Docstoc

UJI KOMPREHENSIF

Document Sample
UJI KOMPREHENSIF Powered By Docstoc
					         Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                        Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094




1. Ada beberapa teori belajar yang sering digunakan dalam proses pembelajaran, antara
lain teori konstruktif kognitif (Peaget), teori behavioristik (B.F. Skiner), teori kognitif
social (Bruner) dan lain-lain. Jelaskan secara singkat isi salah satu teori belajar yang anda
ketahui secara singkat tetapi jelas.


JAWAB :


 Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh respon-respon individu akibat adanya
latihan khusus.


Menurut teori behavioristik (B.F. Skinner) mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses
adaptasi dalam melakukan penyesuaian khususnya tingkah laku yang berlangsung secara
progresif (“….process of progressive behavior adaptation”)


Berikan contoh penerapan teori belajar tersebut dalam pengajaran anak berkebutuhan
khusus.


JAWAB :




                                                                                           1
          Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                         Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



Penerapan teori behavioristik ini dapat dilakukan contohnya pada anak berkebutuhan
khusus ( pada anak dengan hambatan kecerdasan ) guru hendak melakukan pembelajaran
mengenai aktifitas sehari-hari contohnya melakukan aktifitas makan (sendiri) dengan baik
dan benar maka guru perlu melakukan pengelolaan terhadap siswa, ruang, materi, media
dan evaluasi belajar sehingga siswa dapat melakukan adaptasi / penyesuaian terhadap
tujuan yang hendak dicapai oleg guru (dalam hal ini siswa dapat melakukan aktifitas
makan sendiri) melalui kegiatan praktek makan saat KBM berlangsung dan kegiatan ini
bisa dilakukan secara berulang (3-5 pertemuan atau berdasarkan assessment guru mengenai
kemampuan siswa itu secara khusus) sampai siswa dapat menyesuaikan diri sehingga
target pembelajaran yaitu anak dapat makan sendiri dengan baik dan benar dapat tercapai.
Didapatkan evaluasi bahwa siswa mengalami perubahan dari kondisi sebelumnya belum
dapat makan dengan baik dan benar menjadi bisa makan sendiri dengan baik dan benar
dengan urutan sebagai berikut :
         1. Lingkungan belajar yang terstruktur

         Penataan lingkungan belajar yang terbebas dari stimulus yang dapat mengganggu
         siswa.

         2. Tingkah laku yang dapat diobservasi

         3. Penguatan kembali (reinforcement)

         4. Analisis Tugas

         Pekerjaan dipenggal menjadi satuan-satuan pekerjaan yang lebih kecil

2. Pendidikan bagi penyandang cacat telah berkembang dari pendidikan luar biasa atau
pendidikan khusus (special education) menjadi pendidikan kebutuhan khusus (special
needs education)

a. Jelaskan secara konseptual perbedaan pendidikan khusus dengan pendidikan kebutuhan
khusus




                                                                                         2
            Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                           Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



JAWAB :

Pendidikan khusus : mendefinisikan istilah khusus ini sebagai istilah adanya suatu
kebutuhan belajar yang umum saja seperti, kebutuhan untuk dapat memahami apa yang
dikatakan guru, untuk dapat mengakses bahan bacaan, untuk dapat masuk ke dalam
bangunan sekolah. Kemudian juga pendidikan khusus ini melakukan pengelompokan anak
secara terpisah yang memiliki ‘kebutuhan pendidikan khusus’ dan seringkali disebut ‘anak
berkebutuhan khusus’. Pada intinya pendidikan khusus ini mendefinisikan keseluruhan
individu anak berdasarkan kecacatannya dan mengelompokkannya berdasarkan
kecacatannya itu. Pendidikan luar biasa berarti pembelajaran yang dirancang secara
khusus untuk memenuhi kebutuhan yang unik dari anak dengan kelainan

Pendidikan kebutuhan khusus :

Memberikan layanan pendidikan bagi anak berdasarkan kebutuhannya dengan melakukan
penyesuaian metode, strategi, media dll, dengan cara menyediakan lingkungan yang
kondusif dari dalam dan luar sehingga anak dapat mengalami proses belajar sesuai dengan
kebutuhan dengan menghargai kekuatan dan kharakteristik yang dimilikinya.

b. Bagaimanakah hubungan antara pendidikan kebutuhan khusus dengan pendidikan
inklusif?

JAWAB : bahwa anak-anak itu berbeda dan mereka layak mendapatkan pendidikan(
pendidikan kebutuhan khusus) sesuai dengan kebutuhan dan kharakteristiknya tanpa
dibeda-bedakan (pendidikan inklusif).

c. Dalam paradigm pendidikan kebutuhan khusus, memandang siswa atas dasar kebutuhan
dan hambatan sangat penting. Bagaimanakah kebutuhan khusus dapat diklasifikasikan?

JAWAB :

Klasifikasi dilakukan berdasarkan ‘disabilitiesnya’ antara lain sebagai berikut:

   1. Kesulitan belajar khusus
   2. Hambatan bicara dan berbahasa


                                                                                          3
        Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                       Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



   3. Terbelakang mental
   4. Gangguan emosi yang serius
   5. Hambatan pendengaran
   6. Hambatan/tuna ganda
   7. Hambatan fisik
   8. Hambatan kesehatan lainnya
   9. Hambatan penglihatan
   10. Hambatan penglihatan
   11. Hambatan prilaku

3. Menurut Lowenfeld, akibat ketunanetraan dapat menimbulkan 3 keterbatasan dasar yaitu
keterbatasan dalam variasi dan jenis pengalaman, keterbatasan dalam kontak dengan
lingkungan dan keterbatasan dalam bergerak (MOBILITAS).             Atas keterbatasan itu
Lowenfeld juga mengajukan tiga prinsip dasar untuk mengajar tunanetra. Sebutkan tiga
prinsip dasar tersebut dan berikan contoh penerapannya.

JAWAB ;

       Pembelajaran khusus yang sesuai dengan kebutuhan siswa adalah tentang apa yang
       diajarkan, prinsip-prinsip tentang metoda khusus yang ditawarkan dalam konteks
       bagaimana pembelajaran tersebut disediakan, dan yang terakhir adalah tempat
       pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak dimana pembelajaran akan
       dilakukan.

Contoh penerapannya : guru umum biasanya menekankan pembelajaran melalui saluran
visual dilakukan melaui tiga metode khusus menurut LOWENFELD beserta contohnya:

   1. Memberikan Pengalaman Nyata.

              Guru perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari
              lingkungannya melalui eksplorasi perabaan tentang situasi dan benda-benda
              yang ada di sekitarnya selain melalui indera-indera yang lainnya. Bagi


                                                                                       4
        Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                       Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



               siswa yang masih mempunyai sisa penglihatan (low vision), aktifitas seperti
               itu merupakan tambahan dari eksplorasi visual yang dilakukan. Kalau
               benda-benda nyata tidak tersedia, bisa dipergunakan model.

   2. Memberikan Pengalaman Menyatukan .

               Karena ketunanetraan menimbulkan keterbatasan kemampuan untuk
               melihat keseluruhan dari suatu benda atau kejadian, guru hendaknya
               memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyatukan bagian-bagian
               menjadi satu kesatuan yang utuh. Mempegunakan pembelajaran gabungan,
               dimana siswa belajar menghubungkan antara mata pelajaran akademis
               dengan pengalaman kehidupan nyata, merupakan suatu cara yang bagus
               untuk memberikan pengalaman menyatukan.

   3. Memberikan kesempatan pada siswa Belajar sambil Bekerja.

               Guru hendaknya memberi kesempatan kepada siswa tunanetra untuk
               mempelajari suatu keterampilan dengan melakukan dan mempraktekan
               keterampilan tersebut. Banyak bidang yang terdapat dalam kurikulum inti
               yang diperluas, misalnya orientasi dan mobilitas, dapat diperlajari dengan
               mudah oleh tunanetra apabila mempergunakan pendekatan belajar sambil
               bekerja ini.

Dengan demikian apakah dia tunanetra atau bukan, akan mendapatkan keuntungan dari
pembelajaran    yang   berdasar   pada   tiga   prinsip   metoda   khusus    tersebut,   dan
mempergunakan metoda pembelajaran seperti itu dapat membantu siswa untuk belajar
membuat suatu konsep dari suatu pola umum.

4. Jelaskan dengan singkat perbedaan antara strategi pembelajaran komparatif. Kooperatif,
dan individualisasi pembelajaran dikaji dari aspek-aspek perkembangan:




                                                                                           5
           Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                          Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



                    Kognitif             Emosi                Sosial             Motorik
Pembelajaran        Melakukan            Perbandingan         Siswa       akan Bla            proses
Komparatif          perbandingan         antara      siswa menganggap            belajar mengajar
                    terhadap       hasil satu       dengan teman sebagai disetting dalam
                    belajar      siswa yang            lain lawan       belajar aktifitas
                    untuk      memacu mungkin         akan untuk                 bergerak       atau
                    siswa          yang memicu       emosi mendapatkan           menggunakan
                    kurang      bagus yang          positif hasil maximal        aspek      motorik
                    dengan         yang maupun negatif,                          maka         siswa
                    bagus     hasilnya. bila        positif                      yang baik secara
                    Siswa          satu kemungkinan                              fisik         akan
                    dengan yang lain siswa            akan                       diuntungkan
                    diperbandingkam berusaha          lebih                      karena
                    kemampuan            baik tetapi bila                        memperoleh
                    kognitifnya.         negatif                                 hasil yang lebih
                                         kemungkinan                             baik       daripada
                                         siswa        akan                       siswa         yang
                                         frustasi   karena                       memiliki
                                         ketidak                                 hambatan fisi.
                                         mampuannya
                                         mengikuti siswa
                                         yang labih baik
                                         hasil belajarnya.
Strategi            Secara Kognitif Siswa           terjaga Siswa mampu Semua                 siswa
Pembelajaran        anak       mampu emosinya                 menjadi            berusaha
Kooperatif          belajar         dan karena      kondisi teman/partner        mendapatkan
                    mengungkapkan        dan        situasi yang baik bagi hasil               yang
                    kebutuhan sesuai belajar                  siswa yang lain terbaik meskipin
                    dengan               mengakomodasi                           ada     perbedaan



                                                                                                  6
           Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                          Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



                    kemampuannya,        kebutuhannya                              dalam hal aspek
                                         tanpa                                     motorik.
                                         diperbandingkan
                                         dengan       siswa
                                         lain
Strategi            Secara kognitif, Emosi             anak Siswa         kurang Kualitas
Pembelajaran        kebutuhan anak lebih            mudah memiliki                 kemampuan
Individualisasi terakomodasi             dikendalikan         kesempatan           motoriknya
                    oleh          karena pada          saat melakukan              diperbandingkan
                    pembelajaran         menghadapi           interaksi            dengan dirinya
                    ditoleransi          konflik      dalam dengan teman sendiri ( mula-
                    berdasarkan          proses               dalam                mula-----setelah
                    assesmen             pembelajaran         bereksplorasi        proses KBM)
                    individual           tetapi     kurang oleh           karena
                                         eksplorasi           kebutuhannnya
                                         nantinya      saat terakomodasi
                                         berada       dalam secara
                                         situasi              individual
                                         klas/group




5. Apa yang dimaksud dengan strategi visual, mengapa strategi visual perlu digunakan dan
siapa saja yang efektif diajar dengan menggunakan strategi visual, terutam dikaji dari
aspek hambatan komunikasi dan interaksi! Jelaskan dengan menggunakan salah satu
contoh ABK yang mengalami hambatan komunikasi dan interaksi.

JAWAB :

STRATEGI VISUAL : strategi yang di pakai untuk mengakomodasi suatu proses
pembelajaran dengan menggunakan media visual sehingga tercapai target pembelajaran


                                                                                                  7
         Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                        Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



(dalam hal ini bagi anak yang mengalami hambatan dalam komunikasi dan interaksi
strategi visual bisa dipakai menjadi cara untuk mengungkapkan keinginan/pemikiran yang
tidak bisa tersampaikan lewat kata-kata/bicara)

Mereka yang efektif menggunakan strategi visual ini antara lain anak tuna rungu atau anak
autis yang jelas mereka mengalami hambatan dalam interaksi dan komunikasi dengan
orang lain)

K adalah anak autis yang mengalami kesulitan dalam berinteraksi dan berkomunikasi
dengan siapa saja meskipun dia tahu apa yang dia inginkan tetapi karena K belum bisa
bicara dan prilaku khas autis ( terkadang dipandang aneh bagi anak lain/orang lain)
membuat K sering frustasi karena banyak hal menjadi tidsak tersampaikan ataupun
terekplorasi oleh karena hambatan tersebut,         penggunaan media gambar/Card yang
mewakili keinginan untuk melakukan kegiatan atau ekplore pemikirannya akan
memudahkan K melakukan interaksi dan komunikasi pada pihak lain dengan sederhana,
jelas dan tersampaikan (tentunya dengan mendesain kartu gambar yang tepat sesuai dengan
assesmen yang telah dilakukan sebelumnya)

6. Deskripsikan 7 daya lenting (Resiliensi)yang merupakan kapasitas berbeda yang bisa
meningkatkan daya lenting untuk memodifikasi prilaku yang sesuai dengan kondisi
lingkungannya dan jelaskan dengan singkat strategi merubah prilaku yang nakal dan tidak
disiplin menjadi prilaku yang adaptif dan berprestasi sesuai dengan potendinya
sebagaimana diterapkan dalam film Ron Clark

1. Regulasi emosi.: terampil dalam mengatur emosi.

2. Kendali impuls ; kenali diri dan tidak terpaku pada satu potensi diri

3. Analisis : kemampuan menjelaskan hal yang menimpa kita sehingga tidak terjebak pada
pikiran buruk

4. Optimisme :percaya diri dalam mencapai harapan dan keinginan dan mengendalikan ke
masa depan


                                                                                       8
         Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                        Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



5. Empati : memahami orang lain sehingga mereka interest terhadap kita

6. Kecukupan diri yang optimal. Yakin akan keefektifan diri

7. Menggapai cita.Yakin tercapainya harapan dengan potensi yang ada.

Dalam film Ron Clark memperlihatkan 7 daya lenting diatas diterapkan oleh Ron Clark
untuk membimbing siswa-siswanya yang “luar biasa” prilakunya dan ditengarai dengan
prestasi siswa yang memprihatinkan dan pada akhirnya siswa-siswa menemukan arti
belajar dan harapan serta cita-cita yang seharusnya menjadi pandangan mereka sebagai
anak sekolah melalui bimbingan dan proses pembelajaran yang panjang dan dalam namun
relaks memberikan hasil akhir yang positif bagi siswa dan Ron Clark meski “harga” yang
harus dibayar begitu mahal.(melewati berbagai tekanan dan konflik)

7. Perbedaan Persepsi Visual Memory dan Persepsi Visual Discrimination

PERSEPSI VISUAL MEMORY : kemampuan penglihatan untuk menyimpan data dari apa
yang dilihat dan dipersepsikannya.

PERSEPSI      VISUAL      DISCRIMINATION          :kemampuan     penglihatan/visual    untuk
melakukan persepsi (interpretasi) terhadap objek yang dilihat apakah itu kasar, halus, berat,
ringan, lunak, keras, panas, dingin dll

Kesulitan belajar yang bisa terjadi pada anak yang mengalami hambatan diatas adalah
kesulitan dalam melakukan pengukuran (matematika ) kemudian juga mengalami kesulitan
dalam membaca dan menulis.

Intervensi pembelajaran

Intervensi Pembelajaran dilakukan dengan melakukan assesmen terlebih dahulu untuk
melihat kemampuan dan ketidak mampuannya setelah itu secara khusus disusun program
dan target serta penggunaan media dan metode yang sesuai bagi siswa tersebut dengan tak
lupa melakukan evaluasi secara spesifik terhadap ketercapaian hasil intervensi.




                                                                                           9
         Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                        Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



Misalnya : latihan mengingat gambar (gunakan kartu-kartu gambar), mengingat
huruf,angka ataupun mengingat kata dll, siswa diperlihatkan 5 gambar kemudian kita
sembunyikan lalu kita minta sisw3a mengulang 5 gambar itu kembali. Latihan menebak
teksture obyek yang kita perlihatkan (objek lebih dari satu) kemudian siswa kita minta
menutup matanya dan mengulang teksture yang dirabanya.

8. a. Konsep teori

               Perkembangan pada seorang anak : terjadinya perubahan yang besifat terus
       nenerus dari keadaan sederhana ke keadaan yang lebih lengkap, lebih kompleks dan
       lebih berdiferensiasi Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam
       struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat
       diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya
       proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ
       yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi
       fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku
       sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.

.

Piaget yakin bahwa proses-proses penting untuk membangun pengetahuan tentang dunia
meliputi skema, adaptasi yang terdiri dari asimiasi dan akomodasi, organisasi,
keseimbangan dan penyeimbangan.

Tahapan Piaget berhubungan dengan usia anak yang bersangkutan dan terdiri atas cara-
cara pemikiran yang unik. Piaget yakin ada empat tahapan perkembangan kognitif , yaitu
sensori-motor, pra-operasional, operasional konkret dan operasional formal. Berikut ini
adalah tahap-tahap perkembangan menurut Piaget.



       a. Tahap Sensori Motor




                                                                                        10
 Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



   Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga
dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui
diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama
dari empat periode



b. Tahap Pra-operasional (2-7 tahun)
   Pada periode pra-operasional atau pada taraf yang lebih tinggi, menunjukkan
kemampuan untuk menimbulkan secara internal suatu aspek dari dunia yang secara
perseptual tidak hadir dan dapat mengenal atau mengetahui bahwa mereka
melakukan hal tersebut. Piaget menyebutkan sebagai fungsi simbolik.
   Mereka telah memusatkan perhatian pada salah satu aspek dari stimulus tetapi
gagal untuk mengoprasikan perubahan dimensi ini dengan turut memperhitungkan
perubahan dalam dimensi lain. Keterbatasan lain dalam periode ini adalah
kenyataan bahwa anak tidak melaksanakan penalaran secara rasional. Penalaran
pada periode pra-operasional ini berlatih dari yang bersifat khusus ke sifat yang
lainnya dan tidak bergerak bolak-balik. Perbedaan utama pemikiran antara pra-
operasional dan sensoris motorik terletak pada kenyataan bahwa bentuk-bentuk
pemikiran tersebut diinternalisasi sikap dan bersifat representasional.


c. Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun)

Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam
sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang
memadai.



d. Tahap Operasional Formal (11- dewasa)

   Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam
   teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat


                                                                               11
        Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                       Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



          pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah
          diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis,
          dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini,
          seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak
          melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada
          "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul
          saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai
          masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral,
          perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial.Beberapa orang tidak
          sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak
          mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap
          menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

Implikasinya : dengan mengetahui dan memahami hal tersebut diatas akan membantu kita
menemukan kebutuhan anak secara spesifik karena perkembangan merupakan prasyarat
untuk bisa belajar. Kematangan yang dicapai dalam perkembangan akan member
kontribusi/pengaruh besar dalam belajar. Misalnya seorang anak tidak mungkin akan bisa
belajar bahasa dan bicara jika belum mencapai kesiapan (kematangan), meskipun
lingkungan diciptakan sedemikian rupa agar anak dapat belajar bahasa dan bicara. Juga,
bahwa perkembangan merupakan hasil belajar. Artinya perubahan yang terjadi pada diri
seorang anak diperoleh melalui proses interaksi dengan lingkungannya. Misalnya
meskipun setiap anak memiliki potensi untuk belajar bahasa dan bicara dan telah mencapai
kematangan untuk siap belajar, tetapi anak tersebut sama sekali tidak mendapatkan
rangsangan dari luar (lingkungan) untuk belajar, maka anak itu tidak akan memperoleh
keterampilan                                                                     berbahasa.
Hal ini mengimplikasikan jika seorang anak mengalami hambatan dalam mencapai
kematangan perkembangan karena ada gangguan pada aspek fisik atau kognitif atau sosial-
emosional maka dapat dipastikan akan mengalami hambatan belajar, dan anak yang
mengalami hambatan belajar akan mengalami hambatan perkembangan. Anak yang




                                                                                        12
          Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                         Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



mengalami hambatan belajar dan atau hambatan perkembangan, memerlukan layanan
khusus dalam pendidikan dan disebut anak berkebutuhan khusus

b. Fungsi dan tujuan: memahami teori perkembangan dan mengenali kebutuhan anak
sesuai dengan tahap perkembangannya.

c.Berk Teori : terjadinya perubahan yang besifat terus nenerus dari keadaan sederhana ke
keadaan yang lebih lengkap, lebih kompleks dan lebih berdiferensiasi

Penerapannya :      Berdasarkan hasil asesmen akan memberikan gambaran yang jelas
mengenai hambatan belajar setiap anak. Berdasarkan data hasil asesmen itulah
pembelajaran akan dilakukan. Tidak akan terjadi dua orang anak yang mempunyai
kebutuhan khusus/kecacatan yang sama, memiliki hambatan belajar, hambatan
perkembangan dan kebutuhan yang persis sama. Oleh karena itu pendidikan kebutuhan
khusus     difokuskan    untuk   membantu      menghilangkan      atau   sekurang-kurangnya
meminimalkan hambatan belajar dan hambatan perkembangan sebagai akibat dari kondisi
yang dialami oleh setiap anak secara individual. Inilah yang disebut dengan pembelajaran
yang berpusat kepada anak (child center approach).

9. Strategi implementasi pendidikan inklusif di Indonesia sedang dan masih terus
berkembang. Adanya perbedaan pengetahuan dan pamahaman mengenai pendidikan
inklusif di Indonesia yang menjadikan implementasi perlu terus di berikan/di
sebarluaskan/ditanamkan secara homogeny/pengertiannya sehingga tidak terjadi makna
berbada dalam implementasi saru dengan yang lain sehingga tujuan /goal yang ingin
dicapai dalam pendidikan inklusif ini lebih optimal.

Jika sekedar melakukan penempatan ABK ke sekolah regular, hal –hal dibawah ini
kemungkinan besar bisa terjadi. (mirip integrasi school)

        Fokusnya masih pada individu anak, bukan pada sistem. Anak dipandang sebagai
         masalah dan harus ‘disiapkan’ untuk integrasi, bukan sekolahnya yang disiapkan.
        Integrasi sering hanya mengacu pada proses geografis - memindahkan anak secara
         fisik ke sekolah reguler. Integrasi mengabaikan masalah-masalah seperti apakah
         anak benar-benar belajar, diterima atau dilibatkan dalam kegiatan kelasnya.


                                                                                        13
        Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                       Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094



      Sebagian besar sumber daya dan metode difokuskan pada individu anak, bukan
       pada keterampilan guru atau sistemnya.
      Anak yang ‘diintegrasikan’ akan dibiarkan untuk mengatasi sendiri sistem sekolah
       reguler yang kaku tanpa dukungan atau akan memperoleh perhatian khusus yang
       memisahkannya dari teman-teman sekelasnya.
      Jika anak putus sekolah, tinggal kelas bertahun-tahun, atau terasing, maka ini
       semua dianggap sebagai kesalahan anak itu sendiri; ‘dia tidak dapat mengikuti
       kurikulum, tidak dapat berjalan sendiri ke sekolah, tidak tahan terhadap komentar
       anak-anak lain’.
      Integrasi biasanya terfokus pada sekelompok anak tertentu, seperti mereka yang
       memiliki kecacatan ringan, dan tidak akan memandang bahwa semua anak dapat
       diintegrasikan.
      Walaupun didasarkan pada konsep yang serupa dengan pendidikan luar biasa yang
       segregatif, pendidikan integrasi pada prakteknya sering dipandang sebagai perintis
       jalan menuju inklusi dan dapat mengarah pada perubahan sistem.


10. Anak yang memiliki kecerdasan sangat tinggi (IQ>130) tidak bisa selalu dikategorikan
sebagai anak berbakat oleh karena:

   a. Berdasarkan teori Renzulli
       Renzulli (1996) mengemukakan bahwa keberbakatan mencakup tiga dimensi yang
       terkait: (1) kemampuan di atas rata-rata, (2) motivasi atau komitmen terhadap
       tugas, dan (3) kreativitas,, yang merupakan kemampuan kapasitas untuk inovasi,
       originalitas, ekspresi, dan imajinasi sera kemampuan untuk mengolah gagasan-
       gagasan dengan lancar, fleksibel, terperinci dan orisinil.
                  Kemampuan diatas rata-rata   Motivasi         Komitmen




       Keberbakatan memenuhi 3 area



                                                                                      14
    Ujian Komprehensif. Sekolah Pascasarjana prodi Pendikikan kebutuhan Khusus.
                   Nama : Anik Dwi Hiremawati NIM : 0808094




   Ini berarti bila anak tersebut hanya memenuhi 1 kriteria diatas atau 2 saja maka
   anak tersebut tidak bisa dikatakan sebagai anak berbakat.
b. Berdasarkan teori Piaget
   Anak melewati satu stage (setelah melewati/melakukan penguasaan aspek-aspek
   perkembangannya) ke stage yang lain dari stage sebelumnya membuat anak
   menjadi matang atau mature. Jadi meskipun anak tersebut memiliki IQ yang cukup
   tinggi 130 lebih namun didapati banyak aspek perkembangan yang seharusnya
   dikuasai diabaikan/diloncati begitu saja maka ada ketidakoptimalan yang dicapai
   oleh anak tersebut dan tentu saja anak tersebut tidak termasuk katagori anak
   berbakat,




                                                                                  15

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:156
posted:2/29/2012
language:Malay
pages:15