askepanak-dhf bu-suci1
Document Sample


ASUHAN KEPERAWATAN
DENGUE HEMORRHAGE FEVER
( DHF )
I. PENGERTIAN.
1. Demam Berdarah Dengue ( DHF ) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
virus ( arbovirus ) yang masuk kedalam tubuh melalaui gigitan nyamuk Aides
aegypti.
( Suriadi : 57 )
2. Demam Berdarah Dengue ( DHF ) adalah penyakit demam akut yang
disebabkan oleh empat serotype virus dengue dan ditandai dengan empat
gejala klinis utama yaitu dengan tinggi, manifestasi perdarahan, hepatomegali ,
dan tanda - tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan ( sindrom
renjaatan dengue ) sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat
menyebabkan kematian.
( Soegijanto, Soegeng : 45 )
3. DHF adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan virus dengue dengan ciri -
ciri demam dan manifestasi perdarahan.
( DEPKES RI : 112 )
II. ETILOGI
DBD / DHF disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk aides, di
Indonesia dikenal dua jenis nyamuk aides yaitu :
1. Aides aegypti
Paling sering ditemukan
Nyamuk yang hidup di daerah tropis, terutama hidup dan berkembang biak
di dalam rumah yaitu di tempat penampungan air jernih atau tempat
penampungan air di sekitar rumah.
Nyamuk ini tampak berlurik, berbintik - bintik putih.
Biasanya menggigit pada siang hari , terutama pada pagi dan sore hari.
Jarak terbang 100 meter.
2. Aedes Albopictus
Tempat dan habitatnya di tempat air jernih. Biasanya disekitar rumah atau
pohon - pohon, dimana tertampung air hujan yang bersih yaitu pohon
pisang, pandan, kaleng bekas , dll.
Menggigit pada waktu siang hari.
Jarak terbang 50 meter.
( Rampengan : 136 )
III. MANIFESTASI KLINIK
Menurut WHO, tanda dan gejala dari DHF yaitu :
1. Demam mendadak selama 2 - 7 hari tanpa sebab yang jelas.
2. Manifestasi perdarahan berupa petechie ( bintik - bintik merah pada kulit ),
purpura, echymosis, perdarahan gusi, epistaksis, bahkan ada yang sampai
hematemesis dan melena.
3. Hepatomegali.
4. Bila tidak cepat ditangani dapat timbul gejala shock : nadi cepat, lemah dan
kecil sampai tidak teraba, kulit terasa dingin dan lembab terutama pada ujung
hidung, jari dan kaki, hipotensi.
( DEPKES RI : 112 – 113 )
IV. KRITERIA LABORATORIUM
1. Trombositopenia ( trombosit ≤ 100.000 / mm3 )
2. Hemokonsentrasi ( Ht atau Hb meningkat ≥ 20% )
( Rampengan : 141 )
V. DERAJAT BERATNYA DBD
1. Derajat I : Demam mendadak 2 - 7 hari disertai gejala khas dan satu -
satunya manifestasi perdarahan ialah uji tourniquet positif.
2. Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau
perdarahan lain.
3. Derajat III : Derajat II ditambah kegagalan sirkulasi ringan yang ditandai
dengan nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun ( ≤ 20
mmHg) atau hipotensi (sistolik ≤ 80 mmHg) yang disertai
dengan kulit yang dingin, lembab dan penderita gelisah.
4. Derajat IV : Derajat III dengan shock berat dengan nadi yang tidak teraba
dan tekanan darah yang tidak teratur, dapat disertai dengan
penurunan kesadaran, sianosis dan asidosis.
NB : - Derajat I dan II disebut DHF atau DBD tanpa renjatan atau
shock.
- Derajat III dan IV disebut DHF atau DBD dengan renjatan
atau Dengue Shock Syndrom.
UJI TOURNIQUET / RUMPEL LEEDE TEST POSITIF
Dengan mempertahankan manset tensimeter pada tekanan antara sIstole dan
diastole selama 5 menit kemudian dilihat apakah ada timbul petekie atau tidak di
daerah voler lengan bawah.
▓ KRITERIA :
(+) Bila jumlah petekie ≥ 20
(±) Bila jumlah petekie 10 - 20
(-) Bila jumlah petekie 10
( Rampengan : 139 - 140 )
VI. PATHOFISIOLOGI
1. Akan mengaktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi
C3 dan C5 menyebabkan permeabilitas pembuluh darah dan menghilangnya
plasma melalui endotel dinding itu. Renjatan yang tidak ditanggulangi secara
adekuat akan menimbulkan anoksia jaringan, asidosis metabolik dan berakhir
dengan kematian.
2. Dengan terdapatnya kompleks virus - antibodi dalam sirkulasi darah maka
mengakibatkan trombosit kehilangan fungsi agregasi dan mengalami
metamorfosis, sehingga dimusnahkan oleh sistem RE dengan akibat terjadi
trombositopenia hebat dan perdarahan. Disamping itu, trombosit yang
mengalami metamorfosis akan melepaskan faktor trombosit III yang
mengaktifasi sistem koagulasi.
3. Akibat aktivasi faktor Hageman ( faktor XII ) yang selanjutnya juga
mengaktivasi sistem koagulasi dengan akibat terjadinya pembekuan
intravaskuler yang meluas. Dalam proses aktivasi ini maka plasminogen akan
berubah menjadi plasmin yang berperan pada pembentukan anafilaktoksin dan
penghancuran fibrin menjadi Fibrin Degradation Product ( FDP ).
Disamping aktivasi faktor XII akan menggiatkan juga system kinin yang
berperan dalam proses meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah.
Menurunnya faktor koagulasi dan kerusakan hati akan menambah beratnya
perdarahan.
( Soegijanto, Soegeng : 2002 )
VII. PENATALAKSANAAN
1. Pengenalan dini DBD berat
Gambaran klinis penting yang menandakan kemungkinan akan terjadinya
renjatan ( hari ke 3 - 7 ) yaitu :
a. Perubahan sensorik dan nyeri perut
b. Perdarahan nyata selain perdarahan kulit
c. Terdapatnya efusi pleura atau asites
d. Peninggian hematokrit 20% atau lebih
e. Trombosit kurang dari 50.000 / mikroliter
f. Hiponatremia dengan natrium urin kurang dari 10 mmol/liter
g. EKG abnormal
h. Hipotensi
2. Pemantauan ketat pasien yang sakit berat
Parameter untuk pemantauan ketat DHF :
Parameter Klinis Parameter Laboratorium
Diatesis perdarahan FBC, Ht, PBF
Gejala petunjuk syok Cr, urea, elektrolit serum
Tanda akumulasi cairan diruag ke-3 Kadar Na urin
Osmolalitas urin dan plasma
Tanda syok Albumin serum
Curah urin CXR
Berat badan harian EKG
Tekanan vena sentral Gas darah dan laktat darah PT, PTT,
Fibrinogen serum, FDP
KETERANGAN :
Cr = kreatinin
FDP = Produk degradasi fibrin
Ht = hematokrit
PBF = film darah tepi
PT = waktu protrombin, PTT = waktu tromboplastin parsial
3. Mempertahankan Milieu Interieur
a. Memberikan terapi cairan intravena
i. Dekstrose 5% dalam 0,45% NaCl ( 40 ml/Kg BB dalam 1 – 2 jam,
diturunkan sampai 10 ml/Kg BB/jam ); periksa Ht dan nilai respon
terhadap terapi.
ii. Plasma 15 - 20 ml/Kg BB pada renjatan berat yang tidak responsif
terhadap Dekstrose / NaCl.
iii. Transfusi darah.
b. Memberikan tindakan suportif yang bermanfaat seperti pemberian
oksigen, menurunkan suhu tubuh dengan kompres atau parasetamol.
c. Tindakan yang tidak berguna, seperti :
i. Pemberian kortikosteroid, heparin, vasokonstriktor perifer dan
antibiotika tidak bermanfaat dalam penanganan DBD.
ii. Jangan memberikan diuretik pada fase renjatan atau syok karena
dapat memperburuk keadaan hipovolemia.
( Sastroasmoro, Sudigdo. 1993 : 377 – 379, 380 )
VIII. PENGOBATAN ATAU PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK
1. Pemberian cairan yang cukup
Cairan diberikan untuk mengurangi rasa haus dan dehidrasi akibat dari demam
tinggi, anorexia dan muntah. Penderita perlu diberi minum sebanyak mungkin (
1 – 2 liter dalam 24 jam ). Pada beberapa penderita dapat diberi oralit.
2. Antipiretik
Seperti golongan acetaminofen ( paracetamol ), jangan berikan golongan
salisilat karena dapat menyebabkan bertambahnya perdarahan.
3. Surface cooling
4. Antikonvulsan
NB : Bila penderita kejang dapat diberikan:
- Diazepam ( Valium )
- Fenobarbital ( Luminal )
( Rampengan : 142 )
XI. PENCEGAHAN DHF
Untuk memutuskan rantai pemutaran, pemberantasan vektor dianggap cara
yang paling memadai saat ini. Sebelumnya perlu diketahui metamorfosis
nyamuk yaitu : dimulai dari telur → menetas → jentik nyamuk → larva →
nyamuk dewasa. Vektor dengue khususnya Aides aegypti sebenarnya mudah
diberantas karena sarang - sarangnya terbatas di tempat yang berisi air bersih dan
jarak terbangnya maksimum 100 meter. Tetapi karena vektor tersebar luas, untuk
keberhasilan pemberantasan diperlukan total coverage ( meliputi seluruh wilayah )
agar nyamuk tidak dapat berkembang biak lagi.
Ada 2 cara pemberantasan vektor :
1. Menggunakan insektisida
Yang lazim dipakai dalam program pemberantasan demam berdarah dengue :
a. Malathion untuk membunuh nyamuk dewasa ( adultisida )
Cara penggunaan malathion ialah dengan pengasapan ( thermal fogging )
atau pengabutan ( cold fogging ). Untuk pemakaian rumah tangga dapat
digunakan berbagai jenis insektisida yang disemprotkan di dalam kamar /
ruangan, misalnya golongan organofosfat, karbamat atau pyrethoid.
b. Temephos ( abate ) untuk membunuh jentik ( larvasida ).
Cara penggunaan temephos ( Abate ) ialah dengan menaburkan pasir
Abate ( sand granules ) ke dalam sarang - sarang nyamuk aedes, yaitu
bejana tempat penampungan air bersih. Dosis yang digunakan ialah 1 ppm
atau 1 gram Abate SG 1% per 10 liter air.
2. Tanpa Isektisida
Caranya adalah :
- Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air minimal 1 x
seminggu ( perkembangan telur ke nyamuk lamanya 7 - 10 hari )
- Menutup tempat penampungan air rapat-rapat
- Membersihkan halaman rumah dari kaleng-kaleng bekas,botol-botol pecah
dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang.
( Soeparman, 1987 : 23 – 24 )
X. KONSEP ASKEP
A. PENGKAJIAN
1. Kaji riwayat keperawatan :
a. Keluhan utama ,riwayat kesehatan sekarang
b. Riwayat kesehatan sekarang
c. Riwayat kesehatan lalu
d. Riwayat kesehatan keluarga
2. Kaji adanya peningkatan suhu tubuh, tanda - tanda perdarahan, mual,
muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-
tanda renjatan ( denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan
lembab terutama pada ekstremitas, sianosis, gelisah dan penurunan
kesadaran ).
B. FOKUS INTERVENSI
1. Diagnosa Keperawatan : Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi
virus.
Kriteria Hasil : Anak menunjukkan TTV dalam batas normal.
INTERVENSI :
Tujuan : Mempertahankan suhu tubuh normal
a. Ukur TTV : suhu
b. Ajarkan keluarga dalam pengukuran suhu
c. Lakukan “ Tepit sponge “ ( seka ) dengan air biasa.
d. Tingkatkan intake cairan.
e. Berikan terapi untuk menurunkan suhu.
2. Diagnosa Keperawatan : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan,
muntah dan demam.
Kriteria Hasil : Anak menunjukkan tanda - tanda terpenuhinya kebutuhan
cairan.
INTERVENSI :
Tujuan : Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan
a. Mengobservasi TTV paling sedikit setiap 4 jam.
b. Monitor tanda - tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak
elastis, ubun - ubun cekung, produksi urin menurun.
c. Mengobservasi & mencatat intake dan output.
d. Memberikan hidrasi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh.
e. Memonitor nilai laboratorium : elektrolit darah, berat jenis urin, serum
albumin.
f. Mempertahankan intake dan output yang adekuat.
g. Memonitor dan mencatat berat badan.
h. Memonitor pemberian cairan intravena setiap jam.
i. Mengurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat ( Insensibel Water
Loss / IWL ).
3. Diagnosa Keperawatan ; Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan
dengan perdarahan.
Kriteria Hasil : Anak menunjukkan tanda - tanda perfusi jaringan perifer
yang adekuat.
INTERVENSI :
Tujuan : Perfusi jaringan adekuat
a. Mengkaji dan mencatat TTV ( kualitas dan frekuensi denyut nadi,
tekanan darah, capillary refill ).
b. Mengurangi dan mencatat sirkulasi pada ekstremitas ( suhu,
kelembapan dan warna ).
c. Menilai kemungkinan terjadinya kematian jaringan pada ekstremitas
seperti dingin, nyeri, pembengkakan kaki.
4. Diagnosa Keperawatan : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual, muntah, tidak nafsu
makan.
Kriteria Hasil : Anak menunjukkan tanda - tanda kebutuhan nutrisi yang
adekuat.
INTERVENSI :
Tujuan : Kebutuhan nutrisi adekuat
a. Ijinkan anak untuk makan - makanan yang dapat ditoleransi anak,
rencanakan untuk memperbaiki kualitas pada saat selera makan anak
meningkat.
b. Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk
meningkatkan kualitas intake nutrisi.
c. Menganjurkan kepada orangtua untuk memberikan makanan dengan
teknik porsi kecil tapi sering.
d. Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan
skala yang sama.
e. Mempertahankan kebersihan mulut pasien.
f. Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk
penyembuhan penyakit.
5. Diagnosa Keperawatan : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan
kondisi anak.
Kriteria Hasil : Keluarga menunjukkan koping yang adaptif
INTERVENSI :
Tujuan : Mensupport koping adaptif
a. Mengkaji perasaan dan persepsi orangtua atau anggota keluarga
terhadap situasi yang penuh sters.
b. Ijinkan orangtua dan keluarga untuk memberikan respon secara
panjang lebar, dan identifikasi faktor yang paling mencemaskan
keluarga.
c. Identifikasi koping yang biasa digunakan dan seberapa besar
keberhasilannya dalam mengatasi keadaan
d. Tanyakan pada keluarga apa yang dapat dilakukan untuk membuat
anak / keluarga menjadi lebih baik / dan jika memungkinkan
memberikan apa yang diminta oleh keluarga.
e. Memenuhi kebutuhan dasar anak ; jika anak sangat tergantung dalam
melakukan aktivitas sehari - hari, ijinkan hal ini tidak terjadi dalam
waktu yang tidak terlalu lama. Kemudian, secara bertahap
meningkatkan kemandirian anak dalam memenuhi kebutuhan
dasarnya.
C. PERENCANAAN PEMULANGAN
a. Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktivitas sesuai dengan
tingkat perkembangan dan fisik anak.
b. Jelaskan terapi yang diberikan : dosis, waktu pemberian obat serta efek
samping obat.
c. Menjelaskan gejala - gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus
dilakukan untuk mengatasi gejala.
d. Tekanan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan.
( Suriadi : 59 – 62 )
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 1992. Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga. Jakarta : Depkes RI.
Rampengan. ______. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak.
Sastroasmoro, Sudigdo. 1993. Kedaruratan pada Anak. Jakarta : Binapura Aksara.
Soegijanto, Soegeng. 2002. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa dan Penatalaksanaan Edisi 1.
Jakarta : Salemba.
Suriadi. _______. Asuhan Keperawatan pada Anak.
Soeparman. 1987. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi kedua. Jakarta : FKUI.