Kepemimpinan dlm Perspektif Psikologi

Document Sample
Kepemimpinan dlm Perspektif Psikologi Powered By Docstoc
					   KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF
             PSIKOLOGI

                  MATAKULIAH
LANDASAN AGAMA, FILOSOFI, PSIKOLOGI DAN SOSIOLOGI
         DARI KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

    Dosen Pengampu   : Prof. Dr. DEDI MULYASANA
    Program Studi    : Manajemen Pendidikan
    Nama Mahasiswa   : 1. H. ARJIMAN
                          NIM. 4103810410106
                       2. IMAM TURMUDI
                          NIM. 4103810410098




PROGRAM PASCA SARJANA STRATA-3 (S-3)
   UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
             ( UNINUS )
             BANDUNG
                                   BAB I

                             PENDAHULUAN




A.   Latar Belakang


     Manusia adalah makhluk social yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam

hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesame serta dengan lingkungan.

Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam

kelompok kecil.Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan

kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati

& menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah

impian setiap insan. Menciptakan & menjaga kehidupan yang harmonis adalah

tugas manusia.


     Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi disbanding makhluk

Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan

untuk memilah & memilih mana yang baik & mana yang buruk. Dengan

kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan

baik.Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan social

manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya

manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak

untuk memimpin dirinya sendiri.Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat

mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam

penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan




                                                                            1
seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan

dengan baik.


     Kepemimpinan merupakan lokomotif organisasi yang selalu menarik

dibicarakan. Daya tarik ini didasarkan pada latar historis yang menunjukkan arti

penting keberadaan seorang pemimpin dalam setiap kegiatan kelompok dan

kenyataan bahwa kepemimpinan merupakan sentrum dalam pola interaksi antar

komponen organisasi (Suarjaya dan Akib, Usahawan bulan Nopember 2003: 42).

Lebih dari itu, kepemimpinan dan peranan pemimpin menentukan kelahiran,

pertumbuhan dan kedewasaan serta kematian organisasi. Mengingat arti penting

dan peranan kepemimpinan itu maka tulisan ini diarahkan bukan saja untuk

menyegarkan pemahaman pembaca mengenai topik kepemimpinan, melainkan

pula – dengan menggunakan prinsip iklan – untuk memberitahukan yang tidak

tahu, mengingatkan yang lupa, dan mempengaruhi sikap dan perilaku orang yang

sudah tahu akan kepemimpinan.


B. Rumusan Masalah


   Dari latar belakang masalah yang penulis uraikan, banyak permasalahan yang

penulis dapatkan. Permasalahan tsb antara lain :


Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin?

Adakah teori – teori untuk menjadi pemimpin yang baik?

Adakah tipe-tipe untuk menjadi pemimpin yang baik?

Bagaimanakah kepemimpinan menurut perspektif islam?

Apa & bagaimana menjadi pemimpin yang melayani?



                                                                              2
Apa & bagaimana menjadi pemimpin sejati?

Apa & bagaimana perbedaan pemimpin dan manajemen ?

Bagaimana pendekatan –pendekatan mengenai kepemimpinan yang efektif ?


C. Tujuan Penulisan


    Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah


   Melatih mahasiswa menyusun paper dalam upaya lebih meningkatkan

    pengetahuan dan kreatifitas mahasiswa.

   Agar mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya

    tentang kepemimpinan , manajemen dan pendekatanya.


D.Metode Penulisan


        Dari banyak metode yang penulis ketahui, penulis menggunakan metode

kepustakaan. Pada zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti

pergi ke perpustakaan tapi dapat pula dilakukan dengan pergi ke warung internet

(warnet). Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis, efektif,

efisien, serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data – data tentang topik

ataupun materi yang penulis gunakan untuk karya tulis ini.


E. Ruang Lingkup


        Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki maka

ruang lingkup karya tulis ini terbatas pada pembahasan mengenai kepemimpinan ,

manajemen dan pendekatanya.




                                                                             3
                                    BAB II

                              PEMBAHASAN



A. Definisi Kepemimpinan

          Robert dan Hunts (dalam Riyono & Zulaifah, 2001) mendefinisikan

   seorang pemimpin adalah orang yang perilakunya dapat mempengaruhi atau

   menentukan perilaku anggota lain dalam kelompoknya. Lester (2002)

   mendefinisikan kepemimpinan sebagai seni mempengaruhi dan mengarahkan

   orang dengan cara kepatuhan, kepercayaan, hormat dan kerja sama yang

   bersemangat dalam mencapai tujuan bersama. Sementara praktisi biasanya

   menerapkan pemimpin adalah orang yang menerapkan prinsip dan teknik

   yang memastikan motivasi, disiplin dan produktivitas jika bekerjasama

   dengan orang lain, tugas dan situasi agar mencapai tujuan organisasi.

          Robbins (2002) mengamati bahwa definisi kepemimpinan begitu

   banyak. Namun rangkuman dari berbagai definisi kepemimpinan itu adalah

   kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok ke

   arah tercapainya tujuan. Sumber dari pengaruh ini bisa formal, seperti

   misalnya karena adanya penunjukkan dari organisasi. Pada model ini,

   pemimpin dapat menjalankan peran kepemimpinan semata-mata karena

   kedudukannya. Pemimpin yang semacam ini bisa saja dipatuhi oleh

   kelompok karena kedudukannya, bisa juga tidak didukung oleh kelompok

   apabila dirinya bertentangan dengan kepentingan kelompok. Selain itu juga

   dijumpai pemimpin informal, dimana biasanya pemimpin ini tidak ditunjuk




                                                                           4
   oleh organisasi untuk memimpin kelompok, namun ia muncul dari anggota

   kelompok sebagai orang yang berpengaruh dalam kelompok tersebut.

          Daft (2005) mengembangkan konsep pengaruh dan pencapaian tujuan

   ini dalam definisi tentang kepemimpinan yaitu” Leadership is an influence

   relationship among leaders and followers who intend real changes and

   outcomes that reflect their shared purposes (h.5)”. Dalam konteks ini yang

   ditambahkan adalah adanya saling pengaruh antara pemimpin dan yang

   dipimpin. Bahwa pemimpin juga akan dipengaruhi oleh reaksi orang yang

   dipimpinnya, demikian sebaliknya. Kepemimpinan juga menyiratkan adanya

   niat dari yang memimpin maupun yang dipimpin untuk membuat sebuah

   perubahan yang berarti, yang tidak hanya didikte dari sang pemimpin, tetapi

   merupakan refleksi keinginan baik pemimpin maupun yang dipimpin.

   Definisi ini juga menyiratkan bahwa kepemimpinan terjadi di antara individu,

   artinya, pemimpin adalah individu yang memiliki pengikut serta dapat

   menjadi contoh bagi individu lainnya untuk bergerak.



B. Teori Kepemimpinan

          Teori kepemimpinan membicarakan bagaimana seseorang menjadi

   pemimpin, atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin. Ada beberapa teori

   tentang kepemimpinan. Menurut Adam Ibrahim Indrawijaya (1993: 132-133)

   "pada dasarnya ada dua teori kepemimpinan, yaitu teori sifat (traits theory)

   dan teori situasiaonal (situational theory)", sementara Wursanto ( 2004: 197 )

   menyatakan ada enam teori kepemimpinan, yaitu; teori kelebihan, teori sifat,

   teori keturunan, teori kharismatik, teori bakat, dan teori sosial, sedangkan



                                                                               5
Miftah Thoha mengelompokannya kedalam; teori sifat, teori kelompok, teori

situasional, model kepemimpinan kontijensi, dan teori jalan kecil-tujuan (

path-goal theory).

       Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai teori-teori

kepemimpinan, maka di bawah ini akan diuraikan beberapa teori

kepemimpinan sebagaimana diungkapkan oleh ketiga pakar tersebut di atas.

1. Teori kelebihan,

        Tiori ini beranggapan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin

    apabila ia memiliki kelebihan dari para pengikutnya. Pada dasarnya

    kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin mencakup tiga hal,

    pertama; kelebihan ratio, ialah kelebihan menggunakan pikiran, kelebihan

    dalam pengetahuan tentang hakikat tujuan dari organisasi, dan kelebihan

    dalam memiliki pengetahuan tentang cara-cara menggerakkan organisasi,

    serta dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat, Kedua;

    Kelebihan    Rohaniah,   berarti   seorang   pemimpin   harus   mampu

    menunjukkan keluhuran budi pekertinya kepada para bawahan. Seorang

    pemimpin harus mempunyai moral yang tinggi karena pada dasarnya

    pemimpin merupakan panutan para pengikutnya. Segala tindakan,

    perbuatan, sikap dan ucapan hendaknya menjadi suri tauladan bagi para

    pengikutnya, Ketiga, Kelebihan Badaniah; Seorang pemimpin hendaknya

    memiliki kesehatan badaniah yang lebih dari para pengikutnya sehingga

    memungkinkannya untuk bertindak dengan cepat. Akan tetapi masalah

    kelebihan badaniah ini bukan merupakan faktor pokok. (Wursanto, 2003:

    197-198).



                                                                           6
2. Teori sifat

           Pada dasarnya sama dengan teori kelebihan. Teori ini menyatakan

   bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik apabila memiliki

   sifat-sifat yang lebih daripada yang dipimpin. Di samping memiliki

   kelebihan pada ratio, rohaniah dan badaniah, seorang pemimpin

   hendaknya memiliki sifat-sifat yang positif, misalnya; adil, suka

   melindungi, penuh percaya diri, penuh inisiatif, mempunyai daya tarik,

   energik, persuasif, komunikatif dan kreatif. (Wursanto, 2003: 198).

   Menurut Miftah Thoha (2003:32-33) bahwa sesungguhnya tidak ada

   korelasi sebab akibat antara sifat dan keberhasilan manajer, pendapatnya

   itu merujuk pada hasil penelitian Keith Davis yang menyimpulkan ada

   empat     sifat   umum    yang   berpengaruh    terhadap   keberhasilan

   kepemimpinan organisasi, yaitu; (1) Kecerdesan ( di atas disebutkan

   kelebihan ratio). Hasil penelitian pada umumnya membuktikan bahwa

   pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan

   dengan yang dipimpin. Namun demikian pemimpin tidak bisa melampaui

   terlalu banyak dari kecerdasan pengikutnya, (2) Kedewasaan dan

   keleluasaan hubungan sosial, para pemimpin cenderung menjadi matang

   dan mempunyai emosi yang stabil, serta mempunyai perhatian yang luas

   terhadap aktivitas-akltivitas sosial. Dia mempunyai keinginan menghargai

   dan dihargai, (3) Motivasi dan dorongan berprestasi, para pemimpin

   secara relatif mempunyai dorongan motivasi yang kuat untuk berprestasi.

   Mereka berusaha mendapatkan penghargaan yang instrinsik dibandingkan

   dari yang ekstrinsik, (4) Sikap-sikap hubungan kemanusiaan, para



                                                                         7
   pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan para

   pengikutnya dan mampu berpihak kepadanya, dalam istilah penelitian

   Universitas Ohio pemimpin itu mempunyai perhatian, dan kalau

   mengikuti istilah penemuan Michigan, pemimpin itu berorientasi pada

   karyawan bukannya berorientasi pada produksi. Hal serupa juga

   dinungkapkan oleh Adam Ibrahim Indrawijaya dalam bukunya prilaku

   organisasi ( 1983: 132-133).

3. Teori keturunan

         Teori Keturunan menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi

   pemimpin karena keturunan atau warisan. Karena orang tuanya seorang

   pemimpin maka anaknya otomatis akan menjadi pemimpin menggantikan

   orang tuanya, seolah-olah seseorang menjadi         pemimpin karena

   ditakdirkan. (Wursanto, 2003: 199).

4. Teori kharismatik

         Teori kharismatik menyatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin

   karena mempunyai karisma (pengaruh) yang sangat besar. Karisma itu

   diperoleh dari Kekuatan Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini ada suatu

   kepercayaan bahwa orang itu adalah pancaran Zat Tunggal, sehingga

   dianggap mempunyai kekuatan ghaib (spranatural power). Pemimpin

   yang bertipe karismatik biasanya memiliki daya tarik, kewibawaan dan

   pengaruh yang sangat besar. (Wursanto, 2003: 199)

5. Teori bakat,

         Teori ini disebut juga teori ekologis, menyatakan bahwa pemimpin

   itu lahir karena bakatnya. Ia menjadi pemimpin karena mempunyai bakat



                                                                       8
   untuk menjadi pemimpin. Bakat kepemimpinan itu harus dikembangkan,

   misalnya dengan memberi kesempatan orang tersebut menduduki suatu

   jabatan. (Wursanto, 2003: 200).

6. Teori Sosial

         Beranggapan bahwa pada dasarnya setiap orang dapat menjadi

   pemimpin. Setiap orang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin asal

   dia diberi kesempatan. Setiap orang dapat dididik menjadi pemimpin

   karena masalah kepemimpinan dapat dipelajari, baik melalui pendidikan

   formal maupun melalui pengalaman praktek ( Wursanto, 2003: 200).

7. Teori Kelompok

         Beranggapan bahwa, supaya kelompok bisa mencapai tujuan-

   tujuannya, maka harus terdapat suatu pertukaran yang positif di antara

   pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Teori kelompok ini dasar

   perkembangannya pada psikologi sosial. (Miftah Thoha, 2003: 34).

8. Teori Situasional

         Teori    ini   menyatakan   bahwa    beberapa    variabel-situasional

   mempunyai pengaruh terhadap peranan kepemimpinan, kecakapan, dan

   perilakunya termasuk pelaksanaan kerja dan kepuasan para pengikutnya.

   Beberapa variabel sitasional diindentifikasikan, tetapi tidak semua ditarik

   oleh situasional ini. (Miftah Thoha, 2003: 36).

9. Model kepemimpinan kontijensi

         Teori ini ditemukan oleh Fiedler sebagai hasil pengujian hipotesa

   yang telah dirumuskan dari penelitiannya terdahulu. Model ini berisi

   tentang hubungan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang



                                                                            9
   menyenangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi empiris

   berikut ini: (1) Hubungan pimpinan-anggota. Variabel ini sebagai hal

   yang paling menentukan dalam menciptakan situasi yang menyenangkan,

   (2) Derajat dari struktur tugas. Dimensi ini merupakan urutan kedua

   dalam menciptakan situasi yang menyenangkan, (3) Posisi kekuasaan

   pemimimpin yang dicapai lewat otoritas formal. Dimensi ini merupakan

   urutan ketiga dalam menciptakan situasi yang menyenangkan. (Miftah

   Thoha, 2003: 37-38).

10. Teori Jalan Tujuan (Path-Goal Theory)

         Teori ini mula-mula dikembangkan oleh Geogepoulos dan kawan-

   kawannya di Universitas Michigan. Pengembangan teori ini selanjutnya

   dilakukan oleh Martin Evans dan Robert House. Secara pokok teori path-

   goal dipergunakan untuk menganalisa dan menjelaskan pengaruh perilaku

   pemimpin terhadap motivasi, kepuasan, dan pelaksanaan kerja bawahan.

   Ada Dua faktor situsional yang telah diidentifikasikan, yaitu sifat

   personal para bawahan, dan tekanan lingkungan dengan tuntutan-tuntutan

   yang dihadapi oleh para bawahan. Untuk situasi pertama teori path-goal

   memberikan penilaian bahwa perilaku pemimpin akan bisa diterima oleh

   bawahan jika para bawahan melihat perilaku tersebut merupakan sumber

   yang segera bisa memberikan kepuasan, atau sebagai suatu instrumen

   bagi kepuasan masa depan. Adapun faktor situasional kedua, path-goal,

   menyatakan bahwa perilaku pemimpin akan bisa menjadi faktor motivasi

   terhadap para bawahan, jika; (1) Perilaku tersebut dapat memuaskan

   kebutuhan-kebutuhan bawahan sehingga memungkinkan tercapainya



                                                                      10
       efektivitas dalam pelaksanaan kerja, (2) Perilaku tersebut merupakan

       komplimen dari lingkungan para bawahan yang berupa memberikan

       latihan,   dukungan,   dan    penghargaan     yang   diperlukan    untuk

       mengefektifkan pelaksanaan kerja. (Miftah Thoha, 2003:



C. Tipe-Tipe Kepemimpinan

         Tipe kepemimpinan sering disebut perilaku kepemimpinan atau gaya

  kepemimpinan (leadership style). Menurut Miftah Toha ( 2003: 49 ) gaya

  kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada

  saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Oleh

  karenanya usaha menselaraskan persepsi di antara yang akan mempengaruhi

  dengan orang yang perilakunya akan dipengaruhi menjadi amat penting.

  Duncan menyebutkan ada tiga gaya kepemimpinan, yaitu; otokrasi, demokrasi,

  dan gaya bebas ( the laisser faire ). ( Adam Ibrahim Indrawijaya, 1938: 135 ).

  Wursanto ( 2003) menambahkan tipe (gaya) paternalistik, militeristik, dan

  open leadership. Sementara Fandi Tjiptono dan Anastasia Diana ( 2000 )

  melengakpinya dengan gaya kepemimpinan partisipatif, berorientasi pada

  tujuan, dan situasional.

         Di bawah ini akan diuraikan tipe-tipe (gaya-gaya) kepemimpinan

  tersebut di atas dengan maksud memberikan gambaran yang jelas mengenai

  persamaan dan perbedaannya, agar tidak terjadi tumpang tindih dalam

  memahami gaya kepemimpinan disebabkan pengistilahan yang berbeda

  padahal maksud dan tujuannya sama.




                                                                             11
a. Kepemimpinan Otokrasi

         Kepmimpian       otokrasi   disebut juga     kepemimpinan diktator

  atau direktif. Orang yang menganut pendekatan ini mengambil keputusan

  tanpa berkonsultasi dengan para karyawan yang harus melaksanakannya

  atau karyawan yang dipengaruhi keputusan tersebut ( Fandi Tjiptono dan

  Anastasia   Diana,    2000:    161).   Menurut Wursanto      (   2003:   201)

  kepemimpinan otokrasi adalah kepemimpinan yang mendasarkan pada suatu

  kekuasaan atau kekuatan yang melekat pada dirinya. Kepemimpinan

  otokrasi dapat dilihat dari ciri-cirinya antara lain : (1) mengandalkan kepada

  kekuatan atau kekuasaan yang melekat pada dirinya, (2) Menganggap

  dirinya paling berkuasa, (3) Menganggap dirinya paling mengetahui segala

  persoalan, orang lain dianggap tidak tahu, (4) keputusan-keputusan yang

  diambil secara sepihak, tidak mengenal kompromi, sehingga ia tidak mau

  menerima saran dari bawahan, bahkan ia tidak memberi kesempatan kepada

  bawahan untuk meberikan saran, pendapat atau ide, (5) Keras dalam

  menghadapi prinsip, (6) Jauh dari bawahan, (7) lebih menyukai bawahan

  yang bersikap abs (asal bapak senang), (8) perintah-perintah diberikan

  secara paksa, (9) pengawasan dilakukan secara ketat agar perintah benar-

  benar dilaksanakan.

b. Kepemimpinan Demokrasi

         Gaya atau tipe kepemimpinan ini dikenal pula dengan istilah

  kepemimpinan     konsultatif   atau    konsensus.   Orang   yang menganut

  pendekatan ini melibatkan para karyawan yang melaksanakan keputusan



                                                                             12
 dalam proses pembuatannya, walaupun yang membuat keputusan akhir

 adalah pemimpin, setelah menerima masukan dan rekomendasi dari

 anggotan tim. ( Fandi Tjiptono dan Anastasia Diana, 2000: 161). Menurut

 Adam Ibrahim Indrawijaya (1983) "Gaya kepemimpinan demokratis pada

 umumnya berasumsi bahwa pendapat orang banyak lebih baik dari

 pendapatnya sendiri dan adanya partisipasi akan meninbulkan tanggung

 jawab bagi pelaksananya". Asumsi lain bahwa partisipasi memberikan

 kesempatan kepada para anggota untuk mengembangkan diri mereka.

c. Kepemimpinan Laisser Faire

        Kepemimpinan laissez faire (gaya kepemimpinan yang bebas) adalah

 gaya kepemimpinan yang lebih banyak menekankan pada keputusan

 kelompok. Dalam gaya ini, seorang pemimpin akan menyerahkan keputusan

 kepada keinginan kelompok, apa yang baik menurut kelompok itulah yang

 menjadi keputusan. Pelaksanaannyapun tergantung kepada kemauan

 kelompok. (Adam Ibrahim Indrawijaya, 1983: 136). Pada umumnya tipe

 laissez faire dijalankan oleh pemimpin yang tidak mempunyai keahlian

 teknis. Tipe laissez faire mempunyai ciri-ciri antara lain; (1) Memberikan

 kebebasan sepenuhnya kepada bawahan untuk melakukan tindakan yang

 dianggap perlu sesuai dengan bidang tugas masing-masing, (2) Pimpinan

 tidak ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok, (3) Semua

 pekerjaan dan tanggungjawab dilimpahkan kepada bawahan, (4) Tidak

 mampu melakukan koordinasi dan pengawasan yang baik, (5) Tidak

 mempunyai wibawa sehingga ia tidak ditakuti apalagi disegani oleh

 bawahan, (6) Secara praktis pemimpin tidak menjalankan kepemimpinan, ia



                                                                        13
  hanya merupakan simbol belaka. (Wusanto, 2003). Menurut hemat penulis

  tipe laissez faire ini bukanlah tipe pemimpin yang sebanarnya, karena ia

  tidak bisa mempengaruhi dan menggerakkan bawahan, sehingga tujuan

  organisasi tidak akan tercapai.

d. Kepemimpinan Partisipatif

          Kepemimpinan       partisipatif   juga   dikenal   dengan    istilah

  kepemimpinan terbuka, bebas atau nondirective. Pemimpin yang menganut

  pendekatan ini hanya sedikit memegang kendali dalam proses pengambilan

  keputusan. Ia hanya sedikit menyajikan informasi mengenai suatu

  permasalahan dan memberikan kesempatan kepada anggota tim untuk

  mengembagkan strategi dan pemecahannya, ia hanya mengarahkan tim

  kearah tercapainya konsensus. ( Fandi Tjiptono dan Anastasia Diana, 2000:

  162).

e. Kepemimpinan Paternalistik

          Tipe paternalistik adalah gaya kepemimpinan yang bersifat

  kebapakan. Pemimpin selalu memberikan perlindungan kepada para

  bawahan dalam batas-batas kewajaran. Ciri-ciri pemimpin penganut

  paternalistik antara lain: (1) Pemimpin bertindak sebagai seorang bapak, (2)

  Memperlakukan bawahan sebagai orang yang belum dewasa, (3) selalu

  memberikan perlindungan kepada para bawahan yang kadang-kadang

  berlebihan, (4) Keputusan ada di tangan pemimpin, bukan karena ingin

  bertindak secara otoriter, tetapi karena keinginan memberikan kemudahan

  kepada bawahan. Oleh karena itu para bawahan jarang bahkan sama sekali

  tidak memberikan saran kapada pimpinan, dan Pimpinan jarang bahkan



                                                                           14
  tidak pernah meminta saran dari bawahan, (5) Pimpinan menganggap

  dirinya yang paling mengetahui segala macam persoalan. (Wursanto, 2003:

  202).

f. Kepemimpinan Berorientasi Pada Tujuan

          Gaya kepemimpinan ini juga disebut kepemimpinan berdasarkan hasil

  atau sasaran. Penganut pendekatan ini meminta bawahan (anggota tim)

  untuk memusatkan perhatiannya pada tujuan yang ada. Hanya strategi yang

  dapat menghasilkan kontribusi nyata dan dapat diukur dalam mencapai

  tujuan organisasilah yang dibahas, faktor lainnya yang tidak berhubungan

  dengan tujuan organisasi diminimumkan. ( Fandi Tjiptono dan Anastasia

  Diana, 2000: 162).

g. Kepemimpinan Militeristik

           Kepemimpinan militeristik tidak hanya terdapat di kalangan militer

  saja, tetapi banyak juga terdapat pada instansi sipil (non-militer). Ciri-ciri

  kepemimpinan militeristik antara lain; (1) Dalam komunikasi lebih banyak

  mempergunakan saluran formal, (2) Dalam menggerakkan bawahan dengan

  sistem komando/perintah, baik secara lisan ataupun tulisan, (3) Segala

  sesuatu bersifat formal, (4) Disiplin tinggi, kadang-kadang bersifat kaku, (5)

  Komunikasi berlangsung satu arah, bawahan tidak diberikan kesempatan

  untuk memberikan pendapat, (6) Pimpinan menghendaki bawahan patuh

  terhadap semua perintah yang diberikannya. (Wursanto, 2003 ).

h. Kepemimpinan Sitasional

           Gaya kepemimpinan ini dikenal juga sebagai kepemimpinan tidak

  tetap (fluid) atau kontingensi. Asumsi yang digunakan dalam gaya ini



                                                                             15
    adalah bahwa tidak ada satu pun gaya kepemimpinan yang tepat bagi setiap

    manajer dalam segala kondisi. Oleh karena itu gaya kepemimpinan

    situasional akan menerapkan suatu gaya tertentu berdasarkan pertimbangan

    atas faktor-faktor seperti pemimpin, pengikut, dan situasi ( dalam arti

    struktur tugas, peta kekuasaan, dan dinamika kelompok ). ( Fandi dan

    Anastasia, 2000: 162-163 ).



D. Kepemimpinan Dalam Perspektif Islam

         Dalam Islam istilah kepemimpinan dikenal dengan kata Imamah,

  sedangkan kata yang terkait dengan kepemimpinan dan berkonotasi pemimpin

  dalam Islam ada tujuh macam, yaitu Khalifah, Malik, Wali, 'Amir dan Ra'in,

  Sultan, Rais, dan Ulil 'amri, (Abdurrahman, 2002) . Menurut Quraish Shihab

  (2000: 47), imam dan khalifah dua istilah yang digunakan Al-Qur'an untuk

  menunjuk pemimpin. Kata imam diambil dari kata amma-ya'ummu, yang

  berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Kata khalifah berakar dari kata

  khalafa yang pada mulanya berarti "di belakang". Kata khalifah sering

  diartikan "pengganti" karena yang menggatikan selalu berada di belakang, atau

  datang sesudah yang digantikannya. Selanjutnya ia menyatakan bahwa Al-

  Qur'an menggunakan kedua istilah ini untuk menggambarkan ciri seorang

  pemimpin, ketika di depan menjadi panutan, dan ketika di belakang

  mendorong, sekaligus mengikuti kehendak dan arah yang dituju oleh yang

  dipimpinnya.


          Begitu banyak konsep-konsep kepemimpinan yang diajukan oleh para

   pakar, mulai dari konsep kepemimpinan yang berbasis ilmu pengetahuan


                                                                            16
yang bersifat teoritis, konsep kepemimpinan yang berbasis kemiliteran yang

bersifat praktis, konsep kepemimpinan yang berbasis agama, maupun konsep

kepemimpinan dengan berbagai pendekatan lainnya. Namun realitas

menunjukkan bahwa masih begitu banyak masalah yang timbul terkait

dengan kepemimpinan.


  Kedudukan sebagai pemimpin merupakan ikatan perjanjian antara seorang

  pemimpin dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Kedudukan seseorang sebagai

  pemimpin merupakan ikatan perjanjian antara seorang manusia dengan

  Tuhannya, sebagaimana tersurat pada perjanjian Allah Subhana wa Ta’ala

  dengan Ibrahim alaihi salam, "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang

  dholim". (QS. 2:124). Oleh karena itu bila seorang pemimpin berbuat

  dholim kepada pengikutnya, niscaya kedudukannya sebagai pemimpin

  akan mendatangkan kenistaan, penyesalan dan penderitaan di hari

  kemudian, saat dia diminta pertanggung jawaban oleh Allah Azza wa Jalla

  (QS. 38:26). Saat itu seluruh pengikutnya, akan memberikan kesaksian di

  depan Allah Ta’ala tentang kedholiman yang telah dilakukannya. Naudzu

  billahi min dzalik.


2. Kedudukan sebagai pemimpin merupakan kepercayaan dari Allah ‘Azza

  wa Jalla kepada manusia untuk menyebarkan rahmat untuk seluruh alam.

  Meskipun para Malaikat; karena keterbatasannya sebagai mahluk;

  meragukan kemampuan manusia dalam menyebarkan rahmat untuk

  seluruh alam, akan tetapi Allah yang Maha Tahu tetap memberikan

  kepercayaan kepada manusia dengan mengangkatnya sebagai khalifah di



                                                                       17
       muka bumi.     Selain itu hal ini sekaligus pula menunjukkan betapa

       besarnya rahmat dan kasih sayang yang diberikan Allah ‘Azza wa Jalla

       kepada    manusia,    meskipun   manusia       sudah    diperkirakan   akan

       menimbulkan kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi (QS.

       2:30).   Jelaslah alangkah rendahnya seorang manusia yang diberikan

       kepercayaan sebagai pemimpin, lalu dia berbuat sewenang-wenang,

       menebarkan penderitaan pada pengikutnya.           Karena hal ini berarti

       manusia tersebut telah menghianati Allah Azza wa Jalla yang telah

       memberikan kepercayaan serta melimpahkan rahmat dan kasih sayang

       kepada dirinya. Naudzu billahi min dzalik.


3.   Kedudukan sebagai pemimpin merupakan kewajiban seorang pemimpin

     untuk mengajak dan mengantar pengikutnya menuju gerbang kebahagiaan.

     Kedudukan     sebagai   pemimpin    pada       dasarnya   bukan    merupakan

     keistimewaan, bukan pula fasilitas, dan bukan pula kekuasaan untuk

     bertindak. Melainkan merupakan pengorbanan, tanggung jawab dan

     kesediaan untuk melayani pengikutnya. Seorang pemimpin harus memiliki

     tanggung jawab serta keberanian untuk mengorbankan diri dalam melayani

     pengikutnya sehingga mampu mengajak pengikutnya ke jalan yang benar

     serta mampu mengantar mereka menuju gerbang kebahagiaan           (QS. 38:22)


4.   Kedudukan sebagai pemimpin menuntut seseorang untuk memegang teguh

     kebenaran (al-haq). Seseorang yang berpegang teguh kepada kebenaran, dia

     senantiasa akan menegakkan peraturan yang berlaku sehingga mampu

     mengambil keputusan yang akurat serta dilandasi prinsip keadilan, dan akan



                                                                                18
     terhindar dari keputusan-keputusan yang didasari oleh hawa nafsu, bersifat

     emosional serta didasari oleh kepentingan diri semata (QS. 38:26).


     Berdasar penjelasan singkat diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam diri

setiap pemimpin harus tertanam norma dasar sebagai berikut :


    1. Pangkat dan jabatan akan dan harus dipertanggung jawabkan kepada

       Tuhan.

    2. Pangkat dan jabatan merupakan kepercayaan dan kasih sayang dari

       Tuhan.

    3. Pemimpin     memiliki   kewajiban    untuk   mengajak    dan   mengantar

       pengikutnya menuju gerbang kebahagiaan

    4. Pemimpin harus memegang teguh dan menegakkan kebenaran.


     Dengan demikian, insyaa Allah setiap pemimpin dapat diharapkan mampu

menjalankan peran sebagai imam dan khalifah bagi keluarga, satuan dan

masyarakat luas.


E. Kepemimpinan Yang Melayani


Merenungkan kembali arti makna kepemimpinan, sering diartikan kepemimpinan

adalah jabatan formal, yang menuntut untuk mendapat fasilitas dan pelayanan dari

konstituen yang seharusnya dilayani. Meskipun banyak di antara pemimpin yang

ketika dilantik mengatakan bahwa jabatan adalah sebuah amanah, namun dalam

kenyataannya sedikit sekali atau bisa dikatakan hampir tidak ada pemimpin yang




                                                                             19
sungguh – sungguh menerapkan kepemimpinan dari hati, yaitu kepemimpinan

yang melayani.


1. Karakter Kepemimpinan


    Hati Yang Melayani


      Kepemimpianan      yang    melayani    dimulai   dari    dalam   diri   kita.

    Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan

    karakter. Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam dan kemudian

    bergerak keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah

    pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi

    pemimpin yang diterima oleh rakyat yang dipimpinnya. Kembali kita

    saksikan betapa banyak pemimpin yang mengaku wakil rakyat ataupun

    pejabat publik, justru tidak memiliki integritas sama sekali, karena apa yang

    diucapkan dan dijanjikan ketika kampanye dalam pemilu tidak sama dengan

    yang dilakukan ketika sudah duduk nyaman di kursinya.


      Paling tidak menurut Ken Blanchard dan kawan – kawan, ada sejumlah

    ciri –ciri dan nilai yang muncul dari seorang pemimpin yang memiliki hati

    yang melayani,yaitu tujuan utama seorang pemimpin adalah melayani

    kepentingan mereka yang dipimpinnya. Orientasinya adalah bukan untuk

    kepentingan diri pribadi maupun golongan tapi justru kepentingan publik

    yang dipimpinnya.


      Seorang    pemimpin     memiliki   kerinduan     untuk   membangun      dan

    mengembangkan mereka yang dipimpinnya sehingga tumbuh banyak


                                                                                20
pemimpin dalam kelomponya. Hal ini sejalan dengan buku yang ditulis oleh

John Maxwell berjudul Developing the Leaders Around You. Keberhasilan

seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun

orang – orang di sekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat

tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut. Jika

sebuah organisasi atau masyarakat mempunyai banyak anggota dengan

kualitas pemimpin, organisasi atau bangsa tersebut akan berkembang dan

menjadi kuat.


  Pemimpin yang melayani memiliki kasih dan perhatian kepada mereka

yang dipimpinnya. Kasih itu mewujud dalam bentuk kepedulian akan

kebutuhan, kepentingan, impian da harapan dari mereka yang dipimpinnya.


  Seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani adalah akuntabilitas

( accountable ). Istilah akuntabilitas adalah berarti penuh tanggung jawab dan

dapat diandalkan. Artinya seluruh perkataan,pikiran dan tindakannya dapat

dipertanggungjawabkan     kepada    public   atau   kepada   setiap   anggota

organisasinya.


  Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau

mendengar setiap kebutuhan, impian, dan harapan dari mereka yang

dipimpin. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang dapat

mengendalikam ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan public

atau mereka      yang dipimpinnya. Mengendalikan ego berarti            dapat

mengendalikan diri ketika tekanan maupun tantangan yang dihadapi menjadi




                                                                           21
   begitu berat,selalu dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri, dan tidak

   mudah emosi.


2. Metode Kepemimpinan


   Kepala Yang Melayani


             Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter

   semata, tapi juga harus memiliki serangkaian metode kepemimpinan agar

   dapat menjadi pemimpin yang efektif. Banyak sekali pemimpin memiliki

   kualitas sari aspek yang pertama yaitu karakter dan integritas seorang

   pemimpin, tetapi ketika menjadi pimpinan formal, justru tidak efektif sama

   sekali karena tidak memiliki metode kepemimpinan yang baik. Contoh adalah

   para pemimpin yang diperlukan untuk mengelola mereka yang dipimpinnya.


             Tidak banyak pemimpin yang memiliki metode kepemimpinan ini.

   Karena hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah – sekolah formal.

   Keterampilan seperti ini disebut dengan Softskill atau Personalskill. Dalam

   salah satu artikel di economist.com ada sebuah ulasan berjudul Can

   Leadership Be Taught, dibahas bahwa kepemimpinan (dalam hal ini metode

   kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga melengkapi mereka yang memiliki

   karakter kepemimpinan. Ada 3 hal penting dalam metode kepemimpinan,

   yaitu :


    Kepemimpinan yang efektif dimulai dengan visi yang jelas. Visi ini

        merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan perubahan,

        yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas yang dahsyat


                                                                            22
   melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang – orang

   yang ada dalam organisasi tersebut. Bahkan dikatakan bahwa nothing

   motivates change more powerfully than a clear vision. Visi yang jelas

   dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi.

   Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner yaitu

   memiliki visi yang jelas kemana organisasinya akan menuju.

   Kepemimpinan secara sederhana adalah proses untuk membawa orang –

   orang atau organisasi yang dipimpin menuju suatu tujuan yang jelas.

   Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama sekali. Visi inilah

   yang mendorong sebuah organisasi untuk senantiasa tumbuh dan belajar

   serta berkembang dalam mempertahankan survivalnya sehingga bias

   bertahan sampai beberapa generasi. Ada 2 aspek mengenai visi, yaitu

   visionary role dan implementation role. Artinya seorang pemimpin tidak

   hanya dapat membangun atau menciptakan visi bagi organisasinya tapi

   memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi tsb ke dalam

   suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan untuk mencapai

   visi itu.


Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang responsive.

   Artinya dia selalu tanggap terhadap setiap persoalan, kebutuhan,

   harapan, dan impian dari mereka yang dipimpin. Selain itu selalu aktif

   dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan ataupun

   tantangan yang dihadapi.




                                                                      23
     Seorang pemimpin         yang efektif adalah seorang pelatih atau

        pendamping bagi orang – orang yang dipimpinnya (performance coach).

        Artinya dia memiliki kemempuan untuk menginspirasi, mendorong dan

        memampukan anak buahnya dalam menyusun perencanaan (termasuk

        rencana kegiatan, target atau sasaran, rencana kebutuhan sumber daya,

        dsb), melakukan kegiatan sehari – hari seperti monitoring dan

        pengendalian, serta mengevaluasi kinerja dari anak buahnya.


3. Perilaku Kepemimpinan


    Tangan Yang Melayani


      Pemimpin yang melayani bukan sekedar memperlihatkan karakter dan

    integritas, serta memiliki kemampuan metode kepemimpinan, tapi dia harus

    menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang pemimpin. Dalam buku

    Ken Blanchard disebutka perilaku seorang pemimpin, yaitu :


     Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpin, tapi

        sungguh – sungguh memiliki kerinduan senantiasa untuk memuaskan

        Tuhan. Artinya dia hidup dalam perilaku yang sejalan dengan firman

        Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam

        setiap apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuatnya.


     Pemimpin focus pada hal – hal spiritual dibandingkan dengan sekedar

        kesuksesan duniawi. Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk

        dapat memberi dan beramal lebih banyak. Apapun yang dilakukan bukan

        untuk mendapat penghargaan, tapi melayani sesamanya. Dan dia lebih


                                                                          24
        mengutamakan hubungan atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan,

        dibandingkan dengan status dan kekuasaan semata.


    Pemimpin sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai

        aspek , baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dsb. Setiap

        harinya senantiasa menyelaraskan (recalibrating ) dirinya terhadap

        komitmen untuk melayani Tuhan dan sesame. Melalui solitude

        (keheningan), prayer (doa), dan scripture (membaca Firman Tuhan ).


             Demikian kepemimpinan yang melayani menurut Ken Blanchard

    yang sangat relevan dengan situasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh

    bangsa Indonesia. Bahkan menurut Danah Zohar, penulis buku Spiritual

    Intelligence: SQ the Ultimate Intelligence, salah satu tolak ukur kecerdasan

    spiritual adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Bahkan

    dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate

    Luderman, menunjukkan pemimpin – pemimpin yang berhasil membawa

    perusahaannya ke puncak kesuksesan biasanya adalah pemimpin yang

    memiliki SQ yang tinggi. Mereka biasanya adalah orang –orang yang

    memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu

    memahami spiritualitas yang tinggi, dan selalu mengupayakan yang terbaik

    bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.


F. Kepemimpinan sejati


      Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari

proses perubahan karakter atau tranformasi internal dalam diri seseorang.



                                                                             25
Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari

proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan

visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan

membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya

mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya

mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir

menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang

diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam

diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the

inside out ).


        Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau jabatan

seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan

buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya

sendiri, bagi keluarga, bagi lingkungan pekerjaan, maupun bagi lingkungan sosial

dan bahkan bagi negerinya. ” I don’t think you have to be waering stars on your

shoulders or a title to be leadar. Anybody who want to raise his hand can be a

leader any time”,dikatakan dengan lugas oleh General Ronal Fogleman,Jenderal

Angkatan Udara Amerika Serikat yang artinya Saya tidak berpikir anda

menggunakan bintang di bahu anda atau sebuah gelar pemimpin. Orang lainnya

yang ingin mengangkat tangan dapat menjadi pemimpin di lain waktu.


        Sering kali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh

mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka

seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya



                                                                             26
sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager),

motivator, inspirator, dam maximizer.


       Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak

bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan

penghormatan dan pujian (honor & praise) dari mereka yang dipimpinnya.

Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang

pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan

pada kerendahan hati (humble).


       Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita

peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika

Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis menjadi negara yang

demokratis dan merdeka.Selama penderitaan 27 tahun penjara pemerintah

Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam diri Beliau. Sehingga Beliau

menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah

membuatnya menderita selam bertahun – tahun.


       Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard,

bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka

yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala – galanya bagi seorang

pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa

kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi

kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan

pernah menjadi pemimpin sejati.




                                                                            27
       Sebuah jenis kepemimpinan yaitu Q Leader memiliki 4 makna terkait

dengan kepemimpinan sejati, yaitu :


Q berarti kecerdasan atau intelligence. Seperti dalam IQ berarti kecerdasan

   intelektual,EQ berarti kecerdasan emosional, dan SQ berarti kecerdasan

   spiritual. Q leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan

   IQ,EQ,SQ yang cukup tinggi.


Q leader berarti kepemimpinan yang memiliki kualitas(quality), baik dari

   aspek visioner maupun aspek manajerial.


Q leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi ( dibaca ‘chi’ dalam

   bahasa Mandarin yang berarti kehidupan).


Q keempat adalah qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah

   seseorang yang sungguh – sungguh mengenali dirinya (qolbunya) dan dapat

   mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management).


       Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang

selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q

(intelligence-quality-qi-qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan

tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang

pemimpin.


       Rangkuman kepemimpinan Q dalam 3 aspek penting yang disingkat

menajadi 3C, yaitu :


Perubahan karakter dari dalam diri (character chage).


                                                                              28
Visi yang jelas (clear vision).

Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence).


Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa

bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan

kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis, pengatahuan,dll) maupun dalam

hubungannya dengan orang lain (pengembangan kemampuan interpersonal dan

metode kepemimpinan). Seperti yang dikatakan oleh John Maxwell, ” The only

way that I can keep leading is to keep growing. The the day I stop growing,

somebody else takes the leadership baton. That is way it always it.” Satu-satunya

cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh.

Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan

tsb.


G. Perbedaan antara Kepemimpinan dan Manajemen

              Daft (2005) mendefinisikan manajemen sebagai pencapaian tujuan

       organisasi dengan cara yang efektif dan efisien melalui perencanaan,

       organisasi, staffing, pengarahan (directing), dan pengontrolan sumber-sumber

       organisasi.

              Lebih lanjut Daft (2005) menjelaskan bahwa baik kepemimpinan

       maupun manajemen sama-sama mengarahakan organisasi, tapi betapapun ada

       perbedaannya. Manajemen lebih berfokus pada membuat perencanaan yang

       detail, jadwal yang tepat untuk mencapai hasil tertentu, kemudian

       mengalokasikan sumber daya yang ada di organisasi untuk melaksanakan

       rencana. Sedangkan kepemimpinan lebih pada penciptaan visi yang memikat



                                                                                 29
 di masa depan, dan menciptakan strategi jangka panjang untuk mengadakan

 perubahan yang dibutuhkan untuk mencapai visi tersebut. Jadi bisa dikatakan

 bahwa manajemen bekerja pada dari atas ke bawah, dan hasil jangka pendek

 sedangkan    kepemimpinan      mengarahkan         dirinya    untuk   mengawasi

 terlaksananya cita-cita jangka panjang.

        Kotter (dalam Morehead dan Griffin, 1998) menyebutkan perbedaan

 antara manajemen dan kepemimpinan adalah sebagai berikut:




      Aktifitas
                               Manajemen                      Kepemimpinan




Penciptaan Agenda        Merencanakan dan              Membangun arah.

                         Membuat anggaran:             Mengembangkan visi

                         meliputi kegiatan tahap       masa depan, mendorong

                         demi tahap untuk              perubahan-perubahan

                         mencapai hasil                yang perlu diadakan

                                                       untuk tercapainya visi

                                                       tersebut.

Pengembangan             Mengorganisasi dan            Aligning people.

Network         dengan mengatur staff                  Mengkomunikasikan

individu lain untuk (Staffing).                        arahan dengan kata-kata

mencapai                 Mengembangkan                 maupun perbuatan,

tujuan/agenda            struktur mengatur staff,      mempengaruhi orang



                                                                                30
                             delegasi tugas, membuat        untuk menciptakan

                             perencanaan dll.               perubahan, membuat

                                                            mereka menerima visi

                                                            dan mau bekerja bersama.

  Pelaksanaan Rencana Mengontrol                       dan Memotivasi dan

                             memecahkan                     Menginspirasi.

                             persoalan.                     Membuat individu

                             Memonitor       hasil,    bila berkobar untuk mengatasi

                             ada               kesalahan berbagai masalah.

                             mencarinya, dan mencari

                             pemecahan masalah.



  Hasil                      Menghasilkan        sesuatu Menghasilkan           sebuah

                             yagn    biasanya         sudah perubahan,        kadang-

                             dapat    ditebak,        yang kadang      dramatis,   dan

                             diharapkan         berbagai menghasilkan          sesuatu

                             stakeholders.                  yagn sangat produktif dan

                                                            berguna.




H. Pendekatan-Pendekatan Mengenai Kepemimpinan

  a.      Pendekatan Sifat

             Pendekatan ini percaya pada adanya karakteristik individu yang

   sifatnya khas, berbeda dibandingkan individu lain, yang merupakan



                                                                                   31
karakteristik seorang pemimpin. Salah satu yang terkenal adalah pendekatan

”The Great Man”.

       Collon dalam buku yang diedit oleh Timpe (2002) menyebutkan

adanya beberapa ciri sifat yang diidentifikasikan sebagai sifat yang dimiliki

oleh pemimpin yang berhasil yaitu:

    Kelancaran berbicara. Dalam hal ini lebih luas darapida sekedar

       memiliki perbendaharaan kata yang luas namun termasuk di dalamnya

       kemampuan untuk memikat dan mempengaruhi orang lain untuk

       mendengarkan apa yang dikatakannya.

    Kemampuan untuk memecahkan persoalan. Termasuk di dalamnya

       adalah bagaimana pemimpin juga dapat menempatkan ide-ide yang

       segar bagi penyelesaian masalah dalam kelompoknya. Termasuk

       bahkan di dalamnya kapan bertindak dan kapan tidak perlu bertindak

       apa-apa.

    Kesadaran akan kebutuhan. Seorang pemimpin yang efektif adalah

       mereka yang sensitif dengan kebutuhan kelompok yang dipimpinnya.

       Memiliki visi bagaimana cara untuk pemenuhannya.

    Keluwesan. Pemimpin yang baik mampu menyesuaikan diri dalam

       berbagai situasi, bahkan membawa kelompoknya untuk menghadapi

       perubahan. Pemimpin yang efektif tidak akan takut dengan perubahan.

    Kecerdasan. Kecerdasan di sini bukan diartikan sebagai kejeniusan.

       Tetapi anggota kelompok perlu merasakan bahwa pemimpin mereka

       memiliki kemampuan untuk membantu mereka mengatasi persoalan,

       dan memiliki kemampuan yang lebih demi kemajuan kelompok.



                                                                          32
      Kesediaan menerima tanggung jawab. Pemimpin yang baik bersedia

        memikul hal yang harus dikerjakannya dengan baik.

      Ketrampilan sosial. Pemimpin yang efektif memiliki kemampuan

        diplomasi sehingga kelompoknya mendapatkan penghargaan dari

        orang sekitarnya.



b.   Pendekatan Perilaku

        Menurut pendekatan ini, pemimpin yang baik tidak dilihat dari sifat

 apa yang dimiliki, tetapi bahwa siapa yang dapat mengembangkan perilaku

 yang tepatlah yang akan menjadi pemimpin yang baik. Sehingga riset-riset

 yang dikembangkan bukan mempelajari bagaimana karakteristik seorang

 pemimpin tetapi apa yang dilakukan pemimpin dalam situasi-situasi yang ada

 yang membuatnya menjadi pemimpin yang baik.

        Dalam pendekatan ini dikenal istilah: Pemimpin yang autokratik yaitu

 pemimpin yang cenderung mensentralkan otoritas dan mendapatkan

 kekuasaan karena posisinya, karena kemampuannya memberikan hadiah dan

 hukuman, serta pemimpin yang demokratis: yaitu pemimpin yang

 mendelegasikan otoritas kepada orang lain, mendorong adanya partisipasi,

 mengandalkan pengetahuan bawahan untuk penyelesaian tugas, dan

 memanfaatkan perasaan respek dari bawahannya dalam memberikan

 pengaruhnya.

        Tannenbaum dan Schmidt (dalam Daft, 2005) menyarankan

 penggunaan autokratik maupun demokratik harus disesuaikan dengan kondisi

 organisasi. Misalnya dalam kondisi waktu yang genting dan anggota



                                                                         33
 organisasi harus belajar lama untuk mengambil keputusan, maka gaya

 autokratik akan cenderung lebih efektif dibandingkan gaya demokratik.

 Sementara bila anggota organisasi sudah memiliki kesiapan untuk dapat

 mengambil     keputusan   sendiri   maka    gaya   demokratis    akan   bisa

 dikembangkan. Bila jarak ketrampilan antara anggota organsisasi dengan

 pemimpin terlalu jauh, biasanya pemimpin akan mengembangkan gaya

 autokratik.



c.   Pendekatan Contingency

        Pendekatan ini menekankan kefektifan perilaku seorang pemimpin

 dalam suatu situasi mungkin tidak akan efektif apabila diterapkan dalam

 situasi yang lain. Dalam hal ini contingency diartikan sebagai: tergantung.

 Jadi seseorang akan menjadi pemimpin efektif itu tergantung dari banyak hal.



        Menurut Fiedler Contingency Model, ada dua macam gaya

 kepemimpinan. Yang pertama: pemimpin yang berorientasi hubungan, yaitu

 pemimpin yang memperhatikan hubungan dengan sesama, ia sangat sensitif

 dengan perasaan orang lain dan berusaha menjaga hubungan baik. Yang

 kedua, adalah pemimpin yang berorientasi tugas, yaitu menekankan

 pentingnya terselesaikannya tugas daripada perhatiannya pada individu/orang.

        Fiedler menemukan bahwa keefektifan gaya kepemimpinan seorang

 pemimpin akan tergantung dari bagaimana kondisi situasi-situasi yang ada,

 yaitu: hubungan antara pemimpin-bawahan (bila ada kepercayaan antara

 pemimpin-bawahan, rasa hormat, kepercayaan terhadap pemimpin maka



                                                                           34
dikatakan hubungannya bagus), Tingkat Terstrukturnya tugas, (tugas yang

terstruktur adalah yang memiliki prosedur yang spesifik, jelas, tujuan juga

jelas, cenderung rutin, terdefinisi dengan jelas), Posisi Kekuasaan Pemimpin

(sejauhmana pemimpin memiliki kekuasan formal terhadap bawahan. Disebut

tinggi bila pemimpin memiliki kekuasaan untuk merencanakan, mengarahkan

pekerjaan bawahan, mengevaluasinya dan memiliki kewenangan untuk

memberikan hadiah dan hukuman).




                                                                         35
                                    BAB III


                                   PENUTUP


A. Kesimpulan


       Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang

tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan

suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya

memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan

yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya,

atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh

terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.


       Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin

bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya.

Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk

memperbaiki orang lain.


       Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar

melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang.

Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).


B. Saran


Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa

kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak untuk

memimpin diri sendiri.


                                                                              36
      Jika saja Indonesia memiliki pemimpin yang sangat tangguh tentu akan

menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin.

Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa

memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh

karena itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang

memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin.




                                                                         37
                             DAFTAR PUSTAKA



   Daft, R.L. 2005. The Leadership Experience. Ohio: Thomson – South

    Western.

   Moorhead, G. & Griffin, R.W. 1998. Organizational Behavior. New York:

    Houghton Mifflin Company.

   Indrajaya, Adam Ibrahim. (1983). Perilaku Organisasi, Sinar Baru, Bandung.

   Muhammad, Hasyim, (2002). Dialog antara Tasawuf dan Psikologi,

    Yogyakarta: Walisongo Press dan Pustaka Pelajar.

   Mubarok, Achmad, (2003). Sunnatullah dalam Jiwa Manusia, Jakarta: IIIT

    Indonesia

   Moedjiono, Imam. (2002). Kepemimpinan dan Keorganisasian, Yogyakarta:

    UII Press.

   Rahmat, Jalaluddin, (1997). Renungan-Renungan Sufistik, Bandung: Mizan.

   Riawan Amin, A, (2004). The Celestial Management, Jakarta: Senayan

    Abadai Publishing.

   Riyono, B. & Zulaifah, E. 2001. PSikologi Kepemimpinan, Yogyakarta: UGM

    Press.

   Robbins, S.P. 1998. Perilaku Organisasi. Jakarta: Prehallindo.

   Timpe, A.D. 1991. Seri Manajemen Sumber Daya Manusia. Kepemimpinan.

    Jakarta: Elex Computindo.




                                                                              38

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:151
posted:2/25/2012
language:
pages:39