12 tugas kekerasan yulianto1 by n883cFg

VIEWS: 31 PAGES: 9

									                         KEKERASAN


               Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas
                Mata Kuliah Strategi Pembelajaran Inovativ
Pada Program Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan Profesi
                       Angkatan II Tahun 2008-2009




                               Disusun Oleh:
                          HARI BUDIYANTO




                         PENDIDIKAN PROFESI
           FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
            UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
   Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Telp. 0271-717417, 719483
                       Fax. 715448 Surakarta 57102
                            KEKERASAN

A. PENDAHULUAN
   1. Latar Belakang
              Telah tertanam di dalam benak kebanyakan orang, bahwa Indonesia
      adalah negeri aman sentosa, penduduknya ramah-ramah, suka damai dan
      tidak suka kekerasan.
              Itu yang aku ingat ketika kecil dulu, memang benar rasanya demikian
      saat itu. Tetapi dengan bertambahnya umur, dengan bertambahnya wawasan
      dan juga mungkin karena kebebasan informasi semakin mudah, maka
      pemahaman seperti itu mulai luntur. Sekarang koq rasanya sering terdengar,
      atau terbaca bahwa banyak kejadian kekerasan, tidak hanya di Jakarta tetapi
      juga di kota-kota lain, semakin merata saja dimana-mana.
               Jika itu dilakukan oleh masyarakat kecil, yang mungkin tidak
      berkependidikan maka itu mungkin dapatlah dimaklumi. Tetapi jika
      dilakukan oleh para leader atau pimpinan maka tidaklah patut dicontoh. Jika
      sebelumnya masalah kekerasan sering dikaitkan dengan permasalahan agama,
      politik atau kesukuan maka sekarang ternyata merambah ke bidang olahraga,
      bidang yang dianggap menjujung tinggi sportivitas.
               Saat ini televisi bukanlah barang mewah yang sulit diperoleh.
      Statusnya kini tak lagi dianggap sebagai kebutuhan tertier, melainkan
      menjadi kebutuhan sekunder. Dan tidak menutup kemungkinan pada sebagian
      kalangan televisi dianggap sebagai kebutuhan yang harus terpenuhi. Televisi
      memudahkan mayarakat untuk mendapatkan informasi terkini, hiburan
      ataupun pengetahuan. Hal ini menyebabkan banyak stasiun televisi
      bermunculan dan berlomba menawarkan tayangan-tayangan yang menarik
      dan menghibur masyarakat. Pada akhirnya sikap stasiun televisi tersebut
      adalah untuk memperoleh keuntungan bagi mereka.
               Tuntutan agar memeperoleh keuntungan menjadikan stasiun televisi
      berusaha keras untuk menampilkan tayangan-tayangan yang diharapkan akan
      memperoleh rating yang tinggi. Sayangnya hal ini menjadikan stasiun televisi
      terkadang lupa dan mengabaikan nilai-nilai yang terkandung dalam tayangan-
      tayangan mereka. Sebagai media informasi dan bahkan sebagai media yang
      memiliki andil dalam penanaman nilai-nilai moral, televisi seharusnya dapat
      memberikan sesuatu yang bersifat membangun dan mendidik ke arah positif.
      Bukan menayangkan acara-acara yang tidak mendidik atau malah
      membentuk perilaku yang merusak, misalnya tayangan kekerasan,
      pornografi, kriminalitas ataupun tayangan-tayangan yang berbau mistis yang
      membuat mental penontonnya menjadi mental penakut dan dapat dipastikan
      bahwa tayangan-tayangan tersebut tidak menanamkan nilai-nilai luhur pada
      masyarakat.
               Disadari atau tidak, tayangan televisi memberikan andil terhadap
      pembentukan budaya di masyarakat, mencakup budaya yang konstruktif
      maupun yang destruktif. Sebuah penelitian mengemukakan bahwa tayangan
      kekerasan di televisi memiliki dua efek yang berbeda, yaitu imitasi dan
      dorongan. Imitasi mengarah pada upaya meniru secara langsung obyek yang




                                                                                2
      diobservasi. Sedangkan investigasi adalah peningkatan suatu perilaku setelah
      menyaksikan tayangan televisi.
   2. Rumusan Masalah
             Rumusan masalah daslam makalah ini, sebagai berikut:
      1. Apakah yang dimaksud dengan kekerasan?
      2. Apa sajakah macam-macam kekerasan?
      3. Mengapa terjadi kekerasan?
      4. Bagaimanakah cara mengatasi kekerasan?

   3. Tujuan Penulisan
       1. Mengetahui pengertian kekerasan.
       2. Mengetahui macam-macam kekerasan.
       3. Menegatahui penyebab terjadinya kekerasan.
       4. Menegatahui cara mengatasi kekerasan.


B. PEMBAHASAN
   1. Pengertian Kekerasan
               Kekerasan merujuk pada tindakan agresi dan pelanggaran
      (penyiksaan, pemerkosaan, pemukulan, dll.) yang menyebabkan atau
      dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain, dan
      - hingga batas tertentu - kepada binatang dan harta-benda. Istilah "kekerasan"
      juga berkonotasi kecenderungan agresif untuk melakukan perilaku yang
      merusak.
               Kekerasan pada dasarnya tergolong ke dalam dua bentuk —kekerasan
      sembarang, yang mencakup kekerasan dalam skala kecil atau yang tidak
      terencanakan, dan kekerasan yang terkoordinir, yang dilakukan oleh
      kelompok-kelompok baik yang diberi hak maupun tidak —seperti yang
      terjadi dalam perang (yakni kekerasan antar-masyarakat) dan terorisme
      (http://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan)
               Kekerasan (violence) adalah ancaman atau penggunaan kekuatan fisik
      untuk menimbulkan kerusakan pada orang lain.
               Berkaitan dengan kekerasan, teori belajar sosial menjelaskan bahwa
      anak mempelajari perilaku baru melalui pengamatan terhadap model,
      mengimitasi dan mempraktikkanya ke dalam perilaku nyata
      (ttp://siar.endonesa.net/utty/2008/10/31)
               Domestic violence atau yang lebih akrab dikenal sebagai kekerasan
      dalam rumah tangga adalah kekerasan yang terjadi di lingkungan rumah
      tangga. Biasanya dilakukan oleh suami terhadap istri maupun anak-anaknya.
      Walaupun tak jarang pula dilakukan oleh istri. Bentuknya dapat berupa
      penyiksaan fisik, seksual maupun psikologis atau penyiksaan emosi. Tekanan
      dalam hal finansial dan isolasi sosial juga dapat digolongkan sebagai
      kekerasan dalam rumah tangga (Written on Oktober 31, 2008 by Ratih Putri
      Pratiwi )

   2. Macam-masam Kekerasan dan Faktor Penyebabnya
      Macam-macam kekerasan menurut Wikipedia, antara lain:
      a. Kekerasan legislatif



                                                                                   3
b. Mutilasi
c. Kebrutalan polisi
d. Kekerasan agama
e. Kekerasan di sekolah
f. Kekerasan sektarian
g. Kekerasan oleh negara
h. Tawuran
i. Kekerasan terhadap perempuan
j. Kekerasan terhadap laki-laki
k. Kekerasan dalam olah raga
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan)
         Kekerasan yang dibahas dalam makalah ini adalah:
1) Kekerasan dan kemiskinan
2) Kekerasan di sekolah
3) Kekerasan dalam rumah tangga
4) Kekerasan dalam olah raga
5) Kekerasan terhadap anak
         Faktor Penyebab kekerasan, antara lain:
1) Kemiskinan dan kekerasan
             World Social Summit di Mumbai beberapa waktu lalu pun
    disebut-sebut meyakini adanya kaitan yang erat sekali antara kemiskinan
    dan kekerasan. Beberapa studi empiris memang telah memberikan
    indikasi bahwa ada benarnya kondisi sosial dan ekonomi yang buruk dan
    terasa tidak adil merupakan salah satu sebab dari terjadinya konflik
    kekerasan. Lantas, pertumbuhan ekonomi pun dinilai penting agar
    masyarakat mampu mengelola konflik yang muncul. Pada situasi dimana
    kesejahteraan relatif memadai dan stabil, kekerasan mungkin lebih
    minimal. Pendapat seperti ini kerap dikaitkan dengan kenyataan banyak
    negara-negara miskin, di Afrika khususnya, yang bertahun-tahun
    tenggelam dalam perang antar suku, sementara hal serupa tidak terjadi di
    negara-negara kaya.
             Kekerasan merupakan fenomena yang kompleks, dan oleh karena
    itu tidak bisa dilihat dari kacamata tunggal semata. Dengan tetap
    mengingat hal ini, kiranya menarik untuk menyimak faktor-faktor
    ekonomi apa saja yang dapat ikut menjadi penyebab terjadinya
    kekerasan. Dari beberapa ahli, beberapa faktor ekonomi yang diyakini
    erat kaitannya dengan kemiskinan adalah sebagai berikut:
             a. Pertama adalah parahnya kesenjangan antara pendapatan dan
    kesejahteraan antara yang kaya dan miskin. Dalam kenyataannya,
    memang masih banyak penduduk hidup dalam kemiskinan. Kemiskinan
    boleh jadi ada yang disebabkan oleh kemalasan. Namun, dalam konteks
    ini yang dimaksudkan adalah kemiskinan sebagai akibat perilaku jahat
    dari kelompok yang kaya. Banyak yang bekerja keras dan bertindak
    jujur, namun toh tidak juga lepas dari kemiskinan ketika di dalam
    hubungan-hubungan antar pelaku ekonomi tersebut terjadi tindak-tindak
    eksploitatif. Kekecewaan yang berlarut-larut ini bukan tidak mungkin
    akhirnya memunculkan keinginan untuk melakukan tindakan balasan
    dimana kekerasan mungkin menjadi cara yang dipilih. Namun, terdapat



                                                                           4
catatan di sini, yaitu bahwa yang memilih jalan ini pun sebetulnya hanya
sebagian kecil dari mereka yang tertindas. Ada kekhawatiran pula bahwa
bagian inilah yang mudah diagitasi dan dibentuk untuk menjadi pelaku
kekerasan dan kekacauan oleh pihak-pihak lain yang justru mungkin
datang dari kelompok yang makmur dengan menyembunyikan motivasi
atau kepentingan mereka yang sesungguhnya.
        b. Faktor lain adalah tingginya tingkat pengangguran, khususnya
di kalangan muda di daerah perkotaan. Persoalan ini amat terasa ketika
situasi ekonomi mengalami kemerosotan. Setiap tahun begitu banyak
kaum muda yang masuk ke pasar tenaga kerja. Namun oleh karena
terbatasnya lapangan kerja maka banyak yang menjadi pengangguran.
Sebagian mungkin ada yang kemudian memilih untuk masuk ke sektor
informal, menjadi pekerja mandiri kendati tetap menyimpan keinginan
untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Kaum muda yang
pendidikannya tidak cukup baik, mungkin tidak perlu berpikir lama untuk
mengambil keputusan masuk ke sektor informal. Namun, kaum muda
yang terdidik mungkin memilih untuk tetap mencoba ke sector formal. Di
sinilah mereka tersadar betapa amat kecil peluang mereka untuk bisa
mendapatkan pekerjaan. Tentu, hal ini diperparah pula dengan seringnya
nepotisme, koneksi, korupsi menjadi penentu pengalokasian pekerjaan
dan makin meningkatkan kekecewaan mereka yang telah menyelesaikan
pendidikannya, namun tidak punya koneksi atau uang untuk memperoleh
pekerjaan. Menumpuknya kekecewaan ini bisa saja kemudian berbuah
pada pilihan untuk bergabung dengan kelompok-kelompok yang ektrim
dan menggunakan kekerasan sebagai cara untuk meluapkan kekecewaan
mereka.
        c. Faktor lain yang juga dapat memperkuat pengaruh hal-hal di
atas adalah situasi lingkungan, khususnya di perkotaan, yang kacau
berikut tidak memadainya akses pelayanan-pelayanan publik yang
penting sementara kota itu sendiri terus berkembang dan bertambah
penduduknya. Dalam hal ini tentu pemerintahan yang tidak berfungsi baik
dalam melayani publik dan penuh tindak korupsi harus ditempatkan
sebagai pendorong terjadinya kekerasan oleh karena kepercayaan publik
pun menjadi amat minim terhadap pemerintah dan institusi-insitusi
lainnya sehingga tidak aneh sering terjadi praktik main hakim sendiri.
Orang kemudian lebih nyaman untuk melakukan sendiri proses
penghakiman terhadap pelaku kejahatan misalnya, ketimbang
menyerahkannya kepada institusi hukum yang ada.
        d. Faktor penyebab yang dapat ditambahkan di sini misalnya
dalam kasus konflik-konflik vertikal antara masyarakat dan
pemerintah/negara. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bahwa
kemiskinan, ketimpangan, public service dan governance yang buruk
seringkali adalah akibat dari kebijakan-kebijakan ekonomi yang
serampangan yang bias pada pertumbuhan semata yang secara bersamaan
cenderung menyepelekan mereka yang masih tertinggal dan miskin.
Lantas, maka kebijakan-kebijakan ekonomi tersebut pun sebetulnya
adalah juga bentuk dari kekerasan. Korupsi, kolusi, nepotisme tidak lain
adalah bentuk dari kekerasan ekonomi. Ketika terjadi penggusuran di



                                                                      5
   sana-sini dengan dalih pembangunan, maka di saat itulah telah terjadi
   pula kekerasan pembangunan. Tentu saja kekerasan ekonomi dan
   kekerasan pembangunan semacam ini amat bersangkut paut dengan
   kekerasan-kekerasan lainnya seperti kekerasan fisik, kekerasan hukum,
   kekerasan budaya dan sebagainya.
           Bila demikian halnya, kiranya menyesatkan jika disebutkan bahwa
   yang gemar melakukan kekerasan adalah mereka yang miskin dan kurang
   terdidik. Lagi pula, untuk melakukan kekerasan dengan dampak yang luas
   dan menakutkan, membutuhkan kemampuan baik itu kekuasaan maupun
   uang yang justru tidak dimiliki oleh mereka yang miskin dan terbelakang.
           Keputusasaan pada mereka yang miskin dan terbelakang itu
   bahkan sampai ada yang berujung pada tindak kekerasan terhadap
   dirinya sendiri, bahkan sampai mati dan bukannya membabi-buta
   mengamuk pada orang lain. Ada anak kecil yang mencoba bunuh diri
   lantaran uang sekolahnya belum dibayar sekian bulan. Sementara kasus-
   kasus bunuh diri di Gunung Kidul, seperti disimpulkan Darmaningtyas,
   penyebabnya bukanlah mitos pulung gantung melainkan kondisi
   daerahnya yang gersang, tandus dan kemiskinan yang diderita
   masyarakatnya (http://www.geocities.com/ aloysiusgb/ shortopinions/
   Kekerasan danKemiskinan.htm)

2) Kekerasan di sekolah
       Kekerasan sepertinya sudah mendarah daging pada sistem pendidikan
   di Indonesia. Seperti biasa, penerimaan siswa baru selalu diikuti oleh
   kegiatan yang dinamakan ospek (atau MOS, atau OS, atau istilah-istilah
   lainnya). Kekerasan di sekolah bisa terjadi, penyebabnya antara lain:
           a. Kekerasan seperti ini sudah terjadi secara tradisional dan turun
   temurun. Sebelum memasuki suatu sistem yang mendukung kekerasan
   kemungkinan besar para peserta bukanlah orang-orang yang mendukung
   kekerasan itu sendiri. Tetapi ketika memasuki sistem, peserta terpengaruh
   dengan nilai yang ada dalam sistem itu sendiri.
           b. Selain itu mungkin beberapa acara orientasi tidak direncanakan
   dalam bentuk kekerasan, tetapi kenyataan yang terjadi di lapangan tidak
   seperti yang direncanakan. Kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh
   psikologi orang yang berkumpul (crowd psychology). Teori contagion
   mengatakan bahwa kumpulan orang-orang secara hipnotis mempengaruhi
   anggota-anggotanya secara individu. Orang-orang tersebut menganggap
   kumpulan mereka sebagai perisai sehingga mereka meninggalkan
   tanggungjawab mereka sebagai individu masing-masing dan mengikuti
   emosi kumpulan orang secara keseluruhan. Hasilnya, kumpulan orang-
   orang tersebut seakan-akan mengajak anggota-anggotanya untuk
   menjurus kepada aksi-aksi brutal.
           c. Penyebab lainnya adalah sindrom Stockholm. Sindrom
   Stockholm adalah keadaan psikologis dimana korban yang disekap atau
   disiksa menjalin hubungan positif dengan penangkap atau penyiksanya.
   Terkadang bahkan korban membantu penyiksanya sendiri untuk mencapai
   tujuan si penyiksa. Sindrom ini dapat menerangkan mengapa korban masa
   orientasi siswa/mahasiswa dapat berbaikan dengan senior-seniornya



                                                                            6
   setelah masa penyiksaan dan bahkan melakukan hal yang sama ke junior-
   juniornya pada tahun berikutnya
   (http://priyadi.net/archives/2005/07/21/kekerasan-pada-sistem-
   pendidikan-indonesia/)

3) Kekerasan dalam rumah tangga (istri atau suami)
           Kekerasan dalam rumah tangga akhir-akhir ini sering terjadi.
   Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga itu terjadi karena banyak
   faktor, antara lain:
           a. Faktor ideologi dan culture (budaya-Red), di mana perempuan
   cenderung dipersepsi sebagai orang nomor dua dan bisa diperlakukan
   dengan cara apa saja.
           Atau, misalnya, dalam kasus kekerasan terhadap anak, selalu
   muncul pemahaman bahwa anak dianggap lebih rendah, tidak pernah
   dianggap sebagai mitra sehingga dalam kondisi apa pun anak harus
   menuruti apa pun kehendak orangtua.
           Ideologi dan kultur itu juga muncul karena transformasi
   pengetahuan yang diperoleh dari masa lalu. Zaman dulu, anak diwajibkan
   tunduk pada orangtua, tidak boleh mendebat barang sepatah kata pun.
           Kemudian, ketika ada informasi baru, misalnya dari televisi atau
   dari kampus, tentang pola budaya yang lain, misalnya yang menegaskan
   bahwa setiap orang punya hak yang sama, masyarakat kita sulit
   menerima.
           Jadi, persoalan kultur semacam itu ada di benak manusia dan
   direfleksikan dalam bentuk perilaku. Akibatnya, bisa kita lihat. Istri
   sedikit saja mendebat suami, mendapat aniaya. Anak berani tidak
   menurut, kena pukul.Gerakan feminisme sulit untuk dapat mengubah
   tatanan nilai yang sudah ada di masyarakat kita. Karena budaya lama itu
   sudah mendarah daging atau internalized di dalam diri mereka. Mungkin
   yang bisa mengubah hanya dengan pendidikan yang betul-betul
   menanamkan pengertian bahwa perempuan dan laki-laki sama derajatnya.
           Di dalam rumah tangga, yang membedakan antara perempuan dan
   laki-laki adalah persoalan fungsi. Dan fungsi masing-masing itu bisa
   ditukar, kecuali fungsi kodrati, seperti hamil dan menyusui. Tetapi, untuk
   fungsi mengasuh anak, misalnya, bisa dipertukarkan sehingga istri
   seharusnya bisa mendebat sesuatu kalau, misalnya, suami bersikap tidak
   proporsional
   (http://www.topix.com/forum/world/indonesia/TFQO3CNSK94DKICB2)
           b. Faktor yang lain adalah tidak berjalannya komunikasi secara
   efektif sehingga yang muncul adalah stereotyping (stigma-Red) dan
   prejudice (prasangka-Red). Dua hal itu kemudian mengalami proses
   akumulasi yang kadang dibumbui intervensi pihak ketiga. Bisa saja
   intervensi itu dari significant others.
            Significant others itu tidak selalu orangtua atau keluarga sendiri,
   tetapi bisa juga tetangga. Tergantung sejauh mana dia punya keterikatan
   kepada orang itu, dan itu tergantung dari banyak sedikitnya interaksi di
   antara mereka.




                                                                              7
               c. Faktor ekonomi, kalau ada masalah ekonomi dan tidak ada
      kesepakatan, lantas tidak ada komunikasi yang dapat melahirkan jalan
      keluar, bisa saja terjadi kekerasan di dalam rumah tangga.
               Kuncinya memang pada komunikasi. Kalau tidak ada komunikasi,
      lahir stereotyping dan prejudice yang besar di antara kedua pihak, lebih
      besar daripada keyakinan untuk menyelesaikan masalah itu sendiri.
      http://kompas.com/kesehatan/news/0407/12/103203.htm


   4) Kekerasan dalam olah raga
           Kekerasan dalam olah raga dapat terjadi, misalnya antar penonton,
   penonton dengan pemain, pemain dengan wasit, penonton dengan wasit,
   penonton dengan aparat, dsb, faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam
   olah raga, antara lain disebabkan oleh:
   a. Kecurangan pemain
   b. Kecurangan wasit
   c. Ketidakpuasan penonton menyaksikan kekalahan team yang didukungnya
   d. Tidak menjunbjung tinggi sportivitas dalam olah raga (siap menang atau
       kalah dalam setiap pertandingan).

   5). Kekerasan terhadap anak
           a). Komisi Nasional Perlindungan Anak menilai faktor ekonomi
   sebagai pemicu utama maraknya kekerasan terhadap anak. Kemiskinan
   menyumbang stres terhadap orang tua yang kemudian melampiaskan ke
   anak. Faktor kemiskinan, tekanan hidup yang semakin meningkat, kemarahan
   terhadap pasangan dan ketidakberdayaan dalam mengatasi masalah ekonomi
   menyebabkan orang tua mudah meluapkan emosi kepada anak.
           b) Kebijakan pembiaran yang dilakukan negara terhadap pelanggaran
   hak anak. Kejadian seperti busung lapar, polio, demam berdarah, anak
   terlantar, anak putus sekolah sampai pada kenaikan BBM merupakan
   sebagian daftar panjang kebijakan negara yang semakin mempersulit
   kehidupan masyarakat menengah bawah.
           Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak selama tahun 2005
   diketemukan 736 kasus kekerasan terhadap anak yang terbagi atas 327 kasus
   perlakuan salah secara seksual, 233 kasus perlakuan salah secara fisik, 176
   kasus kekerasan psikis dan 130 kasus penelantaran anak. Banyaknya kasus
   tersebut sangat memprihatinkan, apalagi tahun 2006 telah dicanangkan
   sebagai Tahun Hentikan Kekerasan terhadap Anak.

3. Usaha Mengatasi Kekerasan
          a. Kekerasan dan kemiskinan, munculnya kekerasan akibat
   kemiskinan dapat diatasi dengan pemberian kesejahteraan hidup yang lebih
   baik dan pemberdayaan masyarakat agar tidak menggantungkan diri terhadap
   orang lain, jaminan kesejahteraan sosial, asuransi kesehatan, biaya
   pendidikan yang murah, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, dsb.
          b. Kekerasan di sekolah, antara lain diatasi dengan cara pihak
   pengajar yang bertanggung jawab atas keberadaan siswa/mahasiswa di
   sekolah/kampus tentunya bertanggung jawab untuk menghentikan kegiatan-



                                                                             8
       kegiatan yang tidak bertanggung jawab tersebut. Pihak orang tua
       siswa/mahasiswa juga bertanggung jawab untuk melarang anak-anaknya
       mengikuti acara-acara yang tidak jelas maksud dan tujuannya. Tetapi yang
       terpenting adalah sikap dari anak didik itu sendiri yang harus dapat menolak
       kegiatan-kegiatan semacam itu, mereka bukanlah pihak yang sepenuhnya
       tidak berdaya. Sekali mengikuti acara kekerasan semacam itu, psikologi dan
       idealisme mereka akan berubah arah.
               c. Kekerasan dalam rumah tangga dapat diatasi dengan adanya saling
       pengertian diantara pasangan suami istri, saling percaya, keterbukaan, saling
       membantu, saling memafkan, saling menghargai, saling mencintai, kesetaraan
       gender, pembagian tugas yang jelas antara suami dan istri, terpenuhinya
       kebutuhan hidup, dll.
               d. Kekerasan dalam olah raga dapat diatasi dengan adanya kesadaran
       pihak terkait (pemain, penonton dan wasit) agar mampu menjaga sportivitas
       dalam olah raga, siap kalah dan siap menang.
               e. Kekerasan terhadap anak
       Komisi Nasional Perlindungan Anak mendesak pemerintah untuk benar-
       benar melaksanakan kewajibannya dalam menghentikan kekerasan,
       penelantaran, diskriminasi dan eksploitasi terhadap anak. Komnas juga
       mendesak pemerintah untuk memberi alokasi anggaran khusus untuk anak-
       anak korban kekerasan. Anak Indonesia harus memperoleh jaminan untuk
       memperoleh aksesbilitas layanan kesehatan, pendidikan, kelangsungan hidup,
       tumbuh kembang serta hak partisipasi baik secara fisik maupun psikis.

C. PENUTUP
       Kesimpulan
               Kekerasan pada umumnya muncul akibat adanya, ketidakpuasan
   terhadap pemegang kebijakan, sportivitas, kesenjangan ekonomi dan sosial,
   psikologi massa, tayangan media massa, ketidaksetaraan gender, kultur/budaya,
   politik dan agama.
               Kekerasan dapat dihindari apabila terjadi rasa saling cinta kasih
   terhadap sesama manusia, cinta damai dan menghargai orang lain sebagai
   makhluk Tuhanh Yang Maha Esa. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita
   semua. Amin.

D. DAFTAR PUSTAKA

http://www.geocities.com/ aloysiusgb/ shortopinions/ Kekerasan
danKemiskinan.htm)
http://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan
http://kompas.com/kesehatan/news/0407/12/103203.htm
http://priyadi.net/archives/2005/07/21/kekerasan-pada-sistem-pendidikan-indonesia/)
ttp://siar.endonesa.net/utty/2008/10/31
http://www.topix.com/forum/world/indonesia/TFQO3CNSK94DKICB2




                                                                                   9

								
To top