RESPON AYAM BROILER TERHADAP PENGGANTIAN by brotMar

VIEWS: 0 PAGES: 5

									Stigma Volume XIV No.1, Januari – Maret 2006


       PENGARUH FERMENTASI DENGAN Trichoderma viride TERHADAP
     PENYUSUTAN BAHAN KERING DAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK,
                ABU, PROTEIN KASAR, LEMAK KASAR
           DAN HCN DAUN UBI KAYU LIMBAH ISOLASI RUTIN
         (Effects of fermentation using Trichoderma viride on dry matter loss and organic matter,
             ash, crude protein, crude fat and HCN contents of rutin-isolated cassava leaves)

                     Yose Rizal, Yetti Marlida, Novi Farianti, dan Dian Permana Sari *)


                       ABSTRACT                                    Kandungan zat-zat makanan DUK ini cukup
                                                              baik, sehingga berpotensi untuk dijadikan makan-
An experiment was conducted to study the effects of
                                                              an ternak ruminansia dan monogastrik.
fermentation using Tricoderma viride on dry matter loss
and organic matter, ash, crude protein, crude fat and         Sudaryanto dkk. (1982) mendapatkan bahwa
HCN contents of rutin-isolated cassava leaves. Cassava        DUK mengandung protein kasar 21.45%, serat
leaves were obtained from the variety of Basiorao which       kasar 25.71%, lemak 9.72%, Ca 0.72% dan P
were grown in Bukittinggi. This experiment was perform-       0.59%. Menurut Mathius dkk. (1983) komposisi
ed in a completely randomized design with 5 treatments
and 4 replicates. Treatments were five doses of inoculums     kimia DUK yaitu: bahan kering 18.9%, protein
Trichoderma viride (4, 5, 6, 7, and 8% of the substrate).     kasar 20.7%, lemak kasar 9.35%, BETN 41.3%
Measured variables were dry matter loss and organic           dan abu 7.56%. Disamping itu DUK juga me-
matter, ash, crude protein, crude fat and HCN contents of     ngandung HCN yang cukup tinggi, yaitu 560-620
rutin-isolated cassava leaves. Results of experiment
indicated that dry matter loss, and organic matter, ash,      ppm pada daun muda dan 400-530 ppm pada
crude protein and HCN contents of rutin-isolated cassava      daun tua (Sudaryanto, 1986). Menurut Darma
leaves were highly affected (P<0.01) by doses of inocu-       dkk. (1994) DUK hanya bisa dipakai sampai 5%
lums, whereas the crude fat content was only significantly    dalam ransum broiler karena mengandung serat
influenced (P<0.05) by these doses. Increasing in the dose
of inoculums elevated dry matter loss, and ash and crude      kasar dan HCN yang tinggi.
protein contents of rutin-isolated cassava leaves.                 Akhir-akhir ini diketahui bahwa DUK me-
Meanwhile, this increasing in the dose of inoculums           ngandung zat flavonoid yang disebut rutin. Zat
decreased organic matter, crude fat and HCN contents.         rutin ini bisa dikeluarkan dari DUK melalui isola-
The high crude protein content was obtained from the
doses of 7 and 8% inoculums. However, crude protein           si dengan cara perebusan. Hasil penelitian
content of rutin-isolated cassava leaves at these two doses   Reflinda (1992) menunjukkan bahwa lama pere-
did not differ statistically. Based on this crude protein     busan DUK terbaik yaitu 45 menit. Daun ubi ka-
content, it can be concluded that the dose of 7%              yu sisa perebusan ini merupakan limbah dari
Trichoderma viride is adequate to improve the protein
content of rutin-isolated cassava leaves.                     isolasi rutin yang selanjutnya disebut dengan
                                                              DUK limbah isolasi rutin. Rizal (1996) menda-
Key-words: rutin-isolated cassava leaves, fermentation,       patkan bahwa DUK limbah isolasi rutin ini bisa
           Trichoderma viride, dry matter loss, organic-      dipakai sampai 8% dalam ransum ayam ras pete-
           matter, ash, crude protein, crude fat and
           HCN                                                lur dan 9% dalam ransum ayam ras pedaging
                                                              (broiler) tanpa menurunkan performa produksi
                                                              dari ayam ras petelur dan pedaging tersebut.
                   PENDAHULUAN                                Terjadinya peningkatan jumlah pemakaian ini
                                                              disebabkan dalam proses perebusan selama 45
Luas lahan untuk tanaman ubi kayu (Manihot                    menit tersebut telah terjadi penurunan HCN
utilissima, Pohl.) di Sumatera Barat menurut BPS              sampai 98.5% (Zulkardi, 1994).
Sumbar (2000) yaitu 7759 Ha. Tanaman ubi kayu                      Jumlah pemberian DUK dalam ransum ung-
ini menghasilkan limbah daun ubi kayu (DUK)                   gas masih rendah jika ditujukan untuk meng-
yang cukup banyak. Menurut Sudaryanto (1982)                  gantikan bungkil kedelai karena kandungan pro-
setiap hektar tanaman ubi kayu menghasilkan                   tein kasar DUK lebih rendah dari bungkil kede-
sekitar 7 – 15 ton DUK. Dengan demikian pro-                  lai. Untuk meningkatkan kandungan protein
duksi DUK pada tahun 2000 di Sumatera Barat                   kasar ini diperlukan teknologi yang tepat. Salah
diperkirakan antara 54313 sampai dengan 116385                satunya yaitu melalui fermentasi dengan kapang.
ton.                                                          Pada proses fermentasi ini biasanya terjadi ber-
                                                              bagai perubahan zat-zat organik yang terdapat

*)
     Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang



ISSN 0853-3776 AKREDITASI DIKTI No. 52/DIKTI/KEP/1999 tgl. 12 Nopember 2002
Stigma Volume XIV No.1, Januari – Maret 2006


dalam suatu bahan makanan seperti bertambah-                Bukittinggi, kapang Trichoderma viride, dedak
nya jumlah zat organik tertentu, hilangnya zat              padi, dan peralatan laboratorium serta zat-zat
organik lainnya, atau zat organik tertentu menjadi          kimia untuk keperluan fermentasi dan analisis
lebih mudah dicerna. Di antara kapang yang                  kandungan zat-zat makanan dan HCN.
sering dipakai untuk fermentasi yaitu dari jenis                 Metode penelitian yang dilakukan yaitu me-
Aspergillus niger. Darma et al. (1994) dan Bakrie           tode eksperimen menggunakan rancangan acak
et al. (1995) memperlihatkan bahwa terjadi                  lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan.
peningkatan kandungan protein kasar DUK yang                Perlakuan yang digunakan yaitu dosis inokulum
difermentasi dengan Aspergillus niger. Hasil                Trichoderma viride sebanyak 4, 5, 6, 7 dan 8%
penelitian Wahyuni (2002) juga menunjukkan                  dari substrat. Kegiatan yang dilakukan dalam
bahwa kandungan protein kasar DUK yang difer-               proses fermentasi dimulai dari peremajaan ka-
mentasi dengan Aspergillus niger meningkat dari             pang, pembuatan inokulum dan fermentasi DUK
18.88 menjadi 27.47%, tetapi setelah dicobakan              limbah isolasi rutin. Peremajaan kapang dilaku-
pada ayam broiler, pemakaiannya maksimum da-                kan menggunakan media potato dextrose agar
lam ransum masih tetap 9% (Rahmadian, 2004).                (PDA). Medium PDA dibuat dengan cara men-
     Berdasarkan kenyataan ini maka perlu dicari            campurkan 39 g PDA dengan 1 liter air dalam
jenis kapang lainnya yang lebih mampu untuk                 gelas piala dan dipanaskan perlahan-lahan sampai
meningkatkan protein kasar. Salah satunya yaitu             mendidih, lalu didinginkan sampai suhu 55 oC.
kapang dari jenis Trichoderma viride. Kapang                Diambil sebanyak 5 ml medium PDA dan dima-
jenis ini diketahui mengandung berbagai jenis en-           sukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditutup de-
zim seperti protease, lipase, pektinase dan selula-         ngan kapas dan aluminium foil. Selanjutnya
se (Pelczar and Reid, 1974; Wiseman, 1981;                  disterilisasi dalam autoclave pada suhu 121oC
Rogers, 2002). Hasil penelitian Ikhsan (1999)               selama 15 menit. Setelah selesai sterilisasi tabung
memperlihatkan bahwa ampas sagu aren yang                   reaksi ini diletakkan miring dengan sudut kemi-
difermentasi dengan 7% Trichoderma viride sela-             ringan 10o dan dibiarkan selama 24 jam. Setelah
ma 9 hari kandungan protein kasarnya meningkat              itu dioleskan kapang Trichoderma viride dan
dari 3.00 menjadi 9.05%. Ampas aren yang                    diinkubasikan selama 4 hari pada suhu 30oC.
difermentasi dengan Trichoderma viride ini dapat            Kapang hasil peremajaan ini disuspensikan dalam
dimanfaatkan sampai 25% dalam ransum sebagai                6 ml larutan mineral formula Brook et al. (1969)
pengganti jagung pada ayam broiler (Astuti,                 kemudian ditambah 9 ml aquadest untuk menda-
2001), dan sampai 50% dalam ransum itik                     patkan larutan spora. Dedak padi disterilkan de-
periode starter (Yunirwan, 2002).                           ngan autoclave pada suhu 121oC selama 30
     Belum ada laporan tentang penggunaan                   menit. Larutan spora yang diperoleh dicampur
Trichoderma viride ini untuk memfermentasi                  dengan dedak padi yang telah disterilkan dan
DUK limbah isolasi rutin. Untuk itu maka dilaku-            diinkubasi lagi selama 4 hari pada suhu 30 oC
kan suatu penelitian dengan tujuan untuk menge-             untuk mendapatkan inokulum. Daun ubi kayu
tahui pengaruh fermentasi dengan beberapa level             yang telah dicincang sepanjang + 2 cm dima-
inokulum Trichoderma viride terhadap penyusut-              sukkan ke dalam kantong plastik yang telah dilu-
an bahan kering dan kandungan bahan organik,                bangi sebanyak 150 g setiap unit percobaan dan
abu, protein kasar, lemak kasar dan HCN DUK                 direbus selama 45 menit. Hasil rebusan ini dipe-
limbah isolasi rutin.                                       ras kandungan airnya dan didinginkan sampai
                                                            suhu kamar, lalu dicampur dengan inokulum
                                                            Trichoderma viride sesuai dengan dosis perlaku-
            BAHAN DAN METODE                                an yaitu: 4, 5, 6, 7 dan 8% dari substrat dan
                                                            difermentasi selama 9 hari (Ikhsan, 1999). Hasil
     Suatu penelitian tentang pengaruh fermentasi           fermentasi ini dimasukkan ke dalam oven pada
dengan beberapa level inokulum Trichoderma                  suhu 100oC selama 2 jam untuk menghentikan
viride terhadap penyusutan bahan kering dan                 aktivitas kapang. Selanjutnya dikeringkan dalam
kandungan bahan organik, abu, protein kasar,                oven tersebut pada suhu 60 oC sampai kering.
lemak kasar dan HCN DUK limbah isolasi rutin                Setelah kering daun ubi kayu limbah isolasi rutin
telah dilakukan di Laboratorium Teknologi                   fermentasi (DUKLIRF) digiling halus dengan
Industri Pakan dan Laboratorium Nutrisi Rumi-               blender dan diayak menggunakan ayakan dengan
nansia Fakultas Peternakan Universitas Andalas              ukuran pori 2 mm untuk keperluan analisis kan-
dari tanggal 10 Januari sampai dengan 15 Maret              dungan gizinya.
2003. Bahan dan alat yang dipakai pada peneli-                   Peubah yang diamati pada penelitian ini
tian ini yaitu: tepung DUK limbah isolasi rutin             yaitu: penyusutan bahan kering dan kandungan
dari varietas Basiorao yang diperoleh dari                  bahan organik, abu, protein kasar, lemak kasar



ISSN 0853-3776 AKREDITASI DIKTI No. 52/DIKTI/KEP/1999 tgl. 12 Nopember 2002
Stigma Volume XIV No.1, Januari – Maret 2006


dan HCN dari DUKLIRF. Penyusutan bahan                        kandungan bahan organik pada dosis 4, 5 dan 6%
kering (%) dihitung dari berat bahan kering                   ini sangat nyata (P<0.01) lebih tinggi dari pada
sebelum fermentasi dikurangi berat bahan kering               dosis 8%. Kandungan abu DUKLIRF pada dosis
setelah fermentasi dibagi berat bahan kering                  4, 5 dan 6% berbeda tidak nyata (P>0.05), demi-
sebelum fermentasi dan dikali 100%. Kandungan                 kian pula pada dosis 7 dan 8%. Akan tetapi kan-
bahan organik, abu, lemak kasar dan HCN                       dungan abu pada dosis 4, 5 dan 6% lebih rendah
ditentukan menurut prosedur pada AOAC (1984),                 (P<0.05) dari pada kandungan abu pada dosis 7%
dan kandungan protein kasar dengan metode                     P<0.05) dan sangat nyata (P<0.01) lebih rendah
Kjeldahl.                                                     dari pada kandungan abu pada dosis 8%. Seperti
     Semua data yang diperoleh dianalisis secara              diketahui bahwa pada proses fermentasi terjadi
statistik dengan analisis keragaman dari rancang-             perubahan zat-zat organik sebagai akibat dari
an acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4                      reaksi biokimia yang ditimbulkan oleh kapang.
ulangan. Perbedaan antar perlakuan diuji lanjut               Enzim-enzim yang dihasilkan oleh kapang
dengan uji jarak berganda Duncan. Model mate-                 Trichoderma viride seperti selulase, protease, dan
matik dari rancangan yang digunakan menurut                   lipase (Wiseman, 1981; dan Rogers, 2002) akan
Petersen (1985) yaitu:                                        merombak zat-zat organik seperti selulosa, pro-
               Yij = u + Ti + Ei(j)                           tein dan lipid menjadi molekul yang lebih seder-
                                                              hana, sehingga dalam proses perombakan terse-
                                                              but akan terjadi kehilangan sebagian bahan ke-
          HASIL DAN PEMBAHASAN                                ring karena zat-zat organik tadi bisa berubah
    Pengaruh     perlakuan   dosis   inokulum                 menjadi CO2 dan H2O (Sulaiman, 1988; dan
Trichoderma viride terhadap rataan penyusutan                 Murray et al., 2000). Selanjutnya Winarno dkk.
bahan kering, kandungan bahan organik dan kan-                (1980) juga menjelaskan bahwa selama proses
dungan abu DUKLIRF hasil penelitian dapat dili-               fermentasi terjadi peningkatan kadar air karena
hat pada Tabel 1. Perlakuan berpengaruh sangat                perombakan bahan organik oleh enzim-enzim
nyata (P<0.01) terhadap penyusutan bahan ke-                  yang dihasilkan mikroba. Fardiaz (1988) juga
ring, kandungan bahan organik dan kandungan                   mengemukakan bahwa mikroba akan mengguna-
abu DUKLIRF. Semakin tinggi dosis inokulum                    kan karbohidrat sebagai sumber energi dengan
yang dipakai semakin tinggi persentase penyu-                 jalan memecahnya menjadi gula sederhana seper-
sutan bahan kering, semakin turun kandungan                   ti glukosa, dan selanjutnya akan dilakukannya
bahan organik dan semakin naik kandungan abu                  pemecahan glukosa menjadi CO2 dan H2O mela-
DUKLIRF.                                                      lui jalur glikolisis dan siklus Krebs untuk meng-
                                                              hasilkan energi. Perubahan yang terjadi pada
Tabel 1. Pengaruh dosis inokulum Trichoderma viride           bahan organik diikuti pula dengan perubahan
         terhadap penyusutan bahan kering dan kan-            atau kehilangan/penyusutan bahan kering karena
         dungan bahan organik dan abu DUKLIRF.                bahan kering suatu bahan makanan terdiri atas
     Perlakuan       Penyusutan      Bahan       Abu (%)      bahan organik dan bahan an-organik (McDonald
          (Dosis       Bahan      Organik (%)                 et al., 1981). Dengan meningkatnya dosis inoku-
     Inokulum)       Kering (%)                               lum Trichoderma viride, maka pertumbuhan ka-
           4%            10.24a         92.21a        7.79a   pang ini juga akan lebih banyak sesuai dengan
                               b              a
           5%            14.03          92.68         7.31a
           6%            17.83c         92.04a        7.96a   ketersediaan substrat. Jumlah kapang yang ba-
           7%            23.32d         90.98b        9.02b   nyak akan menyebabkan produksi enzim-enzim
           8%            26.14e         90.83b        9.16b   dari kapang tersebut semakin tinggi, sehingga
           SE*            0.69           0.29         0.08    jumlah zat-zat organik yang dirombak juga se-
a,b,c,d,e
           Rataan dengan superskrip yang berbeda pada seti-
           ap kolom untuk masing-masing perlakuan menun-
                                                              makin banyak. Dengan demikian maka terjadi
           jukkan berbeda nyata pada taraf pengujian 5%.      penurunan yang lebih besar dari bahan organik
       * Standard error dari rata-rata.                       tersebut dengan semakin meningkatnya dosis
                                                              inokulum. Sebaliknya, jika kadar bahan organik
    Hasil uji lanjut dengan DMRT memperlihat-                 semakin turun, maka kadar abu dari substrat
kan bahwa pengaruh semua dosis (4, 5, 6, 7 dan                semakin meningkat.
8% dari substrat) terhadap penyusutan bahan                        Rataan kandungan protein kasar, lemak kasar
kering berbeda sangat nyata (P<0.01). Kandung-                dan HCN dari DUKLIRF dapat dilihat pada
an bahan organik pada dosis 4, 5 dan 6% berbeda               Tabel 2. Kandungan protein kasar dan HCN
tidak nyata (P>0.05), demikian pula pada dosis 7              DUKLIRF sangat nyata (P<0.01) dipengaruhi
dan 8%, tetapi kandungan bahan organik pada                   oleh dosis inokulum Trichoderma viride, sedang-
dosis 4, 5 dan 6% lebih tinggi (P<0.05) dari pada             kan kandungan lemak kasar hanya nyata (P<0.05)
kandungan bahan organik pada dosis 7%, dan                    dipengaruhi oleh dosis inokulum ini. Kandungan



ISSN 0853-3776 AKREDITASI DIKTI No. 52/DIKTI/KEP/1999 tgl. 12 Nopember 2002
Stigma Volume XIV No.1, Januari – Maret 2006


protein kasar semakin meningkat dengan mening-                   Kandungan lemak kasar pada dosis inokulum
katnya dosis inokulum, sedangkan kandungan                  4, 5 dan 6% tidak berbeda (P>0.05), demikian
lemak kasar dan HCN semakin menurun.                        pula antara dosis 6, 7 dan 8%, tetapi antara dosis
     Hasil uji lanjut dengan DMRT memperlihat-              4 dan 5% berbeda nyata (P<0.05) dengan dosis 7
kan bahwa kandungan protein kasar pada dosis                dan 8%. Terjadinya penurunan kandungan lemak
inokulum 4% tidak berbeda (P>0.05) dengan                   kasar ini disebabkan terjadinya perombakan le-
dosis 5%, tetapi nyata lebih rendah (P<0.05) dari           mak yang lebih besar pada dosis yang tinggi ka-
kandungan protein kasar pada dosis 6% dan                   rena kapang Trichoderma viride juga mengan-
sangat nyata lebih rendah (P<0.01) dari kandung-            dung enzim lipase yang cukup tinggi untuk me-
an protein kasar pada dosis 7 dan 8%. Kandungan             rombak lemak (Rogers, 2002).
protein kasar pada dosis 5% tidak berbeda                        Kandungan HCN DUKLIRF pada dosis 4%
(P>0.05) dengan 6%, tetapi nyata lebih rendah               tidak berbeda (P>0.05) dengan dosis 5%, tetapi
(P<0.05) dari kandungan protein kasar pada dosis            antara 4% dengan 6, 7 dan 8% berbeda sangat
7 dan 8%. Kandungan protein kasar pada dosis                nyata (P<0.01). Kandungan HCN pada dosis 5%
6% juga nyata lebih rendah (P<0.05) dari                    tidak berbeda (P>0.05) dengan dosis 6%, tetapi
kandungan protein kasar pada dosis 7 dan 8%,                berbeda sangat nyata (P<0.01) dengan dosis 7
tetapi kandungan protein kasar antara dosis                 dan 8%. Kandungan HCN pada dosis 6% juga
inokulum 7 dan 8% tidak berbeda (P>0.05).                   tidak berbeda (P>0.05) dengan dosis 7%, tetapi
Tingginya kandungan protein kasar pada dosis 7              berbeda sangat nyata (P<0.01) dengan dosis 8%.
dan 8% disebabkan pertumbuhan kapang                        Kandungan HCN DUKLIRF antara 7% dengan
Trichoderma viride yang lebih banyak pada dosis             8% juga berbeda sangat nyata. Semakin tinggi
tersebut. Menurut Fardiaz (1988) kapang terse-              dosis inokulum semakin rendah kandungan HCN
but merupakan sumber protein sel tunggal.                   DUKLIRF. Hasil ini sesuai dengan hasil peneli-
Kandungan protein kasar dari kapang ini berkisar            tian Wahyuni (2002) yang mendapatkan bahwa
antara 31 – 50% (Saono, 1976). Dengan demi-                 terjadi penurunan kandungan HCN DUK yang
kian kandungan protein kasar dari kapang ikut               difermentasi dengan Aspergillus niger.
menyumbang dalam peningkatan kandungan pro-
tein kasar substrat. Disamping itu peningkatan
kandungan protein juga disebab penurunan kan-                                   KESIMPULAN
dungan karbohidrat sebagaimana yang dikemuka-
kan Munarso (1989) bahwa fermentasi akan                        Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
mengakibatkan penurunan kandungan karbohi-                  peningkatan dosis inokulum Trichderma viride
drat bahan makanan dan peningkatan kandungan                dapat meningkatkan penyusutan bahan kering,
protein kasarnya. Hasil penelitian ini juga sesuai          kandungan protein kasar dan kandungan abu
dengan hasil penelitian Wahyuni (2002) yang                 DUKLIRF, dan sebaliknya dapat menurunkan
menggunakan kapang Aspergillus niger untuk                  kandungan bahan organik, lemak kasar dan HCN.
memfermentasi DUK, dimana kandungan protein                 Penggunaan 7% inokulum Trichoderma viride
kasar DUKF meningkat dengan meningkatnya                    merupakan dosis yang terbaik untuk meningkat-
dosis inokulum. Selain itu fermentasi ampas sagu            kan kandungan protein kasar DUKLIRF.
aren dengan Trichoderma viride juga meningkat-
kan kandungan protein kasarnya (Ikhsan, 1999).
                                                                              DAFTAR PUSTAKA
Tabel 2. Pengaruh dosis inokulum Trichoderma viride
         terhadap kandungan protein kasar, lemak
                                                            AOAC. 1984. Official Methods of Analysis (14 th Ed.). Asso-
         kasar dan HCN DUKLIRF.
                                                                 ciation of Official Analytical Chemists, Washington,
                                                                 DC.
     Perlakuan     Protein Kasar      Lemak     HCN (%)     Astuti, F. 2001. Pengaruh penggantian jagung (Zea mays)
        (Dosis          (%)        Kasar (%)                     dengan ampas aren (Arenga pinnata) yang difermentasi
     Inokulum)                                                   dengan Trichoderma viride terhadap performa ayam
         4%            29.10a          6.42a      62.10a         broiler. Skripsi Sarjana. Fakultas Peternakan UNAND,
         5%           30.35ab          6.28a     56.70ab         Padang.
         6%           31.11b          5.89ab     51.30bc    Bakrie, B., J. Hendra, and A. Nazar. 1995. Effects of using
         7%            32.13c          5.70b      48.40c         different technique in bioprocess on the nutritive value
         8%            32.57c          5.68b     36.37d          of cassava leaves. Proceedings on XI National Biology
         SE*            0.43            0.19       1.95          Seminar. University of Indonesia, Jakarta.
a,b,c,d
        Rataan dengan superskrip yang berbeda pada setiap   BPS Sumbar. 2000. Sumatera Barat dalam Angka. Badan
        kolom untuk masing-masing perlakuan menun-               Pusat Statistik Sumatera Barat, Padang.
        jukkan berbeda nyata pada taraf pengujian 5%.       Brook, E. J., A. W. Bridge, and W. R. Stanton. 1969.
     * Standard error dari rata-rata.                            Fermentation methods for protein enrichment of cassava.
                                                                 Biotech. Bioengineering, 11:1271-1284.




ISSN 0853-3776 AKREDITASI DIKTI No. 52/DIKTI/KEP/1999 tgl. 12 Nopember 2002
Stigma Volume XIV No.1, Januari – Maret 2006


Darma, J., T. Purwadaria, T. Haryati, A. P. Sinurat, dan R.                 (Manihot utilissima) fermentasi. Skripsi Sarjana. Fakul-
     Dharsana. 1994. Upgrading the nutritional value of                     tas Peternakan, Universitas Andalas, Padang.
     cassava leaves through fungal biotechnology. Research             Rizal, Y. 1996. Penggunaan daun singkong limbah isolasi
     Institute for Animal Production Report for                             rutin dalam ransum ayam petelur dan broiler. Jurnal
     FAO/ANBAPH, Ciawi, Bogor.                                              Peternakan dan Lingkungan, Vol. 2 No. 01, Padang.
Fardiaz, S. 1988. Mikrobiologi Pangan. Depdikbud, Dirjen                    ISSN: 0852-4092.
     Dikti. PAU Pangan dan Gizi IPB, Bogor.                            Rogers, J. M. 2002. Diamond V xpTM DFM sets the standard
Ikhsan, I. 1999. Pengaruh level inokulum Trichoderma viride                 in          microbial          feed           technology.
     dan lama fermentasi terhadap kandungan protein kasar                   http://www.diamondv.com/newsrelease/xp_dfm_aug200
     ampas sagu aren. Skripsi Sarjana. Fakultas Peternakan                  2.html.
     UNAND, Padang.                                                    Saono, S. 1976. Pemanfaatan jasad renik dalam pengolahan
Mathius, W., A. Djajanegara, dan M. Rangkuti. 1983.                         hasil sampingan atau sisa-sisa produksi pertanian.
     Pengaruh penambahan daun singkong dalam ransum                         Berita LIPI 18(4): 1-11.
     domba. Ilmu dan Peternakan, BPT Ciawi, Bogor.                     Sudaryanto, B., I. N. Rangkuti, dan A. Prabowo. 1982.
McDonald, P., R. A. Edwards, and J. F. D. Greenhalgh.                       Penggunaan tepung daun singkong dalam ransum babi.
     1981. Animal Nutrition. Third Ed. Longman, New                         Ilmu dan Peternakan, BPT Ciawi, Bogor.
     York.                                                             Sudaryanto, B. 1986. Daun singkong sebagai sumber pakan
Munarso, S. J. 1989. Produksi amilase dari kapang                           ternak. Poultry Indonesia, Vol. VII, No. 75, Jakarta.
     Aspergillus awamori varietas kawachi pada substrat                Sulaiman. 1988. Studi proses pembuatan protein mikroba
     dedak untuk pembuatan tepung beras kaya protein.                       dengan ragi amilolitik dan ragi simba pada media padat
     Tesis MSIPH IPB, Bogor.                                                dengan bahan ubi kayu. Tesis Fakultas Tehnik Pertanian
Murray, R. K., D. K. Granner, P. A. Mayes, and V. W.                        IPB, Bogor.
     Rodwell. 2000. Harper’s Biochemistry. McGraw- Hill,               Wahyuni, R. 2002. Pengaruh lama perebusan dan level
     New York.                                                              inokulum Aspergillus niger terhadap kadar bahan kering,
Pelczar, M. J. and R. D. Reid. 1974. Microbiology.                          protein kasar, HCN dan nilai pH daun ubi kayu
     McGraw Hill Book Co., New York.                                        (Manihot utilissima) fermentasi.
Petersen, R. G. 1985. Design and Analysis of Experiments.              Winarno, F. G., S. Fardiaz, dan D. Fardiaz. 1980. Pengantar
     Marcell Dekker, Inc., New York.                                        Teknologi Pangan. PT. Gramedia, Jakarta.
Rahmadian, V. 2004. Pengaruh pemberian daun ubi kayu                   Wiseman, A. 1981. Topics in Enzyme Fermentation Biotech-
     fermentasi dalam ransum terhadap performa ayam                         nology. Vol. 4. Jhon Willey and Sons, New York.
     broiler. Skripsi Sarjana. Fakultas Peternakan UNAND,              Yunirwan, F. 2002. Pengaruh tingkat penggantian jagung
     Padang.                                                                dengan ampas aren yang difermentasi dengan Tricho-
Reflinda. 1992. Isolasi rutin dari daun muda tiga varietas                  derma viride terhadap performa itik periode starter.
     singkong (Manihot utilissima, Pohl.). Skripsi Sarjana.                 Skripsi Sarjana. Fakultas Peternakan UNAND, Padang
     Farmasi FMIPA, Universitas Andalas, Padang.                       Zulkardi. 1994. Pemanfaatan daun ubi kayu limbah isolasi
Rinawati, A. 2002. Pengaruh lama perebusan dan level                        rutin dalam ransum ayam petelur pada masa produksi.
     inokulum Aspergillus niger terhadap kandungan serat                    Skripsi Sarjana. Fakultas Peternakan UNAND, Padang.
     kasar, NDF, ADF dan hemiselulosa daun ubi kayu




                                   ------------------------------oo0oo------------------------------




ISSN 0853-3776 AKREDITASI DIKTI No. 52/DIKTI/KEP/1999 tgl. 12 Nopember 2002

								
To top