Askep-halusinasi by anamaulida

VIEWS: 503 PAGES: 3

									                                           Askep Halusinasi


A. Pengertian

Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) pasca indera tanpa adanyarangsangan dari luar yang
dapat meliputi semua system penginderaan di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh /
baik.

Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi. Bentuk halusinasi ini bisa
berupa suara-suara yang bising atau mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang
tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai
keadaan pasien sedih atau yang dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau
bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar atau
bicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnya bergerak-gerak.
Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiap tubuh atau diluar tubuhnya. Halusinasi
ini kadang-kadang menyenangkan misalnya bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain.

Menurut May Durant Thomas (1991) halusinasi secara umum dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa
seperti: Skizoprenia, Depresi, Delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan
substansi lingkungan. Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien dirumah sakit jiwa ditemukan 85%
pasien dengan kasus halusinasi. Sehingga penulis merasa tertarik untuk menulis kasus tersebut dengan
pemberian Asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi.

B. Klasifikasi

Klasifikasi halusinasi sebagai berikut :

     1. Halusinasi dengar (akustik, auditorik), pasien itu mendengar suara yang membicarakan,
        mengejek, menertawakan, atau mengancam padahal tidak ada suara di sekitarnya.
     2. Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan orang, binatang atau sesuatu yang
        tidak ada.
     3. Halusinasi bau / hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang di dapatkan. Pasien yang mengalami
        mengatakan mencium bau-bauan seperti bau bunga, bau kemenyan, bau mayat, yang tidak ada
        sumbernya.
     4. Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi bau / hirup.
        Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa di mulutnya.
     5. Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu yang bersangkutan merasa ada seseorang
        yang meraba atau memukul. Bila rabaab ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini
        disebut halusinasi heptik.

C. Etiologi
Menurut Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti
skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan
alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi adapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik
dengan gangguan metabolik. Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai
pengobatan yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik, sedangkan obat-
obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas.
Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami
isolasi, perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada
pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun banyak faktor
yang mempengaruhinya seperti faktor biologis , psikologis , sosial budaya,dan stressor pencetusnya
adalah stress lingkungan , biologis , pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping.


D. Psikopatologi

Psikopatologi dari halusinasi yang pasti belum diketahui. Banyak teori yang diajukan yang menekankan
pentingnya faktor-faktor psikologik, fisiologik dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa dalam keadaan
terjaga yang normal otak dibombardir oleh aliran stimulus yang yang datang dari dalam tubuh ataupun
dari luar tubuh. Input ini akan menginhibisi persepsi yang lebih dari munculnya ke alam sadar.Bila input
ini dilemahkan atau tidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai pada keadaan normal atau patologis,
maka materi-materi yang ada dalam unconsicisus atau preconscious bisa dilepaskan dalam bentuk
halusinasi.
Pendapat lain mengatakan bahwa halusinasi dimulai dengan adanya keinginan yang direpresi ke
unconsicious dan kemudian karena sudah retaknya kepribadian dan rusaknya daya menilai realitas maka
keinginan tadi diproyeksikan keluar dalam bentuk stimulus eksterna.


E. Tanda dan Gejala

Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering di dapatkan duduk terpaku dengan pandangan
mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau bicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang
orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien
sendiri tentang halusinasi yang di alaminya (apa yang di lihat, di dengar atau di rasakan).


F. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :
     1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
        Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi,
        sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi
        knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara
        fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan
        pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu
     tindakan yang akan di lakukan.
     Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong
     pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding,
     majalah dan permainan.
2.   Melaksanakan program terapi dokter
     Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi
     yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus
     mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.
3.   Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada
     Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang
     merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada.
     Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat
     dengan pasien.
4.   Memberi aktivitas pada pasien
     Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain
     atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata
     dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan
     memilih kegiatan yang sesuai.
5.   Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
     Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan
     pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan
     pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila
     ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar
     pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada.
     Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak
     membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.

								
To top