Tugas AAC RENCANA PROGRAM

Document Sample
Tugas AAC RENCANA PROGRAM Powered By Docstoc
					  Identifikasi             Wawancara pada guru kelas


                                  Siswa yang diduga
                                 memerlukan layanan



   Asesmen           Observasi                         Wawancara



                                 Kekuatan dan Kelemahan



 Asesmen lanjut       Reinforsment                       Asesmen Simbol
                      asesmen sampling



                                   Perencanaan Program


                                   Pelaksanaan intervensi


                                         Evaluasi



                                              BAB I
                                         PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
       Di kalangan masyarakat, anak autis sering menjadi perbincangan. Autistik merupakan
gangguan perkembangan yang mempengaruhi beberapa aspek bagaimana anak melihat dunia
dan bagaimana belajar melalui pengalamannya. Anak-anak dengan autis biasanya kurang dapat
merasakan kontak sosial karena mengalami hambatan dalam interaksi dan komunikasi. Mereka
cenderung menyendiri dan menghindari kontak dengan orang lain. Orang lain dianggap sebagai
objek (benda) bukan sebagai subjek yang dapat berinteraksi dan berkomunikasi. Padahal
interaksi dan komunikasi merupakan salah satu modal bagi seseorang memperoleh informasi
melalui lingkungannya. Selain itu anak autis mengalami adanya gangguan perilaku yang
menyertainya dalam melakukan interaksi dan komunikasi dengan lingkungannya.
       Pendidikan selayaknya memenuhi kebutuhan bagi peserta didik berdasarkan
kemampuannya, tidak terkecuali bagi anak autis khususnya dalam hal interaksi dan komunikasi.
Komunikasi adalah proses untuk saling bertukar informasi, pendapat atau perasaan
seseorang dengan orang lain di sekitarnya. Anak autis memiliki masalah dalam hal interaksi
dan komunikasi. Pada umumnya, anak autis berinteraksi dan berkomunikasi dengan caranya
sendiri. Hal tersebut kadang sulit dimengerti oleh orang disekitarnya. Keadaan ini menimbulkan
hambatan yang membuat anak menjadi frustasi dan memungkinkan munculnya perilaku
negatif. Setiap orang tua tentunya menginginkan anaknya bicara normal akan tetapi tentu
tidak dapat terjadi secara spontan, melainkan memerlukan suatu proses belajar agar
perkembangan bicara dan bahasanya menjadi lebih baik, lalu bagaimana dengan anak-anak
yang mengalami gangguan komunikasi dan tidak memiliki prognosis kemajuan yang berarti
seperti anak autistik?.
       Kompleksnya masalah yang dialami anak autis tidak hanya mengakibatkan hambatan
dalam belajar tetapi juga dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Meskipun demikian, tidak
berarti anak autis tidak mempunyai potensi yang masih bisa dikembangkan. Namun demikian
pada kenyataannya, sebagian besar anak autis mengalami kesulitan dalam menggunakan
bahasa dan berbicara, sehingga mereka sulit melakukan komunikasi dengan orang-orang
di sekitarnya. Oleh karena itu diperlukan alternatif berkomunikasi selain dengan verbal bagi
mereka sehingga kesempatan anak autis untuk melakukan interaksi dapat dilakukan dan secara
tidak langsung pula mereka dapat bereksplorasi terhadap lingkungan secara timbal balik
meskipun tidak menggunakan verbal atau yang disebut bicara. Dengan pemahaman tersebut,
maka dapat dilakukan intervensi sedini mungkin agar hambatan yang dialami anak tidak
semakin kompleks.
       Sebuah kasus berikut ini merupakan anak dengan autisme hipo bernama Ricky dan
ditemukan bahwa Ricky mengalami hambatan dalam komunikasi verbal. Ricky tidak
membangun komunikasi verbal, ia lebih menggunakan isyarat-isyarat tertentu untuk
berkomunikasi. Ekspresi keinginannya adalah dengan merebut barang yang diinginkannya.
Berdasarkan hal tersebut, maka Ricky memerlukan sebuah pelayanan atau intervensi yang
tepat agar Ricky dapat mengembangkan komunikasinya. Dalam studi lapangan ini, akan dibahas
mengenai program pengembangan komunikasi alternatif dan augmentatif bagi Ricky
berdasarkan kebutuhan dan kemampuannya.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam studi lapangan ini adalah:
1. Bagaimanakah kemampuan dan hambatan komunikasi pada subyek Ricky?
2. Bagaimanakah program pelayanan dalam mengembangkan kemampuan komunikasi
   alternatif dan augmentatif bagi Ricky?


C. Tujuan
Tujuan studi lapangan ini adalah:
1. Untuk mengetahui kemampuan dan hambatan komunikasi pada Ricky.
2. Untuk memberikan program layanan (intervensi) dalam mengembangkan kemampuan
   komunikasi alternatif dan augmentatif bagi Ricky.
                                             BAB II
                                    LANDASAN TEORITIS


A. Pengertian Autisme
       Autisme adalah gangguan perkembangan nerobiologi yang berat yang terjadi pada anak
sehingga menimbulkan masalah pada anak untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan
lingkungannya (Rudy S.2008:25). Yuniar (2002) menambahkan bahwa Autisma/Autisme adalah
gangguan perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan
kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain, sehingga sulit
untuk mempunyai ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat.
Autisme berasal dari kata Auto yang berarti sendiri, dan isme yang berarti paham. Autisme
adalah keadaan yang disebabkan oleh kelainan otak yang ditandai dengan kelainan dalam
interaksi sosial, komunikasi dan perilaku yang sangat kaku dan pengulangan perilaku. Menurut
Peeters    (2009)   Autisme    merupakan      suatu   gangguan    perkembangan,      gangguan
pemahaman/gangguan pervasif, dan bukan suatu bentuk penyakit mental. Autisme juga
diartikan sebagai gangguan perkembangan yang secara umum tampak di tiga tahun pertama
kehidupan anak. Dari keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Autisma/Autisme
adalah gejala menutup diri sendiri secara total, dan tidak mau berhubungan lagi dengan dunia
luar, merupakan gangguan perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan
akibat kekurangan kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain.


B.   Komunikasi Alternatif dan Augmentatif
1.   Definisi
      Komunikasi alternatif adalah teknik-teknik yang menggantikan komunikasi lisan bagi
individu yang mengalami hambatan dalam bicara atau tidak mampu berkomunikasi melalui
bahasa lisan. (McCormick & Shane, 1990). Sedangkan Komunikasi augmentatif adalah kaidah-
kaidah dan peralatan/media yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi verbal dalam
kenyataan hidup sehari-hari (Mustonen, Locke, Reice, Solbrack, dan Lingren, 1991).
       The American Speech-Language-Hearing Association defines “AAC as an area of
clinical practice that attempts to compensate (either temporarily or permanently) for the
impairment and disability patterns of individuals with severe expressive communication
disorders (i.e., the severe impairments in speech-language, reading and writing)”. AAC
incorporates the individual's full communication abilities and may include any existing speech
or vocalizations, gestures, manual signs, and aided communication. AAC is truly multimodal,
permitting individuals to use every mode possible to communicate. (sumber: National Joint
Committee for the communication needs of person with severe disabilities).


       Berdasarkan berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
Augmentative and alternative communication (AAC) adalah media dan metode serta cara
yang digunakan oleh anak/orang yang mengalami hambatan dalam berkomunikasi agar
dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar dengan orang di sekitarnya.


2.   Komponen-komponen AAC
     Komponen AAC meliputi: (1) Teknik komunikasi; (2) Sistem symbol; dan (3) Kemampuan
berkomunikasi. (McCormick & Shane, 1990 dalam Kuder, 2003).
     a. Teknik Komunikasi
       Teknik komunikasi ada dua macam, yaitu:
       (1) Teknik komunikasi tanpa bantuan;
           Teknik ini tidak memerlukan alat bantu dari luar diri anak dan tidak pula
           memerlukan prosedur khusus dalam pengunaannya. Teknik ini menggunakan
           kaidah berbicara, bahasa isyarat, gesture, dan mimik muka. Kelebihan teknik ini
           adalah tidak perlu alat Bantu, dengan sendirinya menjadi lebih murah karena
           tidak memerlukan biaya, dan mudah ditukar atau dipindahkan. Adapun
           kekurangannya adalah: pertama, tidak inovatif sehingga komunikasi di masa
           depan akan menjadi masalah karena bahasa komunikasi itu terus berkembang;
           kedua, tergantung pada kemampuan ingatan pengguna; ketiga isyarat sebenarnya
           sulit dipelajari.
       (2) Teknik Komunikasi dengan bantuan. (Vanderheiden & Lloyd, 1986 dalam Kuder
           2003).
           Teknik ini memerlukan alat bantu dan menggunakan prosedur secara rinci dalam
           penggunaannya. Baik alat Bantu ini elektronik maupun non-elektronik maupun
       system symbol. Alat bantu ini dari yang sangat sederhana sampai yang paling
       canggih, dari papan komunikasi sampai alat bantu bicara sintetik yang
       menggunakan komputer. Jadi teknik ini memerlukan obyek fisik yang berupa
       peralatan bantu komunikasi untuk memudahkan seorang anak berkomunikasi.
       Kelebihan teknik ini adalah dapat menyampaikan pesan lebih kompleks
       terhadap kemampuan berbahasa/berkomunikasi bagi pengguna, dan dapat
       digunakan komunikasi jarak jauh. Adapun kelemahan teknik ini adalah mudah
       rusak, kehilangan daya (elektronik), perawatan susah, dan lebih mahal.


b. Sistem Simbol
   Berbagai sistem simbol telah dibuat dari benda asli (benda sebenarnya), berbentuk
   gambar, dan sistem simbol yang abstrak. Sistem simbol yang abstrak antara lain gambar
   yang mewakili suatu bentuk atau kejadian (picturial representations), ideographs (ide
   yang ditampilkan melalui simbol grafis), simbol arbitrari (ide dalam bentuk konfigurasi
   garis arbitrari), dan lexigrams (simbol visual-grafis secara arbitrari yang merupakan
   bentuk-bentuk geometrik). Contoh sisem simbols antara lain: picture communication
   symbols (Johnson, 1981), Picsyms (Carlson, 1984), Sigsymbols (Creagan, 1982),
   Blissymbols (Blis, 1985), Rebus (Clark, Davies, & Woodcock, 1974), dan Non-SLIP (Non-
   Speech Language Initiation Programme (Carrier, 1974).


c. Kemampuan berkomunikasi
   Prosedur dan alat bantu AAC telah menyediakan peluang terbaik bagi individu yang
   tidak mampu berkomunikasi secara lisan/verbal untuk dapat berkomunikasi dengan
   orang lain secara baik. Oleh karena itu porsedur dan alat bantu AAC harus digunakan
   secara optimal. Untuk dapat mengikuti prosedur dan alat bantu dengan baik ABK perlu
   mendapatkan latihan secara intensif dan berkesinambungan.
3.    Faktor-faktor dalam memilih AAC
        Pemilihan AAC perlu dipertimbangkan secara        matang dengan memperhatikan
hambatan komunikasi yang dialami individu. AAC yang dipilih harus dapat diakses oleh
pengguna secara mudah dan nyaman. Berikut adalah hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam
pemilihan AAC :
     a. Guessability
        Harus mudah dipahami (diterka) dan mudah dibaca, hal ini memperhatikan tingkat
        kemiripan dan keterwakilan antara simbol yang digunakan dengan item/obyek yang
        diwakili.
     b. Learnability
        AAC harus mudah dipelajari. Hal ini merujuk kepada tingkat kemudahan/kesukaran
        untuk mempelajari penggunaan suatu simbol yang dibuat.
     c. Generalization
        Menggambarkan simbol secara umum, sehingga siapapun yang menggunakannya
        dapat memahami dengan mudah. Dari anak kecil sampai orang dewasa dapat secara
        umum memahami simbol tersebut.
4.    Pelaksanaan Program AAC
        Program AAC dibuat berdasarkan hasil asesmen terhadap individu yang diduga
mengalami hambatan dalam komunikasi. Program AAC dibuat sedemikian rupa sehingga
dapat memenuhi kebutuhan anak sebagai sasaran pelatihan AAC. Pelaksanaan program
melalui proses dan langkah-langkah sebagai berikut :
     a. Identifikasi dan asesmen awal
     b. Menetapkan tujuan
     c. Pemilihan model dalam komunikasi
     d. Pemilihan sistem simbol
     e. Pemilihan bahan dan prosedur penggunaan untuk meningkatkan kemampuan
        komunikasi
     f. Melaksanakan latihan
     g. Melaksanakan evaluasi
C. AAC untuk Autisme
       Kebanyakan anak autis memiliki visual memori jauh lebih baik dibandingkan memori
auditori mereka (Hogdon, 1995). Strategi visual sebagai salah satu sarana yang
menitikberatkan penggunaan alat bantu visual bisa dijadikan pertimbangan dalam membantu
proses pendidikan anak autis. Strategi visual menggunakan apapun yang dapat dilihat, dan
sistem ini dirasa sangat cocok dengan kelebihan yang dimiliki anak autis. Karena itu
penggunaan strategi visual ini diharapkan dapat memudahkan anak dalam belajar dan
membantu siapapun yang menangani anak autis.


1. Anak dengan Autisme
    Anak autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan dalam aspek perilaku,
komunikasi, dan interaksi. Mereka sebagian besar mengalami masalah berkomunikasi dan
berinteraksi serta perlu dibantu untuk hidup mandiri. Dengan kata lain mereka mengalami
kesulitan dalam pemahaman, komunikasi/interaksi, dan kemandirian. Beberapa individu yang
termasuk dalam spectrum autisme melaporkan bahwa mereka memiliki ciri khas dalam
mempersepsi dunia (Siegel, 1996), seperti misalnya :
     Visual thinking (berpikir visual)
    Mereka lebih mudah memahami hal konkrit (dapat dilihat dan dipegang) daripada hal
    abstrak. Biasanya ingatan atas berbagai konsep tersimpan dalam bentuk video atau file
    gambar. Proses berpikir yang menggunakan gambar/film seperti ini jelas lebih lambat
    daripada proses berpikir secara verbal, akibatnya mereka perlu jeda beberapa saat
    sebelum bisa berespon. Individu dengan gaya berfikir seperti ini, juga lebih
    mengandalkan asosiasi daripada berpikir secara logis menggunakan logika.
 Processing problems (kesulitan memproses informasi)
    Sebagian anak autis mengalami kesulitan memperoleh informasi.        Mereka cenderung
    terbatas dalam memahami “common sense” atau menggunakan akal sehat/nalar.
    Mereka sulit merangkai informasi verbal yang panjang (rangkaian instruksi), sulit
    dimintai sesuatu sambil mengerjakan hal lain, dan sulit memahami bahasa verbal/lisan.
    Hal-hal tersebut di atas tampak konsisten dengan kecenderungan anak autis yang lebih
    mudah berpikir secara visual.


 Communication frustration (kesulitan berkomunikasi)
    Gangguan perkembangan bicara bahasa yang terjadi pada anak autis membuat mereka
    sering frustasi karena masalah komunikasi. Mereka bisa mengerti orang lain tapi
    terutama bila orang lain bicara langsung kepada mereka. Itu sebabnya mereka seolah tidak
    mendengar bila orang lain bercakap-cakap diantara sesamanya. Mereka merasa
    percakapan itu tidak ditunjukkan kepada mereka, karena itu mereka sulit memahami
    tuntutan lingkungan yang meminta mereka menjawab meski mereka tidak ditanya
    secara langsung. Anak autis juga sulit mengungkapkan diri, sehingga lalu bertindak atau
    berperilaku negatif lain selain sekedar untuk mendapat apa yang mereka inginkan. Mereka
    tidak mampu mengungkapkan diri secara efektif, kadang harus berada dalam kondisi
    tertekan untuk dapat ekspresi, sehingga seringkali frustasi bila tidak dimengerti.


 Social & emotional issues (masalah emosi dan social)
    Ciri lain yang dominant adalah keterpakuan akan sesuatu membuat anak autis cenderung
    berpikir kaku. Akibatnya mereka sulit beradaptasi atau memahami perubahan yang
    terjadi di lingkungan sehari-hari. Apalagi bila perubahan tersebut terjadi dengan cepat
    dan tanpa penjelasaan sama sekali. Keterpakuan akan sesuatu membuat mereka sulit
    memahami berbagai situasi social, seperti tata cara pergaulan dan aturan sosialisasi
    yang sangat bervariasi tergantung kondisi dan situasi sesaat. Pada umumnya anak
    autis tidak dapat membayangkan bahwa orang lain juga bisa mempersepsi sesuatu dari
    sudut pandang yang berbeda, karena hal ini adalah sesuatu yang sangat abstrak. Itu
    sebabnya, banyak yang sulit berempati bila tidak dilatih melalui pengalaman dan
    pengarahan.
 Problems of control (kesulitan dalam mengontrol diri)
    Berbagai gangguan perkembangan neurology di otak menjadikan masalah anak autis
    menjadi semakin kompleks. Mereka mengalami kesulitan mengontrol diri sendiri, yang
    terwujud dalam berbagai bentuk masalah perilaku. Mereka cenderung berperilaku
    ritual dengan pola tertentu. Sebagian dari mereka juga memiliki ketakutan yang luar biasa
    pada hal-hal yang tidak ia mengerti. Karena itu ada anak yang amat marah hingga
    berperilaku tantrum bila rutinitasnya diubah, juga ada yang sulit sekali bila diminta
    (cenderung menolak terlebih dahulu) untuk melakukan kegiatan baru.


 Problems of connection (kesulitan dalam menalar)
    Berbagai masalah yang berkaitan dengan kemampuan individu menalar antara lain :
    masalah pemusatan perhatian (attention problems), terus menerus terdistraksi.


 System integration problems
    Proses informasi di otak bekerja secara “mono” (tunggal) sehingga sulit memproses
    beberapa hal sekaligus.     Setiap individu mempunyai caranya sendiri dalam mencerna
    informasi secara efektif. Umumnya belajar melalui indra penglihatan, perabaan, dan atau
    pendengaran. Kita juga punya aneka gaya dari mengingat. Ada individu yang lebih ingat
    fakta sementara yang lain lebih suka detail. Untuk anak sendiri ada beberapa gaya
    yang dominan pada diri mereka (Sussman, 1999) antara lain :
           Rote learner : Anak yang memakai gaya belajar ini, cenderung menghafal
            informasi apa ada tanpa memahami arti symbol yang mereka hafalkan itu. Contoh :
            anak dapat menghafalkan arti tapi ia tidak tahu bahwa symbol itu mewakili
            ‘jumlah berbeda’.
           Gestalt learner : Bila anak menghafalkan kalimat-kalimat secara utuh tanpa
            mengerti arti kata perkata yang terdapat pada kalimat tersebut, anak
            cenderung belajar menggunakan gaya ‘gestalt’ (melihat sesuatu secara global).
            Berbeda dengan anak non-autis yang belajar bicara justru mulai dari per-kata, anak
            autis dengan gaya gestalt akan belajar bicara dengan mengulang seluruh kalimat.
          Auditory learner : Anak dengan gaya belajar ini senang bicara dan mendengarkan
           orang lain bicara. Ia mendapatkan informasi melalui pendengarannya. Jarang
           sekali anak autis bergantung sepenuhnya dengan gaya ini dan biasanya
           menggabungkannya dengan gaya lain.
          Visual learner : Anak dengan gaya belajar visual senang melihat-lihat buku/ gambar
           atau menonton tv dan umumnya lebih mudah mencerna informasi yang dapat
           mereka lihat daripada yang hanya dapat mereka dengar. Berhubung penglihatan
           adalah indera terkuat mereka, tidak heran banyak anak autis yang menyukai tv/
           vcd/ gambar.
          Hand-on learner : Anak yang belajar dengan gaya ini, senang mencoba-coba
           dan biasanya mendapatkan pengetahuan melalui pengalamannya. Mulanya ia
           mungkin tidak tahu apa arti kata ‘buka’ berarti….ia ke pintu dan membuka
           pintu itu.


2. Strategi Visual
   a. Batasan
       Strategi visual menggunakan stimuli visual, yaitu apapun yang dapat       dilihat oleh
       individu yakni :
       1. Orang lain, atau kita sendiri
           Berbagai isyarat dan bahasa tubuh yang dipakai seseorang untuk menunjang
           komunikasi antara lain : tersenyum, cemberut, menggeleng atau mengangguk,
           mengacungkan benda, menunjuk, dan sebagainya.
       2. Berbagai hal yang secara alamiah ada di lingkungan dan dapat digunakan sebagai
           stimulus visual yang membantu anak memahami dunianya, seperti benda,
           orang, gambar, poster, foto, tanda lalu lintas, dan sebagainya.
       3. Bila kita perlu lebih banyak lagi, kita dapat membuatnya sendiri, terutama untuk
           memenuhi kebutuhan spesifik setiap anak, antara lain : jadwal kalender, papan
           pilihan, daftar aturan, daftar belanja, instruksi, peringatan mengenai perilaku
       dan berbagai alat bantu lain untuk membantu anak mengerti dan tahu apa yang
       harus dilakukan (Hodgdon, 1999).


b. Fungsi
   Mengacu pada kendala yang ada pada anak autis dalam menjalani pendidikan, maka
   strategi visual dapat digunakan untuk mengatasi kendala-kendala dalam hal :
   1. Pemahaman
     a.     Meningkatkan pemahaman
            Pada dasarnya manusia menyukai penjelasaan, karena itu menebak apa yang
            akan terjadi, kapan terjadinya bisa merupakan tekanan tersendiri bagi
            individu. Masalah perilaku pada penyandang autis seringkali        terjadi akibat
            terputusnya informasi, atau diantara masa transisi akibat dari perubahan.
       b. Mengatur perilaku
            Bila anak tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana harus berperilaku,
            mereka akan lebih kooperatif dan lebih tenang. Mereka lebih suka bila kita
            memberikan informasi mengenai hal tersebut karena mereka tidak perlu
            buang tenaga memikirkan harus bagaimana bertindak. Alat bantu visual
            membantu anak mengatur perilakunya dengan menjelaskan berbagai hal yang
            abstrak dalam kehidupan, seperti : aturan dan petunjuk berperilaku, serta
            berbagai makna kata “tidak” atau “tidak ada” atau “tidak boleh”.
   2) Komunikasi dan interaksi
       Keterbatasan      berkomunikasi     seringkali   menghambat      penyandang      autis
       mengutarakan hal tersebut, karena itu penting sekali mengajarkan anak
       menguasai ketrampilan berikut melalui penggunaan strategi visual
   3) Kemandirian
       Strategi visual dapat digunakan untuk mengembangkan kemandirian. Tujuan
       utama mendidik anak tentu saja adalah agar mereka bisa ‘mandiri’. Dalam hal ini,
       mencakup bagaimana berperilaku sesuai situasi dan keadaan serta bagaimana
       memecahkan masalah mereka tanpa bantuan orang lain.
c.   Cara Pengajaran
     Meski kebanyakan penyandang autisme adalah visual learner, tidak berarti bahwa anak
     dapat langsung paham penggunaan alat bantu visual. Mereka harus tetap diajarkan, antara
     lain melalui cara-cara sebagai berikut :
     1. Mengupayakan pemahaman berbagai hal di lingkungan (benda, aktifitas, konsep),
         dengan :
                 Memperkenalkan alat bantu secara sistematis
                 Memasangkan alat bantu visual dengan sesuatu yang bermakna bagi anak.
                 Menggunakan alat bantu visual secara kontekstual.
     2. Menggunakannya langsung untuk mendapatkan keinginan (berkomunikasi), saat
         membantu anak berkomunikasi.
     3. Mengembangkan kemandirian dengan mengatur lingkungan yang memerlukan
         bantuan orang lain sesedikit mungkin. Beberapa saran untuk melatih anak ASD
         menjadi mandiri saat mengajarkan sekuens kegiatan.


d.   Hal-hal yang diperhatikan
      Untuk memastikan keberhasilan proses pengajaran penggunaan alat bantu kepada anak
      autis, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
       1. Bentuk alat bantu diberikan mengikuti hirarki representasi (Gardner, Grant & Webb,
           1999).
                  Benda 3 dimensi, contoh : aneka benda nyata
                  Simbol benda, contoh : miniature, bungkus, atau label
                  Foto, contoh : dari benda nyata, guntingan majalah
                  Gambar, contoh : kartu, gambar compic/pecs berwarna
                  Tulisan kata yang dikenal, contoh : nama
                  Gambar symbol linier, contoh : symbol compic tak berwarna
                  Tulisan kata yang tidak dikenal, contoh : kartu kata, label
                  Kalimat lengkap, contoh : buku, instruksi, surat, buku, dsb.
2. Pembuatan alat bantu sebaiknya :
   a. Menggunakan yang mudah bagi anak
        Benda 3 dimensi/riil selalu lebih konkrit daripada bentuk tampilan lainnya. Bila satu
        bentuk sudah menjawab kebutuhan, tidak perlu mengganti dengan bentuk yang
        lebih abstrak.
   b. Mempertimbangkan kondisi anak, seperti :
           Usia
           Derajat kemampuan/pemahaman anak
           Tujuan penggunaan (pemecahan masalah, situasi, dan pemenuhan kebutuhan).
   c. Memilih sesuai dengan keadaan anak, seperti :
           Bentuk tampilan (gambar, benda, foto, dsbnya)
           Ukuran sesuai kebutuhan (lokasi penempatan, bagaimana akan digunakan,
            usia anak, derajat ketrampilan anak, dan respon anak).
   d. Memikirkan secara seksama bagaimana akan menggunakan alat bantu sebelum
        membuatnya.      (Siapa,    dimana,     kapan,    bagaimana      menggunakan dan
        menyimpannya, apa yang akan dilakukan dan dikatakan oleh anak yang
        menggunakannya)
   e. Mempertimbangkan penggunaan kombinasi gambar dan tulisan; yang sederhana
        tapi jelas. Tampilan ini sekaligus memberikan anak informasi mengenai dua hal
        yaitu makna gambar dan tulisan yang ia perlukan di kemudian hari.
   f. Melalui proses yang wajar, tidak panik atau berlebihan.
   g.   Mempertimbangkan untuk melibatkan anak dalam persiapan alat              bantu (bila
        mampu). Biarkan mereka melihat kita mengambil foto atau menggunting
        gambar. Berikan kesempatan mereka untuk memilih akan menggunakan
        gambar yang mana (untuk pilihan), memilih tulisan atau kombinasi gambar
        tulisan, serta bagaimana menyimpannya.
   h. Mengupayakan sikap yang spontan. Sejalan dengan perkembangan anak, dan sesuai
        dengan kebutuhan, lingkungan perlu menggunakan berbagai hal di lingkungan anak
        secara lebih spontan sehingga kosa kata anak makin kaya.
e. Alternatif Penggunaan
      Bila anak sudah paham berbagai alat bantu, maka ia sudah dapat diajari bagaimana
menggunakannya.
 1. Melabel
     Anak diminta menjawab pertanyaan untuk menguji pemahamannya. Bagi anak verbal
     atau dapat bicara kita mengharapkan anak mengatakannya kepada kita. Bagi anak yang
     dapat bicara tetapi sulit menjawab pertanyaan, bantuan berupa berupa kartu gambar
     atau tulisan, symbol linier diberikan sebagai pilihan jawaban. Sesudah memegang
     gambar atau menunjuk gambar/ symbol tertentu ia akan juga mengatakannya. Bagi anak
     yang non verbal, tidak/ belum dapat bicara, tindakannya memegang atau menunjuk itu
     sudah dapat dikatakan sebagai
     jawabannya.
 2. Menetapkan pilihan
     Belajar menetapkan pilihan, merupakan proses belajar yang dapat dilakukan sehari-
     hari dengan modal ‘konsistensi’ pengajar. Maksudnya, bila anak memilih benda A, maka
     ia akan mendapatkannya meski sebenarnya ia tidak suka. Anak sekaligus belajar untuk
     konsekuen, bertanggung jawab atas pilihannya, sehingga ia tidak ‘asal’ tunjuk dan
     pilihannya akurat.
 3. Menggunakan konsep “YA” dan “TIDAK”
     Memahami makna “ya” dan “tidak” adalah jendela komunikasi. Bila anak belum paham
     perbedaan dua konsep tersebut, sulit sekali mengharapkan ia menjawab pertanyaan dari
     kita yang berusaha menggli informasi. Sebaliknya, bila ia sudah dapat menjawab ‘ya’ atau
     ‘tidak’ untuk berbagai pertanyaan yang kita ajukan, setidaknya kita sudah mendapatkan
     informasi tanpa membuatnya frustasi berkepanjangan.
 4. Menggunakan bahasa isyarat
     Sering anak autis tidak dapat memahami perkataan orang lain, karena hambatan pada
     ‘auditory memory’ mereka. Mereka lupa makna kata tersebut sehingga gagal berespons.
     Atau, mereka kebingungan antara beberapa kata yang terdengar mirip, meskipun
   maknanya sangat berbeda. Misal, ‘ke meja’ dengan ‘kemeja’. Banyak bahasa isyarat
   yang dapat dipilih, tapi sangat disarankan menggunakan bahasa isyarat yang
   dimengerti secara universial. Maksudnya, orang lain tidak perlu belajar khusus untuk
   mengerti bahasa isyarat tersebut
5. Pertukaran gambar
   Maksudnya adalah anak memberikan sebuah gambar kepada orang lain sehingga orang
   tersebut paham bahwa ia menginginkan benda (atau orang atau kegiatan atau aktifitas)
   tersebut.
6. Penggunaan simbol linier
   Mengingat bahwa anak autis adalah visual learners, sangat disarankan untuk
   menggunakan berbagai gambar dalam mengajarkan keterampilan berkomunikasi. Tapi
   bila kita hanya menggunakan satu jenis gambar saja, anak-anak akan Menghafalkan
   gambar tersebut sehingga tidak bisa fleksibel. Pada saat benda yang ada dihadapanya
   tidak sama persis dengan gambar yang ia punya, besar kemungkinan ia tidak mau
   menerima benda tadi. Simbol linier yang banyak dipakai adalah symbol Compics dari
   Australia, dan simbol keluaran Mayer-Johnson, Amerika Serikat yang banyak digunakan
   untuk mengajarkan system PECS. Simbol-simbol linier bisa dipakai untuk keperluan
   belajar hal-hal berikut :
   a. Menyusun kalimat
   b. Belajar bertanya
   c. Belajar bercakap-cakap
   d. Belajar bercerita
7. Penggunaan jadwal
   Jadwal adalah satu set gambar atau tulisan yang membantu seseorang untuk aktif
   melakukan serangkaian aktifitas. Tujuan pemberian skedul ini adalah kemandirian,
   ketrampilan memilih dan membantu interaksi sosial.
8. Cerita sosial
   Cerita-cerita sosial ini mengambarkan situasi sosial sehari-hari secara detil, mencakup
   isyarat-isyarat sosial yang berkaitan dan juga menjelaskan respon yang sesuai. Cerita-
     cerita ini membantu individu ASD memahami situasi sosial yang akan ia hadapi ; misal :
     antri, mengganti acara TV, berbuat kesalahan, dan sebagainya.


f. Aplikasi Strategi Visual
   1) Di Lingkungan Sekolah
       Alat bantu visual sangat berguna dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, dimana
       anak dituntut untuk mengutarakan diri secara runut, cepat, dan berkesinambungan.
       Alat bantu ini bisa dalam bentuk tulisan ataupun symbol bertulisan. Adapun
       kegiatan-kegiatan di sekolah yang menggunakan alat bantu visual ini dilihat dari kendala
       yang dihadapi anak ASD adalah :
       a. Pemahaman
           Anak ASD kesulitan dalam memahami hal-hal yang abstrak. Dalam hal ini
           penggunaan strategi visual dapat berupa kartu symbol, antara lain : menjawab
           pertanyaan; menggunakan kartu angka untuk membantu belajar matematika;
           gambar bertulisan atau logo untuk belajar membaca dan menulis.
       b. Komunikasi dan interaksi
           Keterbatasan berkomunikasi menghambat anak ASD mengutarakan apa yang
           mereka inginkan dan apa yang mereka tidak inginkan. Dalam hal ini
           penggunaan strategi visual, misalnya menggunakan PECS untuk mengutarakan
           keinginan; menggunakan symbol liner ‘ya’ dan ‘tidak’ untuk menggali informasi;
           atau mengadahkan tangan untuk meminta mainan dari orang lain dapat membantu
           anak berkomunikasi.
       c. Kemandirian
           Untuk membantu anak ASD lebih spontan, aktif, serta mandiri dalam
           melakukan berbagai aktifitas, penggunaan strategi visual bisa berupa sekuens
           kegiatan seperti cuci tangan, memakai pakaian, dan penggunaan skedul atau
           jadwal satu hari.
2)   Di Luar Lingkungan sekolah
     a. Pemahaman
          Penggunaan social story menjelaskan kepada anak ASD tentang kegiatan atau
          aktifitas yang akan dihadapinya, sehingga ia tidak cemas dan berperilaku negatif.
          Isinya menggambarkan situasi social secara detail, yang mencakup isyarat-isyarat
          social yang berkaitan dan juga menjelaskan respon yang sesuai.
     b. Komunikasi dan interaksi
          Misalnya : Anak bercerita mengenai kejadian di sekolah atau yang baru
          dialaminya dengan menyusun symbol linier menjadi rangkaian cerita. Anak juga
          dapat mengutarakan keinginan saat makan di restoran, memilih antara yang
          diingingkan dari menu yang ada, dan sebagainya.
     c.   Kemandirian
          Anak dibantu untuk mandiri melakukan berbagai urutan kegiatan tanpa bantuan
          siapapun, misal ; bersiap ke sekolah, toileting, berpakaian, membersihkan kamar,
          dan sebagainya.
                                             BAB III
                                METODE STUDI LAPANGAN
   A. Metode
        Metode yang digunakan dalam studi lapangan ini adalah metode deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Data yang telah dikumpulkan selama studi lapangan mulai dari
identifikasi, asesmen, perencanaan program hingga hasil dari intervensi akan dideskripsikan
secara kualitatif.


   B. Profil Subyek
       Nama Anak                   : Ricky Chandra
       Nama Panggilan              : Ricky
       Tempat & Tanggal Lahir      : Yogyakarta, 14 Oktober 1999 (11 Tahun 3 bulan)
       Diagnosa                    : Autis (oleh dr. Edy Darma, Yogyakarta)
       Jenis Kelamin               : Laki-laki
       Agama                       : Kristen
       Anak ke                     : 1 dari 2 bersaudara
       Sekolah                     : Kezia School and Learning Center
                                   Jl. Setiabudi no. 257 Bandung
        Alamat Rumah               : Jl. Pasar Baru Panorama Lembang no. 58 Bandung
        Orang Tua                  : 1. Ayah           : Tjandra Djaja
                                    2. Ibu             : Kiswanti
        Pekerjaan Orang Tua        : 1. Ayah           : Wiraswasta
                                    2. Ibu             : Wiraswasta



B. Prosedur Kegiatan
    1) Identifikasi dan asesmen awal melalui observasi terhadap perilaku anak, wawancara
        dengan orang tua dan pengumpulan data pendukung (rekaman suara, gambar) bila ada.
        Hasil yang diharapkan mendapatkan gambaran tentang kebutuhan komunikasi yang
        diperlukan dan potensi yang dapat menunjang pemenuhan kebutuhan anak.
  2) Pemilihan model dalam komunikasi dan perencanaan program meliputi : Program AAC
      yang memungkinkan dilakukan secara kolaborasi dengan orangtua, alat pendukung, dan
      petunjuk penggunaan alat tersebut. Hasil yang diharapkan tersebut mendapatkan
      gambaran pelaksanaan program, sarana prasarana pendukung, peranan masing-masing
      pelaksana program.
  3) Pemilihan sistem symbol. Pemilihan system symbol didasarkan pada hasil asesmen yang
      dilakukan oleh terapis. Yang dimaksud symbol dalam hal ini ada
  4) Pemilihan bahan dan          prosedur penggunaan untuk meningkatkan kemampuan
      komunikasi.
  5) Melaksanakan latihan (Intervensi)
  6) Melaksanakan evaluasi


C. Metode Pengumpulan Data
  1. Observasi. Observasi digunakan untuk mengamati subyek pada saat asesmen dan pada
      saat kegiatan intervensi berlangsung.
  2. Dokumentasi. Dokumentasi digunakan untuk merekam kejadian-kejadian pada saat
      identifikasi kasus dan pada saat intervensi.
  3. Wawancara. Wawancara dilakukan kepada orangtua dan guru untuk mengumpulkan
      data tentang subyek.


D. Hasil Asesmen Awal
a. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada setting sekolah dan rumah subyek didapat
   hasil sebagai berikut :
         Ricky adalah anak pertama dari dua bersaudara, ia mempunyai seorang adik
   bernama Rico dan berusia 5 tahun. Secara fisik tidak nampak kelainan apapun dan nampak
   seperti anak pada umumnya, tinggi badannya sekitar 145 cm dan berat badan 50 kg
   sehingga ia tampak gemuk dan lebih besar dibanding anak seusianya. Cara berjalannya
   kadang suka jalan berjinjit. Saat diajak berkenalan Ricky hanya bergumam saja dan tidak
   mengeluarkan satu kata pun, hanya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
      Minat Ricky masih terbatas pada benda-benda tertentu yang bila diketuk-ketuk
mengeluarkan bunyi tertentu pula. Contohnya kertas karton tebal/dus tebal/kotak bekas
kemasan makanan yang kaku dan ia suka mengetuk-ngetuk benda tersebut dengan jari
tangannya. Ricky termasuk anak yang sedikit bergerak, misalnya saat jam istirahat, Ricky
hanya duduk bersila di teras sekolah dan ia bisa bertahan cukup lama hanya dengan duduk
diam seperti itu. Aktifitas lainnya saat jam istirahat adalah berjalan santai berkeliling ruang-
ruang di sekolah sambil mencari makanan/minuman dan benda yang disukainya. Bila
dilihat ada benda yang menarik perhatiannya maka ia akan langsung merebut/mengambil
benda tersebut tanpa minta ijin terlebih dulu.
       Minatnya terhadap makanan atau minuman sangat besar. Ini dikarenakan Ricky
tidak pernah menyatakan keinginannya, apakah itu lapar/haus/dll. Bila ia haus, maka akan
langsung merebut minuman yang dilihatnya, baik itu minuman yang ada di meja atau
minuman yang sedang dipegang orang lain pun langsung direbutnya. Demikian pula dalam
hal makanan, yang sangat disukainya adalah makanan renyah (kerupuk, keripik, snack, dll)
dan makanan pedas. Bila Ricky melihat ada makanan kesukaannya ia selalu merebut
makanan tersebut walaupun ia sudah makan berat. Selain itu Ricky juga suka mencium-
cium jari tangannya. Ia sering memasukkan jari-jari tangan ke dalam mulut dan langsung
diciumnya. Beberapa benda yang berbau khas juga suka diciumnya, misalnya sepatu, baju
yang berbau parfum, tangan orang lain, dan lain-lain.
       Dalam hal interaksi dengan orang lain, Ricky tampak cuek dan tidak ada inisiatif
untuk membangun interaksi baik dengan teman maupun guru. Dalam berkomunikasi, Ricky
tidak menggunakan bahasa verbal, ia sering bergumam (suara-suara yang tidak bertujuan).
Bahasa reseptif Ricky jauh berkembang dibandingkan bahasa ekspresifnya. Hal ini dapat
dilihat ketika Ricky dipanggil namanya, Ricky akan mendekati orang yang memanggilnya.
Bila Ricky disuruh mengambil suatu benda yang sudah dikenalnya (mobil, bola, gelas, piring,
sepatu, kaos kaki, pakaian, dll), ia mampu mengambil benda tersebut. Saat ditanya, “Mana
Ricky?”, ia akan menepuk-nepuk dadanya. Cara Ricky untuk mengekspresikan keinginannya
adalah ia akan merebut benda yang diinginkan, bila ingin BAB/BAK ia akan langsung lari
masuk kamar mandi dan bila ia ingin suatu benda yang sulit diraih maka ia akan menarik
tangan gurunya dan mengarahkan tangan guru pada benda yang dimaksud sebagai tanda
minta tolong (misal: minta tolong dibukakan plastik kemasan makanan).
      Dalam hal emosinya, Ricky termasuk anak yang tenang, hanya terkadang bila ada
keinginannya yang dilarang, Ricky akan marah, dan ekspresi marahnya dia akan mengerang
dengan suara keras dan wajahnya memerah. Bila Ricky marah, biasanya ia akan diberi
waktu beberapa saat sampai ia tenang kembali, Ricky termasuk anak yang mudah untuk
ditenangkan. Bila ada teman yang memukulnya, Ricky hanya diam saja dan tidak
membalas, responnya hanya menoleh ke teman yang memukulnya, kecuali bila dirasakan .
Tampak juga beberapa kali Ricky tertawa sendiri tanpa sebab dan juga tampak Ricky tiba-
tiba menangis tanpa sebab.
      Ricky tinggal bersama kedua orangtuanya dan ia tidak memiliki pengasuh yang
khusus untuk menemaninya. Pekerjaan kedua orangtuanya adalah berdagang makanan
ringan dan mereka membuka toko yang digabung dengan rumah.
      Bagian depan rumah Ricky merupakan toko dan dibagian belakangnya ada sebuah
ruang kamar berukuran sekitar 8x6 m2. Ruangan ini bersifat multifungsi, sebagai ruang
tamu, ruang makan, ruang keluarga dan ruang tidur bergabung menjadi satu dalam sebuah
ruangan. Untuk masuk ke ruangan ini harus melewati lorong yang berisi banyak barang
dagangan. Dibagian belakang ruang ini ada sebuah dapur kecil dan kamar mandi.
      Ricky pulang sekolah jam 13.00 WIB dan sampai dirumah sekitar jam 14.00 WIB.
Setelah pulang sekolah, tidak ada aktifitas fungsional yang dilakukannya, Ricky biasanya
hanya duduk diam di atas tempat tidur sambil melakukan aktifitas yang asyik baginya
(mengketuk-ketuk kertas/mencium-cium jari tangan sambil termangu dan bergumam).
Aktifitas lainnya adalah Ricky akan berusaha “mencuri” makanan ringan/minuman yang
merupakan barang dagangan toko, membawanya ke dalam kamar dan memakannya.
Tampak tidak ada mainan atau materi belajar yang fungsional bagi Ricky. Kesehariannya
Ricky lebih banyak sendirian, kedua orang tuanya sibuk di toko dan adiknya juga jarang
bermain dengan Ricky sehingga praktis Ricky jarang diajak berinteraksi dan berkomunikasi
dengan lingkungannya. Ia hanya asyik melakukan aktifitasnya sendiri dan tentu saja
bukanlah aktifitas yang fungsional.
b. Berdasarkan hasil wawancara Orangtua dan Guru, didapat hasil sebagai berikut :
             Mengenai riwayat perkembangan Ricky, selama masa kehamilan tidak ada
   kendala apapun. Hanya pada saat proses kelahirannya lambat dan Ricky harus masuk
   inkubator selama beberapa hari. Perkembangan Ricky diawal memang sudah tampak
   lambat bila dibanding anak seusianya. Namun demikian Ricky sudah mulai mengeluarkan
   beberapa kata, seperti “mama”, “papa”. Namun sejak usia 2 tahun, perkembangannya
   mengalami kemunduran dan kemampuan bicaranya lama kelamaan hilang. Karena
   kemunduran ini maka orangtuanya memeriksakan ke dokter dan akhirnya Ricky didiagnosa
   sebagai anak dengan autisme. Selama perkembangannya Ricky pernah beberapa kali
   mengajami kejang, terutama bila panas badannya tinggi, bahkan sempat dirawat di rumah
   sakit.
             Beberapa usaha pengobatan telah dijalani adalah memasukkan Ricky ke sekolah
   umum, SLB, terapi individual, terapi tusuk jarum, pengobatan medis dan sebagainya. Ricky
   pernah masuk ke Play Group (Kalam Kudus, Yogyakarta) pada usia 3 tahun dan karena ia
   tidak bisa mengikuti pelajaran maka Ricky keluar sekolah. Kemudian Ricky masuk ke SLB
   Autis Dian Amanah Yogyakarta dan pada tahun 2009 Ricky sekeluarga pindah ke Bandung
   dan Ricky masuk ke Kezia School And Learning Center (sejak tahun 2009 – sekarang).
             Menurut orangtuanya, banyak kemajuan yang terjadi sejak Ricky bersekolah di
   Kezia, misalnya Ricky sudah tidak ngompol, bila mau BAB/BAK ia langsung lari ke kamar
   mandi. Pemahaman Ricky terhadap instruksi pun sangat berkembang, ia bisa mengerti
   perintah sederhana, bila dipanggil pun ia mau datang menghampiri. Ricky juga sudah
   mampu mengidentifikasi benda-benda yang ada disekitarnya. Hanya dalam hal akademis
   (membaca, menulis, berhitung) Ricky belum dapat menguasainya. Demikian pula dalam
   kemampuan bahasa komunikasinya, dan bahasa verbalnya belum terbangun. Salah satu
   harapan terbesar dari orangtua Ricky adalah agar Ricky bisa berkomunikasi secara verbal,
   bisa memanggil “mama” dan “papa”.
E. Hasil Analisis Kasus
      Berdasarkan hasil asesmen diatas, maka selanjutnya akan dianalisis kekuatan dan
kelemahan pada subyek. Hal ini merupakan sebuah pertimbangan dalam rangka menyusun
program pengembangan komunikasi alternatif dan augmentatif bagi Ricky.


NO   Aspek                  Kekuatan                                Kelemahan
1.   Minat                     Suka pada benda-benda yang           Hanya terpaku pada benda yang
                                mengeluarkan bunyi (seperti             mengeluarkan bunyi saja.
                                karton atau dus.                     Suka merebut (makanan atau
                               Suka pada bau (wangi atau               minuman milik orang lain)
                                busuk)
                               Suka makanan renyah dan
                                minuman (kentang dan keripik
                                tales)
2.   Mobilitas              Tidak banyak bergerak atau tidak        Kurang terlatih motoriknya
                            suka berpindah tempat
3.   Interaksi dan             Bahasa reseptif Ricky tampak           Tampak cuek dan tidak ada
     komunikasi                 lebih berkembang                        inisiatif untuk membangun
                                dibandingkan bahasa                     interaksi baik dengan teman
                                ekspresifnya.                           maupun guru
                               Mengerti perintah sederhana,           Tidak menggunakan bahasa
                                seperti : kesini, duduk, berdiri,       verbal
                                tepuk tangan, angkat tangan,           Untuk mengekspresikan
                                tos, ambil…, lempar bola, dll           keinginannya adalah ia akan
                               Bila ingin BAB/BAK ia akan              merebut benda yang diinginkan
                                langsung lari masuk kamar
                                mandi
                               Bila ia ingin suatu benda yang
                                   sulit diraih maka ia akan
                                   menarik tangan gurunya dan
                                   mengarahkan tangan guru
                                   pada benda yang dimaksud
                                   sebagai tanda minta tolong
4.    Emosi                       Tenang                                Ekspresi marahnya dia akan
                                  Bila marah, maka dengan                mengerang dengan suara keras
                                   waktu yang singkat dia dapat           dan wajahnya memerah
                                   tenang kembali
5.    Pemahaman kata              Pakaian : baju, celana, kaos          Pemahaman kata yang masih
      benda                        kaki, sepatu, jaket.                   minim
                                  Peralatan makan : piring, gelas,
                                   sendok.
                                  Buah : pisang, apel, jeruk
                                  Benda sekitar : meja, kursi,
                                   bola, buku, pensil, tas


F. Rencana Pembuatan Program
     Berdasarkan hasil assesmen maka penggunaan strategi visual dengan menggunakan
     kartu gambar berupa foto dan tulisan dalam satu media, diduga cukup efektif untuk
     membantu Ricky dalam :
     1) Mengungkapkan keinginannya sebagai pengganti bicara atau verbal sehingga perilaku
        yang suka merebut barang/makanan/minuman dapat dieliminir;
     2) Berkomunikasi dengan cara yang lebih mudah dimengerti;
     3) Identifikasi benda-benda yang ada disekitarnya
     4) Identifikasi kata kerja sederhana (makan, minum, BAK, cuci tangan, dan sebagaiya)
     5) Lebih mudah untuk beradaptasi, terutama dalam situasi baru dimana Ricky seringkali
        muncul reaksi takut dan cemas saat ada di lingkungan baru.
G. Media AAC
    Berangkat dari kebutuhan Ricky yang mengalami hambatan komunikasi untuk dapat
membangun interaksi dan komunikasi dengan lingkungan, maka dipilih media simbol berupa
kartu gambar (foto dengan tulisan), dengan pemikiran bahwa media ini dianggap dapat
menolong dalam berkomunikasi dengan orang disekitarnya.
    Media AAC yang digunakan berupa kartu gambar untuk memudahkan Ricky
mengungkapkan keinginan atau bentuk komunikasinya terhadap orang lain. Kartu gambar
adalah media pembelajaran dalam bentuk kartu gambar yang dibuat menggunakan tangan
atau foto, atau memanfatkan gambar/ foto yang sudah ada yang ditempelkan pada lembaran-
lembaran kartu gambar. Gambar-gambar yang ada pada kartu gambar merupakan rangkaian
pesan yang disajikan dengan keterangan setiap gambar yang dicantumkan pada bagian depan
bawah gambar.
       Kartu gambar yang digunakan dalam intervensi adalah kartu yang bergambar keripik
tales dan kentang. Hal ini berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan untuk mengetahui
makanan apa yang paling disulai oleh Rc untuk selanjutnya digunakan sebagai reinforsment
sampling dalam intervensi. Makanan dipilih, karena hal ini merupakan kebutuhan primer dan
sangat mudah mengalihkan perhatian subyek ketika dilakukan intervensi, kartu yang digunakan
hanya berjumlah 2 buah. Hal tersebut dengan pertimbangan untuk memberikan pemahaman
simbolik kepada subyek tentang gambar dan benda aslinya. Dan mengingat kemampuan Rc
yang masih kesulitan dalam diskriminasi gambar.
                                              BAB IV
                                         HASIL INTERVENSI


    Pertemuan I
    Setting belajar   : Kelas
    Peralatan         : Kartu foto keripik talas, keripik talas, meja, kursi
    Frekuensi         : Satu kali pertemuan dilakukan 10 kali trial pembelajaran
    Pelaksana         : Seorang terapis dan seorang prompter
    Prompt             : Prompt fisik berupa memegang tangan subyek, mengarahkan untuk
                          mengambil kartu foto dan memberikan kartu pada terapis.
    Target perilaku       : Membangun pemahaman subyek akan prosedur bahwa bila ia ingin
                          mendapatkan keripik talas, ia harus mengambil kartu terlebih dulu dan
                          memberikan kartu pada terapis.
    Prosedur          :
     1. Terapis dan subyek duduk berhadapan dan prompter berada di belakang subyek.
     2. Terapis memperlihatkan keripik talas dan mencoba mengiming-iming subyek dengan
         keripik tersebut.
     3. Saat subyek berusaha merebut keripik talas, prompter segera memegang tangan
         subyek serta mengarahkan untuk mengambil kartu lalu memberikan kartu tersebut
         kepada terapis.
     4. Demikian seterusnya dilakukan sampai 10 kali trial.
     5. Tingkatan pemberian bantuan/prompt akan diberikan semakin berkurang bila subyek
         menunjukkan respon yang semakin mendekati target perilaku.
     6. Hasil intervensi dicatat pada lembar pencatatan.

Hasil intervensi:
      Percobaan ke-       Prompt                               Respon
             1             Fisik   Subyek langsung merebut keripik dan dibantu secara penuh
                                   untuk mengambil kartu dan memberikan pada terapis
             2             Fisik   Subyek masih merebut keripik dan masih dibantu secara
                              penuh
           3          Fisik   Subyek masih merebut keripik dan masih dibantu secara
                              penuh
           4          Fisik   Subyek masih merebut keripik dan masih dibantu secara
                              penuh
           5          Fisik   Subyek masih merebut keripik dan masih dibantu secara
                              penuh
           6          Fisik   Subyek masih merebut keripik dan masih dibantu secara
                              penuh
           7          Fisik   Subyek mulai tidak merebut keripik secara langsung, respon
                              subyek terdiam saja dengan ekspresi wajah menginginkan
                              keripik tersebut. Prompt yang diberikan mulai dikurangi
                              dengan hanya mendorong tangan subyek pada kartu dan
                              subyek langsung mengambil kartu dan memberikan kartu
                              pada terapis secara mandiri.
           8          Fisik   Respon subyek masih sama seperti percobaan ke-7
           9          Fisik   Respon subyek masih sama seperti percobaan ke-7
          10          Fisik   Sampai pada percobaan ke-10 respon subyek masih sama
                              dan masih perlu dibantu dengan prompt berupa mendorong
                              tangan subyek ke kartu.


Pembahasan Pertemuan I:
      Pada percobaan pertama, subyek dihadapkan pada kripik talas. Kripik talas adalah
salahsatu makanan kesukaan Ricky berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan oleh terapis.
Pada percobaan pertama Ricky langsung ingin merebut makanan (kripik talas) yang diiming-
imingi oleh terapis tanpa mengunakan bahasa verbal, kemudian terapis lain yang berada
dibelakang mengarahkan tangan Ricky mengambil kartu dan memberikan kartu tersebut ke
terapis. Kemudian terapis memberikan kripik talas seraya mengucapkan “talas”. Hal ini
dilakukan untuk memberikan pemahaman pengenalan benda atau makanan yang menjadi
kesukaan Ricky. Kegiatan ini berlangsung selama 10 kali percobaan. Terjadi perubahan pada
percobaan ke-tujuh dimana Ricky tidak langsung merebut tetapi hanya diam saja, dan kembali
terapis yang berada dibelakang Ricky mengarahkan tangan Ricky mengambil kartu dan
memberikannya ke terapis.
       Setiap selesai sesi intervensi terapis mengajak Ricky bermain pasang puzzle. Dan setiap
Ricky memberikan kartu gambar kepada terapis, Ricky diberikan reinforsment berupa tales dan
diberikan pujian oleh terapis berupa kata “good boy”.


 Pertemuan II
    Setting belajar   : Kelas
    Peralatan         : Kartu foto kentang, kentang goreng, meja dan kursi
    Frekuensi         : Satu kali pertemuan dilakukan 10 kali trial pembelajaran
    Pelaksana         : Seorang terapis dan seorang prompter
    Prompt            : Fisik dan Tunjuk
    Reinforsment      : Kentang Goreng dan kata “good boy”
    Target perilaku : Membangun pemahaman subyek akan prosedur bahwa bila ia ingin
                          mendapatkan kentang goreng, ia harus mengambil kartu terlebih dulu
                          dan memberikan kartu pada terapis
    Prosedur          :
    1. Terapis dan subyek duduk berhadapan dan prompter berada di belakang subyek.
    2. Terapis memperlihatkan kentang goreng dan mencoba mengiming-iming subyek dengan
       kentang tanpa menggunakan bahasa verbal tersebut.
    3. Saat subyek berusaha merebut kentang goreng, prompter segera memegang tangan
       subyek serta mengarahkan untuk mengambil kartu lalu memberikan kartu tersebut
       kepada terapis.
    4. Demikian seterusnya dilakukan sampai 10 kali trial.
    5. Tingkatan pemberian bantuan/prompt akan diberikan semakin berkurang bila subyek
       menunjukkan respon yang semakin mendekati target perilaku.
    6. Hasil intervensi dicatat pada lembar pencatatan.
Hasil intervensi      :
     Percobaan      Prompt                                  Respon
         ke-
          1           Fisik      Subyek langsung merebut kentang goreng dan dibantu oleh
                                 promter secara penuh dan memberikan kartu tersebut ke
                                 terapis (dibantu secara penuh)
          2           Fisik      Subyek masih dibantu secara penuh
          3           Fisik      Subyek masih dibantu secara penuh
          4           Fisik      Subyek masih dibantu secara penuh
          5           Fisik      Subyek masih dibantu secara penuh
          6           Fisik      Subyek masih dibantu secara penuh
          7           Fisik      Subyek masih dibantu secara penuh
          8           Fisik      Subyek masih dibantu secara penuh
          9           Fisik      Subyek masih dibantu secara penuh
         10          Tunjuk      Subyek masih dibantu dengan terapis menunjuk kartu dan
                                 subyek memberikan kartu kepada terapis


Pembahasan Pertemuan II:
       Pada pertemuan ke-dua tidak jauh berbeda dengan pertemuan pertama, hanya saja
ditemukan bahwa minat Ricky terhadap makanan (kentang goreng) lebih kurang dari pada
keripik tales. Hal ini ditunjukkan oleh respon Ricky ketika diiming-imingi keripik tales. Temuan
ini akan menjadi pertimbangan pada saat pertemuan ke-III.
       Hasil temuan lain adalah pada pertemuan sepuluh Ricky hanya diam dan terapis cukup
menunjuk kartu dan Ricky langsung mengambil dan memberikan ke terapis. Hasil ini menjadi
sebuah dilemma bagi terapis, dan menimbulkan pertanyaan besar “apakah ini terjadi secara
kebetulan? Atau Ricky sudah sedikit mengerti tentang penggunaan kartu gambar tersebut”.
Setiap Ricky telah memberikan kartu kentang goreng kepada terapis, maka Ricky diberikan
reinforsment “good boy” dan tepuk tos.
 Pertemuan III
   Setting belajar   : Kelas dalam situasi belajar
   Peralatan         : Kartu foto keripik talas, keripik talas, meja, kursi, peralatan belajar
                         (mewarnai)
   Frekuensi         : Satu kali pertemuan dilakukan 10 kali trial pembelajaran
   Pelaksana         : Seorang guru (sekaligus sebagai prompter) dan seorang terapis.
   Prompt            : Prompt fisik berupa memegang/mendorong tangan subyek,
                         mengarahkan untuk mengambil kartu foto dan memberikan kartu pada
                         terapis, prompt dengan menunjuk pada kartu.
   Target perilaku   : Membangun pemahaman subyek akan prosedur bahwa bila ia ingin
                         mendapatkan keripik talas, ia harus mengambil kartu terlebih dulu dan
                         memberikan kartu pada terapis.
   Prosedur          :
     1. Guru dan subyek duduk berhadapan. Guru memberikan tugas belajar yaitu
         mewarnai.
     2. Sambil subyek belajar, terapis dari jarak sekitar 1 meter memperlihatkan keripik talas
         dan mencoba mengiming-iming subyek dengan keripik tersebut.
     3. Saat subyek berdiri hendak berjalan mengambil keripik talas, prompter segera
         memegang tangan subyek serta mengarahkan untuk mengambil kartu lalu
         memberikan kartu tersebut kepada terapis.
     4. Demikian seterusnya dilakukan sampai 10 kali trial.
     5. Tingkat pemberian bantuan akan semakin dikurangi seiring peningkatan respon
         subyek yang semakin mendekati target perilaku yang dikehendaki.
     6. Hasil intervensi dicatat pada lembar pencatatan.
Hasil intervensi :
Percobaan ke-        Prompt                             Respon
       1              Fisik   Subyek langsung berdiri hendak mengambil keripik, prompter
                              segera     membantu   dengan    menarik    tangan      subyek,
                              mengarahkan untuk mengambil kartu dan memberikan kartu
                              pada terapis. Responnya yaitu subyek masih dibantu penuh.
       2              Fisik   Respon yang diperlihatkan sama seperti percobaan ke-1
       3              Fisik   Respon yang diperlihatkan sama seperti percobaan ke-1
       4              Fisik   Respon subyek saat melihat keripik sudah tidak lagi langsung
                              berdiri tetapi subyek mulai mengarahkan tangan dengan
                              ragu-ragu hendak mengambil kartu tapi dia tidak langsung
                              mengambil kartunya sehingga perlu diprompt dengan
                              mendorong tangan subyek ke arah kartu. Pada percobaan ini
                              tingkat prompt mulai dikurangi yaitu hanya mendorong
                              tangan. Respon selanjutnya subyek dapat mengambil kartu
                              sendiri dan berjalan mendekati terapis. Namun untuk
                              memberikan kartu pada terapis juga diprompt dengan
                              mendorong tangan subyek ke arah terapis.
       5              Fisik   Respon yang diperlihatkan sama seperti percobaan ke-4
       6              Fisik   Subyek masih diprompt untuk mengambil kartu dengan
                              mendorong tangan subyek kearah kartu hanya untuk
                              memberikan kartu pada terapis sudah mampu dilakukan
                              sendiri.
       7              Fisik   Respon yang diperlihatkan sama seperti percobaan ke-6
       8              Fisik   Respon yang diperlihatkan sama seperti percobaan ke-6
       9             Tunjuk   Subyek sudah mampu mengambil kartu secara mandiri hanya
                              dengan prompt menunjuk pada kartu dan subyek langsung
                              berdiri, berjalan dan memberikan kartu pada terapis.
      10             Tunjuk   Respon yang diperlihatkan sama seperti percobaan ke-9
Pembahasan Pertemuan ke III:
       Pada pertemuan masih dilakukan di ruangan kelas dengan menggunakan alat keripik
tales. Dalam prosesnya terdapat perkembangan yang sangat positif terhadap Ricky. Hal
tersebut ditujukkan mulai dari percobaan ke-empat. Pada percobaan ke-empat Ricky melihat
keripik sudah tidak lagi langsung berdiri tetapi subyek mulai mengarahkan tangan dengan ragu-
ragu hendak mengambil kartu tapi dia tidak langsung mengambil kartunya sehingga perlu
diprompt dengan mendorong tangan subyek ke arah kartu. Pada percobaan ini tingkat prompt
mulai dikurangi yaitu hanya mendorong tangan. Respon selanjutnya subyek dapat mengambil
kartu sendiri dan berjalan mendekati terapis. Namun untuk memberikan kartu pada terapis
juga diprompt dengan mendorong tangan subyek ke arah terapis.
       Paling pesat perkembangan subyek pada percobaan ke -9 dan ke- 10. Dimana terapis
cukup memberikan promt berupa menunjuk kartu dan Ricky langsung mengambil kartu dan
memberikan pada terapis. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa RC sudah
mulai mampu mengambil kartu secara mandiri meskipun masih menggunakan sedikit bantuan.
Setiap Ricky memberikan kartu kepada terapis, RC diberikan reinforsment berupa kripik tales
dan ucapan “good boy”.
       Hasil perkembangan intervensi ini akan dijasikan sebagai bahan reverensi untuk
pertemuan berikutnya.


 Pertemuan IV

    Setting belajar   : Saat istirahat (setting natural)
    Peralatan         : Kartu foto keripik talas, keripik talas, bola.
    Frekuensi         : Satu kali pertemuan dilakukan 10 kali trial pembelajaran
    Pelaksana         : Seorang terapis.
    Prompt            : Prompt dengan menunjuk pada kartu.
    Target perilaku : Membangun pemahaman subyek akan prosedur bahwa bila ia ingin
                        mendapatkan keripik talas, ia harus mengambil kartu terlebih dulu dan
                        memberikan kartu pada terapis.
Prosedur :
 1. Terapis duduk berjauhan dengan subyek (kurang lebih 2 meter). Kemudian terapis
     duduk sambil makan keripik tales. seolah-olah cuek dengan keberadaan subyek.
     Dengan setting kartu di temeplkan didinding tepat di belakang subyek. Hal ini
     bertujuan untuk melihat respon subyek bila ingin meminta sesuatu. Semakin lama
     sesi maka posisi duduk terapis semakin jauh dengan subyek.
 2. Demikian seterusnya dilakukan sampai 10 kali trial.
 3. Tingkat pemberian bantuan akan semakin dikurangi seiring peningkatan respon
     subyek yang semakin mendekati target perilaku yang dikehendaki.
 4. Hasil intervensi dicatat pada lembar pencatatan.

Hasil intervensi :
  Percobaan      Prompt                                Respon
     ke-
      1          Tunjuk    Rc hanya diam saja sambil mengulurkan tangannya. Terapis
                           menunjuk kearah kartu dan Rc mengambil kartu dan
                           memberikannya ke terapis.
      2          Tunjuk    Respon yang ditunjukkan ksubyek sama seperti percobaan
                           ke-1
      3          Tunjuk    Respon yang ditunjukkan subyek sama seperti percobaan ke-
                           1
      4          Tunjuk    Respon yang ditunjukkan ksubyek sama seperti percobaan
                           ke-1, tetapi respon tambahan Rc adalah dengan melirik kartu
                           yang ada dibelakangnya. Terapis menunjuk kartu dan RC
                           mengambil kartu tersebut
      5          Tunjuk    Posisi terapis berpindah tempat menjauh dari RC. Respon RC
                           mendekati Terapis sambil ingin merebut makanan terapis.
                           Terapis menunjuk kartu dan RC berlari mengambil kartu dan
                           memberikannya ke terapis
          6          Tunjuk    Respon yang ditunjukkan subyek sama seperti percobaan ke-
                               5
          7          Tunjuk    Respon yang ditunjukkan subyek sama seperti percobaan ke-
                               5
          8          Tunjuk    Posisi terapis berpindah tempat lebih menjauh dari posisi
                               subyek dan kartu gambar. Respon RC mendatangi terapis dan
                               mengulurkan tangannya. Terapis menunjuk kartu yang
                               berada kurang lebih 4 meter dari RC. RC kemudian berlari
                               dan mengambil kartu yang selanjutnya diberikan ke terapis
          9          Tunjuk    Respon yang ditunjukkan subyek sama seperti percobaan ke-
                               8
          10         Tunjuk    Respon yang ditunjukkan subyek sama seperti percobaan ke-
                               8


Pembahasan Pertemuan ke IV:
       Pada pertemuan ke empat dilakukan di halaman sekolah (setting natural). Dengan
menggunakan kartu foto keripik talas, keripik talas,dan bola. Dalam prosesnya terdapat
perkembangan yang positif terhadap Ricky. Hal tersebut ditunjukkan dari percobaan pertama.
Dimana pada mulanya Ricky hanya diam saja sambil mengulurkan tangannya meniminta keripik
talas, tetapi ketika terapis menunjuk kea rah kartu berada, dan kemudian Ricky mengambil
kartu tersebut dan memberikannya kepada terapis.
       Kemudian pada percobaan ke lima, posisi terapis berpindah tempat menjauh dari Ricky.
Respon yang diberikan Ricky ialah Ricky mendekati terapis sambil ingin merebut makanan yang
sedang dipegang terapis. Kemudian terapis menunjuk kearah kartu berada dan Ricky berlari
kecil untuk mengambil kartu yang ditaruh terapis kemudian Ricky memberikan kartu tersebut
kepada terapis. Sampai dengan percobaan ke sepuluh respon yang diberikan Ricky sama
dengan respon pada percobaan kelima. Dimana jika Ricky menginginkan makanan maka Ricky
harus memberikan kartu kepada terapis. Berdasarkan percobaan tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa Ricky sudah mulai mampu mengambil kartu, walaupuh masih menggunakan
sedikit bantuan.
                                               BAB V
                                           KESIMPULAN


       Berdasarkan hasil asemen dan intervensi yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
       1. RC telah memiliki kemampuan non-verbal yang cukup baik hanya saja hambatan
           yang masih dialami oleh Rc adalah dalam mengkomunikasikan keinginannya. Tetapi
           setelah diintervensi dengan menggunakan kartu gambar, maka kemampuan Rc
           dalam mengkomunikasikan keinginannya lebih baik ketimbang sebelum diberikan
           intervensi. Hal ini ditunjukkan berdasarkan hasil intervensi selama empat kali
           pertemuan dan setiap pertemuan dilakukan dengan 10 kali latihan.
       2. Komunikasi alternative dan augmentative sangat penting Rc, mengingat Rc sangat
           kurang dalam komunikasi verbal. Berdasarkan rencana program dan hasil intervensi
           ditemukan bahwa kartu gambar cukup efektif digunakan untuk Rc. Meskipun belum
           hasil intervensi ini belum sepenuhnya berhasil, kedepannya diharapkan hasil
           intervensi ini dijadikan bahan referensi dalam mengembangkan kemampuan
           komunikasi alternative dan augmentative bagi Rc.
                                      DAFTAR PUSTAKA


Christi Phil, at all. (2009). Langkah Awal Berinteraksi dengan anak autis. Jakarta: PT Gramedia
         Pustaka Utama.

Http://Unsilster.Com/2009/12/Pengertian-Asesmen/ (10 desember 2011)
Http://Rennyapril.Blogspot.Com/2010/03/Pengertian-Autis.Html (12 Desember 2011)
Http://Abdiplizz.Wordpress.Com /2011 / 01/ 10/ Intervensi – Untuk -Anak-Autism/(14
       Desember 2010)

Peeters, T. (2009). Autism From Theoretical Understanding to Educational Intervention. London:
       Whurr Publishers Ltd.

Pustpita Dyah. (2003). Kiat Praktis untuk Menangani Anak Autis. Jakarta: Putera Kembara
Rudy Sutadi, dkk (2011). Autisme dari A sampai Z. Jakarta: CV. Anak Special Mandiri
Lampiran-lampiran
   1. RC pada saat masuk kelas




   2. Rc pada saat mengikuti kegiatan pembelajaran
3. Pada saat proses reinsforment sampling (pemilihan sampel penguatan)




4. Pada saat intervensi pertemuan pertama

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:213
posted:3/4/2012
language:
pages:40