askep-keratitis by anamaulida

VIEWS: 286 PAGES: 10

									                ASUHAN KEPERAWATAN PADA
                 PASIEN DENGAN KERATITIS
                               I. FISIOLOGI KORNEA

        Kornea (latin Cornum: seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput
mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah
depan. Kornea ini disisipkan di sklera di limbus, lekuk melingkar pada persambungan ini
disebut sulkus sklelaris. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah,
sekitar 0,65 mm di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm. Kornea terdiri atas lapis:
1. Epitel
   -   Tebalnya 50 μm, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang
       tindih. Satu lapis se; basal, sel polygonal dan sel gepeng.
   -   Pada sel basal terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi
       lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan
       erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligon di depannya melalui
       desmosom dan makula okluden. Ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit
       dan glukosa yang merupakan barrier.
   -   Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi
       gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.
   -   Epitel berasal dari ectoderm permukaan.
2. Membran Bowman
   - Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang
     tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.
   - Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.
3. Stroma
   - Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan yang
       lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer
       serat kolagen ini bercabang, terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu
       lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sela stroma
       kornea yang merupakan fibroblast terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga
       keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio
       atau sesudah trauma.
4. Membran Descement
   - Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea yang
     dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya.
   - Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40
     μm.
5. Endotel
   - Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20 – 40 μm.
      Endotel melekat pada membran descement melalui hemidesmosom dan zonula
      okiuden.
        Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar
longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke
dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung schwannya.
Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf.
Bulbus krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf
sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.
        Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas
cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform,
avaskuler dan deturgesens. Deturgesens atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea,
dipertahankan oleh “pompa” bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan
endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi, dan cedera
kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel.
        Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa
endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak
mempunyai daya regenerasi.
        Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di
sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, di mana 40 dioptri dari 50
dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.
        Sumber-sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus,
humor agvaeus, dan air mata. Kornea superficial juga mendapatkan oksigen sebagian besar
dari atmosfer.

I.A ANATOMI MATA




                                           1
        Gambar Struktur-struktur dalam mata manusia




            Gambar Potongan Melintang Kornea

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KERATITIS

                            2
II. PENGERTIAN
    Keratitis adalah peradangan pada kornea.
    Radang kornea biasanya diklasifikasikan sebagai berikut:
    1. Keratitis Pungtata
        Keratitis yang terkumpul di daerah membran Bowman, dengan infiltrat berbentuk
        bercak-bercak halus. Keratitis Pungtata terbagi lagi yaitu Keratitis Pungtata
        Superfisial dan Keratitis Pungtata Subepitel
    2. Keratitis Marginal
        Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus.
    3. Keratitis Interstisial
        Ditemukan pada jaringan kornea yang lebih dalam.
    4. Keratitis Bakterial
    5. Keratitis jamur
        Biasanya dimulai dengan suatu ruda paksa pada kornea oleh ranting, pohon, daun
        dan sebagian tumbuh-tumbuhan.
    6. Keratitis Virus
        Pada keratitis ini biasanya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihatnya
        gejala kelainan konjungtiva, ataupun tanda akut. Keratitis virus antara lain:
        - Keratitis herpetic
        - Keratitis dendritik
        - Keratitis disiformis
        - Keratokonjungtivitis epidemi.
    7. Keratitis Dimmer atau Keratitis Numularis
        Bentuk keratitis dengan ditemukannya infiltrat yang bundar berkelompok dan di
        tepinya berbatas tegas sehingga memberikan gambaran halo.
    8. Keratitis Filamentosa
        Keratitis yang disertai adanya filament mukoid dan deskuamasi sel epitel pada
        permukaan kornea.
    9. Keratitis Alergi
        - Keratokonjungtivitis flikten
            Merupakan radang kornea dan konjungtiva yang merupakan reaksi imun yang
            mungkin sel mediated pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen.
    10. Keratitis Fasikularis
        Keratitis dengan pembentukan pita pembuluh darah yang menjalar dari limbus ke
        arah kornea.
    11. Keratitis Konjungitivitis vernal
        Merupakan penyakit rekunen, dengan peradangan tarsus dan konjungtiva bilateral.
    12. Keratitis Lagoftalmus
        Keratitis yang terjadi akibat adanya lagoftalmus di mana kelopak tidak dapat
        menutup dengan sempurna sehingga terdapat kekeringan kornea.
    13. Keratitis Neuroparalitik
        Merupakan keratitis akibat kelainan saraf trigeminus, sehingga terdapat kekeruhan
        kornea yang tidak sensitif disertai kekeringan kornea.
    14. Keratokonjungtivitis Sika
        Suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan konjungtiva.
    15. Keratitis Sklerotikan

                                             3
        Kekeruhan berbentuk segitiga pada kornea yang menyertai radang sklera atau
        skleritis.

III. ETIOLOGI
     1. Bakteri, seperti:
        - Staphylococcus
        - Streptococcus
        - Pseudomonas
        - Pneumococcus
     2. Virus, seperti:
        - Virus herpes simpleks
        - Virus herpes zoster
     3. Jamur, seperti:
        - Candida
        - Aspergillus
     4. Hipersensitif: toksin/allergen
     5. Gangguan hervus trigeminus
     6. Idiopatik

IV. PATOFISIOLOGI
            Kornea berfungsi sebagai membran pelindung yang uniform dan “jendela”
    yang dilalui berkas cahaya retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya
    yang uniform, avaskuler, dan deturgesens. Deturgesens atau keadaan dehidrasi relatif
    jaringan kornea, dipertahankan oleh fungsi sawar epitel. Epitel adalah sawar yang
    efisien terhadap masuknya mikroorganisme ke dalam kornea dan merupakan satu
    lapis sel-sel pelapis permukaan posterior kornea yang tak dapat diganti baru. Sel-sel
    ini berfungsi sebagai pompa cairan dan menjaga agar kornea tetap tipis dan basah,
    dengan demikian mempertahankan kejernihan optiknya. Jika sel-sel ini cedera atau
    hilang, timbul edema dan penebalan kornea yang pada akhirnya mengganggu
    penglihatan.

V.   TANDA DAN GEJALA
     - Mata sakit, gatal, silau
     - Gangguan penglihatan (visus menurun)
     - Mata merah dan bengkak
     - Hiperemi konjungtiva
     - Merasa kelilipan
     - Gangguan kornea (sensibilitas kornea yang hipestesia)
     - Fotofobi, lakrimasi, blefarospasme.
     - Pada kelopak terlihat vesikel dan infiltrat filament pada kornea.

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
    - Pemulasan fluorescein
    - Kerokan kornea yang kemudian dipulas dengan pulasan gram maupun giemsa.
    - Kultur untuk bakteri dan fungi.
    - Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10 % terhadap kerokan kornea.


                                            4
    -   Tes Schirmer. Bila resapan air mata pada kertas Schirmer kurang dari 10 mm
        dalam 5 menit dianggap abnormal.
    -   Tear film break up time.
        Waktu antara kedip lengkap sampai timbulnya bercak kering sesudah mata dibuka
        minimal terjadi sesudah 15 – 20 detik, tidak pernah kurang dari 10 detik.

VII. PENATALAKSANAAN
     - Pemberian antibiotik, air mata buatan
     - Pada keratitis bakteri pada diberikan gentamisin 15 mg/ml, tobramisin 15 mg/ml,
       atau seturoksim 50 mg/ml. Untuk hari-hari pertama diberikan setiap setengah jam
       kemudian diturunkan menjadi setiap jam sampai 2 jam bila membaik. Ganti
       obatnya bila resisten atau tidak terlihat membaik.
     - Perlu diberikan sikloplegik untuk menghindari terbentuknya sinekia posterior dan
       mengurangi nyeri akibat spasme siliar
     - Pada keratitis jamur, sebagai terapi awal diberikan ekonazol 1 % yang berspektum
       luas.
     - Debridement.
     - Anti virus, anti inflamansi dan analgetik.

                                   PENGKAJIAN

1. Keluhan Utama
   - Gangguan penglihatan (visus menurun)
   - Mata sakit
   - Lakrimasi

2. Riwayat Penyakit Sekarang
   - Mata merah dan bengkak
   - Merasa kelilipan
   - Gangguan penglihatan (visus menurun)
   - Mata sakit, gatal, silau
   - Fotofobi, lakrimasi, blefarospasme.
   - Adanya flikten/infiltrat pada kornea.

3. Riwayat Penyakit Masa Lalu
   - Pernah menderita konjungtivitas/herpes
   - Trauma

4. Pemeriksaan Fisik
   a. Inspeksi
      - Hiperemi pada konjungtiva
      - Adanya flikten/infiltrat pada kornea.
      - Adanya lakrimasi
      - Mata tampak merah dan bengkak
   b. Pemeriksaan diagnostik
      - Pemulasan fluorescen


                                          5
       - Test Schirmer
       - Keratometer
       - Fotokeratoskop
       - Topografi
Rumusan Diagnosa Keperawatan
1) Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan penurunan tajam penglihatan
   ditandai dengan:
          - Visus menurun
          - Silau
          - Adanya flikten pada kornea
          - Merasa kelilipan
   Tujuan: cedera tidak terjadi dengan kriteria:
          - Visus kembali normal
          - Tidak tampak luka cedera pada anggota tubuh
   Intervensi:
   1. Tentukan tajam penglihatan pada kedua mata
       Rasional: kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan
                  penglihatan terjadi lambat dan progresif.
   2. Pertahankan posisi tempat tidur rendah, pagar tempat tidur tinggi dan bel di
       samping tempat tidur.
       Rasional: memberikan kenyamanan dan memungkinkan pasien melihat objek
                  lebih mudah dan memudahkan panggilan untuk petugas bila diperlukan.
   3. Singkirkan benda-benda yang dapat menimbulkan cedera.
       Rasional: memberikan perlindungan diri terhadap cedera.
   4. Beritahu pasien untuk tidak menggaruk mata.
       Rasional: mencegah terjadinya cedera pada mata.

2) Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan:
           - Mata terasa sakit
           - Mata merah dan bengkak
           - Wajah meringis
           - Tampak gelisah
   Tujuan: nyeri teratasi dengan kriteria
           - Rasa sakit pada mata berkurang
           - Wajah tampak cerah
           - Tidak gelisah
           - Mata tidak bengkak dan merah
   Intervensi:
   1. Kaji tingkat nyeri
       Rasional: tingkatan nyeri dapat memberikan gambaran untuk intervensi
                   selanjutnya sesuai kebutuhan.
   2. Kaji pernyataan verbal dan non verbal nyeri
       Rasional: ketidaksesuaian antara petunjuk verbal/non-verbal dapat memberikan
                   petunjuk derajat nyeri, kebutuhan/keefektifan intervensi.
   3. Dorong penggunaan teknik relaksasi misalnya: latihan nafas dalam atau ajak pasien
       cerita.

                                          6
      Rasional: memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol dan dapat
                 meningkatkan kemampuan koping.
   4. Kolaborasi untuk pemberian analgetik
      Rasional: analgetik menekan impuls nyeri sehingga rangsangan nyeri tidak
                 diteruskan.

3) Ansietas berhubungan dengan keadaan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya
   ditandai dengan:
          - Pertanyaan mengenai kondisinya
          - Tidak akurat mengikuti instruksi
          - Takut dan gelisah
   Tujuan: ansietas teratasi dengan kriteria:
          - Klien dapat memahami kondisinya
          - Berpartisipasi dalam program pengobatan
          - Tampak rileks
   Intervensi:
   1. Identifikasi persepsi pasien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.
       Rasional: membantu pengenalan ansietas/takut dan membantu dalam melakukan
                  intervensi.
   2. Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaannya.
       Rasional: langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah identifikasi dan
                  ekspresi, sehingga mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri
                  untuk mengatasi.
   3. Berikan lingkungan tenang.
       Rasional: memindahkan pasien dari stress luar meningkatkan relaksasi dan
                  membantu menurunkan ansietas.
   4. Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan perhatian.
       Rasional: dukungan dapat membantu pasien merasa diperhatikan sehingga tidak
                  merasa sendiri dalam menghadapi masalah.
   5. Berikan informasi yang akurat dan jujur.
       Rasional: menurunkan ansietas sehubungan dengan ketidaktahuan dan
                  memberikan dasar untuk pilihan informasi tentang pengobatan.
   6. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku koping
       Rasional: perilaku yang berhasil dapat dikuatkan pada penerimaan masalah/stres
                  saat ini sehingga meningkatkan rasa kontrol diri.

4) Gangguan konsep diri berhubungan dengan status kesehatannya ditandai dengan:
          - Klien menarik diri
          - Tampak diam
          - Sering termenung
   Tujuan: gangguan konsep diri teratasi dengan kriteria:
          - Klien tidak menarik diri
          - Wajah tampak ceria
          - Pasien tampak bergaul

   Intervensi:

                                         7
   1. Ciptakan/pertahankan hubungan terapeutik pasien-perawat
      Rasional: mengembangkan rasa saling percaya antara pasien dan perawat.
   2. Kaji interaksi antara pasien dan keluarga. Catat adanya perubahan dalam hubungan
      keluarga.
      Rasional: keluarga mungkin secara sadar/tidak memperkuat sikap negatif dan
                  keyakinan pasien atau informasi yang didapat mungkin menghambat
                  kemampuan untuk menangani keadaannya.
   3. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan.
      Rasional: konfrontasi pasien terhadap situasi yang nyata dapat mengakibatkan
                  peningkatan ansietas dan mengurangi kemampuan untuk mengatasi
                  perubahan konsep diri.
   4. Berikan informasi yang benar
      Rasional: membantu pasien menerima keadaannya

5) Gangguan aktivitas berhubungan dengan penurunan ketajaman penglihatan ditandai
   dengan:
          - Penurunan tajam penglihatan
          - Kelemahan umum
          - Kebutuhan ADL klien dibantu oleh keluarga dan perawat.
   Tujuan: klien dapat beraktivitas dengan baik dengan kriteria:
          - Tajam penglihatan kembali normal
          - Pemenuhan ADL terpenuhi




                                          8
    Intervensi:
    1. Kaji tingkat aktivitas klien
        Rasional: kemampuan aktivitas klien merupakan gambaran untuk mengambil
                   tindakan lebih lanjut.
    2. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.
        Rasional: kebutuhan klien terpenuhi akan mengurangi beban pikiran dan
                   kooperatif dalam pemberian tindakan.
    3. Dorong perawatan diri
        Rasional: perawatan dirinya sendiri akan meningkatkan perasaan harga diri.
    4. Kaji tentang pentingnya aktivitas secara bertahap.
        Rasional: peningkatan aktivitas secara bertahap dapat membantu mengurangi
                   ketergantungan pada perawat.
    5. Susun tujuan dengan pasien atau orang terdekat untuk berpartisipasi.
        Rasional: meningkatkan harapan terhadap peningkatan kemandirian
    6. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik
        Rasional: berguna dalam memformulasikan program latihan berdasarkan
                   kemampuan klien.

Pelaksanaan Keperawatan (Implementasi)
       Dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan, menjelaskan setiap tindakan yang
akan dilakukan, sesuai dengan pedoman/prosedur teknis yang telah ditentukan.

Evaluasi Keperawatan
       Evaluasi hasil menggunakan kriteria evaluasi yang telah ditentukan pada tahap
perencanaan keperawatan, dilakukan secara periodik, sistematis terencana.

                                  DAFTAR PUSTAKA

-   Barbara Engram, Rencana Askep Medikal-Bedah, Vol. 2, EGC, Jakarta, 1994.

-   Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III, Media Aeculapius. Fakultas Kedokteran UI,
    2001.

-   Prof. Dr. H. Sidarta Ilyas, Sp.M. Ilmu Penyakit Mata, Edisi II, Fakultas Kedokteran UI,
    2002.

-   Catatan Kuliah Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran UH, 2002.

-   Doenges Marilynn, E., Moorhouse, Geissler, Rencana Asuhan Keperawatan. Pedoman
    untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta,
    1999.




                                             9

								
To top