militer, perjanjian-perjanjian keuangan,
bantuan teknis dan skema-skema perkembangan; (d) Terhimpunnya populasi
pekerja kerah-putih dan kerah-biru, tipe-tipe kepemimpinan dalam bisnis
dan tenaga-kerja, gugus kegiatan mengisi waktu senggang di antara kelas-
kelas sosial yang berbeda; (e) Terbangunnya hubungan harmonis antara
23 Marcuse (1964), op.cit., hlm. 9
47
beasiswa dengan kepentingan nasional; (f) Invasi rumah tangga oleh opini
publik (lewat iklan media massa, contohnya); (g) Dipertontonkannya ruang
pribadi untuk konsumsi media massa komunikasi; (h) Dalam ranah politis,
partai-partai yang berseberangan haluan politik akan bergabung (merge) atau
membentuk aliansi.
Teori Marxist klasik membayangkan periode transisi dari kapitalisme
menuju sosialisme lewat terjadinya revolusi politis di mana kaum proletar
akan menghancurkan aparat politis dari sistem kapitalisme namun mereka
tetap mempertahankan perangkat teknologisnya, dan bahkan
mensosialisasikannya.
Dalam revolusi terkandung kesinambungan: rasionalitas teknologis. Akan
tetapi, pada saat yang bersamaan, terjadi pula sejumlah perubahan kualitatif
dalam struktur produksi yang bisa ditunjukkan lewat sejumlah faktor berikut
ini: (a) Mekanisasi secara bertahap mereduksi kuantitas maupun intensitas
pengerahan energi fisik yang menjadi syarat tenaga kerja. Proses mekanisasi
ini membalikkan paradigma Marxian: “pekerja yang harus mengerahkan
tenaga fisiknya dalam proses produksi”. Dengan model kerja yang semakin
otomatis, semi-otomatis, kelas pekerja yang melulu mengandalkan tenaga
fisiknya (pekerja kasar) menjadi makin terasing/ diasingkan dalam
keseluruhan sistem kapitalisme lanjut yang bertumpu pada mekanisasi.
Mengapa alienasi pekerja-kasar ini terjadi? Sebab yang lebih
diperhitungkan adalah kecakapan (skill) atau kerja otak. Bahkan lebih dari
sekedar peminggiran kelas pekerja fisik, “proses mekanisasi dalam semesta
teknologis menghancurkan relung batin terdalam dari kebebasan dan
sekaligus menggabungkan seksualitas dan kerja dalam otomatisasi yang
ritmis dan bawah sadar.” “the machine process in the technological universe
breaks the innermost privacy of freedom and joins sexuality and labor in one
unconscious, rhytmic automatism.24 Dengan semakin berkembangnya
otomatisasi, otonomi profesional dari kelas pekerja menjadi semakin
mengerucut sebab produktivitas ditentukan oleh mesin dan bukan oleh hasil
karya yang dicapai individu.
Oleh Daniel Bell, seorang sosiolog Amerika, otomatisasi ini ia setarakan
dengan industrialisasi yang “mengukur kerja berdasarkan output piece-per-
piece yang dihasilkan seseorang.” Ada cukup banyak hal yang
dipertaruhkan di sini: sistem pembayaran pekerja, relasi pekerja dengan
kelas-kelas lainnya dalam masyarakat, pengorganisasian kerja, dan
kompatibilitas dari kemajuan teknis dengan lembaga-lembaga yang mana di
dalamnya industrialisasi berkembang.
24 Ibid. hlm. 27
48
Menutupnya semesta politis dalam pengertian Marcuse berarti bukan
hanya perubahan hakikat kerja dan relasi antar kelas seperti yang
digambarkan Marx, namun juga seiring dengan munculnya dunia kerja yang
bergantung pada kemajuan teknologi dan model otomatisasi, semakin
lemahlah posisi kelas pekerja sebagai the living contradiction to the
established society.25Logikanya: hanya ada satu kelas yang lalu
mendominasi masyarakat, yaitu kelas birokrat, manager dan administrator.
Ketiga, Penaklukan Kesadaran yang Tidak Membahagiakan: Desublimasi
yang Represif - Dalam bab ini Marcuse memfokuskan pembahasannya
mengenai segi yang kultural, seni dan estetis dari masyarakat industri maju
yang dilihatnya bukan sebagai ‘penurunan budaya tinggi menjadi budaya
massa tetapi penolakan kultur ini oleh realitas.26 Apa maksudnya? Ada dua
ranah yang meskipun eksis bersama namun sifatnya antagonistis, yaitu
budaya tinggi (high culture) dengan realitas sosial. Hanya sedikit orang yang
mendapat privilese untuk mencipta dan menikmati karya seni yang bernilai
tinggi (contoh: musik klasik, lukisan Van Gogh, dll.). Akan tetapi pada masa
sekarang, antagonisme ini ditebas rata dengan cara menghilangkan hal-hal
yang kontradiktoris, yang asing, yang transenden (unsur-unsur yang
terdapat dalam budaya tinggi). Nilai-nilai budaya diserap
(diinkorporasikan) ke dalam tatanan yang sudah mapan lewat reproduksi
dan lalu dipertontonkan dalam skala massal. Kultur menjadi komoditas,
produk yang diperdagangkan. Lebih jauh lagi, realitas teknologis yang
makin berkembang bukan hanya merongrong bentuk-bentuk tradisional dari
seni dan sastra, namun juga pondasi dasar seni itu sendiri yaitu artistic
alienation (pengambilan jarak oleh si artis guna mencipta karya seni; segi
abstraksi, transendensi).27 Jika dibahasakan secara lain, artistic alienation
menyerah pada desakan pasar (commerce) dan proses rasionalitas
teknologis.
Ciri khas artistic alienation yaitu sublimasi (sublime dalam pengertian
estetika Kant), kini diinkorporasikan ke dalam hidup keseharian (dapur,
kantor, toko), dirangkul oleh bisnis dan hiburan. Maka yang terjadi adalah
desublimasi - yaitu menggantikan pemenuhan atau penikmatan yang tadinya
dimediasi menjadi kenikmatan segera atau instant.28
Keempat, Menutupnya Semesta Wacana - Manusia adalah sejauh
bahasanya. Dunia yang ia bentuk dan pahami adalah dunia yang dikonstruksi
oleh dan lewat bahasa. Bahasa mengungkapkan pikiran, dan sekaligus
25 Ibid., hlm. 31
26 Ibid., hlm. 56
27 Ibid., hlm. 62
28 Ibid., hlm. 72
49
menjadi jembatan antara realitas diri dengan realitas objektif di luar diri.
Perbedaan, distingsi, status dan permainan kekuasaan juga bisa dikuak lewat
analisa atas bahasa. Bahasa tidak hanya sekedar deretan huruf dan
bergetarnya pita suara untuk menghasilkan bunyi tertentu. Bahasa adalah
alam makna dan pemaknaan (penafsiran).
Dan penafsiran lahir dari adanya kekhasan dan perbedaan. Apa jadinya
jika bahasa menjadi seragam (dan bahkan diseragamkan!) dan mono-tafsir?
Sejauh apa bahasa bisa menjadi alat kekuasaan untuk merepresi dan
mendominasi? Dalam “menutupnya semesta wacana”, Marcuse
mengungkapkan karakter totaliter (atau paling tidak otoriter) dari bahasa.
Perang bukan hanya terjadi secara fisik.
Dalam masyarakat teknologis, kita dapati juga perang wacana. Wacana
(discourse) yang tadinya dimengerti sebagai jembatan antara sisi yang satu
dengan lawannya atau kebalikannya (penampakan – realitas, substansi –
atribut, esensi – eksistensi) pelan-pelan punah dengan semakin jayanya cara
berpikir-dan-berperilaku satu dimensi. Bahasa juga dipakai penguasa
sebagai instrumen untuk mendominasi alam berpikir rakyat. Kata kuncinya:
Operasionalisme. Nalar teknologis cenderung mengidentikkan benda dengan
fungsinya. Kata lalu menjadi klise dan, sebagai klise, ia menyetir bahasa
tutur dan bahasa lisan; komunikasi kehilangan rohnya yaitu geliat pencarian
dan pengembangan makna.
Mengutip George Orwell (dalam novelnya yang amat populer, Animal
Farm), bahasa yang dimanipulasi adalah ciri rezim totaliter yang mencoba
menyetir semesta pembicaraan dan pemaknaan (dalam Animal Farm,
digunakan jargon “damai itu perang” dan “perang itu damai”, di Indonesia
kita juga punya jargon klise serupa yang dipakai militer untuk mencuci
image nya, “Damai Itu Indah”). Dalam perang wacana, kita menemukan
juga penyatuan hal-hal yang bertentangan (misal: “Jika mau damai
siapkanlah perang”), yang menjadi karakter dari gaya komersial dan politis.
Ini adalah salah satu cara di mana wacana dan komunikasi lalu menjadi
kebal terhadap ekspresi protes dan penolakan, yang oleh Marcuse disebut
karakter totaliter dari bahasa.29 Bahasa semacam ini pada saat bersamaan
mengancam sekaligus memuliakan. Bahasa yang dipaksakan (superimposed,
standardized) “especially for you” menjadi terasa akrab di telinga sekaligus
semakin membingungkan (mengandung makna yang ambigu). Konstruksi
bahasa yang bertumpuk-tumpuk (contoh: “Presiden Indonesia yang murah
senyum, anti HAM, sekaligus haji itu ….”) tidak menyisakan ruang untuk
29 Ibid., hlm. 91
50
distingsi, perkembangan dan diferensiasi makna: ia bergerak meluncur dan
hidup hanya sebagai sebuah keutuhan.
Apa dampaknya? Magis dan hipnosis sekaligus, proyeksi dari gugus
imaji yang memberikan gambaran kesatuan yang semu dan harmoni dari
kontradiksi-kontradiksi.30Karakter otoriter dari bahasa juga nampak
misalnya dalam penggunaan bahasa oleh industri pariwara. Untuk
menancapkan dan memantapkan image tertentu dari sebuah produk barang
atau jasa di benak publik atau calon konsumer, bahasa dipelintir sedemikian
rupa sehingga ia tidak lagi bersifat deskriptif-kualitatif, namun “mengancam
dan melebih-lebihkan.”
Bahasa iklan yang standar dan seragam seolah-olah menyapa pemirsa,
audiens, konsumer secara personal (misalnya “jam tangan ini dibuat khusus
untuk Anda; Inilah minuman kesukaan Anda yang sejati, dll.”) namun
sebenarnya mereka memanipulasi kita, yaitu mengidentikkan diri kita
dengan fungsi tertentu yang kita atau orang lain lakukan. Dalam bahasa
iklan, pembaca atau audiens ditarik untuk mengasosiasikan dirinya dengan
struktur kelembagaan, gugus sikap dan dambaan yang ajeg (fixated) dan
diharapkan mereka akan bereaksi (terhadap barang atau jasa yang
ditawarkan tersebut) dalam cara tertentu yang ajeg. The functionalized,
abridged, and unified language is the language of one-dimensional
thought.31Bahasa yang tertutup tidak membuat sesuatu menjadi lebih jelas
dengan menunjukkannya (ciri demonstratif dari bahasa), namun ia
mengkomunikasikan keputusan, diktum, perintah. Bahasa yang tertutup
menjadi teknik manipulasi dan instrumen kontrol; meskipun menyampaikan
informasi ia bernada perintah, (seolah-olah) menawarkan namun menuntut
kepatuhan, (seolah-olah) membebaskan namun menundukkan.
Ringkasnya: linguistic abridgments indicate an abridgment of thought,
abridgment of the concept in fixed images; arrested-development in self-
validating; identification of the thing (and of the person) with its function.32
Semua fenomena ini mau menyingkapkan tendensi one-dimensional mind
lewat bahasa yang dituturkan. Jika kita lihat lebih jauh, alam rasionalitas
teknologis yang bersifat totaliter ini merupakan trans-mutasi paling akhir
dari ide Akal budi.33 Logika yang bermain dalam alam rasionalitas
teknologis adalah logika dominasi, dengan perpaduan yang mengerikan
antara kebebasan dan penindasan, produktivitas dan penghancuran,
pertumbuhan dan regresi. Apakah ada sesuatu yang keliru dengan sistem
30 Ibid., hlm. 93
31 Ibid., hlm. 95.
32 Ibid., hlm. 96
33 Ibid., hlm. 123 dst.
51
dan logika bermain seperti ini? Dengan kata lain, teknologi telah menjadi
wahana terhebat dari proses pembendaan (reifikasi): bukan hanya pikiran
manusia (individu) yang dibendakan dalam piranti-piranti canggih
pengukuran, namun juga relasi antar manusia dan kolektivitasnya menjadi
terbendakan lewat logika penguasaan yang beroperasi via piranti-piranti
tersebut.
Dengan demikian seorang yang hidup dalam dunia konsumerisme yang
berlebihan, diibaratkan sebagai seseorang yang ingin memetik sebuah apel
untuk dimakan, tetapi menyebabkan jatuhnya semua apel yang ada di pohon
tersebut.
Sebaiknya, orang yang terlalu kikir diibaratkan sebagai seekor ayam yang
hidup di timbunan padi, tetapi mati kelaparan dikarenakan kekurangan
makanan. Jadi, penggunaan dan konservasi yang tepat dari kekayaan
individu yang telah di dapat akan mempengaruhi kualitas hidupnya dan juga
mempengaruhi ekonomi nasional.
52
Masyarakat Modern 5
_____________________________________________________________
Masyarakat modern seringkali digambarkan sebagai masyarakat yang
diwarnai kapitalisme dan pemisahan antara dunia dan akhirat (sekularisme).
Bahkan teori moralitas modern—sesuai dengan pemikiran jaman Pencerahan
yang kini tidak lagi diterima—masih percaya akan konsep kemajuan historis
yang secara linier menuju ke arah cara hidup masyarakat komersial sebagai
kemajuan peradaban.
Dunia modern memunculkan konsep-konsep moralitas tertentu, namun
juga mencabut alasan-alasan untuk sungguh-sungguh menerima konsep-
konsep tersebut. Modernitas membutuhkan moralitas, maupun membuat
moralitas mustahil.
Bernard James bahkan mengatakan bahwa modernitas memiliki kekuatan
maut yaitu ‘kebudayaan progres modern’ dan kekuatan tersebut harus
dihancurkan sebelum ia menghancurkan seluruh umat manusia.
5.1 Terminologi
Istilah modern berasal dari kata Latin, modo , yang berarti “barusan”.
Istilah ini muncul ketika Suger, seorang kepala biarawan, merekonstruksi
basilika St. Denis di Paris pada sekitar tahun 1127. Gagasan arsitekturalnya
menghasilkan suatu gaya yang belum pernah tampak sebelumnya, satu
“tampakan baru” yang bukan Yunani, Romawi, maupun Romanesque. Ia
tidak tahu bagaimana menamainya, hingga dia melirik istilah Latin, opus
modernum yang berarti sebuah karya modern.
Konsep ‘modernisme’ pada umumnya selalu dikaitkan dengan fenomena
dan kategori kebudayaan, khususnya yang berkaitan dengan estetika atau
gaya. Konsep ‘modern’ sering dikaitkan dengan penggal sejarah atau
periodisasi. Sementara, konsep ‘modernitas’ digunakan untuk menjelaskan
totalitas kehidupan. Awal dari dunia modern seringkali dinisbatkan kepada
renaissance dianggap sebagai awal dari perkembangan sains dan teknologi,
perluasan dan ekspansi perdagangan, perkembangan wawasan modern
tentang ‘humanisme’; sebagai tantangan terhadap kepercayaan keagamaan
Abad Pertengahan juga sebagai satu bentuk pendewaan rasionalitas dalam
pemecahan masalah-masalah manusia. Semangat Renaissance jelas sekali
diwakili oleh pemikiran Descartes, dan melalui wawasan ‘humanisme’nya
menjadikan manusia - dengan segala kemampuan rasionalnya - sebagai
‘aku’ (subyek) yang sentral dalam pemecahan masalah dunia.
Wawasan humanisme Cartesian, dalam hal ini, bersifat sangat mekanistis,
dalam pengertian rasionalitas dijadikan sebagai ukuran tunggal ‘kebenaran’,
dan ‘mesin’ dijadikan sebagai paradigma, dalam mewujudkan mimpi-mimpi
utopis manusia modern akan kekuasaan.
Pengertian ‘subyek’ dalam wawasan humanisme-rasional Cartesian ini,
menurut David Michel Levin, sebenarnya penuh dengan kekaburan dan
paradoks oleh karena di satu pihak penyanjungan kemampuan akal budi
manusia, yang menjadikan manusia sebagai subyek yang merdeka, self-
determination dan self-affirmation; merupakan awal dari keterputusan
manusia dari Tuhan; di lain pihak, konsep rasional ini justru diandalkan oleh
Descartes sebagai perangkat untuk membuktikan eksistensi Tuhan itu
sendiri.
Apa yang disebut dengan ‘Pencerahan’ (Aufklarung) dalam diskursus
filsafat modern, sebenarnya adalah sebuah proses ‘penyempurnaan’ secara
kumulatif kualitas subyektivitas dengan segala kemampuan obyektif akal
budinya dalam mencapai satu tingkatan sosial yang disebut dengan
‘kemajuan’. Keterputusan dari nilai-nilai mitos, spirit ketuhanan, telah
memungkinkan manusia modern untuk ‘mengukir sejarahnya sendiri’ di
dunia - suatu proses self-determination dimana manusia menciptakan
kriteria-kriteria dan nilai-nilai untuk perkembangan diri mereka sendiri
sebagai subyek yang merdeka. Keterputusan dari nilai-nilai dan spirit yang
lama, telah memungkinkan manusia modern untuk hidup di dunia baru,
dunia modern—dunia yang diandaikan tercipta seperti pada ‘Hari Kejadian’.
Bahkan Hegel pun menyatakan bahwa telah lahir sebuah jaman kelahiran
dan perioda peralihan menuju satu era baru yang memutus Spirit dari dari
dunia yang sebelumnya dihuni dan diimajinasikannya, dari pikiran yang
telah menenggelamkannya di masa lalu, dan ia dalam proses transformasi,
tidak pernah diam di tempat dan selalu dalam proses bergerak ke depan.
Jelas sekali di sini bahwa pengertian spirit telah di materialisasikan menjadi
sebuah kualitas di mana pada walnya di Era Pramodern spirit adalah sebuah
entitas. Dalam hal ini, melihat perioda modern sebagai satu perioda, di mana
manusia sebagai subyek, menentukan sendiri landasan nilai dan kriteria-
kriteria dalam kehidupannya di dunia. Manusia modern tidak memerlukan
landasan nilai, kebenaran, atau legitimasi selain dari dalam dan untuk
dirinya sendiri - manusia modern bertanggungjawab terhadap dirinya
sendiri. Bagi Ia, tidak ada landasan lain yang dapat menopangi subyek yang
merdeka selain dari ‘akal budi’ sang subyek itu sendiri—akal budi yang
mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Baginya adalah ilmu
54
pengetahuan yang menjadi mahkota dari apa yang disebutnya ‘Kebenaran
Ideal’ (Spirit) , menggantikan mitos, legenda, atau wahyu.
55
Gerakan Konsumen Dalam Masyarakat Modern 6
_____________________________________________________________
Dunia modern sendiri tampaknya lebih mirip sebagai sebuah dunia yang
kontradiktoris. Marshall Berman menggambarkan bahwa menjadi modern
adalah menemukan diri manusia di dalam sebuah lingkungan yang
menjanjikan petualangan, kekuasaan, suka cita, pertumbuhan, perubahan diri
manusia sendiri dan dunia - dan pada saat yang sama, mengancam untuk
menghancurkan segala sesuatu yang manusia punyai, segala sesuatu yang
diketahuinya, segala sesuatu dari diri manusia sendiri. Ini dikarenakan
masyarakat modern merupakan masyarakat yang sakit, karena di satu pihak
masyarakat modern membutuhkan moralitas, tetapi di pihak lain ia
membuatnya mustahil. Ini dikarenakan masyarakat modern merupakan
masyarakat yang sakit, karena di satu pihak masyarakat modern
membutuhkan moralitas, tetapi di pihak lain ia membuatnya mustahil.
Demikian hal, tumbuhnya kesadaran masyarakat internasional mengenai
hak-hak konsumen sendiri, mulanya pada awal 1900-an, dimana ketika itu
muncul kasus Upton Sinclair’s book, The Jungle, di dalam bukunya yang
berkisah tentang kondisi sangat buruk ditempat pengepakan daging di
tempat pemotongan hewan.34
Tindak lanjut kejadian ini ditandai dengan munculnya Undang-undang
untuk menginspeksi tempat pemotongan hewan dan tempat pengepakan
daging sebelum dikirim atau dikapalkan ke negara bagian lain oleh
pemerintah federal. Inilah ”determinism“35 bibit awal gerakan konsumen
(consumers movement) di Amerika yang kemudian di dalam gerakan
awalnya ditandai oleh tujuan dan filosofis-nya bahwa pengaturan
34 Direktorat Perlindungan Konsumen Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Departemen
Perindustrian Dan Perdagangan Bekerjasama dengan Yayasan Gema Inti.
Pemberdayaan Hak-Hak Konsumen di Indonesia. Jakarta: 2001.
35 Dalam filsafat ada aliran-aliran yang mengingkari kemerdekaan kehendak: dalam
prinsipnya kehendak itu tidak mungkin memilih. Dalam tindakannya manusia itu
tertentukan, ia tidak dapat menentukan sendiri. Aliran ini disebut pada umumnya
determinisme. Ada pun determinisme itu ada tiga macam: a. Materialisme dan
positivisme mengatakan, bahwa segala tindakan manusia itu hanya perubahan syaraf
saja, tertentukan dari luar atau dalam, tak didorong oleh suatu kehendak, jangankan
kehendak mereka. b. Determinisme psikologis mengatakan, manusia tak lain dari
mesin otomat. Banyak ahli ilmu jiwa yang berpendapat demikian: Wundt, Herbart,
Hartmann. c. Determinisme teologis berpendapat, bahwa segala sesuatunya sudahlah
tertentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, pun tingkah laku manusia. Tuhan Yang
Maha Kuasa tak mungkin memberikan kemerdekaan kepada manusia, itu akan berarti
pengurangan dan pembatasan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
56
dimaksudkan untuk memberikan bantuan atau perlindungan terhadap
konsumen yang berpenghasilan rendah (low-income consumer), memperbaki
cara distribusi dan kualitas barang dan jasa, meningkatkan jumlah persedian
barang dan jasa di pasar, serta meningkatkan persaingan antara produsen.
6.1 Muncul Tokoh Konsumerisme
Di Amerika muncul tokoh konsumerisme yang semangat perjuangannya
meng-ilhami di kalangan aktivis konsumen di belahan negara. Tokoh
tersebut adalah Ralp Nader seorang pengacara public interest law lahir tahun
1934 yang rela meninggalkan praktek commercial law dengan bayaran
tinggi karena tertarik mengabdikan dirinya pada public interest pada gerakan
konsumerisme36 yang perhatian utamanya saat itu adalah keamanan
berkendara.
Dimana hingga sampai pada kesimpulan bahwa sebagian besar
kecelakaan lalu lintas di Amerika sampai tahun 1960-an, bukanlah karena
human error dari pengemudi, melainkan karena cacadnya rancang bangun
mobil.
Dari hasil penyelidikannya yang di bukukan berjudul Unsafe at Any Speed
terbit pada tahun 1965. Dalam bukunya itu Ralph Nader mengangkat
masalah keamanan kendaraan Corvair produksi General Motor, sehingga si
pembuat mobil yang telah menelan korban ini terkejut dan berang. Karena
Ralph Nader menilai bahwa produk tersebut dinilai tidak aman dan telah
gagal melindungi publik dari keselamatan desain dan meminta pemerintah
untuk menyusun standar keamanan bagi mobil.
Ambil contoh, kejadian yang menimpa pada seorang konsumen bernama
John Bortolozzo adalah seorang petugas California Highway Patrol. Tahun
1961, ketika berpatroli di Santa Barbara, ia melihat sebuah Chevrolet
Corvair mendekati jalur sebaliknya.
Ia sempat mencatat kecepatan saat itu, 35 mil perjam. “Tiba-tiba ia
terpaku”. Covair tersebut tiba-tiba membelok ke kiri dan kemudian terbalik.
Dengan perasaan ragu, ia mendekati mobil tersebut, dan keluarlah seorang
wanita berlumuran darah sambil menggumam, “Ada yang tidak beres
dengan stir mobil saya”. Sesudah peristiwa itu, lebih dari 150 kasus muncul
36Konsumerisme tidak sama dengan konsumtif. Konsumerisme bermakna positif, yakni
gerakan masyarakat konsumen di dalam memperjuangkan hak dan kewajibannya
dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Konsumtif bermakna negatif, yaitu
mengkonsumsi barang dan jasa secara berdasarkan desakan psikologis semata (status
sosial, iklan dll) dan tidak rasional.
57
yang berhubungan dengan produk mobil General Motor itu diselesaikan
melalui pengadilan maupun di luar pengadilan sampai tahun 1969.
Semua kisah itu dicatat, ditulis dan disimpan dengan rapi oleh Ralph
Nader. Maka dengan diterbitkannya buku tersebut memberikan ekses
terhadap produsen, dimana produsen mobil menghadapi dua konsekuensi,
yaitu pertama, bahwa buku tersebut telah menghembuskan angin sejuk
terhadap praktek bisnis tertentu, “militansi” yang dikenal sebagai
konsumerisme dan yang kedua, buku itu mempunyai implikasi utama bagi
penjual dan pelaku bisnis secara umum dan mendorong general Motor
untuk menarik Corvair dari pasaran agar pembuat mobil tersebut bebas dari
tuduhan kecelakaan pemakai produknya. Dan sehingga membuatnya
berhadapan dengan General Motor (GM), produsen Ford Pinto.37
Akhir pada tahun 1969, pemerintah melalui Federal Trade Commission
(FTC) memerintahkan penarikan 4,9 juta unit kendaraan bermotor produksi
GM dengan alasan cacad produk. Kesemuanya ini berhasil diperjuangkan
Ralp Nader bersama-sama para aktivis lainnya di USA; dan setidaknya
product liability dan strict liability semakin kokoh dalam sistem hukum di
Amerika Serikat.38. Selain itu, ia telah membukakan mata publik masyarakat
Amerika akan potensinya sebagai konsumen.
6.1.1 Pergulatan Sang Tokoh
Sosok Ralph Nader memiliki kekuatan tangguh untuk suatu perubahan,
hal itu setidaknya terlihat ketika General Motor terus-menerus berupaya
mempengaruhi Nader dengan cara-cara yang tidak hanya mengabaikan
kesadaran konsumen akan keselamatan tetapi juga untuk mnediskreditkan
dan mengintimidasi seseorang.
Mantan senator Illinois Charles H. Percy, mengatakan bahwa
konsumerisme dalam analisi akhir adalah reaksi masyarakat luas terhadap
kelalaian birokrasi dan ketidakpeedulian perusahaan dalam masyarakat. Dan
pendukung gerakan ini adalah Ralph Nader yang menggugah masyarakat
37Zaim Saidi, “Neder”, kolom Republika, 8 Mei 1994. Lihat pula : “Hukum tentang
Konsumen”, dalam Munir Fuady, Hukum Bisnis dalam teori dan Praktek (Bandung :
Citra Aditya Bakti, 1994), hal. 186-187.
38 Donald P. Rothschild & David W. Carroll, Consumer Protection, h. 24. Namun
ditambahkan pula bahwa tidaklah tepat kalau yang dilindungi hanya konsumen yang
berpenghasilan rendah dan kurang pendidikan. Oleh karena itu kebijakan
perlindungan konsumen juga diarahkan kepada konsumen yang berpenghasilan
menengah.
58
Amerika. Ia yang kemudian diakui sebagai Bapak Konsumerisme,39 telah
memulai era baru dalam hubungan bisnis masyarakat.
Ralph Nader adalah pribadi konsisten dan ketika ia belum genap 30 tahun
telah menjadi orang terkenal. Ia lulus sarjana hukum dari universitas
Princenton tahun 1955 dan sekolah hukum dari Harvard dengan predikat
mengagumkan tahun 1958. Ia masuk ke kantor pengacara di Hafford,
Connecticut dan kemudian meninggalkan kantor pengacara komersial itu
dan sesuai keinginannya ia pergi ke Washington karena tertarik untuk
berpraktek atas masalah-masalah hukum yang berkaitan dengan kepentingan
publik (public interest law).
Yang menjadi perhatian utamanya saat itu adalah keamanan berkendara.
Bidang garapan ini memang dianggap jauh dari kenyamanan. Ia kemudian
berjuang membiayai hidupnya dengan menjadi dosen dan menulis artikel
untuk majalah keamanan mobil The New Republic dan The Nation.
Tahun 1963 ia mulai menulis keamananan mobil di majalah Crhistian
Science Monitor. Tulisan-tulisannya mulai menarik perhatian Daniel P.
Moynihan, sekeretaris perkumpulan buruh yang sering menggunakan Nader
sebagai konsultan dan ahli riset. Akhir tahun 1964, seorang senator Abraham
A. Ribicoff’s Subcornmite Executive pernah menjadikan penasehat tanpa
dibayar untuk melakukan hearing dengan DPR tentang keamanan produk.
Pada suatu ketika ada seorang penerbit buku mencari penulis untuk
menerbitkan buku tentang keamanan mobil. Kemudian akhirnya terbitlah
buku yang terkenal dan menghebohkan yang membuat kuping merah
terutama bagi General Motor sehingga membuat pihaknya marah atau
berang.
Dalam buku itu terdapat sebuah goresan dari catatan yang ditulis pada
akhir 1965: ”....Pekerjaan kami adalah memeriksa hidup Ralph Nader dan
aktivitasnya saat ini menentukan apa yang menggerakkan dia berbuat
demikian, seperti kepentingan nyatanya dalam keamanan, pendukungnya
(bila ada), politiknya, status perkawinannya, teman-temannya, pasangannya,
anaknya, minuman, doping, pekerjaan serta semua aspek kehidupannya”. Itu
merupakan ungkapan betapa Ralph Nader harus menerima intimidasi
sebagai resiko dari ”serangannya” terhadap perusahaan General Motor.
Gangguan terhadap Nader meliputi pengawasan atas gerak-geriknya,
panggilan telepon larut malam, hingga upaya-upaya nyata untuk menggiring
perhatiannya dalam situasi kompromi dengan wanita muda dan untuk
melancarkan intimidasi terhadapnya, bahkan merasa perlu mengorek
39Ralp Nader Bapak”Konsumerisme”, Indah Sukmaningsih, Rubrik Sorotan, Warta
Konsumen edisi April 1999, YLKI, dari Marketing Mistakes, Robert F. Hartley, 1992.
59
sahabat-sahabat asal kota kelahirannya di Connecticut untuk mendapatkan
informasi tentang kebiasaanya minum, rekor mengemudi, kehidupan seks,
sikapnya terhadap Yahudi, keyakinan politiknya, dan tingkat kreditnya. Dan
anehnya lagi, nama Nader tidak terdaftar di Washington D.C, tetapi
teleponnya terus berdering pada tengah malam. Dan suara-suara tidak
menyenangkan selalu terdengar: ”Mengapa anda tidak kembali ke
Conectitut saja, anak baik?”.
Untungnya kalangan pers berada di pihak Nader dan turut mengkritik
”intimidasi tersebut”. Mereka memunculkan pertanyaan tentang hak General
Motor serta anteknya, Vincent Gillen, atas perlakuan membongkar
kehidupan pribadi seseorang. Setelah informasi tersebut meluas. Nader
menggugat pihak General Motor sebesar 26 juta dollar atas intimidasi
General Motor terhadap kehidupan pribadinya (privasi). Dan ia juga
menuntut Vincent Gillen 100 dollar atas tuduhan yang sama. Dengan sikap
pramatism-nya maka segera saja pihak General Motor memecat Gillen.
Akan tetapi hal ini “berbuah buruk” terbukti menjadi kesalahan yang serius
bagi General Motor.
Kemudian Vincent Gillen memutuskan untuk bekerjasama dengan
pengacara Nader dan ia telah merekam semua percakapan dengan eksekutif
General Motor dan terbukti bahwa semua itu perekayasaan pihak General
Motor melakukan percobaan mengganggu dan mendiskreditkan Nader.
Dan pada tahun 1970, Nader menerima kemenangan pengadilan General
Motor sebesar 425,000. Ini merupakan ganti rugi terbesar yang pernah
diperoleh untuk kasus intimidasi dalam kehidupan pribadi, ujar Nader. Lalu
kemudian, setelah membayar semua biaya pengacara dan pengadilan maka
Ralph Nader memiliki sisa sebesar $ 284, 000 yang digunakan efisiensi 40
untuk menjalankan program-program advokasi konsumen.
40 Efisiensi sebagai suatu konsep ekonomi mengacu kepada hubungan antara
keseluruhan dari satu situasi dan biaya keseluruhan dari satu situasi. Ekonomi selalu
berkaitan dengan efisisensi yang bertujuan dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya
dan menghindari penghamburan yang tidak perlu. Kata efisisiensi menjadi tali perekat
bagi hubungan (interralated) La and Econ tersebut. Dalam memaknai pengertian
efisisensi, ilmu ekonomi tidak hanya berdasar pada efisiensi an sich, melainkan value,
dan utility juga mengambil peran penting terhadap hukum. (Pirre Limieux, Economic
Imperalism an Introduction to the Economic Analysis of Law, The Laisses Faire City Time,
September 3, 2001, Vol. 5. No. 36), menyatakan bahwa The Economic Analysis of Law is
concerned with the Efficiency of legal rules. Selanjutnya dalam uraiannya
mempertanyakan, what is Efficiency? Dikatakan bahwa dalam pendekatan new klasik,
yang menggaris bawahi Law and Econ, Efficiency means attaining the highest net value
in term of money, as evaluated by the individual themselves secara tepat dengan
ilustrasinya memberikan arti Efficiency is concerned only with the size of the economic
pie, not its redistribution sedangkan legal rules should be concerned with efficiency if
only because they are not effective at redistribution. (Robert Cooter dan Thomas Ulen,
60
6.2 Di Eropa
Di belahan masyarakat dunia mengenai perlindungan konsumen masih
bisa dikatakan belum dikenal, sehingga tidak mengherankan apabila terdapat
perbedaan tentang aliran pemikiran sosial yang baru tumbuh di dunia. Di
beberapa negara maju perspektif perlindungan konsumen pada umumnya
disebut, consumerism. Pengertian yang sebenarnya dari consumerism itu
sendiri adalah gerakan konsumen (consumer movement), yaitu41 gerakan
perlindungan konsumen yang mempertanyakan kembali dampak-dampak
aktivitas pasar bagi konsumen.
Di Eropa gerakan konsumen ditempuh melalui dua tahap program, yaitu
program pertama pada tahun 1973, masyarakat Eropa memfokuskan pada
persoalan kecurangan produsen terhadap konsumen seperti perlindungan
terhadap konsumen yang menderita kerugian akibat mengkonsumsi produk
cacat, kontrak standar, penjualan yang bersifat memaksa dan sebagainya.
6.3 Di Amerika
Gerakan mempengaruhi pasar juga dilakukan dengan ektrimnya di
Amerika Serikat dan Kanada, dirayakan Hari Tanpa Belanja setiap tahun
dirayakan pada 28 November dimula tahun 2003, sehari setelah perayaan
Thanksgiving. Dan pada bulan tersebut juga, komponen masyarakat
internasional tertentu tanpa dibatasi agama, ras, dan nasionalitas, bersatu
merayakan Buy Nothing Day, atau Hari Tanpa Belanja Sedunia. Sebuah
gerakan penyadaran atas bahaya konsumerisme terhadap lingkungan hidup
dan tereksploitasinya negara-negara berkembang. Peringatan ini telah
dirayakan di lebih dari 30 negara, termasuk Indonesia, menjadi perhatian
dari gerakan ini (red, dimana orang biasa menghabiskan waktu untuk
berakhir pekan dan pergi berbelanja).
1988, Law and Ecomics, Scott Foresman and Company Glenview, Illionis London –
England), memberikan pemahaman awal definisi tentang economics. Dikatakan bahwa
ilmu ekonomi adalah studi tentang perilaku rasional (rational behaviour) yang
didefinisikan sebagai the pursuit of consisten end by efficien means. Ini berarti, il
ekonomi adalah alat yang tepat (a suitable tool) untuk mempelajari perilaku seseorang
yang memahami hukum, administrasi atau institusi. Para lawyer, judge semestinya
dalam tindakannya bertindak secara rasional dan kritis.
41 Retno Widiastuti, ”Konsumerisme Vs Konsumtivisme Martabat Perempuan sebagai
Konsumen”, Kompas, Senin, 17 Maret 2003.
61
Untuk bersaing dengan negara maju, selama ini Indonesia harus bertumpu
pada bahan mentah dan rendahnya upah tenaga kerja, seperti diungkap Alan
Gilbert dan Josef Gugler dalam Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga
(1996). Kita keruk emas, minyak bumi, dan bahan tambang lainnya. Kita
babat hutan dan genjot pertanian. Bahkan, pasir pun kita jual. Dalam kadar
tertentu, semua komoditas tersebut didapatkan dengan "melukai" alam.
Negara berkembang memang mendapatkan keuntungan; selain devisa
negara, juga tersedianya lapangan kerja bagi masyarakat. Namun yang harus
diingat, semua ini harus dibayar dengan rusaknya alam dan langgengnya
kemiskinan.
Dan kejadian mengerikan tersebut mencerminkan permintaan pasar yang
tinggi dan tak henti-hentinya akan barang berbahan dasar kayu. Permintaan
yang tinggi tidak diimbangi dengan kesadaran lingkungan yang baik
sehingga keuntungan sesaat harus mengorbankan jiwa manusia, gundulnya
hutan, erosi, banjir, dan semakin menurunnya fungsi hutan sebagai paru-
paru dunia. Lihat! Bagaimana banjir bandang yang memorak-porandakan
beberapa kawasan di tanah air belakangan ini.
62
Gerakan Konsumen Yang Lebih Kritis 7
____________________________________________________________________________________________________________
Hari Tanpa Belanja adalah sebuah ide sederhana untuk bersikap lebih
kritis pada budaya konsumen dengan jalan mengajak kita untuk tidak
berbelanja selama sehari. Hari Tanpa Belanja telah dimulai sejak 1993 oleh
Adbuster - sebuah organisasi nirlaba yang berpusat di Kanada yang
bertujuan meningkatkan kesadaran kritis konsumen (idenya berasal dari Ted
Dave, pendiri Adbusters). Hari Tanpa Belanja telah dirayakan secara
internasional di lebih dari 30 negara.
Sebagai konsumen, kita seharusnya mempertanyakan produk-produk
yang kita beli dan perusahaan-perusahaan yang membuatnya. Idenya adalah
untuk membuat orang berhenti dan berpikir tentang apa dan seberapa banyak
yang mereka beli telah berpengaruh pada lingkungan dan negara-negara
berkembang. Selama 24 jam setiap orang akan mengambil jarak dari
konsumerisme dan merasa bahwa belanja itu tidak terlalu penting. Setelah
itu Anda akan mendapatkan kembali kehidupan Anda. Itu adalah sebuah
perubahan besar.
7.1 Membuat Komitemen Terhadap Diri
Kami ingin Anda membuat komitmen untuk mengurangi belanja, lebih
sering mendaur-ulang, dan mendorong para produsen untuk bersikap lebih
jujur dan fair. Konsumerisme modern mungkin merupakan sebuah pilihan
yang tepat, tetapi tidak seharusnya berdampak buruk bagi lingkungan atau
negara-negara berkembang, mengingat posisinya yang lemah dalam kancah
perekonomian global.
Dalam sehari itu, masyarakat sedunia diajak ”diserukan” untuk tidak
membelanjakan uangnya dalam bentuk produk apapun menjerumuskan
masyarakat ke dalam propaganda kapitalis justru mendesduktrifkan
kemiskinan lahiriah-bathiniah masyarakat. Sebuah penyadaran global agar
masyarakat mulai mengkritisi semua proses di balik barang-barang yang dia
beli.
Apakah pembuatannya telah merusak keselarasan alam; menimbulkan
pencemaran, banjir, longsor, dan pemanasan global? Apakah buruh-buruh
yang mengerjakan sebuah produk diperlakukan dengan manusiawi dan
diberi upah yang layak? Gerakan ini mengingatkan bahwa saat kita membeli
dan menikmati suatu barang, pada waktu yang sama telah terjadi perusakan
63
lingkungan hidup dan perlakuan tidak baik terhadap sesama manusia,
terutama mereka yang berprofesi sebagai buruh, petani, atau nelayan.
Artinya, semakin nafsu belanja kita tak terkendali, semakin rusak pula
lingkungan hidup dan semakin membuktikan tipisnya rasa kemanusiaan.
Sulit untuk mengatakan bahwa budaya konsumerisme tidak berbahaya.
Selain merusak lingkungan dan melanggengkan kemiskinan, sebagaimana
diungkap sebelumnya, budaya konsumerisme juga mengakibatkan orang
boros, tidak produktif, dan hanya memberikan kesadaran palsu kepada
masyarakat. Budaya ini hanya menghargai orang dari sebanyak apa dia
mengeluarkan uang untuk mengonsumsi.
Semakin banyak dan prestisius barang yang dibeli seseorang, semakin ia
akan dihargai. Supaya mendapat penghargaan, orang rela membeli barang-
barang yang sebetulnya tidak terlalu dia perlukan atau di luar
kemampuannya. Tak heran korupsi pun merajalela. Dalam budaya kita,
konsumerisme akan mengakibatkan orang terjebak dalam "lebih besar
pasak dari pada tiang".42
Budaya yang kian merusak ini setidaknya dapat berkurang atau bahkan
dihentikan. Maka ”Hari Tanpa Belanja” adalah budaya baru yang perlu
senantiasa patut di rayakan untuk mencoba menghentikan budaya
konsumerisme yang sengaja diciptakan oleh kapitalis untuk mereduksi
pemikiran seseorang bahwa ia butuh segalanya. Wacana ekonomi global saat
ini adalah sistem ekonomi yang dikendalikan oleh sistem ekonomi kapitalis
lanjut yang menjadi sebuah arena tempat perlombaan kecepatan, persaingan,
kepanikan dan kegilaan digelar.
42 ”Suara Kesah Dari Seorang Buruh Pekerja Pabrik”. Sebagai pekerja pabrik, saya tahu
banyak rekan yang jadi korban keganasan kartu kredit. Mereka terjerat utang cukup
tinggi dan ujung-ujungnya terpaksa kehilangan pekerjaan karena sibuk cari pinjaman
untuk bayar utang. Hal itu sama sekali tak terpikir saat mereka terlena kemudahan
transaksi yang cukup hanya dengan masukkan kartu, tekan PIN, tekan angka rupiah
dan uang pun diterima. Kehilangan pekerjaan saat ini merupakan bencana yang
dirasakan tak hanya diri sendiri tapi juga anak dan istri. Ibaratnya nikmat sesaat
membawa bencana. Bahkan salah-salah bisa berurusan dengan yang berwajib. Karena
itu pikir dan timbang masak-masak sebelum mendaftar untuk memiliki kartu kredit
apa macam dan jenisnya. Hasil studi peneliti Pusat Studi Sosial Asia Tenggara UGM
Yogyakarta Dr J Nicolas Warouw menyebut rata-rata buruh di Tangerang lebih suka
beli barang konsumtif (TV, DVD, kulkas). Ironisnya gejala beli barang konsumtif tidak
diikuti peningkatan kesejahteraan. UMK pun baru mencakup KFM (Kehidupan Fisik
Minimum) belum KHM (Kehidupan Hidup Minimum). Hingga muncul eksploitasi buruh
dengan mengesampingkan fungsi sosialnya karena mereka harus kerja lebih keras lagi
guna menggapai keinginannya. Waktu bersosialisasi habis untuk kerja lembur atau
istirahat setelah capai lembur. Gejala seperti ini pernah terjadi di AS tahun 50-an yang
disebut sebagai masa sindrom mobil dan kulkas bekas. Bila kita mengikuti fenomena
seperti ini bukankah mengikuti sesuatu yang telah usang dan telah ditinggalkan sejak
lama di negara asalnya. Maka bila tidak ingin ketinggalan mode jangan ikuti mode.
64
Bagaimana tidak, semua lokus kehidupan manusia dapat disulap menjadi
komoditas atau dikomodifikasi yang juntrungannya adalah penumpukan
kapital. Kapitalisme awal melihat kemajuan dari ukuran seberapa besar
ruang (pasar, teritori) dapat dikuasai dalam satuan waktu tertentu, pada
kapitalisme global dewasa ini, ia lebih diukur dari kecepatan itu sendiri.
7.2 Terhadap Ekonomi Ekstasi
Paradigma kapitalisme tak pelak juga menginvasi kehidupan
kontemporer sosial, ekonomi, politik dan budaya. Iklan-iklan dalam televisi
merupakan fantasmagoria yang muncul dan menghilang dalam kecepatan
tinggi yang merayu manusia dalam kegilaan histeria gaya hidup. Trend life
stile dengan banalnya silih berganti cepat berubah yang menawarkan sebuah
kebaruan.
Kapitalisme global terperangkap dalam arus percepatan (dromos) dimana
kecepatan menjadi ciri kemajuan sehingga ia membentuk kemajuan-
kemajuan dalam tempo tinggi. Percepatan tersebut berupa percepatan
kembalinya modal, membiaknya kapital, dan larisnya konsumsi.
Kecepatan kapital itu kini dikendalikan oleh kecepatan elektronik yang
mendekati kecepatan cahaya, yaitu implosi dimana manusia bersama
wahananya tidak lagi menjelajahi teritori dengan cara ekspansi, melainkan
teritori-teritori yang telah dikuasai tadi justru meledak kedalam
mengerumuni manusia layaknya sebuah magnet melalui simulasi elektronik.
Manusia sekarang telah kelebihan informasi, dijajah produk, dihujami iklan-
iklan, dibujuk rayu, konsumen yang statis, diam dan monoton membebek
pada panoptikon. Sebuah iklan menjadi relatif dalam menjadikan konsumer
demikian ‘addicted (terbius)’.
Era masyarakat konsumer ditandai dengan berubahnya status komoditas
yang diiklankan. Bukan hanya sebuah produk yang menjamin suatu nilai
guna/tukar (murni, dalam konsep Marx) akan tetapi status materi yang
sekaligus menjanjikan/menawarkan nilai prestise, nilai sosial, nilai kultural
atau keistimewaan lain sebuah produk bagi konsumer yang memilikinya.
Berubahnya status materi ini ‘seolah’ mengiringi hasrat kebutuhan
konsumer/masyarakat modern dalam menandai status sosial dan kultural
individu modern. Saat ini kian tak terhitung, pelbagai iklan komersial dalam
media elektronik, seperti TV dan internet, misalnya yang tidak henti-
hentinya mengiklankan komoditas-komoditas.
Persoalannya, kadangkala bukan nilai fungsional komoditas yang sebagai
substansi yang ditawarkan, namun iklan tersebut lebih mengekspresikan
(mengutamakan) segi pencitraanya. Bahwa perilaku konsumtif tidak lain
65
terkait dengan berubahnya status komoditi yang bagi Jean Boudrilard, kita –
dikatakanya, tidak lagi mengontrol obyek, akan tetapi dikontrol oleh obyek-
obyek. Kita hidup sesuai dengan iramanya, sesuai dengan siklus
perputarannya yang tak pernah putus-putusnya (Boudrillard, 1998:29).
Di era masyarakat konsumer, justru objek-objek konsumerlah yang justru
merefleksikan keberadaan subyek/individu modern. ‘Saya mengkomsumsi,
karenanya saya ada’, dengan kata lain, bila saya telah memiliki suatu
produk/jasa maka saya dikatakan ‘eksis’/ ada. Komoditas atau dalam
rumusan Boudrillard, seperti dikutip Yasraf adalah obyek yang membentuk
perbedaan-perbedaan sosial dan menaturalisasikan melalui perbedaan-
perbedaan pada tingkat semiotik atau pertandaan (Yasraf A.P,1998). ‘Saya
mengkomsumsi, karenanya saya ada’, slogan ini rasanya memang
berlebihan . Namun, sebuah tulisan Chua Beng Huat tentang tubuh-tubuh di
mal Singapura menjadi fakta, manakala tubuh-tubuh modern tersebut dalam
tulisan Chua Beng Huat ‘menciut dan mengembang’ diantara ‘kepungan’
pelbagai jenis produk dan iklan yang ada di mal.43. Apakah tubuh-tubuh
sekarang lantas adalah tubuh-tubuh yang tersubordinat dari sebuah
produk/objek konsumer? Apakah benar kiranya, dalam kebudayaan material
sekarang, tubuh individu modern sama sekali kehilangan makna
eksistensialnya? Judith Williamson misalnya, membelakangi Boudrilard
dengan memberikan pandangan positif pada subjek/ individu modern
baginya konsumsi adalah kegiatan eksternalisasi, baginya sebagai media
representasi ‘kekuasaan’’.
Seseorang dapat menguasai objek-objek konsumernya untuk kebutuhan
pertandaan. Seseorang dapat mengatur relasi objek-objek sebagai penanda
status sosialnya. Dalam masyarakat konsumer relasi subjek dan objek lebih
tepat dijelaskan melalui peran subjek sebagai konsumer. Pemisahan dan
alienasi Marx semakin kehilangan makna karena selepas penat bekerja
seseorang dapat menghanyutkan diri dalam ekstasi konsumsi, hiburan dan
tontonan konsumerisme. Sebagai konsumer ia menginternalisasi apa yang
diciptakan orang lain.
Kondisi ini menyebabkan filsafat Cartesian yang melekat pada Marx
maupun Hegel “cogito ergo sum” atau berfikir karena aku ada, semakin
kehilangan makna dan bermutasi menjadi aku mengkonsumsi, karenanya
aku ada. Budaya konsumerisme itu sendiri adalah ditandai dengan konsumsi
43 Secara panjang lebar Chua beng Huat dalam majalah Kalam, edisi ke-15, tahun
2000, memaparkan pengalamannya mengamati orang-orang di mal Singapura.
Pengalamannya menginformasikan kepada kita reaksi tubuh/respon orang-orang/
bahkan Chua juga menceritakan bahasa tubuh, mimik dan apa saja yang terjadi ketika
orang berbelanja, menonton dan menghabiskan waktunya di mal., sebuah situs
dimana komoditas, iklan mengepung orang-orang yang berkunjung.
66
skizoprenik, mengkonsumsi bukan sekedar menghabiskan nilai guna atau
nilai utilitas tetapi juga menkomunikasikan makna-makna tertentu.
Menurut Baudrillard kita tidak lagi mengontrol objek tetapi dikontrol
objek. Objek konsumsi semakin kompleks tetapi siklus percepatan dan
tempo pergantiannya semakin cepat. Konsumsi bukan lagi makna-makna
ideologis yang dicari melainkan kegairahan dan ekstasi pergantian objek-
objek. Logika yang mendasari bukan lagi logika kebutuhan (need)
melainkan logika hasrat (desire) seperti halnya hawa nafsu seksual yang
imajiner atau bawah sadar lapangan psikoanalis. Konsumer skizoprenik
menciptakan komodifikasi chronos (ini lalu ini lalu ini lalu ini) sampai titik
terjauh. Revolusi yang diciptakan konsumerisme adalah hipermarket yang
ditandai dengan berkembangnya mall, plaza, shopping centre, TV shopping,
teleshopping, E-businnes yang telah mendekontruksi konsep-konsep tentang
pasar, ruang, waktu, belanja dan transaksi.
Hipermarket44 adalah permainan bebas tanda yang bukan penyampaian
makna dan kebenaran tanda melainkan bujuk rayu lewat kepalsuan tanda
dan kesemuan makna, topeng simulasi yang menampilkan ilusi dan seolah-
olah realitas.
Hipermarket telah memperangkap konsumen dalam janji-janji hadiah dan
rayuan mega bonus. Hipermarket bukan hanya tempat lalu lintas barang dan
jasa tetapi juga hasrat libido segala aspek kehidupan kapital seperti politik,
seks, olah raga, pendidikan, kebugaran, tubuh, keamanan, bahkan kematian
dapat dikomersialisasikan.
Demokrasi atau kebebasan memilih citra, tanda, dan gaya ditemntukan
oleh elit, menjerat manusia dalam kekuasaan pasar, mensimulasi kebutuhan
44 Hipermarket adalah bentuk pasar modern yang sangat besar, dalam segi luas tempat
dan barang-barang yang diperdagangkan. Selain tempatnya yang luas, hipermarket
biasanya dan memiliki lahan parkir yang luas. Dari segi harga, barang-barang di
hipermarket seringkali relatif lebih murah dari pada supermarket, toko, atau pasar
tradisional. Ini dimungkinkan karena hipermarket memiliki modal yang sangat besar
dan membeli barang dari produsen dalam jumlah lebih besar dari pada pesaingnya,
tetapi menjualnya dalam bentuk satuan. Dalam prakteknya mulai sekitar tahun 2000-
an, untuk menyeimbangkan antara pasar tradisional dan pasar modern, beberapa
produsen consumer goods telah membedakan harga jual untuk kedua jenis pasar
tersebut. Praktek ini meningkatkan daya saing di tingkat pedagang eceran sehingga
harga eceran mereka bisa lebih murah atau sama dengan di pasar modern. Di negara
maju, sebuah hipermarket biasanya terletak di pinggiran kota, agar tidak mematikan
toko-toko yang lebih kecil. Di Indonesia, menurut peraturan pemerintah, pasar modern
dapat berdiri di semua Ibukota Provinsi dan Ibukota Kabupaten/Kota yang
perkembangan kota dan ekonominya dianggap sangat pesat. Di kota-kota penyangga
Ibukota Jakarta, yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, berbagai hipermarket telah
membuka gerainya. Beberapa hipermarket di Indonesia adalah: Carrefour, Giant
Hypermarket, Hypermart, dan Makro.
67
yang semakin beragam, digiring dalam dunia karnaval tanda, jutaan pesan-
pesan. Hipermarket menciptakan semacam penyeragaman budaya ketimbang
penganekaragaman budaya. Meskipun bentuknya beraneka ragam, namun
dimuati dengan gagasan dan ideologi kebudayan yang sama, sebuah neo-
imperialisme kebudayaan yaitu McDonaldinasi.
Bukan hanya produsen yang berlomba-lomba mencari mangsa pasar baru
untuk mengkloning kapitalnya, tetapi juga konsumen yang di setting untuk
selalu mengkonsumsi sampai pada titik terjauh. Kebutuhan sekarang bukan
melulu primer, skunder dan tersier, tetapi melampaui kebutuhan alami
tersebut yang lebih mirip hasrat dan libido yang entah sampai dimana tapal
batasnya, selalu menjadi link terhadap kebutuhan yang lain, yang baru dan
seterusnya tanpa henti.
Bila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi yang terjadi
kemudian adalah chaos, kepanikan akan ketinggalan zaman, ketinggalan
tren mode, kerugian kapital dan sebagainya. Kegiatan tersebut kemudian
menjadi ekstasi, kemabukan dan kegilaan terhadap konsumsi, produksi, tren,
gaya, modal ataupun kapital. Konsumsi sebagai satu proses menghabiskan
atau mentransformasikan nilai-nilai yang tersimpan dalam sebuah objek.
Konsumsi dapat dipandang sebagai proses menggunakan atau
mendekontruksi tanda-tanda yang terkandung dalam objek-objek para
konsumer dalam rangka menandai relasi-relasi sosial (status, prestise dan
simbol-simbol pemakainya).
Konsumsi dapat juga dipandang sebagai fenomena bawah sadar
(unconscious) psikoanalis, dimana konsumsi sebagai proses produksi hasrat
dan reproduksi pengalaman bawah sadar yang bersifat primordial. Konsumsi
adalah substitusi atau pengganti dari kesenangan yang hilang tersebut.
Kehidupan masyarakat konsumer hampir seluruh energinya dipusatkan
bagi pelayanan hawa nafsu45, nafsu kebendaan, kekuasaan, seksual,
45 Di dalam psikoanalisis Lacan, konsep kebutuhan (need) dibedakan dengan konsep
nafsu (desire). Kebutuhan adalah energi murni organik (seperti dorongan makan secara
organis), sedangkan nafsu (desire) adalah energi aktif yang berkaitan dengan proses
psikis (seperti dorongan seksual). Nafsu adalah kekuatan pendorong aparatus psikis,
yang diarahkan sesuai dengan persepsi tentang sesuatu yang menyenangkan dan
sesuatu yang tak menyenangkan, yang tak dimiliki oleh kebutuhan. Nafsu kemudian
dikuasai atau diambil alih oleh demand yang darinya nafsu lahir dalam intensitas yang
baru, oleh karena tidak ada permintaan yang dapat memenuhi nafsu tersebut. Bila
demand dapat dipenuhi oleh objek-objek, tidak demikian dengan nafsu. Sebab, nafsu
selalu menginginkan sesuatu yang berbeda dari objek yang ditawarkan. Semua objek
nafsu sang subjek akan selalu merupakan sesuatu yang mengingatkan akan
pengalaman pertama mengalami kenikmatan kebersatuan dengan ibu, akan panorama
yang selalu hidup dan selalu muncul kembali setiap waktu melalui berbagai bentuk
asosiatif, dan bentuk-bentuk asosiatif ini menjadi lebih kompleks dan lebih subtil lewat
68
perjalanan waktu, dalam pengalaman hidup. Fantasi adalah satu bentuk pemenuhan
halusinatif. Libido yang berontak tidak pernah berhenti menggelora setelah
terpenuhinya kepuasan secara lengkap, dan kepuasan ini tidak akan pernah
terpenuhi, oleh karena itu ia selalu mengacu pada kepuasan pertama: kebersatuan
dengan ibu. Tidak ada yang dapat mengakhiri kondisi gejolak ini. Adalah perbedaan
antara kepuasan yang diperoleh dan kepuasan yang dicari yang menjadikan kekuatan
pendorong ini bersifat permanen. Teori hawa nafsu dan kebutuhan dalam pemikiran
Lacan bertumpu pada tiga unsur utama, yaitu: real (real), imajiner (imaginary) dan
simbolik (symbolic). Di dalam teori Lacan, keharusan pemenuhan kebutuhan manusia,
meskipun ketidakmungkinan pemenuhan yang menyeluruh, menimbulkan akibat
bahwa subjek pada akhirnya dibentuk melalui pengorganisasian ideologi hawa nafsu
dan kebutuhan. Di sini, fungsi ideology adalah menambatkan image kebahagiaan atau
kepuasan dalam suatu kerangka dialektika harapan (expectation) dan pemenuhan
(satisfaction). Ideologi berfungsi menutup jurang antara harapan dan pemenuhan. Ia
menjembatani antara kebutuhan ideal (imajiner) dan realitas kebutuhan (real) dengan
menciptakan dunia tanda-tanda (symbolic). Misalnya, secara real (secara organis) orang
membutuhkan makanan, akan tetapi libido memuati kebutuhan organis tersebut
dengan image atau asosiasi kebutuhan yang lebih mendasar yang berkaitan dengan
kenikmatan kebersatuan dengan ibu (imajiner). Untuk mendekatkan realitas tersebut
dengan imajiner, ideologi ekonomi menciptakan substitusi-substitusi berupa berbagai
gaya, estetika, ritual, gaya hidup, prestise di balik makanan, sehingga orang secara
sementara mendapatkan substitusi kepuasan. Lacan pun mengidentifikasi bahwa
balita mulai umur lebih kurang dua bulan mengalami suatu fase perkembangan psikis
yang disebutnya fase cermin ( mirror phase ). Di dalam fase tersebut balita mengenali
dirinya sendiri pertama kali dalam cermin. Apa yang ia lihat dalam cermin, menurut
Lacan, bukanlah dirinya sendiri sebagaimana yang ia rasakan, akan tetapi representasi
ideal yang direkonstruksinya melalui suatu mekanisme imaginary yang disebut ego-
ideal, yaitu suatu mekanisme psikologis yang memampukan balita menilai dirinya
sendiri sebagai objek dan subjek sekaligus, sehingga ia menjadi satu bentuk
representasi. Akan tetapi, dalam mekanisme imajiner ini, terdapat mekanisme imaji-
diri lain yang kerap dikatakan bersifat represif, yaitu yang disebut dengan mekanisme
ego-super, yang fungsinya menerima dan mencerna image di luar diri, berupa
representasi versi-versi hukum, aturan, konvensi, adat, tabu, dan lain-lain yang
diidentifikasikan dengan dirinya sendiri, yang di dalam psikoanalisis disimbolkan oleh
simbol Bapak (Father). Super ego, dalam hal ini, merupakan suatu mekanisme dalam
mengkaitkan dan menyesuaikan image diri kita dengan mekanisme hukum, aturan
dan adat atau tabu dalam suatu sistem kemasyarakatan, serta sintak, dan tata bahasa
dalam sistem bahasa. Hádala mekanisme imajiner inilah yang memungkinkan
seseorang dapat masuk ke dalam satu sistem sosial dan sistem komunikasi atau
simbolik, yaitu melalui pemahaman dan penghayatan akan aturan-aturan main yang
ada dan berlaku dalam sistem sosial dan sistem komunikasi tersebut. Kenyataan
keberpisahan yang tidak bisa ditolak, menurut Christopher Lasch, hanya dapat
ditanggungkan oleh manusia oleh karena dunia objek ciptaan manusia serta
kebudayaan manusia itu sendiri dapat menghibur—oleh karena objek-objek tersebut
selalu mengingatkan perasaan kebersatuan primer ini dengan cara-cara baru. Apa
yang disebut Lasch objek-objek peralihan—selimut, boneka, beruang panda, dan
barang mainan lainnya adalah barang-barang yang memberikan anak-anak kepuasan
libido dan menjadi substitusi bagi susu ibu. Objek-objek ini merepresentasikan transisi
sang bayi dari keadaan bersatu dengan ibu menuju keadaan relasi dengan ibu sebagai
sesuatu yang diluar dan terpisah—peralihan dari subjek menjadi objek. Namun ketika
dunia objek-objek semacam itu mulai kehilangan realitasnya, perasaan ketakutan
akan keberpisahan di dalam setiap individu masyarakat akan semakin menjadi-jadi.
Akibatnya, kebutuhan akan ilusi atau halusinasi sebagai pengisi kekosongan tersebut
semakin besar.
69
ketenaran, popularitas, kecantikan, kebugaran, keindahan, kesenangan,
sementara hanya menyisakan sedikit ruang bagi penajaman hati,
kebijaksanaan, kesalehan dan pencerahan spiritual.
Ekonomi kapitalis merupakan ekonomi bujuk rayu atau ekstasi ekonomi,
ekonomi ekstasi adalah sebuah sistem ekonomi dan kehidupan pada
umumnya yang melepaskan diri dari kriteria struktural oposisi biner moral/
amoral, baik/ buruk, nilai guna/ nilai tukar, yang disebut juga ekonomi libido
yang memanfaatkan potensi kesenangan dan gairah yang tersimpan dalam
diri tanpa takut akan tabu dan adat, gunakan dan pertontonkan sebebas-
bebasnya keindahan penampilan, kepribadian, wajah, dan tubuh untuk
membangkitkan gairah perputaran modal. Uang dengan cepat kehilangan
maknanya sebagai sistem ukuran bagi produksi dan nilai di dunia nyata.
Dimanipulasi oleh para politisi dan bank sentral, dan kini dipercepat oleh
tranfer dana elektronik (….) Uang kini semakin tidak bersentuhan dengan
realitas. Wajah perekonomian global telah berkembang menjadi lebih
bersifat virtual yang semu bagai fatamorgana, menginfeksi dan menjalar
bagai virus dan mengapung berputar secara global bagaikan mengikuti
sebuah orbit. Valuta asing, bursa saham, transfer dana, credit card, dan ATM
telah merubah model uang konvensional, sistem ekonomi digiring pada
sentralistik narasi agung kapitalisme.
Teori-teori ketergantungan yang dikembangkan Frank, Cardoso, maupun
Dos Santos seolah-olah tenggelam di dalam ekstasi liberalisasi ekonomi
dunia serta virus kapitalisme yang menjalar secara global. Utang luar negeri
menjadi layaknya satelit bumi, menjadi sekumpulan kapital mengapung,
yang tak henti-hentinya mengelilingi dan mengancam ekonomi real,
pertumbuhan real. Dibawah bayang-bayang orbit utang mengapung ini
sebuah pertumbuhan ekonomi berlangsung dengan seolah-olah utang itu
tidak ada.
7.3 Virus Materialisme
Masyarakat sekarang ini dijangkiti oleh virus materialisme,
konsumerisme dan hedonisme yang tentunya secara tidak sadar untuk
mensuport kapitalisme. Michel Foucault menuliskan bahwa masyarakat
konsumer yang dihasilkan melalui wacana kapitalisme tidak lagi sekadar
terbangun atas dasar relasi objek dan subjek, akan tetapi yang lebih penting
70
adalah diferensi. Yaitu perubahan konstan pada produk, penampakan, gaya
dan gaya hidup.
Dalam wacana kapitalisme, memang berkembang kebutuhan untuk
memperpendek daur hidup dari produk dan gaya. Hal ini terutama
dikembangkan oleh para produsen yang bertindak atas dasar ideologi
masyarakat konsumer, yang senantiasa berada pada mata rantai produksi-
konsumsi.
Oleh karena itu, atas nama pertumbuhan kapital diciptakanlah berbagai
instrumen konsumsi yang direpresentasikan melalui media massa, iklan,
perabot rumah tangga, industri fashion, industri hiburan, seks, olah raga,
sampo anjing, dsb., melalui mekanisme industri yang memanfaatkan estetika
sebagai salah satu instrumen mutakhirnya. Kesemuanya lalu diserap secara
brutal dan membabi buta oleh pasar (massa), yang pada akhirnya tentu saja
menjadi jaminan sukses bagi kelompok pemilik modal.
Analisa ekonomi politik tidak lagi menanamkan landasan diskursusnya
pada prinsip-prinsip ekonomi atau politik sebagaimana yang dibayangkan
Marx ketika menganalisis ekonomi politik kapitalis. Sebab ekonomi global
saat ini berjalan berdasarkan logikanya sendiri, yaitu logika pasar, logika
libido, logika simulasi. Wacana ekonomi global dilandasi oleh logika
permainan (spekulasi).
Kapitalisme membangun dan menciptakan model-model hasrat, dan
keberlangsungannya sangat bergantung pada keberhasilan menanamkan
model-medel ini pada masa yang dieksploitasi. Dengan begitu kapitalisme
disebut juga sistem ekonomi libido (libidonomics). Kapitalisme global tidak
lagi berkaitan dengan ekspansi kapital, teritorial, dan pasar namun lebih
berkaitan dengan ekspansi arus libido dan perkembangbiakan getaran
nafsu.
Ekonomi tidak lagi sekedar berkaitan dengan kegiatan pensdistribusian
barang-barang hasil produksi dalam satu arena pertukaran ekonomi akan
tetapi berkaitan dengan produksi, distribusi, pertukaran, transaksi dan
konsumsi apapun termasuk pengetahuan, pendidikan, moralitas, etiket,
tubuh, wajah, kegairahan, ekstasi. Libidonomics yaitu pendistribusian
rangsangan, rayuan, godaan, kesenangan, kegairahan atau hawa nafsu dalam
satu arena pertukaran ekonomi.
Ekonomi kini berada dalam arena seksual, di dalam politik, di dalam
komunikasi. Sebaliknya, seksual, politik, komunikasi, pendidikan berada di
dalam jagad ekonomi. Ditengah keserakahan, arogansi, egoisme, dan
monopolisme kapitalis, Rich DeVos menawarkan model kapitalisme dengan
kepedulian sosial. Ia menggali dari pemikiran Adam Smith bahwa walaupun
71
manusia diatur oleh hawa nafsu energi libido, namun mereka juga memiliki
kemampuan penalaran atas rasa belas kasih.
Adam Smith menganjurkan persaingan bebas, sebab persaingan bebaslah
yang membuat kapitalisme berjalan. Laissez faire “biarkan orang bertindak
sendiri” mencari keuntungan, mengumpulkan kekayaan, kepemilikan
pribadi, kesuksesan usaha, dan pada akhirnya kemakmuran bangsa.
Namun, setiap orang harus menjaga keseimbangan antara kepentingan
pribadi dengan panggilan hati nurani akan kebaikan dan perbuatan mulia.
Tetapi semua itu hanya idealisme yang utopis karena kapitalisme global saat
ini telah terperangkap oleh kecepatan operasionalnya sendiri. Persaingan
bebas dianjurkan dengan didomplengi cara-cara bebas pula, segala strategi,
taktik dan semua trik persaingan, lewat iklan, bujuk rayu, iming-iming,
erotisme, komodifikasi tubuh yang telah meluluhkan nurani, moral dan
sosial.
Apapun dijadikan komoditi mulai kepribadian, kebugaran, penampilan,
tubuh, wajah, kaki, tenaga dalam, jin, ramalan, skandal, gosip, isu, bencana
alam, perang, bahkan kematian.
Kebutuhan sekarang ini adalah selalu sesuatu yang dirasa kurang dalam
dirinya atau sesuatu yang hilang. Nafsu kapitalisme bertujuan memproduksi
tanpa henti rasa kurang dalam skala besar, sementara dimana-mana terdapat
kelimpah ruahan, memproduksi tanpa henti hawa nafsu, sementara dimana-
mana terjadi pengumbaran total hawa nafsu. Kata-kata sering diucapkan
”Hemat Energi”46 tidak bisa lepas dengan lawan katanya, yakni hidup boros.
46 Berhemat energi bukan cuma anjuran lebih sering mematikan lampu, televisi,
pemutar kaset dan CD, membatasi pendingin udara, dan pergi berkendaraan untuk hal
yang perlu saja. Tak sadar kita, dalam hidup berbangsa, energi kita sering banyak
terbuang percuma untuk urusan yang tidak penting. Dalam hukum kekekalan tenaga,
tak ada energi yang hilang. Tapi energi yang kita buang sering hilang tak tampak
sebagai sebuah karya. Makan berlebihan padahal sudah kenyang, pemborosan energi
juga. Masih doyan korupsi padahal sudah kelimpahan butuh energi lebih banyak
karena dalam kehidupan rohani dihantui rasa bersalah terus. Ketika kita masih berada
di tengah krisis, kita perlu berhemat pula dalam berpikir, bertingkah laku, beremosi,
dan memakai otot. Semua itu memerlukan energi. Selain hemat listrik, kantor perlu
ditata letak agar pekerjanya efisien menggunakan otot. Kantor perlu memilih perangkat
ergonomis agar tubuh tidak lekas letih, masih bugar, bisa berkarya di rumah. Dengan
begitu, dari energi yang sama, memberi lebih banyak karya. Kita perlu bijak kepada
hidup. Onasis pernah berujar, "Berikan kepada hidup sepadan dengan apa yang hidup
sudah berikan buat kita." Di situ barangkali letak nilai kepantasan dalam bersikap.
Pemborosan jiwa raga namanya kalau penghasilan dihabiskan hanya oleh yang bukan
prioritas dalam hidup. Belum kita hitung berapa ongkos energi kita terbuang percuma
berjam-jam di lalu lintas macet, jalanan rusak, leletnya layanan publik, buruknya
transportasi, korban musibah yang sesungguhnya terantisipasi, berobat untuk
penyakit yang sebetulnya tak perlu terjadi, sidang dan rapat yang tidak ditindaklanjuti,
dan obrolan ngalor-ngidul pada jam kerja. Rasanya bangsa kita perlu patuh pula pada
hukum kekekalan energi. Orang Amerika makan kira-kira sama dengan porsi makan
72
Ajakan untuk hemat energi secara nasional ini menandakan betapa borosnya
hidup kita selama ini.
Boros diartikan sebagai volume konsumsi yang melebihi kebutuhan yang
sebenarnya. Katakanlah tidak adanya keseimbangan antara produksi dan
konsumsi.
Upaya penerapan UU LH Nomor 23/1997 dimaksudkan sebagai upaya
menjalankan mekanisme pengaturan pengelolaan lingkungan hidup secara
lebih baik. Suatu kenyataan bahwa upaya pengelolaan lingkungan hidup
selama ini masih mengabaikan kepentingan keseimbangan ekosistem dan
kepentingan rakyat.
Meski upaya mengakomodir kepentingan di atas telah tersirat dan tersurat
di dalam perudang-undangan, namun kiranya belum memiliki semangat
pembelaan terhadap perjuangan keseimbangan ekologi dan belum memiliki
semangat keberpihakan kepada rakyat. Ini terbukti dengan berbagai
eksploitasi sumber daya alam dengan tidak mengindahkan kaidah capital
stock, biaya deplesi dan alas hak masyarakat setempat, pembuangan limbah
industri tanpa memperhitungkan tarif atau kompensasi berbagai social cost
yang timbul, perhitungan kelayakan pengembangan industri hanya
didasarkan aspek ekonomis dan teknis semata sementara aspek ekologis dan
sosial cenderung diperlakukan sebatas proforma.
Hal ini terkait pula dengan kebijakan negara untuk menciptakan energi
bersih yang nyata-nyata menjadi tuntutan transportasi dan industri lainnya.
Namun kenyataannya, kebijakan yang diambil masih menegasikan
keberlanjutan ekologi dengan mempertahankan produksi energi yang tidak
bersih khususnya bensin bertimbal.
Secara makro ekonomi, penerapan kebijakan konversi energi bersih
dimaksudkan untuk menciptakan efisiensi melalui penurunan social cost dan
restrukturisasi biaya produksi energi. Penurunan social cost ditempuh
dengan konversi komponen material produksi – additif – yang ramah
lingkungan hidup, aman terhadap manusia dan tidak menimbulkan polutan
yang beracun. Ramah lingkungan hidup dalam arti bahwa material energi
dan sisa buangan hasil pembakaran tidak menimbulkan ketidakseimbangan
ekologi baik lokal seperti polusi udara, maupun global seperti efek rumah
kaca.
Apabila syarat jaminan keseimbangan ekologi ini tidak dapat dipenuhi,
tentu akan berakibat buruk terhadap kehidupan sekitar seperti menyusutnya
populasi pepohonan yang secara sistematis berarti menyusutnya pula
kita. Energi untuk aktivitas fisik harian mereka juga hampir sama. Tapi, kalau mereka
lebih banyak berkarya, tentu ada yang salah pada cara kita mengelola hidup.
73
populasi satwa. Kondisi menyusutnya flora dan fauna ini tentu berakibat
buruk pada manusia yang mana flora memiliki kapabilitas dalam
menciptakan udara bersih. Sementara menyusutnya satwa, akan
mempengaruhi keseimbangan rantai makanan yang secara biologis dapat
menciptakan merebaknya jenis predator tertentu. Apabila ini terjadi, kiranya
suatu bukti bahwa tidak lagi terjaga sistem keseimbangan ekologi.
7.4 Material Konsumer
Sudah saatnya material konsumer merupakan material hasil produksi
massal yang digunakan untuk keperluan sehari-hari mengandung senyawa-
senyawa berbahaya material tradisional dengan senyawa baru yang lebih
aman - mengurangi beban lingkungan dari senyawa itu dan material bebas
senyawa berbahaya. Plastik kemasan dibuat lebih "ramah" dengan
menggantikan unsur klor (Cl) di dalam rantai polimernya. Klor adalah unsur
utama pembentuk dioxin (polychlorinated dibenzo dioxins, PCDD) yang
termasuk golongan endocrine disruptor. Salah satu senyawa organik beracun
yang bisa mengakibatkan kegagalan fungsi hormonal pada tubuh manusia.
Pembentukannya tidak serta-merta terjadi. Pemicunya adalah jika plastik
yang mengandung klor itu terbakar pada temperatur sekitar 200-400 derajat
celsius. Menciptakan plastik bebas klor adalah lahan garapan peneliti di
bidang ini. Timbal termasuk pula unsur yang tidak dinginkan keberadaannya
bagi eco-materials. Saat ini berbagai jenis suku cadang alat mesin logam
masih banyak mengandung timbal (Pb). Timbal dalam paduan logam
berfungsi sebagai pelumas untuk meningkatkan keakurasian pemotongan
dan permesinan. Ini karena timbal relatif lunak dibandingkan dengan logam
lain, semisal kuningan (paduan Cu-Zn).
Pendekatan yang dilakukan adalah menggantikan timbal dengan unsur
lain atau dengan rekayasa tertentu sehingga mekanisme pelumasan dan
tingkat keakurasian permesinan dapat dipertahankan tanpa harus
membahayakan lingkungan. Material konstruksi termasuk dalam kelompok
material komoditas. Penggunaannya mencakup jumlah besar dengan dampak
terhadap lingkungan juga tinggi. Pada kelompok ini jurus yang diberikan
adalah membuat material itu berdampak lingkungan rendah dan memiliki
kemampuan daur ulang yang tinggi.
Eco-cement adalah salah satu contoh kelompok ini. Eco-cement adalah
semen yang diproduksi dengan memanfaatkan abu terbang limbah tungku
pembakaran (incinerator) sampah kota sebagai bahan baku selain batu kapur
(limestone). Karakteristik abu terbang ini memiliki kandungan klor yang
tinggi, yaitu logam berat seperti air raksa (Hg), timbal (Pb), tembaga (Cu),
74
seng (Zn), dan senyawa organik beracun, dioxin. Bahan bakarnya pun
memanfaatkan limbah pengilangan minyak bumi di samping limbah plastik,
termasuk PVC. Kadar klor yang tinggi pada abu terbang dinetralisasi dengan
penambahan senyawa alkali seperti NaOH.
Logam berat diekstraksi ulang sehingga bisa menjadi bahan baku industri
logam. Adapun dioxin akan terurai karena proses pembakaran di atas 1.300
derajat celsius. Pemanfaatan abu terbang ini menghemat pemakaian batu
kapur sampai 25 persen dibandingkan dengan produksi semen portland
biasa, di samping menekan pembuangan dan penimbunan limbah abu
terbang hasil pembakaran sampah kota.
Emisi karbon dioksida (CO2) dapat direduksi hingga 50 persen dengan
konsumsi energi ditekan lebih dari 80 persen. Dari 1 ton eco-cement yang
dihasilkan, 250 kg bahan bakunya berasal dari limbah. Pendekatan ini
memberikan alternatif solusi penanganan sampah masyarakat di kota besar
secara terpadu. Suatu hal yang layak dipertimbangkan bagi kota besar seperti
Jakarta memproduksi sampah hingga 6 500 ton per hari. Melalui
optimalisasi teknologi dan infrastruktur dalam menciptakan hidup sehat dan
harmonis dengan alam.
Keramahan material diukur tidak saja kepada manusia penggunanya,
tetapi juga alam. Pemakaian baja lembaran kekuatan tinggi menjadikan
"bodi" mobil-mobil keluaran tahun terakhir lebih ringan dan mampu
meredam benturan lebih baik. Baja lembaran konvensional umumnya hanya
mengandung fasa tunggal ferit (paduan Fe dan 0,02 persen karbon). Adapun
baja lembaran berkekuatan tinggi memiliki fasa ganda yang terdiri dari ferit
dan martensit. Rekayasa struktur mikro dan fasa paduan baja berperan
penting di situ. Melalui perlakuan panas dan mekanik tertentu, sebagian fasa
ferit dapat diubah menjadi fasa martensit yang lebih keras dan kuat.
Kekuatan baja lembaran ini meningkat sekitar 2 kali. Adapun ketebalan
"bodi" kendaraan bisa dikurangi hingga 4 persen. Pengurangan berat
kendaraan itu setara dengan pengurangan emisi CO2) sebesar 1,2 ton.
Karena tak ada lagi kolong yang aman untuk penduduk Jakarta. Setiap
saat petaka mengintip. Penyebabnya tiada lain adalah sekitar 3,5 juta knalpot
kendaraan bermotor yang setiap harinya memacetkan jalanan di Jakarta
(Kegiatan pembangunan dalam sektor perhubungan misalnya, menunjukkan
adanya proses percepatan, yang ditandai dengan meningkatnya jumlah
kendaraan bermotor di Indonesia saat ini yang diperkirakan mencapai2
2.818.305 (mobil penumpang) dan 1.609.440 (mobil beban), 633.368 (bus)
dan 12.877.527 (speda motor) dan ini terus bertambah seiring dengan
tingkat kebutuhan pada sektor ekonomi namun mengalami stagnan semenjak
75
Januari 1998. Pertambahan jumlah kendaraan yang pesat ini)47. Lebih
parah lagi, 63% kendaraan yang beroperasi itu termasuk jenis ‘penebar
maut’, yang knalpotnya membuang 600 ton polutan timbal per tahun.
Kelompok masyarakat yang paling rentan, tentu saja para pekerja informal
yang setiap harinya mengais penghidupan di jalanan. Sebut saja tukang
asong, pedagang kaki lima, pengamen, pengemudi bajaj, bus kota, mikrolet
dan metro-mini.
Kelompok masyarakat inilah yang setiap harinya “bercumbu rayu”
dengan zat-zat maut yang disemprotkan kendaraan yang lalu lalang di
sekitarnya. Timbal adalah neurotoksin – racun penyerang syaraf – yang
bersifat akumulatif dan dapat merusak pertumbuhan otak pada anak-anak.
Studi mengungkapkan bahwa dampak timbal sangat berbahaya pada anak-
anak karena berpotensi menurunkan tingkat kecerdasan (IQ). Selain itu,
timbal (Pb) sebagai salah satu komponen polutan udara mempunyai efek
toksit yang luas pada manusia dan hewan dengan mengganggu fungsi ginjal,
saluran pencernaan, sistem saraf pada remaja, menurunkan fertilitas,
menurunkan jumlah spermatozoa dan meningkatkan spermatozoa abnormal
serta aborsi spontan. Timbal masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan
(85%) , pencernaan (14 %), kulit (1%), setelah seseorang tersebut berada
dalam udara yang tercemar timbal. Setiap paparan udara yang tercemar
3
timbal sebesar 1 μg/m berpeluang menyumbangkan 2.5 – 5.3 μg/dl timbal
pada darah seseorang yang berada di tempat tersebut. Sementara hasil
pemantauan kadar timbal di udara untuk daerah pemukiman di Jakarta
3
selama kurun waktu 1994-1998 menunjukkan kisaran 0,2 – 1,8 μg/m . Ini
berarti keadaan udara di Jakarta sudah pada tingkat yang cukup
membahayakan, mengingat telah melampaui angka di atas, lagi pula
perkembangan terakhir menyebutkan bahwa tidak ada ambang batas bagi
pencemaran timbal karena sifatnya yang akumulatif. Ketika akumulasi
timbal dalam darah seorang anak mencapai 10 μg/dl maka dapat terjadi
penurunan IQ sebesar kurang lebih 2.5 point.
Apabila hal tersebut terjadi pada orang dewasa, maka efek yang timbul
adalah gejala berbagai sakit dan penyakit sebagaimana di sebutkan di atas.
Meningkatnya penderita sakit/penyakit di kalangan masyarakat akan
membawa dampak menurunnya produktifitas kerja di satu sisi dan
meningkatnya pengeluaran untuk tujuan biaya pengobatan di sisi lain.
Menurunnya produktivitas kerja ini akan mendorong menurunnya tabungan
masyarakat sementara meningkatnya biaya pengobatan yang berarti
47Direktorat Lalu Lintas, Markas Besar Kepolisian RI, Juni 1999 – data tidak termasuk
kendaraan TNI/Polri dan Corp Diplomat.
76
meningkatnya pengeluaran rumah tangga menyebabkan berkurangnya
potensi konsumsi atas barang/jasa lain.48
Data tahun 2003 populasi kendaraan bermotor di Jakarta sekitar 4,1 juta,
yang mana 1,2 juta di antaranya adalah mobil pribadi. Bisa dibayangkan
penurunan kadar emisi CO2) jika baja lembaran kekuatan tinggi digunakan
pada mobil-mobil di Jakarta. Satu lagi tantangan bagi para ilmuwan
metalurgi dan material Indonesia. Dengan demikian, eco-materials memiliki
prospek yang sangat menantang, baik dari sisi penelitian dan pengembangan
maupun bisnis.
Kalau kita sadar, ini merupakan dampak terhadap mentalitas hidup boros
ini didorong oleh apa yang namanya arus konsumerisme. Dunia tempat kita
berpijak sekarang didominasi dorongan untuk mengkonsumsi. Memang,
konsumsi adalah sebuah kebutuhan manusia demi kelangsungan hidupnya.
Tapi, pada zaman ini konsumsi menjadi kebutuhan yang menggila. Orang
merasa belum hidup kalau belum mengkonsumsi. Jean Baudrillard
mengganggap masyarakat penghobi konsumsi ini sebagai masyarakat
konsumer (consumer society). Masyarakat yang memperlakukan praktik
konsumsi sebagai bagian utama hidupnya. Mengkonsumsi memang lumrah.
Sekarang ini, dunia menawarkan beragam kebutuhan baru agar orang
menkonsumsinya. Konsumerisme sebagai anak kandung kapitalisme telah
merangsek sampai ke jantung masyarakat. Konsumerisme berhasil
menciptakan kebutuhan baru di masyarakat. Pada kondisi ini, orang
mengkonsumsi barang bukan lantaran butuh secara fungsional, melainkan
karena tuntutan prestige (gengsi), status, maupun sekadar gaya hidup (life
style).
Ambil contoh, seorang yang sudah membeli mobil mewah bukan lantaran
memenuhi kebutuhan fungsional akan alat transportasi, melainkan karena
alasan status. Toh, di garasi rumahnya sudah terparkir dua unit mobil yang
tak kalah mewahnya.
Melalui iklan baik yang terang-terangan maupun iklan terselubung,
masyarakat disuguhi beragam produk baru. Lewat majalah maupun televisi,
kita disuguhi tiada henti beragam iklan yang akhirnya memaksa kita untuk
mengkonsumi produk yang diiklankan itu. Bahasa iklan begitu membujuk
dan membutakan mata kesadaran kita.
Sementara itu, pusat-pusat pembelanjaan seperti mal, hipermarket,
semakin merebak di berbagai kota. Hidup kita telah dikepung oleh pusat-
48Seruan Kebijakan Energi bersih Melalui Penghapusan Bensin Bertimbal (Pb) KPBB -
K o m i t e P e n g h a p u s a n B e n s i n B e r t i m b a l - Joint Committee For
Leaded Gasoline Phase – Out.
77
pusat belanja itu dari berbagai arah. Di tengah ajakan untuk hemat energi,
supermarket maupun hipermarket tidak juga sepi dari pengunjung. Orang-
orang masih berjejal untuk memuaskan hasrat konsumsi mereka. Ditambah
dengan iming-iming dari market melalui pemberian diskon atau pun fasilitas
kredit. Orang berebut membeli produk yang ditawarkan meskipun sadar
kocek dan kondisi ekonomi tidak proporsional.
Budaya konsumtif ini pun melekat erat di kehidupan remaja sekarang.
Ada komentar, majalah-majalah remaja sekarang pun sama saja seperti
etalase toko. Isinya lebih banyak memamerkan produk-produk untuk dijual.
Kalangan yang katanya masih dalam pencarian jatidiri ini menjadi sasaran
empuk dari pasar. Pasar menawarkan gaya hidup dan tren tertentu pada
remaja. Untuk memenuhi gaya hidup itu, remaja didorong mengkonsumsi
produk-produk yang ditawarkan. Mereka suka gonta-ganti merek, mudah
hanyut mengikuti tren. Kalau kita kritis, arus konsumerisme inilah yang
menyebabkan pola hidup boros.
Di kalangan remaja, dikenal istilah ‘borju’ yang diplesetkan menjadi
‘boros juajan.’ Kita terlalu tanpa daya di hadapan tawaran konsumsi itu.
Baudrillard menegaskan, kita tidak lagi mengontrol produk (objek), tetapi
kitalah yang dikontrol dan diatur oleh produk-produk tadi. Kita dihanyutkan
dalam ekstasi konsumsi dan gaya hidup dalam masyarakat konsumer.
Di dalam gelombang konsumerisme ini, Baudrillard menyebut orang-
orangnya sebagai ‘mayoritas diam,’ di mana masuk dalam jaringan laba-laba
yang menjaring dan mengkonsumsi apa pun yang ada di hadapan mereka
(Yasraf Amir Piliang, 1999). Masyarakat dibuat tidak berdaya. Apalagi,
pasar terus-menerus dan dengan cepat menawarkan produk-produk barunya.
Boleh dikata, hidup kita sedang dijajah oleh pasar.
Menurut Jacques Lacan kebutuhan adalah energi murni organik
sedangkan nafsu adalah energi aktif yang berkaitan dengan proses psikis
yang mengarahkan persepsi tentang kesenangan atau tidak menyenangkan,
maka tidak ada demand yang dapat memenuhi hawa nafsu. Nilai guna suatu
barang dalam pengertian juissance/ kenikmatan yang ditawarkan di dalam
nafsu kapitalisme yaitu kemampuan barang itu untuk dihubungkan dengan
mesin hawa nafsu di dalam pasar bebas yang menuntut pemuasan
selanjutnya yang tanpa akhir.
David McCleland menawarkan sebuah konsep need for Achievement
untuk masyarakat modern yang dapat menimbulkan dorongan diri, motivasi,
prestasi, kemajuan dan pertumbuhan ekonomi. Namun kini virus mental
tersebut justru mendorong kearah yang berlawanan, kearah konsumerisme,
ekstasi, komodifikasi dan hipermarket.
78
Sedangkan J. F. Lyotard mengemukakan bahwa di dalam analisis
ekonomi politik kapitalis mutakhir, apa yang tampak dari diskursus ekonomi
adalah pengaturan lalu lintas ekonomi lewat model mucikari yang
menghasilkan uang dari kegairahan. Demikianlah raut muka kehidupan
perekonomian global saat ini yaitu prinsip ekonomi pasar yang dibangun
oleh komoditi dan mekanisme pasar yang telah berkembang sedemikian rupa
secara berlebihan dan ekstrim, sehingga melampaui batasan komoditi dan
pasar itu sendiri (post ekonomi).
Dengan kata lain, konsumerisme juga berarti masyarakat ditipu untuk
mendapatkan image yang terbaik dalam lingkungan sosial bermasyarakat
dengan cara berbelanja. Konsumerisme juga berarti masyarakat dibuat
terhalusinasi bahwa tanpa belanja mereka tidak dapat bertahan hidup lebih
lama lagi.
79
Gerakan Konsumen Di Indonesia 8
_____________________________________________________
Meskipun jumlahnya besar dan kuat, tetapi tidak terorganisir sendiri,
karena kesadaran konsumen masih lemah. Membangun kesadaran konsumen
untuk berjuang ke arah sana bisa dimulai dari semangat persatuan dan
kesadaran berjuang dari para pahlawan di negeri ini dimasa lalu.
Dalam sejarah49 pergerakan kemerdekaan, hanya dengan kekuatan
”bambu runcing“ rakyat Indonesia berhasil mengusir penjajah. Jika rakyat
49 Sebagian orang menyatakan bahwa sejarah merupakan pergulatan antara
kemampuan mencipta dan batas-batas wajar. Orang kebanyakan mendukung situasi
yang sudah biasa bagi mereka, sedangkan orang jenius ingin mengganti situasi yang
ada dengan situasi yang lebih baik. Carlyle mengklaim bahwa sejarah diawali oleh
orang jenius dan pahlawan. Sesungguhnya teori ini didasarkan pada dua anggapan:
Pertama, masyarakat tidak memiliki karakter esensial dan personalitas. Individu-
individu yang membentuk masyarakat tidak melahirkan satu senyawa yang nyata.
Antara individu yang satu dan individu yang lainnya tak ada ketergantungan. Mereka
berbuat dan bereaksi, namun mereka tidak membentuk satu senyawa yang ada jiwa
kolektifnya sendiri, personalitas, karakter esensial dan hukum-hukum khasnya
sendiri. Mereka semua memiliki mentalitas dan pola berpikirnya sendiri-sendiri. Semua
individu ini sama hubungannya dengan masyarakat, seperti pepohonan dengan hutan.
Peristiwa sosial tak lain adalah total dari peristiwa individual. Karena itu masyarakat
terutama diatur oleh sebab-sebab universal dan umum. Kedua, manusia diciptakan
sedemikian rupa sehingga manusia yang satu dengan manusia lainnya ada perbedaan.
Meskipun pada umumnya manusia, menurut terminologi filosof, adalah binatang yang
berpikir, namun hampir semua manusia tak memiliki daya cipta dan kreativitas.
Kebanyakan manusia adalah konsumen budaya dan peradaban, bukan produsennya.
Dalam hal ini manusia beda dengan binatang hanya karena binatang tak dapat
menjadi konsumen budaya. Semangat mayoritas adalah semangat meniru, mengadopsi
begitu saja dan memuja pahlawan. Namun minoritas sangat kecil manusia adalah
pahlawan, orang jenius, pemikir hebat, yang bersemangat mencipta dan kreatif, dan
yang kuat kemauannya. Mereka beda dengan mayoritas. Kalau saja tak ada pahlawan
dan orang yang jenius di bidang ilmu pcngetahuan, filsafat, seni, politik, sosial, etika
dan teknik, tentu umat manusia tak akan melangkah maju dan tentu akan statis dan
kondisinya akan seperti pada awal eksistensinya. Dari sudut pandang kami. anggapan-
anggapan ini lemah. Mengenai anggapan pertama, ketika membahas masyarakat
sudah dibuktikan bahwa masyarakat ada personalitas, karakter esensial, hukum dan
normanya sendiri, dan semua kcjadian berlangsung menurut tradisi umumnva. Tradisi
ini sendiri progresif dan evolusioner. Karena itu harus dikesampingkan anggapan ini
dan kemudian dilihat apakah—meskipun fakta menunjukkan bahwa masyarakat ada
personalitas, karakter esensial dan tradisinya sendiri—personalitas individu dapat
berperan dalam peristiwa demi peristiwa. Masalah ini akan dibahas nanti. Mengenai
anggapan kedua, kendatipun tak dapat dinafikan bahwa manusia diciptakan
sedemikian rupaya sehingga manusia yang satu dengan manusia yang lain ada
perbedaannya, namun salah kalau mengatakan bahwa hanya pahlawan dan orang
jenius saja yang memiliki daya kreatif sedangkan yang lainnya konsumen budaya dan
peradaban. Sesungguhnya semua manusia kurang lebih memiliki kemampuan kreatif,
sehingga semua orang atau setidak-tidaknya kebanyakan dapat ikut dalam aktivitas
produktif dan kreatif, meskipun andil mereka tidak seberarti andil orang jenius.
Berbeda sekali dengan teori bahwa tokoh menciptakan sejarah, ada teori lain yang
80
bersatu, maka akan menghasilkan kekuatan. Kesatuan tersebut berhasil
digunakan untuk melawan penjajahan. Kesatuan ini tentunya tidak hanya
berlaku saat itu saja.
8.1 Produsen Identik Dengan Penjajah
Bila diilustrasikan penjajah itu adalah pihak yang bersikap tidak adil dan
sewenang-wenang, maka pihak produsen dan penyedia jasa serta pemerintah
yang bersikap tidak adil dan sewenang-wenang terhadap konsumen, dapat
dikategorikan sebagai penjajah. Sementara itu, penjajah hanya dapat dilawan
dengan persatuan. Persatuan yang masih hidup dalam pola kehidupan
masyarakat Indonesia inilah yang merupakan potensi besar untuk
menggalang kekuatan, dan harus dikonstruksikan sepanjang sejalan tepat
paradigmanya. Metode ”paradigma berkerumun“ jelas berbeda dengan
”paradigma berbaris“.
Paradigma berkerumun akan mudah bubar bila ada sumber gangguan
internal atau eksternal cukup kuat mempengaruhinya. Contoh khasnya
adalah fenomena misbar (gerimis bubar), saat nonton film layar tancap atau
hiburan lainnya ditengah lapang terbuka.
”Paradigma berbaris“ lebih mengarah pada keteraturan; dimana aturan
itu dapat menjaga barisan, arah bergerak barisan dapat berlangsung secara
rapi, dan tujuan dapat dicapai secara lebih sistematis. Persatuan ini akan
membuat rakyat Indonesia menjadi kuat dan berdaulat. Persatuan ini akan
mengalahkan penjajahan dan kewenangan. Ikhtiar tercapainya
pemberdayaan konsumen, konsumen pun harus memiliki sikap, antara lain,
memiliki rasa setia kawan, berani bertindak, memiliki kepedulian sosial dan
lingkungan, serta bersikap kritis.
menyatakan bahwa sejarahlah yang menciptakan tokoh. Dengan kata lain,
sesungguhnya kebutuhan sosial yang ada itulah yang menciptakan tokoh.
Montesquieu mengatakan, "Orang besar dan peristiwa penting merupakan tanda dan
akibat dari peristiwa yang lebih penting dan lebih besar." Hegel berkata, "Orang besar
tidak menciptakan sejarah, melainkan membidaninya." Orang besar merupakan
simbol, bukan penyebabnya. Menurut pemikiran orang-orang yang, seperti Durkheim,
percaya bahwa semangat kolektif merupakan hal pokoknya, dan bahwa individu-
individu seperti itu sama sekali tak memiliki personalitas dan mereka meminjam
personalitas mereka dari masyarakat, maka individu-individu seperti tokoh-tokoh
besar tak lain adalah perwujudan semangat kolektif masyarakat. Dalam kata-kata
Mahmud Syabistari, mereka adalah kasa jendela semangat kolektif. Dari sudut
pandang orang-orang yang seperti Marx menganggap persepsi individu sebagai
perwujudan kebutuhan material kolektif, tokoh tak lain hanyalah perwujudan
kebutuhan material dan ekonomi masyarakat.
81
8.2 Perubahan Tidak Datang Dari langit
Tidak ada perubahan yang datang dari langit begitu saja, semua itu ada
proses. Dulu Nicolaus Copernicus (1473 – 1543) dengan beraninya
menentang pandangan geosentris (berpusat pada bumi) dan memperkenalkan
pandangan barunya, heliosentris (berpusat pada matahari). Meski revolusi
Copernicus ini bermula dari perubahan paradigma di bidang astronomi,
Copernicus berhasil menanamkan benih cara berpikir yang lain daripada
masa-masa sebelumnya - kemudian diawali oleh masa Renaisance, diikuti
zaman Barok, Aufklarung, dan diakhiri zaman Romawi.50Berapa puluh ribu
tahun yang lalu, Homo Sapiens adalah suatu makhluk yang hidup dalam
kelompok-kelompok kecil, suatu masyarakat primitif (...) berproses
selanjutnya hingga sampai kepada kerajaan-kerajaan kuno – menghasil
produk kultural-hukum dari kerajaan-kerajaan seperti Mesopatamia kuno,
Mesir kuno, India, Cina dan Yunani-Romawi (...) Kemudian hasil dari
proses ini ialah berupa ilmu pengetahuan tentang hukum (...) hingga
sampailah kita pada perkembangan di negara-negara moderen sekarang
ini.51Begitu pula, kehidupan sosial manusia bukan saja mengalami
perkembangan dan perubahan, namun juga berangsur-angsur semakin cepat
dan kuat.
Sejarah lebih dari sekadar kronik, karena dalam sejarah terkandung pikiran
yang hidup dari dan tentang masa lampau. Dalam sejarah bukan saja
mencari kebenaran masa lalu “what the past is really like”, akan tetapi
berdasarkan itu memperbandingkannya dengan masa kini.
Persatuan adalah proses dan kekuatan, dengan demikian apabila
konsumen bersatu seperti para pejuang di masa lalu di negeri ini – maka
posisi tawar konsumen akan menjadi lebih tinggi. Posisi tawar tersebut
bukan hanya untuk advokasi ke pemerintah, tetapi juga dapat mendesak
pelaku usaha – misalnya – agar mengeluarkan produk yang aman bagi
kesehatan.
8.3 Perlu Dibangun Kelompok Konsumen Spesifik
Sehingga perlu dirintis dengan semangat idealis yang terorganisir yang
dibangun oleh kelompok-kelompok konsumen yang spesifik,52 seperti hal
50Darji Darmodiharjo & Shidarta, ”Pokok-Pokok Filsafat Hukum”, Jakarta: Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama, 1995. hlm.70.
51Adam Podgorecki & Christopher J. Whelan, ”Pendekatan Sosiologis Terhadap
Hukum”, Jakarta: Penerbit PT. Bina Aksara, 1987. hlm. 47-48.
52 Dalam era globalisasi pasar dan informasi dewasa ini, sulitlah membayangkan
adanya forum atau panggung komunikasi politis yang bebas dari pengaruh pasar
82
konsumen pangan, khusus mengkritisi permasalahan pangan dengan segala
aspek yang berkaitan dengannya, termasuk kemasan plastik. Kelompok ini
bisa menyerukan suatu gerakan pemboikotan suatu produk yang jelas-jelas
mengancam kesehatan, jika advokasi kepada pemerintah dianggap gagal
atau jalan lain telah buntu.
Atau kelompok konsumen telepon yang dapat mengorganisasi diri-nya
dalam kelompok-kelompok kecil dan selalu melakukan monitoring atas
pelayanan yang diberikan produsen telepon.
Pembentukan kelompok-kelompok kecil ini tidak harus difasilitasi
lembaga advokasi konsumen. Cukup dimulai dari lingkungan kecil di tingkat
RT, misalnya. Dari situ kelak akan terbentuk penguatan kelembagaan
masyarakat konsumen, sehingga jika kelak masyarakat konsumen ingin
melakukan class action atau gugatan kepada produsen yang aktif adalah
masyarakat sendiri, bukan lembaga-lembaga advokasi konsumen.
Atau juga konsumen peduli dengan persoalan air sebagaimana sudah
dilakukan lembaga Komparta – Indonesia misalnya, dengan program-
program strategisnya terus-menerus menyuarakan isu air dalam rangka
mengkritisi kebijakan kenaikan tarif air atau mengusulkan peninjauan ulang
(review) terhadap proyek swastanisasi air di Jakarta, dengan
mengembangkan sayap organisasinya keberbagai daerah, seperti Tangerang,
Bogor, Bekasi, Solo atau Bandung, disamping melakukan konsolidasi
ataupun negara. Kebanyakan seminar, diskusi publik, demonstrasi, dan seterusnya
didanai, difasilitasi, dan diformat oleh kekuatan finansial besar, entah kuasa bisnis,
partai, atau organisasi internasional dan seterusnya. Hampir tak ada lagi lokus yang
netral dari pengaruh ekonomi dan politik. Jika demikian, ruang publik politis harus
dimengerti secara "normatif": ruang itu berada tidak hanya di dalam forum resmi,
melainkan di mana saja warga negara bertemu dan berkumpul mendiskusikan tema
yang relevan untuk masyarakat secara bebas dari intervensi kekuatan-kekuatan di
luar pertemuan itu. Kita menemukan ruang publik politis, misalnya, dalam gerakan
protes, dalam aksi advokasi, dalam forum perjuangan hak-hak asasi manusia, dalam
perbincangan politis interaktif di televisi atau radio, dalam percakapan keprihatinan di
warung-warung, dan seterusnya. Berbeda tipe masyarakat yang homogenitas
perjuangan ”idealis” meskipun hanya relatif berukuran relatif kecil secara kondisional
obyektif yaitu melihat tidak dapat berfungsi secara memuaskan hanya dengan
mengandalkan kinerja para wakil rakyat. Membuahkan subjek kedaulatan rakyat
dalam masyarakat majemuk tidak boleh dibatasi pada aktor-aktor parlementer. Subjek
itu seharusnya adalah para aktor dalam ruang publik entah siapapun orangnya, dan
mereka adalah apa yang kita sebut masyarakat sipil. Mereka terdiri atas perkumpulan,
organisasi, dan gerakan yang terbentuk spontan untuk menyimak, memadatkan, dan
menyuarakan keras-keras ke dalam ruang publik politis problem sosial yang berasal
dari wilayah privat. Masyarakat sipil bukan hanya pelaku, melainkan juga penghasil
ruang publik politis. Seperti diteliti oleh J Cohen dan A Arato, ruang publik politis yang
dihasilkan para aktor masyarakat sipil itu dicirikan oleh "pluralitas" (seperti keluarga,
kelompok nonformal, dan organisasi sukarela), "publisitas" (seperti media massa dan
institusi budaya), "privasi" (seperti moral dan pengembangan diri), dan "legalitas"
(struktur hukum dan hak-hak dasar).
83
dengan menggalang aliansi strategis dengan kelompok lain 53 yang memiliki
platform (posisi dasar) yang sama dengan kepedulian terhadap isu air.54
Atau bisa juga gerakan kultural yang membangun isu-isu mengenai
rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pelestarian
lingkungan – kritik terhadap berbagai bentuk perilaku yang mencerminkan
ketidakpedulian terhadap lingkungan masih terus berlangsung dengan pelaku
yang makin variatif, tidak hanya sekelompok orang tertentu, tetapi meliputi
hampir semua kalangan, baik pada level individu rumah tangga, komunitas
kecil, atau mereka yang biasa disebut sebagai perambah hutan, maupun pada
level organisasi seperti perusahaan, bahkan pada level intelektual, seperti
cendekiawan yang melontarkan ide-ide pembangunan masa depan, tetapi
53 Selasa, 1/07/03 : 17.15 WIB, Soal Kenaikan Tarif PAM Jaya, Famred Dukung
Gugatan Komparta. Jakarta, CyberNews. Upaya Komunitas Pelanggan Air Minum
Jakarta (Komparta) melakukan gugatan class action terhadap Pemprov DKI Jakarta
dan PAM Jaya atas kenaikan tarif air minum sebesar 40-70% mendapat dukungan
elemen mahasiswa. Front Aksi Reformasi Mahasiswa dan Demokrasi (Famred) menilai
langkah Komparta layak ditiru."Semua pihak yang berkepentingan dengan nasib
pelanggan air minum dan peningkatan kualitas pelayanan PAM bisa mencontoh
langkah berani yang dilakukan Komparta," tandas Bimbi, juru bicara Famred, dalam
keterangan pers, Selasa (1/7). Dia juga menolak privatisasi atau swastanisasi air
minum. Sebab itu hanya akan menjadi "bom" waktu yang bisa bisa meledak kapan
saja, mengingat air merupakan hajat hidup semua orang, seperti halnya kenaikan
BBM, TDL dan telepon. "Air merupakan kebutuhan vital bagi masyarakat dan
merupakan elemen terpenting bagi kelangsungan kehidupan manusia, sudah
sewajarnya mendapatkan suatu proteksi yang harus memadai bagi kepentingan
pemenuhan kebutuhan mendasar masyarakat," katanya. Privatisasi air minum,
menurut Bimbi Tuankotta, menunjukkan pemerintahan rezim Megawati-Hamzah Haz
sudah tidak memiliki hati nurani dan kepekaan terhadap nasib rakyat banyak.
54Jakarta Pusat. Warga Demo Kenaikan Tarif Air Minum 06 November 2003. TEMPO
Interaktif, Jakarta: Puluhan demonstran gabungan dari berbagai LSM dan kelompok
masyarakat melakukan unjuk rasa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (6/11),
untuk menolak kenaikan tarif air minum. Pendemo berasal dari KOMPARTA
(Komunitas Pelanggan Air Minum Jakarta), FAMRED (Front Aksi Mahasiswa Reformasi
dan Demokrasi), FAM UNIJA (Front Aksi Mahasiswa Universitas Jakarta), SPR (Serikat
Pengacara Rakyat), MASPUMI (Masyarakat Peduli Usaha Mikro), KUTIP (Konsorsium
Untuk Transparansi Informasi Publik). Mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya dan
meneriakan kata-kata, "Hancurkan rezim penindas rakyat". Mereka juga membawa
spanduk yang bertuliskan "Tolak Privatisasi Air" dan "Pemda DKI dan DPRD Goblok".
Dalam pernyataannya, mereka menolak kenaikan tarif air minum yang telah diusulkan
oleh Gubernur DKI Jakarta kepada DPRD dalam memenuhi permintaan mitra asing,
sebelum dilakukannya transparansi hasil audit dari auditor independen. Kenaikan
harga tarif air dalam implementasinya dinilai tidak berorientasi kepada ukuran
kemampuan atau daya beli masyarakat sebagaimana tersurat di dalam klausula kerja
sama operasional (KSO). Selain itu, kerjasama operasional antara Pemda DKI dan PAM
Jaya dengan para investor asing untuk memenuhi kebutuhan warganya dinilai
terdapat banyak kejanggalan. Antara lain tidak melalui proses atau mekanisme untuk
memperoleh harga yang saling menguntungkan. Selain itu sejak kerja sama
operasional belum dipublikasikan secara transparan. Mereka juga menuntut
peningkatan dan perbaikan
84
tidak mengagendakan masalah lingkungan yang bisa disejajarkan dengan
masalah politik, ekonomi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia.
Mereka bisa membangun kesadaran pelestarian lingkungan merupakan
tanggung jawab bersama, tidak tertuju pada individu dan kelompok tertentu,
atau bahkan hanya tanggung jawab pemerintah. Mereka juga bisa menekan
pemerintah untuk perlu melakukan re-orientasi paradigma pembangunan
menjadi dasar pijakan pembangunan di banyak negara, yaitu paradigma
pembangunan berkelanjutan, yang dipercaya untuk menggantikan paradigma
lama misalnya paradigma pertumbuhan ekonomi dan paradigma yang
menekankan pemerataan hasil-hasil pembangunan.
Dengan kata lain, pembangunan yang ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan dan
kepentingan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka
sendiri. Pengertian ini merujuk pada World Commission on Environment
and Development (WECD), sebuah komisi dunia untuk lingkungan dan
pembangunan di bawah naungan PBB, memuat dua konsep utama. Pertama,
tentang kebutuhan yang sangat esensial untuk penduduk miskin dan perlu
diprioritaskan. Kedua, tentang keterbatasan dari kemampuan lingkungan
untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang.
Artinya, pembangunan berkelanjutan berperspektif jangka panjang (a longer
term perspective) yang menuntut adanya solidaritas antargenerasi.
Pembangunan berkelanjutan ditujukan untuk mengurangi kemiskinan dan
meminimalisasi kerusakan sumber daya alam dan lingkungan. Secara
implisit mengandung arti memaksimalkan keuntungan pembangunan dengan
tetap menjaga kualitas sumber daya alam.
Paradigma ini akan semakin dibutuhkan seiring dengan perkembangan
globalisasi terutama ketika diterapkan ISO 9000 (standar kualitas suatu
barang) dan ISO 14000 (standar kualitas lingkungan). Secara sederhana di
dalam ISO 14000 dipersyaratkan audit lingkungan, label lingkungan, sistem
pengelolaan lingkungan dan analisis daur hidup. Bila ISO 14000
diberlakukan, suka atau tidak suka, para pengusaha harus menyesuaikan
produk-produknya dengan kriteria lingkungan yang dikehendaki oleh ISO
(International Standardization Organization).
Paradigma ini menuntut diterapkannya strategi gerakan kultural,
sebagaimana dilakukan gerakan Konsumen Hijau (konsumen yang
berwawasan lingkungan). Dalam beberapa kasus, masyarakat akan dengan
kritis menolak tas plastik yang tidak bisa didaur ulang atau jaket yang
terbuat dari kulit binatang yang dilindungi. Selain itu juga, Gerakan kultural
selanjutnya menyosialisasikan dan menanamkan pengertian kepada
masyarakat (konsumen) untuk menggunakan produk yang tidak mengganggu
85
kesehatan dan merusak lingkungan. Konsumen diposisikan sebagai inisiator,
pemberi pengarah, pengambil keputusan, pembeli, bahkan pengguna.
8.4 Bermunculan Kelompok Konsumen Spesifik Di
Berapa Negara Lain
Di era 1970-1980-an, gerakan lingkungan dan partai hijau menghantam
aneka produsen dan perusahaan yang merusak lingkungan, dan membuat
produk dengan sewenang-wenang. Maka timbullah istilah produk ramah
lingkungan. Beberapa perusahaan, seperti The Body Shop, dikenal aktif dan
progresif mempromosikan produk hijau mereka.
Di tahun 1990-an muncul gerakan baru yang mengancam produsen yang
tidak berpolitik dengan benar. Gerakan ini pernah mengancam beberapa
produsen yang melakukan diskriminasi harga atau mempekerjakan buruh di
bawah umur. Beberapa produsen kini mencantumkan pernyataan di label
mereka, bahwa mereka telah mengambil sikap politik dengan benar. Hal ini
sebagai sekedar contoh dapat dilakukan gerakan konsumen.
Arah gerakan konsumen di masa depan hendaknya tidak hanya berfokus
pada masalah fisik seperti makanan tercemar, melainkan harus masuk
wilayah politik dan ekonomi. Salah satu fenomena yang berkembang tahun
ini adalah kisah Mecca Cola. Tawfiq Mathlouthi, orang Tunisia
berkebangsaan Prancis, menciptakannya sebagai gerakan politik melawan
kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Mecca Cola diluncurkan pertama kali
justru di Eropa, untuk menarik simpati penduduk Eropa yang ingin ikut
menunjukkan pilihan politiknya. Sebanyak 10% keuntungan dari Mecca
Cola disumbangkan kepada perjuangan Palestina. Pada minggu pertama
peluncuran, terjual 160.000 botol. Lumayan laris. Tak lama kemudian,
perjuangannya mencapai 2 juta botol per bulan.
Setelah sukses di Eropa, Mecca Cola baru akan diluncurkan di Timur
Tengah. Kini Mecca Cola juga menyumbang tambahan 10% untuk diberikan
kepada LSM di Eropa. Ketika Eropa dilanda protes dan demo antiperang
Irak, 36.000 botol Mecca Cola dan 10.000 kaus dibagikan gratis, dengan
slogan antiperang. Tawfiq Mathlouthi menganggap pasar Mecca Cola tak
terbatas besarnya. Ia mengincar pasar muslim di seluruh dunia. Mecca Cola
bukan satu-satunya yang mengincar pasar itu (...). Beberapa produsen Cola
di Eropa sudah mulai merasa tersaingi.
Membuktikan bahwa Gerakan konsumen menyeberang ke area politik
adalah ancaman yang serius. Dengan membuktikan pula, bila kesadaran
konsumen telah lahir dan bersatu, maka konsumen pun akan menyadari arti
86
sebuah kekuatan itu yang selama ini mungkin belum banyak mereka
jangkau.
Bahwasanya agenda gerakan konsumen secara umum adalah
membangkitkan kesadaran kritis konsumen secara kontinuitas. Kesadaran
kritis itu bukan saja diserahkan pada hak-hak konsumen, tetapi juga pada
proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kepentingan
konsumen, serta berbagai keputusan yang terkait dengan kepentingan publik
dan konsumen harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka
(accountable),55bahkan keputusan yang dibuat jelas-jelas melanggar hak
konsumen, harus dilawan.
Akan tetapi semangat perubahan itu tidak hanya bermuara pada itu saja,
bisa juga meluas ke dalam aspek kehidupan lain baik itu dari persoalan hak
bermukim, persoalan pendidikan, persoalan pembinaan kebudayaan,
persoalan ekonomi, persoalan moral56 menjadi urusan kita semua.
Kapitalisme mutakhir telah merasuk ke segala lingkaran kehidupan,
sehingga melahirkan banyak antagonisme baru. Antagonisme lama, yakni
antara buruh dan majikan tidak hilang, tapi dibarengi dengan berbagai
antagonisme baru, seperti antagonisme antara konsumen dan produsen,
antara mereka yang habitatnya rusak atau tercemar dengan korporasi yang
55 Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau
menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/ pimpinan suatu unit
organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau yang berwenang meminta
pertanggungjawaban. Ada beberapa macam akuntabilitas yaitu ada akuntabilitas
politik (kepada konstituen), akuntabilitas keuangan (neraca laba rugi, pelaksanaan
anggaran) dan akuntabilitas hukum (peraturan-peraturan disipilin). Akuntabilitas
birokrasi publik adalah kepada Pemerintah yang bertanggung jawab kepada rakyat
melalui Lembaga-lembaga Perwakilan. Akuntabilitas perusahaan kepada shareholders
(pemegang saham) dan sekarang juga kepada stakeholders (pemegang kepentingan).
Akuntabilitas adalah prinsip utama Good Governance.
56 Suatu ke yang terdapat pada manusia ialah moralitas. Yang kami maksud dengan
istilah ini ialah adanya baik dan buruk pada tingkah-laku manusia. Tidakalah semua
tindakan manusia sama nilainya, ada yang disebut buruk, ada yang disebut ukuran
baik. Bukanlah disini tempatnya untuk mengatakan apakah ukuran baik dan buruk
itu. Malahan harus dikatakan, bahwa dalam ukuran baik dan buruk itu belum ada
persesuaian pendapat tetapi teranglah ada ukuran itu, jadi alah moralitas. Manusia
mengerti akan yang baik dan mungkin bertindak sesuai dengan yang dianggapnya
baik. Mungkin juga ia bertindak yang berlawanan sekali dengan yang dianggapnya baik
itu, maka berbuatlah jahatlah dia. Jadi dalam beberapa tindakan (tidak semua
tindakan!) orang sadar benar akan baik-buruk tindakan itu. Oleh sebab itu maka ia
boleh dituntut untuk mempertanggungjawabkan, artinya jika tindakannya itu tidak
sesuai dengan ukuran baik, maka dipersalahkanlah dia dan ada akibatnya untuk
kesalahan ini, misalnya: hukuman. Hal ini semuanya tidak terdapat pada binatang.
Tentu saja ada juga binatang dijatuhi semacam hukuman oleh manusia, karena
manusia itu ia melakukan kesalahan, tetapi ini semuanya dipandang dan diukur dari
pihak manusia. Adakah penilaian dari binatang? Adakah hukuman dari binatang
terhadap binatang kecuali pada dongeng-dongeng buatan manusia?
87
menyebabkan perusakan lingkungan itu, antara perusahaan dan pemasang
iklan yang mentargetkan perempuan sebagai pengguna alat-alat rumah
tangga yang diproduksinya, melawan hak perempuan untuk tidak
‘ditakdirkan’ mengurusi pekerjaan domestik, dan lain-lain. Masyarakat
konsumen ini, kata Laclau dan Mouffe57, melahirkan berbagai bentuk
perjuangan baru yang menunjukkan perlawanan terhadap bentuk-bentuk
subordinasi baru, yang muncul dari jantung masyarakat baru ini. Aksi-aksi
menentang pemborosan sumber-sumber daya alam, pencemaran dan
perusakan lingkungan, akibat ideologi produksi demi produksi ini,
melahirkan gerakan lingkungan. Begitu pula aksi-aksi menentang hancurnya
57 Ernesto Laclau lahir di Argentina, dan belajar di Universitas Buenos Aires (Argentina)
dan di Universitas Oxford (Inggris). Tahun 1971 ia mulai dikenal di lingkungan Marxis
saat menerbitkan kritik tajam terhadap teori ketergantungan Andre Gunder Frank
dalam artikel berjudul ‘Feudalism and Capitalism in Latin America’. Dua tahun
kemudian ia mulai mengajar di Departemen Ilmu Politik di Universitas Essex di Inggris,
dan diangkat menjadi Ketua Departemen Pasca Sarjana di bidang Ideologi dan
Discourse Analysis. Tahun 1985, Laclau bersama Chantal Mouffe menulis buku
Hegemony and Socialist Strategy: Towards a Radical Democratic Politics, yang
meneguhkan diri mereka sebagai pemikir Post-Marxist. Chantal Mouffe, seorang filsuf
politik, sebelumnya mengajar di Departemen Filsafat Universitas Nasional di Colombia
dan di City University (London) dan sekarang mengajar di College International de
Philosophie di Paris. Inti buku itu adalah konsep ‘gerakan kemasyarakatan baru’
sebagai subyek revolusioner masa kini, yang merupakan pemberontakan mereka
terhadap ajaran Marx dan para pemikir neo-Marxist, yang masih melihat kaum buruh
(proletariat) sebagai subyek revolusioner yang utama. Konsep gerakan kemasyarakatan
baru, menurut Laclau dan Mouffe, merangkum berbagai gerakan atau perjuangan
(struggle) yang tidak berbasis kelas dan bukan gerakan buruh, seperti gerakan kaum
urban, gerakan lingkungan, gerakan anti-otoriterisme, gerakan anti-institusi, gerakan
feminis, gerakan anti-rasisme, gerakan etnis, gerakan regional, dan gerakan
perdamaian (Laclau and Mouffe 1999: 159-60). (…) Walaupun menolak gagasan Marx
terhadap peranan buruh sebagai subyek revolusioner atau agen perubahan sosial yang
utama menuju sosialisme, gagasan ‘gerakan kemasyarakatan baru’ Laclau dan Mouffe
tetap berakar di pikiran Marx dan Gramsci. Laclau sendiri pernah berkata, “I am a
Gramscian, not a Baudrilliardian” [Saya seorang penganut pikiran Gramsci, bukan
penganut pikiran Baudrillard. GJA]. Gagasan Laclau & Mouffe ini sudah mulai
mengilhami beberapa gerakan kemasyarakatan di Indonesia, terutama gerakan
perempuan. Soalnya, gagasan ini berkaitan dengan gagasan demokrasi yang lebih
radikal, tapi mengakui pluralitas gerakan. Seperti kata Chantal Mouffe sebagaimana
dikutip Melani Budianta (2003: 149): Democratic discourse questions all forms of
inequality and subordination. This is why I propose to call those new social movements
‘new democratic struggles’ because they are extensions of the democratic revolution to
new forms of subordination. Democracy is our most subversive idea because it interrupts
all existing discourses and practices of subordination [Diskursus demokratis
mempertanyakan segala bentuk ketidaksetaraan dan subordinasi. Itu sebabnya, saya
mengusulkan untuk menyebut gerakan-gerakan kemasyarakatan baru itu, ‘gerakan-
gerakan demokratik baru’ karena mereka merupakan kelanjutan dari revokusi
demokratik ke bentuk-bentuk subordinasi baru. Demokrasi merupakan suatu gagasan
yang sangat subversif, sebab ia menyela segala diskursus dan segala praktek
subordinasi yang ada. GJA].
88
kawasan kota karena urbanisasi besar-besaran melahirkan gerakan untuk
menuntut kehidupan kota yang lebih baik. Sedangkan produksi massal yang
menurunkan kualitas barang dan jasa, melahirkan gerakan konsumen. Dari
sinilah dapat kita lihat bagaimana habitat (lingkungan tempat tinggal),
konsumsi, dan kebutuhan akan berbagai macam jasa, memicu gerakan-
gerakan baru yang menentang ketidakadilan dan menuntut hak-hak baru
(Laclau & Mouffe 1999: 1 61).
8.5 Terhadap Keberpihakan Konsumen Secara
Positip
Praktisnya untuk perubahaan ke arah sana maka pemberdayaan
konsumen dapat dilakukan dengan cara, sebagai berikut : Pertama,
membangun kesadaran - Pada dasarnya, ada tiga tingkatan kesadaran
manusia dalam menganalisi masalah, yaitu: (1). Kesadaran sulapan (magical
consciousness). Kesadaran ini terjadi kalau orang tidak mampu
menghubungkan antara sebab dan akibat. Peristiwa apa saja termasuk
persoalan konsumen, tidak akan dapat dimengerti; (2). Kesadaran naif (naive
consciousness), yaitu kesadaran yang menyalahkan pada korbannya (to
blame the victim). Misalnya, terbakarnya sebuah bis antar-propinsi karena
kesalahan sopirnya yang minum pil ekstasi sebelum berangkat; (3).
Kesadaran kritis (critical consciousness) yang menganalisa struktur yang
ada dalam formasi yang menyebabkan masalah tersebut terjadi.
Di Indonesia, kendala yang dihadapi dalam upaya perlindungan
konsumen tidak terbatas pada rendahnya kesadaran konsumen akan hak-
haknya. Pada kalangan pelaku usaha juga muncul persepsi yang keliru
bahwa perlindungan terhadap konsumen akan menimbulkan kerugian
terhadap pelaku usaha. Hal inilah yang menjadi tantangan semua pihak
untuk menanamkan suatu landasan pengertian secara komperhensif terhadap
pentingnya upaya perlindungan konsumen yang bukan saja akan
“menguntungkan” bagi pihak konsumen semata, melainkan juga bagi pihak
pelaku usaha, serta pemerintah pada umumnya.
Pelaku usaha hendaknya perlu mengkaji lebih dalam mengenai
pengertian atas penyelenggaraan perlindungan konsumen; sehingga persepsi
yang keliru di kalangan pengusaha ini secara perlan-lahan dapat diluruskan.
Terhadap penyelenggaraan perlindungan konsumen tersebut, hendaknya
kalangan pelaku usaha mempunyai perspektif pengertian-pengertian sebagai
berikut : (1) bahwa konsumen dan pelaku usaha adalah pasangan yang saling
membutuhkan. Jika hal ini dianalogikan bagi produsen obat, maka produsen
89
obat itu tidak akan berkembang dengan baik bila konsumen berada pada
kondisi yang tidak sehat akibat banyaknya produk yang cacat; (2) Bahwa
pada praktek bisnis sehari-hari, ada saja pelaku usaha yang melakukan
kecurangan dalam melakukan kegiatan usahanya. Kecurangan ini tidak
hanya merugikan konsumen semata, tetapi juga akan mengimbas serta
merugikan pelaku usaha yang jujur dan bertanggung-jawab. Gara-gara nila
setitik sebelangga; (3) Peluang untuk mengembangkan dan meningkatkan
usaha bagi pelaku usaha yang bertanggung-jawab dapat juga dicapai melalui
penindakan terhadap pelaku usaha yang melakukan kecurangan dalam
melakukan kegiatan usahanya. Sebagai contoh, adalah mustahil bila
produsen oli yang jujur dan bertanggung jawab bersikap masa bodoh
terhadap perilaku penjual yang mencampur produknya dengan oli bekas
sebelum dijual kepada konsumen; (4) bahwa beban kompensasi atas
kerugian konsumen akibat pemakaian produk cacat telah diperhitungkan
sebagai komponen produksi, sehingga beban tersebut tidak ditanggung oleh
produsen, tetapi ditanggung oleh seluruh konsumen yang memakai produk
yang tidak cacat.
Oleh sebab itu, usaha perlindungan konsumen antara pemerintah, swasta
dan masyarakat tersebut perlu diatur melalui perangkat hukum yang
menciptakan norma hukum perlindungan kepada konsumen, dan disisi lain
memberikan tanggung jawab kepada dunia usaha. Barry M. Mitnick58 dalam
bukunya ”The Political Economiy Of Regulation“ mengemukakan empat
teori kepentingan dalam regulasi hukum di bidang ekonomi, yaitu :
1. Customer Protection Theory (kepentingan konsumen);
Suatu peraturan dibuat dengan tujuan untuk melindungi konsumen
dari suatu produk atau kegiatan konsumen.
2. Industry Protection Theory (kepentingan industri/ pelaku usaha);
Suatu peraturan dibentuk dengan tujuan untuk melindungi
kepentingan produsen dari suatu produk atau kegiatan. Dalam hal ini
58 Barry M. Mitnick, The Political Economy of Regulation, (New York: Columbia
University Press, 1980), hh. 58-161. Dalam setiap bentuk kepentingan tersebut, Ia
memberikan parameter tertentu untuk menguji apakah subsatnsi suatu Undang-
undang berorientasi pada salah satu kepentingan atau tidak. Dengan menggunakan
parameter pengujian, dapat dilihat kepentingan ekonomi apa yang menjadi latar
belakang (politik hukum) dibentuknya undang-undang. Selanjutnya dengan
melakukan penyelarasan atas teori Barry M. Mitnick dan Roscoe Pound, kepentingan
ekonomi yang mempengaruhi pembentukan hukum dapat dipertimbangkan robot
kepentingan bagi masyarakat secara luas…..pembentukan hukum atau undang-
undang seringkali digunakan sebagai sarana kontrol atas ekonomi nasional dengan
tujuan mencegah atau memupukperkembangan kelas sosial tertentu atau
mengarahkan pengaruh asing. Dalam setiap kasus muncul ketegangan antara individu
dan kelompok tertentu yang berdampak nyata pada bentuk dan penggunaan hukum
yang diciptakan.
90
industri dan perwakilan atau asosiasianya merupakan pihak yang
berusaha membentuk peraturan perundang-undangan.
3. Bureaucratic Behavior Theory (kepentingan birokrasi/ pemerintah);
Teori ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
(a). Maintanance theory, yang mempertahankan status quo pelayanan
birokrasi;
(b). Expansion theory, yang merupakan bentuk pelayanan yang
terbaik dari birokrasi yaitu dengan memperluas wewenang dan
mandat dalam pelayanan.
4. Public Interest Theory (kepentingan publik).
5. Suatu peraturan perundang-undangan dibuat untuk memperhatikan
atau menjaga keseimbangan dan kepentingan masyarakat secara
keseluruhan. Termasuk dalam tujuan pembentukan peraturan adalah
tujuan nasional untuk pembangunan wilayah atau bidang tertentu
untuk kepentingan masyarakat tertentu.
91
Daftar Pustaka
_____________________________________________________________________
A. Buku, Jurnal Dan Disertasi
Ali, Achmad. Menguak Tabir Hukum, Jakarta : Chandra Pratama, 1996.
Affandi, Ali. Hukum Waris, Hukum Keluarga Menurut Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata (BW). Yakarta: Bina Aksara, 1986.
Agnes M. Toar, Penyalahgunaan Keadaan dan Tanggung Jawab atas Produk di
Indonesia, Makalah, Disajikan dalam Seminar Dua Hari tentang Pertanggung
Jawab Produk dan Kontrak Bangunan yang Di Selenggrakan oleh Yayasan Pusat
Pengkajian Indonesia Bekerjasama dengan Badan Pembinaan hukum Nasional,
Jakarta, 25-26 Agustus, 1988.
Asshiddiqie, Jimly. Dimensi Konseptual dan Prosedural Pemajuan Hak Asasi Manusia
Dewasa Ini (Perkembangan Ke Arah Pengertian Hak Asasai Manusia Generasi
Keempat). Kapita Selekta Teori Hukum. Jakarta: Fakultas Hukum Universitas
Indonesia, 2000.
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo. Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta: .PT.
Rajagrafindo Persada, 2004.
Az. Nasution. Perlindungan Konsumen dan Peradilan di Indonesia (Jakarta : BPHN).
Hadi Evianto “Hukum Perlindungan Konsumen bukanlah sekedar keinginan, melainkan
kebutuhan”, artikel Hukum dan Pembangunan, tahun XVI No. 6, Desember 1986.
Fuady, Munir. Hukum Bisnis Dalam Teori Dan Praktek. Bandung : Citra Aditya Bakti,
1994.
Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani, Hukum tentang Perlindungan Konsumen, PT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2003, Cetakan Ketiga.
Moelyatno. Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Jakarta: Sinar Grafika Offset. 1996.
Moegni Djojodirdjo. Perbuatan Melawan Hukum. Jakarta: Pradnya Paramita, 1982.
Mariam Darus Badrulzaman, KUH Perdata – Buku III, Hukum Perikatan Dengan
Penjelasan. Bandung : Alumni, 1983.
Nurmadjito, Kesiapan Perangkat Peraturan Perundang-undangan tentang Perlindungan
Konsumen di Indonesia, dalam Husni syawali dan Neni Sri Imaniyati,
Penyunting, Hukum Perlindungan Konsumen, Mandar Maju, Bandung, 2000.
Rosa Agustina Pangaribuan, “Perbuatan Melawan Hukum Suatu Tinjauan Perbandingan
Hukum, Universitas Indonesia, Ringkasan Disertasi, Untuk dipertahankan di
hadapan Senat Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Di bawah
pimpinan Dekan Fakultas Hukum UI Prof. Abdul Bari Azed. S.H., M.H., Guna
memperoleh gelar Doktor dalam ilmu hukum pada Fakultas Hukum Universitas
Indonesia. Jakarta: Fakultas Hukum Pascasarjana Universitas Indonesia. 2003.
Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan singkat.
Jakarta: Rajawali Press. 1986.
92
Rachmat Setiawan, Tinjauan Elementer Perbuatan Melawan Hukum. Bandung:
Binacipta. 1991.
R.Subekti dan Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta: PT.
Pradnya Paramita, 2003.
Subekti. Hukum Acara Perdata. Bandung : Binacipta, 1982.
Supomo. Hukum Perdata Adat Jawa barat. Jakarta: Jembatan. 1967.
Sri Mamudji dan Hang Rahardjo, Teknik Menyusun Karya Tulis Ilmiah, Jakarta: Fakultas
Hukum Universitas Indonesia. 2001.
Samsul, Inosentius. Perlindungan Konsumen, Kemungkinan Penerapan Tanggung Jawab
Mutlak. Jakarta: Fakultas Hukum Pascasarjana Universitas Indonesia. 2004.
W.J. Zwalve, C.AE. Uneken Venema’s Common Lawa & Civil Lawa, Inleiding tot het
Abglo-Amerikanse vermogens recht, (Deventer, W.E.J Tjeenk Willink, 2000
Yayasan Lembaga Konsumen. Perlindungan Konsumen Indonesia, Suatu Sumbangan
Pemikiran Rancangan Undang-undang Perlindungan Konsumen,Yayasan
Lembaga Konsumen. Jakarta: YLKI. 1981.
Universitas Indonesia Dan Departemen Perdagangan, Rancangan Akademik Undang-
Undang Tentang Perlindungan Konsumen. Jakarta. 1992.
B. Makalah
Laporan Diskusi Terbatas tentang Development of Indonesia Consumer Protection Act.
Jakarta : YLKI. 1994.
Laporan Akhir Penelitian Perlindungan Terhadap Konsumen Atas Kelalaian Produsen
Jakarta: BPHN. 1993.
C. Artikel
Warta Konsumen. Januari 2002. Catatan Konsumen 2001.
Zaim Saidi, “Neder”, Kolom Republika, 8 Mei 1994.
“Berkat buat Konsumen”, Warta Ekonomi, No. 06 Tahun VI – 4 Juli 1994.
Korban Keracunan Mie Instant Bertambah, Kompas, 15 Juni 1994, Muchammad
Muchammad Yani, “Dari Kasus Mie Instant : Setelah Nyawa-nyawa itu setempat,
siapa yang bertanggung jawab”, Warta Konsumen, No. 245, Agustus 1994.
D. Putusan Pengadilan
Agus Yustianingsih dkk. V. PT. Kereta Api (Persero), Menteri Perhubungan RI, Menteri
Negara Pemberdayaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri Keuangan
RI, Putusan Pengadilan Negeri Hajarta Pusat No. 114/Pdt.G/ 2002/PN.Jkt.Pst.
Anny R. Gultom dn Hontas Tambunan v. PT. Securindo Packatama Indonesia (Secure
Parking), Putusan Pengadilan Negeri Yakarta Pusat No. 551/ Pdt.G/ 2000/ PN.
Jkt. Pst.
Gun Subasri, dkk. V. Negara Republik Indonesia cq. Presiden Republik Indonesia cq
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI)
93
yakarta, Negara Republik Indonesia cq. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I
Propinsi Jawa Barat, Putusan Nomor 83/ Pdt.G/ 2002/ PN. Jkt. Pst.
Janizal dkk v. PT. Kentanik Super International, Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
No. 3138 K/Pdt/ 1994.
Janizal dkk v. PT. Kentanik Super International, Putusan Mahlamah Agung Republik
Indonesia No. 3138 K/Pdt./ 1994.
Pemerintah RI v. Tan Chandra Helmi alias Chandra dan Gimun Tanno, Putusan
Pengadilan Negeri Tangerang No. 30/ Pid. B/ 1990/ PN/ TNG.
Tn. David Widjaya dan Ny. Rini. Chandra v. PT. Vakansi Megah dan Royal Vacation
Indonesia, Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. 647/ Pdt./1998/PT.DKI
Yayasan Kepedulian Untuk Konsumen Anak (KAKAK) v. PT.BAT. Indonesia, Tbk. PT.
Ardan Komunika, Herman Ardianto alias Herman Jambojay, PT. Graha Mulya
Wirastama, Kepolisian Republik Indonesia, Putusan Pengadilan Negeri Surakarta
No. 127/ Pdt.g/ 200/ PN. Ska.
Yayasan lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) v. PT. PLN (Persero), Putusan Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan No. 134/ pdt. G/ 1997/ PN. Jak.Sel.
E. Peraturan Perundang-undangan
Republik Indonesia, Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen.
Republik Indonesia, Undang-undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-
undang Hukum Acara Pidana.
94
95
96
Related docs
Other docs by JjSembiring
Hak-hak Masyarakat Konsumen Air Dalam Proyek Swastanisasi PAM JAYA Di Jakarta
Views: 50 | Downloads: 0
Get documents about "