Docstoc

Asuhan Keperawatan Sistem pencernaan: Diare

Document Sample
Asuhan Keperawatan Sistem pencernaan: Diare Powered By Docstoc
					                                                                                 1



                                     BAB I
                              PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

         Gastroenteritis adalah radang pada lambung dan usus yang memberikan

   gejala diare, dengan atau tanpa disertai muntah, dan sering kali disertai

   peningkatan tubuh. Diare yang dimaksudkan adalah buang air besar berkali-kali

   (dengan jumlah yang melebihi 4 kali, dan bentuk feses yang cair, dapat disertai

   dengan darah atau lendir (Suratun, 2010; 136).

         Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama

   yang menjadi masalah kesehatan       masyarakat di Indonesia karena memiliki

   insidens dan mortalitas yang tinggi. Diperkirakan terdapat antara 20-50 kejadian

   diare per 100 penduduk setahunnya. Kematian terutama disebabkan karena

   penderita mengalami dehidrasi berat. Antara 70-80% penderitapenderita terdapat

   pada mereka yang dibawah 5 tahun. Data Departemen Kesehatan menunjukkan,

   diare menjadi penyakit pembunuh kedua bayi di bawah lima tahun atau balita di

   Indonesia, setelah radang paru atau pneumonia ( Makara, Kesehatan, Vol. 14, No.

   1, Juni 2010).

         Hasil SKRT angka kematian diare anak balita dan bayi permil pertahun

   berturut-turut menunjukkan angka: 6.6(anak balita), 22 (bayi) pertahun 1980; 3.7

   (anak balita) dan 13.3 (bayi) pada tahun 1985/1986; 2.1 (anak balita) dan 7.3

   (bayi) pada th 1992. 1 (anak balita) dan 8 (bayi) pada tahun 1995. Angka
                                                                            2



morbiditas 1989, 1990, 1995 adalah 78.5%, 103% dan 100%. Krisis ekonomi

akan berpengaruh pada angka morbiditas (Pediatrica, 2007).

       Jumlah kasus diare    di Sumatera Selatan pada tahun 2008 sebanyak

186.479 kasus dan pada tahun 2009 sebanyak 205.991 kasus. Jumlah kasus diare

pada balita setiap tahunnya rata-rata di atas 40%, hal ini menunjukkan bahwa

kasus diare pada balita masih tetap tinggi dibandingkan golongan umur lainnya

(Dinkes Sumsel, 2010).

      Jumlah penderita diare di Kota Palembang jumlah penderita pada tahun

2007 sebanyak 46.738 penderita dengan prevalensi 33,25 per 100.000 penduduk,

tahun 2008 sebanyak 33.558 penderita dengan prevalensi 23,68 per 100.000

penduduk, dan pada tahun 2009 sebanyak 54.612 penderita dengan prevalensi

37,95 per 100.000 penduduk (Dinkes Kota Palembang, 2009).

      Berdasarkan data yang diperoleh dari bagian medikal rekord RS RK

Charitas Palembang diperoleh data jumlah penderita gastroenteritis pada tahun

2008 sebanyak 1.573 anak, pada tahun 2009 sebanyak 1.605 anak, pada tahun

2010 sebanyak 1.446 dan pada periode Januari sampai dengan Juni 2011

sebanyak 760 anak (Medikal Rekord RS RK Charitas Palembang).

      Secara    umum       penanganan      diare    akut     ditujukan   untuk

mencegah/menanggulangi dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan

asam basa, kemungkinan terjadinya intoleransi, mengobati kausa dari diare yang

spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan gizi serta mengobati penyakit

penyerta. Untuk melaksanakan terapi diare secara secara komprehensif, efisien
                                                                                  3



   dan efektif harus dilakukan secara rasional. Secara umum terapi rasional adalah

   terapi yang : tepat indikasi, tepat dosis, tepat penderita, tepat obat, waspada

   terhadap efek samping. Jadi penatalaksanaan terapi diare yang menyangkut

   berbagai aspek didasarkan pada terapi yang rasional yang mencakup kelima hal

   tersebut (http://koaskamar13.wordpress.com).

         Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis tertarik untuk

   menyusun Karya Tulis Ilmiah dengan judul "Asuhan Keperawatan pada Klien Tn.

   "A" dengan Gangguan Sistem Pencernaan : “Gastritis” di Paviliun Yoseph II RS

   RK Charitas Palembang.



B. Ruang lingkup Penulisan

         Karena keterbatasan yang ada pada penulis untuk melakukan asuhan

   keperawatan maka dalam penulisan karya tulis ini penulis membatasi ruang

   lingkup masalah hanya pada Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem

   Pencernaan : Gastroenteritis hanya pada satu orang klien dirawat selama tiga hari

   dari tanggal 06 Juli 2011 s.d 08 Juli 2011 di Paviliun Theresia I Rumah Sakit RK

   Charitas Palembang.



C. Tujuan Penulisan

   Tujuan Penulisan terdiri dari 2 bentuk, yaitu :
                                                                            4



   1. Tujuan Umum

      Agar penulis mampu mengungkapkan pola pikir ilmiah dalam menyelesaikan

      Asuhan Keperawatan pada An. “S” dengan masalah gangguan system

      Pencernaan : gastroenteritis.

   2. Tujuan Khusus

      Agar Penulis dapat :

      a. Melakukan pengkajian pada klien dengan gangguan sistem pencernaan :

          gastroenteritis.

      b. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan gangguan sistem

          pencernaan : gastroenteritis.

      c. Merumuskan rencana keperawatan sesuai dengan kondisi kliendengan

          gangguan sistem pencernaan : gastroenteritis.

      d. Melakukan tindakan keperawatan yang disesuaikan dengan rencana yang

          telah disusun.

      e. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan dengan gangguan sistem

          pencernaan : Gastroenteritis.



D. Metode Penulisan

          Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah

   ini adalah metode deskriptif yaitu metode yang bersifat menggambarkan suatu

   keadaan dengan objektif selama mengamati klien, mulai dari pengumpulan data

   sampai melakukan evaluasi yang disajikan dalam bentuk naratif
                                                                             5



          Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam Karya Tulis Ilmiah ini

   penulis menggunakan metode penggumpulan data sebagai berikut :

   1. Wawancara

      Wawancara dilakukan secaraallo anamnese dengan keluarga (ibu, ayah, nenek

      klien) untuk memperoleh data yang diharapkan.

   2. Observasi

      Penulis mengadakan pengamatan langsung pada klien sehingga penulis dapat

      menyimpulkan data dengan tepat.

   3. Pemeriksaan fisik

      Sumber data berikut dilakukan pada klien dengan cara : inspeksi, palpasi,

      perkusi, auskultasi untuk melengkapi data.

   4. Studi Dokumentasi

      untuk melengkapi data, penulis menggunakan catatan status klien, catatan

      keperawatan klien, data-data medic dan pemeriksaan diagnosa.

   5. Studi Kepustakaan

      penulis dalam menyusun asuhan keperawatan serta konsep dasar tentang

      asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan system pencernaan :

      gastroenteritis adalah dari beberapa buku sumber.



E. Sistematika Penulisan

      Karya Tulis Ilmiah ini terdiri dari V BAB, dengan Sistematika Penulisan

   sebagai berikut :
                                                                                       6



   BAB I    PENDAHULUAN

            Dalam bab ini penulis menjelaskan tentang latar belakang masalah,

            ruang lingkup penulisan, tujuan penulisan, metode penulisan dan

            sistematika penulisan.

   BAB II   TINJAUAN TEORITIS

            Bab ini menjelaskan tentang : konsep dasar medis yaitu pengertian,

            anatomi   fisiologi,     etiologi,   klasifikasi   penyakit,   patofisiologi,

            manifestasi   klinik,     komplikasi,     pemeriksaan     diagnostik,    dan

            penatalaksanaan medik, konsep dasar asuhan keperawatan yaitu

            pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, penatalaksanaan, dan

            evaluasi, discharge planning, patoflow diagram.

BAB III     TINJAUAN KASUS

            Bab ini merupakan penerapan asuhan keperawatan secara langsung

            pada klien dengan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari

            pengkajian, daftar diagnosa keperawatan, rencana tindakan, catatan

            keperawatan dan catatan perkembangan.

BAB IV      PEMBAHASAN

            Bab ini berisi tentang kesenjangan antara tinjauan teori dengan

            tinjauan kasus yang meliputi : pengkajian, diagnosa keperawatan,

            rencana keperawatan, pelaksanaan keperawatan, catatan keperawatan

            dan catatan perkembang.
                                                   7



BAB V     PENUTUP

          Bab ini meliputi kesimpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRA
                                                                                 8



                                    BAB II
                            TINJAUAN TEORI


A. Konsep Dasar Medis

   1. Pengertian

             Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung, usus kecil dan usus

      besar dengan berbagai kondisi patologis dari saluran gastrointestinal dengan

      manifestasi diare dengan atau tanpa disertai muntah serta ketidaknyamanan

      abdomen (Arif Muttaqin, 2011; 459).

             Gastroenteritis adalah radang pada lambung dan usus yang

      memberikan gejala diare, dengan atau tanpa disertai muntah, dan sering kali

      disertai peningkatan tubuh. Diare yang dimaksudkan adalah buang air besar

      berkali-kali (dengan jumlah yang melebihi 4 kali, dan bentuk feses yang cair,

      dapat disertai dengan darah atau lendir (Suratun, 2010; 136).

             Gastroenteritis adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan

      oleh berbagai bakteri, virus dan patogen parasitik (Wong, 2003; 492).
                                                                            9



2. Anatomi Fisiologi

   a. Anatomi




                      Gambar 2.1 Anatomi Saluran Pencernaan
   (http://abba.vlsm.org/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0064%2
                                 0Bio%202-5b.htm)
       1) Mulut (Oris)




                             Gambar 2.2 Anatomi Mulut
            (http://radenbeletz.com/sistem-pencernaan-pada-manusia.html)
                                                                   10



        Mulut (oris) merupakan rongga permulaan saluran pencernaan

 yang terdiri atas dua bagian:

a) Bagian luar yang sempit (vestibula) adalah ruang di antara gusi

   dan gigi dengan bibir dan pipi,

b) Bagian dalam (rongga mulut) adalah rongga pada mulut yang sisi-

   sisinya dibatasi oleh tulang maksilaris dan semua gigi, di atas ada

   palatum serta di sisi kiri kanan mandibularis. Lidah terletak di

   bawah dan di belakang dibatasi faring.

Gigi mempunyai fungsi:

a) gigi seri (dens insisivus) untuk memotong makanan,

b) gigi taring (dens kaninus) untuk memutuskan makanan yang keras

   dan liat,

c) gigi geraham (molare) untuk mengunyah makanan yang sudah

   dipotong-potong.

       Lidah terdiri atas otot serta melintang dan dilapisi selaput

lendir. Otot lidah dapat bekerja atau digerakkan ke segala arah.

Struktur lidah terbagi menjadi 3 bagian:

a) pangkal lidah (radiks lingua),

b) punggung lidah (dorsum lingua),

c) ujung lidah (apeks lingua).
                                                                      11



          Lidah mempunyai fungsi mengaduk makanan, membentuk

  suara, merasakan makanan dan sebagai alat pengecap, kemudian

  menelan.

  Kelenjar ludah (saliva) terletak di sekitar rongga mulut. Terdapat tiga

  kelenjar ludah, yaitu:

  a) Kelenjar parotis. Kelenjar ini letaknya di bawah depan dari telinga

       di antara prosesus mastoideus kiri dan kanan os mandibular.

       Duktusnya bernama duktus stensoni keluar dari glandula parotis

       menuju ke rongga mulut melalui pipi (muskulus buksinator).

  b) Kelenjar submaksilaris. Kelenjar ini terletak pada bawah rongga

       mulut bagian belakang, sedang duktusnya bernama duktus wartoni.

  c) Kelenjar sublingualis. Kelenjar ini terletak di bawah selaput lendir

       dasar rongga mulut dan mengalir di dasar rongga mulut.

2) Faring (Tekak)

        Organ ini merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut

  dengan saluran makanan yang dinamakan esofagus (kerongkongan).

  Dalam lengkung faring ini terdapat tonsil. Tonsil ini merupakan

  kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan

  merupakan pertahanan terhadap masukknya kuman ke dalam tubiuh

  (infeksi).
                                                                  12



       Di bagian organ ini terletak persimpangan antara saluran

 pernapasan dan saluran makanan, letaknya di belakang rongga mulut

 dan rongga hidung, di depan ruas tulang belakang.

       Gerakan menelan (deglutisio) mencegah masuknya makanan ke

 jalan napas dan pada saat yang bersamaan jalan napas ditutup

 sementara. Kemudian pada permulaan menelan, otot mulut dan lidah

 berkontraksi secara bersamaan.

3) Esofagus (Kerongkongan)

       Organ ini merupakan salah satu penyusun sistem pencernaan

  yang menghubungkan tekak dengan lambung yang panjangnya kurang

  lebih 25 cm. Esofagus terdapat pada belakang trakea dan di depan

  tulang punggung setelah melalui kavum toraks menembus diafragma

  dan masuk ke dalam abdomen menuju lambung (gaster). Di mulai dari

  faring sampai batas masuk kaidiak di bawah lambung. Lapisan dinding

  esofagus dari dalam ke luar adalah:

  a) lapisan selaput lendir (mukosa),

  b) lapisan submukosa,

  c) lapisan otot melingkar sirkuler,

  d) lapisan otot memanjang longitudinal.
                                                                     13



4) Gaster (Lambung)




                      Gambar 2.3 Anatomi Lambung
      (http://radenbeletz.com/sistem-pencernaan-pada-manusia.html)


          Ventrikulum atau maag atau lambung atau gaster merupakan

  saluran makanan yang paling dapat mengembang lebih besar terutama

  pada epigastrium.

Bagian gaster atau ventrikulum ini terdiri atas:

a) Osteum kardiak adalah bagian akhir esofagus yang masuk ke dalam

    lambung.

b) Fundus ventrikuli adalah bagian yang menonjol ke atas terletak di

    sebelah kiri osteum kardiak, biasanya terisi gas.

c) Korpus ventrikuli adalah badan lambung, setinggi osteum kardiak,

    lekukan pada bagian bawah kurvatura minor.

d) Kurvatura minor terletak di sebelah kanan lambung, dari osteum

    kardiak sampai pilorus.
                                                                     14



e) Kurvatura mayor terletak di sebelah kiri osteum kardiak melalui

f) fundus ventrikuli menuju ke kanan sampai pilorus inferior.

g) Antrum pilorus adalah bagian lambung berbentuk seperti tabung

    mempunyai otot tebal yang membentuk sfingter pilorus.

Fungsi gaster antara lain:

a) Tempat       berkumpulnya       makanan,,   menghancurkan,        dan

    menghaluskan makanan oleh peristaltik lambung dan getah lambung.

b) Mempersiapkan makanan untuk dicerna oleh usus dengan semua

c) makan dicairkan dan dicampurkan dengan asam hidroklorida.

d) Mengubah protein menjadi pepton oleh pepsin.

e) Membekukan susu dan kasein yang dikeluarkan oleh renin.



5) Intestinum Minor (Uses Halus)




                    Gambar 2.4 Anatomi Usus halus
    (http://radenbeletz.com/sistem-pencernaan-pada-manusia.html)
                                                                     15



       Salah satu bagian organ sistem pencernaan yang paling panjang,

kurang lebih 6 meter. Merupakan saluran yang dimulai dari pilorus sampai

dengan sekum. Sebagai tempat proses pencernaan selanjutnya dan

terjadinya absorpsi hasil pencernaan. Intestinum minor (usus halus)

terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

a) Duodenum

            Duodenum (usus 12 jari) adalah bagian pertama usus halus

   yang panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda, dan kepalanya

   melingkari kepala pankreas. Pada jarak 10 cm dari pilorus, di

   duodenum terdapat papila vateri. Papila vateri ini merupakan tempat

   bermuaranya duktus koledokus dan saluran pankreas (duktus

   pankreatikus atau duktus Wirsung) berbentuk menonjol ke dalam

   lumen duodenum.

            Dinding dalam duodenum mempunyai lapisan mukosa yang

   banyak mengandung kelenjar. Kelenjar ini dinamakan kelenjar

   Brunner (kelenjar duodenal) yang berfungsi memproduksi getah usus

   halus.

b) Yeyenum dan Ileum

   Yeyenum dan ileum mempunyai panjang ± 6 meter dan terdiri atas:

   1) yeyenum dengan panjang ± 2-3 meter,

   2) ileum dengan panjang ± 4-5 meter.
                                                                      16



            Batas sambungan antara yeyenum dart ileum tidak tegas.

   Sedangkan ujung bawah ileum berhubungan dengan sekum dengan

   perantara lubang yang dinamakan orifisium ileoseikalis. Orifisium ini

   diperkuat oleh sfingter ileoseikalis dan dilengkapi dengan katup

   valvula seikalis atau disebut juga valvula baukini. Fungsi valvula ini

   adalah mencegah cairan atau isi kolon asendens tidak kembali ke

   ileum.

   Mukosa Usus Halus

            Mukosa ini merupakan permukaan epitel yang sangat luas

   melalui lipatan mukosa mikrovili memudahkan pencernaan dan

   absorpsi.    Lipatan-lipatan   tersebut   dapat   memperbesar    atau

   mengembangkan permukaan usus halus. Usus halus ini mempunyai

   fungsi mencerna makanan dan mengabsorpsi khime yang berasal dari

   lambung melalui pembuluh darah kapiler.

6) Intestinum Mayor (Usus Besar)




                      Gambar 2.5 Anatomi Usus Besar
(http://radenbeletz.com/sistem-pencernaan-pada-manusia.html)
                                                                      17




       Organ tubuh berupa usus besar ini disebut juga kolon, panjangnya

mencapai kira-kira 150 cm dan lebarnya 5-6 cm yang dimulai di papilla

ilialis (dapat dilihat pada Gambar 1.5). Fungsi usus besar atau kolon ini

adalah:

a) tempat menampung sisa makanan (feses) yang telah diabsorpsi usus

   halus.

b) menyerap air dari sisa makanan.

c) tempat tinggal bakteri E. coli.

   Susunan usus besar dari atas ke bawah adalah:

a) Sekum

     Sekum (caecum) adalah bermuaranya sisa makanan yang telah

diserap usus halus melalui valvula baukini. Terletak di abdomen sebelah

kanan bawah dan di bawah sekum terdapat apendiks vermiformis yang

berbentuk seperti cacing sehingga disebut umbai cacing dengan

panjangnya ± 6 cm. Dalam pemeriksaan kolonoskopi harus mencapai

sekum, hal ini sebagai data objektif bahwa pemeriksaan telah dilakukan

mulai dari anus, rektum, sigmoid, kolon desendens, kolon transversum,

kolon asendens, sampai dengan sekum.

a) Kolon Asendens

            Bagian kolon ini terdapat di abdomen sebelah kanan membujur

   ke atas dari ileum menuju ke bawah hepar dan melengkung ke arah
                                                                              18



          kiri menuju kolon transversum. Lengkungan ini biasa disebut fleksura

          hepatika. Panjang kolon ini dapat mencapai 13 cm.

      b) Kolon Transversum

                 Bagian kolon ini membujur dari abdomen sebelah kanan kolon

          asendens ke abdomen sebelah kiri kolon desendens di bawah hepar

          dan lambung. Atau sebelah kanan terdapat fleksura hepatika dan

          sebelah kiri terdapat fleksura lienalis. Panjangnya dapat mencapai ± 38

          cm dan bentuk lumen kolon transversum ini khas membentuk segitiga.

      c) Kolon Desendens

          Kolon ini panjangnya ± 25 cm. Letaknya terdapat pada fleksura

          lienalis membujur dari atas ke bawah abdomen sebelah kiri sampai ke

          depan ileum kiri kemudian menyambung dengan kolon sigmoid.



3. Klasifikasi

   Klasifikasi penyakit diare menurut Aru W. Sudoyo (2006; 140) yaitu :

   a. Diare Akut

      Yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari. Sedangkan menurut

      Wold gastroenterology organitation global guideline 2005, diare akut

      didefinisikan sebagai feses tinja cair atau lembek dengan jumlah lebih

      banyak dari normal, berlangsung 14 hari.

   b. Diare Kronik

      Adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.
                                                                               19



   c. Diare Persisten

      Merupakan istilah yang dipakai di luar negeri yang mengatakan diare

      berlangsung selama 15 sampai 30 hari yang merupakan kelanjutan dari

      diare aku (peralihan akut dan kronik, dimana lama diare kronik yang

      dianut yaitu yang berlangsung lebih dari 30 hari).

   d. Diare Infektif

      Bila penyebabnya infeksi sedanngkan diare non-infektif bila tidak

      ditemukan infeksi sebagai penyebab pada kasus tersebut.

   e. Diare Organik

      Adalah bila ditemukan penyebab anaomik, bakteriologik, hormonal atau

      toksikologik. Diare fungsinal bila tidak dapat ditemukan penyebab

      organik.



4. Etiologi

   Adapun etiologi dari penyakit diare menurut Suryadi dan Rita Yuliani (2001;

   85) yaitu :

   a. Fakor Infeksi

       1) Bakteri : enteropathogenik escherichia, salmonella, shigella, yeresinia,

           enterocalitica.

       2) Virus : enterovirus, enchoviruses, ademovirus, human retrovirua.

           Seperti agent dan rotolvirus
                                                                           20



   3) Jamur : candida moteritis

   4) Parasit : giardia clamblia, cryptosporidium

   5) Protozoa

b. Bukan Factor Infeksi

   1) Alergi makanan : suhu dan protein

   2) Gangguan metabolik atau malabsorbsi : penaykit celiac, cystic,

       fibrosis pada pangkreas

   3) Iritasi langsung pada saluran pencernaan makanan

   4) Obat-obatan : antibiotik

   5) Penyakit usus : colitis ulcerative, crotin disease, entrocolitis

   6) Emosional dan stress

   7) Obstruksi usus

       Menurut dr. Nursalam, M. Nurs (Hons) (2008; 169-170), selain kuman

ada beberapa prilaku yang dapa meningkatkan resiko terjadinya diare, yaitu :

a. Tidak memberikan ASI secara penuh unuk 4-6 bulan pertama dari

   kehidupan

b. Menggunakan botol susu

c. Menyimpan makanan pada masak

d. Air minum tercemar dengan bakteri tinja

e. Idak mencuci tangan setelah buang air besar, sesudah membuang tinja

   atau sebelum menjamah makanan.
                                                                               21



5. Patofisiologi

          Adapun patofisiologi pada diare menurut A. Aziz (2006; 12) yaitu :

   Proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan factor

   diantaranya pertama factor infeksi, proses ini dapat diawali adanya

   mikroorganisme (kuman) yang masuk kedalam saluran pencernaan yang

   kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapa

   menurunkan daerah mukosa usus. Selanjutnya erjadi perubahan kapasitas usus

   yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absopsi cairan dan

   elektrolit. Atau juga dikatakan adanya toksin bakteri akan menyebabkan

   system transport aktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang

   kemudian sekresi cairan dan elektrolit akan meningkat. Kedua, factor

   malabsorpsi     merupakan kegagalan dalam        melakukan     absorpsi   yang

   mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air

   dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus

   sehingga terjadi diare. Ketiga, factor makanan, ini dapat terjadi apabila oksin

   yang ada tidak mampu diserap dengan baik. Sehingga terjadi peningkatan

   peristaltik usus yang mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap

   makanan yang kemudian menyebabkan diare. Keempat, factor psikologis

   dapat mempengaruhi terjadinya peristaltik usus yang akhirnya mempengaruhi

   proses penyerapan makanan yang dapat menyebabkan diare.
                                                                           22



6. Tanda dan Gejala

          Adapun tanda dan gejala yang timbul pada penderita gastroenteritis

   menurut Suriadi dan Rita Yuliani (2001; 141) adalah sebagai berikut :

   a. Seringnya buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer

   b. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi : lengan kulit jelek (elastisitas

      menurun), ubun-ubun dan mata cekung. Membrane mukosa kering

      malaise

   c. Kram abdominal

   d. Demam

   e. Mual dan munah

   f. Anoreksia

   g. Lemas

   h. Pucat

   i. Perubahan tanda-tanda vital : nadi dan pernapasan cepat

   j. Menurun atau tidak ada pengeluaran urin.



7. Komplikasi

        Adapun komplikasi dari penyakit diare menurut Speer, Kathleer Morgan

   (2007; 160) yaitu :

   a. Hidrasi berat, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit

   b. Syok hypovolemik yang terkompensasi (hipoensi, asidosis metabolik,

      perfusi sistemik buruk).
                                                                                23



8. Pemeriksaan Diagnostik

   Adapun pemeriksaan diagnostik pada penyakit diare menurut Suratun (2010;

   141);

   a. Pemeriksaan tinja

       1) Makroskopis dan mikroskopis.

       2) pH dan kadar gula dalam feses.

       3) Bila perlu diadakan uji bakteri

   b. Pemeriksaan feses: bila terdapat lekosit menunjukkan adanya inflamasi

       kolon; adanya diare yang berdarah perlu dilakukan kultur feses karena

       dicurigai penyebabnya adalah EHEC (Enterohernorrhagic E. coli), atau

       bakteri/ parasit/ virus lainnya.

   c. Pemeriksaan kimiawi darah (ureum, kreatinin), kadar elektrolit darah

       (natrium, kalium, klorida, fosfat), analisa gas darah dan pemeriksaan darah

       lengkap perlu dilakukan pada kasus diare berat.



9. Penatalaksanaan

           Penatalaksanaan medik gastroenteritis menurut Suratun (2010; 142)

   antara lain :

   a. Penggantian cairan dan elektrolit

       1) Rehidrasi oral dilakukan pada semua pasien yang masih mampu min

            pada diare akut. Cairan rehidrasi oral dapat dibuat sendiri oleh pasien

            dengan menambahkan 1/2 sendok teh garam, 1/2 sendok teh baking
                                                                         24



      soda, dan 2-4 sendok makan gula per liter air. Dua pisang atau 1

      cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium. Minum cairan

      sebanyak mungkin atau berikan oralit.

2) Diberikan hidrasi intravena pada kasus diare hebat. NaCl atau laktat

      ringer harus diberikan dengan suplementasi kalium.

3) Monitor status hidrasi, tanda-tanda vital dan output urine.

Penggantian cairan dapat menggunakan rumus metode Pierce berdasarkan

keadaan klinis yaitu :

1) Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan 5% x KgBB

2) Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan 8% x KgBB

3) Dehidrasi berat, kebutuhan cairan 10% x KgBB

                         Tabel 1.1 Jenis Cairan Infus

 No         Jenis Cairan                             Kegunaan
  1    Larutan Isotonis              Larutan isotonis seperti NaCl dan RL
       NaCl (Normal Salin)           menetap        dalam     kompartemen
       0,9% Ringer Laktat            vaskuler, mengembangkan volume
       (RL)                          vaskuler.
       Dektrose 5% dalam air         D5W adalah isotonik pada awal
       (D5W)                         pemberian tetapi menyediakan air
                                     bebas ketika dektrose
                                     dimetabolisme, meningkatkan
  2    Larutan Hipotonik             Larutan hipotonik untuk restorasi air
       NaCI 0,45% dan NaCl           volume cairan intraseluler dan
                                     dan menangani dehidrasi seluler.
       0,33%                         ekstraseluler.
                                     Larutan ini meningkatkan produk
                                     sisa oleh ginjal.
                                                                            25



   No         Jenis Cairan                             Kegunaan
    3     Larutan Hipertonik            Larutan hipertonik menarik
          Dektrose 5% dalam             cairan keluar dari kompartemen
          NaCI Dektrose 5%              intraseluler dan interstitial ke
          dalam 0,45% NaCI              dalam kompartemen vaskuler,
          Dektrose 5% dalam RL          mengembangkan volume vaskuler.




b. Pemberian antibiotik

   1) Pengobatan antibiotik pada umumnya tidak dianjurkan karena akan

        mengubah flora normal usus dan menyebabkan diare menjadi lebih

        buruk. Pada diare akut infeksi, 40% kasus diare infeksi sembuh kurang

        dari 3 hari tanpa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik di

        indikasikan pada pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti

        demam, feses berdarah, leukosit pada feses. Metronidazole merupakan

        obat yang efektif dan aman untuk giardia lamblia dan bakteri anaerob.

   2) Pengobatan dengan obat antidiare tidak perlu diberikan obat antidiar

        seperti   kaolin,   pektin,   difenoksilat   (lomotil)   karena   dapat

        memperlambat motilitas usus sehingga enteritis akan memanjang.

   3) Pemberian nutrisi parenteral bertujuan untuk mempertahankan

        sirkulasi, mencukupi dan mempertahankan keseimbangan air dan

        elektrolit, mencegah dan mengganti kehilangan jaringan tubuh dan

        mengurangi morbiditas dan mortalitas.
                                                                                    26



     c. Diet

         Diet yang bias diberikan pada pasien adalah makanan yang mudah dicerna

         seperti pisang, nasi atau bubur, roti, biji-bijian kering, dan susu ibu (ASI).

         Makanan atau cairan rehidrasi oral dengan nyata mengurangi lamanya

         diare. Secepatnya kembali kemakanan biasa merupakan hal yang penting,

         terutama pada kasus-kasus malnutrisi yang sudah ada sebelumnya. Susu

         dan jus pada mulanya harus diencerkan sebelum diberikan.



B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

  1. Pengkajian

     Pengkajian adalah pengumpulan informasi atau data tentang kesehatan dan

     dilakukan analisa data untuk menentukan masalah keperawatan kesehatan

     klien, menentukan rencana dan mengevaluasi tindakan keperawatan. Adapun

     pengkajian ini diambil menurut DR. Nursalam, M. Nurs (Hons) (2008; 172-

     175) yaitu :

      a. Identitas pasien

         Nama lengkap, tempat tinggal, jenis kelamin, tanggal lahir, umur, asal

         suku, nama orang tua, pekerjaan orang tua.

      b. Keluhan utama

         Buang air besar (BAB) lebih 3x sehari, < 4 kali dan cair (diare tanpa

         dehidrasi), BAB 4-10 kali dan cair (dehidrasi ringan, sedang), BAB > 10

         kali (dehidrasi berat)
                                                                        27



c. Riwayat penyakit sekarang

   1) Bayi menangis, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan

       berkurang

   2) Tinja makin cair mungkin disertai lendir atau darah

   3) Anus dan daerahnya timbul lecet karena sering defekasi

   4) Gejala muntah dapat terjadi

   5) Bila terjadi dehidrasi berat, gejala dehidrasi mulai tampak

   6) Dieresis : terjadi oliguria (kurang dari 1 ml/Kg/BB/Jam)

d. Riwayat kesehatan

    1) Riwayat imunisasi terutama campak Karena diare lebih sering terjadi

        atau berakibat berat pada anak dengan campak atau yang baru

        menderita campak 4 minggu terakhir sebagai akibat dari penurunan

        kekebalan pada pasien.

    2) Riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan (antibiotik).

    3) Riwayat penyakit yang sering terjadi pada anak-anak berusia

        dibawah 2 tahun biasanya batuk, pilek, kejang terjadi sebelum atau

        setelah diare.

e. Riwayat nutrisi

   1) Pemberian ASI penuh pada anak umur 4-6 bulan sangat menurangi

       resiko diare dan infeksi yang serius.
                                                                       28



   2) Pemberian susu formula apakah yang dibuat dengan air masak dan

       diberikan dengan botol (dot) Karena botol yang tidak bersih akan

       menimbulkan pencemaran.

   3) Perasaan haus anak diare tanpa dehidrasi tidak merasa haus (minum

       biasa) pada dehidrasi ringan atau sedang anak merasa haus dan ingin

       minum banyak sedangkan pada dehidrasi berat anak malas minum

       atau tidak biasa minum.

f. Pemeriksaan fisik

   1) Keadaan umum

       a) Baik, sadar (tanpa dehidrasi)

       b) Gelisah, rewel (dehidrasi ringan)

       c) Lesu, lunglai (dehidrasi berat)

   2) Berat badan

      Anak diaredengan dehidrasi biasanya mengalami penurunan berat

      badan sebagai berikut :
                                                                                29



         Table 1.2 tingkat dehidrasi dengan persentase kehilangan berat badan

                 % Kehilangan Berat
   Tingkat            Badan                                               Mulut &
                                                Kulit         Mata
   Dehidrasi                                                               Lidah
               Bayi         Anak
                                         Turgor kembali
                                         dengan lambat     Kelopak
   Dehidrasi   5%           3%
                                         (cubitan          mata         Kering
   Ringan      50 ml/Kg     30 ml/Kg
                                         kembali dalam     cekung
                                         waktu 2 detik)
                                         Turgor kembali
               5-10%                     dengan lambat     Kelopak
   Dehidrasi                6%
               50-100                    (cubitan          mata         Kering
   Sedang                   60 ml/Kg
               ml/Kg                     kembali dalam     cekung
                                         waktu 2 detik)
                                         Turgor kembali
                                         sangat lambat     Kelopak
               10-15%
   Dehidrasi                9%           (cubitan          mata         Sangat
               100-150
   Berat                    90 ml/Kg     kembali lebih     sangat       kerin
               ml/Kg
                                         dari waktu 2      cekung
                                         detik )


      3) Kepala mengalami dehidrasi ubun-ubun biasanya cekung

      4) Abdomen kemungkinan mengalami distensi, kram dan bising usus

          yang meningkat

      5) Anus, apakah ada iritasi atau tidak.



2. Diagnosa Keperawatan

   a. Diare berhubungan dengan inflarnasi, iritasi dan malabsorpsi usus, adanya

      toksin dan penyempitan segmental usus.
                                                                                 30



  b. Kurang volume cairan berhubungan dengan output melalui rute normal

     (diare berat, muntah), status hipermetabolik dan pemasukan cairan yang

     terbatas.

  c. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

     gangguan absorpsi nutrien, status hipermetabolik

  d. Nyeri berhubungan dengan hiperperistaltik usus, diare lama, iritasi kulit/

     jaringan.

  e. Cemas berhubungan faktor psikologis/rangsangan simpatis (proses

     inflamasi), ancaman konsep diri, ancaman terhadap perubahan status

     kesehatan dan status sosial ekonomi.

  f. Kurang      pengetahuan   tentang   kondisi,   prognosis   dan   kebutuhan

     pengobatan berhubungan dengan kesalahan interprestasi informasi, kurang

     mengingat dan tidak mengenal sumber informasi.

  g. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi sistemik

  h. Resti kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi karena diare.



3. Rencana Keperawatan

  a. Diare berhubungan dengan inflarnasi, iritasi dan malabsorpsi usus, adanya

     toksin dan penyempitan segmental usus.

     Kriteria hasil :

     -   Klien akan melapor- kanpenurunan frekuensi defekasi, konsistensi

         kembali normal.
                                                                          31



-   Klien akan mampu mengidentifikasi/ menghindari faktor pemberat

    diare.

Intervensi :

1) Observasi dan catat ferkuensi defakasi, jumlah dan warna feses.

    Rasional : Identifikasi beratnya diare dan untuk menentukan

                intervensi selanjutnya.

2) Tingkatkan tirah baring, siapkan alat-alat di samping tempat tidur.

    Rasional : Istirahat menurunkan motalitas usus, laju metabolisme

3) Identifikasi makanan/cairan yang mencetuskan diare.

    Rasional : Menghindari iritan dan meningkatkan istirahat usus

4) Observasi    demam,       takikardi,   lethargi,   leukositosis/leukopeni,

    penurunanprotein serum, ansietas dan kelesuan.

    Rasional : Tanda toksik megakolon atau perforasi dan peritonitis

                akan terjadi/telah terjadi memerlukan intervensi medik

                segera.

5) Kolaborasi dalam pemberian terapi antikolinergik sesuai program

    medik.

    Rasional : Menurunkan motalitas/ peristaltik GI dan menurunkan

                sekresi digestif untuk menghilangkan kram dan diare.

6) Berikan terapi steroid.

    Rasional : Diberikan untuk menurunkan proses inflamasi.
                                                                      32



   7) Berikan terapi antasida.

       Rasional : Menurunkan iritasi gaster, mencegah inflamasi dan

                      menurunkan risiko infeksi pada colitis.

   8) Berikan terapi antibiotik.

       Rasional : Mengobati infeksi supuratif lokal.



b. Kurang volume cairan berhubungan dengan output melalui rute normal

   (diare berat, muntah), status hipermetabolik dan pemasukan cairan yang

   terbatas.

   Kriteria hasil :

   -   Intake seimbang dengan output.

   -   Tanda-tanda vital dalam batas normal.

   -   Membran mukosa kulit lembab

   -   Capillary refill < 3 detik

   -   Berat badan seimbang

   Intervensi :

   1) Monitor dan catat masukan dan pengeluaran cairan : urin, feses

       (jumlah, konsistensi dan wama.

       Rasional : Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan, dan

                      merupakan pedoman untuk penggantian cairan
                                                                          33



2) Observasi tanda-tanda vital (TTV)

   Rasional : Hipotensi, takikardi, demam dapat menunjukkan respon

                terhadap kehilangan cairan.

3) Observasi adanya kulit kering dan membran mukosa, kering,

   penurunan turgor kulit, pengisian kapiler lambat.

   Rasional : Menunjukkan kehilangan cairan berlebihan/dehidrasi.

4) Ukur berat badan (BB) tiap hari.

   Rasional : Indikator cairan dan status nutrisi.

5) Pertahankan pembatasan per oral, tirah baring dan hindari aktivitas.

   Rasional : Kolon di istirahatkan untuk penyembuhan dan untuk

                menurunkan kehilangan cairan usus.

6) Laporkan adanya kelemahan otot umum dan disritmia jantung.

   Rasional : Kehilangan cairan berlebihan menyebabkan ketidak

                seimbangan elektrolit.Hipokalemia dapat menyebabkan

                gangguan irama jantung.

7) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian: cairan parenteral,

   transfusi darah sesuai indikasi.

   Rasional : Mempertahankan          istirahat   usus   akan   memerlukan

                penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan/

                anemia.

8) Berikan terapi anti diare sesuai program medik.

   Rasional : Menurunkan kehilangan cairan dari usus.
                                                                       34



   9) Berikan terapi antiemetik sesuai program medik.

       Rasional : Digunakan untuk mengontrol mual/muntah.

   10) Berikan terapi antipiretik sesuai program medik.

       Rasional : Mengontrol demam. Menurunkan IWL (Indeks Water

                      Loss).



c. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

   gangguan absorpsi nutrien, status hipermetabolik

   Kriteria hasil :

       -   BB stabil/naik.

       -   Makan habis 1 porsi.

       -   Mual berkurang.

   Intervensi :

  1) Timbang BB setiap hari.

      Rasional : Memberikan               informasi   tentang    kebutuhan

                      diet/keefektifan terapi.

  2) Dorong tirah baring dan/atau pembatasan aktivitas selama sakit.

      Rasional : Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah

                      penurunan kalori.

  3) Anjurkan istirahat sebelum makan.

      Rasional : Menurunkankan peristaltik usus dan meningkatkan energi

                      untuk makan.
                                                                         35



4) Berikan perawatan mulut terutama sebelum makan.

   Rasional : Mulut yang bersih dapat meningkatkan sclera makan.

5) Ciptakan lingkungan yang nyaman.

   Rasional : Lingkungan yang nyaman menurunkan stress dan lebih

                   kondusif untuk makan.

6) Dorong klien untuk menyatakan perasaan tentang masalah makanan/

   diet.

   Rasional : Keragu-raguan untuk makan mungkin di akibatkan oleh

                   takut bahwa makan akan menyebabkan eksaserbasi

                   gejala.

7) Kolaborasi dengan tim gizi/ ahli diet untuk menentukan diet TKTP

   rendah serat.

   Rasional : Protein untuk penyembuhan integritas jaringan. Rendah

                   serat menurunkan peristaltik usus terhadap makanan.

8) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian preparat besi.

   Rasional : Mencegah/mengobati anemia karena proses infeksi lama.

9) Berikan terapi vitamin B12 sesuai program medik.

   Rasional : Meningkatkan produksi sel darah merah/memperbaiki

                   anemia.

10) Berikan terapi asam folat sesuai program medik.

   Rasional : Kehilangan folat umum akibat penurunan masukan oral

                   atau gangguan absorpsi.
                                                                              36



   11) Berikan nutrisi parenteral total, terapi intra vena sesuai indikasi.

       Rasional : Mengistirahatkan usus sementara dan memberikan nutrisi

                      penting.



d. Nyeri berhubungan dengan hiperperistaltik usus, diare lama, iritasi kulit/

   jaringan.

   Kriteria hasil :

   -   Ekspresi wajah rileks.

   -   Skala nyeri 0-2.

   -   Tanda-tanda vital dalam batas normal.

   Intervensi :

   1) Dorong klien untuk melaporkan nyeri yang di alami.

       Rasional : Untuk mengetahui derajat nyeri.

   2) Observasi laporan kram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya,

       intensitas (skala 0-10), selidiki dan laporkan perubahan karakteristik

       nyeri.

       Rasional : Perubahan        pada    karakterisik    nyeri    menunjukkan

                      penyebaran penyakit atau terjadinya komplikasi.

   3) Observasi adanya respons nonverbal, dan perubahanya.

       Rasional : Bahasa tubuh/respons nonverbal dapat digunakan untuk

                      mengetahui besarnya nyeri yang di alami klien.
                                                                           37



   4) Kaji     ulang     faktor-faktor   yang      menyebabkan   meningkatnya/

       menghilangnya nyeri.

       Rasional : Untuk mengetahui faktor pencetus nyeri.

   5) Berikan tindakan nyaman seperti pijatan punggung, ubah posisi dan

       aktifitas senggang.

       Rasional : Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian

                       dan meningkatkan kemampuan koping.

   6) Observasi atau catat adanya distensi abdomen dan perubahan TTV.

       Rasional : Menunjukkan terjadinya obstruksi usus karena inflamasi,

                       edema dan jaringan parut.

   7) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik.

       Rasional : Untuk menurunkan nyeri dan memudahkan istirahat.

   8) Berikan terapi antikolinergik sesuai program medik.

       Rasional : Menghilangkan spasme saluran gastrointestinal dan

                       bertanjutnya nyeri kolik.

   9) Berikan terapi anodin supp sesuai program medik.

       Rasional : Merilekskan otot rectal dan menurunkan nyeri spasme.



e. Cemas berhubungan faktor psikologis/rangsangan simpatis (proses

   inflamasi), ancaman konsep diri, ancaman terhadap perubahan status

   kesehatan dan status sosial ekonomi.

   Kriteria hasil :
                                                                     38



   -   Klien rileks.

   -   Kecemasan klien berkurang.

   -   Klien dapat istirahat cukup.

Intervensi :

1) Amati perilaku klien: (gelisah, peka rangsang, menolak, kurang kontak

   mata).

   Rasional : Indikator derajat kecemasan/ stress. Hal ini dapat terjadi

                akibat gejala fisik.

2) Dorong klien untuk mengeksplorasi perasaan         dan berikan umpan

   balik.

   Rasional : Menciptakan hubungan terapetik. Membantu klien/orang

                terdekat    dalam      mengidentifikasi   masalah   yang

                menyebabkan stress.

3) Berikan informasi nyata/ akurat tentang apa yang dilakukan misal:

   tirah baring, pembatasan masukan peroral dan prosedur.

   Rasional : Keterlibatan      Mien     dalam   perencanaan   perawatan

                memberikan rasa kontrol dan membantu menurunkan

                kecemasan.

4) Berikan lingkungan tenang dan tingkatkan istirahat.

   Rasional : Meningkatkan relaksasi dan membantu menurunkan

                kecemasan.
                                                                                39



   5) Dorong orang terdekat untuk menyatakan perhatian terhadap klien.

        Rasional : Dukungan keluarga dapat menurunkan stress.

   6) Bantu klien untuk mengidentifikasi/perilaku koping yang digunakan

        pada masa lalu.

        Rasional : Perilaku adaptif yang dikuatkan dapat meningkatkan rasa

                       kontrol diri klien.

   7) Bantu klien belajar mekanisme koping baru misal: teknik mengatasi

        stress.

        Rasional : Belajar cara baru untuk mengatasi masalah dapat

                       membantu dalam menurunkan stress dan kecemasan.

   8) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian sedatif sesuai indikasi.

        Rasional : Untuk menurunkan ansietas dan memudahkan istirahat.



f. Kurang         pengetahuan   tentang      kondisi,   prognosis   dan   kebutuhan

   pengobatan berhubungan dengan kesalahan interprestasi informasi, kurang

   mengingat dan tidak mengenal sumber informasi.

   Kriteria hasil :

    -    Klien akan menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan

         pengobatan.

    -    Klien akan dapat mengidentifikasi situasi stress dan tindakan khusus

         untuk menerimanya.
                                                                              40



   Intervensi :

   1) Kaji persepsi klien tentang proses penyakit.

       Rasional : Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran

                       kebutuhan belajar individu.

   2) Jelaskan        tentang    proses      penyakit,   penyebab,   gejala   dan

       mengidentifikasi cara menurunkan faktor penyebab.

       Rasional : Pengetahuan dasar yang akurat memberikan klien

                       kesempatan untuk membuat keputusan informasi/pilihan

                       tentang masa depan dan kontrol penyakit kronis.

   3) Dorong klien untuk mengajukan pertanyaan.

       Rasional : Untuk mendapat informasi yang tertinggal atau salah

                       konsep.

   4) Tekankan pentingnya perawatan. Misal: teknik cuci tangan dengan

       baik dan perawatan perineal yang baik.

       Rasional : Menurunkan penyebaran bakteri dan risiko iritasi kulit/

                       kerusakan, infeksi.



g. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi sistemik

   Kriteria hasil :

   -   Terjadi penurunan suhu tubuh

   Intervensi :

   1) Kaji karakteristik peningkatan suhu tubuh pasien
                                                                        41



   Rasional : sebagai      data   dasar     untuk   memberikan   intervensi

                 selanjutnya

2) Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh

   Rasional : untuk mengetahui keadaan umum pasien

3) Beri kompres dengan air dingin (air biasa) pada daerah aksilla, lipat

   paha, dan temporal bila terjadi panas.

   Rasional : secara konduksi dan konveksi, panas tubuh akan

                 berpindah dari tubuh ke material dingin.

4) Beri dan anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat

   menyerap keringat seperti katun

   Rasional : Pengeluaran suhu tubuh dengan cara evaporasi berkisar

                 22% dari pengeluaran suhu tubuh.

5) Lakukan dan anjurkan keluarga untuk melakukan masase pada

   ekstremitas

   Rasional : Masase dilakukan untuk meningkatkan aliran darah ke

                 perifer dan terjadi vasodilatasi perifer akan meningkatkan

                 evaporasi.

6) Lakukan tirah baring pada fase akut

   Rasional : penurunan aktivitas akan menurunkan laju metabolisme

                 yang tinggi pada fase akut.
                                                                              42



   7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiretik

       Rasional : Antipiretik bertujuan memblok respons panas sehingga

                       suhu tubuh pasien dapat lebih cepat menurun.



h. Resti Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi karena diare

    Kriteria hasil :

    - kulit pasien tetap utuh

    Intevensi :

    1) Ganti popok dengan sering

        Rasional : untuk menjaga agar kulit tetap bersih dan kering

    2) Bersihkan bokong perlahan-lahan dengan sabun lunak, non-alkalin

        dan air atau celupkan anak dalam bak untuk pembersihan yang

        lembut

        Rasional : karena feses diare sangat mengiritasi kulit

    3) Beri salep seperti seng oksida

        Rasional : untuk melindungi kulit dari iritasi (tipe salep dapat

                       bervariasi untuk setiap anak dan memelukan periode

                       percobaan)

    4) Pajankan dengan ringan kulit utuh yang kemerahan pada udara jika

        mungkin, beri salep pelindun pada kulit yang sangat teriritasi atau

        kulit terekskoriasi
                                                                          43



            Rasional : untuk meningkatkan penyembuhan, untuk memudahkan

                        penyembuhan

       5) Hindari pemakaian tsu basah yang djual bebas yang mengandung

           alkohol pada kulit yang terekskoriasi

            Rasional : karena akan menyebabkan rasa menyengat

       6) Observasi bokong dan perineum akan adanya infeksi, seperti kandida

            Rasional : sehingga terapi yang tepat dapat dimulai

       7) Beri obat antijamur yang tepat

           Rasional : untuk mengobati infeksi jamur kulit.



4. Evaluasi

        Adapun evaluasi yang diharapkan dari perencanaan asuhan keperawatan

   pada pasien gastroenteritis adalah :

   a. Melaporkan depekasi normal .

   b. Mempertahankan keseimbangan cairan

   c. Pemenuhan nutrisi terpenuhi

   d. Nyeri berkurang sampai dengan hilang.

   e. Menurunkan tingkat ansietas

   f. Pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan

      bertambah

   g. Terjadi penurunan suhu tubuh

   h. Kulit pasien tetap utuh.
                                                                               44



5. Discharge Planning

   a. Jelaskan obat-obatan yang diberikan, efek samping dan kegunaannya.

   b. Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang penyebab diare

      dan cara untuk mencegah penyakit diare dan penularan

   c. Berikan penjelasan bahwa komplikasi diare agar dapat dicegah/ dikontrol

      sesegera mungkin

   d. Ajarkan kepada orang lain tentang perjanjian pemeriksaan tindak lanjut

   e. Ajarkan Ajarkan pada orang tua dan anak tentang hygiene personal dan

      lingkungan seperti; air minum yang aman, pembuangan yang sehat,

      penyimpanan makanan yang sehat dan kebiasaan buang air.
45
                                                                                           46



                                            BAB III
                                  TINJAUAN KASUS


A. Pengkajian Keperawatan

    Nama Mahasiswa yang Mengkaji : Intan Aulia                          NRP : 10.01.08.0849

    Program Studi : D.III Keperawatan

     Unit                :   Keperawatan Anak              Tgl. Pengkajian     :   06 Juli 2011
     Ruang / Kamar :         Theresia I / 14 - 4           Waktu Pengkajian    :   07.15 WIB
     Tanggal MRS         :   05 Juli 2011                  Auto Anamnese       :   -
                                                           Allo Anamnese       :   Keluarga Pasien
   1. Identifikasi

      a. Klien

            Nama Initial                           :   An. “S”

            Nama Panggilan                         :   An. “A”

            Tempat / Tanggal Lahir (Umur) :        Palembang, 25-10-2010 (9 bulan)

            Jenis Kelamin                          :   Perempuan

            Anak ke                                :   I

            Agama / Suku                           :   Islam / Melayu

            Warga Negara                           :   Indonesia

            Bahasa yang Digunakan                  :   -

            Pendidikan                             :   -

            Alamat Rumah                           :   Gandus
                                                                                     47



    b. Orang Tua / Penanggung Jawab

                              Ayah                     Ibu               Penanggung jawab

     Nama Initial        :    Tn. “M”                  Ny. “S”           Tn. “M”

     Umur                :    21 Tahun                 21 tahun          21 Tahun

     Agama / Suku        :    Islam / Melayu           Islam / Melayu    Islam / Melayu

     Kebangsaan          :    Indonesia                Indonesia         Indonesia

     Pendidikan          :    Tamat SD                 Tamat SMA         Tamat SD

     Pekerjaan           :    Buruh                    IRT               Buruh

     Alamat Rumah        :    Gandus                   Gandus            Gandus



2. Data Medik

   a. Dikirim Oleh                      : BGD

   b. Diagnosa medik                    :

            Saat masuk                  : Gastroenteritis

            Saat pengkajian             : Gastroenteritis Berat

3. Keadaan Umum

   a. Keadaan Sakit

       Pasien tampak sakit sedang, karena dapat duduk dan berbaring lemah, pasien

       terpasang infuse KAEN 3A 15 tetes/mnt di tangan kiri set makro.

   b. Riwayat Kesehatan

       1)   Keluhan utama

            Ibu pasien mengatakan anaknya mencret ± 15 x per hari dan badan teraba

            panas.
                                                                                     48



       2)   Riwayat kesehatan sekarang

            Ibu pasien mengatakan pada tanggal 4 Juli 2011 anaknya mencret ± 15 kali,

            disertai muntah dan batuk pilek, lalu keluarga membawa pasien ke Bidan

            praktek dan pasien diberikan obat, akan tetapi sampai keesokan harinya

            tidak ada perubahan, lalu pada tanggal 5 Juli 2011 keluarga membawa

            pasien ke BGD Rumah Sakit RK Charitas Palembang dan oleh Dokter

            dianjurkan untuk di opname, akhirnya pasien dirawat di Paviliun Theresia I /

            14-4. Saat pengkajian tanggal 06 Juli 2011, pasien masih mencret 8 kali dan

            sesekali masih muntah, badan teraba hangat dan badan terasa lemas.

                    Berdasarkan uraian diatas mendapatkan kesenjangan dari tanda dan

            gejala antara teori dan kajian keperawatan secara langsung pada klien An.

            “S” sebelumnya klien sudah dibawa berobat ke bidan praktek selama satu

            hari dan saat pengkajian klien sudah dirawat di paviliun theresia I Rumah

            Sakit RK. Charitas selama 1 hari, penulis mengalami kesulitan dalam

            pengkajian keperwatan karena klien masih berumur 9 bulan dan saat

            didekati oleh perawat klien menangis. Oleh karena iu, penulis melakukan

            pendekatan dan kerjasama dengan orang tua atau keluarga klien yang lain.

       3)   Riwayat kesehatan masa lalu

            Ibu pasien mengatakan anaknya belum pernah dirawat di rumah sakit

            sebelumnya.

4. Tanda-Tanda Vital

   a. Kesadaran

       Kualitatif   : Compos mentis
                                                                                           49



      Kuantitatif :


      Skala Coma Glasgow :             > Respon Motorik                    :     6


                                       > Respon Bicara                     :     5


                                       > Respon Membuka Mata               :     4+


                                       Jumlah                              :     15

      Kesimpulan                                : Pasien sadar penuh


      Flapping Tremor / Asterixis      : Negatif


   b. Suhu                                      : 38,6 OC, di Axillar

   c. Nadi                                      : 100 x/menit , secara teratur dan penuh

   d. Pernafasan:              Frekuensi        : 22 x/menit

                              Irama             : Teratur


                              Jenis             : Dada


5. Pengukuran

   Tinggi Badan            : 67 cm.


   Berat Badan             : 7,2 Kg.


      IMT :                      =        = 9 kg


      Kesimpulan      : Berat badan kurang


      Catatan         : Perlu asupan nutrisi
                                                                              50




6. Genogram




                                             9

Keterangan :

               : Laki-laki

               : Perempuan

               : Laki-laki / Perempuan meninggal

               : Klien
 9             : Umur Klien
               : Orang Terdekat
               : Tinggal Serumah



     Kesimpulan : Ibu pasien mengatakan pasien adalah pertama dan tinggal serumah

     dengan kedua orang tua. Dalam keluarga tidak ada riwayat penyakit

     keturunan.

7. Pengkajian Pola Kesehatan

     a. Pengkajian Persepsi Kesehatan – Pemeliharaan Kesehatan

                 Riwayat prenatal: ibu klien mengatakan saat mengandung klien

         sudah mendapatkan vaksinasi dan tidak mengalami gangguan kesehatan,
                                                                       51



riwayat kelahiran bayi cukup bulan secara spontan dan ditolong oleh bidan

di klinik praktek bidan dengan Berat Badan saat lahir 3.300 gram dan

panjang bayi 49 cm.

      Riwayat tumbuh kembang anak: ibu klien mengatakan motorik

kasar pasien dapat menangis, tertawa, perkembangan motorik halus pasien

dapat tersenyum, dapat memanggil mama, perkembang aspek sosial pasien

susah berinteraksi dengan lingkungan yang baru, aspek kognitif pasien

dapat merangkak dan duduk.

      Riwayat penyakit yang pernah dialami : ibu klien mengatakan

ketika mengandung anaknya ibunya tidak pernah minum obat. Riwayat

vaksinasi, ibu klien mengatatakan anaknya hanya mendapatkan vaksinasi

lengkap yaitu BCG karena setiap akan diimunisasi pasien sakit.

1) Data Subjektif

  a) Keadaan sebelum sakit

      Ibu pasien mengatakan anaknya baru belajar merangkak dan

      merambat serta meraih semua barang-barang kecil            yang ada

      didekatnya dan memasukkan barang-barang tersebut ke dalam

      mulutnya. Ibu pasien mengatakan apabila pasien sakit membawa

      anaknya berobat ke klinik dan rumah sakit. Pasien minum ASI

      ibunya sejak lahir sampai sekarang diberi tambahan bubur saring.

      Pasien sebelum sakit tampak ceria dan bermain dengan teman

      sekitar rumahnya.
                                                                             52



         b) Keadaan Sejak Sakit

            Ibu pasien mengatakan anaknya masih diberikan ASI oleh ibunya

            dan diberikan makanan tambahan berupa nasi tim. Anaknya hanya

            terbaring ditempat tidur atau terkadang minta gedong ibunya.

      2) Data Objektif

         a) Observasi

            Kebersihan rambut bersih, berwarna hitam kemerahan, kulit kepala

            bersih dan tidak ada ketombe, kebersihan kulit tampak bersih dan

            tidak elastis, kebersihan rongga mulut tampak bersih, kebersihan

            genitalia kotor, kebersihan anus kotor terdapat sisa BAB dan

            berwarna merah karena iritasi , tanda scar vaksinasi BCG.



8. Kajian Pola Nutrisi Metabolik

   a. Data Subyektif

      1) Keadaan Sebelum Sakit

         Ibu pasien mengatakan anaknya makan 3x sehari dengan jenis bubur

         saring/ halus, lauk pauk yang diblender / dihaluskan. Pasien tidak bisa

         makan makanan yang tidak dihaluskan karena pasien muntah setiap

         makan makanan yang kasar. Ibu pasien mengatakan anaknya minum ±

         1000 cc /hari dengan jenis air putih, teh dan ASI. Berat badan pasien

         sebelum sakit 7,5 Kg.
                                                                            53



   2) Keadaan Sejak Sakit

      Ibu pasien mengatakan anaknya makan berkurang 3 x/ hari yang

      disediakan rumah sakit dengan menghabiskan porsi makan ½ porsi

      yang disediakan rumah sakit. Pasien minum ± 800 cc/hari dengan jenis

      air putih dan ASI.

b. Data Obyektif

   1) Observasi

      Pasien tampak makan habis ½ porsi yang disediakan rumah sakit,

      minum habis 200 cc sampai jam 12.00 WIB. Infus KAEN 3A 15

      tts/menit masuk 200 cc / 5 jam. Pasien minum ASI ibu setiap sehabis

      BAB, ± 400 cc. Berat badan saat pengkajian 7,2 Kg (Terjadi

      penurunan 0,3 Kg).

   2) Pemeriksaan Fisik

             Keadaan nutrisi rambut baik warna hitam kemerahan, hidrasi

      kulit turgor kulit tidak elastis, palpebrae    tidak tampak edema,

      konjungtiva ananemis, sclera anikterus, rongga mulut bersih, mukosa

      bibir kering, gusi warna merah muda, gigi geligi belum ada karena

      pasien baru berumur 9 bulan, gigi palsu tidak ada, pasien belum

      mampu mengunyah keras, kebersihan lidah tampak kotor, tonsil T1/

      T1, tidak ada pembesaran, pharing tidak ada peradangan, kelenjar

      parotis tidak ada pembesaran, kelenjar tyroid tidak ada pembesaran.
                                                                             54



                Pada pemeriksaan abdomen, saat inspeksi bentuk simetris,

         auskultasi peristaltik usus 10 x / menit, palpasi tidak ditemukan tanda

         nyeri umum, Massa tidak teraba, perut kembung, hidrasi kulit turgor

         kulit kering dan tidak elastis. Tidak ditemukan adanya nyeri tekan

         pada R. Epigastrica, Titik Mc. Burney, R. Suprapubica, R. Illiaca.

         Pada saat perkusi hipertympani , ascites negatif , kelenjar limpe

         inguinal tidak teraba ada pembesaran. Kulit tidak ditemukan uremic

         frost, edema, icteric dan tanda-tanda radang.



9. Kajian Pola Eliminasi

   a. Data Subyektif

      1) Keadaan Sebelum Sakit

         Ibu mengatakan sebelum sakit anaknya BAB normal 2x /hari dan tidak

         ada masalah dengan BAB, dan pasien juga BAK 5-6 x/hari dan tidak

         ada keluhan pada saat BAK.

      2) Keadaan Sejak Sakit

         Ibu mengatakan anaknya BAB ± 15 x per hari dengan konsistensi cair,

         sedikti ampas dan berwarna hijau. Ibu pasien mengatakan anaknya

         BAK setiap kali BAB.
                                                                            55



      b. Data Obyektif

         1. Observasi

            Pasien BAB cair sedikit ampas berwarna hijau dan tampak kemerahan

            pada anus pasien karena iritasi.

         2. Pemeriksaan Fisik

            Pada palpasi suprapubika kandung kemih teraba kosong, mulut uretra

            kotor, anus terdapat peradangan, tampak kemerahan pada daerah anus,

            nyeri ketuk ginjal kiri dan kanan negatif.



10.    Kajian Pola Aktivitas dan Latihan

        a. Data Subyektif

           1) Keadaan Sebelum Sakit

              Ibu Pasien mengatakan kegiatan sehari-hari pasien adalah bermain

              bersama ayah dan ibunya. Pasien mulai belajar merangkak dan

              memanggil mama.

           2) Keadaan Sejak Sakit

             Ibu Pasien mengatakan sejak sakit pasien hanya selalu minta di

             gendong saja dan hanya berbaring lemah di tempat tidur.
                                                                           56



b. Data Obyektif

  1) Observasi

      Pasien tampak lemah dan belum dapat beraktivitas seperti mandi,

      makan, berpakaian, kerapian, mobilisasi dan ambulasi dalam skala 2

      (dibantu oleh orang yaitu ibu klien karena klien berumur 9 bulan).

  2) Pemeriksaan Fisik

              Perfusi pembuluh perifer kuku dapat kembali kurang dari 2

      detik, pada inspeksi tampak bentuk thorak simetris, vocal fremitus

      isokor, perkusi sonor, batas paru hepar di ICS 4 dekstra, auskultasi

      suara nafas vesikuler, suara ucapan belum jelas karena belum bisa

      bicara, suara tambahan tidak ada, pada palpasi jantung Ictus Cordis

      di ICS 5 di Linea Medio Clavikularis Sinistra, tidak menggunakan

      alat pacu jantung, perkusi batas atas jantung di ICS 2-3, batas kanan

      jantung pada linea sternalis dekstra, batas kiri jantung pada medio

      clavikularis sinistra, tidak ditemukan atrofi otot, rentang gerak

      pasien bebas, tidak ditemukan adanya mati sendi dan kaku sendi, uji

      kekuatan otot kiri dan kanan (4), reflek fisiologik positif pada

      tendon, pada columna vertebralis tidak ditemukan kelainan bentuk.
                                                                                  57



11.   Kajian Pola Tidur dan Istirahat

      a. Data Subyektif

         1) Keadaan sebelum sakit

            Ibu Pasien mengatakan pasien memiliki kebiasaan tidur ± 12

            jam/hari, kebiasaan tidur siang ± 4 jam/ hari, pasien tidak pernah

            terbangun saat tidur.

         3) Keadaan sejak sakit

            Ibu Pasien mengatakan selama di rumah sakit, pasien tidurnya

            nyenyak ± 8 jam/hari, tidur siang ± 2 jam/ hari, pasien terbangun

            saat malam hari karena BAB atau BAK.

      b. Data Obyektif

         1) Observasi

            Pasien tidak menunjukkan ekspresi wajah mengantuk, palpebra

            pasien tidak tampak bewarna gelap.



12.   Kajian Pola Persepsi Kognitif dan Perseptual

      a. Data Subyektif

         1) Keadaan sebelum sakit

            Ibu Pasien mengatakan pasien selalu ceria dan mulai belajar bicara, sudah

            belajar merangkak dan meraih mainannya sendiri.
                                                                                        58



         2) Keadaan sejak sakit

             Ibu Pasien mengatakan sejak sakit pasien rewel dan selalu minta

             digendong, pasien mulai belajar memanggil mama, dan pasien menoleh

             apabila namanya dipanggil. Pasien tampak bingung melihat lingkungan

             sekitarnya.

      b. Data Obyektif

         1) Observasi

            Pasien tampak digendong ibunya, dan menoleh apabila namanya dipanggil.

         2) Pemeriksaan Fisik

            Pada kornea tidak ada strabismus, pupil isokor kiri dan kanan sama besar,

            lensa mata jernih tidak ada katarak, pina simetris, canalis bersih tidak cairan

            yang keluar, membran tympani utuh, tes pendengaran dilakukan dengan

            gesekan jari perawat dan pendengaran pasien baik.



13.   Kajian Pola Persepsi Diri / Konsep Diri

      a. Data Subyektif

         1) Keadaan sebelum sakit

             Ibu Pasien mengatakan pasien adalah anak pertama dan dimanjakan oleh

             kedua orang tuanya.

         2) Keadaan sejak sakit

             Ibu Pasien mengatakan bahwa anaknya dirawat di rumah sakit karena sakit

             diare, sekarang anaknya tidak bisa bermain seperti biasa karena masih

             dirawat.
                                                                                59



        b. Data Obyektif

           Saat pengkajian pasien rewel dan minta gendong ibunya.



14.   Kajian Pola Peran dan Hubungan dengan Sesama

      a. Data Subyektif

         1) Keadaan sebelum sakit

             Ibu Pasien mengatakan pasien dekat dengan ayah dan ibunya dan selalu bermain

             bersama mereka.

          2) Keadaan sejak sakit

             Ibu Pasien mengatakan sejak sakit pasien tidak dapat bermain

             dengan ayahnya.

      b. Data Obyektif

          1) Observasi

             Saat pengkajian pasien tampak ditemani oleh ibunya.



15. Kajian Pola Reproduksi - Seksualitas

      a. Data Subyektif

         1) Keadaan sebelum sakit

             Ibu Pasien mengatakan pasien berjenis kelamin perempuan dan berpakaian

             layaknya laki-laki.

         2) Keadaan sejak sakit

             Ibu Pasien mengatakan sejak sakit pasien tidak menunjukkan sikap yang

             berbeda dengan jenis kelaminnya.
                                                                                 60



      b. Data Obyektif

         1) Observasi

             Pada saat pengkajian pasien tidak tampak menunjukkan adanya kelainan

             perilaku seksual, pasien tampak memakai baju laki-laki.



16.   Kajian Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress

      a. Data Subyektif

         1) Keadaan sebelum sakit

             Ibu Pasien mengatakan bila sakit akan menangis keras dan bila digendong

             akan diam.

         2) Keadaan sejak sakit

             Ibu Pasien mengatakan pasien akan menangis apabila pampersnya penuh

             dan merasa tidak nyaman.

      b. Data Obyektif

         1) Observasi

             Ekspresi wajah pasien saat pengkajian tampak tenang. Ibu pasien selalu

             bertanya pada perawat kapan anaknya bisa pulang.



17.   Kajian Pola Sistem Nilai Kepercayaan / Keyakinan

      a. Data Subyektif

         1) Keadaan sebelum sakit

             Pasien mengatakan keluarga mereka menganut agama Islam dan pasien

             mengikuti kepercayaan mereka.
                                                                           61



   2) Keadaan sejak sakit

       Ibu Pasien mengatakan anaknya telah ditanamkan nilai kepercayaan sesuai

       dengan yang dianut orang tuanya.

b. Data Obyektif

   1) Observasi

       Ibu Pasien tampak mengucapkan Basmallah saat memberikan obat kepada

       anaknya.


                                     Tanda Tangan Mahasiswa Yang Mengkaji




                                               ( INTAN AULIA)
                                                                                     62



8. Daftar obat yang diberikan pada pasien

   Nama/ Umur               : An. “S” / 9 bulan
   Ruang/ Kamar             : Yoseph I / 14-4

   a. Nama obat                     : Sagestam
      Klasifikasi obat              :   Antibiotik
      Dosis Umum                    :   - Dewasa 3 mg / Kg berat badan / hari
                                             diberikan dalam dosis yang sama setiap 8 jam
                                             atau 5 mg / Kg berat badan / hari, diberikan
                                             dalam 3 atau 4 dosis yang sama
                                        - Neonatus Premature atau cukup bulan umur
                                             kurang dari 1 minggu diberikan 5 mg / Kg
                                             berat badan / hari (2,5 mg / Kg diberikan
                                             setiap 8 jam)
                                        - Bayi (umur lebih dari 1 minggu sampai 1
                                             tahun) diberikan 7,5 mg / Kg berat badan /
                                             hari (2,5 mg / Kg diberikan setiap 8 jam)
                                        - Anak-anak diberikan 7,5 mg / Kg berat badan
                                             / hari (2,5 mg / Kg diberikan setiap 8 jam)
      Dosis untuk pasien            :   2 x 20 mg
      Cara pemberian obat           :   Intramuskular atau intravena
      Mekanisme kerja dan fungsi    :   Sagestam mengandung gentamisin sulfat, suatu
      obat                              antibiotika aminoglikosida yang memiliki efek
                                        bakterisidal.
      Alasan pemberian obat pada    :   Klien menderita sakit gastroenteritis dan obat ini
      pasien yang bersangkutan          diberikan untuk membunuh kuman penyebab
                                        gastroenteritis.
      Kontra indikasi               :   Hipersensitivitas terhadap gentamisin atau
                                        aminoglikosida lainnya.
      Side Effect Obat              :   - Nefrotoksisitas
                                        - Neurotoksisitas : efek samping pada cabang
                                             vestibularis dan auditoris dari saraf craneal
                                             kedelapan pernah dilaporkan. Gejala meliputi
                                             pusing, vertigo, tinitus, telinga berdengung
                                             dan kehilangan pendengaran.
                                        - Anemia, purpura, demam
                                        - Pertumbuhan mikroorganisme yang tidak
                                             rentan
                                                                                    63



b. Nama obat          : Biostrum
   Klasifikasi obat                :   Suplemen
   Dosis Umum                      :   - Anak,usia diatas 4 tahun : 1 -3 x 1 sendok
                                            teh.
                                       - Anak,usia dibawah 4 tahun : 1 x sehari 1
                                            sendok teh
   Dosis untuk pasien              :   1 x 1 sdm
   Cara pemberian obat             :   Oral
   Alasan pemberian obat pada      :   Pasien     membutuhkan       suplemen      untuk
   pasien yang bersangkutan            meningkatkan kekebalan tubuh, nafsu makan,
                                       pencegahan dan terapi defisiensi vitamin,
                                       pembentukan tulang dan gigi, adjuvan pada diare.


c. Nama obat                       : Primadex Syr
   Klasifikasi obat                :   Antibiotik
   Dosis Umum                      :    - Anak berusia 6-12 tahun : 2-3 kali sehari 1-2
                                            sendok teh.
                                        - Anak berusia kurang dari 5 tahun : 2-3 kali
                                            sehari &frac12-1 sendok teh.
   Dosis untuk pasien              :   2 x 1 sdt
   Cara pemberian obat             :   Intramuskular atau intravena
   Mekanisme kerja dan fungsi      :   Untuk mengatasi infeksi saluran kemih, saluran
   obat                                pencernaan, & saluran napas yang disebabkan
                                       oleh bakteri Gram positif & Gram negatif yang
                                       sensitif terhadap Kotrimoksazol.
   Alasan pemberian obat pada      :   Klien menderita sakit gastroenteritis dan obat ini
   pasien yang bersangkutan            diberikan untuk membunuh kuman penyebab
                                       infeksi saluran pencernaan.

   Kontra indikasi                 :   -   Anemia megaloblastik.
                                       -   Hamil & menyusui.
                                       -   Bayi berusia kurang dari 2 bulan.
   Side Effect Obat                :   -   Anemia        megaloblastik,      leukopenia,
                                           trombositopenia, reaksi kulit, gangguan
                                           saluran pencernaan, sakit kepala, depresi,
                                           reaksi hematologis.
                                                                                    64



                          Hasil Pemeriksaan Laboratorium

  Nama/ Umur                 : An. “S” / 9 bulan
  Ruang/ Kamar               : Yoseph I / 14-4



                      Laboratory Report / Hasil Laboratorium


                                           Result/ Hasil                     Reference
           Faeces Rutin                                      Unit/Satuan    range/ Nilai
                                         Out of     Within
                                         ragede     Range                     rujukan

Mukroskopik

   -   Warna                           Hijau                               Kuning
   -   Konsistensi                     Lunak                               Padat
   -   Lendir                          Negative                            Negative

Mikroskopik
   - Leukosit                          0                     /LPB
   - Eritrosit                         0                     /LPB
   - Kista                             Negative                            Negative
   - Tropoloit                         Negative                            Negative
   - Jamur                             Negative                            Negative
   - Bacteria                          3+                                  Negative
   - Fat                               3+                                  Negative
   - Telur Cacing                      Negative                            Negative
65
                                                                                               66



                                         C. ANALISA DATA


Nama/ Umur     :     An. “S” / 9 bulan

Ruang/ Kamar   :     Yoseph I / 14-4

 Tgl/              DATA
 Jam                                                                  ETIOLOGI          MASALAH
               Subyektif                       Obyektif

 6/7     Keluarga     mengatakan -       Pasien tampak muntah dan Inflamasi, iritasi   Diare
         anaknya BAB sudah 8             BAB cair dengan sedikit dan malabsorbsi
 2011    kal dan pasien BAK              ampas berwarna hijau usus.
                                         sudah 8 x dari pagi jam
         setiap kali BAB
                                         12.00 WIB
                                   -     TTV :
 08.00                                   S : 38,6 OC
 WIB                                     N : 100 x/mnt
                                         RR : 22 x/mnt
                                   -     Hasil pemeriksaan lab
                                         feces ; Bakteri (+++) dan
                                         fat (+++)
 6/7     Keluarga     mengatakan -       Pasien tampak muntah dan Diare, muntah        kurang volume
         anaknya BAB sudah 8             BAB cair dengan sedikit                       cairan
 2011    kali dan pasien BAK             ampas berwarna hijau
                                         sudah 8 x dari pagi jam
         setiap kali BAB
                                         12.00 WIB
                                   -     Pasien tampak lemas
 10.00                             -     Mukosa bibir kering
 WIB                               -     Turgor kulit tidak elastis
                                   -     palpebra pasien tampak bewarna
                                         gelap
                                   -     lidah pasien tampak kotor
                                   -     perut pasien tampak kembung
                                   -     terjadi penurunan berat
                                         badan dari 7,5 menjadi 7,2
                                         kg
                                   -     TTV :
                                         S : 38,6 OC, N : 100 x/mnt

                                         RR : 22 x/mnt
                                                                                    67



Tgl/           DATA
Jam                                                           ETIOLOGI          MASALAH
              Subyektif                  Obyektif

6/7     Ibu pasien mengatakan - Badan     pasien    teraba Respon sistemik    Hipertermi
        badan anaknya teraba    hangat                     dari inflamasi
2011    panas                 - TTV :                      gastrointestinal
                                S : 38,6 OC
                                N : 100 x/mnt
                                RR : 22 x/mnt
12.00
                              - Hasil pemeriksaan lab
WIB
                                feces ; Bakteri (+++) dan
                                fat (+++)


6/7     Ibu pasien mengatakan -    Tampak kemerahan pada Iritasi karena       Resiko
        anaknya BAB lebih dari     daerah anus            diare               kerusakan
2011    8 kali                 -   Pasien BAB cair dengan                     integritas
                                   sedikit ampas berwarna                     jaringan anus
                                   hijau sudah 8 x
08.00
WIB
                                                                                            68



                                 D. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Nama/ Umur                  : An. “S” / 9 bulan

Ruang/ Kamar                : Yoseph I / 14-4



  Tanggal          DP                     Diagnosa keperawatan                         Nama

  27 April     I        Diare berhubungan dengan Inflamasi, iritasi dan             Intan
   2011                 malabsorbsi usus, yang ditandai dengan:

                        DS :

                         Keluarga mengatakan anaknya BAB sudah 8 kal dan
                        pasien BAK setiap kali BAB

                        DO :

                        -     Pasien tampak muntah dan BAB cair dengan
                              sedikit ampas berwarna hijau sudah 8 x dari pagi
                              jam 12.00 WIB
                        -     TTV :
                              S : 38,6 OC
                              N : 100 x/mnt
                              RR : 22 x/mnt
                        -     Hasil pemeriksaan lab feces ; Bakteri (+++) dan fat
                              (+++)


               II        Kekurangan volume cairan berhubungan dengan                Intan
                        diare, muntah, yang ditandai dengan :

                        DS :

                        Keluarga mengatakan anaknya BAB sudah 8 kali dan
                        pasien BAK setiap kali BAB

                        DO :

                        -     Pasien tampak muntah dan BAB cair dengan
                              sedikit ampas berwarna hijau sudah 8 x dari pagi
                              jam 12.00 WIB
                        -     Pasien tampak lemas
                                                                                 69



Tanggal    DP                  Diagnosa keperawatan                         Nama

                -   Mukosa bibir kering
                -   Turgor kulit tidak elastis
                -   palpebra pasien tampak bewarna gelap
                -   lidah pasien tampak kotor
                -   perut pasien tampak kembung
                -   terjadi penurunan berat badan dari 7,5 menjadi 7,2
                    kg
                -   TTV :
                    S : 38,6 OC, N : 100 x/mnt

                    RR : 22 x/mnt
          III                                                            Intan
                Hipertermi berhubungan dengan respon sistemik dari
                inflamasi gastrointestinal, yang ditandai dengan :

                DS :

                Ibu pasien mengatakan badan anaknya teraba panas

                DO :

                 - Badan pasien teraba hangat
                - TTV :
                   S : 38,6 OC
                   N : 100 x/mnt
                   RR : 22 x/mnt
                - Hasil pemeriksaan lab feces ; Bakteri (+++) dan fat
                   (+++)
          IV                                                             Intan
                Resiko kerusakan integritas jaringan anus
                berhubungan dengan iritasi karena diare, yang
                ditandai dengan :

                DS :

                Ibu pasien mengatakan anaknya BAB lebih dari 8
                kali

                DO :

                -   Tampak kemerahan pada daerah anus
                -   Pasien BAB cair dengan sedikit ampas berwarna
                    hijau sudah 8 x
                                                                                   70




                               E. PRIORITAS MASALAH


Nama/ Umur             : An. “S” / 9 bulan
Ruang/ Kamar           : Yoseph I / 14-4


                                                              Tanggal dan Jam
DP                 Diagnosa keperawatan
                                                             Mulai         Selesai
 I    Diare berhubungan dengan Inflamasi, iritasi dan     06 Juli 2011   Diteruskan
      malabsorbsi usus.                                    08:00 WIB

II    Kekurangan volume          cairan   berhubungan     06 Juli 2011   Diteruskan
      dengan diare, muntah                                08:00 WIB

III                                                       06 Juli 2011   Diteruskan
      Hipertermi berhubungan dengan              respon   10:00 WIB
      sistemik dari inflamasi gastrointestinal
IV                                                        06 Juli 2011   Distop
      Resiko kerusakan integritas jaringan anus           08:00 WIB      06 Juli
      berhubungan dengan iritasi karena diare                            2011
                                                                                                                                    71



                                                             E. RENCANA KEPERAWATAN


Nama/ Umur       :   An. “S” / 9 bulan

Ruang/ Kamar     :   Yoseph I / 14-4

 No.   Diagnosa Keperawatan              Hasil yang diharapkan       Rencana tindakan               Rasional                     Nama

 I     Diare berhubungan dengan          Tujuan jangka panjang :     1. Kaji dan catat frekuensi   1. Identifikasi beratnya      Intan
       Inflamasi, iritasi dan            BAB kembali normal.            defekasi, jumlah dan warna    diare dan untuk
       malabsorbsi usus ditandai         Tujuan jangka pendek :         feses                         menentukan intevensi
       dengan :                          Dalam waktu 1x24 jam                                         selanjutnya
       Data subyektif :                  Frekuensi defekasi dan      2. Observasi keadaan umum, 2. Tanda toksik atau
       Keluarga mengatakan               konsistensi feses kembali      demam, takikardi dan          perforasi akan terjadi dan
       anaknya BAB sudah 8 kal           normal.                        kelesuan                      memerlukan intervensi
       dan pasien BAK setiap kali        Dengan kriteria :                                            medik segera
       BAB                               - BAB kembali normal        3. Berikan pasien banyak      3. Untuk membantu
       Data obyektif :                      dengan konsistensi          minum                         mengganti cairan tubuh
       - Pasien tampak muntah dan           padat dan tidak                                           yang hilang
           BAB cair dengan sedikit          berwarna hijau.          4. Berikan tirah baring pada  4. Istirahat menurunkan
           ampas berwarna hijau          - TTV dalam batas              pasien                        motalitas usus, laju
           sudah 8 x dari pagi jam          normal                                                    metabolisme
           12.00 WIB                        S = 36-37 ºC             5. Kolaborasi dalam           5. Untuk menggantikan
       - TTV :                              N = 70-75 x/menit           pemberian terapi cairan       cairan yang hilang
           S : 38,6 OC, N : 100 x/mnt       P = 15- 20 x/menit       6. Kolaborasi dengan tim      6. Diberikan untuk
           RR : 22 x/mnt                 - Hasil Lab :                  medis dalam pemberian         menurunkan proses
                                                                                                          72



No.   Diagnosa Keperawatan        Hasil yang diharapkan   Rencana tindakan   Rasional                   Nama

      -   Hasil pemeriksaan lab      Bakteri (-)             obat               inflamasi, menurunkan
          feces ; Bakteri (+++)                                                 iritasi gaster dan
                                                                                mengobati infeksi
                                                                                                                              73



No. Diagnosa Keperawatan           Hasil yang diharapkan         Rencana tindakan            Rasional                 Nama
2.   Kekurangan volume cairan Tujuan jangka panjang :            1) Kaji dan catat masukan 1) Memberikan              Intan
     berhubungan dengan diare, Keseimbangan             volume      dan pengeluaran cairan:     informasi tentang
     muntah ditandai dengan        cairan kembali normal.           urin, feses (jumlah,        keseimbangan
     DS :                          Tujuan jangka pendek :           konsistensi dan wama.       cairan, dan
     Keluarga mengatakan           Dalam 1x24 jam                                               merupakan
     anaknya BAB sudah 8 kali      BAB normal dan tidak                                         pedoman untuk
     dan pasien BAK setiap kali    muntah lagi                   2) Observasi tanda-tanda       penggantian cairan
     BAB                           Dengan kriteria :                vital (TTV)              2) Hipotensi, takikardi,
     DO :                          - Badan tidak diare lagi                                     demam dapat
     - Pasien tampak muntah dan        dan tidak muntah                                         menunjukkan
        BAB cair dengan sedikit - Keadaan umum pasien                                           respon terhadap
        ampas berwarna hijau           membaik                   3) Observasi adanya kulit      kehilangan cairan
        sudah 8 x dari pagi jam
                                   - TTV dalam batas normal         kering dan membran 3) Menunjukkan
        12.00 WIB
     - Pasien tampak lemas             S = 36ºC                     mukosa,          kering,    kehilangan cairan
     - Mukosa bibir kering             N = 70-75 x/menit            penurunan turgor kulit,     berlebihan/dehidrasi
     - Turgor kulit tidak elastis      P = 15- 20 x/menit           pengisian        kapiler
     - Lidah pasien tampak kotor - Intake output seimbang           lambat.
     - Perut pasien tampak kembung Ekspresi wajah segar
                                   -                             4) Anjurkan       keluarga 4) Untuk mengganti
     - terjadi penurunan berat     - Turgor kulit elastis           untuk       memberikan      cairan yang hilang
        badan dari 7,5 menjadi 7,2 - Mukosa bibir lembab            pasien banyak minum
        kg                                                       5) Kolaborasi dengan tim 5) Mempertahankan
     - TTV :                                                        medis             dalam     istirahat usus akan
        S : 38,6 OC, N : 100 x/mnt                                  pemberian:        cairan    memerlukan
        RR : 22 x/mnt                                               parenteral,    transfusi    penggantian cairan
                                                                                                              74



No. Diagnosa Keperawatan   Hasil yang diharapkan   Rencana tindakan            Rasional                Nama
                                                      darah sesuai indikasi.      untuk memperbaiki
                                                                                  kehilangan/ anemia

                                                   6) Kolaborasi dengan tim 6) Menurunkan
                                                      medis dalam pemberian    kehilangan cairan
                                                      terapi obat              dari usus, untuk
                                                                               mengontrol
                                                                               mual/muntah dan,
                                                                               mengontrol demam.
                                                                                                                                    75



No. Diagnosa Keperawatan               Hasil yang diharapkan        Rencana tindakan                 Rasional                       Nama
3.   Hipertermi berhubungan            Tujuan jangka panjang :      1. Kaji karakteristik            1. sebagai data dasar untuk    Intan
     dengan respon sistemik dari       Suhu tubuh dalam batas          peningkatan suhu tubuh           memberikan intervensi
     inflamasi gastrointestinal        normal 36 -37 ºC.               pasien                           selanjutnya
     ditandai dengan :                 Tujuan jangka pendek :       2. Observasi tanda-tanda vital   2. untuk mengetahui
     DS :                              Dalam 1x24 jam                  terutama suhu tubuh              keadaan umum pasien
     - Ibu pasien mengatakan           Inflamasi gastrointestinal   3. Beri kompres dengan air       3. secara konduksi dan
         badan anaknya teraba hangat   akibat bakteri teratasi         hangat (air biasa) pada          konveksi, panas tubuh
     DO :                              dengan kriteria :               daerah aksilla, lipat paha,      akan berpindah dari
     - Badan pasien teraba hangat      - Suhu tubuh dalam batas        dan temporal bila terjadi        tubuh ke material dingin.
     - TTV :                               normal 36 -37 ºC            panas.
         S : 38,6 OC                   - Keadaan umum pasien        4. Beri dan anjurkan keluarga    4. Pengeluaran suhu tubuh
         N : 100 x/mnt                     membaik                     untuk memakaikan pakaian         dengan cara evaporasi
         RR : 22 x/mnt                 - Feces tidak lagi              yang dapat menyerap              berkisar 22% dari
     - Hasil pemeriksaan lab feces         berwarna hijau dan          keringat seperti katun           pengeluaran suhu tubuh
         ; Bakteri (+++)                   konsistensi padat        5. Lakukan tirah baring pada     5. penurunan aktivitas akan
                                                                       fase akut                        menurunkan laju
                                                                                                        metabolisme yang tinggi
                                                                                                        pada fase akut.
                                                                    6. Kolaborasi dengan dokter      6. Antipiretik bertujuan
                                                                       dalam pemberian obat             memblok respons panas
                                                                       antipiretik                      sehingga suhu tubuh
                                                                                                        pasien dapat lebih cepat
                                                                                                        menurun.
                                                                                                                               76



No. Diagnosa Keperawatan           Hasil yang diharapkan           Rencana tindakan           Rasional                 Nama
4.   Resiko kerusakan integritas   Tujuan jangka panjang :         1) Kaji area perirektal 1) Untuk menentukan         Intan
     jaringan anus berhubungan     Anus tampak lembab dan             terhadap       inflamasi,    tingkat kerusakan
     dengan iritasi karena diare   tidak terjadi inflamasi            abses atau fistula           integritas jaringan
     ditandai dengan :             Tujuan jangka pendek :                                          anus
     Data subyektif :              Dalam 1x24 jam terjadi          2) Berikan perawatan kulit 2) Untuk mencegah
     Keluarga mengatakan           peningkatan mukosa anus.           perirektal setelah setiap    inflamasi pada anus
     anaknya BAB sudah 8 kali      dengan kriteria :                  kali defekasi
     dan pasien BAK setiap kali    - Tidak ada tanda-tanda         3) Lakukan        pergantian 3) Untuk menjaga area
     BAB                               inflamasi pada anus            popok dengan sering          anus tetap kering
     Data obyektif :                   seperti kemerahan              dan mengkajinya setiap       dan tidak terjadi
     - Tampak kemerahan pada       - Anus lembab dan tidak            saat setelah buang air       iritasi.
         daerah anus                   kering                         besar dan kecil
     - Pasien BAB cair dengan      - Defekasi normal               4) Berikan salep pelumas / 4) Salep pelumas dapat
         sedikit ampas berwarna    - TTV dalam batas normal           bedak pada daerah            mengurangi tekanan
         hijau sudah 8 x               S = 36ºC                       rektum dan perineum          pada rektum
                                       N = 70-75 x/menit           5) Ajarkan            kepada 5) Mencegah
                                       P = 15- 20 x/menit             keluarga untuk menjaga       pertumbuhan
                                   - Anus lembab atau tidak           kebersihan atau hygiene      mikroorganisme
                                       kering dan bersih              pada daerah sekitar          yang merugikan.
                                   - Tidak         ada     tanda      rektum
                                       inflamasi pada anus
                                                                                 77




                   F. PELAKSANAAN KEPERAWATAN

Nama / Umur         : Tn.”M”/ 15 Tahun
Ruang / Kamar       : Theresia I /12-6

  Tgl    DP     Waktu                 Pelaksanaan Keperawatan                         Nama
6/7/      I     07.15    Mengkaji pola BAB pasien                                     Intan
2011                     - Ibu pasien mengatakan anaknya mencret 8 kali
                            sehari dengan konsistensi cair, berwarna hijau dan
                            juga muntah

          I     07.20    Mengobservasi keadaan umum pasien                            Intan
                         - Tanda-tanda vital :
                           S : 36 OC
                           N : 100 x/mnt
                           RR : 22 x/mnt

          I     07.30    Memberi pasien makan pagi                                    Intan
                         - Pasien dapat diet BS

          I     08.30    Memberi pasien obat                                          Intan
                         Obat injeksi Sagestam 2 x 20 mg via Infus

          I     10.30    Menganjurkan kepada ibu agar anaknya tirah baring            Intan
                         - Pasien tampak tirah baring didampingi ibunya

          I     11.00    Menganjurkan ibu untuk memberi anaknya banyak                Intan
                         minum
                         - Ibu pasien mengikuti anjuran yang diberikan
                            perawat dan memberikan anaknya air putih dengan
                            sendok

          I     12.00    Memberi makan siang pasien                                   Intan
                         - Pasien makan siang dibantu ibunya habis ½ porsi

          I     13.00    Mengevaluasi keadaan umum pasien                             Intan
                         - Pasien masih diare sampai jam 12.00 WIB pasien
                           BAB sudah 8 kali
                                                                          78




 Tgl   DP Waktu                  Pelaksanaan Keperawatan              Nama
        I 17.00      Mengobservasi keadaan umum pasien                Intan
                               O
                       S : 37,6 C
                       N : 100 x/mnt
                       RR : 22 x/mnt
        I    20.00   Memonitor keadaan pasien                         Team
                     - Keadaan umum pasien sakit sedang, pasien masih
                       mencret, ibu pasien dianjurkan untuk memberi
                       pasien banyak minum.

        I    21.00   Memantau keadaan pasien                                   Team
                     - Pasien tampak istirahat didampingi keluarga

        I    00.00   Pasien tampak tidur, tetesan infus lancar                 Team

6/7/    II   07.10   Mengkaji volume cairan tubuh pasien                   Intan
2011                 - Ibu mengatakan anaknya mencret sejak tadi malam
                       sudah 8 kali, dan selalu memberikan ASI setiap kali
                       sehabis BAB
        II   07.20   Mengobservasi keadaan umum pasien                     Intan
                     - Tanda-tanda vital :
                       S : 36 OC, N : 100 x/mnt
                       RR : 22 x/mnt

        II   07.30   Mengobservasi adanya kulit pasien                         Intan
                     - Tampak turgor kulit kering tidak elastis, mukosa
                       bibir kering, perut kembung

       II    08.30   Memberi pasien obat                                       Intan
                     Pasien dapat obat oral Biostrum 1 x 1
                     Obat injeksi Sagestam 2 x 20 mg via Infus

       II    11.00   Menganjurkan ibu untuk memberi anaknya banyak             Intan
                     minum
                     - Ibu pasien mengikuti anjuran yang diberikan
                        perawat dan memberikan anaknya air putih dengan
                        sendok
                     -
                                                                            79




 Tgl   DP Waktu                  Pelaksanaan Keperawatan                         Nama
       II 13.00      Mengevaluasi keadaan umum pasien                            Intan
                     - Pasien tampak lemas
                     - Mukosa bibir kering
                     - Turgor kulit tidak elastis
                     - Lidah pasien tampak kotor
                     - Perut pasien tampak kembung
                     - terjadi penurunan berat badan dari 7,5 menjadi 7,2
                       kg
       II    17.00   Mengobservasi keadaan umum pasien                           Intan
                       S : 37,6 OC
                       N : 100 x/mnt
                       RR : 22 x/mnt

       II    20.00   Memonitor keadaan pasien                         Team
                     - Keadaan umum pasien sakit sedang, pasien masih
                       mencret, ibu pasien dianjurkan untuk memberi
                       pasien banyak minum.

       II    21.00   Memantau keadaan pasien                                     Team
                     - Pasien tampak istirahat didampingi keluarga

       II    00.00   Pasien tampak tidur, tetesan infus lancar                   Team

6/7/   III   10.00   Mengkaji keadaan umum pasien                                Intan
2011                 - Ibu pasien mengatakan badan anaknya teraba panas

       III   10.10   Mengobservasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh         Intan
                     pasien
                     S : 38,6 OC
       III   10.15   Memberi pasien kompres air hangat                           Intan
                     - Pasien tampak diberikan kompres air hangat dan
                         tampak rewel

       III   10.20   Memberi pasien obat penurun panas                           Intan
                     - Pasien dapat obat PCT syrup (KP) sebanyak ¾ sdm
                                                                            80




 Tgl   DP Waktu                    Pelaksanaan Keperawatan                       Nama
       III 10.30     Menganjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian              Intan
                     yang dapat menyerap keringat seperti katun kepada
                     klien
                     - Ibu pasien tampak mengerti dan tidak memakaikan
                         selimut kepada anaknya.

       III   10.45   Menganjurkan kepada ibu agar anaknya tirah baring           Intan
                     - Pasien tampak tirah baring didampingi ibunya

       III   13.00   Mengevaluasi keadaan umum pasien                            Intan
                     Badan pasien masih teraba panas
                     TTV pasien suhu 37,6 OC
       III   17.00   Mengobservasi keadaan umum pasien                           Intan
                        S : 37,6 OC
                        N : 100 x/mnt
                        RR : 22 x/mnt
       III   20.00   Memonitor keadaan pasien                                    Team
                     Keadaan umum pasien sakit sedang, pasien masih
                     mencret, ibu pasien dianjurkan untuk memberi pasien
                     banyak minum.
       III   21.00   Memantau keadaan pasien                                     Team
                     Pasien tampak istirahat didampingi keluarga
       III   00.00   Pasien tampak tidur, tetesan infus lancar                   Team
6/7/    IV   07.15   Mengkaji area perirektal terhadap inflamasi                 Intan
2011                 - Ibu pasien mengatakan anus pasien berwarna
                        kemerahan

       IV    08.10   Memberikan perawatan kulit perirektal setelah setiap        Intan
                     kali defekasi
                     - Ibu pasien selalu mengganti celana pasien setiap
                         kali sehabis BAB

       IV    08.30   Memberikan bedak pada daerah rektum dan perineum            Intan
                     sehabis BAB
                     - Ibu pasien memberikan bedak talk pada bagian
                        anus pasien setiap sehabis BAB
                     -
                                                                           81




 Tgl   DP Waktu                  Pelaksanaan Keperawatan                        Nama
       IV 09.00     Mengajarkan kepada keluarga untuk menjaga                   Intan
                    kebersihan atau hygiene pada daerah sekitar rectum
                    Ibu pasien tampak mencuci tangan sebelum dan
                    sesudah membersihkan daerah anus pasien

       IV   13.00   Mengevaluasi keadaan anus pasien
                    - Tampak daerah anus lembab, kemerahan sudah
                      berkurang

       IV   17.00   Mengobservasi keadaan umum pasien                           Intan
                      S : 37,6 OC
                      N : 100 x/mnt
                      RR : 22 x/mnt

       IV   20.00   Memonitor keadaan pasien                         Team
                    - Keadaan umum pasien sakit sedang, pasien masih
                      mencret, ibu pasien dianjurkan untuk memberi
                      pasien banyak minum.
       IV   21.00   Memantau keadaan pasien                          Team
                    - Pasien tampak istirahat didampingi keluarga

       IV   00.00   Pasien tampak tidur, tetesan infus lancar                   Team

7/7/   I    07.05   Mengkaji pola BAB pasien                                    Intan
2011                - Ibu pasien mengatakan anaknya mencret 4 kali
                      sehari dengan konsistensi cair, berwarna hijau dan
                      juga muntah sudah berkurang

       I    07.20   Mengobservasi keadaan umum pasien                           Intan
                    - Tanda-tanda vital :
                    S : 37,2 OC
                    N : 100 x/mnt
                    RR : 22 x/mnt

       I    07.30   Memberi pasien makan pagi                                   Intan
                    - Pasien dapat diet BS
                                                                           82




 Tgl   DP Waktu                   Pelaksanaan Keperawatan                       Nama
       I  08.30     Memberi pasien obat                                         Intan
                    Pasien dapat obat oral Biostrum 1 x 1
                    Obat injeksi Sagestam 2 x 20 mg via Infus

       I    11.00   Menganjurkan ibu untuk memberi anaknya banyak Intan
                    minum
                    - Ibu pasien tampak memberi anaknya air minum

       I    12.00   Memberi makan siang pasien                                  Intan
                    - Pasien makan siang dibantu ibunya habis ½ porsi

       I    13.00   Mengevaluasi keadaan umum pasien                            Intan
                    - Pasien masih diare dengan frekuensi 4 kali perhari

       I    17.00   Mengobservasi keadaan umum pasien                   Team
                          O
                    S : 37 C
                    N : 100 x/mnt
                    RR : 22 x/mnt
       I    20.00   Memonitor keadaan pasien                            Team
                    Keadaan umum pasien sakit sedang, pasien masih
                    mencret, ibu pasien dianjurkan untuk memberi pasien
                    banyak minum.
       I    21.00   Memantau keadaan pasien                             Team
                    - Pasien tampak istirahat didampingi keluarga

       I    00.00   Pasien tampak tidur, tetesan infus lancar                   Team

7/7/   II   07.10   Mengkaji kekurangan volume cairan tubuh pasien     Intan
2011                - Pasien tampak muntah dan BAB cair dengan sedikit
                        ampas berwarna hijau sudah 4 x dari pagi jam
                        12.00 WIB
       II   07.20   Mengobservasi keadaan umum pasien                  Intan
                    Tanda-tanda vital :
                    S : 37,2 OC,
                    N : 100 x/mnt
                    RR : 22 x/mnt
                                                                      83




 Tgl   DP Waktu                  Pelaksanaan Keperawatan                  Nama
       II 07.30      Mengobservasi adanya kekurangan volume cairan Intan
                     pasien
                     - Pasien tampak lemas
                     - Mukosa bibir kering
                     - Turgor kulit tidak elastis
                     - Lidah pasien tampak kotor
                     - Perut pasien tampak kembung
                     - terjadi penurunan berat badan dari 7,5 menjadi 7,2
                         kg

       II    08.30   Memberi pasien obat                                   Intan
                     Pasien dapat obat oral Biostrum 1 x 1
                     Obat injeksi Sagestam 2 x 20 mg via Infus

       II    11.00   Menganjurkan ibu untuk memberi anaknya banyak Intan
                     minum
                     - Ibu pasien mengikuti anjuran yang diberikan
                        perawat dan memberikan anaknya air putih dengan
                        sendok

       II    13.00   Mengevaluasi keadaan umum pasien                  Intan
                     - Pasien tampak minum ASI ± 50 cc setiap menyusui
       II    20.00   Mengobservasi keadaan pasien                      Team
                     - Keadaan umum pasien sakit sedang, pasien masih
                       mencret, ibu pasien dianjurkan untuk memberi
                       pasien banyak minum.

       II    21.00   Memantau keadaan pasien                               Team
                     - Pasien tampak istirahat didampingi keluarga

       II    00.00   Pasien tampak tidur, tetesan infus lancar             Team

7/7/   III   07.00   Mengkaji keadaan umum pasien                        Intan
2011                 - Ibu pasien mengatakan badan anaknya teraba panas
       III   07.20   Mengobservasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh Intan
                     pasien
                     S : 37,2 OC
                                                                              84




 Tgl   DP Waktu                  Pelaksanaan Keperawatan                           Nama
       III 07.25     Memberi pasien kompres air hangat                             Intan
                     - Pasien tampak diberikan kompres air hangat dan
                        tampak rewel
                     -
       III   13.00   Mengevaluasi keadaan umum pasien                              Intan
                     Badan pasien masih teraba panas
                     TTV pasien suhu 37,2 OC

       III   17.00   Mengobservasi keadaan umum pasien                             Team
                     S : 37,2 OC
                     N : 100 x/mnt
                     RR : 22 x/mnt

       III   20.00   Memonitor keadaan pasien                            Team
                     Keadaan umum pasien sakit sedang, pasien masih
                     mencret, ibu pasien dianjurkan untuk memberi pasien
                     banyak minum.

       III   21.00   Memantau keadaan pasien                                       Team
                     Pasien tampak istirahat didampingi keluarga

       III   00.00   Pasien tampak tidur, tetesan infus lancar                     Team

8/7/   I     07.05   Mengkaji pola BAB pasien                                      Intan
2011                 - Ibu pasien mengatakan anaknya mencret 4 kali
                         sehari dengan konsistensi cair, berwarna hijau dan
                         muntah sudah berkurang.
       I     07.20   Mengobservasi keadaan umum pasien                             Intan
                     - Tanda-tanda vital :
                     S : 37,5 OC
                     N : 100 x/mnt
                     RR : 18 x/mnt
       I     07.30   Memberi pasien makan pagi                                     Intan
                     - Pasien dapat diet BS
                                                                            85




 Tgl   DP Waktu                   Pelaksanaan Keperawatan                        Nama
       I  08.30     Memberi pasien obat                                          Intan
                    Pasien dapat obat oral Biostrum 1 x 1, Primadex 2 x 1
                    Obat injeksi Sagestam 2 x 20 mg via Infus

       I    11.00   Menganjurkan ibu untuk memberi anaknya banyak Intan
                    minum
                    - Ibu pasien tampak memberi anaknya air minum

       I    12.00   Memberi makan siang pasien                                   Intan
                    - Pasien makan siang dibantu ibunya habis ½ porsi

       I    13.00   Mengevaluasi keadaan umum pasien                             Intan
                    - Pasien masih diare sampai 4 kali perhari
       I    17.00   Mengobservasi keadaan umum pasien                            Team
                    S : 37,5 OC
                    N : 100 x/mnt
                    RR : 22 x/mnt

       I    20.00   Memonitor keadaan pasien                            Team
                    Keadaan umum pasien sakit sedang, pasien masih
                    mencret, ibu pasien dianjurkan untuk memberi pasien
                    banyak minum.

       I    21.00   Memantau keadaan pasien                                      Team
                    - Pasien tampak istirahat didampingi keluarga

       I    00.00   Pasien tampak tidur, tetesan infus lancar                    Team

8/7/   II   07.10   Mengkaji volume cairan tubuh pasien                          Intan
2011
       II   07.20   Mengobservasi keadaan umum pasien                            Intan
                    - Tanda-tanda vital :
                    S : 37,2 OC, N : 100 x/mnt
                    RR : 22 x/mnt
                                                                      86




 Tgl   DP Waktu                    Pelaksanaan Keperawatan                Nama
       II 07.30      Mengobservasi adanya tanda kekurangan volume Intan
                     cairan pasien
                     - Pasien tampak lemas
                     - Mukosa bibir kering
                     - Turgor kulit tidak elastis
                     - Lidah pasien tampak kotor
                     - Perut pasien tampak kembung
                     - terjadi penurunan berat badan dari 7,5 menjadi 7,2
                         kg
       II    08.30   Memberi pasien obat                                  Intan
                     Pasien dapat obat oral Biostrum 1 x 1, primadex 2 x1
                     Obat injeksi Sagestam 2 x 20 mg via Infus

       II    11.00   Menganjurkan ibu untuk memberi anaknya banyak Intan
                     minum
                     - Ibu pasien mengikuti anjuran yang diberikan
                        perawat dan memberikan anaknya air putih dengan
                        sendok
       II    13.00   Mengevaluasi keadaan umum pasien                   Intan
                     - Keadaan umum pasien tampak sakit sedang
                     -
       II    20.00   Memonitor keadaan pasien                           Team
                     - Keadaan umum pasien sakit sedang, pasien masih
                        mencret, ibu pasien dianjurkan untuk memberi
                        pasien banyak minum.

       II    21.00   Memantau keadaan pasien                               Team
                     - Pasien tampak istirahat didampingi keluarga

       II    00.00   Pasien tampak tidur, tetesan infus lancar             Team

8/7/   III   07.00   Mengkaji keadaan umum pasien                          Intan
2011                 - Ibu pasien mengatakan badan anaknya masih
                       teraba panas

       III   07.20   Mengobservasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh Intan
                     pasien, S : 37,2 OC
                                                                       87




Tgl   DP Waktu                  Pelaksanaan Keperawatan                     Nama
      III 07.25     Memberi pasien kompres air hangat                       Intan
                    - Pasien tampak diberikan kompres air hangat dan
                      tampak rewel

      III   13.00   Mengevaluasi keadaan umum pasien                        Intan
                    Badan pasien masih teraba panas
                    TTV pasien suhu 37,2 OC

      III   17.00   Mengobservasi keadaan umum pasien                       Team
                    S : 37,2 OC
                    N : 100 x/mnt
                    RR : 22 x/mnt

      III   20.00   Memonitor keadaan pasien                            Team
                    Keadaan umum pasien sakit sedang, pasien masih
                    mencret, ibu pasien dianjurkan untuk memberi pasien
                    banyak minum.

      III   21.00   Memantau keadaan pasien                                 Team
                    Pasien tampak istirahat didampingi keluarga

      III   00.00   Pasien tampak tidur, tetesan infus lancar               Team
                                                                              88




                      G. EVALUASI KEPERAWATAN



Nama / Umur       : An. “M” / 10 bulan
Ruang / Kamar     : Theresia I /12-6
  Tanggal   DP                        Evaluasi Keperawatan                    Nama
 6/7/2011 I      S:    Ibu pasien mengatakan anaknya mencret 8 kali          Intan
 13.00                 sehari dengan konsistensi cair, berwarna hijau dan
 WIB                   juga muntah
                 O:    Pasien masih diare sampai jam 12.00 WIB pasien
                       BAB sudah 8 kali
                 A:    Diare belum teratasi
                 P:    Intervensi diteruskan

6/7/2011   II    S:    Ibu mengatakan anaknya mencret sejak tadi malam       Intan
13.00                  sudah 8 kali, dan selalu memberikan ASI setiap kali
WIB                    sehabis BAB
                 O:    - Pasien tampak lemas
                       - Mukosa bibir kering
                       - Turgor kulit tidak elastis
                       - Lidah pasien tampak kotor
                       - Perut pasien tampak kembung
                       - terjadi penurunan berat badan dari 7,5 menjadi
                           7,2 kg
                 A:     Kekurangan volume cairan belum teratasi
                 P:    Intervensi diteruskan

6/7/2011   III   S:    Ibu pasien mengatakan badan anaknya teraba panas      Intan
13.00            O:    Badan pasien masih teraba panas TTV pasien suhu
WIB                    37,6 OC
                 A:    Hipertermi belum teratasi
                 P:    Intervensi diteruskan

6/7/2011   IV    S:    Ibu pasien mengatakan anus pasien berwarna            Intan
                       kemerahan
13.00            O:    Tampak daerah anus lembab, kemerahan sudah
WIB                    berkurang
                                                                               89




Tanggal        DP                       Evaluasi Keperawatan                  Nama
                    A:   Kerusakan integritas jaringan anus teratasi
                    P:   Intervensi distop



7/5/2011   I        S:   Ibu pasien mengatakan anaknya mencret 4 kali         Intan
13.00                    sehari dengan konsistensi cair, berwarna hijau dan
WIB                      juga muntah sudah berkurang
                    O:   Pasien masih diare sampai 4 kali perhari
                    A:   Diare belum teratasi
                    P:   Intervensi diteruskan

7/5/2011   II       S:   Pasien tampak muntah dan BAB cair dengan sedikit Intan
13.00                    ampas berwarna hijau sudah 4 x dari pagi jam 12.00
WIB                      WIB
                    O:   - Pasien tampak lemas
                         - Mukosa bibir kering
                         - Turgor kulit tidak elastis
                         - Lidah pasien tampak kotor
                         - Perut pasien tampak kembung
                         - terjadi penurunan berat badan dari 7,5 menjadi
                             7,2 kg
                    A:    Kekurangan volume cairan belum teratasi
                    P:   Intervensi diteruskan

7/5/2011   III      S:   Ibu pasien mengatakan badan anaknya teraba panas     Intan
13.00               O:   Badan Pasien masih teraba panas TTV pasien suhu
WIB                      37,2 OC
                    A:   Hipertermi belum teratasi
                    P:   Intervensi diteruskan

8/7/2011   I        S:   Ibu pasien mengatakan anaknya mencret 4 kali         Intan
13.00                    sehari dengan konsistensi cair, berwarna hijau dan
WIB                      muntah sudah berkurang
                    O:   pasien masih diare sampai 4 kali perhari
                    A:   Diare belum teratasi
                    P:   Intervensi diteruskan
                                                                          90




 Tanggal    DP                       Evaluasi Keperawatan                 Nama
8/7/2011   II    S:   Ibu pasien mengatakan anaknya mencret 4 kali       Intan
                      sehari dengan konsistensi cair, berwarna hijau dan
                      muntah sudah berkurang.
                 O:   Keadaan umum pasien sakit sedang, pasien masih
                      mencret, ibu pasien dianjurkan untuk memberi
                      pasien banyak minum.
                      Tanda-tanda vital :
                      S : 37,2 OC, N : 100 x/mnt
                      RR : 22 x/mnt
                 A:   Kekurangan volume cairan belum teratasi
                 P:   Intervensi diteruskan

8/7/2011   III   S:   Ibu pasien mengatakan badan anaknya masih          Intan
                      teraba panas
13.00            O:   Badan pasien masih teraba panas, TTV pasien suhu
WIB                   37,2 0 C
                 A:   Hipertermi belum teratasi
                 P:   Intervensi diteruskan
                                                                                     91




                                      BAB IV
                                  PEMBAHASAN


       Setelah penulis mempelajari Asuhan keperawatan klien dengan Gangguan

Sistem Pencernaan: Gastroenteritis dan melaksanakan secara langsung asuhan

keperawatan pada klien An. “S”, ternyata antara teori didapat dengan kenyataan yang

ditemukan didalam praktek lapangan terdapat kesenjangan. Hal ini disebabkan karena

tingkat kegawatan, persepsi individu dan juga pemahaman keluarga terhadap

penyakit yang dialami saat ini.

       Uraian mengenai kesenjangan ini penulis amati dan ditemukan mulai dari

pengkajian,   diagnosa     keperawatan,    rencana    keperawatan,     penatalaksanaan

keperawatan, evaluasi keperawatan sebagai berikut :

A. Pengkajian Keperawaan

       Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan, oleh karena itu

penulis perlu melakukan secara teliti, cerma, dan sistematis melalui wawancara,

observasi dan pemeriksaan fisik secara langsung, serta didukung oleh sumber-sumber

seperti catatan medik dan hasil pemeriksaan penunjang.

       Setelah penulis secara cermat telah mempelajari teori pengkajian klien dengan

gangguan System pencernaan : gastroenteritis maka penulis mendapatkan tanda dan

gejala yang khas berdasarkan teori yaitu diare (konsistensi tinja cair, nyeri perut atau

kram perut), Muntah-muntah dan/atau suhu tubuh meningkat, nafsu makan

berkurang, intake cairan lebih kecil dari pada outputnya (tanda : perasaan haus, berat
                                                                               92




badan menurun, mata cekung, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit

menurun dan suara serak), Frekuensi napas lebih cepat dan dalam, anuria.

        Sedangkan pada pengkajian klien An.“S” dengan Gangguan System

Pencernaan: Gastroenteritis yang dikaji oleh penulis selama tiga hari mulai dari

tanggal 06 – 08 Juli 2011 penulis menemukan tanda dan gejala yaitu klien BAB encer

15x / 24 jam, warna hijau, bau khas, badan teraba hangat dan badan terasa lemas,

palpasi abdomen kembung, konjungtiva anemis, mukosa bibir kering, turgor kulit

tidak elastis.

        Berdasarkan uraian diatas penulis mendapatkan kesenjangan dari tanda dan

gejala antara teori dengan pengkajian keperawatan secara langsung pada klien

An.“S”. sebelumnya klien sudah berobat bidan praktek selama satu hari dan saat

pengkajian klien telah dirawat di Paviliun Theresia I Rumah Sakit RK. Charitas

Palembang selama 3 hari, penulis mengalami hambatan dalam pengkajian

keperawatan karena klien masih berumur 9 bulan akan tetapi penulis mendapatkan

informasi melalui keluarga klien yaitu ibunya sehingga dapat memperoleh data

pengkajian yang diharapkan.



B. Diagnosa Keperawatan

        Diagnosa keperawatan ditegakkan berdasarkan analisa yang didapat bersifat

aktual maupun potensial yang dapat diatasi atau dikurangi atupun dicegah dengan

tindakan keperawatan. Dalam diagnosa keperawatan teori dengan Gangguan System

Pencernaan: Gastroenteritis, penulis menemukan beberapa diagnosa keperawatan
                                                                                     93




antara lain: Diare berhubungan dengan inflarnasi, iritasi dan malabsorpsi usus,

adanya toksin dan penyempitan segmental usus; kurang volume cairan berhubungan

dengan output melalui rute normal (diare berat, muntah), status hipermetabolik dan

pemasukan cairan yang terbatas; gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan gangguan absorpsi nutrien, status hipermetabolik; nyeri

berhubungan dengan hiperperistaltik usus, diare lama, iritasi kulit/ jaringan; Cemas

berhubungan faktor psikologis/rangsangan simpatis (proses inflamasi); ancaman

konsep diri, ancaman terhadap perubahan status kesehatan dan status sosial ekonomi;

kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan

berhubungan dengan kesalahan interprestasi informasi, kurang mengingat dan tidak

mengenal sumber informasi; hipertermi berhubungan dengan inflamasi sistemik.

        Setelah penulis merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan masalah

klien An.“S” kemudian penulis memprioritaskan kebutuhan klien, maka diagnosa

keperawatan yang muncul adalah: diare berhubungan dengan Inflamasi, iritasi dan

malabsorbsi usus; hipertermi berhubungan dengan respon sistemik dari inflamasi

gastrointestinal; kekurangan volume cairan berhubungan dengan diare, muntah;

resiko kerusakan integritas jaringan anus berhubungan dengan iritasi karena diare.

        Diagnosa keperawatan secara teori tidak seluruhnya ditemukan oleh

penulis pada kasus An.“S”, untuk diagnosa keperawatan gangguan nutrisi, nyeri,

cemas dan kurang pengetahuan tidak penulis angkat karena tidak ada data yang

mendukung dari kondisi klien akan tetapi terdapat diagnosa pada kasus yang tidak

muncul pada teori seperti resiko kerusakan integritas jaringan anus berhubungan
                                                                                 94




dengan defekasi cair karena data-data yang didapat sangat mendukung untuk

diangkatnya diagnosa tersebut.



C. Rencana keperawatan

       Pada tahap perencanaan keperawatan ini prinsip kerja antara teori dengan

asuhan keperawatan yang akan diberikan pada klien sama, tetapi tidak semua rencana

tindakan pada konsep teori sesuai dengan kasus. Karena itu penulis menyusun

rencana tindakan di sesuaikan dengan kondisi klien saat iu dan berdasarkan diagnosa

keperawatan yang telah diambil. Adapun rencana keperawatan yang penulis temukan

pada teori yaitu: untuk diagnosa diare berhubungan dengan inflamasi, iritas dan

absorbsi usus adalah observasi dan catat ferkuensi defakasi, jumlah dan warna feses,

tingkatkan tirah baring, siapkan alat-alat di samping tempat tidur, identifikasi

makanan/cairan yang mencetuskan diare, observasi demam, takikardi, lethargi,

leukositosis/leukopeni, penurunanprotein serum, ansietas dan kelesuan, kolaborasi

dalam pemberian terapi antikolinergik sesuai program medik.

       Sedangkan rencana yang penulis susun berdasarkan teori yang ada dan

disesuaikan dengan kondisi dan keadaan pasien yaitu: kaji defekasi, jumlah dan

warna feses, observasi keadaan umum, demam, takikardi dan kelesuan, berikan

pasien banyak minum, berikan tirah baring pada pasien, kolaborasi dalam pemberian

terapi cairan, kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat. Jadi rencana

keperawatan yang ada pada teori dengan kenyataan yang ada dilapangan terdapat

kesenjangan yaitu pada penyusunan rencana keperawatan untuk pasien, penulis
                                                                                     95




menyusun rencana keperawatan berikan pasien banyak minum, dan kolaborasi dalam

pemberian obat. Hal ini dikarenakan kebutuhan cairan pengganti yang hilang melalui

diare sangat penting, untuk itulah perawat merencanakan pemberian minum yang

banyak. Sedangkan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat, diharapkan

dapat dikonsultasikan dengan dokter yang memeriksa apakah diare yang diderita

pasien perlu pengobatan antibiotik sesuai dengan hasil pemeriksaan feses maupun

lainnya.

       Untuk diagnosa keperawatan hipertermi rencana yang ada pada teori yaitu;

Kaji karakteristik peningkatan suhu tubuh pasien, observasi tanda-tanda vital

terutama suhu tubuh, beri kompres dengan air dingin (air biasa) pada daerah aksilla,

lipat paha, dan temporal bila terjadi panas, beri dan anjurkan keluarga untuk

memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti katun, lakukan dan

anjurkan keluarga untuk melakukan masase pada ekstremitas, lakukan tirah baring

pada fase akut, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiretik,

sedangkan rencana keperawatan yang penulis ialah; kaji karakteristik peningkatan

suhu tubuh pasien, observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh, beri kompres

dengan air hangat (air biasa) pada daerah aksilla, lipat paha, dan temporal bila terjadi

panas, beri dan anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap

keringat seperti katun, lakukan tirah baring pada fase akut, kolaborasi dengan dokter

dalam pemberian obat antipiretik. Semua rencana yang penulis susun sudah sesuai

dengan yang ada pada teori dan tidak ada kesenjangan.
                                                                                   96




       Untuk diagnosa keperawatan kekurangan volume cairan berhubungan dengan

diare, rencana yang ada pada teori yaitu; monitor dan catat masukan dan pengeluaran

cairan: urin, feses (jumlah, konsistensi dan warna, observasi tanda-tanda vital (TTV),

observasi adanya kulit kering dan membran mukosa, kering, penurunan turgor kulit,

pengisian kapiler lambat, ukur berat badan (BB) tiap hari, pertahankan pembatasan

per oral, tirah baring dan hindari aktivitas, laporkan adanya kelemahan otot umum

dan disritmia jantung, kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian: cairan

parenteral, transfusi darah sesuai indikasi dalam memberikan terapi anti diare sesuai

program medik, berikan terapi antiemetik sesuai program medik, berikan terapi

antipiretik sesuai program medik.

       Sedangkan rencana keperawatan yang penulis susun untuk pasien yaitu; kaji

dan catat masukan dan pengeluaran cairan: urin, feses (jumlah, konsistensi dan wama,

observasi tanda-tanda vital (TTV), observasi adanya kulit kering dan membran

mukosa, kering, penurunan turgor kulit, pengisian kapiler lambat, anjurkan keluarga

untuk memberikan pasien banyak minum, kolaborasi dengan tim medis dalam

pemberian: cairan parenteral, transfusi darah sesuai indikasi, kolaborasi dengan tim

medis dalam pemberian terapi obat. Jadi rencana keperawatan yang ada pada teori

ada sebagian yang tidak penulis terapkan yaitu pertahankan pembatasan per oral, tirah

baring dan hindari aktivitas dan laporkan adanya kelemahan otot umum dan disritmia

jantung hal ini dikarenakan pasien masih anak-anak (usia 9 bulan) dan masih

menyusu pada ibunya sehingga pembatasan oral tidak diterapkan sedangkan
                                                                                  97




kelemahan otot umum juga tidak diterapkan karena mengingat kondisi bayi yang

masih kecil.

       Untuk diagnosa keperawatan resiko kerusakan integritas jaringan anus

berhubungan dengan iritasi karena diare, rencana yang ada pada teori yaitu; kaji area

perirektal terhadap inflamasi, abses atau fistula, berikan perawatan kulit perirektal

setelah setiap kali defekasi, lakukan pergantian popok dengan sering dan

mengkajinya setiap saat setelah buang air besar dan kecil, berikan salep pelumas /

bedak pada daerah rektum dan perineum, ajarkan kepada keluarga untuk menjaga

kebersihan atau hygiene pada daerah sekitar rektum. Semua rencana untuk pasien

berdasarkan dengan teori yang ada tersebut.



D. Pelaksanaan keperawatan

       Dalam tahap pelaksanaan dilakukan berdasarkan perencanaan keperawatan

yang telah ditetapkan dengan harapan akan mengetahui kebutuhan klien, mengatasi

masalah kesehatan maupun masalah keperawatan. Pelaksanaan yang telah dilakukan

oleh penulis disesuaikan dengan diagnosa yang timbul. Penulis melakukan

pelaksanaan pada hari pertam sampai hari terakhir sift pagi dan selanjutnya dan

selanjutnya diteruskan oleh perawat ruangan.

       Hambatan yan dihadapi penulis dalam pelaksanaan keperawatan adalah

keterbatasan waktu yang disediakan, untuk itu penulis melibatkan perawat ruangan,

orang tua dan keluarga klien lainnya untuk melanjutkan pelaksanaan keperwatan agar
                                                                                98




tetap berkesinambungan dengan tujuan yang diharapkan dapat tercapai dimana

kondisi klien akan membaik.



E. Evaluasi Keperawatan

            Evaluasi   merupakan   alat   untuk   mengetahui   perkembangan   dan

keberhasilan dalam melaksanakan Asuhan keperawaan yang telah diberikan,

dengan demikian dapat ditemukan apakah perencanaan dapat diteruskan atau

distop. Adapun dari evaluasi dari pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada An. “S”,

dengan gangguan system pencernaan : gastroenteritis selama 3 hari dari tanggal 06

juli 2011 s.d 08 juli 2011 adalah pada diagnosa keperawatan Diare berhubungan

dengan Inflamasi, iritasi dan malabsorbsi usus; Hipertermi berhubungan dengan

respon sistemik dari inflamasi gastrointestinal; Resti kekurangan volume cairan

berhubungan dengan diare, muntah hasil evaluasi belum teratasi Karen aketerbatan

waktu yang diberikan pada penulis sedangkan pada diagnosa Resiko kerusakan

integritas jaringan anus berhubungan dengan defekasi cair hasil evaluasi sudah

teratasi.
                                                                                 99




                                     BAB V
                                   PENUTUP


        Setelah melakukan Asuhan Keperawatan pada An “S” dengan Gangguan

Sistem Pencernaan ; Gastroenteritis yang berumur 9 bulan di rawat di Pavilium

Theresia I /14-4 Rumah sakit RK. Charitas selama 3 hari mulai dari tanggal 06 Juli

2011 sampai 08 Juli 2011 maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai

berikut:

A.     Kesimpulan

           Setelah menganalisis kasus pada klien An.“S” dengan Gangguan Sistem

Pencernaan; Gastroenteritis maka penulis dapat menarik kesimpulan :

     1. Pada saat pengkajian keluarga dan klien dapat bekerja sama dengan perawat,

        sehingga data pengkajian yang diperoleh benar-benar dapat mendukung

        untuk ditegakkannya diagnosa keperawatan, adapun tanda dan gejala yang

        ditemukan pada saat pengkajian yaitu; klien BAB encer 15x / 24 jam, warna

        hijau, bau khas,   badan teraba hangat dan badan terasa lemas, palpasi

        abdomen kembung, konjungtiva anemis, mukosa bibir kering, turgor kulit

        tidak elastis.

     2. Setelah ditemukan tanda gejala yang ada pada klien An. ”S” selanjutnya

        penulis mengumpulkan data subyektif dan obyektif yang ada di lapangan

        dan menyusun diagnosa keperawatan yang didasarkan pada teori yang ada

        yaitu: diare berhubungan dengan Inflamasi, iritasi dan malabsorbsi usus;
                                                                              100




   hipertermi    berhubungan   dengan       respon   sistemik   dari   inflamasi

   gastrointestinal; kekurangan volume cairan berhubungan dengan diare,

   muntah; resiko kerusakan integritas jaringan anus berhubungan dengan

   iritasi karena diare.

3. Setelah penulis menegakkan diagnosa, maka selanjutnya penulis menyusun

   rencana keperawatan berdasarkan teori yang ada. Penulis dalam menyusun

   rencana keperawatan berdasarkan dengan teori yang ada dan penulis susun

   berdasarkan kondisi dan keadaan pasien sehingga tidak ada kesenjangan

   antara teori yang ada dengan yang penulis tegakkan.

4. Pada saat pelaksanaan keperawatan, penulis melaksanakan asuhan

   keperawatan berdasarkan rencana yang telah disusun, akan tetapi ada

   rencana keperawatan yang tidak dapat dilaksanakan karena menyesuaikan

   dengan kondisi klien.

5. Hasil evaluasi keperawatan yang diperoleh antara lain untuk diagnosa

   keperawatan diare belum teratasi karena klien masih diare 4 kali perhari;

   untuk diagnose keperawatan kekurangan volume cairan belum teratasi

   karena    Ibu pasien mengatakan anaknya mencret 4 kali sehari dengan

   konsistensi cair, berwarna hijau dan       muntah sudah berkurang; untuk

   diagnose keperawatan hipertermia belum teratasi karena Ibu pasien

   mengatakan badan anaknya masih teraba panas dan Badan pasien masih
                                        0
   teraba panas, TTV pasien suhu 37,2       C; untuk diagnosa keperawatan resti

   kerusakan integritas kulit sudah teratasi pada hari pertama yaitu pada
                                                                                   101




        tanggal 06 Juli 2011 karena daerah anus lembab, kemerahan sudah

        berkurang.



B.     Saran

        Berdasarkan ,kesimpulan di atas maka saran yang dapat penulis ajukan adalah

sebagai berikut :

     1. Sebelum melakukan pengkajian tindakan hendaknya perawat mampu menjalin

        hubungan kerjasama dengan klien, keluarga dan perawat lain agar

        mendapatkan data yang lengkap sehingga dapat menemukan masalah yang

        ada pada klien.

     2. Untuk instansi pendidikan, hendaknya karya tulis ilmiah ini dapat menjadi

        bahan referensi dan menambah wawasan para mahasiswa dalam memperoleh

        informasi mengenai asuhan keperawatan pada pasien dengan Gangguan

        Sistem Pencernaa; Gastroenteritis.

     3. Perawat dalam melakukan tindakan yang berhubungan dengan luka khusunya

        tindakan invasif hendaknya perawat selalu berpedoman pada tindakan yang

        bersifat aseptik sehingga infeksi nasokomial tidak terjadi atau dicegah.

     4. Setelah diberikan penyembuhan diharapkan keluarga klien dapat menjaga

        kebersihan diri dan lingkungan sekitar rumahnya agar anaknya tidak terjadi

        diare berulang. Diharapkan keluarga untuk segera membawa klien ke petugas

        kesehatan terdekat jika ditemukan tanda diare agar tidak terjadi komplikasi.
                                                                                 102




                                DAFTAR PUSTAKA



Anonim.2011. Anatomi Saluran Pencernaan. (http://abba.vlsm.org/v12/sponsor
        /SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0064%20Bio%202-5b.htm) online.
        Diakses pada tanggal 15/7/2011
Hidayat, Aziz Alimul. A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Edisi 1. Jakarta:
        Salemba Medika

Koas.      2011.      Manajemen        Diare      Pada Bayi    dan      Anak.
        (http://koaskamar13.wordpress.com/managemen-diare-pada-bayi-dan-
        anak/). online. Diakses pada tanggal 15/7/2011

Mutaqqin, Arif, dan Sari, Kumala. 2011. Gangguan gastrointestinal: aplikasi asuhan
       keperawatan medical bedah. Jakarta: Salemba Medika

Nursalam, dkk. 2008. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta : Salemba
        Medika

Pediatrica. 2011. Diare Pada Anak. (http://www.dokteranakku.net/2010/10/diare-
         pada-anak.html) online. Diakses pada tanggal 15/7/2011

Priyanto, Agus, dkk. 2008. Endoskopi gastrointestinal. Jakarta: Salemba Medika

Raden.2011. Anatomi Mulut. (http://radenbeletz.com/sistem-pencernaan-pada-
        manusia.html) online. Diakses pada tanggal 15/7/2011
Suratun. 2010. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem gastrointestinal.
        Jakarta: TIM

Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. Jakarta:
      EGC

Yuliani, Rita dan Suryadi. 2001. Buku Pegangan Praktek Klinik. Edisi 1.
        Jakarta: Perpustakaan Nasional RI

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4357
posted:2/26/2012
language:Indonesian
pages:102
Description: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gastroenteritis adalah radang pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare, dengan atau tanpa disertai muntah, dan sering kali disertai peningkatan tubuh. Diare yang dimaksudkan adalah buang air besar berkali-kali (dengan jumlah yang melebihi 4 kali, dan bentuk feses yang cair, dapat disertai dengan darah atau lendir (Suratun, 2010; 136). Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena memiliki insidens dan mortalitas yang tinggi. Diperkirakan terdapat antara 20-50 kejadian diare per 100 penduduk setahunnya. Kematian terutama disebabkan karena penderita mengalami dehidrasi berat. Antara 70-80% penderitapenderita terdapat pada mereka yang dibawah 5 tahun. Data Departemen Kesehatan menunjukkan, diare menjadi penyakit pembunuh kedua bayi di bawah lima tahun atau balita di Indonesia, setelah radang paru atau pneumonia ( Makara, Kesehatan, Vol. 14, No. 1, Juni 2010). Hasil SKRT angka kematian diare anak balita dan bayi permil pertahun berturut-turut menunjukkan angka: 6.6(anak balita), 22 (bayi) pertahun 1980; 3.7 (anak balita) dan 13.3 (bayi) pada tahun 1985/1986; 2.1 (anak balita) dan 7.3 (bayi) pada th 1992. 1 (anak balita) dan 8 (bayi) pada tahun 1995. Angka morbiditas 1989, 1990, 1995 adalah 78.5%, 103% dan 100%. Krisis ekonomi akan berpengaruh pada angka morbiditas (Pediatrica, 2007).