hubungan pengetahuan perawat tentang perawatan pasien dengan pencegahan nosokomial

Document Sample
hubungan pengetahuan perawat tentang perawatan pasien dengan pencegahan nosokomial Powered By Docstoc
					NAMA                     :       SARAH OKRENIDIAH

KELAS                    :       IVB

MATA KULIAH              :       PENULISAN ILMIAH



JUDUL                    :       HUBUNGAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG

                                 PERAWATAN PASIEN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN

                                 INFEKSI NASOKOMIAL DI IRNA BEDAH RUMAHA SAKIT

                                 KK



                                          BAB I

                                       PENDAHULUAN

1.1     Latar belakang

                Kualitas pelayanan kesehatan merupakan indikator yang menunjukkan
        baik atau tidaknya pelayanan yang ada dirumah sakit. Kualitas pelayanan ini
        melibatkan berbagai komponen yang ada di rumah sakit seperti : dokter,
        perawat, bidan, ahli gizi, dan tenaga keshatan lainnya. Selain komponen-
        komponen itu rumah sakit juga harus memenuhi standar pelayan minimal (SPM)
        program pemerintah dan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 270/
        Menkes/ 2007 tentang pedoman manajerial dan pengendalian infeksi di rumah
        sakit dan fasilitas kesehatan .


                Kualitas pelayanan rumah sakit ditentukan oleh banyak indikator salah
        satunya jumlah kejadian infeksi nasokomial yang ada dirumah sakit tersebut.
        Infeksi nasokomial merupakan infeksi yang terjadi ketika pasien dirawat di
        rumah sakit. Jadi ketika tingkat kejadian infeksi nasokomial dirumah sakit rendah
        atau bahkan nihil maka kualitas pelayanannya baik. Sebaliknya jika terdapat
        infeksi nasokomial tinggi maka hal tersebut menunjukkan kualitas pelayanan
        yang tidak sesuai dengan standar pelayanan kesehatan.
        Kasus infeksi nosokomial (infeksi yang terjadi ketika pasien dirawat di
rumah sakit) banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di
negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit
infeksi masih menjadi penyebab utama. Suatu penelitian yang yang dilakukan
oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara
yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap
menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10,0%.
Di Indonesia, data akurat tentang angka kejadian infeksi nosokomial di rumah
sakit belum ada. Namun berdasarkan penelitian deskriftif oleh Suwarni A. di
rumah sakit di Yogyakarta tahun 1999 menunjukkan bahwa proporsi kejadian
infeksi nosokomial berkisar antara 0,0% hingga 12,06%, dengan rata-rata
keseluruhan 4,26%. Untuk rerata lama perawatan berkisar antara 4,3 – 11,2 hari,
dengan rata-rata keseluruhan 6,7 hari. Ini menunjukkan bahwa tingkat infeksi
nasokomial di rumah sakit tinggi khususnya di Indonesia.


        Berbagai faktor mempengaruhi tingginya infeksi nasokomial yang terjadi
di rumah sakit yaitu : faktor diri pasien sendiri, faktor perawat/ petugas
kesehatan lainnya, faktor pasien yang dirawat bersamaan, faktor keluarga
pasien yang berkunjung, faktor peralatan yang dipakai di ruang perawatan/
poliklinik, faktor makanan dan faktor lingkungan. Faktor peralatan merupakan
faktor yang memberikan resiko tertinggi diantara faktor lainnya, hal ini
dikarenakan peralatan medis yang sering digunakan diruang perawatan atau
poliklinik tidak memenuhi persyaratan aseptik yang adekuat khusunya di
bangsal-bangsal rumah sakit. Namun bukan berarti faktor lain hanya beresiko
kecil, misalnya faktor petugas keshatan/ perawat memiliki peran yang penting
dalam mengurangi tingginya resiko infeksi tersebut.


        Terjadinya infeksi nasokomial dirumah sakit menyebabkan masalah baru
di bidang kesehatan. Hal ini dikarenakan oleh citra rumah sakit yang seharusnya
sebagai tempat pengobatan penyakit ternyata beresiko terinfeksinya berbagai
penyakit. Infeksi nasokomial memicu timbulnya penyakit-penyakit antara lain:
Tuberkulosis, gasteroenteritis, infeksi pembuluh darah, tetanus, dan dipteri.
        Infeksi nasokomial dapat di kendalikan dengan meningkatkan kualitas
pelayanan yang didukung oleh komponen-komponen yang ada di rumah sakit.
Kualitas pelayanan yang sesuai standar akan mengurangi resiko tingginya infeksi
nasokomial. Sedangkan pencegahan yang dapat dilakukan oleh petugas
kesehatan/ perawat adalah membatasi transmisi organisme dari atau antar
pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan, tindakan
septik dan aseptik, sterilisasi dan disinfektan, mengontrol resiko penularan dari
lingkungan, melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat,
nutrisi yang cukup, dan vaksinasi, membatasi resiko infeksi endogen dengan
meminimalkan prosedur invasif, pengawasan infeksi, identifikasi penyakit dan
mengontrol penyebarannya.


        Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh pemahaman perawat terhadap keselamatan pasien dari infeksi
nasokomial dirumah sakit. Salah satu diantaranya adalah penelitian yang
dilakukan oleh Agus Marwoto B., dkk di Irna RSUP dr. Sardjito. Hasil
penelitiannya didapat berdasarkan hasil analisis hubungan antara faktor
pemahaman perawat dalam pengendalian infeksi nasokomial yang menunjukkan
adanya korelasi meskipun hanya lemah/rendah yaitu R = 0,223 namun nilai
signifikansinya cukup bermakna yaitu P = 0,045 yang berarti dapat dinyatakan
bahwa ada hubungan yang bermakna antara pelatihan/pemahaman perawat
dengan kinerja SDM dalam pengendalian infeksi nasokomial, walaupun
kontribusi angka yang disumbangkan hanya rendah, namun pihak manajemen
tidak bisa memandang sebelah mata bahkan harus tanggap dan menggali
permasalahan lebih dalam lagi. Mengingat hasil diatas bahwa SDM yang telah
diberikan pelatihan infeksi nasokomial dan dianggap memahami tentang Infeksi
nasokomial ternyata kinerjanya lebih baik dari pada karyawan yang tidak/belum
pernah diberikan pelatihan Infeksi nasokomial. Melihat jumlah karyawan
perawat Irna I RSUP Dr Sardjito Yogyakarta yang dijadikan responden sejumlah
81 hanya ada 8 orang yang telah pernah diberikan pelatihan Infeksi nasokomial.
Dari angka yang sedikit tersebut ternyata memberikan makna yang cukup
berarti. Peneliti punya asumsi apabila seluruh perawat diberikan pelatihan
Infeksi nasokomial tentunya besar kemungkinannya kinerja perawat dalam
pengendalian Infeksi nsokomial akan menjadi sangat bagus dan tentunya angka
kejadian Infeksi nasokomial lebih rendah. Dan hal ini akan menaikkan citra
pelayanan RS dikarenakan mutu standar pelayanan salah satunya indikatornya
adalah tinggi rendahnya angka Infeksi nasokomial, semakin rendah angka Infeksi
nasokomial semakin efektif dan efisien pelayanan, hari rawat inap semakin
pendek, tentunya biaya juga dapat ditekan. (Agus Marwoto B., dkk : 2007)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:305
posted:2/22/2012
language:
pages:4