1996 09 02 SISTEM USAHA TANI BELUM DUKUNG PENINGKATAN DAYA by GKartasasmita

VIEWS: 5 PAGES: 2

									PUSAT INFORMASI KOMPAS
Palmerah Selatan 26 - 28 Jakarta, 10270
Telp. 5347710, 5347720, 5347730, 5302200
Fax. 5347743
=============================================

KOMPAS Senin, 02-09-1996. Halaman: 2



      SISTEM USAHA TANI BELUM DUKUNG PENINGKATAN DAYA
 SAING
Bogor, Kompas
  Sistem usaha tani yang berkembang sampai saat ini masih belum
mendukung peningkatan daya saing. Sebagian besar petani di Indonesia
adalah petani gurem dengan luas lahan rata-rata kurang dari 0,5 hektar
(ha). Bahkan, sektor pertanian juga didominasi usaha tani berskala
kecil dengan rata-rata lahan seluas 0,9 ha.
  "Para petani atau pekerja di sektor ini pada umumnya berpendidikan
rendah, yaitu sekitar 90 persen maksimal hanya tamat sekolah dasar
(SD)," ujar Menneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas
Ginandjar Kartasasmita. Ia mengemukakan ini pada kuliah umum dalam
rangka Dies Natalis ke-33 Institut Pertanian Bogor (IPB) di Bogor,
Sabtu (31/8).
  Sektor pertanian yang dibangun pada PJP I, jelas Ginandjar, pada
hakikatnya suatu pertanian yang mengambil manfaat dari lingkungan yang
sudah siap. Budi daya padi mudah kita kembangkan, karena sudah siap
dengan sawah yang sudah menyatu dengan budaya masyarakat, terutama
masyarakat Jawa," katanya.
  Dikemukakan, dengan kondisi tersebut serta ketersediaan sumber
daya yang makin terbatas, tidak mungkin melanjutkan pembangunan
pertanian tanpa melakukan perubahan dalam sistemnya. Untuk mencapai
swasembada pangan sampai akhir Pelita VI, diperlukan tambahan luas
panen padi lebih dari satu juta ha. Dapat dibayangkan berapa luas
lahan yang harus dikembangkan untuk pertanian pangan pada tahun-tahun
seterusnya, bila sistem pertanian tergantung pada cara lama.
  "Untuk itu, reformasi pertanian merupakan keharusan dalam memasuki
abad ke-21. Salah satu pendekatan yang patut dipertimbangkan,
membangun sistem pertanian yang bernafaskan industri. Dalam sistem
ini, tradisi dan pranata kehidupan masyarakat dilandasi budaya
industrial," ujarnya.
Pertanian industri
  Menurut Ginandjar, pertanian industri merupakan paradigma baru
dalam pembangunan pertanian. Keberhasilan penerapan pola pertanian
industri antara lain ditunjukkan Thailand. Nilai ekspor hasil
pertanian negara itu pada kurun waktu 1984-1994 meningkat rata-rata
7,7 persen per tahun. Sedangkan nilai ekspor hasil pertanian Indonesia
rata-rata hanya naik 4,7 persen per tahun.
  Dalam dunia hortikultura, rata-rata ekspor buah-buahan Indonesia
hanya sekitar dua persen dari total produksi, sedangkan Malaysia 15
persen dan Thailand sekitar 22 persen dari total produksi. "Mungkin
hal itu disebabkan konsumsi dalam negeri Indonesia yang besar,
sehingga ekspornya kecil. Namun mungkin juga ada sebab lain yang perlu
kita teliti lebih dalam," ujarnya.
  Ginandjar mengungkapkan kekhawatirannya dalam ekspor-impor
beberapa komoditas pangan. Pada periode Januari-Desember 1995, volume

neto ekspor beras minus 1,81 juta ton, jagung minus 0,89 juta ton.
Defisit perdagangan untuk kelompok padi-padian dan umbi-umbian
mencapai 6,95 juta ton atau senilai 1,5 milyar dollar AS.
  Indikator ekspor-impor tersebut, sambung Ginandjar, penting dalam
mengembangkan strategi pertanian di masa depan. Salah satu
keberhasilan Thailand, adalah adanya orientasi ekspor komoditas
pertanian sehingga membangkitkan sistem intensif yang kuat. Ini
mendorong alokasi sumber daya secara efisien, serta terbentuknya
lembaga pemasaran yang efisien dan dinamis.
  Untuk mewujudkan pertanian industri melalui industrialisasi
pedesaan, menurut Ginandjar diperlukan adanya pendidikan dan latihan,
teknologi pertanian, dan faktor kelembagaan. Tradisi pertanian kita
harus diubah, dari tradisi mengikuti pola alam menjadi tradisi bekerja
sama dengan alam melalui rekayasa bioteknologi dan sosial untuk
kehidupan manusia. (gun)

								
To top