Kena PHK atau resign by JIS0ksm

VIEWS: 1,063 PAGES: 13

									                                 Kena PHK atau resign ?

Rovicky Dwi Putrohari


Mana yang lebih menguntungkan kena PHK atau resign ?

Sering kali kita enggan keluar dari perusahaan karena sayang uang pesangonnya hilang.
Namun disisi lain terkena PHK dapat terkesan buruk karena seolah-olah dianggap
perforemancenya buruk (sehingga di PHK). Walaupun bisa saja PHK terjadi atasu Mutual
Agreement Termination (MAT), dimana putusnya hubungan kepegawaian karena
kesepakatan kedua pihak.

Saya belum pernah mengalami PHK, cenderung memutuskan resign. Namun memang
kalau dilihat uang pesangonnya sayang juga sih :)

Kalau kondisi perusahaan "menghawatirkan", Apakah kita mesti menunggu sampai di PHK
atau resign hanya kalau sudah dapat kerjaan baru ?

defnil

Dikarenakan UU Ketenagakerjaan Indonesia, dari sisi finasial lebih menguntungkan kalau
kita di PHK. Tapi umunya nggak nyaman dari sisi perasaan/pride/profesionalisme.

Daripada "makan hati" menghadapi situasi kerja atau atasan, kurang dari sisi finasial kalau
resign, tapi lebih nyaman dari sisi perasaan/pride/profesionalisme.

Saya berpendapat bahwa :
- alam diciptakan dalam kondisi kesetimbangan.
- apa yang memang bukan hak kita, walaupun kita tahan dengan berbagai cara, akan
tetap keluar juga dengan cara lain. dan apa yang memang sudah diperuntukkan bagi kita,
walaupun dihalang-halangi, dengan cara lain akan tetap sampai juga ke kita.
- misi kehadiran kita di muka bumi ini untuk melayani. tempat yang paling ideal buat kita
adalah tempat dimana kita dibutuhkan..

Chandra@yahoo

Rasanya faktor tempat kerja juga perlu dimasukkan ke risk tersebut. Di singapore, hanya
employees di atas 3 thn yg dpt retrenchment benrfits berdasarkan Employment Act,
itupun based on mutual agreement and company financial status. Kalo company is at risk
of bancrupcy and tidak ada duit byr pesangon, rasanya employee mkgn lebih baik cabut
duluan.

Rovicky Dwi Putrohari

Saya dulu pernah ditawari untuk mengambil MAT, ketika perusahaan akan "dijual". Tetapi
saat itu tidak punya keberanian. Hmmm gamang juga. Padahal jelas akan dikasi
pesangon.
Tapi malah akhirnya resign tanpa pesangon hanya mengejar cita-cita oportuniti di lain
tempat. Sampai akhirnya nikmat banget (ga punya rasa takut) kalau resign :)


Memang bener pesangon itu angkanya menggiurkan. Tapi aku sendiri (ternyata) lebih
mengejar oportunity ketimbang sekedar pesangon yang menggiurkan itu.
Oportunity memang memang akan selalu datang, tetapi oportunity terbaik tidak selalu
tepat dapat diambil. Konon katanya mirip menunggu bis lewat. Ketika kita naik ternyata
busnya penuh, atau malah kosong dua bus berikutnya yg lengang. Kita tidak pernah tahu
pasti.

eko prasatiyo

Kalau menurut pendapat saya, tidak ada orang yg mau diPHK atau resign tanpa sebelum
mendapat kepastian pekerjaan ditempat lain. Kadang kita bingung juga jika tiba2
seminggu sebelumnya dapat surat PHK tetapi belum ada tawaran dari tempat lain. Tetapi
kadang kita berharap diPHK karena lamaran kita yg diperusahaan B diterima,meskipun
kita msh bekerja diperusahaan A.
Tetapi intinya, apa ada perusahaan yang mau "merekayasa" PHK kita kalau kita diterima
kerja ditempat lain?
Menurut saya PHK merupakan expense dan lebih mahal daripada kmenunggu karyawan
yg bersangkutan resign.

Eric Sidniyanto

Case by case ada perusahaan dan kondisi yg bisa dikompromikan seperti itu, Pak. Jadi
sifatnya win-win solution.

Pernah ada kawan saya yang akan diPHK bersama 1 org lagi, tapi krn temannya sudah
duluan dpt pekerjaan jadinya dia duluan yg kena.

Tapi memang relatif sekali dan tergantung kebijakan HRDnya, approach Department
Managernya ke Management, dll.



Sketska Naratama

Dear pak Rovicky
Pertanyaan ini dijawab oleh pernyataan kondisi perusahaan menghawatirkan. Btw pada
dasar nya orang yang berusaha apakah ia bekerja atau mempunyai pekerja akan selalu
mempunyai resiko.

Pertanyaan terhadap diri kita, siapakah yang mengendalikan tingkat resiko tersebut?

Sri Yansen

Pak Rovicky,
Menurut saya, kembali ke orangnya....kalau memang uang adalah alasan untuk keluar
walaupun kondisi sudah tidak memungkinkan tetapi dia tetap bertahan agar di PHK juga
tidak salah...

Saya baru saja mengalami hal yang sama, semua rekans menyarankan agar saya bertahan
supaya mendapat pesangon, tetapi saya lebih memilih opsi mengundurkan diri karena
secara psikologis kondisi dikantor sudah tidak bagus buat saya. Alhamdulillah, setelah satu
bulan mengganggur sekarang saya telah mendapat perkejaan lagi yang lebih baik dari
sebelumnya.

haditomo_irawan

Rekan2 KMI,
Menurut saya di PHK atau Surplus ketika project finished atau Pabrik kekurangan order
pesanan adalah hal wajar jika sebagian employee di PHK atau Surplus.
Ketika kita menghadapi kondisi di PHK atau Surplus tentu saja pada umumnya terkena
kepada employee dgn masa kerja < 5 years pd suatu company.
Jadi kalau takut di PHK ya kerja di Pemerintah. Kita dapat mengetahui kenapa sebagian
sarjana di Indonesia lebih suka kerja di Pemerintah (PNS)?
Bahkan bukan rahasia lagi untuk sebagian orang utk kerja jadi PNS diperlukan "Uang
Pelicin" yg nilainya cukup besar bahkan ada yg sampai jual Tanah/Hewan ternak/sawah.
Jadi bagi saya yg kerja di swasta dgn kondisi kerja kontrak (PKWT) sdh terbiasa
mengalami PHK sesuai dengan kondisi proyek. Bahkan ada rekan saya yg kerja kontrak
dgn kondisi diperpanjang setiap 3 atau 6 bulan.
Yang penting pikirkan diri kita untuk selalu bekreasi dan berinovasi dlm bekerja. Jadi saat
PHK datang insya Alloh mental kita sudah siap menghadapi.


Dirman Artib

Ada risk mitigation strategy yang bagus untuk mereduksi impact dari PHK, yaitu perluas
market area dan market segment. Untuk perluas market area, dapat dilakukan dengan
masuk ke pasar global, jadi kalau pasar lokal saturated kita masih bisa diserap market
global (overseas). Untuk memperluas segment, dengan cara membuat diri kita kunci
Inggriss,
cocok untuk semua baut, tetapi Engineer biasanya kurang suka hal ini karena terlalu
cenderung specialist. Tapi semua ada impak nya, misalnya market global akan
berpengaruh kepada sosial famili kita, kerja di luar 1-2 tahun kontrak tidak semuanya bisa
bawa keluarga, ada urusan sekolah anak, ada masalah istri yang tak lagi nonton
infotainment dan sinetron, makan tak lagi ada pecel lele & mie ayam belakang Setia Budi,
dan bagi yang Muslim terkadang tak lagi bisa mendengar suara azan 5X sehari, dan
kadang juga tak ada Mesjid buat Jum'atan.

Hidup memang harus tetap berlanjut, melanjutkan hidup menjadi pegawai BP Migas
misalnya adalah ideal bagi pemain professional migas :).

Maulana Muhammad

Mas Rovicky,
Yang lebih menguntungkan kalau dari sudut pandang "money" jelas PHK karena akan
dihitung dari masa kerja sesuai UU No. 13 Tahun 2003.

Kalau saya pribadi, lebih "terhormat" mengundurkan diri or resign apalagi kita sudah
dapat kerjaan yang lain, ikhlaskan yang namanya pesangon, insya Allah akan dapat rezeki
lain di tempat yang baru. Itu menurut saya loh mas...

Eric Sidniyanto

Sebagai org yg sdh pnh mengalami dua2nya, saya lebih memilih diPHK ketimbang resign.

Alasan pertama pasti krn pesangon, yg tdnya saya tdk pernah berambisi utk
mendapatkannya (meaning: I still prefer to be employed continuously instead of being
retrenched due to whatever reasons) tp kok stlh dpt tyt menggiurkan jg krn bisa nabung
cukup lumayan tanpa perlu mencari penghasilan lebih di luar negeri atau kerja sampingan
misalnya :).

Alasan kedua jika kita diPHK krn memang kondisi perusahaan kita yg akan collapse,
bergabung dgn perusahaan lain, pindah lokasi ke headquarter, dll dan bukan krn dipecat
gara2 bad performance, violating company regulation, dll, kita tdk perlu bingung
menjelaskan alasan kita berhenti dr perusahaan sebelumnya ke calon employer kita
berikutnya pd saat interview dan sama sekali tdk ada persepsi negatif (lagian gosip suatu
perusahaan, apalagi di dunia migas, akan mem-PHK karyawannya besar2an pasti sdh
kemana2 jd semua org sdh tau :p). Sementara kalau kita resign, pasti kita diminta
menjelaskan alasan resign, apa krn gaji kurang, tdk cocok dgn atasan, suasana kerja tdk
nyaman, dll yg seringkali menjadi penilaian/benchmark calon employer terhadap kita
apakah kita akan loyal atau tidak di perusahaan tersebut nantinya.

Jadi jawaban atas pertanyaan terakhir Pak Rovicky, ya saya memilih menunggu sampai
diPHK sembari mencari2 pekerjaan baru (krn biasanya sdh ada indikasi kapan akan
diPHK). Syukur2 transisinya bisa smooth dlm artian habis diPHK langsung bisa mulai
bekerja di tempat yg baru ;).

Ahmad Solikhin

Mungkin tidak menjawab pertanyaan Pak. Hanya mengutip kata2 seorang yang bijak:
"Your competence is the only your job security"... Pernyataan ini menurut saya tidak
sepenuhnya benar, karena ada unsur hoki alias rejeki yang tidak disangka-sangka yang
datangnya dari Sang Pemberi Rejeki... Kita mungkin pernah menjuampai ada kawan yang
kompetensinya biasa saja, tetapi dapat pekerjaan bagus dengan gaji bagus. dan ada
kawan yang puinter ter, tapi belum beruntung....
seandainya kena PHK dapat pesangon terus langsung dapet kerjaan baru yg lebih baik itu
namanya rejeki... sebaliknya, seandainya kontrak habis, nggak diperpanjang, dan masih
mencoba melamar sana sini belum ada yang manggil, perlu kesabaran dan usaha yg lebih
baik lagi...


rio.hendiga@akersolutions
Saya memang belum pernah terkena PHK ( walaupun berharap di PHK karena
mengharap pesangonnya ), selama ini saya resign atau tidak melanjutkan kontrak.

Namun kalau ditanya oleh HRD : " Apakah anda mau mendapat PHK ? dengan alasan
efisiensi perusahaan membuat management memPHK karyawannya " maka saya jawab dg
tegas " MAU !!! ". Kenapa..., karena artinya kondisi perusahaan sudah ndak sehat dan
butuh bantuan saya ( agar saya mau di PHK ), jadi selain menolong management agar
perusahaan bisa sehat lagi,...saya juga akan dapat pesangon...betul kan ? :D

Akan saya singkirkan dulu jauh-jauh anggapan perusahaan menganggap kinerja saya
buruk atau kurang memuaskan, karena bagi saya jalur rejeki itu banyak dan positif
thinking itu lebih menyehatkan pikiran saya untuk berpikir langkah selanjutnya. Mungkin
berwiraswasta akan lebih baik setelah kita dikenai PHK, karena kita punya modal ( uang
& pengalaman ).

Namun sayang selama ini saya berada di perusahaan yang sehat & segar bugar. Tapi kalau
kita resign ( saat status kontrak atau permanent ) karena ada tawaran bekerja yang lebih
baik di saat kondisi perusahaan sedang tidak sehat saya rasa itu juga hal yang bersifat
positif juga.


vimala sariputera

Ya begitulah peraturannya di Indonesia. Karyawan yg mau resign dan pamitan baik2 akan
mendapatkan uang yg lebih kecil daripada karyawan yg bandel dan terpaksa di phk.

ari widodo

Lho, iya tho pak?
Kebetulan kontrak saya sebagai "tentara bayaran" berakhir 31 okt tahun ini.
Perusahaan menawarkan kontrak baru sampai 11 bulan ke depan, tapi saya berniat utk
resign. Dan... tidak ada pesangon tuh (apa karena baru 6 bln kerja ya)....
hehehe....
Saya juga pamitan baik2 koq, sudah kirim email ke HRD, user, dan leader saya di
awal bulan.... dan sekarang sedang menjalani proses hand over.

Mengenai pertanyaan pak RDP. Saya belum pernah di PHK pak. Tapi kebetulan saya
dapat tawaran di tempat baru yg menurut saya "lebih baik". Kebetulan juga PT yg baru
minta saya mulai bergabung awal nov. Dan kebetulan juga kontrak saya berakhir 31
oktober. Jadi itu namanya resign bukan ya...??? Sebenarnya klo saya tidak bilang mau
resign, dan 31 oktober saya pergi begitu saja kan tidak apa2 tho pak? Tapi emang sih
saya merasa segan dengan HRD, user, dan juga leader saya dan sekedar menjaga
hubungan baik saja ...

Maaf ya pak... tidak menjawab pertanyaan, eeh, malah balik nanya....

Maulana Muhammad
Setahu saya kalau yang namanya kontrak atau KKWT sudah habis masa kontraknya ya
tidak dapat apa-apa kecuali ada kebijakan dari perusahaan setempat. Kalau sebelum habis
masa kontrak terus kita keluar ya tetap namanya resign alias mengundurkan diri, inipun
gak dapat apa-apa hanya ucapan terima kasih. Kalau yang KKWT di PHK berarti
perusahaan wajib membayar sisa kontraknya. Nah bagaimana kalau kita yang
memutuskan hubungan kerja dengan perusahaan saat masih masa kontrak? Apa kita bayar
ke Perusahaan sisa kontrak kita?

cak.topan

Seorang rekan saya mengalami kejadian seperti itu, pak.
Jadi dia resign, harus putus kontrak 10 bulan dari total 12 bulan. Dia diminta bayar 2
bulan sisanya.
Yang saya ndak habis pikir, kalo uang kontrak diberikan di depan sih... normal. masuk
akal.
tapi, kalo gajian tiap bulan, apa hak perusahaan nuntut 2 bulan sisanya?

Kontraknya sih uda dibuat tertulis seperti di atas, sehingga teman saya tidak bisa
menghindar dari kewajiban tsb.
namun begitu, sulit saya memahami kondisi di atas.

ada yang bisa kasih pencerahan?

Indra Prasetyo

Saya pernah ditawarin kontrak oleh sebuah perusahaan EPC besar dan terkenal di
Indonesia, gaji cukup besar, bahkan pada saat akan td tgn kontrak pun saya masih bisa
nego utk menaikkan gaji dan dikasih pula, tp sayangnya didalam kontrak tsb (yg tebelnya
lumayan, blm pernah saya lihat kontrak kerja setebal itu sebelum dan sesudahnya) ada
klausul yg menyatakan bahwa jika saya mengundurkan diri sebelum kontrak berakhir,
saya diharuskan membayar penalti sejumlah gaji per bulan dikali dengan sisa bulan yg blm
dijalani. Sebetulnya ada klausul jg yg mengatakan kalau perusahaan memutuskan kontrak
saya sebelum masa berlakunya habis maka perusahaan pun diharuskan membayar penalti
yg sama. Tetapi setelah saya perhatikan lagi, dari sisi perusahaan, mereka punya escape
clause salah satu contohnya, jika perusahaan menilai performance kerja saya tidak
memuaskan, maka perusahaan berhak untuk memutuskan kontrak at any time without
any compensation whatsoever. Jadi timpang kalo saya bilang. Akhirnya saya memutuskan
untuk tidak jadi menandatangani kontrak tsb, lagipula kalo saya pikir2, kok saya tanda
tangan kontrak kerja sama kyk td tgn surat utang atau surat kredit 200 juta lebih terus
bayarnya nyicil tiap bulan dengan kerja disitu, lha utang kartu kredit saya aja nggak ada
yg diatas 5 juta hehe..

Nah, sejak itu setiap kali saya akan menandatangani kontrak kerja, saya pastikan dulu
bahwa di dalam kontrak tsb tidak ada klausul demikian, bahkan kalau perlu spt di kontrak
kerja terakhir saya, dicantumkan klausul bahwa para pihak dapat saling memutuskan
kontrak kapan pun tanpa kompensasi apa pun. Buat saya itu lebih baik.

cak.topan
hehehe...nice share, pak.

sepertinya tipikalnya sama kayak kasus teman saya tadi.
jadi kalo perusahaan menganggap employee-nya under performed, maka perusahaan
berhak memutus kontrak.

DAN, teman saya langsung ndak masuk 5 hari. indispliner. dipecat.
trus beliau ndak perlu bayar sisanya.

teman saya menganggap itu adalah solusi terbaik dari masalahnya, mending dipecat
daripada diminta bayar 2 bulan.
walaupun begitu, dia juga sadar reputasinya jadi jatuh.

Muamar Khadafi

Cak Topan,
Begini, Perjanjian Kerja waktu tertentu dibuat atas kesepakatan kedua pihak dalam
jangka waktu tertentu. apabila salah satu pihak membatalkan kontrak kerja (PKWT)
setelah dia tanda tangan / menyetujui perjanjian tersebut, maka sisa kontrak harus
dipertanggung jawabkan / dikompensiasikan. dasar hukumnya adalah UU 13 tahun 2003
;

Pasal 62

Apabila salah satu pihak mengakhiri hubungan kerja sebelum berakhirnya jangka waktu
yang ditetapkan dalam perjanjian kerja waktu tertentu, atau berakhirnya hubungan kerja
bukan karena ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (1), pihak yang
mengakhiri hubungan kerja diwajibkan membayar ganti rugi kepada pihak lainnya sebesar
upah pekerja/buruh sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja.

Semoga tercerahkan....


Sketska Naratama

Trims atas share nya juga ya
Jika memang begini, peran regulator apa ya apakah karena sudah demikian pelik nya
problem, sehingga tidak terpikirkan?

Btw, kontrak kerja saya pun baru saja berakhir (Project based), alhamdulillah tanpa
bersusah payah atau jelimet ttg urusan legal, mereka berikan 2x gaji sbg pesangon, dgn
masa kerja lebih kurang 1,5 tahun.

Memang pelik bagi yang tidak punya "power", kayak hutan rimba jadi nya


b.rawindra

Mas Indra,
Saya lihat kontrak personal yang seberat itu hanya buat musikus pengamen di hotel2
bintang 4/5 (di Jakarta), malah ada klausul penalti karena absen yang dihitung jam2-an.
Kita bukan seniman yg sering sembrono / tidak terlalu peduli duit, to?

Muhammad Ruslailang

Sepertinya itu kontrak yg dibuat dgn konteks perusahaan yg mengalami tingkat turn over
karyawan yg tinggi...

Jadi itu mungkin ekspresi psikologis perusahaan tsb karena sering dirugikan oleh karyawan
yg banyak keluar sebelum waktu kontrak abis.

Btw, pengalaman saya dulu sbg buruh kontrak, klausul itu muncul kalau kita ada
diberikan insentif awal atau populer disebut sign-in fee atau bonus hiring. Klo ga ada
insentif awal sih, harusnya kita nolak aja kontrak kayak gtu...

And Riawan

saya pernah pak, tapi karna surat perjanjian yang untuk saya di pegang HRD nya, pada
saat saya mau cabut, saya berkilah bahwa saya tidak pegang surat perjanjian tersebut dan
saya bilang saja "surat tersebut sudah dirubah sama bapak (HRD), kan bapak yg pegang
surat saya:p" . . . bertengkar sih bertengkar: alhambdulillah, ga pernah saya bayar se
perak pun, hehehe . . . (ora urusan, ora urunan ora nduwe duitt . . . !) Makanya kl surat
kontrak msh di pegang HRD, saya biarkan saja . . . yg penting, hak & bayaran utuh
sampe selesai kontrak . . .

rio.hendiga@akersolutions


Tapi sekarang ndak bisa lagi mas seperti itu, udah kebongkar modus operandinya, soalnya
udah ada yang bocorin :D

Namun yang saya sesalkan dari sistem kontrak adalah, beberapa sistem kontrak yang saya
temuin/ alami, merugikan karyawan, misalnya :
1. Standart salary lebih kecil atau minimal sama dengan pekerja status permanent.
2. Batas waktu kontrak diperpanjang / atau pengangkatan permanent cuma 2 minggu
sebelum finish kontrak.
3. Tunjangan hari raya kebanyakan dibayarkan jika bekerja lebih dari 3 bulan, atau ada
yang tanpa menerima THR karena habis kontrak sebelum hari raya.
4. dll

Alhasil biasanya orang kontrak 3 bulan sebelum finish kontrak sudah giat cari-cari
compeny lain, dan saya rasa itu sangat wajar jika ternyata 1-2 bulan sebelum finish
kontrak karyawan sudah mengajukan resign karena ya hal yang di atas itu. Mungkin
masih mending resign dg baik-baik, apa jadinya jika dia mengetahui kalau resign baik-baik
malah kena penalti, bisa-bisa dia kabur dg meninggalkan seabrek pekerjaan yang njlimet .
Kita sebagai orang Indonesia harusnya paham dg kondisi tsb, jangan malah membuat
aturan yang merugikan bangsa sendiri dg alasan profesionalisme bekerja dan loyalitas
penuh thdp perusahaan.

irviantanto

Rekan KMI,

Sayapun heran dengan pemerintah, dengan memperbolehkan diberlakukan sistem
kontrak. Dimana posisi karyawan sangat lemah. Sebagai contoh, kadang pihak employeer
tidak transparan dengan kita tentang apakah kontrak karyawan tersebut diperpanjang
atau tidak. Sehingga apabila karyawan tersebut tidak diperpanjang sebaiknya
diberitahukan 2 bulan lebih awal, sehingga sang karyawan bisa "searching" lebih awal.
Sistem kontrakpun rawan dengan "like" or "dislike" dari supervisornya. Sehingga akan
timbul kesan sang karyawan kontrak diberikan "beban" lebih berat daripada yang bukan
kontrak. Saya berharap pemerintah tanggap dengan situasi dan kondisi semacam ini.
Mohon maaf atas masukan saya ini.

haditomo_irawan

Rekan Irvi,

Setuju dengan ungkapan itu karena kami yg di PSC dengan plat biru akan berbeda
perlakuannya dengan employee plat merah. Kami diperlakukan seperti sapi perah
sedangkan rekan plat merah dengan santainya datang terlambat dan "Teng Go" artinya
bunyi bell teng...teng and Go alias kabur pulang dan meninggalkan plat biru kerja sampai
larut malam.
Belum lagi segudang alasan untuk meninggalkan pekerjaan dan kembali masuk kerja
seenaknya.Maklum plat merah bung sapa berani pecat!!

Ketika masalah performance kerja selalu diukur "Saudara tidak professionals?" Mana yg
professionals? Yg datang telat dan pulang cepat? Atau yang datang on time dan pulang
lambat?
Jadi menurut saya harus ada standard perlakuan jam kerja adil dengan absen sidik jari
atau punch card!!

Lalu apa hak plat biru? Jika memindahkan jam kerja plat merah kepada dirinya?
Saya kerja di malaysia tetap adil entah big boss atau CEO tetap aja harus punch card
seperti buruh!!
Nah rekan2 KMI mohon maaf jika tulisan ini menyinggung secara tidak sengaja, tujuan
saya ya supaya adil perlakuan terhadap plat biru dan plat merah karena secara
profesionals kita sama!!

Ahmad Solikhin

Salam migas,

Sistem kerja kontrak dalam UU/13/2003 disebut sebagai "Perjanjian Kerja untuk Waktu
Tertentu", dan ini ada ketentuannya, sehingga seharusnya perusahaan tidak bisa semena-
mena melaksanakannya,
pasal 59 ayat (1)
(1) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu
yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu
tertentu, yaitu :
a. pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;
b. pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan
paling lama 3 (tiga) tahun;
c. pekerjaan yang bersifat musiman; atau
d. pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk
tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.

Jadi, jika kontrak teman2 tidak sesuai dengan kriteria tersebut, maka batal demi hukum,
dan berganti status menjadi karyawan tetap...
pasal 59 ayat (7)
(7)Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) maka demi hukum
menjadi perjanjian kerja waktu tidak tertentu.

Jika ada karyawan yang merasa terjepit karena perlakuan yang tidak adil sehingga
menyebabkan dia ingin resign, maka akan diancam dengan denda sebanyak sisa gaji
sampai kontrak berakhir.
Pasal 62
Apabila salah satu pihak mengakhiri hubungan kerja sebelum berakhirnya jangka waktu
yang ditetapkan dalam perjanjian kerja waktu tertentu, atau berakhirnya hubungan kerja
bukan karena ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (1), pihak yang
mengakhiri hubungan kerja diwajibkan membayar ganti rugi kepada pihak lainnya sebesar
upah pekerja/buruh sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja.

Jika ada karyawan yang mangkir supaya dipecat, perusahaan bisa menjeratnya dengan
pasal 168,
(1) Pekerja/buruh yang mangkir selama 5 (lima) hari kerja atau lebih berturut-turut tanpa
keterangan secara ter tulis yang dilengkapi dengan bukti yang sah dan telah dipanggil oleh
pengusaha 2 (dua) kali secara patut dan tertulis dapat diputus hubungan kerjanya karena
dikualifikasikan mengundurkan diri.

namun pasal 62 di atas bertentangan dengan pasal 168 ayat (3)
(3) Pemutusan hubungan kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bersangkutan
berhak menerima uang penggantian hak sesuai ketentuan
(4) dan diberikan uang pisah yang besarnya dan pelaksanaannya perjanjian kerja,
peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.


Jadi ada peluang nego bagi karyawan kontrak untuk memperjuangkan nasibnya.... silakan
dicermati UU/13/2003 terlampir...
selamat bekerja dan berkarya...

UU-13-2003-ketenagakerjaan.pdf

yose ma'ruf
setau saya sih, istilah "...waktu tidak tertentu." tidak sama dengan "tetap" atau
"permanen".

ahmadrs@technip

Pak Ahmad Solikhin,
kenyataannya banyak perusahaan yang mengakali pasal 59 ayat 1 dengan cara tidak
meneruskan kontrak yang telah dirolling selama 2 tahun, dengan pekerja tetap bekerja
(baik dalam kategori 'gelap' maupun kategori 'magang') lalu mengeluarkan kontrak kerja
baru.
Apakah tindakan tersebut memang tidak teridentifikasi sehingga tidak masuk dalam UU
Tenaga Kerja?

Ahmad Solikhin

Kurang tahu Pak, saya juga hanya seorang karyawan kontrak kok Pak. Alhamdulillah saat
ini saya mendapat kontrak yang cukup fair. Mungkin topik ini bisa dijadikan agenda
seminar atau workshop oleh KMI untuk memberikan masukan kepada pemerintah dan
DPR agar ke depannya UU no.13/2009 bisa diperbaiki...

Hotler Na70

Saran...lebih baik diskusikan dgn Serikat Pekerja     Masing2 utk mempertahankan
diri/menghindari kesewenang2an Pengusaha.

Dirman Artib

Solusi tepat adalah memecat perusahaan tersebut dengan cara sewenang-wenang juga.
Mendiskusikan dengan serikat pekerja adalah baik, tetapi lebih baik berdiskusi dengan
calon majikan baru.

Mempertahankan hubungan selayaknya dilakukan jika itu adalah hubungan suami-istri,
ibu-bapak, saudara, paman, sepupu, pacar dan pertemanan yang melibatkan emosi dan
cinta. Kalau hanya dalam hubungan kerja, jika salah satu pihak ingin memutuskan
hubungan, sebaiknya jangan dipertahankan, dengan Bismillah putuskan saja dengan cool,
dgn tidak melibatkan emosi dan perasaan, katakanlah sebagai PHK berdarah dingin.


Ayajiwira Wijaya

Mohon maaf jika posting/jawaban tentang adanya PHK TANPA Pesangon dan PHK
dengan Pesangon sebelumnya, membingungkan.

Saya berupaya mengingatkan kembali atas UU No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan yang mengatur tentang PHK.
Sehingga ada juga keterangan-keterangan tentang PHK (istilah, persyaratan, larangan
melakukan PHK, kompensasi, hubungan dengan peraturan perusahaan, dll).
PHK dengan kesalahan berat hanya mendapat penggantian hak (bukan pesangon).

Saya lampirkan juga, UU tersebut sebagai bahan referensi Kita semua.


Urip Sedyowidodo

dear all,
benar, prinsipnya : SIAPA YANG BERINISIATIF MEMULAI, maka DIA YANG DIKENAI
BEBAN.
itu sdh diterjemahkan ke pasal peraturan spt dikutip oleh pak MK di bawah ini.

Alden Nelson

Cak Topan,
Jd apa yg dikatakan oleh P.Khadafi itu sesuai dgn UU No 13 yg berlaku saat ini sehingga
ketika yg membatalkan PKWT pekerja maka pekerja yg membayar ganti rugi dan jika
sebaliknya perusahaan maka perusahaanlah yg bertanggung jawab.

Tentunya hal ini fair & tinggal kita bagaimana memenuhi aturan yg sdh disepakati.
Jadi perlu kita ambil nilai positifnya.


Dirman Artib

Bagi saya, resign termasuk Tindakan Pencegahan (Preventive Action) atau bahagian dari
Risk Mitigation strategy.
Selayaknya sebuah risiko, tentu ada bahaya atau ancaman yang dapat diukur probability
nya dan severity nya. Dalam manajemen risiko tidak hanya ditinjau bahaya atau ancaman
bersama dengan dampaknya, tetapi juga perlu ditinjau peluang bersama-sama dengan
benefitnya.

Putuskan resign kalau itu bisa memitigasi resiko pada anda, reputasi adalah salah satu
aspek resiko, atau kalau anda bisa memanen benefit lebih besar daripada menunggu
pensiun dan mengalami ketidakpuasan kerja pada perusahaan tersebut.

Sebahagian besar perusahaan tidak berencana untuk mengeluarkan pesangon PHK apalagi
sekelas Pak de RDP), tetapi kalau terpaksa maka akan dilakukan, tetapi probability
keterpaksaan sangatlah kecil, karena sumberdaya mereka lebih besar untuk mencegah
keterpakasaan tersebut daripada pekerja, jadi yang diupayakan adalah pekerja keluar
sendiri tanpa pesangon.

Eric Sidniyanto

IMHO ngeluarin pesangon PHK tdk tergantung dr tingginya kualifikasi karyawannya, Pak.
Tapi itu peraturan/kebijakan perusahaan yg juga ada di UU tenaga kerja.

Kalau bicara soal itu, nah di company saya kemarin ada yg udah 25 th lbh mengabdi jg
kena PHK dan dpt pesangon 10 digit kok buktinya ...
Urip Sedyowidodo

dear all,
terkait subyek dan pertanyaan awal pak RDP, maka tergantung referensinya apa, dan
seperti sdh disinggung bbrp kawan di sini, maka referensi setiap orang berbeda2.

jika:


1. referensinya: meraih uang pesangon, karena masa kerja dan pendapatan bulanan yg
kompetitif nilainya, maka tunggu pesangon saja.

2. referensinya: nama baik, maka resign menjadi pilihannya. sebab masa kerja dan nilai
gaji bulanan masih belum sebesar kawan lain yg memilih opsi pesangon krn senioritasnya.

namun alasan2 di atas bukan mutlak, sebab setiap referensi orang terbit dari premis yang
beragam. jadi alternatif pilihan tersebut bukan berarti yg satu lebih baik drpd yg lainnya.

								
To top