Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Psikologi perkembangan Dewasa Tengah-Akhir

VIEWS: 1,172 PAGES: 4

									Fase Dewasa tengah
Fase dewasa tengah (25-40 tahun) ditandai sikap mantap memilih teman hidup dan
membangun keluarga. Dewasa tengah menggunakan energy sesuai kemampuannya untuk
menyesuaikan konsep diri dan citra tubuh terhadap realita fisiologis dan perubahan pada
penampilan fisik. Harga diri yang tinggi, citra tubuh yang bagus dan sikap posiif terhadap
perubahn fisiologis muncul jika orang dewasa mengikuti latihan fisik diet yang seimbang,
tidur yang adekuat dan melakukan hygiene yang baik.

a. Teori-teori tentang masa dewasa tengah

1) Teori Erikson
Menurut teori perkembangan Erikson, tugas perkembangan yang utama pada usia baya
adalah mencapai generatifitas (Erikson, 1982). Generatifitas adalah keinginan untuk merawat
dan membimbing orang lain. Dewasa tengah dapat mencapai generatifitas dengan anak-
anaknya melalui bimbingan dalam interaksi sosial dengan generasi berikutnya. Jika dewasa
tengah gagal mencapai generatifitas akan terjadi stagnasi. Hal ini ditunjukkan dengan
perhatian yang berlebihan pada dirinya atau perilaku merusak anak-anaknya dan masyarakat.

2) Teori Havighurst
Teori perkembangan Havighurst telah diringkas dalam tujuh perkembangan untuk orang
dewasa tengah (Havighurst, 1972). Tugas perkembangan tersebut meliputi:
a) Pencapaian tanggung jawab social orang dewasa
b) Menetapkan dan mempertahankan standar kehidupan
c) Membantu anak-anak remaja tanggung jawab dan bahagia
d) Mengembangkan aktivitas luang
e) Berhubungan dengan pasangannya sebagai individu
f) Menerima dan menyesuaikan perubahan fisiologis pada usia pertengahan
g) Menyesuaikan diri dengan orang tua yang telah lansia.

b. Tahap-tahap perkembangan

1) Perkembangan fisiologis
Perubahan ini umumnya terjadi antara usia 40-65 tahun. Perubahan yang paling terlihat
adalah rambut beruban, kulit mulai mengerut dan pinggang membesar. Kebotakan biasanya
terjadi selama masa usia pertengahan, tetapi juga dapat terjadi pada pria dewasa awal.
Penurunan ketajaman penglihatan dan pendengaran sering terlihat pada periode ini.

2) Perkembangan kognitif
Perubahan kognitif pada masa dewasa tengah jarang terjadi kecuali karena sakit atau trauma.
Dewasa tengah dapat mempelajari keterampilan dan informasi baru. Beberapa dewasa tengah
mengikuti program pendidikan dan kejuruan untuk mempersiapkan diri memasuki pasar kerja
atau perubahan pekerjaan.

3) Perkembangan psikosial
Perubahan psikososial pada masa dewasa tengah dapat meliputi kejadian yang diharapkan,
perpindahan anak dari rumah, atau peristiwa perpisahan dalam pernikahan atau kematian
teman. Perubahan ini mungkin mengakibatkan stress yang dapat mempengaruhi seluruh
tingkat kesehatan dewasa.
Perkembangan dewasa akhir
Akibat perubahan Fisik yang semakin menua maka perubahan ini akan sangat berpengaruh
terhadap peran dan hubungan dirinya dengan lingkunganya. Dengan semakin lanjut usia
seseorang secara berangsur-angsur ia mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya karena
berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial para
lansia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitasnya sehingga hal ini secara perlahan
mengakibatkan terjadinya kehilangan dalam berbagai hal yaitu: kehilangan peran ditengah
masyarakat, hambatan kontak fisik dan berkurangnya komitmen.
Menurut Erikson, perkembangan psikososial masa dewasa akhir ditandai dengan tiga gejala
penting, yaitu keintiman, generatif, dan integritas.
1. Perkembangan Keintiman
Keintiman dapat diartikan sebagai suatu kemampuan memperhatikan orang lain dan membagi
pengalaman dengan mereka. Orang-orang yang tidak dapat menjalin hubungan intim dengan
orang lainakan terisolasi. Menurut Erikson, pembentukan hubungan intim ini merupakan
tantangan utama yang dihadapi oleh orang yang memasuki masa dewasa akhir.
2. Perkembangan Generatif
Generativitas adalah tahap perkembangan psikososial ketujuh yang dialami individu selama
masa pertengahan masa dewasa. Ketika seseorang mendekati usia dewasa akhir, pandangan
mereka mengenai jarak kehidupan cenderung berubah. Mereka tidak lagi memandang
kehidupan dalam pengertian waktu masa anak-anak, seperti cara anak muda memandang
kehidupan, tetapi mereka mulai memikirkan mengenai tahun yang tersisa untuk hidup. Pada
masa ini, banyak orang yang membangun kembali kehidupan mereka dalam pengertian
prioritas, menentukan apa yang penting untuk dilakukan dalam waktu yang masih tersisa.
3. Perkembangan Integritas
Integritas merupakan tahap perkembangan psikososial Erikson yang terakhir. Integritas
paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan yang dicapai seseorang setelah memelihara
benda-benda, orang-orang, produk-produk dan ide-ide, serta setelah berhasil melakukan
penyesuaian diri dengan bebrbagai keberhasilan dan kegagalan dalam kehidupannya. Lawan
dari integritas adalah keputusan tertentu dalam menghadapi perubahan-perubahan siklus
kehidupan individu, terhadap kondisi-kondisi sosial dan historis, ditambah dengan kefanaan
hidup menjelang kematian.
Tahap integritas ini ini dimulai kira-kira usia sekitar 65 tahun, dimana orang-orang yang
tengah berada pada usia itu sering disebut sebagai usia tua atau orang usia lanjut. Usia ini
banyak menimbulkan masalah baru dalam kehidupan seseorang. Meskipun masih banyak
waktu luang yang dapat dinikmati, namun karena penurunan fisik atau penyakit yang
melemahkan telah membatasi kegiatan dan membuat orang tidak menrasa berdaya.
Terdapat beberapa tekanan yang membuat orang usia tua ini menarik diri dari keterlibatan
sosial: (1) ketika masa pensiun tiba dan lingkungan berubah, orang mungkin lepas dari peran
dan aktifitas selama ini; (2) penyakit dan menurunnya kemampuan fisik dan mental,
membuat ia terlalu memikirkan diri sendiri secara berlebihan; (3) orang-orang yang lebih
muda disekitarnya cenderung menjauh darinya; dan (4) pada saat kematian semakin
mendekat, orang ingin seperti ingin membuang semua hal yang bagi dirinya tidak bermanfaat
lagi.
       Schaie & Willis (1991) menyatakan bahwa tidaklah mudah untuk mendefiniskan bahwa
seseorang sudah menjadi dewasa, karena tidak ada kondisi yang sama persis yang dapat
diterapkan pada semua orang. Hurlock (1990) mendefinisikan dewasa adalah individu yang
telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat
bersama orang dewasa lainnya.
       Vaillant (dalam Papalia, dkk, 1998) membagi fase dewasa menjadi tiga, yaitu masa
pembentukan, masa konsolidasi dan masa transisi. Masa pembentukan dimulai pada usia 20
sampai 30 tahun dengan tugas perkembangan mulai memisahkan diri dari orang tua,
membentuk keluarga dengan pernikahan, dan mengmbangkan persahabatan. Masa
konsolidasi, usia 30 sampai 40 tahun merupakan masa konsolidasi karier dan memperkuat
ikatan perkawinan, sedangkan masa transisi sekitar usia 40 tahun merupakan masa
meninggalkan kesibukan pekerjaan dan melakukan evaluasi terhadap hal yang telah
diperoleh.
 1. Kehidupan keluarga
       Menurut teori perkembangan yang dikemukakan oleh Papalia, Old, dan Feldman
(1998) masa usia menikah adalah usia dewasa awal yaitu antara 20 hingga 40 tahun. Hal ini
dapat diartikan sebagaimana fungsi perkembangan dewasa awal untuk memasuki dunia
pernikahan dan dan membina bahtera rumah tangga. Hal ini sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Huvigurst (dalam Hurlock, 1990) yang menyatakan bahwa tugas
perkembangan yang menjadi karakteristik masa dewasa awal adalah mulai memilih pasangan
hidup dan mulai bekerja.
       Pernikahan merupakan ikatan yang terbentuk antara pria dan wanita yang di dalamnya
terdapat unsur keintiman, pertemanan, persahabatan, kasih sayang, pemenuhan hasrat
seksual, dan menjadi lebih matang. Pernikahan juga merupakan awal dari terbentuknya
keluarga dengan penyatuan dua individu yang berlainan jenis serta lahirnya anak-anak
(Papalia & Old, 1998).
       Vaillant (dalam Papalia, dkk, 1998) mengatakan bahwa masa dewasa awal ini
merupakan masa adaptasi dengan kehidupan, sekitar usia 20-30 individu dewasa awal mulai
membangun apa yang ada pada dirinya, mencapai kemandirian, menikah, mempunyai anak
dan membangun persahabatan yang erat.
 2. Kehidupan pekerjaan dan karier
       Salah satu tugas perkembangan seseorang yang telah memasuki masa dewasa awal
adalah memasuki dunia kerja dan karier. Dalam proses perjalanan dalam fase ini, seseorang
ditunutut untuk dapat menentukan jenjang karier yang tepat bagi dirinya. Seorang individu
dalam menjalani hidupnya ditengah fase ini diharapkan sudah memiliki pekerjaan yang layak
dan menjamin.
       Ketika orang dewasa sudah memasuki dunia kerja, biasanya orang dewasa cenderung
merasa tertekan oleh tuntutan pekerjaan yang mereka jalani. Mereka biasanya kurang setia
atau memiliki loyalitas terhadap perusahaan yang rendah dan cenderung mencari pekerjaan
lain yang dianggap lebih memuaskan dan lebih dapat menjamin atas kelangsungan hidupnya.
       Terdapat beberapa aspek-aspek kerja yang harus diperhatikan pada seseorang yang
telah memasuki fase dewasa, diantaranya adalah usia, peran jenis kelamin, perilaku dan
performance, dan bagaimana kecenderungan pekerjaan dalam keluarga.
       Dalam memasuki dunia kerja, seseorang yang memasuki fase usia dewasa awal harus
malakukan tahap-tahap penyesuaian pekerjaan, antara lain:
  Pilihan pekerjaan
     Individu dapat memilih bidang pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat, kompetensi
     dan faktor-faktor psikologis lainnya supaya ketika bekerja kesehatan mental dan fisiknya
     dapat dikelola.
 Stabilitas pilihan pekerjaan
     Dalam memilih pekerjaan, individu harus melakukannya dengan mantap dan berpindah-
     pindah kerja masih dapat dilakukan di usia awal dewasa dini.
  Penyesuaian diri dengan pekerjaan
Proses menyesuaikan diri dengan jenis pekerjaan yang telah dipilih meliputi sifat dan jenis
pekerjaan, melakukan adaptasi dengan teman sejawat/kerja, pimpinan, lingkungan kerja dan
aturan-aturan dalam dunia kerjanya
      Di dalam aktivitas kerjanya, orang dewasa awal cenderung jarang untuk masuk kerja
karena alasan kesehatan daripada pekerja yang lebih tua. Mereka memiliki kemampuan
aritmatika dan kemampuan lainnya yang lebih baik daripada pekerja yang lebih tua.
 3. Dampak usia, seks, dan faktor keluarga terhadap perkembangan karier dan kepuasan kerja
      Dampak usia terhadap perkembangan karier adalah individu yang memasuki fase
dewasa awal di dalam aktivitas kerjanya, orang dewasa awal cenderung jarang untuk masuk
kerja karena alasan kesehatan daripada pekerja yang lebih tua. Mereka memiliki kemampuan
aritmatika dan kemampuan lainnya yang lebih baik daripada pekerja yang lebih tua. Mereka
cenderung gesit dan cekatan dalam bekerja sehingga mampu mencapai tahap pekerjaan yang
mapan atau telah mencapai puncak karier, akan tetapi mereka kurang bijaksana dalam
bekerja.
      Kepuasan pada suatu pekerjaan memiliki kaitan yang erat dengan proses kehidupan,
indikasi-indikasi kepentingan ini berkaitan dengan aspek kesetiaan (loyalitas) dan kesehatan.
Ketika orang yang bekerja mengalmi ketidakpuasan dengan hasil pekerjaannya, keadaan ini
seringkali dipengaruhi oleh sejenis stressor yang kuat. Adapun sterssor-stressor tersebut dapat
berupa:
  Masalah seksual
  Kurangnya dukungan dari keluarga
  Gaji yang kecil
  Pekerjaan yang monoton
  Bekerja dalam waktu yang terlalu lama
  Ada masalah dengan atasan
  Tidak ada pembagian yang jelas dalam pekerjaan
  Adanya target produksi, dll.

								
To top