askep-crf by anamaulida

VIEWS: 300 PAGES: 34

									                   ASUHAN KEPERAWATAN

                   CHRONIC RENAL
                   FAILURE
                   Saman,S.Kep,Ns


                   TEAM PENGAJAR KMB
ASKEP PERKEMIHAN
                   AKPER PEMDA TOLITOLI
                       Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
                                     2011                    1
GGK (Gagal Ginjal Kronik) / CKD
(Chronic Kidney Disease)
     Penurunan faal ginjal yang menahun dan umumnya
      irreversible.   Akibat     yang   terjadi   adalah
      ketidakseimbangan metabolisme cairan dan elektrolit
      yang timbul karena adanya penurunan fungsi
      glomerolus akibat banyaknya nefron yang rusak
      sehingga ginjal tidak dapat menjalankan fungsinya
      secara normal.
     Penurunan fungsi ginjal dapat diukur melalui
      penurunan laju filtrasi glomerolus (LFG) yang
      berfungsi sebagai indicator kemampuan ginjal dalam
      menyaring darah.


                    Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                  2011                    2
Anatomi dan Fisiologi Ginjal

Makroskopis
  Secara makroskopis, ginjal normal berbentuk seperti
   buah ercis. Ukuran ginjal kira-kira 12 x 6 x 3 cm
   (kepalan tangan orang dewasa) dengan berat kira-kira
   150 gram. Ginjal kiri umumnya lebih panjang dan lebih
   kecil daripada ginjal kanan

Mikroskopis
   Ginjal tersusun dari 1 – 1,25 juta nefron. Nefron
    merupakan unit fungsional ginjal yang terdiri dari
    kesatuan glomerolus dan tubulus renalis yang
    berfungsi mempertahankan keseimbangan cairan dan
    elektrolit. Nefron memiliki panjang + 3 cm.
                      Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN           2011                         3
Vaskularisasi Ginjal
     Aliran darah ke ginjal melalui arteri
      renalis yang langsung keluar dari aorta
      abdomen. Arteri renalis yang menjadi
      kecil sampai arteriole atau afferon yang
      masuk glomerolus dan yang keluar dari
      glomerolus yang disebut afferon.


                   Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                    4
Fungsi Ginjal
    Fungsi Regulator
     Filtrasi
     Reabsorbsi Selektif.
     Ekskresi




                   Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                    5
Fungsi Produksi
     Hormon eritroprotein
     Vitamin D Aktif
     Hormon Renin
     Hormon Prostaglandin




                   Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                    6
Etiologi
Etiologi GGK sangat bermacam-macam dan kompleks.
    Penyakit infeksi ginjal (glomerulonefritis, pyelonefritis)
    ARF
    Penyakit ginjal polikistik
    Obstruksi ginjal (neoplasma), prostate, striktura
    Nefrotoksik (analgetik, kanamisin)
    Penyakit sistemik (DM, Hipertensi, SLE, Gout)




                      Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                    2011                          7
Patofisiologi
     Terjadi kerusakan dan penurunan progresif fungsi nefron. Saat
      terjadi penurunan nilai GFR dan klirens serum ureum dan
      kreatinin meningkat.
     Nefron yang masih sehat mengalami hipertropi karena terus
      menggantikan semua fungsi nefron yang rusak. Hal ini
      menyebabkan ginjal kehilangan kemampuan untuk memekatkan
      urine secara baik.
     Ginjal berupaya untuk mengeluarkan larutan urine dalam jumlah
      besar sehingga pasien mengalami kekurangan cairan tubuh.
     Kerusakan nefron terus terjadi, diikuti laju filtrasi ginjal terus
      menurun.
     Tubuh tidak mampu lagi membuang air, garam, dan produk-
      produk sampah lainya melalui ginjal. Jika laju filtrasi ginjal < 10 –
      20 mL/mnt secara klinis akan terlihat uremia dan tanda-tanda
      toksik akibat produk sampah semakin terlihat.

                         Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                       2011                               8
                        Penyebab


                     Kerusakan Nefron

            Kehilangan fungsi ginjal sebagian

             Menurunya GFR dan Clearance
                                                                     Tubuh tidak mampu membuang sisa
      Meningkatkan fungsi ginjal yang masih normal                garam dan sisa metabolisme melalui ginjal

               Sisa yang normal hypertrofi

                Filtrasi solute meningkat                                   Syndrome Uremia
         Fungsi mengkonsentrasi urine menurun                             (GFR 10 – 20 mL/mnt)

   Fungsi reabsorbsi tubulus menurun secara berangsur
                                                                   Ekskresi hydrogen ↓  Asidosis metabolic
                                                                  Ekskresi fosfat ↓  Hyperfosfatemia
          Ekskresi urin meningkat, cair (Poliuria)
                                                                  Ekskresi kalium ↓  Hyperkalemia
                                                                  Reabsorbsi Na ↓  Retensi air
             Pasien kehilangan cairan tubuh                       Ekskresi sampah Nitrogen ↓  Uremia

          Perfusi pembuluh darah ginjal menurun

Kerusakan renal meningkat, jumlah nefron normal menurun              Pasien mengalami Kehilangan fungsi non
                                                                     sekresi ginjal :
        Perfusi pembuluh darah ginjal menurun                          Kerusakan fungsi insulin
                                                                     Kegagalan produksi erytropoetin
            Total GFR menurun lebih lanjut                           Kegagalan mengaktifkan kalsium
                                                                     Gangguan reproduksi
                                                                     Gangguan immunitas
                                           Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
     ASKEP PERKEMIHAN                                    2011                                              9
Tahapan Penurunan Fungsi Ginjal
Tingkat tes klirens kreatinin dianggap mendekati laju filtrasi glomerolus
  (CCT = LFG).
Gagal ginjal kronik dibagi sesuai dengan tahapan :
 Penurunan Cadangan (faal ginjal <100% - 75 %, CCT : 75 mL/mnt)
       Pasien  belum ada keluhan, ekskresi dan regulasi masih dapat
       dipertahankan
   Insufisiensi Ginjal (faal ginjal <75% - 25%, TKK / CCT : 25 – 75
    mL/mnt)
       Pasien sudah mulai ada keluhan yang berhubungan dengan oliguria,
       overhidrasi, udem periferi, asidosis, hiperkalemia, anemia, hipertensi.
   Gagal Ginjal Kronik (faal ginjal <25% - 10%)
       Gambaran  klinis dan laboratorium makin nyata. Peningkatan kadar
       ureum, kreatinin serum, anemia.
   Gagal Ginjal Terminal / GGT
       Faal   ginjal < 10%, CCT < 10 mL/mnt.
                             Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                           2011                             10
     Manifestasi Klinis
No.          Sistem                     Manifestasi                                   Penyebab

1.     Integumen                 Kulit kekuningan                  Penimbunan urochrom
       a. Kulit                  Pucat / pallor                    Anemia
       b. Kuku                   Pruritas                          Penurunan aktifitas kelenjar keringat (semua
       c. Rambut                 Kering dan bersisik                kelenjar)
                                 Tipis dan rapuh                   Endapan fosfat
                                 Kering, rapuh                     Terbuangnya protein dan Ca menurun
                                                                    Aktifitas semua kelenjar menurun
                                                                    Terbuangnya protein
2.     Gastro inestestinal     Halitosis / fetor uremicum         o   Urea diubah menjadi anemia oleh bakteri mulut
       a. Oral                 Perdarahan gusi, stomatitis        o   Perubahan aktifitas platelet
       b. Lambung              Mual, muntah, anoreksia,           o   Serum uremit toxin akibat bakteri usus
                                gastritis, ulcreation              o   Mukosa usus lembab
3.     Cardiovaskuler            Hipertensi, oedem                   Overload cairan mekanisme rennin angiotensin
                                 Conjunctiva heart failure           Kelebihan cairan, anemia
                                 Arteriosklerosis heart disease      Hipertensi kronis, pengapuran jaringan lunak
                                 Perikarditis                        Toxin uremic dakam pericardium

4.     Pulmonary             Uremic “lung” atau pneumonia           Toxin uremic dalam pleura dan jaringan paru
                                                                    Retensi asam organic hasil metabolisme
                                                                    Toxin uremic
                                         Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
     ASKEP PERKEMIHAN                                  2011                                                    11
   Manifestasi Klinis
5 Asam basa          Asidosis metabolic                Ketidakseimbangan elektrolit
   .                                                   Retensi asam organic hasil metabolisme
6 Neurologic         Letih, lesu, sakit kepala,        Toxin uremic
   .                      gangguan tidur, gangguan     Ketidakseimbangan elektrolit
                          otot /kejang, pegal
7 Hematologik        Anemia                              Penekanan produksi RBC
   .                 Perdarahan                          Penurunan waktu hidup RBC
                                                         Perdarahan
                                                         Dialysis
                                                         Defisiensi Fe
8 Metabolik          Intoleransi KH                   Menurunya sensitifitas insulin di dalam jaringan perifer
  .                  Hiperlipidemia                   Penundaan produksi insulin oleh pancreas
                     Hiperparatiroid                  Meningkatnya waktu hidup insulin
                     Infertility                      Meningkatnya produksi serum bringliserial
                     Sexual disfunction               Produksi glyserial meningkat dalam hati karena insulin
                     Menurunya libido + ereksi         meningkat
                     Menurunya menstruasi s/d         Meningkatnya produksi serum trigliserid
                          amenorhoc                   Produk glyserides meningkat dlm hati akibat dari
                                                       insulin meningkat
                                                      Fosfat dlm serum meningkat  Ca+ dlm serum
                                                       menurun  merangsang paratiroid
                                                      Mekanisme belum jelas
                                                      Pemda -Tolitoli
                                    Sam,S.kep,Ns-AkaperProduksi testosterone dan spermatogenesis menurun
  ASKEP PERKEMIHAN                                   
                                                  2011 Rangsangan paratiroid meningkat                   12
Pemeriksaan Diagnostik

     Lab : ureum /creatinin; hemoglobin, analisa
      gas darah, CCT, (Na, K, Ca, P), albumin,
      gula darah, trigliserida
     Diagnostik : biopsy ginjal
     Radiologi : BNO/ foto polos abdomen, IVP,
      USG, renogram, foto jantung, foto paru, foto
      tulang
     ECG

                   Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                    13
                   Pelaksanaan Medis
                   CRF



                   Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                    14
1. Penatalaksanaan Konservatif
Tujuan:
   Mencegah menurunya faal ginjal yang progresif
   Meringankan keluhan uremia
   Mengurangi gejala uremia dengan memperbaiki
    metabolisme:
         Pengaturan cairan dan elektrolit dengan pengontrolan yang
          ketat terhadap diit & cairan
         Pengontrolan tensi / hipertensi dengan obat
         Meningkatkan kenyamanan pasien


Indikasi penatalaksanaan konservatif:
   GGK dan tahap insufisiensi ginjal
   Faal ginjal 10 – 50 % atau creatinin serum 2 mg% - 10
    mg%              Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                            15
1. Penatalaksanaan Konservatif
Bentuk :
 Pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit:
       Penahanan kalium & fosfat dapat terjadi pada GGK (oral dengan
        CaCo3)
       Kontrol dapat dilakukan dengan mengurangi intake kalium dalam diit.
       Pemberian alumunium hidroksida  mengikat fosfat
       Pemberian laksatif
       Pemberian Vit.D
   Keseimbangan transport oksigen
       Anemia selalu mengiringi GGK  pasien cepat letih dan sesak nafas.
   Memberikan rasa nyaman, istirahat dan tidur
     Umumnya tidak nyaman pada GGK meliputi pruritus, kram otot, rasa
      haus, sakit kepala, kulit kering, stress, emosional, insomnia.
     Mengurangi tingkat fosfat serum dengan Alhydrokside  mengurangi
      gatal-gatal
     Menjaga kulit lembab
     Memberikan obat anti gatal


                          Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                        2011                                 16
2. Dialisis
     Hemodialisis
     Peritoneal Dialisis


3. Transplantasi Ginjal
     Donor hidup
     Donor Cadaver
     Dialisis dan transplantasi dilakukan pada
      pasien GGK yang tahap terminal.
                   Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                    17
                   Asuhan Keperawatan

                   Chronic Renal Failure

                   This is show time,.




                    Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                  2011                    18
PENGKAJIAN  dilakukan mll
anamnesa dan pemeriksaan fisik

Anamnesis
 Biodata     pasien dan                                 penanggung
  jawab.
 Riwayat keperawatan :
  1. Keluhan utama
      2. Riwayat penyakit sekarang dan sebelumnya
      3. Riwayat penyakit keluarga
                   Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                             19
     Pemeriksaan fisik
1.    Aktifitas dan istirahat tidur :
2.    Sirkulasi
3.    Eliminasi
4.    Nutrisi / cairan
5.    Neurosensori
6.    Nyeri / rasa nyaman
7.    Respirasi
8.    Keamanan
9.    Seksual
10.   Pemeriksaan fisik head to foot
                   Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                    20
     Pengkajian Psikososio spiritual
      1. Integritas ego
      2. Interaksi sosial
      3. Tingkat pengetahuan pasien tentang
      penyakit dan penatalaksanaanya.

     Pengkajian Hasil Diagnostik



                   Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                    21
  DIAGNOSA KEPERAWATAN
     DAN PERENCANAAN



                   Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                    22
1.   Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen
berhubungan dengan Penekanan diafragmaOedema pulmo
Ditandai dengan :
 Pasien mengeluh sesak nafas
 RR > 20 x/mnt
 Cyanosis
 Ascites
 Ronchi (+)
Perencanaan :
 Tujuan : kebutuhan oksigen terpenuhi stlh dilakukan asuhan keperawatan selama ---
   hari / minggu
 Kriteria hasil:
         Pasien tidak mengeluh sesak nafas
         Sesak nafas berkuran / hilang
         Tidak cyanosis
         Suara nafas vesikuler
         Klien tampak tenang
         R 16 – 20 x/mnt
    Rencana tindakan keperawatan:
      Beri posisi tidur semi fourter
     Tenangkan klien
     Anjurkan klien untuk nafas efektif
     Observasi perubahan warna kulit, kuku, jari, catat adanya cyanosis
     Monitor respirasi dan nadi
     Berikan oksigen.             Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN hasil dengan dokter
     Kolaborasi                                 2011                           23
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit lebih dari
 kebutuhan tubuh berhubungan dengan :

      Ginjal yang tidak berfungsi
      Dialisis yang tidak adekuat
      Intake cairan yang berlebih
      Ketidakpatuhan mengikuti jadwal HD
 Ditandai dengan :
    Oedema, ronchi (+)
    Hasil laboratorium kadar elektrolit ↑
 Perencanaan
  Tujuan  Mempertahankan keseimbangan elektrolit dan volume cairan adekuat
  setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ---- hari / minggu.
  Kriteria hasil:
    Oedema hilang / tidak ada, turgor kulit baik
    Ronchi (-), tidak sesak nafas
    Kadar elektrolit normal
  Rencana tindakan keperawatan:
    Timbang BB pasien
    Batasi intake cairan (balance cairan)
    Ajarkan klien tentang pentingnya pengontrolan dan pengukuran air&BB setiap hari
    Berikan diit rendah garam
    Lakukan HD dengan UF (kolaborasi dengan dokter)
    Beri obat-obat (kolaborasi dokter)
                               Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                        2011                                     24
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi tubuh kurang dari
   yang dibutuhkan berhubungan dengan :

     Intake yang kurang
     Diit yang terlalu ketat
     Status hipermetabolik
   Perencanaan :
    Tujuan  Kebutuhan nutrisi terpenuhi setelah dilakukan asuhan
    keperawatan selama beberapa hari / minggu
    Kriteria hasil :
     BB ideal terpelihara, tidak tampak malnutrisi
     Protein total & albumin DBN
     Asupan nutrisi adekuat
    Rencana tindakan keperawatan:
     Kaji ulang tentang status nutrisi
     Ukur lingkar lengan atas
     Anjurkan klien makan makanan yang disukai dengan porsi yang kecil
      tetapi sering dan tidak melanggar diit (sesuai aturan)
     Kolaborasi dengan dokter untuk obat
     Kolaborasi dengan ahli gizi
                           Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                         2011                        25
4. Gangguan pola eliminasi :

  a. Konstipasi, berhubungan dengan menurunya mobilitas, asupan
     antasid, pembatasan air, modifikasi diit atau ketidakseimbangan
     elektrolit ditandai dengan kesukaran BAB.
    Tujuan : Pola eliminasi normal
    Kriteria hasi : BAB 1 – 2 x sehari, konsistensi lunak.
    Rencana tindakan :
     - Anjurkan klien untuk melakukan ambulansi semampunya untuk meningkatkan
     peristaltik usus.
     - Anjurkan klien untuk menghindari laksatif yang mengandung magnesium
     - Berikan pelembek feces untuk mencegah konstipasi
     - Konsultasi dengan ahli gizi tentang diit tinggi serat yang diperbolehkan.
     - Catat jumlah BAB untuk memonitor cairan & kehilangan elektrolit
     - Monitor kadar elektrolit terutama kalium, calcium, dan kadar bicarbonat.
     - Anjurkan klien untuk minum oralit.
     - Bersihkan anus dengan hati-hati menggunakan lotion

  b. Diare, berhubungan dengan inflamasi gastro interstinal sekunder
     terhadap ureum / efek samping sorbitol hayexalat ditandai dengan
     BAB cair dan sering.
                          Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                        2011                                 26
  c. Gangguan integritas kulit, berhubungan dengan gangguan status
     metabolic, akumulasi toksik dalam tubuh ↓, menurunya aktifitas
     kelenjar keringat, (kalsium, fosfat), oedema dan nuoropati,
     ditandai dengan : gatal, luka, kulit kering, eksariasi, oedema

      Perencanaan :
      Tujuan  Integrigas kulit tetap terjaga setelah dilakukan asuhan
         keperawatan selama ---- hari / minggu.
      Kriteria hasil:
      - Tidak ada ithing (kulit kering)
      - Kulit bersih, tidak kemerahan, tidak bersisik
      - Tidak ada gangguan fungsi
      Rencana tindakan:
      - Bersihkan kulit setiap hari dengan air hangat, sabun lunak, terutama
      pada daerah lipatan dan sela-sela jari.
      - Inspeksi terhadap brurses, purpura dan tanda infeksi
      - Kaji warna kulit, tekstur, turgor, dan vaskulieritas
      - Gunakan krim / ointment waktu mandi, keramas
      - Anjurkan klien untuk memelihara kuku pendek dan bersih
      - Hindari pakaian yang merangsang
      - Berikan obat antihistamin dan anti pruritis hasi kolaborasi dokter.
                             Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                       2011                               27
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
   anemia sekunder, uremia, ditandai dengan
   kelelahan, nafas pendek.
Perencanaan :
 Tujuan  Klien dapat melakukan aktifitas setelah
  dilakukan asuhan keperawatan selama ---- hari / minggu.
 Kriteria hasil :
       Klien mampu melakukan aktifitas sehari-hari tanpa kelelahan /
        merasa lelah.
       Klien tampak segar
   Rencana tindakan:
       Monitor kadar Hb dan Ht sebagai indikator suplai oksigen
     Berikan istirahat yang cukup
     Ajarkan klien untuk merencanakan kegiatan & menghindari
        kelelahan
     Kaji respon klien terhadap aktifitas / kegiatan untuk
        merencanakan perawatan yang sesuai.
                         Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
     Berikan zat besi erytropoetin hasil kolaborasi dengan dokter. 28
ASKEP PERKEMIHAN                       2011
6. Gangguan rasa nyaman, pusing, berhubungan
   dengan tekanan darah yang tinggi, ditandai
   dengan klien mengeluh pusing, tampak sakit,
   tekanan darah lebih tinggi dari 130/90 mmHg.
Perencanaan:
 Tujuan  Rasa nyaman terpenuhi setelah dilakukan
  asuhan keperawatan selama beberapa hari / minggu.
 Kriteria hasil:
       Klien tidak mengeluh pusing, tidak tampak kesakitan
       Tekanan darah terkontrol < 130/90 mmHg
   Rencana tindakan:
       Ukur vital sign
       Kaji tingkatan pusing
       Anjurkan klien untuk banyak istirahat
       Anjurkan klien untuk diit rendah garam
       Anjurkan klien untuk minum obat sesuai aturan
                          tensi hasil kolaborasi
        Beri obat penurunSam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitolidengan dokter.
ASKEP PERKEMIHAN                         2011                                29
    7. Perubahan konsep diri / pola pikir berkaitan dengan akumulasi
       toksin, hipoksia, ketidakseimbangan elektrolit, perubahan pola
       hidup, ketergantungan dialisis, kelelahan kronis, perubahan
       gambaran diri, masalah pekerjaan dan perubahan peran
       ditandai dengan ekspresi wajah murung, sering bertanya
       mengenai penyakitnya, emosi labil
Perencanaan :
 Tujuan  Terjadi konsep diri yang positif setelah dilakukan asuhan keperawatan
  selama beberapa hari / minggu.
 Kriteri hasil :
        Klien berfikir positif tentang dirinya
        Barpartisipasi saat pengobatan
        Ekspresi wajah tenang / tidak murung
        Emosi stabil
   Rencana tindakan :
        Kaji tingkat gangguan kemampuan berfikir, memori dan orientasi, perhatikan lapang perhatian.
        Pastikan tingkat mental klien
        Berikan informasi tentang status klien pada orang terdekat
        Berikang lingkungan yang tenang
        Orientasikan kembali terhadap lingkungan, orang, waktu
        Beri kesempatan pada klien untuk mendiskusikan bagaimana klien dapat menerima perubahan dalam
         kehidupanya, dan mencari solusi dengan keluarga.
        Adakan pertemuan sesama pasien yang kondisinya stabil untuk mendapat support.
        Konsultasi dengan psikolog Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
  Awasi pemeriksaan
 ASKEP PERKEMIHAN                             2011
                              laborat BUN, creatinin, elektrolit, kadar gula darah, AGD       30
8. Resiko tinggi penurunan curah jantung
   berhubungan dengan ketidakseimbangan volume
   cairan, ketidak seimbangan elektrolit, hipoksia,
   akumulasi toksin.
Perencanaan :
 Tujuan  Tidak terjadi penuruan curah jantung setelah
  dilakukan asuhan keperawatan selama ---- hari / minggu.
 Kriteria hasil :
       Tensi stabil
       EKG normal
   Rencana tindakan:
       Awasi TD dan frekwensi jantung
     Observasi EKG untuk perubahan irama
     Auskultasi bunyi jantung
     Kaji warna kulit, membran mukosa dan dasar kuku
     Perhatikan terjadinya nadi lambat, hipotensi, mual, muntah dan
        penurunan kesadaran
                          Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN obat sesuai indikasi2011                         31
     Berikan                            (kolaborasi dokter)
    9. Resiko tinggi injury fraktur berhubungan dengan
       gangguan absorbsi kalsium dan pengeluaran
       fosfat, perubahan metabolisme vitamin D.
Perencanaan :
 Tujuan  Tidak terjadi fraktur setelah dilakukan asuhan keperawatan
  selama --- hari / minggu.
 Kriteria hasil :
        Tidak ada tanda-tanda fraktur pada tulang
        Klien tidak mengeluhkan nyeri pada tulang
        Kadar kalsium darah > 8 mg/dL
   Rencana tindakan:
        Kaji adanya hipokalsemia, peningkatan fosfat, nyeri otot, serta kekakuan sendi
         untuk mengetahui kemungkinan resiko injuri
        Observasi adanya nyeri tulang sebagai indikasi kerusakan tulang
        Lakukan ROM dan dorong klien untuk ambularsi untuk aktifitas osteoblas
        Berikan lingkungan yang nyaman untuk mengurangi resiko kecelakaan
        Berikan suplemen kalsium, vit D, dan pengikat fosfat (kolaborasi dokter)

                                Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
    ASKEP PERKEMIHAN                          2011                                32
Prioritas Keperawatan GGK secara
umum adalah :
     Mempertahankan homeostasis
     Mencegah komplikasi
     Memberikan informasi
     mendukung keputusan klien terhadap
      perubahan gaya hidup.



                   Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                    33
                   Sam,S.kep,Ns-Akaper Pemda -Tolitoli
ASKEP PERKEMIHAN                 2011                    34

								
To top