Tugas AAC RENCANA PROGRAM
Document Sample


Identifikasi Wawancara pada guru kelas
Siswa yang diduga
memerlukan layanan
Asesmen Observasi Wawancara
Kekuatan dan Kelemahan
Asesmen lanjut Reinforsment Asesmen Simbol
asesmen sampling
Perencanaan Program
Pelaksanaan intervensi
Evaluasi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di kalangan masyarakat, anak autis sering menjadi perbincangan. Autistik merupakan
gangguan perkembangan yang mempengaruhi beberapa aspek bagaimana anak melihat dunia
dan bagaimana belajar melalui pengalamannya. Anak-anak dengan autis biasanya kurang dapat
merasakan kontak sosial karena mengalami hambatan dalam interaksi dan komunikasi. Mereka
cenderung menyendiri dan menghindari kontak dengan orang lain. Orang lain dianggap sebagai
objek (benda) bukan sebagai subjek yang dapat berinteraksi dan berkomunikasi. Padahal
interaksi dan komunikasi merupakan salah satu modal bagi seseorang memperoleh informasi
melalui lingkungannya. Selain itu anak autis mengalami adanya gangguan perilaku yang
menyertainya dalam melakukan interaksi dan komunikasi dengan lingkungannya.
Pendidikan selayaknya memenuhi kebutuhan bagi peserta didik berdasarkan
kemampuannya, tidak terkecuali bagi anak autis khususnya dalam hal interaksi dan komunikasi.
Komunikasi adalah proses untuk saling bertukar informasi, pendapat atau perasaan
seseorang dengan orang lain di sekitarnya. Anak autis memiliki masalah dalam hal interaksi
dan komunikasi. Pada umumnya, anak autis berinteraksi dan berkomunikasi dengan caranya
sendiri. Hal tersebut kadang sulit dimengerti oleh orang disekitarnya. Keadaan ini menimbulkan
hambatan yang membuat anak menjadi frustasi dan memungkinkan munculnya perilaku
negatif. Setiap orang tua tentunya menginginkan anaknya bicara normal akan tetapi tentu
tidak dapat terjadi secara spontan, melainkan memerlukan suatu proses belajar agar
perkembangan bicara dan bahasanya menjadi lebih baik, lalu bagaimana dengan anak-anak
yang mengalami gangguan komunikasi dan tidak memiliki prognosis kemajuan yang berarti
seperti anak autistik?.
Kompleksnya masalah yang dialami anak autis tidak hanya mengakibatkan hambatan
dalam belajar tetapi juga dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Meskipun demikian, tidak
berarti anak autis tidak mempunyai potensi yang masih bisa dikembangkan. Namun demikian
pada kenyataannya, sebagian besar anak autis mengalami kesulitan dalam menggunakan
bahasa dan berbicara, sehingga mereka sulit melakukan komunikasi dengan orang-orang
di sekitarnya. Oleh karena itu diperlukan alternatif berkomunikasi selain dengan verbal bagi
mereka sehingga kesempatan anak autis untuk melakukan interaksi dapat dilakukan dan secara
tidak langsung pula mereka dapat bereksplorasi terhadap lingkungan secara timbal balik
meskipun tidak menggunakan verbal atau yang disebut bicara. Dengan pemahaman tersebut,
maka dapat dilakukan intervensi sedini mungkin agar hambatan yang dialami anak tidak
semakin kompleks.
Sebuah kasus berikut ini merupakan anak dengan autisme hipo bernama Ricky dan
ditemukan bahwa Ricky mengalami hambatan dalam komunikasi verbal. Ricky tidak
membangun komunikasi verbal, ia lebih menggunakan isyarat-isyarat tertentu untuk
berkomunikasi. Ekspresi keinginannya adalah dengan merebut barang yang diinginkannya.
Berdasarkan hal tersebut, maka Ricky memerlukan sebuah pelayanan atau intervensi yang
tepat agar Ricky dapat mengembangkan komunikasinya. Dalam studi lapangan ini, akan dibahas
mengenai program pengembangan komunikasi alternatif dan augmentatif bagi Ricky
berdasarkan kebutuhan dan kemampuannya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam studi lapangan ini adalah:
1. Bagaimanakah kemampuan dan hambatan komunikasi pada subyek Ricky?
2. Bagaimanakah program pelayanan dalam mengembangkan kemampuan komunikasi
alternatif dan augmentatif bagi Ricky?
C. Tujuan
Tujuan studi lapangan ini adalah:
1. Untuk mengetahui kemampuan dan hambatan komunikasi pada Ricky.
2. Untuk memberikan program layanan (intervensi) dalam mengembangkan kemampuan
komunikasi alternatif dan augmentatif bagi Ricky.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Pengertian Autisme
Autisme adalah gangguan perkembangan nerobiologi yang berat yang terjadi pada anak
sehingga menimbulkan masalah pada anak untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan
lingkungannya (Rudy S.2008:25). Yuniar (2002) menambahkan bahwa Autisma/Autisme adalah
gangguan perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan
kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain, sehingga sulit
untuk mempunyai ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat.
Autisme berasal dari kata Auto yang berarti sendiri, dan isme yang berarti paham. Autisme
adalah keadaan yang disebabkan oleh kelainan otak yang ditandai dengan kelainan dalam
interaksi sosial, komunikasi dan perilaku yang sangat kaku dan pengulangan perilaku. Menurut
Peeters (2009) Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan, gangguan
pemahaman/gangguan pervasif, dan bukan suatu bentuk penyakit mental. Autisme juga
diartikan sebagai gangguan perkembangan yang secara umum tampak di tiga tahun pertama
kehidupan anak. Dari keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Autisma/Autisme
adalah gejala menutup diri sendiri secara total, dan tidak mau berhubungan lagi dengan dunia
luar, merupakan gangguan perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan
akibat kekurangan kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain.
B. Komunikasi Alternatif dan Augmentatif
1. Definisi
Komunikasi alternatif adalah teknik-teknik yang menggantikan komunikasi lisan bagi
individu yang mengalami hambatan dalam bicara atau tidak mampu berkomunikasi melalui
bahasa lisan. (McCormick & Shane, 1990). Sedangkan Komunikasi augmentatif adalah kaidah-
kaidah dan peralatan/media yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi verbal dalam
kenyataan hidup sehari-hari (Mustonen, Locke, Reice, Solbrack, dan Lingren, 1991).
The American Speech-Language-Hearing Association defines “AAC as an area of
clinical practice that attempts to compensate (either temporarily or permanently) for the
impairment and disability patterns of individuals with severe expressive communication
disorders (i.e., the severe impairments in speech-language, reading and writing)”. AAC
incorporates the individual's full communication abilities and may include any existing speech
or vocalizations, gestures, manual signs, and aided communication. AAC is truly multimodal,
permitting individuals to use every mode possible to communicate. (sumber: National Joint
Committee for the communication needs of person with severe disabilities).
Berdasarkan berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
Augmentative and alternative communication (AAC) adalah media dan metode serta cara
yang digunakan oleh anak/orang yang mengalami hambatan dalam berkomunikasi agar
dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar dengan orang di sekitarnya.
2. Komponen-komponen AAC
Komponen AAC meliputi: (1) Teknik komunikasi; (2) Sistem symbol; dan (3) Kemampuan
berkomunikasi. (McCormick & Shane, 1990 dalam Kuder, 2003).
a. Teknik Komunikasi
Teknik komunikasi ada dua macam, yaitu:
(1) Teknik komunikasi tanpa bantuan;
Teknik ini tidak memerlukan alat bantu dari luar diri anak dan tidak pula
memerlukan prosedur khusus dalam pengunaannya. Teknik ini menggunakan
kaidah berbicara, bahasa isyarat, gesture, dan mimik muka. Kelebihan teknik ini
adalah tidak perlu alat Bantu, dengan sendirinya menjadi lebih murah karena
tidak memerlukan biaya, dan mudah ditukar atau dipindahkan. Adapun
kekurangannya adalah: pertama, tidak inovatif sehingga komunikasi di masa
depan akan menjadi masalah karena bahasa komunikasi itu terus berkembang;
kedua, tergantung pada kemampuan ingatan pengguna; ketiga isyarat sebenarnya
sulit dipelajari.
(2) Teknik Komunikasi dengan bantuan. (Vanderheiden & Lloyd, 1986 dalam Kuder
2003).
Teknik ini memerlukan alat bantu dan menggunakan prosedur secara rinci dalam
penggunaannya. Baik alat Bantu ini elektronik maupun non-elektronik maupun
system symbol. Alat bantu ini dari yang sangat sederhana sampai yang paling
canggih, dari papan komunikasi sampai alat bantu bicara sintetik yang
menggunakan komputer. Jadi teknik ini memerlukan obyek fisik yang berupa
peralatan bantu komunikasi untuk memudahkan seorang anak berkomunikasi.
Kelebihan teknik ini adalah dapat menyampaikan pesan lebih kompleks
terhadap kemampuan berbahasa/berkomunikasi bagi pengguna, dan dapat
digunakan komunikasi jarak jauh. Adapun kelemahan teknik ini adalah mudah
rusak, kehilangan daya (elektronik), perawatan susah, dan lebih mahal.
b. Sistem Simbol
Berbagai sistem simbol telah dibuat dari benda asli (benda sebenarnya), berbentuk
gambar, dan sistem simbol yang abstrak. Sistem simbol yang abstrak antara lain gambar
yang mewakili suatu bentuk atau kejadian (picturial representations), ideographs (ide
yang ditampilkan melalui simbol grafis), simbol arbitrari (ide dalam bentuk konfigurasi
garis arbitrari), dan lexigrams (simbol visual-grafis secara arbitrari yang merupakan
bentuk-bentuk geometrik). Contoh sisem simbols antara lain: picture communication
symbols (Johnson, 1981), Picsyms (Carlson, 1984), Sigsymbols (Creagan, 1982),
Blissymbols (Blis, 1985), Rebus (Clark, Davies, & Woodcock, 1974), dan Non-SLIP (Non-
Speech Language Initiation Programme (Carrier, 1974).
c. Kemampuan berkomunikasi
Prosedur dan alat bantu AAC telah menyediakan peluang terbaik bagi individu yang
tidak mampu berkomunikasi secara lisan/verbal untuk dapat berkomunikasi dengan
orang lain secara baik. Oleh karena itu porsedur dan alat bantu AAC harus digunakan
secara optimal. Untuk dapat mengikuti prosedur dan alat bantu dengan baik ABK perlu
mendapatkan latihan secara intensif dan berkesinambungan.
3. Faktor-faktor dalam memilih AAC
Pemilihan AAC perlu dipertimbangkan secara matang dengan memperhatikan
hambatan komunikasi yang dialami individu. AAC yang dipilih harus dapat diakses oleh
pengguna secara mudah dan nyaman. Berikut adalah hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam
pemilihan AAC :
a. Guessability
Harus mudah dipahami (diterka) dan mudah dibaca, hal ini memperhatikan tingkat
kemiripan dan keterwakilan antara simbol yang digunakan dengan item/obyek yang
diwakili.
b. Learnability
AAC harus mudah dipelajari. Hal ini merujuk kepada tingkat kemudahan/kesukaran
untuk mempelajari penggunaan suatu simbol yang dibuat.
c. Generalization
Menggambarkan simbol secara umum, sehingga siapapun yang menggunakannya
dapat memahami dengan mudah. Dari anak kecil sampai orang dewasa dapat secara
umum memahami simbol tersebut.
4. Pelaksanaan Program AAC
Program AAC dibuat berdasarkan hasil asesmen terhadap individu yang diduga
mengalami hambatan dalam komunikasi. Program AAC dibuat sedemikian rupa sehingga
dapat memenuhi kebutuhan anak sebagai sasaran pelatihan AAC. Pelaksanaan program
melalui proses dan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Identifikasi dan asesmen awal
b. Menetapkan tujuan
c. Pemilihan model dalam komunikasi
d. Pemilihan sistem simbol
e. Pemilihan bahan dan prosedur penggunaan untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi
f. Melaksanakan latihan
g. Melaksanakan evaluasi
C. AAC untuk Autisme
Kebanyakan anak autis memiliki visual memori jauh lebih baik dibandingkan memori
auditori mereka (Hogdon, 1995). Strategi visual sebagai salah satu sarana yang
menitikberatkan penggunaan alat bantu visual bisa dijadikan pertimbangan dalam membantu
proses pendidikan anak autis. Strategi visual menggunakan apapun yang dapat dilihat, dan
sistem ini dirasa sangat cocok dengan kelebihan yang dimiliki anak autis. Karena itu
penggunaan strategi visual ini diharapkan dapat memudahkan anak dalam belajar dan
membantu siapapun yang menangani anak autis.
1. Anak dengan Autisme
Anak autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan dalam aspek perilaku,
komunikasi, dan interaksi. Mereka sebagian besar mengalami masalah berkomunikasi dan
berinteraksi serta perlu dibantu untuk hidup mandiri. Dengan kata lain mereka mengalami
kesulitan dalam pemahaman, komunikasi/interaksi, dan kemandirian. Beberapa individu yang
termasuk dalam spectrum autisme melaporkan bahwa mereka memiliki ciri khas dalam
mempersepsi dunia (Siegel, 1996), seperti misalnya :
Visual thinking (berpikir visual)
Mereka lebih mudah memahami hal konkrit (dapat dilihat dan dipegang) daripada hal
abstrak. Biasanya ingatan atas berbagai konsep tersimpan dalam bentuk video atau file
gambar. Proses berpikir yang menggunakan gambar/film seperti ini jelas lebih lambat
daripada proses berpikir secara verbal, akibatnya mereka perlu jeda beberapa saat
sebelum bisa berespon. Individu dengan gaya berfikir seperti ini, juga lebih
mengandalkan asosiasi daripada berpikir secara logis menggunakan logika.
Processing problems (kesulitan memproses informasi)
Sebagian anak autis mengalami kesulitan memperoleh informasi. Mereka cenderung
terbatas dalam memahami “common sense” atau menggunakan akal sehat/nalar.
Mereka sulit merangkai informasi verbal yang panjang (rangkaian instruksi), sulit
dimintai sesuatu sambil mengerjakan hal lain, dan sulit memahami bahasa verbal/lisan.
Hal-hal tersebut di atas tampak konsisten dengan kecenderungan anak autis yang lebih
mudah berpikir secara visual.
Communication frustration (kesulitan berkomunikasi)
Gangguan perkembangan bicara bahasa yang terjadi pada anak autis membuat mereka
sering frustasi karena masalah komunikasi. Mereka bisa mengerti orang lain tapi
terutama bila orang lain bicara langsung kepada mereka. Itu sebabnya mereka seolah tidak
mendengar bila orang lain bercakap-cakap diantara sesamanya. Mereka merasa
percakapan itu tidak ditunjukkan kepada mereka, karena itu mereka sulit memahami
tuntutan lingkungan yang meminta mereka menjawab meski mereka tidak ditanya
secara langsung. Anak autis juga sulit mengungkapkan diri, sehingga lalu bertindak atau
berperilaku negatif lain selain sekedar untuk mendapat apa yang mereka inginkan. Mereka
tidak mampu mengungkapkan diri secara efektif, kadang harus berada dalam kondisi
tertekan untuk dapat ekspresi, sehingga seringkali frustasi bila tidak dimengerti.
Social & emotional issues (masalah emosi dan social)
Ciri lain yang dominant adalah keterpakuan akan sesuatu membuat anak autis cenderung
berpikir kaku. Akibatnya mereka sulit beradaptasi atau memahami perubahan yang
terjadi di lingkungan sehari-hari. Apalagi bila perubahan tersebut terjadi dengan cepat
dan tanpa penjelasaan sama sekali. Keterpakuan akan sesuatu membuat mereka sulit
memahami berbagai situasi social, seperti tata cara pergaulan dan aturan sosialisasi
yang sangat bervariasi tergantung kondisi dan situasi sesaat. Pada umumnya anak
autis tidak dapat membayangkan bahwa orang lain juga bisa mempersepsi sesuatu dari
sudut pandang yang berbeda, karena hal ini adalah sesuatu yang sangat abstrak. Itu
sebabnya, banyak yang sulit berempati bila tidak dilatih melalui pengalaman dan
pengarahan.
Problems of control (kesulitan dalam mengontrol diri)
Berbagai gangguan perkembangan neurology di otak menjadikan masalah anak autis
menjadi semakin kompleks. Mereka mengalami kesulitan mengontrol diri sendiri, yang
terwujud dalam berbagai bentuk masalah perilaku. Mereka cenderung berperilaku
ritual dengan pola tertentu. Sebagian dari mereka juga memiliki ketakutan yang luar biasa
pada hal-hal yang tidak ia mengerti. Karena itu ada anak yang amat marah hingga
berperilaku tantrum bila rutinitasnya diubah, juga ada yang sulit sekali bila diminta
(cenderung menolak terlebih dahulu) untuk melakukan kegiatan baru.
Problems of connection (kesulitan dalam menalar)
Berbagai masalah yang berkaitan dengan kemampuan individu menalar antara lain :
masalah pemusatan perhatian (attention problems), terus menerus terdistraksi.
System integration problems
Proses informasi di otak bekerja secara “mono” (tunggal) sehingga sulit memproses
beberapa hal sekaligus. Setiap individu mempunyai caranya sendiri dalam mencerna
informasi secara efektif. Umumnya belajar melalui indra penglihatan, perabaan, dan atau
pendengaran. Kita juga punya aneka gaya dari mengingat. Ada individu yang lebih ingat
fakta sementara yang lain lebih suka detail. Untuk anak sendiri ada beberapa gaya
yang dominan pada diri mereka (Sussman, 1999) antara lain :
Rote learner : Anak yang memakai gaya belajar ini, cenderung menghafal
informasi apa ada tanpa memahami arti symbol yang mereka hafalkan itu. Contoh :
anak dapat menghafalkan arti tapi ia tidak tahu bahwa symbol itu mewakili
‘jumlah berbeda’.
Gestalt learner : Bila anak menghafalkan kalimat-kalimat secara utuh tanpa
mengerti arti kata perkata yang terdapat pada kalimat tersebut, anak
cenderung belajar menggunakan gaya ‘gestalt’ (melihat sesuatu secara global).
Berbeda dengan anak non-autis yang belajar bicara justru mulai dari per-kata, anak
autis dengan gaya gestalt akan belajar bicara dengan mengulang seluruh kalimat.
Auditory learner : Anak dengan gaya belajar ini senang bicara dan mendengarkan
orang lain bicara. Ia mendapatkan informasi melalui pendengarannya. Jarang
sekali anak autis bergantung sepenuhnya dengan gaya ini dan biasanya
menggabungkannya dengan gaya lain.
Visual learner : Anak dengan gaya belajar visual senang melihat-lihat buku/ gambar
atau menonton tv dan umumnya lebih mudah mencerna informasi yang dapat
mereka lihat daripada yang hanya dapat mereka dengar. Berhubung penglihatan
adalah indera terkuat mereka, tidak heran banyak anak autis yang menyukai tv/
vcd/ gambar.
Hand-on learner : Anak yang belajar dengan gaya ini, senang mencoba-coba
dan biasanya mendapatkan pengetahuan melalui pengalamannya. Mulanya ia
mungkin tidak tahu apa arti kata ‘buka’ berarti….ia ke pintu dan membuka
pintu itu.
2. Strategi Visual
a. Batasan
Strategi visual menggunakan stimuli visual, yaitu apapun yang dapat dilihat oleh
individu yakni :
1. Orang lain, atau kita sendiri
Berbagai isyarat dan bahasa tubuh yang dipakai seseorang untuk menunjang
komunikasi antara lain : tersenyum, cemberut, menggeleng atau mengangguk,
mengacungkan benda, menunjuk, dan sebagainya.
2. Berbagai hal yang secara alamiah ada di lingkungan dan dapat digunakan sebagai
stimulus visual yang membantu anak memahami dunianya, seperti benda,
orang, gambar, poster, foto, tanda lalu lintas, dan sebagainya.
3. Bila kita perlu lebih banyak lagi, kita dapat membuatnya sendiri, terutama untuk
memenuhi kebutuhan spesifik setiap anak, antara lain : jadwal kalender, papan
pilihan, daftar aturan, daftar belanja, instruksi, peringatan mengenai perilaku
dan berbagai alat bantu lain untuk membantu anak mengerti dan tahu apa yang
harus dilakukan (Hodgdon, 1999).
b. Fungsi
Mengacu pada kendala yang ada pada anak autis dalam menjalani pendidikan, maka
strategi visual dapat digunakan untuk mengatasi kendala-kendala dalam hal :
1. Pemahaman
a. Meningkatkan pemahaman
Pada dasarnya manusia menyukai penjelasaan, karena itu menebak apa yang
akan terjadi, kapan terjadinya bisa merupakan tekanan tersendiri bagi
individu. Masalah perilaku pada penyandang autis seringkali terjadi akibat
terputusnya informasi, atau diantara masa transisi akibat dari perubahan.
b. Mengatur perilaku
Bila anak tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana harus berperilaku,
mereka akan lebih kooperatif dan lebih tenang. Mereka lebih suka bila kita
memberikan informasi mengenai hal tersebut karena mereka tidak perlu
buang tenaga memikirkan harus bagaimana bertindak. Alat bantu visual
membantu anak mengatur perilakunya dengan menjelaskan berbagai hal yang
abstrak dalam kehidupan, seperti : aturan dan petunjuk berperilaku, serta
berbagai makna kata “tidak” atau “tidak ada” atau “tidak boleh”.
2) Komunikasi dan interaksi
Keterbatasan berkomunikasi seringkali menghambat penyandang autis
mengutarakan hal tersebut, karena itu penting sekali mengajarkan anak
menguasai ketrampilan berikut melalui penggunaan strategi visual
3) Kemandirian
Strategi visual dapat digunakan untuk mengembangkan kemandirian. Tujuan
utama mendidik anak tentu saja adalah agar mereka bisa ‘mandiri’. Dalam hal ini,
mencakup bagaimana berperilaku sesuai situasi dan keadaan serta bagaimana
memecahkan masalah mereka tanpa bantuan orang lain.
c. Cara Pengajaran
Meski kebanyakan penyandang autisme adalah visual learner, tidak berarti bahwa anak
dapat langsung paham penggunaan alat bantu visual. Mereka harus tetap diajarkan, antara
lain melalui cara-cara sebagai berikut :
1. Mengupayakan pemahaman berbagai hal di lingkungan (benda, aktifitas, konsep),
dengan :
Memperkenalkan alat bantu secara sistematis
Memasangkan alat bantu visual dengan sesuatu yang bermakna bagi anak.
Menggunakan alat bantu visual secara kontekstual.
2. Menggunakannya langsung untuk mendapatkan keinginan (berkomunikasi), saat
membantu anak berkomunikasi.
3. Mengembangkan kemandirian dengan mengatur lingkungan yang memerlukan
bantuan orang lain sesedikit mungkin. Beberapa saran untuk melatih anak ASD
menjadi mandiri saat mengajarkan sekuens kegiatan.
d. Hal-hal yang diperhatikan
Untuk memastikan keberhasilan proses pengajaran penggunaan alat bantu kepada anak
autis, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Bentuk alat bantu diberikan mengikuti hirarki representasi (Gardner, Grant & Webb,
1999).
Benda 3 dimensi, contoh : aneka benda nyata
Simbol benda, contoh : miniature, bungkus, atau label
Foto, contoh : dari benda nyata, guntingan majalah
Gambar, contoh : kartu, gambar compic/pecs berwarna
Tulisan kata yang dikenal, contoh : nama
Gambar symbol linier, contoh : symbol compic tak berwarna
Tulisan kata yang tidak dikenal, contoh : kartu kata, label
Kalimat lengkap, contoh : buku, instruksi, surat, buku, dsb.
2. Pembuatan alat bantu sebaiknya :
a. Menggunakan yang mudah bagi anak
Benda 3 dimensi/riil selalu lebih konkrit daripada bentuk tampilan lainnya. Bila satu
bentuk sudah menjawab kebutuhan, tidak perlu mengganti dengan bentuk yang
lebih abstrak.
b. Mempertimbangkan kondisi anak, seperti :
Usia
Derajat kemampuan/pemahaman anak
Tujuan penggunaan (pemecahan masalah, situasi, dan pemenuhan kebutuhan).
c. Memilih sesuai dengan keadaan anak, seperti :
Bentuk tampilan (gambar, benda, foto, dsbnya)
Ukuran sesuai kebutuhan (lokasi penempatan, bagaimana akan digunakan,
usia anak, derajat ketrampilan anak, dan respon anak).
d. Memikirkan secara seksama bagaimana akan menggunakan alat bantu sebelum
membuatnya. (Siapa, dimana, kapan, bagaimana menggunakan dan
menyimpannya, apa yang akan dilakukan dan dikatakan oleh anak yang
menggunakannya)
e. Mempertimbangkan penggunaan kombinasi gambar dan tulisan; yang sederhana
tapi jelas. Tampilan ini sekaligus memberikan anak informasi mengenai dua hal
yaitu makna gambar dan tulisan yang ia perlukan di kemudian hari.
f. Melalui proses yang wajar, tidak panik atau berlebihan.
g. Mempertimbangkan untuk melibatkan anak dalam persiapan alat bantu (bila
mampu). Biarkan mereka melihat kita mengambil foto atau menggunting
gambar. Berikan kesempatan mereka untuk memilih akan menggunakan
gambar yang mana (untuk pilihan), memilih tulisan atau kombinasi gambar
tulisan, serta bagaimana menyimpannya.
h. Mengupayakan sikap yang spontan. Sejalan dengan perkembangan anak, dan sesuai
dengan kebutuhan, lingkungan perlu menggunakan berbagai hal di lingkungan anak
secara lebih spontan sehingga kosa kata anak makin kaya.
e. Alternatif Penggunaan
Bila anak sudah paham berbagai alat bantu, maka ia sudah dapat diajari bagaimana
menggunakannya.
1. Melabel
Anak diminta menjawab pertanyaan untuk menguji pemahamannya. Bagi anak verbal
atau dapat bicara kita mengharapkan anak mengatakannya kepada kita. Bagi anak yang
dapat bicara tetapi sulit menjawab pertanyaan, bantuan berupa berupa kartu gambar
atau tulisan, symbol linier diberikan sebagai pilihan jawaban. Sesudah memegang
gambar atau menunjuk gambar/ symbol tertentu ia akan juga mengatakannya. Bagi anak
yang non verbal, tidak/ belum dapat bicara, tindakannya memegang atau menunjuk itu
sudah dapat dikatakan sebagai
jawabannya.
2. Menetapkan pilihan
Belajar menetapkan pilihan, merupakan proses belajar yang dapat dilakukan sehari-
hari dengan modal ‘konsistensi’ pengajar. Maksudnya, bila anak memilih benda A, maka
ia akan mendapatkannya meski sebenarnya ia tidak suka. Anak sekaligus belajar untuk
konsekuen, bertanggung jawab atas pilihannya, sehingga ia tidak ‘asal’ tunjuk dan
pilihannya akurat.
3. Menggunakan konsep “YA” dan “TIDAK”
Memahami makna “ya” dan “tidak” adalah jendela komunikasi. Bila anak belum paham
perbedaan dua konsep tersebut, sulit sekali mengharapkan ia menjawab pertanyaan dari
kita yang berusaha menggli informasi. Sebaliknya, bila ia sudah dapat menjawab ‘ya’ atau
‘tidak’ untuk berbagai pertanyaan yang kita ajukan, setidaknya kita sudah mendapatkan
informasi tanpa membuatnya frustasi berkepanjangan.
4. Menggunakan bahasa isyarat
Sering anak autis tidak dapat memahami perkataan orang lain, karena hambatan pada
‘auditory memory’ mereka. Mereka lupa makna kata tersebut sehingga gagal berespons.
Atau, mereka kebingungan antara beberapa kata yang terdengar mirip, meskipun
maknanya sangat berbeda. Misal, ‘ke meja’ dengan ‘kemeja’. Banyak bahasa isyarat
yang dapat dipilih, tapi sangat disarankan menggunakan bahasa isyarat yang
dimengerti secara universial. Maksudnya, orang lain tidak perlu belajar khusus untuk
mengerti bahasa isyarat tersebut
5. Pertukaran gambar
Maksudnya adalah anak memberikan sebuah gambar kepada orang lain sehingga orang
tersebut paham bahwa ia menginginkan benda (atau orang atau kegiatan atau aktifitas)
tersebut.
6. Penggunaan simbol linier
Mengingat bahwa anak autis adalah visual learners, sangat disarankan untuk
menggunakan berbagai gambar dalam mengajarkan keterampilan berkomunikasi. Tapi
bila kita hanya menggunakan satu jenis gambar saja, anak-anak akan Menghafalkan
gambar tersebut sehingga tidak bisa fleksibel. Pada saat benda yang ada dihadapanya
tidak sama persis dengan gambar yang ia punya, besar kemungkinan ia tidak mau
menerima benda tadi. Simbol linier yang banyak dipakai adalah symbol Compics dari
Australia, dan simbol keluaran Mayer-Johnson, Amerika Serikat yang banyak digunakan
untuk mengajarkan system PECS. Simbol-simbol linier bisa dipakai untuk keperluan
belajar hal-hal berikut :
a. Menyusun kalimat
b. Belajar bertanya
c. Belajar bercakap-cakap
d. Belajar bercerita
7. Penggunaan jadwal
Jadwal adalah satu set gambar atau tulisan yang membantu seseorang untuk aktif
melakukan serangkaian aktifitas. Tujuan pemberian skedul ini adalah kemandirian,
ketrampilan memilih dan membantu interaksi sosial.
8. Cerita sosial
Cerita-cerita sosial ini mengambarkan situasi sosial sehari-hari secara detil, mencakup
isyarat-isyarat sosial yang berkaitan dan juga menjelaskan respon yang sesuai. Cerita-
cerita ini membantu individu ASD memahami situasi sosial yang akan ia hadapi ; misal :
antri, mengganti acara TV, berbuat kesalahan, dan sebagainya.
f. Aplikasi Strategi Visual
1) Di Lingkungan Sekolah
Alat bantu visual sangat berguna dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, dimana
anak dituntut untuk mengutarakan diri secara runut, cepat, dan berkesinambungan.
Alat bantu ini bisa dalam bentuk tulisan ataupun symbol bertulisan. Adapun
kegiatan-kegiatan di sekolah yang menggunakan alat bantu visual ini dilihat dari kendala
yang dihadapi anak ASD adalah :
a. Pemahaman
Anak ASD kesulitan dalam memahami hal-hal yang abstrak. Dalam hal ini
penggunaan strategi visual dapat berupa kartu symbol, antara lain : menjawab
pertanyaan; menggunakan kartu angka untuk membantu belajar matematika;
gambar bertulisan atau logo untuk belajar membaca dan menulis.
b. Komunikasi dan interaksi
Keterbatasan berkomunikasi menghambat anak ASD mengutarakan apa yang
mereka inginkan dan apa yang mereka tidak inginkan. Dalam hal ini
penggunaan strategi visual, misalnya menggunakan PECS untuk mengutarakan
keinginan; menggunakan symbol liner ‘ya’ dan ‘tidak’ untuk menggali informasi;
atau mengadahkan tangan untuk meminta mainan dari orang lain dapat membantu
anak berkomunikasi.
c. Kemandirian
Untuk membantu anak ASD lebih spontan, aktif, serta mandiri dalam
melakukan berbagai aktifitas, penggunaan strategi visual bisa berupa sekuens
kegiatan seperti cuci tangan, memakai pakaian, dan penggunaan skedul atau
jadwal satu hari.
2) Di Luar Lingkungan sekolah
a. Pemahaman
Penggunaan social story menjelaskan kepada anak ASD tentang kegiatan atau
aktifitas yang akan dihadapinya, sehingga ia tidak cemas dan berperilaku negatif.
Isinya menggambarkan situasi social secara detail, yang mencakup isyarat-isyarat
social yang berkaitan dan juga menjelaskan respon yang sesuai.
b. Komunikasi dan interaksi
Misalnya : Anak bercerita mengenai kejadian di sekolah atau yang baru
dialaminya dengan menyusun symbol linier menjadi rangkaian cerita. Anak juga
dapat mengutarakan keinginan saat makan di restoran, memilih antara yang
diingingkan dari menu yang ada, dan sebagainya.
c. Kemandirian
Anak dibantu untuk mandiri melakukan berbagai urutan kegiatan tanpa bantuan
siapapun, misal ; bersiap ke sekolah, toileting, berpakaian, membersihkan kamar,
dan sebagainya.
BAB III
METODE STUDI LAPANGAN
A. Metode
Metode yang digunakan dalam studi lapangan ini adalah metode deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Data yang telah dikumpulkan selama studi lapangan mulai dari
identifikasi, asesmen, perencanaan program hingga hasil dari intervensi akan dideskripsikan
secara kualitatif.
B. Profil Subyek
Nama Anak : Ricky Chandra
Nama Panggilan : Ricky
Tempat & Tanggal Lahir : Yogyakarta, 14 Oktober 1999 (11 Tahun 3 bulan)
Diagnosa : Autis (oleh dr. Edy Darma, Yogyakarta)
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Kristen
Anak ke : 1 dari 2 bersaudara
Sekolah : Kezia School and Learning Center
Jl. Setiabudi no. 257 Bandung
Alamat Rumah : Jl. Pasar Baru Panorama Lembang no. 58 Bandung
Orang Tua : 1. Ayah : Tjandra Djaja
2. Ibu : Kiswanti
Pekerjaan Orang Tua : 1. Ayah : Wiraswasta
2. Ibu : Wiraswasta
B. Prosedur Kegiatan
1) Identifikasi dan asesmen awal melalui observasi terhadap perilaku anak, wawancara
dengan orang tua dan pengumpulan data pendukung (rekaman suara, gambar) bila ada.
Hasil yang diharapkan mendapatkan gambaran tentang kebutuhan komunikasi yang
diperlukan dan potensi yang dapat menunjang pemenuhan kebutuhan anak.
2) Pemilihan model dalam komunikasi dan perencanaan program meliputi : Program AAC
yang memungkinkan dilakukan secara kolaborasi dengan orangtua, alat pendukung, dan
petunjuk penggunaan alat tersebut. Hasil yang diharapkan tersebut mendapatkan
gambaran pelaksanaan program, sarana prasarana pendukung, peranan masing-masing
pelaksana program.
3) Pemilihan sistem symbol. Pemilihan system symbol didasarkan pada hasil asesmen yang
dilakukan oleh terapis. Yang dimaksud symbol dalam hal ini ada
4) Pemilihan bahan dan prosedur penggunaan untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi.
5) Melaksanakan latihan (Intervensi)
6) Melaksanakan evaluasi
C. Metode Pengumpulan Data
1. Observasi. Observasi digunakan untuk mengamati subyek pada saat asesmen dan pada
saat kegiatan intervensi berlangsung.
2. Dokumentasi. Dokumentasi digunakan untuk merekam kejadian-kejadian pada saat
identifikasi kasus dan pada saat intervensi.
3. Wawancara. Wawancara dilakukan kepada orangtua dan guru untuk mengumpulkan
data tentang subyek.
D. Hasil Asesmen Awal
a. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada setting sekolah dan rumah subyek didapat
hasil sebagai berikut :
Ricky adalah anak pertama dari dua bersaudara, ia mempunyai seorang adik
bernama Rico dan berusia 5 tahun. Secara fisik tidak nampak kelainan apapun dan nampak
seperti anak pada umumnya, tinggi badannya sekitar 145 cm dan berat badan 50 kg
sehingga ia tampak gemuk dan lebih besar dibanding anak seusianya. Cara berjalannya
kadang suka jalan berjinjit. Saat diajak berkenalan Ricky hanya bergumam saja dan tidak
mengeluarkan satu kata pun, hanya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Minat Ricky masih terbatas pada benda-benda tertentu yang bila diketuk-ketuk
mengeluarkan bunyi tertentu pula. Contohnya kertas karton tebal/dus tebal/kotak bekas
kemasan makanan yang kaku dan ia suka mengetuk-ngetuk benda tersebut dengan jari
tangannya. Ricky termasuk anak yang sedikit bergerak, misalnya saat jam istirahat, Ricky
hanya duduk bersila di teras sekolah dan ia bisa bertahan cukup lama hanya dengan duduk
diam seperti itu. Aktifitas lainnya saat jam istirahat adalah berjalan santai berkeliling ruang-
ruang di sekolah sambil mencari makanan/minuman dan benda yang disukainya. Bila
dilihat ada benda yang menarik perhatiannya maka ia akan langsung merebut/mengambil
benda tersebut tanpa minta ijin terlebih dulu.
Minatnya terhadap makanan atau minuman sangat besar. Ini dikarenakan Ricky
tidak pernah menyatakan keinginannya, apakah itu lapar/haus/dll. Bila ia haus, maka akan
langsung merebut minuman yang dilihatnya, baik itu minuman yang ada di meja atau
minuman yang sedang dipegang orang lain pun langsung direbutnya. Demikian pula dalam
hal makanan, yang sangat disukainya adalah makanan renyah (kerupuk, keripik, snack, dll)
dan makanan pedas. Bila Ricky melihat ada makanan kesukaannya ia selalu merebut
makanan tersebut walaupun ia sudah makan berat. Selain itu Ricky juga suka mencium-
cium jari tangannya. Ia sering memasukkan jari-jari tangan ke dalam mulut dan langsung
diciumnya. Beberapa benda yang berbau khas juga suka diciumnya, misalnya sepatu, baju
yang berbau parfum, tangan orang lain, dan lain-lain.
Dalam hal interaksi dengan orang lain, Ricky tampak cuek dan tidak ada inisiatif
untuk membangun interaksi baik dengan teman maupun guru. Dalam berkomunikasi, Ricky
tidak menggunakan bahasa verbal, ia sering bergumam (suara-suara yang tidak bertujuan).
Bahasa reseptif Ricky jauh berkembang dibandingkan bahasa ekspresifnya. Hal ini dapat
dilihat ketika Ricky dipanggil namanya, Ricky akan mendekati orang yang memanggilnya.
Bila Ricky disuruh mengambil suatu benda yang sudah dikenalnya (mobil, bola, gelas, piring,
sepatu, kaos kaki, pakaian, dll), ia mampu mengambil benda tersebut. Saat ditanya, “Mana
Ricky?”, ia akan menepuk-nepuk dadanya. Cara Ricky untuk mengekspresikan keinginannya
adalah ia akan merebut benda yang diinginkan, bila ingin BAB/BAK ia akan langsung lari
masuk kamar mandi dan bila ia ingin suatu benda yang sulit diraih maka ia akan menarik
tangan gurunya dan mengarahkan tangan guru pada benda yang dimaksud sebagai tanda
minta tolong (misal: minta tolong dibukakan plastik kemasan makanan).
Dalam hal emosinya, Ricky termasuk anak yang tenang, hanya terkadang bila ada
keinginannya yang dilarang, Ricky akan marah, dan ekspresi marahnya dia akan mengerang
dengan suara keras dan wajahnya memerah. Bila Ricky marah, biasanya ia akan diberi
waktu beberapa saat sampai ia tenang kembali, Ricky termasuk anak yang mudah untuk
ditenangkan. Bila ada teman yang memukulnya, Ricky hanya diam saja dan tidak
membalas, responnya hanya menoleh ke teman yang memukulnya, kecuali bila dirasakan .
Tampak juga beberapa kali Ricky tertawa sendiri tanpa sebab dan juga tampak Ricky tiba-
tiba menangis tanpa sebab.
Ricky tinggal bersama kedua orangtuanya dan ia tidak memiliki pengasuh yang
khusus untuk menemaninya. Pekerjaan kedua orangtuanya adalah berdagang makanan
ringan dan mereka membuka toko yang digabung dengan rumah.
Bagian depan rumah Ricky merupakan toko dan dibagian belakangnya ada sebuah
ruang kamar berukuran sekitar 8x6 m2. Ruangan ini bersifat multifungsi, sebagai ruang
tamu, ruang makan, ruang keluarga dan ruang tidur bergabung menjadi satu dalam sebuah
ruangan. Untuk masuk ke ruangan ini harus melewati lorong yang berisi banyak barang
dagangan. Dibagian belakang ruang ini ada sebuah dapur kecil dan kamar mandi.
Ricky pulang sekolah jam 13.00 WIB dan sampai dirumah sekitar jam 14.00 WIB.
Setelah pulang sekolah, tidak ada aktifitas fungsional yang dilakukannya, Ricky biasanya
hanya duduk diam di atas tempat tidur sambil melakukan aktifitas yang asyik baginya
(mengketuk-ketuk kertas/mencium-cium jari tangan sambil termangu dan bergumam).
Aktifitas lainnya adalah Ricky akan berusaha “mencuri” makanan ringan/minuman yang
merupakan barang dagangan toko, membawanya ke dalam kamar dan memakannya.
Tampak tidak ada mainan atau materi belajar yang fungsional bagi Ricky. Kesehariannya
Ricky lebih banyak sendirian, kedua orang tuanya sibuk di toko dan adiknya juga jarang
bermain dengan Ricky sehingga praktis Ricky jarang diajak berinteraksi dan berkomunikasi
dengan lingkungannya. Ia hanya asyik melakukan aktifitasnya sendiri dan tentu saja
bukanlah aktifitas yang fungsional.
b. Berdasarkan hasil wawancara Orangtua dan Guru, didapat hasil sebagai berikut :
Mengenai riwayat perkembangan Ricky, selama masa kehamilan tidak ada
kendala apapun. Hanya pada saat proses kelahirannya lambat dan Ricky harus masuk
inkubator selama beberapa hari. Perkembangan Ricky diawal memang sudah tampak
lambat bila dibanding anak seusianya. Namun demikian Ricky sudah mulai mengeluarkan
beberapa kata, seperti “mama”, “papa”. Namun sejak usia 2 tahun, perkembangannya
mengalami kemunduran dan kemampuan bicaranya lama kelamaan hilang. Karena
kemunduran ini maka orangtuanya memeriksakan ke dokter dan akhirnya Ricky didiagnosa
sebagai anak dengan autisme. Selama perkembangannya Ricky pernah beberapa kali
mengajami kejang, terutama bila panas badannya tinggi, bahkan sempat dirawat di rumah
sakit.
Beberapa usaha pengobatan telah dijalani adalah memasukkan Ricky ke sekolah
umum, SLB, terapi individual, terapi tusuk jarum, pengobatan medis dan sebagainya. Ricky
pernah masuk ke Play Group (Kalam Kudus, Yogyakarta) pada usia 3 tahun dan karena ia
tidak bisa mengikuti pelajaran maka Ricky keluar sekolah. Kemudian Ricky masuk ke SLB
Autis Dian Amanah Yogyakarta dan pada tahun 2009 Ricky sekeluarga pindah ke Bandung
dan Ricky masuk ke Kezia School And Learning Center (sejak tahun 2009 – sekarang).
Menurut orangtuanya, banyak kemajuan yang terjadi sejak Ricky bersekolah di
Kezia, misalnya Ricky sudah tidak ngompol, bila mau BAB/BAK ia langsung lari ke kamar
mandi. Pemahaman Ricky terhadap instruksi pun sangat berkembang, ia bisa mengerti
perintah sederhana, bila dipanggil pun ia mau datang menghampiri. Ricky juga sudah
mampu mengidentifikasi benda-benda yang ada disekitarnya. Hanya dalam hal akademis
(membaca, menulis, berhitung) Ricky belum dapat menguasainya. Demikian pula dalam
kemampuan bahasa komunikasinya, dan bahasa verbalnya belum terbangun. Salah satu
harapan terbesar dari orangtua Ricky adalah agar Ricky bisa berkomunikasi secara verbal,
bisa memanggil “mama” dan “papa”.
E. Hasil Analisis Kasus
Berdasarkan hasil asesmen diatas, maka selanjutnya akan dianalisis kekuatan dan
kelemahan pada subyek. Hal ini merupakan sebuah pertimbangan dalam rangka menyusun
program pengembangan komunikasi alternatif dan augmentatif bagi Ricky.
NO Aspek Kekuatan Kelemahan
1. Minat Suka pada benda-benda yang Hanya terpaku pada benda yang
mengeluarkan bunyi (seperti mengeluarkan bunyi saja.
karton atau dus. Suka merebut (makanan atau
Suka pada bau (wangi atau minuman milik orang lain)
busuk)
Suka makanan renyah dan
minuman (kentang dan keripik
tales)
2. Mobilitas Tidak banyak bergerak atau tidak Kurang terlatih motoriknya
suka berpindah tempat
3. Interaksi dan Bahasa reseptif Ricky tampak Tampak cuek dan tidak ada
komunikasi lebih berkembang inisiatif untuk membangun
dibandingkan bahasa interaksi baik dengan teman
ekspresifnya. maupun guru
Mengerti perintah sederhana, Tidak menggunakan bahasa
seperti : kesini, duduk, berdiri, verbal
tepuk tangan, angkat tangan, Untuk mengekspresikan
tos, ambil…, lempar bola, dll keinginannya adalah ia akan
Bila ingin BAB/BAK ia akan merebut benda yang diinginkan
langsung lari masuk kamar
mandi
Bila ia ingin suatu benda yang
sulit diraih maka ia akan
menarik tangan gurunya dan
mengarahkan tangan guru
pada benda yang dimaksud
sebagai tanda minta tolong
4. Emosi Tenang Ekspresi marahnya dia akan
Bila marah, maka dengan mengerang dengan suara keras
waktu yang singkat dia dapat dan wajahnya memerah
tenang kembali
5. Pemahaman kata Pakaian : baju, celana, kaos Pemahaman kata yang masih
benda kaki, sepatu, jaket. minim
Peralatan makan : piring, gelas,
sendok.
Buah : pisang, apel, jeruk
Benda sekitar : meja, kursi,
bola, buku, pensil, tas
F. Rencana Pembuatan Program
Berdasarkan hasil assesmen maka penggunaan strategi visual dengan menggunakan
kartu gambar berupa foto dan tulisan dalam satu media, diduga cukup efektif untuk
membantu Ricky dalam :
1) Mengungkapkan keinginannya sebagai pengganti bicara atau verbal sehingga perilaku
yang suka merebut barang/makanan/minuman dapat dieliminir;
2) Berkomunikasi dengan cara yang lebih mudah dimengerti;
3) Identifikasi benda-benda yang ada disekitarnya
4) Identifikasi kata kerja sederhana (makan, minum, BAK, cuci tangan, dan sebagaiya)
5) Lebih mudah untuk beradaptasi, terutama dalam situasi baru dimana Ricky seringkali
muncul reaksi takut dan cemas saat ada di lingkungan baru.
G. Media AAC
Berangkat dari kebutuhan Ricky yang mengalami hambatan komunikasi untuk dapat
membangun interaksi dan komunikasi dengan lingkungan, maka dipilih media simbol berupa
kartu gambar (foto dengan tulisan), dengan pemikiran bahwa media ini dianggap dapat
menolong dalam berkomunikasi dengan orang disekitarnya.
Media AAC yang digunakan berupa kartu gambar untuk memudahkan Ricky
mengungkapkan keinginan atau bentuk komunikasinya terhadap orang lain. Kartu gambar
adalah media pembelajaran dalam bentuk kartu gambar yang dibuat menggunakan tangan
atau foto, atau memanfatkan gambar/ foto yang sudah ada yang ditempelkan pada lembaran-
lembaran kartu gambar. Gambar-gambar yang ada pada kartu gambar merupakan rangkaian
pesan yang disajikan dengan keterangan setiap gambar yang dicantumkan pada bagian depan
bawah gambar.
Kartu gambar yang digunakan dalam intervensi adalah kartu yang bergambar keripik
tales dan kentang. Hal ini berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan untuk mengetahui
makanan apa yang paling disulai oleh Rc untuk selanjutnya digunakan sebagai reinforsment
sampling dalam intervensi. Makanan dipilih, karena hal ini merupakan kebutuhan primer dan
sangat mudah mengalihkan perhatian subyek ketika dilakukan intervensi, kartu yang digunakan
hanya berjumlah 2 buah. Hal tersebut dengan pertimbangan untuk memberikan pemahaman
simbolik kepada subyek tentang gambar dan benda aslinya. Dan mengingat kemampuan Rc
yang masih kesulitan dalam diskriminasi gambar.
BAB IV
HASIL INTERVENSI
Pertemuan I
Setting belajar : Kelas
Peralatan : Kartu foto keripik talas, keripik talas, meja, kursi
Frekuensi : Satu kali pertemuan dilakukan 10 kali trial pembelajaran
Pelaksana : Seorang terapis dan seorang prompter
Prompt : Prompt fisik berupa memegang tangan subyek, mengarahkan untuk
mengambil kartu foto dan memberikan kartu pada terapis.
Target perilaku : Membangun pemahaman subyek akan prosedur bahwa bila ia ingin
mendapatkan keripik talas, ia harus mengambil kartu terlebih dulu dan
memberikan kartu pada terapis.
Prosedur :
1. Terapis dan subyek duduk berhadapan dan prompter berada di belakang subyek.
2. Terapis memperlihatkan keripik talas dan mencoba mengiming-iming subyek dengan
keripik tersebut.
3. Saat subyek berusaha merebut keripik talas, prompter segera memegang tangan
subyek serta mengarahkan untuk mengambil kartu lalu memberikan kartu tersebut
kepada terapis.
4. Demikian seterusnya dilakukan sampai 10 kali trial.
5. Tingkatan pemberian bantuan/prompt akan diberikan semakin berkurang bila subyek
menunjukkan respon yang semakin mendekati target perilaku.
6. Hasil intervensi dicatat pada lembar pencatatan.
Hasil intervensi:
Percobaan ke- Prompt Respon
1 Fisik Subyek langsung merebut keripik dan dibantu secara penuh
untuk mengambil kartu dan memberikan pada terapis
2 Fisik Subyek masih merebut keripik dan masih dibantu secara
penuh
3 Fisik Subyek masih merebut keripik dan masih dibantu secara
penuh
4 Fisik Subyek masih merebut keripik dan masih dibantu secara
penuh
5 Fisik Subyek masih merebut keripik dan masih dibantu secara
penuh
6 Fisik Subyek masih merebut keripik dan masih dibantu secara
penuh
7 Fisik Subyek mulai tidak merebut keripik secara langsung, respon
subyek terdiam saja dengan ekspresi wajah menginginkan
keripik tersebut. Prompt yang diberikan mulai dikurangi
dengan hanya mendorong tangan subyek pada kartu dan
subyek langsung mengambil kartu dan memberikan kartu
pada terapis secara mandiri.
8 Fisik Respon subyek masih sama seperti percobaan ke-7
9 Fisik Respon subyek masih sama seperti percobaan ke-7
10 Fisik Sampai pada percobaan ke-10 respon subyek masih sama
dan masih perlu dibantu dengan prompt berupa mendorong
tangan subyek ke kartu.
Pembahasan Pertemuan I:
Pada percobaan pertama, subyek dihadapkan pada kripik talas. Kripik talas adalah
salahsatu makanan kesukaan Ricky berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan oleh terapis.
Pada percobaan pertama Ricky langsung ingin merebut makanan (kripik talas) yang diiming-
imingi oleh terapis tanpa mengunakan bahasa verbal, kemudian terapis lain yang berada
dibelakang mengarahkan tangan Ricky mengambil kartu dan memberikan kartu tersebut ke
terapis. Kemudian terapis memberikan kripik talas seraya mengucapkan “talas”. Hal ini
dilakukan untuk memberikan pemahaman pengenalan benda atau makanan yang menjadi
kesukaan Ricky. Kegiatan ini berlangsung selama 10 kali percobaan. Terjadi perubahan pada
percobaan ke-tujuh dimana Ricky tidak langsung merebut tetapi hanya diam saja, dan kembali
terapis yang berada dibelakang Ricky mengarahkan tangan Ricky mengambil kartu dan
memberikannya ke terapis.
Setiap selesai sesi intervensi terapis mengajak Ricky bermain pasang puzzle. Dan setiap
Ricky memberikan kartu gambar kepada terapis, Ricky diberikan reinforsment berupa tales dan
diberikan pujian oleh terapis berupa kata “good boy”.
Pertemuan II
Setting belajar : Kelas
Peralatan : Kartu foto kentang, kentang goreng, meja dan kursi
Frekuensi : Satu kali pertemuan dilakukan 10 kali trial pembelajaran
Pelaksana : Seorang terapis dan seorang prompter
Prompt : Fisik dan Tunjuk
Reinforsment : Kentang Goreng dan kata “good boy”
Target perilaku : Membangun pemahaman subyek akan prosedur bahwa bila ia ingin
mendapatkan kentang goreng, ia harus mengambil kartu terlebih dulu
dan memberikan kartu pada terapis
Prosedur :
1. Terapis dan subyek duduk berhadapan dan prompter berada di belakang subyek.
2. Terapis memperlihatkan kentang goreng dan mencoba mengiming-iming subyek dengan
kentang tanpa menggunakan bahasa verbal tersebut.
3. Saat subyek berusaha merebut kentang goreng, prompter segera memegang tangan
subyek serta mengarahkan untuk mengambil kartu lalu memberikan kartu tersebut
kepada terapis.
4. Demikian seterusnya dilakukan sampai 10 kali trial.
5. Tingkatan pemberian bantuan/prompt akan diberikan semakin berkurang bila subyek
menunjukkan respon yang semakin mendekati target perilaku.
6. Hasil intervensi dicatat pada lembar pencatatan.
Hasil intervensi :
Percobaan Prompt Respon
ke-
1 Fisik Subyek langsung merebut kentang goreng dan dibantu oleh
promter secara penuh dan memberikan kartu tersebut ke
terapis (dibantu secara penuh)
2 Fisik Subyek masih dibantu secara penuh
3 Fisik Subyek masih dibantu secara penuh
4 Fisik Subyek masih dibantu secara penuh
5 Fisik Subyek masih dibantu secara penuh
6 Fisik Subyek masih dibantu secara penuh
7 Fisik Subyek masih dibantu secara penuh
8 Fisik Subyek masih dibantu secara penuh
9 Fisik Subyek masih dibantu secara penuh
10 Tunjuk Subyek masih dibantu dengan terapis menunjuk kartu dan
subyek memberikan kartu kepada terapis
Pembahasan Pertemuan II:
Pada pertemuan ke-dua tidak jauh berbeda dengan pertemuan pertama, hanya saja
ditemukan bahwa minat Ricky terhadap makanan (kentang goreng) lebih kurang dari pada
keripik tales. Hal ini ditunjukkan oleh respon Ricky ketika diiming-imingi keripik tales. Temuan
ini akan menjadi pertimbangan pada saat pertemuan ke-III.
Hasil temuan lain adalah pada pertemuan sepuluh Ricky hanya diam dan terapis cukup
menunjuk kartu dan Ricky langsung mengambil dan memberikan ke terapis. Hasil ini menjadi
sebuah dilemma bagi terapis, dan menimbulkan pertanyaan besar “apakah ini terjadi secara
kebetulan? Atau Ricky sudah sedikit mengerti tentang penggunaan kartu gambar tersebut”.
Setiap Ricky telah memberikan kartu kentang goreng kepada terapis, maka Ricky diberikan
reinforsment “good boy” dan tepuk tos.
Pertemuan III
Setting belajar : Kelas dalam situasi belajar
Peralatan : Kartu foto keripik talas, keripik talas, meja, kursi, peralatan belajar
(mewarnai)
Frekuensi : Satu kali pertemuan dilakukan 10 kali trial pembelajaran
Pelaksana : Seorang guru (sekaligus sebagai prompter) dan seorang terapis.
Prompt : Prompt fisik berupa memegang/mendorong tangan subyek,
mengarahkan untuk mengambil kartu foto dan memberikan kartu pada
terapis, prompt dengan menunjuk pada kartu.
Target perilaku : Membangun pemahaman subyek akan prosedur bahwa bila ia ingin
mendapatkan keripik talas, ia harus mengambil kartu terlebih dulu dan
memberikan kartu pada terapis.
Prosedur :
1. Guru dan subyek duduk berhadapan. Guru memberikan tugas belajar yaitu
mewarnai.
2. Sambil subyek belajar, terapis dari jarak sekitar 1 meter memperlihatkan keripik talas
dan mencoba mengiming-iming subyek dengan keripik tersebut.
3. Saat subyek berdiri hendak berjalan mengambil keripik talas, prompter segera
memegang tangan subyek serta mengarahkan untuk mengambil kartu lalu
memberikan kartu tersebut kepada terapis.
4. Demikian seterusnya dilakukan sampai 10 kali trial.
5. Tingkat pemberian bantuan akan semakin dikurangi seiring peningkatan respon
subyek yang semakin mendekati target perilaku yang dikehendaki.
6. Hasil intervensi dicatat pada lembar pencatatan.
Hasil intervensi :
Percobaan ke- Prompt Respon
1 Fisik Subyek langsung berdiri hendak mengambil keripik, prompter
segera membantu dengan menarik tangan subyek,
mengarahkan untuk mengambil kartu dan memberikan kartu
pada terapis. Responnya yaitu subyek masih dibantu penuh.
2 Fisik Respon yang diperlihatkan sama seperti percobaan ke-1
3 Fisik Respon yang diperlihatkan sama seperti percobaan ke-1
4 Fisik Respon subyek saat melihat keripik sudah tidak lagi langsung
berdiri tetapi subyek mulai mengarahkan tangan dengan
ragu-ragu hendak mengambil kartu tapi dia tidak langsung
mengambil kartunya sehingga perlu diprompt dengan
mendorong tangan subyek ke arah kartu. Pada percobaan ini
tingkat prompt mulai dikurangi yaitu hanya mendorong
tangan. Respon selanjutnya subyek dapat mengambil kartu
sendiri dan berjalan mendekati terapis. Namun untuk
memberikan kartu pada terapis juga diprompt dengan
mendorong tangan subyek ke arah terapis.
5 Fisik Respon yang diperlihatkan sama seperti percobaan ke-4
6 Fisik Subyek masih diprompt untuk mengambil kartu dengan
mendorong tangan subyek kearah kartu hanya untuk
memberikan kartu pada terapis sudah mampu dilakukan
sendiri.
7 Fisik Respon yang diperlihatkan sama seperti percobaan ke-6
8 Fisik Respon yang diperlihatkan sama seperti percobaan ke-6
9 Tunjuk Subyek sudah mampu mengambil kartu secara mandiri hanya
dengan prompt menunjuk pada kartu dan subyek langsung
berdiri, berjalan dan memberikan kartu pada terapis.
10 Tunjuk Respon yang diperlihatkan sama seperti percobaan ke-9
Pembahasan Pertemuan ke III:
Pada pertemuan masih dilakukan di ruangan kelas dengan menggunakan alat keripik
tales. Dalam prosesnya terdapat perkembangan yang sangat positif terhadap Ricky. Hal
tersebut ditujukkan mulai dari percobaan ke-empat. Pada percobaan ke-empat Ricky melihat
keripik sudah tidak lagi langsung berdiri tetapi subyek mulai mengarahkan tangan dengan ragu-
ragu hendak mengambil kartu tapi dia tidak langsung mengambil kartunya sehingga perlu
diprompt dengan mendorong tangan subyek ke arah kartu. Pada percobaan ini tingkat prompt
mulai dikurangi yaitu hanya mendorong tangan. Respon selanjutnya subyek dapat mengambil
kartu sendiri dan berjalan mendekati terapis. Namun untuk memberikan kartu pada terapis
juga diprompt dengan mendorong tangan subyek ke arah terapis.
Paling pesat perkembangan subyek pada percobaan ke -9 dan ke- 10. Dimana terapis
cukup memberikan promt berupa menunjuk kartu dan Ricky langsung mengambil kartu dan
memberikan pada terapis. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa RC sudah
mulai mampu mengambil kartu secara mandiri meskipun masih menggunakan sedikit bantuan.
Setiap Ricky memberikan kartu kepada terapis, RC diberikan reinforsment berupa kripik tales
dan ucapan “good boy”.
Hasil perkembangan intervensi ini akan dijasikan sebagai bahan reverensi untuk
pertemuan berikutnya.
Pertemuan IV
Setting belajar : Saat istirahat (setting natural)
Peralatan : Kartu foto keripik talas, keripik talas, bola.
Frekuensi : Satu kali pertemuan dilakukan 10 kali trial pembelajaran
Pelaksana : Seorang terapis.
Prompt : Prompt dengan menunjuk pada kartu.
Target perilaku : Membangun pemahaman subyek akan prosedur bahwa bila ia ingin
mendapatkan keripik talas, ia harus mengambil kartu terlebih dulu dan
memberikan kartu pada terapis.
Prosedur :
1. Terapis duduk berjauhan dengan subyek (kurang lebih 2 meter). Kemudian terapis
duduk sambil makan keripik tales. seolah-olah cuek dengan keberadaan subyek.
Dengan setting kartu di temeplkan didinding tepat di belakang subyek. Hal ini
bertujuan untuk melihat respon subyek bila ingin meminta sesuatu. Semakin lama
sesi maka posisi duduk terapis semakin jauh dengan subyek.
2. Demikian seterusnya dilakukan sampai 10 kali trial.
3. Tingkat pemberian bantuan akan semakin dikurangi seiring peningkatan respon
subyek yang semakin mendekati target perilaku yang dikehendaki.
4. Hasil intervensi dicatat pada lembar pencatatan.
Hasil intervensi :
Percobaan Prompt Respon
ke-
1 Tunjuk Rc hanya diam saja sambil mengulurkan tangannya. Terapis
menunjuk kearah kartu dan Rc mengambil kartu dan
memberikannya ke terapis.
2 Tunjuk Respon yang ditunjukkan ksubyek sama seperti percobaan
ke-1
3 Tunjuk Respon yang ditunjukkan subyek sama seperti percobaan ke-
1
4 Tunjuk Respon yang ditunjukkan ksubyek sama seperti percobaan
ke-1, tetapi respon tambahan Rc adalah dengan melirik kartu
yang ada dibelakangnya. Terapis menunjuk kartu dan RC
mengambil kartu tersebut
5 Tunjuk Posisi terapis berpindah tempat menjauh dari RC. Respon RC
mendekati Terapis sambil ingin merebut makanan terapis.
Terapis menunjuk kartu dan RC berlari mengambil kartu dan
memberikannya ke terapis
6 Tunjuk Respon yang ditunjukkan subyek sama seperti percobaan ke-
5
7 Tunjuk Respon yang ditunjukkan subyek sama seperti percobaan ke-
5
8 Tunjuk Posisi terapis berpindah tempat lebih menjauh dari posisi
subyek dan kartu gambar. Respon RC mendatangi terapis dan
mengulurkan tangannya. Terapis menunjuk kartu yang
berada kurang lebih 4 meter dari RC. RC kemudian berlari
dan mengambil kartu yang selanjutnya diberikan ke terapis
9 Tunjuk Respon yang ditunjukkan subyek sama seperti percobaan ke-
8
10 Tunjuk Respon yang ditunjukkan subyek sama seperti percobaan ke-
8
Pembahasan Pertemuan ke IV:
Pada pertemuan ke empat dilakukan di halaman sekolah (setting natural). Dengan
menggunakan kartu foto keripik talas, keripik talas,dan bola. Dalam prosesnya terdapat
perkembangan yang positif terhadap Ricky. Hal tersebut ditunjukkan dari percobaan pertama.
Dimana pada mulanya Ricky hanya diam saja sambil mengulurkan tangannya meniminta keripik
talas, tetapi ketika terapis menunjuk kea rah kartu berada, dan kemudian Ricky mengambil
kartu tersebut dan memberikannya kepada terapis.
Kemudian pada percobaan ke lima, posisi terapis berpindah tempat menjauh dari Ricky.
Respon yang diberikan Ricky ialah Ricky mendekati terapis sambil ingin merebut makanan yang
sedang dipegang terapis. Kemudian terapis menunjuk kearah kartu berada dan Ricky berlari
kecil untuk mengambil kartu yang ditaruh terapis kemudian Ricky memberikan kartu tersebut
kepada terapis. Sampai dengan percobaan ke sepuluh respon yang diberikan Ricky sama
dengan respon pada percobaan kelima. Dimana jika Ricky menginginkan makanan maka Ricky
harus memberikan kartu kepada terapis. Berdasarkan percobaan tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa Ricky sudah mulai mampu mengambil kartu, walaupuh masih menggunakan
sedikit bantuan.
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil asemen dan intervensi yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. RC telah memiliki kemampuan non-verbal yang cukup baik hanya saja hambatan
yang masih dialami oleh Rc adalah dalam mengkomunikasikan keinginannya. Tetapi
setelah diintervensi dengan menggunakan kartu gambar, maka kemampuan Rc
dalam mengkomunikasikan keinginannya lebih baik ketimbang sebelum diberikan
intervensi. Hal ini ditunjukkan berdasarkan hasil intervensi selama empat kali
pertemuan dan setiap pertemuan dilakukan dengan 10 kali latihan.
2. Komunikasi alternative dan augmentative sangat penting Rc, mengingat Rc sangat
kurang dalam komunikasi verbal. Berdasarkan rencana program dan hasil intervensi
ditemukan bahwa kartu gambar cukup efektif digunakan untuk Rc. Meskipun belum
hasil intervensi ini belum sepenuhnya berhasil, kedepannya diharapkan hasil
intervensi ini dijadikan bahan referensi dalam mengembangkan kemampuan
komunikasi alternative dan augmentative bagi Rc.
DAFTAR PUSTAKA
Christi Phil, at all. (2009). Langkah Awal Berinteraksi dengan anak autis. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Http://Unsilster.Com/2009/12/Pengertian-Asesmen/ (10 desember 2011)
Http://Rennyapril.Blogspot.Com/2010/03/Pengertian-Autis.Html (12 Desember 2011)
Http://Abdiplizz.Wordpress.Com /2011 / 01/ 10/ Intervensi – Untuk -Anak-Autism/(14
Desember 2010)
Peeters, T. (2009). Autism From Theoretical Understanding to Educational Intervention. London:
Whurr Publishers Ltd.
Pustpita Dyah. (2003). Kiat Praktis untuk Menangani Anak Autis. Jakarta: Putera Kembara
Rudy Sutadi, dkk (2011). Autisme dari A sampai Z. Jakarta: CV. Anak Special Mandiri
Lampiran-lampiran
1. RC pada saat masuk kelas
2. Rc pada saat mengikuti kegiatan pembelajaran
3. Pada saat proses reinsforment sampling (pemilihan sampel penguatan)
4. Pada saat intervensi pertemuan pertama
Get documents about "