Docstoc

1993 04 12 DANAU KAWAH GALUNGGUNG

Document Sample
1993 04 12 DANAU KAWAH GALUNGGUNG Powered By Docstoc
					PUSAT INFORMASI KOMPAS
Palmerah Selatan 26 - 28 Jakarta, 10270
Telp. 5347710, 5347720, 5347730, 5302200
Fax. 5347743
=============================================

KOMPAS Senin, 12-04-1993. Halaman: 13



             DANAU KAWAH GALUNGGUNG
            ANCAM DAERAH DI BAWAHNYA
Tasikmalaya, Kompas
  Gunung Galunggung di Kabupaten Tasikmalaya, Jabar yang
meletus medio April 1982 kini meninggalkan masalah yang sangat
mengkhawatirkan yakni berubahnya kawah di puncak gunung menjadi
danau. Pada Maret 1993 ini volumenya hampir 10 juta meter kubik,
sementara dinding kawah tenggara yang membawahi permukiman penduduk

kondisinya labil karena terbuat oleh letusan.
   Sementara itu 3 km di bawah kawah, kini sudah dibuka kembali
obyek wisata Cipanas dan wana wisata Galunggung. Kehidupan penduduk
sudah kembali ke asal yakni bertanam padi dan kolam sehingga mereka
bermukim kembali di kawasan itu. Demikian data yang dihimpun Kompas
dari Proyek Gunung Galunggung di Tasikmalaya Sabtu (10/4) lalu.
Masalah ini sudah dilaporkan Wakil Bupati Tasikmalaya Drs Oman
Rusman kepada Meneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bapenna
s
Ir Drs Ginandjar Kartasasmita di Tasikmalaya akhir Maret lalu.
   Berdasarkan preliminary studi yang dilakukan JICA, Jepang tahun
1988, dinding kawah yang berbentuk batuan vulkanik breksi tua hanya
sampai pada ketinggian 1.125 meter. Selebihnya yakni dinding kawah
lebih atas terdiri dari vulkanik muda hasil letusan 1982. Sementara
tinggi permukaan air di puncak gunung tersebut sudah mencapai
1.111,37 meter. Dengan musim hujan yang durasinya panjang dan
intensitasnya tinggi belakangan ini tinggi permukaan kawah itu
terus naik.
   Bila permukaan air mencapai batuan vulkanik muda diperkirakan
dinding kawah itu tidak akan mampu menahan desakan air. Dan bila hal
itu terjadi bencana besar diperkirakan bakal terjadi sebab air bah
akan tumpah menyapu perkampungan penduduk di bawahnya. Selain itu
bila kawah berisi jutaan meter kubik air akan sangat membahayakan
bila gunung itu meletus kembali.

Cairan panas
   Direktorat Vulkanologi memperkirakan, bila gunung meletus
kembali dan kawahnya berisi air akan menyemburkan cairan panas
sejauh 30 km. Jarak puncak Galunggung dengan kota Tasikmalaya hanya
20 km dan permukiman penduduk sudah ada sejak radius 5 km dari
puncak gunung. Letusan gunung ini sulit diprediksi sebab interval
waktu letusan yang sudah terjadi tidak tetap. Galunggung pertama
meletus 1822, disusul letusan kedua 1894, kemudian 1918 dan terakhir
April 1982 dengan siklus letusan selama enam bulan.
   Sementara itu Pinpro Perbaikan Sungai Jabar Ir Didi Mulyadi
yang didampingi Kepala Proyek Galunggung Ir Ahmad Hidayat
menjelaskan, dari hasil studi JICA disimpulkan, untuk mengendalikan
vulome kawah itu perlu dibuat terowongan sepanjang 648 meter
diameter 2,1 meter. Dengan dana APBN tahun 1993/1994 ini segera
dibuat detail design pembuang air kawah itu. Air yang terbuang
nantinya bisa dimanfaatkan untuk irigasi.
   "Setelah detail design diharapkan bisa dilanjutkan dengan
pembuatan kontruksinya," tambah Ahmad Hidayat. Biaya kontruksi
untuk terowongan bertingkat (horizontal dan vertikal) itu berdasarkan
perhitungan 1987 mencapai Rp 5,4 milyar. Bila dibangun seluruhnya
lengkap dengan bangunan sabo seperti cekdam dan tanggul, akan
menghabiskan dana Rp 96 milyar.
   Daerah bahaya Galunggung yang terdiri dari 10 desa di Kecamatan
Indihiang dan Leuwisari kini sudah dihuni oleh ribuan penduduk.
Mereka sudah kembali mengolah sawah dan kolam setelah menggali lahan
pertanian itu dari timbunan pasir. Pemda Tasikmalaya mengharapkan SK
Mendagri yang menyatakan daerah itu bahaya ditinjau kembali dan
diperinci per kampung. Sebab tidak semua desa yang tergolong bahaya
itu berada di daerah aliran lahar. (dmu)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5
posted:2/29/2012
language:Malay
pages:2