Docstoc

1991 03 14 ARAB SAUDI BERSEDIA TURUNKAN PRODUKSI MINYAK

Document Sample
1991 03 14 ARAB SAUDI BERSEDIA TURUNKAN PRODUKSI MINYAK Powered By Docstoc
					PUSAT INFORMASI KOMPAS
Palmerah Selatan 26 - 28 Jakarta, 10270
Telp. 5347710, 5347720, 5347730, 5302200
Fax. 5347743
=============================================

KOMPAS Kamis, 14-03-1991. Halaman: 1



        ARAB SAUDI BERSEDIA TURUNKAN PRODUKSI MINYAK
           * OPEC Sepakati 22,3 Juta Barrel
Geneva, Kompas
   Negara-negara pengekspor minyak (OPEC) akhirnya sepakat untuk
menurunkan produksi menjadi sekitar 22,3 juta barrel per hari untuk
kuartal kedua tahun 1991 ini. Penurunan itu sekitar 5 persen dari
pagu produksi aktual seluruh anggota OPEC dewasa ini yang
diperkirakan mencapai 23,4 juta barrel per hari.
   Sekjen OPEC Prof Subroto mengungkapkan, keputusan itu didasarkan
pada pertimbangan keadaan pasar minyak sekarang ini dan perkembangan
yang akan terjadi pada kuartal kedua tahun 1991 ini. Di antaranya
menyangkut harga minyak di pasar dunia, tingkat produksi minyak
dunia, perkiraan permintaan dan peluang yang dapat dimanfaatkan
minyak OPEC. Jumlah produksi yang ditetapkan untuk kuartal kedua itu
lebih rendah dari hasil kesepakatan pada bulan Juli 1990 sebesar
22,5 juta barrel per hari.
   "Dalam kuartal kedua mendatang ini, permintaan minyak dunia
diperkirakan antara 51-52 juta barrel per hari dari antaranya
permintaan untuk minyak OPEC sekitar 21,4 juta barrel per hari.
Namun karena adanya perawatan-perawatan sumur secara rutin di Laut
Utara serta penurunan ekspor minyak Soviet, sidang menteri
menetapkan pagu produksi itu selama kuartal kedua, yang nantinya
akan ditinjau lagi pada pertemuan OPEC bulan Juni mendatang,"
tuturnya seperti dilaporkan wartawan Kompas, Markus Duan Allo dari
Geneva, Swiss semalam.
   Presiden Soeharto di Istana Merdeka kemarin menyambut gembira
kesepakatan tersebut dan mengharapkan, mudah-mudahan dengan
kesepakatan itu harga minyak dapat tercipta pada tingkat yang
sewajranya dan stabil.
   Menurut Mensesneg Moerdiono kepada pers, Kepala Negara selalu
mengikuti dengan saksama perkembangan pertemuan-pertemuan OPEC.
Demikian pula halnya dengan pertemuan di Geneva ini. Menteri
Pertemabangan dan Energi Ginandjar Kartasasmita yang menghadiri
pertemuan, selalu membuat laporan ke Jakarta.
   "Bagaimanapun harga minyak bumi memiliki pengaruh penting bagi
perekonomian kita, sehingga adanya kesepakatan antara negara-negara
OPEC kita sambut dengan perasaan lega," kata Moerdiono.
Cukup Alot
   Kesepakatan penurunan produksi itu berhasil dicapai setelah
para menteri melewati lobi-lobi bilateral yang cukup alot, apalagi
Arab Saudi, negara pengekspor terbesar dalam OPEC, semula menyatakan
sikap tidak ingin menurunkan produksinya. Baru kemudian, setelah
Menteri Perminyakan Saudi Hisham Nazer membuka diri lagi untuk
dialog, pembicaraan mulai berlangsung dengan lebih ramah dan
terbuka, meskipun Arab Saudi tetap memberikan pembatasan.
   "Di depan para menteri lainnya, Hisham Nazer sempat
berkomunikasi dengan Raja Fadh di Ryadh," tutur Menteri Pertambangan
dan Energi Ginandjar Kartasasmita melukiskan situasi sulit yang
dihadapi OPEC, ketika terjadi dead lock dan sidang tampaknya akan
menemui jalan buntu. Dan akhirnya demi keutuhan OPEC, Arab Saudi
memperlunak sikapnya dan rela menurunkan produksi asal saja tidak
terlalu besar seperti yang diinginkan sejumlah negara OPEC.
   Arab Saudi mengemukakan setelah perang Teluk berakhir,
negaranya membutuhkan banyak dana dari penjualan minyak, di samping
harus memberikan minyak secara cuma-cuma setiap hari pada beberapa
negara termasuk Kuwait sebesar 2,5 juta barrel per hari. Dan
meskipun Perang Teluk telah berakhir, di kawasan itu belum tercapai
kestabilan karena yang tercapai baru gencatan senjata.
   Dari itu Saudi menentang usulan dari sejumlah negara, di
antaranya Iran dan Aljazair, untuk menurunkan produksi sekitar 2 juta
barrel per hari dari keseluruhan produksi sekarang ini 8,4 juta
barrel per hari. Dengan kesepakatan baru OPEC, yang menetapkan
penurunan sekitar 5 persen untuk setiap negara anggota, Arab saudi
diperkirakan hanya perlu menurunkan sekitar 500.000 barrel per hari.
Bersifat sementara
   Namun begitu, Menteri Ginandjar mengatakan kesepakatan ini
tetap bersifat sementara. OPEC tetap berpegang pada komitmen pada
bulan Juli 1990 lalu dan akan kembali ke kuota masing-masing, setelah
krisis Teluk berakhir dan dua negara anggota Irak dan Kuwait telah
pulih kembali produksinya. Di dalam kesepakatan sementara ini telah
dipertimbangkan pula kemampuan produksi Irak dan Kuwait sekarang
ini, yang diperkirakan tidak akan dapat segera pulih dalam waktu
dekat.
   Di dalam kuota Juli 1990, Irak dan Kuwait masing-masing
mendapatkan kuota sebesar 3,140 juta barrel per hari dan 1,5 juta
barrel per hari. Setelah krisis Teluk pecah produksi kedua negara
itu terhenti, sehingga kekosongan itu diisi negara-negara anggota
OPEC lainnya, terutama Arab Saudi.
   "Dengan kesepakatan sementara ini, OPEC berharap dapat
membalikkan arus penurunan harga minyak itu secara perlahan menuju
sasaran harga OPEC 21 dollar AS per barrel seperti yang ditetapkan
dalam kesepakatan bulan Juli 1990," tambah Ginandjar.
   Dikatakan, harga minyak pasti akan membaik lagi, asal saja
semua negara anggota benar-benar mentaati kesepakatan ini. Dan karena
fluktuasi harga minyak tidak hanya mencakup negara-negara produsen
anggota OPEC, diimbau pula agar negara-negara produsen lain yang
bukan anggota OPEC, seperti Norwegia dan Meksiko, juga menurunkan
produksinya sekitar 5 persen.
    Sementara itu dua negara anggota OPEC, Aljazair dan Iran, masih
menyatakan keberatan terhadap pagu produksi baru OPEC itu, karena
mereka menginginkan pemotongan lebih banyak untuk mendorong harga
minyak secepatnya mencapai 21 dollar AS per barrel. Bagi mereka hal
itu sangat penting, karena Aljazair misalnya dalam tahun anggarannya
menetapkan harga 21 dollar AS per barrel sebagai perhitungan.
   Harga minyak di pasaran juga memberikan reaksi berbeda-beda
terhadap kesepakatan sementara OPEC. Di AS, harga patokan West Texas
Intermediate penyerahan April naik menjadi 19,88 dollar AS per
barel, sementara di London minyak Brent untuk penyerahan yang sama
malah turun jadi l8,25 dolar AS per barel dari 18,50 dollar AS per
barrel hari sebelumnya.
   Tetapi analis minyak dunia tetap ragu kenaikan itu bisa
bertahan lama. "Saya melihat harga minyak hanya berkisar 15-18
dollar AS per barrel," kata analis minyak dari Wina, Bahman
Karbassioun. Dikatakan, penurunan produksi OPEC masih tidak cukup
untuk mengurangi banjir suplai minyak dunia yang diperburuk
penurunan permintaan dari utara menghadapi musim semi.
Manfaat bagi RI
   Menjawab pertanyaan mengenai pengaruh kesepakatan OPEC
terhadap RI, Menteri Ginanjar menyatakan kepuasannya, karena dengan
usaha ini setidaknya harga minyak dapat dipertahankan antara 18-20
dollar AS per barrel dalam beberapa bulan yang akan datang ini. RI
sangat brkepentingan terhadap perbaikan harga minyak, karena RAPBN
1991/1992 yang akan datang didasarkan pada perhitungan harga minyak
19 dollar AS per barrel.
   Harga minyak Indonesia di pasaran Jepang sejauh ini sebenarnya
masih jauh lebih tinggi dari harga rata-rata minyak OPEC, yang untuk
bulan Februari mencapai mencapai 17,55 dollar AS per barrel. Namun
dengan perkembangan terakhir harga minyak di pasaran internasional
selama beberapa hari terakhir, harga rata-rata minyak Indonesia yang
dalam bulan Februari mencapai 21,78 dollar AS per barrel,
diperkirakan akan sedikit lebih rendah.
   Dan sejalan dengan kesepakatan OPEC, Indonesia juga akan
menurunkan produksi minyaknya sampai sekitar 1,4 juta barrel per
hari (dari 1,5 juta barrel per hari) terhitung mulai efektif pada 1
April yang akan datang ini. Jumlah tersebut di luar kondensat yang
dewasa ini diproduksi RI antara 160.000-180.000 barrel per hari.
   Dikatakan, untuk tahun anggaran 1990/1991 RI tidak menghadapi
masalah, karena harga minyak Indonesia rata-rata lebih tinggi dari
harga yang ditetapkan untuk perhitungan APBN sebesar 16,50 dollar AS
per barrel. Sampai dengan akhir tahun anggaran ini, diperkirakan
harga rata-rata minyak Indonesia itu di atas 20 dollar AS per
barrel.(Rtr/mon)
Foto: 1
Rtr/Ant
GINANDJAR DI GENEVA - Menteri Pertambangan Ginandjar Kartasasmit
a
memberikan keterangan kepada para wartawan sebelum babak kedua sidang

OPEC di Geneva (Swiss) hari Selasa (12/2). Para menteri negara-negara
OPEC saaat itu sedang mempelajari usulan Iran untuk mengurangi
produksi minyak OPEC.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:2/24/2012
language:
pages:4