Judul Pengaruh Senam Hamil Terhadap Lama Persalinan Kala II

Document Sample
Judul Pengaruh Senam Hamil Terhadap Lama Persalinan Kala II Powered By Docstoc
					                                                                              1




A. Judul
   Pengaruh Senam Hamil Terhadap Lama Persalinan Kala II Pada Ibu
   Primigravida di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Maleber
   Kabupaten Kuningan

B. Latar Belakang Masalah
         Pelayanan kesehatan merupakan salah satu masalah besar yang dihadapi
   pemerintah karena angka kematian ibu melahirkan masih sangat tinggi, yaitu
   sekitar 291/100.000 kelahiran hidup. Itu berarti setiap tahun 13.778 kematian
   ibu atau setiap 2 jam ada ibu hamil, bersalin, nifas yang meninggal karena
   berbagai penyakit (WHO, 2000). Hasil studi yang dilakukan Senewe (2003)
   menunjukkan bahwa dari 23,5% responden yang mengalami komplikasi pada
   waktu persalinan, menunjukkan komplikasi terbesar adalah partus lama
   (15,4%).
         Di dalam Rencana Nasional Making Pregnancy Safer (MPS) di
   Indonesia 2001-2006 disebutkan bahwa dalam konteks rencana pembangunan
   kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, visi MPS adalah “kehamilan dan
   persalinan di Indonesia yang berlangsung aman, serta yang dilahirkan hidup
   dan sehat”. Kehamilan biasa menjadi kabar baik, namun dalam prosesnya bisa
   menyebabkan masalah, hamil yang nyaman serta mudah dan aman dalam
   persalinan menjadi salah satu faktor utama ibu-ibu melakukan senam hamil.
         Senam hamil amat dianjurkan pada wanita hamil agar saat melahirkan
   tiba dapat dijalani lebih mulus. Salah satu senam hamil yang banyak
   diperbicangkan adalah metode Pilates. Menurut Joseph Pilates, pencipta 34
   gerakan dasar senam hamil sejak tahun 1920, terdapat 8 prinsip utama di
   dalamnya, meliputi konsentrasi, pernapasan, pemusatan gerakan, kontrol
   gerakan, posisi dalam melakukan gerakan dan isolasi terhadap otot yang
   dilatih. Melalui senam hamil serta latihan untuk mengkoordinasikan semua
   kekuatan saat persalinan diharapkan secara normal, tidak terlalu takut, akan
   mengurangi rasa sakit dan mempunyai kepercayaan diri yang tetap mantap
   (Manuaba, 1999: 116).
         Selain itu, ada tiga hal yang mempengaruhi proses persalinan yaitu
   tenaga, jalan lahir dan janin. Sampai saat ini yang dapat
   dimanipulasi/dikendalikan adalah masalah tenaga atau power, yaitu
   ditingkatkan dengan senam hamil. Senam hamil merupakan suatu program
   latihan bagi ibu hamil sehat untuk mempersiapkan kondisi fisik ibu dengan
   menjaga kondisi otot-otot dan persendian yang berperan dalam proses
   persalinan, serta mempersiapkan kondisi psikis ibu terutama menumbuhkan
   kepercayaan diri dalam menghadapi persalinan. Senam hamil memberi
   manfaat terhadap komponen biomotorik otot yang dilatih, dan juga dapat
   meningkatkan daya tahan kardiorespirasi dengan meningkatkan konsumsi
   oksigen. Senam atau latihan selama kehamilan memberikan efek positif
   terhadap pembukaan serviks dan aktivitas uterus yang terkoodinasi saat
   persalinan, juga ditemukan secara bermakna onset persalinan yang lebih awal
   dan lama persalinan yang lebih singkat dibandingkan dengan yang tidak
   melanjutkan senam hamil. Penemuan ini juga didukung oleh Artal, dkk (1999)
                                                                            2




dalam penelitian mereka mendapatkan hasil bahwa lama persalinan lebih
singkat pada wanita yang melakukan senam selama kehamilannya
dibandingkan dengan yang tidak melakukan senam. Menurut hasil penelitian
Sofoewan (1998) di Yogyakarta disebutkan ia telah meneliti 100 wanita
primigravida, didapatkan bahwa kejadian partus lama lebih kecil secara
bermakna (p=0,031) di kalangan wanita hamil yang melakukan senam hamil
dan juga lama persalinan kala II-nya juga secara bermakna lebih singkat dari
pada yang tidak melakukan senam hamil. Pada dasarnya bidan menganjurkan
kepada ibu-ibu hamil untuk melakukan aktifitas sehari-hari seperti : mengepel
lantai, menyapu, dan mencuci. Ini dilakukan dengan tujuan agar melatih otot-
otot agar lebih rileks, serta ibu dapat mengatur pernapasannya. Seiring dengan
perkembangan zaman, konsep tradisional ini telah disempurnakan dengan
gerakan-gerakan yang lebih teratur, terarah dan sistematis, berupa senam
hamil sehingga manfaatnya pun lebih terarah dan jelas pada setiap
gerakannya.
      Berdasarkan survey pendahuluan yang dilaksanaan bersamaan dengan
pelaksanaan Praktek Kebidanan Komunitas di Kecamatan Maleber Kabupaten
Kuningan, ternyata banyak ditemukan kejadian partus lama, terutama pada
kala II. Sehingga banyak hal-hal yang fisiologis menjadi kejadian patologis
dikarenakan proses mengedan yang terlalu lama pada kala II yang melampaui
ambang batas normal yang semestinya, dan menyebabkan kejadian-kejadian
seperti: edema pada serviks dan vagina, trauma, prolaps uteri, perdarahan dan
distres pada bayi.
      Berdasarkan hal tersebut di atas diperlukan solusi dan pemecahan
masalah tentang partus lama pada kala II, dengan mencoba meningkatkan
kualitas Asuhan Kebidanan dan Gerakan Sayang Ibu (GSI) dengan
mengadakan kegiatan yang dapat membantu kelancaran proses persalinan
yaitu senam hamil. Atas dasar tersebut penulis memandang penting untuk
melakukan penelitian lebih dalam mengenai ”Pengaruh Senam Hamil
Terhadap Lama Persalinan Kala II Pada Ibu Primigravida di Wilayah
Kerja Puskesmas Kecamatan Maleber Kabupaten Kuningan”.
                                                                             3




C. Perumusan Masalah
         Persalinan (partus) lama merupakan salah satu komplikasi yang paling
   sering terjadi pada proses persalinan, khususnya yang terjadi pada ibu yang
   pertama kali melahirkan (primigravida). Banyak faktor yang menjadi
   penyebab partus lama, salah satunya adalah faktor jalan lahir yang kaku
   seperti perineum. Senam hamil merupakan senam yang kini semakin banyak
   dipraktikkan yang salah satu tujuannya adalah merelaksasikan otot-otot dan
   ligamentum yang berada di sekitar jalan lahir. Gerakan-gerakan yang terdapat
   pada senam hamil diduga akan mampu mengurangi kekakuan jalan lahir
   bagian lunak, sehingga dapat memperlancar proses kelahiran bayi. Atas dasar
   itu, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang ”Apakah terdapat pengaruh
   senam hamil terhadap lama persalinan kala II pada ibu primigravida?”


D. Tujuan
        Adapun tujuan dari penelitian ini dapat dijabarkan ke dalam tujuan
   umum dan tujuan khusus.
   1. Umum
      Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh senam
      hamil terhadap lama persalinan kala II pada ibu primigravida di Wilayah
      Kerja Puskesmas Kecamatan Maleber Kabupaten Kuningan.
   2. Khusus
      a. Untuk mengetahui gambaran rata-rata lama persalinan Kala II pada ibu
         primigravida yang melakukan senam hamil di Wilayah Kerja
         Puskesmas Kecamatan Maleber Kabupaten Kuningan
      b. Untuk mengetahui gambaran rata-rata lama persalinan Kala II pada ibu
         primigravida yang tidak melakukan senam hamil di Wilayah Kerja
         Puskesmas Kecamatan Maleber Kabupaten Kuningan
      c. Untuk mengetahui perbedaan lama persalinan Kala II pada ibu
         primigravida yang melakukan senam hamil dengan yang tidak
         melakukan senam hamil.
      d. Untuk mengetahui koefisien determinan pengaruh senam hamil
         terhadap lama persalinan Kala II di Wilayah Kerja Puskesmas Maleber

E. Luaran yang Diharapkan
        Melalui penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan suatu artikel
   ilmiah yang menjadi rekomendasi terhadap pentingnya pemberian layanan
   senam hamil yang diintegrasikan sebagai bagian dari paket perawatan
   kehamilan dasar di Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan
   mendorong para bidan yang berpraktik mandiri untuk menjadikan senam
   hamil sebagai bagian dari pelayanan kebidanan profesional, khususnya dalam
   perawatan kehamilan baik yang bekerja di pusat pelayanan kesehatan
   (Puskesmas dan Rumah Sakit) maupun yang bekerja di komunitas.
                                                                            4




F. Kegunaan
   1. Bagi Institusi
      Penelitian ini diharapkan dapat mendorong optimalisasi sistem pembinaan
      kemahasiswaan yang selama ini telah dilakukan, terutama dalam hal
      meningkatkan kegiatan kemahasiswaan yang dapat menunjang secara
      langsung prestasi akademik mahasiswa secara berkelanjutan.

   2. Bagi Badan Eksekutif Mahasiswa
      Penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivator khususnya bagi para
      aktifis organisasi kemahasiswaan intrakampus untuk lebih kreatif dalam
      menggagas kegiatan kemahasiswaan yang benar-benar dapat
      meningkatkan softskills bagi mahasiswa.

   3. Bagi Penulis
      Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan
      dengan terjun langsung ke lapangan dan memberikan pengalaman belajar
      yang menumbuhkan kemampuan dan ketrampilan meneliti serta
      pengetahuan yang lebih mendalam terutama pada bidang yang dikaji.




G. Tinjauan Pustaka
   1. Kebutuhan Ibu Hamil
           Kehamilan adalah masa kehamilan yang dimulai dari konsepsi
      sampai lahirnya janin, lamanya hasil normal adalah 280 hari (40 minggu
      atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan
                                                                            5




dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi
sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai bulan keenam,
triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Saifuddin, 2002: 89).
Kehamilan merupakan proses fisiologis yang dialami oleh setiap wanita
subur dan karenanya terdapat serangkaian perubahan fisik, fisiologis, dan
psikologis khususnya pada ibu hamil. Berbagai perubahan fisik dan
fisiologis ini pada akhirnya menimbulkan berbagai tanda-tanda kehamilan,
baik tanda-tanda pasti maupun tanda-tanda tidak pasti kehamilan.
      Menurut Mansjoer (1999: 253), terdapat beberapa gejala kehamilan
tidak pasti di antaranya amenore (tidak terdapat haid), nausea (enek)
dengan/atau tanpa vomitus (muntah) yang sering terjadi pagi hari pada
bulan-bulan pertama kehamilan disebut juga morning sickness, mengidam
atau menginginkan makanan atau minuman tertentu, konstipasi, sering
kencing, mungkin pingsan dan mudah lelah dan kadang terjadi anoreksia
(tidak ada nafsu makan). Selain itu terdapat pula beberapa tanda lainnya
seperti munculnya pigmentasi kulit terjadi kira-kira minggu ke-12 atau
lebih dan timbul di pipi, hidung dan dahi, leukore, epulis (hipertrofi papilla
gingiva) sering terjadi pada trimester pertama kehamilan, payudara
menjadi tegang dan membesar, pembesaran abdomen, suhu basal
meningkat, perubahan organ-organ dalam pelvic missal Tanda Chadwick,
Tanda Hegar, Tanda Piskscek dan Tanda Braxton-Hicks dan tes kehamilan
(Mansjoer, 1999: 253-254).
      Selain tanda tidak pasti, juga terdapat tanda-tanda pasti dari adanya
suatu kehamilan. Di antara tanda pasti itu adalah pada pemeriksaan palpasi
dirasakan bagian janin dan adanya gerakan janin, pada auskultasi terdengar
Bunyi Jantung Janin (BJJ), terlihat gambaran janin dengan menggunakan
untrasonografi (USG) dan tampak kerangka janin pada pemeriksaan
radiologis terhadap janin (Mansjoer, 1999: 254).
      Berbagai perubahan fisiologis tersebut sudah tentu menimbulkan
berbagai ketidaknyamanan baik secara fisik maupun psikis. Di antara
berbagai ketidaknyamanan yang terjadi selama kehamilan antara lain
adalah timbulnya nyeri perut bagian bawah, nyeri punggung seiring
dengan bertambahnya usia kehamilan, sesak nafas seiring dengan semakin
membesarnya uterus yang mendesak diafragma, sembelit atau konstipasi
karena pengaruh hormonal sehingga saluran napas mengalami penurunan
peristaltik, mual dan muntah, sering kencing karena desakan kandung
kemih oleh karena pembesaran uterus, mimisan atau gusi berdarah juga
karena pengaruh hormonal. Selain itu ada juga ibu hamil yang mengalami
panas pada bagian ulu hati serta kejang-kejang atau kram pada kaki
(Chandra, 2005).

      Atas dasar berbagai perubahan fisik dan fisiologis serta munculnya
berbagai ketidaknyamanan selama kehamilan tersebut, maka sudah pasti
ibu hamil memiliki berbagai kebutuhan khusus di antaranya:
a. Pernapasan
                                                                            6




        Perubahan yang terjadi pada fisik ibu hamil biasanya menyebabkan
        ketidaknyaman pada wanita hamil. Fungsi relaksasi bisa membantu
        seorang wanita mengatasi hal ini yaitu di antaranya dengan
        pernapasan. Selain itu, pernapasan bisa melatih otot dinding perut dan
        diafragma sehingga berfungsi saat persalinan (Manuaba, 1998: 141).
   b.   Personal Hygiene
        Personal hygiene adalah kebersihan yang dilakukan untuk diri sendiri.
        Mulai dari merawat kebersihan gigi, pemenuhan kebutuhan kalsium,
        rutinitas mandi, perawatan rambut, perawatan payudara, vagina, dan
        perawatan kuku.
   c.   Seksual
        Kehamilan bukan merupakan halangan untuk berhubungan seksual,
        hanya saja pada saat kehamilan sedapat mungkin dikurangi, terutama
        pada kehamilan muda dan kehamilan tua sekitar 14 hari menjelang
        persalinan karena dapat membahayakan. Karena bila terjadi kurang
        hygiene, ketuban bisa pecah, dan persalinan bisa terangsang karena,
        sperma mengandung prostaglandin (Booth, 2004: 86).
   d.   Pakaian
        Pakaian yang dikenakan harus nyaman, mudah menyerap keringat,
        mudah dicuci, pakaian tidak boleh terlalu ketat (Manuaba, 1998:140).
   e.   Pekerjaan
        Seorang yang hamil harusnya berhenti bekerja di luar rumah sangat
        tergantung pada jenis pekerjaannya, apakah lingkungan pekerjaan
        mengancam kehamilan/tidak dan seberapa besar energi fisik dan
        mental yang diperlukan dalam bekerja.
   f.   Mobilisasi
        Ibu hamil harus mengetahui cara memperlakukan diri dengan baik, dan
        kiat berdiri, duduk, dan mengangkat badan tanpa menjadi tegang.
   g.   Istirahat
        Wanita hamil harus mengurangi semua kegiatan yag melelahkan,
        wanita hamil harus menghindari duduk dan berdiri dalam waktu yang
        lama. Pola istirahat ibu harus benar-benar dijaga, tidur malam kurang
        lebih 8 jam dan tidur siang 1 jam.
   h.   Olah raga
        Olah raga bisa memberi energi lebih dan membantu tidur lebih baik.
        Kegiatan tersebut dapat meningkatkan rasa nyaman dengan
        mengurangi ketegangan dan melepaskan hormon yang mengurangi
        rasa sakit dan mengangkat mood. Olah raga juga bisa meningkatkan
        kekuatan dan stamina ibu hamil (Booth, 2004: 101).



2. Senam Hamil
        Senam hamil adalah program kebugaran yang diperuntukkan bagi
   ibu hamil. Oleh karena itu, senam hamil memiliki prinsip-prinsip gerakan
   khusus yang disesuaikan dengan kondisi ibu hamil. Latihan-latihan pada
                                                                            7




senam hamil dirancang khusus untuk menyehatkan dan membugarkan ibu
hamil, mengurangi keluhan yang timbul selama kehamilan, serta
mempersiapkan fisik dan psikis ibu dalam menghadapi persalinan. Tujuan
dari program senam hamil adalah membantu ibu hamil agar nyaman, aman
dari sejak bayi dalam kandungan hingga lahir (kuhartanti, 2004). Menurut
Endjun, seorang calon ibu membutuhkan bantuan untuk persiapan mental
menjelang melahirkan dan disarankan agar perempuan hamil mengikuti
senam hamil pada saat usia kandungan mencapai 6 bulan ke atas (Solihah,
2004: 118).
      Pergerakan dan latihan dari senam            kehamilan tidak saja
menguntungkan bagi ibu, tetapi juga sangat berpengaruh terhadap
kesehatan bayi yang dikandungnya. Pada saat bayi mulai bernapas sendiri,
maka oksigen akan mengalir kepadanya melalui plasenta yaitu dari aliran
darah ibunya ke dalam aliran darah bayi yang dikandung. Senam
kehamilan akan menambah jumlah oksigen dalam darah di seluruh tubuh
ibu dan karena itu aliran oksigen kepada bayi melalui plasenta juga akan
manjadi lancar. Senam kehamilan tidak saja mengatur berat tubuh ibu,
tetapi juga mengurangi jumlah jaringan lemak dan memperbaiki bentuk
dan perkembangan dari otot-otot tubuh. Selain itu, senam hamil dapat
membantu menghilangkan, mengurangi ataupun menghindarkan terjadinya
bekas-bekas kehamilan, terutama pada kulit seperti terjadinya pigmentasi
pada daerah tertentu dan lain-lain (Kuhartanti, 2004).
      Mengacu pada sasaran utama senam hamil yaitu menyamankan
kehamilan dan mempermudah persalinan, maka program senam hamil
ditujukan untuk: 1) mencegah terjadinya kelainan letak, 2) mengendurkan
ketegangan dan perasaan cemas, 3) menyamankan kehamilan dan
mempermudah persalinan, 4) mempersingkat waktu persalinan dan
mengurangi rasa sakit.
      Selain itu tujuan dari senam hamil itu sendiri adalah: 1)
meningkatkan kebugaran tubuh secara keseluruhan, 2) menguatkan dan
meregangkan otot-otot tertentu terutama otot yang berperan untuk
persalinan dan mempertahankan postur, 3) meningkatkan relaksasi tubuh
terutama otot dasar panggul yang berperan besar dalam proses persalinan,
4) melatih teknik pernapasan yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi rasa
nyeri his kala I maupun kala II.
      Adapun klasifikasi dan tujuan dari latihan inti terdiri dari: 1) latihan
pembentukan sikap tubuh dengan tujuan untuk mendapatkan sikap tubuh
yang baik selama hamil, karena sikap tubuh yang baik menyebabkan
tulang panggul naik, sehingga janin berada dalam kedudukan normal.
Sedangkan sikap tubuh yang tidak baik akan menyebabkan tulang panggul
turun, sehingga kedudukan janin kurang baik, 2) latihan kontraksi dan
relaksasi, dengan tujuan untuk memperoleh sikap tubuh dan mengatur
relaksasi pada waktu yang diperlukan, dan 3) latihan pernapasan, dengan
tujuan untuk melatih berbagai teknik pernapasan supaya dapat
dipergunakan pada waktunya sesuai dengan kebutuhan (Heardman, 1999).
                                                                               8




             Adapun syarat-syarat mengikuti senam hamil yaitu adalah: 1) telah
       dilakukan pemeriksaan kehamilan oleh dokter atau bidan, 2) latihan
       dilakukan setelah kehamilan mencapai 22-24 minggu, 3) latihan dilakukan
       secara teratur dan disiplin, 4) sebaiknya dilakukan di Rumah Sakit atau
       klinik bersalin di bawah pimpinan instruktur senam hamil.
             Dalam melakukan senam hamil ada beberapa hal yang perlu
       diperhatikan di antaranya:
       a. melakukan seluruh rangkaian senam hamil dengan batas kemampuan.
           Rasa nyeri, jantung berdenyut terlalu keras dan sesak nafas merupakan
           tanda batas yang tidak boleh dilampaui. Sebaiknya menurunkan
           intensitas latihan apabila terjadi hal-hal di atas.
       b. melakukan senam hamil 3 kali seminggu, dan sebaiknya bergabung
           dengan ibu hamil lain di RS/RB yang akan dipakai utuk bersalin.
       c. senam relaksasi, pernapasan dan penanganan dapat dilakukan setiap
           saat apabila dibutuhkan.
       d. memantau gerakan bayi sebelum, selama, dan sesudah melakukan
           senam hamil.
       e. apabila kehamilan sudah lebih dari 6 bulan, latihan relaksasi dilakukan
           pada posisi minggu
       (Kuhartanti, 2004).
             Adapun kondisi yang membatalkan senam atau bahkan dilarang
       untuk melakukan senam yaitu di antaranya perdarahan vagina (flek), sakit
       perut atau dada, bengkak mendadak pada tangan, muka dan kaki, sakit
       kepala/pusing, gerakan janin menurun, letak plasenta di bawah, ibu pernah
       mengalami keguguran 3 kali atau lebih dan mempunyai riwayat persalinan
       dengan bayi prematur, ibu mempunyai riwayat penyakit jantung, ginjal
       darah tinggi, anemia dan penyakit yang membahayakan kondisi ibu selama
       kehamilan.

3. Persalinan
         Menurut Manuaba (1998), persalinan adalah proses pengeluaran hasil
   konsepsi (janin dan uri ) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar
   kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lahir, dengan bantuan atau
   tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Sedangkan menurut Kushartanti (2004),
   persalinan diartikan sebagai pengeluaran janin yang sudah cukup umur, yaitu
   antara umur 37 minggu sampai 42 minggu dengan berat minimal 2500 gram.
   Adapun pengertian persalinan menurut sumber lain yaitu proses alamiah
   dimana terjadi dilatasi serviks, lahirnya bayi dan plasenta dari rahim ibu
   (JNPKKR: 2002) dan menurut Wiknjosastro (2002), persalinan adalah suatu
   proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui
   vagina ke dunia luar. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan
   bahwa persalinan adalah suatu proses pengeluaran bayi yang cukup bulan
   yaitu antara 37 minggu sampai 42 minggu dengan berat minimal 2500 gram
   dan dilanjutkan dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari rahim ibu.
         Menurut Mochtar (1998:91), persalinan dibedakan menjadi dua
   berdasarkan cara persalinannya yaitu partus biasa (normal) dan partus luar
                                                                               9




biasa (abnormal). Partus normal atau partus spontan ialah proses lahirnya bayi
dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan
bayi yang umumnya berlangsung kurang 24 jam. Sedangkan partus abnormal
ialah persalinan dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding-dinding perut
dengan operasi cectio caesaria. Pengertian lain dari partus normal yang lebih
lengkap adalah persalinan yang dimulai secara spontan, berisiko rendah pada
awal persalinan dan tetap demikian selama proses persalinan, dimana bayi
dilahirkan secara spontan dalam presentasi belakang kepala pada usia
kehamilan 37 – 42 minggu lengkap dan setelah persalinan ibu maupun bayi
berada dalam kondisi baik.
      Pada proses berjalannya proses persalinan, biasanya terdapat hal-hal
yang membuat persalinan normal menjadi persalinan abnormal di antaranya
yaitu partus lama. Partus lama yaitu fase laten lebih dari 8 jam, persalinan
telah berlangsung 12 jam atau lebih bayi belum lahir dan dilatasi serviks di
kanan garis waspada pada persalinan fase aktif (Saifudin, 2005: 184).
      Sebelum pada tahap persalinan ditemukan tanda-tanda persalinan, di
antaranya his atau kontraksi uterus yang menyebabkan perubahan serviks,
penipisan dan pembukaan serviks dan keluarnya lendir bercampur darah
(bloody show) melalui vagina (Chandra, 2005).
      Adapun tahap persalinan dibagi dalam 4 tahap yang sering disebut kala
yaitu :
a. Tahapan pertama (Kala I)
    Kala 1 persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan
    serviks hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Pada persalinan
    kala 1 dibagi menjadi 2 fase yaitu fase laten persalinan yang dimulai sejak
    awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan secara
    bertahap dan pembukaan serviks kurang dari 4 dan berlangsung selama 12-
    16 jam. Fase yang kedua yaitu fase aktif persalinan. Adapun ciri dari fase
    ini yaitu frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat
    (kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi 3 kali atau lebih dalam
    waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih), serviks
    membuka 4-10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih per jam
    hingga pembukaan lengkap (10 cm) dan terjadi penurunan bagian
    terbawah janin.
b. Tahapan kedua (Kala II)
    Tanda dan gejala kala dua persalinan yaitu ibu merasakan ingin meneran
    bersamaan dengan terjadinya kontraksi, ibu merasakan makin
    meningkatnya tekanan pada rektum dan/atau vagina, perineum terlihat
    menonjol, peningkatan pengeluaran lendir dan darah, pembukaan serviks
    telah lengkap dan kepala bayi terlihat pada introitus vagina. Pada tahap ini,
    persalinan pada primigravida biasanya berlangsung rata-rata 2 jam dan
    pada multigravida 1 jam.
c. Tahapan ketiga (Kala III)
    Setelah bayi lahir, tinggi fundus uteri dan konsistensinya ditentukan. Kalau
    tidak ada perdarahan dan konsistensinya keras, maka hanya dilakukan
    pengawasan untuk mengetahui apakah fundus berkontraksi dengan baik.
                                                                            10




   Sebelum plasenta terlepas dari dinding rahim, usaha-usaha untuk
   melepaskannya akan sia-sia malah akan berbahaya, maka tanda-tanda
   pelepasan plasenta harus diketahui benar-benar.
   Adapaun tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu rahim naik disebabkan
   karena plasenta yang telah lepas jatuh ke dalam segmen bawah rahim atau
   bagian atas vagina dan mengangkat vagina, bagian tali pusat yang lahir
   menjadi lebih panjang, rahim menjadi lebih bundar dan lebih keras dan
   keluarnya semburan darah dengan tiba-tiba.
d. Tahapan keempat (Kala IV)
   Masa setelah 1 jam plasenta lahir, dalam kala ini ibu masih membutuhkan
   pengawasan yang intensif karena perdarahan seperti atonia uteri sangat
   mengancam. Pada kala ini juga selain mengawasi, juga menjahit robekan
   perineum, kontraksi rahim, keadaan umum ibu dan keadaan bayi.
     Menurut Mochtar (1998) pada setiap persalinan terdapat lima faktor
yang harus diperhatikan yaitu passage, passanger, power, psikis wanita dan
penolong. Dalam buku lain disebutkan bahwa passage, passanger dan power
merupakan faktor fisik sedangkan psikis dan penolong merupakan faktor
pendukung dimana faktor ini tidak kalah penting dengan faktor fisik.
a. Jalan Lahir (passage)
   Jalan lahir adalah Jalan lahir yang akan dilalui janin. Menurut Mochtar
   (1998) jalan lahir dibagi atas bagian keras tulang-tulang panggul (rangka
   panggul) dan bagian lunak yang terdiri dari otot-otot, jaringan-jaringan dan
   ligamen-ligamen.Jalan lahir bagian tulang terdiri dari tulang panggul yaitu
   os coxae di sebelah depan dan samping dan os sacrum dan os coccygeus di
   sebelah belakang. Os coxae terdiri dari 3 bagian yaitu ilium, ischium dan
   pubicum atau pubis (Saifudin, 2002). Menurut Cuningham (1995), panggul
   mempunyai empat bidang imajiner yaitu Bidang Pintu Atas Panggul (pintu
   superior), Bidang Pintu Bawah Panggul (pintu inferior), Bidang Panggul
   Tengah (dimensi panggul terkecil) dan Bidang dengan Dimensi Panggul
   Terbesar. Selain itu jalan lahir lunak yang berperan pada persalinan
   menurut Mochtar (1998) yaitu segmen bawah rahim, serviks uteri dan
   vagina. Disamping itu, otot-otot jaringan ikat dan ligamen yang
   menyokong alat-alat urogenital juga sangat berperan pada persalinan.
b. Janin (Passanger)
         Menurut Saifudin (2002), janin dapat mempengaruhi jalannya
   persalinan oleh karena besar dan posisinya. Adapun kepala janin terdiri
   atas tulang-tulang tengkorak (kranium) dan tulang-tulang dasar rengkorak
   (basis kranii) serta muka. Kranium terdiri atas 2 os parietalis, 2 os
   frontalis dan 1 os oksipitalis. Tulang-tulang ini berhubungan satu sama
   lain dengan membran yang memberi kemungkinan gerak bagi tulang-
   tulang tengkorak selama persalinan dan awal masa kanak-kanak. Batas
   antara tulang-tulang tersebut disebut sutura sedangkan antara sudut-sudut
   tulang disebut fontanella (ubun-ubun).
c. Tenaga atau kekuatan (power)
   Terdapat dua kekuatan yang memengaruhi persalinan yaitu his dan
   kekuatan mengedan ibu. Sedangkan menurut Mochtar (1998), kekuatan
                                                                           11




   yang mendorong janin dalam persalinan ialah his, kontraksi otot-otot
   perut, kontraksi diafragma dan aksi dari ligamen.
   His atau kontraksi adalah pemendekan dan penebalan sementara seraut-
   serabut otot selama fase aktif otot-otot tersebut dan kemudian kembali ke
   ukuran dan bentuk semula saat berhentinya aktivitas (Veralls, 1997).
   Menurut Chandra (2005) pada bulan terakhir dari kehamilan sebelum
   persalinan dimulai, sudah ada kontraksi rahim yang disebut his
   pendahuluan atau his palsu yang sebetulnya hanya merupakan peningkatan
   dari pada kontraksi dari Braxton Hicks. Pengertian Braxton Hicks menurut
   Booth (2004) merupakan latihan bagi rahim karena membantu
   mempertahankan tonus otot rahim dan meningkatkan aliran darah. Adapun
   ciri-ciri his pendahuluan terlihat dari polanya. His pendahuluan tidak
   nyeri, tidak teratur, dan biasanya akan hilang. Penyebabnya bisa lapar atau
   dehidrasi (Chandra, 2005).
   Menurut Chandra (2005) his persalinan berlawanan dengan his
   pendahuluan. Intensitas dan dan frekuensi semakin meningkat, semakin
   lama semakin sering dan semakin kuat. Pada waktu ini pun, ibu bersalin
   akan merasakan seolah terikat kuat oleh sabuk dan muncul nyeri melingkar
   dari punggung ke perut bagian depan.
   Setelah pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah tenaga yang
   mendorong anak keluar selain his terutama disebabkan oleh kontraksi otot-
   otot dinding perut yang mengakibatkan peninggian tekanan intra
   abdominal. Waktu kepala sampai pada dasar panggul, timbul suatu refleks
   yang mengakibatkan pasien menutup glotisnya, mengkontrasikan otot-otot
   perutnya dan menekan diafragmanya ke bawah.
   Tenaga ini serupa dengan tenaga mengejan waktu kita buang air besar tapi
   jauh lebih kuat. Tenaga mengejan ini hanya dapat berhasil kalau
   pembukaan sudah lengkap dan paling efektif sewaktu kontraksi rahim.
   Tanpa tenaga mengejan anak tidak dapat lahir, misalnya pada penderita
   yang lumpuh otot-otot perutnya, persalinan harus dibantu dengan forceps.
   Tenaga mengejan ini juga melahirkan plasenta setelah plasenta lepas dari
   dinding rahim.
d. Psikis wanita
   Telah terbukti bahwa emosi perempuan dalam persalinan sangat
   mempengaruhi reaksi kegelisahan dan ini merupakan satu faktor yang
   menyokong kelelahan mental dan fisik yang akan ia alami. Hal ini terjadi
   karena banyaknya faktor yang mempengaruhi emosi ibu di antaranya yaitu
   ketakutan yang muncul saat persalinan (Myles, 1975). Karena menurut
   Mander (2003) ketakutan menyebabkan atau paling tidak memperburuk
   nyari persalinan.
   Oleh karena itulah setiap ibu yang akan melahirkan memerlukan dukungan
   emosional untuk membantunya dalam melewati proses persalinan (IBI,
   1996). Karena Dalam persalinan dukungan social kemungkinan
   merupakan salah satu faktor yang meringankan (Mander. 2003). Penelitian
   menunjukkan bahwa berbicara dengan baik dan menenangkan ibu pada
   proses persalinan mengurangi risiko terjadinya komplikasi-komplikasi dan
                                                                           12




    kejadian intervensi bedah seperti vacum ekstraksi, forceps maupun Sectio
    Caesaria.
e. Penolong
    Penolong yang dimaksud adalah tenaga kesehatan yang membantu dalam
    proses persalinan berlangsung. Dalam bahasan ini, penolong yang
    dimaksud dengan tenaga Kesehatan adalah Bidan atau Dokter.
      Akan tetapi persalinan yang merupakan intervensi dari pengetahuan,
sikap dan tindakan dan ditentukan atau dipengaruhi oleh berbagai faktor lain,
di antaranya adalah faktor pengalaman, keyakinan, sarana fisik, sosial budaya
masyarakat dan lainnya. Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman sendiri
atau orang lain. Pengalaman seorang diperoleh dan dibuat dalam interaksinya
dengan orang lain. Hal ini berarti, semakin bertambah tua maka akan
mengakibatkan semakin banyak interaksi dengan orang lain sehingga
pengalaman dan pengetahuan pun semakin bertambah (Finger, 2004).
      Dalam setiap persalinan pada dasarnya penolong persalinan harus
mampu memenuhi kebutuhan dasar ibu bersalin. Terdapat lima kebutuhan
seorang wanita dalam persalinan (Pusdiknakes. WHO. JHPIEGO, 2003) yaitu:
a) asuhan fisik dan psikologis, yakni asuhan yang diberikan oleh tenaga
kesehatan (dokter atau bidan) yang berlandaskan pada ASI, b) pengurangan
rasa sakit. Nyeri adalah bagian integral dari persalinan dan melahirkan
(Mander. 2003). Nyeri saat persalinan ini ditunjukan dengan kuat oleh sistem
saraf pusat, dimana sistem saraf inilah yang bertanggung jawab untuk
mengendalikannya. Akan tetapi, dikatakan pula bahwa faktor psikologis dan
juga fisik berperan dalam sensasi nyeri. Stres dan ketakutan akan nyeri
persalinan serta intensitas dan lama pengalaman nyeri semuanya merupakan
faktor penting dalam mempengaruhi sensasi nyeri dalam persalinan (Mander.
2003), c) kehadiran seorang pendamping secara terus-menerus, d) penerimaan
atas sikap dan prilakunya, dan e) informasi dan kepastian tentang hasil
persalinan yang aman.
      Untuk memantau perkembangan dan kemajuan persalinan serta
pemantauan kondisi ibu dan janin, maka WHO dan Departemen Kesehatan
telah menetapkan rekomendasi untuk menggunakan partograf. Tujuan dari
partograf yaitu mencatat kemajuan persalinan, mencatat kondisi ibu dan
janinnya, mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran,
menggunakan informasi yang tercatat untuk secara dini mengidentifikasi
adanya penyulit dan menggunakan informasi yang ada untuk membuat
keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu. Adapun bagian-bagian dari
partograf terdiri atas identitas dan keadaan ibu, kemajuan persalinan, kondisi
janin, dan kondisi ibu.
      Cara penggunaan partograf adalah denyut jantung janin harus dicatat
setiap 1 jam, air ketuban harus dicatat warna air ketuban setiap melakukan
pemeriksaan vagina dan diidentifikasi keutuhannya, warnanya, ada tidaknya
mekonium, darah, atau bahkan apakah ketubannya sudah kering atau tidak.
Selain itu juga perlu dicatat perubahan bentuk kepala janin (molding atau
moulase), pembukaan mulut rahim (serviks) yang dinilai setiap 4 jam dan
diberi tanda silang (x).
                                                                             13




         Dalam pembukaan mulut rahim yang perlu dinilai adalah derajat
   penurunan bagian terendah janin, mencatat jam/waktu, setiap setengah jam
   menilai kontraksi (his) dengan melakukan palpasi untuk menghitung
   banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya tiap-tiap kontraksi dalam
   hitungan detik, jika memakai oksitosin harus dicatat banyaknya oksitosin per
   volum cairan infus dan dalam tetesan per menit, mencatat semua obat lain
   yang diberikan, menghitung denyut nadi dengan mencatat setiap 30-60 menit
   dan tandai dengan sebuah titik besar (.), memeriksa tekanan darah dan dicatat
   setiap 4 jam dan tandai dengan anak panah, memeriksa dan mencatat suhu
   badan setiap 2 jam, serta memeriksa protein, aseton dan volume urin dengan
   mencatatnya setiap kali ibu berkemih.




H. Metode Pelaksanaan
   1. Metode dan Rancangan Penelitian
      Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental dan menggunakan
      rancangan Quasi-Experimental, yaitu suatu penelitian eksperimen yang
      penetapan objek penelitiannya tidak dilakukan secara acak (randomized)
      atau dikenal juga dengan nama Non-Randomized Pretest-Posttest Control
      Group Design. Objek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu
                                                                         14




   Kelompok Perlakukan (KP) dan Kelompok Kontrol (KK). Penetapan
   sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan consecutive sampling
   technique.
   Dengan demikian dalam penelitian ini, peneliti membandingkan 2
   kelompok ibu bersalin dimana satu kelompok ibu hamil yang diberi
   perlakuan yang berupa diberikan senam hamil pada sejak usia kehamilan
   memasuki 30 minggu sampai menjelang persalinan dengan dosis latihan 1
   2 kali seminggu dan satu kelompok sebagai kontrol dimana ibu hamil tidak
   diberikan latihan senam hamil. Rancangan tersebut dapat digambarkan
   sebagai berikut:


   KP     :      X                     P               X’


   KK     :      X                     0               X’


   Keterangan:
   KP     : Kelompok Perlakuan
   KK     : Kelompok Kontrol
   X      : Sampel sebelum diberikan perlakuan
   X’     : Sampel setelah dilakukan perlakuan
   P      : Perlakuan
   0      : Tidak diberi perlakuan

2. Objek penelitian
   Objek dalam penelitian ini adalah ibu-ibu hamil di Kecamatan Maleber
   Kabupaten Kuningan selama periode Desember 2009 s.d. April 2010 yang
   memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut:
   a. Primigravida
   b. Tidak memiliki komplikasi kehamilan (non-risiko)
   c. Usia ibu bersalin 20 – 35 tahun
   d. Usia kehamilan > 30 minggu
   e. Tidak memiliki aktifitas fisik harian yang termasuk kategori berat
   f. Selama persalinan dilakukan pendampingan oleh suami/keluarga
      terdekat
   g. Melakukan senam hamil sekurang-kurangnya 9 kali latihan


3. Variabel dan Definisi Operasional
          Variabel dalam penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel
   terikat. Variabel bebasnya adalah senam hamil dan variabel terikatnya
   adalah lama persalinan kala II.
          Yang dimaksud dengan senam hamil adalah tingkat intensitas
   aktifitas fisik (senam) yang dilakukan oleh ibu-ibu hamil dengan usia
   kehamilan > 30 minggu untuk membantu mempermudah proses persalinan
                                                                         15




   dengan metode yang telah ditentukan sesuai dengan metode Palletes
   dengan instruktur terlatih yang dilakukan 2 kali seminggu. Dengan
   demikian untuk mengukur senam hamil digunakan skala rasio yaitu
   intensitas ibu hamil dalam melakukan senam hamil dalam rentang usia
   kehamilan 30 – 36 minggu (6 minggu x 2 kali = 12 kali).
         Sedangkan yang menjadi variabel terikatnya adalah lama persalinan
   Kala II yang didefinisikan secara operasional sebagai waktu yang
   dibutuhkan ibu bersalin dari mulai pembukaan lengkap sampai pada bayi
   lahir yaitu maksimal 120 menit.

4. Instrumen Penelitian
   Intrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengambil data
   penelitian. Pada penelitian ini intrumen yang dipakai adalah mengacu pada
   partograf, lembar observasi untuk kelompok perlakuan dan disertai dengan
   alat-alat mekanik (electronics) yaitu Stopwatch yang telah dikalibrasi
   merek Tinday tipe T.637.

5. Prosedur Penelitian
   Tahapan penelitian ini dapat dibagi menjadi 3 tahapan yaitu:
   a. Tahap Persiapan:
      Tahap persiapan penelitian terdiri dari:
      1) Pengurusan ijin penelitian dari lembaga yang berwenang
      2) Survey pendahuluan di lokasi penelitian, terutama difokuskan pada
         observasi rata-rata ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi
      3) Penyusunan dan kalibrasi instrumen penelitian
      4) Pelatihan senam hamil untuk peneliti di Bidan Praktek Swasta yang
         sudah terbiasa melaksanakan senam hamil.
   b. Tahap Pelaksanaan:
      Adapun tahap pelaksanaan penelitian terdiri dari:
      1) Pengisian informed-consent untuk objek penelitian
      2) Pengarahan pada ibu hamil yang memenuhi kriteria
      3) Pelaksanaan senam hamil
         Untuk pelaksanaan senam hamil peneliti menentukan lokasi bale
         desa Maleber sebagai tempat yang dianggap paling representatif
         untuk melakukan senam hamil. Semua peralatan senam disiapkan
         oleh peneliti. Setiap minggu dilaksanakan 2 kali senam hamil
         dengan instruktur peneliti sendiri selama 6 minggu. Setiap selesai
         senam hamil dilakukan pencatatan dan pendokumentasian terhadap
         frekuensi denyut jantung dan tekanan darah ibu hamil.
      4) Pengukuran efek senam hamil saat melahirkan/bersalin
         Peneliti mencatat waktu yang dibutuhkan oleh ibu hamil peserta
         senam hamil dalam menjalani kala II persalinan dengan stopwatch,
         sejak dinyatakan pembukaan lengkap sampai dengan pengeluaran
         bayi.
      5) Pengolahan dan analisis data penelitian
   c. Tahap Akhir:
                                                                           16




       1) Penulisan laporan penelitian
       2) Seminar hasil penelitian

6. Prosedur Pengolahan dan Analisis Data
          Untuk membuktikan hipotesis penelitian, penulis menggunakan uji t
   (t test) untuk mengetahui perbedaan mean dua kelompok data independent
   dan variabel yang dihubungkan berbentuk numerik dan kategori (ket:
   variabel kategorik dengan hanya dua kelompok) yaitu mengetahui
   perbedaan lama persalinan yang didampingi oleh suami dan lama
   persalinan yang tidak didampingi oleh suami.
          Akan tetapi menurut Hastono (2001) prinsip pengujiannya dua mean
   tersebut adalah melihat perbedaan variasi kedua kelompok data. Oleh
   karena itu, dalam pengujian ini diperlukan informasi apakah varian keduia
   kelompok yang diuji sama atau tidak. Hal ini dikarenakan bentuk varian
   kedua kelompok data akan berpengaruh pada nilai standar error yang
   akhirnya akan membedakan rumus pengujiannya.
          Adapun untuk uji varian peneliti menggunakan bantuan perangkat
   lunak pengolah statistik berupa tes Levene. Untuk interpretasinya yaitu
   dengan melihat nilai p. Bila nila p < α (0,05) maka varian berbeda dan bila
   nilai p > α (0,05) maka dikatakan varian sama.
   Rumus “t test”
   1) Varian Sama (Pogano.1992:244)
                     x1  x2
         t 
                  S12
                            S2       
                 
                  n       2
                            n        
                                       
                  1        2        

   2) Varian tidak sama (Pogano.1992:246)

                         x1  x2
         t 
                       1   1              
                      n  n
                 Sp 2                     
                                             
                       1   2              

         Keterangan:
         n1 : Jumlah di populasi pertama
         n2 : Jumlah di populasi kedua
         S1 : Standar deviasi kelompok pertama
         S2 : Standar Deviasi Kemompok Kedua
         x1 : Rata-rata lama persalinan Kel.1
         x2 : Rata-rata lama persalinan kel.2

   Untuk mencari data standar deviasi kelompok (sp) menggunakan rumus:


                       s12 n1  1  s22 n2  1
                    s
                              n1  n2  2
                                                                                                         17




           Keterangan:
            p : Standar Deviasi
           s1 : Standar Deviasi populasi pertama
           s2 : Standar Deviasi populasi kedua

      Sedangkan untuk mencari t tabel maka harus dicari terlebih dahulu:

                          df  n1 n2  2

            Untuk menentukan wilayah kritis penerimaan atau penolakan
      hipotesis nol dengan menggunakan distribusi t berdasarkan nilai t tabel.
      Jika nilai t hitung > t tabel maka terdapat perbedaan antara lama
      persalinan yang didampingi suami dengan yang tidak didampingi suami.
      Sedangkan jika t hitung < t tabel maka tidak terdapat perbedaan antara
      lama persalinan yang didampingi suami dengan yang tidak didampingi
      suami.
            Untuk melihat hasil kemaknaan hitungan statistik digunakan derajat
      kemaknaan  = 0.05 (Cumulative Insidence 95%) sehingga apabila hasil
      penelitian variabel penelitian statistik menunjukan nilai p < 0.05 maka
      dikatakan antara kedua variabel statistik terdapat perbedaan yang
      bermakna. Sedangkan apabila nilai p > 0.05 maka kedua variabel statistik
      tidak ada perbedaan yang bermakna.




I. Jadwal Kegiatan Program
   Kegiatan penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu 5 bulan atau 20
   minggu dengan rincian jadwal sebagai berikut:

                                    Bulan            Bulan            Bulan            Bulan            Bulan
 N                                   ke-1             ke-2             ke-3             ke-4             ke-5
         Jenis Kegiatan
 o                              1    2   3   4   5    6   7   8   9    1   1   1   1    1   1   1   1    1    1   2
                                                                       0   1   2   3    4   5   6   7    8    9   0
                                   18




1   Perijinan
2   Latihan senam hamil
3   Pelaksanaan penelitian
    (pengumpulan data)
    (Senam hamil)
4   Memantau efek senam
    hamil terhadap persalinan
5   Pengolahan dan analisis
    data
6   Penulisan laporan penelitian
7   Pembuatan poster penelitian
8   Diseminasi hasil penelitian
    (seminar)
                                                                    19




K. Daftar Pustaka

   __________. 1998. Pedoman Pelayanan Kebidanan Dasar, Jakarta:
        Depatemen Kesehatan.Direktorat Pembinaan Kesehatan Masyarakat.

   __________.2005. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan Fisiologis Bagi
        Dosen Diploma III Kebidanan Buku 1,2,3,4,5 Konsep Asuhan
        Kebidanan. Jakarta: Pusdiknas. WHO.JHPIEGO
                                                                            20




Amiruddin, R. 2007. Faktor-faktor Partus Lama di RSIA Siti Fatimah
    Makasar. Surabaya: S2 Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Booth,T. 2004. Tanya Jawab Seputar Kehamilan, (terjemahan). Jakarta: PT
     Bhuana Ilmu Populer

Chapman, V. 2006. Asuhan Kebidanan Persalinan Dan Kelahiran,
    terjemahan (terjemahan). Jakarta: EGC

Chandra, E. 2005. Baby Guide. Bali: Maxmadia

Cholil, A. 2002. Lokakarya Pengembangan Konsep Gerakan Sayang Ibu –
     Pita Pitih. Bogor: MNH

Cuningham, F.G, at all. 1995. Obstetri William (terjemahan). Jakarta: EGC

Mander,R.2003. Nyeri Persalinan (terjemahan). Jakarta: EGC

Myles, MF. 1975. Textbook For Midwives with Modern Concepts of Obstetric
    and Neonatal Care. London: Churshill Livingstone

Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Jakarta: EGC

Nolan, M. 2003. Kehamilan dan Melahirkan (terjemahan). Jakarta: Arcan

Pagano, M. 1992. Principles of Biostatistics. California: adsworth Publishing
     Company

Saifudin, AB. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
     dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Sastroasmoro, S.1995. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:
      Binarupa Aksara.




Sofyan, M,at.all. 2003. Bidan Menyongsong Masa Depan. Jakarta: PP IBI

Wiknjosastro, H. 2001. Catatan Tentang Perkembangan Dalam Praktek
    Kebidanan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Wiknjosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
    Sarwono Prawirohardjo

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1119
posted:2/27/2012
language:
pages:20