Docstoc

askep anak kejang demam

Document Sample
askep anak kejang demam Powered By Docstoc
					  Http://Teguhsubianto.blogspot.com


                           ASUHAN KEPERAWATAN
                      ANAK DENGAN KEJANG DEMAM


A. PENGERTIAN
   1. Kejang demam : bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (Rectal di
      atas 38o C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium (Ngastiyah, 1997: 229)
   2. Kejang demam : bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
      tubuh rectal di atas 38o C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium
      (Mansjoer, A.dkk. 2000: 434)
   3. Kejang demam : kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi yang disebabkan
      oleh kelainan ekstrakranium (Lumban tobing, 1995: 1)
   4. Kejang demam : gannguan sementara yang terjadi pada anak-anak yang ditandai
      dengan demam (Wong, D.T. 1999: 182)
   5. Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang
      mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat
      sementara (Hudak and Gallo,1996).
   6. Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan
      demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).
   7. Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
      rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang
      demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada
      anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan
      hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price,
      Latraine M. Wikson, 1995).

         Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang
     yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yaitu 38o C yang sering di jumpai pada
     usia anak dibawah lima tahun.


B. ETIOLOGI
  Http://Teguhsubianto.blogspot.com


         Menurut Mansjoer, dkk (2000: 434) Lumban Tobing (1995: 18-19) dan Whaley
  and Wong (1995: 1929)
  1. Demam itu sendiri
     Demam yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media,
     pneumonia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih, kejang tidak selalu timbul pada
     suhu yang tinggi.
  2. Efek produk toksik daripada mikroorganisme
  3. Respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi.
  4. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.
  5. Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan, yang tidak diketahui atau
     enselofati toksik sepintas.
         Menurut staf pengajar ilmu kesehatan anak FKUI (1985: 50), faktor presipitasi
  kejang demam: cenderung timbul 24 jam pertama pada waktu sakit demam atau dimana
  demam mendadak tinggi karena infeksi pernafasan bagian atas. Demam lebih sering
  disebabkan oleh virus daripada bakterial.


C. PATOFISIOLOGI
         Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel/organ otak diperlukan energi
  yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yaitu glukosa sifat
  proses ini adalah oksidasi dengan perantaraan fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak
  melalui sestem kardiovaskuler.
         Dari uraian di atas, diketahui bahwa sumber energi otak adalah glukosa yang
  melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel yang dikelilingi oleh membran
  yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam
  keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+)
  dan sangat sulit oleh natrium (Na+) dan elektrolit lainnya kecuali ion klorida (Cl-).
  Akibatnya konentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan ion Na+ rendah, sedang di luar sel
  neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena keadaan tersebut, maka terjadi perbedaan
  potensial membran yang disebut potesial membran dari neuron. Untuk menjaga
  keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na - K Atp –
  ase yang terdapat pada permukaan sel.
Http://Teguhsubianto.blogspot.com


       Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh perubahan konsentrasi
ion di ruang ekstraseluler. Rangsangan yang datangnya mendadak seperti mekanis,
kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya dan perubahan patofisiologi dan membran
sendiri karena penyakit atau keturunan.
       Pada demam, kenaikan suhu 1o C akan mengakibatkan kenaikan suhu 1o C akan
mengakibatkan metabolisme basal 10 - 15 % dan kebutuhan O2 meningkat 20 %.
       Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh
tubuh dibandingkan dengan orang dewasa (hanya 15%) oleh karena itu, kenaikan suhu
tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat
terjadi difusi dari ion kalium dan natrium melalui membran listrik. Ini demikian besarnya
sehingga meluas dengan seluruh sel dan membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan
yang tersebut ”neurotransmitter” dan terjadi kejang.
       Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang dapat terjadi pada suhu 38o
C dan anak dengan ambang kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 o C atau lebih,
kejang yang berlangsung lama (>15 menit) biasanya disertai apnea. Meningkatnya
kebutuhan O2 dan untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia,
hiperkapnia, denyut jantung yang tidak teratur dan makin meningkatnya suhu tubuh
karena tingginya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otek
meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan
hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul oedema otak yang
mengakibatkan kerusakan sel neuron otak (Hasan dan Alatas, 1985: 847 dan Ngastiyah,
1997: 229)
  Http://Teguhsubianto.blogspot.com




D. PATHWAY KEPERAWATAN
  Download di http://teguhsubianto.blogspot.com
E. MANIFESTASI KLINIS
         Kebanyakan kejang demam berlangsung singkat, bilateral, serangan berupa klonik
  atau tonik-klonik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak
  memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak
  terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf. Kejang demam dapat
  berlangsung lama dan atau parsial. Pada kejang yang unilateral kadang-kadang diikuti
  oleh hemiplegi sementara (Todd’s hemiplegia) yang berlangsung beberapa jam atau
  bebarapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiplegi yang menetap.
  (Lumbantobing,SM.1989:43)
         Menurut Behman (2000: 843) kejang demam terkait dengan kenaikan suhu yang
  tinggi dan biasanya berkembang bila suhu tubuh mencapai 39o C atau lebih ditandai
  dengan adanya kejang khas menyeluruh tionik klonik lama beberapa detik sampai 10
  menit. Kejang demam yang menetap > 15 menit menunjukkan penyebab organik seperti
  proses infeksi atau toksik selain itu juga dapat terjadi mata terbalik ke atas dengan
  disertai kekakuan dan kelemahan serta gerakan sentakan terulang.


F. PENATALAKSANAAN
  Menurut Ngastiyah (1997: 232-235) dan Hassan & Alatas (195: 850-854) ada 4 faktor
  yang perlu dikerjakan :
     1. Segera diberikan diezepam intravena        dosis rata-rata 0,3mg/kg
           atau diazepam rektal                    dosis ≤ 10 kg = 5mg/kg
                      Bila kejang tidak berhenti   ≥ 10 kg = 10 mg
                      tunggu 15 menit
        dapat diulangi dengan dosis/cara yang sama
                            Kejang berhenti
        berikan dosis awal fenobaritol
               neonatus =30 mg IM
               1 bln-1 thn=50 mg IM
               >1 thn=75 mg IM
Http://Teguhsubianto.blogspot.com


                    Pengobatan rumat
      4 jam kemudian
      Hari I+II = fenobaritol 8-10 mg/kg dibagi dlm 2 dosis
      Hari berikutnya = fenobaritol 4-5 mg/kg dibagi dlm 2 dosis
      Bia diazepam tidak tersedia langsung memakai fenobarbital dengan dosis awal
      selanjutnya diteruskan dengan dosis rumat.
   2. Membebaskan jalan nafas, oksigenasi secukupnya
   3. Meurunkan panas bila demam atau hipereaksi, dengan kompres seluruh tubuh dan
      bila telah memungkinkan dapat diberikan parasetamol 10 mg/kgBB/kali
      kombinasi diazepam oral 0,3 mg/kgBB
   4. memberikan cairan yang cukup bila kejang berlangsung cukup lama (> 10 menit)
      dengan IV : D5 1/4, D5 1/5, RL.
      Ada juga penatalaksanaan yang lain yaitu:

      a. Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera
          dilakukan. Bila terdapat hipogikemia, beri larutan glukosa 20 % dengan dosis
          2 - 4 ml/kg BB secara intravena dan perlahan kemudian dilanjutkan dengan
          larutan glukosa 10 % sebanyak 60 - 80 ml/kg secara intravena. Pemberian Ca
          - glukosa hendaknya disertai dengan monitoring jantung karena dapat
          menyebabkan bradikardi. Kemudian dilanjutkan dengan peroral sesuai
          kebutuhan. Bila secara intravena tidak mungkin, berikan larutan Ca glukosa
          10 % sebanyak 10 ml per oral setiap sebelum minum susu.

      b. Bila kejang tidak hilang, harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk
          larutan 50% Mg SO4 dengan dosis 0,2 ml/kg BB (IM) atau larutan 2-3 % mg
          SO4 (IV) sebanyak 2 – 6 ml. Hati-hati terjadi hipermagnesemia sebab gejala
          hipotonia umum menyerupai floppy infant dapat muncul.

      c. Pengobatan dengan antikonvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik
          seperti hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Obat konvulsan
          pilihan utama untuk bayi baru lahir adalah Fenobarbital (Efek mengatasi
          kejang, mengurangi metabolisme sel yang rusak dan memperbaiki sirkulasi
          otak sehingga melindungi sel yang rusak karena asfiksia dan anoxia).
  Http://Teguhsubianto.blogspot.com


               Fenobarbital dengan dosis awal 20 mg . kg BB IV berikan dalam 2 dosis
               selama 20 menit.



                  Banyak penulis tidak atau jarang menggunakan diazepam untuk
         memberantas kejang pada BBL dengan alasan efek diazepam hanya sebentar dan
         tidak dapat mencegah kejang berikutnya. Disamping itu pemberian bersama-sama
         dengan fenobarbital akan mempengaruhi pusat pernafasan karena zat pelarut
         diazepam mengandung natrium benzoat yang dapat menghalangi peningkatan
         bilirubin dalam darah

G. KLASIFIKASI
  Menurut Ngastiyah ( 1997: 231), klasikfikasi kejang demam adalah
  1. Kejang demam sederhana
     yaitu kejang berlangsung kurang dari 15 menit dan umum. Adapun pedoman untuk
     mendiagnosa kejang demam sederhana dapat diketahui melalui criteria Livingstone,
     yaitu :
               a. umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun
               b. kejang berlangsung hanya sebentar, tidak lebih dari 15 menit.
               c. Kejang bersifat umum
               d. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbul demam.
               e. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kjang normal
               f. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal
                  tidak menunjukan kelainan.
               g. Frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali
  2. Kejang kompleks
     Kejang kompleks adalah tidak memenuhi salah satu lebih dari ketujuh criteria
     Livingstone. Menurut Mansyur ( 2000: 434) biasanya dari kejang kompleks diandai
     dengan kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal atau multiple ( lebih dari 1
     kali dalam 24jam). Di sini anak sebelumnya dapat mempunyai kelainan neurology
     atau riwayat kejang dalam atau tanpa kejang dalam riwayat keluarga.
  Http://Teguhsubianto.blogspot.com


H. KOMPLIKASI
  Menurut Lumbantobing ( 1995: 31) Dan Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI
  (1985: 849-850). Komplikasi kejang demam umumnya berlangsung lebih dari 15 menit
  yaitu :
  1. Kerusakan otak
      Terjadi melalui mekanisme eksitotoksik neuron saraf yang aktif sewaktu kejang
      melepaskan glutamat yang mengikat resptor MMDA ( M Metyl D Asparate ) yang
      mengakibatkan ion kalsium dapat masuk ke sel otak yang merusak sel neuoran secara
      irreversible.
  2. Retardasi mental
      Dapat terjadi karena deficit neurolgis pada demam neonatus.


I. PENCEGAHAN
  Menurut Ngastiyah ( 1997: 236-239) pencegahan difokuskan pada pencegahan
  kekambuhan berulang dan penegahan segera saat kejang berlangsung.
  1. Pencegahan berulang
       a. Mengobati infeksi yang mendasari kejang
       b. Penkes tentang
             1) Tersedianya obat penurun panas yang didapat atas resep dokter
             2) Tersedianya obat pengukur suhu dan catatan penggunaan termometer, cara
                  pengukuran suhu tubuh anak, serta keterangan batas-batas suhu normal
                  pada anak ( 36-37ºC)
             3)       Anak diberi obat anti piretik bila orang tua mengetahuinya pada saat
                  mulai demam dan jangan menunggu sampai meningkat
             4)       Memberitahukan pada petugas imunisasi bahwa anaknya pernah
                  mengalami kejang demam bila anak akan diimunisasi.
  2. Mencegah cedera saat kejang berlangsung kegiatan ini meliputi :
       a. Baringkan pasien pada tempat yang rata
       b. Kepala dimiringkan unutk menghindari aspirasi cairan tubuh
       c. Pertahankan lidah untuk tidak menutupi jalan napas
       d. Lepaskan pakaian yang ketat
  Http://Teguhsubianto.blogspot.com


      e. Jangan melawan gerakan pasien guna menghindari cedera




J. PEMERIKSAAN PENUNJANG
  Menurut Komite Medik RSUP Dr. sardjito ( 2000:193) dan LUmbantobing dan Ismail
  (1989 :43), pemeriksaannya adalah :
     1. EEG
         Pemeriksaan EEG dibuat 10-14 hari setelah bebas panas tidak menunjukan
         kelainan likuor. Gelombang EEG lambat didaerah belakang dan unilateral
         menunjukan kejang demam kompleks.
     2. Lumbal Pungsi
         Tes ini untuk memperoleh cairan cerebrospinalis dan untuk mengetahui keadaan
         lintas likuor. Tes ini dapaat mendeteksi penyebab kejang demam atau kejang
         karena infeksi pada otak.
         -   Pada kejang demam tidak terdapat gambaran patologhis dan pemeriksaan
             lumbal pungsi
         -   Pada kejang oleh infeksi pada otak ditemukan :
               1) Warna cairan cerebrospinal : berwarna kuning, menunjukan pigmen
                   kuning santokrom
               2) Jumlah cairan dalam cerebrospinal menigkat lebih dari normal (normal
                   bayi 40-60ml, anak muda 60-100ml, anak lebih tua 80-120ml dan
                   dewasa 130-150ml)
               3) Perubahan biokimia : kadar Kalium menigkat ( normal dewasa 3.5-5.0
                   mEq/L, bayi 3.6-5.8mEq/L)
Http://Teguhsubianto.blogspot.com


                         KONSEP DASAR KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
   Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien dengan kejang demam menurut Greenberg
   (1980 : 122 – 128)
   1. Riwayat Keperawatan
      a. Adanya riwayat kejang demam pada pasien dan keluarga
      b. Adanya riwayat infeksi seperti saluran pernafasan atis, OMA, pneumonia,
          gastroenteriks, Faringiks, brontrope, umoria, morbilivarisela dan campak.
      c. Adanya riwayat peningkatan suhu tubuh
      d. Adanya riwayat trauma kepala
   2. Pengkajian fisik
      a. Adanya peningkatan : suhu tubuh, nadi, dan pernafasan, kulit teraba hangat
      b. Ditemukan adanya anoreksia, mual, muntah dan penurunan berat badan
      c. Adanya kelemahan dan keletihan
      d. Adanya kejang
      e. Pada pemeriksaan laboratorium darah ditemukan adanya peningkatan kalium,
          jumlah cairan cerebrospiral meningkat dan berwarna kuning
   3. Riwayat Psikososial atau Perkembangan
      a. Tingkat perkembangan anak terganggu
      b. Adanya kekerasan penggunaan obat – obatan seperti obat penurun panas
      c. Pengalaman tantang perawatan sesudah/ sebelum mengenai anaknya pada
          waktu sakit.
   4. Pengetahuan keluarga
      a. Tingkatkan pengetahuan keluarga yang kurang
      b. Keluarga kurang mengetahui tanda dan gejala kejang demam
      c. Ketidakmampuan keluarga dalam mengontrol suhu tubuh
      d. Keterbatasan menerima keadaan penyakitnya
Http://Teguhsubianto.blogspot.com


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
   Menurut Doengoes, dkk (1999 : 876), Angram (1999 : 629 – 630) dan carpenito
   (2000 : 132), diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan kejang demam
       1. Resiko tinggi terhadap cidera b.d aktivitas kejang
       2. Hipertermi bd efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus
       3. Perfusi jaringan cerebral tidak efektif bd reduksi aliran darah ke otak
       4. Kurang pengetahuan orang tua tentang kondisi, prognosis, penatalaksanaan
            dan kebutuhan pengobatan bd kurangnya informasi


C. INTERVENSI KEPERAWATAN
   DX 1      : Resiko tinggi terhadap cidera b.d aktivitas kejang
   Tujuan     : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama poroses keperawatan
   diharapkan resiko cidera dapat di hindari, dengan kriteria hasil
   NOC: Pengendalian Resiko
      a. Pengetahuan tentang resiko
      b. Monitor lingkungan yang dapat menjadi resiko
      c. Monitor kemasan personal
      d. Kembangkan strategi efektif pengendalian resiko
      e. Penggunaan sumber daya masyarakat untuk pengendalian resiko
    Indkator skala :
        1 = tidak adekuat
        2 = sedikit adekuat
        3 = kadang-kadan adekuat
        4 = adekuat
        5 = sangat adekuat
   NIC : mencegah jatuh
      a. identifikasi faktor kognitif atau psikis dari pasien yang dapat menjadiakn
          potensial jatuh dalam setiap keadaan
      b. identifikasi mkarakteristik dari lingkungan yang dapat menjadikan potensial
          jatuh
      c. monitor cara berjalan, keseimbangan dan tingkat kelelahan dengan ambulasi
Http://Teguhsubianto.blogspot.com


      d. instruskan pada pasien untuk memanggil asisten kalau mau bergerak


   DX 2       : Hipertermi b.d efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus
   Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan suhu dalam rentang norma
   NOC : Themoregulation
      a. Suhu tubuh dalam rentang normal
      b. Nadi dan RR dalam rentang normal
      c. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak warna kulit dan tidak pusing
   Indicator skala

      1. : ekstrem
      2 : berat
      3 : sedang
      4 : ringan
      5 : tidak ada gangguan
   NIC : Temperatur regulation
      a. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
      b. Rencanakan monitor suhu secara kontinyu
      c. Monitor tanda –tanda hipertensi
      d. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
      e. Monitor nadi dan RR


   DX 3 : Perfusi jaringan cerebral tidakefektif berhubungan dengan reduksi aliran
   darah ke otak
   Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
   diharapkan suplai darah ke otak dapat kembali normal , dengan kriteria hasil :
   NOC : status sirkulasi
      a. TD sistolik dbn
      b. TD diastole dbn
      c. Kekuatan nadi dbn
      d. Tekanan vena sentral dbn
      e. Rata- rata TD dbn
Http://Teguhsubianto.blogspot.com


      Indicator skala :
      1 = Ekstrem
      2 = Berat
      3 = Sedang
      4 = Ringan
      5 = tidak terganggu
    NIC : monitor TTV:
      a. monitor TD, nadi, suhu, respirasi rate
      b. catat adanya fluktuasi TD
      c. monitor jumlah dan irama jantung
      d. monitor bunyi jantung
      e. monitor TD pada saat klien berbarning, duduk, berdiri
     NIC II : status neurologia
      a. monitor tingkat kesadran
      b. monitor tingkat orientasi
      c. monitor status TTV
      d. monitor GCS
    DX 4 : Kurang pengetahuan orang tua tentang kondisi, prognosis, penatalaksanaan
             dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi
   Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan keluarga mengerti tentang kondisi
   pasien
   NOC : knowledge ; diease proses
      a. Keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit kondisi prognosis dan
            program pengobatan
      b. Keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar
      c. Keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/ tim
            kesehatan lainya
      Indicator skala :
      1. Tidak pernah dilakukan
      2. Jarang dilakukan
      3. Kadang dilakukan
Http://Teguhsubianto.blogspot.com


        4. Sering dilakukan
        5. Selalu dilakukan
   NIC : Teaching : diease process
        a. Berikan penilaian tentang penyakit pengetahuan pasien tentang proses penyakit
           yang spesifik
        b. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan
           anatomi fisiologi dengan cara yang tepat
        c. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara
           yang tepat
        d. Identifikasikan kemungkinan dengan cara yang tepat




D. EVALUASI
   Dx                         Kriteria hasil                       Keterangan skala

    1     a. Pengetahuan tentang resiko                         1 = tidak adekuat
          b. Monitor lingkungan yang dapat menjadi              2 = sedikit adekuat
              resiko                                            3 = kadang-kadan adekuat
          c. Monitor kemasan personal                           4 = adekuat
          d. Kembangkan strategi efektif pengendalian           5 = sangat adekuat
              resiko
          e. Penggunaan sumber daya masyarakat untuk
              pengendalian resiko
    2     a. Suhu tubuh dalam rentang normal                    1. : ekstrem
          b. Nadi dan RR dalam rentang normal                   2 : berat
          c. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak          3 : sedang
              warna kulit dan tidak pusing                      4 : ringan
                                                                5 : tidak ada gangguan

    3     a. TD sistolik dbn                                    1 = Ekstrem
          b. TD diastole dbn                                    2 = Berat
          c. Kekuatan nadi dbn                                  3 = Sedang
Http://Teguhsubianto.blogspot.com


        d. Tekanan vena sentral dbn                  4 = Ringan
        e. Rata- rata TD dbn                         5 = tidak terganggu
    4   a. Keluarga menyatakan pemahaman tentang     1. Tidak pernah
            penyakit kondisi prognosis dan program       dilakukan
            pengobatan                               2. Jarang dilakukan
        b. Keluarga mampu melaksanakan prosedur      3. Kadang dilakukan
            yang dijelaskan secara benar             4. Sering dilakukan
        c. Keluarga mampu menjelaskan kembali apa    5. Selalu dilakukan
            yang dijelaskan perawat/ tim kesehatan
            lainya
Http://Teguhsubianto.blogspot.com


                                DAFTAR PUSTAKA




Depkes RI. 1989. Perawatan Bayi Dan Anak. Ed 1. Jakarta : Pusat Pendidikan Tenaga
      Kesehatan.

Lumbantobing,SM.1989.Penatalaksanaan Muthakhir Kejang Pada Anak.Jakarta : FKUI

Sachann, M Rossa. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatric. Jakarta : EGC.

Suriadi, dkk2001. Askep Pada Anak. Jakarta. Pt Fajar Interpratama.

Sataf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 2000. Buku Kuliah Dua Ilmu Kesehatan
       Anak. Jakarta : Percetakan Info Medika Jakarta

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit, ed 2. Jakarta: EGC.

Hidayat, aziz alimun. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba.
Http://Teguhsubianto.blogspot.com

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:254
posted:3/2/2012
language:Malay
pages:16
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl