BAB I by meyriana26

VIEWS: 176 PAGES: 23

									                                BAB I
                            PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
        Di kalangan masyarakat, anak autis sering menjadi perbincangan.
Autistik merupakan gangguan perkembangan yang mempengaruhi
beberapa aspek bagaimana anak melihat dunia dan bagaimana belajar
melalui pengalamannya. Anak-anak dengan autis biasanya kurang dapat
merasakan kontak sosial karena mengalami hambatan dalam interaksi dan
komunikasi. Mereka cenderung menyendiri dan menghindari kontak
dengan orang lain. Orang lain dianggap sebagai objek (benda) bukan
sebagai subjek yang dapat berinteraksi dan berkomunikasi. Padahal
interaksi dan komunikasi merupakan salah satu modal bagi seseorang
memperoleh informasi melalui lingkungannya. Selain itu anak autis
mengalami adanya gangguan perilaku yang menyertainya dalam
melakukan interaksi dan komunikasi dengan lingkungannya.
        Pendidikan selayaknya memenuhi kebutuhan bagi peserta didik
berdasarkan kemampuannya, tidak terkecuali bagi anak autis khususnya
dalam hal interaksi dan komunikasi. Komunikasi adalah proses untuk
saling bertukar informasi, pendapat atau perasaan seseorang dengan
orang lain di sekitarnya. Anak autis memiliki masalah dalam hal interaksi
dan komunikasi. Pada umumnya, anak autis berinteraksi dan
berkomunikasi dengan caranya sendiri. Hal tersebut kadang sulit
dimengerti oleh orang disekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hambatan
yang membuat anak menjadi frustasi dan memungkinkan munculnya
perilaku negatif. Setiap orang tua tentunya menginginkan anaknya
bicara normal akan tetapi tentu tidak dapat terjadi secara spontan,
melainkan memerlukan suatu proses belajar agar perkembangan bicara
dan bahasanya menjadi lebih baik, lalu bagaimana dengan anak-anak yang
mengalami gangguan komunikasi dan tidak memiliki prognosis kemajuan
yang berarti seperti anak autistik?.
        Kompleksnya masalah yang dialami anak autis tidak hanya
mengakibatkan hambatan dalam belajar tetapi juga dalam kehidupan
sosial yang lebih luas. Meskipun demikian, tidak berarti anak autis tidak


                                                                       1
mempunyai potensi yang masih bisa dikembangkan. Namun demikian
pada kenyataannya, sebagian besar anak autis mengalami kesulitan dalam
menggunakan bahasa dan berbicara, sehingga mereka sulit melakukan
komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu diperlukan
alternatif berkomunikasi selain dengan verbal bagi mereka sehingga
kesempatan anak autis untuk melakukan interaksi dapat dilakukan dan
secara tidak langsung pula mereka dapat bereksplorasi terhadap
lingkungan secara timbal balik meskipun tidak menggunakan verbal atau
yang disebut bicara. Dengan pemahaman tersebut, maka dapat dilakukan
intervensi sedini mungkin agar hambatan yang dialami anak tidak semakin
kompleks.

B. Tujuan
      Tujuan penyusunan manual ini sebagai pedoman bagi guru, terapis,
dan orangtua dalam menyusun program pengembangan komunikasi
alternafit dan augmentative bagi anak yang memerlukan layanan ini
khususnya pada anak autis.




                                                                      2
                              BAB II
                         LANDASAN TEORITIS

A. Pengertian Autisme
        Autisme adalah gangguan perkembangan nerobiologi yang berat
 yang terjadi pada anak sehingga menimbulkan masalah pada anak untuk
 berkomunikasi dan berhubungan dengan lingkungannya (Rudy S.2008:25).
 Yuniar (2002) menambahkan bahwa Autisma/Autisme adalah gangguan
 perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat
 kekurangan kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional
 dengan orang lain, sehingga sulit untuk mempunyai ketrampilan dan
 pengetahuan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat. Dari
 keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Autisma/Autisme
 adalah gejala menutup diri sendiri secara total, dan tidak mau
 berhubungan lagi dengan dunia luar, merupakan gangguan
 perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat
 kekurangan kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional
 dengan orang lain.

B. Komunikasi Alternatif dan Augmentatif
1. Definisi
      Komunikasi alternatif adalah teknik-teknik yang menggantikan
komunikasi lisan bagi individu yang mengalami hambatan dalam bicara
atau tidak mampu berkomunikasi melalui bahasa lisan. (McCormick &
Shane, 1990). Sedangkan Komunikasi augmentatif adalah kaidah-kaidah
danperalatan/media yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi
verbal dalam kenyataan hidupsehari-hari (Mustonen, Locke, Reice,
Solbrack, dan Lingren, 1991).
      The American Speech-Language-Hearing Association defines “AAC
as an area of clinical practice that attempts to compensate (either
temporarily or permanently) for theimpairment and disability patterns
of individuals with severe expressive communication disorders (i.e., the
severe impairments in speech-language, reading and writing)”. AAC
incorporates the individual's full communication abilities and may


                                                                      3
include any existing speech or vocalizations, gestures, manual signs, and
aided communication. AAC is truly multimodal, permitting individuals to
use every mode possible to communicate. (sumber: National Joint
Committee for thecommunication needs of person with severe
disabilities).
        Berdasarkan berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud Augmentative and alternative communication
(AAC) adalah media dan metode serta cara yang digunakan oleh
anak/orang yang mengalami hambatan dalam berkomunikasi agar
dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar dengan orang di sekitarnya.

2.   Komponen-komponen AAC
     Komponen AAC meliputi: (1) Teknik komunikasi; (2) Sistem symbol;
dan (3) Kemampuan berkomunikasi. (McCormick & Shane, 1990 dalam
Kuder, 2003).
a. Teknik Komunikasi
   Teknik komunikasi ada dua macam, yaitu:
   (1) Teknik komunikasi tanpa bantuan;
       Teknik ini tidak memerlukan alat bantu dari luar diri anak dan
       tidak pula memerlukan prosedur khusus dalam pengunaannya.
       Teknik ini menggunakan kaidah berbicara, bahasa isyarat, gesture,
       dan mimik muka. Kelebihan teknik ini adalah tidak perlu alat
       Bantu, dengan sendirinya menjadi lebih murah karena tidak
       memerlukan biaya, dan mudah ditukar atau dipindahkan.
       Adapun kekurangannya adalah: pertama, tidak inovatif
       sehingga komunikasi di masa depan akan menjadi masalah karena
       bahasa komunikasi itu terus berkembang; kedua, tergantung pada
       kemampuan ingatan pengguna; ketiga isyarat sebenarnya sulit
       dipelajari.
   (2) Teknik Komunikasi dengan bantuan. (Vanderheiden & Lloyd, 1986
       dalam Kuder, 2003). Teknik ini memerlukan alat bantu dan
       menggunakan prosedur secara rinci dalam penggunaannya. Baik
       alat Bantu ini elektronik maupun non-elektronik maupun system
       symbol. Alat bantu ini dari yang sangat sederhana sampai yang


                                                                        4
       paling canggih, dari papan komunikasi sampai alat bantu
       bicara sintetik yang menggunakan komputer. Jadi teknik ini
       memerlukan obyek fisik yang berupa peralatan bantu
       komunikasi untuk memudahkan seorang anak berkomunikasi.
       Kelebihan teknik ini adalah dapat menyampaikan pesan lebih
       kompleks terhadap kemampuan berbahasa/berkomunikasi bagi
       pengguna, dan dapat digunakan komunikasi jarak jauh. Adapun
       kelemahan teknik ini adalah mudah rusak, kehilangan daya
       (elektronik), perawatan susah, dan lebih mahal.
b. Sistem Simbol
    Berbagai sistem simbol telah dibuat dari benda asli (benda
    sebenarnya), berbentuk gambar, dan sistem simbol yang abstrak.
    Sistem simbol yang abstrak antara lain gambaryang mewakili suatu
    bentuk atau kejadian (picturial       representations), ideographs
    (ideyang ditampilkan melalui simbol grafis), simbol arbitrari (ide
    dalam bentuk konfigurasigaris arbitrari), dan lexigrams (simbol
    visual-grafis secara arbitrari yang merupakanbentuk-bentuk
    geometrik).      Contoh sisem simbols       antara    lain: picture
    communicationsymbols (Johnson, 1981), Picsyms (Carlson, 1984),
    Sigsymbols (Creagan, 1982),Blissymbols (Blis, 1985), Rebus (Clark,
    Davies, & Woodcock, 1974), dan Non-SLIP(Non-Speech Language
    Initiation Programme (Carrier, 1974).
c. Kemampuan berkomunikasi
    Prosedur dan alat bantu AAC telah menyediakan peluang terbaik bagi
    individu yang tidak mampu berkomunikasi secara lisan/verbal untuk
    dapat berkomunikasi dengan orang lain secara baik. Oleh karena itu
    porsedur dan alat bantu AAC harus digunakan secara optimal. Untuk
    dapat mengikuti prosedur dan alat bantu dengan baik ABK perlu
    mendapatkan latihan secara intensif dan berkesinambungan.

3. Faktor-faktor dalam memilih AAC
   Pemilihan AAC perlu dipertimbangkan secara matang dengan
   memperhatikan hambatan komunikasi yang dialami individu. AAC
   yang dipilih harus dapat diakses oleh pengguna secara mudah dan


                                                                     5
    nyaman. Berikut adalah hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam
    pemilihan AAC:
   a. Guessability
      Harus mudah dipahami (diterka) dan mudah dibaca, hal ini
      memperhatikan tingkat kemiripan dan keterwakilan antara simbol
      yang digunakan dengan item/obyek yangdiwakili.
   b. Learnability
      AAC harus mudah dipelajari. Hal ini merujuk kepada tingkat
      kemudahan/kesukaran untuk mempelajari penggunaan suatu
      simbol yang dibuat.
   c. Generalization
      Menggambarkan simbol secara umum, sehingga siapapun yang
      menggunakannya dapat memahami dengan mudah. Dari anak kecil
      sampai orang dewasa dapat secara umum memahami simbol
      tersebut.

4. AAC untuk Autisme
   Kebanyakan anak autis memiliki visual memori jauh lebih baik
   dibandingkan memori auditori mereka (Hogdon, 1995). Strategi
   visual sebagai salah satu sarana yang menitikberatkan
   penggunaan alat bantu visual bisa dijadikan pertimbangan dalam
   membantu proses pendidikan anak autis. Strategi visual
   menggunakan apapun yang dapat dilihat, dan sistem ini dirasa sangat
   cocok dengan kelebihan yang dimiliki anak autis. Karena itu
   penggunaan strategi visual ini diharapkan dapat memudahkan anak
   dalam belajar dan membantu siapapun yang menangani anak autis.

 1) Anak dengan Autisme
    Anak autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan
dalam aspekperilaku, komunikasi, dan interaksi. Mereka sebagian
besar mengalami masalahberkomunikasi dan berinteraksi serta perlu
dibantu untuk hidup mandiri. Dengan kata lainmereka mengalami
kesulitan dalam pemahaman, komunikasi/interaksi, dan kemandirian.
Beberapa individu yang termasuk dalam spectrum autisme melaporkan


                                                                     6
bahwamereka memiliki ciri khas dalam mempersepsi dunia (Siegel, 1996),
seperti misalnya :
 Visual thinking (berpikir visual)
    Mereka lebih mudah memahami hal konkrit (dapat dilihat dan
    dipegang) daripada hal abstrak. Biasanya ingatan atas berbagai
    konsep tersimpan dalam bentuk video atau file gambar. Proses
    berpikir yang menggunakan gambar/film seperti ini jelas lebih lambat
    daripada proses berpikir secara verbal, akibatnya mereka perlu
    jeda beberapa saat sebelum bisa berespon. Individu dengan gaya
    berfikir seperti ini, juga lebih mengandalkan asosiasi daripada
    berpikir secara logis menggunakan logika.
 Processing problems (kesulitan memproses informasi)
    Sebagian anak autis mengalami kesulitan memperoleh informasi.
    Mereka cenderung terbatas dalam memahami “common sense”
    atau menggunakan akal sehat/nalar. Mereka sulit merangkai
    informasi verbal yang panjang (rangkaian instruksi), sulit dimintai
    sesuatu sambil mengerjakan hal lain, dan sulit memahami bahasa
    verbal/lisan. Hal-hal tersebut di atas tampak konsisten dengan
    kecenderungan anak autis yang lebih mudah berpikir secara visual.
 Communication frustration (kesulitan berkomunikasi)
    Gangguan perkembangan bicara bahasa yang terjadi pada anak autis
    membuat mereka sering frustasi karena masalah komunikasi.
    Mereka bisa mengerti orang lain tapi terutama bila orang lain
    bicara langsung kepada mereka. Itu sebabnya mereka seolah tidak
    mendengar bila orang lain bercakap-cakap diantara sesamanya.
    Mereka merasa percakapan itu tidak ditunjukkan kepada mereka,
    karena itu mereka sulit memahami tuntutan lingkungan yang
    meminta mereka menjawab meski mereka tidak ditanya secara
    langsung. Anak autis juga sulit mengungkapkan diri, sehingga lalu
    bertindak atau berperilaku negatif lain selain sekedar untuk
    mendapat apa yang mereka inginkan. Mereka tidak mampu
    mengungkapkan diri secara efektif, kadang harus berada dalam
    kondisi tertekan untuk dapat ekspresi, sehingga seringkali frustasi
    bila tidak dimengerti.


                                                                      7
 Social & emotional issues (masalah emosi dan social)
   Ciri lain yang dominant adalah keterpakuan akan sesuatu membuat
   anak autis cenderung berpikir kaku. Akibatnya mereka sulit
   beradaptasi atau memahami perubahan yang terjadi di lingkungan
   sehari-hari. Apalagi bila perubahan tersebut terjadi dengan cepat
   dan tanpa penjelasaan sama sekali. Keterpakuan akan sesuatu
   membuat mereka sulit memahami berbagai situasi social, seperti
   tata cara pergaulan dan aturan sosialisasi yang sangat bervariasi
   tergantung kondisi dan situasi sesaat. Pada umumnya anak autis
   tidak dapat membayangkan bahwa orang lain juga bisa mempersepsi
   sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, karena hal ini adalah
   sesuatu yang sangat abstrak. Itu sebabnya, banyak yang sulit
   berempati bila tidak dilatih melalui pengalaman dan pengarahan.
 Problems of control (kesulitan dalam mengontrol diri)
   Berbagai gangguan perkembangan neurology di otak menjadikan
   masalah anak autis menjadi semakin kompleks. Mereka mengalami
   kesulitan mengontrol diri sendiri, yang terwujud dalam berbagai
   bentuk masalah perilaku. Mereka cenderung berperilaku ritual
   dengan pola tertentu. Sebagian dari mereka juga memiliki ketakutan
   yang luar biasa pada hal-hal yang tidak ia mengerti. Karena itu ada
   anak yang amat marah hingga berperilaku tantrum bila rutinitasnya
   diubah, juga ada yang sulit sekali bila diminta (cenderung menolak
   terlebih dahulu) untuk melakukan kegiatan baru.
 Problems of connection (kesulitan dalam menalar)
   Berbagai masalah yang berkaitan dengan kemampuan individu
   menalar antara lain : masalah pemusatan perhatian (attention
   problems), terus menerus terdistraksi.
 System integration problems
   Proses informasi di otak bekerja secara “mono” (tunggal) sehingga
   sulit memprosesbeberapa hal sekaligus. Setiap individu mempunyai
   caranya sendiri dalam mencernainformasi secara efektif. Umumnya
   belajar melalui indra penglihatan, perabaan, danatau pendengaran.
   Kita juga punya aneka gaya dari mengingat. Ada individu yanglebih
   ingat fakta sementara yang lain lebih suka detail.


                                                                     8
b. Strategi Visual
    1) Batasan
       Strategi visual menggunakan stimuli visual, yaitu apapunyang
       dapat dilihat oleh individu yakni :
        a) Orang lain, atau kita sendiri
           Berbagai isyarat dan bahasa tubuh yang dipakai seseorang
           untuk menunjangkomunikasi antara lain : tersenyum,
           cemberut, menggeleng atau mengangguk,mengacungkan
           benda, menunjuk, dan sebagainya.
        b) Berbagai hal yang secara alamiah ada di lingkungan dan
           dapat digunakan sebagai stimulus visual yang membantu
           anak memahami dunianya, seperti benda, orang, gambar,
           poster, foto, tanda lalu lintas, dan sebagainya.
        c) Bila kita perlu lebih banyak lagi, kita dapat membuatnya
           sendiri, terutama untuk memenuhi kebutuhan spesifik setiap
           anak, antara lain : jadwal kalender, papan pilihan, daftar
           aturan, daftar belanja, instruksi, peringatan mengenai
           perilaku dan berbagai alat bantu lain untuk membantu anak
           mengerti dan tahu apa yang harus dilakukan (Hodgdon, 1999).
   2) Fungsi
       Mengacu pada kendala yang ada pada anak autis dalam menjalani
       pendidikan, maka strategi visual dapat digunakan untuk mengatasi
       kendala-kendala dalam hal :
       a) Pemahaman
            Meningkatkan pemahaman
               Pada dasarnya manusia menyukai penjelasaan, karena itu
              menebak apa yang akan terjadi, kapan terjadinya bisa
              merupakan tekanan tersendiri bagi individu. Masalah
              perilaku pada penyandang autis seringkali terjadi akibat
              terputusnya informasi, atau diantara masa transisi akibat
              dari perubahan.
           Mengatur perilaku
              Bila anak tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana
              harus berperilaku, mereka akan lebih kooperatif dan lebih


                                                                      9
             tenang. Mereka lebih suka bila kita memberikan informasi
             mengenai hal tersebut karena mereka tidak perlu buang
             tenaga memikirkan harus bagaimana bertindak. Alat bantu
             visual membantu anak mengatur perilakunya dengan
             menjelaskan berbagai hal yang abstrak dalam kehidupan,
             seperti : aturan dan petunjuk berperilaku, serta berbagai
             makna kata “tidak” atau “tidak ada” atau “tidak boleh”.
    b) Komunikasi dan interaksi
          Keterbatasan     berkomunikasi     seringkali    menghambat
          penyandang autis mengutarakan hal tersebut, karena itu
          penting sekali mengajarkan anak menguasai ketrampilan
          berikut melalui penggunaan strategi visual
    c) Kemandirian
          Strategi visual dapat digunakan untuk mengembangkan
          kemandirian. Tujuan utama mendidik anak tentu saja adalah
          agar mereka bisa ‘mandiri’. Dalam hal ini, mencakup
          bagaimana berperilaku sesuai situasi dan keadaan serta
          bagaimana memecahkan masalah mereka tanpa bantuan
          orang lain.

c. Cara Pengajaran
           Meski kebanyakan penyandang autisme adalah visual learner,
           tidak berarti bahwa anak dapat langsung paham penggunaan
           alat bantu visual. Mereka harus tetap diajarkan, antara lain
           melalui cara-cara sebagai berikut :
          1) Mengupayakan pemahaman berbagai hal di lingkungan
               (benda, aktifitas, konsep), dengan :
               Memperkenalkan alat bantu secara sistematis
               Memasangkan alat bantu visual dengan sesuatu yang
                  bermakna bagi anak.
               Menggunakan alat bantu visual secara kontekstual.
           2) Menggunakannya langsung untuk mendapatkan keinginan
               (berkomunikasi), saat membantu anak berkomunikasi.



                                                                     10
     3)    Mengembangkan kemandirian dengan mengatur lingkungan
          yang memerlukan bantuan orang lain sesedikit mungkin.
          Beberapa saran untuk melatih anak ASD menjadi mandiri saat
          mengajarkan sekuens kegiatan.
d. Hal-hal yang diperhatikan
        Untuk memastikan keberhasilan proses pengajaran penggunaan
alat bantu kepada anak autis, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
       1. Bentuk alat bantu diberikan mengikuti hirarki representasi
           (Gardner, Grant & Webb, 1999).
             Benda 3 dimensi, contoh : aneka benda nyata
             Simbol benda, contoh : miniature, bungkus, atau label
             Foto, contoh : dari benda nyata, guntingan majalah
             Gambar, contoh : kartu, gambar compic/pecs berwarna
             Tulisan kata yang dikenal, contoh : nama
             Gambar symbol linier, contoh : symbol compic tak
                berwarna
             Tulisan kata yang tidak dikenal, contoh : kartu kata, label
             Kalimat lengkap, contoh : buku, instruksi, surat, buku, dsb.
    2. Pembuatan alat bantu sebaiknya :
        a. Menggunakan yang mudah bagi anak
            Benda 3 dimensi/riil selalu lebih konkrit daripada bentuk
            tampilan lainnya.Bila satu bentuk sudah menjawab kebutuhan,
            tidak perlu mengganti dengan bentuk yang lebih abstrak.
        b. Mempertimbangkan kondisi anak, seperti :
             Usia
             Derajat kemampuan/pemahaman anak
             Tujuan penggunaan (pemecahan masalah, situasi, dan
                pemenuhan kebutuhan).
        c. Memilih sesuai dengan keadaan anak, seperti :
             Bentuk tampilan (gambar, benda, foto, dsbnya)
             Ukuran sesuai kebutuhan (lokasi penempatan, bagaimana
                akan digunakan, usia anak, derajat ketrampilan anak, dan
                respon anak).

                                                                       11
d. Memikirkan secara seksama bagaimana akan menggunakan
   alat bantu sebelum membuatnya. (Siapa, dimana, kapan,
   bagaimana menggunakan dan menyimpannya, apa yang akan
   dilakukan dan dikatakan oleh anak yang menggunakannya)
e. Mempertimbangkan penggunaan kombinasi gambar dan
   tulisan; yang sederhana tapi jelas. Tampilan ini sekaligus
   memberikan anak informasi mengenai dua hal yaitu makna
   gambar dan tulisan yang ia perlukan di kemudian hari.
f. Melalui proses yang wajar, tidak panik atau berlebihan.
g. Mempertimbangkan untuk melibatkan anak dalam persiapan
    alat bantu (bila mampu). Biarkan mereka melihat kita
    mengambil foto atau menggunting gambar. Berikan
    kesempatan mereka untuk memilih akan menggunakan
    gambar yang mana (untuk pilihan), memilih tulisan atau
    kombinasi gambar tulisan, serta bagaimana menyimpannya.
h. Mengupayakan sikap yang spontan. Sejalan dengan
    perkembangan anak, dan sesuai dengan kebutuhan,
    lingkungan perlu menggunakan berbagai hal di lingkungan
    anak secara lebih spontan sehingga kosa kata anak makin
    kaya.




                                                           12
                         BAB III
     PROSEDUR PENGEMBANGAN KOMUNIKASI ALTERNATIF DAN
                      AUGMENTATIF

       Prosedur pengembangan komunikasi alterternatif dan augmentatif
secara umum akan digambarkan sebagai berikut:


       Identifikasi          Wawancara pada guru kelas


                                    Siswa yang diduga
                                   memerlukan layanan



        Asesmen        Observasi                         Wawancara



                                   Kekuatan dan Kelemahan



      Asesmen lanjut    Reinforsment                       Asesmen Simbol
                        asesmen sampling



                                     Perencanaan Program


                                     Pelaksanaan intervensi


                                           Evaluasi



1. Identifikasi Awal
   Identifikasi dilakukan untuk menemukan anak yang mengalami
   hambatan dalam komunikasi. Identifikasi dapat dilakukan dengan
   wawancaraWawancara dilakukan terhadap guru kelas untuk
   mengetahui anak yang memerlukan layanan komunikasi alternatif dan
   augmentatif.
2. Assesmen
   Setelah menemukan subyek, maka dilanjutkan dengan asesmen.
   Asesmen dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan dan
   kebutuhan subyek dalam komunikasi alternatif dan augmentatif.


                                                                            13
   Asesmen ini dilakukan dengan mengggunkan alat observasi dan
   wawancara.
           Observasi dilakukan untuk mengamati perilaku subyek, baik di
   sekolah dan di rumah subyek. Sedangkan wawancara dilakukan
   terhadap guru dan orangtua untuk mendapatkan biodata lengkap
   subyek. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan
   subyek dalam hal minat, mobilitas/perilaku, interaksi, komunkasi,
   emosi, dan pemahaman kata baik disekolah maupun di rumah
   (instrument terlampir).
3. Asesmen lanjut
        Setelah data tentang kekuatan dan kelemahan subyek telah
   terkumpul, maka langkah senjutnya adalah asesmen lanjut. Asesmen
   lanjut dalam hal ini terbagi menjadi dua (2) yaitu Asesmen
   reinforcement sampling dan asesmen symbol.
    a. Reinforcement assessment sampling
        Reinforcement assessment samplingadalah suatu proses kegiatan
        yang dilakukan guru atau terapis untuk mengetahui (benda,
        makanan, minuman, dan sebagainya) yang paling disukai oleh
        subyek. Sebaiknya dipilih satu/beberapa (benda, makanan,
        minuman, dan sebagainya) yang paling disukai oleh subyek.
        Tujuan dilakukan asesmen ini adalah:
          Penguatan bagi subyek ketika dilakukan intervensi
          Subyek akan lebih tertarik ketika dilakukan intervensi.
          Sebagai latihan awal untuk menanamkan pemahaman akan
            sebuah konsep.
        Prosedur dalam asesmen ini akan dijelaskan sebagai berikut:
         1) Guru melakukan dalam setting ruang kelas.
         2) Guru duduk berhadapan dengan subyek
         3) Guru memperlihatkan di hadapan subyek (benda, makanan,
            minuman, dan sebagainya) jumlahnya maksimal lima (5) buah
            yang merupakan kesukaan subyek.
         4) Guru memperkenalkan (benda, makanan, minuman, dan
            sebagainya) yang disukai subyek.



                                                                     14
 5) Guru menawarkan (benda, makanan, minuman, dan sebagainya)
    dengan contoh instruksi : “Ibu punya kerupuk, kue, air putih, dan
    mobil-mobilan. Mana yang kamu mau? Coba ambil!”.
 6) Setiap setelah subyek mengambil salahsatu benda tersebut, maka
    guru mencatat benda yang diambil oleh subyek dan mengacak
    kembali posisi dari barang tersebut. Kemudian kembali guru
    menawarkan kembali benda-benda tersebut.
 7) Hal ini dilakukan minimal 10 (sepuluh kali trial) sampai ditemukan
    benda yang paling sering dipilih oleh subyek.
 8) Benda yang paling sering atau banyak dipilih oleh subyek, maka
    benda terbut dijadikan sebagai reinforcement dalam sesi intervensi.

b. Asesmen Simbol
   Asesmen simbol adalah suatu proses yang dilakukan guru atau terapis
   untuk mengetahui sejauh mana tingkatpemahaman subyek pada
   sebuah benda. Tingkat pemahaman yang dimaksud adalah sudah
   sampai pada tahap benda konkrit atau semi konkret atau sudah
   sampai pada benda abstrak. Asesmen symbol bertujuan untuk
   mengetahui simbol-simbol apa yang dapat digunakan dalam media
   AAC yang akan dibuatsesuai dengan tingkat pemahaman subyek.
   Adapun prosedur asesmen simbol akan dijelaskan sebagai berikut:
   1) Guru mempersiapkan setting ruangan kelas (dapat dikondisikan)
   2) Guru memperlihatkan sebuah benda (konkrit) yang paling di sukai
      oleh subyek berdasarkan hasil reinforcement assessment
      sampling.
   3) Guru mempersiapkan beberapa benda konkrit dimana salah
      satunya adalah benda konkrit yang sama dengan yang dipegang
      subyek, lalu benda-benda itu diletakkan di meja.
   4) Guru memberikan instruksi agar subyek melakukan matching
      antara benda konkrit dengan benda konkrit yang sama yang ada di
      meja.
   5) Apabila subyek berhasil maka dapat ditingkatkan pada level
      berikutnya yaitu menyamakan benda konkrit dengan kartu
      bergambar foto benda tersebut. Dan demikian seterusnya sampai


                                                                     15
       pada level tertinggi yaitu menyamakan benda dengan kartu tulisan
       nama benda tersebut.

        Hasil dari asesmen simbol ini akan diketahui tingkat pemahaman
subyek akan simbol, hal ini penting dilakukan karena berkaitan erat
dengan jenis simbol yang akan digunakan dalam media AAC yang akan
dibuat.

   4. Intervensi
       Dalam manual ini akan dijelaskan prosedur intervensi pada subyek
yang membutuhkan layanan pengembangan komunikasi alternatif dan
augmentatif dengan menggunakan kartu gambar foto. Pertimbangan
pemilihan kartu gambar adalah karena media ini paling banyak atau sering
digunakan oleh guru dalam mengembangkan komunikasi alternatif dan
augmentatif bagi subyek yang membutuhkan layanan tersebut.

a. Rencana Pembuatan Program
        Berdasarkan hasil asesmen maka penggunaan strategi visual
dengan menggunakan kartu gambar berupa foto dengan tujuan:
 1) Mengungkapkan keinginannya sebagai pengganti bicara atau verbal
    sehingga perilaku yang tidak diinginkan dapat dieliminir;
 2) Berkomunikasi dengan cara yang lebih mudah dimengerti;
 3) Identifikasi benda-benda yang ada disekitarnya
 4) Identifikasi kata kerja sederhana (makan, minum, BAK, cuci tangan,
    dan sebagaiya)
        Prosedur perencanaan program pengembangan komunikasi
alternatif dan augmentatif bagi subyek adalah sebagai berikut:
1) Guru menyiapkan gambar atau foto yang merupakan benda kesukaan
    subyek.
2) Guru merancang alat intervensi dari gambar tersebut seperti papan
    dan gambar yang telah diberikan perekat. Contoh: Gambar atau foto
    tersebut di laminating dengan menggunakan plastic agar tidak mudah
    rusak. Kemudian dibelakang gambar tersebut diberikan perekat yang
    mudah di lepas dan dipasang ke papan yang telah disediakan.


                                                                      16
       Contoh Alat intervensi berupa foto dan papan perekat




   (foto tampak dari depan)             (foto tampak dari belakang)

b. Pelaksanaan
    Pertemuan I
    Setting belajar : Kelas
    Peralatan       : Kartu foto ,meja dan kursi
    Frekuensi       : Satu kali pertemuan dilakukan 10 kali trial
                      pembelajaran
    Pelaksana       : Seorang guru dan seorang prompter
    Prompt          : Prompt fisik berupa memegang tangan subyek,
                      mengarahkan untuk mengambil kartu foto dan
                      memberikan kartu pada terapis.
    Target perilaku : Membangun pemahaman subyek akan prosedur
                      bahwa bila ia ingin mendapatkan keripik talas, ia



                                                                          17
                    harus mengambil kartu terlebih dulu dan
                    memberikan kartu pada terapis.
   Prosedur          :
    1. Guru dan subyek duduk berhadapan dan prompter berada di
       belakang subyek.
    2. Guru menyediakan kartu yang berisi gambar benda kesukaan
       subyek di atas meja tempat subyek duduk.
    3. Guru mencoba mengiming-iming subyek dengan benda
       kesukaan subyek berdasarkan hasil reinforcement assessment
       sampling.
    4. Saat subyek berusaha merebut benda pada guru, maka
       prompter segera memegang tangan subyek serta mengarahkan
       untuk mengambil kartu lalu memberikan kartu tersebut kepada
       guru.
    5. Demikian seterusnya dilakukan sampai 10 kali trial.
    6. Tingkatan pemberian bantuan/prompt akan diberikan semakin
       berkurang bila subyek menunjukkan respon yang semakin
       mendekati target perilaku.
    7. Hasil intervensi dicatat pada lembar pencatatan dan dibahas
       dalam bentuk deskriptif.

Contoh Hasil intervensi:
a) Lembar pencatatan dan Penyekoran

     Percobaan    Prompt                   Respon                      Skor
        ke-
         1         Fisik   Subyek langsung merebut keripik dan         1
                           dibantu secara penuh untuk mengambil
                           kartu dan memberikan pada terapis
     Dst sampai     …      …
     pertemuan
       ke- 10
                           Total Skor                                  10




                                                                  18
Keterangan :
Skor 1 : Subyek dibantu penuh dalam memberikan respon
Skor 2 : Tingkat pemberian prompt sudah berkurang dan respon yang
ditampilkan subyek sudah mendekati target perilaku.
Skor 3 : Subyek melakukan target perilaku secara mandiri.

Jumlah total skor maksimal untuk 10 kali trial adalah 30. Skor tersebut
dapat dipersentasekan dengan cara berikut:
Misalnya total skor yang didapat pada pertemuan I adalah 10 maka
perhitungannya adalah :
              10
                    X 100 = 33,3 %
              30
Berarti perkembangan subyek dalam intervensi pada pertemuan I yang
dilakukan selama 10 kali trial adalah 33%. Untuk lebih jelasnya akan
digambarkan dalam diagram berikut ini:
       100
        90
        80
               Base line   Intervensi
        70
        60
        50                                                     Persentase
        40
        30
        20
        10
         0
           1

                 3

                       5

                           7

                                  9
                                        11

                                             13

                                                  15




Selanjutnya untuk pertemuan ke-2 dan selanjutnya hingga pertemuan ke
sepuluh dalam intervensi akan digambarkan dalam bentuk seperti grafik
diatas dengan contoh sebagai berikut:




                                                                     19
           100
            90
            80
                   Base Line   Intervensi
            70
            60
            50                                                persentase
            40
            30
            20
            10
             0
                   1    3     5   7    9 11 13 15
b) Contoh Pembahasan Pertemuan I:
        Pada percobaan pertama, subyek dihadapkan pada kripik talas.
Kripik talas adalah makanan kesukaan subyekberdasarkan hasil
reinforcement assessment sampling yang telah dilakukan. Pada percobaan
pertama subyek langsung ingin merebut makanan yang diiming-imingi
oleh guru tanpa mengunakan bahasa verbal, kemudian prompter yang
berada dibelakang mengarahkan tangan subyek mengambil kartu dan
memberikan kartu tersebut ke guru. Kemudian guru memberikan kripik
talas seraya mengucapkan “talas”. Hal ini dilakukan untuk memberikan
pemahaman pengenalan benda atau makanan yang menjadi kesukaan
subyek. Kegiatan ini berlangsung selama 10 kali percobaan. Terjadi
perubahan pada percobaan ke-tujuh dimana subyek tidak langsung
merebut tetapi hanya diam saja, dan kembali prompter yang berada
dibelakang subyek mengarahkan tangan subyek mengambil kartu dan
memberikannya ke guru.
        Setiap selesai sesi intervensi guru mengajak subyek bermain
pasang puzzle. Dan setiap kali subyek memberikan kartu gambar kepada
guru, subyek diberikan reinforcement berupa keripik talas dan diberikan
pujian berupa kata misalnya : “good boy”.




                                                                     20
c. Evaluasi
       Evaluasi dalam hal ini adalah evaluasi hasil intervensi yang
dilakukan terhadap subyek. Evaluasi dilakukan ketika intervensi telah
dilakukan sebanyak 10 kali. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui
sejauhmana perkembangan subyek setalah diberikan intervensi. Evaluasi
program dapat diukur berdasarkan respon subyek ketika diberikan
intervensi berdasarkan prompting yang diberikan oleh guru. Semakin
berkurang prompt yang diberikan, maka dapat dikatakan terdapat
perkembangan komunikasi oleh subyek dalam mengungkapkan
keinginannya. Tetapi ketika subyek tidak menunjukkan perkembangan
maka yang harus dilakukan guru adalah menelaah kembali hasil asesmen,
perencanaan program dan prosedur pelaksanaan serta melakukan
perbaikan-perbaikan demi tercapainya target perilaku.




                                                                   21
                           DAFTAR PUSTAKA


Christi Phil, at all. (2009). Langkah Awal Berinteraksi dengan anak autis.
         Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Http://Unsilster.Com/2009/12/Pengertian-Asesmen/ (10 desember 2011)

Http://Rennyapril.Blogspot.Com/2010/03/Pengertian-Autis.Html          (12
     Desember 2011)

Http://Abdiplizz.Wordpress.Com /2011 / 01/ 10/ Intervensi – Untuk -
       Anak-Autism/(14 Desember 2010)

Peeters, T. (2009). Autism From Theoretical Understanding to Educational
       Intervention. London: Whurr Publishers Ltd.

Pustpita Dyah. (2003). Kiat Praktis untuk Menangani Anak Autis. Jakarta:
     Putera Kembara

Rudy Sutadi, dkk (2011). Autisme dari A sampai Z. Jakarta: CV. Anak
    Special Mandiri




                                                                       22
                                LAMPIRAN
                     Kisi-kisi Instrumen Observasi


NO           Aspek            Kekuatan      Kelemahan   Analisis
1.   Minat
2.   Mobilitas
3.   Interaksi dan
     komunikasi
4.   Emosi
5.   Pemahaman kata
     benda




                                                           23

								
To top