Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

proposal BIMBINGAN PEMBELAJARAN by mianCak

VIEWS: 51 PAGES: 49

									    BIMBINGAN PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DALAM
MENGANTISIPASI KENAKALAN REMAJA DI DUSUN OROK-OROK
 DESA MUJUR KECAMATAN PRAYA TIMUR LOMBOK TENGAH



A. LATAR BELAKANG

          Pada      hakekatnya    pembangunan         Nasional   adalah

  pembangunan       manusia   Indonesia   seutuhnya    dan   masyarakat

  seluruhnya, maka generasi muda sebagai sumber potensi bangsa

  harus    dibina     dan     dikembangkan    sebaik-baiknya      untuk

  menghantarkan pemuda-pemuda Indonesia ke masa depan sebagai

  generasi yang tangguh dan mempunyai kepribadian yang baik,

  bertanggung jawab, beriman kepada Allah SWT, cinta tanah air

  dan persatuan bangsa, demokratis, memiliki keterampilan kerja

  serta memiliki pandangan-pandangan rasional yang dipadukan

  dengan keluhuran Pancasila.

          Dalam dua dasawarsa terakhir ini kenakalan remaja semakin

  semarak dan cukup memprihatinkan. Permasalahannya semakin

  meningkat, bukan saja dalam frekuensinya tetapi yang lebih

  menghawatirkan adalah juga karena variasi dan intensitasnya.

          Salah satu jenis dan variasi yang cukup memperihatinkan

  semua pihak adalah penyimpangan seksual yang dilakukan remaja

  dengan segala dampak negatifnya sehingga mengganggu taraf
                                                                 2


ketentraman dan kebahagiaan kehidupan bermasyarakat .

      Masalah    remaja   juga   ramai   dibicarakan   orang   dan

merupakan salah satu yang dipersoalkan oleh pemerintah dewasa

ini melalui berbagai macam alat komunikasi massa, baik melalui

bacaan maupun sandiwara-sandiwara di layar televisi, remaja

banyak dijadikan objek pembahasan sebagaimana yang dinyatakan

oleh Singgih.D. Gunarsa (1990:17) :

      "Akhir-akhir ini melalui berbagai alat komunikasi masa
      baik melalui bacaan maupun sandiwara-sandiwara di layer
      televise, remaja dijadikan objek pembahasan. Para ahli
      pendidikan menganggap bahwa melihat kejahatan di layar
      televisi ate bioscope adapt merangsang remaja untuk turut
      mencoba melakukan kejahatan dan kenakalan. Bahkan telah
      dianggap perlu untuk membatasi pemutaran film yang
      bernada kekejaman maupun kekerasan. Ternyata kenakalan
      remaja sampai sekarang masih saja melanda kota-kota besar
      dan tidak lupa menjangkiti pada kota-kota kecil".

      Kenakalan remaja muncul ke permukaan dengan sosok yang

lebih variatif dan memprihatinkan semua pihak. Jika kenakalan

remaja pada lampau hanya menyebabkan terjadinya senyuman bagi

mereka yang melihatnya tetapi kini mereka akan mengernyitkan

diri bahkan mengekspresikan wajah kemarahan. Kini kenakalan

remaja telah bergeser kepada tindakan kriminal yang sangat

merisaukan dan mengancam taraf keselamatan dan ketentraman

hidup masyarakat. Jika dahulu kenakalan remaja dimaksudkan
                                                                         3


untuk mendapatkan pengakuan akan “kejagoan” dan berkelahi

dengan tangan kosong, maka kini telah mulai menggunakan senjata

tajam,    potongan    besi,   parang,    celurit   bahkan   pistol   untuk

membunuh dan melenyapkan saingannya.

         Pengerusakan gedung sekolah, merampok, dan memeras di

dalam bus kota serta beberapa tindakan kejahatan lain yang tidak

dimaafkan ternyata semakin sadis dan brutal. Tindakan yang

menyimpang dan dilakukan oleh kelompok remaja dan pemuda ini

mendatangkan gangguan terhadap ketenangan dan ketertiban

masyarakat.

         Kondisi remaja sekarang ini yang condong nakal perlu

mendapat perhatian sedini mungkin oleh semua pihak yang

berkepentingan       dengan    remaja.     Salah    satu    jalan    untuk

mengantisipasi kenakalan remaja adalah dengan memberikan

pendidikan agama Islam. Pendidikan agama Islam yang dimaksud

disini agar menjadi remaja yang mempunyai kepribadian yang

baik, dan dapat mewarnai kepribadian sebagai pengendali dalam

hidupnya di kemudian hari, sejalan dengan itu Zakiah Drajat

(1987:107) mengemukakan: "Pendidikan agama hendaknya benar-

benar menjadi bagian dari kepribadian yang akan menjadi

pengendali dalam hidupnya di kemudian hari".
                                                                           4


         Sehubungan dengan ungkapan di atas, maka para Pembina

  dan pembimbing agama hendaknya berkonsentrsi dalam pendidikan

  agama Islam dalam mengantisipasi kenakalan remaja untuk

  menjadikan para remaja menjadi manusia yang mempunyai

  kepribadian yang baik, dan yang bertaqwa kepada Allah SWT serta

  berbudi luhur / berakhlak mulia.

         Bimbingan pembelajaran agama Islam yang ditanamkan

  secara dini, teratur dan kontinyu akan bisa membentuk pribadi

  remaja yang baik dan dapat membina mental remaja, seperti yang

  diharapkan. Para remaja dapat tumbuh sebagai insan yang

  bertanggung jawab atas segala tugas yang dibebankan kepadanya

  dalam kehidupan di dunia, sehingga mampu menghadapi segala

  persoalan yang semakin hari kian kompleks. Oleh karena itu,

  pembelajaran     agama      Islam   sangat   perlu      diberikan   secara

  sistematis,    universal,     dan   ajarannya   itu     sinkron     dengan

  perkembangan zaman dengan segala problematikanya.



B. RUMUSAN MASALAH

         Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti kemukakan

  rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah        pola     pengajaran      Islam      dalam     usaha
                                                                  5


     mengantisipasi kenakalan remaja di Kampung Orok-Orok Desa

     Mujur Kecamatan Praya Timur Lombok Tengah?

  2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kenakalan remaja di

     Kampung Orok-Orok Desa Mujur Kecamatan Praya Timur

     Lombok Tengah?

  3. Bagaimanakah pengaruh pengajaran agama Islam terhadap

     usaha mengantisipasi kenakalan remaja di Kampung Orok-Orok

     Desa Mujur Kecamatan Praya Timur Lombok Tengah?




C. TUJUAN PENELITIAN

            Adapun tujuan penelitian dalam penulisan skripsi ini

  adalah:

  1. Ingin mengetahui pelaksanaan bimbingan mempelajari Al-

     Qur'an dalam usaha mengantisipasi kenakalan remaja di

     Kampung Orok-Orok Desa Mujur Kecamatan Praya Timur

     Lombok Tengah.

  2. Ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan

     kenakalan     remaja   di   Kampung   Orok-Orok   Desa   Mujur

     Kecamatan Praya Timur Lombok Tengah
                                                                     6


  3. Ingin       mengetahui     pengaruh    pelaksanaan     bimbingan

     mempelajari Al-Qur'an dalam usaha mengantisipasi kenakalan

     remaja di Kampung Orok-Orok Desa Mujur Kecamatan Praya

     Timur Lombok Tengah.



D. KEGUNAAN PENELITIAN

         Dalam suatu penelitian disamping memperhatikan masalah

  dan tujuan, juga perlu diperhatikan mengenai kegunaannya, adapun

  kegunaan hasil penelitian ini dapat dilihat dari segi teoritis dan

  praktis :

  1. Segi teoritis; merupakan pengembangan ilmu pengetahuan

     yaitu pendidikan agama Islam, yang dimaksud disini adalah

     bimbingan mempelajari Al-Qur'an dalam usaha mengantisipasi

     kenakalan remaja.

  2. Segi praktis; hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi

     masyarakat khususnya para remaja agar dapat dijadikan sebagai

     acuan untuk lebih meningkatkan perhatian terhadap pendidikan

     agama Islam dalam rangka mengantisipasi ken akalan remaja.



E. LOKASI PENELITIAN

              Lokasi yang dijadikan sasaran penelitian dalam penulisan

  skripsi ini adalah     Kampung Orok-Orok Desa Mujur Kecamatan
                                                                         7


  Praya Timur Lombok Tengah.

            Adapun alasan penulis mengambil lokasi penelitian di

  Kampung Orok-Orok Desa Mujur Kecamatan Praya Timur Lombok

  Tengah ini adalah:

  1. Peneliti merupakan penduduk di              Kampung Orok-Orok Desa

       Mujur sehingga dipandang perlu untuk mengetahui pengaruh

       pelaksanaan     bimbingan       mempelajari      Al     Qur’an.dalam

       mengantisipasi kenakalan remaja.

  2. Karena     Kampung Orok-Orok Desa Mujur adalah salah satu

       daerah pariwisata yang dikunjungi setiap saat oleh touris manca

       negara yang bisa mempengaruhi akhlak remaja.



F. BATASAN ISTILAH

            Untuk menghindari terjadinya interpretasi yang keliru

  tentang istilah dalam judul, maka peneliti merasa perlu menjelaskan

  beberapa hal yang dianggap penting :

  1.   Bimbingan

       Pemberian bantuan kepada orang atau sekelompok orang dalam

       membuat       pilihan-pilihan    secara     bijaksana   dan   dalam

       mengadakan penyesuaian diri terhadap tuntunan hidup, bantuan

       ini bersifat psikis (kejiwaan), bukan pertolongan pinansial,

       medis dan lain sebagainya. Dengan adanya bantuan ini
                                                                 8


     seseorang akhirnya dapat mengatasi masalah yang dihadapinya

     sekarang dan menjadi lebih mampu untuk menghadapi masalah

     yang akan dihadapi kelak (Yusuf, 1993:1).

2.   Mempelajari Al Qur’an

     Kegiatan belajar membaca Al Qur’an, baik belajar cara

     membacanya, menulisnya, menghafalnya memahami artinya

     dan sebagainya (Depag RI, 1983:32).

3.   Mengantisipasi

     Adalah suatu tindakan atau pencegahan terjadinya sesuatu

     dalam hal ini adalah mengantisipasi terjadinya kenakalan

     remaja dengan jalan bimbingan pengajaran Al Qur’an.

4.   Kenakalan

     Perbuatan, kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan dan

     bersifat melanggar hukum anti sosial dan menyalahi norma

     agama (Sudarsono, 1990:11).

5.   Remaja

     Remaja berarti mulai dewasa, sudah sampai umur untuk kawin

     (Hoetomo, 2005:411).

     Berdasarkan arti remaja di atas maka dapat diambil pengertian

     bahwa remaja ialah mereka yang telah meninggalkan masa

     kanak-kanak untuk menjelang masa dewasa/tua yang penuh
                                                                 9


      dengan tanggung jawab baik kepada pribadi maupun kepada

      masyarakat secara umum

        Jadi berdasarkan uraian istilah-istilah yang terdapat dalam

  judul tersebut maka yang dimaksud dengan judul skripsi di atas

  adalah suatu keinginan dari peneliti untuk meneliti apakah ada

  pengaruh bimbingan mempelajari Al Qur’an dalam mengantisipasi

  kenakalan remaja di Kampung Orok-Orok Desa Mujur Kecamatan

  Praya Timur Lombok Tengah.




G. KAJIAN PUSTAKA

  1. Bimbingan Mempelajari Al Qur’an

     a. Dasar Bimbingan Mempelajari Al-Qur'an

                Dasar atau pundamen dari suatu bangunan adalah

        bagian dari bangunan yang menjadi sumber kekuatan dan

        keteguhan tetap berdirinya bangunan itu. Demikian juga

        dalam bimbingan mempelajari Al-Qur'an agar tetap tegar dan

        dapat kokoh, maka perlu dasar atau pundamen yang kuat

        sehingga akan menjamin tetap berdirinya. Yang menjadi
                                                        10


dasar bimbingan pendidikan agama Islam atau bimbingan

mempelajari Al-Qur'an adalah Firman Allah SWT dan

Sunnah Rasulullah, sesuai dengan hadits Rasulullah SAW

sebagai berikut:




Artinya : "Kutinggalkan kepadamu dua pusaka, tidaklah
          kamu sesat selama-lamanya, bila kamu masih
          berpegang kepadanya yaitu Kitabullah dan
          Sunnah Rasulullah" (HR Al-Hakim, Jalaluddin
          Bin Bakar Assayuti, 1990:190)

         Dengan dua dasar yang tersebut di atas, maka dalam

bimbingan mempelajari Al-Qur'an tidak dapat digoyahkan

oleh apapun juga, karena Al-Qur'an mencakup segala

masalah,     baik   mengenai     kemasyarakatan    maupun

peribadatan. Al-Qur'an juga merupakan dasar aturan dan

merupakan dasar pembinaan hukum Islam dalam mengatur

tata kehidupan yang sempurna, serta jalan menuju petunjuk

yang hakiki, sesuai dengan Firman Allah SWT dalam Surat

Al-Isra' ayat 9 :

                                             

                   
                                                     11


                           

                                 

                        

                       

                     

                            

                                                

Artinya : "Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan
          petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan
          memberi khabar gembira kepada orang-orang
          Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi
          mereka ada pahala yang besar" (Depag RI,
          1984:425)

        Firman Allah SWT yang lain yaitu dalam surat Asy

Suura ayat 52 yang berbunyi :

                                

                    

                            

                                  

                             

                         

                           
                                                          12


                                    

   

                                 

  

                                                  

Artinya : "Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu
          wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami.
          Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al
          Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui
          apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al
          Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia
          siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-
          hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-
          benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus"
          (Depag RI, 1984:791)

         Sedangkan dalam Hadits Rasulullah SAW, juga

membahas tentang dasar-dasar bimbingan mempelajari Al-

Qur'an itu antara lain sebagai berikut:




Artinya : "Sampaikanlah ajaranku kepada orang lain walau
          sedikit" (HR Bukhari, Abi Zakaria Yahya Bin
          Syarfi Nawawi, 1989:316)

         Dari ayat dan hadits tersebut di atas dapat dipahami

bahwa     usaha    tersebut    merupakan   usaha   bimbingan

mempelajari Al-Qur'an yaitu mengajak kepada kebaikan.

Jadi    jelaslah   bahwa      memberikan   bimbingan   dalam
                                                              13


   mempelajari Al-Qur'an itu mempunyai dasar yang sangat

   kuat karena sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan Hadits

   Rasulullah SAW.

           Fahruddin (1984:27) juga mengungkapkan bahwa:

   "Al-Qur'an berisi keterangan-keterangan yang lengkap dalam

   berbagai pokok persoalan yang diperlukan dalam kehidupan

   dan pergaulan manusia".



           Dari ungkapan tersebut di atas, para pembimbing

   pengajian Al-Qur'an dalam usaha mengantisipasi kenakalan

   remaja memanfaatkan pengajian tersebut secara dini, teratur

   dan kontinyu serta memberikan bimbingan bahwa Al-Qur'an

   sebagai penyelamat dari pergaulan yang bersifat negatif.

b. Tujuan Bimbingan Mempelajari Al-Qur'an

           Sebelum kami mengungkapkan tujuan dari pada

   bimbingan mempelajari Al-Qur'an, terlebih dahulu kami

   membahas bagaimana perkembangan remaja dan hal-hal

   yang mempengaruhi kehidupan remaja itu sendiri.

           Perkembangan remaja atau yang dimaksud disini

   masa remaja. Masa remaja adalah peralihan antara masa

   anak-anak dan masa dewasa, dimana anak-anak mengalami
                                                       14


pertumbuhan cepat di segala bidang. Mereka bukan lagi

anak-anak, baik bentuk badannya, sikap, cara berpikir dan

bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah

matang. Masa ini mulai kira-kira pada umur 13 tahun dan

berakhir kira-kira 19 tahun.

        Masa 9 tahun (13-21) yang dilalui oleh anak-anak

itu, tidak ubahnya sebagai jembatan penghubung antara masa

tenang yang selalu bergantung kepada pertolongan dan

perlindungan orang tua, dengan masa berdiri sendiri,

bertanggung jawab dan berpikir matang. Dalam melalui masa

adolesensi ini, tidak sedikit anak-anak yang mengalami

kesukaran-kesukaran atau problem-problem yang kadang-

kadang menyebabkan kesehatan terganggu, jiwanya gelisah

dan cemas, fikirannya terhalang menjalankan fungsi nya dan

kadang-kadang kelakuannya macam-macam.

        Karena dalam diri remaja itu sedang terjadi suatu

perubahan baik fisik maupun psikis yang menyebabkan

timbul kegoncangan-kegoncangan dalam fisiknya, hal ini

sesuai dengan ungkapan Syahri dan Riska Ahmad bahwa:

       "Dalam diri para remaja itu sedang terjadi suatu
perubahan baik fisik maupun psikis yang menyebabkan
timbulnya kekacauan-kekacauan dalam pikirannya, keadaan
                                                         15

seperti ini disebut dengan istilah masa pancaroba atau dalam
istilah lainnya "Strom and Stress" atau "Stum und Orang"
pada saat ini remaja perlu mendapat bimbingan secara
memadai baik orang tua, guru, penyuluhan pendidikan dan
masyarakat sekitarnya" (Syahril dan Ahmad, 1986:8).

          Dari ungkapan tersebut di atas pada masa remaja

perlu mendapat perhatian dan bimbingan karena masa remaja

mengalami perubahan yang membuat fisik dan psikisnya

mengalami kegoncangan serta pikirannya sering kacau, yang

mengakibatkan remaja cepat terpengaruh oleh hal-hal yang

bersifat negative seperti sekarang ini berbagai macam al at

komunikasi massa, baik melalui bacaan maupun sinetron

yang ditayangkan di TV, khususnya TV Swasta yang dengan

tayangan-tayangan yang layak sensor dan tayangan seperti

ini sangat digemari oleh para remaja pada umumnya, yang

tentunya akan mempengaruhi remaja itu sendiri, hal-hal

seperti ini yang akan mengakibatkan terjadinya kenakalan

remaja.

          Menurut Ditjen Bimas Islam, tujuan bimbingan

mempelajari Al-Qur'an sebagai berikut :

1. Agar remaja mampu membaca Al-Qur'an dengan baik,
   benar dan tepat makhraj hurupnya, panjang pendeknya,
   ghunnah dan lain sebagainya. Yang tersimpul dalam ilmu
   tajwid;
2. Agar remaja suka dan senang membiasakan diri membaca
   Al-Qur'an dengan baik;
3. Agar remaja dapat menghapal sejumlah surat-surat
                                                              16

      pendek dalam Al-Qur'an yang dapat diterapkan dalam
      shalat sehari-hari;
   4. Agar remaja taat dan patuh kepada Allah SWT dalam
      melaksanakan ibadat lainnya seperti shalat, puasa,
      bersadakoh, dan sebagainya, sehingga merupakan
      sebagian dari pengalaman dan penghayatan isi kandungan
      Al-Qur'an (Departemen Agama RI, 1982:33)

            Dari   tujuan     bimbingan    Al-Qur'an    di   atas

   memberikan      pemahaman      bahwa,     tujuan    bimbingan

   mempelajari Al-Qur'an bukan hanya agar remaja mengetahui

   cara membaca Al-Qur'an tetapi untuk mendidik remaja

   supaya   menjadikan      Al-Qur'an   sebagai   pegangan   atau

   tuntutan hidupnya atau sekurang-kurangnya supaya remaja

   mampu membaca Al-Qur'an dengan baik, benar dan tepat

   makhraj hurupnya yang disimpulkan dalam ilmu tajwid.

c. Pelaksanaan Bimbingan Mempelajari Al-Qur'an

            Setiap mukmin mempercayai Al-Qur'an, mempunyai

   kewajiban dan bertanggung jawab terhadap kitab suci Al -

   Qur'an. Diantara tanggung jawab itu adalah mempelajari dan

   mengajarkannya. Belajar dan mengajar Al-Qur'an adalah

   kewajiban yang suci lagi mulia, karena sebaik-baik orang

   mukmin adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan

   mengajarkannya. Jadi belajar Al-Qur'an itu merupakan

   kewajiban yang utama bagi setiap mukmin, begitu pula

   mengajarkannya.
                                                          17


           Belajar Al-Qur'an itu dapat dibagi kepada beberapa

tingkatan, yaitu belajar membacanya sampai lancar, belajar

qira'at dan tajwid, belajar arti dan maksudnya yang

terkandung dalam Al-Qur'an.

           Pelaksanaan   bimbingan   mempelajari   Al-Qur'an

menurut Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji sebagai

berikut:


1. Murid-murid     dibagi    perkelompok,    yang    setiap
   kelompoknya tidak lebih dari 15-20 anak yang bersamaan
   umur atau besarnya. Dalam hal ini antara putra dan putri
   dipisahkan;
2. Apabila dalam kelompok terdapat anak-anak yang cerdas
   maka sebaiknya diberi kesempatan untuk lebih
   mempercepat belajarnya dengan membenarkan bacaan
   temannya yang kurang tepat, atau disuruh memberi
   contoh pertama begitu seterusnya;
3. Kepada pelajar-pelajar senior yang cerdas diberi
   kesempatan untuk membimbing teman-temannya yang
   memerlukannya. Kalau dianggap perlu membimbing
   kelompok yang lebih rendah dalam latihan seni suara,
   lagu dan sebagainya;
4. Dalam pergaulan sehari-hari guru harus memberikan
   contoh teladan yang baik kepada murid-muridnya, baik
   dari segi pakaian, pergaulan sopan santun, ramah tamah
   dan hormat sesama guru lainnya.
5. Demikian pula murid-muridnya, termasuk membawa dan
   melatakkan Al-Qur'an, memberi pada waktu datang, serta
   bersalaman satu dengan lainnya;
6. Murid-murid hendaknya diajak untuk sholat berjama'ah,
   kalau mungkin pada waktu sholat tarawih, serta
   pengumpulan Zakat Fitrah dan sebagainya;
7. Pada waktu-waktu tertentu atau hari-hari besar Islam
   diadakan juga MTQ, Musabaqah Tilawatil Qur'an dan
   Musabaqah Tahfizil Qur'an (Departemen Agama RI,
                                                            18

   1982:41-42)

       Bertitik   tolak   dari   pendapat   di   atas,   bahwa

pelaksanaan bimbingan mempelajari Al-Qur'an          ini anak-

anak remaja dibagi menjadi beberapa kelompok, dan waktu

pelaksanaannya pada waktu malam antara magrib dan isya'

dimana anak-anak remaja putra maupun putri berkumpul

untuk diberikan bimbingan menulis dan membaca serta

diterangkan menurut kemampuan anak didik. Disamping itu

juga diajarkan ilmu tajwid yaitu tentang cara membaca Al -

Qur'an yang baik, hukum bacaan yang terdapat dalam Al-

Qur'an, mahraj hurup dan tempat keluarnya. Jadi pada malam

hari antara magrib dan isya' diajarkan teorinya sedangkan

pada waktu subuh dan ashar dibimbing dan diajarkan

membaca Al-Qur'an serta langsung mempraktikkan teori

yang diajarkan pada malam hari.

       Kita tentu sudah mengetahui bahwa Al-Qur'an terdiri

dari 114 surat, ada yang pendek dan ada yang panjan g. Satu

surat Al-Qur'an terdiri dari beberapa ayat dan satu ayat

terdiri dari beberapa huruf. Satu hurup dapat dibaca dengan

bantuan "tanda baca" atau harkat. Jadi hurup merupakan

unsur terkecil dalam Al-Qur'an. Seorang guru pengajian Al-

Qur'an yang mengajarkan muridnya hurup-hurup yang
                                                             19


terdapat dalam Al-Qur'an, hurup-hurup itu disebut hurup

hijaiyah yang jumlahnya ada 28 hurup.

           Dalam pengajaran Al-Qur'an kita dapati bermacam-

macam metode yang dipergunakan, namun dalam hal ini

akan   diungkapkapkan         metode    pelaksanaan   bimbingan

mempelajari       Al-Qur'an   menurut    Bimas   Islam   sebagai

berikut:


1. Metode Pengajian Al-Qur'an
   a. Metode Synthetik (Aththariqatut tarkibiyyah)
   b. (Metode bunyi (Athariqatus-shautiyyah)
   c. Metode meniru (Thariqatl Muhakah)
   d. Metode campuran (Thariqoh Jam'iyyah)
2. Metode Penyampaian
   a. Metode persuasive
   b. Metode sugestif
   c. Metode campuran
   d. Metode instruktif (Departemen Agama RI, 1982:10-
      14)

           Dari   beberapa    metode    pelaksanaan   bimbingan

mempelajari Al-Qur'an tersebut di atas, maka akan diuraikan

satu persatu seperti dibawah ini :

1) Metode Pengajian Al-Qur'an

   a. Metode Syinthetik (Aththariqatut tarkibiyyah)

       Yang dimaksud dengan metode Siynthetik adalah

       metode pengajaran membaca dari mengenal huruf

       hijaiyah, kemudian diberi tanda baca/harakah, lalu
                                                           20


     disusun menjadi kalimat (kat) kemudian dirangkaikan

     dalam satu jumlah kalimat dalam istilah Bahasa

     Indonesia.

b.   Metode Bunyi (Athariqatus Shautiyyah)

     Yang dimaksud dengan metode bunyi adalah metode

     yang dimulai dengan bunyi huruf seperti, AA-BA-

     TA-TSA dan seterusnya. Dari bunyi ini disusun

     menjadi      suku   kata    yang     kemudian     menjadi

     kata/kalimat yang teratur

c.   Metode Meniru (Thariqatul Muhakah)

     Yang dimaksud dengan metode meniru adalah sebagai

     pengembangan dari metode bunyi, lahirlah metode

     meniru, metode ini dimulai dengan meniru/mengikuti

     bacaan seorang guru sampai hafal. Setelah itu baru

     dikenalkan      beberapa     huruf      beserta     tanda

     baca/harakatnya dari kata-kata atau kalimat yang

     dibacanya itu

d.   Metode Campuran

     Karena metode-metode sebelumnya ada kelemahan

     disamping faedah-faedah yang ada, maka metode

     campuranlah yang baik diterapkan dalam pengajian
                                                              21


      Al-Qur'an bagi anak-anak Indonesia. Dalam metode

      campuran     ini   guru    diharapkan   kebijaksanaannya

      dalam mengajarkan membaca dengan mengambil

      kebaikan-kebaikan dari metode sebelumnya serta

      disesuaikan dengan kondisi yang ada.

2) Metode Penyampaian

           Agar pengajaran mencapai target yang kita

   inginkan,    guru     hendaknya     menggunakan       beberapa

   metode penyampaian agar anak tertarik untuk membaca

   Al-Qur'an.    Beberapa       cara   yang   diterima     dalam

   penyampaian bimbingan mempelajari Al-Qur'an adalah:

   a. Metode Persuasif

      Dengan cara ini diusahakan anak belajar Al-Qur'an

      dengan kesadaran yang tinggi, sehingga membaca Al-

      Qur'an merupakan kebutuhan.

   b. Metode Sugestif

      Anak didik diberikan dorongan motivasi dari sisi lain

      (bukan kesadaran) tetapi berupa hadiah, rekreatif

      dijaga agar dorongan yang berupa hadiah tidak

      menjadi motivasi dalam belajar Al-Qur'an

   c. Metode Campuran
                                                              22


              Metode Persuasif dan Sugestif dapat dipadukan dalam

              kondisi tertentu. Apapun metode yang kita pilih,

              hanya menuju kepada satu kesadaran total tentang

              perlunya belajar Al-Qur'an

          d. Metode Instruktif

              Cara perintah tanpa menimbulkan motivasi, adalah

              cara lama ternyata berhasil untuk anak-anak zaman

              dahulu, tetapi anak-anak sekarang nampaknya lebih

              tepat menggunakan Persuasif/Sugestif atau campuran

              keduanya

               Metode-metode di atas hanya merupakan bimbingan

      untuk para guru pengajian Al_qur'an, tetapi berhasilnya

      suatu program pengajaran masih ditentukan pula oleh

      dedikasi dari para guru. Guru yang terpanggil akan secara

      terus menerus berusaha meningkatkan dirinya agar cara

      pengajaran yang disampaikannya makin hari makin terasa

      baik.

2. Faktor-Faktor     Yang   Menyebabkan    Terjadinya   Kenakalan

   Remaja

            Karena     begitu    banyak/luasnya    faktor   yang

   mempengaruhi kenakalan remaja itu, maka oleh para ahli
                                                               23


membedakannya menjadi beberapa bagian yaitu :

        Menurut Hasan Basri (2000;15) ada dua hal yang

menyebabkan kenakalan remaja yaitu:

Penyebab pertama yang datang dari diri individu itu sendiri
antara lain:
a) perkembangan kepribadian terganggu;
b. individu mempunyai cacat tubuh;
c) individu mempunyai kebiasaan yang mudah terpengaruh;
d) taraf intelegnsi yang rendah


Penyebab kedua yang datang dari luar diri individu seperti :
a) lingkungan pergaulan yang kurang baik;
b. kondisi keluarga yang tidak mendukung;
c) pengaruh media masa;
d) kurangnya kasih sayang;
e) kecemburuan sosial atau frustasi terhadap keadaan sekitar.

         Dari pendapat di atas, kenakalan remaja bukanlah suatu

keadaan yang berdiri sendiri tetapi merupakan perpaduan dari

beberapa kondisi yang dialami anak-anak remaja. Jika dalam

pertumbuhan dan perkembangan remaja kurang mendapat

pendidikan dan pengarahan yang penuh tanggung jawab dari

kedua orang tua dan masyarakat maka kenakalan remaja

mendapat akibat yang tidak dapat dihindarkan lagi.

         Kenakalan yang diakibatkan oleh berbagai macam sebab

itu   tidak   mungkin   dapat   dilenyapkan   sama   sekali   oleh

masyarakat kita atau masyarakat dimanapun, oleh karena hal
                                                                24


  tersebut merupakan fenomena dinamika masyarakat akibat

  semakin meningkatnya tunutan hidup manusia dalam masyarakat

  dinamis,   kita   hanya   membatasi    ruang   lingkupnya    dan

  mengurangi intensitasnya semata.

          Pendapat ahli lain mengungkapkan factor-faktor yang

  menyebabkan terjadinya kenakalan remaja sebagai berikut :




  1. Kurangnya pendidikan agama yang diberikan/diterima anak
     di lingkungan rumah tangga;
  2. Kurang pengertian orang tua tentang pendidikan;
  3. Kurang teraturnya pengisian waktu;
  4. Tidak stabilnya keadaan social, politik dan ekonomi;
  5. Kemerosotan moral dan mental orang dewasa;
  6. Banyaknya film dan buku bacaan yang tidak baik;
  7. Pendidikan dalam sekolah yang kurang baik;
  8. Kurangnya perhatian masyarakat terhadap perkembangan
     anak (Zakiah Drajat, 1994:113-120).

          Dari beberapa pendapat para ahli tersebut di atas tentang

  factor-faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja

  tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa factor yang

  paling pokok menyebabkan terjadinya kenakalan remaja yaitu

  kurangnya pendidikan/bimbingan moral dan akhlak dalam

  keluarga, sekolah dan masyarakat.

3. Pengaruh Bimbingan Mempelajari Al-Qur'an Dalam Usaha

  Mengantisipasi Kenakalan Remaja.
                                                                          25


        Perhatian terhadap kenakalan remaja banyak dicurahkan

baik dalam bentuk diskusi-diskusi maupun seminar-seminar

yang telah diadakan oleh organisasi-organisasi, pemerintah yang

erat hubungannya dengan masalah ini.

        Karena      kenakalan    remaja    bukan         saja     merupakan

gangguan terhadap keamanan tetapi juga merupakan bahaya

terhadap masa depan masyarakat, sehingga remaja harus

dibimbing dan diberikan arahan serta pengawasan.

Romli Atmaja Sasmita (1993:7) mengungkapkan bahwa:

        "Timbulnya kenakalan remaja bukan hanya merupakan
gangguan terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat semata -
mata, akan tetapi juga merupakan bahaya yang mengancam masa
depan masyarakat suatu bangsa, untuk itu perlu mendapatkan
pengawasan dan bimbingan kita semua agar tidak terjerumus ke
dalam jurang kenakalan yang bersifat serius"

        Dari     ungkapan   tersebut      di      atas    bahwa        remaja

membuthkan     bimbingan        dan   perhatian      dari       kita   semua,

maksudnya disini adalah bimbingan dari keluarga, sekolah,

masyarakat dan bimbingan mempelajari Al_Qur'an. Tetapi jika

tidak   diberikan    bimbingan,       perhatian     dan     arahan       akan

mengakibatkan kenakalan remaja karena masa remaja adalah

masa yang sedang terjadi suatu perubahan fisik maupun psikis

yang menyababkan timbulnya kegoncangan, kekacauan dalam
                                                               26


pikirannya.

        Pengaruh     bimbingan   mempelajari   Al-Qur'an    dalam

usaha mengantisipasi kenakalan remaja dapat dibagi menjadi 3

bagian yaitu :

a. Memberikan Bimbingan Kepada Remaja Tentang Keutamaan

   Membaca Al-Qur'an

              Al-Qur'an adalah kitab suci yang diturunkan Allah

   kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai salah satu rahmat

   yang tak ada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya

   terkumpul wahyu Illahi yang menjadi pedoman dan petunjuk

   bagi siapa yang mempercayainya serta mengamalkannya.

              Para pembimbing pengajian Al-Qur'an harus bisa

   menyampaikan       menyampaikan    kepada    remaja     dengan

   seyakin-yakinnya bahwa membaca Al-Qur'an saja sudah

   termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala,

   sebab yang dibacanya itu adalah kitab suci Al Qur'an. Malah

   membaca Al-Qur'an itu bukan saja menjadi amal dan ibadah,

   tetapi juga menjadi obat penawar bagi orang-orang yang

   sedang gelisah, sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat

   Al-Israa' ayat 82 :
                                                              27


                                    

                       

                                

                         

                                

                                  

Artinya : ”Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang
          menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang
          yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah
          menambah kepada orang-orang yang zalim selain
          kerugian" (Depag RI, 1984:437)

         Dari ayat tersebut di atas dapat dipahami bahwa jika

seorang yang sedang gelisah dan mengalami kegoncangan

bathin terutama remaja apabila membacanya akan tenang

hatinya dan tiada kerugian baginya bila mempelajari isi

kandungan     yang    terdapat   di    dalamnya.    Maka     para

pembimbing pengajian Al-Qur'an harus bias mengarahkan

dan mempengaruhi remaja supaya selalu membaca Al-Qur'an

dikala    mengalami     kegelisahan,    karena     jika    remaja

membiasakan diri dengan selalu membaca Al-Qur'an, maka

remaja akan punya pendirian yang tidak cepat terpengaruh

oleh     perubahan    jiwa,   perkembangan       teknologi   dan

perkembangan lingkungan dalam bergaul.
                                                             28


          Jika pemuda sering dan selalu rutin membaca Al-

  Qur'an maka remaja akan mendapat dua kebahagiaan di

  dunia dan akhirat, karena Al-Qur'an adalah sebagai petunjuk

  bagi umat manusia sehingga manusia mencapai martabat dan

  tujuan yang tinggi sesuai dengan ungakapan Abdul Adhim

  Ibrahim Al Math'ani (1988:76-77) sebagai berikut :

          "Berkali-kali    perintah   membaca    Al-Qur'an
  ditegaskan. Karena terus menerus hendaknya kaum muslimin
  merutinkan membacanya, sebagai upaya melangkah dalam
  mencari du kebahagiaan, dunia dan akhirat, memberi
  petunjuk kepada umat manusia denga Al-Qur'an agar mereka
  mencapai martabat dan tujuan yang tinggi"

b. Memberikan Bimbingan Kepada Remaja Bahwa Al-Qur'an

  Menjadi Pedoman Hidup

          Di dalam Al-Qur'an terdapat keterangan-keterangan

  yang   lengkap,   dalam   berbagai   pokok   persoalan   yang

  diperlukan dalam kehidupan dan pergaulan manusia. Di

  dalamnya berisi pelajaran tentang iman dan aqidah, memuja

  dan menyembah Allah, demikian pula tentang akhlak, budi

  pekerti yang baik, kesopanan yang tinggi, yang menjadi

  syarat mutlak bagi hubungan baik antara sesama manusia

  dalam hidup ini. Dengan budi pekerti yang luhur terciptalah

  perdamaian, persaudaraan dan hidup tolong menolong.
                                                                     29


         Memberikan bimbingan kepada remaja bahwa Al-

Qur'an menjadi pedoman hidup untuk membantu remaja

supaya bisa meyelematkan diri dari pergaulan yang tidak

baik    dan   bisa   mengantisipasi    diri    dari    hal-hal     yang

berhubungan dengan kenakalan, karena jika remaja mampu

menjadikan     Al-Qur'an     sebagai   pedoman         hidup,    segala

tingkah laku dan perbuatannya sehari-hari harus disesuaikan

dengan ajaran Al-Qur'an dan Al-Qur'an adalah penyelamat

dalam kehidupan di dunia dan akhirat, hal sesuai dengan

ungkapan dibawah ini :

        "Barang siapa yang ingin menyelematkan diri dari
pergaulan, jiawa dan raganya dalam hidup ini, hendaklah
mempelajari Al-Qur'an dan berpedoman kepada ajaran Al-
Qur'an. Dalam segenap tingkah laku dan perbuatannya
sehari-hari, hendaklah menempuh jalan yang benar. Barang
siapa yang menuruti garis yang telah dibentangkan Al -
Qur'an, pasti mereka akan selamat dan berbahagia dalam
kehidupannya sekarang dan hari esok" (Fachruddin HS,
1948:27)

         Sehubungan      dengan    ungkapan       di     atas,    maka

pengaruh bimbingan mempelajari Al-Qur'an sangat penting

dalam     membina      dan    membimbing         remaja,         dengan

memberikan bantuan, arahan dan penjelasan tentang Al-

Qur'an    sebagai    pedoman      hidup,      remaja     akan     dapat

mengantisifasi dan menyelamatkan diri dari pergaulan
                                                      30


dengan segala tingkah lakunya sesuai dengan ajaran Al -

Qur'an.

          Untuk lebih jelasnya bahwa Al-Qur'an sebagai

pedoman hidup, dibawah ini akan diungkapkan ayat-ayat

yang berhubungan dengan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup

sebagai berikut :

~   Surat Al-A'raf ayat 3 :

      

       

      

       

                               


    Artinya : "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari
              Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti
              pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedi-
              kitlah kamu mengambil pelajaran (dari
              padanya)” Depag RI, 1992:221)

~   Surat Al-An'aam ayat 155

                               

                       

                               
                                                           31


                     

                       

    Artinya : "Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami
              turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan
              bertakwalah agar kamu diberi rahmat" (Depag
              RI, 1992:215)

~   Surat Al-Ankabut ayat 51

                               

                                  

                               

       

                                    

                               

                           

    Artinya : "Dan apakah tidak cukup bagi mereka
              bahwasanya Kami telah menurunkan kepa-
              damu Al Kitab (Al Qur'an) sedang dia
              dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya
              dalam (Al Qur'an) itu terdapat rahmat yang
              besar dan pelajaran bagi orang-orang yang
              beriman" (Depag RI, 1992:636)

            Maksud dari ayat-ayat tersebut di atas menurut

    Moenawar Chalil (1956:26-27) adalah sebagai berikut:

~   Surat Al-A'raf ayat 3 yang tertera di atas mengandung
    keterangan bahwa umat manusia terutama para orang
    yang telah mengikuti agama Islam diperintahkan agar
                                                                   32

        supaya mengikuti apa-apa yang telah diturunkan Allah
        yaitu Al-Qur'an dan jangan mengikuti para para
        pemimpin dan penolong selain dari Allah. Tetapi sedikit
        diantara manusia yang mengerti akan pimpinan Al-Qur'an
        itu dan suka mengamabil pengajarannya;
  ~     Surat Al-An'aam 155, bahwa kitab (Al-Qur'an) yang telah
        diturunkan oleh Allah itu sebuah kitab yangdiberkati
        dimana berisi penuh kebaikan untuk kepentingan
        manusia. Oleh sebab itu manusia diperintahkan supaya
        mengikuti akan pimpinan Al-Qur'an dan suapaya berbakti
        kepada Allah, agar diberi rahmat oleh Allah baik di duni
        maupun di akhirat kelak;
  ~     Surat Al-Ankabut 52, dengan ayat ini mengertilah kita
        bahwa Al-Qur'an itu telah cukup untuk pedoman bagi
        umat manusia, baik pedoman yang mengenai bathin.
        Karena di dalamnya telah terkandung: a. pokok
        keterangan cara manusia ber-Tuhan kepada Tuhan Yanga
        Maha Esa; b. pokok-pokok keterangan tentang cara-cara
        manusia beribadat (mengabdikan diri) kepada Tuhan
        Yang Maha Esa; c. pokok-pokok keterangan tentang
        cara-cara manusi abergaul atau bermasyarakat diantara
        mereka sendiri dan lain-lain urusan yang menjadi hajat
        manusia di muka bumi ini.

            Dari ayat dan ungkapan tersebut di atas, dapat

  disimpulkan bahwa: jika remaja menjadikan Al-Qur'an

  sebagai pedoman hidup, remaja akan mendapat rahmat dan

  segala perbuatan yang berhubungan dengan manusia, Tuhan

  dan     tata   cara   bergaul   dalam     masyarakat    semua    ini

  terkandung dalam Al-Qur'an.

c. Memberikan Bimbingan Kepada Remaja Bahwa Al-Qur'an

  Petunjuk ke Jalan Yang Lurus

            Al-Qur'an     merupakan       dasar-dasar    atauran   dan
                                                                33


perundang-undangan dalam mengatur tata kehidupan yang

sempurna, dan jalan menuju petunjuk yang hakiki. Al -Qur'an

merupakan dasar pembinaan hokum Islam, sehingga barang

siapa yang menjadikan Al-Qur'an sebagai petunju dia akan

mendapat   kebahagiaan      yang   abadi,    tetapi   siapa   yang

meninggalkan    petunjuk    Al-Qur'an       dia   akan   mendapat

kehinaan yang abadi, hal ini sesuai dengan ungkapan

dibawah ini :

"Al-Qur'an merupakan fundamental dasar pembinaan Islam
dan sumber dasar hokum, sumber petunjuk yang
mendatangkan puspa ragam buah kemaslahatan dan Al-
Qur'an adalah pokok dari segala keselamatan. Berpegang
teguh kepada Al-Qur'an berarti memiliki kekuatan dan
kebahagiaan abadi, Meninggalkan petunjuk Al-Qur'an berarti
menggapai kelemahan dan kehidnaan abadi. Sebab Al-Qur'an
adalah kekuatan yang agung. Barang siapa mengambil Al-
Qur'am sebagai mercusuar kehidupan dia akan selamat'
(Abdul Adhim Ibrahim Math'ani, 1988:74)

      Sehubungan    dengan     ungkapan       tersebut   di   atas,

pengaruh bimbingan mempelajari Al-Qur'an sangat penting

dalam membina, membimbing mental remaja dan dapat

membantu remaja untuk lebih mengetahui mana yang baik

dan mana yang tidak baik.

      Al-Qur'an merupakan petunjuk kejalan yang lurus

sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut :
                                                       34


~   Surat An-Nisa' 174-175

      

      

                           

      

                             

                             

                  

                          

                          

                      

                            

                                             



    Artinya : "Hai manusia, sesungguhnya telah datang
              kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu,
              (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah
              Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang
              benderang (Al Qur'an). Adapun orang-orang
              yang beriman kepada Allah dan berpegang
              kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan
              memasukkan mereka ke dalam rahmat yang
              besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-
              Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang
              lurus (untuk sampai) kepada-Nya (Depag RI,
              1992:152)
                                                                     35


              Dari ayat tersebut di atas dipahami bahwa Al-Qur'an

       itu menunjukkan dan memimpin manusia kearah jalan yang

       lurus, dan telah datang kepada manusia keterangan yang

       nyata dari Allah yang telah menurunkan kepada manusia

       cahaya yang terang yaitu Al-Qur'an, oleh sebab itu orang-

       orang yang percaya kepada Allah dan berpegang teguh

       kepada Al-Qur'an akan mendapat rahmat dan karunia dari

       Allah, serta mendapat petunjuk. Dengan demikian jelaslah

       jika orang yang memperoleh petunjuk dan pemimpin ke jalan

       yang lurus itu ialah orang yang berteguh kepada Al -Qur'an.

              Dari ketiga bimbingan mempelajari Al-Qur'an tersebut

       di atas dapat disimpulkan bahwa: dengan memberi bimbingan

       tentang keutamaan membaca Al-Qur'an, Al-Qur'an sebagai

       pedoman hidup dan Al-Qur'an sebagai petunjuk kejalan yang

       lurus, remaja akan membiasakan diri membaca Al-Qur'an

       karena bias menyelamatkan diri dari pergaulan dan hal -hal

       yang berhubungan dengan kenakalan remaja serta bisa

       menjadi usaha mengantisipasi kenakalan remaja, untuk

       menjadikan remaja yang berakhlak mulia, punya pendirian,

       berbudi luhur dan bertaqwa kepada Allah.



F. METODE PENELITIAN
                                                                           36


1.   Pendekatan Penelitian

              Pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini

     adalah pendekatan kualitatif, karena data atau informasi yang

     penulis kumpulkan lebih berbentuk uraian-uraian atau keterangan-

     keterangan daripada deretan angka-angka.

     “Pendekatan kualitatif merupakan sumber dari deskriptif yang
     luas dan berlandaskan pada hal-hal yang kokoh, serta memuat
     penjelasan tentang proses yang terjadi dilingkungan setempat.
     Dengan pendekatan kualitatif akan dapat mengikuti dan
     memahami alur peristiwa secara kronologis, menilai sebab akibat
     dalam lingkup peristiwa atau pemikiran orang-orang setempat dan
     memperoleh penjelasan yang layak dan bermanfaat. Sedangkan
     Kirk dan Muller dalam Margono (1997:36 ) mengemukakan
     bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu
     pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada
     pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan
     berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan
     peristiwanya (Moleong,2000 : 4).

              “Penelitian    kualitatif    sering   pula   digunakan   untuk

     menghasilkan grounded theory, yakni yang timbul dari data bukan

     dari hipotesis” (Sudjana, Ibrahim, 2001:195).

              Penelitian kualitatif lebih bersifat diskriftif dan cendrung

     menggunakan analisa induktif. Disamping itu juga penelitian

     kualitatif   lebih   cendrung        menggunakan      metode   kualitatif

     disebabkan oleh :

     1.   Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila
          berhadapan dengan kenyataan ganda
     2.   Metode kualitatif menyajikan secara langsung hubungan
          peneliti dengan responden
                                                               37

3.   Metode kualitatif lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan
     diri dengan penajaman dan pengaruh bersama terhadap pola
     nilai yang dihadapi (Moleong, 2000:5).

        Didalam penelitian kualitatif, proses penelitian dan

pemberian makna terhadap data dan informasi yang diperoleh

lebih diutamakan. Penelitian kualitatif melakukan penelitian pada

latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan karena

penelitian ini menghendaki kenyataan sebagai keutuhan yang

tidak dapat dipahami apabila dipisahkan. Kerena hal ini didasari

oleh beberapa sebab :

1.   Tindakan pengamatan akan mempengaruhi apa yang diamati.
2.   Konteks yang satu sangat berpengaruh pada konteks yang
     lain.
3.   Sebagai struktur nilai kontekstual bersifat determinatif
     terhadap apa yang dicari (Moleong, 2000:4).

        Adapun latar alamiah yang dimaksud dalam penelitian ini

adalah lingkungan industri yang memepengaruhi pelaksanaan

pendidikan pendidikan agama melalui majlis taklim di        Dasan

Bawak lelede Desa Banyumulek Kecamatan Kediri Kabupaten

Lombok Barat..

        Untuk mempermudah dalam penentuan apakah suatu

penelitian tersebut digolongkan sebagai penelitian kualitatif atau

yang lainnya maka berikut peneliti akan mengemukakan ciri-ciri

umum dalam penelitian kualitatif adalah sebagai berikut :
                                                               38

1.    Sumber datanya dalam kondisi yang sewajarnya (Natural
      Setting). Oleh karena itu penelitian harus dilakukan dalam
      situasi yang sebenarnya dan wajar tanpa harus dipersiapkan
      sebelumnya serta diubah atau diadakan khusus untuk
      keperluan penelitian. Penelitian harus dilakukan terhadap
      sumber data dalam keadaan asli atau sebagaimana adanya.
2.    Penelitian tergantung pada kemampuan peneliti untuk
      menggunakan instrumen atau alat yang tak bisa merubah
      situasi yang berbeda dari yang berlangsung sehari-hari di
      lingkungan sumber data.
3.    Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif, data yang pada
      umumnya berbentuk uraian-uraian atau kalimat-kalimat
      merupakan informasi mengenai keadaan sebagaimana adanya
      dalam hubungannya dengan masalah yang diteliti.
4.    Dalam penelitian kualitatif antara proses dengan hasil sama
      pentingnya. Proses penting artinya        dalam memberikan
      keyakinan pada tingkat validitas dan obyektifitas serta
      releabilitas hasil penelitian. Sedangkan hasil penelitian
      penting artinya bagi kehidupan manusia.
5.    Analisa data dilakukan terus menerus dari awal dan selama
      proses penelitian berlangsung. Setiap data atau informasi
      yang diperoleh harus dianalisa berupa usaha menafsirkan
      untuk mengetahui maknanya yang dihubungkan dengan
      masalah penelitian.
6.    Bertolak dari penelitian yang bersifat umum dan bahkan tidak
      mustahil masih sekedar berbentuk gambaran umum yang
      belum jelas, berarti pada awalnya kualitas belum didesain
      (dirancang) dan sistematis (Nawawi, 1992 : 210-214 ).

          Margono ( 1997:37 ) mengemukakan tentang ciri-ciri

penelitian kualitatif sebagai berikut :

1.    Lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung
2.    Manusia merupakan alat pertama pengumpul data
3.    Analisis data dilakukan secara induktif
4.    Penelitian bersifat deskriptif analitik
5.    Lebih menekankan pada proses daripada hasil
6.    Pembatasan penelitian berdasarkan fokus
7.    Perencanaan bersifat lentur dan terbuka
8.    Hasil penelitian merupakan kesepakatan bersama
9.    Pembentukan teori berasal dari dasar
10.   Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif
11.   Tehnik sampling lebih bersifat purposive
                                                                      39

     12. Penelitian bersifat holistik (menyeluruh )
     13. Makna sebagai perhatian utama penelitian.

             Dengan ciri-ciri tersebut dikaitkan dengan penelitian

     yang penulis lakukan di lapangan yaitu mengenai “Bimbingan

     Pembelajaran   Al      Qur’an   Dalam    Mengantisipasi   Kenakalan

     Remaja di Kampung Orok-Orok Desa Mujur Kecamatan Praya

     Timur Lombok Tengah” maka pendekatan yang dipergunakan

     dalam penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan objek

     penelitian sebagaimana adanya, sehingga akan menghasilkan

     penelitian alamiah yang bersifat ilmiah

2.   Kehadiran Peneliti

     Tugas pokok      penelitian jika dikaitkan dengan keha diran
     peneliti di lapangan adalah sebagai instrumen dan sekaligus
     sebagai pengumpul data atau informasi dari objek yang diteliti.
     Penelitian kualitatif berusaha berinteraksi dengan subjek
     penelitiannya secara alamiah, tidak menonjol, dan tidak
     memaksa. Jika peneliti memerlukan subjek sebagai subjek
     penelitian sebenarnya, maka peneliti harus bertindak sebagai
     sorang peneliti, bukan bermaksud untuk mempengaruhi objek
     penelitian tetapi semata-mata untuk memperoleh data yang
     akurat dan sewajarnya         dan bukan bermaksud untuk
     mempengaruhi objek penelitian tetapi semata-mata untuk
     mendapat data-data yang akurat dan sewajarnya (Moleong,
     2000:26).

             Dalam fungsi pokok sebagai instrumen penelitian maka

     peneliti mengadakan beberapa bentuk kegiatan dalam upaya

     mendapatkan     data     yang    diinginkan,    seperti   observasi,

     dokumentasi,   serta    mengadakan      wawancara   dengan   Kepala
                                                                 40


     Kampung Orok-orok, serta orang-orang tertentu yang peneliti

     anggap mampu memberikan informasi yang akurat mengenai

     remaja putus sekolah, tingkat pendidikan remaja, dan mata

     pencaharian orang tua      serta upaya   yang dilakukan   untuk

     mengatasi kenakalan remaja tersebut. Bukan berarti dengan

     kehadiran peneliti dilapangan sebagai pengganggu dan perubah

     tingkah laku alamiah objek penelitian.

3.   Sumber Data

              Lofland dalam Moleong ( 2001:112 ) mengatakan

     “sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata

     dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen

     dan lain-lain”.



              Setiap penelitian memerlukan data atau informasi dari

     sumber-sumber yang dapat dipercaya, agar data dan informasi

     tersebut dapat dipergunakan untuk menjawab masalah-masalah

     penelitian.

              Data yang dikumpulkan lewat responden ataupun non

     responden merupakan hasil informasi baik informasi berupa

     keterangan langsung dalam arti hasil kegiatan sendiri atau

     pengalaman responden maupun informasi yang merupakan bukan
                                                              41


hasil dari kegiatan responden sendiri. Kata-kata dan tindakan

responden merupakan sumber data utama di dalam penelitian ini

baik yang dihasilkan melalui catatan tertulis (sumber yang

dihasilkan dari buku-buku, majalah ilmiah, dokumen pribadi dan

dokumen resmi ), perekaman atau foto.

         Dokumen pribadi adalah catatan atau karangan seseorang
secara tertulis tentang tidakan, pengalaman, dan kepercayaannya.
Sedangkan dokumen resmi terbagi atas dokumen internal (yang
mampu menyajikan informasi tentang keadaan, aturan, disiplin
dan dapat memberikan petunjuk tentang gaya kepemimpinan),
dokume eksternal (berisi bahan informasi yang dihasilkan oleh
lembaga sosial) (Moleong, 2001:161 ).

        Dalam penelitian ini yang dapat dijadikan sebagai

sumber atau responden adalah :

1.   Masyarakat yang secara langsung terlibat dalam majlis

     taklim, ustad atau guru-guru ngaji dan segenap tokoh

     masyarakat Kampung Orok-Orok Desa Mujur.

2.   Pemilik tempat-tempat pengajian/pengajaran Al Qur’an yang

     ada di Kampung Orok-Orok.

3.   Remaja Mushalla Kampung Orok-Orok Desa Mujur

        Alasan peneliti memilih sumber data diatas adalah karena

diduga mengetahui dengan benar terhadap apa yang diteliti.

        Mengingat penelitian ini bersifat kualitatif, maka tehnik

sampling yang peneliti gunakan adalah bersifat purposive sampel
                                                                      42


     (Sampel bertujuan) dimana sampel diambil bukan tergantung dari

     populasi melainkan disesuaikan dengan tujuan penelitian. Dalam

     purposive sampel (Sampel bertujuan) peneliti cendrung memilih

     responden yang dianggap dapat dipercaya untuk menjadi sumber

     data serta mengetahui masalah yang sedang diteliti secara

     mendalam. Dengan penetapan bahwa responden bukan ditentukan

     oleh representatif terhadap populasinya, melainkan responden

     harus representatif dalam memberikan informasi yang diperlukan.

4.   Prosedur Pengumpulan Data

               Dalam kegiatan penelitian, tentunya diperlukan suatu

     cara atau metode yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data

     dan informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan penelitian. Oleh

     sebab itu, sebelum menggunakan metode-metode tersebut, peneliti

     membuat pedoman wawancara dan observasi sebagai bahan acuan

     utama di dalam memperoleh data-data yang berkaitan dengan hal

     yang   sedang   peneiliti   teliti.   Adapun    metode-metode   yang

     digunakan dalam pengumpulan data adalah, wawancara, observasi

     dan dokumentasi. Akan tetapi dari ketiga metode yang peneliti

     gunakan, metode wawancaralah yang paling utama peneliti

     gunakan     dalam   mengumpulkan        data.    Sedangkan   metode

     dokumentasi dan observasi merupakan metode pendukung dalam
                                                                       43


menemukan data-data yang terkait dengan apa yang peneliti teliti

dilapangan .

a.   Metode Wawancara (Interview)

               Metode    wawancara        adalah   “Proses   memperoleh

     keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab

     sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara

     dengan responden dengan alat yang dinamakan interview

     guide (panduan wawancara)” (Arikunto,1993:145).

               Jadi metode wawancara merupakan metode utama

     yang peneliti gunakan dalam mengumpulkan data, disamping

     itu juga wawancara merupakan cara pengumpulan data

     dengan      mengajukan         pertanyaan-pertanyaan      mengenai

     masalah-masalah      yang      diteliti   kepada   responden    yang

     dilakukan secara langsung, atau terjadinya interaksi serta

     tatap muka secara langsung antara pewawancara dengan

     responden dan dilakukan secara lisan.

               Dalam mendukung kevalidan data dalam skripsi ini,

     maka     peneliti   berusaha     semaksimal     mungkin        pandai

     menciptakan suatu kondisi yang harmonis dan akrab dengan

     responden, agar data yang di peroleh betul-betul obyektif dan

     responden merasa nyaman untuk berkomunikasi dengan
                                                                         44


     pewawancara.

b.   Metode Observasi

                “Observasi     adalah      pengamatan    atau    pencatatan

     secara sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki”. (Hadi,

     1993 : 136 ).

                Pendapat lain mengatakan bahwa “Observasi adalah

     pemusatan       pemikiran      terhadap     suatu     objek     dengan

     menggunakan seluruh alat-alat indra” (Arikunto,1993 : 136).

                Jadi metode observasi merupakan salah satu cara

     untuk mengumpulkan data dengan mengadakan pengamatan

     secara   langsung yang        menggunakan         indra    pengelihatan

     terhadap      obyek     penelitian,    sehingga     dapat     dilakukan

     penilaian terhadap perubahan yang terjadi terhadap objek

     penelitian.

                Yang peneliti observasi dalam penelitian ini adalah

     pelaksanaan bimbingan pembelajaran Al Qur’an, kegiatan

     remaja musalla, kegiatan remaja lainnya.

c.   Metode Dokumentasi

                “Metode dokumentasi adalah cara mengumpulkan

     data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip-arsip dan

     termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori dan dalil-

     dalil serta hukum-hukum yang berhubungan dengan masalah
                                                                      45


          penelitian” (Margono, 1997 : 181)

                      Ahli lain menjelaskan “Dokumentasi adalah mencari

          data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip,

          buku, surat kabar, majalah, agenda, dan lain-lain” (Arikunto,

          1993 : 187)

                      Jadi metode dokumentasi adalah mengumpulkan data

          dengan melihat atau mengambil data dari hal-hal yang

          bersifat tertulis, apakah itu dokumen resmi atau dokumen

          pribadi.

                      Dengan metode dokumentasi ini, peneliti dapat

          menggali data-data tentang :

          1.    Jumlah tempat pelaksanaan pembelajaran Al Qur’an.

          2.    Jumlah remaja yang mengikuti pembelajaran Al Qur’an

5.    Analisa Data

               Data    yang   terkumpul   selama   peneliti   melakukan

     penelitian maka perlu dianalisa dan dinterpretasikan dengan

     teliti, ulet dan kecakapan sehingga diperoleh suatu kesimpulan

     yang obyektif dari suatu penelitian. Bila data dan informasi yang

     diperoleh itu sudah dianalisa dan di interpretasikan, maka akan

     diketahui pengaruh bimbingan pembelajaran Al Qur’an dalam

     mengantisipasi kenakalan remaja di Kampung Orok-Orok Desa

     Mujur Kecamatan Praya Timur Lombok Tengah
                                                                  46


       Analisis data adalah: Apabila keseluruhan data sudah

terkumpul. langkah yang diambil peneliti adalah mengolah dan

membuat analisis terhadap data yang sudah terkumpul itu secara

kualitatif. Adapun analisa data merupakan tindak lanjut da ri

proses data yang merupakan kerja seorang peneliti yang

memerlukan penelitian dan pencurahan daya pikir optimal.

(Suryabrata, 1998:85).

       Dengan    demikian,     data   yang   terkumpul       tersebut

dibahasakan, ditafsirkan dan dikumpulkan secara dedukatif

sehingga dapat diberikan gambaran yang tepat mengenai hal-hal

yang sebenarnya     terjadi.   Mengingat penelitian    ini     hanya

menampilkan data-data kualitatif, maka peneliti menggunakan

anaisa data filosofis atau logika dengan metode analisis induktif.

Guna memperoleh data yang lengkap peneliti lebih dahulu

mengumpulkan     data,   kemudian     menganalisa   data     tersebut

dengan prosedur sebagai berikut :

1. Persiapan dengan usaha yakni :

   a). Mengecek kembali sumber data yang diperoleh, apakah

       dapat dipertanggung jawabkan atau tidak.

   b). Mengecek kelengkapan data yakni menyatukan data-data

       yang telah dikumpulkan dari lokasi dan memilih data
                                                                                   47


              yang sesuai dengan perencanaan peneliti.

     2. Tabulasi (pengelompokan)

        Setelah data dicek dan dikualifikasikan serta disesuaikan

        dengan data yang diperoleh dari kepustakaan, selanjutnya

        data tersebut ditabulasikan sesuai dengan fokus penelitian.

     3. Analisa        induktif        yaitu     nenganalisa          data     dengan

        mengumpulkan           data     dari   yang        bersifat   khusus    untuk

        mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum.

     4. Anaisa deduktif yaitu cara memberikan alasan dengan

        berpikir dan bertolak dari pernyataan yang bersifat umum

        dan menarik kesimpulan yang bersifat khusus atau spesifik.

     Peneliti    menggunakan            metode       ini    untuk     mempermudah

     mengumpulkan            hasil      observasi,         wawancara,        kemudian

     membandingkannya dengan data-data yang didapati lewat buku-

     buku refrensi guna mendapatkan data yang benar -benar valid.

6.    Kredibilitas / Keabsahan Data

              Mengingat penyusunan skripsi ini merupakan karya

     ilmiah     yang   harus         dipertanggung         jawabkan    maka     dalam

     penyusunan        dan     memperoleh        data-datanya          menggunakan

     metode-metode yang sudah berlaku dalam penyusunan karya
                                                                        48


ilmiah.

          Untuk     memperoleh     keabsahan     temuan-temuan         dan

informasi dalam hal pencarian data-data peneliti akan berusaha

untuk mengadakan diskusi atau pembahasan dengan teman-

teman sejawat yang memiliki pengetahuan tentang masalah yang

akan peneliti kaji mengenai data-data temuan di lapangan. Hal

ini dimaksudkan untuk membahas data temuan secara detail dan

mendalam.

          Sebagai peneliti dalam penelitian kualitatif peneliti akan

berusaha     memperpanjang        kehadiran    peneliti   di     lapangan,

sebagaimana        fungsi   peneliti   dalam   penelitian      ini   adalah

intrumen kunci dalam pengumpulan data. Oleh karena itu

semakin lama peneliti di lapangan, maka semakin banyak data

yang diperoleh sehingga kredibilitas data diharapkan dapat

mendekati kebenaran.

          Untuk mendukung kredibilitas data, maka tingginya

ketekunan peneliti dalam pengamatan sangat dibutuhkan,

sehingga semakin tinggi kredibilitas yang diperoleh dan

sebaliknya        semakin    rendah     ketekunan     peneliti       dalam

melakukan penelitian maka akan menyebabkan temuan yang
                                                      49


diperoleh semakin rendah. Dalam hal ini peneliti mencoba

untuk melakukan pengamatan setekun mungkin dengan cara

hadir di lokasi penelitian.

								
To top