Docstoc

Kelompok+5

Document Sample
Kelompok+5 Powered By Docstoc
					                  MAKALAH
        SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

REVIEW JURNAL ’BENCHMARKING FOR INFORMATION SYSTEMS
        MANAGEMENT USING ISSUES FRAMEWORK’




        AGNES STYOWATI             0706283424
        DEWI JULIANI PURBA         0706283576
        RIZTY DAMAYANTI            0706283954
        TRI ROHIDAYAT              0706284055




        FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
               UNIVERSITAS INDONESIA
                     DEPOK, 2009
                                         BAB I
                                   PENDAHULUAN


I. Latar Belakang Masalah
   Sesuai dengan nature dari organisasi, tiap organisasi ada untuk mempertahankan
eksistensinya dalam lingkungannya. Untuk itu, organisasi harus menjadi suatu sistem yang
dapat merubah input dari lingkungan, setiap aspek yang ada di luar sistem organisasi,
menjadi output yang mempunyai nilai lebih. Organisasi privat maupun publik ada untuk
melakukan produksi, yaitu mengambil input dari lingkungan dan menghasilkan output bagi
lingkungan. Apabila siklus tersebut dapat terus berjalan, maka organisasi dapat terus
bertahan (survive). Agar dapat terus menghasilkan output yang diterima oleh
lingkungannya (sistem eksternal), suatu organisasi harus dapat menghasilkan output yang
benar-benar diperlukan dan mempunyai daya saing. Untuk dapat mencapai hal tersebut, ada
beberapa hal yang diperlukan oleh suatu organisasi, antara lain, sumber daya manusia,
bahan baku, manajemen yang baik, dan informasi.
   Informasi merupakan salah satu elemen yang sangat penting dalam kehidupan suatu
organisasi. Informasi diperlukan oleh para aktor dalam organisasi untuk mengambil
keputusan dan tindakan, baik dalam alokasi sumber daya maupun dalam aspek-aspek
lainnya. Informasi mutlak diperlukan oleh tiap organisasi, baik organisasi privat maupun
publik. Infomasi yang diperlukan oleh suatu organisasi bukan hanya informasi yang
bersifat internal organisasi, namun juga informasi mengenai kondisi eksternal, misalnya
informasi mengenai preferensi masyarakat ataupun kompetitor. Dengan demikian,
informasi tersebut harus dioganisasikan dengan baik agar informasi tersebut dapat
mendukung dan meningkatkan kinerja dan pencapaian tujuan organisasi, disinilah
pentingnya manajemen sistem informasi. Para ahli dan praktisi sistem informasi secara
kontinyu, dari tahun ke tahun, melaksanakan penelitian-penelitian mengenai sistem
informasi yang dipublikasikan ke dalam jurnal ilmiah.
   Salah satu aspek yang mendapat perhatian para ahli dan banyak menjadi topik
penelitian adalah mengenai kerangka pikir (framework) isu dalam manajemen sistem
informasi. Salah satu penelitian mengenai kerangka pikir isu dalam manajemen sistem
informasi adalah penelitian Nansi Shi dan David Bennett, yang dipublikasikan dalam jurnal
ilmiah   internasional   yang   berjudul   ’Benchmarking    for      Information   Systems
Management Using Issues Framework Studies: Content and Methodology’. Shi dan
Bennett mengidentifikasikan deskripsi dan ringkasan mengenai 20 penelitian yang telah
dilakukan oleh peneliti-peneliti lain dalam mengidentifikasikan kerangka pikir isu dalam
manajemen sistem informasi. Shi dan Bennett juga mengidentifikasikan apa yang dipelajari
dalam penelitian-penelitian tersebut dan bagaimana penelitian tersebut dilakukan. Selain
itu, mereka juga memberikan arahan dan metodologi bagi penelitian pada masa yang akan
datang. Arahan dan saran yang dirumuskan oleh Shi dan Bennett juga dapat diaplikasikan
pada penelitian-penelitian di bidang bisnis dan manajemen lainnya.


II. Pokok Permasalahan
   Perkembangan sistem informasi yang sangat dinamis membuat para peneliti giat
melakukan penelitian dalam berbagai aspek dalam manajemen sistem informasi. Salah satu
aspek yang menjadi perhatian para peneliti adalah mengenai kerangka pikir isu (issue
framework) dalam sistem informasi. Berdasarkan jurnal ’Benchmarking for Information
Systems Management Using Issues Framework Studies: Content and Methodology’
yang disusun oleh Nansi Shi dan David Bennett, kami menyusun makalah ini dan
permasalahan yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah, sebagai berikut:
1. Apakah kerangka pikir isu (issue framework)?
2. Apakah signifikansi dari kerangka pikir isu dalam manajemen sistem informasi dan
   penelitian mengenai kerangka pikir isu tersebut?


III. Tujuan
   Penyusunan makalah ini bertujuan untuk mengidentifikasikan issue framework dalam
manajemen sistem informasi, serta metodologi penelitian mengenai issue framework dalam
manajemen sistem informasi dan signifikansi dari penelitian tersebut, serta kemungkinan
aplikasi dari issue framework pada sektor pemerintahan.
                                         BAB II
                                    PEMBAHASAN


I. Review Jurnal
   Dalam jurnal ilmiah yang berjudul ’Benchmarking for Information Systems
Management Using Issues Framework Studies: Content and Methodology’, Nansi Shi
dan David Bennett mengidentifikasikan pentingnya isu-isu kritis dalam manajemen sistem
informasi yang semakin meningkat seiring dengan dinamisnya perkembangan teknologi
informasi dan penggunaan sistem informasi dalam organisasi. Shi dan Bennett
mengidentifikasikan deskripsi dan ringkasan mengenai 20 penelitian yang telah dilakukan
oleh peneliti-peneliti lain dalam mengidentifikasikan kerangka pikir isu dalam manajemen
sistem informasi. Shi dan Bennett juga mengidentifikasikan apa yang dipelajari dalam
penelitian-penelitian tersebut dan bagaimana penelitian tersebut dilakukan. Selain itu,
mereka juga memberikan arahan dan metodologi bagi penelitian pada masa yang akan
datang. Arahan dan saran yang dirumuskan oleh Shi dan Bennett juga dapat diaplikasikan
pada penelitian-penelitian di bidang bisnis dan manajemen lainnya.
   Pada bagian pengantar, Shi dan Bennett menjelaskan bahwa kerangka pikir isu
merupakan hal yang penting dalam manajemen sistem informasi karena melalui kerangka
tersebut para peneliti dapat menyusun isu-isu yang ada ke dalam struktur yang lebih
koheren dan logis, sehingga isu-isu tersebut dapat dianalisa. Penelitian mengenai kerangka
pikir isu telah berjalan dari waktu ke waktu, dalam berbagai konteks, dan pada berbagai
negara, sehingga pada penelitian tersebut dapat dilakukan benchmarking untuk mengetahui
kepentingannya pada masa yang akan datang.
   Pada penelitian yang dilakukan oleh Shi dan Bennett, yang pada dasarnya juga
berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti lain, kerangka pikir isu
diklasifikasikan menjadi:
(1) Kerangka untuk identifikasi
(2) Kerangka untuk membandingkan
(3) Kerangka untuk analisis tren
(4) Kerangka untuk pemeriksaan
     Klasifikasi tersebut berdasarkan tujuan pokok dari studi itu sendiri. Selain itu, Shi dan
Bennett menekankan perhatian terhadap kerangka pikir isu kritis dalam manajemen sistem
informasi. Kerangka pikir isu kritis dalam manajemen sistem informasi mengacu pada
suatu struktur yang berisi isu-isu yang paling kritis dalam manajemen sistem informasi,
yang disusun berdasarkan peringkat kepentingannya. Kerangka pikir isu menberi manfaat
dengan memberikan saran dan arahan pada bidang manajemen sistem informasi untuk
pelatihan, riset, dan pendidikan. Kerangka pikir isu jauh lebih berguna dibandingkan
identifikasi isu-isu tertentu dalam isolasi karena aktifitas sistem informasi akan
berkembangan ke berbagai arah, sehingga perkembangan dalam berbagai bidang juga akan
berjalan secara menyeluruh. Penelitian yang dilakukan oleh Shi dan Bennett berdasar pada
penelitian-penelitian terkait mengenai manajemen sistem informasi. Peneliti memilah jurnal
tersebut ke dalam 2 kategori.
     Paper ini tidak terlalu membahas studi mengenai Critical Succes Factors (CSFs), namun
peneliti menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara CSFs dengan Isu.
                   Perbedaan antara CSF (Critical Succes Factors) dan Isu
No     CSF (Critical Succes Factors)                Isu
1      Fakta atau keadaan yang membantu             suatu pertanyaan yang muncul untuk
       dalam menghasilkan sesuatu atau              suatu diskusi
       mempengaruhi hasil
2      suatu kebutuhan dan kecukupan yang           isu mengarahkan petunjuk umum yang
       memastikan kesuksesan.                       bisa diambil oleh senior executive untuk
                                                    membantu formulasi rencana strategi
3      isu mungkin tidak menjadi suatu yang         CSFs seringkali dibatasi dari empat
       vital bagi kesuksesan organisasi hingga      hingga    tujuh,    banyaknya   isu   bisa
       implikasi yang potensial dan solusinya       bertambah (dari 16 hingga 37 di review
       diklarifikasi, didiskusikan dan dipelajari   studi paper ini).




     Paper ini juga tidak membahas mengenai studi-studi terdahulu yang berfokus pada
penelitian dan pemahaman, namun lebih membahas mengenai keterangan isu IS
management. Hal tersebut dikarenakan para peneliti menyatakan bahwa kerangka isu IS
management sesuai dan mengikuti definisi-definisi sebelumnya.
Area manakah yang telah dipelajari?
Overview studi sebelumnya
Berdasarkan 20 review paper, peneliti mengklasifikasikan preliminary tujuan studi tersebut
dalam empat tipe yang telah diidentifikasi sebelumnya, contohnya:
(5) Kerangka untuk identifikasi
(6) Kerangka untuk membandingkan
(7) Kerangka untuk analisis tren
(8) Kerangka untuk pemeriksaan




       Table II menunjukkan 20 studi beserta deskripsi singkat mengenai penelitinya,
kapan dan dimana     penelitian dielenggarakan,   dan apa yang menjadi hasil kuncinya.
Peneliti menyatakan bahwa studi tersebut dipersembahkan dalam kronologi pesanan karena
studi berikutnya seringkali dipengaruhi oleh dan atau berhubungan dengan studi
sebelumnya. “who” merupakan peneliti yang melakukan studi, “when” mengindikasikan
tahun laporan dipublikasikan. “where” merupakan wilayah dimana studi dilakukan, dan
“what” berarti hasil yang termasuk dalam paper-paper yang relevan. Kerangka isu IS
management terdiri dari 15—37 isu, sedangkan kerangka isu kunci biasanya terdiri dari isu
sepuluh terbaik. Bagian diskusi mengikuti empat arahan penelitian.
Identifikasi isu
   Sebagai isu yang digunakan, peneliti menyebutkan bahwa penelitian IS harus relevan
dengan pelaksana penelitian mengenai       isu yang dijadikan sebagai focus. Identifikasi
kerangka isu IS management membantu IS personnel menjadi peduli dengan tren sekarang
dan di masa yang akan datang. Meskipun kerangka isu mungkin saja mengalami perubahan
dari suatu studi ke studi yang lain.
   Tujuan dasar dari studi identifikasi isu adalah untuk       mengumpulkan dan untuk
menganalisis persepsi IS professional untuk mengkonstruksi       kerangka isu critical IS
management. Studi sebelumnya (Dickson et al, 1984) telah mengidentifikasi tiga
pertanyaan esensial IS studi, sebagai berikut:
(1) Apakah critical issue IS management yang dirasakan oleh IS professional?
(2) Apakah yang menjadi pentingnya isu?
(3) Berapa banyak persetujuan yang dilakukan oleh IS professional mengenai isu tersebut?

   Kebanyakan dari 20 studi telah mengadopsi tiga pertanyaan esensial IS tersebut sejak
konteks yang berbeda. Kerangka isu dapat diklasifikasikan menurut sampelnya atau
cakupan area geografisnya. Table III menggolongkan kerangka berdasarkan sampelnya,
sedangkan table IV mengelompokkan berdasarkan cakupan area geografisnya.
Comparison
   Setelah beberapa kerangka isu IS managemen telah diidentifikasi, pertanyaannya dapat
diminta seperti persamaannya dan perbedaannya diantara bermacam-macam kerangka isu
yang dirasakan oleh berbagai grup IS professional. Jadi, beberapa studi setelahnya focus
pada perbandingan antara dua atau lebih kerangka isu. Berbagai tipe perbandingan dalam
studi ini dipresentasikan secara singkat pada table V.
Trend analysis
   Trend analysis historis merupakan fakta-fakta perbandingan yang telah dibuat. Seperti
focus analisis pada menguji isu yang telah ditingkatkan dalam kepentingannya dan isu
yang akan diturunkan dalam kepentingannya.
   Diantara 20 studi, salah satu yang paling signifikan adalah empat kelanjutan dan studi
yang berelasi (Dickson et al, 1984; Brancheau and Wetherbe, 1987; Niederman et al.,1991;
Brancheau et al., 1996). Hal itu yang disebut dengan rangkaian studi SIM/MISRC karena
mereka disponsori oleh MIS Research Center (MISRC) di Universtas Minnesota.
Rangkaian memperkerjakan metode yang sama (Delphi study) dan data sumber (SIM
members) pada area geografis yang sama. Dalam rangkaian SIM/MISRC, isu
diidentifikasikan di studi sebelumnya yang telah digunakan sebagai dasar untuk studi
berikutnya. Oleh karena itu, historical trend analysis dilaksanakan pada tingkat kedua,
ketiga dan keempat dari studi SIM/MISRC. Tren analisis mengindikasikan bahwa banyak
isu manajemen yang kepentingannya mengalami peningkatan, sedangkan beberapa isu,
kepentingannya mengalami       penurunan    manfaat. Akan tetapi, isu teknologi tertentu
mengenai infrastruktur IT dan arsitektur, kepentingannya juga mengalami peningkatan di
tahun 1990—an. In addition, bagian terbatasnya, isu spesifik telah berkembang dari yang
lebih luas hingga isu global. Beberapa studi lainnya juga menganalisis trend berdasarkan
perbandingan identifikasi isu dalam penemuan dan studi sebelumnya.
   Pemeriksaan
Sebuah "studi pemeriksaan" berfokus dalam mendirikan suatu model konseptual untuk
menguji faktor-faktor yang akan mempengaruhi IS profesional 'penilaian dalam
mengidentifikasi isu-isu kritis. Tiga penelitian melaporkan pemeriksaan tersebut.
1. Satu model penelitian (Watson, 1990) menunjukkan bahwa ada dua faktor yang akan
   mempengaruhi identifikasi isu. Kedua faktor manajer IS pemindaian perilaku dan
   hubungan antara CEO dan CIO di perusahaan yang sama.
2. Model konseptual lain (Mata, 1993) mengusulkan bahwa identifikasi isu-isu akan
   dipengaruhi oleh jenis industri, ukuran perusahaan (pendapatan / anggaran, dan jumlah
   karyawan), manajer IS posisi, dan pentingnya IT di perusahaan.
3. Sebuah studi yang lebih baru (Shi, 1998) menyarankan suatu model konseptual untuk
   menguji pengaruh dari beberapa faktor pada identifikasi isu kerangka. Faktor-faktor ini
   adalah organisasi lingkungan IT, TI digunakan, pengetahuan IT manajerial, informasi
   individual pemindaian perilaku, pendidikan, pengalaman, dan manajemen IS
   pengetahuan dan keterampilan konstruksi.
   Bagaimana penelitian dilakukan
Mengetahui apa yang telah dipelajari sebelumnya adalah perlu untuk membentuk arah
penelitian masa depan dan memahami bagaimana studi sebelumnya dilakukan sehingga
memberikan informasi berharga untuk penelitian desain. Bagian ini membahas metodologi
yang digunakan dalam studi masalah ini.
   Metodologi
landasan bersama mereka diadopsi dari 20 penelitian empiris, kuantitatif, penelitian
strategi, termasuk berbagai metodologi seperti survei kuesioner pos, teknik Delphi,
wawancara dan pengumpulan data sekunder. Studi kasus analisis, salah satu metodologi
kualitatif, yang dikombinasikan dengan survei kuesioner dalam satu penelitian. Tabel VI
menunjukkan                   metodologi                   yang                  digunakan.
Dua belas dari 20 studi menggunakan kuesioner pos karena mereka dapat digunakan untuk
mengumpulkan data dalam waktu yang lebih singkat dan mencakup populasi yang lebih
luas daripada metodologi lain, kekurangan utama dari metodologi adalah kurangnya
interaksi     dengan       peserta        dan     ketidakpastian      tingkat      respons.
Lima penelitian digunakan teknik Delphi, yang merupakan serangkaian terkait survei atau
kuesioner. Dimulai dengan kuesioner terbuka, menggantikan kuesioner dan meminta
responden untuk informasi lebih lanjut. proses berhenti ketika konsensus telah tercapai atau
informasi yang cukup telah bertukar. Delphi metodologi adalah cara yang tepat peringkat
iklan mengidentifikasi isu-isu di bidang manajemen informasi. Namun, perlu lebih banyak
upaya dan waktu yang lebih panjang untuk melaksanakan dan respon yang tinggi dapat
menjadi       semakin        rendah        di      bulat-bulat      dengan        prosedur.
Wawancara dapat menawarkan interaksi dengan peserta dan kualitas yang lebih baik dapat
memperoleh tanggapan. Di sisi lain mereka memerlukan banyak waktu dan kerjasama yang
baik dari diwawancarai. Hanya dua penelitian digunakan wawancara sendirian untuk
mengumpulkan                                                                           data.
Enam studi menggunakan pos survei dan wawancara lanjutan. Wawancara difokuskan pada
mengapa diwawancarai telah menilai masalah dalam cara mereka lakukan. Selain itu, satu
penelitian menggabungkan survei pos dan multi-studi kasus untuk meningkatkan
kekokohan hasil.
   Analisis data
Sebagian besar penelitian dikumpulkan data kuantitatif membentuk statiscally rakyat
mereka dan dianalisis data ini untuk mengidentifikasi kerangka IS isssues manajemen
menggunakan sarana dan deviasi standar (SD). Urutan masalah apapun dalam kerangka
biasanya ditentukan oleh statistik diperoleh berarti. Semakin tinggi nilai berarti, semakin
pentingnya isu-isu yang mengandaikan. SD untuk Thhe diamati dan masalah individu, di
sisi lain, tingkat quantifies kesepakatan antar peserta. Semakin rendah nilai SD, semakin
tinggi tingkat kesepakatan diasumsikan untuk isu-isu.
Berbagai statistik yang digunakan oleh studi ini untuk tujuan yang berbeda. Berikut ini
adalah beberapa contoh.
      Pearson's chi-kuadrat statistik yang digunakan untuk analisis data untuk
       menentukan adanya hubungan antara dua kelompok di tingkat pentingnya isu-isu
       (Caud'e et al., 1991; Jackson, 1990).
      Kendall's tau-b statistik korelasi digunakan untuk mengukur peringkat isu
       kesepakatan di daerah-daerah atau kelompok-kelompok yang berbeda, tingkat
       korelasi antara saat ini dan masa depan peringkat, dan isu-isu peringkat yang
       dihasilkan penelitian sebelumnya (Brancheau dan Wetherbe, 1987: Mata, 1993;
       Wang, 1994; Watson dan Brancheau, 1991).
   ANOVA dan MANOVA yang digunakan untuk menguji selisih mean skor
    kelompok diantara perusahaan (Dekan et al., 1991). Perbedaan skor berarti dikaji
    menggunakan         ANOVA          dan       tes     Scheff       (Wang,       1994)
    hipotesis atau hubungan linear antara variabel-variabel yang diuji dengan
    menggunakan analisis korelasi (Shi, 1998; Watson, 1990). Setiap kali langkah-
    langkah ringkasan digunakan ada risiko masking detail penting, sedangkan diagram
    pencar dapat mengurangi tingkat kesalahan (Burns, 1997; Cryer dan Miller, 1994;
    Norusis, 1991).
   Diagram Scatter, termasuk menyebarkan plot pada dua variabel, dan garis regresi,
    yang digunakan untuk menampilkan statistik hubungan antara variabel-variabel
    (Shi, 1998).
    Pengukuran teknik
    Pengukuran didefinisikan sebagai penugasan dari nomor yang menunjukkan
    kuantitas atau kualitas dari beberapa objek bahwa peneliti berusaha untuk menilai.
    Teknik pengukuran adalah sarana untuk mencapai dua tujuan penting:
    (1) untuk Komunikasikan temuan-temuan ilmiah dan
    (2) untuk mencapai kesepakatan antarpribadi mengenai keabsahan dari penemuan
    mereka (Roscoe, 1975)
    Sebuah skala adalah mekanisme penting untuk mengukur atau membedakan
    pengukuran variabel sejak sistematis melibatkan representasi data dengan angka.
    Seperti yang ditunjukkan pada Lampiran 2, terdapat empat bentuk dasar skala:
    1. Nominal;
    2. Ordinal;
    3. Interval; dan
    4. Rasio (Aczel, 1993; Burns, 1997; Emory, 1980; Roscoe, 1975; Sekaran, 1992).


    Peringkat milik skala ordinal, sementara rating milik skala interval. Singkatnya,
    nominal dan skala ordinal dapat mengkategorikan variabel, dan mengidentifikasi
    perbedaan antara kelompok-kelompok, sementara interval dan skala rasio dapat
    memperoleh beberapa gagasan tentang perbedaan kuantitatif dalam variabel.
    Tingkat kecanggihan dan kekuatan dari skala meningkat sebagai penyidik bergerak
       dari nominal ke rasio skala. Dengan skala yang lebih kuat informasi yang lebih
       terperinci dapat diperoleh pada bunga variabel, dan analisis data yang semakin
       canggih dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil yang bermakna bijih.


       Skala poin
       Jika interval skala atau rating yang digunakan, jumlah poin yang harus
       memutuskan. Tabel VII menunjukkan bagaimana studi diterapkan ke-14 poin yang
       berbeda untuk mengukur isu-isu kunci.
       Ada beberapa pilihan sesuai dengan kebutuhan penelitian.
      Menggunakan tujuh poin skala atau di atas, dapat memberikan lebih banyak pilihan
       responden, terutama ketika banyak masalah yang sedang diidentifikasi dan diberi
       nilai.
      Mengadopsi skala lima poin atau kurang, di sisi lain, dapat membuat kuesioner
       tampak lebih ringkas dan sederhana.


   Respon dan faktor-faktor
Jumlah tanggapan dan tingkat respons sangat penting untuk studi manajemen. Metode
pengumpulan data dan hubungan antara peneliti




Pola pengkategorian issu
Untuk memfasilitasi diskusi, hampir semua ISMI dapat mengklasifikasikan dalam beberapa
grup berbeda, sesuai dengan atribut dominan mereka menggunakan pola yang diikuti:
Ada sedikit perbedaan mendasar di antara skema/pola ini. Membedakan isu dengan
perbedaan dimensi sesuai dengan aspek isu dominan adalah cara skema kategori tidak
memberikan formula yg kaku tapi sebagai pemandu untuk diskusi dan pemahaman. Issu
menejemen memelihara hubungan dengan factor organisasi seperti kebijakan, strategi dan
struktur, pengembangan penggunaan dan perlindungan dari IT. Issu perencanaan cenderung
membuat tampilan strategi yang panjang dari masalah, sedangkan isu kontrol cenderung
untuk menampilkan strategi tengah. Isu eksternal adalah perhatian pada manajemen bisnis
keseluruhan dan mempengaruhi fungsi departemen lain dalam sebuah organisasi,
sedangkan internal issu adalah perhatian pada manajemen organisasi IS dan hubungan
tekhnologi.
Diskusi
Apa yg dibutuhkan untuk pembelajaran lebih lanjut?
Identifikasi isu dan pembandingan isu sangat memungkinkan untuk tiruan study kelanjutan
supaya menawarkan penemuan-penemuan yang update untuk komunitas IS. Contoh, study
dibutuhkan sejak kerangka dasar kunci diproyeksikan 3-5 tahun dan itu sangat sulit untuk
memprediksikan. Tidak ada seorangpun yang dapat memprediksi secara akurat masa depan.
Tiga model konsep yang ditawarkan, penegasan tujuan dengan memeriksa beberapa factor
pengaruhnya. Ada beberapa factor yang menghubungkan dengan isu yang menganggap
anticipatory behavior walaupun pengaruhnya belum diperiksa. Kecenderungan penelitian
IS akan focus pada peniruan, perbaikan dan pengembangan model setelah dapat
menyalurkan sejumlah study dengan topic khusus(Adams et al, 1992). Model konsep
membantu peneliti untuk mengendalikan dan memeriksa hubungan yang pasti supaya dapat
meningkatkan pemahaman dinamika situasi.
Kemungkinan pendekatan yang akan datang
Strategi untuk pembelajaran kerangka isu adalah pokok dari paradigma empirik
menggunakan metode kualitatif atau metode kuantitatif. Survey adalah metode kuantitatif
yang plg banyak digunakan dalam ilmu sosial dan peneliti manajemen IS. Sedangkan case
study adalah salah satu metode kualitatif, case study adalah menjadikan makin
meningkatnya scientific tool dalam lapangan IS. Tentu saja kedua metode ini mempunyai
kelebihan dan kekuarangan masing-masing dalam penelitian menajemen. Kombinasi
keduanya merupakan pendekatan yang dapat menghasilkan outcome yang lebih. Teknik
Delphi adalah sebuah metode kuantitatif yang canggih dari identifikasi isu. Bagaimanapun,
teknik Delphi dan pembelajaran kombinasi membutuhkan banyak sumber daya seperti
waktu, biaya, komitmen dan dukungan dari organisasi atau individual.
Teknik statistika yang beragam, seperti chi-square, tau kendall, correlation coefisien dan
scatter diagram, telah mempunyai keunggulan masing-masing untuk tujuan yang berbeda.
Peneliti dapat memilih beberapa teknik itu sesuai untuk tujuan penelitian mereka.
Kesimpulan
Identifikasi kritis kerangka menajemen isu IS adalah pentingnya peningkatan untuk
penelitian akademik dan industry. Melihat 20 study sebelumnya, paper ini memberi
ringkasan studi-studi dan menganjurkan untuk mengarahkan secara metodologis untuk
penelitian isu pada masa yang akan datang. Ringkasan ini memberikan dan membuat
anjuran, meskipun mereka mengarahkan dari pembelajaran kerangka isu dalam area
manajemen IS, adalah pengaplikasian untuk semuanya, yang mana tertarik dalam
mengangkat pembelajaran kerangka isu, tidak hanya dalam area manajemen IS tetapi juga
dalam bisnis lainya dan manajemen lapangan.
                                      BAB III
                                   KESIMPULAN




   Mengingat perkembangan teknologi informasi, penggunaan sistem informasi, dan
kehidupan organisasi yang sangat dinamis, penggunaan dan perkembangan kerangka pikir
isu (issue framework) dalam manajemen sistem informasi merupakan hal yang harus
diperhatikan oleh para ahli dan praktisi dalam bidang tersebut. Penelitian mengenai
penggunaan dan perkembangan kerangka pikir isu (issue framework) juga harus terus
dijalankan, agar kerangka pikir tersebut dapat dikembangkan menjadi perangkat analisa
yang lebih reliable dalam mengidentifikasikan tren pada masa yang akan datang. Dengan
kerangka pikir yang lebih reliable tersebut, manajemen informasi dalam organisasi juga
akan mampu menghasilkan informasi yang lebih berkualitas bagi organisasi, sehingga
membawa efek positif untuk proses pengambilan keputusan dan kehidupan organisasi
secara keseluruhan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:65
posted:3/3/2012
language:
pages:17
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl