JUKNIS- SILABUS- BAHASA-INDONESIA -PROG-BHS (2)

Document Sample
JUKNIS- SILABUS- BAHASA-INDONESIA -PROG-BHS (2) Powered By Docstoc
					                                           PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN SILABUS
                                     MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA (PROGRAM BAHASA)


A. PENDAHULUAN
  Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan
  Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan
  dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan
  standar penilaian pendidikan.

  Standar nasional pendidikan (SNP) digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan
  pembiayaan. Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) selain mengacu pada SNP juga berpedoman pada Panduan Penyusunan Kurikulum
  Tingkat Satuan Pendidikan yang diterbitkan oleh BSNP.

  Salah satu bagian penting dari KTSP adalah Silabus. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang
  mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian,
  penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Agar silabus dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, potensi peserta didik, potensi
  daerah diperlukan petunjuk teknis.

  Dalam dokumen ini dibahas hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan silabus mencakup :
  1. Prinsip-prinsip pengembangan silabus
  2. Karakteristik Mata Pelajaran
  3. Langkah-langkah Pengembangan Silabus

  Dengan adanya petunjuk teknis dan contoh silabus ini diharapkan sekolah dapat menyusun/ mengembangkan silabus secara mandiri sesuai karakteristik mata
  pelajaran, kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah.




                                                                                                                                                        1
B. Prinsip Pengembangan Silabus Pelajaran Bahasa Indonesia
   Untuk memperoleh silabus yang baik, dalam penyusunan silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
   1. Ilmiah
       Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Dalam konteks
       mata pelajaran bahasa Indonesia, fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang termuat dalam silabus harus benar dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang
       berlaku umum dalam bahasa Indonesia. Penggunaan istilah, notasi atau lambang untuk menunjuk obyek tertentu, hendaknya sesuai dengan istilah, notasi
       atau lambang yang umum dan lazim digunakan dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, strategi pembelajaran yang dirancang dalam silabus perlu
       memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori belajar bahasa Indonesia.
   2. Relevan
       Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual,
       sosial, emosional, dan spritual peserta didik. Prinsip ini mendasari pengembangan silabus, baik dalam pemilihan materi pembelajaran, strategi dan
       pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penetapan waktu, strategi penilaian maupun dalam mempertimbangkan kebutuhan media dan alat
       pembelajaran. Kesesuaian antara isi dan pendekatan pembelajaran yang tercermin dalam materi pelajaran dan kegiatan pembelajaran pada silabus
       dengan tingkat perkembangan peserta didik akan mempengaruhi kebermaknaan pembelajaran.
       Pada jenjang pendidikan SMA, peserta didik umumnya berada pada taraf berfikir formal, di mana peserta didik dapat mulai dilatih untuk melakukan
       abstraksi dan generalisasi tentang konsep-konsep bahasa Indonesia. Dengan demikian, penggunaan alat peraga dalam pembelajaran berbeda
       intensitasnya dari saat mereka berada pada taraf berfikir sebelumnya operasional konkrit.

   3. Sistematis
      Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. Standar kompetensi dan kompetensi dasar merupakan
      acuan utama dalam pengembangan silabus. Dari kedua komponen ini, dipilih materi pembelajaran yang diperlukan, strategi pembelajaran yang sesuai,
      kebutuhan waktu dan media, serta teknik dan instrumen penilaian yang tepat untuk mengetahui pencapaian kompetensi tersebut.

   4. Konsisten
      Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta
      teknik dan instrumen penilaian. Dengan prinsip konsistensi ini, pemilihan materi pembelajaran, penetapan strategi dan pendekatan dalam kegiatan
      pembelajaran, penggunaan sumber dan media pembelajaran, serta penetapan teknik dan penyusunan instrumen penilaian semata-mata diarahkan pada
      pencapaian kompetensi dasar dalam rangka pencapaian standar kompetensi.

   5. Memadai
      Cakupan indikator, materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
      Dengan prinsip ini, maka tuntutan kompetensi harus dapat terpenuhi dengan pengembangan materi pelajaran dan kegiatan pembelajaran yang


                                                                                                                                                          2
       dikembangkan. Sebagai contoh, jika standar kompetensi dan kompetensi dasar menuntut kemampuan menganalisis suatu obyek belajar, maka materi
       pelajaran, kegiatan pembelajaran, dan teknik serta instrumen penilaian harus secara memadai mendukung kemampuan itu.

   6. Aktual dan Kontekstual
      Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni
      mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. Banyak fenomena dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi dan dapat
      mendukung kemudahan dalam menguasai kompetensi perlu dimanfaatkan dalam pengembangan pembelajaran. Di samping itu, penggunaan media dan
      sumber belajar berbasis teknologi informasi, seperti komputer dan internet perlu dioptimalkan.

   7. Fleksibel
      Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan
      kebutuhan masyarakat. Fleksibilitas silabus ini memungkinkan pengembangan dan penyesuaian silabus dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

   8. Menyeluruh
      Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), maupun praktik (psikomotor). Prinsip ini
      hendaknya dipertimbangkan, baik dalam mengembangkan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, maupun penilaiannya. Kegiatan pembelajaran
      dalam silabus perlu dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik memiliki keleluasaan untuk mengembangkan kemampuannya, bukan hanya
      kemampuan kognitif saja, melainkan juga dapat mempertajam kemampuan afektif dan psikomotoriknya, serta dapat secara optimal melatih kecakapan
      hidup (lifeskill).

C. Karakteristik Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

   Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu bila ditinjau dari segi tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai, ataupun materi yang dipelajari dalam
   rangka menunjang tercapainya kompetrensi tersebut. Ditinjau dari segi tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai, pelajaran Bahasa Indonesia ini menekankan
   pada aspek keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan berbicara, menulis (produktif), mendengarkan, dan membaca (respektif).
       Penerapan konsep dalam pengajaran bahasa Indonesia menyiratkan bahwa:
   (1) unsur-unsur bahasa Indonesia, yaitu tata bahasa, kosa kata, ejaan, dan lafal hendaknya disajikan dalam lingkup kebahasaan dan lingkup situasi sehingga
       makna bahasa yang dimaksud jelas. Lingkup situasi harus mencakup lingkup budaya sasaran dan budaya peserta didik,
   (2) pembelajaran unsur-unsur bahasa ditujukan untuk mendukung penguasaan dan pengembangan empat keterampilan berbahasa Indonesia yang mencakup
       mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, dan bukan untuk kepentingan penguasaan unsur-unsur bahasa itu sendiri,
   (3) dalam proses belajar mengajar, unsur-unsur bahasa yang dianggap sulit bagi peserta didik dapat disajikan terlesap (terintegrasi) secara sistematis sesuai
       dengan konteks yang dibahas;


                                                                                                                                                              3
(4) dalam proses belajar mengajar keempat keterampilan berbahasa pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu, keterampilan berbahasa harus
    dikembangkan secara terpadu;
(5) peserta didik harus dilibatkan dalam semua kegiatan belajar yang bermakna, yaitu kegiatan yang dapat membantu mengembangkan diri peserta didik
    dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya, serta mendorong peserta didik untuk tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang
    berkeperibadian Indonesia, dan mengembangkan keterampilan berkomunikasi, baik lisan maupun tulis.

Standar Isi (SI) mata pelajaran Bahasa Indonesia memuat standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) berbahasa Indonesia yang mencakup empat
aspek berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Karena itu, Pengembangan silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia Program

Bahasa haruslah memperhatikan hakikat dan fungsi bahasa Indonesia, yaitu:
(1) hakikat bahasa dapat dilihat dari dua sudut atau substasnsinya, yaitu pertama unsur bunyi bahasa yang sistematis yang dihasilkan oleh alat ucapa
     manusia dan kedua segala sesuatu yang dapat dinyatakan oleh manusia yang meliputi pikiran, perasaan, kemauan, kenyataan tentang dunia, peristiwa,
     serta segala pengalaman dan keperluan manusia dalam kehidupannya. Unsur pertama disebut ekspresi dan unsur kedua disebut isi. Kedua unsur
     tersebut secara ekstensi dapat dibedakan, tetapi senantiasa dalam kesatuan dipahami sebagai bahasa.
(2) fungsi bahasa sebagai alat komunikasi, baik lisan atau maupun tulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, kemauan, kenyataan tentang dunia,
     peristiwa, serta segala pengalaman dan keperluan manusia dalam kehidupannya.

Sebagai sebuah sarana komunikasi, pendekatan pembelajaran bahasa menekankan pada aspek kinerja dan atau kemahiran berbahasa sesuai dengan hakikat
dan fungsi bahasa, yaitu pendekatan komunikatif yang mencerminkan ciri khas mata pelajaran bahasa Indonesia. Dengan demikian, pembelajaran bukanlah
bertitik tolak pada sistem bahasa, melainkan bertitik tolak pada bagaimana menggunakan bahasa secara baik dan benar sesuai dengan sistem bahasa itu.

Berdasarkan pandangan ini, membentuk suatu konsekuensi bahwa pembelajaran bahasa Indonesia haruslah lebih menekankan pada fungsi bahasa Indonesia
sebagai alat komunikasi daripada sistem bahasa Indonesia. Artinya, sistem bahasa Indonesia (kebahasaan) tidak dibahas secara terpisah, tetapi dilesapkan
dalam pembelajaran yang sedang belangsung.

Di samping itu, pembelajaran bahasa Indonesia, harus pula mencerminkan keterkaitan antaraspek berbahasa, yaitu mendegar, berbicara, membaca, dan
menulis. Keterkaitan antaraspek berbahasa dapat digambarkan sebagai berikut:




                                                                                                                                                      4
                       Mendengarkan                  Berbicara
                                                                                                                   Catatan:
                                                                                                                   Kompetensi kebahasaan dalam
                                                                                                                   pembelajaran, disajikan secara
                                                                                                                   terpadau (dilesapkan) dengan
                                           Tema
                   Membaca                                                                                         kompetensi yang lainnya.
                                                               Menulis




                                       Kebahasaan



Catatan:
Kompetensi kebahasaan dalam pembelajaran, disajikan secara terpadau (terlesap) dengan kompetensi yang lainnya.

Dengan demikian, pembelajaran bahasa harus mencakup empat aspek, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Setidak-tidaknya, dalam
pembelajaran mengintegrasikan dua aspek berbahasa tersebut. Sedangkan, fungsi tema dalam pembelajaran, bukanlah menjadi suatu tujuan pembelajaran,
melainkan sebagai pengikat atau pemayung pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar tertentu. Tema-tema yang dipilih haruslah tema-tema terkini
(aktual) yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, kondisi sekolah/madrasah, dan lingkungan peserta didik sehingga dapat diciptakan pembelajaran
yang kontekstual dan komunikatif.
Standar kompetensi lulusan (SKL) mata pelajaran bahasa Indonesia memberi penekanan pada keempat aspek berbahasa Indonesia dan setiap aspek tersebut
dapat dilihat secara rinci dalam standar SI dalam bentuk SK dan kompetensi KD. Standar kompetensi merupakan hal yang ingin dicapai dalam pembelajaran
bahasa Indonesia yang secara jelas terlihat pada rumusan standar kompetensi. Kemudian standar kompetensi dijabarkan menjadi KD. Diingatkan lagi bahwa
standar kompetensi bahasa Indonesia di sekolah (baca SMA), tidak ditekankan pada penguasaan sistem bahasa Indonsia, tetapi pada kemampuan
menggunakan bahasa Indonesia secara benar, sesuai dengan tuntutan kompetensi dasar dan situasi tutur.

                                                                                                                                                         5
C. Langkah-langkah Penyusunan Silabus
   Langkah-langkah dalam penyusunan silabus meliputi tahap-tahap antara lain: identifikasi Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Pemetaan
   SK dan KD, penentuan indikator; pengembangan materi pembelajaran, penetapan kegiatan pembelajaran, penetapan jenis penilaian, penentuan alokasi waktu,
   dan penentuan sumber bahan/ alat. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca uraian berikut:

   1. Identifikasi SK dan KD, serta Pemetaan Materi Pembelajaran
      Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi (SI) dengan memperhatikan hal-hal berikut:
      (1) mengurutkan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada pada
          standar isi;
      (2) mengaitkan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
      (3) mengaitkan standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.
               Perlunya mengidentifikasi SK dan KD agar pembelajaran yang akan dilakukan dapat berlangsung dengan sistematis, yaitu mengatur SK dan KD
      yang sesuai dengan keruntutan kompetensi dalam pembelajaran bahasa Indonesia atau agar pembelajaran dapat berlangsung secara sistematis,
      bersinambung berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, dan tidak terjadi ketumpangtindihan sehingga pembelajaran
      berlangsung secara efektif dan efisien. Di samping itu, dapat pula dianalisis keterkitan antara SK dan KD dengan mata pelajaran lain (antarmata pelajaran).

       Contoh identifikasi SK dan KD yang dapat dikaitkan:
       Standar Kompetensi: Mendengarkan
       Memahami berita dan laporan
       1.2 Kompetensi Dasar : Mengevaluasi isi laporan
       Pembelajarannya dikaitkan dengan:
       Standar Kompetensi: Berbicara
       Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan diskusi, presentasi bacaan.
       2.1 Kompetensi Dasar : Menilai isi pembicaraan dalam diskusi (dalam hal baik-buruk, bermutu-tidak bermutu, dan sebagainya)
       Pembelajarannya dikaitkan lagi dengan:
       Standar Kompetensi: Menulis
       Mengungkapkan informasi dalam bentuk surat lamaran, laporan, paragraf persuasi dan argumentatif.
       4.2 Kompetensi Dasar : Menyusun laporan diskusi/ seminar




                                                                                                                                                               6
2. Pemetaan SK dan KD
   Pembelajaran bahasa Indonesia , tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di Standar Isi (SI). Oleh karena itu, perlu adanya pemetaan SK dan
   KD. Pemetaan tersebut sangat bermanfaat bagi guru terutama dalam mengefisienkan waktu dan mengefektifkan pembelajaran karena dapat mencapai
   dua KD atau lebih dalam satu kegiatan pembelajaran.
   Pemetaan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
   (1) Mengelompokkan SK dan KD yang mempunyai materi pembelajaran yang sama. Hal ini tidak terbatas hanya dalam semester yang sama, tetapi untuk
       seluruh tingkat.
   (2) Menentukan sistematika penyajian dengan mempertimbangkan tingkat kemudahan dan kebermanfaatan bagi peserta didik dalam menguasai
       kompetensi tertentu.
   Jadi, sebelum menulis silabus, perlu dilakukan pemetaan untuk menentukan keterkaitan antar- SK atau KD. Kemanfaatan pengindentifikasian SK dan KD
   adalah untuk menentukan beban belajar diartikan sebagai waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran secara efektif
   dan efisien.

                                               Contoh Pemetaan SK dan KD Kelas XII Semester 1

                                 No. Mendengarkan          Berbicara        Membaca           Menulis       Kebahasaan
                                  1.         1.2               2.1               -              4.2               -
                                  2.                                                            3.1              5.2
                                  3.         1.1               2.2                                               5.1
                                  4.                           2.3             3.1              4.3
                                  5.                                           3.2              4.4              5.3
                                  6.                                                            4.1




                                                                                                                                                      7
D. Pengembangan Indikator
   Kompetensi dasar (KD) dijabarkan menjadi indikator. Indikator adalah sesuatu yang menunjukkan tanda-tanda, perbuatan dan/atau respon yang dilakukan
   atau ditampilkan oleh peserta didik dalam pembelajaran. Indikator juga merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan
   perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata
   pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional (kata kerja operasional terlampir) yang terukur dan/atau dapat
   diobservasi. Indikator dapat pula digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
   Satu KD dapat dijabarkan menjadi dua, tiga, empat, lima, atau lebih indikator, tetapi jangan terlalu rinci dan terlalu lebar. Indikator dipilih yang dapat mewakili
   untuk mencapai kompetensi tertentu. Akan tetapi, ada pula KD yang hanya cukup dengan satu indikator. Penjabaran indikator dilakukan secara sistematis
   sesuai hierarki konsep sehingga mencerminkan tahapan-tahapan perbuatan/tindakan yang dilakukan peserta didik untuk mencapai kompetensi. Artinya, untuk
   mencapai kompetensi tertentu, peserta didik harus melakukan tindakan-tindakan secara runtut yang tertuang dalam indikator.
   Contoh
   Standar Kompetensi: Berbicara
   Kompetensi Dasar:
   Mengevaluasi isi laporan
   Pembelajarannya dikaitkan dengan:
   Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan diskusi, presentasi bacaan.
   Untuk mengetahui bahwa peserta didik sudah menguasai kompetensi tersebut, dapat dijabarkan melalui indikator. Indikator yang dijabarkan haruslah sistematis
   atau melalui tahapan-tahapan yang runtut.
   Contoh indikator yang disusun secara sistematis, sesuai SK dan KD di atas dengan materi pembelajaran menyampaikan laporan/presentasi laporan, sebagai
   berikut:
   Peserta didik dapat:
    menentukan delapan pokok isi laporan yang terdiri atas empat opini dan empat fakta (sebaiknya dicantumkan berapa jumlah pokok-pokok isi laporan
        tersebut yang harus ditemukan peserta didik demikian dapat diukur ketercapaian atau ketuntasannya.
    merangkum isi laporan ke dalam tiga paragraf (sebaiknya dicantumkan berapa jumlah paragraf) dengan demikian dapat diukur ketercapaian atau
        ketuntasannya.
    menilai kelengkapan isi laporan berdasarkan pembuka, isi, dan penutup atau mencakup 5W +1H) (sebaiknya dicantumkan kelengkapan tersebut dilihat dari
        cakupan isi yang harus ada dalam laporan sehingga dapat diukur ketercapaian atau ketuntasannya).
    menilai penggunaan bahasa laporan keruntutan penyajian, keefektifan, dan kelogisan (sebaiknya hal apa yang harus diperhatikan dalam penggunaan
        bahasa, dicantumkan dengan jelas sehingga dapat diukur ketercapaian atau ketuntasannya).

   Indikator pembelajaran tersebut dalam pembelajaran harus dilaksanakan secara runtut sesuai tahapan yang telah disusun. Artinya, harus ditempuh secara
   berurutan dalam pembahasan materi pembelajaran sehingga mencapai kompetensi yang ditentukan.


                                                                                                                                                                    8
E. Pengembangan Materi Pembelajaran

   Materi pembelajaran bahasa Indonesia dikembangkan berdasarkan indikator pencapaian kompetensi dasar dengan memperhatikan potensi peserta didik;
   kebermanfaatan bagi peserta didik; aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran; relevansi dengan kebutuhan peserta didik, sesuai dengan
   tuntutan lingkungan dan alokasi waktu (yang tersedia).
   Contoh
   Standar Kompetensi: Berbicara
   Kompetensi Dasar: Mengevaluasi isi laporan
   Indikator:
    menentukan pokok-pokok isi
       laporan
    merangkum isi berita ke dalam beberapa kalimat
    Menilai kelengkapan isi laporan
    menilai penggunaan bahasa laporan

   Penentukan materi pembelajaran dari KD tersebut dengan memilih materi yang dekat dengan lingkungan siswa, yang tersedia di sekolah:
    indikator pencapaian kompetensi dasar;
    kebermanfaatan isi laporan bagi peserta didik (karena dapat dikaitkan dengan mata pelajaran lain, dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, dan
      sebagainya);
    isi laporann sesuai dengan tuntutan lingkungan (misalnya memperkenalkan budaya, ekonomi, atau agama yang dianut, atau peristiwa aktual faktual);
    relevansi dengan kebutuhan peserta didik (perlunya diketahui oleh peserta didik isi laporan tersebut, misalnya karena cerminan dari kehidupan masyarakat
      setempat, peristiwa aktual dan faktual);
    materi teks laporan sesuai dengan kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran yang dibahas (mengacu kepada indikator yang disediakan), dan
    alokasi waktu yang tersedia.

   Yang perlu pula diperhatikan dalam menyajikan materi adalah prinsi-prinsip penyajian materi, yaitu dari yang mudah ke yang sulit, dari yang konkret ke yang
   abstrak, dan dari yang dekat ke yang jauh. Materi yang disajikan pun harus sistematis (penyajian secara runtut), terfokus lengkap (tidak terpotong-
   potong/tuntas), terpadu (dapat dikaitkan dengan pembelajaran KD berikutnya atau antarmata pelajaran). Untuk itu, materi haruslah mengacu kepada SK, KD,
   dan Indikator yang sudah ditentukan.




                                                                                                                                                            9
      Contoh pemetaan materi pembelajaran agar saling terkait:
                      Mendengarkan                              Berbicara                     Membaca                Menulis              Kebahasaan
        No.
                          KD 1.2                                  KD 2.1                        KD                    KD 4.2                  KD
         1.               Materi                                  Materi                         -                    Materi                   -
              Rekaman laporan                   Pelaksanaan diskusi                              -           Contoh laporan diskusi            -
               pokok-pokok isi laporan          cara menentu kan pokok yang                                struktur laporan hasil
                                                    dibicarakan dengan rumus 5 w + 1 h                        diskusi/seminar
               cara memilah fakta dan           cara bertanya, memberikan kritikan                         pelengkap laporan
                pendapat/opini                      atau sanggahan
               perangkuman isi                  terhadap pendapat atau gagasan                             diskusi/seminar
                                                    orang lain dalam diskusi                                  (makalah pembicara,
                                                                                                              notulen, dan daftar hadir
                 penggunaan bahasa laporan         cara menilai isi pembicaraan dalam                       peserta)
                                                     hal baik buruk, bermutu tidaknya,                       cara menyimpulkan hasil
                                                     dsb.                                                     laporan diskusi

F. Penetapan Kegiatan Pembelajaran

   Kegiatan pembelajaran dirancang dari indikator untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta
   didik, peserta didik dengan guru, peserta didik dengan lingkungan, dan peserta didik dengan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi
   dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik.
   Kegiatann pembelajarlan memuat kecakapan hidup (life skill) yang perlu dikuasai peserta didik.
   Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
   (1) kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara
        profesional;
   (2) kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar;
   (3) penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran;
   (4) rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta
        didik, yaitu kegiatan peserta didik dan materi;
   (5) pengalaman belajar mencerminkan perpaduan aspek berbahasa sekurang-kurangnya perpaduan dua aspek berbahasa.

   Kegiatan pembelajaran dirancang berdasarkan indikator pencapaian kompetensi. Penetapan kegiatan pembelajaran harus memperhatikan hal-hal seperti
   berikut:

                                                                                                                                                         10
   (1) Kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia melibatkan empat aspek berbahasa atau sekurang-kurangnya dua aspek berbahasa. Misalnya, kegiatan
       pembelajaran mendengarkan isi laporan (KD 1.2), kegiatan pembelajaran tersebut bukan hanya mendengarkan, tetapi dapat diikuti dengan kegiatan
       menulis dan berbicara. Kegiatan menulis dan berbicara merupakan proses untuk mencapai kompetensi mendengarkan.
   (2) Jika KD 1.2 (mendengarkan isi laporan) dan KD 2.1 (melaksanakan diskusi             masalah pokok-pokok pembicaraan) menjadi satu dalam kegiatan
       pembelajaran, kompetensi yang dicapai adalah mendengarkan dan berbicara. Kegiatan pembelajaran KD 1.2 dapat berupa penugasan terstruktur, Hasil
       dari penugasan tersebut dilanjutkan dengan kegiatan pembelajaran KD 2.1 yang berupa tatap muka. KD 4.2, yaitu setelah pembelajaran berlangsung KD
       2.1, dapat dilanjutkan dengan kegiatan mandiri tidak terstruktur, menyusun laporan diskusi, melengkapi laporan dengan lampiran (makalah pembicara,
       notulen, dan daftar hadir peserta), dan menyimpulkan hasil laporan diskusi.
   Catatan:
   Beban belajar diartikan sebagai waktu yang dibutuhkan oleh peserta di-dik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dengan sistem :
   - tatap muka (TM)
   - penugasan terstruktur (PT)
   - kegiatan mandiri tidak terstruktur (KMTT)

   TM       :   Kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik
   PT       :   Kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi utk siswa, dirancang guru untuk mencapai kompetensi waktu penyelesaian penugasan
                ditentukan oleh guru
   KMTT     :   Kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi untuk siswa, dirancang guru untuk mencapai kompetensi waktu penyelesaian penugasan
                ditentukan oleh siswa.

F. Penetapan Jenis Penilaian

   Penilaian pencapaian Kompetensi Dasar peserta didik dalam mata pelajaran bahasa Indonesia dilakukan mengacu kepada standar kompetensi dalam
   pembelajaran yang sedang berlangsung. Artinya, fokus penilaian harus mengacu kepada kompetensi tersebut.
   Contoh:
   Kompetensi dasar mendengarkan laporan, penilaian yang dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mendengarkan laporan tentang sesuatu
   sesuai dengan materi pembelajaran yang berlangsung. Akan tetapi, bila memungkinkan boleh dilakukan penilaian untuk kompetensi lain. Pembelajaran
   mendengarkan tersebut dapat pula dilakukan untuk:
    Penilaian menulis dengan indikator menuliskan kembali rangkuman isi laporan yang didengarnya. Penilaian yang dilakukan untuk mengukur kemampuan
      peserta didik dalam menulis dan berupa tes tertulis berbentuk uraian.
    Penilaian kebahasaan dengan indikator menuliskan rangkuman isi laporan dikaitkan dengan materi kebahasaan tertentu (misanya: penggunaan ejaan, kata
      penghubung, frasa, atau klausa). Penilaian yang dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menulis dan berupa tes tertulis berbentuk
      uraian.

                                                                                                                                                      11
      Penilaian membaca dengan indikator membacakan rangkuman isi laporan yang ditulisnya. Penilaian yang dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta
       didik dalam membaca dan berupa notes berbentuk pengamatan.
    Penilaian berbicara dengan indikator menanggapi isi laporan yang dibacakan peserta didik (temannya). Penilaian yang dilakukan untuk mengukur
       kemampuan peserta didik dalam berbicara dan berupa notes berbentuk pengamatan.
   Untuk menetapkan penilaian yang dilakukan dalam satu pembelajaran, haruslah dirancang sedemikian rupa dalam indikator pembelajaran. Karena suatu
   penilaian yang dilakukan, mengacu kepada indikator pembelajaran tersebut. Dengan demikian:
   (1) penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk
       tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan
       penilain diri.
   (2) setiap KD dan Indikator sudah mencerminkan alat penilaian yang akan digunakan.
   (3) indikator dari satu KD dapat juga sebagai alat ukur bagi KD lain terutama pada penilaian berbasis kelas.

G. Penentuan Alokasi Waktu
   Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan
   mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang
   dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik (yang beragam tingkat
   kemampuannya).
   Penentuan alokasi waktu yang terencana pada setiap KD yang dijabarkan dalam indikator, diharapkan sebagai acuan tercapainya ketuntasan dalam waktu
   yang ditentukan dalam seluruh materi pembelajaran.
   Contoh langkah-langkah penentuan alokasi waktu:
   (1) menghitung jumlah minggu efektif per semester, misalnya 18 mingu:
   (2) jumlah jam per minggu = 4 jam;
   (3) jumlah jam keseluruhan per semester 18 x 4 = 72
   (4) jumlah KD kelas XI semester I = 14 KD;
   (5) alokasi waktu tiap KD rata-rata, 72 : 14 = 5,14 jam.
   (6) Akan tetapi, alokasi tiap KD tidak sama karena sangat bergantung pada keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.
   Contoh1:
   Kompetensi Dasar:
   Menguraikan topik cerita yang didengar atau dibaca dengan indikator:
    menentukan topik cerita yang dibaca/didengar;
    menyusun kerangka cerita berdasarkan topik yang ada (ditemukan);
    membuat kerangka cerita;
    mengembangkan cerita dengan bahasa sendiri;


                                                                                                                                                           12
     membacakan cerita yang didengarkan.
   Penyajian materi KD tersebut dapat diselesaikan dengan 6 jam pelajaran karena dilihat dari keluasan materi dan kepentingan materi karena peserta didik
   mendengarkan dulu sebuah cerita, lalu membuat kerangka cerita, dan membacakan cerita.
   Contoh 2:
   Kompetensi Dasar:
   Menulis surat lamaran pekerjaan berdasarkan struktur bahasa dan ejaan dengan indikator:
    mengenali dan menentukan struktur surat lamaran pekerjaan
    menyempurnakan surat lamaran pekerjaan berdasarkan iklan dengan memperhatikan struktur, bahasa, diksi, dan EyD
    menyempurnakan kekurangan surat lamaran dari segi struktur, diksi, bahasa, dan EyD
   Penyajian pembelajaran materi KD tersebut, cukup 2 jam pelajaran karena materi terkategori tidak luas dan pembahasannya tidak mendalam.

H. Menentukan Sumber Bahan/Alat
   Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak, media elektronik, narasumber,
   lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
   Penentuan sumber belajar didasari oleh standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator
   pencapaian kompetensi. Memilih sumber belajar hendaknya yang benar-benar tersedia di sekolah atau di lingkungan peserta didik. Bila mencantumkan buku,
   cantumkanlah buku pegangan yang digunakan peserta didik dan guru. Bila dapat menggunakan fasilitas internet, dicantukan sebagai sumber. Dengan
   demikian, penggunaan sumber dan alat pembelajaran, benar-benar yang tersedia dan dapat digunakan sesuai sesuai dengan karakteristik materi
   pembelajaran.
   Kompetensi Dasar:
   Meyusun paragraf argumentatif untuk berbagai keperluan dengan indikator:
    menentukan ciri-ciri paragraf argumentatif;
    menentukan topik yang terdapat dalam paragraf argumentatif;
    menyusun kerangka paragraf argumentatif;
    menyusun paragraf argumentatif sesuai dengan tujuan/keperluan.
   Peserta didik sebelum pembelajaran melakukan observasi di lingkungan sekolah. Misalnya, mengamati taman, laboratorium, atau perpustakaan. Berdasarkan
   pengamatan tersebut, peserta didik dapat berargumentasi tentang manfaat hal yang diamatinya melalui tulisan. Hal ini termasuk sumber belajar memanfaatkan
   lingkungan di sekitar peserta didik atau sekolah.




                                                                                                                                                         13
14

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:54
posted:3/2/2012
language:Indonesian
pages:14
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl